Anda di halaman 1dari 21

Kebijakan Pelayanan Publik Bidang Pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat Oleh Burhanuddin, M !

um Dosen FKIP Unviversitas Mataram Email: boer_fkipunram@yahoo. o.i!


Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kebijakan, proses dan implementasi kebijakan, kinerja kebijakan, serta rekomendasi kebijakan pelayanan pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Pengumpulannya menggunakan in!ept intervie", observasi, dan kajian dokumen !ata yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis kualitati" (reduksi, display, interpretasi, dan veri"ikasi) #asil analisis data menunjukkan bahwa pertama, kebijakan pendidikan di KSB men$akup ketiga pilar pembangunan pendidikan dengan titik penekanan pada aspek pemerataan kesempatan dan perluasan akses pendidikan yang perumusannya merupakan kombinasi model elit, model rasional, dan pilihan publik Ke!ua, implementasi kebijakan di"okuskan pada pengembangan kapasitas kelembagaan, strategi anggaran, dan manajemen sekolah, dengan pendekatan model matriks ambiguitas%kon"lik yang dikembangkan oleh &atland Keti#a, model proses kebijakan pendidikan di KSB dengan mengubah sekuensi dari proses politik menjadi kebijakan, $apaian kinerja kebijakan menjadi proses politik kemudian menjadi kinerja kebijakan Keempat, kinerja kebijakan pendidikan KSB dilihat dari indikator%indikator "ormal menunjukkan $apaian yang beragam Kata kun"i# kebijakan, pelayanan publik, dan pendidikan

Abstract: $his resear h aims at i!entifyin# the form of the poli y% the pro ess an! the implementation of the poli y% the performan e of the poli y% an! the re ommen!ation of e!u ational servi e poli y in &est 'umba"a (e#en y )&est *usa $en##ara+. $he !ata "ere olle te! throu#h in,!epth intervie"% observation% an! !o ument revie". $he !ata "ere then analy-e! .ualitatively )re!u tion% !isplay% interpretation% an! verifi ation+. $he !ata analysis in!i ates that first/ e!u ational poli y in &est 'umba"a (e#en y involves three main aspe ts of e!u ational !evelopment "hi h emphasi-es on the e.uality of opportunity% e0tensifi ation of e!u ational a ess "hi h uses three mo!els namely elite% rational% an! publi hoi e. 'e on!% the implementation of the poli y is fo use! on the !evelopment of institutional apa ity% bu!#etin# strate#y% an! s hool mana#ement applyin# the onfli t ambi#uity matri0 !evelope! by Matlan!. $hir!% the mo!el of e!u ational poli y pro ess in &est 'umba"a (e#en y is han#in# from politi al se.uen e to"ar! poli y. Fourth% the performan e of e!u ational poli y in &est 'umba"a (e#en y varies a ross formal in!i ators. Keywords: Poli y% publi servi e% an! e!u ation

Pendahuluan Pembangunan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kesejahteraan

$ $ %atar Belakang Masalah masyarakat memiliki dimensi yang luas, yaitu menyangkut kesejahteraan ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, demokrasi, dan sebagainya Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya meneruskan tradisi ilmu pengetahuan tetapi pendidikan sejauh mungkin relevan dan menghubungkan antara alat yang diberikan dengan kemungkinan menemukan hidup yang paling baik baginya Namun demikian, sampai saat ini pendidikan '

nasional masih dihadapkan pada beberapa permasalahan, yaitu (') rendahnya pemerataan memperoleh pendidikan( ()) rendahnya mutu dan relevansi pendidikan( serta (*) lemahnya tata kelola atau manajemen pembangunan pendidikan (+alal , Supriadi, )--') .ahirnya otonomi daerah memberikan nuansa sekaligus tantangan dalam mewujudkan pendidikan se$ara mandiri, bebas, dan bertanggung jawab Pesan otonomi inilah yang harus diterjemahkan se$ara $ermat oleh kabupaten/kota &enyadari hal tersebut, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) sebagai daerah otonom baru menitikberatkan pembangunannya pada aspek peningkatan kualitas S!& melalui peningkatan mutu pendidikan seperti Program 0ajib Belajar ') Tahun, Program Pendidikan 1ratis, Penuntasan Buta 2ksara, dan kebijakan lainnya Tetapi, sampai saat ini belum diketahui se$ara komprehensi" terhadap tingkat $apaian layanan kebijakan dimaksud termasuk ketepatan dalam perumusannya Selain itu, belum diketahui e"ektivitas kinerja kebijakan tersesbut, khususnya pada ketiga pilar pembangunan pendidikan 3"ekti"itas dimaksud adalah sejauhmana tingkat ketepatan dan kelayakan kebijakan dan program, proses peren$anaan dan pelaksanaannya, kepatuhan ren$ana dengan realisasi, $apaian yang dihasilkan dan lainnya 2tas dasar pemikiran itulah, penelitian tentang kebijakan layanan publik bidang pendidikan di KSB penting untuk dilakukan ini penting Penelitian ini tidak hanya untuk mendeteksi kekuatan dan kelemahannya kebijakan layanan publik tersebut tetapi diharapkan adanya "ormulasi penyempurnaan perumusan kebijakan dan program pembangunan pendidikan di KSB terutama menyangkut ketepatan $ara perumusan Kajian ini penting dilakukan mengingat, pertama, tujuan pembangunan pendidikan di KSB tidak mungkin ter$apai dengan maksimal apabila kebijakan dan ren$ana pengembangan pendidikan tidak dirumuskan, dievaluasi, dan diperbaiki se$ara tepat Ke!ua, pelaksanaan kebijakan dan program pembangunan pendidikan dapat dilakukan se$ara teren$ana dan sistematis 2rtinya, pelaksanaan program pendidikan dapat dilakukan se$ara teratur bertahap jika adanya kesatuan pemahaman dan langkah dari pelaku pendidikan $ & 'umusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang ingin dipe$ahkan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah bentuk, implementasi, proses, kinerja, dan rekomendasi kebijakan pelayanan publik pembangunan pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat4 dan

$ ( Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk, implementasi, proses, kinerja, dan rekomendasi kebijakan pelayanan publik pembangunan pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat & Kajian %iteratur Kaitan dengan tujuan penelitian ini, pada bagian ini akan diuraikan kajian teori tentang tentang teori analisis (perumusan) kebijakan pendidikan a Teori 2nalisis Kebijakan dan Perumusan Kebijakan Pendidikan Kebijakan pendidikan pada dasarnya menyangkut penanganan masalah%masalah publik tentang pendidikan atau masalah yang menjadi kepentingan umum, sekolah, masyarakat, dan pemerintah 5irst ('66)) mengemukakan bahwa kebijakan adalah satu visi ke mana kita ingin pergi dan panduan untuk men$apainya !alam pengembangan dan perumusan kebijakan pendidikan diperlukan suatu analisis kebijakan !unn, ()---) mengemukakan bahwa analisis kebijakan adalah aktivitas men$iptakan pengetahuan tentang dan dalam proses pembuatan kebijakan 2nalisis kebijakan dapat mengkaji sebab%akibat, dan kinerja kebijakan serta program publik 5irst ('66)) menyebutkan bahwa analisis kebijakan merupakan suatu prosedur menemukan, mengantisipasi, mengeksplorasi, membandingkan, dan mengartikulasikan alternati" yang tersedia untuk men$apai sasaran tertentu !engan demikian, satu kebijakan pendidikan merupakan suatu alternati" pilihan terbaik, paling tepat di antara sekian banyak alternati" yang diemukan Patton dan Sawi$k ('678) mengemukakan enam langkah analisis kebijakan, yaitu9 (') menveri"ikasi, membatasi, dan merin$i masalah( ()) memantapkan kriteria evaluasi( (*) mengidenti"ikasi alternati" kebijakan( (:) mengevaluasi alternati" kebijakan( (;) memilih alternati" pilihan di antara alternati"%alternati" kebijakan( dan (8) memantau hasil (out ame) kebijakan <ntuk merumuskan kebijakan, menurut !unn ()---) ada lima "ase dalam proses pembuatan kebijakan, yaitu9 (') penyusunan agenda atau mengagendakan masalah%masalah publik, ()) "ormulasi kebijakan, (*) adopsi kebijakan, (:) implementasi kebijakan, (;) Penilaian kebijakan Selanjutnya, metode dan teknik analisis kebijakan didasarkan pada tahap%tahap proses pembuatan kebijakan yang oleh !unn ()---) diuraikan se$ara rin$i sebagai berikut ' &erumuskan masalah%masalah kebijakan &asalah%masalah kebijakan adalah kebutuhan, nilai%nilai atau kesempatan yang tidak terealisasi tetapi dapat di$apai melalui tindakan publik Perumusan masalah terdiri dari

beberapa "ase yang saling tergantung yaitu9 pen$arian masalah, pende"inisian, spesi"ikasi, dan pengenalan masalah ) &eramalkan kebijakan masa depan 2da * bentuk peramalan, yaitu sebagai (a) proyeksi adalah peramalan didasarkan pada eksplorasi atas ke$enderungan masa lalu maupun masa kini ke masa depan( (b) prediksi adalah ramalan yang didasarkan atas asumsi teoritik( dan ($) perkiraan adalah ramalan yang didasarkan pada penilaian yang in"ormati" atau penilaian pakar tentang situasi masyarakat masa depan * &erekomendasikan aksi%aksi kebijakan Tahap rekomendasi adalah proses analisis kebijakan, memungkinkan analisis kebijakan menghasilkan in"ormasi tentang serangkaian kemungkinan tindakan untuk meme$ahkan masalah yang berdampak bagi masyarakat seluruhnya =ekomendasi merupakan kebijakan di masa depan yang akan menghasilkan keluaran yang bernilai dari setiap alternati" kebijakan : &emantau hasil kebijakan Tahap ini dimaksudkan untuk memperoleh in"ormasi tentang sebab akibat dari kebijakan Pemantauan menghasilkan kesimpulan yang jelas bagaimana kebijakan tersebut dilaksanakan dan hasil serta dampaknya ; &engevaluasi kinerja kebijakan 3valuasi dimaksudkan untuk memberikan in"ormasi yang valid mengenai kinerja kebijakan serta memberikan sumbangan pada klari"ikasi dan kontak terhadap nilai%nilai yang mendasar pemilihan tujuan dan target b Teori Perumusan Kebijakan Perumusan kebijakan adalah kebijakan awal dalam kebijakan publik !alam khasanah teori perumusan kebijakan, dikenal setidaknya ada '* (tiga belas) jenis perumusan kebijakan, yaitu teori kelembagaan, teori proses, teori kelompok, teori elit, teori rasional, teori inkremental, teori permainan, teori pilihan publik, teori sistem, teori pengamatan terpadu, teori demokratis, teori strategis, dan teori deliberati" ' Teori Kelembagaan 5ormulasi kebijakan dari teori kelembagaan se$ara sederhana bermakna bahwa tu#as membuat kebi1akan publik a!alah tu#as pemerintah Teori ini mendasarkan kepada "ungsi% "ungsi kelembagaan dari pemerintah, di setiap sektor dan tingkat, dalam "ormulasi kebijakan !isebutkan !ye ('66;), ada tiga hal yang membenarkan pendekatan ini, yaitu pemerintah sah membuat kebijakan publik, "ungsi tersebut bersi"at universal, dan pemerintah memonopoli

"ungsi pemaksaan (koersi) dalam kehidupan bersama Teori kelembagaan merupakan derivasi dari ilmu politik tradisional yang lebih menekankan struktur daripada proses atau perilaku politik Salah satu kelemahan dari pendekatan ini adalah terabaikannya masalah%masalah lingkungan tempat kebijakan itu diterapkan ) Teori Proses Teori ini berasumsi bahwa politik merupakan sebuah aktivitas sehingga mempunyai proses <ntuk itu, kebijakan publik merupakan juga proses politik yang menyertakan rangkaian9 identi"ikasi masalah, menata agenda "ormulasi kebijakan, perumusan proposal kebijakan, legitimasi kebijakan, implementasi kebijakan, dan evaluasi kebijakan * Teori Kelompok Teori kelompok mengandaikan kebijakan sebagai titik keseimban#an )e.uilibrium+ >nti gagasannya adalah interaksi dalam kelompok akan menghasilkan keseimbangan >ndividu dalam kelompok kepentingan berinteraksi se$ara "ormal maupun in"ormal, se$ara langsung maupun melalui media massa menyampaikan tuntutannya kepada pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan publik yang diperlukan Peran sistem politik adalah untuk memana1emeni konflik yang mun$ul dari adanya perbedaan tuntutan, melalui9 (a) merumuskan aturan main antar kelompok kepentingan( (b) menata kompromi dan menyeimbangkan kepentingan( ($) memungkinkan terbentuknya kompromi dalam kebijkan publik (yang akan dibuat)( dan (d) memperkuat kompromi%kompromi tersebut : Teori 3lit Teori elit berkembang dari teori politik elit%massa yang melandaskan diri pada asumsi bahwa dalam setiap masyarakat pasti terdapat dua kelompok, yaitu pemegang kekuasaan elit dan yang tidak memiliki kekuasaan atau massa Prosesnya, elit se$ara top !o"n membuat kebijakan politik untuk diimplementasikan oleh administrator publik kepada rakyat atau massa 2da dua penilaian dalam pendekatan ini, ne#atif dan positif Pandang negati" mengemukakan bahwa dalam sistem politik, pemegang kekuasaan politiklah yang akan menyelenggarakan kekuasaan sesuai dengan selera dan keinginannya Pandangan positi" melihat bahwa seorang elit menduduki pun$ak kekuasaan karena berhasil memenangkan gagasan membawa negara% bangsa ke kondisi yang lebih baik dibandingkan dengan pesaingnya ; Teori =asionalisme Teori ini mengedepankan gagasan bahwa kebijakan publik sebagai ma0imum so ial #ain, yang berarti pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus memilih kebijakan yang memberikan man"aat yang optimum bagi masyarakat Teori ini mengatakan bahwa proses "ormulasi kebijakan haruslah didasarkan pada keputusan yang sudah di perhitungkan rasionalitasnya ;

=asionalitas yang diambil adalah perbandingan antara pengorbanan dan hasil yang di$apai !engan kata lain, teori ini lebih menekankan pada aspek e"isiensi atau aspek ekonomis ?ara% $ara "ormulasi kebijakan disusun dalam urutan (a) mengetahui pre"erensi publik dan ke$enderungannya( (b) menemukan pilihan%pilihan( ($) menilai konsekuensi masing%masing pilihan( (d) menilai rasio nilai sosial yang dikorbankan( dan (e) memilih alternati" kebijakan yang paling e"isien Teori rasional ini juga dikenal dengan teori @rasional komprehensi" (=K)A, yang unsur%unsurnya tidak jauh berbeda dengan teori rasional 8 Teori >nkrementalis Teori inkrementalis merupakan kritik terhadap teori rasional Teori ini melihat kebijakan publik merupakan variasi ataupun kelanjutan dari kebijakan di masa lalu Teori ini dapat dikatakan sebagai teori pragmatis/praktis Pendekatan ini diambil ketika pengambil kebijakan berhadapan dengan keterbatasan waktu, ketersediaan in"ormasi, dan ke$ukupan dana untuk melakukan evaluasi kebijakan se$ara komprehensi" >nti kebijakan inkrementalis adalah berusaha mempertahankan komitmen kebijakan di masa lalu untuk mempertahankan kinerja yang telah di$apai B Teori Pengamatan Terpadu (Mi0e!,' anin#) Teori ini merupakan upaya menggabungkan antara teori rasional dengan teori inkremental Teori pengamatan terpadu adalah sebagai suatu pendekatan terhadap "ormulasi keputusan%keputusan pokok dan inkremental, menetapkan proses%proses "ormulasi kebijakan pokok dan urusan tinggi yang menentukan petunjuk%petunjuk dasar, proses%proses yang mempersiapkan keputusan%keputusan pokok, dan menjalankannya setelah keputusan itu ter$apai Pada dasarnya, teori ini adalah teori yang amat menyederhanakan masalah 7 Teori !emokratis Teori ini dapat dikatakan sebagai @teori demokratisA karena menghendaki agar setiap @pemilik hak demokrasiA diikutsertakan sebanyak%banyaknya Kaitannya dengan implementasi #oo! #overnan e, dalam pembuatan kebijakan, para konstituten dan peman"aat (benefi iaries+ diakomodasi keberadaannya Teori yang dekat dengan teori @pilihan publikA ini baik, tetapi kurang e"ekti" dalam mengatasi masalah%masalah yang kritis, darurat, dan dalam kalangan sumber daya Namun, jika dapat dilaksanakan teori ini sangat e"ekti" dalam implementasinya, karena setiap pihak mempunyai kewajiban untuk ikut serta men$apai keberhasilan kebijakan, karena setiap pihak bertanggung jawab atas kebijakan yang dirumuskan 6 Teori Strategi Teori ini menggunakan rumusan runtutan perumusan strategi sebagai basis perumusan kebijakan Peren$anaan strategis lebih mem"okuskan kepada pengidenti"ikasian dan 8

peme$ahan isu%isu, lebih menekankan kepada penilaian terhadap lingkungan di luar dan di dalam organisasi, dan berorientasi pada tindakan Proses perumusan strategis sendiri disusun dalam langkah%langkah (a) memprakarsai dan menyepakati proses peren$anaan strategis( (b) memahami man"aat proses peren$anaan strategis, mengembangkan kesepakatan awal( ($) merumuskan panduan proses( (d) memperjelas mandat dan misi organisasi, yang meliputi kegiatan perumusan misi dan mandat organisasi( (e) menilai kekuatan dan kelemahan, peluang dan an$aman( (") mengidenti"ikasi isu strategi yang dihadapi organisasi( dan (g) merumuskan strategi untuk mengelola isu 'Teori Permainan Teori ini biasanya disebut teori konspiratif 1agasan pokok teori ini adalah, pertama, "ormulasi kebijakan berada dalam situasi kompetisi yang intensi", dan ke!ua, para aktor berada dalam situasi pilihan yang tidak in!epen!en ke !epen!en melainkan situasi pilihan yang sama% sama bebas atau in!epen!en Teori ini mendasarkan pada "ormulasi kebijakan yang rasional, tetapi dalam kondisi yang tingkat keberhasilan kebijakannya tidak lagi hanya ditentukan oleh aktor pembuat kebijakan, tetapi juga aktor%aktor lain Konsep kun$i dari teori permainan adalah strate#i, yang konsep kun$inya bukanlah yan# palin# optimum tetapi yan# palin# aman !ari seran#an la"an. +adi, konsep ini mempunyai tingkat konservati"itas yang tinggi, karena pada intinya adalah strategi !efensif >nti teori permainan yang terpenting adalah bahwa ia mengakomodasi kenyataan paling riil C negara, pemerintahan, masyarakat tidak hidup dalam kekosongan '' Teori Pilihan Publik Teori kebijakan ini melihat kebijakan sebagai sebuah "ormulasi keputusan kolekti" dari individu%individu yang berkepentingan atas keputusan tersebut Kebijakan ini berakar dari teori ekonomi pilihan publik (e onomi of publi hoi e) yang mengandaikan bahwa manusia adalah homo e onomi us yang memiliki kepentingan%kepentingan yang harus dipuaskan Prinsipnya adalah buyer meet seller% supply meet !eman!. >ntinya, setiap kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah harus merupakan pilihan dari publik yang menjadi pengguna (benefi iaries atau onsumer) ') Teori Sistem !alam pendekatan ini dikenal tiga komponen, yaitu input, proses, dan output Salah satu kelemahan dari pendekatan ini adalah terpusatnya perhatian pada tindakan%tindakan yang dilakukan pemerintah, dan pada akhirnya kita kehilangan perhatian pada apa yang tidak pernah dilakukan pemerintah +adi, "ormulasi kebijakan publik dengan teori sistem mengandaikan bahwa kebijakan merupakan hasil atau output dari sistem politik B

'*

Teori !eliberati" Teori deliberati" atau @musyawarahA dikembangkan oleh &aarten #ajer dan #enderik

0agenaar ()--*) Peran pemerintah dalam teori ini tidak lebih sebagai legalisator dari @kehendak publikA 2dapun peran analisis kebijakan adalah sebagai prosesor dalam proses dialog publik agar menghasilkan keputusan publik untuk dijadikan sebagai kebijakan publik & Metode Penelitian Sesuai dengan tujuan, penelitian ini merupakan jenis penelitian kebijakan, yang men$akup empat aspek utama yaitu bentuk kebijakan, implementasi kebijakan, kinerja kebijakan, dan lingkungan kebijakan (Tilaar , Nugroho, )--7) Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Sumbawa Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun )-'- dengan lama penelitian delapan bulan, yaitu dari 2pril hingga !esember )-'( & Sumber +ata Se$ara umum sumber data penelitian ini adalah keseluruhan pelaku pendidikan di KSB, yaitu Bappeda KSB, !inas Pendidikan Pemuda dan Dlahraga, sekolah pada setiap jenjang termasuk perguruan tinggi yang merasakan dan berpendapat tentang kebijakan dan program pendidikan di KSB Pengambilan sampel menggunakan purposive samplin#, dengan sumber data (') in"orman awal, dipilih se$ara purposive yang menguasai obyek kajian ini (key informan)( ()) dokumen, yaitu dokumen yang memuat in"ormasi tertulis terkait dengan kebijakan publik pendidikan di KSB( dan (*) tempat dan peristiwa sebagai sumber data tambahan dilakukan melalui observasi langsung terhadap peristiwa implementasi kebijakan pendidikan di KSB & ( Metode Pengumpulan +ata Sesuai dengan jenis sumber data, maka pengumpulan data menggunakan metode (') Dbservasi( ()) wawan$ara se$ara mendalam (in,!ept intervie")( dan (*) dokumentasi <ntuk menjamin keabsahan data, ada beberapa kriteria yang digunakan dalam penelitian ini sebagaimana yang disarankan oleh Nasution ('677) yaitu9 (') kredibilitas, ()) trans"erabilitas, (*) dependabilitas, dan (:) kon"irmabilitas & , Teknik -nalisis +ata !ata diperoleh, dianalisis dengan menggunakan model analisis interakti" (&iles dan #uberman '67:), yang mengikuti tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan

( $ )enis, Setting, dan *aktu Penelitian

simpulan !ata yang telah dikumpulkan direduksi, dirangkum, dan kemudian dipilah%pilah hal yang pokok, di"okuskan untuk dipilih yang terpenting kemudian di$ari tema atau polanya !ata yang telah dipilah kemudian disederhanakan, dan data yang tidak diperlukan disortir agar memberi kemudahan dalam penampilan, penyajian, serta untuk menarik kesimpulan sementara !ata%data tersebut kemudian dipilah dan disisikan untuk disortir menurut kelompoknya dan disusun sesuai dengan kategori yang sejenis untuk ditampilkan agar selaras dengan permasalahan yang dihadapi, termasuk rumusan sementara yang diperoleh pada tahap direduksi Penarikan simpulan dilakukan melalui kategori%kategori data yang telah direduksi dan disajikan untuk menjawab masalah penelitian ( !asil dan Pembahasan Sesuai dengan tujuan penelitian, pada bagian ini akan diuraikan tentang bentuk kebijakan, implementasi kebijakan, proses kebijakan, kinerja kebijakan bidang pendidikan, dan alternati" rekomendasi tentang kebijakan pendidikan mendatang di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) , $ Bentuk Kebijakan Pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat Kabupaten Sumbawa Barat merupakan salah satu kabupaten termuda setelah Kabupaten .ombok <tara di Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang terletak di bagian barat Pulau Sumbawa dengan jumlah penduduk ''6 ;)7 jiwa Se$ara geogra"is Kabupaten Sumbawa Barat terletak pada posisi ''8A-;E sampai dengan ''BA-;E BT dan -7A*-E sampai dengan -6A-BE .S dengan batas, sebelah timur dan utara berbatasan dengan Kabupaten Sumbawa( sebelah barat berbatasan dengan Selat 2las( dan sebelah selatan berbatasan dengan Samudera >ndonesia Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, terdapat beberapa kebijakan pemerintah KSB yang memiliki arti strategis bagi pembangunan pendidikan Faitu, pertama, kebijakan Pen$anangan Program 0ajib Belajar ') Tahun Kebijakan ini diikuti dengan kebijakan pendidikan gratis dan peran$angan peraturan daerah tentang wajib belajar ') tahun <ntuk mendukung kebijakan ini, !inas !ikpora KSB telah memetakan anak%anak tidak dan putus sekolah usia wajib belajar 6 tahun pada tahun )--B Pada tahun )--7, dilakukan penuntasan wajib belajar 6 tahun sehingga anak yang tidak dan putus sekolah mampu diturunkan dari ;86 orang menjadi )-; orang .alu, pada tahun )--6 dilakukan pemetaan terhadap anak tidak dan putus usia wajib belajar ') tahun Ke!ua, Program Subsidi Pendidikan 1ratis dari semua jenjang dan jenis pendidikan termasuk Perguruan Tinggi Program ini digulirkan oleh Pemerintah KSB dengan berlandaskan pada peraturan bupati yang memiliki kekuatan hukum 6

tetap Kaitan dengan program ini, Pemerintah KSB memberikan bantuan dalam bentuk subsidi kepada sekolah dan perguruan tinggi dengan besaran yang berbeda tiap jenjang pendidikan yang pola pemberiannya analog dengan Bantuan Dperasional Sekolah (BDS) Se$ara kuantitati" jumlah subsidi yang diberikan oleh Pemerintah KSB sedikit lebih tinggi dari BDS Kebijakan ini diimplementasikan tanpa ada panduan teknis yang dapat menuntun pihak%pihak yang menjadi sasaran kebijakan Keti#a, Kebijakan Pemberian Bantuan atau Beasiswa bagi guru, sta", dan pegawai pemerintah untuk melanjutkan studi Kaitan dengan program ini, Pemerintah KSB melakukan kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi di luar KSB Keempat, pengalokasian dana pendidikan melampaui )-G dari 2PB! KSB #al ini men$erminkan bahwa adanya komitmen pemda dalam pembangunan pendidikan 2pabila dilihat dari aspek ketepatannya, kebijakan bidang pendidikan di KSB dapat dijelaskan sebagai berikut Pertama% dari sisi waktu, kebijakan pemerintah KSB termasuk pembebasan biaya pendidikan sesuai amanat <ndang%<ndang Nomor )- Tahun )--*, Peraturan Pemerintah Nomor '6 Tahun )--;, dan Permendiknas Nomor )* Tahun )--8 Ke!ua% aspek pen$apaian, KSB telah mampu menargetkan wajib belajar ') tahun di atas target nasional wajib belajar 6 tahun !apat dikatakan bahwa kebijakan pendidikan KSB berada !i !epan kebijakan pendidikan nasional >ndonesia tetapi tetap berada pada koridor kebijakan pendidikan yang ada &en$ermati kebijakan pendidikan di atas, KSB memilih pola @negara kesejahteraanA, yaitu negara menanggung kebutuhan sosial dari rakyat dari pada menyerahkan pada mekanisme pasar atau swasta Kebijakan ini sejiwa dengan <<! '6:; pasal *' 2nalisis terhadap bentuk kebijakan menemukan bentuk kombinasi dari proses perumusan kebijakan pendidikan di KSB yaitu model elit, model rasional, dan pilihan publik !ikatakan demikian, karena publik pada dasarnya tidak dilibatkan se$ara e"ekti" dalam proses perumusan kebijakan Salah satu alasannya adalah karena kesenjangan kemampuan berpikir antara elit dengan rakyat !ikatakan menggunakan model rasional, karena prinsip%prinsip dasar yang digunakan adalah prinsip e"isiensi untuk men$apai hasil yang maksimal !ikatakan menggunakan model pilihan publik, karena kebijakan pendidikan yang dirumuskan oleh elit se$ara rasional tersebut menga$u pada pilihan utama dari rakyat (masyarakat KSB) , & .mplementasi Kebijakan !alam mengimplementasikan kebijakan bidang pendidikan, pada prinsip Pemerintah KSB memiliki strategi, yaitu (') strategi kelembagaan, ()) strategi anggaran, dan (*) manajemen sekolah Pada tataran kelembagaan, !inas Pendidikan, Pemuda, dan Dlahraga

'-

(!ikpora) KSB yang bertanggung jawab pada sektor pendidikan telah menetapkan visi @Terwujudnya >nsan yang <nggul dan Kompetiti" melalui Pelayanan Pendidikan Berkualitas dan BerkelanjutanA <ntuk mewujudkan visi tersebut, ditetapkan enam "okus program pendidikan, yaitu (a) meningkatkan kuali"ikasi pendidik dan tenaga kependidikan( (b) meningkatkan partisipasi masyarakat di bidang pendidikan( ($) membangun komitmen penyelenggara pendidikan( (d) menyediakan sarana prasarana pendidikan yang re"resentati"( (e) meningkatkan e"ektivitas, e"isiensi, dan relevansi layanan pendidikan( dan (") meningkatkan dana pengembangan pendidikan Se$ara garis besar ada beberapa langkah implementasi kebijakan pendidikan KSB Faitu, pertama, memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang seluas%luasnya (aspek pemerataan dan perluasan akses) melalui (a) Pembangunan dan =evitalisasi Sarana dan Prasarana Pendidikan Program ini dimaksudkan untuk memperluas akses, meningkatkan angka partisipasi, mengurangi angka putus sekolah, angka mengulang, mengidealkan rasio siswa per sekolah, rasio siswa per ruang kelas, pemerataan distribusi sekolah, meminimalkan buta aksara, pemerataan distribusi program kesetaraan, distribusi oganisasi pemuda dan olahraga( (b) Pemberian Beasiswa dan Sejenisnya Program ini dimaksudkan untuk men$egah dan mengurangi angka putus sekolah terutama yang disebabkan karena "aktor ekonomi maupun karena jarak tempat tinggal anak dengan sekolah sekolah yang jauh( ($) Sosialisasi dan Kampanye Pendidikan Program ini dimaksudkan masyarakat dan pihak%pihak yang berkepentingan dapat mengakses segala in"ormasi dan kebijakan yang berkaitan dengan bidang pendidikan sehingga masyarakat dan pihak yang berkepentingan dapat berpartisipasi menyukseskan program pendidikan( (d) Pengkajian dan Penelitian Pendidikan Program ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang kondisi pendidikan yang ter$akup dalam aspek pemerataan kesempatan dan perluasan akses sehingga dapat diman"aatkan untuk merumuskan kebijakan/program bidang pendidikan se$ara berkelanjutan( (e) Pendidikan Kesetaraan yang dimaksudkan memudahkan masyarakat dalam mengakses pendidikan yang diwajibkan pemerintah atau agar anak usia sekolah atau warga yang belum mengenyam pendidikan yang diwajibkan dapat mengikuti program pendidikan kesetaraan yang disebabkan ketidakterjangkauannya memperluas wawasan oleh lembaga pendidikan "ormal( (") Program Seminar, 0orkshop/.okarkarya, dan Pelatihan, yang dimaksudkan untuk mendapatkan pandangan dan tentang penyelenggaraan pendidikan yang ter$akup dalam aspek pemerataan kesempatan dan perluasan akses Ke!ua, peningkatan mutu pendidikan yang memiliki relevansi dan daya saing sesuai dengan kebutuhan masyarakat KSB melalui beberapa bentuk programnya (a) Peningkatan ''

&utu 1uru baik melalui pemberian beasiswa, pelatihan/workshop, peningkatan kuali"ikasi pendidikan, maupun peningkatan prestasi melalui lomba atau sayembara Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan mutu guru sehingga dapat melaksanakan tugas pokok (terutama pembelajaran) se$ara pro"esional( (b) peningkatan mutu dan prestasi siswa, seperti peningkatan nilai ujian akhir sekolah maupun ujian nasional, pengayaan mata pelajaran, lomba karya ilmiah remaja, olimpide sains, dan sejenisnya( ($) Pemberian Penghargaan dan Beasiswa Prestasi Program ini dimaksudkan untuk memberikan penghargaan terhadap anak didik atau siswa yang berprestasi sekolah atau yang memenangkan berbagai perlombaan baik di tingkat kabupaten maupun luar daerah( (d) Pembangunan dan Pengadaan Sarana Penunjang Pendidikan Program ini dimaksudkan untuk melengkapi sejumlah sarana prasarana penunjang sekolah dalam kaitannya dengan proses peningkatan mutu pendidikan seperti perpustakaan sekolah, laboratorium, unit kesehatan sekolah, sarana olahraga, dan sebagainya( (e) Penelitian dan Pengkajian &utu Pendidikan( dan (") perintisan sekolah bertara" nasional dan internasional Keti#a, penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan pen$itraan publik Strategi yang dilakukan adalah dengan meningkatkan e"esiensi kelembagaan dengan melakukan penggabungan antardinas, bukan dengan strategi kelembagaan, bukan memperbesar lembaga dinas pendidikan di tingkat daerah !inas pendidikan digabung dengan kantor pemuda, dan olah raga, membentuk dinas pendidikan, pemuda, dan olahraga (!ikpora) 2da beberapa penjabaran program yang termasuk dalam aspek ini, yaitu (a) Program Peningkatan Kapasitas Pendidikan, men$akup9 men$akup program pendidikan dan pelatihan( Program pembangunan dan pengadaan sarana kantor( Program Peningkatan Kapasitas Penunjang Pelaksana Pendidikan( dan Program perekrutan pegawai dan tenaga teknis (b) Program Penelitian dan Pengkajian Kapasitas Kelembagaan 5aktor yang penting dalam melakukan kebijakan adalah ketersediaan anggaran Pada tahun )--:, tidak ditemukan alokasi anggaran pendidikan untuk mensubsidi siswa mulai jenjang pendidikan dasar hingga sekolah menengah di KSB Tahun )--;, terdapat mata anggaran yang spesi"ik merujuk pada biaya pendidikan sebesar =p )B **; milyar, (termasuk belanja pegawai dengan persentase nongaji adalah * ;)G) Pada tahun )--8, terjadi peningkatan jumlah anggaran pendidikan untuk nongaji sebesar 7 -;G sejumlah 8' 8:* miliar Tahun )--B, jumlah anggaran pendidikan men$apai B' 6); miliar dengan persentase nongaji men$apai 7 -7G Selanjutnya, )--7 subsidi pendidikan meningkat menjadi B: :6* milyar dengan persentase 'B 7-G &eskipun se$ara persentase menurun namun jumlah anggaran melewati anggaran pada tahun sebelumnya dengan alokasi untuk nongaji men$apai 7 -7G ')

Kebijakan pendidikan di KSB bertujuan untuk meratakan pendidikan yang diikuti dengan peningkatan mutu pendidikan Strategi anggaran pendidikan KSB adalah meningkatkan e"isiensi penggunaan anggaran Pendekatan ini dilakukan untuk mengantisipasi operasional kebijakan pendidikan gratis dan wajib belajar ') tahun, meskipun dilihat dari jumlah sudah melampui persentase sebagaimana amanat undang%undang sisdiknas &aka, implementasi kebijakan dengan tujuan pemerataan pendidikan bagi masyarakat dapat di$apai dengan $ara e"isiensi, dalam bentuk subdisi silang !engan demikian, wa$ana tentang minimum anggaran pendidikan )-G mempunyai relevansi yang terbatas berkenaan dengan keberhasilan kebijakan pendidikan jika dilihat dari pos anggaran di luar gaji Keterbatasan relevansi tersebut juga berkenaan dengan sebagai berikut a Ketidakjelasan, apakah anggaran )-G tersebut merupakan anggaran bagi lembaga yang memayungi penyelenggaraan pendidikan Ketidakjelasan ini berimplikasi pada makna @pendidikanA itu sendiri dalam konteks kelembagaan pembangunan b Ketidakjelasan, apakah anggaran )-G tersebut merupakan jaminan keberhasilan kinerja kebijakan pendidikan, ataukah hanya sebagai indikator simbolik bahwa kebijakan pendidikan telah berkinerja $ Ketidakjelasan, apakah yang paling penting pen$apaian kinerja kebijakan pendidikan se$ara maksimal dengan biaya yang mungkin tersedia, atau minimal men$apai )-G, atau kurang !itemukan bahwa KSB $enderung "okus pada output daripada input. Praktik ini sesuai dengan pemikiran ?hristopher Pollit, +ohnson Bir$hall, dan Keith Putman yang memahami desentralisasi sebagai sebuah upaya yang bersi"at ekonomis% yaitu minimalisasi biaya dari sumberdaya yang ada dengan meningkatkan hasil atau kinerja !ru$ker juga berpendapat bahwa KSB menerapkan mana#in# for result% dan dia juga menegaskan bahwa A2 for mana#ement has to mana#e. 3n! mana#in# is not 1ust passive% a!apte! behavior% it mean takin# a tion to make !esire! results ome to pass4. !alam kerangka pemikiran reinventin# #overnment% pendekatan yang berorientasi pada output dikatakan oleh !avid Dsborne dan Peter Plastrik sebagai salah satu $iri dari pemerintahan yang melaksanakan reinventin# #overnment. !alam konteks administrasi publik, pendekatan yang digunakan oleh KSB dapat dikelompokkan ke dalam aliran *e" Publi Mana#ement (NP&), yang pada prinsipnya memindahkan "okus dari penyelenggaraan administrasi publik dari proses menuju hasil !engan menggunakan perspekti" NP&, kesulitan anggaran tidak diatasi dengan $ara ekspansi anggaran, melainkan dengan e"isiensi pengelolaan pendidikan, yang termasuk di dalamnya '*

pembiayaan pendidikan dan rekonstruksi organisasi sekolah dan dinas yang membawahi pendidikan 2nthony +ay yang mengatakan bahwa negara dan korporasi pada hakikatnya adalah sama, yaitu mendayagunakan setiap sumber daya se$ara optimal >mplementasi kebijakan pada tingkat manajemen sekolah dilakukan dengan beberapa strategi Pertama% pola e"isiensi Ke!ua% mengembangkan manajemen khusus pada beberapa sekolah sebagai pilot pro1e t Proses pembelajaran di sekolah ini dititikberatkan pada pengembangan pembelajaran yang mengarah pada aktivitas belajar siswa Pada sekolah ini, diterapkan tata kelola yang baik dengan meningkatkan akuntabilitas manajemen sekolah melalui pengembangan transparansi dan kemampuan manajerial kepala sekolah Temuan di salah satu sekolah dasar, yaitu S!N !asan, misalnya menunjukkan bahwa transparansi dilaksanakan se$ara maksimal Keti#a% memberikan insenti" khusus kepada guru Keempat% peningkatan kapasitas guru%guru pengajar dan manajer%manajer sekolah !i KSB diterapkan program peningkatan kapasitas guru se$ara reguler dan berkesinambungan Kelima% pemda memberikan dukungan anggaran bagi peningkatan kualitas tenaga pengajar, berupa dukungan pembiayaan untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi Keenam% setiap tahun bahkan hampir setiap bulan diberikan pelatihan atau workshop untuk meningkatkan kapasitas tenaga kependidikan Ketu1uh, se$ara jenjang karier, guru berkesempatan untuk dipromosikan menjadi kepala sekola atau jabatan lainnya dengan tetap menga$u pada kinerja dan prestasi <raian di atas mengindikasikan bahwa model kelembagaan dari implementasi kebijakan pendidikan di KSB bersi"at khas Salah satu pendekatan implementasi kebijakan yang dapat dipergunakan adalah model &atriks 2mbiguitas%Kon"lik yang dikembangkan oleh &atland /ambar & Matriks0-mbiguitas0Kon1lik .mplementasi Kebijakan Model Matland Kon"lik =endah =endah 2mbiguitas Tinggi 3ksperientasi Simbolik 2dministrati" Tinggi Politik

':

&en$ermati pemikiran tentang implementasi kebijakan yang dipaparkan di atas, KSB melakukan sejumlah modi"ikasi dalam implementasi kebijakan baik dalam konteks menyesuaikan dengan kondisi lingkungan kebijakan maupun dalam memastikan bahwa kinerja kebijakan dapat di$apai sebagaimana target yang sudah ditetapkan , ( Proses Kebijakan 2nalisis terhadap proses kebijakan pendidikan, ditemukan bahwa proses kebijakan berbeda dengan yang dikenal pada kepustakaan kebijakan publik Kebijakan pembebasan biaya sekolah bagi siswa sekolah di KSB, tidak ditemukan kebijakan dalam bentuk peraturan legal "ormal seperti perda untuk dijadikan sebagai dasar hukum yang bersi"at "ormal Prinsipnya, sejak awal pemerintahan KSB, bupati memerintahkan agar setiap sekolah negeri di KSB tidak boleh memungut biaya pendidikan #al yang sama terjadi pada kebijakan pemberian beasiswa untuk siswa yang kurang mampu dan berprestasi Salah satu penyebab yang paling kuat adalah model kebijakan adalah melakukan trial out dengan $ara melakukan implementasi se ara lan#sun# tanpa melalui keran#ka kebi1akan% sambil !ikontrol !en#an ketat% setelah berhasil% baru kemu!ian !ilemba#akan !alam bentuk kebi1akan publik. Temuan lapangan ini merupakan penyimpangan dari model proses kebijakan publik ideal, yang laHimnya berjalan se$ara berurutan dari rumusan kebijakan, implementasi kebijakan, untuk menuju pada kinerja kebijakan seperti tertuang dalam bagan * berikut Bagan ( Proses Kebijakan Proses Kebijakan Proses Politik

3valuasi Kebijakan

>su kebijakan (agenda Pemerintahan) >nput

5ormulasi Kebijakan

>mpleme ntasi kebijakan Proses .ingkungan Kebijakan

Kinerja Kebijakan

Dutput

&odel proses kebijakan ini berbeda dengan KSB dengan menerapkan gagasan menjadi kebijakan langsung kepada implementasi kebijakan yang diikuti oleh dengan pelembagaan dalam bentuk perumusan kebijakan Sehingga proses kebijakan diselenggarakan di KSB ';

berlainan dengan teori yang ada &odi"ikasi kebijakan dilaksanakan dengan mengubah sekuensi dari proses politik, menjadi kebijakan, dan kemudian di$apai kinerja kebijakan, menjadi proses politik, langsung kepada kinerja kebijakan &odel proses kebijakan publik pendidikan KSB mempunyai kelebihan dan kelemahan Kelebihannya adalah mempunyai e"ektivitas dan e"isiensi yang relati" tinggi, yang dibuktikan dengan pen$apaian kinerja yang baik, tanpa ada kon"lik yang tinggi, dan didukung oleh sebagian besar publik Kelemahan utama dari model ini adalah tidak mudah untuk direplikasi di tempat lain, maupun di tempat yang sama dengan waktu yang lain, karena prosesnya memerlukan intervensi yang kuat dari pimpinan daerah yang kompeten dan berkomitmen Kelemahan lain adalah, keberhasilan kebijakan publik pendidikan KSB tergantung kepala daerah sehingga kesinambungan kinerja kebijakan lebih tergantung kepada person institusi , , Kinerja Kebijakan Pendidikan KSB Kinerja kebijakan pendidikan KSB dilihat dari indikator%indikator "ormal yang dikembangkan oleh pemerintah se$ara nasional, yaitu9 2ngka Partisipasi Kasar (2PK), 2ngka Partisipasi &urni (2P&), 2ngka Putus sekolah (2PS) atau !rop out (!D)% tingkat melanjutkan, dan kelulusan ' 2ngka Partisipasi Kasar (2PK) dan 2ngka Partisipasi &urni (2P&) 2ngka Partisipasi Kasar (2PK) adalah persentase jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu dibandingkan dengan penduduk kelompok usia sekolah Kegunaan 2PK adalah untuk mengetahui banyaknya usia anak sekolah yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan Selanjutnya, 2ngka Partisipasi &urni (2P&) adalah persentase jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu dibandingkan dengan penduduk kelompok usia sekolah !ata tahun )--7 menunjukkan terjadinya peningkatan kinerja kebijakan dilihat dari 2PK dan 2P& <ntuk lebih jelas perhatikan tabel ' di bawah ini Tabel $ -ngka Partisipasi Kasar dan Murni Per )enjang Pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat T-!2N )--;/)--8 )--8/)--B )--B/)--7 TK3'S+3M. -PK -PM -PK -PM *',8: );,)6 ''*,;; 67,;* *:,8B **,;* '':,-) 67,6:',)6 *;,B; '';,'6 '--,-SMP3MTs SM-3M-3SMK -PK -PM -PK -PM 78,7- B6,*7 8B,;B :B,7; 6-,6B 7),;- B-,;6 8',8B 68,67 7B,6) B7,6* B),7:

Sumber# Pen#olahan Data Profil Pen!i!ikan K'5 6778

'8

2ngka Putus sekolah (2PS) atau Drop out 2ngka Putus Sekolah (2PS) atau angka !rop out adalah persentase siswa yang

meninggalkan sekolah sebelum lulus pada jenjang pendidikan tertentu Kegunaaanya adalah untuk mengetahui banyaknya siswa yang putus sekolah di suatu daerah Sesuai Keputusan &enteri No ')6a/</)--: tentang Standar Pelayanan &inimal Bidang Pendidikan bahwa untuk pendidikan dasar, 2PS tidak boleh melebihi 'G dari jumlah siswa yang bersekolah (pasal * (') (b)) <ntuk tingkat sekolah menengah pertama, 2PS tidak boleh melebihi 'G dari jumlah siswa yang bersekolah (pasal * ()) (b)) <ntuk sekolah menengah atas, 2PS tidak boleh melebihi 'G dari jumlah siswa yang bersekolah !ata )--7, 2PS KSB sudah melampaui SP& nasional #al ini menunjukkan kinerja kebijakan publik bidang pendidikan sudah ter$apai <ntuk lebih jelas perhatikan tabel ) di bawah ini Tabel & -ngka Putus Sekolah di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun )--;/)--8 )--8/)--B )--B/)--7 -PS S+3M. ' )- 67 - B8 $ 44 SMP3MTs ' '; - B; - 8: $ 44 SM-3SMK3M' -) - 76 - B) $ 44

Sumber# Pen#olahan Data Profil Pen!i!ikan K'5 6779 * Tingkat Kelulusan dan 2ngka &elanjutkan =ata%rata nilai kelulusan siswa apabila diukur dari hasil yang diperoleh dari ujian akhir di KSB mengalami peningkatan #al ini ditunjukkan bahwa ujian akhir nasional (<2N) pada tahun )--B, rata%rata nilai kelulusan untuk S!/&> men$apai 8,8B sedangkan S&P/&Ts dan S&2/&2/S&K masing%masing rata%rata ;,'' dan ;,;) dan ketiganya memenuhi angka standar nasional Tetapi pada tahun )--7 terjadi penurunan tingkat kelulusan untuk S&P/&Ts dan S&2/&2/S&K, hingga menempati posisi terendah dari sembilan kabupaten/kota di NTB, bahkan berada di bawah angka rata%rata se$ara nasional 7- B8G Berbeda dengan tingkat S!/&> justru mengalami peningkatan, yaitu men$apai 66 76G Kondisi ini men$erminkan kinerja kebijakan pada aspek tingkat kelulusan tidak men$apai target sesuai dengan ren$ana kebijakan Berkenaan dengan penilaian tingkat melanjutkan (sekolah), sejak tahun )--8, terjadi peningkatan peserta didik yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi #al ini terjadi sebagai hasil kebijakan wajib belajar ') tahun, subsidi pendidikan gratis, dan pemberian beasiswa untuk melanjutkan studi

'B

!ari temuan ini dapat dikatakan, kemajuan pembangunan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh "aktor kaya%miskin dari suatu daerah, melainkan oleh kemampuan daerah mengelola sumber daya yang ada 2pabila #!> dikembalikan pada konsep dasarnya, yaitu membangun kualitas kehidupan masyarakat maka pembangunan pendidikan di KSB telah mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat KSB &engikuti pemikiran Tilaar, kebijakan pendidikan KSB menga$u pada paradigma pendidikan modern yang dari sisi ekonomi, epistemanya adalah investasi S!& untuk membangun e"isiensi dan kemampuan bersaing( dari sisi politik epistemanya adalah membangun politik kewarganegaraan, individu ditrans"ormasikan dari politik individu dan komunal menjadi politik kewarganegaraan dan pengembangan demokrasi( dari sisi sosial budaya, epiteminya adalah pengembangan manusia yang mempunyai kohesi sosial yang tinggi, modal sosial dalam bentuk rasa saling per$aya, dan dalam bentuk kultural berbentuk penguatan nilai%nilai budaya setempat( dan dari sisi pedagogis memandang anak dalam masyarakat, dan bukan anak dikeluarkan dari masyarakat : ; 'ekomendasi -lternati1 Kebijakan Pertama, elit lebih banyak sebagai inisiator utama kebijakan, maka dipandang perlu untuk mengakti"kan mekanisme perumusan kebijakan dengan meman"aatkan saluran in"ormasi yang dimulai dari simpul masyarakat terke$il hingga pada level &3P (&anajemen 3ksekuti" Pun$ak) di !inas !ikpora KSB <ntuk itu perlu membentuk Poli y :entre yang melibatkan berbagai pihak Kehadiran poli y entre tidak berarti akan mengambil alih tugas dan "ungsi birokrat (elit), tetapi keduanya (elit dan masyarakat) dapat dikoordinasikan sebagai unit%unit di bawah kewenangan Bupati/Kepala !inas untuk mensuplai kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan Poli y :entre, harus didukung oleh tenaga pro"esional yang memahami siklus kebijakan publik dan tata alir in"ormasi, dan teknik peme$ahan masalah di bidang pendidikan #al ini dimaksudkan untuk9 a) lebih menguatkan masyarakat dalam melakukan bar#ainin# dengan !inas !ikpora menyangkut pemenuhan kebutuhannya( b) mensuplai bahan kebijakan ke pusat kebijakan di tingkat Pemerintah KSB( $) meningkatkan keakurasian kebijakan pendidikan untuk masyarakat KSB Ke!ua, mendorong penguatan institusi kemitraan di bidang pendidikan, misalnya Pusat Pengembangan dan Pengendalian &utu Pendidikan >nstitusi ini diberi ruang kontrol yang memadai terhadap penetapan kebijakan dan strategi pendidikan dan diberi akses dalam mempengaruhi kebijakan mengenai9 anggaran, guru, in"rastruktur, dan lainnya #al ini '7

dipandang penting sebagai pengimbang "ormal jika dapat diregulasi dalam bentuk Peraturan Bupati di KSB Keti#a, pemetaan kondisi pendidikan se$ara obyekti" dan berkesinambungan per tahun yang dapat men$erminkan kon"igurasi animo masyarakat dan kesiapan institusi pendidikan serta penataan dan strukturisasi hubungan kerja antar dan inter institusi pendidikan di dalam birokrasi pendidikan dan sekolah%sekolah sehingga menjadi jelas <ntuk itu, maka di tingkat !inas !ikpora perlu dibentuk ?oP? (:oor!ination of Poli y :entre) dengan sistem kerja yang diadopsi dari S2&S2T (Sistem 2dministrasi &anunggal Satu 2tap) Keempat, melalui mekanisme umpan balik, perlu dilakukan reorientasi kebijakan pendidikan yang nyata%nyata tidak memiliki nilai responsivitas memadai, dengan memperhatikan aspek%aspek keadilan dan transparansi , Simpulan dan Saran Berdasarkan bahasan di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan, yaitu sebagai berikut a b pemerataan $ Kebijakan pelayanan publik di bidang pendidikan di KSB men$erminkan kekhasan se$ara konseptual terutama dalam hal proses kebijakan >mplementasi kebijakan pendidikan di KSB men$akup ketiga pilar pembangunan pendidikan (pemerataan, mutu, dan tata kelola) yang di"okuskan pada aspek #al ini dapat di$ermati melalui "okus dan kategori program yang Proses perumusan kebijakan menemukan bentuk kombinasi dari proses perumusan kebijakan pendidikan model elit, model rasional, dan pilihan publik Proses kebijakan di KSB sangat khas se$ara teoritis, yaitu setelah penetapan gagasan, kebijakan langsung diimplementasikan diikuti dengan pelembagaan dalam bentuk perumusan kebijakan d beragam ; ) Saran Kinerja kebijakan pendidikan di KSB dilihat dari indikator "ormal yang dikembangkan oleh pemerintah se$ara nasional menunjukkan $apaian signi"ikan dan diimplementasikan

; ' Simpulan

'6

Kebijakan publik bidang pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat merupakan kebijakan strategis tidak hanya se$ara nasional tetapi juga implementati" yang bersi"at problem solvin# Se$ara nasional strategis karena telah menyentuh ketiga pilar tujuan pendidikan se$ara nasional Kebijakan pada aspek pemertaan kesempatan dan perluasan pendidikan di Kabupaten Sumbawa Barat juga memiliki arah pada aspek peningkatan mutu pendidikan dan penguatan tata kelola pendidikan ?apaian kebijakan di atas pada beberapa aspek kebijakan perlu deorientasi kebijakan dan beberapa aspek yang lain perlu dikontinuitaskan !engan kata lain pengubahan orientasi kebijakan publik bidang pendidikan di masa akan datang harus lebih diarahkan pada aspek peningkatan mutu dan penguatan tata kelola dengan tetap tidak meninggalkan aspek pemerataan kesempatan dan perluasan aspek pendidikan

+a1tar Pustaka Burhanuddin, dkk )--7 @Pro"il Pendidikan Kabupaten Sumbawa BaratA Taliwang9 Bappeda Sumbawa Barat !unn, 0 N )--- Publi Poli y 3nalysis: 3n Intro!u tion (Terjemahan S 0ibawa, dkk) Fogyakarta9 1ajah &ada <niversity Press !ye, T = '66) Un!erstan!in# Publi Poli y .ondon9 Prenti$e #all >n$ !ye, T = '66; Un!erstan!in# Publi Poli y% New +ersey9 Prenti$e #all 5irst, P 5 '67' E!u ation Poli y for ' hool 3!ministration Boston9 2llyn and Ba$on9 5I Sudarsono '66: Penelitian Evaluasi% Implementasi% !an Kebi1akan Fogyakarta9 .emlit >K>P Fogyakarta #ill, & , Peter # )--8 Implementin# Publi Poli y. .ondon9 Sage >sa$$, S , &i$hael, 0 B '67) ;an!book in (esear h an! Evaluation Sain !iego9 ? 2 3dits +alal, 5 , Supriadi, ! )--' (eformasi Pen!i!ikan !alam Konteks <tonomi Daerah Fogyakarta9 2di ?ita Kau"man = , Thomas, S '67) Evaluation &ithout Fear New Fork9 Points &atland, = 3 '66; @SyntesiHing the >mplementation .iterature9 The 2mbiguity%?on"li$t &odel o" Poli$y >mplementationA, =ournal of Publi 3!ministration (esear h an! $heory% ; &iles, & S , , #uberman, 2 & '67: >ualitative !ata analysis: 3 sour ebook of me" metho!e Baverly #ills9 Sage Publi$ations &uhadjir, N )--* Meto!olo#i Penelitian Kebi1akan !an Evaluation (esear h. Fogyakarta9 =ake Sarasin Stu""ebeam . , Shink"ield + '67; 'ystemati Evaluation Boston9 Kluwer Nijho"" Publishing Suharsimi 2rikunto '676 Mana1emen penelitian +akarta9 !epdikbud Supriyoko, )--) Konsep 5roa! 5ase! E!u ation dalam Kerangka &engembangkan Keterampilan #idup &asyarakat &akalah dalam Tilaar @Pen!i!ikan untuk Masyarakat In!onesia 5aruA +akarta9 1rasindo Tilaar, # 2 = , Nugroho, = )--7 Kebi1akan Pen!i!ikan: Pen#antar untuk Memahami Kebi1akan Pen!i!ikan !an Kebi1akan Pen!i!ikan seba#ai Kebi1akan Publik% Fogyakarta9 Pustaka Pelajar )-

Jamroni '666 Dampak Proyek terha!ap Penin#katan Mutu 'MU !alam jurnal pendidikan dan kebudayaan, !esember, tahun ke ; No -)- +akarta9 !epdiknas Jamroni )--- Para!i#ma pen!i!ikan masa !epan Fogyakarta9 B>1=25

)'