Anda di halaman 1dari 5

konsep sehat sakit, Agama, budaya dan spiritual 1.

Konsep Sehat Sakit Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis, intelektua, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, social, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya. Jadi menurut model ini sehat adalah keadaan dinamis yang berubah secara terus menerus sesuai dengan adaptasi individu terhadap berbagai perubahan pada lingkungan internal dan eksternalnya untuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, inteletual, sosial, perkembangan, dan spiritual yang sehat. Sakit merupakan proses dimana fungsi individu dalam satu atau lebih dimensi yang ada mengalami perubahan atau penurunan bila dibandingkan dengan kondisi individu sebelumnya. Sakit adalah keadaan dimana fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan, atau seseorang berkurang atau terganggu, bukan hanya keadaan terjadinya proses penyakit. Karena sehat dan sakit merupakan kualitas yang relatif dan mempunyai tingkatan sehingga akan lebih akurat jika ditentukan seseuai titik-titik tertentu. Definisi sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan social yang memungkinkan hidup produktif secara social dan ekonomi. Sedangkan definisi sakit, seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis) atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktifitas kerja/kegiatannya terganggu. Jadi definisi sehat-sakit yaitu status kesehatan seseorang terletak antara 2 kutub yaitu sehat optimal dan kematian yang sifatnya dinamis. Bila kesehatan seseorang bergerak ke kutub kematian maka seseorang berada pada area sakit (illness area) dan bila status kesehatan bergerak kearah sehat (optimal well being) maka seseorang dalam area sehat (wellness area). Agama adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan segala manivestasi-Nya, dan kehidupan beragama adalah hal-hal yang berhubungan dengan konsep agama yang sedang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Agama berperan sebagai panutan, control, bimbingan, motivasi, sarana sosialisasi dan sarana meningkatkan kecerdasan spiritual. Untuk selalu mejaga spirituality dalam diri mahluk hidup, diperlukan adanya upaya seperti menjaga tubuh agar tetap sehat. Dalam membantu pasien untuk sembuh dari keadaan sakit, disini perawat selalu menjaga etika profesi keperawatan, dan selalu mementingkan keselamatan pasien. Selain dalam pemenuhan medis, seorang perawat juga berperan dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Spiritual adalah suatu pemikiran terhadap agama yaitu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Antara ketiga aspek ini memiliki keterkaitan satu sama lain. Agama sangat bereperan dalam pencegahan dan penanganan terhadap penyakit. Pencegahan dan penanganan penyakit bertumpu pada kepercayaan

seseorang terhadap konsep sehat dan sakit. Di Indonesia, terdapat persamaan dan perbedaan dari masing-masing agama dalam menilainya, dan tergantung dari tingkat spiritual seseorang. Antara perawat dan tokoh agama diperlukan adanya kolaborasi untuk menangani masalah pasien dari segi medis dan spiritual. Berdasarkan konsep keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan dengan kata-kata :makna, harapan, kerukunan, dan system kepercayaan (Dyson, Cobb, Forman,1997). Dyson mengamati bahwa perawat menemukan aspek spiritual tersebut dalam hubungan dengan seseorang dengan dirinya sendiri, orang lain dan dengan Tuhan. Menurut Reed (1992)spiritual mencakup hubungan intra, inter, dan transpersonal. Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia yang memasuki dan mempengaruhi kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan perilaku serta dalam hubungannya dengan dirisendiri, orang lain, alam ,dan Tuhan (Dossey & Guazetta, 2000).Para ahli keperawatan menyimpilkan bahwa spiritual merupakan sebuah konsep yang dapat diterapkan pada seluruh manusia. Spiritual juga merupakan aspek yang menyatudan universal bagi semua manusia. Setiap orang memiliki dimensi spiritual. Dimensi inimengintegrasi, memotivasi, menggerakkan, dan mempengaruhi seluruh aspek hidup manusia. pengaruh agama terhadap konsep sehat sakit pengaruh agama dalam mempengaruhi sehat dan sakit seseorang adalah agama dapat menginisiasi seseorang untuk mencari solusi yang tidak merugikan kesehatan dan tidak menimbulkan penyakit. Seperti yang kita tau, di masyarakat banyak nilai-nilai dan kepercayaan yang berbeda-beda, dan disini peran agama sebagai pedoman dan tuntunan serta mengawasi bahwa masyarakat boleh memiliki kepercayaan yang berbeda-beda namun harus tetap berpedoman pada nilai-nilai yang terkandung dalam agama dan tidak boleh melenceng dari nilai-nilai agama itu sendiri. keterkaitan agama dengan penanganan dan pencegahan penyakit Terapi keagamaan yang diberikan berupa bimbingan tentang konsep sehat-sakit dari sudut pandang agama, bimbingan untuk berdzikir dan berdoa. Dengan beragama yang benar, hidup menjadi lebih ikhlas atau pasrah terhadap segala sesuatu yang diberikan oleh Tuhan, sehingga akan terjadi proses homeostasis (keseimbangan). Semua protektor yang ada didalam tubuh manusia bekerja dengan ketaatan beribadah, lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan pandai bersyukur sehingga tercipta suasana keseimbangan dari neuro transmiter yang ada di dalam otak (Sholeh, 2005). Didalam agama diajarkan adanya penyakit atau masalah dalam bidang kesehatan itu dianggap sebagai sesuatu cobaan dan ujian keimanan seseorang. Oleh karena itu orang harus bersabar dan tidak boleh berputus asa, berusaha untuk mengobatinya dengan senantiasa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bila dikaji secara mendalam, maka sesungguhnya di dalam agama banyak memberikan tuntunan agar manusia sehat seutuhnya, baik dari segi fisik, kejiwaan, sosial maupun kerohanian.

peran perawat dalam memfasilitasi kebutuhan pasien terhadap pelaksanaan keagamaan, baik dalam kondisi sehat maupun sakit Dalam pelayanan kesehatan, perawat sebagai petugas kesehatan harus memiliki peran utama dalam memenuhi kebutuhan spiritual. Kebutuhan spiritual mempertahankan atau mengembalikan keyakinan dan memenuhi kewajiban agama, serta kebutuhan untuk mendapatkan maaf dan pengampunan, mencinati, menjalin hubungan penuh rasa percaya dengan Tuhan. Perawat dituntut mampu memberikan pemenuhan yang lebih pada saat pasien akan dioperasi, pasien kritis atau menjelang ajal. Dengan demikian, terdapat keterkaitan antara keyakinan dengan pelayanan kesehatan dimana kebutuhan dasar manusia yang diberikan melalui pelayanan kesehatan tidak hanya berupa aspek biologis, tetapi juga aspek spiritual. Aspek spiritual dapat membantu membangkitkan semangat pasien dalam proses penyembuhan. bentuk kolaborasi perawat dengan ahli agama dalam pelayanan kesehatan Dalam memfasilitasi kebutuhan pasien terhadap pelaksanaan keagamaan, perawat perlu mengkaji terlebih dahulu mengenai kebutuhan spiritual pasien. Misalnya mengetahui masalahmasalah atau kendala pasien dalam melaksanakan ibadah kemudian berusaha membantu mencari solusi atas masalah-masalah atau kendala yang dihadapi pasien. Seorang perawat disarankan untuk tidak langsung memberikan bantuan pada pasien tanpa mengkaji kebutuhan spiritual pasien terlebih dahulu. Kemudian perawat dapat memberikan pilihan pada pasien dalam melakukan peribadatan untuk memberikan kemadirian pada pasien dalam mengambil keputusan. Misalnya dengan menawarkan bantuan atau pasien ingin melakukan peribadatan secara personal (memberikan privasi untuk berdoa). Selanjutnya perawat memfasilitasi pasien untuk melakukan pilihannya. perawat perlu memahami semua ajaran agama untuk perawatan pasien di RS Bimbingan spiritual ternyata berdampak kepada peningkatan kesembuhan dan motivasi pasien. Dalam konteks ini, bimbingan spiritual merupakan pelengkap pengobatan dan pelayanan medis di rumah sakit. kegiatan bimbingan spiritual jelas dapat memberikan nilai tambah dalam hal pelayanan bagi pasiennya. Manfaat yang akan diperoleh: 1) 2) Perawat mengetahui pentingnya memberikan bimbingan spiritual kepada orang yang sedang sakit Perawat memahami tata cara bimbingan spiritual untuk pasien sesuai dengan tuntunan Islam

3) Perawat mampu mereplikasi dan menjalankan kegiatan bimbingan spiritual bagi pasien di tempat kerjanya 4) Rumah sakit mendapat citra yang baik di mata masyarakat nilai

perbedaan kepercayaan terkait Sehat dan Sakit pada Agama-Agama yang ada di Indonesia

persamaan kepercayaan terkait sehat dan sakit pada agama-agama di Indonesia

salah satu ilustrasi kasus tentang penerapan teori konsep sehat sakit dan solusi yang diambil berkaitan dengan peran Agama di masyarakat Keadaan sehat Sakit A. Kontinum Sehat sakit Status kesehatan seseorang terletak antara dua kutub yaitu sehat optimal dan kematian , yang sifatnya dinamis. Bila kesehatan seseorang bergerak kekutub kematian maka seseorang berada pada area sakit (illness area) dan bila status kesehatan bergerak kearah sehat (optimal well being) maka seseorang dalam area sehat (wellness area). Kematian Sehat Illness area Wellness area

B. Mempertahankan status kesehatan 1. Sesuai dengan sifat sehat-sakit yang dinamis, maka keadaan seseorang dapat dibagi menjadi sehat optimal, sedikit sehat, sedikit sakit, sakit berat dan meninggal. 2. Bila seseorang dalam area sehat maka perlu diupayakan pencegahan primer (primary prevention) yang meliputi health promotion dan spesific protection guna mencegah terjadinya sakit. 3. Bila seseorang dalam area sakit perlu diupayakan pencegahan sekunder dan tersier yaitu early diagnosisand promt treatment, disability limitation dan rehabilitation. Dalam perkembangan selanjutnya untuk mengatasi masalah kesehatan termasuk penyakit di kenal tiga tahap pencegahan: Pencegahan primer: promosi kesehatan (health promotion) dan perlindungan khusus (specific protection). Pencegahan sekunder: diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), pembatasan cacat (disability limitation) Pencegahan tersier: rehabilitasi. 1. Pencegahan primer dilakukan pada masa individu belum menderita sakit, upaya yang dilakukan ialah: a. Promosi kesehatan/health promotion yang ditujukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap masalah kesehatan. b. Perlindungan khusus (specific protection): upaya spesifik untuk mencegah terjadinya penularan penyakit tertentu, misalnya melakukan imunisasi, peningkatan ketrampilan remaja untuk mencegah ajakan menggunakan narkotik dan untuk menanggulangi stress dan lain-lain. 2. Pencegahan sekunder dilakukan pada masa individu mulai sakit a. Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment), tujuan utama dari tindakan ini ialah 1) mencegah penyebaran penyakit bila penyakit ini merupakan penyakit menular, dan 2) untuk mengobati dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat. b. Pembatasan cacat (disability limitation) pada tahap ini cacat yang terjadi diatasi, terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya cacat yang lebih buruk lagi. 3. Pencegahan tersier a. Rehabilitasi, pada proses ini diusahakan agar cacat yang di derita tidak menjadi hambatan sehingga individu yang menderita dapat berfungsi optimal secara fisik, mental dan sosial. Ketika seseorang mengalami peran sakit umumnya mereka akan mencari bantuan untuk menangani sakit yang diderita dengan berbagai cara dari bantuan medis sampai bantuan non-medis. Disini peran agama sebagai landasan aturan/kode etik dalam pengobatan pasien. Peran agama disini diharapkan dapat mencegah terjadinya hal-hal yang menyimpang dari nilai-nilai agama. Jadi agama itu digunakan sebagai pedoman masyarakat dalam mencari bantuan untuk menangani sakitnya agar tidak melenceng dari nilaiu-nilai agama.