Anda di halaman 1dari 54

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Kerja praktik adalah mata kuliah dalam kurikulum program strata satu yang wajib dilaksanakan oleh setiap mahasiswa di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman. Untuk dapat melaksanakan kerja praktik, mahasiswa diharuskan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, yaitu persyaratan akademik dan administratif. Selanjutnya, hasil kerja praktik dibuat suatu laporan dan diseminarkan sebagai dasar memperoleh nilai mata kuliah kerja praktik. Materi yang diperoleh pada proses perkuliahan akan dapat lebih dikuasai oleh mahasiswa dengan melaksanakan kegiatan kerja praktik. Selain untuk memperdalam materi, mahasiswa dapat mengetahui secara langsung proses pelaksanaan proyek dengan permasalahan-permasalahan dan cara mengatasi masalah-masalah tersebut. Proyek yang dijadikan tempat kerja praktik adalah Proyek Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu, RSUD Prof. Dr. Margono SoekarjoPurwokerto. Kegiatan Pembangunan Proyek Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu ini merupakan bagian dari rencana pengembangan dari kawasan RSUD Prof. Margono Soekarjo Purwokerto.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN KERJA PRAKTIK Maksud dan tujuan dari pelaksanaan kerja praktek ini antara lain adalah : 1. Untuk melengkapi persyaratan dalam menempuh pendidikan tingkat sarjana di Fakultas Sains dan Teknik Jurusan Teknik Sipil Universitas Jenderal Soedirman,

2.

Memberikan pengalaman kepada mahasiswa secara langsung dilapangan terhadap penerapan ilmu Teknik Sipil yang telah didapat dibangku kuliah,

3.

Mengetahui secara langsung pelaksanaan pemasangan bekisting, pembesian, dan proses pengecoran pada balok dan pelat lantai,

4.

Mengetahui unsur yang terkait dengan pelaksanaan proyek sehingga proyek dapat terlaksana dengan baik,

5.

Mengetahui permasalahan yang terjadi selama proses konstruksi dan solusi yang diambil sebagai penyelesaian masalah tersebut.

1.3 RUANG LINGKUP KERJA PRAKTIK Ruang lingkup pekerjaan yang ditinjau pada pelaksanaan kerja praktik pada Proyek Pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu adalah manajemen konstruksi dan pelaksanaan pekerjaan balok dan plat Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto yang dilaksanakan dalam jangka waktu selama kerja praktik yang meliputi : 1. 2. 3. 4. Pembahasan pekerjaan bekisting pada struktur balok dan plat Pembahasan pekerjaan pembesian pada struktur balok dan plat Pembahasan pekerjaan pengecoran pada struktur balok dan plat Pengendalian pelaksanaan, mutu, waktu, dan K3 pada pelaksanaan pembangunan balok dan plat

1.4 METODE PENGUMPULAN DATA Dalam penulisan laporan kerja praktik ini, data-data diperoleh dengan cara sebagai berikut : 1. Pengamatan (Observasi) Dalam metode ini kami melakukan pengamatan langsung di lapangan mengenai teknik pekerjaan yang sedang berlangsung, mengadakan pengamatan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan

pekerjaan struktur dan juga masalah-masalah yang timbul yang dapat menghambat aktivitas kerja dan berusaha mencari pemecahan. 2. Wawancara (Interview) Dalam hal ini kami melakukan wawancara atau tanya jawab langsung dengan semua pihak yang terlibat dalam proyek, seperti wawancara dengan pihak pengawas proyek, kontraktor, mandor, maupun dengan tukang mengenai hal-hal yang belum diketahui atau menanyakan berbagai masalah yang dijumpai di lapangan dengan maksud agar mendapatkan masukan-masukan yang berguna dalam kerja praktik ini. 3. Pengumpulan data-data proyek Pengumpulan data tertulis dan gambar proyek dari kontraktor. 4. Metode deskriptif (Literature) Metode literature didapatkan dari buku-buku yang mempelajari tentang contoh-contoh analisa yang digunakan dalam perhitungan struktur. Metode literature digunakan dalam pemecahan-pemecahan permasalahan yang dihadapi dalam pembuatan laporan kerja praktik. 5. Alat bantu (Instrumental) Alat bantu yang digunakan dalam pelaksanaan kerja praktik antara lain kamera, alat tulis, dan alat bantu lain. Alat bantu ini sekaligus digunakan untuk pengambilan data yang didapat dari proyek pada waktu pelaksanaan di lapangan.

1.5 SISTEMATIKA PENYUSUNAN LAPORAN Laporan kerja praktik ini disusun dalam tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian isi atau pokok, dan bagian akhir. Bagian awal meliputi halaman judul, lembar pengesahan, dan kata pengantar. Bagian isi atau bagian pokok merupakan laporan itu sendiri yang berisi tentang data-data proyek yang akan disajikan dalam 7 (tujuh) bab dan daftar isi. Sedangkan bagian akhir berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran. Secara garis besar sistematika penulisan Laporan Kerja Praktik ini adalah sebagai berikut :

Bab I : Pendahuluan Bab ini berisi latar belakang kerja praktik, maksud dan tujuan kerja prakik, ruang lingkup kerja praktik, metode pengumpulan data, dan sistematika penyusunan laporan.

Bab II : Tinjauan Umum Proyek Bab ini berisi gambaran umum, maksud dan tujuan proyek, lokasi proyek, data-data proyek, dan struktur bangunan.

Bab III : Manajemen Proyek Bab ini menguraikan tentang tinjauan umum, tahapan pelaksanaan proyek, unsur-unsur pengelola proyek, hubungan unsur-unsur pengelola proyek, struktur organisasi proyek, serta jadwal pelaksanaan pekerjaan.

Bab IV : Sumber Daya Proyek Bab ini menguraikan tentang macam-macam sumber daya proyek, peralatan proyek, material, dan tenaga kerja.

Bab V : Pelaksanaan Proyek Membahas tentang pekerjaan bekisting, pekerjaan pembesian, pekerjaan pengecoran, pembongkaran bekisting dan perawatan beton.

Bab VI : Pengendalian Proyek Bab ini berisi tentang uraian umum, pengendalian mutu, pengendalian waktu, pengendalian biaya, pengendalian teknis, dan pengendalian K3L.

Bab VII : Penutup Bab ini membahas tentang kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN UMUM PROYEK

2.1 GAMBARAN UMUM PROYEK Pekerjaan Pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu merupakan pekerjaan dari PT. Jaya Arnikon yang dibiayai oleh RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Pembangunan ini berlokasi di area RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto. Proyek yang terdapat di Purwokerto ini mempunyai luas bangunan total sebesar 5.500 m2 . Proyek ini terdiri atas gedung 3 lantai dengan nilai kontrak sebesar Rp 27.501.709.000,00 (Dua puluh tujuh milyar lima ratus satu juta tujuh ratus sembilan ribu rupiah) untuk nilai kontrak keseluruhan. Proyek ini dilaksanakan selama 365 hari kalender dimulai dari 7 Maret 2012 sampai dengan 7 Maret 2013, dengan masa pemeliharan 180 hari kalender dimulai dari tanggal 8 Maret 2013 sampai dengan 8 September 2013. Proyek dengan luas 5.500 m2 ini mempunyai struktur organisasi sebagai berikut : Pemilik Proyek (Owner) Konsultan Perencana Konsultan Pengawas Kontraktor Pelaksana : RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo : PT. Puri Aji Buana : CV. Prima Disain : PT. Jaya Arnikon

2.2 MAKSUD DAN TUJUAN PROYEK Maksud dan tujuan dari pelaksanaan proyek pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu yaitu : 1. 2. Memberikan pelayanan kesehatan yang lebih optimal kepada masyarakat. Sebagai bentuk pelaksanaan dari rencana pengembangan kawasan rumah sakit. 3. Menciptakan lapangan kerja, baik selama maupun setelah proyek berlangsung.

2.3 LOKASI PROYEK Proyek Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu merupakan bagian dari rencana pengembangan dari kawasan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto. Proyek ini terletak di Jl. Dr. Gumbreg No. 1 Purwokerto.

Secara geografis batas-batas lokasi proyek yaitu: a. Sebelah Utara b. Sebelah Timur : Gedung instalasi gawat darurat : Gedung rawat inap pasien

c. Sebelah Selatan : Gedung laboratorium d. Sebelah Barat : Rumah- rumah penduduk

Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu

Lokasi proyek

Gambar 2. 1 Peta situasi

2.4 DATA-DATA PROYEK Tahapan penyelenggaraan proyek pembangunan secara menyeluruh mulai dari perencanaan, perancangan, pelaksanaan pembangunan fisik, sampai dengan pemanfaatannya harus dikerjakan secara sistematik. Dalam proses atau tahapan ini terdapat bermacam-macam unsur pendukung yang saling berkaitan satu sama lain. Unsur-unsur tersebut membentuk suatu ikatan kerjasama dimana masing-masing mempunyai peranan, fungsi, dan tanggung jawab yang jelas. Tujuan yang hendak dicapai pada dasarnya adalah efisiensi yang optimum dari tenaga, waktu, dan biaya proyek terhadap hasil yang diperoleh. Tahapan proyek umumnya terdiri dari : 1. Perumusan gagasan (idea) 2. Studi kelayakan (feasibility study), 3. Perencanaan (planning), 4. Perancangan (design), 5. Pelaksanaan (construction), 6. Pengujian akhir (test and commisioning), dan 7. Pengoperasian dan pemeliharaan (operation and maintenence).

Berikut ini adalah data - data proyek pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu sebagai tinjauan kerja praktik :

2.4.1 Data Umum Proyek Data umum proyek pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu adalah sebagai berikut : a. Nama Proyek : Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu b. Lokasi Proyek c. Pemilik Proyek : Jl. Dr. Gumbreg No. 1 Purwokerto : RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo

d. Konsultan Perencana : PT. Puri Aji Buana e. Konsultan Pengawas : CV. Prima Disain

f. Kontraktor Pelaksana : PT. Jaya Arnikon g. Lingkup Pekerjaan h. Nilai Kontrak i. Mulai Pelaksanaan j. Akhir Pelaksanaan k. Lama Pelaksanaan l. Masa Pemeliharaan : Struktur, Arsitektur, Interior, MEP. : Rp 27.501.709.000,00 : 4 Maret 2013 : 3 Desember 2013 : 275 hari kalender : 180 hari setelah selesainya tahap

pembanguan

2.4.2 Data Teknis Proyek Data teknis Proyek Pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu adalah sebagai berikut : a. Jumlah tingkat gedung : 3 Lantai b. Luas lahan c. Luas total bangunan 1st floor 2nd floor 3rd floor : 5.500 m2 : 5.100 m2, meliputi : 1.800 m2 : 1.700 m2 : 1.600 m2

d. Fungsi Bangunan : 1st floor : Ruang ICU/ ICCU, Ruang transit jenazah, Ruang staff dan administrasi, Gudang, Ruang perawat, dll. 2nd floor : Ruang dokter, Holding room, Ruang recovery, Ruang persiapan, Ruang OK, dll. 3rd floor : Ruang dokter, Ruang patologi dan anatomi, Ruang recovery, Ruang OK, Ruang persiapan, Holding room, dll. e. Pondasi : Pondasi tiang pancang dan wash boring. Ukuran pondasi tiang pancang P1A-P6A = mm, dan P1B-P6B= 400x400

450x450 mm. Ukuran

pondasi wash boring PB3 yaitu 600 mm (lingkaran). f. Kolom : Kolom struktur untuk lantai basement, ground floor, lantai 1, lantai 2, dan lantai 3 memiliki ukuran yang sama. Ukuran kolom tipe C1=

800x800 ; C1A= 700x700, dan 750x750 ; C1B= 600x600 ; C2= 700x700, dan 750x750 ; C2A= 600x600 ; C3= 600x600 ; C4= 1000 ; C5= 900x900 ; C6= 700x700 ; C7= 900 ; C8= 800x800 dan 1000x1000 ; C9= 750x750 ; C10= 850x850 ; C10A= 800x800 ; C10B = 700x700 ; C10C = 600x600 ; C11 = 600x600 ; TC1 = 800x800 ; TC2 = 700x700 dan 750x750 ; TC3 = 600x600 ; TC4 = 350x350 ; TC4A = 300x300 ; TC5 = 900. Mutu Beton K250. g. Balok : Ukuran balok induk tipe G810= 800x1000, G710= 700x1000, G610= 600x1000, G68=

600x800, G510= 500x1000, G59= 500x900, G58= 9

10

500x800, G58-56 = 500x(800-600), G57 = 500x700, G56-58= 500x(600-800), G4A9=

450x900, G4A8= 450x800, G49= 400x900, G4947= 400x(900-700), G48= 400x800, G48-46= 400x(800-600), G47= 400x700, G46-49=

400x(600-900), G46= 400x600, G3A6= 350x600, G38 = 300x800, G37 = 300x700, G36= 300x600, G35= 300x500. G2A5= 250x500. Ukuran balok anak B610 = 600x1000, B610-68 = 600x(1000800), B68-610 = 600x(800-1000), B48 = 400x800, B46-48 = 400x(600-800), B3A8 = 350x800, B3A8-3A5 = 350x(800-500), B3A6 = 350x600, B38 = 300x800, B37 = 300x700, B36 = 300x600, B35 = 300x500, B2A8 = 250x800, B2A7 = 250x700, B2A6 = 250x600, B2A5 = 250x500, B28 = 200x800, B27 = 200x700, B26 = 200x600, B25 = 200x500, B24 = 200x400, B1A5 = 150x500. Mutu beton K250. h. Plat lantai : Plat lantai dengan tebal 12 cm, 14 cm, 15 cm, 20 cm, dan 25 cm menggunakan mutu beton K250. i. Pembesian : Tulangan yang digunakan memiliki ukuran besi polos : 8 ; besi ulir : D10, D16, D19, D22. j. Bekisting : Bekisting kolom, Balok, dan pelat digunakan multiplek tebal 12 mm yang dibentuk sedemikian rupa dengan perancah kayu.

2.4.3 Data Tanah Penyelidikan tanah harus dilakukan secara detail dan teliti sehingga diperoleh data dan gambaran yang jelas mengenai keadaan, sifat, dan susunan lapisan tanahnya. Penyelidikan tanah secara umum bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi dan

10

11

karakteristik lapisan tanah, jenis tanah, parameter tanah, dan muka air tanah pada lokasi rencana bangunan, sehingga diketahui susunan lapisan tanah yang ada di lokasi. Salah satu penyelidikan tanah pada proyek ini menggunakan uji sondir (Cone Penetration Test) dan bor dalam (deep boring). Dari hasil penyelidikan titik sondir kedalaman tanah kerasnya pada kedalaman -2,00 m dari muka tanah asli. Dari hasil penyelidikan tanah tersebut dipilih pondasi jenis pondasi telapak.

2.5 STRUKTUR BANGUNAN Setelah diperoleh data-data dari hasil survey, dilakukan kompilasi data. Kemudian dilakukan analisis data untuk mendapatkan hasil yang valid sebelum dilakukan tahap analisis yang lebih lanjut. Hasil yang telah diperoleh kemudian akan digunakan sebagai pertimbangan atau acuan dalam kajian terhadap struktur bangunan. Struktur adalah bagian utama dari suatu bangunan gedung yang berfungsi sebagai penyangga atau dukungan bagi beban-beban yang bekerja, baik beban transversal maupun beban longitudinal. Pemilihan struktur sangat erat hubungannya dengan bentuk arsitektur, konstruksi, dan kondisi alam dengan tidak mengesampingkan segi ekonomis dan efisiensi untuk mendapat hasil yang optimal, untuk itu harus dipilih jenis struktur yang tepat. Struktur bangunan harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditinjau dari segi : a. Kekuatan (strength) b. Kekakuan (stiffness) c. Kestabilan (stability) d. Ekonomis (optimum design) Tahap ini akan dilakukan dengan meninjau struktur bangunan yang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian struktur utama bangunan, yaitu

11

12

struktur bagian bawah dan struktur bagian atas. Hal tersebut akan dijelaskan berikut ini.

2.5.1 Struktur Bawah (Sub Structure) Struktur bagian bawah merupakan bagian dari struktur bangunan yang terletak di bagian bawah tanah, sebagai penghubung dari struktur bagian atas dengan tanah dasar, serta bertugas memikul beban struktur di atasnya dan meneruskan ke dasar bangunan. Struktur bagian bawah yang digunakan dalam pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu adalah pondasi telapak. Pertimbangan menggunakan pondasi tiang pancang karena kondisi tanah di lokasi proyek berupa tanah keras dan kedalaman tanah keras relatif dangkal yaitu 2,00 m dari muka tanah asli.

2.5.2 Struktur Atas (Upper Structure) Struktur atas adalah seluruh bagian struktur gedung yang berada di atas muka tanah. Struktur atas berfungsi menampung beban-beban yang ditimbulkan oleh beban di atasnya, kemudian menyalurkan pada bangunan bawah. Bagian-bagian dari struktur atas adalah sebagai berikut: a) Kolom Kolom adalah struktur atas pondasi yang berfungsi untuk menyangga beban aksial vertikal. Kolom menempati posisi penting dalam sistem struktur bangunan, karena kolom akan berakibat langsung pada keruntuhan komponen struktur lain yang

berhubungan dengannya. Detail kolom dapat dilihat pada lampiran.

b)

Plat lantai Plat lantai pada proyek ini menggunakan beton bertulang. Plat lantai adalah bagian dari struktur bangunan yang berfungsi sebagai landasan. Plat secara struktur berfungsi untuk menahan 12

13

beban-beban yang bekerja di atasnya untuk didistribusikan ke balok. Plat dibatasi oleh balok anak pada kedua sisi panjang dan dibatasi oleh balok induk pada kedua sisi pendeknya. Jika pada lantai ingin didirikan dinding penyekat dari pasangan bata, maka di bawahnya harus diberi balok anak sebagai pengaku plat. Plat lantai dari beton bertulang mempunyai banyak keuntungan, seperti mampu mendukung beban besar, merupakan isolasi suara yang baik, tidak dapat terbakar dan dapat dibuat lapis kedap air sehingga di atasnya boleh dibuat dapur dan kamar mandi atau WC, dapat dipasang tegel untuk keindahan lantai, merupakan bahan yang kuat dan awet, tidak perlu perawatan dan dapat berumur panjang. Detail ketebalan plat tiap lantai dapat dilihat pada lampiran. c) Balok Balok adalah komponen struktur yang mendukung plat, berat sendiri struktur, dan beban hidup yang bekerja sendiri di atasnya. Balok diharapkan mampu mendukung beban lentur, gaya geser, serta torsi yang terjadi pada balok tersebut, sehingga beban dapat di distribusikan ke kolom kemudian kolom meneruskan beban ke bawah sampai pondasi. Detail standar penulangan balok lantai dapat dilihat pada lampiran. d) Tangga Tangga adalah jalur yang bergerigi (mempunyai trap-trap) yang menghubungkan satu lantai dengan lantai di atasnya. Fungsi pondasi tangga adalah sebagai dasar tumpuan (landasan) agar tangga tidak mengalami penurunan, dan pergeseran. Ibu tangga berfungsi sebagai pendukung anak tangga. Anak tangga berfungsi sebagai tempat bertumpunya telapak kaki sehingga dipasang teratur dengan bentuk dan lebar, serta selisih tinggi masing-masing anak tangga dibuat sama besar agar nyaman dan aman bila dilalui. Pagar tangga berfungsi sebagai pengaman di sisi samping kanan dan kiri

13

14

agar orang tidak terperosok. Pegangan tangan dipasang di sepanjang anak tangga untuk bertumpunya tangan agar orang merasa aman ketika menaiki tangga. Sedangkan bordes berguna sebagai tempat untuk memberi kesempatan orang yang naik tangga beristirahat sejenak. Denah, potongan, dan detail standar

penulangan tangga dapat dilihat pada lampiran. e) Atap Fungsi atap adalah untuk melindungi bangunan beserta isinya dari pengaruh panas dan hujan. Bentuk dan bahan atap harus serasi/sesuai dengan rangka bangunannya, agar dapat menambah indah dan anggun, serta menambah nilai dari harga bangunannya. Dalam proyek pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu, konstruksi atap pada proyek ini berupa konstruksi rangka baja.

14

15

BAB III
MANAJEMEN PROYEK

3.1 TINJAUAN UMUM Manajemen adalah usaha yang berkaitan dengan memelihara kerjasama sekelompok orang dalam satu kesatuan serta usaha memanfaatkan sumber daya lain untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika disederhanakan manajemen dapat diartikan menjadi dua hal yaitu : 1. Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasi, memimpin, mengendalikan, usaha-usaha anggota organisasi dan proses penggunaan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang sudah ditetapkan. 2. Manajemen adalah proses tertentu yang terdiri dari kegiatan

merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.

Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang selalu melekat di dalam proses manajemen yang dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan agar proses berjalan efektif dan efisien dengan hasil yang optimal. Fungsi manajemen pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20. Ketika itu ia menyebutkan lima fungsi manajemen, yaitu merancang, mengorganisir, memerintah, mengkoordinasi, dan

mengendalikan. Namun saat ini kelima fungsi tersebut telah diringkas menjadi empat, yang terdiri atas perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan (controlling).

Keempat fungsi dari manajemen tersebut dapat diuraikan sebagai berikut (Elzha, 2010) :

15

16

1) Perencanaan (Planning) Perencanaan (planning) adalah kegiatan pertama yang dilakukan dalam administrasi. Perencanaan berarti menetapkan tujuan berdasarkan perkiraan apa yang akan terjadi dalam waktu yang akan datang, dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya perubahan dan masalah pada waktu tersebut. Dalam perencanaan umumnya sangat memperhatikan hal-hal berikut : a. Apa yang akan terjadi b. Mengapa hal itu dilakukan c. Bagaimana akan dilaksanakan d. Siapa yang akan melaksanakan e. Mengadakan penelitian f. Kemungkinan-kemungkinan apa yang dapat mempengaruh pelaksanaan dan perubahan rencana. 2) Pengorganisasian (Organizing) Pengorganisasian (organizing) adalah penentuan, pengelompokan dan peraturan berbagai kegiatan dalam rangka mencapai tujuan, meliputi penugasan kepada orang-orang dalam kegiatan serta menunjukkan hubungan kewenangan yang dilimpahkan kepada setiap orang yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan tersebut yang dituangkan dalam bentuk struktur formal. 3) Pelaksanaan (Actuating) Pelaksanaan (actuating) adalah kegiatan pelaksanaan, merupakan tindakan agar semua anggota kelompok dengan kesadaran berusaha untuk mencapai tujuan atau sasaran berpedoman perencanaan dari organisasi. 4) Pengawasan (Controlling) Pengawasan (controlling) adalah kegiatan mengawasi aktivitasaktivitas pekerjaan agar sesuai dengan sasaran. Setelah rancangan selesai disiapkan, maka penting sekali untuk segera mengecek pekerjaan yang telah dilaksanakan agar berjalan sesuai dengan rencana semula. Apabila

16

17

terjadi penyimpangan, maka perlu diberikan peringatan agar dapat mengambil tindakan perbaikan. Sistem pengawasan yang dilaksanakan adalah pengawasan mutu bahan dan mutu produksi, serta peralatan permesinan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan yang ada. Apabila fungsi-fungsi manajemen di atas dilaksanakan dengan baik, maka dapat tercapai sasaran akhir berupa pengendalian secara menyeluruh yang terdiri dari sebagai berikut : 1. Biaya pelaksanaan dapat lebih terkontrol. 2. Kualitas bangunan akan lebih baik. 3. Waktu pelaksanaan yang sesuai rencana (tepat waktu). Manajemen yang baik dan didukung oleh kegiatan administrasi yang baik, akan dengan mudah memonitor suatu kegiatan proyek di lapangan, mudah untuk memantau tingkat kemajuan proyek, dan mudah dalam menentukan kebijakan atau langkah-langkah yang harus diambil pelaksanaan proyek. Dengan adanya manajemen proyek maka akan terlihat jelas batasan mengenai tugas wewenang dan tanggung jawab dari pihak yang terlibat dalam proyek sehingga tidak akan terjadi adanya wewenang dan tanggung jawab yang merangkap (overlapping).

3.2 TAHAPAN PELAKSANAAN PROYEK Proses pengadaan penyedia jasa pada proyek pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu melalui proses pelelangan terbatas, dimana proses pelelangan terbatas dapat dilaksanakan apabila dalam hal penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas, yaitu untuk pekerjaan yang kompleks, dengan cara mengumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman resmi dengan mencantumkan penyedia barang/jasa yang telah diyakini mampu, guna memberi kesempatan kepada penyedia barang/jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi. Tahapan pelaksanaan proyek pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu berpedoman pada Tabel 3.1 berikut ini.

17

18

Tabel 3. 1 Tabel Tahapan Pelaksanaan Konstruksi


Pra Konstruksi Konstruksi Pascakonstruksi

Tender & Ide Design SPK Engineering Procure ment Produksi Over Fit Out Hand Maintenance

Perubahan Design

Perubahan Order/Variation Order (VO)

Renovasi

Sumber: Ervianto, WI. 2002. Manajemen Proyek Kontruksi: Edisi Revisi

3.2.1 Prakonstruksi Prakonstruksi merupakan tahap awal dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Pada tahap ini biasanya pihak owner mempunyai ide untuk mengembangkan atau menginvestasikan modalnya dengan membangun sebuah konstruksi gedung dan kemudian owner akan menugaskan Konsultan Perencana untuk mewujudkan idenya. Konsultan Perencana terdiri dari : 1. Konsultan Arsitektur 2. Konsultan Struktur 3. Konsultan Mechanikal & Elektrikal (ME) 4. Konsultan Manajemen Konstruksi (MK) 5. Konsultan Quantity Surveyor (QS) Konsultan Arsitektur, Struktur dan ME akan membuat desain konstruksi bangunan lengkap beserta spesifikasi yang diinginkan

18

19

owner, setelah melalui proses survey. Kemudian desain tersebut diserahkan kepada Konsultan Quantity Surveyor (QS) untuk diestimasi biaya yang dibutuhkan dan resiko yang mungkin timbul. Proses akan menghasilkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang berisi item pekerjaan, volume dan estimasi anggaran. Selanjutnya Konsultan Quantity Surveyor menyiapkan proses tender. Menurut Yasin (2006) bahan yang disiapkan untuk keperluan tender yaitu : 1. Gambar tender yang telah disiapkan Konsultan Perencana (Struktur, Arsitektur dan ME). 2. 3. Spesifikasi Teknis bangunan, disiapkan oleh Konsultan Perencana. Jadwal tender, pada proyek Pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu disiapkan oleh Konsultan Manajemen Konstruksi.

Tahapan pelaksanaan proses tender adalah sebagai berikut : 1. Pembagian undangan Setelah proses persiapan selesai kemudian dilaksanakan proses pembagian undangan kepada kontraktor. 2. Pengambilan dokumen Calon kontraktor melakukan pengambilan dokumen, berupa gambar spesifikasi teknis dan uraian item pekerjaan/Bill of Quantity (BQ). 3. Rapat penjelasan (Aanwijzing). Yaitu rapat yang menjelaskan kepada calon pelaksana proyek tentang seluruh aspek rencana bangunan dan ruang lingkup yang akan dikerjakan. Rapat ini dihadiri oleh seluruh pihak yang bersangkutan pada proyek tersebut yaitu Owner, Konsultan Perencana, Konsultan Quantity Surveyor, Konsultan Manajemen Konstruksi, serta Kontraktor yang diundang.

19

20

4. Pemasukan penawaran Kontrakor mengajukan penawaran harga berdasarkan uraian item pekerjaan. Penawaran yang diajukan kontraktor ini disebut penawaran harga pemborongan. 5. Pembukaan surat penawaran harga pemborongan Pada tahap ini dihadiri oleh seluruh kontraktor yang telah mengajukan penawaran pada proyek tersebut. 6. Penelitian penawaran (evaluasi penawaran) Tahap ini biasanya dilaksanakan bersamaan waktunya dengan pembukaan penawaran. Penawaran yang diajukan akan diteliti apakah telah memenuhi persyaratan, sehingga akan ditentukan sah atau tidaknya penawaran dari kontraktor. Kontraktor dengan penawaran yang tidak memenuhi persyaratan tidak dapat mengikuti ke tahap selanjutnya. 7. Klarifikasi Penawaran yang memenuhi persyaratan hingga tahap ini masih harus di klarifikasi oleh pihak owner. Hal ini disebabkan perbedaan persepsi tentang gambar atau spesifikasi teknis. Proses klarifikasi selalu diikuti oleh penawaran baru yang telah disesuaikan. 8. Negosiasi Negosiasi mengenai penawaran yang diajukan dilakukan setelah proses klarifikasi selesai. Proses klarifikasi dan negosiasi ini dilakukan secara berulang hingga tercapai penawaran yang memuaskan kedua belah pihak. 9. Penunjukan pemenang Kontraktor dengan penawaran terbaik akan terpilih sebagai pemenang tender. Kemudian dipilih pula penawaran terbaik kedua dan ketiga sebagai kontraktor cadangan. Hal ini dilakukan untuk berjaga-jaga apabila kontraktor utama yang terpilih tidak dapat melaksanakan kewajibannya.

20

21

10. Surat Perintah Kerja (SPK) Dengan dikeluarkannya SPK maka dimulai pula proses konstruksi dengan pelaksana utama yang telah terpilih. 11. Kontrak Kontrak merupakan perjanjian kerja antara owner sebagai pihak pertama dan Kontraktor sebagai pihak kedua.

3.2.2 Konstruksi Tahap konstruksi merupakan proses pelaksanaan pekerjaan di lapangan oleh kontraktor terpilih, yaitu PT Jaya Arnikon (JA). Pekerjaan di lapangan meliputi paket pekerjaan persiapan, pekerjaan struktur dan atap, pekerjaan finishing arsitektur, dan pekerjaan mekanikal elektrikal plumbing. Konsultan perencana menyusun gambar yang akan dijadikan pedoman pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Gambar ini disebut gambar For Construction. Gambar ini merupakan gambar tender yang telah direvisi berdasarkan evaluasi dan klarifikasi pada proses tender. Berdasarkan gambar For Construction, kontraktor membuat Shop Drawing, yaitu detail parsial pekerjaan di lapangan. Shop Drawing tersebut yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Seluruh kegiatan pelaksanaan pekerjaan di lapangan merupakan tanggung jawab kontraktor dibawah pengawasan Konsultan Manajemen Konstruksi. Setelah seluruh proses pelaksanaan telah selesai, dilakukan serah terima Hand Over (HO) dari pihak kontraktor ke owner. Kemudian dimulai tahapan pascakonstruksi.

3.2.3 Pascakonstruksi Proses serah terima dilakukan sebanyak dua kali. Waktu antara serah terima pertama dan kedua merupakan masa pemeliharaan bangunan. Masa pemeliharaan (maintenance) dilakukan oleh kontraktor

21

22

dan Konsultan Pengawas dengan durasi yang telah disepakati dalam kontrak. Pada proyek pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu masa pemeliharaan disepakati dengan durasi 180 hari kalender.

3.3 UNSUR PENGELOLA PROYEK Agar diperoleh hasil bangunan yang sesuai dengan yang

direncanakan, untuk melaksanakan suatu pembangunan perlu adanya unsurunsur pengelola pembangunan. Unsur-unsur pengelola pembangunan harus serasi dan konsekuen. Menurut Bambang (2009), unsur-unsur pengelola

pembangunan secara umum adalah sebagai berikut : a. b. c. d. Pemberi tugas (owner) Konsultan perencana (designer) Konsultan Pengawas (supervisor) Kontraktor (contractor)

3.3.1 Pemberi tugas (Owner) Pemilik atau pemberi tugas atau pengguna jasa adalah seseorang atau badan/lembaga baik swasta maupun pemerintah yang memiliki proyek dan memberikan pekerjaan kepada pihak penyedia jasa dan yang membayar biaya pekerjaan tersebut yang berkeinginan

mewujudkan pembangunan suatu proyek. Pemberi tugas pada proyek ini adalah RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo. Tugas sebagai pemberi tugas adalah sebagai berikut (Ahdi, 2009) : 1. Menyediakan biaya perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan proyek. 2. Mengadakan kegiatan administrasi. 3. Memberikan tugas kepada kontraktor atau pelaksana pekerjaan proyek. 4. Meminta pertanggung jawaban kepada konsultan pengawas. 5. Menerima proyek yang sudah selesai dikerjakan oleh kontraktor.

22

23

Menurut Dear (2010), wewenang yang dimiliki pemilik proyek atau owner yaitu : 1. Membuat surat perintah kerja (SPK) 2. Mengesahkan atau menolak perubahan pekerjaan yang telah direncanakan 3. Meminta pertanggungjawaban kepada para pelaksana proyek atas hasil pekerjaan konstruksi 4. Memutuskan hubungan kerja dengan pihak pelaksana proyek yang tidak dapat melaksanakan pekerjaanya sesuai dengan isi surat perjanjian kontrak 3.3.2 Konsultan Perencana (Designer) Konsultan perencana adalah orang atau badan yang membuat perencanaan lengkap dari suatu pekerjaan bangunan. Konsultan perencana pada proyek pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu yaitu PT. Puri Aji Buana. Konsultan perencana dapat berupa badan hukum maupun perseorangan yang dipilih oleh pemilih proyek. Konsultan perencana ini mempunyai tugas mewujudkan rencana dan keinginan pemilik proyek dalam bentuk perencanaan struktur, arsitek, maupun mekanikal dan elektrikal. Berikut ini tugas dan wewenang dari konsultan perencana (Ahdi, 2009) : 1. Mengadakan penyesuaian keadaan lapangan dengan keinginan pemilik bangunan 2. Membuat gambar kerja pelaksanaan 3. Membuat rencana kerja dan syarat-syarat pelaksanaan bangunan (RKS) sebagai pedoman pelaksanaan 4. Membuat rencana anggaran biaya bangunan 5. Memproyeksikan keinginan-keinginan atau ide-ide pemilik ke dalam desain bangunan

23

24

6. Melakukan perubahan desain bila terjadi penyimpangan pelaksanaan pekerjaan dilapangan yang tidak memungkinkan desain terwujud di wujudkan 7. Mempertanggungjawabkan desain dan perhitungan struktur jika terjadi kegagalan konstruksi 8. Mempertahankan desain dalam hal adanya pihak-pihak pelaksana bangunan yang melaksanakan pekerjaan tidak sesuai dengan rencana

3.3.3 Konsultan Pengawas atau Manajemen Konstruksi (MK) Konsultan pengawas atau MK adalah orang/badan yang ditunjuk oleh pemberi tugas untuk membantu dalam pengelolaan pelaksanaan pekerjaan pembangunan mulai awal hingga berakhirnya pekerjaan tersebut. Dalam pelaksanaan pekerjaan, pemilik proyek akan menunjuk suatu badan atau perseorangan untuk mengatur dan mengawasi pelaksanaan proyek yang dilaksanakan oleh kontraktor agar segala pekerjaan yang dilakukan oleh pihak kontraktor sesuai dengan rancangan yang telah dibuat sebelumnya serta mutu dari pekerjaan dapat tercapai secara maksimal sesuai spesifikasi teknis dengan waktu yang telah direncanakan. Konsultan pengawas atau MK akan memberikan laporan harian, mingguan, dan bulanan tentang pembangunan pelaksanaan proyek kepada pemilik proyek. Konsultan pengawas atau MK akan mengawasi pekerjaan kontraktor yang meliputi kualitas, kecepatan waktu, dan biaya. Pada pelaksanaan pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu, owner selaku pemilik proyek juga bertindak sebagai konsultan manajemen konstruksi (Pengawas). Tugas dan wewenang dari Konsultan Pengawas atau MK adalah sebagai berikut : 1. Engineering process Proses ini menjelaskan aktivitas insinyur dalam memastikan bahwa dokumen kontrak adalah sah secara hukum, mengevaluasi,

24

25

menyetujui atau menolak permintaan persetujuan penggunaan material/produk, shop drawing, metode kerja dan mock up yang diajukan oleh kontraktor. Tujuan utama proses ini adalah memastikan bahwa kontraktor melakukan proses penterjemahan dokumen kontrak menjadi dokumen kerja dengan benar, agar menghasilkan produk yang sesuai dengan persyaratan. 2. Ijin pelaksanaan pekerjaan Ijin pelaksanaan pekerjaan adalah ijin memulai pekerjaan. Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa kontraktor sudah melaksanakan persiapan pekerjaan dengan benar. Prosedur ini mencakup pemeriksaan kesiapan lahan, sumber daya manusia, alat material dan K3. 3. Proses pelaksanaan (execution process) Bertujuan untuk memastikan proses pelaksanaan produksi dilakukan dengan benar sehingga seluruh produk yang dihasilkan oleh kontraktor sesuai mutu dan waktu yang ditetapkan dalam kontrak. Prosedur ini menjelaskan aktivitas inspeksi pada saat pekerjaan berlangsung dan setelah proses pelaksanaan produksi yang dilakukan oleh kontraktor, dan juga menjelaskan cara menghandle produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi disertai tindakan pencegahan dan perbaikan. 4. Pekerjaan tambah kurang (variation order) Prosedur ini menjelaskan tentang aktivitas manajemen konstruksi mulai dari proses usulan perubahan pekerjaan sampai dengan diterbitkan instruksi perubahan pekerjaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan seluruh proses usulan perubahan pekerjaan teridentifikasi dengan jelas sehingga semua konsekuensinya dapat diperhitungkan terhadap mutu, waktu, dan biaya. Tugas konsultan pengawas atau MK dalam suatu proyek yaitu (Dear, 2010) :

25

26

1. Menyelenggarakan administrasi umum mengenai pelaksanaan kontrak kerja 2. Melaksanakan pengawasan secara rutin dalam perjalanan

pelaksanaan proyek 3. Menerbitkan laporan prestasi pekerjaan proyek 4. Konsultan pengawas atau MK memberikan saran atau

pertimbangan kepada pemilik proyek maupun kontraktor dalam proyek pelaksanaan pekerjaan

Konsultan pengawas atau MK juga memiliki wewenang sebagai berikut (Dear, 2010). 1. Memperingatkan atau menegur pihak pelaksana pekerjaan jika terjadi penyimpangan terhadap kontrak kerja

2. Menghentikan pelaksanaan pekerjaan jika pelaksana proyek tidak memperhatikan peringatan yang diberikan 3. Memberikan tanggapan atas usul pihak pelaksana proyek 4. Konsultan pengawas atau MK berhak memeriksa gambar shop drawing pelaksana proyek 5. Melakukan perubahan dengan menerbitkan berita acara perubahan (site instruction)

3.3.4 Kontraktor (Contractor) Kontraktor adalah orang atau badan hukum yang menerima dan menyelenggarakan pekerjaan bangunan menurut biaya yang telah tersedia, melaksanakan sesuai dengan peraturan dan syarat-syarat serta gambar-gambar rencana yang telah ditetapkan dalam kontrak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Dalam proyek ini yang bertindak sebagai kontraktor adalah PT. Jaya Arnikon (JA). Kontraktor bertanggung jawab secara langsung pada pemilik proyek. Namun dalam pelaksanaan pekerjaan kontraktor akan didampingi oleh konsultan pengawas atau MK yang telah dipilih oleh

26

27

pemilik proyek. Kontraktor dapat berkonsultasi secara langsung dengan konsultan pengawas atau MK baik di proyek maupun di dalam kantor. Segala kendala yang terjadi dalam pelaksanaan sehingga menyebabkan perubahan pada desain harus dikonsultasikan oleh kontraktor pada konsultan pengawas atau MK terlebih dahulu, selanjutnya akan di proses lebih lanjut oleh konsultan pengawas atau MK sebelum dilaksanakan perwujudan dari perubahan tersebut. Tugas dan

wewenang dari kontraktor adalah sebagai berikut (Dear, 2010) : 1. Melaksanakan pekerjaan sesuai bidang kontraknya yang

berdasarkan gambar-gambar rencana, risalah pekerjaan, peraturan, dan syarat-syarat 2. Membuat gambar kerja (shop drawing) sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan yang bersangkutan untuk memudahkan pelaksanaan pekerjaan maupun pengawasan 3. Mengikuti atau menghadiri rapat-rapat koordinasi yang

diselenggarakan oleh konsultan pengawas atau MK secara rutin. 4. Membuat laporan kemajuan pekerjaan yang harus disetujui dan diserahkan kepada konsultan pengawas atau MK disertai

keterangan mutu bahan, alat dan hasil tes laboratorium. 5. Selalu berkonsultasi dan memberitahukan setiap permasalahan yang timbul kepada konsultan pengawas atau MK. 6. Menerima pembayaran sesuai prosedur kontrak yang telah disetujui.

3.4 Hubungan Kerjasama Pengelola Proyek Tiap unsur-unsur dalam proyek mempunyai hubungan yang saling terkait antara satu pengelola dengan pengelola lainnya. Hubungan tersebut antara lain : 1. Antara pemilik proyek dengan konsultan pengawas atau MK Pemberi tugas memberikan imbalan jasa/biaya pengawasan atas jasa pengawasan yang telah dilakukan oleh konsultan pengawas atau

27

28

MK. Hubungan ini biasanya diikat dalam suatu kontrak. Pemberi tugas juga berwenang untuk meminta laporan-laporan secara periodik mengenai pelaksanaan pekerjaan. 2. Antara pemilik proyek dengan konsultan perencana Konsultan perencana memberikan jasa/karya perencanaannya kepada pemberi tugas, dan pemberi tugas memberikan imbalan jasa atau biaya perencanaan kepada konsultan perencana. Hubungan kerja antara kedua belah pihak biasanya diatur dalam sebuah kontrak. 3. Antara pemilik proyek dengan kontraktor/penyedia jasa Pemberi tugas memberikan biaya pelaksanaan dan kontraktor menyerahkan hasil pelaksanaan. Hubungan kerja antara kedua belah pihak ini diatur dalam suatu ikatan kontrak. Dan untuk melakukan hubungan kerja tersebut kontraktor harus melalui Project Management. 4. Antara kontraktor dengan sub kontraktor Kontraktor utama menunjuk sub kontraktor untuk membantu dalam pekerjaan di lapangan. Dan kontraktor melakukan pengawasan terhadap pekerjaan sub kontraktor tersebut. 5. Antara konsultan perencana dengan konsultan pengawas atau MK Konsultan perencana dan konsultan pengawas atau MK saling berkonsultasi mengenai perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Hubungan kerja antar keduanya diatur dalam ikatan aturan pelaksanaan. 6. Antara kontraktor dengan konsultan pengawas atau MK Konsultan pengawas atau MK mengontrol realisasi pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor agar sesuai dengan persyaratan yang ada.

Hubungan kerjasama pengelola proyek seperti dijelaskan di atas dapat digambarkan dengan skema berikut ini :

28

29

Pemilik Proyek RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo

Konsultan Perencana PT. Puri Aji Buana

Konsultan Pengawas CV. Prima Disain

Kontraktor Pelaksana PT. Jaya Arnikon

Gambar 3. 1 Bagan kerja sama pengelola proyek Keterangan : : Garis Komando : Garis Koordinasi : Garis Tanggung Jawab

29

30

3.5 JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN Penjadwalan merupakan implementasi dari perencanaan yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan proyek yang meliputi sumber daya (biaya, tenaga kerja, peralatan, material), durasi dan progres waktu untuk menyelesaikan proyek. Penjadwalan proyek mengikuti perkembangan proyek dengan berbagai permasalahannya. Proses monitoring dan updating selalu dilakukan untuk mendapatkan penjadwalan yang realistis agar sesuai dengan tujuan proyek. Ada beberapa metode untuk mengelola penjadwalan proyek, yaitu Kurva S (hanumm Curve), Barchart, Penjadwalan Linear (diagram Vektor), Network Planning dan waktu atau durasi kegiatan. Bila terjadi penyimpangan terhadap rencana semula, maka dilakukan evaluasi dan tindakan koreksi agar proyek tetap berada dijalur yang diinginkan. Kontraktor bertanggung jawab atas penyelesaian pekerjaan sesuai dengan durasi yang telah disepakati. Oleh karena itu kontraktor menyusun rencana kerja yang disebut Master Schedule yang berisi keseluruhan item pekerjaan. Satuan durasi yang digunakan pada Master Schedule biasanya dalam satuan bulan atau minggu. Jadwal yang di buat oleh kontraktor harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan konsultan pengawas atau MK. Kontraktor menyusun rencana kemajuan pekerjaan yang akan dilakukan kaitannya terhadap bobot pekerjaan yang disebut dengan Kurva S (S Curve). Kurva S berisi item pekerjaan, durasi pekerjaan, bobot pekerjaan serta presentase kemajuan pekerjaan.

30

31

BAB IV
SUMBER DAYA PROYEK

4.1 MACAM SUMBER DAYA PROYEK Proyek merupakan gabungan dari sumber daya manusia, material, alat/machine dan biaya/modal dalam suatu wadah organisasi sementara untuk mencapai tujuan dalam sasaran dan tujuan. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan suatu proyek adalah sebagai berikut : 1) Biaya/ modal Biaya yang digunakan harus dikelola sesuai perencanaan, hal ini dimaksudkan agar alokasi dana tidak membengkak. Biaya-biaya tersebut misalnya biaya peralatan, upah tenaga kerja, harga bahan, dan lain-lain. Antara jumlah pekerjaan, peralatan, bahan, dan tenaga kerja yang digunakan mempunyai hubungan yang sangat erat untuk memperoleh hasil kerja yang maksimal. 2) Tenaga kerja Tenaga yang dimaksud disini adalah sumber daya manusia yang mengelola pekerjaan, dapat membaca, memahami gambar dan kemudian menerapkannya di lapangan, mengerti apa yang harus dikerjakan dan dapat mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi. 3) Peralatan Memilih jenis peralatan untuk suatu jenis pekerjaan tertentu dengan tepat agar diperoleh hasil kerja yang optimal. 4) Material Material merupakan komponen yang sangat menentukan mutu dari hasil pekerjaan, maka mutu bahan bangunan yang digunakan harus disesuaikan dengan ketentuan yang ada dalam Rencana Kerja dan SyaratSyarat (RKS).

31

32

5) Metode Koordinasi pelaksanaan dan metode yang tepat dalam pelaksanaan proyek ini sangat diperlukan guna memenuhi kualitas yang diharapkan dan proyek ini dapat berjalan tepat waktu. 6) Waktu Waktu yang tersedia untuk pelaksanaan pekerjaan harus cukup dan seefisien mungkin. Di dalam pekerjaan pembangunan gedung,

penggunaan waktu membutuhkan perhatian yang khusus, sebab pada saat-saat tertentu dapat mengalami hambatan. Optimalisasi penggunaan waktu untuk pekerjaan yang bisa dikerjakan secara bersamaan harus dioptimalkan sebaik mungkin.

4.2 PERALATAN Dalam melaksanakan suatu pekerjaan tidak selalu dapat dilaksanakan dengan tenaga manusia atau dengan tangan, tetapi untuk jenis pekerjaan tertentu dibutuhkan alat bantu, sehingga dengan adanya alat bantu tersebut pekerjaan dapat berlangsung cepat dan efisien serta didapatkan hasil yang baik dan memuaskan. Penggunaan peralatan di lokasi pekerjaan dan jumlah alat yang digunakan disesuaikan dengan berbagai faktor yang ada di lapangan, seperti (Suryadharma dan Wigroho, 1998) : a) Lokasi pekerjaan b) Keadaan lapangan c) Jenis pekerjaan d) Volume pekerjaan e) Waktu yang tersedia f) Biaya yang tersedia

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat kerja dalam suatu proyek antara lain :

32

33

1. Kondisi alat harus dalam keadaan baik dan layak dioperasikan, sebelum dipakai diperiksa terlebih dahulu mesin, minyak mesin, air untuk pendingin dan sebagainya 2. Diusahakan untuk tidak membebani alat kerja melebihi kapasitas yang telah ditetapkan oleh pabrik pembuatnya 3. Dipilih operator yang benar-benar ahli dan berpengalaman Selain hal tersebut juga perlu dipertimbangkan apakah alat tersebut akan dibeli atau disewa, yang merupakan bagian dari pekerjaan tersebut atau akan disubkontraktorkan. Pertimbangan ini dihasilkan dari analisa usia kegunaan, nilai guna, dan juga besarnya keuntungan yang diperoleh dari penggunaan alat tersebut. Peralatan yang digunakan pada kegiatan pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu ini adalah sebagai berikut :

4.2.1 Peralatan Pengukuran a. Theodolite dan Waterpass Theodolite dan waterpass digunakan untuk menentukan titik ketinggian dan sudut-sudut karena alat ini memiliki ketepatan yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini untuk menghindari adanya ketidakcocokan yang mungkin terjadi antara gambar dengan keadaan lapangan yang sebenarnya. Pengukuran yang dapat dilakukan antara lain menetapkan titik-titik pondasi, penetapan as bangunan terhadap bangunan-bangunan disekitarnya, kedudukan antara as satu dengan as lainnya, penentuan tinggi lantai, penyetelan kolom, menentukan kedataran posisi balok dan lain-lain. Alat pengukuran disajikan pada Gambar 4. 1 Theodolite dan Gambar 4. 2 Waterpass.

33

34

Gambar 4. 1 Theodolite

Gambar 4. 2 Waterpass 4.2.2 Peralatan Pekerjaan Tanah a. Backhoe/ Excavator Backhoe sering juga disebut pull shovel, adalah alat dari golongan shovel yang khusus dibuat untuk menggali material di bawah permukaan tanah atau di bawah tempat kedudukan alatnya. Galian di bawah permukaan ini misalnya parit, lubang untuk pondasi bangunan, dan lubang galian pipa.

34

35

Gambar 4. 3 Backhoe b. Bulldozer Bulldozer digunakan sebagai alat penggusur atau pendorong tanah lurus ke depan maupun ke samping, tergantung pada sumbu kendaraannya. Pada dasarnya bulldozer menggunakan traktor sebagai tempat dudukan penggerak utama yang dilengkapi dengan sudut sehingga dapat menggusur tanah. c. Stamper Stamper ini digunakan untuk memadatkan tanah timbunan.

Gambar 4. 4 Handstamper d. Peralatan Pendukung Peralatan pendukung yang digunakan dalam pekerjaan tanah ini antara lain ember plastik, dan drum.

35

36

4.2.3 Peralatan Pekerjaan Pembetonan a. Gerobak sorong dan ember Kedua alat ini digunakan untuk mengangkut pasir dan material campuran beton ke lokasi pekerjaan. Gerobak sorong digunakan sebagai wadah sampel beton segar sebelum dicetak kedalam cetakan silinder beton.

Gambar 4. 5 Gerobak Sorong b. Mesin aduk beton (concrete mixer) Alat ini digunakan untuk membuat beton yang digunakan pada pengecoran non struktur seperti lantai kerja (pada sumpit). Satu unit concrete mixer mempunyai kapasitas 0,3 m3 sampai 0,6 m3. Adukan beton yang didapatkan oleh alat ini akan lebih homogen jika dibandingkan cara adukan manual. Concrete mixer terdiri dari beberapa bagian yaitu : 1) Bagian pengaduk yang berupa silinder atau drum yang dapat berputar 2) Bagian penggerak yang di jalankan oleh diesel 3) Kemudi (stir) 4) Pengunci Bagian pertama dan kedua dihubungkan dengan penghubung roda gigi atau karet. Dinding dalam drum pengaduk dilengkapi dengan sirip-sirip pengaduk yang dapat mencampur adukan dengan lebih homogen. Hal-hal yang perlu diperhatikan dari alat ini adalah : 36

37

1) Pemakaian alat terbatas pada kapasitas maksimal 2) Jangan menghentikan alat sebelum beton teraduk minimal 15 menit setelah campuran masuk 3) Kebersihan diperhatikan Pengoperasian concrete mixer menggunakan satu orang operator sebagai pengontrol mesin dan beberapa tenaga kerja yang bertugas mengisi bahan campuran adukan. Sebelum pelaksanaan campuran adukan, mesin harus diberi pelumas pada bagian-bagian penting, seperti roda gigi dan as putar. alat sebelum campuran beton masuk harus

Gambar 4. 6 Concrete Mixer c. Truk pengangkut beton (concrete dump truck) Pekerjaan pengecoran struktur plat, balok, tie beam, kolom, retaining wall, pile cap, dan tangga digunakan alat berat berupa truk pengangkut beton (concrete dump truck). Penggunaan concrete dump truck menghasilkan kapasitas pengecoran beton yang besar

dibandingkan dengan tenaga manusia, disamping akan sangat lambat juga produktifitasnya rendah. Kapasitas dari concrete dump truck yang dipakai adalah (3, 5, 7, 8) m3.

37

38

Gambar 4. 7 Concrete dump truck d. Pompa beton (concrete pump) Pompa beton (concrete pump) digunakan untuk menyalurkan bahan cor beton dari concrete dump truck ke tempat pengecoran melalui saluran yang tertutup. Pemompaan dilakukan melalui pipa atau selang dalam kombinasi vertikal, horizontal atau miring. Produksivitas pompa beton tergantung pada tipe pompa yang dipakai, ukuran pipa pengecoran, dan efisiensi operasi (Suryadharma dan Wigroho, 2006).

Gambar 4. 8 Concrete pump

38

39

e. Bucket Bucket digunakan untuk mengangkut adukan beton segar dari truk mixer ke pelat, balok, tangga, dan kolom yang akan dicor. Bucket digunakan jika lokasi yang akan dicor tidak bisa dicapai oleh concrete pump, concrete pump rusak, dan volume pengecoran sedikit, misal untuk pengecoran kolom dan tangga.

Gambar 4. 9 Bucket f. Penggetar beton segar (concrete vibrator) Alat ini digunakan untuk proses perataan adukan beton pada saat pengecoran. Concrete vibrator ini digunakan selama pengecoran berlangsung dan dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak merusak acuan maupun posisi besi tulangan. Pada prinsipnya alat penggetar ini terdiri atas : 1) Sumber tenaga (mesin diesel) 2) Batang penggetar 3) Jarum penggetar Dalam penggunaan alat penggetar ini perlu diperhatikan halhal sebagai berikut :

39

40

1) Jarum penggetar harus dimasukkan ke dalam adukan kira-kira vertikal, tetapi dalam keadaan khusus diperbolehkan miring 45 2) Selama penggetaran, jarum tidak boleh horizontal karena dapat menyebabkan pemisahan bahan 3) Selama penggetaran harus dijaga agar jarum tidak mengenai cetakan atau bagian beton yang mulai mengeras 4) Lapisan adukan beton tidak boleh lebih tebal dari panjang jarum penggetar atau tidak boleh lebih tebal dari 30-50 cm, sebab pada pemadatan konstruksi yang tebal yang tidak dilakukan lapis demi lapis, hasil pemadatannya tidak akan sempurna 5) Pengeluaran dan pemasukan alat penggetar dilakukan sejauh kurang lebih selang 0,5 m 6) Waktu yang diperlukan untuk tiap pemasukan alat tersebut diatur harus cukup untuk memadatkan beton tanpa terjadi pemisahan agregat, sekitar 5 sampai 15 detik 7) Ujung jarum vibrator diusahakan tidak mengenai tulangan 8) Alat penggetar cadangan harus tersedia selama pengeboran

Gambar 4. 10 Concrete vibrator

g. Concrete trowel Concrete trowel adalah alat bantu mesin yang digunakan untuk meratakan dan menghaluskan permukaan beton yang masih dalam

40

41

proses pengerasan. Pada proyek ini trowel digunakan untuk menghaluskan permukaan beton pada ramp. h. Perancah (schafolding) Struktur penunjang keberhasilan pekerjaan acuan beton adalah perancah. Perancah berfungsi sebagai penyangga, yang kemudian meneruskan gaya dan beban dari atas ke bawah. Diharapkan penerusan seluruh gaya dapat berlangsung merata. Perancah yang digunakan pada proyek ini terbuat dari besi. Kelebihan dari penggunaan perancah besi adalah : 1) Kekuatannya sangat besar. 2) Dapat dibongkar pasang dengan mudah dan cepat. 3) Letaknya teratur karena ukuran perancah sama. 4) Dapat diatur ketinggiannya.

Gambar 4. 11 Perancah (Schafolding) i. Peralatan pendukung Peralatan pendukung yang digunakan dalam pekerjaan pengecoran antara lain sendok semen, alat penggaruk dan kayu perata. Sendok semen digunakan pada finishing pekerjaan beton.

41

42

4.2.4 Peralatan Pekerjaan Besi Tulangan a. Alat pembengkok tulangan (bar bender) Sesuai dengan namanya, alat ini digunakan untuk

membengkokkan besi tulangan guna mendapatkan bentuk pembesian yang sesuai dengan rencana. Besi tulangan dapat dibengkokan 450 ataupun 900 sesuai dengan kebutuhan.

Gambar 4. 11 Bar bender b. Alat pemotong tulangan Tulangan yang akan digunakan sebagai tulangan struktur harus disesuaikan panjangnya dengan kebutuhan yang ada di lapangan. Alat yang digunakan untuk memotong besi tulangan pada proyek ini ada dua macam, yaitu mesin pemotong besi tulangan/bar cutter untuk memotong besi berdiameter besar, dan catut besi yang digunakan untuk memotong besi polos D8.

Gambar 4. 12 Bar cutter

42

43

Gambar 4. 13 Catut besi

4.2.5 Peralatan Pekerjaan Kayu a. Peralatan pekerjaan kayu terdiri dari gergaji, meteran, palu dan catut.

Gambar 4. 14 Alat pekerjaan kayu

4.2.6 Peralatan Pengangkutan a. Mobil pengangkut (truck) Alat angkut sangat berguna dalam menunjang kelancaran pekerjaan, yaitu untuk menjamin ketersediaan bahan bangunan di lapangan. Alat ini juga digunakan untuk mengangkut material ke

43

44

lokasi proyek, mengangkut tanah timbunan, dan mengangkut material sisa.

Gambar 4. 15 Truck

4.2.7 Pekerjaan Pembersihan a. Air compressor Air compressor digunakan untuk membersihkan area yang akan dicor dari debu-debu dan material sisa lainnya agar tidak tercampur dengan beton.

Gambar 4. 17 Air compressor 4.3 MATERIAL Material merupakan komponen yang sangat menentukan mutu dari hasil pekerjaan, karena itu mutu bahan bangunan yang digunakan harus disesuaikan dengan ketentuan yang ada dalam Rencana Kerja dan Syarat-

44

45

Syarat (RKS). Cara penyimpanan bahan bangunan harus diperhatikan dan menjadi tanggung jawab pelaksana, agar bahan bangunan tetap dalam kondisi yang layak pakai. Apabila selama penyimpanan bahan menjadi tidak layak pakai, maka pelaksana wajib mengganti dengan bahan yang memenuhi syarat. Bahan-bahan yang digunakan dalam proyek Pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu ini antara lain sebagai berikut : a. Semen portland Semen yang digunakan untuk kegiatan ini ada dua tipe, yaitu semen portland jenis I (semen Holcim) dan semen khusus (sika) yang digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan grouting. Pada proyek ini tidak dilakukan uji terhadap semen yang digunakan, karena semen yang digunakan merupakan semen pabrikasi yang telah teruji kekuatannya.

Gambar 4. 18 Semen

45

46

b. Agregrat halus (pasir)

Gambar 4. 19 Agregat halus c. Agregat kasar (koral) Agregat kasar yang digunakan berupa batu-batuan yang diperoleh dari pemecahan batu (split). Bahan ini terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori, tidak mengandung butir-butir yang pipih melampaui 20% dari berat agregat seluruhnya. Selain itu, agregat kasar ini tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% terhadap berat keringnya, serta bebas dari bahan-bahan yang dapat merusak seperti zat-zat yang reaktif alkali. Agregat kasar yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat ASTM dan PBI. Penyimpanan dan penggunaan agregat juga harus diatur untuk mencegah tercampurnya agregat dengan ukuran yang berbeda.

Gambar 4. 20 Agregat kasar

46

47

d. Batu Bata Batu bata yang dipakai harus berkualitas baik, matang,

permukaannya rata tidak berlubang, saling tegak lurus, warna merah, bebas dari retak, mempunyai ukuran yang seragam, akan menimbulkan suara yang nyaring bila dua bata saling dipukulkan, dan berasal dari satu produk dan langsung didatangkan dari pabrik.

Gambar 4. 21 Batu bata e. Besi tulangan Besi tulangan adalah besi yang dipakai untuk konstruksi beton bertulang dengan panjang 12 m. Besi tulangan dalam konstruksi beton bertulang berfungsi untuk menahan tegangan tarik. Kondisi fisik besi harus baru, berwarna abu-abu, dan tidak berkarat. Semua besi tulangan yang akan dipakai harus berasal dari produksi pabrik yang telah disetujui direksi pengawas. Besi tulangan harus mempunyai sertifikat asli dari pabrik dan sertifikat hasil test. Sertifikat asli dari pabrik dan sertifikat hasil test untuk setiap pengiriman besi tulangan yang akan digunakan dalam pekerjaan harus diserahkan kepada Direksi/Pengawas. Sertifikat harus menunjukan analisa kimia serta hasil uji tarik dan lengkung baja. Untuk Setiap pengiriman, minimum dua buah contoh benda uji harus diambil secara acak per jumlah 50.000 kg untuk masing-masing diameter, dengan panjang

47

48

masing-masing 100 cm dari tiap jenis ukuran dan harus diuji pada laboratorium uji independen yang telah ditunjuk direksi pengawas. Untuk tulangan dan beton pada proyek ini disediakan oleh kontraktor (supply by contractor).

Gambar 4. 22 Besi tulangan f. Bekisting Bekisting merupakan cetakan beton lengkap dengan konstruksi pendukung yang memungkinkan pengecoran beton sampai mengeras. Pada proyek ini digunakan bekisting dari multipleks dengan tebal 12 mm yang dibentuk sedemikian rupa dengan perancah kayu. Bekisting dibuat sedemikian rupa dengan perancah-perancah/sekur-sekur yang kokoh dan cukup kuat, sehingga pada saat pengecoran bekisting tidak mengalami perubahan dan kerusakan/jebol.

Gambar 4. 23 Bekisting pada balok

48

49

g. Water stop Water stop digunakan untuk mengantisipasi kebocoran air pada sambungan antara beton lama dan beton baru, serta pada area yang berhubungan dengan air.

Gambar 4. 24 Water stop h. Stop cor Stop cor ini merupakan anyaman kawat yang digunakan sebagai pembatas cor beton, sehingga tidak menyebar ke area yang bukan area pengecoran.

Gambar 4. 25 Stop cor

49

50

i. Perekat beton (calbon) Perekat beton digunakan untuk merekatkan beton lama dan beton baru. Perekat yang digunakan adalah merek am.

Gambar 4. 26 Perekat Beton j. Bahan tambah beton Bahan tambah beton berupa zat kimia yang ditambahkan untuk beton khusus. Bahan tambah pada proyek Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu adalah Fosroc Conplast WP 421. Bahan tambah ini digunakan untuk beton integral, yaitu beton kedap air yang terletak di lift dan area lain yg berhubungan dengan air.

Gambar 4. 27 Bahan tambah beton k. Solar Solar digunakan pada bekisting sebelum pengecoran dilakukan, baik kolom ataupun dinding supaya pada waktu pengangkatan bekisting kolom tidak menempel di tempat pengecoran. 50

51

Gambar 4. 29 Solar l. Air Air yang dimaksud disini adalah air sebagai bahan pembantu dalam konstruksi bangunan. Air dibutuhkan untuk campuran beton, adukan spesi dan perawatan dalam pengerasan beton guna menjamin pengerasan yang sempurna. Persyaratan teknis air yang dipergunakan dalam proyek ini adalah air yang bersih, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garamgaram, bahan organis, atau bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Sebaiknya dipakai air yang dapat diminum. Air yang digunakan pada proyek ini diambil dari air sumur dan PAM. . 4.4 TENAGA KERJA Tenaga kerja merupakan sumber daya manusia yang memegang peranan penting dan sangat menentukan dalam keberhasilan pelaksanaan suatu pekerjaan. Pemilihan tenaga kerja yang tepat dan ahli akan memperlancar proyek, menghemat biaya proyek, serta akan memberikan mutu dan kualitas hasil pekerjaan yang baik.

4.4.1 Macam-macam Tenaga kerja Tenaga kerja yang digunakan dalam penanganan proyek ini terdiri atas :

51

52

a. Tenaga ahli Tenaga ahli adalah tenaga yang mengelola bidang pekerjaan yang menuntut ketelitian, misalnya perencanaan, project manager, site engineer, staf manajemen proyek, operator alat berat, surveyor. b. Tenaga menengah Tenaga menengah adalah tenaga yang mengelola bidang pekerjaan teknik dan administrasi, misal penanggung jawab lapangan, pelaksana lapangan, juru gambar. c. Tenaga mandor Tenaga mandor memberi komando kepada para tenaga kasar agar pelaksanaan pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Tenaga mandor biasanya diperlukan untuk pekerjaan yang memerlukan tenaga kasar yang banyak, misalnya pada pekerjaan galian, pemasangan bekisting, perancah, penulangan, dan

pengecoran. d. Tenaga tukang Tenaga tukang meliputi tenaga ahli dalam bidangnya berdasarkan pengalaman serta cara kerja yang sederhana. e. Tenaga kasar Tenaga kasar merupakan tenaga kerja yang tidak banyak memerlukan pikiran, cukup dengan bekal kondisi badan yang sehat dan kuat. Tenaga kasar biasanya bertanggung jawab terhadap mandor.

4.4.2 Status Tenaga Kerja Tenaga yang bekerja diproyek ini berdasarkan statusnya dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu tenaga kerja tetap, tenaga kerja harian dan tenaga kerja borongan. a. Tenaga Kerja Tetap Tenaga kerja tetap adalah tenaga kerja yang menjadi karyawan tetap dan menerima gaji setiap bulannya. Yang termasuk

52

53

dalam tenaga kerja tetap antara lain project manager, deputy project manager, construction manager, site manager, site engineering, field engineering, field coordinator, inspector, progress controller, project admin, logistic, surveyor, office boy. b. Tenaga kerja harian Tenaga kerja harian adalah tenaga kerja yang bekerja pada pelaksana dengan upah berdasarkan jumlah kerja atau jam kerja yang diperolehnya. c. Tenaga kerja borongan Tenaga kerja borongan adalah tenaga kerja yang diperlukan untuk mengerjakan suatu bagian pekerjaan tertentu yang

dikoordinasikan oleh mandor sebagai pimpinan kelompok dengan upah berdasarkan volume hasil pekerjaan yang dibayar mingguan.

4.4.3 Waktu Kerja Lama waktu pelaksanaan proyek ditentukan oleh volume pekerjaan, jumlah tenaga kerja dan waktu kerja. Waktu kerja normal untuk pekerja lapangan yang berlaku pada proyek ini yaitu dalam satu hari mulai pukul 08.00 WIB 16.00 WIB dengan waktu istirahat 1 jam pada pukul 12.00 WIB 13.00 WIB. Waktu Kerja konsultan pengawas atau MK 08.45 WIB 17.00 WIB dengan waktu istirahat 1 jam pada pukul 12.00 WIB 13.00 WIB. Kemudian jika ada pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan, maka pekerjaan yang dilakukan diatas jam kerja seharusnya dihitung sebagai waktu lembur. Hari kerja pada proyek ini adalah 7 hari kerja tiap minggunya untuk pekerja lapangan dan 6 hari kerja untuk konsultan pengawas atau MK dengan tambahan jadwal piket pada hari libur.

4.4.4 Upah Tenaga Kerja Upah tenaga kerja pada proyek pembangunan Gedung Instalasi Bedah Sentral (IBS) Terpadu ini dibedakan sebagai berikut ini :

53

54

a.

Upah bulanan Upah bulanan adalah upah yang diberikan pada tenaga kerja tetap.

b. Upah harian Upah harian adalah upah yang diberikan pada tenaga kerja harian dengan cara pembayaran tiap 2 minggu melalui mandor yang mempekerjakan mereka. Besarnya upah berdasarkan jumlah hari kerja masing-masing tenaga kerja. c. Upah borongan Upah borongan adalah upah berdasarkan harga satuan borongan dan berat atau volume pekerjaan yang telah disepakati bersama. Pembayaran upah ini melalui mandor bangunan atau bos borongan sesuai dengan volume pekerjaan yang telah diselesaikan dan menurut kesepakatan.

54