Anda di halaman 1dari 55

BANK INDONESIA

Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan Biro Kebijakan Moneter Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Telepon : Fax. : E-mail : Website : +62 61 3818163 +62 21 3818206 (sirkulasi) +62 21 3452489 BKM_TOD@bi.go.id http://www.bi.go.id

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER


Bank InDoneSia

Laporan Kebijakan Moneter TriWUlan III-2011


Laporan Kebijakan Moneter dipublikasikan secara triwulanan oleh Bank Indonesia setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada bulan Desember, April, Juli, dan Oktober. Selain dalam rangka memenuhi ketentuan pasal 58 UU Bank Indonesia No. 23 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004, laporan ini berfungsi untuk dua maksud utama, yaitu: (i) sebagai perwujudan nyata dari kerangka kerja antisipatif yang mendasarkan pada prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan dalam perumusan kebijakan moneter, dan (ii) sebagai media bagi Dewan Gubernur untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat luas mengenai berbagai pertimbangan permasalahan kebijakan yang melandasi keputusan kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.

Dewan Gubernur
Darmin Nasution Hartadi A. Sarwono S. Budi Rochadi Muliaman D. Hadad Ardhayadi Mitroatmodjo Budi Mulya Halim Alamsyah Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur Deputi Gubernur

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER


Bank InDoneSia

ii

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER


Bank InDoneSia

Langkah-langkah Penguatan Kebijakan Moneter dengan Sasaran Akhir Kestabilan Harga (Inflation Targeting Framework)
Mulai Juli 2005 Bank Indonesia telah mengimplementasikan penguatan kerangka kerja kebijakan moneter konsisten dengan Inflation Targeting Framework (ITF), yang mencakup empat elemen dasar: (1) penggunaan suku bunga BI Rate sebagai policy reference rate, (2) proses perumusan kebijakan moneter yang antisipatif, (3) strategi komunikasi yang lebih transparan, dan (4) penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah. Langkah-langkah dimaksud ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan tata kelola (governance) kebijakan moneter dalam mencapai sasaran akhir kestabilan harga untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Strategi Kebijakan Moneter


Prinsip Dasar Kebijakan moneter dengan ITF menempatkan sasaran inflasi sebagai tujuan utama (overriding objective) dan jangkar nominal (nominal anchor) kebijakan moneter. Dalam hubungan ini, Bank Indonesia menerapkan strategi antisipatif (forward looking) dengan mengarahkan respon kebijakan moneter saat ini untuk pencapaian sasaran inflasi jangka menengah ke depan. Penerapan ITF tidak berarti bahwa kebijakan moneter tidak memperhatikan pertumbuhan ekonomi. Paradigma dasar kebijakan moneter untuk menjaga keseimbangan (striking the optimal balance) antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan, baik dalam penetapan sasaran inflasi maupun respon kebijakan moneter, dengan mengarahkan pada pencapaian inflasi yang rendah dan stabil dalam jangka menengah-panjang. Pemerintah setelah berkoordinasi dengan Bank Indonesia telah menetapkan dan mengumumkan sasaran inflasi IHK setiap tahunnya. Berdasarkan PMK No.143/PMK.011/2010 sasaran inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk periode 2010 2012, masing-masing sebesar 5,0%, 5,0%, dan 4,5% dengan deviasi 1%. BI Rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan stance kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik. BI Rate merupakan suku bunga sinyaling dalam rangka mencapai sasaran inflasi jangka menengah panjang, yang diumumkan oleh Bank Indonesia secara periodik untuk jangka waktu tertentu. Dalam rangka implementasi penyempurnaan kerangka operasional kebijakan moneter, terhitung sejak tanggal 9 Juni 2008 Bank Indonesia melakukan perubahan sasaran operasional dari suku bunga SBI 1 bulan menjadi suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). BI Rate diimplementasikan dalam operasi moneter melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter yang tercermin pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N). Untuk meningkatkan efektivitas pengendalian likuiditas di pasar, operasi moneter harian dilakukan dengan menggunakan seperangkat instrumen moneter dan koridor suku bunga (standing facilities). BI Rate ditetapkan oleh Dewan Gubernur melalui mekanisme Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan. Dalam hal terjadi perkembangan di luar prakiraan semula, penetapan stance kebijakan moneter dapat dilakukan sebelum RDG Bulanan melalui RDG mingguan. Perubahan dalam BI Rate pada dasarnya menunjukkan respons kebijakan moneter Bank Indonesia untuk mengarahkan prakiraan inflasi ke depan agar tetap berada dalam lintasan sasaran inflasi yang telah ditetapkan. Kebijakan moneter dari waktu ke waktu dikomunikasikan melalui media komunikasi yang lazim seperti penjelasan kepada press dan pelaku pasar, website, maupun penerbitan Laporan Kebijakan Moneter (LKM). Transparansi dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman dan sekaligus pembentukan ekspektasi masyarakat atas prakiraan ekonomi dan inflasi ke depan serta respon kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia. Untuk koordinasi dalam penetapan sasaran, pemantauan dan pengendalian inflasi, Pemerintah dan Bank Indonesia telah membentuk Tim yang melibatkan pejabat-pejabat dari berbagai instansi terkait. Dalam pelaksanaan tugasnya, Tim membahas dan merekomendasikan kebijakan-kebijakan yang diperlukan baik dari sisi Pemerintah maupun Bank Indonesia untuk mengendalikan tekanan inflasi dalam rangka pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkkan.

Sasaran Inflasi

Instrumen dan Operasi Moneter

Proses Perumusan Kebijakan

Transparansi

Koordinasi dengan Pemerintah

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

iii

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER


Bank InDoneSia

iv

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER


Bank InDoneSia

Gubernur Bank Indonesia

Kata Pengantar

Kinerja perekonomian domestik masih memiliki ketahanan cukup kuat di tengah perlambatan ekonomi global yang disertai tekanan di pasar keuangan. Kinerja ekspor diperkirakan tetap akan tumbuh tinggi. Sementara itu, konsumsi meningkat khususnya konsumsi rumah tangga ditopang optimisme konsumen dan belanja yang lebih besar pada periode hari raya. Sejalan dengan hal tersebut, investasi juga menunjukkan tren yang terus meningkat. Di pihak lain, tingginya aktivitas perekonomian meningkatkan kebutuhan impor, termasuk impor minyak akibat tingginya konsumsi BBM. Tingginya ketidakpastian ekonomi global menimbulkan tekanan terhadap Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan ini, meskipun secara keseluruhan tahun 2011, NPI diprakirakan tetap mencatat surplus besar. Surplus tersebut terutama didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial yang terus meningkat, baik dalam bentuk investasi portofolio maupun investasi langsung. Sejalan dengan itu, cadangan devisa juga terus menunjukkan peningkatan. Tekanan terhadap NPI triwulan ini juga tercermin di nilai tukar. Pada triwulan III 2011, nilai tukar rupiah melemah disertai dengan peningkatan volatilitas. Tekanan terhadap rupiah tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap krisis utang Eropa yang semakin memburuk dan berbagai indikator ekonomi AS yang mengindikasikan perlambatan. Meski demikian, pelemahan nilai tukar rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar mata uang negara kawasan. Tekanan inflasi sampai dengan triwulan III 2011 terus menurun. Hal tersebut antara lain didorong oleh terjaganya pasokan barang dan turunnya harga komoditas pangan global. Inflasi kelompok administered prices juga relatif terbatas seiring dengan tidak adanya kebijakan Pemerintah terkait barang dan jasa yang bersifat strategis. Ekspektasi inflasi yang terjaga juga turut meminimalisir dampak gejolak harga emas dan depresiasi nilai tukar pada akhir triwulan III. Stabilitas sistem perbankan juga tetap terjaga dengan fungsi intermediasi perbankan yang terus membaik. Stabilitas industri perbankan tercermin dari tingginya rasio kecukupan modal dan rendahnya rasio kredit bermasalah bruto. Sementara itu, penyaluran kredit untuk pembiayaan kegiatan perekonomian terus berlanjut. Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas sistem perbankan dan mendorong fungsi intermediasi dengan tetap memerhatikan prinsip

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER


Bank InDoneSia

kehati-hatian dengan mendorong ke arah pertumbuhan kredit produktif sehingga perekonomian nasional tetap dapat mencapai pertumbuhan yang optimal di tengah kondisi perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian. Asesmen yang menyeluruh terhadap kondisi perekonomian dan prospek serta risikonya menjadi dasar pertimbangan bagi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dalam memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25bps menjadi 6,50% pada tanggal 11 Oktober 2011. Keputusan ini diambil sejalan dengan keyakinan Bank Indonesia bahwa inflasi pada akhir tahun ini maupun tahun depan akan berada di bawah 5%. Bank Indonesia juga akan tetap menempuh langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah khususnya dari dampak gejolak pasar keuangan global. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global serta menempuh respons suku bunga serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial lainnya untuk memitigasi potensi penurunan kinerja perekonomian Indonesia tersebut dengan tetap mengutamakan pencapaian sasaran inflasi, yaitu 5%1% pada tahun 2011 dan 4,5%1% pada tahun 2012. Demikianlah gambaran perekonomian Indonesia pada triwulan III 2011 serta prospek ke depannya. Saya berharap laporan ini dapat menjadi bahan referensi yang mampu memberikan manfaat bagi kita semua.

Jakarta, Oktober 2011 Gubernur Bank Indonesia

Dr. Darmin Nasution

vi

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER


Bank InDoneSia

Daftar Isi

Daftar Isi
2. Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan.................. 4 1. Respons Kebijakan Moneter Triwulan III-2011........................... 1

Asumsi Yang Mendasari Perkiraan Ekonomi .................................... 5 Prospek Pertumbuhan Ekonomi. ....................................................... 6 Prospek Inflasi.................................................................................. 11 3. Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini ............... 13

Perkembangan Ekonomi Dunia........................................................ 14 Pertumbuhan Ekonomi . .................................................................. 16 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) . ............................................... 22 Nilai Tukar Rupiah............................................................................ 23 Inflasi............................................................................................... 25 Perkembangan Pasar Keuangan....................................................... 26 BOKS 1: Dampak Rambatan Krisis Global ke Indonesia................ 32 BOKS 2: Devisa Hasil Ekspor (DHE)................................................. 34

Tabel Statistik.................................................................................... 36

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

vii

LAPORAN KEBIJAKAN MONETER


Bank InDoneSia

Daftar Isi

viii

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Respons Kebijakan Moneter Triwulan III-2011

1. Respons Kebijakan Moneter Triwulan III-2011


Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada tanggal 11 Oktober 2011 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6,50%. Bank Indonesia juga akan tetap menempuh langkah-langkah stabilisasi nilai tukar rupiah khususnya dari dampak gejolak pasar keuangan global. Keputusan ini diambil sejalan dengan keyakinan Bank Indonesia bahwa inflasi pada akhir tahun ini maupun tahun depan akan berada di bawah 5%. Selain itu, langkah-langkah tersebut ditempuh sebagai antisipasi untuk memitigasi dampak penurunan kinerja ekonomi dan keuangan global terhadap kinerja perekonomian Indonesia. Ke depan, Dewan Gubernur akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global serta menempuh respons suku bunga serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial lainnya untuk memitigasi potensi penurunan kinerja perekonomian Indonesia tersebut dengan tetap mengutamakan pencapaian sasaran inflasi, yaitu 5%1% pada tahun 2011 dan 4,5%1% pada tahun 2012. Dewan Gubernur terus mewaspadai tingginya risiko dan ketidakpastian di pasar keuangan global serta kecenderungan menurunnya kinerja perekonomian global akibat permasalahan utang dan fiskal di Eropa dan AS. Perhatian terutama ditujukan pada dampak jangka pendek melalui jalur finansial berupa melemahnya bursa saham, meningkatnya indikator risiko utang, dan tekanan pembalikan arus modal portofolio ( capital reversals) oleh investor global dari emerging economies, termasuk Indonesia. Sementara itu, kinerja perekonomian global terindikasi melemah seperti tercermin pada perlambatan kegiatan produksi dan penjualan ritel yang disertai dengan tingkat keyakinan konsumen yang melemah di negara maju dan koreksi sejumlah harga komoditas internasional. Di sisi lain, tekanan inflasi mulai mereda, meski inflasi negara emerging markets masih relatif tinggi sehingga terjadi pergeseran respons kebijakan moneter ke arah netral atau akomodatif. Ke depan, secara keseluruhan Dewan Gubernur melihat kecenderungan menurunnya pertumbuhan ekonomi negara maju, melambatnya volume perdagangan dunia, dan menurunnya harga komoditas global. Sementara itu di sektor keuangan, tingginya ekses likuiditas global dan persespi resiko investor masih akan mendorong tetap derasnya aliran modal asing masuk ke negara-negara emerging economies, termasuk Indonesia, baik dalam bentuk PMA maupun investasi portofolio. Dewan Gubernur menilai bahwa fundamental ekonomi dan perbankan nasional tetap kuat di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2011 diperkirakan akan lebih tinggi, terutama didukung oleh konsumsi dan kegiatan investasi sehingga secara keseluruhan tahun 2011 dapat mencapai 6,6%. Sejauh ini, dampak gejolak ekonomi global lebih dirasakan di pasar keuangan, sementara sektor riil relatif belum terpengaruh. Namun, perekonomian global yang melemah diperkirakan akan memengaruhi kinerja ekonomi domestik pada tahun 2012, baik melalui dampaknya pada pasar keuangan maupun terhadap kegiatan perdagangan internasional. Pertumbuhan ekonomi domestik tahun 2012 diprakirakan berada di sekitar

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Respons Kebijakan Moneter Triwulan III-2011

6,2%-6,7%. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi yang tetap kuat dan investasi yang meningkat, namun ekspor akan menghadapi tekanan. Secara sektoral, seluruh sektor ekonomi diprakirakan akan tumbuh dengan baik. Sektor-sektor yang diprakirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi ke depan, antara lain sektor industri; sektor perdagangan, hotel dan restoran; dan sektor transportasi dan komunikasi. Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV 2011 diprakirakan akan kembali surplus setelah mengalami tekanan akibat terjadinya aliran modal keluar pada triwulan sebelumnya. Secara keseluruhan tahun 2011, NPI diprakirakan akan tetap mencatat surplus yang cukup besar. Surplus NPI ini diprakirakan akan tetap berlangsung pada tahun 2012 terutama didukung oleh surplus transaksi modal dan finansial yang terus meningkat, baik dalam bentuk investasi portofolio maupun investasi langsung. Sejalan dengan itu, cadangan devisa pada akhir September 2011 tercatat sebesar 114,5 miliar dolar AS, atau setara dengan 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Jumlah cadangan devisa tersebut lebih dari cukup untuk mendukung kestabilan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah pada triwulan III 2011 mengalami tekanan, khususnya pada bulan September 2011. Pada triwulan III 2011, nilai tukar rupiah melemah 2,42% (ptp) menjadi Rp8.790 per dolar AS dengan volatilitas yang meningkat. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar mata uang negara kawasan. Tekanan terhadap rupiah antara lain dipengaruhi oleh meningkatnya faktor risiko global akibat kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dunia. Selain itu, meningkatnya permintaan valas untuk memenuhi pembayaran impor turut menekan nilai tukar rupiah. Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah guna mendukung terpeliharanya kestabilan makroekonomi. Tekanan inflasi terus menurun. Inflasi IHK pada triwulan III 2011 tercatat sebesar 1,89% (qtq) atau 4,61% (yoy), lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tekanan inflasi ini berasal dari kelompok volatile food dan administered prices seiring dengan membaiknya pasokan, turunnya harga komoditas pangan internasional dan minimalnya kebijakan Pemerintah terkait harga komoditas strategis. Sementara itu, tekanan kelompok inti di luar kenaikan harga emas juga relatif terjaga baik karena kebijakan apresiasi nilai tukar pada periode sebelumnya dan masih cukup memadainya pasokan dalam merespons permintaan. Dengan perkembangan tersebut, inflasi pada tahun 2011 diyakini akan lebih rendah dari 5%. Tahun 2012, inflasi akan tetap terkendali dan diprakirakan di bawah 5% seiring dengan terjadinya koreksi harga komoditas global dan melemahnya perekonomian dunia. Stabilitas sistem perbankan tetap terjaga dengan fungsi intermediasi yang membaik meskipun terjadi gejolak pasar keuangan akibat pengaruh global. Stabilitas industri perbankan masih tetap terjaga dengan baik sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8% dan rendahnya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%. Sementara itu, penyaluran kredit untuk pembiayaan kegiatan perekonomian terus berlanjut, tercermin pada pertumbuhan kredit yang mencapai 23,8% (yoy) hingga akhir September 2011. Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas sistem perbankan dan mendorong

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Respons Kebijakan Moneter Triwulan III-2011

fungsi intermediasi dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dengan mendorong ke arah pertumbuhan kredit produktif sehingga perekonomian nasional tetap dapat mencapai pertumbuhan yang optimal di tengah kondisi perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian.

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan

2. Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan


Kinerja ekonomi nasional pada tahun 2011 diperkirakan masih akan cenderung meningkat dengan pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2011 diprakirakan sebesar 6,7%, sehingga secara keseluruhan tahun 2011 mencapai 6,6%. Sumber pertumbuhan semakin berimbang dengan peran ekspor dan investasi yang meningkat. Konsumsi rumah tangga diperkirakan masih akan tumbuh tinggi seiring dengan membaiknya pendapatan masyarakat, yang antara lain bersumber dari pendapatan hasil ekspor yang masih kuat. Kinerja konsumsi rumah tangga dan ekspor tersebut selanjutnya akan mendorong pertumbuhan investasi. Dengan kondisi permintaan yang cenderung meningkat, baik yang berasal dari eksternal maupun domestik, pertumbuhan impor diprakirakan juga meningkat. Dari sisi lapangan usaha, dukungan sektor industri diprakirakan meningkat sejalan dengan kuatnya kinerja ekspor, konsumsi rumah tangga dan investasi. Dari sisi lapangan usaha, dukungan sektor industri diprakirakan meningkat sejalan dengan kuatnya kinerja ekspor, konsumsi rumah tangga dan investasi. Untuk tahun 2012, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan melambat akibat krisis di kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Pertumbuhan ekspor diperkirakan akan mengalami perlambatan, yang kemudian akan berdampak pada melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Di sisi lain, investasi diperkirakan masih akan tumbuh meningkat sejalan dengan masih besarnya potensi pasar dan kuatnya fundamental perekonomian Indonesia, perbaikan iklim investasi, serta potensi perbaikan sovereign credit rating Indonesia. Pertumbuhan ekonomi diprakirakan menurun di tahun 2012, berada pada kisaran 6,2% - 6,7%. Pergerakan harga barang dan jasa secara umum sampai dengan triwulan III 2011 cukup terkendali. Inflasi secara tahunan pada September 2011 tercatat sebesar 4,61% (year on year), atau secara kumulatif sebesar 2,97% (year to date). Perkembangan tersebut tidak terlepas dari upaya Bank Indonesia dan Pemerintah dalam mengendalikan pergerakan harga barang dan jasa secara umum. Bauran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh Bank Indonesia serta penguatan koordinasi dengan Pemerintah telah dapat menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan serta meredam dampak negatif kenaikan harga komodtas internasional. Ke depan, tekanan inflasi diperkirakan masih akan terkendali dan berada dalam kisaran target yang ditetapkan sebesar 5%1% di tahun 2011 dan 4,5%1% di 2012. Namun, tekanan inflasi dapat lebih tinggi dari yang diperkirakan terutama apabila Pemerintah mengambil pilihan kebijakan yang berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa yang bersifat strategis utamanya bahan bakar minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL). Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati dampak penurunan kinerja ekonomi dan keuangan global terhadap kinerja perekonomian Indonesia ke depan. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia akan mengambil respons suku bunga serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial lainnya untuk memitigasi potensi penurunan kinerja perekonomian Indonesia

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan

Tabel 2.1 Proyeksi PDB Dunia (% yoy)


2009
PDB Dunia Negara Maju Amerika Serikat Kawasan Eropa Jepang Negara Maju Lainnya -0,7 -3,7 -3,5 -4,3 -6,3 -2,3 2,8 -3,6 -6,4 7,2 9,2 6,8 1,4 -1,7 2,6

tersebut dengan tetap mengutamakan pencapaian sasaran inflasi. Di samping itu, Bank Indonesia juga akan mempererat koordinasi
Proyeksi 2011
4,0 1,6 1,5 1,6 -0,5 2,8 6,4 4,3 4,6 8,2 9,5 7,8 5,1 4,5 4,0

kebijakan dengan Pemerintah dalam rangka mengantisipasi dampak penurunan ekonomi dan keuangan global tersebut.

2010
5,1 3,1 3,0 1,8 4,0 4,3 7,3 4,5 4,6 9,5 10,3 10,1 7,1 6,1 4,4

2012
4,0 1,9 1,8 1,1 2,3 3,0 6,1 2,7 4,4 8,0 9,0 7,5 5,5 4,0 3,6

ASUMSI YANG MENDASARI PERKIRAAN EKONOMI Asumsi Perekonomian Internasional Dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya, ekonomi dunia diprakirakan tumbuh lebih rendah di tahun 2011 dan 2012, masing-masing sebesar 4,0%. Prakiraan tersebut sejalan dengan memburuknya krisis di Eropa dan Amerika Serikat. Perlambatan pertumbuhan ekonomi pada paruh kedua tahun 2011 tersebut terutama berasal dari perlambatan pertumbuhan di negara-negara maju. Adapun dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju tersebut diperkirakan juga akan terlihat pada negara-negara emerging markets meski dengan besaran yang lebih terbatas. China dan India diperkirakan juga akan mencatat pertumbuhan yang sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan

Negara Berkembang Eropa Timur dan Tengah Negara Persemakmuran Negara Berkembang Asia China India ASEAN-5*

Amerika Latin & Karibia Timur Tengah & Afrika Utara

* Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam Sumber: IMF, World Economic Outlook, Sep 2011

sebelumnya, meski masih cukup tinggi, yaitu masing-masing sebesar 9,5% dan 7,8% di tahun 2011. Sejalan dengan aktivitas ekonomi global, kegiatan volume perdagangan dunia diprakirakan tumbuh lebih rendah pada tahun 2011 dan 2012. Volume perdagangan dunia (WTV) diperkirakan tumbuh sebesar 7,5% di tahun 2011, lebih rendah dari yang diperkirakan semula. Untuk tahun 2012, volume perdagangan dunia diperkirakan akan lebih rendah dari tahun 2011, yaitu sebesar 7,1%. Sejalan dengan hal itu, tren kenaikan harga minyak diperkirakan tidak akan berlanjut. Tren yang sama diperkirakan juga akan terjadi untuk harga komoditas nonmigas internasional. Di sisa tahun 2011 harga nonmigas internasional diperkirakan masih akan sedikit mengalami peningkatan dan secara rata-rata diperkirakan mengalami penurunan di tahun 2012.

Asumsi Kebijakan Fiskal Pemerintah menetapkan defisit fiskal sebesar 2,1% dari PDB untuk tahun 2011 pada APBNP 2011 dan sebesar 1,5% pada RAPBN 2012. Defisit anggaran untuk tahun 2011 tersebut lebih besar dari asumsi semula sebesar 1,8% terhadap PDB. Tambahan defisit tersebut sepenuhnya dibiayai dari sumber pembiayaan non-utang, yaitu Saldo Anggaran Lebih (SAL). Di tahun 2012, defisit fiskal akan ditekankan penggunaannya untuk pembangunan infrastruktur di berbagai sektor baik yang ada di perdesaan maupun perkotaan. Beberapa sektor infrastruktur tersebut diantaranya sektor energi dan ketenagalistrikan, sektor transportasi, komunikasi, kesehatan, pendidikan, hingga penyediaan sumber daya air bersih. Guna mendukung pembangunan infrastrukur di

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan

berbagai sektor tersebut, Pemerintah akan mengupayakan peningkatan dukungan pembiayaan. Khusus dalam hal peningkatan kondisi infrastruktur, pembangunan infrastruktur tahun 2012 akan dilakukan dengan penekanan pada peningkatan kualitas sistem jaringan infrastruktur yang mampu menghubungkan antarwilayah (domestic connectivity) secara lebih efektif dan efisien serta menjamin tersedianya pasokan barang hingga ke wilayah-wilayah terpencil di seluruh Indonesia. Selain itu, pembangunan infrastuktur juga diorientasikan pada sektor energi seperti penyediaan tenaga listrik dan pemanfaatan sumber energi terbarukan. Selain itu, pemerintah diperkirakan mulai mengurangi beban subsidi energi antara lain melalui rencana kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 10%.

PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI Kinerja ekonomi nasional tahun 2011 diperkirakan masih akan tetap kuat, tumbuh sebesar 6,6%, dengan peran ekspor dan investasi yang semakin meningkat. Di tahun 2012, perlambatan pertumbuhan ekonomi global akibat krisis Eropa dan Amerika Serikat diperkirakan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekspor yang diikuti perlambatan pertumbuhan konsumsi. Di sisi lain, investasi diperkirakan masih akan tumbuh meningkat sejalan dengan masih besarnya potensi pasar dan kuatnya fundamental perekonomian Indonesia, perbaikan iklim investasi, serta potensi perbaikan sovereign credit rating Indonesia. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan menurun di tahun 2012 pada kisaran 6,2% - 6,7%. Dari sisi lapangan usaha, di tahun 2011 peningkatan pertumbuhan ekonomi ke depan masih tetap dimotori oleh sektor industri pengolahan; sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR); serta sektor pengangkutan dan komunikasi. Membaiknya pertumbuhan sektor industri terutama terkait dengan meningkatnya eskpor dan investasi, serta tingkat konsumsi rumah tangga yang masih kuat. Kinerja sektor PHR selain terkait dengan konsumsi rumah tangga yang cukup tinggi, juga terkait dengan aktivitas impor yang masih cukup tinggi. Selain itu, kinerja sektor pengangkutan dan komunikasi diperkirakan masih akan tetap solid sejalan dengan aktivitas perekonomian yang meningkat. Di tahun 2012, sektorsektor utama tersebut diperkirakan juga akan mengalami perlambatan sejalan dengan menurunnya pertumbuhan ekspor, dan konsumsi.

Prospek Permintaan Agregat Konsumsi rumah tangga diprakirakan masih akan tumbuh kuat pada tahun 2011 seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat. Pendapatan yang meningkat terutama berasal dari peningkatan pendapatan hasil ekspor sejalan dengan kinerja ekspor yang mengalami pertumbuhan tinggi sepanjang tahun 2011. Selain itu, rendahnya catatan inflasi yang hingga September 2011 hanya mencatat 4,61% (yoy) menyebabkan pendapatan riil turut meningkat. Hal tersebut diperkirakan mampu mendorong rumah tangga untuk melakukan kegiatan konsumsi. Di samping itu, beberapa sumber peningkatan pendapatan lainnya ialah kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), perbaikan pendapatan aparat negara, kenaikan gaji karyawan perusahaan, serta masih

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan


%Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

Tabel 2.2 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan


Indikator
Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa PDB
* Proyeksi Bank Indonesia

2010
4,6 0,3 8,5 14,9 17,3 6,1

2011 I
4,5 2,8 7,3 12,3 15,6 6,5

II
4,6 4,5 9,2 17,4 16,0 6,5

III*
4,8 21,5 10,2 15,5 20,6 6,6

III*
5,2 20,2 10,6 12,3 19,3 6,7

2011*
4,8 13,9 9,4 14,3 18,0 6,6

2012*
4,6 - 5,1 3,8 - 4,3 10,9 - 11,4 10,8 - 11,3 11,9 - 12,4 6,2 - 6,7

kuatnya dukungan pembiayaan dari perbankan. Beberapa indikator menunjukkan masih kuatnya kinerja konsumsi rumah tangga sampai dengan triwulan III 2011. Berdasarkan survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia, tingkat keyakinan konsumen (Grafik 2.1) dan ekspektasi penghasilan 6 bulan ke depan masih cenderung meningkat. Selain itu, data pertumbuhan penjualan mobil dan penjualan eceran sampai dengan Agustus 2011 juga masih telihat cenderung meningkat. Defisit APBN-P 2011 ditetapkan sebesar 2,1% dari PDB. Dengan defisit tersebut, kontribusi fiskal ke sektor riil pada tahun 2011 diperkirakan akan meningkat. Konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh cukup tinggi didorong oleh belanja barang dan bantuan sosial yang meningkat, tambahan alokasi dana pendidikan sejalan dengan postur APBN-P 2011 yang meningkat, serta adanya tambahan dana dari optimalisasi belanja Kementerian dan Lembaga K/L. Sementara itu, alokasi belanja modal yang lebih tinggi diperkirakan akan turut mendorong investasi pemerintah. Pada tahun 2012, Pemerintah memperkirakan defisit fiskal sebesar 1,5% dari PDB untuk menjaga keseimbangan antara kesinambungan fiskal dalam jangka menengah dan pada saat yang bersamaan masih memberikan stimulus kepada perekonomian. Dari sisi belanja Pemerintah, alokasi belanja

pada tahun 2012 difokuskan pada pembangunan infrastruktur, tercermin dari peningkatan belanja modal yang signifikan dan peningkatan transfer ke daerah antara lain guna mengurangi kesenjangan kualitas layanan publik antara pusat dan daerah. Tingginya realisasi kinerja ekspor pada triwulan II 2011 yang mencapai 17,4% (yoy), memberikan keyakinan akan kinerja ekspor yang tetap tinggi selama tahun 2011 di tengah kondisi eksternal yang kurang kondusif. Hal tersebut sekaligus menjelaskan proyeksi pertumbuhan ekspor tahun 2011 yang tetap kuat di tengah kondisi eksternal yang cenderung melambat. Ekspor diprakirakan tetap tumbuh tinggi mencapai 14,3% (yoy) pada tahun 2011. Prakiraan tersebut selain didasarkan oleh faktor permintaan yang masih cukup kuat juga didorong oleh

Grafik 2.1 Indeks Keyakinan Konsumen SK BI

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan

harga komoditas yang diperkirakan masih akan tetap tinggi pada


sisa tahun 2011. Kondisi eksternal yang melambat akibat krisis di


Amerika Serikat dan Eropa akan berdampak pada kinerja ekspor tahun 2012. Pertumbuhan ekspor diprakirakan turut melambat menjadi sebesar 10,8% - 11,3% (yoy) pada tahun 2012 sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan volume perdagangan dunia (Grafik 2.2) serta perkiraan menurunnya harga komoditas internasional. Namun, penurunan pertumbuhan ekspor diprakirakan tidak terlalu besar, mengingat kinerja mitra dagang Indonesia, terutama China dan India, diperkirakan masih akan tumbuh cukup tinggi.

Grafik 2.2 Volume Perdagangan Dunia (% yoy)

Di tengah kondisi eksternal yang kurang kondusif, investasi diprakirakan tetap tumbuh tinggi didorong oleh masih cukup tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan ekspor. Di samping itu, persepsi investor terhadap kondisi fundamental

ekonomi Indonesia diprakirakan masih tetap terjaga di tengah gejolak ketidakpastian ekonomi global. Hal tersebut dibuktikan oleh masih tingginya nilai investasi yang bersifat long-term investment (Grafik 2.3). Beberapa faktor pendukung lainnya ialah: (i) iklim investasi yang membaik, (ii) perbaikan birokrasi pemerintahan karena adanya reformasi birokrasi, (iii) potensi kenaikan rating Indonesia mencapai investment grade pada tahun 2011 oleh berbagai lembaga rating internasional sebagai kelanjutan dari outlook yang positif dari berbagai lembaga rating dan (iv) potensi pasar di Indonesia karena besarnya jumlah populasi dibandingkan dengan kawasan regional lain di Asia Tenggara. Selain itu, pemberlakuan tax holiday bagi lima bidang usaha, yaitu industri logam dasar, industri pengilangan minyak bumi dan atau kimia dasar organik yang bersumber dari minyak bumi dan gas alam, industri permesinan, industri di bidang sumber daya terbarukan, dan industri peralatan telekomunikasi, diharapkan akan mendorong

pertumbuhan investasi ke depan. Kuatnya permintaan domestik dan tingginya pertumbuhan ekspor akan mendorong impor barang dan jasa untuk tumbuh mencapai 18,0% pada tahun 2011. Namun, perlambatan yang terjadi baik

pada ekspor maupun permintaan domestik pada tahun 2012 menyebabkan impor diprakirakan tumbuh melambat pada kisaran 11,9% - 12,4% (yoy). Melemahnya permintaan eksternal terhadap barang-barang ekspor akan menyebabkan turunnya permintaan terhadap barang input, selain berkurangnya permintaan impor akibat melambatnya permintaan domestik. Namun demikian, dengan pertumbuhan investasi yang diperkirakan masih cenderung meningkat di tengah perlambatan ekonomi global, impor barang modal diperkirakan masih akan tetap tinggi.

Grafik 2.3 Nilai Investasi

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan


%Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

Tabel 2.3 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran


Sektor
Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Jasa-jasa PDB
* Proyeksi Bank Indonesia

2010
2,9 3,5 4,5 5,3 7,0 8,7 13,5 5,7 6,0 6,1

2011 I
3,6 4,3 5,0 4,3 5,3 7,9 13,7 7,3 7,0 6,5

II
3,9 0,8 6,1 3,9 7,4 9,6 10,7 6,9 5,7 6,5

III*
3,3 0,9 6,2 4,0 7,7 9,7 11,0 7,0 5,8 6,6

IV*
3,4 0,9 6,2 4,1 8,0 9,7 11,5 7,0 5,8 6,7

2011*
3,5 1,7 5,9 4,1 7,1 9,2 11,7 7,0 6,1 6,6

2012*
3,5 - 4,0 1,3 - 1,8 5,3 - 5,8 4,6 - 5,1 7,6 - 8,1 8,7 - 9,2 10,5 - 11,0 6,6 - 7,1 5,8 - 6,3 6,2 - 6,7

Prospek Penawaran Agregat Perkembangan kinerja sektor industri yang menggembirakan sampai dengan triwulan II 2011 diperkirakan akan berlanjut di sisa tahun 2011. Tingginya pertumbuhan investasi sejak awal tahun 2010 diperkirakan akan meningkatkan kemampuan sektor industri dalam merespons meningkatnya permintaan, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Program revitalisasi mesin-mesin tekstil yang dicanangkan Pemerintah telah menunjukkan hasil yang cukup baik. Peran Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) dalam ekspor nonmigas terlihat mulai meningkat. Selain itu, pemberian insentif tax holiday bagi industri logam dasar, industri pengilangan minyak bumi dan atau kimia dasar organik yang bersumber dari minyak bumi dan gas alam, industri permesinan, industri di bidang sumber daya terbarukan, dan industri peralatan telekomunikasi, diharapkan akan mendorong pertumbuhan sektor industri ke depan. Memasuki tahun 2012, pertumbuhan sektor industri diperkirakan akan cenderung melambat, seiring dengan perlambatan ekonomi dunia. Pergerakan sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), secara umum searah dengan perkembangan daya beli masyarakat, sebagaimana tercermin dalam konsumsi masyarakat, aktivitas impor dan kegiatan di sektor industri pengolahan. Perkembangan ketiga faktor yang memengaruhi kegiatan di sektor PHR tersebut diperkirakan tetap positif hingga beberapa tahun ke depan. Dengan demikian, searah dengan perkembangan faktor-faktor tersebut, sektor PHR pada tahun 2012 diprakirakan tumbuh cukup tinggi yaitu 8,7%-9,2% (yoy), meski melambat dibandingkan dengan tahun 2011 sebagai imbas pelemahan ekonomi global. Tingginya kegiatan di sektor PHR dikonfirmasi oleh indeks penjualan eceran yang menunjukkan tren pertumbuhan yang meningkat (Grafik 2.4).

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan

Sektor pengangkutan dan komunikasi diperkirakan akan


tetap tumbuh tinggi hingga beberapa tahun ke depan. Prospek ekonomi domestik yang terus membaik mendorong kegiatan perekonomian yang terus meningkat. Peningkatan kegiatan ekonomi tersebut secara umum akan diiringi oleh meningkatnya arus barang, penumpang dan informasi. Di tahun 2011, pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi diperkirakan tumbuh melambat, walaupun masih relatif tinggi. Pada tahun 2012 pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi diprakirakan sedikit melambat mencapai 10,5%-11,0%. Dari sisi sumber pertumbuhan, peran subsektor pengangkutan diperkirakan
Grafik 2.4 Indeks Penjualan Eceran SK BI

cenderung meningkat (Grafik 2.5). Terkait sektor pertanian, kondisi iklim di tahun 2012 diperkirakan tidak mengalami gangguan sebagaimana terjadi di tahun 2010. Hal tersebut akan berdampak positif bagi

perkembangan produksi di sektor pertanian. Selain kondisi iklim yang kondusif, upaya pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional akan menjadi salah satu faktor pendorong sektor pertanian tumbuh semakin membaik. Upaya pemerintah untuk mendorong sektor pertanian antara lain tercermin dari rencana perbaikan infrastruktur pertanian dan keterhubungan antarwilayah. Selain itu, Pemerintah juga akan meningkatkan hasil produksi dan kualitas pertanian lain seperti buah-buahan dan sayuran melalui kebijakan Good Agriculture Practice (GAP). Berdasarkan kebijakan GAP ini, peningkatan hasil pertanian dilakukan melalui pemangkasan jalur distribusi, pemanfaatan benih unggul dan proses tanam yang benar. Aktivitas kegiatan konstruksi yang kian menggeliat, baik untuk pembangunan infrastruktur maupun untuk sektor

Grafik 2.5 Penumpang Angkutan Udara, Kargo, dan Pelanggan Seluler

properti mendorong kinerja sektor bangunan melaju dengan tren pertumbuhan yang meningkat. Pertumbuhan sektor bangunan pada tahun 2011 diperkirakan mencapai 7,1% dan akan terus meningkat di tahun 2012 dengan pertumbuhan diprakiran sebesar 7,6%-8.1%. Dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan pemerintah diberikan baik dalam bentuk kebijakan maupun finansial. Untuk pelaksanaan proyek-proyek infrastruktur pemerintah telah menegaskan bahwa tender dan proses konstruksi dapat dilakukan tanpa menunggu pembebasan lahan selesai 100%. Selain itu pemerintah juga memberikan jaminan untuk pelaksanaan proyek infrastruktur antara lain melalui PT. Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII). Dukungan pemerintah terhadap proyek-proyek infrastruktur juga terlihat dari meningkatnya alokasi belanja modal tahun anggaran 2012. Dari anggaran yang dialokasikan untuk belanja modal tersebut sebagian besar diperuntukkan bagi pembangunan infrastruktur.

10

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan

PROSPEK INFLASI Dari sisi perkembangan harga, pergerakan harga barang dan jasa secara umum sampai dengan triwulan III 2011 cukup terkendali. Inflasi secara tahunan pada September 2011 tercatat sebesar 4,61% (year on year), atau secara kumulatif sebesar 2,97% (year to date). Perkembangan tersebut tidak terlepas dari upaya Bank Indonesia dan Pemerintah dalam mengendalikan pergerakan harga barang dan jasa secara umum. Bauran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh oleh Bank Indonesia serta penguatan koordinasi dengan Pemerintah telah dapat menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan serta meredam dampak negatif kenaikan harga komoditas internasional. Ke depan, tekanan inflasi diperkirakan masih akan terkendali dan berada dalam kisaran target yang ditetapkan sebesar 5%1% pada tahun 2011. Di tahun 2012, tekanan inflasi akan lebih moderat sejalan dengan perkiraan melambatnya perekonomian global dan domestik. Oleh karena itu, inflasi diperkirakan akan berada pada kisaran target yang ditetapkan sebesar 4,5%1% pada tahun 2012. Namun demikian, tekanan inflasi dapat lebih tinggi dari yang diperkirakan, terutama apabila Pemerintah mengambil

pilihan kebijakan yang berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa yang bersifat strategis. Selama tahun 2011, tekanan inflasi yang berasal dari sisi eksternal akibat harga komoditas yang cenderung meningkat

dapat diredam oleh nilai tukar rupiah yang mengalami apresiasi. Dari berbagai komoditas yang diperdagangkan di pasar internasional, kenaikan harga emas memberikan sumbangan cukup besar terhadap inflasi di tahun 2011. Ke depan, tekanan inflasi dari sisi eksternal diperkirakan menurun, seiring dengan perkiraan melambatnya perekonomian dunia yang akan diikuti oleh penurunan harga-harga komoditas. Di sisi lain, tekanan inflasi yang bersumber dari permintaan pada sisa tahun 2011 diperkirakan masih cukup tinggi, seiring dengan masih tingginya pertumbuhan ekonomi.

Grafik 2.6 Ekspektasi Inflasi Pedagang SPE BI

Tingginya pertumbuhan investasi sejak awal tahun 2010 telah dapat meningkatkan kapasitas perekonomian nasional, sehingga peningkatan permintaan tidak terlalu berdampak pada melonjaknya harga barang dan jasa secara umum. Ke depan, tekanan inflasi dari sisi permintaan diperkirakan akan lebih moderat akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi global dan domestik. Dengan kondisi tersebut dan terkendalinya inflasi sampai dengan September 2011, ekspektasi inflasi pelaku ekonomi cenderung menurun (Grafik 2.6 dan 2.7). Dari sisi inflasi volatile food , pergerakan harga bahan makanan diperkirakan masih akan tetap terkendali. Selain membaiknya pasokan dari sisi domestik, pasokan bahan makanan

Grafik 2.7 Ekspektasi Inflasi Konsumen SK BI

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

11

Prospek Perekonomian dan Faktor Risiko ke Depan

melalui impor juga berkontribusi pada terkendalinya harga bahan makanan secara umum. Ke depan, inflasi volatile food diharapkan dapat dijaga pada level yang moderat dengan dukungan kebijakan dari Pemerintah dan iklim yang kondusif. Di tengah iklim yang diperkirakan akan kondusif, rencana Pemerintah untuk meningkatkan kualitas infrastruktur pertanian dan keterhubungan antarwilayah diperkirakan akan dapat menjaga inflasi volatile food pada level yang moderat. Terkait harga barang dan jasa yang diatur oleh Pemerintah,

secara umum diperkirakan tidak akan mengalami kenaikan yang signifikan. Rencana Pemerintah untuk menaikkan Tarif Tenaga Listrik (TTL) pada tahun 2012 diperkirakan tidak akan memberikan dampak langsung dan tidak langsung yang terlalu besar terhadap peningkatan inflasi. Namun demikian, perkiraan inflasi tersebut dapat lebih tinggi dari yang diperkirakan apabila

Pemerintah memutuskan untuk mengambil opsi kebijakan membatasi penggunaan BBM bersubsidi atau meningkatkan harga BBM bersubsidi. Kebijakan tersebut meski dalam jangka panjang akan mendorong efisiensi pada kegiatan perekonomian, namun dalam jangka pendek dapat berdampak pada melonjaknya harga barang dan jasa secara umum, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Grafik 2.8 Fan Chart Proyeksi Inflasi Tahun 2011-2012

12

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

3. Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini


Perkembangan data ekonomi terakhir dari berbagai kawasan menguatkan indikasi perlambatan ekonomi global. Krisis utang yang membelit perekonomian di kawasan Eropa dan permasalahan fiskal yang dihadapi Amerika Serikat menjadi faktor penyebab tertahannya ekspansi ekonomi global dan menimbulkan gejolak di pasar keuangan global. Di kawasan Asia, kondisi ekonomi secara umum masih positif meski terdapat potensi perlambatan. Kuatnya indikasi perlambatan ekonomi global mendorong melambatnya tekanan inflasi. Seiring dengan meningkatnya risiko perlambatan ekonomi global, laju pengetatan kebijakan moneter di negara berkembang mulai tertahan, sementara kebijakan moneter di negara maju masih cenderung akomodatif untuk menopang aktivitas perekonomian. Kinerja perekonomian domestik masih tetap kuat di tengah menguatnya indikasi perlambatan ekonomi global. Ekspor diperkirakan masih akan tumbuh cukup tinggi diikuti oleh konsumsi yang masih tetap kuat. Sebagai respons masih kuatnya kinerja ekspor dan konsumsi, investasi juga menunjukan tren yang semakin meningkat. Tingginya aktivitas perekonomian mendorong tingginya kebutuhan akan impor, termasuk tingginya impor minyak akibat tingginya konsumsi BBM. Seiring dengan meningkatnya risiko global, rupiah mengalami depresiasi. Rupiah sempat mengalami penguatan di awal triwulan III 2011, namun mulai melemah sejak Agustus hingga akhir triwulan sejalan dengan tren pergerakan mata uang mayoritas negara kawasan. Pergerakan harga barang dan jasa secara umum sampai dengan triwulan III 2011 cukup terkendali. Inflasi secara tahunan pada September 2011 tercatat sebesar 4,61% (year on year), atau secara kumulatif sebesar 2,97% (year to date). Perkembangan tersebut tidak terlepas dari upaya Bank Indonesia dan Pemerintah dalam mengendalikan pergerakan harga barang dan jasa secara umum. Bauran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh oleh Bank Indonesia serta penguatan koordinasi dengan Pemerintah telah dapat menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan serta meredam dampak negatif kenaikan harga komoditas internasional. Ke depan, tekanan inflasi diperkirakan tetap terkendali dan berada dalam kisaran target yang ditetapkan sebesar 5%1% di tahun 2011. Di pasar keuangan, suku bunga PUAB cenderung menurun sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia melebarkan koridor bawah PUAB O/N. Suku bunga deposito dan kredit juga cenderung menurun, sementara kredit masih tetap tumbuh tinggi, terutama kredit investasi. Di pasar saham dan SBN, investor asing terlihat melakukan aksi jual terhadap portofolionya akibat sentimen negatif yang dipicu oleh krisis global.

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

13

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

PERKEMBANGAN EKONOMI DUNIA Perkembangan data ekonomi terakhir dari berbagai kawasan menguatkan indikasi perlambatan ekonomi global. Krisis utang yang membelit perekonomian di kawasan Eropa dan permasalahan fiskal yang dihadapi Amerika Serikat menjadi faktor penyebab tertahannya ekspansi ekonomi global dan menimbulkan gejolak di pasar keuangan global. Kuatnya indikasi perlambatan ekonomi global mendorong melambatnya tekanan inflasi. Seiring dengan meningkatnya risiko perlambatan ekonomi global, laju pengetatan kebijakan moneter di negara berkembang mulai tertahan, sementara kebijakan moneter di negara maju masih cenderung akomodatif untuk menopang aktivitas perekonomian. Kinerja ekonomi AS mengindikasikan perlambatan. Sektor industri, yang menjadi tulang punggung ekonomi AS, sempat menunjukkan perkembangan yang cukup baik pada periode tahun 2008 - 2009. Namun, kondisi saat ini menunjukkan penurunan kinerja. Kondisi ini tercermin pada indeks survei manufaktur regional di AS yang dilakukan The Fed yang menunjukkan penurunan cukup signifikan (Grafik 3.1). Selain itu, ekspektasi konsumen AS terhadap prospek ekonomi AS juga turun, seiring dengan masih tingginya angka pengangguran di AS yaitu berada pada level 9%.

Menurunnya ekspektasi konsumen tersebut mengindikasikan terhambatnya ekspansi konsumsi rumah tangga AS (Grafik 3.2). Berdasarkan perkembangan tersebut beberapa lembaga internasional menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS. Consensus Forecast pada September 2011 menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi

AS tahun 2011 menjadi 1,6% (yoy) dari 1,8% (yoy). IMF dalam WEO September 2011 juga menurunkan proyeksi ekonomi AS yaitu menjadi 1,5% pada tahun 2011 dan 1,8% di tahun 2012, jauh lebih

rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya pada WEO Juni 2011 yaitu 2,5% (2011) dan 2,7%(2012) Krisis utang yang berkepanjangan di kawasan Eropa mulai berdampak negatif pada perekonomian kawasan tersebut. Kinerja ekonomi negaranegara besar di Eropa mulai melambat yang tercermin dari melemahnya indikatorindikator ekonomi

Grafik 3.1 Survei Manufaktur Regional AS

kawasan tersebut selama triwulan III 2011. Sektor industri yang merupakan penopang utama ekonomi Eropa mengalami kontraksi yang tercermin dari level PMI composite (manufaktur dan jasa) yang berada di bawah 50. Konsumsi rumah tangga Eropa juga masih tertekan terlihat dari tren pelemahan keyakinan konsumen seiring dengan tingginya angka pengangguran di level 9,9% dan dampak pengetatan fiskal di kawasan tersebut (Grafik 3.3). Peliknya krisis utang di kawasan Eropa menyebabkan tantangan terhadap ekonomi ke depan semakin berat. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, IMF dalam WEO September 2011 menurunkan perkiraan pertumbuhan kawasan Eropa menjadi 1,6% (2011) dan 1,1% (2012) dengan sumbangan pertumbuhan ekonomi terbesar

Grafik 3.2 Survey Keyakinan Konsumen AS

14

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

masih berasal dari Jerman. IMF memperkirakan ekonomi Jerman


masih akan tumbuh 2,7% (2011) dan 1,3% (2012), lebih rendah dari perkiraan di WEO Juni 2011. Kondisi ekonomi negara kawasan Asia secara umum masih positif meski terdapat potensi perlambatan. Pulihnya global supply chain industri Jepang dan masih tingginya harga komoditas global berdampak positif pada perkembangan sektor industri dan ekspor kawasan Asia. Kinerja sektor industri beberapa negara kawasan Asia masih meningkat yang tercermin dari produksi sektor industri yang tetap tumbuh positif. Ekspor Asia selama triwulan III 2011 (Juli Agustus) meningkat di atas 20% (yoy). Sisi konsumsi rumah tangga
Grafik 3.3

di kawasan Asia juga masih solid tercermin dari tetap positifnya pertumbuhan angka perdagangan eceran di negaranegara Asia. Namun, sejalan dengan tingginya potensi perlambatan ekonomi dunia yang dipicu krisis utang Eropa dan tersendatnya pemulihan ekonomi negara maju menyebabkan risiko terhadap ekonomi kawasan Asia meningkat terutama bagi negara yang memiliki ketergantungan

Pertumbuhan Ekonomi Negara-negara Eropa

terhadap ekspor tinggi (Grafik 3.4). Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, ADB menurunkan prediksi pertumbuhan tahun 2011 untuk Asia (di luar Jepang) dari 7,8% ke 7,5%. Hal serupa juga dilakukan IMF dalam WEO September 2011, yang menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi developing Asia di tahun 2011 dari 8,4% menjadi 8,2%. Harga komoditas selama triwulan III 2011 mulai turun. Melimpahnya pasokan global dan meredupnya prospek ekonomi dunia menjadi pemicu turunnya harga komoditas global tersebut. Penurunan harga komoditas global tersebut juga ditunjukkan oleh turunnya indeks harga komoditas ekspor Indonesia (IHEx) selama triwulan III 2011. Penurunan harga komoditas global juga dikonfirmasi oleh turunnya indeks harga komoditas IMF, terutama pada indeks

Grafik 3.4 Kinerja Ekspor Negara Asia

harga hasil pertanian, metal dan energi. Selain itu, harga minyak juga berada dalam tren yang menurun. Penurunan harga minyak tersebut merupakan imbas dari berlanjutnya gejolak di pasar keuangan global dan meningkatnya ekspektasi perlambatan ekonomi dunia. Seiring dengan perlambatan ekonomi dunia, tekanan inflasi global mulai menurun meski masih dalam level yang relatif tinggi. Sampai dengan Agustus 2011, tekanan inflasi global masih cukup tinggi seiring dengan masih tingginya harga komoditas internasional pada bulan tersebut. Memasuki bulan September tekanan inflasi mulai mereda munyusul turunnya harga komoditas global. Di kawasan Asia, perlambatan inflasi terjadi di China, Indonesia, Filipina, Malaysia dan India sejalan dengan kebijakan moneter yang cenderung ketat yang diterapkan negara-negara tersebut. Namun, tekanan inflasi di negara-negara maju seperti AS, Eropa dan Jepang masih meningkat.

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

15

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

Terkait respons kebijakan moneter, terdapat perbedaan antara negara maju dan negara berkembang. Perbedaan tersebut terkait dengan perkembangan kondisi ekonomi saat ini dan proyeksi ke depan masing-masing negara-negara tersebut. Turunnya aktivitas ekonomi dan suramnya prospek ekonomi dunia mendorong beberapa bank sentral negara maju mempertahankan suku bunga yang rendah. Sementara itu, tekanan inflasi yang relatif masih tinggi, meski mulai menurun, mendorong bank sentral negara berkembang cenderung menahan suku bunga kebijakan. Selain itu, berbagai kebijakan lain juga ditempuh oleh otoritas moneter untuk menjaga stabilitas perekonomian. Kebijakan tersebut antara lain intervensi di pasar valas untuk menjaga pergerakan nilai tukar di tengah tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global dan melakukan pembelian surat-surat berharga. Pembelian surat-surat berharga tersebut dimaksudkan untuk mendorong perekonomian serta penyediaan dana untuk melindungi eksportir dari kerugian akibat apresiasi mata uang seperti yang dilakukan Jepang.

PERTUMBUHAN EKONOMI Permintaan Agregat Perekonomian Indonesia pada triwulan III dan IV 2011 diprakirakan tumbuh sebesar 6,6% (yoy) dan 6,7% (yoy). Sumber pertumbuhan terutama berasal dari ekspor dan permintaan domestik. Faktor positif yang menopang masih tingginya pertumbuhan ekspor yaitu masih kuatnya permintaan dari China dan India terutama pada komoditas ekspor berbasis sumber daya alam. Selanjutnya, permintaan domestik diprakirakan tetap kuat, terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Peningkatan konsumsi rumah tangga didorong oleh optimisme konsumen dan belanja yang lebih besar pada momen hari raya. Di sisi Pemerintah, realisasi belanja APBN diprakirakan akan tumbuh tinggi memasuki semester kedua sehingga mendorong konsumsi Pemerintah yang lebih tinggi dari triwulan sebelumnya. Pertumbuhan investasi diprakirakan menguat seiring dengan meningkatnya perkiraan belanja modal Pemerintah dan tingkat penggunaan kapasitas utilisasi perusahaan. Sementara itu, impor diprakirakan tetap tumbuh tinggi sejalan dengan masih kuatnya permintaan domestik.
%Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

Tabel 3.1 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Permintaan


Indikator
Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto Ekspor Barang dan Jasa Impor Barang dan Jasa PDB
* Proyeksi Bank Indonesia

2010
4,6 0,3 8,5 14,9 17,3 6,1

2011 I
4,5 2,8 7,3 12,3 15,6 6,5

II
4,6 4,5 9,2 17,4 16,0 6,5

III*
4,8 21,5 10,2 15,5 20,6 6,6

IV*
5,2 20,2 10,6 12,3 19,3 6,7

2011*
4,8 13,9 9,4 14,3 18,0 6,6

16

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

Ekspor pada triwulan III dan IV 2011 diprakirakan masih akan


tumbuh tinggi, meskipun melambat dibandingkan dengan triwulan II 2011. Peningkatan permintaan ekspor, terutama untuk nonmigas, berasal dari negara-negara Asia seperti China dan India seiring dengan pertumbuhan ekonominya yang masih relatif tinggi untuk komoditas primer (Grafik 3.5). Di samping itu, kinerja ekspor juga didukung oleh perbaikan daya serap pasar ekspor, seiring dengan peralihan negara tujuan ekspor dari advanced countries ke emerging markets dan negara-negara lain yang mempunyai volume perdagangan maupun pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi. Namun, ekspor menghadapi risiko perlambatan sebagai akibat rambatan memburuknya perekonomian AS dan Eropa. Meskipun dampak rambatan dari krisis ekonomi di Amerika dan Eropa pada kinerja ekspor di triwulan III 2011 diprakirakan masih terbatas, namun potensi meluasnya dampak krisis perekonomian tersebut ke negara pasar tujuan ekspor lainnya dapat menekan pertumbuhan ekspor

Grafik 3.5 Ekspor Nonmigas

di kuartal IV 2011. Konsumsi rumah tangga pada triwulan III dan IV 2011 diprakirakan tetap tumbuh tinggi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga didukung oleh keyakinan konsumen yang tetap tinggi serta membaiknya daya beli konsumen. Indeks Keyakinan Konsumen pada Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan optimisme masyarakat yang tetap terjaga (Grafik 3.7). Optimisme tersebut turut didorong oleh realisasi data inflasi yang hingga September 2011 mencatat angka di bawah 5%. Daya beli konsumen khususnya PNS/TNI/Polri/Pensiunan serta pelaku usaha diprakirakan tumbuh lebih baik. Indikasi tersebut sejalan dengan peningkatan daya beli PNS/TNI/Polri/Pensiunan seiring telah dicairkannya gaji ke-13 mulai Juli 2011. Di samping itu, daya beli pelaku usaha diprakirakan akan

Grafik 3.6 Indeks Harga Komoditas Ekspor Nonmigas

meningkat seiring dengan masih tingginya profit margin1 terutama pada sektor pertambangan. Berbagai indikator penjualan eceran menunjukkan akselerasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Penjualan riil dari Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia Agustus 2011 tercatat tumbuh 30,97% (yoy), paling tinggi sejak awal tahun. Tingginya pertumbuhan tersebut didorong oleh penjualan eceran kebutuhan pokok pada siklus musiman perayaan hari raya. Sementara itu, memasuki triwulan III 2011 penjualan motor dan mobil tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Angka penjualan mobil dan motor pada Agustus 2011 masing-masing tercatat sebesar 13,15% dan 7,25% (yoy) (Grafik 3.8).

Grafik 3.7 Indeks Keyakinan Konsumen SK BI

Profit Margin = Net Income / Sales

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

17

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

Tren peningkatan investasi diprakirakan terus berlanjut pada


triwulan III dan IV 2011. Pertumbuhan investasi ditopang baik oleh pertumbuhan investasi bangunan maupun pertumbuhan investasi nonbangunan. Investasi bangunan diprakirakan tumbuh meningkat seiring dengan kegiatan konstruksi sektor properti yang meningkat (Grafik 3.9). Sementara itu, investasi non bangunan tumbuh signifikan didorong oleh pulihnya pasokan alat angkutan, tumbuhnya sektor manufaktur khususnya subsektor baja dan adanya program revitalisasi mesin TPT. Meningkatnya volume impor barang modal pada awal triwulan III 2011 turut mendukung pertumbuhan investasi non bangunan. Sejalan dengan hal tersebut, optimisme pelaku usaha tetap terjaga sebagaimana tercermin pada hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang memprakirakan nilai investasi terus meningkat pada triwulan III 2011 dengan sifat investasi yang dominan berupa investasi baru. Iklim investasi yang baik juga ditunjukkan oleh indeks tendensi bisnis BPS yang diprakirakan meningkat pada triwulan III

Grafik 3.8 Pertumbuhan Penjualan Mobil dan Motor

2011 (Grafik 3.10). Pertumbuhan investasi juga didukung oleh tingkat penggunaan kapasitas yang meningkat. Utilisasi kapasitas industri menurut SKDU meningkat menjadi 74,29% pada triwulan II 2011, lebih tinggi dari rata-rata historis tahun 2010 sebesar 71,07%, yang terutama terjadi pada seluruh subsektor industri pengolahan. Hasil survei produksi juga menunjukkan kapasitas utilisasi industri pengolahan nonmigas yang meningkat. Pada Juli 2011 kapasitas utilisasi industri pengolahan non migas berada pada level 81,07% meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 79,34%. Konsumsi Pemerintah diperkirakan tumbuh meningkat pada triwulan III 2011. Realisasi belanja pemerintah hingga Agustus 2011 terus membaik, mencapai 51,3% dari total anggaran belanja tahun 2011 atau lebih baik dari pencapaian periode yang sama tahun

Grafik 3.9 Investasi Bangunan

lalu (49,4% dari anggaran). Membaiknya serapan belanja tersebut terutama karena penyerapan belanja pegawai yang cukup tinggi yaitu mencapai 69,1%. Hal tersebut didorong oleh pembayaran gaji pokok, gaji ke-13 dan gaji September yang telah terealisasi. Sementara itu, belanja barang dan modal masih tercatat rendah, masing-masing sebesar 36,6% dan 26,1% dari total anggaran belanja. Masih cukup rendahnya belanja barang dan modal tersebut disebabkan oleh tingkat kemajuan proyek yang masih rendah, antara lain akibat tender proyek yang diulang maupun terkendala pembebasan lahan. Impor pada triwulan III dan IV 2011 diprakirakan tumbuh tinggi merespons masih kuatnya permintaan domestik. Berdasarkan kelompoknya, tingginya impor ditunjang oleh impor

Grafik 3.10 Indeks Tendensi Bisnis

18

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

nonmigas khususnya impor bahan baku, terutama bahan baku untuk


industri serta kendaraan penumpang (Grafik 3.11). Di sisi migas, kenaikan impor tersebut didukung oleh faktor musiman peningkatan konsumsi minyak sepanjang bulan Ramadhan. Namun, pertumbuhan impor menghadapi risiko perlambatan sejalan dengan prakiraan perlambatan ekspor sektor industri sebagai dampak rambatan pelemahan perekonomian Eropa dan AS.

Operasi Keuangan Pemerintah Realisasi APBN sampai dengan Agustus 2011 masih mencatat surplus sebesar 0,6% dari PDB. Pencapaian tersebut sedikit lebih rendah dari surplus periode yang sama tahun 2010 sebesar 0,7% dari PDB. Realisasi belanja modal dan barang masih relatif rendah. Penyerapan yang tinggi terjadi pada belanja subsidi dan pembayaran

Grafik 3.11 Pertumbuhan Impor Migas dan Non-Migas

bunga utang. Dari sisi pembiayaan, pemerintah masih mampu memperoleh pembiayaan dari penerbitan SBN sesuai targetnya. Realisasi penerimaan negara mencapai 61,4% dari target APBNP 2011 atau mencatat peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 60,8% dari target APBNP 2010. Realisasi penerimaan yang lebih tinggi terutama disebabkan oleh kenaikan penerimaan Pajak Ekspor sejalan dengan tarif Bea Keluar ekspor CPO yang meningkat. Sementara itu, penerimaan PBB sedikit menurun. Dari sektor Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), kenaikan penerimaan PNBP SDA Migas dan Bagian Laba BUMN masih dapat menutupi kinerja PNBP SDA Nonmigas dan PNBP Lainnya yang menurun, sehingga secara keseluruhan kinerja PNBP meningkat dibandingkan dengan kinerja periode yang sama pada tahun 2010. Realisasi penyerapan belanja negara telah mencapai 51,3% dari target APBNP 2011 atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 49,4%. Realisasi belanja yang lebih tinggi tersebut lebih disebabkan oleh subsidi dan pembayaran bunga utang yang meningkat. Penyerapan belanja modal dan barang justru mengalami penurunan masing-masing mencapai 26,1% dan 36,6% dari APBNP 2011 dari pencapaian tahun 2010 sebesar 28,7% dan 40%. Peningkatan alokasi anggaran Belanja Barang dan Modal untuk pembangunan infrastruktur belum sepenuhnya terserap oleh Kementerian dan Lembaga (K/L). Sementara itu, realisasi Belanja Pegawai yang meningkat dipengaruhi oleh implementasi program remunerasi K/L yang mulai berjalan.

Penawaran Agregat Kinerja sektoral pada triwulan III dan IV 2011 diprakirakan masih kuat, terutama didorong oleh permintaan domestik yang solid dan permintaan eksternal yang masih terjaga (Tabel 3.2). Kinerja sektor tradables diprakirakan masih tumbuh cukup tinggi, terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan. Kinerja sektor nontradables juga diperkirakan tetap tumbuh tinggi, utamanya ditopang oleh kinerja sektor perdagangan,

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

19

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini


%Y-o-Y, Tahun Dasar 2000

Tabel 3.2 Pertumbuhan Ekonomi Sisi Penawaran


Indikator
Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Jasa-jasa PDB
* Proyeksi Bank Indonesia

2010
2,9 3,5 4,5 5,3 7,0 8,7 13,5 5,7 6,0 6,1

2011 I
3,6 4,3 5,0 4,3 5,3 7,9 13,7 7,3 7,0 6,5

II
3,9 0,8 6,1 3,9 7,4 9,6 10,7 6,9 5,7 6,5

III*
3,3 0,9 6,2 4,0 7,7 9,7 11,0 7,0 5,8 6,6

IV*
3,4 0,9 6,2 4,1 8,0 9,7 11,5 7,0 5,8 6,7

2011*
3,5 1,7 5,9 4,1 7,1 9,2 11,7 7,0 6,1 6,6

hotel, dan restoran (PHR), sektor bangunan, dan sektor pengangkutan dan komunikasi. Namun, terdapat beberapa risiko di beberapa sektor seperti terjadinya kekeringan yang berpengaruh pada kinerja sektor pertanian, menurunnya produksi (lifting) migas pada sektor pertambangan, dan indikasi awal penurunan kinerja sektor bangunan berupa menurunnya pertumbuhan penjualan semen dan impor bahan bangunan. Di sisi lain, terdapat faktor positif, yaitu adanya penyelenggaraan Sea Games pada November 2011 di Jakarta dan Palembang yang diprakirakan akan mendukung kegiatan di sektor riil. Kinerja sektor pertanian pada triwulan III dan IV 2011 diprakirakan tumbuh melambat dari triwulan sebelumnya. Melambatnya kinerja sektor pertanian seiring dengan berlalunya musim panen padi. Produksi padi berdasarkan ARAM II-2011 diprakirakan tumbuh sebesar 2,4%. Prakiraan produksi padi tersebut masih diwarnai beberapa faktor risiko, yaitu (1) penurunan luas lahan karena peningkatan konversi lahan pertanian; (2) serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti hama wereng, hama kresek, virus kerdil dan lain sebagainya; (3) realisasi bantuan pupuk yang tidak memenuhi target; dan (4) kekeringan yang terjadi di beberapa daerah. Di sisi lain, kondisi cuaca diperkirakan lebih baik dari tahun sebelumnya. Hal tersebut tercermin dari indikator La Nina/El Nino yang berada dalam fase normal hingga akhir triwulan III 2011. Normalnya cuaca berdampak positif pada kinerja subsektor perikanan sehingga diprakirakan tumbuh lebih tinggi pada tahun 2011. Selain faktor cuaca, kinerja subsektor perikanan juga didukung oleh program minapolitan Kementrian Kelautan dan Perikanan. Sektor pertambangan pada triwulan III dan IV 2011 diprakirakan tumbuh terbatas. Terbatasnya kinerja sektor pertambangan terutama disebabkan oleh kinerja lifting migas yang menurun meskipun kinerja pertambangan nonmigas (batu bara) membaik. Kinerja lifting migas yang menurun disebabkan oleh faktor penyusutan produksi tambang lama dan gangguan produksi. Di sisi lain, kinerja subsektor nonmigas khususnya batubara diperkirakan membaik seiring dengan kondisi cuaca yang membaik dan meningkatnya permintaan batu bara domestik terkait dengan beberapa proyek PLTU 10.000 MW tahap pertama. Prakiraan

20

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

tersebut juga sejalan dengan perkiraan kegiatan usaha SKDU yang meningkat pada triwulan III 2011 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kinerja sektor industri pengolahan pada triwulan III dan IV 2011 diprakirakan masih tumbuh tinggi. Masih tingginya pertumbuhan sektor industri terutama ditopang oleh pulihnya kinerja subsektor alat angkut, mesin, dan peralatannya pascagangguan pasokan akibat gempa Jepang. Hal itu tercermin dari penjualan mobil pada Agustus 2011 yang mencapai sekitar 73 ribu unit atau tumbuh sebesar 13,2% (yoy). Selain itu, kinerja industri juga didukung oleh pertumbuhan yang cukup tinggi pada subsektor logam dasar, besi dan baja, dan subsektor tekstil dan alas kaki yang berada di atas pola historisnya, serta subsektor makanan dan minuman yang tumbuh tinggi. Kinerja sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR) diprakirakan masih tumbuh tinggi pada triwulan III dan IV 2011. Hal tersebut terkait dengan masih tingginya pertumbuhan sektor tradables, aktivitas domestik yang masih baik serta masih terjaganya impor. Aktivitas domestik yang masih baik tercermin dari indeks penjualan eceran yang meningkat pada Agustus 2011. Di samping itu, data tingkat hunian hotel dan jumlah wisatawan mancanegara juga menunjukkan peningkatan hingga Agustus 2011. Penyelenggaraan Sea Games pada November 2011 di Jakarta dan Palembang diprakirakan dapat turut meningkatkan kegiatan di subsektor hotel dan restoran. Kinerja sektor bangunan pada triwulan III dan IV 2011 diprakirakan masih tumbuh tinggi. Masih tingginya kinerja sektor bangunan sejalan dengan investasi yang masih tumbuh tinggi dan mulai berjalannya berbagai proyek Pemerintah. Namun demikian, terdapat faktor risiko pada triwulan III 2011 dengan perkembangan proyek-proyek infrastruktur yang tidak secepat dari perkiraan awal sebagaimana tercermin dari indikator penurunan penjualan semen dan impor bahan bangunan pada Juli dan Agustus 2011. Sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan III dan IV 2011 diprakirakan masih tumbuh tinggi. Kinerja sektor tersebut terutama ditopang oleh peningkatan subsektor pengangkutan dan masih tingginya pertumbuhan subsektor komunikasi. Kegiatan usaha sektor pengangkutan dan komunikasi pada triwulan III 2011 diperkirakan meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kinerja subsektor pengangkutan diprakirakan akan lebih berperan di sektor ini sebagaimana diindikasikan oleh masih tingginya pertumbuhan penumpang angkutan udara hingga Agustus 2011. Selain itu, terdapat faktor positif yaitu adanya penyelenggaraan Sea Games pada November 2011 di Jakarta dan Palembang yang diprakirakan akan meningkatkan kegiatan di subsektor ini. Pada subsektor komunikasi, pertumbuhan yang masih tinggi berasal dari bisnis internet dan komunikasi data, sementara untuk penggunaan komunikasi seluler (suara dan sms) diperkirakan akan relatif terbatas. Hal itu terindikasi dari pertumbuhan penggunaan internet PT. Telkom yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan komunikasi seluler.

Perekonomian Daerah Pertumbuhan ekonomi daerah sepanjang paruh kedua tahun 2011 diprakirakan masih tetap tinggi sejalan dengan prakiraan pertumbuhan ekonomi nasional (Grafik

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

21

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

3.12). Hampir seluruh kawasan diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari


triwulan sebelumnya, kecuali Sumatera karena melambatnya produksi perkebunan dan berakhirnya panen tanaman bahan makanan (tabama). Inflasi secara nasional cenderung menurun terutama disumbang oleh rendahnya inflasi di sebagian Jawa dan Sulampua (Sumatera, Lampung, dan Papua). Sementara itu, di Sumatera terjadi peningkatan inflasi. Di sisi permintaan, konsumsi rumah tangga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi daerah di seluruh kawasan. Membaiknya kinerja konsumsi rumah tangga terlihat dari ekspektasi konsumen yang meningkat serta ditunjang oleh daya beli yang membaik. Selain itu, indeks penjualan eceran di kotakota besar, terutama di Jakarta dan Semarang, juga menunjukkan peningkatan. Konsumsi pemerintah cenderung melambat, kecuali di kawasan Jawa. Perkembangan investasi (PMTB) di Kawasan Timur Indonesia (KTI) meningkat didorong oleh investasi di sektor pertambangan. Kinerja ekspor diperkirakan meningkat ditopang oleh relatif stabilnya ekspor manufaktur di Jawa dan DKI Jakarta serta meningkatnya perdagangan antar pulau. Seiring dengan perkembangan ekspor, kinerja impor juga cenderung meningkat ditopang oleh impor barang konsumsi (Jawa dan Jakarta) serta barang modal (KTI). Di sisi penawaran, sektor industri, sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), serta sektor pengangkutan dan komunikasi mendominasi pertumbuhan ekonomi daerah. Kinerja produksi manufaktur meningkat di seluruh kawasan sebagai respons untuk memenuhi permintaan yang disertai membaiknya kembali pasokan bahan baku. Meningkatnya permintaan domestik yang didukung oleh membaiknya daya beli mendorong tingginya pertumbuhan sektor PHR hampir di seluruh kawasan kecuali Sumatera. Selain itu, kunjungan wisata yang meningkat juga mendorong pertumbuhan sektor PHR. Di sektor pengangkutan dan komunikasi, diperkirakan terjadi peningkatan penggunaan jasa angkutan dan kapasitas optimum layanan jasa komunikasi hampir di seluruh kawasan.
Grafik 3.12 Pertumbuhan PDRB Kawasan

NERACA PEMBAYARAN INDONESIA (NPI) Tingginya ketidakpastian ekonomi global, meskipun fundamental ekonomi domestik tetap kuat, diprakirakan telah memberikan tekanan terhadap NPI. Aliran keluar modal asing, yang didorong oleh sentimen negatif memburuknya perekonominan global yang terjadi pada September 2011, menyebabkan turunnya surplus neraca transaksi modal dan finansial (TMF). Sementara itu, neraca transaksi berjalan pada triwulan III 2011 juga mengalami tekanan karena tingginya pertumbuhan impor. Kinerja neraca transaksi berjalan diperkirakan akan mencatat defisit. Meningkatnya aktivitas perekonomian domestik menimbulkan tingginya permintaan akan impor, baik dalam bentuk impor barang modal, bahan baku, maupun barang konsumsi. Selain itu, penurunan harga minyak menyebabkan pendapatan ekspor dari minyak turun, sementara impor minyak

22

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

masih bertahan tinggi akibat tingginya tingkat konsumsi BBM di dalam negeri. Dari sisi dalam negeri, pasokan bahan bakar minyak (BBM) relatif terbatas. Hal tersebut selanjutnya menjadikan neraca migas mengalami defisit. Meskipun demikian, perkembangan ekspor pada triwulan III 2011 membaik, terutama ekspor nonmigas. Surplus transaksi modal dan finansial di triwulan III 2011 turun, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Meningkatnya krisis di Eropa serta melambatnya ekonomi Amerika Serikat memicu aliran keluar modal asing. Peran investasi portofolio yang masih cukup besar dalam struktur aliran modal dalam NPI menyebabkan neraca transaksi modal dan finansial mudah dipengaruhi oleh berbagai sentimen negatif. Meskipun demikian, kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang masih kuat dan prospek investasi yang positif masih mampu menarik aliran investasi dalam bentuk penanaman modal asing (Foreign Direct Investment/FDI).

NILAI TUKAR RUPIAH



Seiring dengan meningkatnya risiko global, rupiah mengalami depresiasi. Rupiah sempat mengalami penguatan di awal triwulan III 2011, namun mulai melemah sejak Agustus hingga akhir triwulan

sejalan dengan tren pergerakan mata uang mayoritas negara kawasan. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, secara rata-rata rupiah terdepresiasi sebesar 0,12% ke level Rp8.599 per dolar AS (Grafik 3.13). Walaupun mengalami depresiasi di triwulan III 2011, rupiah yang di akhir September 2011 ditutup pada level Rp8.790 per dolar AS masih tercatat menguat sebesar 2,5% sejak awal tahun 2011. Tekanan pada rupiah diikuti oleh volatilitas yang meningkat. Selama triwulan III 2011, rata-rata volatilitas rupiah tercatat mencapai 0,49% atau naik dari 0,3% pada triwulan sebelumnya (Grafik 3.14).

Grafik 3.13 Rata-Rata Nilai Tukar Rupiah

Pelemahan rupiah terpengaruh oleh sentimen negatif


krisis AS dan kawasan Eropa. Di awal triwulan, investor mempersepsikan rupiah relatif aman dan menguntungkan namun terjadi peningkatan kekhawatiran investor di bulan Agustus hingga September seiring dengan meningkatnya faktor risiko global. Beberapa faktor yang menyebabkan meningkatnya kekhawatiran investor adalah (i) meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap eskalasi krisis Eropa seiring meningkatnya potensi default Yunani; (ii) penurunan peringkat utang Amerika2 dan Italia3 ; (iii) penurunan rating surat utang tiga bank besar di AS oleh Moodys4 ; dan (iv) pernyataan The Fed bahwa terdapat significant downside risks terhadap outlook perekonomian AS. Faktor-faktor tersebut menyebabkan investor

Grafik 3.14 Volatilitas Nilai Tukar Rupiah

2 3 4

S & P menurunkan peringkat kredit AS dari AAA menjadi AA+ dengan outlook negative S & P meurunkan peringkat Italia dari A+ menjadi A dengan outlook negative Moodys menurunkan peringkat surat utang tiga bank terbesar di AS yaitu Citigroup, Wells Fargo dan Bank of America

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

23

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

beralih ke aset-aset aman dan mulai menarik penempatannya di emerging markets (portfolio rebalancing). Kendati demikian, terdapat ekspektasi bahwa nilai tukar rupiah akan mengalami apresiasi. Hingga akhir triwulan laporan, berdasarkan hasil sebuah survei5 , pelaku pasar tetap memperkirakan rupiah akan bergerak menguat hingga akhir tahun 2011. Tingginya kepercayaan pelaku pasar terhadap rupiah serta komitmen Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah diperkirakan dapat menopang pergerakan rupiah ke depan. Sementara itu, strategi akumulasi cadangan devisa yang telah ditempuh oleh Bank Indonesia dapat memperkuat ketahanan Indonesia dalam menghadapi tekanan nilai tukar sekaligus memenuhi kebutuhan kewajiban jangka pendek fundamental. Dengan imbal hasil rupiah masih lebih kompetitif

Grafik 3.15 Perbandingan UIP Beberapa Negara

dibandingkan dengan kawasan, diperkirakan minat investor terhadap aset rupiah tetap tinggi. Indikator imbal hasil investasi di aset rupiah yang tercermin dari selisih suku bunga DN dan LN (UIP Uncovered Interest Parity) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan regional Asia (Grafik 3.15). Bahkan jika memperhitungkan premi risiko yang meningkat selama

triwulan laporan, daya tarik investasi dalam rupiah pun tetap tinggi (Grafik 3.16). Faktor risiko di mayoritas negara kawasan mengalami peningkatan seiring dengan melambatnya perekonomian global, sebagaimana tercermin dari naiknya yield yang akhirnya mengoreksi CIP. Tekanan risiko global terhadap pasar keuangan domestik sangat bergantung pada perkembangan dari kecepatan penanganan dan kedalaman krisis utang di Eropa dan AS.

Grafik 3.16 Perbandingan CIP Beberapa Negara

Indikator risiko credit default swap (CDS) meningkat signifikan di bulan Juli hingga September karena terpengaruh turbulensi isu global (Grafik 3.17). Namun, risiko tersebut diindikasi bersifat temporer ditopang oleh kuatnya fundamental perekonomian Indonesia dan keyakinan pelaku pasar terhadap prospek perekonomian Indonesia ke depan. Dengan kondisi tersebut, cadangan devisa tercatat sebesar 114,5 miliar dolar AS atau setara dengan 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Jumlah cadangan devisa tersebut diyakini cukup untuk mengantisipasi kemungkinan arus keluar modal asing yang terjadi secara tiba tiba. Menurut IMF, threshold cadangan devisa yang aman sebesar 3-4 bulan impor.

Grafik 3.17 Indikator Risiko (CDS dan Yield Spread)

Survei nilai tukar Bloomberg

24

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

INFLASI

Tekanan inflasi sampai dengan triwulan III 2011 terkendali. Dibandingkan dengan dua triwulan sebelumnya, inflasi terus mengalami perlambatan dan tercatat sebesar 4,61% (yoy) (Grafik 3.18). Hal tersebut disebabkan oleh terjaganya pasokan barang, turunnya harga komoditas pangan global serta minimalnya kebijakan Pemerintah yang bersifat strategis. Ekspektasi inflasi yang terjaga turut mampu meminimalisir dampak gejolak harga emas dan depresiasi nilai tukar pada akhir triwulan III.

Grafik 3.18 Perkembangan Inflasi

Disagregasi Inflasi Inflasi inti dipengaruhi oleh gejolak eksternal. Pada triwulan III 2011, inflasi inti tercatat sebesar 4,93% (yoy), atau lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang sebesar 4,63% (yoy) (Grafik 3.19). Memburuknya kondisi eksternal akibat krisis utang di Eropa dan

belum pulihnya ekonomi AS meningkatkan intensitas ketidakpastian yang mendorong terjadinya peralihan outlet investasi oleh investor dari yang berupa surat-surat berharga menjadi komoditas emas. Harga emas global pada triwulan laporan tercatat sempat melampaui 1.800 dolar AS per troy oz yang merupakan rekor tertinggi. Peningkatan harga emas internasional tersebut pada gilirannya memengaruhi harga emas domestik sehingga mendorong kenaikan inflasi inti. Selain itu, terjadinya depresiasi nilai tukar pada akhir triwulan laporan juga memengaruhi pergerakan inflasi inti, khususnya untuk barang-barang tradables (Grafik 3.20). Ekspektasi inflasi mampu terjaga baik. Hal itu tercermin dari berbagai hasil survei yang menunjukkan penurunan. Hasil survei Consensus Forecast untuk inflasi tahun 2011 turun dari 6,2% (yoy) pada akhir triwulan II menjadi 5,6%(yoy) pada akhir triwulan III (Grafik 3.21).

Grafik 3.19 Inflasi Inti

Di sektor riil, hasil Survei Konsumen Bank Indonesia dan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia juga menunjukkan penurunan baik untuk ekspektasi harga 3 bulan maupun ekspektasi harga 6 bulan kedepan (Grafik 3.22 dan 3.23). Tekanan inflasi volatile food (VF) pada triwulan III 2011 rendah. Inflasi volatile food tercatat sebesar 5,14% (yoy) atau jauh lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang mencapai 8,75% (yoy). Membaiknya pasokan barang dan minimalnya gangguan distribusi selama triwulan laporan menjadi pendorong rendahnya catatan inflasi kelompok volatile food. Hal itu juga didorong oleh terjadinya deflasi pada beberapa komoditas seperti cabai dan bawang. Panen yang berhasil ditambah dengan tambahan pasokan dari impor

Grafik 3.20 Inflasi Inti dan Nilai Tukar

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

25

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

menyebabkan pasokan bumbu-bumbuan melimpah di pasar.


Di sisi harga beras, terjadi peningkatan namun tetap terkendali. Mulai berakhirnya musim panen di tengah terjadinya peningkatan permintaan menyebabkan tekanan pada harga beras. Namun, masih mencukupinya stok hasil panen periode triwulan lalu yang ditambah dengan pengadaan beras impor serta relatif lancarnya distribusi selama triwulan laporan mampu menahan kenaikan harga beras secara berlebihan. Selain itu, rendahnya inflasi volatile food juga dipengaruhi oleh terkoreksinya beberapa harga komoditas pangan global. Inflasi kelompok administered prices masih rendah seiring dengan tidak adanya kebijakan strategis pemerintah. Kelompok administered prices pada triwulan III 2011 mencatat inflasi sebesar 2,83% (yoy). Komoditas administered price yang berkontribusi pada inflasi triwulan laporan ialah rokok, bahan bakar rumah tangga dan

Grafik 3.21 Ekspektasi Inflasi Consensus Forecast

tarif kereta api. Komoditas rokok masih secara konsisten memberikan sumbangan inflasi di setiap bulannya selama triwulan III akibat adanya selisih harga transaksi pasar (HTP) dengan harga jual eceran (HJE) yang ditetapkan oleh Pemerintah. Sementara, inflasi komoditas administered prices lainnya dipengaruhi oleh siklus hari raya.

PERKEMBANGAN PASAR KEUANGAN

Suku Bunga Suku bunga PUAB O/N selama triwulan III 2011 mengalami penurunan. Rata-rata suku bunga PUAB O/N tercatat sebesar 5,40%, lebih rendah 60 bps dibandingkan triwulan II 2011 (Grafik 3.24). Pergerakan tersebut sejalan dengan adanya pelebaran koridor bawah PUAB O/N yang semula 100bps menjadi 150bps. Rata-rata suku bunga PUAB dengan tenor lebih panjang dari O/N pada

Grafik 3.22 Ekspektasi Inflasi Pedagang

triwulan III 2011 (5,42% - 5,85%6) berada pada kisaran yang lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (6,18 - 8,27%7). Lebih rendahnya suku bunga PUAB O/N disertai dengan persepsi risiko likuiditas yang menurun sebagaimana tercermin pada ratarata spread suku bunga PUAB O/N tertinggi dan terendah yang turun menjadi 12bps dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (39bps). Selama triwulan III 2011 suku bunga deposito relatif stabil sementara suku bunga kredit mengalami penurunan (Grafik 3.26). Berdasarkan data sampai dengan Agustus, suku bunga deposito 1 bulan secara rata-rata tercatat sebesar 6,8% atau sedikit lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (turun 2bps).

Grafik 3.23 Ekspektasi Inflasi Konsumen

6 7

Tenor 2 hari s.d 1 bulan Tenor 2 hari s.d 3 bulan

26

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

Di sisi lain, suku bunga kredit mengalami penurunan dibandingkan


dengan triwulan sebelumnya. Suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK) mengalami penurunan sebesar 10bps, sementara suku bunga untuk Kredit Investasi (KI) dan Kredit Konsumsi (KK) masing-masing mengalami penurunan sebesar 3bps dan 7bps dibandingkan dengan triwulan II 2011. Secara rata-rata suku bunga KMK, KI dan KK di triwulan III 2011 adalah 12,5%, 12,1% dan 14,3%. Berdasarkan data sementara, suku bunga simpanan dan kredit perbankan terindikasi masih dalam tren yang menurun.

Grafik 3.24 Suku Bunga PUAB O/N & Instr. Moneter

Dana, Kredit, dan Uang Beredar Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) mengalami peningkatan. Berdasarkan data sampai dengan Agustus 2011, pertumbuhan DPK tercatat sebesar 17,5% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pada

triwulan sebelumnya sebesar 16,3% (yoy) (Grafik 3.27). Dengan perkembangan tersebut, posisi DPK pada triwulan III 2011 (sampai dengan Agustus) tercatat sebesar Rp2.460 triliun. Berdasarkan komponennya, deposito dan tabungan mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 19,4% (yoy) dan 24,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan tahunan pada triwulan sebelumnya yakni 15% untuk deposito dan 23,4% untuk tabungan. Sementara komponen giro tercatat mengalami pertumbuhan tahunan yang lebih rendah (5,6%) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (10,5%). Pertumbuhan kredit relatif stabil. Pada triwulan III 2011 (berdasarkan data sampai dengan Agustus 2011), pertumbuhan kredit (termasuk channeling) tercatat sebesar 23,4% (yoy) sehingga mencapai Rp2.061 triliun. Pertumbuhan tersebut relatif stabil
Grafik 3.25 Struktur Suku Bunga PUAB

dibandingkan akhir triwulan sebelumnya yaitu 23,3% (yoy). Berdasarkan data sementara, pertumbuhan kredit hingga September 2011 mencapai 23,8% (yoy). Pertumbuhan kredit pada triwulan III 2011 diikuti dengan peningkatan kualitas penyaluran kredit yang tercermin dari pertumbuhan kredit investasi (KI) yang cukup signifikan (30,1% (yoy)) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (23,8% (yoy)) (Grafik 3.28). Meningkatnya KI diharapkan dapat meningkatkan kapasitas ekonomi sehingga dapat merespons meningkatnya permintaan tanpa menimbulkan gejolak harga yang berlebihan. Selain KI, kredit konsumsi (KK) juga mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi pada triwulan III 2011 (24,8% (yoy)) dibandingkan triwulan sebelumnya (23,2% (yoy)). Kredit modal kerja (KMK) yang memiliki porsi terbesar dalam kredit (48%) tumbuh sedikit melambat

Grafik 3.26 Perkembangan Suku Bunga Perbankan

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

27

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

Tabel 3.3 Perkembangan Berbagai Suku Bunga


Suku Bunga (%)
BI Rate Penjaminan Deposito Dep 1 bulan (Weighted Average) Base Lending Rate Kredit Modal Kerja (KMK) Kredit Investasi (KI) Kredit Konsumsi (KK)

2010
Jul
6,50 7,00 6,79 12,39 13,21 12,60 14,92

2011
Des
6,50 7,00 6,83

Ags
6,50 7,00 6,75

Sep
6,50 7,00 6,72

Okt
6,50 7,00 6,81

Nov
6,50 7,00 6,78

Jan Feb
6,50 7,00 6,72 12,03 12,75 12,25 14,48 6,75 7,25 6,72 11,84 12,72 12,20 14,50

Mar
6,75 7,25 6,83 12,21 12,69 12,18 14,39

Apr
6,75 7,25 6,80 12,06 12,68 12,16 14,38

Mei
6,75 7,25 6,85

Jun
6,75 7,25 6,82

Jul
6,75 7,25 6,86

Ags
6,75 7,25 6,80 12,17 12,50 12,10 14,30

12,38 12,21 13,19 13,00 12,40 12,41 14,83 14,75

12,07 11,98 11,98 13,01 12,96 12,83 12,38 12,35 12,28 14,65 14,53 14,53

12,22 12,15 12,08 12,61 12,60 12,55 12,15 12,13 12,11 14,37 14,37 14,32

dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada triwulan III 2011 KMK tumbuh sebesar 20,8% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatat pertumbuhan sebesar 23,8% (yoy). Masih relatif tingginya pertumbuhan kredit,

terutama kredit investasi, menunjukkan optimisme pelaku usaha


terhadap kondisi perekonomian Indonesia ke depan. Di triwulan III 2011 tren peningkatan likuiditas perekonomian masih terus berlanjut. Sampai dengan Agustus 2011, M1 tercatat mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 19,3% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (16,6% (yoy)), menjadi Rp662,8 triliun. Pertumbuhan M1 tersebut juga diikuti oleh pertumbuhan M2 yang meningkat menjadi 17,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (13,1%, yoy), sehingga M2 tercatat sebesar level Rp2.621 triliun. Pertumbuhan M1 terutama ditopang oleh pertumbuhan kartal yang meningkat signifikan terkait dengan perayaan hari raya keagamaan Lebaran. Sementara itu, pendorong utama dari pertumbuhan M2 adalah pertumbuhan deposito.

Grafik 3.27 Pertumbuhan DPK, Kredit dan BI Rate

Pasar Saham Sentimen negatif akibat gejolak pasar keuangan global berdampak terhadap kinerja pasar saham domestik walaupun fundamental makroekonomi dan mikro emiten cukup kuat. Gejolak di pasar keuangan global tersebut mendorong aksi portfolio adjustment oleh investor non residen di pasar keuangan domestik yang diikuti dengan melemahnya nilai tukar sehingga menekan kinerja pasar saham domestik. IHSG mengalami pelemahan yang cukup tajam sebesar 8,7% ke level 3.549 pada 30 September 2011. Meskipun melemah cukup tajam, namun dibandingkan dengan negara-negara di kawasan, pelemahan tersebut masih relatif lebih rendah. (Grafik 3.30 dan 3.31).

Grafik 3.28 Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Penggunaan

28

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

Merespons peningkatan risiko eksternal, investor


nonresiden melakukan portfolio adjustment dengan mengurangi eksposur mereka di emerging market. Respons yang dilakukan oleh investor nonresiden dilakukan melalui (i) Exposure adjustment untuk mengurangi risiko di pasar keuangan, (ii) melakukan strategi sell high buy low yaitu melakukan aksi jual dengan mengangkat kinerja indeks terlebih dahulu dan kemudian melakukan aksi beli selektif pada saat pasar saham mengalami tekanan. Selama triwulan III 2011, investor asing mencatat net jual sebesar Rp0,5 triliun, menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencatat net beli sebesar Rp21,4 triliun. Emiten sektor pertambangan dan sektor keuangan tercatat mengalami tekanan jual terbesar dari investor nonresiden. Rencana beberapa BUMN untuk melakukan buyback ketika harga saham sudah cukup rendah menjadi natural self stabilization di pasar saham domestik.

Grafik 3.29 Pertumbuhan Likuiditas Perekonomian

Memburuknya kinerja IHSG terutama disebabkan tekanan jual yang dialami oleh sektor pertambangan yang terkoreksi sebesar 24%. Pelemahan tersebut antara lain disebabkan oleh ekspektasi koreksi harga komoditas sejalan dengan ekspektasi melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia yang disertai dengan aksi jual yang cukup besar terhadap saham-saham di sektor tersebut. Namun demikian, beberapa sektor lainnya masih mencatat penguatan yaitu sektor konsumsi dan aneka industri. Kinerja positif kedua sektor tersebut terutama ditopang oleh stabilnya pertumbuhan konsumsi nasional serta kinerja keuangan emiten yang cukup kondusif. (Grafik 3.32).

Grafik 3.30 IHSG dan BI Rate

Pasar Surat Berharga Negara


Kinerja pasar SBN masih positif meski mulai terkena dampak dari gejolak pasar keuangan global khususnya pada akhir triwulan III 2011. Dari sisi harga, dampak dari gejolak pasar keuangan global terhadap pembentukan yield masih relatif terbatas sebagaimana tercermin dari pergerakan yield SBN selama triwulan III 2011 (Grafik 3.33). Kondisi tersebut tidak terlepas dari upaya stabilisasi harga SBN dan nilai tukar oleh otoritas terkait. Secara triwulanan, imbal hasil SBN selama triwulan III 2011 untuk tenor jangka pendek, menengah dan panjang masing-masing turun sebesar 26 bps, 59 bps dan 110 bps. Secara keseluruhan (triwulanan), yield SBN berada pada level 6,7%, turun sebesar 6 bps jika dibandingkan akhir triwulan II 2011. Meski demikian, secara bulanan, yield SBN

Grafik 3.31 IHSG dan Perkembangan Bursa Global

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

29

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

untuk tenor jangka pendek dan menengah masing-masing meningkat


sebesar 64 bps dan 12 bps, sementara yield SBN jangka panjang menurun sebesar 26 bps. Selain dari sisi harga, tekanan terhadap pasar SBN juga terlihat dari sisi kuantitas. Kondisi tersebut tercermin dari penurunan porsi kepemilikan nonresiden pada SBN. Selama September 2011, investor nonresiden (khususnya dalam minggu terakhir) melakukan penjualan SBN yang lebih besar dibandingkan pada Oktober 2008 (puncak krisis). Namun, jika dilihat berdasarkan porsi jumlah SBN nonresiden yang dijual terhadap keseluruhan kepemilikan SBN oleh nonresiden, angka penjualan yang lebih besar dibandingkan Oktober 2008 hanya terjadi pada SBN jangka menengah. Beberapa kebijakan telah ditempuh otoritas untuk menjaga kestabilan harga di pasar SBN. Beberapa langkah yang ditempuh otoritas dalam rangka stabilisasi harga di pasar SBN adalah (1) Pemerintah melakukan buyback dengan intensitas yang lebih tinggi. Sejak 14 sampai dengan 23 September 2011, besarnya buyback SBN mencapai Rp3,1 triliun. (2) Bank Indonesia menjaga kestabilan nilai tukar rupiah sekaligus membantu upaya Pemerintah dalam menjaga stabilitas harga SBN, (3) menghimbau kepada beberapa bank dan asuransi untuk tidak menjual SBN ketika harga bergejolak.

Grafik 3.32 IHSG dan Perkembangan Sektoral

Reksadana Selama Agustus 2011, kinerja reksadana menunjukkan perkembangan yang positif. Secara umum, kinerja reksadana yang tercermin dari nilai aktiva bersih (NAB) - tumbuh cukup tinggi mencapai 15,2% dibandingkan triwulan II 2011 8. Peningkatan NAB tersebut terutama ditopang oleh reksadana campuran dan

Grafik 3.33 Yield SBN dan BI Rate

pendapatan tetap. Portofolio aset bentukan manajer investasi untuk produk reksadana mencatat kinerja diatas kinerja IHSG. (Tabel 3.4). Gejolak yang terjadi di pasar saham tidak berdampak signifikan terhadap kinerja industri reksadana. Meski pasar saham domestik

mengalami tekanan cukup besar, namun hal tersebut tidak memicu pencairan dana (redemption) di industri reksadana. Koreksi yang dialami IHSG mendorong sebagian investor mengalihkan investasinya

ke produk reksadana saham didasarkan pada keyakinan bahwa IHSG akan kembali menguat sehingga hasil pengembalian investasi (return) ke depan tetap tinggi. Produk-produk reksadana tercatat masih memberikan return positif.

Grafik 3.34 Yield Negara Kawasan


8

Perkembangan produk reksadana tersebut belum mencerminkan kinerja secara keseluruhan mengingat ketersediaan data yang terbatas

30

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

Tabel 3.4 Kinerja Reksadana (Pertumbuhan NAB per produk)


MTM
2011 1 2 3 4 5 7 8 9 10 11 12 1 2 3 4 5 6 7 8

Saham
-2,8% 1,7% 0,8% 5,2% -1,6% -4,4% -1,8% -1,1% 9,4% 5,5% 2,1% 8,6% 1,8% 3,7% 8,0% 3,6% 3,9% 1,8% 0,1% 4,0% 4,1%

P Uang
16,7% 3,7% 10,4% 10,1% -2,5% -1,2% 2,1% 0,7% 0,8% -2,2% -2,0% 0,6% 5,9% -1,0% -2,5% 2,5% 1,1% -4,6% 9,9% -2,1% 7,6%

Campuran Pend. Tetap Terproteksi


-11,4% 1,0% 5,9% 4,1% 0,9% -1,6% -1,8% 0,7% 7,8% 3,4% 5,1% -0,1% 3,9% 2,7% 6,0% 0,6% 0,3% 5,3% -5,5% 63,7% 54,7% -9,7% -0,1% 2,1% 11,1% -0,1% 10,8% -0,6% 7,5% 6,4% 10,5% -4,5% -3,3% -3,1% -0,9% 0,9% 0,8% -2,1% -1,3% 4,9% 33,8% 40,3% -0,7% 0,1% -3,9% 6,7% 1,5% 2,8% 0,3% 6,0% 4,4% 1,1% 2,8% -0,8% -1,9% 1,1% 0,5% 1,2% 1,3% -0,6% -0,3% -1,0% -1,3%

Indeks
-0,8% -34,1% 4,3% 5,1% -5,8% -5,1% -3,6% 10,8% 14,2% 9,2% 3,1% -30,6% 42,8% 0,5% 9,0% 3,9% -3,3% 5,3% -26,9% 6,8% -21,9%

ETF-Saham
-20,4% -2,9% 8,8% 6,3% -5,2% 4,8% 4,7% -1,5% 10,3% -11,4% -21,1% 0,0% -24,1% 1,4% 7,2% 3,3% 0,4% 1,8% 5,9% -7,3% -1,8%

ETP-Pend. Tetap
2,4% -39,6% 3,6% 2,9% -1,2% 3,2% 2,4% 0,6% 2,3% 3,2% -15,4% 0,0% -6,5% -0,4% 5,8% 4,2% 1,5% 0,5% 4,1% 2,8% 7,1%

Syariah
0,7% 0,8% -2,9% 4,8% -6,4% 3,6% 0,9% -2,8% 2,8% -1,8% -1,0% 17,1% -13,8% 0,9% 3,6% 1,0% 0,1% 0,0% -0,4% -3,4% -3,8%

Total
-3,5% 0,6% 0,6% 6,7% -0,3% 1,1% -0,6% 2,9% 6,3% 4,2% 0,9% 2,1% -0,1% 1,7% 3,7% 1,9% 1,5% 0,7% 0,4% 14,7% 15,2%

2010 6

Agust 11 TW II 2011

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

31

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

BOKS 1: Dampak Rambatan Krisis Global ke Indonesia


Intensitas gejolak pasar keuangan global menunjukkan peningkatan sejak Agustus 2011 terkait dengan penurunan peringkat di Amerika Serikat dan semakin meningkatnya eskalasi krisis utang di beberapa negara kawasan Eropa, termasuk Italia. Ketidakpastian penyelesaian krisis Eropa dan Amerika Serikat telah memicu adanya dampak rambatan krisis dari kawasan tersebut ke berbagai negara, termasuk negara-negara Asia. Memburuknya krisis utang dan belum solidnya respons kebijakan di Eropa dan AS telah mendorong perilaku flight to quality oleh investor global untuk menghindari risiko. Dampak dari perilaku tersebut menyebabkan terjadinya pembalikan arus modal sehingga mengganggu kinerja pasar keuangan dan bursa saham di beberapa negara, termasuk Indonesia. Gambaran peningkatan persepsi risiko tersebut tercermin pada tren indikator risiko credit default swap (CDS) yang meningkat. Perkembangan CDS Indonesia selama periode ketidakpastian di pasar keuangan global tersebut (akhir Juli sampai dengan akhir September 2011) telah meningkat sejalan dengan kenaikan CDS negara emerging market Lainnya.

Dampak Melalui Jalur Pasar Keuangan Krisis yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa tidak hanya menciptakan sentimen negatif yang ditransmisikan secara langsung ke Indonesia, melainkan juga melalui pasar keuangan negara-negara emerging markets. Gejolak di pasar keuangan global telah menyebabkan investor global melakukan penarikan dananya dengan melepas kepemilikan SUN dan aksi net jual di bursa saham Indonesia. Berdasarkan data historis, tekanan arus pembalikan modal terutama terjadi pada instrumen SBI. Namun, dengan telah diterapkannya kebijakan six month holding period tekanan terhadap instrumen SBI jauh mengecil. Bank Indonesia melakukan stabilisasi di pasar untuk menjaga stabillitas nilai tukar rupiah.

Cadangan devisa sampai dengan 30 September mencapai 114,5 miliar dolar AS, setara dengan 7,7 bulan impor, masih lebih baik dibandingkan dengan standar kecukupan devisa IMF (3-4 bulan impor) dan juga peer group rating (negara-negara dengan rating setara dengan Indonesia). Bank Indonesia menilai tingkat cadangan devisa yang dimiliki saat ini diperkirakan mencukupi untuk meredam dampak rambatan krisis tersebut.

Dampak Melalui Jalur Perdagangan Berdasarkan proyeksi IMF terkini (September 2011), proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Eropa terkoreksi masing-

Grafik 1. CDS Euro, CDS Indonesia dan VIX AS

32

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

masing sebesar 1,1% dan 0,7%. Bank Indonesia memperkirakan akan terjadi penurunan kinerja ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa. Namun demikian, pemburukan kinerja ekspor lebih jauh diperkirakan tidak terjadi mengingat ekonomi China dan India, yang merupakan mitra dagang Indonesia, diperkirakan masih tumbuh cukup tinggi di tahun 2012. Selain itu, dengan karakteristik ekspor Indonesia, dimana produk sumber daya alam mempunyai peran yang cukup dominan, maka penurunan kinerja ekspor diperkirakan tidak akan terlalu besar. Dari data empiris, ekspor sumber daya alam relatif tidak terlalu sensitif terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi dunia maupun penurunan harga komoditas. Dengan kondisi tersebut, Bank Indonesia memperkirakan, ekspor secara riil akan tumbuh sebesar 14,3% di tahun 2011 dan melambat menjadi 10,8% - 11,3% di tahun 2012.

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

33

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

BOKS 2: Devisa Hasil Ekspor (DHE)


Pembangunan ekonomi nasional membutuhkan sumber dana yang memadai dan berkesinambungan. Selain yang bersumber dari domestik, aliran masuk modal asing dalam besaran yang sesuai masih diperlukan sebagai salah satu sumber pembiayaan perekonomian. Namun, aliran masuk modal jangka pendek yang dominan berpotensi menimbulkan tekanan terhadap stabilitas makro. Salah satu alternatif sumber dana luar negeri yang bersifat lebih jangka panjang dapat berasal dari Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan Devisa Utang Luar Negeri (DULN). Perkembangan terkini menunjukkan bahwa tidak seluruh DHE dan DULN ditempatkan pada perbankan yang beroperasi di Indonesia. Hal tersebut berdampak pada keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar valas domestik yang sebagian dipenuhi oleh aliran modal jangka pendek yang rentan terhadap pembalikan (sudden capital reversal). Untuk itu Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan agar penerimaan DHE dan penarikan DULN dapat dilakukan melalui Bank Devisa. Dengan kebijakan ini diharapkan pasokan valas di pasar domestik menjadi lebih stabil dan berkelanjutan sehingga mendukung terciptanya pasar keuangan yang lebih sehat, nilai rupiah yang stabil dan stabilitas makroekonomi yang kuat. Selain itu, kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan kualitas statistik ekspor, impor, utang luar negeri, neraca pembayaran (balance of payment) dan monitoring devisa sehingga mendukung kebijakan moneter maupun kebijakan perpajakan dan kepabeanan. Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan lalu lintas devisa terkait dengan penerimaan DHE dan DULN pada tanggal 3 Oktober 2011. Dengan kebijakan ini, eksportir diwajibkan menerima DHE melalui bank devisa di Indonesia. Demikian juga debitur utang luar negeri diwajibkan menarik DULN melalui bank devisa di Indonesia. Pengaturan ini tetap berlandaskan pada sistem devisa bebas yang berlaku selama ini, dimana setiap penduduk dapat dengan bebas memiliki dan menggunakan devisa sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem Nilai Tukar. Kebijakan yang mulai berlaku sejak tanggal 2 Januari 2012 ini pada prinsipnya mewajibkan semua DHE diterima bank domestik paling lambat 3 bulan setelah tanggal ekspor sesuai di dalam Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB). Untuk tahun 2012 (masa transisi), DHE paling lambat diterima 6 bulan setelah tanggal PEB. Bagi eksportir yang sudah memperjanjikan penerimaan DHE tidak melalui bank domestik, diberikan masa transisi 1 tahun hingga 31 Desember 2012. Sementara itu, DULN yang wajib ditarik melalui bank devisa di Indonesia adalah devisa utang luar negeri yang ditarik secara cash/tunai, berupa non revolving loan agreement dan surat surat berharga utang (debt securities). Penarikan DULN yang berasal dari perjanjian ULN yang ditandatangani sebelum berlakunya kebijakan ini tidak wajib dilakukan melalui bank devisa di domestik.

34

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Perkembangan Makroekonomi dan Moneter Terkini

Secara rinci, kebijakan tersebut diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.13/20/ PBI/2011 tanggal 30 September 2011 tentang Penerimaan Devisa Hasil Ekspor dan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri. Bersamaan dengan itu, telah disesuaikan pula peraturan mengenai Pemantauan Lalu Lintas Devisa Bank dalam PBI No.13/21/PBI/2011 tanggal 30 September 2011 dan peraturan mengenai Kewajiban Pelaporan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri dalam PBI No.13/22/PBI/2011 tanggal 30 September 2011. Ketiga peraturan tersebut bersama dengan ringkasan dan tanya-jawab mengenai pokok-pokok kebijakan DHE dan DULN dapat diakses melalui website Bank Indonesia.

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

35

Tabel Statistik

Tabel Statistik

Tabel 1 Suku Bunga Pasar Uang, Deposito Berjangka, dan Kredit (Persen per Tahun)
Suku Bunga Deposito Berjangka * 1 bulan 3 bulan 6 bulan 12 bulan 24 bulan Suku Bunga Kredit* Modal Kerja Investasi

Periode

Suku Bunga Pasar Uang Antarbank*

Tingkat Diskonto SBI

2006 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2007 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2008 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2009 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2010 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2011 Trw. I Trw. II Trw. IIi

10,28 12,73 11,61 12,19 12,10 12,02 12,64 10,23 12,50 11,34 11,70 12,09 12,28 12,61 8,90 11,25 10,47 11,05 11,52 12,36 12,47 5,97 9,75 8,96 9,71 10,70 11,63 11,84 7,52 9,00 8,13 8,52 9,29 10,17 11,73 5,58 8,75 7,46 7,87 8,40 9,54 11,73 6,83 8,25 7,13 7,44 7,80 8,91 11,24 4,33 8,00 7,19 7,42 7,65 8,24 10,83 8,01 7,96 6,88 7,26 7,57 7,79 10,06 8,43 8,73 7,19 7,49 7,79 7,78 9,91 9,37 9,71 9,26 9,45 9,14 9,34 9,83 9,40 10,83 10,75 11,16 10,34 10,43 8,62 8,04 8,21 9,42 10,65 10,45 11,31 8,33 6,96 6,95 8,52 9,25 9,75 11,37 9,03 6,30 6,48 7,43 8,35 8,71 10,80 9,14 6,28 6,46 6,87 7,48 7,87 9,55 9,10 6,17 6,27 6,77 6,99 7,31 8,49 8,48 6,19 6,26 6,79 6,95 6,99 7,87 8,11 6,19 n,a 6,72 6,95 6,96 7,64 7,92 5,58 n,a 6,83 7,06 7,20 7,88 8,11 6,20 n,a 6,83 6,91 7,10 7,15 7,95 6,03 n,a 6,82 6,95 7,15 7,08 7,27 5,82 n,a 6,79 6,90 7,15 6,87 6,70

16,35 16,15 15,82 15,07

15,90 15,94 15,66 15,10

14,49 13,88 13,31 13,00

14,53 13,99 13,45 13,01

12,88 12,99 13,93 15,22

12,59 12,51 13,32 14,40

14,99 14,52 14,17 13,69

14,05 13,78 13,20 12,96

13,54 13,17 13,00 12,83

12,72 12,70 12,41 12,28

12,32 12,24 12,50

12,18 12,13 12,10

* Data sd Agt 2011

36

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Tabel Statistik

Tabel 2 Perkembangan Transaksi di Pasar Uang (Miliar Rupiah)


Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 2) Periode Transaksi antarbank1) Penerbitan Pelunasan Posisi
2006 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2007 Trw. I Trw. II Trw. III Trw.IV 2008 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2009 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2010 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2011 Trw. I Trw. II Trw. IIi*

23.866 415.638 23.910 517.853 25.383 599.495 27.706 665.673 37.341 774.867 38.323 846.655 36.615 895.563 32.061 777.250 37.482 871.303 23.510 496.338 27.115 389.140 14.029 404.072 22.897 448.505 30.656 324.806 29.038 375.134 24.566 631.235 26.907 648.324 30.615 322.322 28.553 199.589 23.142 153.809 30.401 86.480 36.788 51.383 20.757 11.822

356.471 483.967 586.715 636.381

133.799 167.685 180.464 209.756

740.952 832.325 887.770 795.475

243.671 258.002 266.152 247.926

906.767 543.656 437.315 340.913

212.463 165.145 116.969 180.128

394.904 324.776 387.188 592.048

232.700 232.731 220.676 259.864

607.933 351.475 218.152 203.835

300.255 271.103 252.540 203.110

56.066 95.689 27.593

233.524 188.988 151.217

*) Data s.d Agt 2011 1) Transaksi pagi & sore hari seluruh tenor 2) Termasuk SBIS (SBI Syariah)

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

37

Tabel Statistik
```

Tabel 3 Posisi Kredit Perbankan dalam Rupiah dan Valuta Asing menurut Kelompok Bank dan Sektor Ekonomi1) (Miliar Rupiah)
1 Bank Pemerintah - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 2 Bank Umum Swasta Nasional - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 3 Bank Pemerintah Daerah - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 4 Bank Asing & Campuran - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 5 Bank Perkreditan Rakyat - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 6 Sub jumlah (1 s.d. 5) - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Perdagangan - Jasa-jasa - Lain-lain 2008 III IV I II 2009 III IV I II 2010 III IV I 2011 II iII*

432.850 461.877 466.605 495.440 504.649 533.945 536.336 578.587 595.131 630.148 644.289 698.315 719.263 35.153 37.409 38.367 42.041 41.313 45.091 39.140 45.520 49.215 48.438 47.383 50.807 52.199 14.778 13.807 13.363 11.923 14.205 16.795 17.863 21.512 20.736 25.560 25.067 29.661 30.154 88.181 96.838 98.660 99.825 92.634 92.485 89.314 100.237 93.060 93.695 93.217 97.836 98.215 98.865 102.017 103.408 113.130 118.580 129.497 84.616 90.411 114.918 110.981 107.948 110.903 116.249 77.295 87.505 83.540 88.540 91.532 93.320 137.568 140.494 130.444 156.264 162.996 188.119 200.438 118.578 124.301 129.267 139.981 146.385 156.757 114.970 105.306 112.242 117.866 126.762 137.060 130.040 534.599 552.617 530.642 529.687 549.349 593.400 611.861 672.798 715.217 775.323 801.246 864.006 900.496 18.169 19.150 18.722 19.353 19.112 21.359 20.379 24.939 26.403 30.199 31.246 32.635 32.647 10.850 11.137 8.979 9.697 10.861 15.013 14.696 18.389 19.827 21.247 24.580 25.692 27.452 90.896 97.042 93.414 84.488 86.575 92.738 92.277 97.012 103.688 114.203 118.350 131.180 136.766 125.908 130.687 120.114 121.956 124.949 134.434 141.275 158.600 164.959 185.508 182.418 199.463 203.829 143.486 148.332 144.072 145.936 151.281 162.535 155.932 188.608 201.904 209.957 217.632 235.261 243.437 145.290 146.269 145.341 148.257 156.571 167.321 74.659 63.076 65.673 79.140 75.241 83.038 90.895 93.991 96.440 100.817 110.968 119.552 120.701 122.958 132.757 138.961 143.067 149.005 161.201 167.188 3.067 3.182 3.143 3.289 3.749 3.706 3.651 3.713 4.359 4.488 4.910 5.389 5.669 187 270 312 388 615 675 628 710 755 992 947 1.076 1.135 787 814 829 943 1.082 1.146 2.040 2.394 2.751 2.890 2.869 3.326 3.506 12.042 12.055 12.638 14.006 14.898 15.278 15.975 15.786 16.263 17.337 17.962 19.732 20.917 13.456 13.356 13.153 15.716 18.790 17.565 17.295 19.954 21.507 20.949 20.445 21.912 22.816 64.452 66.763 70.742 76.626 80.418 82.331 71.932 78.994 82.237 84.220 89.267 96.881 100.032 178.061 189.245 184.654 168.614 168.509 170.748 170.328 189.463 195.410 201.368 204.704 211.713 227.428 6.505 6.419 7.020 6.669 5.535 5.236 5.410 6.703 6.803 6.797 7.062 6.764 7.128 4.478 5.327 6.081 4.712 6.235 9.076 8.602 10.567 11.567 12.660 13.503 12.616 14.664 68.739 74.458 71.358 61.420 58.833 59.314 55.601 62.368 58.905 63.065 62.023 64.710 74.920 14.256 13.246 15.113 13.598 13.364 12.873 16.476 18.943 20.176 21.848 20.166 24.469 22.825 56.523 60.766 57.418 53.919 55.326 52.828 51.811 60.183 66.363 66.988 71.437 71.035 75.023 27.560 29.029 27.664 28.296 29.216 31.421 29.259 26.882 27.981 26.081 26.178 26.691 27.482 25.706 25.413 25.333 26.382 27.434 28.014 29.476 31.491 32.832 33.695 35.566 38.018 39.703 1.769 1.733 1.774 1.915 1.934 2.002 2.125 2.302 2.390 2.602 2.714 2.967 3.132 0 0 0 0 0 0 0 0 0 36 39 48 46 436 426 433 456 486 505 531 545 589 476 517 561 580 9.516 9.307 8.998 9.368 9.746 9.801 10.255 10.845 11.233 10.553 11.193 11.815 12.297 2.684 2.672 2.705 2.861 2.935 3.054 3.247 3.561 3.823 4.954 5.224 5.512 5.733 11.301 11.275 11.423 11.782 12.333 12.652 13.317 14.238 14.795 15.072 15.879 17.115 17.914 1.249.970 1.313.873 1.308.051 1.331.091 1.369.493 1.446.808 1.470.959 1.605.095 1.677.551 1.783.601 1.834.810 1.973.253 2.054.078 64.623 67.828 69.026 73.267 71.643 77.394 70.705 83.178 89.170 92.525 93.315 98.562 100.775 30.293 30.541 28.735 26.720 31.916 41.559 41.789 51.178 52.885 60.495 64.136 69.093 73.452 249.039 269.578 264.694 247.132 239.610 246.188 239.763 262.556 258.993 274.330 276.975 297.613 313.987 249.762 259.953 260.271 272.058 281.537 301.883 268.597 294.584 327.549 346.226 339.688 366.382 376.117 286.740 306.141 300.888 306.972 319.864 329.302 365.852 412.800 424.041 459.112 477.734 521.840 547.448 369.513 379.832 384.437 404.942 424.923 450.482 304.138 288.495 302.929 322.378 333.327 360.785 366.363

* Data sd Agt 2011 1) Tidak termasuk pemerintah pusat, bukan penduduk, nilai lawan valas, RDI dan kredit kelolaan

38

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Tabel Statistik

Tabel 4 Uang Beredar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi (Miliar Rupiah)


M2 M1 Jumlah 1)
2007 2008 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2009 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2010 Trw. I Trw. II Trw. III Trw. IV 2011 Trw. I Trw. II Trw. III* 1.649.662

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Uang Beredar Aktiva Luar Negeri Bersih


509.843

Akhir Periode Jumlah2)


450.055

Uang Kartal
182.967

Uang Giral

Uang Kuasi

Tagihan Tagihan Pada Tagihan Pada Lembaga Perusahaan Bersih Pemerintah Pemerintah Swasta dan BUMN Pusat3) Perorangan
507.120 39.891 1.005.739

Lainnya Bersih4)
-102.955

267.089 1.196.119

1.594.390 1.703.381 1.778.139 1.895.839 1.916.752 1.977.533 2.018.031 2.141.384 448.034 482.621 490.022 515.824 186.119 203.406 210.343 226.006 261.914 1.466.364 279.215 1.491.950 279.679 1.525.204 289.818 1.622.055 691.465 655.440 658.645 679.448 363.536 399.395 390.288 429.406 46.541 48.996 55.139 66.589 1.303.006 1.319.240 1.347.876 1.403.686 -108.550 -102.181 -107.445 -119.293 409.768 453.047 479.738 456.787 164.609 189.040 222.805 209.747 245.159 1.181.322 264.007 1.247.213 256.934 1.295.292 247.040 1.435.772 533.323 550.015 509.659 593.137 385.570 371.647 360.756 387.248 33.669 36.516 45.375 47.949 1.053.869 1.159.311 1.253.456 1.314.049 -94.992 -113.902 -93.287 -98.144

2.112.083 2.231.144 2.274.955 2.471.206 494.461 545.405 549.941 605.411 205.083 222.828 229.825 260.227 289.378 1.611.373 322.577 1.680.374 320.117 1.720.039 345.184 1.856.720 726.192 756.588 824.481 865.121 370.121 304.728 283.694 368.717 79.813 97.067 97.679 99.369 1.397.656 1.511.482 1.583.468 1.684.207 -153.773 -116.738 -139.665 -121.460

2.451.357 2.522.784 2.621.346 580.601 636.206 662.806 241.618 261.504 324.725 338.984 1.862.788 374.702 1.876.446 338.081 1.943.770 911.389 970.573 977.568 318.001 216.791 214.240 91.980 96.052 105.055 1.727.537 1.864.834 1.946.476 -149.448 -129.049 -113.648

* Data sd Agt 2011 1) M1 + uang kuasi + surat berharga selain saham dgn sisa jk.waktu s.d 1 thn 2) Uang Kartal ditambah uang giral 3) Termasuk rekening khusus pemerintah 4) Termasuk derivatif keuangan

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

39

Tabel Statistik

Tabel 5 Uang Primer dan Faktor-faktor yang mempengaruhi (Miliar Rupiah)

III
I. Uang Primer a. Statutory Reserve Shortfall b. Uang yang diedarkan - Uang kartal di masyarakat - Kas bank umum c. Saldo Giro Positif Bank d. Giro Sektor Swasta

2008 IV I II

2009 III IV I II

2010 III IV I

2011 II III*

392.136 344.688 304.718 322.994 354.297 402.118 374.406 401.435 423.809 0 0 0 0 0 0 0 0 0

518.447 506.785 541.624 625.440 0 0 0 0

270.243 264.391 226.672 244.634 273.744 279.029 250.612 269.372 288.846 223.166 209.378 186.538 203.838 210.822 226.382 205.083 222.828 229.871 47.077 121.302 591 55.013 79.648 650 40.134 77.404 642 40.796 77.744 616 62.923 79.920 633 52.646 89.903 601 45.529 85.666 539 46.544 92.287 578 58.975 93.665 497

318.575 290.466 315.539 391.942 260.715 242.118 265.196 322.689 57.860 48.349 50.343 69.253

159.106 174.569 183.427 190.731 484 460 530 445

II. Faktor-faktor yang mempengaruhi Uang Primer a. Net International Reserve 1) b. Net Domestic Assets 355.967 338.692 354.727 356.930 376.681 403.858 445.181 487.742 537.312 585.097 620.282 675.926 705.517

-137.121 -213.668 -323.022 -259.388 -211.887 -183.794 -246.168 -258.716 -314.736 -310.837 -380.067 -453.626 -409.884 72.816 8.659 7.838 -74.968 160.777 105.983 8.466 7.682 8.465 7.739 23.206 7.965 7.638 -84.989 23.364 8.470 7.621 -98.462

- Tagihan Bersih pada Pemerintah 123.797 172.012 105.571 136.202 144.747 200.956 144.792 103.254 - Bantuan Likuiditas - Kredit Likuiditas - Tagihan Lainnya - Operasi Pasar Terbuka - SBI (net) 2) - FASBI - Lain-Lain 3) 8.800 9.227 8.711 9.009 8.715 8.783 8.715 8.622 8.715 8.458 8.665 8.231 8.660 8.103 8.660 7.932 -61.865

-110.810 -155.278 -175.022 -131.729 -117.812

-97.524 -73.835

-64.702 -62.992

-152.563 -233.866 -257.701 -267.412 -242.991 -315.420 -322.962 -307.132 -319.912 -417.012 -433.933 -402.578 -344.253 -116.967 -179.879 -232.700 -232.731 -220.676 -226.887 -262.661 -231.905 -211.739 -162.828 -192.235 -146.860 -130.725 -1.403 -34.193 -15.573 -4.223 -50.186 -14.256 -15.288 -2.321 -13.368 -28.277 -5.896 -13.785 -22.824 1.203 -13.000 -35.034 -43.845 -24.765 -13.502 11.296 -10.926 -27.628 -43.758 -9.566 -23.110 -101.256 -49.218 -58.451 -70.835

-76.124 -145.863 -172.167 -178.784 -197.337 -9.170 -6.049 -5.329 -4.868 -6.624

- Net Other Items

* Data sd Agt 2011 1) sebelum Juni 1997 menggunakan NFA, setelah Juni 1997 menggunakan NIR dengan kurs tetap Rp. 7.000,- per US $ sejak juni 1998 s.d. Maret 1999 menggunakan kurs tetap Rp. 10.000,- per US $ sejak April 1999 menggunakan kurs tetap Rp. 7.500,- per US $ sejak 21 November 1999 menggunakan kurs Rp. 7.000,- per US $ sejak 25 Mei 2000 untuk perhitungan NIR menggunakan konsep IRFCL(Intl Reserve and Foreign Currency Liquidity) 2) sejak Maret 2000 termasuk SBI Syariah 3) termasuk di dalamnya adalah SUN dan FTO (Fine Tune Operation)

40

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Tabel Statistik

Tabel 6 Neraca Pembayaran Indonesia 1) (Juta US$)

2008 IV Total I

II

2009R III IV Total I II

2010* III IV Total

2011** I II
232 9.728 51.460 -41.732 -3.598 -6.871 974 12.518 0 12.518 2.699 -2.547 5.247 5.742 -536 6.278 4.076 2.051 2.025 12.750 -873 11.876 -11.876 -11.876 0 0 0

III

I. Transaksi Berjalan -967 -637 126 2.690 2.377 1.781 3.781 10.628 1.936 1.409 1.205 1.093 5.643 2.089 A. Barang bersih (Neraca Perdagangan) 5.771 4.166 22.916 6.052 7.493 6.931 10.455 30.932 6.954 6.848 7.593 9.232 30.628 8.686 1. Ekspor f.o.b 38.081 29.768 139.606 24.195 28.158 31.289 36.004 119.646 35.088 37.444 39.712 45.830 158.074 45.818 2. Impor f.o.b -32.309 -25.603 -116.690 -18.143 -20.665 -24.358 -25.549 -88.714 -28.134 -30.596 -32.119 -36.597 -127.447 -37.133 B. Jasa-jasa (bersih) -3.313 -3.227 -12.998 -1.672 -2.476 -2.249 -3.344 -9.741 -2.106 -2.275 -2.155 -2.788 -9.324 -2.305 C. Pendapatan (bersih) -4.756 -2.881 -15.155 -2.742 -3.776 -4.072 -4.551 -15.140 -3.993 -4.262 -5.385 -6.653 -20.291 -5.318 D. Transfer Berjalan 1.331 1.305 5.364 1.051 1.135 1.171 1.221 4.578 1.080 1.098 1.151 1.301 4.630 1.027 II. Transaksi Modal dan Finansial 2.370 -5.822 -1.876 1.835 -2.320 2.924 2.414 4.852 5.590 3.697 7.365 9.550 26.201 6.436 A. Transaksi Modal 187 29 294 19 29 34 14 96 18 2 4 26 50 1 B. Transaksi Finansial 2.184 -5.850 -2.170 1.815 -2.349 2.891 2.399 4.756 5.572 3.695 7.361 9.524 26.151 6.435 1. Investasi Langsung 1.871 720 3.419 628 575 647 779 2.628 2.484 2.298 1.684 4.241 10.706 3.041 a. Ke Luar Negeri (bersih) -1.517 -1.217 -5.900 -1.276 -872 -340 239 -2.249 -427 -982 -1.191 -64 -2.664 -1.748 b. Di Indonesia/FDI (bersih) 3.388 1.937 9.318 1.904 1.447 987 540 4.877 2.911 3.280 2.875 4.305 13.371 4.789 2. Investasi Portfolio -74 -4.377 1.721 1.950 1.893 2.972 3.521 10.336 6.159 1.089 4.517 1.437 13.202 3.798 a. Aset (bersih) -65 -467 -1.294 133 362 -331 -307 -144 -409 -152 -1.597 -353 -2.511 -311 b. Kewajiban (bersih) -9 -3.910 3.015 1.817 1.532 3.303 3.828 10.480 6.569 1.241 6.114 1.789 15.713 4.109 3. Investasi Lainnya 387 -2.194 -7.309 -763 -4.817 -728 -1.900 -8.208 -3.072 308 1.160 3.846 2.243 -404 a. Aset (bersih) -1.610 -4.498 -10.755 -241 -2.943 -6.083 -2.735 -12.002 -2.764 552 -1.960 2.447 -1.725 -1.248 2) b. Kewajiban (bersih) 1.998 2.304 3.446 -522 -1.874 5.355 834 3.794 -308 -244 3.120 1.400 3.968 844 III. Jumlah (I + II) 1.404 -6.459 -1.750 4.524 57 4.705 6.195 15.481 7.526 5.106 8.570 10.642 31.844 8.525 IV. Selisih Perhitungan -1.493 2.246 -195 -570 995 -1.159 -2.241 -2.975 -905 315 -1.616 646 -1.559 -859 V. Neraca Keseluruhan (III + IV) -89 -4.212 -1.945 3.955 1.052 3.546 3.954 12.506 6.621 5.421 6.955 11.289 30.285 7.666 3) VI. Lalu Lintas Moneter 89 4.212 1.945 -3.955 -1.052 -3.546 -3.954 -12.506 -6.621 -5.421 -6.955 -11.289 -30.285 -7.666 a. Perubahan Cadangan Devisa 89 4.212 1.945 -3.955 -1.052 -3.546 -3.954 -12.506 -6.621 -5.421 -6.955 -11.289 -30.285 -7.666 b. IMF: 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Penarikan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pembayaran 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Memorandum: Posisi Cadangan Devisa 4) (dalam bulan impor dan pembayaran 57.108 51.639 51.639 54.840 57.576 62.287 66.105 66.105 71.823 76.321 86.551 96.207 96.207 105.709 utang luar negeri) 5,4 5,7 6,1 6,5 6,5 5,2 5,6 6,3 7,0 7,0 6,0 Transaksi Berjalan (% PDB) -0,7 -0,5 0,0 2,4 1,8 1,2 2,5 2,0 1,2 0,8 0,6 0,6 0,8 1,1 Rasio Pembayaran Utang (%) 5) 15,2 24,2 18,1 23,3 25,0 19,8 24,6 23,2 21,2 23,2 20,3 23,7 22,2 18,0 a.l. Sektor Terkait Pemerintah dan 4,7 9,2 6,4 6,1 10,0 5,3 8,5 7,5 5,0 7,2 4,8 6,2 5,8 4,5 6) Otoritas Moneter

119.655 6,8 0,1 21,6 5,4

*) Angka sementara **) Angka sangat sementara R) Revisi 1) Format baru sejak publikasi Januari 2004 2) Tidak termasuk pinjaman IMF 3) Negatif berarti surplus dan positif berarti defisit. Sejak kuartal pertama 2004, perubahan cadangan devisa untuk data realisasi hanya mencakup data transaksi. 4) Sejak 1988, posisi cadangan devisa berdasarkan aktiva luar negeri menggantikan cadangan devisa resmi. Sejak 2000, posisi cadangan devisa memakai konsep Internasional Reserve and Foreign Currency Liquidity (IRFCL). 5) Perbandingan antara pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri terhadap ekspor barang dan jasa. 6) Terdiri dari Pemerintah, BUMN di luar bank, dan Bank Indonesia.

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

41

Tabel Statistik

Tabel 7 Perkembangan Perubahan Indeks Harga Konsumen Menurut Kelompok dan Sub Kelompok Barang dan Jasa (Persen)1)

Kelompok/Sub Kelompok

2008 III IV
4,75 0,60 0,60 0,91

2009 I
1,44 2,76

2010 I
1,67 6,90

2011 IV I II
-0,94 0,83

II
-1,76 -0,75

III IV
4,94 1,06 -0,67 3,17

II
4,05 1,24

III
5,65 9,78

III
2,83 7,77

I. Bahan Makanan A. Padi-padian, umbi-umbian dan hasil-hasilnya B. Daging dan hasil-hasilnya C. Ikan segar D. Ikan diawetkan E. Telur, susu dan hasil-hasilnya F. Sayur-sayuran G. Kacang-kacangan H. Buah-buahan I. Bumbu-bumbuan J. Lemak dan minyak K. Bahan makanan lainnya II. Makanan jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau A. Makanan jadi B. Minuman yang tidak beralkohol C. Tembakau dan minuman beralkohol

3,46 -0,12 6,81 -2,42

13,94 -4,64 2,39 -0,26 6,47 -4,14 0,72 2,02 12,83 -7,24 -1,71 2,18 4,66 12,12 2,94 2,25 -2,52 4,63 -3,25 0,09 -1,92 7,47 -1,67 3,91 1,31 3,45 8,04 4,32 2,24 -0,88 1,60 0,14 0,44 0,55 1,41 0,74 4,05 3,23 2,11 8,94 -2,51 -0,34 -0,54 1,57 -0,51 0,01 1,12 2,71 0,55 1,89 0,95 0,74 3,79 6,60 2,59 -5,97 6,34 -0,97 4,13 8,96 1,08 4,47 -2,92 1,67 5,48 5,93 0,42 0,18 -2,59 1,18 0,47 -18,67 24,27 3,27 0,66 3,83 -0,39 2,81 7,30 1,68 0,71 3,11 8,14 -1,81 0,34 4,43 3,46 1,41 1,70 1,01 2,21 -10,49 8,28 1,66 -8,24 23,17 0,07 -4,89 30,95 -1,06 20,90 -4,32 -19,05 -12,71 -1,65 -6,81 -0,81 0,12 -1,30 -1,57 0,85 -0,63 2,05 6,59 5,85 -0,05 1,13 3,57 1,20 1,62 0,61 2,37 -1,40 0,67 1,14 2,96 0,62 0,44 1,39 4,77 2,62 2,43 2,40 1,18 2,12 1,90 2,62 1,00 1,86 1,31 1,28 0,83 1,36 0,80 -0,53 2,23 0,77 0,83 0,47 0,71 1,09 1,97 1,02 0,69 0,99 3,79 1,30 1,07 0,98 1,32 1,72 0,28 0,12 1,13 0,32 0,23 0,63 0,36 0,51 -0,37 0,84 0,03 0,36 0,96 1,13 2,88 0,78 0,96 0,44 0,78 0,79 4,71 1,78 0,88 1,51 11,56 0,75 0,72 0,35 0,80 1,00 3,69 6,74 2,32 1,16 0,29 0,29 1,15 1,81 -0,37 0,40 0,01 1,89

2,83 2,35 1,59 1,03 1,46 1,42 2,69 1,32 1,92 1,08 1,19 2,15 1,50 5,39 2,15 5,61 2,46 2,86 -1,59 1,91 1,72 0,55 2,60 3,70 2,42 0,82 1,06 3,13 1,81 2,27 1,48 1,63 2,25 III. Perumahan 3,58 1,00 0,42 0,26 0,47 0,67 0,67 0,43 2,11 0,82 1,18 A. Biaya tempat tinggal 2,16 0,73 1,00 0,12 0,53 0,70 0,83 0,44 0,82 1,12 1,72 B. Bahan bakar. penerangan dan air 8,94 1,66 -1,48 0,29 0,55 0,83 0,51 0,45 6,03 0,10 0,30 C. Perlengkapan rumah tangga 1,66 1,10 0,95 0,68 0,75 0,67 0,31 0,42 0,70 0,47 0,69 D. Penyelenggaraan rumah tangga 1,71 1,08 1,00 0,53 -0,21 0,25 0,62 0,32 0,90 1,05 0,99 IV. Sandang 0,77 2,58 4,48 -1,88 1,06 2,31 -0,66 2,28 1,05 3,75 0,45 A. Sandang laki-laki 3,02 0,35 0,38 0,55 2,49 0,45 1,02 0,74 1,78 0,56 1,11 B. Sandang wanita 2,15 0,30 0,44 0,29 1,24 0,49 0,44 0,61 1,20 0,35 0,28 C. Sandang anak-anak 2,13 0,23 0,26 0,39 1,67 0,37 0,69 0,98 1,64 0,31 0,25 D. Barang pribadi dan sandang lainnya -2,46 7,26 13,49 -6,30 -0,37 6,13 -2,88 5,39 0,61 9,44 0,31 V. Kesehatan 1,64 1,10 1,27 1,20 0,77 0,59 0,58 0,33 0,77 0,49 1,54 A. Jasa kesehatan dan obat-obatan 1,07 0,69 1,60 1,72 0,85 0,69 0,52 0,32 0,51 0,50 1,79 B. Obat-obatan 2,19 1,60 1,14 1,39 0,42 0,86 0,65 0,18 0,41 0,47 1,56 C. Jasa perawatan jasmani 2,36 1,61 1,39 0,73 1,38 1,38 0,84 0,34 2,07 0,75 2,35 D. Perawatan jasmani dan kosmetik 1,76 1,26 1,01 0,42 0,83 0,41 0,57 0,43 1,01 0,50 1,36 VI. Pendidikan. Rekreasi dan Olah Raga 3,77 0,82 0,22 0,22 2,94 0,48 0,18 0,09 2,39 0,60 0,72 A. Biaya pendidikan 6,76 0,70 0,04 0,06 4,86 0,62 0,03 0,02 4,42 0,64 0,51 B. Kursus dan pelatihan 4,95 0,32 0,59 0,46 1,27 0,77 0,77 0,17 0,69 0,73 0,50 C. Perlengkapan/peralatan pendidikan 1,14 1,11 0,37 0,16 0,74 0,19 0,30 0,24 1,06 -0,03 0,39 D. Rekreasi 0,51 1,02 0,48 0,55 0,74 0,30 0,37 0,15 -0,03 0,56 1,18 E. Olah raga 0,91 0,49 0,51 0,33 0,52 0,75 0,87 0,23 0,53 0,47 1,89 VII. Transpor dan Komunikasi 0,92 -2,94 -4,66 0,32 1,16 -0,44 0,34 0,21 2,45 -0,32 0,55 A. Transpor 1,03 -4,46 -6,95 0,54 1,70 -0,73 0,50 0,27 1,59 -0,51 0,81 B. Komunikasi dan pengiriman 0,02 0,20 -0,07 -0,31 -0,32 -0,23 -0,40 -0,06 -0,10 -0,11 -0,16 C. Sarana dan penunjang transpor 1,34 1,64 1,38 0,34 0,87 1,07 0,96 0,55 15,77 0,42 0,64 D. Jasa Keuangan 3,89 0,00 0,00 0,00 0,65 0,00 0,00 0,04 0,00 0,00 0,09 U M U M 2,88 0,54 0,36 -0,15 2,07 0,49 0,99 1,41 2,79 1,59 0,70

Keterangan : 1) Perubahan indeks pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan dengan indeks pada akhir triwulan sebelumnya (QTQ) Perhitungan IHK menggunakan tahun dasar 2007 (2007 = 100). Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)

42

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Tabel Statistik

Tabel 8 Perkembangan Laju Inflasi Menurut Kota (Persen)1)


Kota
1. Lhokseumawe 2. Banda Aceh 3. Padang Sidempuan 4. Sibolga 5. Pematang Siantar 6. M e d a n 7. Padang 8. Pekanbaru 9. Batam 10. Jambi 11. Palembang 12. Bengkulu 13. Bandar Lampung 14. Pangkal Pinang 15. Dumai 16. Tanjung Pinang 17. Jakarta 18. Tasikmalaya 19. Serang 20. Tangerang 21. Cilegon 22. Bogor 23. Sukabumi 24. Bekasi 25. Depok 26. Bandung 27. Cirebon 28. Purwokerto 29. Surakarta 30. Semarang 31. Tegal 32. Yogyakarta 33. Jember 34. Sumenep 35. Kediri 36. Malang 37. Probolinggo 38. Madiun 39. Surabaya 40. Denpasar 41. Mataram 42. Bima 43. Maumere 44. Kupang 45. Pontianak 46. Singkawang 47. Sampit 48. Palangka Raya 49. Banjarmasin 50. Balikpapan 51. Samarinda

2008 IV
2,97 1,39 1,56 2,22 1,33 2,26 2,07 0,55 0,58 -0,19 -0,29 0,34 0,74 0,13 1,22 1,19 0,87 1,22 1,46 0,00 1,57 0,46 1,32 0,03 0,18 -0,07 0,19 1,16 0,13 0,18 0,45 0,59 -0,67 1,05 -0,35 0,38 0,00 -0,32 0,14 1,04 0,91 0,77 -2,44 1,94 0,08 0,02 0,68 1,76 1,85 0,39 -0,06

2009 I
-0,56 0,35 -0,03 -0,52 -0,20 -0,84 0,04 0,48 0,64 0,26 -0,06 0,09 0,92 -0,78 -0,74 0,32 -0,13 0,78 0,65 0,32 0,63 0,79 1,67 0,01 -0,87 0,11 0,91 0,78 1,06 0,72 1,05 0,59 1,02 0,25 0,90 1,28 0,60 1,02 1,06 2,14 1,78 2,41 0,39 0,85 1,73 0,38 1,62 -0,65 0,30 0,03 1,49

2010 III
4,37 4,12 2,66 3,45 3,26 3,35 2,79 1,70 1,76 2,37 1,57 4,06 4,85 3,16 3,52 1,29 1,73 1,09 2,62 2,03 1,89 1,72 1,25 1,76 2,43 1,64 2,49 1,17 1,21 1,96 3,15 1,90 1,16 1,90 2,04 1,38 1,84 1,52 1,97 1,77 3,48 2,06 3,47 2,77 3,52 2,44 0,95 1,28 1,77 2,55 1,81

2011 III
0,05 1,47 0,82 2,67 1,08 1,52 0,74 1,83 1,76 2,37 2,50 3,88 4,39 5,18 2,21 1,66 2,63 1,80 1,54 2,46 1,69 2,74 2,96 2,85 2,52 2,21 3,52 2,20 1,91 3,33 2,65 2,91 2,35 3,69 2,23 2,57 3,46 2,39 3,93 3,77 3,34 2,23 3,02 3,08 4,75 4,61 2,65 3,64 2,86 4,14 3,28

III
2,92 1,36 1,27 3,06 1,37 1,21 2,04 3,17 1,72 1,76 3,20 3,61 4,95 4,26 3,04 3,33 2,54 3,64 4,50 3,21 0,88 2,38 3,42 3,82 3,49 2,28 4,04 3,53 1,74 2,83 2,36 3,16 2,77 2,83 3,10 2,93 3,85 2,27 2,56 3,14 3,23 3,16 6,66 0,46 3,21 2,73 1,72 3,62 2,23 3,02 2,96

II
-0,37 0,14 -1,07 -0,01 0,10 -0,17 -1,34 -0,54 -0,43 -0,72 0,09 -0,74 -1,29 -0,74 -0,77 -0,73 0,15 1,09 1,31 -0,06 0,36 -0,27 0,35 -0,26 -0,20 -0,14 0,04 0,11 0,19 0,06 1,05 0,11 0,08 0,14 0,02 0,16 0,07 0,00 -0,41 -0,61 -1,43 -1,12 1,10 0,35 0,50 -0,90 -0,82 -0,88 0,34 0,31 0,42

IV
0,53 -1,08 0,33 -1,28 -0,41 0,38 0,59 0,30 -0,09 0,58 0,25 -0,48 -0,25 0,57 -1,14 0,55 0,58 1,15 -0,07 0,19 0,20 -0,08 0,18 0,41 -0,03 0,50 0,62 0,73 0,14 0,41 0,47 0,30 1,35 0,42 0,61 0,54 1,00 0,82 0,74 1,02 -0,65 0,71 0,19 2,39 -0,88 -0,74 1,09 1,66 1,41 0,69 0,29

I
-0,09 0,44 0,38 1,21 1,04 1,05 1,02 0,79 1,72 1,53 0,58 1,35 0,15 1,37 0,26 0,80 0,92 1,33 0,31 0,74 0,87 1,11 0,61 1,26 0,75 0,84 0,36 1,11 0,68 1,02 0,62 1,00 -0,02 0,52 0,63 1,00 0,72 0,83 0,63 1,42 2,33 1,53 2,11 3,25 2,51 3,55 1,62 1,32 1,50 2,55 2,07

II
1,17 -0,33 2,13 2,60 2,89 2,12 2,41 1,72 1,67 3,22 1,18 2,15 2,53 0,41 2,60 2,12 1,21 0,82 1,87 1,32 1,60 1,44 1,02 2,08 2,23 0,47 1,25 1,23 1,58 1,23 1,48 1,65 1,99 1,44 1,95 1,23 1,82 1,15 1,29 1,26 2,70 1,15 2,52 2,24 0,03 0,11 2,02 2,21 2,87 0,76 0,74

IV
5,99 3,01 3,92 4,89 4,37 2,76 3,47 2,48 2,05 3,02 1,65 1,43 2,57 2,15 3,71 1,45 1,32 1,48 2,33 1,44 1,82 1,15 0,75 1,47 2,25 0,93 1,44 1,37 2,33 1,37 1,83 1,63 2,60 0,97 1,83 1,75 0,54 2,02 1,32 1,44 2,28 1,31 0,60 1,06 1,03 -1,24 2,91 2,01 1,54 -0,21 0,75

I
0,62 0,26 0,87 0,79 1,19 0,32 1,46 1,51 0,70 -0,80 -0,27 0,20 1,11 1,92 -0,25 1,28 0,68 0,77 -0,40 0,53 0,30 0,50 0,32 0,94 0,55 0,26 -0,31 0,69 -0,83 0,37 0,39 1,14 0,80 0,11 -0,15 0,73 1,20 0,80 1,25 1,26 -0,07 0,63 0,86 2,32 1,42 2,31 0,72 0,06 0,47 2,38 2,77

II
-0,46 -0,15 -1,07 -0,90 -0,39 0,04 -0,89 -0,30 0,50 -0,16 1,15 0,27 0,15 0,45 -0,31 -0,61 0,65 0,25 0,07 0,66 -0,33 0,79 0,54 -0,37 -0,18 0,27 0,07 0,38 0,03 0,02 -0,08 0,10 -0,77 0,87 0,52 0,24 0,29 0,02 0,34 0,82 0,33 1,12 1,42 0,07 0,39 -0,05 0,20 1,36 0,77 2,15 1,19

III
2,61 2,03 3,49 2,02 2,76 3,46 3,17 2,30 2,06 3,22 2,00 3,66 2,30 4,06 2,56 1,99 1,89 1,62 2,07 1,75 0,95 0,78 2,31 1,26 1,74 0,69 2,09 1,43 1,61 1,76 1,95 1,73 1,39 1,58 2,19 1,90 1,63 1,75 2,23 0,82 4,08 1,89 2,04 0,75 3,32 4,55 1,64 3,40 1,74 1,98 2,36

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

43

Tabel Statistik

Tabel 8 Perkembangan Laju Inflasi Menurut Kota (lanjutan) (Persen)1)


2008 III IV 2009 I II III IV I II 2010 III IV I 2011 II
-0,77 -1,43 -0,69 1,26 0,60 -0,19 1,13 1,65 1,01 0,86 5,58 1,38 1,37 1,77 0,86 0,36

Kota
52. Tarakan 53. Manado 54. P a l u 55. Watampone 56. Makassar 57. Parepare 58. Palopo 59. Kendari 60. Gorontalo 61. Mamuju 62. Ambon 63. Ternate 64. Manokwari 65. Sorong 66. Jayapura NASIONAL

III
0,91 -0,05 0,91 1,91 0,97 0,93 1,73 4,11 1,84 1,45 -0,78 1,12 2,48 0,17 0,28 1,89

5,54 0,82 0,53 1,34 3,52 1,66 2,89 -1,77 5,23 1,47 3,16 3,02 0,17 1,18 -2,08 0,74 2,50 0,72 0,20 3,81 1,44 1,31 5,01 -0,63 1,78 -0,36 3,35 0,87 -0,64 1,66 4,93 0,37 2,49 3,62 0,27 2,14 0,84 2,85 0,87 1,42 0,47 4,78 -0,04 0,69 3,50 0,14 0,84 -1,13 2,53 1,00 1,01 0,62 4,09 0,97 0,80 4,21 0,43 0,40 -0,53 1,85 -0,32 0,48 0,59 3,35 1,27 0,36 3,50 1,16 1,14 -0,12 2,00 1,11 0,75 0,02 3,04 0,14 0,72 3,30 0,74 2,99 -0,34 2,20 -0,28 -0,20 0,70 3,77 -0,40 2,35 4,01 0,16 2,33 0,59 0,85 0,53 1,59 -0,25 5,63 0,36 0,02 5,86 -0,29 -0,35 0,06 1,45 0,62 0,84 0,60 1,58 2,01 1,60 5,06 -4,80 2,26 -2,43 1,82 4,81 2,84 0,26 4,70 0,76 -1,25 4,30 -0,92 1,25 -0,27 1,32 1,54 1,79 -1,26 2,58 2,15 0,50 8,31 0,62 3,52 0,36 2,39 1,07 -0,44 1,58 1,89 1,58 -1,06 7,29 -1,86 0,77 0,52 0,42 0,87 1,34 1,84 5,50 -0,69 -1,47 2,88 0,31 -0,06 -0,36 1,55 0,78 1,31 1,03 1,36 0,71 0,95 2,88 0,54 0,36 -0,15 2,07 0,49 0,99 1,41 2,79 1,59 0,70

Keterangan : 1) Perubahan indeks pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan dengan indeks pada akhir triwulan sebelumnya (QTQ) Perhitungan IHK menggunakan tahun dasar 2007 (2007 = 100). Sumber : Badan Pusat Statistik (diolah)

44

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

Tabel Statistik

Tabel 9 Perubahan Indeks Harga Perdagangan Besar (Persen) 1)


Akhir Pertanian Pertambangan Industri Impor* Ekspor* Umum*

Periode 2006 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2007 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2008 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2009 Trw.I Trw.II Trw.III Trw.IV 2010 Trw.I Trw.II Trw.III 2011 Trw.I Trw.II Trw.III

3.87 4.97 5.33 6.74

0.61 1.83 2.40 3.51

1.60 2.11 2.58 1.51

-0.64 5.13 0.61 1.82

-1.34 8.84 0.00 -5.00

-1.20 4.85 2.31 0.56

6.32 2.97 7.69 7.59 3.39 1.64 1.61 3.70 3.47 3.35 3.70 5.80 3.57 5.75 3.26 11.05 2.63 7.05 1.80 10.00 3.93 4.32 3.63 8.50

7.05 7.75 4.68 0.00 4.08 10.78 3.54 4.27 7.17 12.60 1.40 -4.14 6.64 15.56 -9.23 -11.86 5.88 14.14 -5.31 -13.55 6.45 12.55 -1.92 -6.67

2.93 3.07 5.19 1.19 7.52 -0.40 1.22 1.05 -0.26 1.23 1.13 0.53 5.28 0.54 -0.37 0.60 2.44 -0.81 -2.86 1.88 1.80 0.99 0.79 0.91

2.05 2.25 3.74 1.75 1.16 0.22 3.14 0.60 0.80 0.52 0.92 1.56 1.31 0.70 1.57 0.60 1.41 1.04 1.80 0.65 1.18 0.22 0.69 0.14 5.17 5.13 -0.61 n.a 0.27 2.70 -1.00 4.30 5.19 3.54 n.a 1.17 1.29 1.14 2.43 2.86 0.65 n.a

Keterangan : 1) Perubahan indeks pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan dengan indeks pada akhir triwulan sebelumnya (QTQ) Perhitungan IHPB sejak tahun 2009 menggunakan tahun dasar 2005 (2005 = 100). Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS diolah)

Laporan Kebijakan Moneter - Triwulan III-2011

45