Anda di halaman 1dari 10

Tinjauan Islam tentang Sumpah Dokter1

Oleh : Dirwan Suryo Soularto2

TIU : Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa dapat menjelaskan pandangan Islam tentang sumpah dokter. TIK : Setelah mengikuti perkuliahan mahasiswa dapat: 1. Mendefinisikan pengertian sumpah dan janji 2. Menjelaskan hakekat sumpah dalam Islam 3. Menjelaskan kedudukan sumpah dokter menurut hukum syara 4. Memahami adanya fatwa ulama tentang sumpah dokter 5. Menjelaskan hukum pelanggaran sumpah. 6. Menyebutkan sanksi bagi pelanggar sumpah 7. Menjelaskan persesuaian sumpah dokter dengan Al-Quran dan Hadist.

A. Pendahuluan Seorang calon dokter akan mengucapkan sumpah atau diambil sumpahnya pada masa akhir pendidikan, yakni setelah fakultas kedokteran menyatakan calon dokter tersebut layak secara akademik mendapatkan dan menyandang gelar profesi dokter. Pengucapan sumpah dokter merupakan salah satu tahap yang wajib dilalui oleh setiap mahasiswa fakultas kedokteran untuk mendapatkan gelar profesi dan melakukan pekerjaan dokter. Semua dokter Indonesia, baik lulusan pendidikan dalam negeri maupun luar negeri, wajib mengucapkan sumpah dokter. Demikian pula mahasiswa asing yang belajar di perguruan tinggi kedokteran Indonesia juga diharuskan mengambil sumpah dokter Indonesia. Pengambilan atau pengucapan sumpah dokter dilakukan secara resmi, dalam suatu forum yang terhormat dan hikmat. Pengambilan sumpah dokter merupakan saat yang sangat penting artinya bagi seorang dokter, karena pada kesempatan ini ia akan berikrar bahwa dalam mengamalkan profesinya, ia akan selalu mendasarinya dengan kesanggupan yang telah diucapkannya sebagai sumpah.. Kehidmatan upacara pengambilan sumpah dapat difahami karena sumpah dokter yang sangat mudah untuk dilafalkan namun sebenarnya memiliki dampak dan perikatan yang mulia serta berat bagi dokter dalam menjalani profesinya bahkan dalam
1

Makalah Kuliah e-Learning Kedokteran Islam pada Blok-2. Etika dan Hukum Kedokteran, Fakultas Kedokteran UMY, Ditampilkan Oktober 2008. 2 Sataf Pengajar Fakultas Kedokteran UMY, Bagian Anatomi dan Forensik Medikolegal.

keseharian hidupnya. Kemuliaan sumpah dokter dan dampak yang harus ditanggung wajib dapat dipahami setiap calon dokter sejak dirinya menempuh pendidikan untuk menjadi dokter. Dalam ajaran Islam tindakan mengucapkan sumpah merupakan suatu hal yang tidak ringan dan isi maupun hakikat bersumpah sangat jelas diatur dalam agama Islam. Oleh karena itu, perlu kiranya mahasiswa muslim fakultas kedokteran dapat memahami tinjauan Islam tentang sumpah dokter. B. Pengertian Sumpah Sumpah di dalam Al-Quran disebut dengan istilah qasam (QS. 24:53) dan halaf (QS. 9:26). Menurut istilah sumpah ditakrifkan sebagai: Suatu lafal yang digunakan untuk menyatakan haknya terhadap sesuatu perkara atau menafikan sesuatu perkara dengan menyebut nama Allah SWT atau sifat-sifat-Nya. Juga membawa maksud mengukuhkan kata-kata yang tidak dinyatakan kebenaran kandungannya dengan menyebut salah satu dari nama-nama Allah SWT ataupun salah satu sifat-Nya dengan lafal yang tertentu. Sebenarnya penggunaan perkataan pengukuhan dalam takrif di atas adalah bertujuan mengabaikan sumpah yang sia-sia yakni sumpah yang diucapkan tanpa niat untuk melaksanakannya ataupun niat untuk membenarkannya. Kenyataan ini adalah bersandarkan kepada firman Allah S.W.T di dalam surah al-Maidah ayat 89:

N.{#xs !$# q=9$$/ N3ZyJr& `3s9ur N2{#xs $yJ/ N?)t z`yJF{$#


Artinya: Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksudkan (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpahsumpah yang kamu sengajakan (QS. Al-Maidah; 5:89). Menurut Dr. Muhammad Mustafa al-Zuhaili dalam bukunya Wasail al-Ithbat fi alSyariat al-Islamiyyah, sumpah syari memberi maksud suatu perkataan yang disertakan dengan nama Allah SWT atau sifat-sifatNya, digunakan untuk menyatakan ada haknya (isbat) terhadap sesuatu perkara atau menafikan sesuatu perkara di hadapan Hakim. Serupa dengan hal tersebut, dalam kitab Kifayatul-akhyar, dinyatakan bahwa sumpah ialah mentahqihkan (membenarkan) sesuatu perkara/keadaan atau menguatkannya dengan menyebut nama Allah Taala atau salah satu sifat-Nya. Dalam Kitab tersebut juga dinyatakan bahwa tidaklah sah sumpah itu melainkan dengan (menyebut lafal) Allah SWT atau salah satu nama-nama-Nya aatau salah satu sifat-sifat-Nya.

Menurut Dr. Wahbah al-Zuhailiy, sumpah ialah suatu ungkapan yang mengandungi perjanjian atau aqad yang teguh atau ikatan yang kuat terhadap yang bersumpah untuk melaksanakan sesuatu atau meninggalkannya. Dinamakan ikatan aqad itu karena kuatnya kesepakatan dengan lafal sumpah itu. Menurut Syed Sabiq pula, sumpah ialah menyatakan dengan tegas sesuatu persoalan atau memperteguhkannya dengan menyebut nama Allah SWT atau salah satu daripada sifat-sifat-Nya atau boleh juga didefinisikan sebagai suatu aqad yang dilaksanakan oleh orang yang bersumpah untuk meneguhkan tekadnya bagi mengerjakan atau meninggalkannya. Pada hakikatnya sumpah adalah janji yang diperkuat dengan menyebut nama Allah. Abdullah bin Umar r.a., meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Umar bin Khatthab sedanga berjalan dalam satu rombongan dan ia bersumpah dengan menyebut nama ayahnya, maka Nabi SAW bersabda yang artinya: Ingatlah! Sesungguhnya Allah SWT melarang kamu bersumpah dengan menyebut nama ayah leluhur kamu. Barang siapa akan bersumpah, hendaknya ia bersumpah dengan menyebut nama Allah atau diam sama sekali (HR. Bukhari). Sejalan dengan riwayat itu, maka seorang muslim hanya dibenarkan memperkuat janjinya dengan menyebut nama Allah. Bersumpah dengan selain Alah termasuk kemusyrikan sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam hadis riwayat At-Tirmidzi yang berarti: Barang siapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, dia telah kufur atau syirik. C. Kedudukan Sumpah Dokter Menurut Hukum Syara Seorang muslim tidak dianjurkan untuk bersumpah atau berjanji untuk

mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan, tetapi diperbolehkan untuk bersumpah dan berjanji bila diperlukan. Sumpah dan janji biasanya diucapkan bila ada pihak lain yang memerlukan penegasan dari seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Bila seseorang memilih untuk bersumpah atau berjanji, maka dia terikat dengan sumpah dan janjinya itu. Dalam kitab Ianatutthalibin, dinyatakan bahwa sumpah itu (pada umumnya) makruh (hukumnya), kecuali untuk baiat )iqrar) perjuangan, untuk mendorong berbuat kebaikan dan untuk menyatakan kebenaran tuntutan atau pendakwaan. Sumpah dan janji hanya diperbolehkan untuk hal-hal yang dibenarkan dalam agama. Sumpah dan janji batal dengan sendirinya bila untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu yang bertentangan dengan syariat Islam. Sumpah atau janji tidak

berlaku

apabila

untuk

kemusyrikan,

kekufuran,

kemunafikan,

kefasikan

dan

kemaksiatan. Ini sejalan dengan firman Allah dalam yang berbunyi:

!$#ur 3 $Y9$# t/ (#qs=?ur (#q)-Gs?ur (#ry9s? cr& N6YyJX{ Zp| !$# (#q=ygrB wur O=t x
Artinya: Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan perdamaian (ishlah) di antara manusia3. dan Allah Maha mendengar (apa yang kamu sumpahkan) lagi Maha mengetahui (apa akibatnya banyak bersumpah). (QS. Al Baqarah; 2:224) Ditinjau dari hukum Islam, semua yang dilakukan setiap orang yang mukallaf (aqil baligh) tidak terlepas dari salah satu dari lima kategori hukum, yakni wajib, sunat, haram, makruh dan mubah. Kategori hukum tersebut ditetapkan berdasarkan teks ALQuran dan Sunah Rasulullah SAW. Seorang muslim, siapapun dia, yang sudah masuk dalam kategori mukallaf terikat dengan hukum tersebut. Pengaruh sumpah dan janji terhadap kelima kategori tersebut adalah sebagai berikut: 1. Tanpa sumpah atau janji untuk mengerjakannya, yang wajib tetaplah harus dikerjakan. Sumpah atau janji hanya berfungsi untuk mempertegas tekad untuk mengerjakannya. Perbedaannya, bila tanpa sumpah atau janji, seseorang berdosa bila meninggalkan kewajibannya, tetapi dengan sumpah atau janji, maka dosanya ditambah dengan dosa pelanggaran terhadap sumpah atau janjinya tersebut. 2. Tanpa sumpah atau janji untuk mengerjakannya, maka yang sunat tetap dianjurkan untuk dikerjakan, tapi tidak berdosa bila meninggalkannya. Tetapi dengan sumpah atau janji, maka yang sunat berubah statusnya menjadi wajib karena sumpah atau janji tersebut. Seseorang akan berdosa bila tidak mengerjakannya karena melanggar sumpah atau janjinya. 3. Tanpa sumpah atau janji untuk meninggalkannya, maka yang haram tetaplah harus ditinggalkan. Sumpah atau janji hanya berfungsi untruk mempertegas tekad untuk meninggalkannya. Perbedaannya, bila tanpa sumpah atau janji seseorang berdosa bila mengerjakan, tetapi dengan sumpah atau janji maka dosanya ditambah dengan dosa pelanggaran terhadap sumpah atau janjinya.

Maksudnya: melarang bersumpah dengan mempergunakan nama Allah untuk tidak mengerjakan yang baik, seperti: demi Allah, saya tidak akan membantu anak yatim. tetapi apabila sumpah itu telah terucapkan, haruslah dilanggar dengan membayar kafarat.

4. Tanpa sumpah atau janji untuk meninggalkan yang makruh tetap dianjurakn untuk ditinggalkan, tetapi tidak berdosa bila dilakukannya. Tetapi dengan sumpah atau janji, yang makruh berubah statusnya menjadi haram karena sumpah atau janji tersebut. Seseorang akan berdosa bila tetap mengerjakan sesuatu yang semula makruh tersebut oleh karena melanggar sumpah atau janjinya. 5. Tanpa sumpah atau janji untuk mengerjakan atau meninggalkannya, seseorang diberi kebebasan untuk memilih yang mubah, antara melakukan dan meninggalkannya tanpa ada janji pahala atau ancaman dosa. Tetapi dengan sumpah atau janji yang mubah bisa berubah menjadi wajib atau haram tergantung isi sumpah atau janjinya. Pelanggaran terhadap apa yang telah seseorang sumpahkan atau janjikan akan menimbulkan dosa baginya. Bila seorang dokter bersumpah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatau sebagaimana yang tercantum dalam Lafal Sumpah Dokter Indonesia maupun Kode Etik Kedokteran Indonesia, maka dia terikat dengan sumpah dan kode etik tersebut. D. Fatwa Ulama Tentang Sumpah Dokter Pada tahun 1956, Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara Departemen Kesehatan RI mengirimkan surat kepada Mufti Mesir meminta pendapat mengenai sumpah dokter dilihat dari segi hukum Islam. Jawaban Mufti Mesir tersebut adalah sebagai berikut: Rumusan sumpah dokter sebetulnya mengandung beberapa sumpah sebanyak bilangan yang disumpahkannya itu, sekalipun lafaz sumpah (wallahi) itu seolah-olah diucapkan pada permulaan tia-tiap hal (isi) yang disumpahkan. Walaupun rumusan sumpah tidak terikat kepada waktu, namun dia berarti diikat oleh keadaan yang melingkupinya, yakni selama yang bersumpah itu menjadi dokter dan berpraktek, seolah-olah yang bersumpah menyatakan dalam sumpahnya, Saya bersumpah dengan nama Allah yang Maha Besar, bahwa saya selama menjadi dokter akan membaktikan hidup saya untuk berkhidmat kepada peri kemanusiaan; saya bersumpah dengan nama Allah yang Maha Besar, bahwa selama saya menjadi dokter akan melakukan kewajiban menghormati dan memperlakukan guru-guru saya secara layak. Demikian seterusnya mengenai hal-hal isi-sisi yang disumpahkan. Tiap-tiap hal/isis (yang disumpahkan) adalah sumpah yang berdiri sendiri untuk melakukan sesuatu perbuatan di waktu yang akan datang, selama orang yang bersumpah itu tetap bersifatkan sifat ini (dokter yang berpraktek), maka wajiblah kepadanya menurut hukum Syara untuk menepati itu semua. Tiap-tiap kali melalaikan salah satu dari sumpah itu, berarti dia melanggar sumpahnya, maka wajiblah membayar kaffarat sumpah, karena sumpah (yang diucapkannya)ketika itu, berlaku sepanjang masa.

Maka dari itu, setiap kali melalaikan apa yang disumpahkan, meskipun melalaikannya itu berulang-ulang, baik terhdap salah satu yang disumpahkan maupun semuanya, berarti ia melanggar sumpahnya, sehingga dengan demikian tercapailah tujuan yang diharapkan dengan diadakan peraturan sumpah dokter bagi tiap-tiap mahasiswa kedokteran yang telah lulus ujian dan hendak mempraktekkan pekerjaannya di tengah-tengah mayarakat. Sesungguhnya sumpah itu janji-jani untuk menjamin supaya para dokter mengindahkannya dalam setiap waktu keadaan, sehingga apabila ia menyalahi salah satu dari isi sumpah itu, maka ia telah melanggar sumpah. Oleh karena itu tidak boleh mengulangi pelanggaran sumpahnya lain kali dan haruslah ia kembali setia mentaati apa yang telah diwajibkan sumpah yang telah diikrarkannya menjadi pedoman hidupny selama ia menjadi dokter. Selaras dengan Fatwa Mufti Mesir di atas, maka pada 13 September 1956, Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syara Depkes RI, menyampaikan fatwa terkait dengan sumpah dokter antara lain yakni : 1. Berjanji dan atau bersumpah untuk melakukan beberapa kebajikan dan atau meninggalkan beberapa kejahatan pada waktu hendak menjabat sesuatu jabatan negara tidak dilarang oleh Islam, bahkan mungkin dalam beberapa hal, melihat pentingnya dan besarnya akibat jabatan tersebut dapat menjadi sunat. 2. Tiap-tiap pasal dari sumpah dokter itu masing-masing merupakan satu sumpah, sehingga keseluruhannya merupakan jumlah seluruh pasal sumpah. 3. Apa yang terdapat dalam sumpah dokter dapat disimpulkan dua bagian, yakni janji atau sumpah akan melakukan kebajikan (maruf) dan janji atau sumpah akan meninggalkan beberapa kejahatan (mungkar). Maka seluruh isi sumpah dokter tidak ada yang bertentangan, bahkan sejalan dengan jiwa, ajaran dan filsafat hukum Islam. 4. Mengingat betapa pentingnya dan beratnya akibat-akibat yang dapat timbul dari jabatan dokter (keselamatan jiwa, rohani, dan jasmani orang banyak, pada lahirnya banyak tergantung/dipengaruhi oleh pengobatan dokter), maka tidaklah terlarang bahkan menjadi sunat apabila calon dokter melakukan janji yang diperkuat oleh sumpah untuk tetap akan melakukan beberapa kebajikan dan meninggalkan beberapa kejahatan seperti yang tercantum dalam naskah sumpah dokter. 5. Bila seorang calon dokter telah melakukan janji yang diperkuat dengan lafaz sumpah, maka itu berarti ia telah bersumpah, walaupun berjanji dan bersumpah itu pada asalnya tidak diwajibkan oleh agama Islam, tetapi bila telah diikrarkan oleh calon dokter, maka wajiblah atasnya memenuhi segala ketentuan hukum sumpah,

baik dalam caranya maupun dalam segala akibat pelanggaran (kaffarat, hukuman dan tebusan kesalahan. E. Hukum Pelanggaran Sumpah dan Sanksinya Menurut Islam Mengingkari janji termasuk salah satu dari tiga sifat orang munafik sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam hadist yang berarti Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yakni apabila berkata dusta, bila berjanji mungkir dan bila dipercaya khianat (HR. Bukhari-Muslim). Terhadap orang yang melanggar sumpah yang telah diucapkannya, Islam mengajarkannya sebagaimana yang tersebut dalam QS. Al-Maidah: 89, yakni:

m?ts3s ( z`yJF{$# N?)t $yJ/ N2{#xs `3s9ur N3ZyJr& q=9$$/ !$# N.{#xs w O9 `yJs ( 7pt6s%u trB rr& Og?uq. rr& N3=dr& tbqJ? $tB yrr& `B t3|tB ou|t P $y) it7 y79xx. 4 N3oYyJr& (#qxm$#ur 4 OFn=ym #s) N3YyJr& otx. y79s 4 5Q$-r& psWn=rO P $us gs tbr3n@ /3=ys9 mGt#u N3s9 !$#
Artinya: Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpahsumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). Jelasnya ialah, bahwa Islam mewajibkan kepada setiap orang yang melanggar sumpahnya membayar kaffarat yang dapat berupa: 1. Memberi makanan kepada sepuluh orang miskin. 2. Atau memberikan pakaian kepada sepuluh orang miskin. 3. Atau memerdekan seorang hamba sahaya. 4. Jika ia tidak sanggup memenuhi salah satu dari point 1, 2 atau 3, maka wajib ia berpuasa selama tiga hari.

F. Persesuaian Lafal Sumpah Dokter dengan Al-Quran dan Hadist Berikut disampaikan beberapa ajaran Quran maupun hadist yang berkesesuaian dengan lafal sumpah dokter, yakni antara lain: 1. Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan Hadist Nabi diriwayatkan Jabir ra. : Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat. 2. Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan kedokteran QS .Al Anfal; 8: 27

tbqJn=s? NFRr&ur N3G oYtBr& (#qRqrB ur tAq9$#ur !$# (#qRqrB w (#qZtB#u z`%!$# $pkr't
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. 3. Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang terhormat dan bersusila, sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter Hadist Nabi : Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tiap pemimpin bertanggung jawab atas pimpinannya 4. Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang akan saya ketahui karena pekerjaan saya dan keilmuawan saya sebagai dokter Hadist Nabi SAW : Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu bersabda dalam nasihat beliau kepada kami; Tidak beriman orang yang tidak dapat dipercayai dan tidak beragama orang yang tidak menepati janji. 5. Saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanuasiaan sekalipun diancam Hadist Nabi SAW: Tidak boleh taat kepada perintah mahluk untuk mendurhakai khalik (Diriwayatkan Imran dan AL Hakam bin Amr al Gifari) 6. Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan QS Al Anam; 06:151

!$# tPym L9$# [Z9$# (#q=G)s? wur ( st/ $tBur $ygYB tygs $tB |muqx9$# (#q/t)s? wur tbq=)s? /3=ys9 m/ N38ur /39s 4 d,ys9$$/ w)

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). 7. Saya akan berikhtiar dengan sungguh-sungguh supaya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kebangsaan, kesukuan, perbedaan kelamin, politik kepataian atau kedudukan sosial dalam menunaikan kewajiban saya terhadap penderita QS AL Maidah; 5: 8

4 !$# (#q) ?$#ur ( 3uq)-G=9 >t%r& uqd (#q9$# 4 (#q9s? wr& #n?t BQqs% b$toYx N6ZtBft wur ( cq=yJs? $yJ/ 76yz !$# c)
Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. 8. Saya akan memberikan kepada guru-guru saya, penghormatan dan pernyataan terima kasih selayaknya QS Ibrahim; 14:7

N3RyV{ O?x6x s9
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambah nikmatmu Hadist Nabi : Tidak termasuk golongan kita, mereka yang tidak menghormati orang-orang tua, tidak mengasihi orang-orang muda dan tidak mengetahui/meghargai hak-hak cendekiawan. 9. Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin diperlakukan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW, bersabda : Janganlah kamu benci membenci dan janganlah kamu bersaingan, hendaklah kamu semua hai hamba Allah bersaudara 10. Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya

QS Al Ahzab; :23

`B Nk]Bur mt6twU 4|s% `B NgYJs ( mn=t !$# (#rygt $tB (#q%y| A%y` t ZBsJ9$# z`iB Wx7s? (#q9t/ $tBur ( tF^t
Di antara orang-orang mu'min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)

G. Pustaka 1. Akbar, Ali, 1988, Etika Kedokteran Islam, Pustaka Antara Jakarta, Hal. 106-130. 2. Hasan, Z., Ismail, Abdul Fatah, 2007, Konsep Al-Yamin (Sumpah) dan Pelaksanaannya di Mahkamah Syariah, Fakulti Syariah dan Undangundang, Universiti Sains Islam Malaysia. Hal. 8-24. 3. Ilyas, Yunahar, 2001, Etika Kedokteran dan Lafal Sumpah Dokter Ditinjau dari Agama Islam, dalam Lokakarya Penerapan Lafal Sumpah Dokter dalam Etika Kedokteran dan Etika Rumah Sakit, IDI DIY, pada 7 Nopember 2001. 4. Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia, 2002, Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia, Ikatan Dokter Inodnesia,Jakarta. Hal. 3-14 5. Soebono, Hardyanto, 2001, Sejarah dan Pekembangan Lafal Sumpah Dokter Indoesia, dalam Lokakarya Penerapan Lafal Sumpah Dokter dalam Etika Kedokteran dan Etika Rumah Sakit, IDI DIY, pada 7 Nopember 2001.

10