Anda di halaman 1dari 29

Bahan Ajar Pelatihan Penilaian AMDAL

PENGERTIAN PROSES DAN MANFAAT AMDAL

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEMENTERIAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP 2009

Bahan Ajar Pelatihan Penilaian AMDAL

PENGERTIAN PROSES DAN MANFAAT AMDAL

Disclaimer Bahan ajar ini merupakan bahan referensi lepas yang diharapkan dapat mendukung pelaksanaan Pelatihan Penilaian AMDAL. Bahan ajar ini dapat dikembangkan oleh pengajar sesuai kebutuhan dengan tetap mengacu pada kaidah kurikulum dan peraturan yang berlaku.

KATA PENGANTAR
Bahan ajar ini dimaksudkan sebagai salah satu bahan pendukung dalam proses pembelajaran untuk Pelatihan Penilaian AMDAL yang diadakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup untuk membantu Pemerintah Daerah memenuhi persyaratan lisensi bagi Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/Kota sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 06 Tahun 2008 tentang Tata Laksana Lisensi Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/ Kota. Bahan ajar ini disusun atas kerjasama Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Asisten Deputi Urusan Pengkajian Dampak Lingkungan Kementrian Negara Lingkungan Hidup. Bahan ajar ini disusun secara singkat dan sederhana agar mudah dipahami oleh peserta diklat, yaitu para penilai AMDAL, yang umumnya memiliki kemampuan beragam. Bahan ajar ini dapat dikembangkan oleh pengajar sesuai kebutuhan dengan tetap mengacu pada kaidah kurikulum dan peraturan yang berlaku. Bahan ajar ini masih perlu disempurnakan, karena itu saran dan kritik membangun untuk penyempurnaannya sangat diharapkan.

Maret, 2009 Penyusun

iv

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Deskripsi Singkat 1.3 Tujuan Pembelajaran 1.4 Materi Pokok BAD II PENGERTIAN AMDAL 2.1 Definisi AMDAL 2.2 Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup 2.3 Distribusi Kewenangan AMDAL BAB III PERAN DAN MANFAAT AMDAL 3.1 Posisi AMDAL dalam Siklus Proyek 3.2 Peran AMDAL 3.3 Manfaat AMDAL BAB IV PROSES AMDAL 4.1 Proses AMDAL Internasional 4.2 Perkembangan AMDAL di Indonesia 4.3 Proses AMDAL yang Berlaku di Indonesia BAB V PENAPISAN 5.1 Pengertian Penapisan 5.2 Model Penapisan 5.3 Penapisan di Indonesia dan Kerangka Peraturannya BAB VI PROSEDUR KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM AMDAL 6.1 Pendahuluan 6.2 Tahap Persiapan Penyusunan AMDAL 6.3 Tahap Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL (KAANDAL) 6.4 Tahap Penilaian KAANDAL 6.5. Tahap Penilaian ANDAL, RKL dan RPL BAB VII PENUTUP 7.1 Rangkuman 7.2 Evaluasi DAFTAR PUSTAKA 22 22 23 18 19 20 21 21 15 15 15 8 10 13 6 7 7 3 4 4 1 1 1 2 iv v

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Peraturan AMDAL dan Pelaksanaannya Tabel 2 Pelaksanaan AMDAL secara International Tabel 3 Perbandingan Proses AMDAL di Indonesia 7 9 12

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Proses AMDAL secara umum Gambar 2. Periode 1987 1993 Penerapan PP no 29/1986 Gambar 3 Periode 1993 2000 ; Penerapan PP no 51/1993 Gambar 4 Pasca 2000: Penerapan PP No.27/1999 Gambar 5. Skema Mekanisme Pelibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL 6 9 10 11 16

vi

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau AMDAL telah diperkenalkan dan diterapkan di Indonesia sejak tahun 1986 melalui pemberlakuan Peraturan Pemerintah No. 29 (PP 29/1986). Namun demikian, sebelum AMDAL menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan oleh seluruh kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting sebagaimana disyaratkan oleh PP 29/1986, sudah ada beberapa usaha atau kegiatan yang menerapkan AMDAL sesuai dengan kaidah-kaidah internasional. Hal ini tidak mengherankan karena secara internasional, AMDAL telah diperkenalkan sejak tahun 1970 di Amerika melalui NEPA, National Environmental Policy Act 1969. AMDAL diterapkan secara luas di Indonesia pada tahun 1986 dan peraturan AMDAL pada saat itu juga telah mewajibkan seluruh kegiatan yang telah beroperasi di Indonesia sebelum tahun 1986 untuk mengevaluasi kinerja lingkungannya melalui kerangka kerja Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan (SEMDAL). Karenanya, di Indonesia sudah terdapat lebih dari 8.000 dokumen hasil studi AMDAL (KLH, 2004). Namun demikian, evaluasi terhadap penerapan AMDAL masih menunjukkan bahwa masih terdapat kegiatan yang bermasalah dalam pengelolaan lingkungannya. Hal ini tidak terlepas dari persepsi dalam pelaksanaan pengelolaan yang mengganggap bahwa AMDAL hanyalah merupakan syarat formalitas yang bersifat administratif dan birokratis. Hal lainnya adalah karena masih kurangnya pengetahuan tentang pengertian dan manfaat AMDAL. Lebih jauh, masih banyak faktor-faktor lain yang membuat pelaksanaan AMDAL tidak efektif. Rendahnya kualitas dokumen AMDAL juga dipengaruhi oleh hal-hal seperti: kompetensi anggota Komisi Penilai, integritas anggota Komisi Penilai, akuntabilitas proses penilaian dokumen, ataupun ketersediaan berbagai panduan AMDAL. Bahan ajar ini akan mengupas AMDAL dari segi kebijakan nasional dan pengertian AMDAL secara teknis. Harapannya, bahan ajar ini dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan pemahaman terhadap mekanisme AMDAL. Bagian utama dari bahan ajar ini akan membahas hal-hal yang mencakup pengertian, manfaat, dan proses AMDAL di Indonesia.

1.2 DESKRIPSI SINGKAT


Bahan ajar ini akan memfokuskan pembahasan pada dasar-dasar AMDAL dimana pengertian, manfaat dan proses AMDAL merupakan hal mendasar yang harus dipahami oleh seluruh stakeholder AMDAL terutama bagi para penilai AMDAL. Materi ajar ini pada dasarnya merupakan materi pembuka dari pelatihan penilaian AMDAL yang merupakan materi yang meletakkan dasar pemahaman tentang keseluruhan proses AMDAL. Dalam penggunaannya, materi ajar ini tidak terlepas dari bahan lainnya yang diantaranya terkait dengan hukum lingkungan terutama pada bagian peraturan perundangundangan tentang AMDAL, teknik konsultasi masyarakat, dan kajian alternatif-alternatif dalam AMDAL. Setelah mempelajari dan mendiskusikan bahan ajar ini, peserta pelatihan harus dapat memahami kerangka kerja keseluruhan sistem AMDAL. Secara rinci, materi ajar ini akan mencakup pengertian dampak lingkungan, pengertian AMDAL, prosedur AMDAL dan peranannya, skema penyusunan AMDAL, peranan AMDAL dalam pengelolaan lingkungan dan dalam pengelolaan proyek, jenis usaha/kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL, jenis-jenis pendekatan AMDAL, tahapan dalam studi AMDAL, dan prosedur keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL

1.3 TUJUAN PEMBELAJARAN


1.3.1 KOMPETENSI DASAR Setelah mengikuti pembelajaran materi Pengertian, manfaat dan proses AMDAL peserta diharapkan mampu memahami pengertian AMDAL dan kerangka kerja sistem atau proses AMDAL secara keseluruhan serta mengevaluasi jenis kegiatan wajib AMDAL dalam proses penapisan.

1.3.2 INDIKATOR KEBERHASILAN Memahami tujuan pembelajaran mata diklat serta mengetahui posisi mata diklat di dalam konteks keseluruhan diklat Memahami pengertian AMDAL secara umum menurut literature internasional ataupun secara khusus yang berlaku di Indonesia Menjelaskan peran dan manfaat AMDAL dalam pengelolaan lingkungan, dalam pengelolaan proyek, dan jenis-jenis pendekatan AMDAL Menguraikan kerangka kerja dan proses AMDAL dan tahapan dalam studi AMDAL Mengevaluasi jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL

1.4 MATERI POKOK


Pengertian AMDAL Peran dan manfaat AMDAL Proses AMDAL Penapisan Prosedur keterlibatan masyarakat dalam AMDAL

BAB II. PENGERTIAN AMDAL


Indikator keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diktat diharapkan dapat memahami pengertian AMDAL secara umum menurut literatur internasional ataupun secara khusus yang berlaku di Indonesia

2.1 DEFINISI AMDAL


Di dalam berbagai literatur AMDAL, terdapat banyak definisi tentang AMDAL atau EIA (Environmental Impact Assessment). Namun demikian tidak ada kesepakatan yang kaku tentang definisi tersebut. Namun demikian, definisi-definisi yang ada memiliki intisari yang serupa. Sebagai contoh, di bawah ini terdapat beberapa definisi sebagai berikut: EIA adalah proses dalam mengidentifikasi dan memprediksi dampak lingkungan potensial (termasuk biogeofisik, sosial ekonomi dan budaya) yang diakibatkan oleh tindakan, kebijakan, program, dan proyek yang direncanakan, untuk dikomunikasikan kepada pihak pengambil keputusan sebelum rencana kegiatan tersebut diputuskan untuk dilaksanakan. (Harvey, 1998, p 2) EIA formal merupakan suatu teknik yang secara sistematis mampu memadukan penilaian kualitatif dari para pakar terhadap dampak lingkungan suatu proyek dan mempu menampilkan informasi tingkat pentingnya dampak lingkungan yang diprediksi tersebut, beserta lingkup untuk memodifikasi dan menanggulangi dampak tersebut, agar dapat dievaluasi oleh pihak pengambil keputusan, sebelum keputusan diambil. (Para. 7 UK Department of Environment 1998. in Wood 1995, p 1) EIA merupakan suatu proses sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi, memprediksi, dan mengevaluasi dampak lingkungan terhadap rencana tindakan atau kegiatan/proyek. Proses ini dilakukan sebelum diambilnya keputusan terhadap keberlanjutan rencana kegiatan. Dalam hal ini, definisi lingkungan mesti dilihat dalam lingkup yang lebih luas, yang dalam arti mencakup pula aspek sosial, budaya, dan kesehatan masyarakat, yang mesti dipertimbangkan sebagai bagian integral dari AMDAL. Tujuan dari proses AMDAL ini adalah untuk mencegah, menanggulangi (mitigasi), dan menetralkan dampak lingkungan yang siginifikan dari rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. (UNEP-DTIE, Training Resource Manual, 2002) EIA merupakan studi untuk mengidentifikasi, memprediksi, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi mengenai dampak lingkungan dari rencana proyek dan detail upaya-upaya penanganan (mitigasi) yang direncanakan sebelum proyek disetujui (Department of Environment, Malaysia) Di Indonesia, kita menggunakan definisi sebagaimana yang disebutkan dalam Undang Undang No. 23/1997 dan Peraturan Pemerintah No. 27/1999, yaitu: Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada Iingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Secara sederhana, AMDAL adalah suatu proses untuk meneliti dan mengkaji dampak potensial suatu rencana usaha atau kegiatan terhadap Iingkungan hidup. Pada dasarnya pengertian tentang AMDAL mencakup beberapa prinsip sebagai berikut: Melakukan identifikasi dan prakiraan dampak potensial terhadap Iingkungan (dan kemungkinan konsekuensinya) dan terhadap kesehatan manusia. Terminologi lingkungan mencakup aspek-aspek bio-geofisik, sosial ekonomi dan budaya. Mencakup pengkajian (assessment) atau analisis dari kegiatan yang diusulkan (pada awalnya termasuk kebijakan, program, proyek, dan prosedur operasional). Menginterpretasikan dan mengkomunikasikan hasil dari kajian tersebut kepada para pengambil keputusan sebelum suatu keputusan final dihasilkan.

AMDAL umumnya merupakan suatu pengaturan dari pemerintah dan penerapannya harus mengikuti prosedur tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Itu sebabnya menjadi sangat relevan untuk menguraikan kebijakan AMDAL di Indonesia.

2.2 KEBIJAKAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Kebijakan pengelolaan Iingkungan hidup di Indonesia menganut prinsip-prinsip pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan. AMDAL termasuk pada perangkat pencegahan yang bersifat preemptive dan berusaha mengantisipasi dampak serta konsekuensi dari suatu rencana kegiatan terhadap Iingkungan hidup dan kesehatan manusia. Posisi AMDAL menjadi sangat strategis karena upaya pencegahan seringkali lebih efektif dibanding upaya pemulihan. Hal yang serupa dengan AMDAL dalam perangkat pencegahan adalah penetapan tata ruang. Suatu AMDAL tidak bisa dilakukan terhadap suatu lokasi yang penetapan tata ruangnya berbeda. Dalam pelaksanaannya, AMDAL diposisikan pada tahap perencanaan dimana analisis kelayakan teknis dan ekonomi seharusnya dilakukan bersamaan dengan analisis kelayakan lingkungan dan saling memberikan input dan feedback terhadap masing-masing studi kelayakan.

2.3 DISTRIBUSI KEWENANGAN AMDAL


Kebijakan AMDAL pada awalnya menetapkan bahwa proses AMDAL diawasi hanya pada tingkat pusat (secara sektoral) dan tingkat propinsi saja. Sejalan dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah, pada perkembangannya proses AMDAL kemudian dilaksanakan pula oleh pemerintah kota dan kabupaten. Sementara itu, di tingkat pusat yang semula kewenangannya berada pada 16 departemen sektoral, kemudian dibatasi menjadi hanya di satu instansi pusat saja yaitu di Kementerian Lingkungan Hidup. Hal ini akan lebih jelas terlihat pada paparan mengenai perkembangan AMDAL di Indonesia pada bagian selanjutnya. Pada saat ini kebijakan AMDAL mengikuti pola-pola sebagai berikut: Pemberian kewenangan pelaksanaan AMDAL yang lebih besar kepada Pemerintah Daerah. Kewajiban Pelibatan Masyarakat dalam AMDAL. Penerapan Metode Valuasi Ekonomi dalam AMDAL. Peningkatan Kualitas Penyusun AMDAL. Peningkatan Kualitas Penilai AMDAL. Persyaratan RKL/RPL dalam Ketentuan Ijin. Kebijakan Pelaksanaan UKL-UPL Penetapan Baku mutu limbah tertentu

Akibat dari distribusi kewenangan yang sangat luas ke daerah, pada saat ini masih banyak hal-hal yang kurang tepat dalam hal pelaksanaan AMDAL di daerah. Namun demikian hal ini harus lebih dipandang sebagai suatu tantangan daripada suatu kelemahan. Kebijakan desentralisasi pelaksanaan AMDAL saat ini memberikan kewenangan dan pengawasan kepada daerah yang dilandaskan pada berbagai argumentasi sebagai berikut: Daerah dipandang lebih tahu kondisi Iingkungan di daerahnya masing-masing yang memiliki kedekatan secara geografis, Dengan kedekatan tersebut, harapannya pengawasan akan Iebih efektif dilakukan oleh daerah, Upaya desentralisasi ini mendorong masyarakat setempat terlibat aktif dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan eksploitasi sumber daya alam yang dimilikinya. Pada akhirnya, proses AMDAL diharapkan dapat mempromosikan transparansi dan akuntabilitas dalam sistem kepemerintahan di daerah.

Untuk mengakomodasi kebijakan otonomi pemerintahan ini, telah ditetapkan pengaturan pembagian kewenangan antara pemerintah (pusat), propinsi, dan kabupaten/kota sesuai dengan Keputusan Menteri

Lingkungan Hidup Nomor 05 tahun 2008 tentang Tata Kerja Komisi Penilai AMDAL dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 06 tahun 2008 tentang Tata Laksana Lisensi Komisi Penilai AMDAL Kabupaten/ Kota. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengantisipasi kebijakan di atas, beberapa diantaranya adalah melalui peningkatan kualitas penyelenggaraan AMDAL yang mencakup penguatan komisi penilai AMDAL, akreditasi penyelenggara pelatihan AMDAL dan sertifikasi anggota penyusun AMDAL.

BAB III. PERAN DAN MANFAAT AMDAL


Indikator keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diktat diharapkan dapat menjelaskan peran dan manfaat AMDAL dalam pengelolaan lingkungan, dalam pengelolaan proyek, dan jenis-jenis pendekatan AMDAL

3.1 Posisi AMDAL dalam Siklus Proyek


PP 27/1999 Pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Untuk mencapai hasil kajian AMDAL yang optimum, prosedur yang dilakukan mesti pada tahap awal dalam proses perencanaan proyek, sehingga biasanya EIA dilakukan pada awal tahap Pra-Studi Kelayakan (Pre-FS) atau Studi Kelayakan (FS) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan aspek ekonomis-finansial. Berdasarkan Pasal 2 ayat 1 di atas, maka studi kelayakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis, analisis ekonomis-finansial, dan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Oleh karena itu, analisis mengenai dampak lingkungan hidup sudah harus disusun dan mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab sebelum kegiatan konstruksi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Jika kajian dilakukan di akhir siklus proyek, dikhawatirkan hasil kajian AMDAL tidak akan memberi banyak manfaat kepada pemrakarsa dan implementasi kegiatan dapat mengalami penundaan, sehingga merugikan pemrakarsa. Posisi dan masukan AMDAL dalam proses siklus perencanaan proyek terpadu diilustrasikan pada gambar berikut ini.

Gambar 1 Posisi dan Masukan AMDAL dfalam Siklus Proyek (diadaptasi dari Asian Development Bank 1997)

3.2 PERAN AMDAL


Sebagaimana telah disebutkan dalam pengertian AMDAL, terdapat beberapa fungsi dari AMDAL. Jelas disebutkan bahwa AMDAL ditujukan untuk memberi masukan dalam proses pengambilan keputusan. Lebih jauh dalam peraturan dan perundang-undangan disebutkan bahwa AMDAL harus dapat memberikan pedoman untuk upaya pencegahan, pengendalian dan pemantauan dampak dan lingkungan hidup serta memberikan informasi & data bagi perencanaan pembangunan suatu wilayah. Lebih jauh beberapa peran dan prinsip penerapan AMDAL adalah: AMDAL bagian integral dari studi kelayakan kegiatan pembangunan, AMDAL bertujuan menjaga keserasian hubungan antara berbagai kegiatan agar dampak dapat diperkirakan sejak awal perencanaan, AMDAL berfokus pada analisis: potensi masalah, potensi konflik, kendala SDA, pengaruh kegiatan sekitar terhadap proyek, Dengan AMDAL, pemrakarsa dapat menjamin bahwa proyeknya bermanfaat bagi masyarakat dan aman terhadap lingkungan.

3.3 MANFAAT AMDAL


Berdasarkan berbagai literatur dan pengalaman pelaksanaan AMDAL selama ini, beberapa manfaat dari penerapan AMDAL adalah sebagai berikut: Dapat mengetahui sejak awal dampak positif dan negatif akibat kegiatan proyek, Menjamin aspek keberlanjutan dari proyek pembangunan, Dapat menghemat penggunaan Sumber Daya Alam, Memudahkan dalam memperoleh kredit bank.

Dilihat dari manfaat-manfaat dan prinsip-prinsip di atas, nampak semuanya hal tersebut sangat ideal. Dalam kenyataannya terdapat berbagai contoh dimana rekomendasi dari suatu studi AMDAL dapat memberikan alternatif dan solusi yang lebih baik, misalnya: Rencana lokasi seperti pada Industri Semen Langkat di Sumatera Utara dan Industri Semen Gombong di Jawa Tengah atau pada lokasi landfill limbah B3 Indo Bharat Rayon di jawa Barat. Disain teknis seperti pada Proyek Pengembangan Lahan Gambut 1 Juta Hektar di Kalimantan Tengah, Pembangunan PLTA Cirata di Jawa Barat, dan Industri Semen Gombong di Jawa Tengah. Persyaratan lain LNGTangguh di Papua dan Industri Semen Makmur Indonesia di Jawa Barat.

Walaupun tidak banyak yang melakukan kajian secara rinci terhadap manfaat langsung dari AMDAL, salah satu kajian literatur menunjukkan bahwa studi AMDAL ternyata dapat merevisi biaya proyek karena terjadi penghematan setelah melakukan kajian berbagai alternatif proyek yang ada dan dampaknya di masa mendatang.

BAB IV. PROSES AMDAL


Indikator keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diktat diharapkan dapat menguraikan kerangka kerja dan proses AMDAL dan tahapan dalam studi AMDAL

4.1 PROSES AMDAL INTERNASIONAL


Pengelolaan lingkungan Hidup di Indonesia mengacu kepada UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (sebelumnya UU No. 4 tahun 1982) yang secara garis besar pada Pasal 4 menyatakan bahwa sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah: Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup; Terwujudnya manusia indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana;

terlindungnya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/ atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; Guna mencapai sasaran tersebut, salah satu perangkat pengelolaan lingkungan hidup adalah AMDAL. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa prosedur AMDAL bisa berlainan dari satu negara dengan negara lainnya. Namun demikian seluruh sistem AMDAL mengadopsi prinsip-prinsip utama dalam proses AMDALnya. Secara umum proses AMDAL mencakup proses penapisan, pelingkupan, penyiapan dokumen AMDAL, penilaian dokumenAMDAL, pengambilan keputusan dan pengelolaan serta pemantauan. Tahapan dan proses AMDAL secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1. Proses AMDAL secara umum

Berdasarkan literatur, pelaksanaan AMDAL di negara-negara ASEAN ditampilkan di bawah ini. Jelas terlihat bahwa terdapat banyak perbedaan penerapan AMDAL, baik dal tingkat adopsi, lamanya penerapan AMDAL, dan komponen-komponen dari proses AMDAL yang dipakai. Indonesia tergolong sebagai negara yang sudah cukup lama menerapkan AMDAL seperti halnya di Malaysia. Pada saat ini sistem AMDAL Indonesia bahkan telah mengadopsi seluruh komponen dari proses AMDAL yang berlaku umum. Tabel 1. Peraturan AMDAL dan Pelaksanaannya

Catatan: Untuk Indonesia kolom CIA dan Pp diberi tanda (v) karena Indonesia telah memiliki Public Consultation (KEPKA BAPEDAL 08/2000) dan Pedoman Kajian Dampak Kumulatif tahun 2006 .sumber Briffet (1999 -146) Catatan: Adhoc, prosedur administrative: L, peraturan; CIA, kajian dampak kumulatif, EMP, rencana pengelolaan lingkungan; Mi, mitigasi, Mo, pemantauan wajib, PP, partisipasi masyarakat; Pr, Prediksi; Sc, Skopuing, Sg, panduan sektoral: Sr, daftar penapisan; V, sudah diadopsi dilaksanakan; X tidak digunakan secara regular, - belum diperkenalkan. Sebenarnya Indonesia telah memiliki suatu undang-undang yang mensyaratkan pelaksanan AMDAL sejak tahun 1982 (Pemerintah Indonesia, Undang-undang No 4 Tahun 1982) Pelaksanaan AMDAL secara internasional tidak menunjJkkan perbedaan yang menyolok, dalam artian bahwa tidak semua istem AMDAL di berbagai negara-negara (bahkan di negara maju) telah mengadopsi seluruh prinsip penerapan AMDAL yang baik. Hal ini dapat dilihat pada gambar di halaman berikut. Adopsi seluruh prinsip AMDAL belum tentu dapat memberikan jaminan bahwa AMDAL telah dilaksanakan dengan baik. Tantangannya adalah bagaimana menerapkan seluruh proses AMDAL dengan baik, benar, dan konsisten. Tabel 2 Pelaksanaan AMDAL secara International
Kriteria Evaluasi
Amerika Serikat

Tingkat Pemenuhan Kriteria Tiap Negara


Inggris Belanda Kanada Australia Selandia Baru Afrika Selatan

01. Dasar Hukum 02. Cakupan 03. Alternatif 04. Penapisan 05. Pelingkupan 06. Penyusunan Dokumen AMDAL

v c v v v v

v v c v c c

v v v v v v

v x v v v c

v c v v v v

v v c v c x

v v v v v v

07. Penilaian Dokumen AMDAL 08. Pengambilan Keputusan 09. Pemantauan Dampak 10. Penanggulangan (mitigasi) 11. Konsultasi dan Partisipasi 12. Pemantauan Sistem 13. Biaya dan Manfaat 14. Kajian Lingkungan Strategis

v v x v v v c

c c x v c x v c

v c c v v v v v

c c c v v v v c

c c c v v v v c

v v x v v x x c

x x x v v v v x

v = ya; c = parsial; x = tidak

4.2 PERKEMBANGAN AMDAL DI INDONESIA


Setelab mendapatkan gambaran pelaksanaan AMDAL di berbagai negara, pokok bahasan ini akan memberikan ilustrasi bagaimana prcses AMDAL di Indonesia dilakukan. Agar diperoleh pemahaman yang lebih luas, maka evolusi pelaksanaan AMDAL di Indonesia cukup menarik untuk disimak. Pelaksanaan AMDAL di Indonesia dapat dibagi menjadi empat periode: tahap implementasi, pengembangan, perbaikan, dan revitalisasi: Tahap Implementasi: pra-1987, UU 4/1982 dan periode 1987 1993, PP No. 29/1986. Pada periode ini implementasi AMDAL masih terbatas karena masih merupakan tahap pengenalan. Hal ini disebabkan pula karena masih banyak ketidakpahaman pelaksanaan AMDAL oleh para stakeholder.

10

11

Gambar 2. Periode 1987 1993 Penerapan PP no 29/1986

Tahap Pengembangan: antara 1993 2000, PP No. 51/1993. Tahap ini memberi penekanan pada penyederhanaan proses AMDAL sejalan dengan deregulasi birokrasi pemerintahan. Muatan deregulasi mencakup penghilangan proses SEMDAL dan pengenalan berbagai pendekatan dalam proses AMDAL (proyek tunggal, terpadu, kawasan, dan regional).

12

Gambar 3 Periode 1993 2000 ; Penerapan PP no 51/1993

Tahap Perbaikan (Refinement): pasca-2000, UU 23/1997 dan PP No. 27/1999 Tahap ini memberikan penekanan pada prosedur pelibatan masyarakat, sentralisasi kewenangan dan redesentralisasi kepada pemerintah daerah serta adanya pendekatan AMDAL lintas batas. Revitalisasi AMDAL: setelah 2004-2005 Wacana perlunya undang-undang AMDAL tersendiri yang memberikan klausal sanksi hukum yang jelasterhadap pelanggar proses AMDAL, reformasi mekanisme AMDAL, pengaturan weAnang proses AMDAL sejalan dengan revisi UU 22 dan perlunya perangkat pengelolaan lingkungan lainnya (KLS,

ERA, EMS, Audit) di dalam perangkat pencegahan. Dua gambar di atas menunjukan perbedaan yang cukup mencolok pada penerapan AMDAL dalam kurun waktu sebelum tahun 1993 dan sesudahnya. Perbedaan yang terlihat jelas adalah adanya penyederhanaan proses AMDAL dimana kerangka kerja Studi Evaluasi Mengenai Dampak Lingkungan (SEMDAL) sudah tidak lagi digunakan dalam sistem dan peraturan AMDAL. Hal ini didasari oleh pertimbangan bahwa semua kegiatan yang sudah berjalan sudah memenuhi kewajibannya untuk melakukan evaluasi pengelolaan lingkungan pada kegiatan mereka. Hal ini berlaku pada berbagai usaha dan/atau kegiatan yang sudah beroperasi dimana kegiatannya sudah berjalan jauh sebelum peraturan dan perundang-undangan lingkungan hidup diperkenalkan dan diterapkan di Indonesia yaitu pada tahun 1982.

4.3 PROSES AMDAL YANG BERLAKU DI INDONESIA


Prosedur AMDAL yang berlaku pada saat ini ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Proses ini terlihat cukup sederhana namun telah mengadopsi prinsip pelibatan masyarakat yang sangat intensif pada proses pelingkupan (penyusunan dan penilaian kerangka acuan ANDAL) serta partisipasi masyarakat melalui wakil-wakilnya pada proses penilaian dokumen ANDAL, RKL dan RPL.

13

Gambar 4 Pasca 2000: Penerapan PP No.27/1999

Proses AMDAL yang berlaku saat ini juga dicirikan oleh sentralisasi kewenangan penilaian AMDAL pada instansi yang mengelola dan mengendalikan lingkungan (berbeda sebelumnya yang dilakukan oleh departemen sektoral), dan tersebar pelaksanaannya di pusat dan daerah. Untuk lebih jelasnya, perbedaan proses AMDAL dan peraturannya dapat dilihat pada skema sebagai berikut: Tabel 3 Perbandingan Proses AMDAL di Indonesia

14

BAB V. PENAPISAN
Indikator keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diktat diharapkan dapat mengevaluasi jenis usaha dan/ atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL Jika diamati pada seluruh skema, tampak bahwa penapisan (screening) adalah merupakan tahap awal yang sangat penting dari seluruh sistem AMDAL baik secara nasional ataupun secara internasional. Tabel praktek pelaksanaan AMDAL secara internasional bahkan menunjukkan bahwa penapisan merupakan suatu kriteria yang mendukung kinerja pelaksanaan AMDAL pada suatu sistem di negara-negara maju.

5.1 PENGERTIAN PENAPISAN


Penapisan pada dasarnya adalah suatu tahap untuk menentukan apakah suatu rencana usaha atau kegiatan tersebut wajib dilengkapi dengan kajian AMDAL. Dengan kata lain, tidak semua rencana usaha atau kegiatan itu harus memiliki kajian lingkungan. Kajian AMDAL hanya ditujukan kepada kegiatankegiatan yang bersifat kompleks dan mengandung ketidakpastian. Rencana kegiatan yang berskala kecil dan sudah diketahui cara penanganan dampak lingkungannya, diarahkan untuk menyusun suatu UKL dan UPL yang memiliki derajat analisis yang lebih sederhana. Selain itu, kajian AMDAL bersifat spesifik untuk suatu kegiatan dan untuk lokasi tertentu, sehingga hasil kajian AMDAL umumnya akan berbeda satu dengan Iainnya. Hal ini akan berbeda dengan pendekatan UKL UPL dimana kecenderungannya adalah bahwa untuk kegiatan-kegiatan sejenis, pendekatan pengelolaannya hampir serupa.

5.2 MODEL PENAPISAN


Sistem AMDAL di Indonesia memiliki pengalaman pelaksanaan penapisan yang berbeda dari satu masa dengan periode lainnya. Penerapan AMDAL pada periode awal mulai tahun 1987 hingga 1993 memiliki pendekatan penapisan dua langkah. Dua langkah dimaksudkan bahwa pada penapisan langkah pertama, suatu rencana kegiatan dilihat terlebih dahulu pada kegiatan wajib AMDAL yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup. Jika rencana kegiatan tersebut masuk kategori wajib AMDAL maka rencana kegiatan itu langsung menyiapkan studi ANDAL melalui penyiapan Kerangka Acuan ANDAL yang diikuti tahap selanjutnya. Penapisan langkah kedua diberlakukan jika rencana kegiatan tersebut tidak ada di dalam kegiatan wajib AMDAL maka kegiatan tersebut harus melalui penapisan melalui penyusunan suatu dokumen PIL (Penyajian Informasi Lingkungan) dimana analisisnya tidak terlalu banyak yang dilakukan namun memperlihatkan indikasi-indikasi ke arah mana studi harus ditindaklanjuti. Jika proses identifikasi dampak pada PIL mengarah pada suatu potensi dampak yang besar, maka rencana kegiatan tersebut harus melanjutkan untuk melakukan studi ANDAL dan proses selanjutnya hingga penyusunan RKL dan RPL. Di sisi lain jika identifikasi dampak dan informasi-informasi lingkungan tidak menunjukkan kecenderungan dampak lingkungan yang lebih besar, maka PIL tersebut langsung dilengkapi dengan RKL dan RPL. Pada penapisan satu langkah sebagaimana yang diberlakukan pada tahun 1993 dan 1999 melalui PP 51/1993 dan PP 27/1999, suatu rencana usaha atau kegiatan hanya menempuh satu kali penapisan yaitu melalui pemadanan terhadap daftar kegiatan wajib AMDAL. Jika positif, maka kegiatan itu langsung menempuh jalur studiANDAL hingga RKL dan RPL. Rencana usaha atau kegiatan yang tidak terkena wajib AMDAL langsung melakukan penyusunan UKL dan UPL yang pada intinya tidak melakukan analisis prediksi dampak namun langsung menyusun upaya-upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan.

15

5.3 PENAPISAN DI INDONESIA DAN KERANGKA PERATURANNYA


Sistem AMDAL di Indonesia pada saat ini menggunakan penapisan satu langkah sesuai dengan ketentuan yang ada pada Peraturan Pemerintah 27/1999. Dengan demikian suatu rencana usaha atau kegiatan hanya menempuh satu kali penapisan yaitu melalui pemadanan terhadap daftar kegiatan wajib AMDAL yang telah ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Pada hakekatnya penapisan telah dilakukan

dengan menetapkan daftar tapis yang telah disusun oleh Menteri LH setelah mendapat masukan dari berbagai instansi teknis. Untuk periode pemberlakuan Peraturan Perrterintah No. 27/1999, terdapat dua ketetapan yang diacu yaitu Keputusan Menteri LH No.17/2001 yang kemudian disempurnakan melalui Peraturan Menteri LH No. 11/2006. Dengan demikian, suatu kegiatan dibandingkan dengan daftar yang ada dalam ketetapan tersebut dan jika tercantum, langsung melakukan AMDAL. Sementara itu, rencana usaha atau kegiatan yang tidak terkena wajib AMDAL langsung melakukan penyusunan UKL dan UPL. Contoh jenis rencana kegiatan yang mesti dilengkapi dengan dokumen AMDAL, misalnya seperti pada contoh 3 bidang sebagai berikut: 1. Bidang Kehutanan

16

2. Bidang Pariwisata Pada umumnya, dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem, hidrologi, bentang alam, dan konflik sosial

3. Bidang Rekayasa Genetika Kegiatan-kegiatan yang menggunakan hasil rekayasa genetik berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem.

17

BAB VI. PROSEDUR KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM AMDAL


Indikator keberhasilan: Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diklat diharapkan dapat menjelaskan prosedur keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL

6.1 PENDAHULUAN
Setelah memahami pengertian dan manfaat AMDAL secara keseluruhan, salah satu hal yang sangat krusial dalam proses AMDAL adalah prosedur keterlibatan masyarakat. Keterlibatan masyarakt diatur di dalam suatu panduan tersendiri yaitu di dalam Keputusan Kepala Bapedal No. 08 tahun 2000. Berdasarkan pelaksanaan selama ini, pelibatan masyarakat di dalam sistem AMDAL di Indonesia memiliki karakteristik utama yang mencakup: Keterlibatan masyarakat dalam AMDAL dimulai dengan pengurnuman, Masyarakat dalam memberikan masukan dibantu oleh organisasi lingkungan/LSM, Terdapat keterlibatan langsung masyarakat yang terkena dampak dalam proses pengambilan keputusan (proses partisipasi) melalui keikutsertaan dalam Komisi Penilai AMDAL, Terdapat mekanisme konsultasi masyarakat di luar proses pengambilan keputusan, Terdapat mekanisme penyampaian masukan tertulis, dan Adanya pertemuan masyarakat yang harus dilakukan dan didorong terutama oleh pemrakarsa.

Secara sederhana, pelibatan masyarakat dalam proses AMDAL harus dilakukan dengan dasar pertimbangan bahwa: Masyarakat memang patut berkesempatan mengetahui masa depan mereka Masyarakat adalah tetangga anda Masyarakat berhak tahu tentang perubahan lingkungannya Msyarakat Iebih memahami kondisi lingkungan setempat Untuk Iebih jelasnya, mekanisme pelibatan asyarakat dalam proses

18

AMDAL dapat dilihat pada gambar di halaman berikut.

19

Mekanisme pelibatan masyarakat membagi tanggung jawab pelaksanaan dalam tiga kelompok sesuai hak dan kewajiban yang telah digariskan, yaitu apa yang menjadi bagian masyarakat, pemerintah, dan pemrakarsa. Untuk memudahkan dalam memahami mekanisme tersebut, maka pelaksanaan pelibatan masyarakat di dalam proses AMDAL diuraikan sesuai dengan tahaptahap sebagai berikut:

6.2 TAHAP PERSIAPAN PENYUSUNAN AMDAL


Proses pelibatan masyarakat diinisiasi oleh pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun dokumen AMDAL dengan melakukan beberapa hal sebagai berikut: a. Memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab; b. Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatannya terhitung sejak jadwal pengumuman yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab;

c. Mengumumkan hal-hal yang mencakup: Nama dan alamat pemrakarsa; Lokasi dan luas usaha dan/atau kegiatan, serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/atau kegiatan; Jenis usaha dan/atau kegiatan; Produk yang akan dihasilkan; Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan, serta cara penanganannya; Dampak lingkungan hidup yang akan timbul; Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan Batas waktu pemberian saran, pendapat, dan tanggapan dari warga masyarakat; dan Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran, pendapat, dan tanggapan dari warga masyarakat

Adapun dalam melakukan pengumuman diharuskan mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana telah diatur dalam pedoman Kepdal 08/2000. Selanjutnya, instansi yang bertanggung jawab wajib mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun AMDAL yang mencakup: Lokasi usaha dan/atau kegiatan serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/atau kegiatan; Jenis usaha dan/atau kegiatan; Nama dan alamat pemrakarsa; Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran, pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat; dan Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab menerima saran, pendapat, dan tanggapan dari warga masyarakat.

20

Berdasarkan pengumuman yang disampaikan oleh kedua pihak di atas, masyarakat yang berkepentingan kemudian berhak menyampaikan saran, pendapat, dan tanggapan terhadap rencana usaha dan/ atau kegiatan yang diumumkan selama periode 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal pengumuman dilaksanakan, dan disampaikan kepada instansi yang mengelola dan mengendalikan dampak lingkungan baik di pemerintah pusat maupun di daerah.

6.3 TAHAP PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL (KA ANDAL)


Pada saat penyusunan KA ANDAL, pelibatan masyarakat lebih banyak diprakarsai oleh pemrakarsa yang biasanya dibantu konsultan penyusun AMDAL atau fasilitator pelibatan masyarakat. Pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. Selanjutnya, hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. Dalam hal ini, pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA ANDAL. Untuk memperlancar konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap penyusunan KA ANDAL, pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan, kapasitas dan lokasi kegiatan), komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak, dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul; dan Mengumumkan waktu, tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuan-

pertemuan publik, lokakarya, seminar, diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah).

6.4 TAHAP PENILAIAN KA ANDAL


Pada tahap penilaian KA ANDAL, proses pelibatan masyarakat, atau lebih spesifiknya adalah partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan untuk menentukan lingkup studi ANDAL. Warga masyarakat terkena dampak memiliki hak untuk duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL melalui wakil yang telah ditetapkan dan turut melakukan penilaian terhadap KAANDAL. Secara khusus, warga masyarakat berkepentingan diharapkan dapat menyampaikan saran, pendapat, dan tanggapannya sebelum dan selama proses penilaian dengan ketentuan: Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab dan/atau pemrakarsa; Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/ atau tertulis; Disampaikan selambat-lambatnya tiga hari sebelum rapat Komisi Penilai AMDAL.

6.5. TAHAP PENILAIAN ANDAL, RKL DAN RPL


Serupa dengan tahap pada penilaian KA ANDAL, warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai melalui wakil yang telah ditetapkan. Sekali lagi warga masyarakat yang berkepentingan dapat menyampaikan saran, pendapat, dan tanggapannya dengan ketentuan yang serupa pada tahap penilaian KA ANDAL namun harus disampaikan selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari kerja setelah informasi jadwal rencana sidang penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL disebarluaskan secara resmi. Pada pelaksanaannya, proses ini bisa berkembang lebih kompleks mengikuti situasi di lapangan. Oleh karenanya, pedoman yang ada harus dipandang sebagai persyaratan minimal dan Iangkah awal dalam keseluruhan proses pelibatan masyarakat. Untuk memperoleh hasil yang memadai, bab berikut akan menggambarkan berbagai teknik konsultasi. Bab tentang keterlibatan masyarakat dalam AMDAL ini merupakan bab penutup pada modul ini. Secara substantif, materi keterlibatan masyarakat akan dibahas pula di dalam bahan ajar Teknik Konsultasi Masyarakat yang akan mengupas berbagai teknik dan strategi dalam memperoleh masukan dari masyarakat di dalam proses AMDAL.

21

BAB VI. PENUTUP


7.1 RANGKUMAN
AMDAL merupakan salah satu perangkat pengelolaan lingkungan yang menggunakan prinsip pencegahan. Perangkat ini dikenal luas secara internasional dan masih terus berkembang sesuai dengan perkembangan ilmiah dan situasional negara penggunanya. AMDAL merupakan salah satu perangkat pengelolaan lingkungan yang menggunakan prinsip pencegahan. Perangkat ini dikenal luas secara internasional dan masih digunakan oleh banyak negara bahkan oleh negara-negara maju yang memiliki sistem perencanaan yang baik. Walaupun bersifat regulatory dan menganut prinsip command and control, perangkat ini belum bisa sepenuhnya digantikan oleh perangkat lainnya yang bersifat lebih longgar dan berbasiskan voluntary. Definisi AMDAL tidak memiliki suatu konsensus secara internasional namun secara sederhana memiliki kesamaan yang pada intinya mengkaji atau menganalisis potensi dampak suatu rencana kegiatan terhadap lingkungan dan ditujukan untuk membantu proses pengambilan keputusan. Secara teoritis sudah diidentifikasi berbagai fungsi dan manfaat AMDAL seperti halnya mengatisipasi dampak-dampak lingkungan, memberikan jaminan keberlanjutan proyek, penghematan SDA, menjaga keserasian antara kegiatan dan lingkungan, serta memberikan analisis potensi-potensi masalah dan konflik. Beberapa manfaat secara nyata juga terlihat dari tersedianya alternatif dan solusi mengenai ketersediaan lokasi, alternatif rancangan teknis ataupun persyaratan lainnya. Membandingkan adopsi proses AMDAL di Indonesia dengan praktek di lingkungan regional dan internasional sebenarnya sistem AMDAL di Indonesia sudah cukup berkembang. Dengan demikian sebenarnya perangkat AMDAL ini masih bisa diharapkan manfaatnya sebagai salah satu cara dalam pengelolaan lingkungan yang tentunya tergantung pada konsistensi penerapannya di lapangan.

22

7.2 EVALUASI
1. Jelaskan tiga muatan utama di dalam definisi AMDAL 2. Uraikan perkembangan sistem AMDAL di Indonesia sejak pertama kali diterapkan 3. Jelaskan secara singkat kebijakan pelaksanaan AMDAL yang dilaksanakan saat ini 4. Apa saja landasan pemikiran yang digunakan sehingga desentralisasi pelaksanaan AMDAL dipandang menjadi sangat perlu saat ini 5. Sebutkan beberapa manfaat pelaksanaan AMDAL 6. Uraikan proses AMDAL yang berlaku saat ini 7. Bagaimana posisi pelaksanaan AMDAL di Indonesia di bandingkan dengan pelaksanaan di negara lain 8. Apa yang dimaksud dengan penapisan 9. Bagaimana penapisan dilakukan di Indonesia

DAFTAR PUSTAKA
Briffett, C. 1999. Environmental Impact Assessment in East Asia. In J. Petts (Ed.), Handbook of Environmental Impact Assessment Volume 2. Environmental ImpactAssessment in Practice: Impact and Limitations (pp. 143-167). Oxford ; Malden: Blackwell Science. Glasson, J., Chadwick, A., & Therivel, R. 1999. Introduction to environmental impact assessment: principles and procedures, process, practice and prospects (2nd ed.). London: UCL Press. Harvey, N. 1998. Environmental Impact Assessment: Procedures, Practice and Prospects in Australia. Melbourne: Oxford University Press. Pemerintah Indonesia. 1986. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Jakarta: Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Pemerintah Indonesia. 1993. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Jakarta: BAPEDAL. Pemerintah Indonesia. 1997. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1998 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: BAPEDAL. Pemerintah Indonesia. 1999. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Jakarta: BAPEDAL. Purnama, D. 2003. Reform of the EIA Process in Indonesia: Improving the Role of Public Involvement. Journal of Environmental Impact Assessment Review. Wood, C. 1995. Environmental impact assessment: a comparative review. Harlow: Longman Scientific & Technical. Wood, C. 2003. Environmental impact assessment: a comparative review (2nd ed.). Upper Saddle River ; London: Prentice Hall.

23