Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH

IMUNOLOGI
SEDIAAN SISTEM IMUN

OLEH : SEPTARIA (1001090)

DOSEN PEMBIMBING : Dra. Sylfia Hasti,M,Farm,Apt.

PROGRAM STUDI S-1 SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada Penulis sehingga Penulis mampu menyelesaikan makalah dengan judul Sediaan Sitem Imun . Makalah ini berisi tentang Sistem imun manusia yang dilengkapi dengan contoh contoh sediaan sistem imun yang beredar. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan koreksi, saran, dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca demi perbaikan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi kita semua pada umumnya dan bagi penulis sendiri khususnya.

Pekanbaru, November 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Salah satu sistem terpenting yang terus menerus melakukan tugas dan kegiatan dan tidak pernah melalaikan tugasnya adalah sistem kekebalan tubuh atau biasa kita sebut dengan sistem imun. Sistem ini melindungi tubuh sepanjang waktu dari semua jenis penyerang yang berpotensi menimbulkan penyakit pada tubuh kita. Ia bekerja bagi tubuh bagaikan pasukan tempur yang mempunyai persenjataan lengkap.

Setiap sistem, organ, atau kelompok sel di dalam tubuh mewakili keseluruhan di dalam suatu pembagian kerja yang sempurna. Setiap kegagalan dalam sistem akan menghancurkan tatanan ini. Sistem imun sangat sangat diperlukan bagi tubuh kita. Sistem imun adalah sekumpulan sel, jaringan, dan organ yang terdiri atas :

Pertahanan lini pertama tubuh Merupakan bagian yang dapat dilihat oleh tubuh dan berada pada permukaan tubuh manusia sepeti kulit, air mata, air liur, bulu hidung, keringat, cairan mukosa, rambut.

Pertahanan lini kedua tubuh Merupakan bagian yang tidak dapat dilihat seperti timus, limpa, sistem limfatik, sumsum tulang, sel darah putih/ leukosit, antibodi, dan hormon.

Semua bagian sistem imun ini bekerja sama dalam melawan masuknya virus, bakteri, jamur, cacing, dan parasit lain yang memasuki tubuh melalui kulit, hidung, mulut, atau bagian tubuh lain. Sistem imun kita tersebar di seluruh tubuh dan tidak berada di bawah perintah otak, tetapi bekerja melalui rangkaian informasi pada tiap bagian dari sistem imun. Jumlah sel-sel imun lebih banyak 10 kali lipat dari sistem saraf dan mengeluarkan empat puluh agen imun yang berbeda-beda untuk melindungi tubuh dari penyakit. Sistem pertahanan tubuh

pada manusia atau lebih kita kenal sebagai sistem imun sering diartikan sebagai suatu efektor dalam menghalau musuh yang terdiri atas zat asing yang akan memasuki tubuh. Istilah Imun berasal dari suatu istilah pada era Romawi yang berarti suatu keadaan bebas hutang. Dengan demikian, sistem imun lebih tepat diartikan sebagai suatu sistem yang menjamin terjalinnya komunikasi antara manusia dan lingkungan yaitu media hidupnya secara setara dan tidak saling merugikan.

Secara umum, sistem imun manusia dibagi menjadi 2, yaitu sistem imun alamiah (innate/natural immunity) dan sistem imun adaptif (spesific immunity). Sistem imun alamiah terdapat sejak kita lahir dan merupakan pertahanan pertama tubuh terhadap masuknya zat-zat asing yang mengancam tubuh kita dimana sistem imun alamiah ini terentang luar mulai dari air mata, air liur, keringan, bulu hidung, kulit, selaput lendir, laktoferin dan asalm neuraminik (pada air susu ibu), sampai asam lambung.

Di dalam cairan tubuh seperti air mata atau darah terdapat komponen sistem imun alamiah (innate/natural immunity) antara lain terdiri atas fasa cair seperti IgA (immunoglobulin A), Interferon, Komplemen, Lisozim, atau juga CRP (C-Reactive Protein). Selain itu, fasa selular terdiri atas sel-sel pemangsa (fagosit) seperti sel darah putih (PMN-Polimorfonuklear), sel-sel mononuklear (monosit dan makrofag) sel pembunuh alamiah (natural killer), dan sel-sel dendritik.

Sedangkan pada sistem imun adaptif (spesific immunity) terdapat sistem dan struktur fungsi yang lebih kompleks dan beragam. Sistem imun adaptif terdiri atas sub-sistem seluler, yaitu keluarga sel limfosit T (T helper dan T sitotoksik) dan keluarga sel mononuklear. Sub-sistem kedua yaitu sub-sistem humoral yang terdiri dari kelompok protein globulin terlarut (fasa cair), yaitu Immunoglobulin G, A, M, D, dan E. Immunoglobulin dihasilkan oleh sel limfosit B melalui proses aktivasi khusus yang bergantung pada karakteristik antigen yang dihadapi. Secara berkesinambungan dalam jalinan koordinasi yang harmonis, sistem imun, baik

yang alamiah maupun adaptif, senantiasa bahu-membahu menjaga keselarasan interaksi antara sistem tubuh manusia dan media hidupnya (ekosistem). Sistem imun menyediakan kekebalan terhadap suatu penyakit yang disebut imunitas. Respon imun adalah suatu cara yang dilakukan tubuh untuk memberi respon terhadap masuknya patogen atau antigen tertentu ke dalam tubuh. Sistem pertahanan tubuh terbagi atas 2 bagian yaitu: A. Pertahanan non spesifik Merupakan garis pertahan pertama terhadap masuknya serangan dari luar. Pertahanan non spesifik terbagi atas 3 bagian yaitu :

1. Pertahanan fisik :kulit, mukosa membran 2. Pertahanan kimiawi: saliva, air mata, lisozim (enzim penghancur) 3. Pertahanan biologis: sel darah protein putih yang bersifat dan fagosit respon

(neutrofil,monosit,acidofil), pembengkakan (inflammatory).

antimikroba

B. Pertahanan spesifik Dilakukan oleh sel darah putih yaitu sel darah putih Limfosit. Disebut spesifik karena: dilakukan hanya oleh sel darah putih Limfosir, membentuk kekebalan tubuh, dipicu oleh antigen (senyawa asing) sehingga terjadi pembentukan antibodi dan setiap antibodi spesifik untuk antigen tertentu. Limfosit berperan dalam imunitas yang diperantarai sel dan anibodi.

BAB II PEMBAHASAN

I.

IMMUNOMODULATOR

1.1 Definisi Immunomodulator adalah sebuah bahan alamiah atau sintetis yang akan membantu tubuh kita dalam meregulasi atau menormalisasi sistem kekebalan tubuh. Immunomodulator membantu memperbaiki sistem kekebalan tubuh atau menenangkan sistem kekebalan yang over aktif. Namun immonomodulator tidak meningkatkan sistem kekebalan seperti yang dilakukan oleh immunostimulant (seperti contohnya Echinacea). Immunomodulator direkomendasikan untuk orang-orang dengan penyakit autoimun dan secara luas digunakan pada penyakitpenyakit kronik untuk mengembalikan sistem kekebalan dalam rangka membantu orang-orang yang mengkonsumsi antibiotik atau terapi anti virus jangka panjang (termasuk terapi antiretroviral untuk pengobatan HIV). Immunomodulator bekerja dengan cara menstimulasi sistem pertahanan natural atau adaptif, seperti contohnya mengaktifkan sitokin yang secara alamiah akan membantu tubuh dalam memperbaiki sistem kekebalan tubuh. Golongan Obat obat Imunomodulator

1.2

1. Imunomodulator Alamiah Immunomodulator alamiah termasuk ginseng, chamomile tea, minuman lemon atau zaitun, ekstrak jamur resihi dan esktrak daun zaitun.

2. Imunomodulator Sintetis Tacrolimus Komposisi : Tacrolimus Indikasi :

Tacrolimus dapat digunakan pada preparat topikal untuk terapi dermatitis atopik berat, terbukti efektif digunakan pada pasien dengan eczema, vitiligo dan nickel allergy. Mekanisme kerja : Tacrolimus merupakan hasil fermentasi dari Streptomyces tsukubaensis dan diisolasi pertama kali pada tahun 1984. Tacrolimus bekerja dengan menghambat transkripsi gen pembentuk sitokin pada limfosit T. Tacrolimus memiliki aktivitas immunosupresif seperti cyclosporine, namun dengan volume yang sama tacrolimus memiliki daya yang lebih kuat. Efek samping : Efek samping pemberian immunomodulator termasuk diantaranya adalah mual, muntah, diare, radang perut, ruam, malaise dan peradangan hati. Nama paten : Protopic Bentuk sediaan dan Dosis : Salep 0.03% x 10 g Salep 0.1% x 10 g. Dewasa : oleskan tipis (kandungan salep 0.03% 0.1%) pada daerah kulit yang terkena, lanjutkan sampai satu minggu hingga gejala dan tanda dari dermatitis atopik hilang. Anak (usia kurang dari 2 tahun) : oleskan tipis (kandungan salep 0.03%) pada daerah kulit yang terkena, lanjutkan sampai satu minggu hingga gejala dan tanda dari dermatitis atopik hilang.

II. IMUNOSUPRESAN 2.1 Definisi Imunosupresan adalah kelompok obat yang digunakan untuk menekan respons imun seperti pencegah penolakan transplantasi, mengatasi penyakit autoimun, dan mencegah hemolisis rhesus pada neonatus. Sebagian dari kelompok obat ini bersifat sitotoksik dan digunakan sebagai antikanker.

Imunosupresan digunakan untuk 3 indikasi utama, yaitu: a. Transplantasi organ b. Pencegahan hemolisis rhesus pada neonates c. Pengobatan penyakit autoimun

Penyakit autoimun berkembang bila sistem imun mengalami sensitisasi oleh protein endogen dan menganggapnya sebagai protein asing. Hal ini merangsang pembentukan antibodi atau perkembangan sel T yang dapat bereaksi dengan antigen endogen ini. Efektivitas terapi imunosupresan tergantung dari jenis penyakit, dan umumnya kurang efektif dibanding dengan pencegahan reaksi transplantasi atau pencegahan reaksi hemolitik rhesus. Berbagai penyakit autoimun seperti ITP (idiopathic thrombocytopenic purpura), anemia hemolitik autoimun, dan glomerulonefritis akut, umumnya memberi respon cukup baik terhadap pemberian prednisone saja. Untuk kasus berat dierlukan penambahan obat sitotoksik. 2.2 Golongan Obat obat Imunosupresan

Empat kelompok obat imunosupresan yang digunakan di klinik adalah kortikosteroid, penghambat kalsineurin, sitotoksik, dan antibodi.

1. Golongan Kortikosteroid Kortikosteroid (glukokortikoid) digunakana sebagai obat tunggal atau dalam kombinasi dengan imunosupresan lain untuk mencegah reaksi penolakan transplantasi dan untuk mengatasi penyakit autoimun. Prednison dan prednisolon merupakan glukokortikoid yang paling sering digunakan. Glukokortikoid dapat menurunkan jumlah limfosit secara cepat, terutama bila diberikan dalam dosis besar. Studi terbaru menunjukkan bahwa kortikosteroid menghambat proliferasi sel limfosit T, imunitas seluler, dan ekspresi gen yang menyandi berbagai sitokin (IL-1, IL-2, IL-6, IFN-, dan TNF-). Terdapat bukti bahwa berbagai gen sitokin memiliki glucocorticoid response element yang bila

berikatan dengan kortikosteroid akan menyebabkan hambatan transkripsi gen IL2. Kortikoteroid juga memiliki efek antiinflamasi nonspesifik dan antiadhesi. Kortikosteroid biasanya digunakan bersama imunosupresan lain dalam mencegah penolakan transplantasi. Selain itu, kortikosteroid juga digunakan untuk berbagai penyakit autoimun. Penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang sering menimbulkan berbagai efek samping seperti meningkatnya risiko infeksi, ulkus

lambung/duodenum, hiperglikemia, dan osteoporosis.

Betamethasone Komposisi : Betamethasone Indikasi : Kortikosteroid yang tidak retensi terhadap air, digunakan sebagai, salep krim, lotion, atau gel untuk mengobati gatal-gatal. Mekanisme kerja :

Bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintetis protein lain. Efek samping : Diabetes dan osteoporosis yang terutama berbahaya bagi usia lanjut. Nama paten : Alphacort, benzema, benoson, betagentam, betason, betopic, bevalex, celestamine, digenta, derticort, garasone, lotriderm,dsb. Bentuk sediaan dan Dosis : Bentuk sediaan oral (sirup, tablet, tablet effervescent): Dewasa dan remaja: Dosis dapat berkisar 0,25-7,2 miligram per hari, sebagai dosis tunggal atau dibagi menjadi beberapa dosis. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Bentuk sediaan oral long-acting (tablet extended-release): Dewasa dan remaja: Dosis dapat berkisar 1,2-12 mg disuntikkan ke dalam, sendi, otot vena, atau sesering yang diperlukan, sebagaimana ditentukan oleh dokter. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Bentuk sediaan injeksi: Dewasa dan remaja: 2 sampai 6 mg sehari. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Budenoside Komposisi : Budenoside Indikasi :

Kortikosteroid untuk pengobatan asma, hidung mampet non infeksi, pengobatan dan pencegahan polyposis hidung, serta penyakit Crohn atau radang usus. Mekanisme kerja : Bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintetis protein lain. Efek samping : Diabetes dan osteoporosis yang terutama berbahaya bagi usia lanjut. Nama paten : Budenbofalk, cycortide, inflammide, pulmicort, pulmicort respules, rhinocort aqua, symbicort. Bentuk sediaan dan Dosis : Bentuk sediaan oral (extended-release kapsul): Dewasa: Pada dosis pertama 9 miligram (mg) per hari sampai delapan minggu. Kemudian dokter dapat menurunkan dosis 6 mg sehari. Setiap dosis harus diambil pada pagi hari sebelum sarapan. Anak-anak: Penggunaan dan dosis harus ditentukan oleh dokter. Kortison Komposisi : Kortison Indikasi : Hormon steroid yang diproduksi oleh kelenjar adrenal untuk merespon stres dan glukokortikoid yang rendah dalam darah. Fungsi utamanya adalah untuk meningkatkan gula darah, menekan sistem kekebalan tubuh, dan membantu metabolisme lemak, protein dan karbohidrat. Mekanisme kerja : Bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintetis protein lain.

Efek samping : Diabetes dan osteoporosis yang terutama berbahaya bagi usia lanjut. Nama paten : Cortison asetat. Bentuk sediaan dan Dosis : Bentuk sediaan oral (suspensi oral, tablet): Dewasa dan remaja:20-800 miligram (mg) setiap satu atau dua hari, sebagai dosis tunggal atau dibagi menjadi beberapa dosis. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Bentuk sediaan injeksi: Dewasa dan remaja-5 hingga 500 mg disuntikkan ke dalam lesi, sendi, otot, atau vena, atau di bawah kulit sesering yang diperlukan, sebagaimana ditentukan oleh dokter. Anak-anak Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Deksametasone Komposisi : Deksametasone Indikasi : Kortikosteroid untuk obat anti radang dan menekan sistem kekebalan tubuh atau imunosupresan. Mekanisme kerja : Bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintetis protein lain. Efek samping : Diabetes dan osteoporosis yang terutama berbahaya bagi usia lanjut. Nama paten :

Adrekon, alegi, alerdex, alletrol, asonfen, bidaxtam, carbidu,tazimut, trifason, zecaxon, trodex, selexon, ramadexon, dsb. Bentuk sediaan dan Dosis : Bentuk sediaan oral ( larutan oral, tablet): Dewasa dan remaja: 0,5 sampai 10 miligram (mg) diambil sesering yang diperlukan, sebagaimana ditentukan oleh dokter. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Bentuk sediaan injeksi: Dewasa dan remaja: 20-40 mg disuntikkan ke dalam otot vena, atau sesering yang diperlukan, sebagaimana ditentukan oleh dokter. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Hydrokortison Komposisi : Hydrocortison Indikasi : Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adrenal untuk merespon stres. Mekanisme kerja : Bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintetis protein lain. Efek samping : Diabetes dan osteoporosis yang terutama berbahaya bagi usia lanjut. Nama paten : Hufacort, kemiderm, indoson, nufacort, omnicort, zolacort, solacort, brentan, anusol hc, armacort, dsb. Bentuk sediaan dan Dosis : Bentuk sediaan oral (tablet):

Dewasa dan remaja: 25 hingga 300 miligram (mg) per hari, sebagai dosis tunggal atau dibagi menjadi beberapa dosis. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Bentuk sediaan injeksi: Dewasa dan remaja: 20 sampai 300 mg sehari, disuntikkan ke dalam otot. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Prednisolon Komposisi : Prednicolone Indikasi : Kortikosteroid untuk pengobatan berbagai macam kondisi peradangan dan gangguan sistem kekebalan tubuh yang luas. Mekanisme kerja : Bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintetis protein lain. Efek samping : Diabetes dan osteoporosis yang terutama berbahaya bagi usia lanjut. Nama paten : Borraginol-s, cendo pnp, cendocetapred, chloramfecort h, colipred, eltazon, etacortin, hexacort, klorfeson, pehacort. Bentuk sediaan dan Dosis : Bentuk sediaan oral (larutan oral, sirup, tablet): Dewasa dan remaja: 5 hingga 200 miligram (mg) diambil sesering yang diperlukan, sebagaimana ditentukan oleh dokter. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Bentuk sediaan injeksi:

Dewasa dan remaja:2 hingga 100 mg disuntikkan ke dalam, bersama lesi, otot vena, atau sesering yang diperlukan, sebagaimana ditentukan oleh dokter Anda. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter Anda. Prednisone Komposisi : Prednisone Indikasi : Kortikosteroid sintetik yang berfungsi menekan sistem kekebalan tubuh atau imunosupresan. Mekanisme kerja : Bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintetis protein lain. Efek samping : Diabetes dan osteoporosis yang terutama berbahaya bagi usia lanjut. Nama paten : Erlanison, ifison, inflason, lexacort, prednicap, prednison berllco, prednisone, remacort, trifacort. Bentuk sediaan dan Dosis : Bentuk sediaan oral (larutan oral, sirup, tablet) : Dewasa dan remaja:5 hingga 200 miligram (mg) setiap satu atau dua hari, sebagai dosis tunggal atau dibagi menjadi beberapa dosis. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Triamcinolone Komposisi : Triamcinolone

Indikasi : Kortikosteroid yang digunakan untuk mengobati eksim, psoriasis, arthritis, alergi, maag, lupus, oftalmia simpatik, arteritis temporalis, uveitis, dan peradangan mata selama vitrectomy serta pencegahan serangan asma. Mekanisme kerja : Bekerja melalui interaksinya dengan protein reseptor yang spesifik di organ target, untuk mengatur suatu ekspresi genetik yang selanjutnya akan menghasilkan perubahan dalam sintetis protein lain. Efek samping : Diabetes dan osteoporosis yang terutama berbahaya bagi usia lanjut. Nama paten : Flamicort, kenacort, nasacort, ketricin, omenacort, tridez, trilac, triamcort. Bentuk sediaan dan Dosis : Bentuk sediaan oral (sirup, tablet): Dewasa dan remaja: 2 hingga 60 miligram (mg) per hari, sebagai dosis tunggal atau dibagi menjadi beberapa dosis. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter. Bentuk sediaan injeksi: Dewasa dan remaja: 0.5 sampai 100 mg disuntikkan ke dalam lesi, sendi, atau otot, atau di bawah kulit sesering yang diperlukan, sebagaimana ditentukan oleh dokter. Anak-anak: Dosis didasarkan pada berat badan atau ukuran dan harus ditentukan oleh dokter.

2.

Golongan Penghambat kalsineurin Siklosporin Komposisi : Siclosporin Indikasi :

Siklosporin sangat berperan meningkatkan keberhasilan transplantasi. Siklosporin juga bermanfaat pada beberapa penyakit autoimun seperti sindrom Behcet, uveitis endogen, psoriasis, dermatitis atopic, rematoid arthritis, penyakti Crohn, dan sindrom nefrotik. Siklosporin diberikan jika terapi standar dengan kortikosteroid gagal. Dalam banyak kasus di atas, sikloporin dikombinasi dengan kortikosteroid. Mekanisme kerja : Yaitu menghambat kalsineurin. Di dalam sitoplasma limfosit T (CD4), siklosporin berikatan dengan siklofilin, sedangkan takrolimus dengan FK506-binding protein(FKBP). Ikatan ini selanjutnya menghambat fungsi kalsineurin. Kalsineurin adalah enzim fosfatase dependent kalsium dan memegang peranan kunci dalam defosforilasi protein regulator di sitosol, yaitu NFATc (nuclear factor of activated T cell). Siklosporin juga mengurangi produksi IL-2 dengan cara meningkatkan ekspresi TGF- yang mrupakan penghambat kuat aktivasi limfosit T oleh IL-2. Meningkatnya ekspresi TGF- diduga memegang peranan penting pada efek imunosupresan siklosporin. Efek samping : Efek samping utama siklosporin adalah gangguan fungsi ginjal yang dapat terjadi pada 75% pasien yang mendapat siklosporin. Gangguan fungsi ginjal juga seirng menjadi factor utama penghentian pemberian siklosporin. Nama paten : Sandimmun, sandimmun neoral. Bentuk sediaan dan Dosis : Sediaan i.v terdapat dalam bentuk larutan dalam ethanol-polyoxyethylated castor oil kadar 50 mg/m. Sediaan kapsul lunak 25-100 mg dan laritan oral 100 mg/mL. Takrolimus Komposisi :

Tacrolimus Indikasi : Takrolimus digunakan dengan indikasi yang sama dengan siklosporin, terutama untuk transplantasi hati, ginjal, dan jantung. Takrolimus kira-kira 100x lebih aktif dibandingkan siklosporin. Mekanisme kerja : Yaitu menghambat kalsineurin. Di dalam sitoplasma limfosit T (CD4), takrolimus berikatan dengan FK506-binding protein(FKBP). Ikatan ini selanjutnya menghambat fungsi kalsineurin. Kalsineurin adalah enzim fosfatase dependent kalsium dan memegang peranan kunci dalam defosforilasi protein regulator di sitosol, yaitu NFATc (nuclear factor of activated T cell). Efek samping : Takrolimus menunjukkan toksisitas yang mirip dengan siklosporin. Nefrotoksisitas merupakan efek samping utama. Efek jangka panjang sama dengan obat imunosupresan lain. Nama paten : Protopic Bentuk sediaan dan Dosis : Dosis i.v untuk dewasa 25-50 mg/kgBB/hari. Anak anak 50-100 mg/kgBB/hari. Dosis oral untuk dewasa 150-200 mg/kgBB/hari. Anak anak 200-300 mg/kgBB/hari.

3. Golongan Sitotoksik Sebagian besar obat sitotoksik digunakan sebagai antikanker. Beberapa diantaranya digunakan sebagai imunosupresan untuk mencegah penolakan transplantasi dan pengobatan penyakit autoimun. Obat kelompok ini menghambat perkembangan sel limfosit B dan T.

Azatioprin Komposisi : Azatioprin Indikasi : Mencegah penolakan transplantasi, lupus nefritis, glomerulonefritis akut, artritis rematoid, penyakit Crohn, dan sklerosis multipel. Mekanisme kerja : Adalah antimetabolit golongan purin yang merupakan prekursor 6merkaptopurin. Azatioprin dalam tubuh diubah menjadi 6-merkaptopurin (6-MP) yang merupakan metabolit aktif yang bekerja menghambat sintesis de novo purin. Yang terbentuk adalah Thio-IMP, kemudian selanjutnya diubah menjadi Thio-GMP, kemudian Thio-GTP, interkalasi Thio-GTP dalam DNA akan menyebabkan kerusakan DNA. Efek samping : Tergantung dosis, durasi, dan obat lain yang digunakan : SSP : Demam, malaise; Dermatologi : Alopesia, rash; GI : Diare, mual, muntah, pankreatitis.; Hematology :Pendarahan, leucopenia, anemia makrositis, pansitopenia, trombositopenia; Hati : Hepatotoksisitas, hepatik vena-okulsif, steatorrhea; Otot dan skeletal : Arthalgia, myalgia; Pernafasan : Penumositis interstitial; Miscelleneous : Hipersensitivitas, infeksi sekunder imunosupresan neoplasia. Nama paten : Azathioprine, imuran. Bentuk sediaan dan Dosis : Tersedia dalam bentuk tablet 50 mg dan sediaan i.v 100 mg/vial. Dosis untuk profilaksis 3-10 mg/kgBB/hari 1 atau 2 hari sebelum transplantasi. Dosis pemeliharaan 1-3 mg/kgBB/hari.

Mikofenolat mofetil Komposisi : Mikofenolat mofetil Indikasi : Obat ini digunakan untuk mencegah penolakan transplantasi ginjal. Indikasi lain adalah Lupus nefritis, arthritis rematoid, dan berbagai kelainan dermatologis. Mekanisme kerja : Merupakan derivat semisintetik dari asam mikofenolat yang diisolasi dari jamur Penicillium glaucum. Asam mekofenolat adalah penghambat kuat inosin monofosfat dehidrogenase, suatu enzim penting pada sintesis de novo purin. Efek samping : Gangguan gastrointestinal ( mual, muntah, diare, sakit perut ), dan mielosupresi ( terutama neutropenia ). Nama paten : Cellcept. Bentuk sediaan dan Dosis : Tersedia dalam bentuk kapsul 250 mg, tablet 500 mg, dan bubuk 500 mg untuk injeksi. Siklofosfamide Komposisi : Siklofosfamide Indikasi : Dalam dosis besar, obat ini digunakan sebagai antikanker. Pada dosis yang lebih kecil digunakan sebagai pengobatan penyakit autoimun seperti SLE, granulomatosis Wegener, ITP, arthritis rematoid, dan sindrom nefrotik. Mekanisme kerja : Merupakan alkilator golongan mustar nitrogen yang menyebabkan alkilasi pada DNA sehingga menghambat sintesis dan fungsi DNA. Sel B dan T

sama-sama dihambat tetapi toksisitasnya lebih besar pada sel B sehingga efek obat ini lebih nyata pada penekanan imunitas humoral. Efek samping : Mual, muntah, depresi sumsum tulang. Nama paten : Cyclophosphamide, cytoxan, endoxan, neosar. Bentuk sediaan dan Dosis : Tersedia dalam bentuk tablet 25 dan 50 mg. Larutan untuk injeksi i.v 100 mg/vial 20 cc, vial 1 dan 2 gram, bubuk 100, 200 dan 500 mg. Dosis 1,5 3 mg/kgBB per hari. Metotreksat Komposisi : Metotreksat Indikasi : Metotreksat merupakan obat antikanker yang digunakan sebagai obat tunggal atau kombinasi dengan sikloposin untuk mencegah penolakan transplantasi. Obat ini juga berguna untuk mengatasi penyakit autoimun dan merupakan lini kedua pengobatan arthritis rematoid dan psoriasis yang refrakter terhadap terapi standar. Mekanisme kerja : Obat ini bekerja dengan menghambat enzim dihidrofolat reduktase, sehingga menghambat sintesisi timidilat dan purin. Obat ini bekerja spesifik pada fase S siklus sel. Efek samping : Pada pemberian jangka panjang dosis rendah seperti pada psoriasis terjadi sirosis dan fibrosis hati pada 30-40% pasien. Nama paten : Methotrexate, Methotrexate 50 mg/2ml, dbl , texorate. Bentuk sediaan dan Dosis : Tersedia dalam bentuk tablet 2,5 mg.

4. Golongan Antibodi Antibodi monoclonal dan poliklonal terhadap antigen yang ada di permukaan limfosit digunakan secara luas untuk mencegah penolakan transplantasi (mayoritas) dan pada berbagai penyakit autoimun, ataupun pengobatan kanker. Antibodi poliklonal terdiri dari ATG (antithymocyte globulin),

immunoglobulin intravena (IGIV). Antibody monoclonal terdiri dari anti CD 3 dan Rh0 (D) immunoglobulin. Sedangkan antibody monoclonal lainnya adalah trastuzumab, rituksimab, daklizumab, basiliksimab, absiksimab, infliksimab, dan adalimumab.

a.

Antibodi poliklonal ATG (antithymocyte globulin) Komposisi : ATG (antithymocyte globulin) Indikasi : Mengobati reaksi penolakan transplantasi ginjal, jantung atau organ lain. Juga digunakan sebagai profilaksis sebelum transplantasi. Mekanisme kerja : Merupakan antibodi poliklonal yang dapat berikatan pada berbagai molekul permukaan limfosit T dan molekul kelas HLA kelas I dan II. Efek samping : Efek samping yang relatif sering serum sickness dan nefritis. Efek samping lain demam, menggigil, leukopenia, trombositopenia, dan ruam kulit. Nama paten : Bentuk sediaan dan Dosis : Sediaan 25 mg/vial untuk suntikan i.v. Biasanya seecara i.v sentral 10-30 mg/kgBB.

Dosis untuk transplantasi 1,5 mg/kgBB/ hari (dalam infus 4-6 jam) selama 7-14 hari. Immunoglobulin intravena (IGIV) Komposisi : Immunoglobulin Indikasi : Pengobatan respiratory sinotitial virus, sitomegalovirus, varicella zoster, human herpes virus 3, hepatitis B, rabies, dan tetanus. Mekanisme kerja : Mekanisme kerjanya diduga berdasarkan pengurangan jumlah sel T helper, peningkatan jumlah sel T supresor, dan mengurangi produksi imunoglobulin. Efek samping : Nama paten : Bentuk sediaan dan Dosis : Tersedia dalam bentuk larutan 5 dan 10%, bubuk 2,5 gram dan 12 gram untuk injeksi.

b. Antibodi monoklonal Anti CD3 Komposisi : Indikasi : Digunakan pada transplantasi ginjal, hati dan jantung. Selain itu juga digunakan untuk mengurangi jumlah sel T sebelum transplantasi sumsum tulang. Mekanisme kerja : Berikatan dengan molekul CD3, yaitu komponen reseptor sel T yang berperan pada fase pengenalan antigen. Efek samping :

Cytokine release syndrome, yang dapat terjadi pada dosis awal dan bervariasi mulai dari flu like syndrome sampai syok berat yang mengancam nyawa. Nama paten : Bentuk sediaan dan Dosis : Tersedia dalam bentuk ampul 5 mg/5 mL. Dosis yang dianjurkan adalah 5 mg/hari, secara i.v dalam dosis tunggal selama 10 14 hari. Rh0 (D) immunoglobulin Komposisi : Imunoglobulin Indikasi : Digunakan pada ibu Rhesus negatif untuk mencegah sensitisasi terhadap antigen Rhesus yang berasal dari janin. Mekanisme kerja : Data farmakokinetika belum lengkap. Efek samping : Nama paten : Bentuk sediaan dan Dosis : Sediaan injeksi diberikan secara i.m. Trastuzumab Komposisi : Trastuzumab Indikasi : Digunakan pada kanker payudara metastatik pada pasien dengan ekspresi HER-2/neu berlebihan. Mekanisme kerja : Berikatan dengan antigen yang terdapat pada permukaan sel tumor atau sel kanker dan mengaktifkan sistem komplemen, sehingga menyebabkan

sitolisis. Disamping itu reseptor yang terikat pada bagian Fc dari antibodi dapat merangsang sel sel efektor seperti sel NK, makrofag dan granulosit untuk menangkap kompleks antigen antibodi pada permukaan sel tumor, sehingga dapat membunuh sel tumor melalui antibody-dependent cellmediated cytotoxicity. Efek samping : Nama paten : Herceptin Bentuk sediaan dan Dosis : Tersedia sediaan vial, dosis 1 vial 440 mg 1 vial 10 mL. Dosis 4 mg/kgBB/hari secara i.v selama > 90 menit.

III. IMUNOSTIMUULAN 3.1 Definisi Imunostimulan ditunjukan untuk perbaikan fungsi imun pada kondisikondisi imunosupresi. Kelompok obat ini dapat memperngaruhi respon imun seluler maupun humoral. Kelemahan obat ini adalah efeknya menyeluruh dan tidak bersifat spesifik untuk jenis sel atau antibodi tertentu. Selain itu efek umumnya lemah. Indikasi imunostimulan antara lain AIDS, infeksi kronik, dan keganasan terutama yang melibatkan sistem lifatik. (Widianto B Matildha. 1987) Imunostimulan adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Pertahanan non spesifik terhadap antigen ini disebut paramunitas, dan zat berhubungan dengan penginduksi disebut paraimunitas. Induktor semacam ini biasanya tidak atau sedikit sekali kerja antigennya, akan tetapi sebagian besar bekerja sebagai mitogen yaitu meningkatkan proliferasi sel yang berperan pada imunitas. Sel tujuan adalah makrofag, granulosit, limfosit T dan B, karena induktor paramunitas ini bekerja menstimulasi mekanisme pertahanan seluler. Mitogen ini dapat bekerja langsung maupun tak langsung (misalnya melalui

sistem komplemen atau limfosit, melalui produksi interferon atau enzim lisosomal) untuk meningkatkan fagositosis mikro dan makro. Mekanisme pertahanan spesifik maupun non spesifik umumnya saling berpengaruh. Dalam hal ini pengaruh pada beberapa sistem pertahanan mungkin terjadi, hingga mempersulit penggunaan imunomodulator, dalam praktek. 3.2 Mekanisme kerja obat obat imunostimulan Imunostimulator secara tidak langsung berkhasiat mereaktivasi system imun yang rendah dengan meningkatkan respon imun tak spesifik antara lain perbanyakan limfo T4, NK-cell dan magrofag distimulasi olehnya, juga pelepasan interferon dan interleukin. Sebagai efek akhir dari reaksi kompleks itu, zat asing dapat dikenali dan dimusnahkan. Pada sel sel tumor ekspresi antigen transplantasi diperkuat olehnya sehingga lebih dikenali oleh TNF dan sel sel sytotoksis. 3.3 Golongan Obat obat Imunostimulan Ada dua kelompok obat obat imunostimulan, antara lain sebagai berikut : 1. Golongan Adjuvan Natural Levamisol Komposisi : Levamisol Indikasi : Membasmi berbagai jenis cacing, pada penyakit Hodgkin meningkatkan jumlah sel T in vitro dan memperbaiki reaktivitas tes kulit, artritis rematoid, dan adjuvan pada terapi kanker kolorektal. Mekanisme kerja : Obat ini diabsorpsi dnegan cepat dengan kadar puncak 1-2 jam. Obat ini didistribusikan luas ke berbagai jaringan dan dimetabolisme di hati. Efek samping :

Efek samping yang harus diperhatikan adalah mual, muntah, urtikaria, dan agranulositosis. Nama paten : Askamex, kam cek san, obat cacing kancisan cap, pedang. Bentuk sediaan dan Dosis : Tersedia dalam bentuk tablet 25,40,50 mg. Diberikan dengan dosis 2,5 mg/kgBB per oral selama 2 minggu, kemudian dosis pemeliharaan beberapa hari per minggu. Isoprinosin ( Inosipleks ) Komposisi : Isoprinosin Indikasi : Obat ini disetujui penggunaannya untuk berbagai penyakit

imunodifesiensi, megurangi resiko infeksi pada HIV tahap lanjut. Mekanisme kerja : Disebut juga inosiplex (ISO), adalah bahan sintetis yang mempunyai sifat antivirus dan meningkatkan proliferasi dan toksisitas sel T. Sebagai imunostimulator isoprinosin berkhasiat meningkatkan penggandaan sel T, meningkatkan toksisitas sel T, membantu produksi IL-2 (limfokin) yang berperan dalam diferensiasi limfosit dan makrofag, serta meningkatkan fungsi sel NK.. Efek samping : Nama paten : Bentuk sediaan dan Dosis : Diberikan dengan dosis 50 mg/kgBB. Vaksin BCG Komposisi : Dipeptida muramil Indikasi :

BCG digunakan untuk mengaktifkan sel T, memperbaiki produksi limfokin, dan mengaktifkan sel NK. Untuk penderita TBC. Mekanisme kerja : BCG dan komponen aktifnya merupakan produk bakteri yang emmeiliki efek imunostimulan. Penggunaan BCG dalam imunostimulan bermula dari pengamatan bahwa penderita tuberkulosis kelihatan lebih kebal terhadap infeksi oleh jasad renik lain. Dalam imunomodulasi BCG digunakan untuk mengaktifkan sel T, memperbaiki produksi limfokin, dan mengaktifkan sel NK. Efek samping : Efek samping meliputi reaksi hipersensitivitas, syok, menggigil, lesu, dan penyakit kompleks imun. Nama paten : Vaksin BCG kering Bio Farma, Vaksin Bacillus Calmette-Guerin. Bentuk sediaan dan Dosis : Live unlyophilized, Live lyophilized, killed lyophilized. Pemberian secara intradermal, i.v, intralesi, intravesika, oral, dan goresan.

2.

Golongan Sitokin Interleukin-2 Komposisi : Protein Indikasi : Perbaikan fungsi pada kondisi kondisi imunosupresi. Mekanisme kerja : Merangsang produksi sel T helper dan sel T sitotoksik. Efek samping : Hipotensi berat dan toksisitas kardiovaskuler. Nama paten : Interleukin-2 (IL-2) Bentuk sediaan dan Dosis :

Infus kontinyu dan injeksi secara s.c, i.v, dan i.m. Interferon (IFN) Komposisi : Protein (Interferon / IFN) Indikasi : Dalam klinik, digunakan dalam berbagai kanker seperti melanoma, karsinoma sel ginjal, leukemia mielositik kronik, dsb. Mekanisme kerja : Interferon langung mengaktifkan beberapa sel kekebalan lainnya, seperti makrofag dan sel sel NK. Efek samping : Demam, menggigil, lesu, mialgia, mielosupresi, sakit kepala, dan depresi. Nama paten : Alfanative, interferon alfanative. Bentuk sediaan dan Dosis : Pemberian secara s.c, dosis bersifat individualistik. Colony stimulating factor (CSF) Granulocyte colony stimulating factor (G-CSF), seperti filgrastim dan levograstim telah disetujui penggunaannya untuk mencegah neutropenia akibat kemoterapi kanker. Granulocyte macrophage colony stimulating factor (GM-CSF) digunakan untuk penyelamatan kegagalan transplantasi sumsum tulang dan untuk mempercepat pemulihan setelah transplantasi sumsum tulang autolog.

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Sistim imun adalah gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi. Ada 3 kelompok sediaan sistem imun, yaitu immunomodulator, imunosupresan, dan imunostimulan. 1. Immunomodulator adalah sebuah bahan alamiah atau sintetis yang akan membantu tubuh kita dalam meregulasi atau menormalisasi sistem kekebalan tubuh. Contoh sediaan : Immunomodulator alamiah termasuk ginseng, chamomile tea, minuman lemon atau zaitun, ekstrak jamur resihi dan esktrak daun zaitun. Immunomodulator sintetik salah satunya adalah Tacrolimus. 2. Imunosupresan adalah kelompok obat yang digunakan untuk menekan respons imun seperti pencegah penolakan transplantasi, mengatasi penyakit autoimun, dan mencegah hemolisis rhesus pada neonatus. Contoh sediaan : Golongan Antibodi. 3. Imunostimulan adalah senyawa tertentu yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik, dan terjadi induksi non spesifik baik mekanisme pertahanan seluler maupun humoral. Contoh sediaan : Golongan Adjuvan Natural dan Golongan Sitokin. 3.2 SARAN Kortikosteroid, Penghambat kalsineurin, Sitotoksik, dan

Penulis berharap makalah ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak,baik itu penulis maupun pembaca. Setelah mempelajari dan memahami isi dari makalah ini, kami berharap dapat memnerikan tambahan ilmu dan pengetahuan yang sebelumnya belum diketahui dan belum dipelajari. Kami menyadari isi makalah ini jauh dari kesempurnaan, dan belum sesuai dengan apa yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA Katzung G, Bertram,2001,Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi I,Jakarta Salemba Medika.

Radji Maksum.2010.Imunologi & Virologi.Jakarta:PT. ISFI Penerbitan. Sukandar Elin Yulinah.,Andrajati A.Adji Retnosari.,Sigit Joseph I.,Adnyana I

Ketut.,Setiadi

Prayitno.,Kusnandar.2008.ISO

Farmakoterapi.Jakarta:PT ISFI Penerbitan.

Tjay Tan Hoan, Kirana Rahardja.2007.Obat-Obat Penting.Jakarta:PT Elex Media Komputindo.

Anda mungkin juga menyukai