Anda di halaman 1dari 2

Prabowo Subianto: Bintang panas di pentas militer

The golden boy itu bernama Prabowo Subianto


Bila Anda berjumpa dengan Prabowo Subianto saat ini, dalam sekedip mata, Anda akan melupakan sosok
lelaki yang dulu lekat dengan seragam hijau gelap doreng khas tentara dengan topi merahnya. Padahal,
dengan seragam hijau tua itu, ia pernah memiliki legalitas untuk menghabisi Presiden dan Menteri
Pertahanan Fretilin Nicolao Dos Reis Labato di Timor Timor, pada tahun 1979.

Lebih dari itu, bahkan Anda juga bakal ‘tertipu’ dengan senyumnya yang –saat ini—kian rileks lantaran ia
tak lagi menjabat Panglima Kostrad. Dulunya, jabatan ini membuatnya dituding sebagai dalang
(mastermind) dari serangkaian aksi penculikan para aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti, penyulut
kekacauan di tanah air sebelum dan sesudah Mei 1998, hingga menerabas ke isu seputar klik dan intrik di
kalangan elit ABRI.

Prabowo memang mozaik yang menarik. Terutama, karena kontroversi yang telah ditorehkannya di
sepanjang hidupnya. Taruh kata, sejak lahir pun ia sudah mengundang kontroversinya sendiri sebagai anak
ketiga begawan ekonomi Indonesia Sumitro Djojohadikusumo. Bertali-temali dengan nama Sumitro,
Prabowo juga tak bisa dilepaskan dari kakeknya, Margono Djojohadikusumo, pengikut Boedi Oetomo dan
pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) 1946. Sementara itu saudara-saudaranya yang lain adalah
Biantiningsih Djiwandono, Maryani Le Maistre, dan Hashim Suyono Djojohadikusumo.

Menyinggung sedikit soal Soemitro, bicara dengan Sumitro bisa meluas ke mana-mana. Perkara ekonomi,
ia jelas mumpuni lantaran punya gelar Doktor Ekonomi dari Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam di Negeri
Belanda. Membahas soal perbankan, ia adalah bankir yang pernah mengendalikan sebagai Preskom Bank
Universal. Keluarga Djojohadikusumo juga memiliki mayoritas saham Bank Niaga, sebuah bank publik
yang cukup besar.

Jangan salah, Sumitro juga bisa diajak ngomong politik. Pada 1957 ia bergabung dengan PRRI yang
menentang pemerintahan Presiden Soekarno. Kalau mau diskusi soal politik di zaman Orde Baru, Soemitro
juga sumber yang tahu banyak soal. Ia adalah besan Pak Harto. Demikian pula kalau mau bertanya seluk-
beluk pergulatan di tubuh ABRI. Putra Sumitro, Prabowo, adalah bahan berita yang pernah ramai dalam
pembicaraan usai peristiwa 1998.

Keempat anak Sumitro lahir dan dibesarkan di kalangan intelektual. Namun, keempatnya memilih titik
pijak karir yang berbeda-beda. Hashim, contohnya. Putra bungsu Sumitro ini mengangkangi Grup Tirtamas
yang membawahi usaha perdagangan internasional dan industri keuangan. Selain itu, bisnis Hashim juga
merentang dari perusahaan leasing, pasar saham, industri petrokimia, semen Cibinong, tambang batubara,
tekstil, kelapa sawit, agribisnis hingga listrik swasta. Biantiningsih kemudian dikenal sebagai istri bekas
Gubernur Bank Indonesia, Sudrajat Djiwandono. Sedangkan Maryani bersuamikan seorang pria
warganegara Perancis yang bekerja di Jakarta.

Meski awalnya Prabowo tidak berkubang di lahan bisnis, tetapi darah intelektual tetap menitis di tubuhnya.
Kelak, ‘darah intelektual’ ini pula yang akan membuatnya tersingkir dari panggung militer Indonesia. Nah,
diantara semua saudaranya, Prabowo bahkan dikenal sebagai anak yang paling doyan memamah buku. Dari
koleksi di perpustakaan milik pribadi di kantor maupun di rumahnya, Prabowo paling menyukai buku
tentang sejarah dan militer. Konon, ia selalu belanja banyak buku jika bepergian keluar negeri. Itu
sebabnya, buku dalam bahasa asing pun ia lumat.

Prabowo memang tak menolak buku-buku berbahasa asing. Diantara prajurit seusianya, penguasaan
terhadap bahasa asingnya terbilang oke. Selain bahasa Inggris, ia menguasai bahasa Prancis, Jerman, dan
Belanda. Wajar saja. Masa kecilnya dihabiskan di luar negeri, seperti Singapura tiga tahun, Malaysia dua
tahun, Hong Kong dua tahun, Swiss dua tahun, dan Inggris dua tahun. Ia mengikuti ayahnya yang
berpindah-pindah dalam masa pengasingan. Tak heran, sikapnya pun kebarat-baratan dan cenderung
‘arogan’.

Apapun jalan hidup yang dipilih oleh keempat anaknya, Sumitro mengaku bangga. Hingga akhir masa
tugas Prabowo, Soemitro bahkan tak pernah menyesali apa yang telah terjadi pada putra kesayangannya.
Dalam wawancaranya dengan TEMPO pada tahun 1999, Sumitro sempat berujar, “Dalam bahasa Jawa, ada
istilah wiryo kencono; seorang anak, biar dia seperti sampah pun, tetap harus kita banggakan.”