Anda di halaman 1dari 14

Sejarah Virus: pertama kali berhasil diisolasi tahun 1983 oleh dr.

Luc Montagnier, tahun 1986 disepakati dunia Internasional bernama Human Immunodeficiency Virus (HIV). Sejarah di Indonesia:1983, berita tidak resmi menyatakan sedikitnya 3 kasus AIDS di Jakarta. 1987, kasus AIDS resmi pertama

Data kasus sejak 1 Juli 1987 sampai september 2008 total HIV dan AIDS 21.413 orang dengan angka kematian 3197 jiwa. (sumber: Depkes) Metode transmisi terbanyak: o Heteroseksual (7053 orang) o Pengguna Napza Suntik /Penasun (6478 orang) Kelompok usia terbanyak: 20-29 tahun (7735 orang) 4251 org adalah Penasun

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus golongan RNA yang spesifik menyerang sistem kekebalan tubuh/imunitas manusia dan menyebabkan AIDS. HIV positif adalah orang yang telah terinfeksi virus HIV dan tubuh telah membentuk antibodi (zat anti) terhadap virus tersebut. Mereka berpotensi sebagai sumber penularan bagi orang lain. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome/Sindroma Defisiensi Imun Akut/SIDA) adalah kumpulan gejala klinis akibat penurunan sistem imun yang timbul akibat infeksi HIV. AIDS sering bermanifestasi dengan munculnya berbagai penyakit infeksi oportunistik, keganasan, gangguan metabolisme dan lainnya.

DATA KASUS HIV SAMPAI 2011

Departemen Kesehatan melalui subdirektorat Kebijakan Departemen Kesehatan RI mengenai HIV dan AIDS : Visi Penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia (menurut Ditjen P2PL) : Terkendalinya penyebaran infeksi HIV DAN AIDS dan IMS dan meningkatnya kualitas hidup orang dengan HIV danAIDS (Odha). Misi Pengendalian HIV dan AIDS di Indonesia :

Pengendalian penyebaran infeksi HIV, IMS dan dampak HIV dan AIDS, dilakukan melalui :
1. Upaya pencegahan 2. Meningkatkan kualitas pelayanan jangkauan Odha dan masyarakat.

Tujuan Penanggulangan HIV dan AIDS : 1. Menurunkan penyebaran dan Penularan HIV 2. Meningkatkan Kualitas hidup Pengidap HIV, keluarga, dan masyarakat sekitarnya. 3. Menurunkan Prevalensi IMS 4. Mereduksi perilaku risiko tinggi (seksual, penyuntikan narkoba). 5. Peningkatan kemampuan Institusi penanggulangan. 6. Peningkatan Pengetahuan dan kesadaran masyarakat

Transmisi HIV secara umum dapat terjadi melalui empat jalur, yaitu : 1. Kontak seksual: HIV terdapat pada cairan mani dan sekret vagina yang akan ditularkan virus ke sel, baik pada pasangan homoseksual atau heteroseksual. Kerusakan pada mukosa genitalia akibat penyakit menular seksual seperti sifilis danchancroid akan memudahkan terjadinya infeksi HIV. 2. Tranfusi: HIV ditularkan melalui tranfusi darah balk itu tranfusi whole blood, plasma, trombosit, atau fraksi sel darah Iainnya. 3. Jarum yang terkontaminasi: transmisi dapat terjadi karena tusukan jarum yang terinfeksi atau bertukar pakai jarum di antara sesama pengguna obat-obatan psikotropika.

4. Transmisi vertikal (perinatal): wanita yang teinfeksi HIV sebanyak 15-40% berkemungkinan akan menularkan infeksi kepada bayi yang baru dilahirkannya melalui plasenta atau saat proses persalinan atau melalui air susu ibu.

5. Setiap hari di dunia orang muda terinfeksi HIV setiap 15 detik. Hampir 1.800 bayi per hari lahir telah terinfeksi HIV.

Tanda-tanda atau gejala-gejala.Tanda-tanda klinis penderita AIDS :


1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan 2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan 3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan 4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis 5. Dimensia/HIV ensefalopati

Gejala minor :
1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan 2. Dermatitis generalisata yang gatal 3. Adanya Herpes zoster multisegmental dan

Dasar Kebijakan

1. upaya penanggulangan HIV dan AIDS harus memperhatikan nilai-nilai agama dan budaya /norma masyarakat. 2. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS diselenggarakan oleh masyarakat sipil dan pmerintah berdasarkan prinsip kemitraan. 3. Upaya penaggulangan harus didasari pada pengertian bahwa masalah HIV dan AIDS sudah menjadi masalah sosial kemasyarakatan serta masalah nasional. 4. Upaya penanggulangan HIV dan AIDS diutamakan pada sub-populasi berperilaku risiko tinggi tetapi harus pula merperhatikan masyarakat yang rentan. 5. Upaya penangulangan HIV dan AIDS harus menghormati harkat dan martabat manusia serta memperhatikan keadilan dan kesetaraan

6. Upaya pencegahan HIV dan AIDS pada anak sekolah,remaja dan masyarakat umum diselenggarakan melalui kegiatan komunikasi,informasi dan edukasi. 7. Upaya pencegahan yang efektif termasuk penggunaan kondom 100% pada setiap hubungan seks berisiko, sematamata hanya untuk memutus rantai penularan penyakit. 8. Upaya mengurangi infeksi HIV pada pengguna NAFZA suntik mem=lalui kegiatan pengurangan dampak buruk,yang berarti juga mengupayakan penyembuhan dari ketergantungan pada NAPZA. 9. Upaya penanggulangan HIV an AIODS merupakan upayaupaya terpadu. 10. Setiap pemeriksaan untuk mendiagnosa HIV dan AIDS harus didahului denganpenjelasan yang benar dan memdapat persetujuan yang bersangkutan. (informed consent) 11. Diusahakan agar peraturan perundang-undangan mendukung dan selaras dengan Strategi Nasional Penanngulangan HIV dan AIDS di semua tingkat. 12. Setiap pemberi pelayanan berkewajiban memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada ODHA.

Kebijakan yang ada


1. Keputusan Presiden No.36 tahun 1994 tentang Pembentukan Komisi Penanggulangan HIV dan AIDS. 2.Keputusan Menteri Kesejahteraan Rakyat No 9/KEP/1994 tentang Strategi Nasional Penanggulangan AIDS di Indonesia. 3. Keputusan Menteri Kesehatan No 1285/Menkes/SK/X/2002 tentang Pedoman Penanggulangan HIV dan AIDS dan Penyakit Menular Seksual. 4. Keputusan Menteri Kesehatan No 1507/Menkes/SK/X/2005 tentang pedoman Pelayanan Konseling dan testing HIV dan AIDS Secara Sukarela. 5. Peraturan Menteri Kesehatan No 1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. 6.Keputuan Menteri Kesehatan No.832/Menkes/SK/X/2006 tentang Penetapan Rumah Sakit Rujukan bagi ODHA dan Standar Rumah Sakit Rujukan ODHA dan Satelitnya. 7. Keputusan Menteri Kesehatan No. 760/Menkes/SK/VI/2007 tentang penetapan lanjutan rumah sakit bagi orang dengan HIV dan AIDS (ODHA).