Anda di halaman 1dari 20

Pelatihan

Perencanaan Kesehatan Terpadu (Integrated Health Planning and Budgetting)

ICDC Project

MODUL #1

ANALISIS SITUASI KESEHATAN DATI II DAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN

Modul I Halaman 0

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Modul I Halaman 1

Bagian I

Pendahuluan

Desentralisasi yang memberikan keleluasaan yang lebih besar pada DATI II dalam perencanaan dan pelaksanaan program sudah menjadi komitmen pemerintah seperti tercermin dalam Permendagri No. 8/1982 yang berisi pedoman perencanaan pembangunan daerah. Dalam pedoman tersebut, jelas sekali dirumuskan proses perencanaan pembangunan yang bersifat perencanaan dari bawah (bottom up). Kemudian dilanjutkan dengan Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1987 yang menetapkan penyerahan urusan pembangunan bidang kesehatan kepada DATI II yang meliputi 18 program pokok. Akhirnya pada tahun 1995 terbit Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 44/1995 tentang Uji Coba Otonomi Daerah Tingkat II. Dampak dari kebijakan tersebut adalah perlunya peningkatan kemampuan personil di DATI II dalam melakukan proses perencanaan dan pelaksanaan program. Aparat terkait di DATI II harus mampu merencanakan dan mengelola program secara profesional dalam rangka turut memecahkan masalah kesehatan di daerah masing-masing. Program kesehatan yang disusun untuk dilaksanakan seharusnya bertujuan untuk dapat memecahkan masalah kesehatan di daerah yang bersangkutan. Oleh sebab itu, langkah awal dalam proses perencanaan program adalah mengidentifikasi masalah kesehatan dan kebutuhan yang diperlukan masyarakat. Untuk dapat menjawab pertanyaan tentang masalah kesehatan apa yang dihadapi suatu daerah, kita harus melakukan sebuah analisis komprehensif tentang situasi kesehatan di daerah tersebut. Hal ini mutlak perlu untuk menghindari terjadinya perencanaan kegiatan yang tidak membumi, yang tidak mempunyai justifikasi mengapa kegiatan tersebut dilakukan. Dengan dilakukannya analisis situasi kesehatan, kita dapat memotret kondisi kesehatan masyarakat suatu daerah, serta determinandeterminannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan ini juga perlu kita ketahui sebab seringkali derajat kesehatan tidak dapat atau tidak terukur dengan sempurna karena alasan ketiadaan data. Dengan mengetahui kondisi faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan, dapat diperkirakan secara tidak langsung derajat kesehatan masyarakat atau masalah kesehatan apa yang dialami masyarakat.

Pendahuluan : a. Kegiatan terpusat memberi hak pada dari II dalam rencana & pelaksanaan program pembangunan daerah yang sifat perencanaan dari bawa ditetapkan dengan PP No.7 1987 pada dari II meliputi 18 program pokok & tahun 1995 diterbitkan Kep. Mentri No. 441, 1995 uji coba otonomi dari II. Untuk menunjang perencanaan program adalah mengidentifikasi masukan kesehatan dan kebutuhan yang diperlukan masyarakat faktor-faktor yang mempunyai derajat kesehatan.

Modul I Halaman 2

Bagian II

Tujuan Modul

Tujuan umum Modul #1 ini adalah untuk memberikan pemahaman tentang proses analisis situasi kesehatan sebagai langkah awal identifikasi masalah dan kebutuhan kesehatan. Secara khusus, tujuan modul ini adalah sebagai berikut: 1. Latar Belakang Analisis Situasi Kesehatan Peserta diharapkan mengerti pentingnya analisis situasi kesehatan sebagai langkah awal dari Problem Solving Cycle. Faktor yang mempengaruhi Derajat Kesehatan Dengan latihan ini diharapkan peserta mampu memahami bahwa derajat/status kesehatan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling mempengaruhi seperti apa yang disebut sebagai Konsep BLUM. Pelayanan kesehatan hanyalah salah satu faktor yang berperan dalam menentukan derajat/status kesehatan. Analisis Situasi Kesehatan Peserta diharapkan mengerti tentang metode analisis situasi kesehatan yang menggunakan pendekatan konsep Blum. Sistem Informasi Kesehatan Peserta mengetahui sumber-sumber data yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan data dalam rangka analisis kesehatan.

b.

Tujuan Modul : 1. Latar belakang analisis situasi kesehatan 2. Faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan 3. Analisis Situasi Kesehatan 4. Sistem informasi kesehatan

2.

3.

4.

Bagian III

Pokok Bahasan
c. Pokok Bahasan : 1. Latar Faktor-faktor yang Mempengaruhi Derajat Kesehatan (Blum) 2. Analisis Situasi Kesehatan DATI II 3. Sistem Informasi Kesehatan

Ada 3 pokok bahasan yang sebagai berikut:

menjadi substansi Modul #1 ini, yaitu

1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Derajat Kesehatan (Blum) 2. Analisis Situasi Kesehatan DATI II 3. Sistem Informasi Kesehatan

Modul I Halaman 3

Bagian IV

Kegiatan Latihan

/Proses Belajar Mengajar

Proses pelatihan analisis situasi kesehatan di DATI II dalam pelatihan Proses Perencanaan Program Kesehatan Terpadu (Integrated Health Planning and Budgetting) ini memerlukan waktu selama 240 menit. Bentuk kegiatan adalah (1) Ceramah dan tanya jawab (CTJ) oleh fasilitator, (2) Kerja kelompok, (3) Presentasi hasil kerja kelompok dan (4) Umpan balik, kesimpulan dan penutupan oleh fasilitator. Rincian kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:

untuk dapat diukur sehingga kondisi faktorfaktor yang mempengaruhi derajat kesehatan dapat diperkirakan secra tidak langsung.

KEGIATAN
No

Kegiatan Introduksi Modul


Pokok bahasan 1: 1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Derajat Kesehatan (Blum) Pokok bahasan 2: Analisis Situasi Kesehatan Pokok bahasan 3: Sistem Informasi Kesehatan Latihan (kelompok): Analisis Situasi Kesehatan Dati-II Presentasi hasil kerja kelompok Penutupan

Metode

Waktu

1 2 3 4 5 6 7

CTJ
CTJ CTJ CTJ Kerja

15 mnt 20 mnt 35 mnt 20 mnt 90 mnt 75 mnt 15 mnt 270 mnt

kelompok
Presentasi CTJ

Total

Bagian V

Introduksi Modul

Selama lebih kurang 15 menit, fasilitator menjelaskan hal-hal sebagai berikut: 1. Kedudukan Modul #1 ini dalam dalam keseluruhan konsep dan proses Perencanaan Kesehatan Terpadu (Integrated Health Planning and Budgetting), khususnya yang berhubungan dengan ICDC Project. 2. Tujuan modul ini. 3. Pokok bahasan yang akan disampaikan. 4. Kegiatan selama latihan untuk Modul #1 ini dan waktu yang dialokasikan untuk masing-masing kegiatan. 5. Bahan-bahan yang dipergunakan (bahan bacaan). 6. Tugas peserta (pembagian kelompok kerja dan tugas kelompok).
Modul I Halaman 4

Bagian VI

Pokok Bahasan 1
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Derajat Kesehatan
Dalam Problem Solving Cycle, proses pemecahan masalah selalu dimulai dari analisis situasi. Analisis situasi bertujuan untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang kondisi kesehatan daerah yang akan berguna dalam menetapkan permasalahan. Dari hal itu baru kemudian proses perencanaan pemecahan masalah dapat dilakukan. Proses Pemecahan Masalah harus dapat benar-benar memecahkan masalah kesehatan yang ada di masyarakat. Semua itu memerlukan dukungan informasi yang tepat dari proses analisis situasi. Berbagai pendekatan proses analisis situasi dapat digunakan. Namun sebelum itu ada baiknya dibahas terlebih dahulu faktor-faktor apa yang mempengaruhi derajat kesehatan. Analisis situasi bukan hanya berguna dalam rangka proses mengidentifikasikan masalah tetapi juga berguna dalam rangka perencanaan program dan analisis hambatan. Informasi mengenai lingkungan, perilaku kesehatan, sumber daya kesehatan, output program kesehatan dan juga informasi kependudukan akan sangat besar artinya dalam proses selanjutnya. Hendrick L. Blum dalam bukunya Planning for Health, mengemukakan konsep tentang faktor-faktor apa yang mempengaruhi derajat kesehatan. Konsep tersebut, lebih dikenal dengan konsep Blum, saat ini diterima secara meluas dalam dunia kesehatan masyarakat.

Faktor Penduduk

Herediter /Keturunan

Faktor Lingkungan

Fisik Biologis Sosio-kultural

Derajat Kesehatan Fisik Mental Sosial

Faktor Pelayanan Kesehatan Promotif Preventif Kuratif Rehabilita tif

Faktor Perilaku

Sikap Gaya hidup

Modul I Halaman 5

Skema di atas menunjukkan bahwa derajat kesehatan yang didalamnya mencakup kesehatan fisik, mental, dan sosial dipengaruhi oleh empat kelompok besar faktor/determinan yang mempengaruhinya. Faktor terpenting yang mempengaruhi derajat kesehatan adalah faktor Lingkungan. Besarnya kontribusi lingkungan terhadap derajat kesehatan ditunjukkan oleh besarnya panah yang yang berasal dari lingkungan. Faktor lingkungan mencakup lingkungan fisik, biologis serta sosio kultural kemasyarakatan. Faktor kedua yang menentukan derajat kesehatan adalah faktor perilaku. Termasuk dalam kategori ini adalah sikap dan gaya hidup. Pelayanan Kesehatan yang dapat berupa pelayanan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif adalah faktor ketiga terbesar yang menentukan derajat kesehatan. Faktor terakhir adalah faktor yang secara alami dimiliki oleh penduduk sendiri yaitu faktor keturunan atau herediter. Keempat determinan derajat kesehatan di atas saling berinteraksi satu dengan yang lainnya, yang sifat interaksinya dapat saja positif atau negatif terhadap derajat kesehatan. Misalkan seseorang yang hidup di lingkungan yang mempunyai tingkat pencemaran udara tinggi dan ia mempunyai perilaku kesehatan yang kurang baik (merokok misalnya), maka kedua hal itu akan berinteraksi menekan status kesehatannya (penyakit saluran napas, paru-paru). Melihat konsep diatas, dapat disimpulkan bahwa derajat kesehatan bukan ditentukan oleh satu faktor saja. Demikian pula diketahui bahwa pelayanan kesehatan hanyalah salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan dan bukanlah faktor yang terpenting. Derajat kesehatan yang multifaktorial ini mengharuskan kita menganalisis masalah kesehatan secara multifaktor pula. Mengikuti kerangka di atas, analisis situasi kesehatan selayaknya meliputi 5 (lima) aspek, yaitu: A. Analisis derajat (masalah) kesehatan, termasuk masalah gizi B. Analisis lingkungan kesehatan, yang meliputi lingkungan fisik, biologis, ekonomi, sosial, dan kultural C. Analisis perilaku kesehatan, yang meliputi sikap dan perilaku masyarakat tentang kesehatan D. Analisis faktor keturunan) kependudukan (termasuk di dalamnya faktor

E. Analisis program dan pelayanan kesehatan

Modul I Halaman 6

Bagian VII

Pokok Bahasan 2
Analisis Situasi Kesehatan DATI II

Analisis yang menggunakan kerangka pendekatan Blum ini akan memotret situasi kesehatan, yang kemudian hasilnya dapat dipergunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang harus dipecahkan. Dalam ICDC Project, analisis situasi difokuskan pada hal-hal yang berhubungan dengan penyakit-penyakit yang menjadi proyek, yaitu ISPA, Malaria, Tb Paru dan Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Namun demikian, idealnya analisis situasi tidak meninggalkan hal-hal lain selain penyakit tujuan proyek karena dalam Problem Solving Cycle hal-hal lain haruslah tetap mendapat porsi yang cukup dalam analisis. A. Analisis Derajat (Masalah) Kesehatan Sehat dapat mencakup pengertian yang sangat luas, yakni bukan saja sehat dalam arti bebas dari penyakit tetapi termasuk juga tercapainya kesejahteraan fisik, sosial dan mental. Penyimpangan sedikit dari pengertian itu sudah menyebabkan seseorang dikategorikan tidak sehat. Pengertian yang melebar ini menyebabkan setiap orang dapat terkategorikan sebagai tidak sehat walaupun penyimpangan yang terjadi sangat minor. Oleh sebab itu, adalah bijaksana untuk membatasi ukuran yang praktis, sederhana, mudah diperoleh, dan mudah dibandingkan. Untuk menilai suatu kondisi kesehatan digunakanlah indikator-indikator, yaitu kesepakatan mengenai kuantifikasi fenomena yang terjadi. Dengan indikator, suatu keadaan dengan mudah dapat dibandingkan dengan standar, dengan daerah lain, dan dengan waktu yang lain (trend). Penggunaan indikator untuk mengukur sebuah variabel harus valid, yaitu mengukur apa yang benar hendak diukur dan reliable, yaitu hasil pengukuran pada obyek yang sama akan tetap menghasilkan hal yang sama apabila pengukuran dilakukan pada tempat dan waktu yang lain. Misalkan, untuk menilai status gizi ibu hamil di suatu daerah digunakan indikator rasio jumlah bayi yang lahir kondisi BBLR dibanding jumlah bayi lahir dengan berat badan normal. Penilaian menggunakan indikator rasio jumlah ibu yang meninggal karena tetanus dibanding jumlah seluruh ibu hamil tidaklah mengukur status gizi ibu hamil dengan valid. Reliabilitas suatu indikator harus pula diperhatikan. Indikator rasio jumlah bayi lahir BBLR dibanding bayi lahir normal mempunyai tingkat reliabilitas yang baik, yaitu bila keadaan yang sama diukur di lain tempat atau lain waktu akan menghasilkan ukuran yang sama pula. Lebih lanjut, dalam menganalisis masalah kesehatan, diperlukan kemampuan untuk mengaplikasikan metode dan konsep epidemiologi, sebab pada dasarnya ukuran-ukuran yang dipergunakan dalam menggambarkan masalah atau derajat kesehatan adalah ukuran-ukuran epidemiologi seperti morbiditas dan mortalitas.
Modul I Halaman 7

1. Mortalitas Angka Kematian (mortalitas) merupakan indikator status kesehatan dan sekaligus juga indikator kependudukan. Ada beberapa jenis angka kematian yang mempunyai kepekaan lebih terhadap masalah kesehatan dibanding jenis angka kematian lainnya. Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate), Angka Kematian Menurut Penyebab (Cause Specific Death Rate), dan Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Rate) merupakan indikator yang peka untuk menggambarkan status kesehatan bila dibandingkan dengan Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate) atau Angka Kematian Menurut Umur (Age Specific Death Rate) yang lebih tepat untuk menggambarkan keadaan demografis. 2. Morbiditas Angka kesakitan atau morbiditas adalah jumlah orang yang terkena penyakit tertentu. Ada dua macam cara yang digunakan untuk mengukur angka kematian yaitu Angka Insidens (Incidence Rate) dan Angka Prevalens (Prevalence Rate). a) Angka Insidens Adalah jumlah kasus baru suatu penyakit tertentu yang terjadi dalam suatu kelompok masyarakat tertentu, dalam waktu tertentu pula. Biasanya angka insidens dihitung dalam jangka waktu satu tahun.

Incidence Rate

Jumlah kasus baru 1000 Jumlah penduduk berisiko

Misalnya di kecamatan X yang berpenduduk 15.098 jiwa, jumlah kasus baru penyakit Malaria yang ditemukan selama tahun 1997 sebanyak 234 orang. Dalam kasus malaria, seluruh penduduk berisiko terhadap penyakit ini, oleh karena itu angka insidensnya:

234 1,54% 15.098


atau 15,4 kasus baru per seribu penduduk selama setahun. b) Angka Prevalens Adalah jumlah orang yang menderita penyakit tertentu dalam suatu kelompok penduduk tertentu dalam suatu waktu tertentu pula. Ada dua metode penghitungan angka prevalens yaitu i) Point Prevalence Rate, ii) Period Prevalence Rate. Point prevalence yaitu penghitungan jumlah orang yang menderita penyakit terterntu dalam waktu singkat (misalnya pada 1 hari). Hasilnya adalah jumlah orang yang menderita penyakit tersebut pada hari itu. Dalam praktek, hal ini sulit dilakukan sehingga biasanya dilakukan penghitungan dengan metode Period Prevalence Rate, yaitu menghitung jumlah orang yang menderita penyakit selama jangka waktu tertentu (misalnya 2 minggu).

Period prevalence Rate

Jumlah penderita 1000 Jumlah penduduk


Modul I Halaman 8

Jika Angka Prevalens tersebut dihitung khusus untuk penyakit tertentu, hasilnya adalah Disease Specific Prevalence Rate. Jika perhitungan dilakukan khusus untuk kelompok umur tertentu maka hasilnya adalah Age Specific Prevalence Rate. Dalam contoh kasus sebelumnya, di kecamatan X, selama tahun 1997 jumlah kasus lama (penderita yang masih menderita penyakit Malaria) sebanyak 578 orang. Maka jumlah penderita malaria adalah jumlah kasus lama ditambah kasus baru = 578 + 234 = 812 orang. Angka prevalensnya adalah:

812 5,37% 15.098


atau 53,7 penderita Malaria dalam 1.000 penduduk.

c) Case Fatality Rate


Sebenarnya Case Fatality Rate (CFR) adalah indikator yang berkaitan dengan kematian (mortalitas) namun dibahas dalam kerangka morbiditas karena keeratan hubungannya dengan kejadian penyakit.

Case Fatality Rate adalah proporsi orang yang mati akibat suatu

penyakit tertentu diantara orang yang menderita penyakit tersebut. Misalnya dari 1.000 anak yang menderita campak (morbili), 50 orang diantaranya meninggal dunia (oleh karena campak), maka case fatality rate penyakit campak adalah:

CFR

50 5% 1.000

CFR biasanya dipakai untuk membandingkan berat-ringannya akibat berbagai macam penyakit terhadap manusia. Selain itu, CFR menunjukkan dapat pula menunjukkan efektifitas upaya-upaya pengobatan terhadap penyakit. Misalkan setelah dilakukan program imunisasi TT, CFR Tetanus Neonatorum turun dari angka sebelum diadakannya program tersebut. B. Analisis Lingkungan Kesehatan Aspek lingkungan adalah faktor yang memiliki pengaruh yang paling besar terhadap derajat kesehatan. Secara spesifik, aspek lingkungan yang berhubungan dengan kesehatan dapat dikategorikan dalam aspek lingkungan fisik, biologis, dan lingkungan sosial. 1. Lingkungan Fisik Termasuk dalam kategori lingkungan fisik adalah suhu udara, kelembaban, penyinaran matahari, kebisingan dan lain-lain. Semua aspek di atas mempengaruhi terjadinya penyakit dan tingkat kesehatan masyarakat. Indikator yang digunakan sangat bervariasi tergantung dari jenis data yang dipergunakan. Tingkat kelembaban yang berbeda misalnya, mempengaruhi tingkat pertumbuhan bakteri, yang kemudian dapat mengganggu kesehatan manusia.
Modul I Halaman 9

Analisis lingkungan fisik ini dapat dilakukan dengan mempergunakan data yang diperoleh dari sumber-sumber data yang ada seperti Badan Meteorologi dan Geofisika, BPS, Bapedal, dan lain-lain. 2. Lingkungan Biologis Komponen yang termasuk dalam lingkungan biologis adalah sanitasi, kuman penyakit, vektor, binatang ternak dan lain-lain. Ada berbagai jenis indikator yang dapat digunakan dalam menganalisis lingkungan biologis, seperti akses terhadap air bersih, jumlah jamban dan pembuangan sampah, keberadaan vektor penyakit. Indikator yang digunakan juga sangat bervariasi tergantung dari jenis datanya. Penyakit-penyakit yang tercakup dalam ICDC Project adalah penyakit menular yang sangat terpengaruh oleh kondisi lingkungan biologis. Misalnya penyakit Malaria, yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Tingginya kepadatan nyamuk Anopheles pada suatu merupakan indikator bahwa di daerah tersebut tingkat risiko penularan malaria tinggi. Daerah yang mempunyai area yang berawa-rawa juga lebih mempermudah vektor penyakit malaria tersebut berkembang biak. Hal ini juga dapat menyebabkan tingginya morbiditas akibat penyakit malaria. Sanitasi lingkungan juga mempengaruhi kejadian tuberculosis paru. Pada lingkungan dengan sanitasi yang tidak baik, prevalens tuberculosis dapat diperkirakan tinggi. Untuk penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) dan penyakit-penyakit yang tergolong dalam penyakit ISPA, kondisi lingkungan biologis juga sangat berperan penyebarluasannya. 3. Lingkungan Sosial Ekonomi Informasi mengenai keadaan sosial ekonomi masyarakat juga sangat bermanfaat dalam menganalisis faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan. Misalnya studi epidemiologis menyebutkan bahwa proporsi penderita penyakit Tb. Paru lebih banyak terjadi pada masyarakat yang berada pada strata bawah. Tingkat ekonomi masyarakat juga dapat menjadi indikator dari kemampuan masyarakat untuk ikut menikmati pelayanan kesehatan. Adanya akses (secara fisik) ke pelayanan kesehatan saja belum dapat dijadikan jaminan bahwa mereka akan mendapat pelayanan kesehatan dengan optimal. Diperlukan pula kemampuan ekonomi untuk mendapat akses ke pelayanan kesehatan dalam artian sebenarnya. Informasi mengenai lingkungan sosial juga dapat berguna. Misalnya saja bahwa secara sosial diketahui bahwa penderita penyakit TBC biasanya dikucilkan dari pergaulan karena dianggap menderita penyakit kutukan Tuhan. Data yang diperlukan untuk menganalis lingkungan kesehatan diantaranya adalah indikator ekonomi daerah seperti Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita, perkembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan lain-lain. Sedangkan untuk data lingkungan sosial
Modul I Halaman 10

yaitu pranata (lembaga-lembaga) yang ada dan hidup di masyarakat seperti pengaruh lembaga adat, organisasi sosial kemasyarakatan, pengaruh lembaga keagamaan dan lain-lain

C. Analisis Perilaku Kesehatan Perilaku kesehatan yang mempengaruhi derajat kesehatan juga sangat diperlukan dalam analisis situasi. Yang dimaksud dengan analisis perilaku kesehatan adalah analisis konsep sehat-sakit dan juga kepercayaan-kepercayaan tentang kesehatan yang ada di masyarakat. Perlu juga digambarkan perilaku hidup bersih dan sehat, kebiasaankebiasaan yang berkembang di masyarakat, serta pola perilaku dalam mengkonsumsi makanan. Suatu daerah yang masyarakatnya diketahui memiliki persepsi bahwa seorang bayi tidak baik mendapat imunisasi karena hasilnya si bayi akan menjadi sakit (suhu tubuh naik), dapat diperkirakan bahwa angka cakupan imunisasinya tidak tinggi dan akibatnya penyakit-penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi akan merebak. Sumber data dan informasi tentang analisis perilaku kesehatan ini ada yang dapat dicari dari Susenas, SKRT, dan lain-lain, dan ada pula yang dapat dicari secara kualitatif dari sumber-sumber data langsung di masyarakat seperti tokoh masyarakat, bidan, dukun, dan lain-lain. Secara teknis tidak semua indikator perilaku kesehatab ini mudah didapat. D. Analisis Kependudukan Data faktor keturunan/hereditas yang mempengaruhi status kesehatan biasanya sulit didapat. Oleh karena itu untuk analisis faktor kependudukan biasanya dilakukan analisis demografi. Data demografis penting untuk menentukan besaran masalah dan juga besaran target program. Jumlah Balita misalnya sangat berguna dalam penetapan sasaran imunisasi Polio. Informasi yang didapat dari analisis demografis juga diperlukan untuk mendukung analisis indikator-indikator lainnya. Misalnya jumlah anak balita yang ada di suatu daerah dapat digunakan untuk mendukung indikator rasio jumlah Juru Imunisasi dibanding dengan jumlah balita di suatu daerah. Untuk melakukan analisis kependudukan, data yang diperlukan adalah jumlah, komposisi, serta struktur penduduk, pertumbuhan penduduk, mobilitas, dan persebaran penduduk. Di samping itu diperlukan pula informasi spesifik lain seperti jumlah bayi dan balita, ibu hamil, fertilitas, fekunditas, tingkat pendidikan, mata pencaharian dan lain sebagainya. Informasi ini dapat diperoleh dalam bentuk yang sudah siap pakai seperti dari kantor BPS berupa Kabupaten dalam Angka atau dari Laporan Pemda tentang perkembangan daerah.

Modul I Halaman 11

E. Analisis Program dan Pelayanan Kesehatan Sumber-sumber data yang ada untuk analisis ini adalah Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP), Sistem Pencatatan dan Pelaporan Rumah Sakit (SP2RS), Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), dan lainlain. Analisis program dan pelayanan kesehatan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem, yaitu dengan memperhatikan komponen Input-Proses-Output. Namun karena aspek Proses dalam program dan pelayanan kesehatan sangat banyak dan berbeda-beda antar program maka analisis lebih ditekankan pada komponen Input dan Output. Analisis dengan pendekatan sistem ini dilakukan dengan cara merinci faktor dan atau komponen apa yang ada pada Input, bagaimana proses penyampaian pada tujuan, serta merinci apa yang ada pada Output serta Outcome upaya kesehatan. 1) Analisis Input Ada berbagai input upaya kesehatan, seperti tenaga, dana, fasilitas dan sarana, kebijakan, teknologi, dan lain-lain. Langkah dalam analisis input adalah merinci secara jelas input yang ada untuk setiap jenis input baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Misalnya analisis keadaan fasilitas kesehatan yang ada di DATI II dapat dilakukan dengan membuat daftar dari semua fasilitas yang ada di DATI II. Keadaan Fasilitas Kesehatan Kabupaten : X Tahun : 1997 No. Jenis Fasilitas Jumlah 1. Rumah Sakit Umum 2 2. Rumah Sakit Khusus 0 3. Rumah Bersalin 5 4. Puskesmas DTP 10 5. Puskesmas Non-DTP 27 6. Puskesmas Pembantu 52 7. Poliklinik Swasta 12 8. Praktek dokter 70 9. Laboratorium klinik 3 10. Apotek 5 Keadaan Fasilitas RS Kabupaten : X No. Nama RS 1. RS A 2. RS B 3. RS Bersalin C 4. RS Bersalin D 5. RS Bersalin E 6. RS Bersalin F 7. RS Bersalin G Tahun : 1997 Tipe Kapasitas TT B 125 C 40 10 25 5 15 20

Kepemilikan Pemerintah ABRI Swasta Swasta Swasta Swasta Swasta


Modul I Halaman 12

Dari tabel-tabel di atas dapat diambil beberapa indokator berupa rasio antara jumlah puskesmas dengan jumlah penduduk, rasio kapasitas Tempat Tidur dengan Jumlah penduduk dan lain-lain. Gambaran ini penting untuk menganalisis kebutuhan masyarakat akan akses ke fasilitas kesehatan. Analisis juga perlu dilakukan untuk aspek-aspek lain dari komponen input. Contoh berikut adalah analisis sumber daya tenaga kesehatan yang ada di kabupaten. Keadaan Sumber Daya Tenaga Kesehatan Kabupaten : X Tahun : 1997 No. Jenis Tenaga 1. Dokter Ahli 2. Dokter Umum 3. Dokter Gigi 4. Apoteker 5. Sarjana Kesehatan Masyarakat 6. Sarjana Kesehatan Lain 7. Paramedis Perawatan 8. Paramedis Non-Perawatan 9. Paramedis Pembantu 10. Tenaga Non-Medis

Jumlah 15 52 14 9 5 7 897 205 299 321

Dari hasil rincian dapat dianalisis lebih lanjut tentang kecukupan tenaga kesehatan di daerah tersebut. Indikatornya dapat berupa rasio tenaga dengan jumlah penduduk yang dilayani, rasio dokter dengan jumlah ibu hamil dan lain-lain. Demikian analisis input dilakukan untuk semua aspek input program kesehatan yang ada. 2) Analisis Output Upaya Kesehatan Dari berbagai pelaksanaan kegiatan program, dapat dilakukan analisis tentang hasil yang dicapai dengan upaya kesehatan tersebut. Dalam analisis perlu dibedakan antara pencapaian program dengan output program. Pencapaian program lebih bersifat statis, yaitu hanya menggambarkan keadaan sampai suatu saat tertentu, misalnya angka pencapaian imunisasi Campak yang dinyatakan dalam % (jumlah bayi yang diimunisasi Campak dibagi dengan jumlah target populasi imunisasi campak yaitu seluruh populasi Bayi). Laporan Pencapaian/Cakupan Program Imunisasi Kabupaten : X Tahun : 1997 Cakupan per Kecamatan (%) Program
Kec.A Kec.B Kec.C Kec.D Kec.E

Kec.F

Imunisasi PD3I Imunisasi TT Imunisasi BCG Imunisasi DPT Imunisasi Polio Imunisasi Campak

Modul I Halaman 13

Output program lebih bersifat dinamis, yang menggambarkan berapa banyak output (hasil) yang diproduksi per satuan waktu, misalnya perbulan. Dengan mengetahui output imunisasi Campak per bulan misalnya, maka akan bisa dilihat pola/trend output selama setahun. Trend ini pada dasarnya menggambarkan kapasitas upaya kesehatan dan akan berguna untuk penetapan sasaran pada masa yang akan datang. Laporan Output Program Kabupaten : X Tahun : 1997 Program KIA-Imunisasi Campak Kec. A Kec. B Kec. C Kec. D Kec. E KIA Imunisasi TT Kec. A Kec. B Kec. C Kec. D Kec. E dll. Berikut disampaikan contoh lain dari rincian output program yang dapat dianalisis:
Fasilitas/Program RS Rawat Jalan RS Rawat Inap Puskesmas Puskesmas Pembantu Posyandu Indikator Jumlah kunjungan/tahun Jumlah hari rawat /tahun BOR Jumlah kunjungan/tahun Jumlah kunjungan/tahun Rata-rata kunjungan/tahun Besaran Indikator

Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Sebagai tambahan dari analisis yang mengacu pada pendekatan Blum tadi, diperlukan beberapa analisis lain untuk memperkaya potret situasi kesehatan yang sedang kita buat. 3) Analisis Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat seringkali menjadi faktor penting dalam keberhasilan program kesehatan. Kesulitannya adalah bahwa belum adanya ukuran standar peran serta masyarakat dalam program kesehatan, sehingga indikatornya tidak dapat dibandingkan dengan pengukuran pada daerah atau waktu yang lain. Contoh dari analisis peran serta masyarakat ini adalah tingkat partisipasi masyarakat dalam mengikuti Posyandu, rasio kader kesehatan yang aktif, dan lain-lain.
Modul I Halaman 14

4) Analisis Kebijakan Pembangunan Kesehatan Perlu juga dilakukan analisis terhadap kebijakan pembangunan kesehatan, yang sesuai dengan tingkat analisisnya masing-masing (nasional, provinsi, kabupaten). Dinas Kesehatan DATI II perlu mempelajari kebijakan-kebijakan baik yang berasal dari pusat ataupun provinsi karena kebijakan tersebut akan sangat berpengaruh pada kegiatan di DATI II. Perubahan di berbagai bidang pembangunan kesehatan makin dipercepat dengan adanya berbagai proyek bantuan ataupun pinjaman luar negeri. F. Metode Analisis dan Penyampaian Data Ada berbagai metode yang dapat digunakan untuk menganalisis data yang ada. Untuk modul ini bahasan akan dibatasi pada metode penyampaian dan analisis data saja. Indentifikasi dan Prioritas masalah akan dibahas pada Modul #2. Analisis situasi kesehatan selanjutnya menggunakan metode-metode epidemiologi untuk menganalisis lebih lanjut. Tujuannya adalah untuk lebih mengetahui epidemiologi penyakit pada kelompok masyarakat tertentu. Dengan diketahuinya kelompok masyarakat mana yang terkena, penentuan masalah dan tujuan program nantinya akan menjadi lebih mudah. Analisis epidemiologi pada dasarnya adalah mengelompokkan kejadian penyakit pada variabel orang, tempat, dan waktu. Dengan pengelompokkan ini dapat diketahui siapa atau kelompok mana yang menderita penyakit tertentu, sehingga identifikasi masalah dan penetapan tujuan program dapat lebih akurat. Beberapa analisis sederhana dapat dilakukan untuk dapat melihat situasi kesehatan secara lebih mudah. 1. Analisis Pembandingan Data dari sebuah indikator dapat disajikan dengan membandingkannya dengan standar yang berlaku umum atau dibandingkan dengan target yang harus dicapai. Dapat pula data dibandingan dengan data yang didapat dari daerah lain. 2. Analisis Kecenderungan (Trend) Analisis kecenderungan sangat berguna dilakukan untuk melihat kecenderungan kejadian penyakit di suatu daerah. Bila pada suatu daerah yang diketahui endemis Tb. Paru diketemukan bahwa prevalens penderita semakin meningkat pada tahun-tahun terakhir, maka patut dicurigai bahwa terjadi peningkatan tingkat resistansi basil tuberculosis terhadap antibiotika. Analisis kecenderungan juga berguna dalam melihat apakah kejadian penyakit tertentu mempunyai kecenderungan siklus atau tidak. Dapat pula diperkirakan hubungan kejadian penyakit dengan terjadinya kasuskasus tertentu. Misalnya dengan adanya kasus kerusuhan belakangan ini di berbagai daerah yang mengakibatkan turunnya aktifitas imunisasi,
Modul I Halaman 15

dapat diperkirakan terjadi peningkatan penyakit yang terkait pada masa yang akan datang. Untuk menyampaikan data dan informasi tersebut dapat dipergunakan berbagai alat. 1. Naratif Informasi yang terkumpul dapat disajikan secara naratif. Informasi yang ada dituliskan secara rinci dan jelas. Metode ini tepat untuk menyajikan informasi yang bersifat kualitatif. 2. Tabel Dengan mempergunakan tabel, dapat dilihat dengan rinci data dan informasi yang ingin dikemukakan. Tabel memungkinkan penyajian data secara sistematis dan detail. Berikut disampaikan contoh informasi tentang output program pemberantasan Tb. Paru di kabupaten X. No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Puskesmas Puskesmas Puskesmas Puskesmas Puskesmas Puskesmas A B C D E
Sputum Diperiksa BTA + Diobati Sembuh

247 52 172 156 180

23 5 14 20 17

17 4 12 16 16

15 3 7 13 10

3. Grafik Metode penyajian data dengan grafik mempunyai beberapa kelebihan dari tabel. Meskipun data yang ditampilkan tidak dapat serinci dengan apa yang mampu disajikan dalam sebuah tabel, grafik lebih memudahkan pembacaan dan interpretasi data. Grafik didesain untuk menolong pengguna informasi untuk dapat menggunakan instuisinya saja dengan melihat grafik secara sekilas. Grafik lebih bersifat self explanatory daripada tabel. Adapun Jenis Grafik yang dapat digunakan yaitu: a. Histogram b. Grafik garis c. Grafik Batang

d. Pie-Chart e. Scatter Plot


f.

Dan lain-lain

Masing-masing jenis grafik mempunyai keunggulan masing-masing untuk menyampaikan data yang jenisnya berbeda. Pie-Chart misalnya, lebih tepat untuk menyajikan data proporsi, sedangkan diagram garis tepat untuk menyajikan data kecenderungan (trend). Secara teknis, detail jenis-jenis grafik tidak akan disampaikan dalam modul ini.
Modul I Halaman 16

Bagian VIII

Pokok Bahasan 3
Sistem Informasi Kesehatan

Dalam rangka menghasilkan analisis situasi kesehatan yang akurat, diperlukan sumber-sumber data dan informasi yang cukup dalam artian kuantitas dan kualitas. Data dan informasi yang diperlukan dapat berasal dari Sistem Informasi Kesehatan yang sudah terstruktur atau dapat pula berasal dari sumber-sumber informal yang dapat diperoleh. Dalam modul ini hanya akan dibahas secara mendalam sumber-sumber data dari Sistem Informasi Kesehatan Sistem Informasi Kesehatan adalah sebuah sistem beserta subsistemnya yang memberikan data dan informasi tentang kondisi, derajat/status kesehatan, sumber daya, output kegiatan/program dan informasi lain yang berhubungan dengan upaya kesehatan dalam rangka proses pengambilan keputusan. Sebuah Sistem Informasi yang baik harus mampu memberikan informasi yang: Akurat Relevan Lengkap Tepat Waktu Ringkas Demikian pula sistem informasi kesehatan harus mampu menyediakan informasi yang akurat. Informasi yang dapat digunakan dalam analisis situasi dapat berasal dari: 1. Laporan Rutin Pemda Pemerintah daerah setiap tahun mengeluarkan laporan-laporan tahunan tentang kondisi dan situasi daerahnya. Laporan-laporan ini banyak yang dipergunakan sebagai input analisis situasi kesehatan. Sebagai contoh adalah laporan Kabupaten dalam Angka yang rutin dibuat setiap tahun. Laporan Pemda ini mencakup banyak hal mulai dari aspek kependudukan, ekonomi, kesehatan sampai dengan sosial politik. 2. Laporan Rutin Puskesmas (SP2TP) dan Laporan Rutin Rumah Sakit (SP2RS) Jajaran Kesehatan DATI II, mendapatkan laporan yang teratur dari Puskesmas dan Rumah Sakit yang ada di kabupaten. Informasi ini cukup lengkap untuk dijadikan dasar analisis input dan output program kesehatan.

3. Rapid Survey

Hasil dari beberapa rapid survey yang dilakukan di beberapa lokasi dapat dijadikan input untuk analisis masalah kesehatan.

4. Surveilans Epidemiologi Ditjen P2M & PLP mempunyai sistem surveilans yang sudah dengan rutin mengumpulkan data berbagai penyakit, termasuk diantaranya penyakit-penyakit yang menjadi fokus ICDC Project. 5. Survei Kesehatan Rumah Tangga
Modul I Halaman 17

Dari hasil survei ini dapat diketahui informasi yang menyangkut kesehatan masyarakat dan pola hidup sehat yang ada di masyarakat. 6. Survei Sosial Ekonomi Nasional Dari hasil survei ini dapat diperoleh banyak informasi yang mencakup kondisi sosial ekonomi masyarakat. Data yang ada sebenarnya cukup luas dan dalam. Hasil Susenas ini bisa pula dianalisis langsung dari data mentahnya dengan menggunakan program database. 7. Survei Keluarga Sejahtera BKKBN BKKBN mempunyai sebuah sistem informasi tersendiri yang isinya cukup kaya yang diantaranya meliputi informasi keluarga sejahtera dan non-sejahtera. 8. Mapping Gizi Baru-baru ini dilakukan sebuah pemetaan gizi masyarakat yang dilakukan oleh departemen pertanian bekerjasama dengan sebuah institusi internasional. Informasi yang ada tersebut ada yang berupa data siap saji, yaitu data yang sudah secara sistematis ditampilkan dan siap digunakan, ada pula data yang masih harus diolah kembali. Pengolahan data ada yang dapat secara sederhana dilakukan, misalnya dengan mengumpulkan laporan tahunan dan kemudian mentabulasi selama beberapa tahun terakhir, namun ada pula yang harus menggunakan database komputer untuk mendapat informasi yang diinginkan.

Modul I Halaman 18

Bagian IX

1. Pembagian kelompok Untuk latihan tentang konsep dasar IHPB ini, kelas dibagi dalam beberapa kelompok kecil. Perlu diusahakan agar setiap kelompok mewakili satu Dati-II tertentu. 2. Tugas kelompok a. Masing-masing kelompok memilih Ketua dan Sekretaris kelompok. b. Tugas kelompok : Diskusikan bersama, informasi-informasi apa saja yang dibutuhkan di daerah saudara dalam rangka analisis situasi dan bagaimana cara mendapat data untuk memenuhi kebutuhan informasi tersebut. Sebutkan secara detail informasi apa didapat dari sumber daya yang mana. Informasi yang dibutuhkan adalah informasi yang berhubungan dengan ICDC Project dan juga informasi umum mengenai masalah lainnya. c. Siapkan hasil diskusi kelompok Saudara, dalam bentuk pointers pada lembar transparans/flipchart, untuk siap dipresentasikan dalam kelas.

Latihan Kelompok

Bagian X

Kesimpulan, Umpan Balik dan Penutupan

Fasilitator menyampaikan kesimpulan umum dan umpan balik (kalau ada) terhadap hasil kerja kelompok.

Bahan Bacaan Disarankan

yang

1. Modul Pelatihan Perencanaan Kesehatan Daerah Tingkat II. FKM-UI dan Depkes RI. 1988 2. Blum, Hendrick L. Planning for Health, 2nd Ed. Human Sciences Press. New York. 3. Alderson, Michael. An Introduction to Epidemiology 2nd Ed. MacMillan Press. 1992. 4. Kuzma, Jan W. Basic Statistic for the Health Sciences. Mayfield Publishing Co. 1984.
Modul I Halaman 19