Anda di halaman 1dari 12

Islam dan Pluralisme Oleh :Buya Yahya www.buyayahya.

org

Pluralisme Sebelum kami berbicara tentang pluralisme terlebih dahulu kami akan menyinggung istilah pluralisme dengan harapan agar tidak terjadi kesalah-pahaman di antara semua di hadapan istilah tersebut. Pluralisme sering di artikan oleh penyerunya sebagai sikap mengakui dan menerima kenyataan bahwa masyarakat itu bersifat majemuk disertai dengan sikap tulus menerima kenyataan kemajemukan sebagai sesuatu yang bernilai positif, dan merupakan rahmat Allah kepada bangsa manusia. Pluralisme tidak sekedar menyadari akan kemajemukan. Akan tetapi lebih dari itu harus ada keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut. Seorang pluralis adalah orang yang menyadari kemajemukan sebagai sesuatu yang positif sekaligus dapat berinteraksi aktif-positif dalam lingkungan kemajemukan . Jika demikian adanya maka pluralisme adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Islam sebagai agama rahmatan lil'alamin . Bahkan jika benar begitu makna pluralisme maka ia adalah sesuatu yang sangat asasi dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Namun yang harus dimengerti bahwa sebenarnya umat Islam tidak butuh dengan istilah pluralisme sebab makna yang terkandung didalam Islam yang rahmatan lilalamin jauh melampaui hakekat makna pluralisme. Kalau bukan karena maraknya istilah pluralisme dan banyaknya kejanggalan perilaku penyeru pluralisme niscaya tidak akan ada penggunakan istilah pluralisme dalam tulisan ini. Apapun adanya amat bijak kalau ingin menjalin keindahan dalam kebersamaan tanpa kita harus menggunakan istilah pluralisme, karena istilah tersebut bagi sekelompok orang mempunyai konotasi yang berbeda dan jauh dari makna kebersamaan yang indah dalam perbedaan yang di kukuhkan Islam .

Berinteraksi aktif-positif bukan berarti menyamakan agama dalam kebenaran (menganggap semua agama benar). Anggapan semua agama itu benar adalah anggapan yang salah, dan itu ungkapan yang tidak bermakna. Sebab agama tertuang dalam sebuah keyakinan. Bagaimana dua yang bertentangan dalam masalah keyakinan kita katakan benar semua. Pasti salah satunya salah atau dua-duanya harus salah dan yang benar adalah di luar itu. Dalam beragama harus ada keyakinan, yang tidak yakin dengan kebenaran agama bukanlah orang yang beragama. Dalam beragama ada yang namanya perubahan keyakinan sesuai dengan kuat-lemah dan benar-tidaknya sebuah hujjah (argumentasi). Akan tetapi seseorang yang berubah keyakinanya tetap tidak keluar dari yang namanya keyakinan. Meyakini kebenaran agama yang dipeluknya lalu menganggap agama yang lainya salah, tidak ada hubunganya dengan pluralisme dan juga tidak

bertentangan dengan pluralisme. Sebab pluralisme dalam arti berinteraksi aktif positif dalam kemajemukan, baik di saat adanya perbedaan keyakinan atau tidak. Berbeda keyakinan bukan halangan untuk mewujudkan semangat kebersamaan. Begitu juga di saat tidak adanya perbedaan bukan berarti pluralisme telah terwujud. Orang yang menganggap semua agama benar adalah orang yang berkhianat terhadap keyakinan dan agamanya. Itu sama artinya dengan orang yang tidak beragama. Anggapan semua kitab-kitab (yang sering disebut kitab suci) yang ada sekarang ini masih asli semua adalah bentuk yang lain lagi dari penghianatan terhadap agama. Akan tetapi semua orang beragama harus

meyakini agamanya yang paling benar dan kitab sucinya yang paling benar dan jika ada kitab suci yang bertentangan dengan kitab sucinya harus dianggap sebagai kitab suci yang salah. Yang tidak meyakini kebenaran kitab suci agama yang dipeluknya akan menghasilkan pendustaan kepada agama kitab suci itu sendiri. Sebab seseorang yang meyakini kebenaran kitab suci lalu menemukan kitab suci agama orang lain terdapat beberapa hal yang sangat bertentangan dengan kitab sucinya, Apakah mungkin dengan akal sehatnya bisa meyakini kebenaran kedua kitab suci tersebut . Perbedaan
2

yang

kami maksud adalah perbedaan dalam prinsip-prinsip keimanan seperti

masalah ketuhanan, kenabian, hari akhir dll. Bagi sebagian orang pluralisme tidak lebih dari sekedar basa-basi sosial tanpa ada motivasi yang pasti yang mendorong seseorang untuk saling mengerti dalam kemajemukan. Yang diharap di dalam melaksanakan tugas kemanusiaan yang agung ini hanyalah imbalan dari manusia, atau agar diperlakukan sebagaimana ia memperlakukan orang lain. Hal itu amat jauh nilainya jika dibandingkan dengan kebersamaan orang beragama. Orang beragama berkeyakinan bahwa imbalan yang sejati adalah imbalan dari Tuhan. Imbalan dari manusia tidak masuk dalam perhitungannya. Artinya, motivasi perbuatannya adalah perkenan Tuhan. Seorang yang beragama dituntut untuk berbuat baik kepada sesama, baik di saat dia diperlakukan orang lain dengan baik atau tidak. Hal ini teramat jelas terurai dalam ajaran Islam yang disebut dengan istilah ikhlas, berbuat hanya karena Allah. Bahkan amal perbuatan tidak akan di terima oleh Allah jika tidak dilakukan dengan ikhlas.

Islam Dan Kebersamaan Masyarakat Madinah di zaman Nabi SAW adalah contoh paripurna masyarakat madani yang mengagungkan makna kebersamaan. Harmoni kehidupan benar-benar tercipta, mulai dari perbedaan tradisi antar suku yang beragama sama hingga yang berbeda agama. Kesiagaan untuk berinteraksi aktif-positif benar-benar terjamin dan tercipta saat itu. Padahal sebelumnya masyarakat ini amat sulit dipersatukan saat tidak ada perbedaan, apalagi jika itu saat ada perbedaan lebih lagi jika perbedaan itu di dalam berkeyakinan. Hal yang demikian itu terbentuk karena adanya komando yang dipatuhi yang menyeru kepada sikap menerima perbedaan pendapat sekaligus cara menjalani hidup dengan perbedaan dengan cara yang sebaik-baiknya. Komando yang kami maksud adalah ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Nabi yang diutus Allah untuk menciptakan kasih sayang yang bukan hanya diantara pengikutNya, akan tetapi kasih sayang diantara bangsa manusia semuanya (rahmatan lilalamiin).
3

Dalam masyarakat seperti ini seorang Yahudi atau Kristiani tidak akan pernah merasa risih berinteraksi dengan kaum muslimin. Bahkan di saat ada dari kaum muslimin yang mengabaikan haknya dengan lega dan pasti seorang yahudi atau kristiani mengangkat permasalahanya keatasan yang muslim. Dan atasan yang adilpun akan menjatuhkan vonis sesuai dengan tata aturan perlindungan hak asasi manusia yang sangat dijunjung tinggi oleh Islam. Masyarakat yang telah menyadari pentingnya kebersamaan tidak lagi menggembar-gemborkan pluralisme dengan lafal, tetapi mereka akan lebih sibuk untuk menjadikan kebersamaan tersebut sebagai asas yang mendasari sepak terjangnya dalam mengarungi kehidupan ini. Dan sebaliknya, jika asas ini telah keropos atau bahkan punah, jangankan untuk saling berintraksi aktif-positif dengan orang yang berbeda agama, sesama agama atau bahkan dalam rumah sendiripun (keluarga) keharmonisan akan sulit diwujudkan. Problem yang amat komplek di masyarakat kita yang bertahun-tahun tidak kunjung usai. Pertikaian antar agama dan antar suku yang sering muncul adalah karena tidak adanya kesadaran akan kebersamaan.

Pluralisme Yang Teraniaya Di saat tidak adanya kesadaran akan pentingnya hidup dalam kebersamaan , maka pluralisme disebut dan dihadirkan untuk memberi solusi problem yang

merebak. Menjadikan pluralisme sebagai solusi adalah kedzaliman pertama bangsa manusia terhadapnya, menyusul berikutnya kedzaliman dalam cara menghadirkan pluralisme dalam sebuah komunitas. Kita tidak ingin pluralisme dijadikan senjata sekelompok orang untuk memonopoli situasi demi sebuah ideologi atau kepentingan kelompok. Kita tidak ingin pluralisme di jadikan alat penjajahan ideologi. Sebab yang semestinya, pluralisme adalah pelindung ideologi. Adanya indikasi penganiayaan terhadap pluralisme telah menjadikan benih pluralisme terbunuh sebelum dilahirkan. Bahkan untuk sebagian orang, kelahirannya pun tidak diharapkan.
4

Hal lain yang perlu diamati adalah semangat kebersamaan hendaknya tidak hanya diserukan diantara umat yang berbeda agama. Tetapi diantara sesama agama, atau lebih khusus lagi keluarga (yakni antara warga dalam keluarga), kesadaran pentingnya kebersamaan juga harus dihidupkan. Suatu kedunguan yang nyata

menyeru kebersamaan antar agama sementara di dalam rumahnya sendiri semangat ini telah mati. Ini adalah titik penting yang sering dilupakan. Dalam Hadits Nabi SAW disebutkan keluarganya. Orang bijak adalah orang yang pandai menghindari atau memperkecil perpedaan pendapat, dan sebisa mungkin memahami perbedaan pendapat jangan menjadi sebab permusuhan. agar Sebaik-baik kalian adalah yang bisa berbuat baik kepada

Betapa banyak orang yang bisa beramah-tamah dengan orang lain tetapi bersama keluarganya yang tampak hanya suram wajahnya. Mulai dari omongan yang kasar hingga juga perbuatan yang merugikan. Begitu juga dalam sebuah agama (Islam misalnya) ketegangan sering hadir di kalangan kaum muslimin yang kadang kala disebabkan oleh orang-orang yang amat lantang menyeru pluralisme. Yang tidak mampu menjaga kebersamaan dalam agamanya bagaimana mungkin akan menyeru kebersamaan dengan agama lain. Sebagai contoh, gerakan pemikiran Islam yang menamakan diri mereka islam liberalbaik orang yang bergabung didalamnya atau yang hanya sekedar merestuinya. Gerakan ini (atau lebih tepat kita sebut kelompok)adalah yang paling lantang menyeru pluralisme akan tetapi terbukti sesungguhnya mereka adalah perusak pluralisme. Memang agak kabur untuk membedakan mana yang lebih dahulu lahir antara pluralisme palsu dan liberalisme.Apakah pluralime palsu telah melahirkan liberalisme atau liberalime yang telah menodai pluralisme.Yang jelas jika pluralisme diungkapkan oleh kelompk liberalisme menodai kebersamaan. Jaminan ketentraman harus diberikan kepada semua lapisan baik mayoritas atau minoritas.Tidak benar memihak mayoritas dengan dholim kepada minoritas.
5

itu adalah pluralisme palsu yang amat

Akan tetapi karena kepicikan cara pandang penyeru pluralisme palsu. Saat ada kericuhan yang bersumber dari kaum minoritas datanglah pahlawan kesiangan pembela kaum minoritas dengan menghujat kaum mayoritas. Dengan bahasa sederhan bias kita umpamakan , kalau ada penjahat dikampung yang harus disalahkan adalah orang kampung karena mereka menghujat pejahat,dan penjahat yang telah merugikan orang banyak harus di bela karena ia kaum minoritas. Gejala semacam ini jika tidak segera ditanggulangi atau kita beri solusi, akan membesar menjadi problem masyarakat luas. Puncaknya pluralime akan benar-benar menjadi kendaraan untuk penjajahan ideologi dan penodaan terhadap agama. Ini adalah lain lagi dari bentuk kedzaliman penyeru pluralisme terhadap pluralisme. Pluralisme dalam Islam Sebagai seorang yang beragama Islam kamipun akan mencoba menampilkan wajah agama yang kami peluk sebagai gambaran umum sekaligus asasi tentang Islam dan pluralisme. Seperti yang kami ungkapkan di awal tulisan ini bahwa sebenarnya kita tidak butuh dengan kalimat pluralism, karena kalimat tersebut telah diperkosa dan di aniaya sekelompok orang demi kepentinganya.. Ada hal penting dalam pluralisme yaitu masalah toleransi dengan semua yang berbeda. Konon toleransi adalah ruh pluralisme . Agar di ketauhi jika kita berbuat baik kepada tetangga atau orang yang berbeda agama dengan kita. Perkenan Islam kepada non-muslim untuk tinggal di dalam masyarakat Islam (negara Islam) berikut kebebasanya dalam beraktifitas juga kebebasan dalam beribadah itu semua bukanlah sebuah toleransi. Akan tetapi hal itu merupakan ketetapan hukum yang telah ditetapkan oleh Islam. Suatu kesalahan jika ketetapan hukum dianggap sebagai toleransi. Sebab toleransi tidak lebih dari menjatuhkan hak atau merelakan haknya untuk tidak dipenuhi dan itupun ada batasan-batasan yang harus dipatuhi. Yang ada dalam Islam lebih agung dari toleransi yaitu kewajiban memenuhi hak orang lain.

Untuk lebih jelasnya kita bisa merujuk pada Nabi Islam, sosok pencipta dan pencetus keindahan dalam kebersamaam yang paripurna. Para pengikutnya pun seharusnya meniti jejak beliau. Mewujudkan keindahan dalam kebersamaan dalam Islam tidak diperlukan berbagai macam toleransi, sebab makna kebersamaan sendiri telah ditetapkan Islam dalam hukum-hukum yang jelas. Hanya dengan kembali kepada agamanya seorang muslim kebersamaan. Di saat Nabi Muhammad SAW memasuki Madinah, beliau menjamin masyarakat Yahudi dengan kebebasan beraktifitas dan menikmati haknya serta memberikan perlindungan keamanan dari penghianatan dan gangguan dari luar (Ibnu Hisyam 106/2). Padahal jika seandainya Nabi SAW menghardik atau memusnahkan mereka, beliau tidak akan dicela. Sebab Nabi SAW pernah dikhianati oleh Yahudi Bani Quraidhoh pasca perang Badar Kubra begitu juga Yahudi Bani Nadzir pasca perang Uhud. Penghianatan yang lain datang dari Yahudi Bani Quraidhah pasca perang Khondak. Pun demikian Nabi SAW yang diutus untuk membawa dan memberikan kasih sayang itu, senantiasa lemah lembut terhadap mereka dengan harapan keharmonisan bisa tercipta, biarpun orang-orang Yahudi tidak akan menjadi seorang yang indah dalam

menghendakinya. Begitu pula pada masa Kholifah Abu Bakar r.a, penerus dakwah Nabi SAW. Amat banyak cerita yang menunjukan bahwa beliau itu amat indah menghadapi perbedaan sebagaimana pendahulunya. Diantaranya adalah sepuluh wasiat beliau yang diberikan kepada Usamah bin Zaid yang berisi larangan menghianati lawan (dalam perang), membunuh anak kecil, orang tua, wanita, mencincang, merusak tanaman,membunuh binatang kecuali untuk dimakan,menghancurkan tempat peribadatan dst. Wasiat semacam ini disampaikan di saat ada perlawanan dari orang non Islam. Dalam Islam tidak ada istilah memusnahkan orang di luar Islam akan tetapi yang ada adalah menyampaikan kebenaran kepada mereka dengan penuh damai. Status keberadaan non muslim dalam masyarakat Islam juga beliau

kukuhkan sebagaimana pendahulunya Nabi Muhammad SAW.

Kholifah Umar r.a pun demikian, seiring dengan berbondong-bondongnya orang masuk Islam, wilayah Islampun dengan sendirinya meluas. Persilangan budaya, tradisi dan agama beliau selesaikan dengan cukup kembali kepada hukum yang ditetapkan pendahulunya Nabi Muhammad SAW. Bahkan di saat terjadinya peperangan sekalipun beliau tidak lupa mengingatkan pasukannya seperti disampaikan yang

kepada Saad bin Abi Waqqas agar menjauhkan pasukannya dari tidak memasuki pemukiman

pemukiman non muslim. Ini dengan tujuan agar

mereka kecuali orang yang benar-benar bisa dipercaya, sehingga tidak berbuat aniaya terhadap hak milik mereka. Sebab mereka punya dilindungi. Yang mereka lakukan bukanlah untuk sebuah toleransi, tetapi karena itulah ketetapan hukum Islam. Dan masih banyak lagi suri-tauladan pluralisme pada masa Nabi SAW dan sahabat. Begitu juga sejarah perluasan Islam, termasuk masuknya Islam ke negara kita yang penuh kedamaian, bukan melalui peperangan atau penindasan. Pluralisme punya satu hakikat yang sungguh diseru oleh Islam. Siapapun harus bisa membedakan antara pemeluk Islam dan Islam itu sendiri. Gagalnya pluralisme dalam masyarakat Islam di sebabkan oleh kurang dekatnya mereka kepada ajaran agamanya. hak dan kehormatan yang harus

Musuh-Musuh Pluralisme Jika kita mengamati sekitar kita, terdapat dua kelompok yang amat berbahaya terhadap eksistensi pluralisme. Bahkan keberadaan mereka tanpa disadari telah

menghancurkan bangunan pluralisme yang semakin hari semakin rapuh. Mereka adalah : 1. Orang-orang yang eksklusif dalam pemikiran keberagamaan, terkesan sekali dalam sepak terjang mereka menganggap dunia ini hanya mereka saja yang layak menghuninya. Sementara pemeluk lain tidak lebih sebagai makhluk jahat yang tidak boleh diberi kesempatan untuk hidup di bumi ini.

Ekstrimisme inipun hadir bukan tanpa sebab, tetapi ia adalah sesuatu yang terlahir dari salah satu dari dua hal berikut ini : a) Keberadaan agama itu sendiri yang eksklusif, sarat dengan doktrin-doktrin memusnahkan siapapun yang tidak sepaham dengan agama tersebut. Hakikat ini ada dalam doktrin agama selain Islam. Kita bisa lihat bagaimana kelompok Kristen di beberapa kota dan daerah di Sulawesi dan Irian disaat populasi mereka semakin banyak akan terasa diskriminasi bahkan upaya memusnahkan kaum muslimin dari tengah tengah mereka.Yang sungguh sangat berbeda jika kaum minoritas kristen berada di tengah-tengah mayoritas kaum muslimin. b) Kebodohan sang pemeluk agama (padahal agamanya sangat inklusif). Beragam aktifitas yang diatas namakan agama yang sering dikomandokan oleh tokoh pemikir agama yang sempit dan bukan agamanya yang sempit

(tidak kami pungkiri hal ini juga ada dalam Islam). Hal semacam inilah yang hanya akan menciptakan masyarakat eksklusif, sempit pandangan dan acuh tak acuh dalam aktifitas ditengah masyarakat yang plural. Orang seperti ini telah mengotori agamanya sendiri tanpa ia sadari. 2. Orang yang tidak teguh dalam beragama dalam arti tidak teguh dalam meyakini agamanya (kelompok ini datang khusus dari agama yang tidak menyeru pada eksklusifisme). Bahaya yang datang dari kelompok yang terakhir ini lebih besar dari yang

sebelumnya. Sebab sebelum segala sesuatunya kelompok ini telah menghianati agama itu sendiri dan kemudian membohongi pemeluk-pemeluknya. Kelompok ini sering hadir dalam bentuk penyamaan terhadap semua agama dan membenarkan semua agama. Jelasnya begini,sebagai contoh kami adalah pemeluk agama Islam, lalu kami menyeru kepada umat Islam bahwa agama Kristen itu juga sama seperti agama Islam. Kitab suci orang Kristen juga masih asli seperti Al-Quran. Kemudian masyarakat yang percaya kepada kami akan menerima omongan kami mentah-mentah dan meyakininya. Namun setelah mereka benar-benar berinteraksi dengan agama Kristen
9

ternyata antara dua agama itu terdapat perbedaan dan pertentangan. Di saat ia mencoba mengerti tentang agama Kristen ternyata agama itu telah mengklaim kebenaran agamanya, begitu juga saat ia kembali pada agama Islam, masyarakat Islam pun demikian meyakini kebenaran agamanya. Apa yang terjadi setelah itu? Orang yang amat mendengar seruan saya tersebut berangkat dari semangat pluralismenya yang tulus akan dengan serta merta menyalahkan orang-orang yang mengklaim kebenaran agama masing-masing. Baik itu dari masyarakat yang seagama dengannya ataupun yang berbeda. Kesimpulannya, ia telah menciptakan dua musuh dalam waktu yang bersamaan. Musuh dari luar dan musuh dari dalam sendiri. Maka orang tersebut akan menjadi sumber kerusakan dalam rumah sendiri, juga di luar rumah. Sementara yang harus kita yakini sebagai umat beragama adalah perbedaan memang selalu ada dalam hidup bermasyarakat. Ini merupakan kesepakatan semua orang yang berakal, termasuk di dalamnya perbedaan di dalam beragama dan berkeyakinan. Pluralisme berfungsi dalam arena interaksi dengan sesama untuk menciptakan keharmonisan hidup bermasyarakat. Berangkat dari memahami perbedaan sesorang akan mudah dalam mewujudkan masyarakat yang pluralis. Perhatikan, betapa anehnya orang yang mengatakan dua berbeda itu sama; dua kitab suci yang jelas berbeda bahkan kadang bertentangan adalah sama; dua agama yang saling bertentangan adalah sama-sama benar. Akal sehat mana yang bisa mempercayai pernyataan seperti itu? Ia adalah musuh besar pluralisme yang mendakwakan dirinya sebagai pembela pluralisme. Ia adalah maling pluralisme yang menuduh orang lain sebagai maling. Inilah penyakit yang diidap oleh kaum yang mengaku muslim akan tetapi mereka tidak menyadari.

Bersama Menuju Pluralisme yang sejati Ada banyak hal yang amat menghambat kita dalam mewujudkan semangat pluralisme di Indonesia diantaranya : 1. Problem nasional yang tidak kunjung padam, serta tidak adanya jaminan keamanan bagi masyarakat dari penguasa, berikut lambatnya penguasa
10

menangani konflik. Hal yang akan menjadikan semua serba panas, bikin sesak dada, rasa ingin berontak, saling menyalahkan yang tidak hanya mempertinggi volume ketegangan antar agama tapi juga antar suku yang kadang juga masih seagama. Solusi problem yang satu ini lebih tepat jika diserahkan kepada pemerintah dengan syarat sungguh-sungguh.

2. Problem seagama. Dalam Islam misalnya, masih sering terjadi permusuhan antar kelompok. Berbeda pendapat adalah wajar, tetapi mengklaim kekafiran atau bid`ah terhadap kelompok tertentu tanpa prosedur yang sah dalam Islam amat mengganggu jalannya pluralisme. Belum lagi adanya isu-isu aneh tentang pemikiran (yang seolah-olah Islami) yang sering diangkat ke permukaan, yang hanya akan menambah suasana yang sudah panas ini bertambah panas.Yaitu islam yang di suarakan oleh kelompok islam liberal yang sungguh mereka adalah perusak keharmonisan dalam masyarakat . Untuk problem ini solusinya adalah mengembalikan

permasalahannya kepada pakar Islam. Pakar yang benar-benar pakar, tercatat pernah mempelajari Islam dengan benar dengan bimbingan guru yang benar, punya mata rantai keilmuan dengan guru pluralis Nabi Muhammad SAW. 3. Problem moral. Banyaknya kejahatan yang dilakukan oleh masyarakat kita, mulai dari

pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, korupsi, dll adalah potret nyata jauhnya masyarakat kita dari tata moral agama. Pelakunya pun merata di seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari rakyat kecil, pejabat, orang awam, bahkan tokoh agama. Hal semacam ini yang menimbulkan keraguan terhadap fungsi agama sebagai cara dan jalan hidup. Padahal jelas kesalahan bukan di agama tapi pada pemeluk agama. Orang yang semacam ini amatlah sulit untuk diajak mengerti tentang pluralisme, apa lagi untuk menerapkanya. Padahal pluralisme adalah puncak moralitas.

11

Untuk

problem dari

yang

satu

ini

adalah

Pekerjaan Rumah (PR) bagi sosial dan

semuanya, mulai

penguasa, tokoh

agama, lembaga-lembaga

keagamaan dan setiap individu, untuk sama-sama menyadari pentingnya bermoral dalam beragama dan bermasyarakat. Karena moral sifatnya kesadaran penuh saat disaksikan orang atau tidak. Maka pembinaannyapun tidak cukup dengan penegakan hukum oleh penguasa, tapi lebih dari itu, harus tercipta kesadaran dalam beragama. Artinya keyakinan akan adanya hari pembalasan, keyakinan bahwa yang lolos dari hukuman di dunia tidak akan lolos dari hukuman Tuhan di hari pembalasan. Dan kebaikan yang kita lakukan sekarang akan kitak petik buahnya kelak. Dengan demikian pintu akan terbuka lebar untuk mewujudkan pluralisme atau bahkan dengan sendirinya pluralisme akan terwujud. Karena pluralisme tidak lain adalah tata moral dalam bermasyarakat, baik itu sesuku, seagama, antar agama dan antar bangsa dengan menjauhkan problem sosial, agama dan moral dalam individu dan masyarakat. Dengan penuh pengharapan kepada Allah semoga pluralisme tidak hanya di layar atau di selebaran terbaca dan meja diskusi. Tetapi akan benar-benar tertanam dalam hati bangsa Indonesia lalu diterjemahkan kedalam dunia interaksi hingga negeri ini akan tentram damai penuh rahmat dan pengampunan dari Allah SWT. Sebagai penutup , karena begitu dekatnya istilah pluralisme dengan lidah kelompok islam liberal maka alangkah bijaknya jika kita setelah ini tidak usah menggunakan istilah tersebut dalam bahasa sosial kita agar tidak menjerumuskan orang yang tulus pada kelompok tersebut. Wallahu alam.

12