Anda di halaman 1dari 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Gas Gas merupakan suatu fluida yang homogen dengan densitas dan viskositas rendah serta tidak tergantung pada bentuk tempat yang ditempatinya, sehingga dapat mengisi semua ruangan yang ada. Berdasarkan jenisnya, gas dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gas ideal dan gas nyata. 1. Gas ideal, adalah fluida dimana : Mempunyai molekul yang dapat diabaikan bila dibandingkan dengan volume fluida keseluruhan. Tidak mempunyai tenaga tarik - menarik maupun tolak-menolak antar molekul-molekulnya, atau antara molekul-molekul dengan dinding wadahnya. Tumbukan antar molekul-molekulnya bersifat lenting sempurna, sehingga tidak terjadi kehilangan tenaga akibat tumbukan tersebut. 2. Gas nyata, adalah gas yang tidak mengikuti hukum-hukum gas ideal. (Manik, 2011) Sifat gas juga dapat dijelaskan dengan teori kinetik gas. Teori ini mula mula diberikan oleh Bernoulli pada tahun 1738 dan disempurnakan oleh Clausius, Boltzmann, Van Der Waals, dan Jeans. Teori ini berdasarkan anggapan-anggapan sebagai berikut: 1. Gas terdiri atas partikel-partikel yang sangat kecil yang disebut molekul, yang massa dan besarnya sama untuk tiap-tiap jenis gas. 2. Molekul-molekul ini selalu bergerak ke segala arah dan selalu bertumbukan dengan molekul-molekul yang lain serta dengan dinding-dinding bejana. 3. Tumbukan molekul terhadap dinding ini yang menyebabkan terjadinya tekanan pada dinding, yaitu gaya per satuan luas.

4. Karena tekanan gas tidak tergantung waktu pada tekanan dan temperature tertentu, maka pada tumbukan tidak ada tenaga yang hilang atau tumbukan bersifat elastis sempurna. 5. Pada tekanan yang relatif rendah, jarak antara molekul-molekul jauh lebih besar daripada diameter molekul-molekul sendiri, hingga gaya tarik antara molekul dapat diabaikan. 6. Karena molekul-molekul sangat kecil dibandingkan dengan jarak antara molekul-molekul, maka volume molekul-molekul ini dapat diabaikan dan molekul-molekul dianggap sebagai titik-titik bermassa. 7. Temperatur absolut berbanding lurus dengan tenaga kinetik rata-rata dari semua molekul dalam sistem. Persamaan gas ideal dapat digunakan untuk menentukan massa molekul zat mudah menguap. PV = nRT PV = w/M RT PM = w/V RT PM = RT M = RT / P dimana : M = massa molekul zat mudah menguap (g. mol-1) = densitas gas (g.L-1) P = tekanan gas (atm) V = volume (L) T = suhu absolut (K) R = tetapan gas (L.atm.mol-1.K-1) (Sunaryo, 2010) Hukum Hukum Gas (2.1)

2.2

2.2.1 Hukum Boyle Hukum Boyle menyatakan bahwa : Apabila volume gas dinaikkan pada kondisi temperatur tetap, maka tekanan absolut gas akan berubah berbanding terbalik dengan perubahan volume.

Secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut : P1V1 = P2V2 dimana : P1 = tekanan absolut awal gas P2 = tekanan absolut akhir gas V1 = volume awal gas V2 = volume akhir gas (Rahayu, 2008) (2.2)

2.2.2 Hukum Charles Hukum Charles menyatakan bahwa : Apabila energi disuplai pada gas dibawah kondisi dimana tekanan dipertahankan konstan, maka perubahan volume akan berbanding lurus dengan temperatur absolut. Secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut : T1V2 = T2V1 dimana : T1 = temperatur absolut awal gas T2 = temperatur absolut akhir gas V1 = volume awal gas V2 = volume akhir gas (Rahayu, 2008) (2.3)

2.3

Persamaan Gas Ideal Menurut tiga hukum ini, hubungan antara temperatur (T), tekanan (P) dan volume (V) sejumlah mol gas (n) dengan terlihat. Tiga hukum gas : Hukum Boyle: V = a/P (pada T, n tetap) Hukum Charles: V = b.T (pada P, n tetap) Hukum Avogadro: V = c.n (pada T, P tetap)

Jadi, volume (V) sebanding dengan suhu (T) danjumlah mol (n), dan berbanding terbalik pada tekanan (P). Sehingga pada persamaan gas ideal yang menyatakan bahwa PV = nRT merupakan sumber dari ketiga hukum tersebut. Nilai konstanta gas (R) bila n = 1 disebut dengan konstanta gas, yang merupakan satu dari konstanta fundamental fisika. Nilai konstanta gas (R) beragam bergantung pada satuan yang digunakan. Dalam sistem metrik, konstanta gas (R) = 8,2056 x102 dm3 atm mol-1 K-1. Kini, nilai konstanta gas (R) = 8,3145 J mol-1 K-1 lebih sering digunakan (Hendrawan, 2008). Beberapa cara yang digunakan untuk menentukan berat molekul yaitu: 1. Cara Regnault Dipakai untuk menentukan Berat Molekul zat pada suhu kamar berbentuk gas. Untuk itu suatu bola gelas (300-500 cc) dikosongkan dan ditimbang. Kemudian diisi dengan gas yang bersangkutan dan ditimbang kembali. Dari tekanan dan temperatur gas dengan memakai rumus gas ideal dapat ditentukan berat molekul. Berat gas adalah selisih berat kedua penimbangan. 2. Cara Limiting Density Berat Molekul yang ditentukan berdasarkan hukum-hukum gas ideal hanya perkiraan, namun hasilnya telah cukup untuk penentuan rumus-rumus molekul. Hal ini disebabkan karena gas ideal sudah menyimpang walaupun pada tekanan atmosfer (Sunaryo, 2010).

2.4

Desikator Desikator adalah wadah untuk mengeringkan suatu spesimen dan menjaganya dari kelembaban udara. Desikator sederhana laboratorium adalah wadah yang pada bagian dasarnya berisi silika gel atau bahan kimia pengering lainnya. Desikator dilengkapi dengan penutup kaca yang dilapisi oleh vaselin. Vaselin berfungsi sebagai penutup celah antara penutup dan wadah desikator sehingga tidak ada aliran udara masuk atau keluar dari desikator. Vaselin juga berfungsi sebagai zat anti mikroorganisme (Humaidah, 2011). Waktu pendinginan dalam suatu desikator tak dapat ditentukan dengan eksak, karena waktu tersebut bergantung pada temperatur dan ukuran krus maupun bahan krus itu. Bejana platinum memerlukan waktu yang lebih pendek daripada

bejana porselin, kaca dan silika. Lazim membiarkan krus platinum dalam desikator selama 20 25 menit, dan krus yang terbuat dari bahan lain 30 35 menit, sebelum ditimbang (Vogel, 1989).

2.5

Cairan Volatil Cairan volatil adalah cairan yang mudah menguap pada suhu titik didih air. Hal ini disebabkan karena cairan volatil memiliki ikatan yang lemah ataupun tidak memiliki ikatan hidrogen. Bila suatu cairan volatil dengan titik didih < 100 oC diletakkan dalam Erlenmeyer bertutup yang mempunyai lubang kecil pada tutupnya, dan kemudian labu tersebut dipanaskan sampai 100 oC maka cairan tadi akan menguap dan uap tersebut akan mendorong udara yang terdapat pada erlenmeyer keluar melalui lubang kecil tadi, setelah semua udara keluar, akhirnya uap cairan sendiri yang keluar, sampai akhirnya uap ini akan berhenti keluar jika keseimbangan tercapai yaitu tekanan uap cairan dalam labu Erlenmeyer sama dengan tekanan udara luar (Sunaryo, 2008).

2.6 Aplikasi Dalam Industri Proses Produksi Dietil Eter dengan Dehidrasi Etanol Pemanfaatan etanol konsentrasi rendah dapat dilakukan dengan

menkonversi menjadi produk yang lebih potensial seperti Dietil Eter (DEE). Dietil eter adalah cairan bening yang mudah terbakar dan memiliki bau yang khas. Dietil eter banyak digunakan sebagai pelarut laboratorium yang umum, memiliki kelarutan terbatas dalam air dan kelarutan yang tinggi di dalam minyak, lemak, dan resin sehingga sering digunakan untuk proses ekstraksi cair-cair. Selain itu dietil eter merupakan anestetika yang paling sering digunakan dan dianggap aman. Cairan dietil eter bersifat volatil. Pada kondisi atmosferik, dietil eter menguap pada suhu 38 C. Proses produksi Dietil eter secara langsung yang paling banyak di dunia adalah sulfuric acid atau proses Barbet. Konversi Dietil eter yang dihasilkan sebesar 94%. Kelemahan dari proses ini adalah pemisahan katalis masih sulit dan mahal serta katalis bersifat korosif sehingga membutuhkan investasi
o

peralatan cukup mahal. Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut dengan cara mengembangkan katalis heterogen, Dalam penelitian ini digunakan katalis dari zeolit alam yang deposit dan kemurniannya cukup tinggi di Indonesia. Zeolit merupakan kristal alumina silika yang mempunyai struktur berongga atau berpori dan mempunyai sisi aktif yang bermuatan negatif yang mengikat secara lemah kation penyeimbang muatan. Kerangka dasar struktur zeolit terdiri dari unit tetrahedron dimana setiap silikonnya berikatan dengan empat atom oksigen. Penggunaan zeolit sebagai katalis didasarkan pada sifatnya yang secara bebas dapat diakses (dimasuki) oleh reaktan ke pusat aktif intra Kristal (Savitri, 2010). Zeolit alam

Pengadukan + pemanasan 90 oC

Pencucian

Pengeringan

Kalsinasi
Zeolit aktif

Proses dehidrasi
40-60 oC

Etanol

Dietil eter Gambar 2.1 Diagram Proses Produksi Dietil Eter dengan Dehidrasi Etanol (Savitri, 2010)