Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KELOMPOK KOSMETOLOGI OLEH : INDRA IMANUEL TUBA & ASRI LAHIPE

SEMESTER : V MATERI : PREPARAT UNTUK KESEHATAN MULUT

Kesehatan gigi dan mulut sangat penting karena gigi dan gusi yang rusak dan tidak dirawat akan menyebabkan rasa sakit, gangguan pengunyahan dan dapat mengganggu kesehatan tubuh lainnya. Banyaknya karies, gingivitis dan gigi berjejal harus segera ditangani dan semuanya dapat dicegah. Memelihara kesehatan gigi dan mulut sangat penting untuk memperoleh kesehatan tubuh kita. Untuk memelihara kesehatan mulut ada beberapa preparat yang dapat digunakan. Preparat untuk kesehatan mulut, antara lain:

1. Pasta gigi Pasta gigi adalah sejenis pasta yang digunakan untuk membersihkan gigi, biasanya digunakan dengan sikat gigi. Di Indonesia pasta gigi sering disebut odol. Macam-macam pasta Gigi: a. Pasta gigi dengan fluoride Bahan yang perlu diperhatikan saat memilih pasta gigi adalah fluoride. Dalam 50 tahun terakhir, fluoride menjadi bahan paling efektif untuk melindungi email gigi dari kerusakan akibat asam dan mencegah gigi berlubang. Fluoride bisa mencegah pembusukan gigi dewasa dan memperkuat gigi yang masih tumbuh. Pada masa pertumbuhan gigi, fluoride dan kalsium membantu membentuk struktur gigi. Fluoride membuat email gigi lebih kuat. Beberapa tahun belakangan, penggunaan fluoride di pasta gigi sempat dipertanyakan. Adanya penelitian yang menyebutkan bahwa fluoride bisa berbahaya jika tertelan membuat pasta gigi berfluoride dilarang beredar di beberapa negara. Tapi penelitian lain menyebutkan, fluoride masih aman digunakan dalam kadar tertentu. Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) memberikan batasan penggunaan fluoride di pasta gigi sebesar 0,15%.

b. Pasta gigi untuk gigi sensitive Anda yang memiliki gigi sensitif, sebaiknya memilih pasta gigi khusus. Ciriciri gigi senstif adalah tak tahan makanan atau minuman yang terlalu panas ataupun yang terlalu dingin. Gigi sensitif juga terkadang bisa membuat rasa ngilu saat memakan bahan makanan tertentu, misalnya gula, permen, cokelat dan sebagainya. Pasta gigi untuk gigi sensitif biasanya mengandung potasium nitrat atau strontium klorida. Bahan tersebut bisa mengurangi sensitivitas gigi dengan memberi perlindungan pada bagian yang terhubung dengan saraf gigi. c. Pasta gigi pemutih Setiap orang mengharapkan senyum indah dengan sederet gigi putig cemerlang. Itulah yang menyebabkan produk pasta gigi whitening semakin laris. Pasta gigi pemutih sebetulnya tidak mengandung bahan pemutih. Pasta gigi ini mengandung bahan abrasif yang bisa mengikis kotoran dan noda di gigi sehingga gigi terlihat lebih cerah. Banyak anggapan kandungan bahan abrasif pada pasta gigi pemutih bisa mengikis email gigi. Tapi studi ilmiah membuktikan bahwa bahan abrasif pada pasta gigi pemutih cukup aman dan tidak merusak pelapis gigi. Komponen-komponen yang terdapat dalam pasta gigi: a) Bahan abrasive (20%-50%) Bahan abrasif yang terdapat dalam pasta gigi umumnya berbentuk bubuk pembersih yang dapat memoles dan menghilangkan stain dan plak. Juga dapat membantu mengentalkan pasta gigi. Contoh bahan abrasive misalnya silica atau silica hidrat, sodium bikarbonat, alumunium oxide, dikalsium fosfat dan kalsium karbonat. b) Air (20%-40%) Air dalam pasta gigi berfungsi sebagai pelarut. c) Humectant atau pelembab (20%-35%) Humectant adalah bahan yang menyerap air dari udara dan menjaga kelembaban. Bahan ini juga berfungsi mencegah atau menjaga pasta gigi agar tidak kering. Misalnya Alpha Hydroxy Acid (AHA), asam laktat dan gliserin. d) Bahan perekat (1%-2%) Berfungsi mengontrol kekentalan dan memberi bentuk krim dengan cara mencegah

terjadinya pemisahan bahan solid dan liquid pada suatu pasta gigi. Misalnya glycerol, sorbitol, dan Polyethylene Glycol (PEG). e) Surfactant atau detergen (1%-3%) Detergen yang banyak terkandung dalam pasta gigi di pasaran adalah SLS (Sodium Lauryl Sulfat) yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan, mengemulsi lemak dan memberikan busa sehingga pembuangan plak dan sisa makanan menjadi lebih mudah. SLS juga memberikan efek antibakteri. f) Bahan penambah rasa (0-2%) Biasanya pasta gigi menggunakan pemanis buatan untuk memberikan cita rasa yang beraneka ragam. Tambahan rasa pada pasta gigi akan membuat menyikat gigi menjadi lebih menyenangkan. ADA (American Dential Association) tidak merekomendasikan pasta gigi yang mengandung gula tapi pasta gigi yang mengandung pemanis buatan misalnya sakarin. Bahan pelembab gliserin dan sorbitol juga dapat memberikan rasa manis pada pasta. g) Bahan terapeutik Bahan terapeutik yang terdapat pada pasta gigi adalah sebagai berikut: 1) Fluoride Penambahan fluoride pada pasta gigi dapat memperkuat enamel dengan memmbuatnya resisten terhadap asam dan menghambat bakteri untuk memproduksi asam. Ada 3 macam flouride: a. Stannous Flouride Disebut juga Tin Flour. Merupakan flour yang pertama ditambahkan dalam pasta gigi yang digunakan secara bersamaan dengan bahan abrasif (Kalsiumfosfat). Flouride ini bersifat antibakterial namun kelemahannya dapat membuat stein abu-abu pada gigi. b. Sodium Flouride NaF merupakan flour yang paling sering digunakan pada pasta gigi, tetapi tidak dapat digunakan bersamaan dengan bahan abrasif. c. Sodium Monoflourof Osfat 2) Bahan Desensitisasi Bahan desensial yang digunakan dalam pasta gigi: a. Potassium Nitrat, dapat memblok transmisi nyeri diantara sel-sel saraf. b. Stronsium Chloride, dapat memblok tubulus dentin.

3) Bahan anti tartar Bahan ini digunakan untuk mengurangi kalsium dan magnesium sehingga keduanya tidak dapat berdeposit pada permukaan gigi. Misalnya: Tetrasodium, Phyrophospate. 4) Bahan antimikroba Bahan ini digunakan untuk membunuh dan menghambat pertumbuhan bakteri. Contohnya adalah Zinc citrate, Zinc phospate. Selain itu beberapa herbal yang dapat ditambahkan sebagai anti mikroba yaitu ekstrak daun sirih dan siwak. Ekstrak daun sirih yang ditambahkan pada pasta gigi mampu membunuh bakteri secara lebih efektif dibandingkan dengan anti-mkroba dari bahan kimia. Sirih telah diakui memiliki efek farmakologis yaitu sebagai: Anti-Mikroba, suatu substansi yang membunuh atau menghambat pertumbuhan dari bakteri, jamur dan virus serta parasit. Anti-Oksidan, Substansi yang menetralkan radikal bebas karena senyawasenyawa tersebut mengorbankan dirinya agar teroksidasi sehingga sel-sel yang lain dapat terhindar dari radikal bebas. Anti-Mutagenik, Sifat dasar kimia yang dapat menghambat terjadinya mutasi gen. Anti-Karsinogenik, pemunculan kanker. Anti-Inflamasi, Obat yang dapat menghilangkan radang yang Zat yang memiliki sifat dapat menghambat

disebabkanbukan karena mikroorganisme (non infeksi). Karena daun sirih mengandung asam lemak (asam stearat dan asam palmitat) dan asam lemak hidroksi ester (ester hidroksi dari stearat, palmitat dan asam miristat) dan Hydroxychavicol sebagai komponen utama.

Hydroxychavicol merupakan turunan senyawa fenol yang memiliki daya anti bakteri (bakterisia) lima kali lebih kuat daripada fenol biasa dengan target struktur, fungsi dinding, dan membran sel bakteri. Minyak atsiri sirih bersifat volatil atau mudah menguap sehingga diperlukan tempat tertutup untuk proses pengolahannya.

h) Bahan pemutih (0,05-0,5%) Ada macam-macam bahan pemutih antara lain: Sodium karbonat, hidrogen peroksida, citroxane dan Sodium hexametaphospate. i) Bahan pengawet (0,05-0,5%) Digunakan untuk mencegah mikroorganisme pada pasta gigi. Misalnya: Sodium benzoat, Natrium klorida, Methylparaben dan Ethylparaben. Contoh formulasi pasta gigi Kalsium karbonat 97,5 g gliserin 52.5 ml Sodium Lauryl Sulfat 52,5 g Pulvis Gummi Arabica 1,5 g Natrium Sakarin 1.5 g Oleum Ment pip 7.5 ml Natrium Bicarbonat 30 g Menthol 150 mg Sodium benzoate 270 mg Aquabidest 28,5 ml Pengujian Pasta Gigi a. Uji Sharpness dan Hardness Bertujuan untuk mengetahui tingkat kekasaran dan ketajaman partikel abrasif. b. Uji Spreadibilitas Bertujuan untuk mengetahui kemampuan pasta gigi untuk menyebar di dalam mulut. c. Uji pH Bertujuan untuk mengetahui pH pasta gigi. d. Uji kemapuan berbusa Bertujuan untuk mengetahui kemampuan pasta gigi untuk menghasilkan busa. e. Uji kemampuan membersihkan Bertujuan untuk mengetahui kemampuan pasta gigi untuk membersihkan kotoran.

2. Moutwash Mouthwash didefinisikan sebagai sebagai larutan dengan rasa yang enak (mengandung germisida) yang digunakan untuk menyegarkan mulut. Secara umum, mouthwash terbagi dalam empat tipe yaitu: 1. Antibakteri, mengandung agen germisida untuk menurukan jumlah bakteri didalam mulut 2. Floride, membantu memperkuat lapisan gigi 3. Kosmetik, dengan tujuan menyegarkan bau mulut 4. Larutan kumur sebelum menggosok gigi, yang berguna untuk memudahkan pasta gigi dan sikat gigi. Produk antibakteri dapat dibagi lagi menjadi dua tipe yaitu tipe dengan dasar fenolik, biasa disebut dengan mouthwash antiseptik dan tipe dengan dasar antimikroba. Mouthwash antiseptik tidak terlalu mencapai penjualan tinggi di Inggris, namun di Amerika dan negara lain tipe mouthwash ini terkenal dan banyak dipakai. Umumnya, mouthwash yang ada di Amerika diformulasi dan dapat digunakan langsung, sedangkan mouthwash yang ada di negara Eropa kebanyakan digunakan setelah dilarutkan terlebih dahulu.

Mouthwash sebaiknya merupakan cairan yang mempunyai viskositas yang cukup ketika digunakan (tidak terlalu kental atau encer) dengan rasa yang dapat diterima. Mouthwash juga sebaiknya aman digunakan setiap hari dan tidak mendukung pertumbuhan bakteri. Terlebih, mouthwash sebaiknya jernih dan terdiri dari satu fase serta berbusa untuk mendorong konsep pembersihan mulut. Selain itu, mouthwash juga sebaiknya stabil pada berbagai temperatur. Mouthwash bisa berupa larutan siap pakai, larutan konsentrat, atau bubuk yang dapat ditambahkan air. Mouthwash sebaiknya mempunyai fungsi di bawah ini : 1. Membersihkan derbis dari rongga mulut 2. Menyegarkan nafas 3. Meninggalkan rasa segar Sebagai tambahan, mouthwash, tergantung tipe, dapat : 1. Menurunkan jumlah mikroorganisme dalam mulut 2. Menghantarkan bahan aktif seperti fluoride 3. Menghilangkan plaque gigi

Menurut T. Mitsui dalam bukunya New Cosmetic Science fungsi mouthwash adalah untuk membersihkan rongga mulut, mencegah bau mulut yang tidak segar dan menyegarkan bau mulut. Selain itu dikenal adanya tipe mouthwash yaitu tipe langsung dipakai, konsentrat dan tipe bubuk walaupun tipe langsung dipakai adalah bentuk yang paling sering digunakan. Tipe-tipe Mouthwash menurut New Cosmetic Science adalah a) Tipe langsung pakai > Tipe ini digunakan langsung tanpa ada perlakuan tertentu. Sangat mudah digunakan dan banyak diaplikasikan b) Tipe konsentrat > Larutan dasar ditambahkan dengan sejumlah air ketika ingin digunakan. Keuntungannya adalah kompak dan ringan; mulut dapat dicuci berkalikali dengan 1 botol c) Tipe bubuk > Bubuk dilarutkan dalam sejumlah air tertentu ketika ingin digunakan mudah dibawa-bawah Komponen Mouthwash Bahan yang digunakan dalam pasta gigi dan mouthwash relatif mirip, maka dari itu penjelasan berikut adalah bahan-bahan yang hanya digunakan khusus dalam pembuatan mouthwash a) Pelarut Air adalah bahan utama pada semua mouthwash tipe siap pakai (langsung) dan tipe konsentrat. Air yang dimurnikan dengan kualitas tinggi, telah didestilasi atau telah diionisasi umumnya dipakai untuk mencegah adanya interaksi dengan bahan lain dan untuk menyediakan basis netral untuk mouthwash. Alkohol atau alkohol terdenaturasi digunakan kebanyakan pada tipe mouthwash siap pakai. Alkohol membantu untuk mencapai kesegaran mulut dan bahkan pada level rendah dapat membantu mengsolubilisasi atau mengemulsifikasi rasa, serta menurunkan titik beku formulasi. Alkohol juga membantu mengstabilkan produk terhadap petumbuhan mikroba. Contoh yang umum dipakai adalah SD (Specially Denaturated) alcohol. b) Perasa Perasa adalah alasan pemilihan mouthwash untuk kebanyakan konsumen. Mereka mengharapkan adanya rasa menyenangkan atau medisinal/antiseptik selama penggunaan dan ada perubahan pada bau mulut setelah penggunaan. Rasa dominan yang digunakan untuk tipe kosmetik adalah mint seperti spearmint, peppermint. Perasa tersebut

biasanya tidak langsung mengambil dari minyak namun merupakan perasa buatan dengan berbagai modifikasi. Herbal, floral atau medisinal juga merupakan rasa yang biasa digunakan dalam mouthwash. Selain untuk memberikan rasa dalam formulasi, perasa ini dapat bertindak untuk menutupi atau memodifikasi persepsi bau mulut atau ejekan yang direncanakan atau bau bawang putih. Dalam kasus ini, penelitian harus dilakukan untuk menentukan keefektifitas dari kandidat perasa dalam menutupi atau mengubah persepsi bau tersebut. Penelitian sebaiknya dilakukan menggunakan konsumen, bau yang ditutupi sebagai objek yang dinilai, dan ahli penciuman. c) Senyawa fenolik Senyawa fenolik termasuk timol, eucalyptol, metil salisilat, dan mentol. Banyak orang menggangap bahan ini untuk menambah karakteristik medisinal arau antiseptik pada rasa di dalam mouthwash. Mentil laktat atau turunan ester dari mentol telah digunakan dalam beberapa produk untuk menambah efek sejuk walaupun tidak mempunyai efek perasa yang kuat seperti menthol tersebut sendiri. Metil salisilat sama seperti fenil salisilat dan fenolik lain telah digunakan baik sebagai bahan tunggal ataupun bagian dari perasa buatan. Pemanis buatan biasanya ditambahkan pada mouthwash untuk membuat mouthwash lebih disukai. Dua senyawa yang umumnya dipakai adalah sodium sakarin dan potasium acesulfame. d) Humektan Humektan dalam mouthwash digunakan untuk menambah solubilisasi dari perasa, untuk memodifikasi rasa mulut, untuk menambahkan tingkat kemanisan, dan untuk meningkatkan tekanan osmotik dari mouthwash guna menurunkan resiko pertumbuhan mikroba. Humektan yang digunakan pada mouthwash sama dengan yang digunakan pada pasta gigi umumnya : gliserin, sorbitol, hydrogenated starch hydrolysate, propilen glikol, dan xylitol. e) Solubilizers/emulsifiers Untuk mencapai produk akhir jernih, formulasi mouthwash menempatkan emulsifier atau solubilizer untuk menggabungkan rasa dari bahan lain yang tidak larut air. Emulsifier ini juga berperan dalam efek pembersih mulut pada mouthwash. Kombinasi dari emulsifier yang digunakan juga sering digunakan untuk mencapai produk akhir yang jernih. Tipe surfaktan poloxamer telah banyak digunakan dan penggunaan senyawa tersebut terus

bertambah, termasuk penggunaan poloxamer 407, poloxamer 338, dan poloxamer 124. Contoh lain, polysorbat, juga digunakan luas dalam emulsifier dasar dalam formulasi mouthwash. PEG-40 terhidrogenasi minyak jarak juga digunakan sebagai emulsifier sama seperti bagian tar tobacco. Emulsifier kationik dahulu digunakan dalam beberapa produk namun tidak lagi diperbolehkan mengingat bahan ini menutupi rasa dari mouthwash tersebut. Emulsifier anionic, seperti contoh sodium lauril sulfat telah digunakan dalam mouthwash dan biasanya dikombinasi dengan emulsifier noninik. Namun emulsifier anionic tidak dikombinasikan bersama emulsifier kationik karena terkait dengan masalah inkompabilitas. f) Antimikroba Selain untuk membunuh bakteri, fungsi daripada antimikroba adalah untuk

menghilangkan bau mulut, plak dan gingivitis. Senyawa fenolik telah dibahas sebelumnya. Antimikroba yang biasa dipakai adalah senyawa fenolik (telah dibahas sebelumnya) dan antibakteri kationik kuarterner seperti cetilpyridinium chloride (CPC) dan domiphen bromida. CPC biasa digunakan sebagai antibakteri tunggal, sedangkan domiphen bromida biasanya digunakan dengan kombinasi dengan CPC. Chlorhexidine dipercaya memiliki aktivitas antimikroba spektrum luas dan digunakan dalam obat kumur di Amerika sebagai agen antiplak dan antigingivitis. Ekstrak Sanguinaria canadensis atau sanguinaria telah digunakan dalam mouthwash karena efeknya sebagai antimikroba, antiplak dan efeknya sebagai antigingivitis. Triclosan baru-baru ini tidak diijinkan untuk dipakai di Amerika, namun mouthwash dengan bahan aktif ini telah banyak diformulasikan dan populer di seluruh dunia. Formulasi mouthwash ini dapat juga mengandung kopolimer PVA/MA atau pirofosfat untuk mendorong kerja efek ini. Hampir tidak mungkin dan juga tidak diinginkan untuk mencapai tujuan sterilisitas dalam rongga mulut. Penggunaan antibiotik, sebagai contoh, dapat menghancurkan flora normal dan mendorong pertumbuhan organisme opportunistik yang tidak diinginkan. Bagaimanapun, pengurangan dan pengaturan jumlah bakteri dalam level yang rendah dapat mungkin digunakan dengan penggunaan antibakteri. Antibakteri kationik secara normal mempunyai sifat ini dengan beberapa tingkatan, sama seperti berbagai material. Uji lapisan jaringan buccal dapat dilakukan sebagai teknik persyaararan standar untuk penilaian ini. Efek antimikroba total dari formulasi merupakan kombinasi dari beberapa

faktor : efek mekanik dari menggosok derbis dan mikroorganisme mulut, kemungkinan ditingkatkan dengan adanya surfaktan; efek agen antimikroba pada flora normal; dan efek yang dapat muncul dari komponen perasa dan alkohol jika terdapat pada jumlah yang banyak. Efek sinergis juga dapat muncul dan harus segera dievaluasi. g) Bahan aktif lain Hidrogen peroksida (1.5%) dapat digunakan sebagai agen pengoksidasi di mouthwash. Hidrogen peroksida, tentunya, cukup reaktif dan dapat berinteraksi dengan bahan formula lain, dan produk yang mengandung bahan ini harus dibuat dengan pengawasan yang ketat. Klorin dioxida, atau sumbernya, sodium klorit, digunakan sebagai agen pengoksidasi di mouthwash. Bahan pengoksidasi ini digunakan secara utama untuk menurunkan bau mulut namun juga dapat memberikan efek antibakteri jika diformulasi dengan baik. Garam zinc, seperti zinc klorida dan garam zink lain yang larut, telah digunakan dalam mouthwash selama beberapa tahun sebagai astrigen untuk mengatasi pendarahan gusi. Garam zinc diketahui bereaksi dengan komponen sulfur yang mudah menguap dan selanjutnya berperan untuk menyegarkan nafas. Ada pula penelitian yang mengindikasikan bahwa senyawa tersebut mempunyai aktivitas antiplak. Formulasi yang mengandung zink klorida mengharuskan pH sekitar 4.5 atau di bawah untuk menjaga garam dari presiptasi. h) Buffer Buffer digunakan dalam beberapa produk untuk mengatur pH diantara range tertentu untuk membantu kestabilan dan meningkatkan efektifitas dari beberapa produk. Beberapa contoh adalah asam benzoat dan sodium benzoat, sodium fosfat, dan disodium fosfat. i) Fluoride Di Amerika, mouthwash yang mengandung florida diregulasi di FDA. Pembatasan level dari florida dan perijinan diberikan dalam peraturan dan harus ditinjau dengan cermat sebelum pengembangan formulasi. Sodium florida denngan mudah diformulasi dengan bahan mouthwash yang lain dan seharusnya tidak memberikan masalah ketika ditambahkan dalam kebanyakan mouthwash.

j) Bahan-bahan lain Masih banyak komponen lain yang dapat ditemui di mouthwash. Ini termasuk daftar penjang surfaktan, antibakteri lain, pengawet dan bahkan ekstrak biologis. Dua bahan yang juga diproduksi dalam pembersih sebelum menggosok gigi adalah tetrasodium pirofosfat dan xanthan gum. Tetrasodium pirofosfat biasanya digunakan karena mempunyai efek antikalkulus namun pada kasus mouthwash digunakan sebagai antiplak. Xanthan gum digunakan karena sifat pembentuk film untuk mengstabilkan busa daripada surfaktan dan kemungkinan dapat menghilangkan plak pada debris. Selain itu sodium bikarbonat atau baking soda digunakan dalam beberapa mouthwash karena sifat mengurangi bau. Katagori Komponen Efek+aktivitas Air yang telah dimurnikan Pengatur kekentalan, konsistensi, volume, dsb Pelarut Etanol, dll Melarutkan zat perasa, memberikan rasa sejuk Humektan Gliserin, dll Melembabkan mulut, membantu disolusi dari zat perasa Solubilizer Natrium lauryl sulfat Polioksietilen-polioksipropilenglikol Melarutkan zat perasa, membersihkan mulut bagian dalam Perasa Natrium sakarin Mentol, eugenol, minyak pepermint, dll Memberikan rasa sejuk Pengawet Etilparaoksibenzoat, Na-benzoat Mencegah penurunan kualitas produk Pewarna Karamel, dsb Membuat penampilan sediaan semakin menarik Pengatur pH Garam asam fosfor, garam asam nitrat Mengatur pH Pharmaceutical agent membersihkan rongga mulut, mencegah bau mulut yang tidak segar dan menyegarkan bau mulut Pembuatan Mouthwash Kebanyakan mouthwash dibuat dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, fase air dan bahan yang larut air disiapkan; dan pada tahap selanjutnya bahan yang tidak larut air ditambahkan dengan emulsifier. Kedua fase ini kemudian dicampur bersama. Berdasarkan pengalaman dalam pembuatan mouthwash, fase non-air lebih baik

ditambahkan ke dalam fase air. Tahapan terakhir dalam pembuatan adalah filtrasi dengan beberapa lapis filter, dan lapisan terakhir yang dipakai adalah filter tipe submikron. Produk yang jernih dan berkilau dipercaya lebih dipilih konsumen. Pengujian Mouthwash Uji terhadap konsumen Pengujian penerimaan konsumen biasanya dimulai di laboratorium dengan mencoba formulasi tersebut. Pengujian ini dapat lebih jauh lagi, dengan meminta pendapat sejumlah konsumen target, biasanya apabila rasanya enak maka dipilih untuk diproduksi. Uji keamanan Sama seperti produk kesehatan pada umumnya, toksiksitas akut atau LD50 harus dilakukan untuk keamanan manusia. Juga disarankan test iritasi dan sensitifitas terhadap komponen perasa, surfaktan, dan bahan aktif lain yang terdapat pada formulasi. Uji bakteriologi Semua tipe mouthwash harus diuji apakah mereka dapat mendorong pertumbuhan mikrobiologi, dan produk tipe antibakteri juga harus diperiksa kejelasannya dalam bagaimana antibakteri tersebut berkerja (misalnya membunuh bakteri selama x jam). Uji pengurangan bau mulut Banyak tersedia prosedur uji dengan alat yang didasarkan pada kromatografi gascair, detektor bau yang didasarkan pada hal tersebut, dan metode deteksi lain. Manfaat dengan adanya uji yang dilakukan antara panelis konsumen dengan ahli bau adalah menetapkan bau target yang sering menjadi masalah (misalnya nafas ketika bangun pagi atau bau bawang putih) telah banyak dilakukan untuk menambah nilai jual, biasanya dalam iklan televisi semenjak masalah tersebut lebih sering dihadapi pada situasi nyata Uji klinik Tipe uji klinik yang dilakukan belakangan ini terhadap mouthwash sangat bervariasi karena banyaknya jenis produk yang ada. Uji ini berkisar antara uji

konvensional antikaries untuk penghilangan plak dengan larutan pembersih sebelum menyikat gigi. Banyak waktu, tenaga, dan dana yang harus dikeluarkan di uji screening untuk menyelesaikan serangkaian uji klinik yang diberlakukan pada mouthwash. Contoh Formulasi Mouthwash Mouthwash kosmetik bebas alkohol Air 86.01 % Asam benzoat 0.04 % Sodium benzoat 0.15 % Poloxamer 407 1.25 % Gliserin 12 % Sodium sakarin 0.05 % FD&C biru no 1 0.0002 % Flavor 0.25 % Polysorbat 20 0.25 %

Mouthwash antimikroba mengandung alkohol Air 76.18 % Gliserin 8 % Sodium benzoat 0.1 % Asam benzoat 0.04 % Sodium sakarin 0.08 % Setilpiridinum klorida 0.05 % FD&C biru no 1 0.0002 % SDA alkohol 38-B 15 % Perasa 0.25 % Polysorbat 80 0.3%

Mouthwash tipe langsung Etanol 15 % Gliserin 10 % Polyoksietilen-hydrogenated castor oil 2 % Na-sakarin 0.15 % Na-benzoat 0.05 % Perasa q.s. Na-fosfat 0.1 % Pewarna q.s. Air murni 72.7 %

Cara pembuatan : larutkan gliserin dan polyoksietilen-hydrogenated castor oil dalam air. Larutkan perasa dalam etanol dan tambahkan pada campuran sebelumnya, campur hingga larut sempurna. Selanjutnya larutkan Na-sakarin, Na-benzoat, Na-fosfat, dan pewarna ke dalam campuran kemudian saring. 3. Gargagisma (obat kumur) Gargagisma (obat kumur) adalah sediaan berupa larutan, umumnya dalam bentuk pekat yang harus diencerkan dahulu sebelum digunakan, dimaksudkan untuk digunakan sebagai pencegahan atau pengobatan infeksi tenggorok. Tujuan utama penggunaan obat kumur adalah dimaksudkan agar obat yang terkandung di dalamnya dapat langsung terkena selaput lendir sepanjang tenggorokan; dan tidak dimaksudkan agar obat itu menjadi pelindung selaput lendir. Karena itu, obat berupa minyak yang memerlukan zat pensuspensi dan obat yang bersifat lendir tidak sesuai untuk dijadikan obat kumur. 4. Breathfreshener (spray penyegar nafas) Breathfreshener atau spray penyegar nafas adalah spray yang disemprotkan ke rongga mulut dengan tujuan untuk menyegarkan bau mulut/menghilangkan bau mulut. Spray penyegar nafas ini tersedia dengan beberapa variant bau dan rasa serta mengandung menthol sebagai bahan penyegar

5. Dental floss (benang gigi) Dental floss (benang gigi) adalah benang tipis dan lembut yang terbuat dari nilon, plastic, ataupun pita sutra dan biasanya tersedia dalam beberapa pilihan. Ada yang memiliki rasa, dilapisi lilin, maupun Dental Floss biasa. Penggunaan Dental Floss sangat berguna dalam mencegah timbulnya penyakit Gusi dengan cara membuang sisa-sisa makanan dan plak diantara Gigi, yang tidak dapat dicapai oleh sikat Gigi. Plak merupakan suatu zat yang lengket yang mengandung bakteri. Jika plak ini terus terkumpul, bakteri dapat mengiritasi Gusi dan menyebabkan pembengkakan. Dental Floss digunakan dengan cara disisipkan diantara gigi dan ditekan sepanjang sisi gigi, khususnya daerah yang dekat dengan gusi. Secara perlahan, gerakan floss naik turun, dengan kondisi tetap menekan ke sisi gigi. Jangan pernah menekan kearah Gusi, karena hanya akan menyebabkan iritasi pada Gusi. Pastikan setiap sisi Gigi sudah ter-floss dengan bersih.

Daftar Pustaka

Anonym. 2014. Mouthwash. http://mylifemyjoymytears.blogspot.com/2011/02/mothwashsebuah-pendekatan-dari.html. Diakses tanggal 14 Januari 2014 Anonym. 2014. Dentalfloss. http://www.formulaoralcare.com/fungsi-pemakaian-dental-floss/ http://id.wikipedia.org/wiki/Pasta_gigi. Diakses tanggal 14 Januari 2014 Anonym. 2014. Pasta gigi. http://splashdiary.blogspot.com/2013/02/pasta-gigi-bisa

mencerahkan-bibir-apa.html. Diakses tanggal 14 Januari 2014