Anda di halaman 1dari 76

ADAB ZIFAF

Definisi Zifaf adalah : wanita kepada suaminya)1 Jadi, aktivitas pemboyongan atau penyerahan mempelai wanita adalah hal yang paling menonjol pada acara Zifaf. Penyerahan itu dilakukan kepada suaminya, yaitu mempelai lelaki setelah pengucapan ijab kabul dalam akad nikah. Mempelai berdua baik lelaki maupun wanita dalam kondisi Zifaf disebut ('Arus) Jika penyebutan itu untuk menunjuk keduanya, maka

(Memboyong mempelai

( Arusan/Arusain). mereka disebut /


Zifaf adalah sebuah prosesi. Prosesi ini berbeda dengan prosesi akad nikah atau Walimah. Zifaf adalah prosesi tersendiri, yang dilakukan sesudah akad nikah sebelum Walimah, yang diatur hukum-hukumnya dan dijelaskan adab-adabnya. Acara inti Zifaf ada dua, yaitu pemboyongan ( Zafif / Zifaf/ Ihda') dan berhubungan suami istri oleh mempelai (Dukhul / Bina'). Dua hal ini telah dijelaskan oleh Syara' dan diatur adab-adabnya sebagaimana telah dipraktekkan di zaman Rasullah, Khulafur Rasyidin, Tabi'in dan generasi
1

Tahrir Alfadz At-Tanbih

sesudah mereka. Kalaupun saat ini prosesi ini sudah tidak lazim di kalangan kaum Muslimin, maka realitas ini tidak mengubah hukum. Zifaf tetap disyariatkan berdasarkan Nash. Prosesi Zifaf dilakukan sesudah akad nikah, sebelum Walimah. Artinya, acara ini adalah acara yang berada di tengah-tengah antara akad nikah dan Walimah dan menjadi acara terpisah yang dibedakan dengan acara akad nikah dan Walimah. Ketika ijab kabul dalam akad nikah telah absah secara hukum Syara', pasangan suami istri melakukan prosesi Zifaf terlebih dahulu sebelum menyelenggarakan Walimah. Hal yang sangat menonjol pada prosesi Zifaf adalah pemboyongan atau diantarnya pihak wanita kepada suaminya di suatu tempat tertentu. Dengan demikian boleh dikatakan; jika akad nikah adalah penyerahan mempelai wanita kepada mempelai lelaki secara simbolis (dengan kata-kata) maka Zifaf adalah penyerahan mempelai wanita secara praktis (riil) hingga benar-benar dimiliki. Ibarat akad ( jual beli), akad nikah adalah ijab kabul

sementara Zifaf adalah ( serah terima barang)nya. Zifaf adalah prosesi yang disyariatkan, bukan sekedar kebiasaan ('Urf) yang dimubahkan. Zifaf bukan adat, tradisi, atau kebiasaan orang Arab, tetapi merupakan bagian syariat Islam yang diatur oleh Syara' untuk diterapkan umatnya. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Zifaf disyariatkan. Diantaranya Nabi menikahi Aisyah pada usia enam tahun lalu baru berkumpu dengannya pada usia sembilan tahun. Berkumpulnya Nabi 2

dengan Aisyah tidak langsung diserahkan, tapi melalui prosesi khusus,yaitu Zifaf. Demikian pula ketika Nabi melangsungkan pernikahan dengan Maimunah binti Al-Harits. Pada saat suasana masih safar, dan terdapat ketegangan antara kaum Muslimin dan Quraisy, Nabi menyelenggarakan pesta pernikahannya yang di dalamnya terdapat Zifaf. Termasuk juga pernikahan Nabi dengan Shafiyyah binti Huyai. Posisi Shafiyyah yang awalnya sebagai budak, kemudian dibebaskan Nabi, lalu dinikahi kemudian pertemuan beliau dengannya tidak berlangsung dengan cara yang"kering" tapi melalui prosesi tertentu, padahal Shafiyyah tidak punya keluarga, dan saat itu suasananya masih kondisi safar, baru selesai perang dst. Ini semua menjadi dalil bahwa Zifaf disyariatkan. Termasuk pula Taqrir Nabi terhadap Aisyah yang memboyongkan wanita, mengantarkan wanita Anshar yang menikah untuk diserahkan kepada suaminya, perbuatan Nabi mengatur Zifaf Ali, ajaran para Shahabat kepada murid-muridnya untuk mengatur prosesi Zifaf dan tatacara yang mestinya dilakukan, semua itu menjadi dalil yang kuat bahwa Zifaf disyariatkan. Zifaf adalah acara yang penting. Hal-hal yang menunjukkan urgensi dilakukannya Zifaf diantaranya : Prosesi ini dilakukan oleh para Shahabat dan Nabi membenarkannya bahkan terlibat didalamnya serta memberikan petunjuk-petunjuk dalam pelaksanaannya. Prosesi ini terus terjadi dan berulang-ulang tanpa koreksi dan bahkan diwarisi turun temurun melampaui zaman Nabi dan Khulafur Rasyidin. Yang lainnya, Nabi melakukan prosesi Zifaf ketika beliau menikah dengan Aisyah. Andaikan hal ini bukan prosesi penting, untuk apa Nabi 3

menyempatkan melakukannya ? Bukankah lebih praktis dan menghemat biaya jika istri langsung diajak berkumpul tanpa acara tambahan apapun ? Yang lainnya, Nabi menyempatkan Zifaf pada saat safar, padahal safar adalah kondisi seseorang dalam keadaan letih dan banyak hal yang menyusahkan. Lebih-lebih safar Nabi adalah suasana perang. Jika Zifaf memang tidak penting untuk apa menyempatkannya dalam suasana seperti itu ? Yang lainnya : Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi beliau bersabda :

: .
Artinya : Seorang Nabi dari Nabi-Nabi berperang. Maka dia berkata kepada kaumnya : "Janganlah mengikuti aku seorang yang memiliki akad nikah dengan seseorang wanita sementara dia ingin menggaulinya dan dia belum menggaulinya". Jika acara Zifaf yang intinya pemboyongan dan menggauli sampai membuat seorang Nabi mengizinkan tentaranya absen jihad, maka ini adalah dalil yang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi yang menjelaskan ungensi Zifaf. Acara menonjol dalam prosesi Zifaf tidak boleh difahami hanya dibatasi pada acara pemboyongan saja. Sebab wanita diboyong menuju 4

suaminya bukan untuk di lihat-lihat saja lalu setelah itu ditinggalkan. Realitas pemboyongan di zaman Nabi juga menunjukkan bahwa pemboyongan itu selalu dilanjutkan dengan percampuran (berhubungan suami istri). Karena itu acara Zifaf yang menonjol ada dua yaitu pemboyongan dan percampuran suami istri. Bahkan percampuran adalah acara inti, acara puncak, dan acara terpenting dalam Zifaf. Acara Zifaf boleh saja tidak disertai dengan pemboyongan (jika tempatnya dekat misalnya), tapi percampuran dituntut untuk direalisasikan sebab justru pemboyongan itu adalah acara untuk memfasilitasi percampuran suami istri pertama kali. Percampuran inilah yang dalam Nash disebut dengan istilah

atau

Dinamakan Dukhul karena pihak lelaki masuk menemui istrinya untuk mencampurinya, dan dinamakan Bina' karena suami membangun (

)kemah untuk mencampuri istrinya. Dua kata ini dalam

Nash digunakan sebagai kinayah untuk menyebut

(persenggamaan/hubungan suami istri)


Zifaf adalah acara yang didalamnya dua pengantin merasakan puncak kegembiraan. Ketika Nabi menggambarkan kebahagiaan orang beriman di dalam kubur, beliau menyerupakan kegembiraan itu dengan kegembiraan pengantin di saat Zifaf.

Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Hurairah beliau berkata; Rasulullah SAW bersabda :

: . : . . : . . : . ...
Artinya; Jika salah seorang diantara kalian atau salah seorang manusia di kubur, maka ia didatangi dua malaikat berwarna hitam kebiru-biruan. Salah satu dari keduanya bernama dinamakan Munkar yang lainnya dinamakan Nakir. Mereka berkata kepadanya : "Apa komentarmu terhadap lelaki ini, yakni Muhammad. Dia telah mengucapkan apa yang ia ucapkan". Jika dia Mukmin, maka dia akan berkata : "Dia hamba Allah dan Rasul-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak Tuhan selain Allah, dan Muhammad hamba dan Rasul-Nya". Mereka berkata : "Sungguh kami tahu bahwa engkau akan mengucapkan itu". Lalu kuburnya diluaskan tujuh puluh Hasta 6

kali tujuh puluh Hasta. Kemudian ia diberi cahaya di dalamnya. Lalu dikatakan padanya; tidurlah. Maka tidurlah ia, bak tidurnya seorang pengantin ('Arus) yang tidak dibangunkan melainkan oleh keluarga yang paling dicintainya. Namun Zifaf bisa berubah menjadi saat merasakan duka mendalam, yakni ketika suami memutuskan mentalak istrinya di saat itu atau salah satu pihak mati secara tiba-tiba. Talak yang dilakukan suami saat Zifaf bisa disebabkan karena istri menolak disentuh atau suami merasa dibohongi ketika istri tidak memberi tahu aibnya sebelum menikah yang membuat suami kecewa berat. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Umar :

. : . . .
Artinya : Bahwasanya Nabi SAW menikahi seorang wanita dari Bani Ghifar. Tatkala wanita itu diboyong pada Nabi, beliau melihat warna putih (penyakit) pada bagian tubuh antara pusar dan pinggangnya. Maka beliau menceraikannya dan tidak mengambil kembali (mahar yang telah diberikan padanya) darinya sedikitpun.

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan:

. . : .
Dari Al-Walid bin Amr dari Abu Al-Huwairits bahwasanya seorang wanita pengantin masuk menemui suaminya dengan memakai baju berwarna kuning. Kemudian ia mati saat dimasukkan pada suaminya. Maka Aisyah ditanya, beliau menjawab: "Makamkan ia dengan memakai pakaian yang dipakainya." Hukum Zifaf adalah Sunnah. Terdapat sejumlah dalil yang menegaskan hal ini. Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik :

. .
Artinya : Bahwasanya Nabi SAW tinggal bersama Shafiyyah binti Huyai di jalan Khaibar selama tiga hari untuk menggaulinya. Dia (Shafiyyah) adalah termasuk wanita yang dipasangi hijab.

Al- Haitsami menyebutkan dalam kitabnya Majma' Az-Zawaid dari Asma' binti 'Umais :

: . . : . : : .

: .

. : . . :
9

. : . .

. : : . : : . . . . . .
Artinya : Tatkala Fatimah diboyong kepada Ali bin Abi Thalib, kami tidak mendapati dirumahnya melainkan tikar yang dibentangkan, bantal yang diiisi sabut, tempayan dan gelas. Kemudian Rasulullah mengirim utusan dengan pesan : "Jangan sekali-kali berbuat apapun" atau beliau berkata (perawi ragu) :"Jangan sekali-kali mendekati istrimu hingga aku mendatangimu". Maka Nabi SAW lalu datang lalu beliau bertanya; "Apakah di sana ada saudaraku?", Ummu Aiman berkata (beliau adalah ibu dari Usamah bin Zaid. Beliau orang Habsyi, dan beliau adalah wanita yang sholihah) : "Wahai Rasulullah, ini saudaramu dan istrinya adalah putrimu?" Nabi memang mempersaudarakan diantara Shahabat-Shahabatnya dan beliau mempersaudarakan antara Ali dengan dirinya sendiri. Beliau menjawab :"Sesungguhnya itu bisa terjadi wahai Ummu Aiman". Asma' berkata :Maka Nabi meminta sebuah bejana yang berisi air kemudian mengucapkan sesuatu yang dikehendaki Allah untuk mengucapkannya. Kemudian beliau mengusap dada Ali dan 10

wajahnya. Kemudian beliau memanggil Fatimah. Maka Fatimah berdiri menuju beliau dengan tersandung-sandung dalam pakaiannya kena malu. Kemudian Nabi memercikkan air padanya dari bejana itu dan mengucapkan sesuatu yang dikehendaki Allah untuk mengucapkannya. Kemudian beliau berkata kepadanya : "Sungguh, aku tidak menelantarkan kamu ketika aku menikahkanmu dengan keluargaku yang paling aku cintai". Kemudian beliau melihat bayangan orang dari balik tabir atau dari balik pintu, maka beliau bertanya :"Siapa ini?" Asma' berkata :" Asma'" Beliau bertanya : "Asma' binti Umais?" Asma' menjawab :"Benar wahai Rasulullah. Beliau bertanya : "Engkau datang sebagai penghormatan terhadap Rasulullah?" Asma' menjawab : "Benar, sesungguhnya seorang gadis, di malam saat ia digauli, dia harus disertai seorang wanita yang berada di dekatnya. Jika ia membutuhkan sesuatu, maka ia bisa membisikkannya pada wanita yang menemaninya itu. Asma' berkata : maka beliau berdoa dengan sebuah doa, yang doa itu merupakan amalku yang kuanggap paling penting bagiku. Kemudian beliau berkata kepada Ali : "Terserah kamu sekarang kau perlakukan apa istrimu". Kemudian beliau keluar dan berpaling, beliau terus berdoa untuk keduanya hingga menghilang di balik kamarnya. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Abu Said Maula Abu Said :

: .

11

. .
Artinya : Aku menikah padahal aku masih budak, maka aku mengundang sejumlah orang dari Shahabat Nabi SAW. Diantara mereka Ibnu Masud, Abu Dzar dan Hudzaifah. Mereka mengajariku : "Jika istrimu masuk menemuimu maka shalatlah dua rakaat kemudian mintalah kepada Allah kebaikan sesuatu yang masuk menemui dan berlindunglah kepada-Nya dari keburukannya. Setelah itu terserah kamu dengan istrimu. Al-Baihaqi meriwayatkan, dari Aisyah :

: . . . : : .

12

Artinya : Bahwasanya beliau menikahkan kerabatnya dengan Anshar, maka Nabi SAW datang dan bertanya : "Kalian telah memboyong gadis itu?"Aisyah menjawab :"Ya". Nabi bertanya :"Kalian menyuruh orang untuk bernyanyi?" Aisyah menjawab :"Tidak". Nabi bersabda :"Sesungguhnya kaum Anshar adalah kaum yang pada mereka terdapat Ghozl2 . Andai saja kalian menyuruh orang tuk bernyanyi: Kami datangi kalian . Kami datangi kalian . Bukhari meriwayatkan dari Aisyah :

. . . . . . .

. .

Canda, keceriaan, keriangan

13

. . . .
Artinya : Nabi SAW menikahiku sementara aku berumur enam tahun. Kemudian kami mendatangi Madinah dan kami singgah pada Bani Al-Harits bin Khozroj, kemudian aku tertimpa demam sehingga rambutku rontok. Kemudian tumbuh lagi sehingga lebatlah rambut ubun-ubunku. kemudian ibuku Ummu Ruman mendatangiku padahal aku sedang dalam ayunan dan aku disertai kawan-kawanku. Kemudian beliau berteriak memanggilku , maka akupun mendatanginya. Aku tidak mengetahui apa yang beliau inginkan padaku. Kemudian beliau menggamit tanganku hingga menghentikanku pada pintu rumah, sementara aku tersengal-sengal sampai nafasku menjadi tenang. Kemudian beliau mengambil sedikit air lalu mengusap wajah dan kepalaku dengannya, kemudian beliau memasukkan aku ke dalam rumah. Ternyata di dalam rumah ada sejumlah wanita Anshar mereka berkata; "Semoga selalu dalam kebaikan dan berkah . Semoga selalu dalam prediksi yang terbaik " Lalu ibuku menyerahkan aku kepada mereka kemudian mereka meriasku, dan tidak ada yang menggugupkanku melainkan Rasulullah yang mendatangiku di waktu Dhuha. Lalu ibuku menyerahkanku kepada beliau sementara aku diwaktu itu berumur sembilan tahun. An-Nasai meriwayatkan dalam As-Sunan Al-Kubro, dari Anas bin Malik : 14

. . . . . . : . : : . . : . . : . : :
15

. : . .

: : . . : .
Artinya : Bahwasanya Rasulullah SAW memerangi Khaibar. Kami sholat shubuh di dekat tempat itu dalam kegelapan. Maka Nabi naik kendaraan dan Abu Thalhah juga naik kendaraan, sementara aku dibonceng Abu Thalhah. Kemudian Nabi masuk gang Khaibar, dan lututku sempat menyentuh paha Rasulullah SAW, dan aku melihat putihnya paha Rasulullah. Tatkala beliau memasuki kampung tersebut beliau berkata : "Allah Maha Besar. Hancurlah Khaibar. Kami, jika turun di halaman suatu kaum, maka akan buruklah suasana pagi orang-orang yang diberi peringatan". Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Anas berkata ; Waktu itu orang-orang (Yahudi) keluar untuk bekerja. Abdul Aziz berkata ; mereka berkata ; "Muhammad!". Abdul Aziz berkata ; dan sebagian sahabat-sahabat kami berkata ; "juga pasukan " maka kami menguasai Khaibar itu dengan paksa. Kemudian tawanan dikumpulkan. Kemudian Dihyah datang dan berkata ; "Wahai Nabi Allah, berilah aku seorang gadis dari tawanan. Nabi bersabda ; "Pergilah dan ambillah seorang gadis". Maka dia mengambil Shafiyyah binti Huyai. Maka seorang lelaki datang kepada Nabi lalu berkata ; "Wahai Rasulullah, engkau telah memberi Dihyah, Shafiyyah binti Huyai Sayyidah Bani Quraidhah dan Bani Nadhir yang ia tidak pantas melainkan hanya untukmu". Nabi bersabda ; "Panggillah Dihyah dengan membawa wanita itu". Maka 16

Dihyah datang dengan membawanya, tatkala Nabi melihat wanita itu beliau berkata ;"Ambillah gadis lain dari tawanan selain dia". Anas berkata ; dan Nabi SAW membebaskannya dan menikahinya. Tsabit bertanya kepadanya (Anas) ; "Wahai Abu Hamzah, berapa beliau memberikan mahar"? Dia menjawab ; "(pembebasan) dirinya. Beliau membebaskannya lalu menikahinya". Anas berkata ; hingga tatkala beliau berada di jalan, Ummu Sulaim menyiapkan Shafiyyah dan memboyongnya kepada Rasulullah di malam hari. Maka Nabi berada di waktu pagi dalam keadaan menjadi

( mempelai yang telah melakukan Dukhul).


Seluruh Nash-Nash ini, yaitu Nash yang menjelaskan digaulinya Shafiyyah oleh Nabi di jalan, pengaturan Nabi dalam pernikahan putrinya Fatimah ketika hendak digauli, ajaran Shahabat terhadap budak yang mau menggauli istrinya, ajaran Nabi kepada Aisyah ketika memboyong / mengantarkan seorang wanita kepada suaminya, dihiasinya Aisyah pada usia sembilan tahun sebelum diserahkan kepada Rasullah, aktivitas Ummu Sualaim merias Shafiyyah sebelum diserahkan pada Rasulullah dan izin seorang Nabi kepada tentaranya untuk absen dari jihad agar bisa menggauli istri, semuanya adalah dalil disyariatkannya. Zifaf sekaligus dalil disunnahkannya. Prosesi Zifaf tidak boleh dikatakan wajib, sebab suatu perbuatan ketika di katakan wajib maka harus bisa dibuktikan bahwa di sana terdapat perintah yang bersifat Jazim (tegas / pasti) atau ada Nash yang jelas bahwa pelaku yang meninggalkannya diancam dengan siksa. Selama tidak ada 17

Qorinah (indikasi) yang menunjukkan perintah yang tegas, maka sebuah perintah harus difahami sebagai Mandubat (hal-hal yang dianjurkan). Oleh karena Nash-Nash yang menjelaskan tentang Zifaf tidak ada Lafadz yang menunjukkan ketegasan perintah, maka hukum Zifaf adalah Sunnah. Adapun dari segi waktu, hukum asal Zifaf adalah dilakukan di malam hari. Malam hari adalah waktu yang lazim digunakan di zaman Nabi dan banyak di praktekkan pada Zifaf-Zifaf yang terjadi dalam masyarakat Islam zaman Nabi. Ketika Nabi menggambarkan kemeriahan acara pengarakan Al-Mahdi beliau menyerupakan kemeriahan itu seperti halnya kemeriahan diaraknya pengantin wanita menuju suaminya, di malam Zifafnya. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Mujahid dari salah seorang Shahabat Rasulullah :

. ...
Artinya ; Bahwasanya Al-Mahdi tidak keluar hingga ada jiwa suci yang terbunuh. Jika

jiwa yang suci itu telah dibunuh, maka orang yang berada di langit marah kepada mereka juga orang yang ada di bumi. Maka orang-orang mendatangi Al-Mahdi lalu 18

mengaraknya sebagaimana temanten wanita diarak menuju suaminya di malam

pengantinya...
Namun, melakukan Zifaf di malam hari bukan sebuah keharusan. Jika keadaan tidak memungkinkan, maka boleh saja melangsungkan Zifaf di siang hari, dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan Bukhari dari Aisyah :

. .
Artinya : Nabi SAW menikahiku maka ibuku mendatangiku kemudian beliau memasukkan aku ke dalam rumah dan tidak ada yang menggugupkanku melainkan Rasulullah yang mendatangiku di waktu Dhuha. Lafadz pada hadis ini begitu jelas , bahwa Zifaf Nabi terhadap Aisyah dilakukan di waktu Dhuha, dan itu adalah siang hari. Zifaf dilakukan sesudah akad nikah. Namun tidak ada ketentuan jarak waktu baik minimal atau maksimal untuk melaksanakan Zifaf dikaitkan dengan akad. Boleh saja Zifaf dilakukan langsung sesudah akad, sehari kemudian, seminggu, sebulan, setahun, bahkan beberapa tahun kemudian. 19

Rasulullah menikahi Aisyah pada usia ke enam Aisyah dan baru dilaksanakan Zifaf saat usianya mencapai sembilan tahun. Bukhari meriwayatkan dari Urwah :

.
Artinya : Nabi SAW menikahi Aisyah pada usianya enam tahun dan menggaulinya pada saat berusia sembilan tahun dan tinggal bersama Nabi selama sembilan tahun. Tidak ada keutamaan melakukan Zifaf di bulan Syawwal. Alasannya, tidak ada satu Nashpun yang memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukan Zifaf di bulan tertentu. Adapun hadis yang diriwayatkan AlBaihaqi dari Aisyah :

.
Artinya :

20

Rasulullah menikahiku pada bulan Syawwal dan aku diboyong pada beliau juga di bulan Syawwal. Wanita mana yang lebih beruntung di sisi beliau daripada aku ? Maka hadis ini tidak boleh dijadikan dasar untuk menunjukkan Sunnahnya Zifaf di bulan Syawwal, sebab Zifaf Aisyah dan pernikahannya di bulan Syawwal itu

(terjadi karena kebetulan) dan

tidak ada Qorinah sedikitpun yang menunjukkan bahwa itu disengaja atau disyariatkan. Riwayat-riwayat Zifaf Nabi yang lain juga menegaskan bahwa Nabi tidak memilih bulan Syawwal atau menunggu sampai datang bulan Syawwal. Karena itu tidak ada syariat pelaksanaan Zifaf pada bulan tertentu, sebagai mana tidak ada syariat pelaksanaan Zifaf di hari tertentu, minggu tertentu atau tahun tertentu. Kalaupun memilih waktu, maka yang paling tepat adalah memilih saat

wanita sedang tidak haid. Sebab acara inti, puncak dan paling penting
dari Zifaf adalah Dukhul / Bina. Dan acara ini tidak mungkin dilakukan jika wanita dalam menstruasi. Tidak ada syarat, Zifaf harus dilakukan di waktu mukim (tidak bepergian), Artinya meskipun mempelai masih dalam keadaan safar, boleh saja Zifaf dilakukan di tengah jalan. Hal itu disandarkan pada riwayat bahwa Nabi menggauli Shafiyyah di jalan sepulang dari perang Khaibar. Al-Hakim meriwayatkan dari Anas bin Malik :

21

. : .
Artinya : Tatkala Nabi SAW menaklukkan Khaibar beliau memilih Shafiyyah binti Huyai untuk dirinya sendiri. Maka Rasulullah keluar bersamanya dengan memboncengnya dibelakangnya. Anas berkata; Aku melihat Rasulullah meletakkan kakinya hingga Shafiyyah berdiri di atasnya dan naik. Tatkala sudah sampai di Sadd As-Shohba Nabi menggaulinya.

Riwayat lain dari Bukhari melalui jalan Anas bin Malik juga :

.
22

Artinya : Rasulullah SAW tinggal diantara Khaibar dengan Madinah selama tiga hari untuk menggauli Shafiyyah binti Huyai. Riwayat An-Nasai dari Anas bin Malik berbunyi :

...
Artinya : Bahwasanya Rasulullah SAW bermukim untuk Shafiyyah binti Huyai bin Akhthab di jalan Khaibar selama tiga hari ketika beliau menggaulinya Adapun dari segi lama pelaksanaan, maka tidak ada syariat khusus yang mengatur lama pelaksanaan Zifaf. Standar pelaksanaan Zifaf hanya memperhatikan terealisasinya dua hal, pemboyongan dan percampuran. Selama dua hal ini telah terlaksana, maka Zifaf dipandang selesai berapapun lama waktu yang dibutuhkan. Ini semua adalah penjelasan tentang waktu. Adapun dari segi tempat, maka disyaratkan pelaksanaan percampuran harus terjadi di tempat khusus3 tanpa memperhatikan apakah tempat khusus itu rumah atau selain rumah, milik sendiri atau menyewa, di tempat mukim atau di perjalanan.
3

Tempat yang mengharuskan orang lain meminta ijin jika hendak memasukinya

23

Aktivitas percampuran itu sendiri dalam Nash disebut dengan Bina adalah bentuk Mashdar dari

yang bermakna membangun.

Asal dari istilah ini, seorang lelaki ketika menikahi seorang wanita dia membangun tenda untuk menggauli istrinya. Kemudian penggunaan ini semakin populer hingga digunakan untuk menunjuk makna Kinayah dari jimak (At-Taarif). Tempat Zifaf boleh disetting seindah mungkin untuk menciptakan suasana romantisme tak terlupakan. Alasannya, malam Zifaf adalah malam yang paling indah yang diakui Nabi. Karena itu, pengaturan tempat dengan cara memeprindahnya untuk merealisasikan hal ini adalah hal yang dimubahkan. Bahkan Nabi membolehkan penghiasan tempat dengan

(namath)

yaitu jenis kain luks di zaman itu. Bukhari meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah beliau berkata; Rasulullah bersabda :

: . :
Artinya : "Apakah kalian tidak menggunakan Namath?" aku menjawab : "Wahai Rasulullah dari mana kami mendapatkan Namath?" Nabi menjawab :"Ia akan ada 24

At-Thabarani meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah bahwa kasur Fatimah di malam pengantin bersama Ali adalah kulit kambing.

. . .
Artinya : Kami menghadiri pernikahan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah binti Rasulullah. Kami tidak melihat ada pengantin lelaki yang lebih tampan daripada Ali. Rasulullah menyiapkan anggur kering dan kurma kering untuk kami lalu kami makan. Kasur Fatimah di malam pengantinnya adalah kulit kambing. Sesudah pembahasan definisi, mafhum, hukum, waktu, dan tempat maka selanjutnya dibahas topik inti Zifaf yaitu tata cara atau pelaksanaan prosesi Zifaf. Prosesi Zifaf melewati sejumlah aktivitas yaitu Tazyin, Tasy-yi,

Taslim, dan Liqo'.


Yang dimaksud Tazyin disini adalah merias mempelai wanita. Periasan mempelai wanita dimaksudkan untuk menyiapkan wanita dalam kondisi

25

semenarik mungkin dan secantik mungkin ketika dipersembahkan kepada suami. Jadi, konsep periasan wanita yang benar adalah pada saat Zifaf bukan saat akad nikah atau Walimah. Pada saat akad atau Walimah hendaknya wanita berdandan dengan cara yang wajar seperti dandannya dalam kehidupan sehari-hari. Merias dan mendandani mempelai wanita pada saat Zifaf adalah hal yang diijinkan sebab itu masuk pada hukum Tazayyun (berhias) bagi wanita. Diantara dalil yang menunjukkan praktek periasan wanita dalam kondisi Zifaf adalah;

: . . . . . . . . .
26

. . .
Artinya : Dari Aisyah ra.beliau berkata: Nabi SAW menikahiku sementara aku berumur enam tahun. Kemudian kami mendatangi Madinah dan kami singgah pada Bani Al-Harits bin Khozroj, kemudian aku tertimpa demam sehingga rambutku rontok. Kemudian tumbuh lagi sehingga lebatlah rambut ubun-ubunku. kemudian ibuku Ummu Ruman mendatangiku padahal aku sedang dalam ayunan dan aku disertai kawan-kawanku. Kemudian beliau berteriak memanggilku , maka akupun mendatanginya. Aku tidak mengetahui apa yang beliau inginkan padaku. Kemudian beliau menggamit tanganku hingga menghentikanku pada pintu rumah, sementara aku tersengal-sengal sampai nafasku menjadi tenang. Kemudian beliau mengambil

sedikit air lalu mengusap wajah dan kepalaku dengannya, kemudian


beliau memasukkan aku ke dalam rumah. Ternyata di dalam rumah ada sejumlah wanita Anshar mereka berkata; "Semoga selalu dalam kebaikan dan berkah . Semoga selalu dalam prediksi yang terbaik " Lalu ibuku menyerahkan aku

kepada mereka kemudian mereka meriasku, dan tidak ada yang


menggugupkanku melainkan Rasulullah yang mendatangiku di waktu Dhuha. Lalu ibuku menyerahkanku kepada beliau sementara aku diwaktu itu berumur sembilan tahun.( H.R.Bukhari )

27

An-Nasai meriwayatkan dalam As-Sunan Al-Kubro, dari Anas bin Malik :

. ... :
... Artinya : Anas berkata ; hingga tatkala beliau (Rasulullah) berada di jalan, Ummu Sulaim menyiapkan (merias) Shafiyyah dan memboyongnya kepada Rasulullah di malam hari. Maka Nabi berada di waktu pagi dalam keadaan menjadi (mempelai yang telah melakukan Dukhul). Yang perlu ditekankan adalah bahwasanya diriasnya wanita dalam kondisi ini tidaklah untuk diperlihatkan kepada khalayak umum, namun semata-mata dipersembahkan suami. Riwayat-riwayat yang menerangkan tentang periasan wanita di saat Zifaf menunjukkan hal itu. Ummu Ruman, ibu Aisyah sampai-sampai mengkondisikan Aisyah seideal mungkin secara fisik dengan cara menggemukkannya/ membuatnya menjadi lebih sintal sebelum dipertemukan dengan Rasulullah. Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah :

28

Artinya : Ibuku ingin menggemukkannku untuk kepentingan pertemuanku dengan Rasulullah SAW. Tapi aku tidak menyambut sedikitpun apa yang beliau inginkan hingga beliau memberi makan aku Qittsa (sejenis mentimun), dan kurma basah. Maka akupun menjadi gemuk dengan kegemukan yang paling ideal Ahmad meriwayatkan dari Asma binti Yazid bin Al-Muwattha :

...

Artinya : Aku merias Aisyah untuk Rasulullah kemudian aku mendatanginya lalu kupanggil beliau untuk melihatnya sejelas-selasnya.

29

Semua dalil-dalil yang dipaparkan di atas sangat jelas menunjukkan bahwa periasan mempelai wanita hanyalah untuk dinikmati suaminya bukan dipamerkan kepada para tamu dan undangan. Disyaratkan dalam merias, tidak boleh merias dengan cara menghias yang dilarang oleh Syara' seperti Wasym (pentatoan), Washl (menyambung rambut), Qosyr (memutihkan wajah dengan cara mengelupaskan/menipiskan lapisan kulit luar), Tanammush (menghilangkan bulu / rambut wajah), dan Tafalluj (merenggangkan gigigigi).

)( .
Dari Aisyah beliau berkata: Rasulullah melaknat wanita yang melakukan Qosyr dan wanita sasaran Qosyr, wanita pelaku Wasym dan wanita sasaran Wasym, dan wanita pelaku Washl serta wanita sasaran Washl. (H.R.Ahmad)

30

(. )
Dari Ibnu Mas'ud beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW melaknat wanita pelaku Tanammush, Tafalluj, dan Wasym, yakni orang-orang yang mengubah ciptan Allah Azza wajalla. (H.R.An-Nasa'i)

Termasuk juga dilarang, menghias yang mengandung unsur Tasyabbuh pada orang-orang kafir atau menjadi Syiar (simbol) orang-orang fasik seperti mengecat rambut. Boleh saja perhiasan yang digunakan untuk merias memakai barang pinjaman. Bukhari meriwayatkan sebuah hadis dari Aisyah yang menceritakan hilangnya kalung Asma yang dipinjam Aisyah. Bukhari menafsirkan kalung itu dipinjam adalah untuk kepentingan perhiasan pernikahan :


...


31

Artinya : Bab "Meminjam kain dan lainnya untuk pengantin" Dari Aisyah bahwasanya dia meminjam kalung dari Asma kemudian hilang Adapun masalah penggunaan cadar untuk menutupi wajah mempelai wanita , maka mubah-mubah saja cadar digunakan. Penggunaan cadar menjadi dituntut jika mempelai wanita dipastikan melewati lelaki yang Ajnabi yang bisa melihatnya. Dalam kondisi ini, cadar harus dipakai, sebab ketika seorang wanita dalam kondisi dihias secantik-cantiknya maka ia tidak boleh dilihat selain suami atau Mahramnya. Larangan itu dikarenakan aktivitas tersebut sudah terkategori Tabarruj (bersolek) yang diharamkan Syara'. Adapun yang merias wanita, maka hukum asalnya adalah ibunya sendiri atau sesama wanita. Alasannya, merias adalah kondisi khusus yang mengharuskan wanita membuka lebih dari muka dan telapak tangan. Dalam kondisi ini wanita diteliti, diperiksa, diawasi dan dinilai dari aspek kecantikannya padahal perbuatan semacam itu tidak halal selain dilakukan oleh ibunya atau sesama wanita. Kalaupun perias diambil dari kaum lelaki, maka itu hanya diizinkan jika ia terkategori Mahram wanita tersebut. Setelah wanita dirias, acara berikutnya adalah Tasy-yi. Tasy-yi adalah acara pemboyongan atau pengarakan mempelai wanita dari rumah orang tuanya atau dari Walinya atau tempat manapun menuju rumah suaminya atau tempat yang telah disiapkan dimana suaminya ada.

32

Hukum mengantarkan mempelai wanita kepada suaminya adalah Sunnah. Dalilnya, seorang wanita selesai akad nikah tidak disuruh pergi sendiri ke rumah suaminya. Seorang suami juga tidak menjemput sendiri wanita yang telah sah menjadi istrinya. Ini menunjukkan bahwa memboyong dan mengarak seorang wanita untuk diberikan kepada suaminya disyariatkan. Ucapan Nabi kepada Aisyah;

(? Apakah kamu sudah memboyong gadis itu?)


aktivitas Ummu Sulaim mengantarkan Shafiyyah kepada Nabi di malam hari

( maka Ummu Sulaim menghadiahkannya


pada beliau) dan, aktivitas Ummu Ruman menyerahkan puterinya Aisyah kepada Rasulullah

( maka Ummu Ruman menyerahkanku pada beliau)


semua ini memperkuat bahwa mengantarkan mempelai wanita kepada suaminya adalah disyariatkan dan disunnahkan. Adapun yang menjadi Mukallaf pada acara pemboyongan ini, maka hukum asalnya adalah Wali mempelai wanita. Alasannya, pemboyongan adalah aktivitas praktis (riil) penyerahan mempelai wanita kepada suaminya setelah sebelumnya dia diserahkan secara simbolis melalui akad nikah. Penyerahan wanita dalam akad nikah dilakukan oleh Walinya ketika dia 33

mengucapkan : "Aku nikahkan engkau dengan Fulanah " Karena itu, dalam acara pemboyongan, Wali juga secara hukum asal yang terkena Taklif melakukannya. Ketika Fatimah binti Rasulullah menikah, beliau sendiri yang mengantarkan Fatimah kepada Ali. At- Thabarani meriwayatkan dari Abdullah bin Amr beliau berkata :

. .
Artinya : Tatkala Rasulullah menyiapkan Fatimah untuk diantar kepada Ali, beliau menyertakan Khomil, Atha' bertanya : Apa Khomil itu ? Abdullah menjawab : Beludru, bantal dari kulit diisi sabut, Idzkhir dan bejana tempat air. Keduanya (Ali dan Fatimah) menghamparkan Khomil itu dan berselimutkan dengan separuhnya. Jika Wali diwakili oleh wanita-wanita Muslimah untuk mengantarkan mempelai wanita kepada suaminya, maka hal ini sudah cukup, dan aktivitas wanita-wanita tersebut dipandang sebagai hal uyang ma'ruf sebab membantu pelaksanaan hukum yang ditaklifkan pada seorang individu. Ringkasnya, hukum asal yang menjadi Mukallaf pada acara pemboyongan 34

adalah Wali, dan jika acara tersebut diwakili oleh kaum Muslimin maka hal itu tidak dilarang dan dipandang sebagai amal kebaikan. Acara pemboyongan adalah acara yang paling menonjol dan merupakan acara yang paling Dhahir (tampak) dalam Zifaf. Lafadz Zifaf itu sendiri maknanya adalah memboyong mempelai wanita kepada suaminya


(Memboyong mempelai wanita kepada suaminya). Jadi, diantara sekian acara dalam prosesi Zifaf, yang paling tampak disaksikan kaum Muslimin karena dilakukan ditempat umum adalah acara pemboyongan ini. Disunnahkan acara pemboyongan ini dilakukan dengan cara yang meriah. Sebab Nabi menyerupakan kemeriahan pemboyongan Al-Mahdi dengan kemeriahan pemboyongan wanita yang diantarkan kepada suaminya. Hal ini menunjukkan pengakuan Nabi atas suasana meriah suasana meriah pemboyongan tersebut. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Mujahid dari salah seorang Shahabat Rasulullah :

. . ...
35

Artinya ; Bahwasanya Al-Mahdi tidak keluar hingga ada jiwa suci yang terbunuh. Jika jiwa yang suci itu telah dibunuh, maka orang yang berada di langit marah kepada mereka juga orang yang ada di bumi. Maka orang-orang mendatangi Al-

Mahdi lalu mengaraknya sebagaimana temanten wanita diarak menuju suaminya di malam pengantinya.
Lebih-lebih pemboyongan mempelai wanita dengan meriah

merealisasikan

( memasukkan perasaan gembira) kepada

mempelai wanita dan keluarga, sementara menyenangkan saudara adalah amal sholeh yang dipuji oleh Syara'. Termasuk hal yang ma'ruf jika Wali atau keluarga membekali wanita dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga saat pemboyongan. AlHakim meriwayatkan dari Ali beliau berkata :

.
Artinya : Rasulullah menyiapkan Fatimah dengan membekalinya beludru, bejana tempat air, dan bantal yang diisi sabut.

36

Diizinkan pada saat pemboyongan ini ada musik atau nyanyiannyanyian. Ketika Rasulullah mengetahui Aisyah mengantar seorang gadis kepada suaminya, beliau menanyakan apakah ada nyanyian dalam acara pemboyongan itu. Ketika di jawab tidak ada, maka Nabi menganjurkan untuk diadakan. Riwayat ini menunjukkan bahwa menyelenggarakan nyanyian atau musik-musik dalam acara pemboyongan adalah suatu hal yang dibolehkan. Al-Baihaqi meriwayatkan, dari Aisyah :

. . . : : : .
Artinya : Bahwasanya beliau menikahkan kerabatnya dengan Anshar, maka Nabi SAW datang dan bertanya : "Kalian telah memboyong gadis itu?"Aisyah menjawab :"Ya". Nabi bertanya :"Kalian menyuruh orang untuk bernyanyi?" Aisyah menjawab :"Tidak". Nabi bersabda :"Sesungguhnya kaum Anshar adalah kaum yang pada mereka terdapat Ghozl . Andai saja kalian menyuruh orang tuk bernyanyi: Kami datangi kalian . Kami datangi kalian . 37

Adanya musik dan nyanyian dalam acara pemboyongan adalah sesuatu yang dipraktekkan oleh Shahabat-Shahabat Anshar dan diakui Nabi. AlBaihaqi meriwayatkan dari 'Amrah binti Abdurahman :

.
Artinya : Jika seorang wanita atau laki-laki menikah maka keluarlah Jariyah (gadis / budak wanita) dari Jariyah-Jariyah Anshar untuk bernyanyi dan bermain-main " At-Thabarani meriwayatkan dari Aisyah :

: : .
Artinya : Bahwasanya Nabi SAW bertanya : "Bagaimana kabar Fulanah ? (Nabi bertanya kabar si gadis yatim yang diurus Aisyah) Aku menjawab :"Aku telah memboyongnya kepada suaminya". Nabi bertanya :"Apakah kalian tidak menyertakan seorang Jariyah yang memainkan rebana dan bernyanyi ? Dibolehkan juga, jika acara tambahan untuk memeriahkan itu bukan nyanyian tapi atraksi-atraksi atau tarian dsb. Alasannya, izin Nabi untuk 38

mengadakan nyanyian bukan khusus pada nyanyian dan dibatasi padanya, tetapi izin pada nyanyian dalam kapasitasnya sebagai (bermain-main

sebagai ekspresi kegembiraan). Karena itu, semua aktivitas yang terkategori

di izinkan masuk pada acara pemboyongan. Bukhari meriwayatkan dari

Aisyah :

: . .
Artinya : Bahwasanya Aisyah memboyong seorang wanita kepada seorang lelaki dari kalangan Anshar, maka Nabi SAW bersabda : "Wahai Aisyah, apakah kalian tidak menyertakan ? sesungguhnya orang-orang Anshar adalah kaum yang terpikat

dengan .

Riwayat Al-Hakim dari Aisyah lafadznya berbunyi :

39

. :
.

Artinya; Kami mengantarkan seorang wanita dari kalangan Anshar kepada suaminya, maka Rasulullah SAW bersabda : "Apakah kalian menyertakan ? sesungguh

orang Anshar adalah kaum yang menyukai .

Adanya nyanyian atau ini bukan karena hal tersebut disunnahkan

tetapi sebagai akomodasi dari suasana gembira yang menyelimuti pengantin. Karena itu tidak benar jika dikatakan bernyanyi dalam acara ini dihukumi Sunnah, sebab nyanyian, musik, dan Lahwun-Lahwun yang lain tidak pernah didorong untuk berkembang atau dipopulerkan oleh Islam sebagaimana dinyatakan oleh banyak Nash. Karena itu lebih tepat di sini ketika dinyatakan bahwa nyanyian dan di izinkan sebagai Rukhshoh (keringanan)

dalam acara pemboyongan, untuk mengakomodasi suasana gembira yang dirasakan pengantin saat Zifafnya. Dalam suasana pemboyongan tersebut hendaknya, dijaga ucapan. Ucapan-ucapan yang muncul hanyalah ucapan-ucapan kebaikan seperti 40

Tasbih, Dzikir, dan doa. Ucapan-ucapan yang baik akan membuat acara tersebut diberkahi dan mengantarkan pada kebaikan. Bukhari meriwayatkan dari Aisyah :

. . . . . . . . . ...

Artinya :

41

Nabi SAW menikahiku sementara aku berumur enam tahun. Kemudian kami mendatangi Madinah dan kami singgah pada Bani Al-Harits bin Khozroj, kemudian aku tertimpa demam sehingga rambutku rontok. Kemudian tumbuh lagi sehingga lebatlah rambut ubun-ubunku. kemudian ibuku Ummu Ruman mendatangiku padahal aku sedang dalam ayunan dan aku disertai kawan-kawanku. Kemudian beliau berteriak memanggilku , maka akupun mendatanginya. Aku tidak mengetahui apa yang beliau inginkan padaku. Kemudian beliau menggamit tanganku hingga menghentikanku pada pintu rumah, sementara aku tersengal-sengal sampai nafasku menjadi tenang. Kemudian beliau mengambil sedikit air lalu mengusap wajah dan kepalaku dengannya, kemudian beliau memasukkan aku ke dalam rumah. Ternyata di dalam rumah ada sejumlah wanita Anshar mereka berkata; "Semoga selalu dalam kebaikan dan berkah . Semoga selalu dalam prediksi yang terbaik " Termasuk hal yang ma'ruf jika mempelai wanita disinggahkan ke masjid lalu shalat bersama seluruh pengiringnya lalu semuanya mendoakan mempelai. Kebiasaan semacam ini ternyata populer di Madinah. Said bin Manshur Al Khurosany meriwayatkan dalam kitab As-Sunan dari Ummu Musa :

.
42

Artinya : Seorang gadis dari penduduk Madinah, jika orang-orang ingin memboyong gadis itu kepada suaminya, maka mereka membawanya ke masjid Rasulullah SAW lalu mereka mendoakannya kemudian baru di bawa kepada suaminya. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Ummu Salamah beliau berkata :

. : .
Artinya : Tidaklah seorang gadis di Madinah diboyong menuju suaminya hingga ia dilewatkan dalam masjid lalu ia sholat di dalamnya. Abubakar berkata : Dia sholat dua rakaat dan dilewatkan pada istri-istri Nabi SAW lalu mereka mendoakan. Pemboyongan seorang wanita untuk diantarkan kepada suaminya secara otomatis membuat pihak wanita yang mendatangi sementara pihak lelaki menunggu disuatu tempat. Namun hal ini tidak bersifat kaku. Dalam pemboyongan boleh saja divariasikan bentuknya dengan cara mengantarkan wanita pada suatu tempat kemudian memanggil pihak lelaki untuk mendatanginya. 43

Ahmad meriwayatkan dari Asma' binti Yazid :

. .
Artinya ; Aku merias Aisyah untuk Rasulullah SAW. Kemudian aku mendatanginya, lalu aku mengundang beliau untuk melihat Aisyah dengan jelas. Maka beliaupun datang kemudian duduk disampingnya " Ini semua adalah penjelasan tentang hukum pemboyongan serta hukum-hukum yang terkait dengannya. Adapun berkaitan dengan pengiring, hukum asal pengiring pada pemboyongan adalah para wanita. Praktek yang dilakukan di zaman Nabi menunjukkan hal itu.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas bin Malik :

44

. : .
Artinya : Bahwasanya Nabi melihat para wanita dan anak-anak yang datang dari pesta pernikahan. Maka Nabi berdiri untuk mereka di depan mereka sambil berkata : Ya, Allah, sesungguhnya kalian adalah manusia yang paling aku cintai. Riwayat Aisyah mengantarkan wanita pada suaminya, Ummu Sulaim mengantarkan Shafiyyah pada Nabi, wanita-wanita Anshar menyerahkan Aisyah pada Nabi, semuanya semakin menguatkan bahwa hukum asal pengiring adalah para wanita. Jika ada kaum lelaki yang mengantarkan, maka mereka adalah Wali, kerabat dan Mahram mempelai wanita. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Dawud bin Jubair :


45

Artinya : Said bin Jubair memboyong putrinya (untuk diserahkan) kepada suaminya. Perbuatan Sa'id bin Jubair, salah seorang Tabi'in sholih ini sejalan dengan perbuatan Nabi yang mengantarkan puterinya Fatimah kepada Ali. Jika pengiring adalah kaum wanita, maka tidak ada syarat wanita tersebut harus dari kalangan kerabat. Boleh saja pengiring wanita tersebut tetangga, kawan, atau Muslimah jauh. Riwayat-riwayat yang menjelaskan pengiring wanita menunjukkan hal itu. Tidak disyaratkan wanita yang menjadi pengiring harus disertai dengan Mahramnya. Pertanyaan Nabi kepada Aisyah tentang nyanyian adalam acara pemboyongan menunjukkan bahwa Nabi tidak menyertai Aisyah dalam acara itu. Jadi, tidak wajib hadirnya Mahram untuk menemani wanita yang menjadi pengiring. Dikecualikan jika kondisi jalan tidak aman. Dalam kondisi ini wanita dilarang keluar kecuali jika disertai dengan Mahramnya : Imam Muslim meriwayatkan dari jalan Ibnu Abbas :

) ( .
Artinya; Dari Ibnu Abbas beliau mendengar Rasulullah Saw berpidato, sabda beliau: "Janganlah sekali-kali seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita, melainkan 46

seorang wanita itu disertai Mahramnya. Seorang wanita juga jangan bepergian kecuali jika disertai Mahramnya. Tidak ada syarat tertentu terkait jumlah pengiring. Jumlah berapapun, baik banyak maupun sedikit dibolehkan dalam acara pemboyongan. Hanya saja diminta janganlah sampai taraf Isrof (berlebihan). Disunnahkan bagi pengiring untuk menyenangkan mempelai wanita termasuk keluarganya dengan cara-cara yang mubah. Dalilnya adalah perintah Nabi SAW mengakomodasi kesenangan orang-orang Anshar terhadap Lahwun dengan cara mengadakan Lahwun pada acara pemboyongan yang dilakukan para pengiring. Sesudah acara pemboyongan (Tasy-yi') acara berikutnya adalah Taslim (penyerahan). Yang dimaksud acara penyerahan adalah acara penyerahan mempelai wanita oleh pengiring kepada suaminya di tempat khusus yang telah disediakan. Tidak ada ucapara khusus pada acara Taslim ini. Pelaksanaannya wajar-wajar saja sebagaimana orang mengantarkan orang lain. Aksi praktis penyerahan ini bisa dilakukan dengan cara mendudukkan pengantin wanita di sebelah kanan pengantin lelaki atau disebelah kirinya atau di posisi manapun yang dikehendaki dengan cara yang ma'ruf. At-Thabarani meriwayatkan dari Asma' binti Yazid :

47

. .
Artinya : Aku yang merias Aisyah untuk Rasulullah SAW. tatkala aku menyerahkan pada beliau aku membawanya lalu aku dudukkan dia di sebelah kanan beliau. Tidak ada ucapan-ucapan khusus dari pengirim ketika menyerahkan mempelai wanita. Kalau ingin membuat ada, maka ucapan-ucapan yang baik adalah ucapan doa misalnya mengatakan :


Tidak ada aturan mengenai jumlah pengiring yang ikut masuk untuk ikut menyerahkan mempelai wanita. Jumlah pengiring bisa disesuaikan dengan tempat, situasi dan kondisi. Mana yang memungkinkan itulah yang diambil. Menjadi pengiring yang menyerahkan mempelai wanita, kepada suaminya kemudian berhenti di tempat itu sekedarnya untuk menemani mempelai wanita adalah perbuatan ma'ruf. Dalilnya dari riwayat Asma' binti Umais yang menemani Fatimah saat diboyong kepada Ali. Asma' menjelaskan motivasi kedatangannya menemani Fatimah adalah untuk membantunya jika Fatimah butuh hal-hal tertentu. Ternyata ini dipandang baik oleh Nabi, sehingga beliau mendoakannya. Jadi, menemani mempelai 48

wanita saat Taslim dengan maksud membantu kalau-kalau nanti ada yang dibutuhkan adalah perbuatan ma'ruf dan disunnahkan.

: . . : . : . . : . . :
49

: : .

. : . .

. : : . : . . : . . . .
Artinya : Tatkala Fatimah diboyong kepada Ali bin Abi Thalib, kami tidak mendapati dirumahnya melainkan tikar yang dibentangkan, bantal yang diiisi sabut, tempayan dan gelas. Kemudian Rasulullah mengirim utusan dengan pesan : "Jangan sekali-kali berbuat apapun" atau beliau berkata (perawi ragu) :"Jangan sekali-kali mendekati istrimu hingga aku mendatangimu". Maka Nabi SAW lalu datang lalu beliau bertanya; "Apakah di sana ada saudaraku?", Ummu Aiman berkata (beliau adalah ibu dari Usamah bin Zaid. Beliau orang Habsyi, dan beliau adalah wanita yang sholihah) : "Wahai Rasulullah, ini saudaramu dan istrinya adalah putrimu?" Nabi memang mempersaudarakan diantara Shahabat-Shahabatnya dan beliau mempersaudarakan antara Ali dengan dirinya sendiri. Beliau menjawab :"Sesungguhnya itu bisa terjadi wahai Ummu Aiman". Asma' berkata :Maka Nabi meminta sebuah bejana yang berisi air kemudian mengucapkan sesuatu yang dikehendaki Allah untuk mengucapkannya. Kemudian beliau mengusap dada Ali dan 50

wajahnya. Kemudian beliau memanggil Fatimah. Maka Fatimah berdiri menuju beliau dengan tersandung-sandung dalam pakaiannya kena malu. Kemudian Nabi memercikkan air padanya dari bejana itu dan mengucapkan sesuatu yang dikehendaki Allah untuk mengucapkannya. Kemudian beliau berkata kepadanya : "Sungguh, aku tidak menelantarkan kamu ketika aku menikahkanmu dengan keluargaku yang paling aku cintai". Kemudian beliau melihat bayangan orang dari balik tabir atau dari balik pintu, maka beliau bertanya :"Siapa ini?" Asma' berkata :" Asma'" Beliau bertanya : "Asma' binti Umais?" Asma' menjawab :"Benar wahai Rasulullah. Beliau bertanya : "Engkau datang sebagai penghormatan terhadap Rasulullah?" Asma' menjawab : "Benar, sesungguhnya seorang gadis, di malam saat ia

digauli, dia harus disertai seorang wanita yang berada di dekatnya. Jika ia membutuhkan sesuatu, maka ia bisa membisikkannya pada wanita yang menemaninya itu. Asma' berkata : maka beliau berdoa dengan sebuah doa, yang doa itu merupakan amalku yang kuanggap paling penting bagiku. Kemudian beliau berkata kepada Ali : "Terserah kamu
sekarang kau perlakukan apa istrimu". Kemudian beliau keluar dan berpaling, beliau terus berdoa untuk keduanya hingga menghilang di balik kamarnya. Pengiring dalam posisi ini boleh berinteraksi dengan mempelai dengan cara yang maruf baik interaksi itu terjadi dengan mempelai lelaki maupun dengan mempelai wanita. At-Thabarani meriwayatkan dari Asma binti Yazid :

51

. . . : . . . . . : . . : : . : .
.

. :

Artinya : Aku yang merias Aisyah untuk Rasulullah SAW. Tatkala aku menyerahkan pada beliau aku membawanya lalu aku dudukkan dia di sebelah kanan beliau. Kemudian Nabi diberi segelas air susu. Kemudian beliau meminumnya lalu memberikannya kepada Aisyah. Maka Aisyah menundukkan kepala dan merasa 52

malu. Maka aku berkata kepadanya : "Ambillah dari Rasulullah" Maka ia mengambilnya lalu meminumnya, kemudian Rasulullah bersabda : "Berikan kepada kawanmu, maka aku berkata : "Wahai Rasulullah minum dululah engkau lalu berikan padaku", maka beliau meminumnya dan memberikannya kepadaku. Maka aku berusaha mengikuti bekas bibir Rasulullah sementara ada sejumlah wanita di dekat atau di sisi kami.Beliau bersabda : "Berikan kepada kawan-kawanmu", mereka (para wanita yang ada ditempat itu) berkata : "Kami tidak berhasrat padanya" atau (perawai ragu):"Kami tidak menginginkannya". Maka Rasulullah SAW bersabda : :"Janganlah kalian menghimpun antara rasa lapar dengan kedustaan . Namun posisi para wanita pengiring yang ikut masuk untuk menyerahkan mempelai wanita ke tempat Zifaf itu adalah seperti tamu, sehingga adab-adab yang harus diperhatikan adalah adab-adab sebagai seorang tamu. Karena itu, tidak boleh bagi para pengiring berbuat hal-hal yang tidak menunjukkan kesopanan seperti makan tanpa dipersilahkan atau tidur-tiduran secara tidak beradab atau keluar masuk tanpa izin. Hendaknya pengiring memperhatikan akhlak mulia selama berada di tempat itu. Jangan berdusta, menghina, berkata jorok atau mengguraui secara keterlaluan. Pengiring juga sedapat mungkin membantu mempelai memenuhi kebutuhannya seperti mengambilkan makanan, mengambilkan barang, mengemasi barang dsb. Adapun dari segi lama, prinsipnya pengiring tidak perlu berlama-lama ditempat itu. Tidak ada batasan waktu secara khusus, tetapi kapan pengiring meninggalkan tempat itu, mereka bisa mengambil dari salah satu dari tiga 53

standar yaitu izin mempelai wanita, isyarat dari suami atau inisiatif sendiri. Izin mempelai wanita dijadikan standar karena kehadiran mereka adalah untuk membantu mempelai wanita. Jika mempelai wanita sudah merasa cukup maka kehadiran pengiring tidak diperlukan lagi. Isyarat dari suami dijadikan standar karena Shohibulbait adalah suami. Ia yang berhak menyuruh pulang tamunya, dan ia pula yang berhak menahan mereka. Inisiatif juga dijadikan standar karena posisi pengiring adalah seperti tamu. Jika tamu memandang kehadiran mereka sudah dirasa cukup maka pergi dari tempat itu adalah gagasan terbaik. Jika pengiringnya adalah ayah atau kerabat mempelai atau orang lain yang berilmu, maka dipandang maruf jika mereka mau memberikan katakata baik dan nasehat. At-Thabarani meriwayatkan dari Asma binti Umais beliau berkata :

: . . : . : : .
54

: . . . . . : : . . : . : : . : . : . . . . .
Artinya : Tatkala Fatimah diboyong kepada Ali bin Abi Thalib, kami tidak mendapati dirumahnya melainkan tikar yang dibentangkan, bantal yang diiisi sabut, tempayan dan gelas. Kemudian Rasulullah mengirim utusan dengan pesan : "Jangan sekali-kali 55

berbuat apapun" atau beliau berkata (perawi ragu) :"Jangan sekali-kali mendekati istrimu hingga aku mendatangimu". Maka Nabi SAW lalu datang lalu beliau bertanya; "Apakah di sana ada saudaraku?", Ummu Aiman berkata (beliau adalah ibu dari Usamah bin Zaid. Beliau orang Habsyi, dan beliau adalah wanita yang sholihah) : "Wahai Rasulullah, ini saudaramu dan istrinya adalah putrimu?" Nabi memang mempersaudarakan diantara Shahabat-Shahabatnya dan beliau mempersaudarakan antara Ali dengan dirinya sendiri. Beliau menjawab :"Sesungguhnya itu bisa terjadi wahai Ummu Aiman". Asma' berkata :Maka Nabi meminta sebuah bejana yang berisi air kemudian mengucapkan sesuatu yang dikehendaki Allah untuk mengucapkannya. Kemudian beliau mengusap dada Ali dan wajahnya. Kemudian beliau memanggil Fatimah. Maka Fatimah berdiri menuju beliau dengan tersandung-sandung dalam pakaiannya kena malu. Kemudian Nabi memercikkan air padanya dari bejana itu dan mengucapkan sesuatu yang dikehendaki Allah untuk mengucapkannya. Kemudian beliau berkata kepadanya : "Sungguh,

aku tidak menelantarkan kamu ketika aku menikahkanmu dengan keluargaku yang paling aku cintai". Kemudian beliau melihat bayangan orang
dari balik tabir atau dari balik pintu, maka beliau bertanya :"Siapa ini?" Asma' berkata :" Asma'" Beliau bertanya : "Asma' binti Umais?" Asma' menjawab :"Benar wahai Rasulullah. Beliau bertanya : "Engkau datang sebagai penghormatan terhadap Rasulullah?" Asma' menjawab : "Benar, sesungguhnya seorang gadis, di malam saat ia digauli, dia harus disertai seorang wanita yang berada di dekatnya. Jika ia membutuhkan sesuatu, maka ia bisa membisikkannya pada wanita yang menemaninya itu. Asma' berkata : maka beliau berdoa dengan sebuah doa, yang doa itu merupakan amalku yang kuanggap paling penting bagiku. Kemudian beliau berkata kepada Ali : 56

"Terserah kamu sekarang kau perlakukan apa istrimu". Kemudian beliau keluar dan berpaling, beliau terus berdoa untuk keduanya hingga menghilang di balik kamarnya. Said ibnu Manshur meriwayatkan dari Aisyah beliau berkata :

. .
Artinya : Bahwasanya seorang lelaki dari kaum Muslimin yang tidak punya apa-apa menikahi seorang wanita, maka Rasulullah SAW memerintahkan wanita itu untuk masuk menemuinya dan beliau berwasiat kebaikan kepada mereka. Dalam riwayat yang lain Said bin Manshur membawakan Atsar dari Ummu Musa :

.
Artinya :

57

Bahwasanya Jafar bin Hubairoh jika mengantarkan salah satu putri dari putriputrinya kepada suaminya dia memerintahkannya untuk selalu berakhlak yang shalih dan beliau memandang (aktivitas memberikan nasehat) itu baik. Ini semua adalah penjelasan aturan terhadap pengiring dalam acara Taslim.Adapun bagi mempelai sendiri, pada acara Taslim yang pertama kali dilakukan suami adalah

( memandang istri sejelas-jelasnya).

Jilwah adalah aktivitas alami yang dilakukan suami setelah istri diserahkan. Mempelai wanita dihias secantik-cantiknya adalah untuk kepentingan ini. Jika seorang wanita dirias sedemikian rupa kemudian setelah itu dibiarkan tidak dilihat maka mudah difahami jika dikatakan itu adalah kesia-siaan. Jika wanita diserahkan dalam keadaan bercadar, maka pada saat Jilwah inilah suami membuka cadarnya untuk melihat kecantikan istrinya.

Ahmad meriwayatkan dari Asma binti Yazid bin Al-Muwattha :

...

Artinya :

58

Aku merias Aisyah untuk Rasulullah kemudian aku mendatanginya lalu kupanggil beliau untuk melihatnya sejelas-selasnya. Suami dalam kondisi ini boleh memandang istri sepuas-puasnya meski dengan syahwat sekalipun. Namun hendaknya suami menahan diri untuk berbuat lebih jauh sebab posisinya saat itu masih bersama dengan para tamu yang masih mengantarkan istrinya. Pada saat Taslim, interaksi pertama yang dilakukan suami adalah dengan istrinya, ini bisa difahami dari hadis yang mengisahkan penyerahan Aisyah oleh wanita-wanita Anshar kepada Rasulullah. Ahmad meriwayatkan dari Syahr bin Hausyab:

: . : . . . . : . . :
59

: . : . . : : . . : . . . : . :
Artinya ; Bahwasanya Asma binti Yazid bin Al-Muwattha salah seorang wanita Bani Abdul Asyhal, Syahr bertemu bertemu kepadanya. Maka Asma menghidangkan makanan kepadanya. Syahr berkata : "Aku tidak menginginkannya". Asma berkata : "Sesungguhnya aku merias Aisyah untuk Rasulullah SAW. Kemudian aku mendatangi beliau lalu kuundang beliau untuk melihatnya sejelas-jelasnya. Maka beliau datang lalu duduk di samping Aisyah kemudian beliau disuguhi segelas air susu. Maka Nabi meminumnya lantas memberikannya kepada Aisyah. Maka Aisyah menekurkan kepalanya dan merasa malu. Asma berkata : Maka aku membentaknya dan aku berkata kepadanya : "Ambillah dari tangan Rasulullah SAW". Asma berkata : Maka dia mengambilnya dan meminumnya sedikit. Kemudian Nabi berkata kepadanya : "Berilah kawanmu". Asma berkata : Aku berkata : "Wahai Rasulullah tidak, engkaulah yang mengambil lalu minumlah darinya setelah itu baru berikan 60

padaku dari tanganmu". Maka Nabi mengambilnya lalu meminumnya kemudian memberikannya kepadaku. Asma berkata : Maka akupun duduk kemudian kuletakkan gelas besar itu pada lututku. Kemudian aku memutarnya untuk mencaricari dengan kedua bibirku agar aku memperoleh bekas minum Rasulullah SAW. Kemudian beliau berkata kepadaku bagi kepentingan para wanita yang ada di disisiku."Berilah mereka", mereka berkata : "Kami tidak berselera terhadapnya" Maka Nabi bersabda : "Janganlah kalian menghimpun antara rasa lapar dan kedustaan. Apakah kamu mau berhenti untuk mengatakan : Aku tidak berselera terhadapnya?" Aku berkata : "Duh Ibu, ya aku tidak akan mengulangi lagi selamanya." Disunnahkan bagi lelaki untuk melepaskan ketegangan jika istrinya dalam kondisi tegang. Adalah wajar bagi para wanita dalam kondisi ini yakni kondisi pertama kali bertemu lelaki yang tidak pernah dikenal, ia merasa gugup, tegang dan berdebar-debar. Karena itu termasuk akhlak yang baik jika seorang lelaki bersikap lembut dan menghilangkan kegugupan istrinya dengan cara memberi minum seperti yang dilakukan oleh Rasulullah atau cara-cara lain yang ma'ruf. Adapun bersikap romantis-romantisan, maka hal ini diperkenankan sesudah para tamu pulang. Alasannya, romantis-romantisan adalah hubungan khusus yang terjadi antara pasangan suami istri dan itu hanya boleh terjadi di tempat khusus yang tertutup dan terhindar dari pandangan orang. Prinsip ini tampak pada peristiwa lomba lari antara Rasulullah dengan

61

Aisyah yang pada saat itu Rasul memilih tempat yang tidak diketahui atau dilihat kaum Muslimin.

. . : . : )( ...
Artinya; Dari Aisyah ra. Bahwasanya beliau bersama Nabi dalam sebuah perjalanan sementara beliau masih gadis kecil. Nabi bersabda kepada Shahabatshahabatnya:"Majulah kalian" Maka merekapun maju. Kemudian beliau berkata:" Kemarilah (Aisyah) ayo berlomba lari. Maka akupun berlumba lari dengan beliau dan kukalahkan beliau(Al-Baihaqi) Karena itu, apa yang terjadi di masyarakat berupa suap-suapan antara suami istri hal ini hanya boleh terjadi di tempat khusus tidak boleh disaksikan orang umum. Inilah penjelasan hukum Taslim. Selanjutnya sesudah acara Taslim acara terakhir adalah Liqo'. Liqo' adalah acara pertemuan secara pribadi antara pengantin lelaki dengan pengantin wanita tanpa disertai siapapun. Liqo' adalah acara yang unsur privasinya menonjol dan merupakan acara terpenting dalam Zifaf. 62

Acara ini diawali dengan sejumlah aktivitasdan berakhir dengan acara puncak yaitu Dukhul (hubungan suami istri). Ada empat aktivitas utama yang dilakukan pada acara ini yaitu Jilwah Tsaniyah, Doa, Sholat dan

Dukhul. Berikut penjelasan masing-masing.


Sebelum dilakukan Jilwah Tsaniyah disunnahkan untuk memberikan barang mahar yang telah disebutkan dalam akad, sebab mahar disunnahkan diserahkan sebelum suami mencampuri istrinya. Abu Dawud meriwayatkan dari Abdurrahman bin Tsauban dari salah seorang Shahabat Nabi :

. . : : .
Artinya : Bahwasanya Ali tatala menikahi Fatimah binti Rasulullah, dia ingin menggaulinya. Maka Rasulullah mencegahnya hingga Ali memberinya sesuatu. Ali berkata : "Wahai Rasulullah, aku tidak punya sesuatu. Maka Nabi SAW bersabda

63

kepadanya. "Berilah Fatimah baju besimu". Maka Ali memberikan baju besinya kepadanya kemudian menggaulinya. Namun menyerahkan benda mahar ini tidak bersifat wajib. Boleh saja seorang suami menggauli istri yang telah sah dengan akad nikah tanpa didahului dengan penyerahan mahar secara riil. Sa'id bin Manshur meriwayatkan dari Khoitsamah :

: . : .
Artinya : Bahwasanya seorang lelaki dari kalangan Anshar menikah.Orang-orang bertanya : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia menikah sementara dia tidak punya sesuatu, apakah kami masukkan istrinya kepadanya sementara dia belum memberinya mahar sedikitpun?" Nabi menjawab : "Ya, masukkan wanita itu kepadanya." Hal pertama yang dilakukan dalam Liqo' adalah Jilwah (memandang sejelas-jelasnya) dan ini adalah hal yang dihalalkan. Jika antara lelaki dan wanita yang tidak ada hubungan sebelum menikah dilarang untuk saling memandang dengan berlezat-lezat dan hal ini dinilai sebagai dosa, maka sesudah pernikahan, memandang seperti itu dihalalkan dan bahkan dipandang sebagai Hasanah. Jadi tidak ada lagi istilah Ghoddhul Bashor 64

kepada pasangan. Mata boleh dilepaskan sebebas-bebasnya, seliar-liarnya hingga memicu syahwat yang paling besar sekalipun. Jilwah ini dinamakan Jilwah Tsaniyah (kedua) karena Jilwah pertama sudah dilakukan pada saat Taslim (penyerahan mempelai wanita oleh pengiring). Jilwah pada saat ini boleh dilakukan dengan kadar lebih intim dan romantis oleh seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya. Namun aktivitas ini tidak merupakan keharusan. Sesudah Jilwah maka acara berikutnya adalah doa. Doa pada saat Liqo' disyariatkan untuk meminta kebaikan. Yang dimintakan kepada Allah adalah berkah, yakni tambahan kebaikan. Sebab datangnya pasangan hidup adalah nikmat yang diberikan oleh Allah, yang boleh jadi mendatangkan rahmat dan boleh jadi juga mendatangkan laknat. Jika pernikahan membuat ketaatan seseorang semakin melemah, maka pernikahan tersebut adalah bencana yang bisa menyeret pada laknat. Sebaliknya jika dengan adanya pernikahan tersebut ketaatan justru semakin kuat, maka itu adalah tanda bahwa pernikahan membawa rahmat. Dzat istri dari segi dzatnya, berpotensi memberikan kebaikan pada suami sebagaimana juga berpotensi menimbulkan keburukan. Istri yang cantik misalnya, jika kecantikan istri membuat suami semakin banyak bersyukur dan makin terjaga kehormatannya maka dzat istri dalam hal ini mendatangkan kebaikan bagi suami. Sebaliknya, jika kecantikan istri membuat suami malah lupa pada Allah, sombong karena memamerkan dan membangga-banggakan istrinya di hadapan manusia, maka itu menjadi tanda bahwa dzat istri mendatangkan keburukan bagi suami. 65

Demikian pula hal-hal yang sifatnya non fisik seperti karakter, nasab, status sosial dan sebagainya. Semua ini bisa berpotensi memberikan kebaikan sebagai mana juga bisa juga berpotensi memberikan keburukan. Karena itulah Nabi mengajarkan doa untuk meminta kebaikan dari istri baik dari dzatnya maupun dari segi segala sesuatu yang bersifat non fisik. Malik meriwayatkan dari Zaid bin Aslam bahwa Rasulullah bersabda :

.
Artinya : Jika salah seorang diantara kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang budak wanita, maka hendaklah ia memegang ubun-ubunnya dan berdoa meminta berkah. Hukum doa adalah Sunnah berdasarkan hadis di atas dan tidak boleh dikatakan wajib sebab tidak ada Qorinah yang menunjukkan keras/tegasnya perintah. Pelaku doa adalah suami, dan ini sudah mencukupi keduanya, sebab kebaikan yang diminta suami, jika Allah mengabulkannya sehingga kebaikan itu terealisasi pada suami, maka secara otomatis istri juga mendapatkannya. Adapun tatacara yang diajarkan Nabi adalah : Suami memegang ubunubun istri kemudian mengucapkan doa dengan sungguh-sungguh. Kenapa

66

ubun-ubun bukan pipi, lengan, punggung dan seterusnya hal ini tidak perlu ditanya. Adapun lafadznya, maka yang paling afdhol adalah lafadz yang datang dari Nabi. Lafadz tersebut adalah lafadz yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari 'Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya dari Nabi SAW berliau bersabda :

: .
Artinya : Jika salah seorang diantara kalian menikahi seorang wanita atau membeli seorang pembantu maka ucapkanlah: "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kebaikannya dan kebaikan sesuatu yang engkau menciptakan fitrah dia atasnya, dan aku berlindung dari keburukannya dan keburukan sesuatu yang engkau menciptakan fitrah dia atasnya. Ini adalah doa yang Ma'tsur dari Nabi, dan boleh saja bagi suami untuk menambahnya dengan doa lain yang ia niatkan untuk kebaikan, sebagaimana boleh juga ia berdoa dengan doa Mashnu' (yang dikarang sendiri), sebab 67

syariat doa memubahkan siapapun untuk berdoa dengan doa apapun yang dikehendakinya. Doa yang seperti ini tidak bisa disamakan dengan doa shalat misalnya, sebab shalat adalah ibadah Mahdhoh sementara pernikahan bukanlah ibadah Mahdhoh. Jadi, membaca doa Mashnu' boleh saja hukumnya. Hanya saja, jika suami berdoa dengan doa yang dibuat sendiri hendaknya ia memilih doa-doa untuk kebaikan akhirat. Sedapat mungkin ia berusaha meminimalisasi doa-doa yang meminta kenikmatan duniawi yang bersifat sementara. Nabi pernah mengkritik istrinya, Ummu Habibah ketika berdoa dengan doa yang meminta kenikmatan duniawi yang bersifat sementara meskipun tidak mengharamkannya.

: . : . .

68

Dari Abdullah beliau berkata; Ummu Habibah berdoa: "Ya Allah, berilah aku kenikmatan dengan suamiku Rasulullah SAW, juga ayahku Abu Sufyan, juga saudaraku Muawiyah". Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya : "Engkau telah meminta kepada Allah untuk sebuah ajal yang telah ditetapkan, atsar yang telah diketahui dan rizki yang telah dibagi. Tidak ada sesuatu darinya yang bisa mendahului sebelum tiba ajalnya dan tidak ada sesuatu pun darinya yang bisa menuntut penundaan sesudah tiba ajalnya. Andaikan engkau meminta Allah untuk melindungimu dari siksaan neraka dan siksa kubur niscaya itu lebih bagimu.( AnNasai) Sesudah doa maka mempelai kemudian melakukan sholat bersama. Sholat yang dilakukan mempelai berdua ini memiliki faidah melenyapkan keburukan yang dikhawatirkan muncul dalam kehidupan selanjutnya, sekaligus menjadi batu pertama yang menandai bahwa pertemuan kedua pengantin itu diawali dengan ketaatan dan akan dilanjutkan terus dengan ketaatan sampai akhir hayat. Diantara hal yang bisa dilenyapkan dengan sholat dalam Liqo' ini adalah kebencian antar suami istri yang mungkin terjadi dalam kehidupan suami istri selanjutnya. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Syaqiq :

: . :
69

. .
Artinya : Seorang lelaki yang bernama Abu Jarir datang kepada Abdullah bin Mas'ud kemudian berkata : "Sesungguhnya aku telah menikahi seseorang gadis belia dan aku khawatir dia akan membenciku". Abdullah berkata :"Sesungguhnya kecintaan (perasaan bersatu) itu dari Allah dan kebencian itu dari Syetan yang ingin membuat kalian tidak suka kepada apa yang dihalalkan Allah kepada kalian. Jika istrimu telah mendatangimu maka perintahkanlah dia sholat dua rakaat dibelakangmu. Hukum sholat ini Sunnah bukan wajib, sebab riwayat Bukhari dari Abbas bin Sahl dari ayahnya dan Abu Usaid menunjukkan bahwa Nabi menggauli istrinya tanpa diawali sholat terlebih dahulu.

. . .
Artinya : Nabi SAW menikahi Umaimah binti Suhail. Tatkala wanita itu dimasukkan pada Nabi, Nabi mengulurkan tangannya kepadanya.ternyata ia merespon seakan -

70

akan tidak suka itu. Maka Nabi memerintahkan Abu Usaid untuk menyiapkannya (dipulangkan ke keluarganya) dan memberinya pakaian dua stel. Adapun Kaifiyahnya, maka shalat ini tidak ada bedanya dengan sholat Tathowwu' lainnya. Sholat ini dikerjakan sebanyak dua rokaat dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Sholat semacam ini penting, sebab dilakukan sholat memberikan makna bahwa pertemuan pertama antara suami dengan istri itu dimulai dengan melakukan aktivitas ketaatan terhadap Allah. Jika suatu kejadian diawali dengan ketaatan kepada-Nya maka Allah memberikan kebaikan yang tidak putus-putusnya pada masa-masa selanjutnya. Dalam sholat tersebut sangat baik jika kedua mempelai membaca doa untuk meminta kebaikan pada Allah, terutama pada saat sujud. Abdurrozzaq meriwayatkan dari Ibnu Juraij yang menceritakan pernikahan salah seorang Shahabat :

... . : . . . . : : . .
71

: . . : : . . . : : . : . .
Artinya; Tatkala beliau hendak masuk menemui istrinya dan berdiri di depan pintu beliau melihat rumahnya diselubungi kain. Maka beliau berkata : "Aku tidak tahu apakah rumah kalian tertimpa demam ataukah Ka'bah telah berpindah dari Kindah. Demi Allah, aku tidak mau memasukinya hingga kain itu dirobek." Tatkala orangorang telah merobeknya dan tidak ada yang tersisa darinya, maka beliau masuk. Maka beliau melihat barang-barang yang banyak dan gadis-gadis. Beliau bertanya : "Barang apa ini?", Mereka menjawab : "Barang-barang istrimu dan budak-budak perempuannya". Beliau berkata : "Demi Allah, tidak begini kekasihku (Rasulullah) 72

memerintahkan. Kekasihku memerintahkan agar aku memiliki seperti (kepemilikan) barang-barang musafir saja, dan berkata kepadaku : Barang siapa yang memiliki budak perempuan yang lebih dari keperluan yang sudah didapatkan dengan pernikahan, kemudian mereka berzina, maka dosanya ditanggung dia." Setelah itu beliau menuju istrinya lalu meletakkan tangannya pada kepalanya dan berkata kepada wanita yang berada di sisinya : "Pergilah kalian". Akhirnya tidak ada yang tertinggal selain istrinya , kemudian beliau berkata : "Apakah engkau mau taat kepadaku? Semoga Allah merahmatimu". Istrinya menjawab : "Engkau telah duduk dalam posisi orang yang ditaati" Beliau berkata : "Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda kepadaku : Jika suatu hari engkau menikah, maka hendaklah sesuatu yang pertama kali menjadi dasar kalian bertemu adalah ketaatan kepada Allah. Maka bangunlah, mari kita sholat dua rakaat, doa apapun yang kau dengar dariku maka aminilah", maka keduanya pun sholat dua rakaat dan istrinya mengamininya dan beliau bermalam di sisinya. At-Thabarani meriwayatkan dari Abu Abdurrahman As-Sulami;

. : : . : .
Artinya : 73

Bahwasanya seorang lelaki mendatangi Ibnu Mas'ud kemudian berkata:"Sesungguhnya aku menikahi seorang wanita dan aku menghawatirkan tumbuhnya kebencian". Ibnu Mas'ud berkata.:"Jika engkau telah membawanya, maka sholatlah dua rakaat dan ucapkan : Ya Allah berkahilah keluargaku untukku, dan berkahilah aku untuk mereka. Ya Allah himpunkanlah kami-selama engkau menghimpun-dalam kebaikan, dan pisahkanlah kami -jika engkau memisahkan-, pada kebaikan. Dalam Mu'jam Ausath At-Thabarani juga meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud :

. : . .
Artinya : Bahwasanya Nabi mengajari mereka (para Shahabat) jika seseorang wanita telah masuk menemuai suaminya, hendaknya suami berdiri dan istrinya berdiri dibelakangnya, lalu keduanya sholat dua rakaat dan suaminya berdoa :"Ya Allah, berkahilah keluargaku untukku dan berkahilah aku untuk keluargaku. Ya Allah, berilah mereka rizki dariku dan berilah aku rizki dari mereka. Ya Allah himpunlah 74

kami,-selama engkau menghimpun-dalam kebaikan. Dan pisahkanlah kami-jika engkau memisahkan- pada kebaikan. Jika istri dalam kondisi haid, maka dia cukup duduk di belakang suami sambil berdzikir dan mengamini doa suami yang dibaca dengan keras. Jika tidak mendengar doa suami maka dia cukup berdzikir dan berdoa sendiri. Adapun amalan lain, maka semua amalan apapun yang terkategori ketaatan kepada Allah, dinilai hal yang ma'ruf dilakukan meskipun itu bukan sholat. Alasannya, perintah Nabi kepada Abdullah bin Mas'ud adalah mengawali pertemuan dengan istri dengan melakukan ketaatan kepada Allah

.
Jika suatu hari engkau menikah, maka hendaklah sesuatu yang pertama kali menjadi dasar kalian bertemu adalah ketaatan kepada Allah. (HR. Abdur Rozzaq dlm mushonnafnya) Lafadz ketaatan bersifat umum, bisa berlaku pada amal Dzikir, doa, Tilawah, dsb. Sesudah melakukan sholat, tibalah dua mempelai melakukan acara puncak, yaitu Dukhul (berhubungan suami istri). Hubungan ini adalah apa yang dinamakan orang-orang dengan sebutan malam pertama, dan ia merupakan kejadian terindah bagi mempelai berdua. Adab-adab tentang aktivitas ini diatur tersendiri oleh Islam dan perlu dikaji dalam bahasan tersendiri.

75

Jika sudah sampai di sini maka selesailah prosesi Zifaf dan hendaknya semua diakhiri dengan ucapan memuji Allah seraya bersyukur atas nikmatnikmat yang dilimpahkannya.

76