Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian WHO di seluruh dunia, terdapat kematian bayi khususnya neonatus sebesar 4.000.000 jiwa /tahun. Kematian bayi tersebut terutama di Negara berkembang sebesar 99% dan 40.000 dari bayi tersebut adalah bayi di Negara Indonesia. Menurut WHO 17% dari 25 juta persalinan pertahun adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan hampir semua terjadi di negara berkembang (Dinkes, 2009). Berdasarkan SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) tahun 2007 angka kematian bayi diIndonesia adalah 35/1.000 kelahiran hidup. Bila dirincikan 157.000 bayi meninggal dunia pertahun atau 430 bayi meninggal dunia perhari.dalam Milenium Development Goals (MDGS) Indonesia menargetkan pada tahun 2015 AKB menurun menjadi 17/1000 kelahiran hidup. Bebrapa penyebab kematian bayi baru lahir (BBL) yang terbanyak disebabkan oleh kegawatdaruratan dan penyulit pada neonatus, trauma lahir, kelianan kongenital dan hyperbilirubin. Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian bayi. Angka kematian bayi di Indonesia saat ini masih tergolong tinggi. Angka kematian bayi di Indonesia tercatat 51,0 per 1000 kelahiran hidup tahun 2003, ini memang bukan gambaran yang indah karena masih terbilang tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara di bagian Association South of East Asian Nations (ASEAN). Penyebab kematian bayi terbanyak adalah karena gangguan perinatal. Dan seluruh kematian perinatal sekitar 2-27% disebabkan karena kelahiran bayi berat lahir rendah (BBLR). Sementara itu prevalensi BBLR pada saat ini diperkirakan 7-14% yaitu sekitar 459.200-900.000 bayi (Dinkes, 2009). Secara umum Indonesia belum mempunyai angka untuk bayi berat lahir rendah (BBLR) yang diperoleh berdasarkan survey nasional. Proporsi BBLR ditentukan berdasarkan estimasi yang sifatnya sangat kasar, yaitu berkisar antara 7 - 14% selama periode 2000-2009. Jika proporsi ibu hamil adalah 2,5% dari total penduduk maka setiap tahun diperkirakan 355.000 - 71 0.000 dari 5 juta bayi lahir dengan kondisi BBLR (Profil Kesehatan,2009). Tingkat pendidikan mempunyai hubungan yang eksponensial dengan tingkat kesehatan. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin mudah menerima konsep hidup sehat secara mandiri, kreatif dan berkesinambungan. Salah satu penyebab terjadinya

BBLR yaitu status gizi ibu yang tidak baik. Latar belakang pendidikan seseorang berhubungan dengan tingkat pengetahuan, jika tingkat pengetahuan gizi ibu baik maka diharapkan status gizi ibu dan balitanya juga baik dan sebaliknya (Anonim, 2008). Di Lombok Barat memperlihatkan dengan jelas bahwa penyebab kematian bayi paling besar adalah BBLR (berat bayi lahir rendah) yaitu sebanyak 37 %. BBLR ini terjadi pada usia bayi 0 sampai 28 hari. Kasus BBLR pada tahun 2011 relatif menurun yaitu dari 586 di tahun 2010, menjadi 543 di tahun 2011. Dari jumlah kasus sebanyak 543 di tahun 2011 yang lahir dengan BBLR, meninggal 53 bayi. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Mahasiswa mampu melakukan asuhan kebidanan dengan berat badan lahir rendah pada bayi Ny. M dengan pendokumentasian SOAP. 2. Tujuan Khusus a. Mampu mengumpulkan data subjektif pada bayi Ny. M dengan berat badan lahir rendah. b. Mampu mngumpulkan data objektif pada bayi Ny. M dengan berat badan lahir rendah. c. Mampu menganalisa pada bayi Ny. M dengan berat badan lahir rendah. d. Mampu melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi Ny. M dengan berat badan lahir rendah. C. Manfaat 1. Bagi Lahan Mempertahankan mutu pelayanan kebidanan bagi Puskesmas Meninting, terutama dalam asuhan kebidanan sesuai dengan kebutuhan pasien, khususnya untuk pertolongan dalam persalinan. 2. Bagi Institusi a. Mengetahui kemampuan mahasiswanya dalam menerapkan ilmu pendidikan yang diperoleh mahasiswa di bangku kuliah. b. Mengetahui adanya kesenjangan dan faktor-faktor penyebab kesenjangan antara teori dan praktek sebagai bahan analisa untuk pendidikan. 3. Bagi Masyarakat a. Bagi keluarga pasien

Khususnya untuk pasien yang diberikan asuhan, dapat lebih proaktif terhadap segala tindakan atau asuhan yang diberikan dan dapat membina hubungan yang baik dengan tenaga serta fasilitas kesehatan. b. Bagi masyarakat umum Diharapkan masyarakat lebih mampu memberikan perawatan kebidanan kepada bayi baru lahir, serta melakukan deteksi dini jika terdapat kelainan serta melaporkannya pada petugas kesehatan pada umumnya serta bidan pada khususnya.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Definisi 1. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram, umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tampa memandang masa gestasi. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir (Prawirohardjo, 2006). 2. Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram, meskipun usia kehamilan cukup /aterm (Manuaba,2005). 3. Bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499). Bayi lahir rendah mungkin prematur (kurang bulan), mungkin juga cukup bulan (dismatur) (Saifuddin, 2006). 4. Pada tahun 1961, WHO mengganti istilah bayi prematur dengan Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) karena disadari tidak semua bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir adalah bayi prematur (Winkjosastro, 2006). 5. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2500 gram, tanpa memandang usia kehamilan. BBLR dibedakan menjadi dua bagian: pertama BBLR sangat rendah bila berat lahir kurang dari 1500 gram, dan kedua BBLR bila berat lahir antara 1501- 2499 gram (Badriul, 2009).

B. Etiologi 1. Menurut Winkjosastro (2006), faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya BBLR, yaitu antara lain: a. Faktor Ibu 1) Hipertensi 2) Perokok 3) Gizi buruk 4) Riwayat kelahiran Prematur sebelumnya 5) Pendarahan antepartum 6) Malnutrisi 7) Hidraminon 8) Umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun

9) Jarak dua kehamilan yang terlalu dekat 10) Infeksi dan trauma b. Faktor Janin 1) Kehamilan ganda 2) Kelainan kromosom 3) Cacat bawaan 4) Infeksi dalam kandungan 5) Hidramnion 6) Ketuban pecah dini 2. Menurut Manuaba (2005), faktor - faktor yang dapat yang dapat menyebabkan terjadinya BBLR adalah : a. Faktor ibu 1) Gizi saat hamil yang kurang. Kekurangan zat gizi yang diperlukan saat pertumbuhan dapat mengakibatkan makin tingginya kehamilan prematur atau BBLR dan cacat bawaan. 2) Umur kurang dari 20 tahun/diatas 35 tahun 3) Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat (kurang dari 1 tahun). Jarak kehamilan sebaiknya lebih dari 2 tahun. Jarak kehamilan yang terlalu dekat menyebabkan ibu punya waktu yang terlalu singkat untuk memulihkan kondisi rahimnya agar bisa kembali kekondisi sebelumnya. 4) Paritas 5) Penyakit Ibu Penyakit ibu yaitu penyakit yang diderita ibu sebelum hamil atau penyakit yang menyertai kehamilan. b. Faktor kehamilan 1) Hamil dengan hidramnion 2) Perdarahan antepartum 3) Komplikasi hamil meliputi preeklamsi/eklamsi dan ketuban pecah dini. c. Faktor janin 1) Cacat bawaan 2) Infeksi dalam rahim 3. Menurut Surasmi (2003), Faktor-faktor yang menyebabkan kelahiran prematur : a. Faktor ibu. Toksemia gravidarum, yaitu preeklampsi dan eklampsi, kelainan bentuk uterus, tumor, ibu yang menderita (penyakit tifus abdominalis, malaria,

TBC, penyakit jantung), trauma pada masa kehamilan (jatuh, stres), usia ibu waktu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun. b. Faktor janin. kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini, cacat bawaan, infeksi. c. Faktor plasenta. Plasenta previa, solusio plasenta. d. Faktor yang tidak diketahui.

C. Klasifikasi BBLR 1. Menurut (Saifuddin dkk, 2006) berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya bayi berat lahir rendah dibedakan menjadi : a. Bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1500-2500 gram b. Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir <1500> c. Bayi baru lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir <1000> 2. Menurut Mochtar (1998) sejak tahun 1961 WHO mengganti istilah premature dengan brat badan lahir rendah (BBLR) karena disadari tidak semua bayi yang berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bukan bayi premature. Bayi berat lahir rendah (BBLR) dapat digolongkan menjadi: a. Prematuritas murni. Bayi lahir pada kehamilan kurang dari 37 minggu dengan berat badan yang sesuai. b. Small for date (SFD) atau kecil untuk masa kehamilan (KMK). Bayi yang berat badannya kurang dari seharusnya umur kehamilan. c. Retardasi pertumbuhan janin intrauterine . Bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai umur kehamilan. d. Dismaturitas. Suatu sindrom klinik dimana terjadi ketidak seimbangan antara pertumbuhan janin dengan lanjutnya kehamilan. Atau bayi lahir dengan berat badan yang tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. e. Large for date. Bayi yang dilahirkan lebih besar dari seharusnya tuanya kehamilan. BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat kelahiran kurang dari 2500 gram (sampai 2499 gram) tanpa memandang masa kehamilan. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam setelah lahir. Untuk keperluan bidan di desa berat lahir diterima dalam 24 jam pertama setelah lahir.

Berat badan lahir rendah (BBLR) terdapat 2 penyebab kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram, yaitu karena umur kehamilan kurang dari 37 minggu, berat badan lebih rendah dari semestinya, sekalipun umur kehamilan cukup atau kombinasi keduanya. 3. Menurut Winkjosastro (2005) bayi dengan berat badan lahir rendah di bagi menjadi dua golongan, yaitu: a. Prematuritas Murni Prematuritas murni adalah bayi lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau bisa disebut neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan (MKBSMK) b. Dismaturitas Dismaturitas adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan. Hal ini karena bayi mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK) 4. Menurut (Hidayat, 2005) bayi dengan berat badan lahir rendah di bagi menjadi tiga golongan, yaitu: a. Klasifikasi berdasarkan Berat badan: 1) Bayi berat badan sangat rendah,yaitu bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 1000 gram. 2) Bayi berat badan lahir sangat rendah ,yaitu bayi yang lahir dengan berat badan kurang 1.500 gram 3) Bayi berat badan lahir cukup rendah ,yaitu bayi yang lahir dengan berat badan 1501-2500 gram b. Klasifikasi berdasarkan umur kehamilan : 1) Bayi prematur adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan belum mencapai 37 minggu 2) Bayi cukup bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 38-42 minggu. 3) Bayi lebih bulan adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan lebih dari 42 minggu

c. Klasifikasi berdasarkan umur kehamilan dan berat badan: 1) Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK)/small-for-gestational-age(SGA) adalah Bayi yang lahir dengan keterlambatan pertumbuhan intra uteri dengan berat badan terletak dibawah persentil ke-10 dalam grafik pertumbuhan intrauteri. 2) Bayi sesuai dengan masa kehamilan (SMK)/appropriate-for-gestationalage(AGA). Bayi yang lahir dengan berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan,yaitu berat badan terletak antara persentil ke-10 dan ke90 dalam grafik pertumbuhan intra uterin. 3) Bayi besar untuk masa kehamilan/large-for-gestational-age (LGA). Bayi yang lahir dengan berat badan lebih untuk usia kehamilan dengan berat badan terletak diatas persentil ke-90 dalam grafik pertumbuhan intra-uteri

D. Patofisiologi (Winkjosastro 2005). Berat badan lahir rendah dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, faktor ibu, faktor janin dan faktor lingkungan. Faktor ibu meliputi penyakit yang diderita ibu, usia ibu saat hamil kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun, keadaan sosial ekonomi. Faktor janin meliputi hidramnion, kehamilan ganda, kelainan kromosom. Faktor lingkungan meliputi tempat tinggal, radiasi, dan zat- zat beracun. Dimana faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim sehingga mengalami gangguan dan suplai makanan ke bayi jadi berkurang. Hal tersebut dapat mengakibatkan bayi lahir prematur atau dismatur dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram. Jika hal tersebut terjadi, maka bayi dituntut untuk beradaptasi pada kehidupan ekstrauterin sebelum organ dalam tubuhnya berkembang secara optimal.

E. Manifestasi Klinik Tampak luar dan tingkah laku bayi prematur tergantung dari tuanya umur kehamilan. Makin muda umur kehamilan mangkin jelas tanda-tanda immaturitas. Karakteristik untuk bayi prematur adalah berat badan lahir sama dengan atau kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang atau sama dengan 45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, umur kehamilan kurang dari 37 minggu, kepala relatif lebih besar dari badannya, kulit tipis, lanugonya banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus, tangisnya lemah dan jarang, pernapasan tidak teratur dan

sering timbul apnea. Refleks tonik-leher lemah dan refleks moro positif, daya isap lemah, kulit mengkilatdan licin (Winkjosastro, 2006). Tanda dangejala yang dijumpai pada Bayi Berat Lahir Rendah antara lain : a. Berat Badan Kurang dari 2.500 gram, panjang badan kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm. b. Masa gestasi kurang dari 37 minggu. c. Kepala lebih besar dari badan. d. Lanugo (bulu halus ) banyak terutama pada dahi, pelipis, telinga dan lengan e. Lemak sub kutan kurang. f. Ubun ubun dan sutura melebar g. Genitalia belum sempurna, labia minora belun tertup oleh labia mayora (pada wanita) pada pria testis h. Pembuluh darah kulit banyak terlihat peristaltik usus dapat terlihat. i. Rambut halus dan tipis. j. Banyak tidur dan tangis lemah. k. Kulit tampak mengkilat dan licin l. Pergerakan kurang dan lemah. m. Refleks tonus leher lemah, refleks isap kurang, refleks menelan kurang dan refleks batuk masih lemah.

F. Faktor Resiko BBLR Menurut Wijayanti (2000), berbagai faktor resiko pada ibu hamil yang berhubungan dengan kejadian BBLR antara lain: 1. Resiko demografi. Usia ibu hamil <17>35 tahun, ras, status sosial ekonomi rendah. 2. Resiko medis sebelum hamil. Paritas >4, berat badan dan tinggi badan ibu yang rendah, cacat bawaan, infeksi saluran kencing, DM, hipertensi kronis, rubella, riwayat obstetric jelek (BBLR, abortus spontan, kelainan genetik). 3. Resiko medis saat hamil. Penambahan berat badan selama hamil, interval kehamilan yang pendek, hipotensi, hipertensi, preeklampsia, eklampsia, bakteruria, infeksi TORCH, perdarahan trimester I, kelainan plasenta, hiperemesis gravidarum, oligohidramnion, polihidramnion, anemia, abnormal, ketuban pecah dini.

4. Resiko perilaku dan lingkungan. Merokok, gizi kurang, alkohol, obat-obatan keras, terpapar bahan kimia toksik dan tempat tinggal di ketinggian. 5. Faktor Resiko lainnya. Pemeriksaan kehamilan in adekuat, stress atau gangguan psikososial, uterus mudah berubah bentuk, kontraksi uterus tiba-tiba, defisiensi hormon progesteron.

G. Komplikasi Alat tubuh bayi lebih banyak kesulitan untuk hidup diluar uterus. Dalam hubungan ini sebagian besar kehamilan perinatal terdapat bayi-bayi BBLR (Prawirohardjo, 2006). Komplikasi yang mungkin terjadi bila bayi lahir dengan BBLR tidak segera ditangani maka sering menjadi masalah yang berat, misalnya kesukaran bernapas, kesukaran pemberian minum, ikterus berat, hipotermi dan infeksi (Saifuddin, 2006).

Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain: 1. Hipotermia 2. Hipoglikemia 3. Gangguan cairan dan elektrolit 4. Hiperbilirubinemia 5. Sindraoma gawat nafas 6. Paten duktus arteriosus 7. Infeksi 8. Pendarahan intraventrikuler Dan masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) antara lain: 1. Gangguan perkembangan 2. Gangguan pertumbuhan 3. Gangguan penglihatan (Retinopati) 4. Gangguan pendengaran 5. Penyakit paru kronis 6. Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit 7. Kenaikan frekuensi bawaan

H. Diagnosis Menurut Mochtar (2007), diagnosis BBLR yaitu: 1. Sebelum Bayi Lahir a. Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus prematurus dan Lahir mati. b. Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan. c. Pergerakan janin yang pertama terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilan sudah angka lanjut. d. Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya e. Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa pula dengan Hidramnion, hipermisis gravidarum dan pada hamil lanjut dengan pendarahan Antepartum. 2. Setelah Bayi Lahir a. Secara klasik tampak seprti bayi yang kelaparan, tanda-tanda bayi ny tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas, kulit tipis dan kering. b. Bayi prematur yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu jaringan lemak bawah kulit sedikit, tulang tengkorak lunak, mudah bergerak dan menangis lemah. c. Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya karena itu sangat peka terhadap gangguan pernapasan, infeksi, trauma kelahiran, hipotermi dan sebagainya. 3. Pemeriksaan Diagnostik a. Jumlah sel darah putih : 18.000/mm3, netrofil meningkat sampai 23.00024.000/mm3, hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis ). b. Hematokrit ( Ht ) : 43%- 61 % ( peningkatan sampai 65 % atau lebih menandakan polisitemia, penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragic

prenatal/perinatal). c. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan anemia atau hemolisis berlebihan ). d. Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari, dan 12 mg/dl pada 3-5 hari. e. Destrosix : tetes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran ratarata 40-50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga. f. Pemantauan elektrolit ( Na, K, Cl ) : biasanya dalam batas normal pada awalnya. g. Pemeriksaan Analisa gas darah.

I. Prognosis Prognosis bayi berat lahir rendah ini tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya masa gestasi makin (makin muda masa gestasi bayi tinggi angka kematian), afiksia/iskemia otok, sindroma gangguan pernapasan, perdarahan

interaventrikuler, displasia bronkopulmonia, retrolental fibroplasias, infeksi, gangguan metabolik (asidosis hipoglikemia, hiperbilubinemia) kadaan sosial ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat kehamilan, persalinan dan postnatal (pengaturan suhu lingkungan, resusitasi, makanan, mencegah infeksi, mengatasi gangguan pernapasan, asfiksia, hiperbilirubinemia, hipoglikemia, dll) (Winkjosaatro, 2006).

J. Pencegahan Menurut Manuaba (2006), dengan mengetahui berbagai faktor penyebab berat badan lahir rendah dapat dipertimbangkan langkah pencegahan dengan cara: 1. Melakukan pengawasan hamil dengan seksama dan teratur. 2. Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kehamilan dan persalinan preterm 3. Memberi nasehat tentang : a. Gizi saat hamil b. Meningkatkan pengertian keluarga berencana internal c. Memperhatikan tentang berbagai kelainan yang timbul dan segera melakukan konsultasi. d. Menganjurkan untuk pemeriksaan tambahan sehingga secara dini penyakit ibu dapat diketahui dan diawasi/diobati Menurut Erlina (2008), pada kasus Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Mencegah/preventif adalah langkah yang penting. Dan hal-hal yang dapat dilakukan diantaranya: 1. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan kesehatan yang lebih mampu. 2. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim, tanda-tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatanya dan janin dalam kandunganya dengan baik. 3. Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinanya pada kurun waktu reproduksi sehat (20-34 tahun).

4. Perlu dukungan sektor lain yang terikat untuk turut berperan dalam meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi ibu selama hamil. K. Penatalaksanaan Menurut Winkjosastro, 2005. Penanganan BBLR sebagai berikut : 1. Jika bayi tidak ada kesukaran bernafas dan tetap hangat dengan metode kanguru : a. Rawat bayi tetap bersama ibu b. Dorong ibu mulai menyusui dalam 1 jam pertama 2. Jika bayi sianosis (biru) atau kesukaran bernafas (frekuensi < 30 atau > 60 x per menit, tarikan dinding dada ke dalam atau merintih), beri oksigen lewat kateter hidung atau nasal prong 3. Jika suhu aksiler turun di bawah 35o C, hangatkan bayi segera.

Sedangkan pada BBLSR . Sebelum dan selama rujukan lakukan : 1. Pastikan bayi terjaga tetap hangat 2. Jika ibu dengan riwayat infeksi bakteri, beri dosis pertama antibiotika a. Gentamisin 4mg/kgBB I.M (atau kananmisin) b. Ditambah ampisilin 100 mg/kgBB I.M (atau benzil penisilin) 3. Jika bayi sianosis (biru) atau kesukaran bernafas (frekuensi < 30 atau > 60 x per menit, tarikan dinding dada ke dalam atau merintih), beri oksigen lewat kateter hidung atau nasal prong Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan dan penyesuaian diri dengan lingkungan hidup diluar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan, pemberian makanan, dan bila perlu pemberian oksigen, mencegah infeksi serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi (Winkjosastro, 2006). 1. Mempertahankan Suhu Bayi prematur mudah dan cepat sekali menderita hipotermia bila berada di lingkungan dingin. Bila bayi dirawat di dalam inkubator, maka suhunya untuk bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg adalah 35C dan untuk bayi berat badan 2-2,5 kg 34C agar ia dapat mempertahankan suhu tubu sekitar 37C suhu inkubator dapat diturukan 1C perminggu untuk bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg secara berangsur-angsur ia dapat diletakan didalam tempat tidur bayi dengan suhu

lingkungan 27C-29C. Bila inkubator tidak ada, pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakkan botol-botol hangat di sekitar atau dengan memasang lampu petromaks didekatkan pada tempat tidur bayi. Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok. Hal ini penting untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum, tingkah laku, pernapasan dan kejang (Winkjosastro, 2006). Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mengalami hipotermi, sebab itu suhu tubuhnya harus di pertahankan dengan ketat (Sarwono, 2006) Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Setelah lahir adalah

mempertahankan suhu bayi agar tetap normal, dan juga sangat rentan terjadinya hiportermi, karena tipisnya cadangan lemak dibawah kulit dan masih belum matangnya pusat pengaturan panas di otak, untuk itu BBLR harus selalu dijaga kehangatanya. Cara paling efektif mempertahakan suhu tubuh normal adalah sering memeluk dan mengendong bayi. Ada suatu cara yang disebut metode kangguru atau atau perawatan bayi lekat, yaitu bayi selalu didekat ibu atau orang lain dengan kontak langsung kulit bayi dengan kulit ibu. Cara lain, bayi jangan segera dimandikan sebelum enam jam BBLR (Kosim, 2007). Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mudah dan cepat mengalami hipotermi, kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi relativ lebih luas dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak, dan kekurangan lemak coklat (brown fat) ( Koswara, 2009). Bayi prematur dengan cepat akan kehilangan panas dan menjadi hipotermi, karena pusat pengaturan panas belum berfungsi dengan baik, metabolismenya rendah dan permukaan badan relativ luas oleh karena itu bayi prematur harus dirawat di dalam indikator sehingga badanya mendekati dalam rahim. Bila bayi dirawat dalam indikator maka suhu bayi dengan berat badan, 2 kg adalah 35 C dan untuk bayi dengan berat badan 2-2,5 kg adalah 33-34 C. Bila indikator tidak ada bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya diletakan botol yang berisi air panas, sehingga panas badanya dapat dipertahankan. (Muhammad, 2008). 2. Penimbangan Berat Badan Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi/nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya dan tubuh, oleh sebab itu penimbangan berat badan agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia. Pada umunya bayi dengan berat lahir 2000 gram atau lebih dapat mengisap air susu ibu dan bayi dengan berat kurang

1500 gram bayi diberi minum melalui sonde. Sesudah 5 hari bayi lahir dicoba menyusu pada ibunya, bila daya isap cukup baik maka pemberian air susu ibu diteruskan (Winkjosastro, 2006). 3. Makanan bayi Pada bayi prematur refleks isap, telan dan batuk belum sempurna, kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase masih kurang di samping itu kebutuhan protein 3-5 gr perhari dan tinggi kalori (110 kal/kg/hari), agar berat badan bertambah sebaik-baiknya. Pemberian minum dimulai pada waktu bayi berumur tiga jam agar bayi tidak menderita hipoglikemia dan hiperbilirubinemia pada umumnya bayi dengan berat badan lahir 2000 gram agar lebih dapat mengisap air susu ibu dan bayi dengan berat kurang 1500 gram diberi minum melalui sonde. Sesudah 5 hari bayi dicoba menyusu pada ibunya, bila daya isap cukup baik maka pemberian air susu diteruskan (Winkjosastro, 2006). Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) reflek menelan belum sempurna oleh sebab itu pemberian nutrisi harus dilakukan dengan cepat (Sarwono, 2006). Alat pencernaan bayi masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pencernaan belum matang, sedangkan kebutuhan protein 5 gram/kg/BB, dan kalori 110 kal/kg/BB. Sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Pemberian minuman bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung. Reflek menghisap masih lemah, sehingga pemberian minuman sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi dengan frekuensi lebih sering. ASI merupakan makanan yang paling penting sehinga ASI yang paling penting diberikan lebih dahulu, bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde lambung menuju lambung. Permulaan cairan diberikan sekitar 50 sampai 60 cc/kg/BB/hari, dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg/BB/hari (Ahyani, 2006). Pertumbuhan juga harus ada cadangan kalori untuk mengejar ketinggalan beratnya. Minuman utama dan pertama adalah Air Susu Ibu (ASI) yang sudah tidak diragukan lagi keutungan atau kelebihanya. Disarankan Bayi menyusu ASI ibunya sendiri, terutama untuk bayi prematur. ASI ibu memang cocok untuknya, karena didalamnya terkandung kalori dan protein tinggi serta elektrolit minimal, Refleks menghisap dan menelan BBLR biasanya masih sanggat lemah, untuk itu diperlukan

pemberian ASI peras yang disendokan kemulutnya atau bila sangat terpaksa dengan pipa lambung. Susu formula khusus BBLR, bisa diberikan bila ASI tidak dapat diberikan karena berbagai sebab. Kekurangan minum pada BBLR akan mengakibatkan ikterus atau bayi kuning (Badriul, 2009). Berat badan rata-rata 2500-4000 gram kurang dari 2500 gram menunjukan kecil untuk usia gestasi, pemberian nutrisi harus diperhatikan. Bayi dengan dehidrasi harus diberikan infus. Beri minum dengan tetes ASI/sonde karena reflek menelan BBLR belum sempurna, kebutuhan cairan untuk bayi baru lahir 120-150 ml/kg BB/ hari. (Muhammad, 2008). 4. Mencegah Infeksi Bayi berat lahir rendah mudah sekali terkena daya tahan tubuh yang masih lemah, kemampuaan leukosit masih kurang dan pembentukan antibodi belum sempurna, oleh karena itu, upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehingga tidak terjadi persalinan prematuritas (BBLR), dengan demikan perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik (Manuaba, 2006). Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sangat rentan akan infeksi, perhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi (Sarwono, 2006). Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) sangat rentan akan infeksi, ini disebabkan oleh karena daya tahan tubuh terhadap infeksi berkurang, relativ belum sanggup membantu antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum oleh karena itu, perhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi, termasuk mencuci tanggan sebelum memegang bayi ( Koswara 2009). 5. Kebutuhan Nutrisi Makanan bayi prematur refleks hisap, telan dan batuk belum sempurna. Kapasitas lambung masih sedikit, kebutuhan protein 3 5 gram / hari dan tinggi kalori 110 kalori / kgBB / hari. Pemberian minum dimulai saat bayi berumur 3 jam. Jumlah cairan yang diberikan pertama kali adalah 1 5 ml/ jam dan jumlahnya dapat ditambah sedikit 12 jam. Banyak cairan yang diberikan perhari adalah 60 ml/kgBB/ hari dan setiap hari dinaikkan sampai dengan 200 ml/kgBB/ hari pada akhir minggu kedua.

Hari Kelahiran 1 2 3 4 5 6 7 8-10

Cairan/kgBB/hari 60 ml 70 ml 80 ml 90 ml 100 ml 110 ml 120 ml 150 200 ml

Kalori/kgBB/hari 40 kal 50 kal 60 kal 70 kal 80 kal 90 kal 100 kal 120 kal

Air susu yang paling baik adalah ASI. Bila bayi belum dapat menyusu, ASI dapat di pompa dan dimasukkan dalam botol steril. Bila ASI tidak ada, ganti susu dengan susu buatan yang mengandung lemak yang mudah dicerna oleh bayi ( lemaknya dari middle chain trigly ceride ) dan mengandung 20 kalori/ 30 ml air atau sekurang kurangnya bayi dapat 110 kal/kgBB/ hari.

L. Pendokumentasian SOAP Manajemen kebidanan merupakan suatu metode atau bentuk pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan.Asuhan yang telah dilakukan harus dicatat secar benar, jelas, singkat, logis dalam suatu metode pendokumentasian. Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian yang dapat

mengkomunikasikan kepada orang lain mengenai asuhan yang telah dilakukan pada seorang klien, yang dialamnya tersirat proses berpikir yang sistematis seorang bidan dalam menghadapi seorang klien sesuai langkah - langkah dalam proses manajemen kebidanan. Menurut Helen Varney, alur berpikir saat menghadapi klien meliputi 7 langkah.Untuk orang lain mengetahui apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui proses berpikir sistematis, didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu : S = Subyektif Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melalui anamnese sebagai langkah I Varney.

O = Obyektif Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostik lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney. A = Analisa Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interprestasi data subyaktif dan obyektif dalam suatu identifikasi : a) Diagnosa/masalah. b) Antisipasi diagnosa/masalah potensial. c) Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/ kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah 2, 3, dan 4 Varney. P = Penatalaksanaan Menggambarkan pendokumentasian dari tindakan (1) dan Evaluasi perencanaan (E) berdasarkan analisa sebagai langkah 5, 6, dan 7 Varney. 1. Beberapa alasan penggunaan SOAP dalam pendokumentasian : a. Pembuatan grafik metode SOAP merupakan perkembangan informasi yang sistematis yang mengorganisi penemuan dan konklusi anda menjadi suatu rencana. b. Metode ini merupakan intisari dari proses penatalaksanaan kebidanan untuk tujuan mengadakan pendokumentasian asuhan. ( Varney, 2000 )

BAB III TINJAUAN KASUS ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY M DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI PUSKESMAS CAKRA TANGGAL 7 JANUARI 2013

A. DATA SUBJEKTIF ( S ) Hari/tanggal masuk Puskesmas : Senin, 6 Januari 2013, pukul 20.00 wita Hari/tanggal pengkajian 1. Identitas Bayi a. Nama Bayi b. Umur c. Anak ke d. Lahir : Bayi Ny. M : 1 hari : 1 (satu) : 07 Januari 2013, pukul 09.05 WITA : Selasa, 7 Januari 2013, pukul 09: 15 wita

e. Jenis Kelamin : Laki-laki

2. Identitas Orang Tua a. Nama Ibu : Ny. M b. Umur c. Agama : 16 tahun : Islam Nama Ayah Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat : Tn. A : 18 tahun : Islam : SD : Swasta : Gerung

d. Pendidikan : SMP e. Pekerjaan : IRT f. Alamat : Gerung

3. Keluhan utama : Bayi lahir spontan di Puskesmas Cakra pukul : 09.05 wita dengan berat badan lahir rendah. 4. Riwayat kehamilan dan kelahiran a. Prenatal 1) Ibu mengatakan hamil yang pertama dengan usia kehamilan 9 bulan 2) Ibu mengatakan ANC 11x di Puskesmas Cakra dan sudah mendapatkan imunisasi TT 2x (lengkap) dan ibu mengatakan HPHT : 07-04-2013 3) Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit selama hamil.

4) Ibu mengatakan jarang mengkonsumsi obat-obatan yg diberikan bidan b. Natal : Bayi lahir spontan pada tanggal 7 Januari 2014, ditolong oleh bidan di Puskesmas Cakra dengan BB = 1850 gr, PB = 43 cm, LK = 30 cm, LD: 31 cm, LL = 9 cm. c. Post natal : Bayi lahir spontan dengan berat badan lahir rendah. 5. Faktor Lingkungan : Dalam lingkungan tidak ada tetangga/ keluarga yang menderita penyakit menular. 6. Faktor Genetik : Orang tua tidak pernah menderita penyakit keturunan. 7. Faktor Sosial : Orang tua dari bayi merasa senang dengan kelahiran anaknya, begitu juga dengan keluarganya tetapi khawatir dengan keadaan bayinya 8. Faktor Psikososial a. Kontak dini : : Iya, tetapi hanya di lakukan sebentar karna bayi mengalami

hipotermi dan nafas tidak teratur, bayi langsung di bawa ke meja resusitasi. b. Pemberian ASI : Belum diberikan c. Menyentuh d. Kontak mata : Sudah dilakukan : Sudah dilakukan

OBJEKTIF ( O ) 1. Keadaan umum : Baik

2. Tanda-tanda vital : a. Denyut jantung : 120 x/ menit b. Suhu c. Respirasi 3. Berat badan 4. Panjang badan 5. Lingkar kepala 6. Lingkar Dada 7. Lingkar lengan 8. Pemeriksaan Fisik : 36,3 C : 40 x/ menit : 1850 gram : 49 cm : 30 cm : 31 cm : 9 cm :

a. Kepala : Ubun-ubun lunak, tidak ada pembengkakan dan cekungan. b. Telinga : Lunak, tidak ada kelainan, simetris. c. Mata : Bersih dan tidak ada secret.

d. Hidung dan mulut : Hidung lunak, kanan dan kiri sama, palatum lunak, refleks hisap lemah.

e. Leher f. Dada

: Normal, tidak ada pembengkakan dan benjolan. : Simetris, klavikula normal, putting susu terlihat.

g. Lengan dan tangan : Gerakannya normal, jumlah jari lengkap. h. System saraf : Refleks moro (+), Menggenggam (+) i. Perut : Lunak, datar, perut tidak kembung, tidak ada perdarahan pada tali pusat. j. Genetalia : testis berada di scrotum, urethra berlubang, penis (+). k. Anus : Anus berlubang, mekonium (+) l. Tungkai dan kaki : Gerakannya normal, tidak ada kelainan, simetris, jumlah jari lengkap. m. Kulit : Warna merah muda dan tidak ada tanda lahir, verniks kaseosa (+)

ANALISA (A) 1. Diagnosa : Bayi lahir cukup bulan, KMK dengan BBLR + hipotermi umur 0 hari. 2. Masalah : Ibu khawatir dengan keadaan bayinya 3. Masalah potensial : a. Hipoglikemi b. Ikterus c. Dehidrasi d. Kejang e. Sepsis f. Kematian

PENATALAKSANAAN (Tanggal : Selasa, 7 Januari 2013, pukul 09: 15 wita) 1. Memberitahu ibu bahwa berat badan bayi kurang dari batas normal yaitu berat badan bayinya 1850 sedangkan normal berat badan bayi adalah 2500 s/d 4000. Ibu sudah mengetahui berat badan bayinya dan keadaan bayinya lemah. Ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan. 2. Melakukan pemasangan Oksigen 1L/menit. Sudah dilakukan ( pukul 09: 16 wita). 3. Mengobservasi TTV bayi yaitu DJ 120x/m, R 46 x/m, S 36,3 0C. Bayi mengalami hipotermi, kemudian bayi di masukkan di inkubator. Terdapat tarikan dinding dada tetapi sedikit. 4. Memberikan injeksi vitamin K 1 mg secara IM 0,5 cc pada paha kiri 1/3 bagian luar atas untuk mencegah perdarahan ke otak dan salep mata pada mata kanan dan mata

kiri untuk mencegah terjadinya infeksi diberikan segera setelah bayi lahir. Bayi sudah diinjeksi dan ibu sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan. 5. Mengajarkan ibu mengenai metode kanguru untuk menjaga agar bayinya tetap selalu hangat yaitu dengan cara dada bayi menempel dengan dada ibu dalam baju kangguru , bayi menggunakan popok yang dilapisi plastic sehingga bayi mendapatkan sumber panas secara terus menerus dimulai saat setelah lahir, pengganti ibu boleh ayah, tante, nenek, dan lain-lain. Selain itu juga dengan cara menutup kepala bayi dengan topi serta menghangatkan di bawah lampu. Ibu sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan. 6. Melakukan pencegahan infeksi yaitu dengan mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi. Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan. 7. Mencegah kehilangan panas badan bayi dengan menyelimuti bayi dan meletakkannya pada tempat yang hangat serta mengganti selimut bayi bila basah. Bayi sudah diselimuti dan ditidurkan di tempat yang hangat. 8. Menginformasikan pada ibu tentang manfaat inisiasi menyusu dini agar tercipta kontak batin antara ibu dan bayi dan rahim ibu dapat berkontraksi dengan baik. Ibu sudah mengerti tentang manfaat menyusui dini. 9. Menginformasikan pada ibu dan keluarga tentang perawatan tali pusat yang benar yaitu hanya dibersihkan dengan sabun saat mandi dan dikeringkan. Jangan mengolesi tali pusat dengan obat atau ramuan tradisional. Biarkan tali pusat kering sendiri. Ibu dan keluarga sudah mengerti tentang cara perawatan tali pusat. 10. Menginformasikan pada ibu tentang tanda-tanda bahaya pada bayi yaitu: a. Bayi tidak dapat menyusu , sulit minum, malas minum. Kemungkinan bayi mengalami kelainan pada bibir dan langit langit dan bayi infeksi. b. Bayi kejang kemungkinan bayi terjadi infeksi misalnya tetanus neonatorum dan gangguan sistim persyarafan seperti trauma kelahiran. c. Bayi mengantuk dan tidak sadar ( letargis ) kemingkinan bayi infeksi / sepsis dan gangguan sistim persyarafan. d. Apabila nafas bayi kurang dari 40 x/menit atau labih dari 60 x/menit disertai tarikan dada, ini disebabkan karena gangguan pernafasan. e. Apabila bayi merintih, lemah, atau kurang aktif, kemungkinan disebabkan karena infeksi. f. Warna kulit bayi : sianosis ( warna kulit membiru mulai dari muka sampai seluruh tubuh), warna kulit sangat kuning mulai dari kepala turu ke kaki.

g. Apabila perut bayi kembung, muntah kemungkinan bayi mengalami saluran pencernaan bagian atas buntu, sedangkan apabila bayi tidak mengeluarkan mekonium berarti saluran percernaan bagian bawah buntu. h. Apabila bagian tali pusat bayi dan dinding perut di sekitar tali pusat berwarna kemerahan, berbau busuk, terdapat pus / nanah, keluar darah / perdarahan, kemungkinan tali pusatnya terdapat infeksi tali pusat. Ibu sudah mengerti tentang tanda tanda bahaya pada bayi. Ibu sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan 9. Menginformasikan pada ibu tentang ASI Ekslusif yaitu ASI eksklusif adalah air susu ibu yang diberikan kepada bayi sebagai bahan makanan pokok sampai umur 6 bulan bayi hanya diberikan ASI saja tanpa makanan tambahan lainnya. Serta keuntungan ASI Ekslusif yaitu Mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi, ASI mengandung zat penolak (antibody) yang dapat melindung bayi dari berbagai penyakit infeksi, aman dan dapat diberikan langsung, tidak menimbulkan alergi bagi bayi, sebagai perantara hubungan kasih sayang antara ibu dan bayi, membantu pertumbuhan gizi lebih baik, ekonomis, praktis dan tersedia setiap saat. Ibu sudah mengrti tentang ASI eksklusif. 10. Menginformasikan pada ibu tentang perawatan bayi sehari-hari yaitu menjaga kehangatan bayi, bayi baru boleh dimandikan setelah umurnya 6 jam, bungkus bayi dengan kain kering, ganti kainnya jika basah. jangan tidurkan bayi di tempat dingin atau banyak angin, jaga tali pusat selalu bersih, kering, dan biarkan terbuka (jangan di bungkus). Ibu sudah mengrti tentang perawatan bayi sehari-hari. 11. Menjadwalkan ibu untuk kunjungan dalam 4 hari pasca persalinan yaitu pada tanggal 11 januari 2014. Ibu sepakat untuk kunjungan pada tanggal 11 januari 2014.

BAB IV PEMBAHASAN

Dari hasil praktikum yang kami lakukan di Puskesmas Cakra, penerapan praktikum sudah sesuai dengan teori yang di ajarkan pendidikan. Dari praktik yang telah dilakukan tidak ditemukan kesenjangan antaran teori dan pelaksanaannya. Pada data subjektif antara teori dengan praktek tidak terjadi kesenjangan, dimana pada data subjektif BBLR merupakan bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Etiologinya bisa di lihat dari factor bayi, ibu serta placentanya. sedangkan Dari kasus yang di kaji di atas, kita bisa melihat bahwa factor penyebab dari BBLR adalah factor ibu yaitu umur ibu kurang dari 20 tahun. Kebutuhan bayi yaitu menjaga agar bayi tetap selalu hangat dengan

menghangatkannya dengan penggunaan metode kanguru, selalu memakaikan topi, serta cara lain misalnya dengan menggunakan lampu, dan tidak usah dimandikan. Selain itu, ibu diharuskan untuk selalu mengontrol bayinya ke balai kesehatan terdekat. Hipotermi sering terjadi pada neunatus terutama pada BBLR karena pusat pengaturan tubuh bayi yang belum sempurna,permukaan tubuh yang relative luas,kemampuan produksi dan penyimpanan panas terbatas. Suhu tubuh rendah dapat disebabkan oleh karena terpapar dengan lingkungan yang dingin (suhu lingkungan rendah,permukaan dingin atau basah) atau bayi dalam keadaan basah atau tidak berpakaian.

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN 1. Mahasiswa telah mengumpulkan data subjektif pada bayi Ny. M dengan berat badan lahir rendah untuk mendapatkan informasi dan data yang akurat. 2. Mahasiswa telah melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan data objektif pada bayi Ny. M dengan berat badan lahir rendah yang lebih akurat untuk menegakkan diagnosa. 3. Mahasiswa dapat menganalisa diagnose pada bayi Ny. M dengan berat badan lahir rendah. 4. Tindakan dan asuhan kebidanan yang dilakukan pada bayi Ny. M dengan berat badan lahir rendah telah sesuai dengan kebutuhan bayi.

B. SARAN 1. Bagi Lahan Agar tetap mempertahankan mutu pelayanan kebidanan yang telah diberikan sehingga selalu tercapai asuhan sesuai standar khususnya untuk pertolongan dalam persalinan. 2. Bagi Institusi Diharapkan agar ditingkatkan lagi praktek laboratorium sehingga mahasiswa mampu menerapkan di lahan praktek dengan semaksimal mungkin 3. Bagi Masyarakat a. Bagi keluarga pasien Khususnya untuk pasien yang diberikan asuhan, dapat lebih proaktif terhadap segala tindakan atau asuhan yang diberikan dan dapat membina hubungan yang baik dengan tenaga serta fasilitas kesehatan. b. Bagi masyarakat umum Diharapkan masyarakat lebih mampu memberikan perawatan kebidanan kepada bayi baru lahir, serta melakukan deteksi dini jika terdapat kelainan serta melaporkannya pada petugas kesehatan pada umumnya serta bidan pada khususnya.