Anda di halaman 1dari 12

MODUL PERKULIAHAN

Manajemen Perpajakan
Perencanaan Pajak untuk PPh Pasal 21
Fakultas
Ekonomi dan Bisnis

Program Studi
Strata Satu Akuntansi/PKK

Tatap Muka

Kode MK 84061

Disusun Oleh
Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

07

Abstract
Agar perusahaan mencapai sasaran,perludiadakan perencanan pajak terhadap PPhPasal 21,perlakuan perencanaan PPh pasal21agar diperoleh efisiensi beban pajak terhadappemberian tunjangan baik kesehatan,transport maupun uang makan.

Kompetensi
Mampu memahami,menjelaskan, dan menganalisa perencanaan Pajak untuk PPh Pasal 21,Perlakuan Perencanaan PPh Pasal 21 agardapat mengefisiensikan Beban pajak,perlakuan perpajakan yang baik dalam pemberian tunjangan, tunjangan kesehatan,transport Maupun uang makan.. .

Perencanaan Pajak Untuk PPh Pasal 21


Ada beberapa item yang berkaitan dengan perencanaan pajak PPh pasal 21 yaitu : 1. Klausal Pajak dalam Perjanjian/Kontrak Kerja Dalam bisnis ada beberapa konflik/kasus yang timbul dalam hal pemotongan PPh Pasal 21 atau pasal 26 yang dilakukan oleh orang pribadi atas penghasilan yang diterimanya sewaktu dilaksanakan pemotongan, sehingga terjadi dispute. Secara normative undang-undang perpajakan telah mewajibkan perusahaan pemilik proyek atau pemberi kerja untuk melaksanakan pemotongan PPh Pasal 21 dari pihak ketiga, sedangkan pihak pemberi jasa (kontraktor) tidak bersedia dipotong pajaknya dengan alasan pada saat perjanjian atau kontrak kerja disepakati, tidak dibahas masalah pajak sehingga mereka bersikukuh bahwa harga kotrak yang disepakati sudah tidak dipotong pajak lagi (net). Secara hukum, alasan pihak kontraktor memiliki justifikasi hukum yang kuat, sehingga bila pada akhirnya pemilik proyek atau pemberi kerja yang harus menanggung pajaknya yang merupakan tambahan beban bagi pemilik proyek atau pemberi kerja tersebut yang tidak perlu terjadi,tambahan beban tersebut dalam jumlah yang signifikan yang akan menggerus keuntungan perusahaan. Masalah perpajakan yang berhubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan, antara lain meliputi : Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara,

akuntan,arsitek,dokter, konsultan,notaris,penilai, dan aktuaris, dikenakan tarif 50% (lima puluh persen) dari jumlah penghasilan bruto. Ini berlaku bagi tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, sehingga PPh pasal 21 yang dipotong sebesar 50% x Nilai Proyek x Tarif PPh Pasal 17 ayat 1 huruf a. Sehubungan dengan pemberian jasa selain pegawai dan tenaga ahli, yang dalam pemberian jasanya mempekerjakan orang lain sebagai pegawainya dan atau melakukan penyerahan material atau bahan, dikenai sebesar Tarif PPh Ps. 17 ayat 1 huruf a dari Nilai Proyek. Fenomena tersebut sering terjadi dalam pembuatan perjanjian atau kontrak kerja yang tidak mengindahkan aspek perpajakannya.Oleh sebab itu, sebelum kontrak kerja ditanda tangani harus dipastikan :

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Pemuatan klausal pajak dan dalam perjanjian atas kontrak kerja , yang mensyaratkan pajak terutang harus dihitung berdasarkan nilai kontrak ( diluar harga pokok barang), yang dikenakan dari nilai bruto kontrak, dan untuk PPh Pasal 21 atau Pasal 26, pemberi kerja wajib memotong dari pembayarannya.

Klausal pajak secara eksplisit menyatakan siapa yang harus menanggung PPh Pasal 21/26, sehingga pajak yang terutang dan pemotongannya di dasarkan pada klausal tersebut.

Apabila perusahaan pemilik proyek tidak memotong PPh Pasal 21, dan transaksi ini ditemukan oleh fiskus pada saat pemeriksaan pajak, maka perusahaan akan dikenai kewajiban membayar PPh Pasal 21 yang terutang ditambah denda keterlambatan penyetoran sebesar 2% dari pokok pajak.

Dari kasus ini jelas bahwa tax planning memerlukan dukungan dari beberapa divisi dalam perusahaan pemilik proyek atau pemberi kerja , antara lain divisi pengadaan atau logistik, divisi SDM, dan divisi hukum. Untuk menghindari timbulnya kerugian di kemudian hari di luar anggaran yang direncanakan, semua divisi yang terkait harus mempertimbangkan aspek perpajakan atas klausal perjanjian atau kontrak kerja yang hendak dibuat seperti beban pajak yang terutang dan siapa yang akan menanggung pajaknya.

2. Pajak Ditanggung Pemberi Kerja atau Tunjangan Pajak secara Gross Up Seringkali di dalam kontrak kerja ditemukan klausal yang menyatakan bahwa nilai kontrak sudah net, tidak termasuk pajak, atau pajak ditanggung perusahaan atau pemberi kerja. Istilah tersebut sebaiknya dipergunakan secara hati-hai, karena akan berdampak pada pemotongan pajak dan pembebanan biaya di PPh Badan. Tidak termasuk pajak, artinya pajak akan menjadi beban pemberi kerja, atau ditanggung oleh perusahaan atau pemberi kerja.Hal ini akan mengakibatkan PPh yang ditanggung perusahaan atau pemberi kerja tidak dapat dibiayakan di SPT PPh Badan ( non-deductible expenses). Agar PPh yang ditanggung oleh pemberi kerja dapat dibiyakan, maka penghitungan PPh harus menggunakan metode gross-up. PPh hasil penghitungan gross-up tersebut dimasukkan ke dalam nilai kontrak (termasuk invoice dan faktur pajak) atau menambah penghasilan dari pihak yang memperoleh penghasilan. Dengan kata lain diberikan tunjangan pajak sebesar PPh yang terutang.

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Kita lihat ilustrasi honorarium pemberian jasa oleh orang berikut ini : Net (tidak Gross-Up) Nilai Pekerjaan PPh 5% 500.000 10.000.000 Nilai pekerjaan Gross Up 10.000.000

PPh 5% 526.316 10.000.000 Nilai kontrak 10.526.316

Nilai kontrak(net) Catatan :

1. Tarif honorarium untuk pemberian jasa oleh orang pribadi adalah tariff Pasal 17 dari nilai bruto dan PPh yang ditanggung pemberi keja sebesar Rp 500.000 tanpa gross up dan tidak mengubah nilai kontrak, maka sejumlah PPh tersebut tidak dapat dibiayakan. 2. PPh dihitung dengan metode gross-up akan menambah nilai kontrak sebesar, 5%Rp 10.000.000 X 100/(100-5) = Rp 526.316.

Pph sejumlah itu menjadi unsure biaya yang bersufat deductible expenses, karena bagi penerima hal ini menjadi unsure penghasilan. Bagi perusahaan mana yang lebih menguntungkan?Harus dipertimbangkan lebih jauh lagi. Jika secara fiskal perusahaan masih merugi, gross-up akan menambah beban PPh Pasal 21 tanpa mempengaruhi PPh Badan terutang, pengaruhnya pada kompensasi kerugian. Dari cash-flow timbul pegeluaran yang justru lebih besar, dan jika mempertimbangkan time value of money, manajemen bisa memilih untuk tidak melakukan gross-up. -

Sebaliknya jika perusahaan mendapat laba fiskal dan sudah dikenai PPh pada lapisan tetinggi, metode gross-up akan menghasilkan penghematan dari selisih tariff antara PPh Badan dengan tariff PPh pasal 21 yang dikenakan.

Kasus ini juga dapat digunakan untuk mempertimbangkan, apakah perusahaan akan menanggung PPh atas penghasilan karyawan, atau akan iberikan tunjangan PPh dengan metode gross-up.

3. Pemberian Ung Saku Secara Lump-Sum arau Reimbursement. Masalah prosedur pembayaran uang saku dalam perjalanan dinas, pendidikan, ataupun jenis pengeluaran perusahaan lainnya juga seringkali menimbulkan aspek pajak berbeda.

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Pembayaran secara lump-sum akan mengakibatkan PPh Pasal 21 dihitung dari seluruh nilai yang dibayarkan,meskipun di dalamnya mungkin terdapat biaya lainnya, misalnya transportasi, dan akomodasi.

Pengertian lump-sum perusahaan memberikan sekaligus dalam jumlah tertentu yang meliputi uang saku, transport, akomodasi, atau unsure biaya lainnya, tanpa disertai dengan pertanggung jawaban dan bukti atas penggunaannya. -

Sedangkan dalam prosedur reimbursement, pembayaran disertai dengan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan penggunaan dana dengan meminta bukti pengeluaran. Apabila terjadi kelebihan, harus dikembalikan ke perusahaan, apabila terjadi kekurangan dapat dimintakan kembali (reimbursement). PPh Pasal 21 hanya akan dihitng dari uang saku atau tunjangan berupa uang lainnya yang benar-benar diterima atau diperoleh karyawan.

4. Pemberian Tunjangan Makan atau Menyiapkan Makan Bersama Sejak belakunya UU PPh Thun 2000, makanan dan minuman bagi kaeyawan sudah boleh dibiayakan di PPh Badan(deductible expense). Perlu dikaji apakah perusahaan masih memberikan tunjangan makan atau menyiapkan makan bersama sebagai pengganti tunjangan makan? Dari sisi PPh Badan , dengan asumsi jumlah beban yang sama, keduanya tidak menimbulkan pengaruh apapun, karena sama-sama bisa dibiayakan ( lihat Pasal 9 ayat (1) huruf e UU PPh 2008, tetapi pemberian tunjangan makan akan mengakibatkan bertambahnya PPh Pasal 21.Apabila hanya dipandang dari sisi fiskal, lebih menguntungkan jika disiapkan makan bersama untuk seluruh karyawan. Tetapi apabila dalam praktiknya harus menggunakan jasa catering, harus diigat timbulnya kewajiban pemotongan PPh Pasal 23 dengan tariff 2% dari penghasilan bruto. Kajian harus dilakukan terhadap keseluruhan aspek perusahaan. Misalnya dari sudut pandang psikologi karyawan,apakah akan menimbulkan gejolak atau tidak? Menguntungkan atau merugikan, tentu harus dlihat dari keseimbangan seluruh system.

5. Memberikan Tunjangan Kesehatan atau Fasilitas Pengobatan? Untuk biaya kesehatan,perusahaan memiliki pilihan, memberikan tunjangan kesehatan, menyediakan fasilitas pengobtan bagi karyawan, atau menggunakan method reimbursement biaya pengobatan.

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Bila perusahaan memilih memberikan tunjangan kesehatan, maka perlakuan pajaknya bersifattaxable-deductible.Artinya, tunjangan kesehatan merupakan objek PPh Pasal 21 bagi karyawan (penghasilan) dan merupakan biaya bagi perusahaan. Bila perusahaan menyediakan fasilitas pengobatan, maka perlakuan pajaknya bersifat non taxable-non deductable. Artinya hal itu bukan penghasilan bagi karyawan dan bukan biaya bagi perusahaan. Bila menggunakan metode reimbursement maka perlakuan pajaknya; a. bersifat non taxable-non deductible, bila persyaratan reimbursement dapat

dipenuhi,yaitu tidak boleh ada mark-up, bukti asli diserahkan ke perusahaan, bukti dibuat atas nama perusahaan atau atas nama karyawan qq perusahaan, dan diatur dalam kontrak kerja antara perusahaan dengan karyawan. b. bersifat taxable-deductible, bila persyaratan reimbursement tidak dapat dipenuhi. Dalah hal ini esensinya adalah karyawan menerima uang dari perusahaan yag kemudian digunakan untuk membayar biaya pengobatan.

6. Meminimalkan Tarif Pajak (PPh Pasal 21) Penerapan Tax Planning Dalam PPh Pasal 21, antara lain dengan cara : a. Pada perusahaan yang PPh badannya tidak dikenai pajak bersifat final, diupayakan seminimal mungkin memberikan kesejahteraan karyawan dalam bentuk natura atau

kenikmatan (benefit in kinds), karena pengeluaran tesebut tidak dapat dibebankan sebagai biaya bagi perusahaan. Sebagai gantinya untuk kesejahteraan pegawai diberikan dalam bentuk tunjangan, sehingga bisa dibiayakan (mengurang profit). b. Untuk perusahaan yang PPh badannya dikenakan pajak bersifat final, memberikan tunjangan kepada karyawan dalam bentu natura atua kenikmatan merupakan salah satu pilihan untuk menghindari lapisan tariff maksimum PPh pasal 21. Pemberian dalam bentuk kenikmata/natura atau dalam bentuk tunjangan tidak mempengruhi PPh Badan karena pendapatan perusahaan sudah dikenadi PPh final.Tetapi untuk tujuan komersial ,baik pemberian dalam natura,kenikmatan atau dalam bentuk tunjangan tetap, bisa menjadi pengurang penghasilan brutto untuk menghitung penghasilan netto.

3.

Untuk perusahaan yang PPh badannya dikenai pajak bersifat final, contohnya perusahaan jasa konstruksi , maka efisiensi PPh Pasal 21 karyawan dapat dilakukan dengan cara memberikan semaksimal mungkin tunjangan karyawan dalam bentuk natura dan kenikmatan yang bukan merupakan obyek pajak PPh pasal 21, sebagai salah satu pilihan

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

untuk menghindari lapisan tarif maksimum umum Pph pasal 21, selain itu pengeluaran untuk pemberian natura atau kenikmatan tersebut tidak mempengaruhi besarnya PPh badan.Contoh, pemberian makanan dan minuman bagi seluruh pegawai (Pasal 9 ayat 1e UU PPh) dan penyediaan bus antar jemput pegawai (Per-51/PJ/2009), kedua hal tersebut dapat dibiayakan tetapi tidak menambah beban beban PPh pasal 21 karena tidak menambah pendapatan dalam perhitungan PPh pasal 21 karyawan. Alur Perencanaan Pajak PPh Pasal 21 Setiap pengusaha berusaha memaksimalkan kesejahteraan pemilik perusahaan dengan memaksimalkan nilai perusahaan, memperoleh laba sesuai keinginan. Untuk mengejal laba maksimal, perusahaan melakukan berbagai upaya .Salah satu upaya adalah menghemat beban pajak. Upaya penghematan beban pajak yang dilakukan perusahaan harus tetap memperhatikan peraturan perpajakan (asas legalitas). Perencanaan pajak dimulai dengan menganalisis dan memastikan metode penghitungan pajak penghasilan pasal 21 yang lebih efisien serta memperhatikan mekanisme taxability-deductibility. Perlu dijelaskan di sini, bahwa manajemen tidak bertujuan untuk mengurangi kewajiban pajak yang sebenarnya terutang,tetapi hanya mengatur pajak yang dibayar tidak meleibihi dari jumlah pajak yang seharusnya dibayar sehingga efisien bagi wajib pajak tanpa melanggar ketentuan. Adanya manajemen dan perencanaan pajak dalam perusahaan akan membantu wajib pajak dalam mengelola kewajibannya sehingga terhindar dari sanksi-sanksi yang timbul akibat adanya pelanggaran, serta merupakan salah satu alternative bagi perusahaan untuk mencapai efisiensi pembebanan perusahaan.

Strategi Perencanaan Pajak untuk Mengefisienkan Beban Pajak Menyusun perencanaan pajak sesuai dengan kondisi perusahan dimulai dengan strategi mengefisiensikan beban pajak pajak (penghematan pajak) adalah dengan melakukan pengaturan dan pengawasan dalam bidang perpajakan (organization and controlling ) secara rutin /regular karena berhubungan dengan transaksi yang berulang kali terjadi dengan tujuan untuk meminimalkan tax exposure/resiko hutang pajak yang mungkin ajak timbul dalam dalam suatu transaksi yang rutin tersebut. Tujuan perencanaan pajak adalah bagaiman pengendalian tersebut dapat mengefisiensikan jumlah pajak yang aka ditransfer ke pemerintah, melalui apa yang disebut sebagai

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

penghindaran pajak (tax avoidance) dan bukan penyelundupan pajak (tax evasion) yang merupakan tindakan pidana fiskal yang tidak akan ditoleransi. ( Mohammad Zain, 2003 :67). Disamping itu juga agar terhindar dari sanksi dikemudian hari. Agar perencanaan pajak sesuai dengan yang diharapkan ,perusahaan perlu melakukan analisa terhadap metode-metode dan kebijakan-kebijakan yang akan digunakan, serta membuat strategi agar efisiensi beban pajak dapat tercapai. Misalnya : Membei tunjangan dalam bentuk uang atau natura atau kenikmatan,karena pada dasarnya pemberian dalam bentuk natura atau kenikmatan dapat dikurangkan sbagai biaya oleh pemberi kerja sepanjang pemberian tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan yang dikenai pajak penghasilan pasal 21 bagi pegawai yang menerimanya. Pemberian tunjangan senacam ini, selain akan member kepuasan dan meningkatkan motivasi kerja pegawai juga akan meningkatkan produktivitas mereka. Perusahaan memberi tunjangan kesejahteraan kepada pegawai dalam bentuk fasilitas pengobatan. Apabila pemberian tunjangan kesehatan kepada pegawai diberikan dalam bentuk uang, maka dari pihak perusahaan tunjangan itu dapat diakui sebagai biaya, dan sebagai penghasilan bagi pegawai sehingga dikenai PPh pasal 21. Menghindari pelanggaran terhadap peraturan perpajakan dapat dilakukan dengan cara memahami seluruh peraturan, menghitung pajak dengan tepat dan benar, membayar pajakserta melporkan SPT masa dan tahunan tepat waktu.

Dari kebijakan perencanaan pajak perusahaan yang telah diterapkan dan saat diluncurkannya prigram reformasi perpajakan, sejak itu pula berkembang pemikiran dari wajib pajak untuk mengefisiensikan pajak yang harus menjadi beban perusahaan. Dalam perhitungan PPh Pasal 21 terdapat 3 (tiga ) metode yang bisa diaplikasikan , yakni metode net, metode Gross, dan metode Gross up. a. Net Method Merupakan metode pemotongan pajak di mana perusahaan menanggung Pph pasal 21 karyawan. b. Gross Method Merupakan metode pemotongan pajak di mana karyawan menaggung sendiri jumlah pajak penghasilannya, yang biasanya dipotong langsung dari gaji karyawan yang bersangkutan. c. Gross-Up Method

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

Merupakan metode pemotogan pajak, di mana perusahaan memberikan tunjangan pajak. PPh Pasal 21 yang diformulasikan jumlahnya sama besar dengan jumlah pajak PPh pasal 21 yang akan dipotong dari karyawan. Penggunaan Metode Gross Up atas Pajak Penghasilan Pasal 21 yang ditanggung oleh pemberi penghasilan atau pemberi kerja didasarkan atas Pasal 4 huruf d Peraturan Pemerintah Nomor 138 Tahun 2000. Penggunaan metode gross up adalah untuk memuaskan dan meningkatkan motivasi karyawan. Dengan menggunakan metode ini karyawan akan merasa puas karena PPh Pasal 21 ditanggung seluruhnya oleh perusahaan. Dengan demikian karyawan merasa lebih diperhatikan. Meningkatnya motivasi dan kepuasan karyawan akan meningkatkan produktivitas mereka. Semua metode ini diperbolehkan undang-undang dan peraturan perpajakan.Jadi tinggal memilih menggunakan metode yang mana,yang paling efisien bagi perusahaan dan menguntungkan karyawan.

Perbedaan prinsipil antara Net Method dengan Grosss-Up Method adalah sebagai berikut : a. Bahwa pada metode net besarnya Pph pasal 21 yang ditanggung oleh perusahaan tersebut tidak dimasukkan sebagai tunjangan pajak di SPT PPh pasal 21 , sedangkan pada metode gross up , besarnya tunjangan pajak PPh Pasal 21 tersebut dimasukkan sebagai elemen penghasilan dari tunjangan pajak yang dicantumkan di SPT PPh Pasal 21. b. Bahwa pada metode net, besarnya PPh Pasal 21 yang ditanggung oleh perusahaan tidak bisa dibiayakan( non deductible) sedangkan pada metode gross up seluruh tunjangan pajaknya bisa dibiayakan (deductible). Pemberian tnjangan kepada karyawan bisa sebagai fringe beneit/natura, bisa berupa pajak yang ditanggung perusahaan atau berupa tunjangan pajak.Hal ini merupaan kebijakan internal internal perusahaan ataupun kesepakatan antara pihak perusahaan dengan pihak karyawan.

Rumus Tunjangan Pajak dengan Metode Gross up yang sesuai dengan UU PPh No. 36 tahun 2008 1. PKP Rp 0 s/d 50.000.000 Pajak = 1/0,95 (PKP X 5% )

2. PKP di atas 50.000.000 s/d 250.000.000 Pajak = 1/0,85 { ( PKP X 15% ) 5 juta } .

13

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

3.

PKP di atas Rp 250.000.000 s/d 500.000.000 Pajak = 1/0,75 { (PKP X 25%) 30 juta }

4. PKP di atas Rp. 500.000.000 Pajak = 1/0,70 {(PKP X 35%)- 55 juta ].

Perhitungan PPh Pasal 21 dengan metode Gross Up yang sesuai UU PPh NO.36 tahun 2008, harus dilakukan 2 tahap.

Tahap 1. Hitung dulu berapa PKP tanpa tunjangan pajak. Setelah itu baru dihitung berapa tunjangan pajak dengan menggunakan rumus gross up di atas. Contoh ; Tuan Amir, pegawai tetap DEX sejak tahun 2005, status K/1, tahun 2010 menerima penghitungan pajak-PPh Pasal 21 sebagai berikut : Gaji/ tahun Tunjangan makan siang JKK= 1,27% X 120 juta JKM=0,30% X 120 juta 120.000.000 3.600.000 1.542.000 3.600.000 __________ 128.742.000 Bonus 5.000.000 ____________ 133.742.000 Pengurangan Biaya Jabatan 5% max Iuran Pensiun (dibayar Sendiri) JHT = 2% X 120 jt _________ ( 10.800.000 ) ___________ 122.942.000 PTKP K/1 ( 18.480.000) ___________
13

6.000.000 2.400.000 2.400.000

10

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

104.462.000 Karena PKP ada di lapisan tariff ke 2, maka rumus gross p yang dipakai adalah lapisan ke .2. Lapisan ke 2 = 1/0,85 {(PKP X 15% ) 5.000.000] Tunjangan Pajak = 1/0,85 X (104.462.000 X 15% ) -5.000.000 Tunjangan Pajak = 12.552.118 Tahap 2 Setelah diperoleh berapa tunjangan pajak dengan rumus gross up, baru dimasukkan unsure tunjangan pajak sebagai unsure penghasilan wajib pajak. Perhitungan ini memperihatkan bahwa jumlah PPh harus sama dengan tunjangan pajak. Bila sama, maka PPh tersebut dapat dibiayakan (deductible.

Gaji /tahun Tunjangan makan siang Tunjangan Pajak (gross up) JKK = 1,27 % X 120 jt = JKM= 0,30% X 120 jt =

120.000.000 3.600.000 12.552.118 1.542.000 3.600.000 ___________ 141.294.118

Bonus

5.000.000 ____________ 146.294.118

Dikurangi Biaya Jabatan Iuran Pensiun JHT =2% X 120 jt = 6.000.000 2.400.000 2.400.000 __________ (10.800.000) ___________ 135.494.118 PTKP ____________ PKP PPh Terutang : PPh Pasal 21 5% X Rp. 50.000.000 = 15%X Rp.67.014.118 =
13

(18.480.000)

117.014.118

2.500.000 10.052.118
Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id

11

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

___________ Total PPh Pasal 21 12.552.118

Daftar Pustaka
1. Erly Suandi, 2011, Perencanaan Pajak, Penerbit Salemba Empat (ES) 2. Drs.Chairil Anwar Pohan,MSi,MBA, 2013, Manajemen Perpajakan, Strategi Perencanaan Pajak dan Bisnis, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. 3. Primandita F, dkk, 2009, Kompilasi UU pajak, Penerbit Salemba Empat (PF) 4. Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Keuangan, Kep. Ditjen Pajak dan peraturan perpajakan lainnya.

13

12

Manajemen Perpajakan Dra. Rokhanah Murkana Ak, MSi

Pusat Bahan Ajar dan eLearning http://www.mercubuana.ac.id