Anda di halaman 1dari 18

-------------------- IDK CASE 1 CITA --------------------

FISIOLOGI PENYELAMAN

Penyesuaian Terhadap Pengaruh Dalam Air Manusia dan teknologi berkemampuan untuk mengadaptasikan dirinya terhadap lingkungan dalam dunia penyelaman. Cara beradaptasi dalam lingkungan air tersebut, tentunya melalui proses pembelajaran terhadap batas-batas kemampuan fisiologinya.

A. Paru-paru & Fungsi Pernafasan

Proses bernafas membuat O2 (Oksigen) dari udara yang dihirup dapat disuplai melalui darah ke semua bagian tubuh dan melepaskan CO2 (Carbon Dioksida). Udara masuk ke paru-paru melalui airway (jalan nafas) seperti pipa yang makin menyempit (bronchi dan bronchioles) dan bercabang di kedua sisi paru-paru dari saluran udara utama (trachea). Aliran udara berakhir di alveoli (gelembung paru-paru) yang merupakan kantong-kantong udara terakhir dimana proses pertukaran O2 dan CO2 dari sirkulasi darah tubuh. Terdapat lebih dari 300 juta kantong alveoli di dalam paru-paru seseorang. Kantong udara ini dipelihara dalam keadaan terbuka oleh bahan-bahan kimia semacam deterjen yang dapat menetralkan kecenderungan alveoli untuk mengempis. Permukaan bagian luar paru-paru ditutup oleh Pleuran (selaput paru) yang licin. Selaput tersebut membatasi permukaan dari dinding dada. Kedua selaput ini terletak berdekatan sekali dan dipisahkan oleh suatu lapisan tipis cairan yang dinamakan Intra Pleural Space (ruang antara rongga selaput dada). Saat inspirasi (menarik nafas), dinding dada secara aktif tertarik keluar oleh pengerutan otot dinding sehingga diafragma (sekat rongga dada) tertarik ke bawah. Berkurangnya tekanan di dalam rongga dada menyebabkan udara mengalir ke dalam paru-paru. Terjadi upaya maksimal pengurangan tekanan yang dapat mencapai 60 sampai 100 mmHg dibawah tekanan 1 atmosfir. Saat ekspirasi (membuang nafas), paru-paru dan dinding dada mengerut. Tekanan yang meningkat di dalam dada memaksa gas-gas keluar dari paru-paru. Hal tertentu dapat terjadi tanpa upaya otot, tetapi perlu dibantu melalui tambahan hembusan nafas.

Fungsi Pernafasan: Pengukuran fungsi pernafasan ada bermacammacam,tetapi berikut adalah beberapa hal penting yang berhubungan dengan penyelaman.Adapun pengukuran Fungsi pernafasan yang dimaksud antara lain:

a. Total Lung Capacity=TLC (Kapasitas total paru-paru): dimana jumlah volume gas yang dapat ditampung oleh kedua paru-paru bila terisi penuh. Umumnya + 5-6 liter. b. Vital Capacity=VC (Kapasitas vital): adalah volume gas maksimal yang dapat dihembuskan keluar setelah dihirup secara maksimal. Umumnya + 4-5 liter. Kondisi ini juga disebut Forced Vital Capacity=FVC (daya tampung vital yang dipaksakan) c. Residual Volume=RV (Volume tersisa): adalah jumlah gas yang tertinggal di dalam paru-paru setelah dihembuskan secara maksimal. Umumnya + 1,5 liter. d. Tidal Volume (TV): adalah volume gas yang bergerak masuk dan keluar dari paruparu selagi suatu putaran pernafasan sedang istirahat secara normal. Ini biasanya kurang lebih 0,5 liter. e. Respiration Minute Volume=RMV (Volume pernafasan semenit): adalah jumlah gas yang bergerak masuk dan keluar dari paru-paru dalam satu menit yaitu TV x frekuensi pernafasan= RMV. Umumnya + 6 liter/menit dalam keadaan istirahat (0,5 liter_12kali), tetapi dapat melebihi 100 liter saat melakukan latihan yang berat. Kondisi tertentu RMV juga disebut Pulmonary Ventilation (ventilasi paru-paru)

f. Timed Vital Capacity (Kapasitas vital sewaktu): adalah bagian dari VC yang dapat dihembuskan dalam waktu tertentu, umumnya dalam 1 detik dan sering disebut Forced

Expiratory Volume=FEV (volume ekspirasi yang dipaksakan). Orang dewasa yang sehat VC harus melebihi 75% dari FEV, tetapi berkurangnya kemampuan karena mengidap penyakit seperti asma, bronchitis, emphysema, dll, membuat gerakan udara yang melalui saluran udara melemah karena menyempitnya saluran atau kekenyalan dari paru yang disebabkan oleh pengerasan, goresan, dan hal lainnya. Pemeriksaan kondisi dan kemampuan paru-paru secara medis harus dilakukan dengan teliti dan cermat terutama jika akan melakukan aktifitas penyelaman guna menghindari kecenderungan mengidap penyakit Pulmonary Barotrauma/Brust Lung (pengkerutan paru). Parameter-parameter diatas menjadi mekanisme yang penting untuk memahami fisiologi pernafasan yang secara relatif memungkinkan prediksi terhadap kondisi: Resiko barotrauma paru sewaktu descent (bergerak turun) dan ascent (bergerak naik) Durasi, konsumsi dan aktifitas yang berhubungan dengan udara tabung terutama jika terpakai habis. Kedalaman maksimum yang aman saat menyelam skin diving. Kelelahan bernafas dikarenakan peralatan selam kurang berdaya guna. Kekurangan O2 (Hypoxia) dikarenakan ventilasi paru-paru yang tak cukup dan halhal lainnya.

Struktur Alveoli berupa kantong kecil dan tipis,melekat erat dengan lapisan pembuluh-pembuluh darah halus (kapiler) yang membawa darah bebas O2 dari jantung. Molekul 02 disaring melalui dinding pembuluh darah tersebut untuk masuk ke aliran darah. Sama halnya dengan CO2 yang dilepaskan dari aliran darah ke dalam kantong udara untuk dikeluarkan melalui pernafasan. Saat tersebut akan menentukan jumlah oksigen yang masuk ke dalam darah dan jumlah CO2 yang dikeluarkan dari darah. Gas cenderung untuk berdifusi dari daerah dengan tekanan partial tinggi ke daerah dengan tekanan partial lebih rendah terjadi karena selisih tekanan (pressure gradient). Selisih tekanan O2 dari aveoli ke aliran darah atau sebaliknya, selisih tekanan CO2 dari saluran darah ke aveoli menentukan pertukaran gas tersebut di paru-paru. Keseimbangan akan terjadi

dengan masuknya O2 ke aliran darah dari paru-paru dan dengan masuknya CO2 dari aliran darah ke paru-paru. Selisih tekanan yang sama juga terjadi pada tingkat jaringan darah, dimana CO2 dilepas oleh jaringan masuk ke aliran darah dan O2 berdifusi di dalam jaringan tubuh. Proses ini berulang di tiap proses pernafasan dan sirkulasi darah. Pertukaran gas melalui proses difusi yang bergantung pada tingkatan yang sesuai dengan BJ (berat jenis) gas bersangkutan. Di alveoli, O2 berdifusi lebih cepat dari CO2 karena BJ-nya lebih rendah. Difusi gas di dalam jaringan tubuh sangat dipengaruhi oleh daya larutnya di dalam cairan jaringan dan darah. Karena CO2 +24 kali lebih mudah larut di dalam darah dibandingkan O2, maka keseluruhan kecepatan difusi CO2 akan meningkat + 20 kali lipat. Difusi gas akan menurun dipengaruhi beberapa faktor seperti kelainan-kelainan dinding alveoli, peredaran pembuluh darah halus yang tidak sempurna mengurangi suplai darah ke alveoli. Salah satu dari hal diatas juga menyebabkan kurangnya O2 kedalam darah dan berkurangnya CO2 dari darah. Jadi Hypoxia (kekurangan O2) / Hypercapnia (kelebihan CO2) dapat terjadi.

Pengawasan Pernafasan Untuk mempertahankan kadar 02 dan C02, volume pernafasan semenit harus seimbang dengan pemakaian 02 dan kecepatannya dalam menghasilkan C02. Pernafasan diatur oleh pusat pernafasan utama sesuai kadar C02 di dalam darah. Pengaruh sensor di dalam aorta dan arteri karotis akan mengamati perubahan-perubahan kadar 02 dalam darah. Hal ini menerangkan mengapa ketidak-sadaran dapat terjadi bila melakukan hyperventilasi sebelum penyelaman tahan nafas.Hyperventiolasi dapat membuat pusat pernafasan tidak dirangsang oleh pengeuranagan kadar C02, sehingga berdampak pada kegagalan bereaksi terhadap bahaya kekurangan kadar 02 juga selama menyelam dan sewaktu ascent.

Bahaya Hiperventilasi Setelah melakukan hyperventilasi, penyelam saat descent masih tetap merasa nyaman. Namun saat ascent, tekanan partial 02 menurun dengan cepat, penyelam mulai merasa sesak dan perasaan sukar bernafas. Pada beberapa kasus menyebabkan hilangnya kesadaran yang dikenal dengan istilah shallow water black-out karena telah terjadi anoxia (kehabisan oksigen).

Teknik hiperventilasi jangan dilakukan berlebihan, cukup dilakukan 2 atau 3 kali saja, dan jangan memaksakan kondisi diri saat skin diving. Gejala-gejala hiperventilasi yang berlebihan adalah merasa lemah, pusing, sakit kepala dan berkunangkunang,bahkan mungkin terjadi black-out (pingsan) di kedalaman.

B. Jantung & Fungsi Peredaran Darah

Peredaran darah yang dimaksud secara sederhana adalah proses transportasi O2 ke dan dari jaringan-jaringan tubuh dengan membawa kembali C02 ke paru-paru. Sistem sirkulasi dikedalikan oleh jantung selayaknya pompa sentral.Darah dari jantung ke jaringan melalui pembuluh darah besar yang disebut Arteri. Kemudian bercabang-cabang ke pembuluh kecil (Arteriol) hingga ke jaringan tubuh Berupa pembuluh-pembuluh halus (kapiler).Jaringan pembuluh kapiler membawa kembali darah yang tidak mengandung O2, masuk ke pembuluh-pembuluh darah kecil yang akan bergabung ke sistem pembuluh darah balik yang lebih besar disebut Vena dan kembali ke jantung. Istilah sirkulasi muatan darah di paru-paru terbalik dengan organ jantung, karena disini arteri paru-paru membawa darah yang bebas 02, sedangkan vena paru-paru membawa darah yang mengandung 02 dari paru-paru ke jantung. Pembuluh arteri mensirkulasikan darah pada tekanan tertentu dan memiliki dinding otot yang tebal. Dinding vena cenderung menipis dan tidak elastic karena tekanan darah di dalamnya rendah. Dinding pembuluh kapiler terdiri dari suatu lapisan tunggal dan sel-sel untuk mempermudah difusi gas. Jantung itu sendiri merupakan satu unit yang terdiri dari dua bilik (ventrikel) dan dua serambi (atrium). Katup-katup (valves) menjaga agar darah tidak mengalir balik ke dalam atrium bila ventrikel mengerut. Setiap sisi jantung bebas dari pada yang lainnya, tetapi masing-masing mengkerut secara bersamaan pada setiap putaran. Kecepatan mengkerut jantung berbeda pada tiap-tiap orang, ratarata kecepatan normal pada saat istirahat adalah 60-80 per menit dan pada saat bekerja antara 80-150 per menit. Pada umumnya di dalam tubuh terdapat + 6 liter darah yang terdiri dari cairan serum, zat pembeku darah (plasma), sel-sel darah merah yang mengandung 02 dan C02, serta sel-sel darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Volume darah biasanya konstan, tetapi kecepatan peredaran darah sangat berbeda dan tergantung pada kebutuhan 02 oleh jaringan. Oleh karena itu, pada waktu kerja, denyut nadi atau jantung akan meningkat agar dapat

mensuplai lebih banyak darah dengan O2 ke dalam jaringan. Saat yang bersamaan, lebih banyak C02 yang dilepaskan jaringan. Pengisian jantung juga akan meningkat pada setiap siklusnya yang meningkatkan kompresi suplai darah. Jantung mampu memompa kurang lebih 4 s/d 5 liter darah per menit pada waktu istirahat, dan bisa mencapai 25 liter pada saat latihan atau bekerja. Tekanan darah dan volume darah harus tetap berada dalam batas tertentu agar jaringan tubuh tidak kekurangan 02 dan mencegah pecahnya arteri. Tekanan darah tergantung pada kecepatan dan kekuatan pengerutan jantung dan daya tahan arteri terhadap aliran darah. Faktor-faktor ini masuk dalam pengawasan susunan saraf yang pada gilirannya dipengaruhi oleh organ-organ tubuh yang peka terhadap perubahan tekanan. Tekanan darah saat istirahat, normalnya 120 s/d 140 mmHg selagi jantung mengkerut (sistolik) dan 70-80 mmHg sewaktu jantung mengembang (diastolik). Tekanan darah ini diukur pada saat yang sama dan tertulis sistolik / diastolik, contohnya 120/70. Apabila tekanan darah turun, peredaran darah berkurang dan terjadi penyusutan kadar 02 ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Peredaran darah yang terlalu cepat dapat mengurangi volume darah yang berdampak pada penurunan tekanan darah. Shock akan dialami jika terjadi penurunan tekana darah yang hebat. Bila shock tidak dapat diatasi, akan mengakibatkan kematian karena suplai darah yang membawa 02 ke jaringan berkurang, terutama ke jaringan otak. Mengatasi shock antara lain dengan memberikan cairan (infus) melalui pembuluh darah (intra vena) agar meningkatkan volume darah dan tekanan darah.

Transportasi Gas ke Jaringan Tubuh & Paru-paru: karena tekanan partial dari oksigen relatif rendah pada tekanan atmosfir (1 ATA) maka hanya sedikit O2 yang terbawa di dalam darah dan terlarut secara fisik). Sebagian besar O2 yang disuplai ke jaringan tubuh akan dibawa dalam kombinasi dengan protein yang berada dalam sel darah merah yaitu haemoglobin (Hb). Haemoglobin (Hb) memiliki daya ikat yang besar terhadap O2 dan menjadi 98% jenuh dengan O2 pada tekanan 1 ATA di dalam alveoli. Peningkatan hingga 100% terjadi bila menghirup atmosfir yang O2-nya sudah diperkaya (30% atau lebih). Penyelam yang menggunakan udara pernafasan dengan meiningkatkan kadar O2-nya (Enriched Air) sering dilakukan pada penyelaman yang disebut "NITROX". Selama tekanan partial dari O2 ke dalam jaringan pada kisaran 40 mmHg, O2 akan dilepaskan dari sel-sel darah merah ke jaringan tubuh. Tetapi tidak semua Hb melepaskan O2, karena + 75% Hb tetap jenuh dan larut dalam vena untuk kembali ke

jantung. Hb akan mengeluarkan lebih banyak O2 pada tekanan oksigen yang rendah, dengan demikian dapat membantu jaringan tubuh yang kekurangan O2. Darah arteri membawa. sejumlah + 20 ml O2 per 100ml darah. Darah di vena dalam keadaan istirahat, kejenuhan Haemoglobinnya(Hb) +75% dan karena jumlah O2 yang terkandung adalah +15ml per 100ml darah jaringan-jaringan tubuh akan memindahkan +5ml O2 per 100ml darah. Jumlah ini akan meningkat saat bekerja. Transportasi CO2 merupakan akibat langsung dari daya larut O2 di dalam darah dan sel-sel darah merah, dan kemampuan larutnya akan tergantung pada tekanan partial CO2 di jaringan dan darah. Sejumlah CO2 larut di dalam darah secara fisik, tetapi sebagian besar terlarut dalam cairan di sel-sel darah merah yang memudahkan C02 untuk bergabung dengan berbagai macam zat-zat kimia dan air yang membentuk asam karbonat.

C. Sinus

Sinus adalah rongga udara yang terdapat di kepala. Terdapat 4 macam sinus di kepala yaitu : a. Sinus Frontalis b. Sinus Ethmoidalis c. Sinus Maxilaris d. Sinus Splienodalis Semua sinus tersebut berhubungan dengan nasopharing melalui saluran udara berongga agar udara dapat masuk dan keluar serta untuk mengeluarkan genangan cairan yang mungkin terjadi. Apabila saluran ke dalam rongga sinus tersumbat, maka udara pernafasan dari hidung dan tenggorokan tidak akan dapat masuk ke dalam rongga sinus untuk mengimbangi tekanan pada jaringan. Terjadilah pembengkakan dan mungkin disusul dengan pendarahan jaringan yang menempati sebagian dari rongga sinus. Sumbatan pada saluran udara dapat disebabkan oleh keadaan-keadaan berikut : a. Sinusitis (infeksi atau alergi) dimana pembengkakan dan kongesti (radang) jaringan menyebabkan hambatan mekanis. b. Rhinitis (high-fever), prosesnya sama dengan sinusitis. c. Polip (pertumbuhan jaringan kecil/tulang muda yang dapat menyumbat saluran sinus). d. Lipatan jaringan yang berlebihan. e. Sumbatan oleh lendir yang mengering

D. TELINGA Telinga terdiri dari 3 bagian utama yaitu a. Telinga bagian luar. b. Telinga bagian tengah. c. Telinga bagian dalam. Masing-masing bagian telinga tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda. Telinga bagian luar adalah daun telinga yang berperan dalam melindungi saluran auditor. Saluran ini dilindungi rambut dan kelenjar keringat yang mengeluarkan lilin untuk menangkap partikel asing. Telinga bagian tengah merupakan rongga udara yang dikelilingi oleh jaringan dan tulang-tulang yang dapat menahan tekanan udara, di dalamnya terdapat tulang-tulang penghantar yang menghubungkan gendang telinga dengan telinga bagian dalam.

Gendang telinga adalah selaput yang lentur dan peka yang memisahkan kedua bagian teIinga ini. Sedangkan telinga bagian dalam tidak mempunyai rongga udara, terletak diantara tulang dan terdiri dari organ pendengaran dan keseimbangan yang berisi cairan. Telinga bagian tengah dan dalam dipisahkan oleh dua selaput tipis yaitu tingkap lonjong (oval window) dan tingkap bundar (round window). Pada saat penyelam turun ke kedalaman, tekanan di kedalaman akan berpengaruh ke telinga bagian tengah dan secara tidak langsung ke telinga dalam. Ekualisasi tekanan terhadap rongga telinga tengah perlu dilakukan pada setiap perubahan tekanan sekeliling dimana penyelam berada. Ekualisasi tekanan dilakukan dengan mengalirkan udara yang bertekanan sama dengan tekanan sekelilingnya melalui saluran Eustachian (penghubung telinga tengah dengan tenggorokan)

-------------------- IDK CASE 2 CITA --------------------

Trombosis Vena Dalam


Definisi Trombosis Vena Dalam (Deep Vein Thrombosis (DVT)) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan ditemukannya bekuan darah di dalam vena dalam. Bekuan yang terbentuk di dalam suatu pembuluh darah disebut trombus. Trombus bisa terjadi baik di vena superfisial (vena permukaan) maupun di vena dalam, tetapi yang berbahaya adalah yang terbentuk di vena dalam. Trombosis vena dalam sangat berbahaya karena seluruh atau sebagian dari trombus bias pecah, mengikuti aliran darah dan tersangkut di dalam arteri yang sempit di paruparusehingga menyumbat aliran darah. Trombus yang berpindah-pindah disebut emboli. Epidemiologi Terdapat 1 diantara 1000 orang yang menderita kelainan ini. Faktor resiko Imobilitas nyata Dehidrasi keganasan lanjut Riwayat DVT Varises vena Operasi atau trauma pada anggota gerak bawah/ pelvis Lain-lain : pemakaian obat kontrasepsi mengandung estrogen, kehamilan, gagal jantung kongestif kronik, obesitas, merokok, usia tua Etiologi dan patofisiologi Trias Virchow : 1. Stasis aliran darah : terjadi pada pasien yang menjalani tirah baring dalam waktu yang lama karena otot betis tidak berkontraksi dan memompa darah menuju jantung. Misalnya trombosis vena dalam bisa terjadi pada penderita serangan jantung yang berbaring selama beberapa hari dimana tungkai sangat sedikit digerakkan; atau pada penderita lumpuh yang duduk terus menerus dan ototnya tidak berfungsi. Trombosis juga bisa terjadi pada orang sehat yang duduk terlalu lama (misalnya ketika menempuh perjalanan atau penerbangan jauh). 2. Cedera endotel : perubahan endotel yang tidak jelas yang disebabkan oleh perubahan kimiawi, iskemia/anoksia/peradangan. 3. Hiperkoagulabilitas darah : merupakan interaksi kompleks antara berbagai macam variable termasukn endotel pembuluh darah, factor pembekuan dan trombosit, komposisi, sifat-sifat aliran darah dan system fibrinolitik intrinsic menyeimbangkan system pembekuan melalui lisis dan disolusi bekuan untuk mempertahankan patensi vascular. terjadi pada beberapa kanker dan pemakaian pil KB (lebih jarang). Cedera

atau pembedahan mayor juga bias meningkatkan kecenderungan terbentuknya bekuan darah. Manifestasi Klinis Sekitar 50% penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali. Jika trombosis menyebabkan peradangan hebat dan penyumbatan aliran darah, otot betis akan membengkak dan biasa timbul rasa nyeri, nyeri tumpul jika disentuh dan teraba hangat. Pergelangan kaki, kaki atau paha juga bisa membengkak, tergantung kepada vena mana yang terkena. Beberapa trombus mengalami penyembuhan dan berubah menjadi jaringan parut, yang biasa merusak katup dalam vena. Sebagai akibatnya terjadi pengumpulan cairan (edema) yang menyebabkan pembengkakan pada pergelangan kaki. Jika penyumbatannya tinggi, edema bisa menjalar ke tungkai dan bahkan sampai ke paha. Pagi sampai sore hari edema akan memburuk karena efek dari gaya gravitasi ketika duduk atau berdiri. Sepanjang malam edema akan menghilang karena jika kaki berada dalam posisi mendatar, maka pengosongan vena akan berlangsung dengan baik. Gejala lanjut dari trombosis adalah pewarnaan coklat pada kulit, biasanya di atas pergelangan kaki. Hal ini disebabkan oleh keluarnya sel darah merah dari vena yang teregang ke dalam kulit. Kulit yang berubah warnanya ini sangat peka, cedera ringanpun (misalnya garukan atau benturan), bisa merobek kulit dan menyebabkan timbulnya luka terbuka (ulkus, borok). Klasifikasi Phlegmasia adalah keadaan trombosis vena iliaka-femoralis yang luas, ditandai pembengkakan (pembengkakan akibat gangguan aliran vena dan limfe) ekstremitas inferior, dan stasis pada vena-dalam tersebut dapat menimbulkan gangguan aliran arteri sehingga terjadi tanda-tanda iskhemia pada kaki. Phlegmasia alba dolens, adalah keadaan yang lebih ringan , yaitu tidak terjadi iskhemia, fungsi saraf masih normal. Bila tidak segera ditangani dapat timbul gangren kaki yang merambat ke proksimal. palpasi denyut arteri kaki dan fungsi saraf sensoris dan motoris masih normal, ekstremitas bengkak dan berwarna pucat. Phlegmasia cerulea dolens, adalah keadaan phlegmasia yang lebih berat , ditandai ekstremitas berwarna biru, bengkak, petechiae, bullae, insufisiensi arteri (iskemia), gangguan saraf sensoris dan motoris pada bagian distal. Bila oklusi vena dalam menetap, akan terjadi tanda-tanda gangguan aliran darah pada arteri berupa iskhemia, nekrosis dan gangren. Diagnosis a. Ascending venografi (invasif) merupakan gold standard untuk diagnosis thrombosis vena dalam, walaupun membutuhkan fasilitas peralatan dan teknik pemeriksaan, dan timbulnya komplikasi (nyeri, ekstravasasi zat kontras, dan thrombosis). Oleh karena alasan tersebut maka untuk keperluan diagnosis saat ini berpindah pada penggunaan peralatan yang non-invasif. b. Doppler ultrasonografi: Walaupun teknik gelombang kontinyu (continuous-wave) ultrasonografi ini merupakan cara termudah, murah, non-invasif, dan dibandingkan dengan ascending venography memiliki specificity 88%, sensitivity 83%, tenik ini

tidak baik untuk evaluasi trombosis yang berulang/rekuren karena tidak dapat membedakan trombosis lama dengan yang baru pada sindroma postrombotik. Komplikasi Emboli paru Pengobatan Pembengkakan Tungkai Pembengkakan dapat dikurangi dengan cara berbaring dan menaikkan tungkai atau dengan menggunakan perban kompresi. Perban ini harus dipasang oleh dokter atau perawat dan dipakai selama beberapa hari. Selama pemasangan perban, penderita harus tetap berjalan. Jika pembengkakan belum seluruhnya hilang, perban harus kembali digunakan. Jika perban kompresi sudah tidak dikenakan lagi, maka untuk mencegah kambuhnya pembengkakan penderita diharuskan menggunakan stoking elastis setiap hari. Stoking tidak harus digunakan di atas lutut, karena pembengkakan di atas lutut tidak menyebabkan komplikasi. Ulkus di Kulit Jika timbul ulkus (luka terbuka, borok) di kulit yang terasa nyeri, gunakan perban kompresi 1-2 kali/minggu karena bisa memperbaiki aliran darah dalam vena. Ulkus hampir selalu mengalami infeksi dan mengeluarkan nanah berbau. Jika aliran darah di dalam vena sudah membaik, ulkus akan sembuh dengan sendirinya. Untuk mencegah kekambuhan, setelah ulkus sembuh, gunakan stoking elastis setiap hari. Meskipun jarang terjadi, pada ulkus yang tidak kunjung sembuh, kadang perlu dilakukan pencangkokan kulit. Terapi antikoagulan Enoksaparin 1 mg/kg secara subkutan setiap 12 jam Heparin secara infuse IV dengan dosis pembebanan 80 unit/kg, dilanjutkan infuse 18 unit/kg disesuaikan dengan keadaan pasien LMWH (heparin dengan berat molekul rendah) biasanya diberikan pada pasien dengan DVT / emboli paru yang tersumbat aliran vena nya, pada pasien rawat jalan yang telah selesai menggunakan antikoagulan, wanita yang sedang hamil. Antikoagulan oral dengan warfarin diberikan sebelum penghentian heparin atau enoksaparin berlanjut selama 3-6 bulan pada pasien dengan resiko sementara (pasca operasi) atau dengan penyebab DVT yang idiopatikdan dilanjutkan selama 12 bulan atau seumur hidup pada pasien DVT berulang atau dengan factor resiko yang terus menerus Obat fibrinolitik (streptokinase, urokinase) : harus dimulai dalam 24-48 jam setelah awitan DVT, kontraindikasi pada pasien pasca operasi/ perdarahan saluran cerna. Pengobatan DVT yang sudah menetap Tirah baring; pergerakan secara bertahap dan kompresi dari luar dengan kaus kaki; operasi (trombektomi/pemotongan vena kava untuk mencegah emboli paru) melibatkan insersi

sebuah kateter fogarty berujung balon melalui venotomi balon tersebut dikembangkan dan kateter ditarik untuk mengeluarkan bekuan. Apabila pengobatan antikoagulan gagal, aliran vena melalui vena kava inferior diputus total atau sebagian dengan jepitan yang dibuat khusus atau dengan jahitan. PENCEGAHAN Meskipun resiko dari trombosis vena dalam tidak dapat dihilangkan seluruhnya, tetapi dapat dikurangi melalui beberapa cara: Orang-orang yang beresiko menderita trombosis vena dalam (misalnya baru saja menjalani pembedahan mayor atau baru saja melakukan perjalanan panjang), sebaiknya melakukan gerakan menekuk dan meregangkan pergelangan kakinya sebanyak 10 kali setiap 30 menit. Terus menerus menggunakan stoking elastis akan membuat vena sedikit menyempit dan darah mengalir lebih cepat, sehingga bekuan darah tidak mudah terbentuk. Tetapi stoking elastis memberikan sedikit perlindungan dan jika tidak digunakan dengan benar, bisa memperburuk keadaan dengan menimbulkan menyumbat aliran darah di tungkai. Yang lebih efektif dalam mengurangi pembentukan bekuan darah adalah pemberian obat antikoagulan sebelum, selama dan kadang setelah pembedahan. Stoking pneumatik merupakan cara lainnya untuk mencegah pembentukan bekuan darah. Stoking ini terbuat dari plastik, secara otomatis memompa dan mengosongkan melalui suatu pompa listrik, karena itu secara berulang-ulang akan meremas betis dan mengosongkan vena. Stoking digunakan sebelum, selama dan sesudah pembedahan sampai penderita bisa berjalan kembali.

-------------------- IDK CASE 3 CITA --------------------

HEAT CRAMPS
Definisi Heat Cramps adalah kejang otot hebat akibat keringat berlebihan, yang terjadi selama melakukan aktivitas pada cuaca yang sangat panas. Biasanya kejang otot yang terjadi pada tangan, kaki, atau perut. Jika tidak segera diatasi, heat cramps bisa menyebabkan heat exhaustion, yang selanjutnya bisa berkembang menjadi heatstroke

Etiologi Disebabkan oleh hilangnya banyak cairan dan garam (Na, K, Mg) akibat keringat yang berlebihan, yang sering terjadi ketika: Melakukan aktivitas fisik yang berat atau lama Suhu atau kelembaban yang tinggi Dehidrasi (kehilangan cairan tubuh) Pakaian yang bertumpuk-tumpuk Pemakaian alkohol Obat-obatan (misalnya diuretik, neuroleptik, fenotiazin dan antikolinergik) Penyakit jantung dan pembuluh darah Kelainan fungsi kelenjar keringat.

Faktor Resiko - Kelembaban yang tinggi sehingga menyebabkan berkurangnya efek pendinginan oleh keringat. - Pemakaian tenaga yang kuat dalam waktu lama sehingga menyebabkan bertambahnya panas yang dihasilkan oleh otot. - Orang-orang yang sangat peka terhadap kelainan panas: Lanjut usia. Obesitas Alkoholik Pemakai obat tertentu (misalnya antihistamin, anti-psikosa, alkohol, kokain)

Gejala Klinis - Kram yang tiba - tiba mulai timbul di tangan, betis atau kaki. - Otot menjadi keras, tegang dan sulit untuk dikendurkan, terasa sangat nyeri.

Pencegahan - Hindari aktivitas berat di dalam lingkungan yang sangat panas atau di dalam ruangan yang sirkulasinya buruk - Dalam cuaca panas, gunakanlah pakaian yang longgar dan ringan - Istirahat dan berlindung di tempat yang teduh - Hindari tempat yang panas - Banyak minum air - Hindari panas yang berlebihan jika: Sedang mengkonsumsi obat-obatan yang menyebabkan terganggunya pengaturan suhu tubuh Obesitas Lanjut usia - Berolah raga secara bertahap dan tingkatkan asupan air dan elektrolit

-------------------- IDK CASE 4 CITA --------------------

PERAN DOKTER PUSKESMAS SAAT BENCANA


Pendahuluan Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara geografis terletak pada wilayah yang rawan terhadap bencana alam baik yang berupa tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, banjir, dan lainnya. Disamping itu, akibat dari hasil pembangunan dan adanya sosio kultural yang multidimensi, Indonesia juga rawan terhadap bencana karena ulah manusia seperti kerusuhan sosial maupun politik, kecelakaan transportasi, kecelakan industri, dan kejadian luar biasa akibat wabah penyakit menular. Dalam memberikan pelayanan kesehatan pada berbagai bencana alam setiap tingkat, jajaran kesehatan memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Pengorganisasian 1. Tingkat Pusat, penanggung jawab adalah Menteri Kesehatan dibawah koordinasi Ketua Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana yaitu Wakil Presiden. Pelaksanaan tugas di lingkungan Kemenkes dikoordinir oleh Sekretaris Jenderal dalam hal ini Kepala Pusat Penanggulangan Masalah Kesehatan 2. Tingkat Provinsi, penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi. Dibawah koordinasi Satuan Koordinasi Pelaksanaan Penanganan Bencana yang diketuai Gubernur. Bila diperlukan dapat meminta bantuan Kemenkes. Pelaksanaan tugas di lingkungan DinKes dikoordinir oleh unit yang ditunjuk oleh KaDinKes dengan Surat Keputusan. 3. Tingkat Kabupaten/Kota, penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dibawah koordinasi Satuan Pelaksana Penanganan Bencana yaitu yang diketuai Bupati/Walikota. Dapat meminta bantuan pada provinsi. Pelaksanaan tugas di lingkungan DinKes Kabupaten/Kota dikoordinir oleh unit yang ditunjuk oleh KaDinKes dengan Surat Keputusan. 4. Tingkat Kecamatan, penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota. Dalam pelaksanaan tugas pelayanan kesehatan dalam penanganan bencana di Kecamatan adalah kepala Puskesmas, dibawah koordinasi Satuan Tugas Penanganan Bencana yang diketuai Camat Pelaksanaan Kegiatan

1. Pra Bencana Kepala Puskesmas melakukan kegiatan: a) Membuat peta geomedik daerah rawan bencana b) Membuat jalur evakuasi c) Mengadakan pelatihan d) Invetarisasi sumber daya sesuai dengan potensi bahaya yang mungkin terjadi e) Menerima dan menindaklanjuti informasi peringatan dini (Early Warning System) untuk kesiapsiagaan bidang kesehatan f) Membentuk tim kesehatan lapangan yang tergabung dalam satgas g) Mengadakan koordinasi lintas sektor

2. Saat Bencana Kepala Puskesmas di lokasi bencana melakukan kegiatan: a) Beserta staf menuju lokasi bencana dengan membawa peralatan yang diperlukan untuk melaksanakan triase dan memberikan pertolongan pertama b) Melaporkan kepada Kadinkes Kabupaten/Kota tentang terjadinya bencana c) Melakukan Initial Rapid Health Assessment(Penilaian Cepat Masalah Kesehatan Awal) d) Menyerahkan tanggung jawab kepada Kadinkes Kabupaten/Kota apabila telah tiba di lokasi e) Apabila kejadian bencana melampaui batas wilayah kecamatan, maka penanggung jawab adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota

3. Pasca Bencana a) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar di penampungan dengan mendirikan Pos Kesehatan Lapangan b) Melaksanakan pemeriksaan kualitas air bersih dan pengawasan sanitasi lingkungan c) Melaksanakan surveilans penyakit menular atau gizi buruk yang mungkin timbul d) Segera melapor ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota bila terjadi KLB penyakit menular dan gizi buruk

e) Memfasilitasi relawan, kader, dan petugas pemerintah tingkat kecamatan dalam memberikan KIE kepada masyarakat luas, bimbingan kepada kelompok yang berpotensi mengalami gangguan stress pasca trauma, memberikan konseling pada individu yang berpotensi mengalami gangguan stress pasca trauma f) Merujuk penderita yang tidak dapat ditangani dengan konseling awal dan membutuhkan konseling lanjut, psikoterapim atau pelayanan lebih spesifik.