Anda di halaman 1dari 28

Obstruksi Usus :

Gatrointestinal Foreign Body Obstruction In Dogs


Vembriarto Jati Pramono 13/3555865/PKH/503

Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus akut yang memerlukan pertolongan segera / tindakan. Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus (Sabara, 2007). Ileus obstruksi oleh benda asing adalah hilangnya atau adanya gangguan pasase isi usus akibat penyumbatan intestinal (benda asing) sehingga menyebabkan penyempitan/penyumbatan lumen usus

Gambar 1. Anatomi Gastrointestinal pada Anjing

Gambar 2. Hasil x-ray dari perut anjing terdapat intikbintik putih batu. Bentuk usus bila terjadi obstruksi benda asing.

Tabel 1. Insidensi ileus mekanik oleh benda asing pada anjing pure breed dan Basteran/bastar

Tabel 2. Tempat dan frekuensi obstruksi yang disebabkan oleh benda asing di bagianbagian tertentu dari saluran pencernaan anjing (A) dan Jenis dan kejadian benda asing di saluran pencernaan anjing (B) A

Tabel 3. Rasio Survival dan kematian berdasarkan usia dan jenis kelamin hewan

Gambar 3. Rasio obstruksi dengan benda asing pada anjing yang berumur sampai 2 tahun

Gambar 4. Rasio obstruksi dengan benda asing pada anjing yang berumur 3 sampai 12 tahun

Penyebab terjadinya ileus obstruktif beragam jumlahnya berdasarkan umur dan tempat terjadinya obstruksi. Obstruksi mekanik dari lumen intestinal biasanya disebabkan oleh tiga mekanisme:
1) Blokade intralumen (obturasi)

2) Intramural atau lesi intrinsik dari dinding usus


3) Kompresi lumen atau konstriksi akibat lesi ekstrinsik dari intestinal

Berdasarkan penyebabnya ileus obstruktif dibedakan menjadi tiga kelompok (Yates, 2004) : 1) Lesi-lesi intraluminal, misalnya fekalit, benda asing, bezoar, batu empedu. 2) Lesi-lesi intramural, misalnya malignansi atau inflamasi. 3) Lesi-lesi ekstramural, misalnya adhesi, hernia, volvulus atau intususepsi.

Gambar 5. Beberapa Penyebab Obstruksi Mekanik dari Intestinal.

Ileus obstruktif dibagi lagi menjadi tiga jenis dasar (Sjamsuhidajat & Jong, 2005) : 1) Ileus obstruktif sederhana, dimana obstruksi tidak disertai dengan terjepitnya pembuluh darah. 2) Ileus obstruktif strangulasi, dimana obstruksi yang disertai adanya penjepitan pembuluh darah sehingga terjadi iskemia yang akan berakhir dengan nekrosis atau gangren yang ditandai dengan gejala umum berat yang disebabkan oleh toksin dari jaringan gangren. 3) Ileus obstruktif jenis gelung tertutup, dimana terjadi bila jalan masuk dan keluar suatu gelung usus tersumbat, dimana paling sedikit terdapat dua tempat obstruksi.

Gambar 6. Gambaran Patofisiologi pada saat terjadi obstruksi

Respon usus terhadap obstruksi Akumulasi cairan intestinal di proksimal daerah obstruksi terjadi gangguan mekanisme absorbsi normal kegagalan isi lumen untuk mencapai daerah distal dari obstruksi. Peristaltik bagian proksimal usus meningkat menyebabkan aktivitasnya pecah. Bila obstruksi terus berlanjut terjadi peningkatan tekanan intraluminal bagian proksimal dari usus tidak akan berkontraksi dengan baik dan bising usus menjadi tidak teratur dan hilang.

Lanjutan... Peningkatan tekanan intraluminal dan adanya distensi gangguan vaskuler terutama stasis vena dinding usus menjadi udem dan terjadi translokasi bakteri ke pembuluh darah produksi toksin oleh translokasi bakteri timbul gejala sistemik. Efek lokal peregangan usus adalah iskemik akibat nekrosis disertai absorpsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik.

Lanjutan... Peningkatan volume intralumen distensi intestinal di bagian proksimal obstruksi bermanifestasi pada mual dan muntah. Selanjutnya, obstruksi mekanik ini mengarah pada peningkatan defisit cairan intravaskular yang disebabkan oleh terjadinya muntah, akumulasi cairan intralumen, edema intramural, dan transudasi cairan intraperitoneal. Koloni berlebihan dari bakteri dapat merangsang absorbtif dan fungsi motorik dari intestinal dan menyebabkan terjadinya translokasi bakteri dan komplikasi sepsis.

Obstruksi/sumbatan pd usus

Obstruksi vasa limfatika & vena2 pd dinding usus pd dinding usus

Makanan tertumpuk di lumen usus

Tekanan intraluminal me

Tekanan terhadap dinding usus semakin me Edema

Nekrosis Perforasi

Infark Gangren

Translokasi bakteri

Terdapat 4 tanda utama gejala ileus obstruktif : 1) Nyeri abdomen 2) Muntah 3) Distensi

4) Kegagalan buang air besar atau gas (konstipasi) Gejala ileus obstruktif tersebut bervariasi tergantung kepada: 1) Lokasi obstruksi 2) Lamanya obstruksi 3) Penyebabnya 4) Ada atau tidaknya iskemia usus

Gejala utama

Nyeri abdomen, Muntah, Distensi, dan konstipasi

Adanya flatus atau feses selama 6-12 jam setelah gejala merupakan ciri khas dari obstruksi parsial. Nyeri abdomen bisa merupakan gejala penyerta, nyeri menyebar dan jarang terlokalisir, namun sering dikeluhkan nyeri pada bagian tengah abdomen, sekitar umbilikus atau bagian epigastrium. Saat nyeri menetap dan terus menerus strangulasi dan infark. curiga telah terjadi

Kegagalan untuk defekasi dan flatus merupakan tanda yang penting untuk membedakan terjadinya obstruksi komplit atau parsial.
Tanda awal hewan segera mengalami dehidrasi.

Massa yang teraba dapat di diagnosis banding dengan keganasan, abses, ataupun strangulasi.

Auskultasi digunakan untuk membedakan pasien menjadi tiga kategori : loud, high pitch dengan burst ataupun rushes yang merupakan tanda awal terjadinya obstruksi mekanik.
Saat bising usus tak terdengar dapat diartikan bahwa obstruksi telah berlangsung lama, ileus paralitik atau terjadinya infark.

Tanda-tanda terjadinya strangulasi seperi nyeri terus menerus, demam, takikardia, dan nyeri abdomen sehingga terjadi distensi
Pada obstruksi karena strangulasi bisa terdapat takikardia, nyeri tekan lokal, demam, leukositosis dan asidosis.

Anamnesis Pada ileus obstruktif usus halus kolik dirasakan di sekitar umbilikus, sedangkan pada ileus obstruktif usus besar kolik dirasakan di sekitar suprapubik. Muntah pada ileus obstruktif usus halus berwarna kehijaun dan pada ileus obstruktif usus besar onset muntah lama.
Pemeriksaan Fisik Inspeksi Dapat ditemukan tanda-tanda dehidrasi, yang mencakup kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. Pada abdomen harus dilihat adanya distensi, parut abdomen, hernia dan massa abdomen. Inspeksi pada penderita yang kurus/sedang juga dapat ditemukan darm contour (gambaran kontur usus) maupun darm steifung (gambaran gerakan usus).

Pada palpasi didapatkan distensi abdomen dan perkusi tympani yang menandakan adanya obstruksi. Palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau nyeri tekan, yang mencakup defance musculair involunter atau rebound dan pembengkakan atau massa yang abnormal.
Auskultasi akan terdengar kehadiran episodik gemerincing logam bernada tinggi dan gelora (rush) diantara masa tenang. Tetapi setelah beberapa hari dalam perjalanan penyakit dan usus di atas telah berdilatasi, maka aktivitas peristaltik (sehingga juga bising usus) bisa tidak ada atau menurun.

Pemeriksaan Radiologi 1) Foto polos abdomen (foto posisi supine, posisi tegak abdomen atau posisi dekubitus) dan posisi tegak thoraks. 2) Pada foto abdomen dapat ditemukan beberapa gambaran, antara lain: Distensi usus bagian proksimal obstruksi Kolaps pada usus bagian distal obstruksi Posisi tegak atau dekubitus: Air-fluid levels Posisi supine dapat ditemukan distensi usus dan step-ladder sign String of pearls sign, gambaran beberapa kantung gas kecil yang berderet Coffee-bean sign, gambaran gelung usus yang distensi dan terisi udara dan gelung usus yang berbentuk U yang dibedakan dari dinding usus yang oedem. Pseudotumor Sign, gelung usus terisi oleh cairan.

Penatalaksanaan Pasien dengan obstruksi intestinal biasanya mengalami dehidrasi dan kekurangan Natrium, Khlorida dan Kalium yang membutuhkan penggantian cairan intravena dengan cairan salin isotonic seperti Ringer Laktat. Urin harus di monitor dengan pemasangan Foley Kateter. Pemeriksaan elektrolit serial, seperti halnya hematokrit dan leukosit, dilakukan untuk menilai kekurangan cairan. Antibiotik spektrum luas diberikan untuk profilaksis atas dasar temuan adanya translokasi bakteri pada ostruksi intestinal. Pemasangan nasogastric tube bertujuan untuk mengosongkan lambung, mengurangi resiko terjadinya aspirasi pulmonal karena muntah dan meminimalkan terjadinya distensi abdomen. Pasien dengan obstruksi parsial dapat diterapi secara konservatif dengan resusitasi dan dekompresi. Penyembuhan gejala tanpa terapi operatif dilaporkan sebesar 60 85% pada obstruksi parsial. Jika terjadi obstruksi secara total harus dilakukan tindakan operatif.

Terapi Operatif Persiapan Hewan Anjing yang digunakan dalam operasi ini dipuasakan makan 12 jam dan minum 6 jam sebelum pelaksanaan operasi dan dilakukan pencukuran rambut di daerah yang akan dilakukan sayatan yaitu pada daerah caudal midline Premidikasi Anjing sebelum dipoerasi diberikan premedikasi Atropin Sulfat 0,025 % dengan dosis 0,04 mg/kg BB melalui sub cutan. Anestesi Setelah 15 menit anjing diberi kombinasi anestesi Ketamin 10% dengan dosis 15 mg/kg BB, Xilazin 2% dengan dosis 2 mg/kg BB secara intra muskuler pada muskulus gluteus atau muskulus qudriceps femoris. Infus Anjing yang dalam keadaan teranastesi diberikan cairan infus RL (Lactate ringer) untuk mencegah terjadinya hypovolemic shock selama proses operasi berlangsung. Tindakan Operatif Pada umumnya tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi oleh benda sing adalah dengan enterektomi.

Terapi Post Operatif supportive (pemberian infus) Bioplasentom Betadine Pencegahan infeksi Iodine Ampicillin Pembukaan jahitan pada kulit dilakukan pada hari ke-8 post operasi : 1) Fase peradangan (Inflamatory phase) 2) Fase debrikasi (debriment phase) 3) Fase perbaikan (Repair phase) 4) Fase Maturasi (Maturation Phase)

Komplikasi Nekrosis usus Perforasi usus yang menyebabkan peritonitis, syok septik Prognosis Pada ileus obstruksi kolon, angka kematiannya berkisar antara 15-30%. Perforasi caecum merupakan penyebab utama kematian. Prognosis baik bila dilakukan tindakan yang tepat . Prognosis berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 3.