Anda di halaman 1dari 24

CEDERA KEPALA SEDANG

Pembimbing : dr. Afrizal,Sp. BS Disusun Oleh : dm. Alvarez O. J. Ticoalu dm. Jonathan Albert

PENDAHULUAN

Komosio serebri atau gegar otak adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala yang tidak disertai dengan kerusakan jaringan otak. Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin muntah, tampak pucat. Cedera kepala sedang adalah cedera kepala dengan GCS (Glasgow Coma Scale) antara 9 sampai 13 Cedera kepala sedang adalah cedera kepala dengan GCS antara 9 - 13 dengan kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam serta dapat mengalami fraktur tengkorak.

Dari beberapa pengertian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa cedera kepala sedang merupakan cedera kepala yang mengakibatkan kehilangan kesadaran atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam serta dapat disertai fraktur tengkorak dan kerusakan struktur dan jaringan otak dengan Skala
Koma Glasgow antara 9 - 13.

Lesi yg dapat timbul pada trauma kepala :


1. 2. 3. 4.

5.
6. 7. 8. 9. 10.

Kulit kepala robek atau mengalami perdarahan subkutan. Otot-otot dan tendo pada kepala mengalami kontusio (Memar). Perdarahan terjadi dibawah galea aponeurotika. Tulang tengkorak patah Gegar otak (Komosio). Edema serebri traumatik. Kontusio serebri. Perdarahan subarachnoid. Perdarahan epidural Perdarahan subdural.

ETIOLOGI
Penyebab dari cedera kepala antara lain : 1. Kecelakaan sepeda motor atau lalu lintas. 2. Jatuh, benturan dengan benda keras. 3. Karena pukulan dengan benda tajam, tumpul dan perkelahian 4. Cedera karena olahraga

Berbagai macam penyebab dari cedera kepala diantaranya karena adanya percepatan mendadak yang memungkinkan terjadinya benturan atau karena perlambatan mendadak yang terjadi jika kepala membentur objek yang tidak bergerak. Kerusakan otak yang bisa terjadi pada titik benturan pada sisi yang berlawanan, cedera percepatan - perlambatan kadang disebut Coup countrecoup.

MANIFESTASI KLINIS
Secara spesifik manifestasi klinis dari cedera kepala sedang adalah : 1. Kehilangan kesadaran dan atau amnesia lebih dari 30 menit tetapi kurang dari 24 jam. 2. Dapat mengalami fraktur tengkorak 3. Skala Koma Glasgow antara 9 13 4. Terjadi konvusi 5. Muntah 6. Tanda kemungkinan terjadi fraktur kranium ( mata rabun, hemotimpanium, ortorea atau rinorea cairan serebrospinal ) dan terdapat lesi - lesi kecil didaerah lemporofrontal 7. Kejang

KLASIFIKASI TRAUMA PADA KEPALA


BERDASARKAN PATOFISIOLOGI 1. Komosio serebri : tidak ada jaringan otak yang rusak tapi hanya kehilangan fungsi otak sesaat (pingsan < 10 menit) atau amnesia pasca cedera kepala. 2. Kontusio serebri : kerusakan jaringan otak + pingsan > 10 menit atau terdapat lesi neurologik yang jelas. 3. Laserasi serebri : kerusakan otak yg luas + robekan duramater + fraktur tulang tengkorak terbuka.

BERDASARKAN GCS: 1. GCS 14-15 : Cedera kepala ringan CT scan dilakukan bila ada lucid interval, kesadaran menurun. evaluasi kesadaran, pupil, gejala fokal serebral + tanda-tanda vital. 2. GCS 9-13 : Cedera kepala sedang periksa dan atasi gangguan pernafasan dan sirkulasi, pupil, td. Fokal serebral, leher, cedera organ lain, CT scan kepala, observasi. 3. GCS 3-8 : Cedera kepala berat : Cedera multipel + perdarahan intrakranial dengan GCS ringan /sedang.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan kepala, mata, hidung, ekstremitas bila terdapat luka diberikan penanganan. Pemeriksaan neurologis : GCS, tanda tekanan intrakranial meningkat (pusing/sakit kepala, muntah, kesadaran menurun, kadang terjadi kejang). Pupil, defisit neurologis lain (lateralisasi, paresis saraf kranialis ).

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan dalam menegakan diagnosa cedera kepala sedang adalah X - Ray tengkorak, CT Scan, Angiografi.

EPIDURAL HEMATOM
Pengumpulan darah diantara tengkorak dengan duramater. Biasanya berasal dari arteri yang pecah oleh karena ada fraktur atau robekan langsung. Gejala (trias klasik) : 1. Interval lusid. 2. Hemiparesis/plegia. 3. Pupil anisokor. Diagnosis akurat dengan CT scan kepala : perdarahan bikonveks atau lentikulerdi daerah epidural.

SUBDURAL HEMATOM
Perdarahan yang mengumpul diantara korteks serebri dan duramater regangan dan robekan vena-vena drainase yang terdapat di rongga subdural anterior permukaan otak dengan sinus duramater. Gejala klinik biasanya tidak terlalu hebat kecuali bila terdapat efek massa. Berdasarkan kronologis SDH dibagi menjadi : 1. SDH akut : 1- 3 hari pasca trauma. 2. SDH subakut : 4-21 hari pasca trauma. 3. SDH kronis : > 21 hari. Gambaran CT scan kepala terdapat lesi hiperdens berbentuk bulan sabit yang sering terjadi pada daerah yang berseberangan dengan trauma (Counter Coup)

Hematom Intraserebral

Terkumpulnya darah secara fokal yang diakibatkan oleh regangan atau rotasional terhadap pembuluh Darah intraparenkim otak/ cedera penetrans. Gambaran Khas lesi pdrh diantara neuron otak yang relatif normal. Tepi bisa tegas/ tidak tergantung apakah ada edem otak/tidak. Perdrhan intraserebral bisa timbul beberapa hari kemudian sesudah trauma monitor dg pemeriksaan Tanda vital, pemeriksaan Neurologis, bila perlu CT scan ulang.

1. 2. 3. 4.

Tindakan operasi dilakukan bila perdarahan > 40 cc. Bila komplikasi akut : gangguan parenkim otak, gangguan pembuluh darah arteri. Bila tidak ada komplikasi disebabkan : atrofi otak menyebabkan perdarahan dan putusnya vena jembatan, gangguan pembekuan. Tindakan operasi dilakukan bila : Perdarahan berulang. Kapsulisasi. Lobulat (multilobulat) Kalsifikasi.

Subarachnoid Hematom
Perdarahan fokal di daerah subarachnoid CT scan terdapat lesi hiperdens yang mengikuti arah girus-girus serebri daerah yang berdekatan dengan hematom. Gejala klinik = kontusio serebri. Penatalaksanaan : perawatan dengan medikamentosa dan tidak dilakukan op.

EDEMA SEREBRI

1. 2.

Tertimbunnya cairan yang berlebihan baik pada ruang inti atau ekstra sel otak. (berbeda dengan pembengkakan otak karena tumor, abses) Penyebab secara umum karena meningkatnya kadar air di jaringan Otak disebabkan oleh meningkatnya permeabilitas pembuluh darah otak/ kerusakan sawar darah otak. Pembagian edema serebri : Edema vasogenik : permeabilitas pembuluh Darah . Edema sitotoksik : disebabkan karena jaringan saraf mengalami hipoksia.

FRAKTUR IMPRESI
Ada 2 macam fraktur impresi : 1. Impresi fraktur tertutup : akibat pukulan benda keras yang mengakibatkan tulang kepala melesak kedalam dengan memberikan tekanan/tidak terhadap parenkim otak tanpa mengakibatkan robeknya kulit kepala dan hubungan dengan dunia luar. 2. Impresi fraktur terbuka : impresi tulang kepala + robekan kulit kepala dan terjadi hubungan dengan dunia luar, bila impresi hebat dapat terjadi robekan pada duramater. Pemeriksaan fisik dilakukan cermat untuk menentukan op. segera/ terencana atau konservatif.

PENATALAKSANAAN

Airway, Breathing, Circulation. Membersihkan hidung dan mulut dari darah dan muntahan Melonggarkan pakaian yang ketat. Menghisap lendir dari mulut, tenggorok dan hidung. Bila ada gigi palsu sebaiknya dikeluarkan. Bila perlu pasang pipa endotrakhea atau lakukan trakheostomi O2 diberikan bila tidak ada hiperventilasi. Posisi tidur sebaiknya miring kecuali bila ada kecurigaan fraktur servikal. Cairan : 1500-2000 cc/hr. Bila terdapat tanda edema serebri,hati-hati dengan jumlah cairan Balans cairan.

OPERATIF tergantung K.U pasien. Pada trauma tertutup : 1. Fraktur impresi. 2. EDH. 3. SDH akut 4. ICH
1. 2. 3.

4.
5.

Pada trauma terbuka : Perlukaan kranioserebral, fraktur multipel, dura yg robek, + laserasi otak. Liquorhoe (keluar cairan otak) Pneumocephali (terisi udara). Corpus alienum (benda asing). Luka tembak pada kepala

TERIMA KASIH