Anda di halaman 1dari 26

1

DALIL SYARAH YANG DIPERSELISIHKAN


ISTIHSAN DAN MASLAHAH MURSALAH

A. Istishan
Istihsan dalam bahasa, berasal dari kata dasar Hasana artinya baik atau indah,
maksudnya adalah sesuatu yang dianggap baik dan indah, seperti dalam Al-
Quran
1. Az Zumar: 17- 18, yaitu:
44g~-.- 4pONg4OEC 4O^-
4pON):+4O +O4L=O;O
Yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik
di antaranya.
2. Al- Araf: 145, yaitu:
ON`4 El4`O~ W-7O4C
Og+=O;O) _
Dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya)
dengan sebaik-baiknya.
3. Hadist Riwayat Imam Ahmad yaitu :


Segala sesuatu yang dianggap baik oleh orang-orang muslim, maka
di anggap suatu hal yang baik menurut Allah
Sedang Istihsan menurut istilah adalah
(


)
Istihsan adalah berpindah dari sesuatu hukum yang sudah diberikan
kepada sebandingnya ke hukum lain, lantaran adanya suatu sebab yang
dipandang lebih kuat atau lebih baik.
Dengan demikian , istihsan adalah pindahnya seorang mujtahid dari
tuntutan qiyas nyata ( jali ) kapada qiyas khafi ( samar ), atau dari dalil kully
kepada hukum tashhish lantaran adanya dalil yang menyebabkan mujtahid
mengalihkan hasil pemikirannya dan mementingkan perpindahan hukum.
Oleh sebab itu, jika ditemukan adanya kasus dari suatu kejadian yang
status hukumnya tidak ada, maka penyelesaiannya harus menggunakan dua
sisi yang konttradiktif, yaitu:
1. Dari sisi lahiriyyah yang dikehendaki adalah adanya kepastian hukum.
2. Dari sisi lain, yaitu sisi yang tidak tampak ( khafi ) menghendaki adanya
ketetapan hukum lain.
Dari kenyataan itu, pada diri mujtahid ada dalil yang dianggap lebih
mendahulukan sisi ketidaktampakan ( khafi ), sehingga ia berpindah kepada
sisi yang nyata ( jali/ lahiriyyah ). Begitu juga jika ada ketetapan hukum kulli
pada diri mujtahid, namun ia menghendaki adanya dalil juziy dari hukum
kully tersebut dan memberikan ketetapan hukum kepada juziynya. Maka hal
2

ini dalam syara dikenal dengan sebutan istihsan. Jadi, istihsan adalah
perpindahan penerapan suatu bentuk qiyas pada bentuk qiyas yang lebih kuat.


B. Pengertian mashlahah mursalah
Maslahah mursalah menurut lughat terdiri atas dua kata, yaitu maslahah dan
mursalah.Perpaduan dua kata menjadi marsalah mursalahyang berarti prinsip
kemaslahatan (kebaikan) yang dipergunakan menetapkan suatu hukum islam.
Juga dapat berarti, suatu perbuatan yang mengandung nilai baik (bermanfaat).
Menurut istilah ulama ushul ada bermacam-macam ta`rif yang diberikan di
antaranya :
1. Imam Ar-Razi mena`rifkan sebagai berikut: Maslahah ialah, perbuatan yang
bermanfaat yang telah diperintahkan oleh Musyarri` (Allah) kepada hamba-
Nya tentang pemeliharaan agamanya, jiwanya, akalnya, keturunannya dan
harta bendanya)
2. Imam Al-Ghazali mena`rifkan sebagai berikut: Maslahah pada dasarnya ialah
meraih manfaat dan menolak madarat
3. Menurut Muhammad Hasbi As-Siddiqi, maslahah ialah :Memelihara tujuan
syara dengan jalan menolak segala sesuatu yang merusakkan makhluk.
Mashlahatul mursalah yaitu memperoleh suatu hukum yang sesuai
menurut akal dipandang dari kebaikannya, sedangkan tidak diperoleh alasannya,
seperti seseorang menghukum terhadap sesuatu yang belum ada ketentuannya
oleh agama. Apakah perbuatan itu haram atau boleh. Maka hendaklah dipandang
kemudharatannya dan kemanfaatannya. Bila kemudharatannya lebih banyak dari
kemanfaatannya berarti perbuatan itu terlarang. Sebaliknya bila kemanfaatannya
lebih banyak dari kemudharatannya berarti perbuatan itu dibolehkan oleh agama,
karena agama membawa kepada kebaikan oleh sebab itu dikatakan oleh Ibnu
Taimiyyah:

Artinya: Hukum sesuatu adakah dia haram atau mubah, maka dilihat
dari segi kebiasaannya dan kebaikannya.
Mashlahah adalah kalimat isim yang berbentuk mashdar dan artinya sama
dengan al-shulhu yang artinya sinonim dengan kata al-manfaat, yaitu
kenikmatan atau sesuatu yang akan mengantarkan kepada kenikmatan
Sedang menurut istilah para ahli ushul berbeda beda redaksi dalam
mendefinisikannya antara lain :

Pada dasarnya mashlahah adalah meraih kemanfaatan atau menolak


kemadlaratan.


3

Pengertian yang lain, mashlahah adalah bentuk perbuatan ynag
bermanfaat yang telah diperintahkan oleh syari ( allah ) kepada hamba-NYA
untuk memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta benda mereka.

Mashlahah adalah memelihara tujuan syara dengan cara menolak


segala sesuatu yang dapat merusakkan makhluk.
Dari ketiga definisi tersebut dapat dipahami bahwa ketiga tiganya
memiliki tujuan yang sama, yaitu: memelihara tercapainya tujuan syara yaitu
menolak madlarat dan meraih mashlahah.
Jadi mashlahah mursalah adalah suatu kemaslahatan yang tidak
memiliki dasar sebagai dalilnya dan juga tidak ada dasar sebagai dalil yang
membenarkannya. Oleh sebab itu, jika ditemukan suatu kasus yang ketentuan
hukumnya tidak ada dan tidak ada pula illat yang dapat dikeluakan dari
syara yang menentukan kepastian hukum dari kasus tersebut, lalu ditemukan
sesuatu yang sesuai dengan hukum syara, dalam artian suatu ketentuan
hukum yang berdasarkan pada pemeliharaan kemadlaratan atau menyatakan
bahwa sesuatu iti bermanfaat, maka kasus seperti itu dikenal dengan sebutan
mashlahah mursalah.
Jumhur ulama umat Islam berpendapat bahwa maslahah mursalah itu
adalah hujjah syariat yang dijadikan dasar pembentukan hukum dan
bahwasannya kejadian yang tidak ada hukumnya dalam nash dan ijma atau qiyas
atau istihsan itu disyariatkan padanya hukum yang dikehendaki oleh mashlahah
umum, dan tidaklah berhenti pembentukan hukum atas dasar maslahah mursalah
ini karena adanya saksi syarI yang mengakuinya.
Golongan yang mengakui kehujjahan maslahah mursalah dalam
pembentukkan hukum (Islam) telah mensyaratkan sejumlah syarat tertentu yang
dipenuhi, sehingga maslahah tidak bercampur dengan hawa nafsu, tujuan, dan
keinginan yang merusakkan manusia dan agama. Sehingga seseorang tidak
menjadikan keinginannya sebagai ilhamnya dan menjadikan syahwatnya sebagai
syari`atnya. Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:
1. Maslahah itu harus hakikat, bukan dugaan, Ahlul hilli wal aqdi dan mereka
yang mempunyai disiplin ilmu tertentu memandang bahwa pembentukan
hukum itu harus didasarkan pada maslahah haqiqiyah yang dapat menarik
manfaat untuk manusia dan dapat menolak bahaya dari mereka.
2. Maslahah harus bersifat umum dan menyeluruh, tidak khusus untuk orang
tertentu dan tidak khusus untuk beberapa orang dalam jumlah sedikit.
3. Maslahah itu harus sejalan dengan tujuan hukum-hukum yang dituju oleh
syari`.Maslahah tersebut harus dari jenis maslahah yang telah didatangkan
oleh Syari`.Seandainya tidak ada dalil tertentu yang mengakuinya, maka
maslahah tersebut tidak sejalan dengan apa yang telah dituju oleh Islam.
Bahkan tidak dapat disebut maslahah.
4. Maslahah itu bukan maslahah yang tidak benar, di mana nash yang sudah ada
tidak membenarkannya, dan tidak menganggap salah.
4

Istishab dan urf
A. Definisi Istishab
Istishab secara etimologi berarti mencari sesuatu yang ada
hubungannya. Sedangkan secara terminologi, ialah tetap berpegang pada hukum
yang telah ada dari suatu peristiwa atau kejadian sampai ada dalil yang mengubah
hukum tersebut.
Menurut Ibnu Qayyim, istishab ialah menyatakan tetap berlakunya hukum
yang telah ada dari suatu peristiwa, atau menyatakan belum adanya hukum suatu
peristiwa yang belum pernah ditetapkan hukumnya. Sedangkan menurut Asy
Syatibi, istishab ialah segala ketetapan yang telah ditetapkan pada masa lampau
dinyatakan tetap berlaku hukumnya pada masa sekarang.
Dari pengertian istishab di atas, dapat dipahami bahwa istishab itu ialah:
1. Segala hukum yang telah ditetapkan pada masa lalu, dinyatakan tetap berlaku
pada masa sekarang, kecuali kalau telah ada yang mengubahnya.
2. Segala hukum yang ada pada masa sekarang, tentu telah ditetapkan pada masa
yang lalu.
Contoh Istishab:
Telah terjadi perkawinan antara laki-laki A dan perempuan B, kemudian mereka
berpisah dan berada di tempat yang berjauhan selama 15 tahun. Karena telah lama
berpisah itu maka B ingin kawin dengan laki-laki C. Dalam hal ini B belum dapat
kawin dengan C karena ia telah terikat tali perkawinan dengan A dan belum ada
perubahan hukum perkawinan mereka walaupun mereka telah lama berpisah.
Berpegang ada hukum yang telah ditetapkan, yaitu tetap sahnya perkawinan
antara A dan B, adalah hukum yang ditetapkan dengan istishab.
B. Pengertian 'Urf
'Urf adalah suatu kebiasaan yang berlangsung konstan di tengah
masyarakat karena ia telah diakui oleh orang-orang yang punya akal yang sehat
dan diterima oleh watak yang sehat.
Sejenak berbicara tentang 'urf, maka dalam pikiran kita akan terbesit suatu
pengertian 'adat. Memang, kedua kata tersebut memiliki definisi yang hampir
tidak bisa dibedakan. Keduanya sama-sama berbentuk kebiasaan, namun jika
ditelusuri secara etimologi, istilah 'adat merupakan derivasi dari kata al-aud atau
al-muawadah.
i kata'al-'aud atau al-mu'a
Dalil 'Urf
'Urf merupakan sumber hukum dari ushul fiqih yang diambil dari maksud
sabda Nabi Muhammad SAW Yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad :

Artinya : Apa yang diyakini kaum mushmin sebagai suatu kebaikan, berarti baik
pula di sisi Allah SWT



5

SADD ZARIAH DAN SYARU MAN QABLANA
A. SADD ZARIAH
Kata al-dzarah digunakan untuk onta yang digunakan orang Arab dalam
berburu. Si onta dilepaskan oleh sang pemburu agar bisa mendekati binatang liar
yang sedang diburu. Sang pemburu berlindung di samping onta agar tak terlihat
oleh binatang yang diburu. Ketika onta sudah dekat dengan binatang yang
diburu, sang pemburu pun melepaskan panahnya. Karena itulah, menurut Ibn al-
Arabi, kata al-dzarah kemudian digunakan sebagai metafora terhadap segala
sesuatu yang mendekatkan kepada sesuatu yang lain.

Dasar Hukum Sadd al-Dzariah
1. Al Quran
- QS. Al-Baqarah: 104
E_GC^4C -g~-.- W-ON44`-47
W-O7O> 4LgN4O W-O7O~4
4^OO^- W-ONEc-4
-@OgE:Ug4 R-EO4N _1g
^j
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada
Muhammad): "Raa'ina", tetapi Katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". dan
bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih [80].

[80] Raa 'ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. di
kala Para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang
Yahudipun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa'ina
Padahal yang mereka katakan ialah Ru'uunah yang berarti kebodohan yang
sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh
supaya sahabat-sahabat menukar Perkataan Raa'ina dengan Unzhurna yang
juga sama artinya dengan Raa'ina.
Adanya larangan tersebut dikarenakan ucapan raina oleh orang-
orang Yahudi dimanfaatkan untuk mencaci nabi. Oleh karena itu, kaum
muslimin dilarang mengucapkan kalimat itu untuk menghindarkan timbulnya
dzariah.
- QS. Al-Anam: 108

4 W-OclOO -g~-.- 4pONN;4C
}g` p1 *.- W-OclOO41 -.-
-;4N )OO4) Ug ElgEOE
E4+CEe ]7g OE`q _U4E
_O) jgj4O _N_OO
_N)Ol4[NO E) W-O+^~E
4pOUEu4C ^g
6

Artinya: dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang
mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan
melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat
menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah
kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu
mereka kerjakan.
Pada ayat di atas, mencaci maki tuhan atau sembahan agama lain
adalah al-dzariah yang akan menimbulkan adanya sesuatu mafsadah yang
dilarang, yaitu mencaci maki Tuhan. Orang yang Tuhannya dicaci
kemungkinan akan membalas mencaci Tuhan yang diyakini oleh orang
sebelumnya mencaci. Karena itulah, sebelum balasan caci maki itu terjadi,
maka larangan mencaci maki tuhan agama lain merupakan tindakan preventif
(sadd adz-dzariah).
2. Sunnah:
- Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya di antara dosa yang terbesar
adalah seorang laki-laki yang melaknat kedua orang tuanya." Beliau
ditanya, "Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin seorang laki-laki
melaknat kedua orang tuanya?" beliau menjawab: "Ia melaknat bapak
orang lain, hingga orang itu ganti melaknat bapaknya. Ia melaknat ibu
orang lain, hingga orang itu ganti melaknat ibunya".
- Rasululah Saw melarang membunuh orang munafik, padahal jika
dilakukan tentu ada unsur mashlahat, namun unsur mashlahat tersebut
dikalahkan oleh unsur mafsadat yang akan timbul. Yaitu akan
mengakibatkan perginya kaum dari agama Islam dengan anggapan bahwa
Rasulullah Saw telah membunuh sahabatnya.
- Rasulullah Saw bersabda: Tinggalkanlah hal yang membuatmu ragu dan
lakukanlah hal yang tidak kamu ragukan.

B. SYARU MAN QABLANA
a. Pengertian Syaru Man Qoblana
Para ulama menjelaskan bahwa syariat sebelum kita (Syaru Man Qoblana)
ialah hukum-hukum yang telah disyariatkan untuk umat sebelum islam yang
dibawa oleh para Nabi dan Rasul terdahulu dan menjadi beban hukum untuk
diikuti oleh umat sebelum adanya syariat Nabi Muhammad SAW.
b. Macam-Macam Syaru Man Qablana
Syaru Man Qablana dibagi menjadi dua bagian. Pertama, setiap hukum
syariat dari umat terdahulu namun tidak disebutkan dalam al-Quran dan al-
Sunnah. Ulama sepakat bahwa macam pertama ini jelas tidak termasuk
syariat kita. Kedua, setiap hukum syariat dari umat terdahulu namun
disebutkan dalam al-Quran dan al-Sunnah. Pembagian kedua ini diklasifikasi
menjadi tiga :
7

1) Dinasakh syariat kita (syariat islam). Tidak termasuk syariat kita menurut
kesepakatan semua ulama. Contoh : Pada syariat nabi Musa As. Pakaian
yang terkena najis tidak suci. Kecuali dipotong apa yang kena najis itu.
2) Dianggap syariat kita melalui al-Quran dan al-Sunnah. Ini termasuk
syariat kita atas kesepakatan ulama. Contoh : Perintah menjalankan puasa.
Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah 183:
E_GC^4C 4g~-.-
W-ONL4`-47 =Ug-7 N:^OU4
N4O_- EE =Ug-7 O>4N
-g~-.- }g` :)Ul~
7+UE 4pO+-> ^g@
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kamu semua
berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertaqwa.
3) Tidak ada penegasan dari syariat kita apakah dinaskh atau dianggap
sebagai syariat kita. Dalam hal ini banyak perbedaan pendapat dari
kalangan ulama yang cenderung mengatakan bahwa jika hukum tersebut
shohih dapat kita amalkan, karena secara tidak langsung hukum terdahulu
tidak terhapus, itu berarti juga tetap menjadi syariat umat terdahulu yang
berlaku bagi kita umat Islam. Seperti halnya diamnya Rosulullah atas
suatu perkara, tidak membenarkan tidak pula menyalahkan (Taqririyah)
Contoh dalam surat Al-Maidah ayat 32
Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa
barang siapa membunuh seorang manusia bukan karena orang itu
(membunuh orang lain) atau bukan karena membuat kerusakan di muka
bumi maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.
c. Pendapat Para Ulama tentang Syaru Man Qablana
Para ulama Ushul Fiqh sepakat bahwa syariat para nabi terdahulu yang
tidak tercantum dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah, tidak berlaku lagi
bagi umat Islam, karena kedatangan syariat Islam telah mengakhiri
berlakunya syariat-syariat terdahulu. Demikian pula para ulama Ushul Fiqh
sepakat, bahwa syariat sebelum Islam yang dicantumkan dalam Al-Qurqn
adalah berlaku bagi umat Islam bilamana ada ketegasan bahwa syariat itu
berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW., namun keberlakuannya itu bukan
karena kedudukannya sebagai syariat sebelum Islam tetapi karena ditetapkan
oleh Al-Quran. Misalnya kewajiban untuk berpuasa dibulan Ramadhan.
Para ulama Ushul Fiqh berbeda pendapat tentang hukum-hukum
syariat nabi terdahulu yang tercantum dalam Al-Quran, tetapi tidak ada
ketegasan bahwa hukum-hukum itu masih berlaku bagi umat Islamdan tidak
pula ada penjelasan yang membatalkanya.


8






IJTIHAD DAN FATWA

A. Ijtihad

Menurut Muhammad Abu Zahrah, secara bahasa ijtihd berasal dari akar kata
jahada () yang berarti mencurahkan segala kemampuan untuk mencapai
sesuatu atau melakukan sesuatu, atau berarti pula bersungguh-sungguh. Adapun
menurut istilah Muhammad Abu Zahrah menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan
ijtihad adalah berikut ;
u
Artinya ; Pengerahan kemampuan seorang faqih dalam menggali hukum-hukum yang
bersifat amali dari dalil-dalinya secara rinci.

Sementara itu Quthb Mustafa Sanu, menyebutkan bahwa ijtihad secara istilah
adalah sebagai berikut ;

Artinya ; Upaya sungguh-sungguh seorang faqih untuk menghasilkan hukum syara.

Masih terdapat sejumlah defenisi yang lainnya, tetapi substansinya sama. Dari
pengertian di atas dapat dipahami bahwa ijtihd itu pekerjaan sungguh-sungguh yang
membutuhkan keahlian untuk menggali dan mengeluarkan hukum-hukum syara.
Oleh karena itu ijtihd itu tidak berlaku dalam bidang teologi dan akhlak. Ijtihd
dalam istilah ushul fiqh inilah yang banyak dikenal dalam masyarakat.
Para ulama berbeda pendapat tentang luas dan terbatasnya cakupan kerja
ijtihd yang dilakukan oleh ulama. Dalam arti luas ijtihd itu menurut Harun
Nasution juga digunakan dalam bidang selain hukum Islam, misalnya Ibnu Taimiyah,
yang menjelaskan bahwa ijtihd juga digunakan dalam lapangan Tasawuf dan lain-
lain. Bahkan kaum sufi adalah mujtahid-mujtahid dalam masalah kepatuhan
sebagaimana mujtahid-mujtahid lain.


B. Fatwa
Pengertian Fatwa dan Kedudukan Fatwa, pengertian Itiba, taqlid dan Talfiq
Di susun oleh: 1. Wayu Septi Jesasta 2. Upika 3. Abdul Rasul 4. Yosi Meri
Garlensia Dosen pembimbing : Desi Isnaini, MA Sekolah Tinggi Agama Islam
Negeri Bengkulu (STAIN) Kota Bengkulu Tahun Ajaran 2011/2012 A. Definisi
Fatwa Fatwa menurut bahasa berarti jawaban mengenai suatu kejadian (peristiwa)
yang merupakan bentukan sebagaimana di katakana Zamakhsyari dalam al-
9

kasysyaf dari kata (al-fataa/pemuda) dalam usianya, dan sebagai kata kiasan
(metafora) atau (istiarah). Sedangkan pengertian fatwa menurut syara ialah
menerangkan hokum syara dalam suatu persoalan sebagai jawaban dari suatu
pertanyaan, baik si penanya itu jelas identitasnya maupun tidak, baik
perseorangan maupun kolektif. Metode Al-Quran dan As-sunnah dalam
Menjelaskan
Hukum Fatwa merupakan salah satu metode dalam Al-Quran Al-karim dan
As-sunnah Al-Muthahharah dalam menerangkan hokum-hukum syara, ajaran-
ajarannya dan arahan-arahannya. Kadang-kadang penjelasan itu di berikan tanpa
adanya pertanyaan atau pada kesempatan ini saya ingin memberikan indeks dari
buku tersebut Tafsir al-Manaar sehingga memudahkan pemerhati atau
pembacanya sebagiamana yang di lakukan penyusunnya, rahimahullah, pada
akhir tiap-tiap juz. Fatwa-fatwa sayid Rasyid Ridha ini memiliki beberapa
kelebihan, antara lain: Pertama: mampu memecahkan persoalan-persoalan
kontemporer dan problema nyata yang di alami dan di derita oleh manusia dalam
kehidupan mereka, ketika manusia sangat memerlukan pengetahuan hokum syara
dalam masalah-masalah tersebut, atau paling tidak mengetahui ijtihad islami masa
kii tentang persoalan-persoalan tersebut. Kedua:fatwa-fatwa ini di tulis dengan
semangat kebebasan ilmiah, terlepas dari ikatan mazhab, taklid, dan fanatisme
terhadap pendapat manapun.
Penulis fatwa ini tidak merujuk kepada pendapat dan mazhab mana pun
kecuali kepada Al-Quran, as- Sunnah, dan perinsip-prinsip syariat. Ketiga: fatwa-
fatwa Rasyid Ridha mengandung semangat ishlah (perbaikan) dan dakwa (seruan)
kepada Islam yang syamil (komprehensif) dan berkeseimbangan (adil). Maka
fatwa-fatwa yang di utarakannya itu bukan sekedar jawaban terhadap pertnyaan
yang ada, tetapi lebih berupa risalah kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan
pengarahan kepada petunjuk Al-Quran dan keadilan Islam, serta peringatan
terhadap tipu daya para penipu dan penyesatan orang orang yang dendan
terhadap islam. Fatwa-fatwanya mampu memobilisasi umat islam agar bangkit,
bersiap-siap dan menyusun kekuatan untuk membangun peradapannya dan
menolak semua tipu daya musuh. Keluhuran Kedudukan fatwa Fatwa menempati
kedudukan yang strategis dan sangat penting, karena mufti (pemberi fatwa)
sebagaimana di katakana oleh Imam Asy-syathibi merupakan pelanjut tugas Nabi
Muhammad SAW sehingga ia berkedudukan sebagai Khalifah dan ahli waris
beliau.
Para ulama salaf r.a telah mengetahui betapa mulia, agung, dan
berpengaruhnya fatwa di dalam agama Allah dan kehidupan manusia. Oleh sebab
itu, mereka mengemukakan beberapa hal: Pertama: takut memberi Fatwa Mereka
sangat takut dan berhati-hati dalam memberikan fatwa, bahkan kadang-kadang
mereka berdiam diri dan tidak memfatwakan sesuatu. Mereka menghormati orang
yang mengatakan aku tidak tahu mengenai sesuatu yang tidak di ketahuinya dan
memerahi orang-orang yang lancing dalam berfatwa tanpa punya perhatian yang
mendalam. Mereka bersikap demikian demi mengagungkan fatwa dan merasakan
10

besarnya dampak yang di timbulkannya. Orang-orang yang yang paling awal
bersikap demikian adalah para sahabat. Banyak di antara mereka yang tidak mau
memberikan jawaban terhadap suatu pernyataan sehingga mereka diskusikan
terlebih dahulu masalah tersebut dengan sahabat yang lain, padahal mereka telah
di beri karunia oleh Allah berupa pikiran yang tajam, bersih, terbimbing dan
lurus. Sebagaimana mereka tidak bersikap seperti itu, sedangkan Nabi SAW
sendiri kadang-kadang tidak memberikan jawaban ketika di Tanya tentang
sesuatu sehingga beliau tanyakan kepada malaikat jibril lebih dahulu. Kedua:
mengingkari orang yang berfatwa tanpa berdasarkan ilmu Para ulama salaf sangat
mengingkari orang yang terjun dalam bidang fatwa sementara dia tidak
berkelayakan untuk melakukan hal itu. Mereka menganggap sikap yang demikian
itu sebagai suatu celah kerusakan dalam Islam, bahkan merupakan kemunkaran
besar yang wajib di cegah. Orang yang meminta fatwa (penanya) itu di
manfaatkan apabila orang yang member fatwa berlagak segabai ahli ilmu,
mengelompokkan diri dalam jajaran merekaa, dan memperdaya orang lain dengan
penampilan dan sikap lahiriahnya. Hanya saja, orang yang mengakui mufti seperti
ini setelah ia mengatahui kejahilian dan kesalahannya, misalnya dari kalangan
penguasa maka mereka sama-sama berdosa, lebih-lebih jika mereka saling
memnfaatkan dengan cara:dukunglah saya niscaya engkau saya dukung
Oleh karena itu, para ulama menetapkan bahwa barangsiapa member fatwa
sedangkan dia tidak berkelayakan untuk berfatwa, maka dia berdosa dan berbuat
maksiat. Demikian pula, barangsiapa dari kalangan penguasa yang mengakuinya,
maka ia juga berarti telah berbuat maksiat. Ketiga: ilmu dan pengetahuan Mufti
Mufti (ahli fatwa) atau faqih (ahli fikih) yang menggantikan tugas Nabi
Muhammad bahkan sebagai penerima mandate dari Allah Azza wa Jalla (untuk
menyampaikan agama-Nya) sudah selayaknya memiliki pengetahuan yang luas
tentang Islam, menguasai dalil-dalil hokum Islam, mengerti bahasa Arab, paham
terhadap kehidupan dan manusia, di samping mengerti fikih dan mempunyai
kemampuan melakukan istimbath (menggali dan mencetuskan hokum dari dalil-
dalil dan kaidah-kaidahnya). Dengan demikian, tidaknya di perkenakan orang
yang tidak memiliki komitmen dan pengetahuan yang mendalam tentang dua
sumber agama Islam yang asasi Al-Quran dan As-Sunnah untuk memberikan
fatwa tentang agama.
Ittiba Pengertian Ittiba Kata ittiba berasal dari bahasa Arab yakni dari kata
kerja atau fiil ittabaa, yattabiu ittibaan yang artinya adalah mengikut atau
menurun. ittiba yang di maksudkan di sini adalah: menerima perkataan orang
lain yang berkata, dan kamu mengetahui alasan perkataannya. Di samping itu
ada juga yang memberi definisi: menerima perkataan seseorang dengan dalil
yang lebih kuat. Jika di gabungkan definisi-definisi di atas dapatlah kita
simpulkan bahwa ittiba adalah mengambil atau menerima perkataan seorang
fakih atau mujtahid dengan mengetahui alasannya serta tidak terikat pada salah
satu mazhab dalam mengambil suatu hokum berdasarkan alasan yang di anggap
lebih kuat dengan jalan membanding. Hukum ittiba Dari pengertian tersebut di
11

atas, jelaslah bahwa yang di namakan ittiba bukanlah mengikuti pendapat ulama
tanpa alasan agama. Adapun orang yang mengambil atau mengikut pendapat
ulama dengan di sertai alasan-alasan, di namakan muttabi Hokum ittiba adalah
wajib bagi setiap muslim, karena ittiba adalah di perintah Allah,
At-Taklid Pengertian taklid Kata taklid berasal dari bahasa Arab yakni kata
kerja Oallada, yaqallidu, taqlidan, artinya meniru emnurut seseorang dan
sejenisnya. Adapun taklid yang di maksudkan dalam istilah ilmu ushul fiqih
adalah: menerima perkataan orang lain yang berkata dan kamu tidak mengetahui
alasan perkatannya itu. Ada juga ulama lain member definisi seperti Al-Gazali,
yakni:menerima perkataan orang lain yang tidak ada alasannya. Selain definisi
tersebut, masih banyak lagi definisi yang di berikan oleh para ulama, yang
kesemuanya tidak jauh berbeda dengan definisi di atas. Dari semua itu dapat di
simpulkan bahwa taklid adalah menerima atau mengambil perkataan orang lain
yang tidak beralasan dari Al-Quran hadist, Ijma dan Qiyas. Hukum taqlid
Jumhur ulama berpendapat bahwa taqlid dalam bidang syarI tidak di benarkan
secara mutlak. Sedang aliran maliky berpendapat bahwa taqlid adalah batal.
Demikian pula golongan Zahiriyah berpendapat bahwa, taklid dalam agama
adalah terlarang. Alasan ulama-ulama yang melarang taqlid adalah, firman Allah
yang berbunyi: Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(Qs. Al.Isra:36)
Memang ada sebagian ulama yang membolehkan taqlid, seperti yang di
riwayatkan oleh Ibnu Subki dalam kitab Jamul Jawami, tetapi mereka
memberikan syarat, yakni harus ada pebgertian tentang apa yang di taqlidi-Nya
tersebut. Bila pendapat di atas kita perhatikan, jelas tidak sesuai dengan definisi
taklid yang telah kita sebutkan terdahulu, karena dengan adanya syarat bahwa
harus ada pengertian tentang yang di taklidi-nya itu, tentu dengan mengetahui
alasan-alasannya. Sedang bila telah mengetahui alasannya, maka bukan taqlid lagi
namanyaa, dan dengan sendirinya jatuh pada pengertian ittiba. Sebagaimana
halnya dalam bidang syary, juga dalam bidang tauhid (ushuludin), bahwa
jumhuur berpendapat, tidak di benarkan ber taklid dengan membawakan beberapa
alasan:
1. Umat telah ijma tentang wajibnya mengetahui Allah, adapun cara
mengetahuinya bukan dengan jalan taqlid.
2. Seorang muqalid tidak mengetahui apakah benar ataukah salah pendapat yang
di ikutinya itu.
3. Secara umum perbuatan taqlid adalah tercela Hukum Taqlid dan Talfiq
Sebagaimana di ketahui bahwa hokum amaliyah yang menjadi obyek
pembahasan ilmu fiqh di tinjau dari segi wajib atau tidaknya di adakan
penelitian terbagi kepada dua macam:
Hokum amaliyah yang tidak memerlukan penelitian dan ijtihad. Yakni
hokum-hukum yang telah di tetapkan oleh dalil-dalil qathI dan yang dapat di
ketahui dengan segera, tanpa penelitian yang mendalam sebagai ketentuan
12

syariat yang sudah positif. Seperti rukun islam yang lima macam itu dan
keharaman dosa besar. Sebab setiap orang yang tidak mengetahui suatu
hokum perbuatan dan tidak mampu berijtihad wajib menanyakan kepada
mereka yang ahli, Hukum Talfiq Talfiq sebagaimana di terangkan di atas
dalam bidang ibadat dan muamalat di perbolehkan sebagai takhfil
(keringanan) dan sebagai rahmad dari Tuhan terhadap umat. Ulama Jumhur
mengklasifikasi talfiq kepada dua macam yaitu :
a. Talfiq yang di perbolehkan. Yakni mengambil yang teringan di antara
pendapat-pendapat para Mujtahid (madzhab) dalam beberapa masalah
yang berbeda-beda.
b. Talfiq yang tidak di perbolehkan. Yakni mengambil yang teringan dari
pendapat-pendapat para Mujtahid dalam satu masalah.




13


TAQLID, TALIQ, TARJIH DAN TAUFIQ

Pengertian Taqlid
Secara bahasa taqlid berasal dari kata (qallada)

(yuqollidu)

(taqldan). Yang mengandung arti mengalungi, menghiasi, meniru,


menyerahkan, dan mengikuti.dalam definisi lain yaitu menerima pendapat orang
lain tanpa dikemukakan alasannya
Menurut Muhammad Rasyid Ridha, taqlid ialah mengikuti pandapat orang
lain yang dianggap terhormat dalam masyarakat serta dipercaya tentang suatu
hukum agama Islam tanpa memperhatikan benar atau salahnya, baik atau
buruknya, manfaat atau mudlarat hukum itu.
Sedangkan menurut istilah taqlid adalah mengikut pendapat orang lain
tanpa mengetahui dari mana sumber pengambilannya, apakah orang lain itu
benar atau salah. ketika seseorang mengikuti orang lain tanpa dalil yang jelas,
baik dalam hal ibadah, maupun dalam hal adat istiadat. Baik yang diikuti itu
masih hidup, atau pun sudah mati. Baik kepada orang tua maupun nenek moyang,
hal seperti itulah yang disebut dengan taqlid buta. Sifat inilah yang disandang
oleh orang-orang kafir dan dungu, dari dahulu kala hingga pada zaman kita
sekarang ini, dimana mereka menjalankan ibadah mereka sehari-hari berdasarkan
taqlid buta dan mengikuti perbuatan nenek-nenek moyang mereka yang tidak
mempunyai dalil dan argumen sama sekali. Allah swt berfirman:
-O)4 1g~ N_ W-ON)l4>- .4`
44O^ +.- W-O7~ 4 7):44^
.4` 4L^OE^ gO^OU4N
.4^47.4-47 O4 ]~E
-74.4-47 ]OUu4C 6*^OE-
4 4p4-;_4C ^_

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan
Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah
kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan
mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu
apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. Al-Baqarah: 170).

Pengertian Talfiq Dan hukumnya
Talfiq berarti manyamakan atau merapatkan dua tepi yang berbeda.
Menurut istilah, talfiq ialah beramal dalam suatu masalah atas dasar hukum
yang terdiri dari gabungan dua mazhab atau lebih
.
Contoh nikah tanpa wali dan
saksi adalah sah asal ada pengumuman. Menurut madzhab Hanafi, sah nikah
tanpa wali, sedangkan menurut madzhab Maliki, sah akad nikah tanpa saksi.
Pada dasarnya talfiq dibolehkan dalam agama, selama tujuan
melaksanakan talfiq itu semata-mata untuk melaksanakan pendapat yang paling
14

benar setelah meneliti dasar hukum dari pendapat itu dan mengambil yang lebih
kuat dasar hukumnya. Ada talfiq yang tujuannya mencari yang mudah, ialah
mengambil dari tiap mazhab yang enteng
.
Talfiq semacam ini yang dicela para
ulama.
Mengenai hukum talfiq ulama terbagi kepada dua kelompok tentang
hukum talfq. Satu kelompok mengharamkan, dan satu kelompok lagi
membolehkan. Ulama Hanafiyah mengklaim ijma' kaum muslimin atas
keharaman talfiq. Sedangkan di kalangan Syafi'iyah, hal itu menjadi sebuah
ketetapan. Ibnu Hajar mengatakan: Pendapat yang membolehkan talfiq adalah
menyalahi ijma'.



15

Qaidah Lughawiyah


1. Pengertian Amm
a. Menurut Bahasa (Etimologi)
Amm menurut bahasa bahasa adalah :

artinya :
Mencakup sesuatu yang berbilang-bilang (tidak terbatas).
b. Menurut Istilah (Terminologi)
Sedangkan Amm menurut istilah adalah :

.
Artinya :
Lafazh yang mencakup semua yang cocok untuk lafazh tersebut dengan satu
kata sekaligus. Contohnya kata yang berarti kaum laki-laki. Maka semua laki-
laki di dunia ini masuk dalam kata. Sebagai contoh firman Allah SWT dalam
surat An-Nisa ayat: 34 yang menerangkan tentang kedudukan kaum laki-laki
atas kaum perempuan:
:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang
lain (wanita). (Q.S.Annisa: 34)
Yang dimaksud laki-laki di sini bukan hanya laki-laki Arab atau laki-
laki yang beragama islam saja, tapi semua laki-laki yang ada di muka bumi
ini.


c. Menurut para ulama
Para ulama Ushul Fiqh memberikan definisi/pengertian Amm yang
berbeda-beda, akan tetapi pada hakekatnya definisi tersebut mempunya
pengertian yang sama. Para ulama itu antara lain sebagai berikut:
1) Menurut Ulama Hanafiyah:

.
Setiap lafazh yang mencakup banyak, baik secara lafazh maupun
makna.

2) Menurut ulama Syafiiyah, diantaranya Al-Ghazali:

.
Satu lafazh yang dari satu segi menunjukan dua makna atau lebih.

3) Menurut Al-Bazdawi:

.
Lafazh yang mencangkup semua yang cocok untuk lafazh tersebut
dengan satu kata.

16

2. Pengertian Khash
Para ulama Ushul berbeda pendapat dalam memberikan definisi khash.
Namun, pada hakekatnya definisi tersebut mempunyai pengertian yang sama.
Definisi yang dapat dikemukakan di sini antara lain:

.
Suatu lafazh yang dipasangkan pada satu arti yang sudah diketahui dan
manunggal.
Sedangkan menurut Al-Bazdawi, definisi Khash adalah:

.
Setiap lafazh yang dipaksakan pada satu arti yang menyendiri, dan
terhindar dari makna lain yang (musytarak).
Dengan definisi di atas, ia akan mengeluarkan lafazh mutlaq dan
musytarak dari bagian lafazh khash, dan bukan pula bagian dari lafazh am.
Pendapat ini dipegang pula oleh sebagian ulama Syafiiyah.
Cara penunjukan lafazh atas satu arti ini bisa dalam berbagai bentuk,
yaitu bentuk genius, seperti lafazh insanun dipasangkan pada hewan yang
berpikir, atau berbentuk spesies (nauun), seperti kata laki-laki dan wanita,
atau berbentuk individual yang berbeda-beda tetapi terbatas, seperti bilangan
angka-angka (3, 5, 100, dan seterusnya).




17

Mutlaq dan Muqqayat

Mutlaq adalah lafadz yang menunjukkan sesuatu hakekat tanpa sesuatu qayyid
(pembatas). Jadi ia hanya menunjukkan kepada satu indifidu tidak tertentu dari
hakekat tersebut.

Muqayyad adalah lafazh yang telah di hilangkan cakupan jenisnya, baik secara kulli
maupun juz'I, atau Muqayyad adalah lafazh yang menunjukan suatu hakekat dengan
qayyid (batasan), seperti kata "raqabah" (budak) yang dibatasi dengan iman dalam
ayat:

"(hendaklah) ia memerdekakan budak beriman." {Qs. An-Nisa': 92}

Macam-macam Mutlaq dan Muqayyad dan Status Hukumnya Masing-masing

Mutlaq dan muqayyad mempunyai bentuk-bentuk aqliyyah dan sebagian realitas
bentuknya kami kemukakan sebagai berikut:

a. Sebab dan hukumnya sama.

Misalnya "puasa" untuk kafarah sumpah. Lafazh itu dalam qira'ah mutawatir yang
terdapat dalam mushaf di ungkapkan secara mutlaq:

"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud
(untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang
kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh
orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau
memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa
tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari.
Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan
kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu
hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)." {Qs. Al-Ma'idah: 89}

Dan ia muqayyad atau dibatasi dengan tatabu' (berturut-turut) dalam qira'ah Ibnu
Mas'ud :

"Maka kafarahnya puasa selama tiga hari berturut-turut." Dalam hal seperti ini,
pengertian lafazh yang mutlaq dibawa kepada yang muqayyad (dengan arti, bahwa
yang dimakdus oleh lafazh mutlaq adalah sam yang dimaksud oleh muqayyad),
karena "sebab" yang satu tidak akan menghendaki dua hal yang bertentangan. Oleh
karena itu segolongan berpendapat bahwa puasa tiga hari tersebut harus dilakukan
secara berturut-turut. Dalam pada itu golongan yang memandang qira'ah tidak
mutawatir, sekalipun masyhur, tidak dapat dijadikan hujjah, tidak sependapat
18

golongan yang pertama. Maka dalam kasus ini di pandang tidak ada muqayyad yang
karenanya lafazh mutlaq dibawa kepadanya.

b. Sebabnya sama namun hukum berbeda.

Seperti lafazh "tangan" dalam wudhu dan tayamum. Membasuh tangan dalam
berwudhu dibatasi sampai dengan siku-siku. Allah berfirtman:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku." {Qs. Al-Ma'idah: 6 }

Sedang menyapu tangan dalam bertayamum tidak dibatasi, mutlaq, sebagaimana di
jelaskan dalam firman-Nya:

"Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan
tanganmu dengan tanah itu." {Qs. Al-Ma'idah: 6 }

Dalam hal ini ada yang berpendapat, lafazh yang mutlaq tidak dibawa kepada yang
muqayyad karena berlainan hukumnya. Namun al-Ghayali menukil dari ulama'
Syafi'I bahwa mutlaq di sini dibawa kepada muqayyad mengingat "sebab"nya sama
sekalipun berbeda hukumnya.

c. Sebab berbeda tetapi hukumnya sama

Dalam hal ini ada dua bentuk:

Pertama, taqyid atau batasannya hanya satu. Misalnya, pembebasan budak dalam hal
kafarah. Budak yang dibebaskan disyaratkan harus budak "beriman" dalam kafarah
pembunuhan tak senganja. Allah berfirman:

"Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain),
kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang
mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang
beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu),
kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah (dengan memberi maaf). Jika ia
(si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan
kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada
keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman." {Qs.
An-Nisa': 92}

Sedangkan dalam kafarah dhihar ia diungkapkan secara mutlaq:

"Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik
19

kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang
budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan
kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." {Qs. Al-
Mujadalah: 3}

Kedua, taqyidnya berbeda-beda. Misalnya, "puasa kafarah" ia ditaqyidkan dengan
berturut-turut dalam kafarah pembunuhan. Firman Allah:

"Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh)
berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. Dan
adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." {Qs. An-Nisa': 92}

Demikian juga dalam kafarah dhihar, sebagaiman dalam firman-Nya:

"Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua
bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur." {Qs. Al-Mujadalah: 4}

d. Sebab berbeda dan hukumpun berlainan

Seperti, "tangan" dalam berwudhu dan dalam kasus pencurian. Dalam berwudhu, ia
dibatasi sampai dengan siku, sedang dalam pencurian di mutlaqkan, tidak dibatasi.
Firman Allah:

"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya
(sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari
Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." {Qs. Al-Ma'idah: 38}




20

Mantuq dan mafthum Zahir dan Tawil

A. Pengertian Mantuq
Kata mantuq secara bahasa berarti sesuatu yang ditunjukkan oleh lafal ketika
diucapkan. Secara istilah dilalah mantuq adalah:

Artinya :Dilalah mantuq adalah penunjukkan lafal terhadap hukum sesuatu
yang disebutkan dalam pembicaraan (lafal).
Dari definisi ini diketahui bahwa apabila suatu hukum dipahami langsung
lafal yang tertulis, maka cara seperti ini disebut pemahaman secara mantuq.
Misalnya, hukum yang dipahami langsung dari teks firman Allah pada surat Al-
Isra ayat 23 yang berbunyi :

Artinya: Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya


perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka.
Dalam ayat tersebut terdapat pengertian mantuq dan mafhum, pengertian
mantuq yaitu ucapan lafadz itu sendiri (yang nyata = uffin) jangan kamu katakan
perkataan ah atau perkataan yang keji kepada kedua orang tuamu. Sedangkan
mafhum yang tidak disebutkan yaitu memukul dan menyiksanya (juga dilarang)
karena lafadz-lafadz yang mengandung kepada arti, diambil dari segi
pembicaraan yang nyata dinamakan mantuq dan tidak nyata disebut mafhum. Hal
tersebut langsung tertulis dan ditunjukkan dalam ayat ini.
1. Para ahli ushul fiqh membagi mantuq kepada dua macam yaitu:
a. Mantuq sharih secara bahasa berarti sesuatu yang diucapkan secara tegas.
Adapun definisi mantuq sharih secara istilah adalah:

Artinya Mantuq sharih adalah makna yang secara tegas yang
ditunjukkan suatu lafal sesuai dengan penciptaannya, baik secara penuh
atau berupa bagiannya
Untuk memahami definisi ini dengan baik perlu dikemukakan contoh
penggunaandilalah mantuq sharih pada firman Allah surat Al-Baqarah
ayat 275 yang berbunyi :

Artinya: Allah telah menghalalkan jual beli dan


mengharamkan riba.
Ayat ini menunjukkan secara jelas dan tegas melalui mantuq sharih
tentang kehalalan jual beli dan keharaman riba.
b. Mantuq ghairu sharih secara istilah adalah:

Mantuq ghairu sharih adalah pengertian yang ditarik bukan
dari makna asli dari suatu lafal, sebagai konsekuensi dari suatu ucapan
Dari definisi ini jelas bahwa apabila penunjukkan suatu hukum
didasarkan pada konsekuensi dari suatu ucapan (lafal), bukan ditunjukkan
21

secara tegas oleh suatu lafal sejak penciptaannya, baik secara penuh atau
bagiannya disebut dilalah mantuq ghairu sharih. Misalnya dalam firman
Allah surat Al-Baqarah ayat 233 yang berbunyi :

Artinya: Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada


para ibu dengan cara yang maruf.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa nasab seorang anak
dihubungkan kepada ayah bukan kepada ibu karena tanggung jawab
nafkah anak berada di tangan seorang ayah. Kesimpulan seperti ini
diambil dengan cara mantuq ghairu sharih dari ayat di atas.
2. Pembagian Mantuq
Pada dasarnya mantuq ini terbagi menjadi dua bagian, akan tetapi
dalam buku yang dikarang oleh Mannakhalil al-qattan ditambah dengan
Muawwal. Diantaranya yaitu:
a. Nash, yaitu suatu perkataan yang jelas dan tidak mungkin di tawilkan
lagi, dan lafaz yang bentuknya sendiri telah dapat menunjukkan makna
yang dimaksud secara tegas (sarih ), tidak mengandung kemungkinan
makna lain. Seperti firman Allah dan Al-quran surat Al-Baqarah ayat
196 yang artinya : .Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji
dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh
(hari) yang sempurna
Dalam ayat diatas ada kata penyipatan yaitu sepuluh dengan
sempurna telah mematahkan kemungkinan sepuluh ini diartikan lain
secara majaz (metafora).inilah yang dimaksud dengan nash.
b. Zhahir, yaitu suatu perkataan yang menunjukkan suatu makna, bukan
yang dimaksud dan menghendaki kepada pentakwilan atau lafaz yang
menunjukkan sesuatu makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan
tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah (marjuh). seperti
firman Allah SWT dalam surat Ar-Rahman ayat 27 :

Artinya: Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai


kebesaran dan kemuliaan.
Wajah dalam ayat diartikan dengan dzat, karena mustahil bagi
Allah mempunyai wajah yang menyerupai seperti manusia.
c. Muawwal adalah lafaz yang diartikan dengan makna marjuh karena ada
sesuatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang rajih.
Muawwal berbeda dengan zahir; zahir diartikan dengan makna yang rajih
sebab tidak ada dalil yang memalingkannya kepada yang marjuh karena
ada dalil yang memalingkannya dari makna rajih. Akan tetapi masing-
masing kedua makna itu ditunjukan oleh lafaz menurut bunyi ucapanya.
Misalnya firman Allah SWT dalam Al-quran surat Al-isra ayat 24
yang Artinya : Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah
22

mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu
kecil.
Lafaz janaah az-zulli diartikan dengan tunduk, tawadu dan bergaul
secara baik dengan orang tua, tidak diartikan sayap,karena mustahil
manusia mempunyai sayap.
B. Pengertian Mafhum
Pengertian Mafhum secara bahasa adalah sesuatu yang ditunjuk oleh lafadz,
tetapi bukan dari ucapan lafadz itu sendiri. Para ahli ushul fiqh mendefinisikan
mafhum sebagai berikut. Mafhum adalah penunjukkan lafal yang tidak
diucapkan atau dengan kata lain penunjukkan lafal terhadap suatu hukum yang
tidak disebutkan atau menetapkan pengertian kebalikan dari pengertian lafal yang
diucapkan (bagi sesuatu yang tidak diucapkan) Seperti firman Allah SWT.

Secara mantuq, hukum yang dapat ditarik dari ayat ini adalah haramnya
mengucapkan kata ah dan menghardik orang tua. Dari ayat ini dapat juga
digunakan mafhum, dimana melaluinya dapat diketahui haram hukumnya
memukul orang tua dan segala bentuk perbuatan yang menyakiti keduanya.
1. Pembagian Mafhum
Mafhum juga dapat dibedakan kepada 2 bagian yaitu:
a. Mafhum Muwafaqah, yaitu pengertian yang dipahami sesuatu menurut
ucapan lafadz yang disebutkan. Menurut para ahli usul fiqh mafhum
muwafaqah adalah penunjukan hukum yang tidak disebutkan untuk
memperkuat hukumnya karena terdapat kesamaan antara keduanya dalam
meniadakan atau menetapkan. Mafhum Muwafaqah dapat dibagi kepada 2
bagian yaitu:
1) Fahwal Khitab, yaitu apabila yang dipahamkan lebih utama hukumnya
daripada yang diucapkan. Seperti memukul orang tua lebih tidak boleh
hukumnya, firman Allah yang berbunyi :

Artinya : Sedangkan kata-kata yang keji saja tidak boleh


(dilarang) apalagi memukulnya.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa haramnya mengatakan
ah, oleh karena itu, keharaman mencaci maki dan memukul lebih
pantas diambil karena keduanya lebih berat.
2) Lahnal Khitab, yaitu apabila yang tidak diucapkan sama hukumnya
dengan yang diucapkan, seperti firman Allah SWT dalam Al-quran
surat An-Nisa ayat 10 :

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak


yatim secara zalim, Sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh
perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala
(neraka).
23

Membakar atau setiap cara yang menghabiskan harta anak yatim
sama hukumnya dengan memakan harta anak tersebut yang berarti
dilarang (haram).
b. Mafhum Mukhalafah, yaitu pengertian yang dipahami berbeda daripada
ucapan, baik dalam istinbat (menetapkan) maupun nafi (meniadakkan).
Oleh sebab hal itu yang diucapkan. Seperti dalam firman Allah SWT surat
Al-Jumuah ayat 9 :

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman apabila diseru untuk


menunaikan shalat Jumat, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat
Allah dan tinggalkanlah jual beli
dari ayat ini dipahami bahwa boleh jual beli dihari Jumat
sebelum azan dikumandangkan dan sesudah mengerjakan shalat Jumat.
Dalil Khitab ini dinamakan juga mafhum mukhalafah.


C. Mafhum Mukhalafah
Mafhum mukhalafah adalah makna yang berbeda hukumnya dengan mantuq.
Mafhum ini terbagi kedalam 6 macam. Ialah :
1. Mafhum Shifat
Yaitu yang menghubungkan hukum sesuatu kepada syah satu sifatnya.
Seperti firman Allah SWT dalam surat An-Nisaa ayat 92

Artinya: barangsiapa membunuh seorang mumin karena tersalah


(hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman
2. Mafhum illat
Yaitu yang menghubungkan hukum sesuatu menurut illatnya. Seperti
mengharamkan minuman keras karena memabukkan.
3. Mafhum adad
Yaitu memperhubungkan hukum sesuatu kepada bilangan tertentu.
Firman Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 4.

Artinya: Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-


baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka
deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera,
4. Mafhum ghayah
Yaitu lafaz yang menunjukkan hukum sampai kepada ghayah(batasan,
hinggaan), hingga lafaz ghayah ini adakalnya ilaaseperti firman Allah SWT
dalam surat Al-Maidah ayat 6.


Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak
mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan
siku.
24

Artinya: dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci


5. Mafhum had
Yaitu menentukan hukum dengan disebutkan suatu adad diantara
adat-adatnya. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Anam ayat 145

Artinya: Katakanlah, tidak saya peroleh di dalam wahyu yang


diturunkan kepada saya, akan suatu makanan yang haram atas orang
memakannya, kecuali bangkai, darah yang mengalir dan daging babi; karena
ia barang yang keji atau fasiq, yaitu binatang yang disembelih dengan tidak
atas nama Allah
6. Mafhum al-Laqab
Yaitu meniadakan berlakunya suatu hukum yang terkait dengan suatu
lafal terhadap orang lain dan menetapkan hukum itu berlaku untuk nama atau
sebutan tertentu. Misalnya, firman Allah dalam surat Yusuf ayat 4 yang
berbunyi:


Artinya: (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : Wahai
ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan
bulan kulihat semuanya sujud padaku.
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa ucapan tersebut hanya terkait
dengan Nabi Yusuf karena tidak ada kaitannya dengan orang lain.
1. Syarat-Syarat Mafhum Mukhalafah
Syarat-syaraf Mafhum Mukhalafah, adalah seperti yang dikemukakan
oleh A.Hanafie dalam bukunya Ushul Fiqh, sebagai berikut. Untuk syahnya
mafhum mukhalafah, diperlukan empat syarat, yaitu :
a. Mafhum mukhalafah tidak berlawanan dengan dalil yang lebih kuat, baik
dalil mantuq maupun mafhum muwafaqah. Contoh yang berlawanan
dengan dalil mantuq: (Q.S. Al-Isra Ayat 31)

Artinya: Jangan kamu bunuh anak-anakmu karena takut


kemiskinanMafhumnya, kalu bukan karena takut kemiskinan dibunuh,
tetapimafhum mukhalafah ini berlawanan dengan dalil mantuq yaitu:
(QS. Al-Isra 33)

Artinya: Jangan kamu membunuh manusia yang dilarang Allah


kecuali dengan kebenaran





25

MURADIF DAN MUSYTARAK

Muradhif
1. Pengertian
Muradhif adalah lafal yang hanya mempunyai satu makna (Usman:
1996, hal. 64).
2. Kaidah Yang Berkaitan Dengan Muradhif.
Jumhur ulama menyatakan bahwa mendudukkan dua muradhif pada
tempat yang lain diperbolehkan selama hal itu tidak dicegah oleh pembuat
syara. Kidahnya: Mendudukkan dua muradhif itu pada tempat yang sama
itu diperbolehkan jika tidak ditetapkan oleh syara.
Al-Quran adalah mukjizat, baik dari sudut lafal maupun maknanya ,
karena itu tidak diperbolehkan mengubahnya. Bagi Malikiah menyatakan
bahwa takbir shalat tidak diperbolehkan kecuali Allahu Akbar, sedang
Imam Syafii hanya memperbolehkan Allahu Akbar atau Allahul Akbar
sedangkan Abu Hanifah memperbolekan semua lafal yang semisal dengannya,
misalnya Allahul Adhom Allahul Ajal dan sebagainya (Usman: 1996,
hal. 65).

D. Musytarak
1. Pengertian
Lafadz Musytarak adalah lafadz yang mempunyai dua makna atau
lebih (Usman:1996. hal, 64). Lafadz musytarak adalah lafadz yang
mempunyai dua arti atau lebih dengan kegunaan yang banyak yang dapat
menunjukkan artinya secara gantian. Artinya lafadz itu bisa menunjukkan arti
ini dan itu. Seperti lafadz ain, menurut bahasa bisa berarti mata, sumber mata
air, dan mata-mata. Lafadz quru menurut bahasa bisa berarti suci atau haid.
Begitu juga dengan lafadz sanah dan yadun (Halimuddin: 2005. hal, 221)
2. Penggunaan Lafadz Musytarak
Jumhur ulama dari golongan Syafii, Qodli Abu bakar, dan Abu Ali
Al-jabai memperbolehkan penggunaan musytarak menurut arti yang
dikehendaki. Atau berbagai makna. Kaidahnya: Penggunaan musytarak
pada yang dikehendaki ataupun beberapa maknanya yang diperbolehkan .
Misalnya firman AllahSWT yang artinya : Apakah kamu tiada
mengetahui, kepada Allah bersujud aopa yang ada di langit, di bumi,
matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, binatang, yang melata dan sebagian
besar daripada manusia (Qs. Al-Hajj: 18).
Makna sujud mempunyai dua arti yaitu bersujud dengan mengarahkan
wajah pada tanah, ataupun bersujud berarti kepatuhan (inqiyad). Kiranya
pengggunaan kedua makna ini diperbolehkan, yakni adanya ketundukan bagi
apa yang ada di langit, bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon dan
sebagainya, dan penggunaan makna sujud dengan menghadapkan wajah pada
tanah bagi sebagian orang-orang yang taat. Dengan kata lain penggunaan
26

lafadz musytarak itu diperbolehkan sesuai dengan proporsinya (Usman: 1996,
hal. 65-66).
3. Sebab Adanya Musytarak
Sebab adanya lafadz musytarak dalam bahasa itu karena beberapa
kabilah kabilah atau suku-suku yang mempergunakan lafadz-lafadz itu untuk
menunjukkan satu pengertian. Beberapa kabilah yang dimaksud dengan
tangan ialah seluruh harta yang lain mengatakan ialah lengan dan telapak
tangan, yang lain mengatakan hanya telapak tangan saja. Menurut catatan
bahasa orang berpendapat bahwa perkataan dalam bahasa arab yaitu lafadz
Musytarak mempunyai 3 arti yaitu: Diantarnya orang menempatkan lafadz itu
diatas berbentuk hakiki. Sudah itu orang enggunkan dengan bentuk lain yaitu
majazi kemudian ada pula orang yang mempergunakan lafadz ini bermakna
majazi inilah yang banyak dipakai orang sehigga orang lupa bahwa dia adalah
majazi.
Musytarak adalah isim (kata benda) seperti yang dikatakan
diatas.Apabila lafadz-lafadz musytarak terdapat pada nash syari, bersekutu
dengan makna lughawi dan makna istilahi maka orang harus memilih yang
dimaksud dengan istilahi syari. Lafadz shalat menurut istilah bahasa artinya
doa dan menurut istilah artinya ibadah tertentu berbunyi: Dirikanlah olehmu
sembahyang.Yang dimaksud disini menurut syari ialah ibadat tertentu
bukan makna lughawi yang berarti Doa.



E. Sumber
1. Abdurrachman, Asymuni, 1985 Ushul fiqh syiah imamiyah. Yogyakarta: CV.
Bina Usaha.
2. Efendi, Satria dan M. Zein, 2005, Ushul Fiqh, Cet. II, Jakarta: Kencana.
3. Karim, Syafii, 2001, fiqh ushul fiqh, Bandung : CV Pustaka Setia.
4. M. Yusuf, Kadar, 2010, Studi Al-Quran, Jakarta: AMZAH.
5. Qarib, Ahmad, 1997, Ushul Fiqh 2, Jakarta : PT. Nisam Multima.
6. Syafei, Rahmat, 2007, Ilmu Ushul Fiqh, Bandung: CV. Pustaka Setia.
7. Syarifudin, Amir, 2008, Ushul Fiqih, Jilid 2, Cet. 5, Jakarta: Kencana.
8. Uman, Khairul dan A. Ahyar Aminudin, 2001, Ushul Fiqih II, Cet. II,
Bandung: Pustaka Setia, 2001