Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

A. Tujuan 1. Memahami bahwa benda yang bergerak di dalam fluida zat cair akan mndpat gesekan yang disebabkan oleh kekentalan fluida tersebut. 2. Mempelajari dan menentukan koefisien kekentalan zat cair.

B. Latar Belakang Masalah Koefisien kekentalan zat cair (viskositas) adalah gesekan interval, gaya voskos melawan gerakan sebagai fluida relatif terhadap yang lain. Viskositas adalah alasan diperlukannya usaha untuk mendayung perahu melalui air yang tenang., tetapi juga merupakan suatu alasan mengapa dayung bisa bekerja. Efek viskos merupakan hasil yang penting dalam pipa aliran darah. Pelumasan bagian dalam mesin fluida viskos cenderung melekat pada permukaan zat yang bersentuhan dengannya (Sears, 1982). Di antara salah satu sifat zat cair adalah kental (viskos) dimana zat cair memiliki kekentalan yang berbeda-beda materinya, misalnya kekentalan minyak goreng dengan kekentalan oli. Dengan sifat ini zat cair digunakan dalam dunia otomotif yaitu sebagai pelumas mesin. Telah diketahui bahwa pelumas yang dibutuhkan tiap-tiap mesin membutuhkan kekentalan yang berbeda-beda (Budianto, 2008).

BAB II DASAR TEORI

A. Definisi Viskositas Viskositas adalah fenomena transpor ketiga yang berlaku untuk gas (dan untuk fluida secara umum) (Alonso, 1994). Viskositas dalam istilah orang awam adalah ukuran kekentalan suatu cairan. Semakin besar nilai viskositas maka semakin besar pula kekentalan cairan tersebut. Secara umum viskositas terdapat pada fluida seperti zat cair dan gas (Suciati, 2008). Viskositas atau kekentalan dari suatu cairan adalah salah sau sifat cairan yang menentukan besarnya perlawanan terhadap gaya gesek. Viskositas terjadi terutama karena adanya interaksi antara molekul-molekul cairan (Erizal, 2010).

B. Definisi Fluida Fluida adalah zat yang menempati ruang dan zat yang dapat mengalir. Dalam hal ini fluida adalah zat gas dan zat cair. Viskositas lainnya ada fluida riil atau fluida nyata (fluida yang kita temui sehari-hari) (Lohat, 2009). Fluida adalah suatu at yang bentuknya dapat berubah secara kontinu akibat gaya geser pada benda padat. Gaya geser menyebabkan terjadinya perubahan bentuk atau deformasi, yang tidak berubah besarnya selama gaya yang besarnya tetap. Akan tetapi, baik fluida viskos maupun encer akan mengalami pergerakan antara satu bagian terhadap bagian lainnya bila ada gaya geser yang bekerja padanya. Jadi dapat dikatakan bahwa fluida tidak dapat menahan gaya geser (Hariyono, 1983). Fluida adalah zat-zat yang mampu mengalir dan yang sesuai dengan

bentuk yang mengandug pembuluh. Volume cairan menempati dan pasti memiliki permukaan bebas, sedangkan suatu massa gas berkembang sampai menempati semua bagian dari setiap kapal (Gilles, 1986).

C. Hukum Stokes Sebuah benda yang bergerak dalam fluida akan mendapat gaya gesekan Fs. Jika bendanya berbentuk bola padat maka besarnya gaya stokes yang terjadi adalah sebagai berikut: Fst = 6 r v Dimana: Fst r v = gaya gesekan stokes = koefisien kekentalan fluida = jari-jari bola = kecepatan bola relatif terhadap fluida

Bola yang dijatuhkan dalam fluida akan mengalami gaya sebesar: W=

Dimana: W g = gaya berat = massa jenis bola yang bergerak = percepatan gravitasi

Bola juga akan mengalami gaya Archimedes sebesar FA yakni: W= o

Dimana: FA o g = gaya Archimedes = massa jenis zat cair = percepatan gravitasi

Dengan menganalisa gaya-gaya yang bekerja pada bola yang bergerak dalam zat cair maka kecepatan bola dalam fluida dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan:

v=

Jika kecepatan v =

maka persamaan di atas dapat ditulis: = =

Dimana: t d o g r = waktu yang diperlukan bola jatuh sejajar d = jarak yang ditempuh bola selama bergerak dengan kecepatan konstan = massa jenis bola = massa jenis zat cair = koefisien kekentalan fluida = percepatan gravitasi = jari-jari bola

Jika dibuat grafik antara t r2 terhadap d maka akan diperoleh koefisien arah tg, maka persamaan tersebut dapat ditulis: tg =

Sehingga koefisien kekentalan adalah = ( - o) tg

BAB III METODE PELAKSANAAN

A. Peralatan 1. Fluida oli 2. Kelereng 3. Tabung tempat zat cair beserta saringan pegambil bola dari dasar tabung 4. Stopwatch 5. Jangka sorong, mistar, mikrometer sekrup 6. Termometer 7. Karet gelang

B. Metode Kerja 1. Ditimbang gelas ukur kosonh, kemudian ditimang gelas ukur setelah berisi zat cair. 2. Dicatat volume zat cair. (Langkah 1-2 digunakan untuk menghitung massa jenis zat cair o). 3. Diukur diameter bola dengan mikrometer sekrup kemudian ditimbang massa bola dengan neraca teknis (untuk menghiung massa jenis zat cair ). 4. Dibuat tanda sebanyak dua garis tanda pada tabung (dapat dilingkarkan karet gelang sejauh d untuk pengamatan jarak atuh yang ditempuh bola). 5. Diukur jarak d dengan mistar kemudian diukur temperatur fluida. 6. Untuk mengambil bola dari dasar tabung, sebelum percobaan dimulai dimasukkan sendok saringan ke dalam tabung dan ditunggu sampai zat cair diam. 7. Dijatuhkan bola ke dalam zat cair dan dicatat waktu t saat bola melalui jarak d di atas. Dilakukan sebanyak 5 kali pengamatan untuk memperoleh ketelitian yang baik. 8. Dilakukan langkah 7 untuk jarak d yang berbeda. 9. Dipanskan cairan, kemudian dilakukan percobaan 7 dengan suhu cairan yang berbeda.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN . Hasil Percobaan Bola Bola A Bola B Bola C Massa (gram) 6, 46 7,34 6,98 d (cm) 1,502 1,603 1,604 r (cm) 0,751 0,801 0,802 v ( cm3) 1,77 2,15 2,16 (gram) cm 3 3,65 3,41 3,23

Perhitungan : Rumus : 2.r2.g ( bola oli ) 9. v

Bola A : No. 1. 2. 3. s (cm) 7 14 21 0,18 0,29 0,88 t (s) 38,8 48,2 23,8 v 8,94 7,48 14,1

Perhitungan : 1. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,7512.1000 ( 3,65 - 0,88 ) 9. 38,8 = 3124,5 349,2 = 8,94 2. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8012. 1000 ( 3,41 0,88 ) 9.48,2 = 3246,5 433,8 = 7,48 3. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8022. 1000 ( 3,23 0,88 ) 9. 23,8 = 3023,05 214,2 = 14,1

Bola B : No. s (cm) 1. 7 2. 14 3. 21 Perhitungan : 1. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,7512.1000 ( 3,65 - 0,88 ) 9. 36,8 = 3124,5 331,2 = 9,43 2. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8012. 1000 ( 3,41 0,88 ) 9.41,1 = 3246,5 369,9 = 8,77 t (s) 0,19 0,34 0,72 36,8 41,1 29,1 v 9,43 8,77 11,54

3. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8022. 1000 ( 3,23 0,88 ) 9. 29,1 = 3023,05 261,9 = 11,54

Bola C: No. 1. 2. 3. s (cm) 7 14 21 0,15 0,28 0,75 t (s) 46,6 50 28 v 7,44 7,21 11,99

Perhitungan : 1. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,7512.1000 ( 3,65 - 0,88 ) 9. 46,6 = 3124,5 419,4 = 7,44 2. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8012. 1000 ( 3,41 0,88 ) 9.50 = 3246,5 450 = 7,21 3. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8022. 1000 ( 3,23 0,88 ) 9. 28 = 3023,05 252 = 11,99

0li Panas : Bola 1 : Bola 7 14 21 Perhitungan : 1. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,7512.1000 ( 3,65 - 0,88 ) 9. 43,7 = 3124,5 393,3 = 7,94 2. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8012. 1000 ( 3,41 0,88 ) 9.73,6 = 3246,5 662,4 = 4,90 3. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8022. 1000 ( 3,23 0,88 ) 9. 52,5 = 3023,05 472,5 = 6,39 t (s) 0,16 0,19 0,40 v 43,7 73,6 52,5 7,94 4,90 6,39

10

Bola 2 : Bola 7 14 21 Perhitungan : 1. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,7512.1000 ( 3,65 - 0,88 ) 9. 43,7 = 3124,5 393,3 = 7,94 2. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8012. 1000 ( 3,41 0,88 ) 9. 56 = 3246,5 504 = 6,44 3. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8022. 1000 ( 3,23 0,88 ) 9. 65,6 = 3023,05 509,4 = 5,12 0,16 0,25 0,31 t (s) 43,7 56 65,6 v 7,94 6,44 5,12

11

Bola 3 : Bola 7 14 21 Perhitungan : 1. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,7512.1000 ( 3,65 - 0,88 ) 9. 43,7 = 3124,5 393,3 = 7,94 2. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8012. 1000 ( 3,41 0,88 ) 9.65,6 = 3246,5 590,4 = 5,12 3. ) 2.r2.g ( bola oli ) 9. v = 2.0,8022. 1000 ( 3,23 0,88 ) 9. 67,7 = 3023,05 609,3 = 4,95 0,16 0,25 0,31 t (s) 43,7 65,6 67,7 v

12

A. Pembahasan B. Pada percobaan ini pertama-tama dilakukan pengukuran massa jenismasingmasing zat yang akan dicobakan, yaitu aquades, etanol, dan methanol dengan suhu 20oC, 40oC, dan 60oC. C. Dari hasil diketahui bahwa suhu berbanding terbalik dengan massa jenis zat. Semakin tinggi suhu maka semakin kecil massa jenis zat-nya. Hal ini disebabkan karena ketika suhu mengingkat, molekul pada zat cair akan bergerak cepat diakibatkan oleh tumbukan antar molekul, akibatnya molekul dalam zat cair akan meregang dan massa jenis akan semakin kecil. Pada percobaan selanjutnya, zat cair yang telah ditentukan massa jenisnya dimasukkan ke dalam viskometer dengan mengusahakan agar tidak ada gelembung dalam viskometer. Hal ini bertujuan agar aliran laminar tidak terganggu oleh adanya gelembung yang akan mengakibatkan waktu yang diperoleh tidak sesuai dengan waktu yang seharusnya. Pada percobaan ini digunakan tiga jenis larutan dengan suhu yang berbeda yaitu aquades 20oC, 40oC, dan 60oC; etanol 20oC, 40oC, dan 60oC; serta methanol 20oC, 40oC, dan 60oC. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap viskositas zat cair. Setelah diperoleh waktu pada percobaan, koefisien viskositas dapat dihitung dengan rumus :.

13

BAB V PENUTUP

A. Simpulan 1. Viskositas adalah fluida yang diberikannya tahanan tehadap tegangan geser fluida.

14

DAFTAR PUSTAKA

Halliday & Resnick. 1978. Fisika Jilid I Edisi Ke-3. Jakarta: Erlangga

FW Sears & Zemansky. 1971. Fisika untuk Universitas: Mekanika, Panas dan Bunyi. Bina Cipta

Alonso, Marcel, and Edward J Finn. 1994. Dasar-dasar Fisika. Jakarta: Erlangga

Djodjodiharjo. 1983. Hukum Stokes. Surabaya: ITS

Gilles. 1986. Fluid Mechanics and Hydroulious Survey: Department of Mechanical Engineering University

http:// rowsheet.blogspot.com/laporan-praktikum-fisika-viskositas//

15