Anda di halaman 1dari 9

TUGAS AKUNTANSI SYARIAH

ED PSAK 110 (AKUNTANSI HAWALAH)

TAUFAN ABDILLAH A W A31111116

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2013

KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT dengan berkah dan karunia-nya manusia dapat menikmati indahnya alam ini. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang telah membawa dunia ini kepada kedamaian, ilmu pengetahuan dan peradaban yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah. Berkah rahmat Allah dan hidayah-nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini terkait ED PSAK 110 yang mengatur Akuntansi Hawalah. Makalah ini disusun untuk

melengkapi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata, Penulis sadar bahwa makalah ini memiliki banyak kekurangan, Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak, terutama bagi para Pembaca Yang Budiman, untuk kesempurnaan makalah ini di masa mendatang.

(Penulis)

Makassar, 6 November 2013

PENDAHULUAN Booming nya Ekonomi Syariah di tandai dengan banyaknya muncul Lembaga Keuangan Syariah. Ketika berbicara Lembaga Keuangan, tidak bisa dilepaskan dengan yang namanya Akuntansi. Sejalan dengan perkembangan Lembaga Keuangan Syariah, Akuntansi khususnya Akuntansi Syariah di Indonesia pun ikut tumbuh mengiringi nya. Perkembangan Akuntansi Syariah tidak terlepas dari yang nama nya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). PSAK merupakan dasar atau pedoman yang digunakan dalam menyusun laporan keuangan. Penerapan PSAK Syariah merupakan suatu tuntutan yang tidak bisa dihindari karena bisnis syariah dewasa ini mengalami perkembangan yang signifikan dan menjadi tren baru dunia bisnis di Negara-negara mayoritas berpenduduk muslim maupun nonmuslim. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mengeluarkan beberapa Exposure Draft PSAK untuk transaksi kegiatan usaha berdasarkan kaidah syariah.. Salah satu nya adalah ED PSAK 110 tentang Akuntansi Hawalah. ED PSAK 110 ini mengatur tentang bagaimana pengalihan utang. Hawalah merupakan pengalihan hutang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Dalam hal ini terjadi perpindahan tanggungan atau hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah ulama, hiwalah adalah pemindahan beban hutang dari muhil (orang yang berhutang) menjadi tanggungan muhal alaih (orang yang berkewajiban membayar hutang). Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini penulis mencoba untuk mengkaji sedikit tentang ED PSAK 110 ini, bagaimana landasan syariah, penyajian , serta pengungkapan nya di dalam laporan keuangan.

PEMBAHASAN 1. DEFINISI Secara bahasa hawalah atau hiwalah bermakna berpindah atau berubah. Dalam hal ini terjadi perpindahan tanggungan atau hak dari satu orang kepada orang lain. Dalam istilah para fukoha hawalah adalah pemindahan atau pengalihan penagihan hutang dari orang yang berhutang kepada orang yang menanggung hutang tersebut.Menurut ED PSAK 110, Hawalah adalah pengalihan utang dari satu pihak kepada pihak lain. Yang terdiri atas hawalah muqayyadah dan hawalah muthlaqah. Sementara menurut istilah para ulama, hal ini merupakan pemindahan beban utang dari muhil (orang yang berutang) menjadi tanggungan muhalalaih (orang yang berkewajiban membayar utang). Secara sederhana, hal ini dapat dijelaskan bahwa A (muhal) memberi pinjaman kepada B (muhil), sedangkan B masih mempunyai piutang kepada C (muhalalaih). Begitu B tidak mampu membayar utang nya pada A, ia lalu mengalihkan beban utang tersebut kepada C. dengan demikian, C yang harus membayar utang B kepada A, sedangkan utang C sebelumnya pada B dianggap selesai. - Hawalah muqayyadah Hawalah di mana muhil adalah pihak yang berutang sekaligus berpiutang kepada muhalalaih. -Hawalah muthlaqah Hawalah dimana muhil adalah pihak yang berutang, tetapi tidak berpiutang pada muhalalaih. Dalam hawalah ini dikenal juga yang nama nya hawalah bil ujrah, yaitu hawalah yang berlaku pengenaan fee atau ujrah. 2. LANDASAN SYARIAH Pengalihan penagihan hutang ini dibenarkan oleh syariah dan telah dipraktekkan oleh kaum Muslimin dari zaman Nabi Muhammad ZAW sampai sekarang. Dalam al-Qur'an kaum Muslimin diperintahkan untuk saling tolong menolong satu sama lain, lihat al-Qur'an : 5: 2. Akad hawalah merupakan suatu bentuk saling tolong menolong yang merupakan manifestasi dari semangat ayat tersebut.

- As Sunnah Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. Bersabda, Menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah suatu kezaliman. Dan jika salah seorang dari kamu diikutkan (di-hawalahkan-) kepada orang yang mampu/kaya, terimalah hawalah itu. Sebagian ulama berpendapat bahwa perintah untuk menerima hawalah dalam hadist tersebut menunjukkan wajib. Oleh sebab itu, wajib bagi yang mengutangkan (muhal) menerima hawalah. Adapun mayoritas ulama berpendapat bahwa perintah itu menunjukkan sunnah. Jadi, sunnah hukumnya menerima hawalah bagi muhal. - Ijma Ulama sepakat membolehkan hawalah. Hawalah dibolehkan pada utang yang tidak berbentuk barang/benda karena hawalah adalah perpindahan utang. Oleh sebab itu, harus pada utang atau kewajiban financial.

3. KARAKTERISTIK - Hawalah yang dimaksud meliputi pengalihan utang syariah. - Dalam hal hawalah dilakukan dengan pengalihan utang syariah maka hanya boleh dilakukan dengan hawalah muthlaqah di mana tidak ada hubungan utang piutang antara muhal alaih dengan muhil sebelum transaksi hawalah. - Entitas keuangan syariah yang bertindak sebagai muhalalaih boleh mendapatkan ujrah (fee) atas ketersediaan membayar utang muhil - Jika hawalah telah dilakukan, maka hak pengalihan muhal berpindah kepada muhalalaih,

4. PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

Akuntansi Pihak yang Mengalihkan Utang

- Pihak yang mengalihkan utang (muhil) kepada pihak yang menerima pengalihan utang (muhal alaih) menghentikan pengakuan utang kepada pihak berpiutang sebelumnya (muhal) dan mengakui utang baru kepada muhal alaih pada saat selesainya pengalihan utang. - Pengalihan utang diselesaikan apabila muhal alaih telah menyelesaikan seluruh utang muhil kepada muhal dan antara muhal dan muhil sudah tidak ada lagi hubungan utang piutang. - Perlakuan akuntansi untuk transaksi antara muhal alaih dengan muhil setelah pengalihan utang sesuai dengan akad yang digunakan yang diatur dalam PSAK yang relevan. - Ujrah (fee) yang dibayarkan kepada muhal alaih diakui sebagai beban pada saat terjadinya pengambilalihan utang jika utang harus dilunasi dalam jangka pendek sejak pengalihan, namun diakui secara garis lurus selama periode pelunasan untuk utang jangka panjang.

- Biaya transaksi hawalah yang dikeluarkan diakui sebagai beban pada saat terjadinya. - Biaya transaksi yang harus diselesaikan atau dibayarkan kepada muhal alaih, termasuk tetapi tidak terbatas pada biaya legal dan biaya administrasi. - Utang kepada muhal alaih di hentikan pengakuannya pada saat diselesaikan.

Akuntansi Pihak yang Menerima Pengalihan Utang

- Pihak yang menerima pengalihan utang (muhalalaih) mengakui piutang dari muhil pada saat pembayaran kepada pihak muhal sebesar jumlah utang yang di ambil alih.

- Pengambilalihan diselesaikan apabila muhalalaih telah menyelesaikan seluruh utang muhil kepada muhal dan antara muhal dan muhil sudah tidak ada lagi hubungan utang piutang. - Perlakuan akuntansi untuk transaksi antara muhal alaih dengan muhil setelah pengalihan utang sesuai dengan akad yang digunakan yang diatur dalam PSAK yang relevan.

- Ujrah (fee) yang diterima diakui sebagai pendapatan pada saat terjadinya pengambilalihan utang, jika piutang dari muhil akan dilunasi dalam jangka pendek sejak pengalihan, namun diakui secara proporsional dengan jumlah piutang yang dapat ditagih untuk piutang jangka panjang.

- Penghasilan dalam bentuk ujrah dari pengalihan utang muhil kepada muhal diakui sekaligus pada saat penyelesaian dan tidak diakui sesuai dengan jatuh tempo atau penerimaan angsuran dari muhil, di mana penghasilan tersebut tidak terkait dengan penyelesaian piutang dari muhil.

- Jika terdapat bukti obyektif atas penyelesaian piutang dari muhil yang mengakibatkan jumlah yang dapat tertagih lebih rendah dari jumlah tagihan maka harus dibuat penyisihan piutang dari muhil sesuai dengan PSAK yang relevan.

- Piutang kepada muhil dihentikan-pengakuannya pada saat diselesaikan.

5. PENYAJIAN

Entitas keuangan syariah menyajikan piutang dari muhil terpisah dari piutang lainnya dalam neraca sebesar jumlah yang belum dilunasi. Piutang dari muhil disajikan secara terpisah dari piutang lainnya atau pos lainnya untuk membedakan piutang yang timbul dari penyaluran secara internal dan piutang pihak lain yang dialihkan.

6. PENGUNGKAPAN

Entitas keuangan syariah mengungkapkan terkait pengalihan utang, tetapi tidak terbatas, pada:

(a) Jumlah dan saldo utang yang dialihkan pada tanggal pelaporan

(b) Persentase utang yang dialihkan terhadap total piutang

(c) Kebijakan manajemen risiko atas utang yang dialihkan

(d) Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk utang yang dialihkan.

PENUTUP