Anda di halaman 1dari 17

Presented by : The 6th group - ADY SETIADY (NIM. 101510423) - RUSMIATI (NIM. 121510011) - PERA LITA (NIM.

121510026) - ANASTASIA (NIM. 121510346)

Keamanan pangan sudah merupakan masalah global. Letusan penyakit akibat pangan (foodborne disease) dan kejadiankejadian pencemaran pangan terjadi di berbagai negara berkembang dan di negara-negara maju. Diperkirakan satu dari tiga orang penduduk di negara maju mengalami keracunan pangan setiap tahunnya. Potensi penyebaran geografi dari suatu wabah sangat besar karena penyebarannya terkadang melibatkan banyak negara yang disebabkan skala penyebaran pangan yang meluas.

Berdasarkan laporan Balai Besar POM di seluruh Indonesia telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan sebanyak 153 kejadian di 25 propinsi, dengan jumlah 7347 kasus termasuk 45 orang meninggal dunia. Ditinjau dari sumber pangannya, terlihat bahwa yang menyebabkan keracunan pangan adalah makanan yang berasal dari :

Masakan rumah tangga 72 kejadian (47,1%), Industri jasa boga 34 kejadian (22,2 %), Makanan olahan 23 kejadian (15,0 %), Makanan jajanan 22 kejadian (14,4 %) dan Sisanya tidak dilaporkan sumbernya (1,3 %)

WHO mendefinisikan Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan atau dikenal dengan istilah foodborne disease outbreak sebagai :

Suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit setelah mengkonsumsi pangan yang secara epidemiologi terbukti sebagai sumber penularan.

Investigasi keracunan yang baik : Tidak berhenti hanya pada tindakan medis untuk menanggulangi korban. Ditujukan pada penemuan penyebab keracunan dengan menggunakan informasi dan pendekatan epidemiologi :
Apakah bahan pangan penyebab keracunan? Apa dan berapa jumlah cemaran atau bahaya

(hazard) yang menyebabkan keracunan? Mengapa bahan cemaran tersebut terdapat dalam bahan pangan?

Investigasi keracunan pangan terutama dilakukan untuk mempersempit penyebab keracunan. Investigasi harus dilakukan terhadap :

Korban keracunan Sample makanan yang tersedia Sample klinis yang dikumpulkan dari penderita Dan dilanjutkan kepada tempat atau lokasi

(premises) dimana bahan pangan tersebut diolah.

Wawancara dengan korban keracunan merupakan suatu langkah strategis yang dapat menuntun tim investigasi ke arah penyebab keracunan yang paling mungkin. Syarat :

Memenuhi kaidah-kaidah teknik wawancara untuk

mendapatkan hasil sesahih mungkin, Substansi wawancara dalam investigasi keracunan juga harus memuat pertanyaan-pertanyaan yang relevan yang dapat menggiring pada berbagai data untuk analisis epidemiologi seperti gejala yang dominan, waktu onset dan jenis-jenis pangan yang dikonsumsi dalam 72 jam terakhir.

Analisis epidemiologi dan interpretasi yang tepat tentang :


Gejala keracunan Waktu onset Jenis bahan pangan dengan memahami teknik

pengolahan yang rawan terhadap keracunan suatu kontaminan tertentu Penghitungan food specific attack rate Pengetahuan mutakhir tentang jenis-jenis kontaminan yang banyak menyebabkan keracunan pangan

Dapat membawa tim investigasi pada jenis pangan yang patut dicurigai serta penyebab keracunan yang paling mungkin.

Hasil analisis wawancara yang baik menjadi suatu modal penting dalam pelaksanaan uji laboratorium. Dalam kenyataannya jumlah sampel yang tersedia dalam keracunan pangan seringkali sangat terbatas untuk keperluan analisis untuk beberapa calon penyebab keracunan. Penting diketahui bahwa penyebab keracunan hanya dapat diketahui jika dilakukan analisis terhadapnya, kecuali untuk gejala keracunan tipikal dengan satu jenis pangan yang telah dikenal seperti keracunan tempe bongkrek, ikan buntal dan lain-lain.

Dalam analisis laboratorium, penting diketahui modus suatu kontaminan khususnya mikroba dalam menyebabkan keracunan :

Apakah bakteri tersebut menyebabkan infeksi? Apakah bakteri tersebut menyebabkan intoksikas? Apakah diperlukan jumlah besar untuk bakteri tersebut

Hal ini akan memberikan input tentang apakah analisis kualitatif saja sudah mencukupi atau diperlukan analisis kuantitatif, dan juga apakah analisis metabolit (toksin) diperlukan. Khususnya untuk keracunan karena mikroba, penting digunakan pendekatan metode analisis yang paling mendekati sasaran.

dalam menyebabkan keracunan?

Mikroorganisme yang menjadi indikator makanan merupakan kelompok bakteri yang keberadaannya di makanan di atas batasan jumlah tertentu, yang dapat menjadi indikator suatu kondisi yang terekspos yang dapat mengintroduksi organisme berbahaya dan menyebabkan proliferasi spesies patogen ataupun toksigen. Misalnya E. coli tipe I, koliform dan fekal streptococci digunakan sebagai indikator penanganan pangan secara tidak higienis, termasuk keberadaan patogen tertentu. Mikroorganisme indikator ini sering digunakan sebagai indaktor kualitas mikrobiologi pada pangan dan air.

Jika toksin kimia merupakan penyebab keracunan, maka senyawa tersebut umumnya stabil selama penyimpanan. Akan tetapi apabila mikroba merupakan kandidat utama penyebab keracunan maka penanganan yang benar terhadap sample harus dilaksanakan. Hal ini untuk menghindari hilangnya penyebab keracunan dalam analisis karena penyimpanan sampel pada suhu ruang misalnya dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri lain sehinggga menghambat pertumbuhan penyebab keracunan.

Pada kondisi lain, penyimpananan pada suhu beku, juga dapat menghilangkan bakteri-bakteri yang rapuh seperti C. jejuni. Penyitaan sampel oleh aparat kepolisian haruslah memperhatikan aspek ini, karena sampel yang berada pada suhu ruang selama >12 jam mungkin sudah tidak relevan lagi untuk keperluan analisis mikrobiologi. Seringkali tidak adanya sampel makanan. Dalam kasuskasus seperti ini maka analisis laboratorium pada sample klinis (muntahan, darah, feses korban) menjadi satu-satunya sumber analisis laboratorium. Dengan mengacu pada hasil wawancara, maka analisis sampel klinis juga dapat diarahkan kepada sekelompok kandidat penyebab keracunan.

Analisis tempat pengolahan ditujukan untuk melakukan rekonstrusi tentang bagaimana pangan penyebab keracunan tersebut dihasilkan pada saat keracunan terjadi.

Investigasi keracunan makanan bukanlah suatu pekerjaan sederhana, melainkan suatu pekerjaan kompleks dengan tingkat kesulitan yang amat tinggi karena membutuhkan investigasi yang akurat. Penyakit karena pangan (foodborne diseases) yang lebih dikenal sebagai keracunan makanan, dapat disebabkan oleh patogen (virus, bakteri, protozoa, cacing) maupun bahan kimia (residu pestisida, logam berat, bahan tambahan ilegal, mikotoksin, dan sebagainya).

Sekian & terima kasih