Anda di halaman 1dari 15

PSIKOLOGI SOSIAL ATRIBUSI SOSIAL

Deasti Nur Fauzah Fitrah Viyanti Fitria Immaila sari Stefanny Sutandi

Fakultas Psikologi 2012 Universitas Mercu Buana

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Setelah manusia melakukan persepsi sosial , hal selanjutnya yang dia lakukan adalah atribusi sosial. Dengan atribusi sosial, manusia memperbaiki apa yang menyebabkan orang lain itu berperilaku tertentu. Apa yang ada dibalik perilakunya ? orang seperti apa dia ? bagaimana sifat-sifatnya ? apa niatnya ? bagaimana sikapnya ? dan seterusnya. Menurut Myers (1996) kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu (sifat ilmuwan pada manusia) ,termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain. Dasar untuk mencari penjelasan itu menurut F.Heider (1958) yang terkenal sebagai tokoh psikologi atribusi adalah akal sehat (commonsense). Secara akal sehat , ada dua golongan yang menjelaskan suatu perilaku , yaitu yang berasal dari orang yang bersangkutan (atribusi internal)dan yang berasal dari lingkungan atau luar diri orang yang bersangkutan (atribusi eksternal).

B.

Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu : 1. Apakah pengertian dari Atribusi Sosial? 2. Apakah saja teori-teori dari Atribusi sosial? 3. Apakah saja kesalahan dalam Atribusi Sosial?

C.

Tujuan Tujuan penulisan makalah ini , adalah untuk menjawab rumusan masalah diatas , yaitu : 1. Untuk mengetahui lebih jelas tentang pengertian atribusi sosial 2. Untuk mengetahui dan memahami teori-teori atribusi sosial 3. Untuk mengetahui kesalahan yang terjadi dalam atribusi

BAB 2 PEMBAHASAN A. Pengertian Atribusi Sosial Atribusi adalah memahami perilaku diri sendiri atau orang lain dengan menarik kesimpulan tenatang , apa yang mendasari atau melatarbelakangi perilaku tersebut. Myers (1996). Kecenderungan member atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu, termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain. Atribusi juga merupakan proses untuk mengidentifikasi penyebab penyebab perilaku orang lain dan untuk kemudian mengerti tenteng sifat sifat trait yang menetap dan disponsisinya. Proses dimana kita mencari informasi disebut atribusi. Definisi formalnya , atribusi berarti upaya kita untuk memahami penyebab dibalik perilaku oranglain, dan dalam beberapa kasus, juga penyebab dibalik perilaku kita sendiri. Pola atribusi mencerminkan teori implisit yang diperoleh dari induksi dan sosialisasi dan karenanya didistribusikan diferensial lintas budaya manusia. Secara khusus, hipotesis dispositionalism dalam atribusi untuk perilaku mencerminkan teori perilaku sosial yang lebih luas di individualis daripada budaya kolektivis .

B. Teori-Teori Atribusi Teori Atribusi dari Heider Teori atribusi adalah bagaimana kita membuat keputusan tentang seseorang. Kita membuat sebuah atribusi ketika kita merasa dan mendeskripsikan perilaku seseorang dan mencoba menggali pengetahuan mengapa mereka berperilaku seperti itu. Kajian tentang atribusi awalnya dilakukan oleh Heider (1925) . Dalam tradisi fenomologi, pertanyaan yang di ajukan adalah bagaimana kita melakukan kontak dengan dunia nyata jika pikiran kita hanya memiliki data indrawi (kesan dan pengalaman).Psikologi gestalt mencoba untuk mengenali prinsip prinsip data yang mengatur bagaimana pikiran membuat penyimpulan tentang dunia hari data indrawi (membuat data indrawi jadi bermakna) . Heider bertanya, bagaimana kita mengatribusi data indrawi kepada objek objek tertentu di dunia . Atribusi merupakan tindakan

penafsiran; apa yang terberi (kesan dari data indrawi) dihubungkann kembali kepada sumber asalnya . Contoh, ketika saya mendapat kesan warna merah dari sebuah benda, maka saya menyimpulkan nya bahwa benda itu berwarna merah. Artinya, saya mengatribusi kesan warna merah itu kepada benda yang memberi saya kesan warna merah. Contoh lain dari atribusi, ketika saya bertemu dengan seseorang yang menampilkan ekspresi wajah tidak ramah dan posisi tubuh yang terkesan berjarak dari orang lain, maka saya menyimpulkan bahwa orang itu tidak ramah. Dari sini, kita dapat mengatakan bahwa atribusi merupakan analisis aksual, yaitu penafsiran terhadap sebab sebab dari mengapa sebuah fenomen menampilkan gejala gejala tertentu. Heider, yang di kenal sebagai bapak dari teori atribusi, percaya bahwa orang seperti ilmuwan amatir, berusaha untuk mengerti tingkah laku orang lain dengam mengumpulkan dan memadukan potongan-potongan informasi sampai mereka tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab-sebab orang lain bertingkah laku tertentu.Dalam bukunya The psychology of interpersonal relations Hedier

mengambarkan dengan apa yang disebut nave theory of action yaitu kerangka kerja konseptual yang digunakan orang untuk menafsirkan ,menjelaskan ,dan meramalkan tingkah laku orang lain.Dalam kerngka kerja ini konsep interpersonal (seperti keyakinan,hasrat,niat ,keinginan untuk mecoba dan tujuan) memanikan peran penting.Akan tetapi Heider jga mengadopsi teory Lewin yang membuat perbedaan antara penyebab pribadi dan situasi,serta menyatakan bawa orang menggunakan

perbedaan ini dalam menjelaskan tingkah laku.Disuatu sisi pertentangan mengenai konsep intensional dan perbedaan peribadi si sisi lain ,belum terselesaikan hingga saat ini.Heider tidak memperjelas hubungan kedua dan iya lebih focus kepada perbedaan pribadi situasi pada studi selanjutnya.Menurut heider ada dua sumber atribusi terhadap tingkah laku 1:atribusi internal atau disposisional 2: Atribusi eksternal atau lingkungan menyimpulkna bahwa tingkah laku seseorang di sebabkan oleh sifat sifat atau disposisi (unsure psikologis yang mendahului tingkah laku seseorang)Pada atribusi eksternal kita menyimpulkan bahwa tingkah laku sseorang disebabkan oleh situasi tempat orang itu berada.Analisis tentang bagaimana cara orang menyimpulkan disposisi dari tingkah laku dilakukan oleh Jones dan Davis (1965) mereka melihat dari putusan-putusan dari intense sebagai syarat dari putusan putusan tentang disposisi.akan tetapi studi lebih diarahkan kepada faktor disposisional pada kajian selanjutnya.

Teory Atribusi dari Kelley Kelley mengajukan model proses atribusi yang tidak lain merujuk pada intensi.Menurut Kelley untuk menjadikan tingkah laku konsesten ,orang yang membuat atribusi personal ketika consensus dan kehususan (distinctiveness) rendah.sedangakn pada saat consensus dan kehususan orang membuat atribusi stimulus.Jadi atribusi dipengaruhi oleh faktor faktor dari interaksi orang dengan situasi yang dihadapinya ,bukan pada faktor intensional.Konsensus didefinisikan sejauh mana orang bereaksi terhadap beberapa stimulus atau kejadian dengan cara yang sama dengan orang yang sedang kita nilai.Sedankan kehususan adalah sejauh mana seseorang merespon dengan cara yang sama terhadap stimulus atau kejadian yang berbeda.istilah yang juga pentinga adalah konsistensi yang didefinisikan sebagai sejauh mana seseorang merespon setimulus atau situasi dengan cara yang sama dalam berbagai peristiwa (miaslnya,dalam waktu dan tempat yang berbedacara meresponya tetap

sama)Konsistensi juga merupaka faktor penting dalam menentukan apakah atribusi yang dihasilkan melibatkan faktor personal atau stimulus.Sebagai contoh :ketika kita diminta menilai menagpa seseorang yang tidak kita kenal mencela sebuah film yang diperlihatkan kepadanya.jika kita tahu ada orang lain yang tidak menilai jelek film itu (consensus rendah) dan jika kita tahu bwahwa dimala lalunya orrang tersebut sering mecela film(keberbedaan rendah)maka kita kan membuat atribusi personal .Mialnya ,dengan mengatakan bawa orang tersebut punya standar yang tinggi untuk film atau memang memiliki kecenderungan yang negativistik,Penialain kita selalu dikaitkan dengan karakteristik personal orang tersebut ,juga karena kita mempersepsikan adanya konsestensi yang tinggi pada respon orang yang kita nilai terhadap film yang sedang dipertunjukan ,disisi lain jika kita tahu bahwa orang orang juga mencela film itu (consensus tinggi) dan orang yang sedang kita nilai jarang mencela film film lain(keberbedaan tinggi) sedangkan untuk film yangs edang dipertunjukan itu orang itu selalu mencela.maka kita akn membuat atribusi stimulus .mislnya dengan mengatakan bahwa film yang diperlihatkan itu bmemang jelek,disini konsistensi yang tinggi juga berperan dalam dihasilkannya atribusi stimulus.

Teori Atribusi Malloy & Albright (1990) dalam penelitiannya menemukan bahwa di antara orang-orang yang sudah saling mengenal ada dua hal yang berpengaruh pada persepsi dan atribusi sosial yaitu orang yang dipersepsikan (target) dan orang yang melakukan persepsi iitu sendiri atau

pengamat (perceiver). Temuan ini mendukung dua teori tentang proses pembentukan atribusi . Teori itu adalah sebagai berikut . 1. Teori penyimpulan terkait , menurut teori yang berfokus pada target ini , perilaku orang lain merupakan sumber informasi yang kaya. Jadi, kalau kita mengamati perilaku orang lain dengan cermat , kita dapat mengambil bebagai kesimpulan. Orang yang tersenyum misalnya , tentunya sedang senang hati atau orang

tersebut ramah. Akan tetapi , seringkali perilaku yang tampak tidak sama dengan yang ada didalam diri prang yang bersangkutan. Seperti pada contoh yang telah dikemukakan diatas , kasir toko swalayan yang tersenyum kepada semua langganannya atau satpam yang mengusir anak-anak kampung , berperilaku seperti itu karena tugasnya , bukan karena benar-benar ramah atau bengis. Oleh karena itu kita harus lebih cermat mengamati perilaku orang lain. Jones dan Davis (1965) dan Jones & McGillis(1976) mengemukakan bahwa hal-hal khusus yang perlu diamati untuk lebih menjelaskan atribusi adalah sebagai berikut. a) Perilaku yang timbul karena kemauan orang itu sendiri atau orang itu bebas memilih kelakuannya sendiri perlu lebih diperhatikan daripada perilaku karena peraturan atau ketentuan atau tata cara atau perintah orang lain. Misalnya kair yang cemberut atau satpam yang tersenyum lebih

mencerminkan keadaan dirinya daripada kasir yang harus tersenyum atau satpam yang harus galak. Demikian juga mertua yang baik kepadda menantu(walaupun ia dapat saja galak) atau orang yang member i tempat duduk pada wanita tuas dibus yang penuh sesak (walaupun ia dapat saja tetap duduk ) benar-benar mencerminkan atribusinya sendiri karena mereka mempunyai pilihan sendiri. b) Perilaku yang membuahkan hasil yang tidak lazim lebih mencerminkan atribusi perilaku daripada yang hasilnya berlaku umum. Misalnya, wanita yang mau dengan pria yang genduut , jelek , miskin tetapi penuh perhatian , lebih dapat diandalkan cintanya daripada wanita yang suka kepada pria ganteng , kaya, berpendidikan tinggi. Atau , seorang lulusan SMA yang pandai dan dapat diterima di Fakultas Kedokteran atau Fakultas Ekonomi ,

tetapi ia justru memilih jurusan ilmu purbakala , lebih jelas motivasinya daripada siswa yang prestasinya rata-rata , tetapi bersikeras ingin masuk ke Fakultas Kedokteran atau Fakultas Ekonomi. c) Perilaku yang tidak biasa lebih mencerminkan atribusi daripada perilaku

yang umum . Misalnya , seorang pelayan toko menunjukkan toko lain kepada pelanggannya yang menanyakan barang yang tidak tersedia di toko tersebut. Atau , seorang pria yang mencinta wanita setengah baya yang belum menikah. Karena adanya prinsip untuk lebih mengamati hal-hal yang khusus dalam hubungan dengan orang lain , orang-orang yang sudah berhubungan lama lebih dapat saling mengandalkan dalam hubungan antar pribadi mereka. Dalam sebuah penelitian terhadap 119 pasangan teman dekat dan 1.668 pasangan kenalan biasa di Amerika Serikat , terbukti bahwa teman-teman dekat lebih saling tergantung dalam saling membentuk persepsi sosial antarmereka daripada kenalan biasa (Kenny & Kashy 1994)

2. Teori Sumber Perhatian dalam kesadaran , teori ini menekankan proses yang terjadi dalam kognisi orang yang melakukan persepsi (pengamat). Gilbert (1998) mengemukakan bahwa atribusi harus melewati kognisi dan dalam kognisi terjadi dalam tiga tahap . a) Kategorisasi , dalam tahap ini pengamat menggolongkan dulu perilaku orang yang diamati (pelaku) dalam jenis atau golongan tertentu sesuai dengan bagan atau skema yang sudah terekam terlebih dahulu dalam kognisi pengamat (dinamakan skema kognisi). Misalnya , dalam skema kognisi Jhon sudah ada golongan-golongan perilaku , yaitu ramah , bersahabat, curang , amu menang sendiri dan sebagaiinya. Pada awalnya Jhin menggolongkan perilau Wayan dalam Ramah dan bersahabt , tetapisejak Wayan membawa kemenakannya ke Jakarta tanpa persetujuannya, perilaku Wayan

dikategorisasikan sebagai curang dan mau menang sendiri. b) Karakterisasi , pengamat member atribusi kepada pelaku bedasarkan kategorisasi tersebut. Jadi,Jhon member sifat baik hati dan bersahabat kepada Wayan ketika ia berada di Bali , sementara waktu di Jakarta Jhon mengatribusikannya sebagai curang , dan tidak memperhatian teman.

c) Koreksi, tahap yang terakhir adalah megubah atau memperbaiki , kesimpulannya yang ada pada pengamat tentang pelaku. Dalam kasus Jhon , ia mengoreksi simpulannya tentang Wayan dari orang yang ramah dan bersahabt menjadi orang yang curang dan tidak memperhatikan teman sejak Jhon mendapat informasi baru tentang perilaku Wayan selama ia dan kemenakannya berada di Jakarta. Proses yang sama terjadi juga dalam contoh kutipan cerita pendek diatas pada diri Wayan . Jhon yang semula dikategorisasikan dan diatribusikan sebagai bule yang sederhana dan baik hati dikoreksi dalam kognisi Wayan menjadi bule bekas penjajah yang pelit.

Dalam kehidupan sehari-hari siklus kategorisasi karakterisasi koreksi ini terjadi dalam setiap hubungan antarpribadi , yaiut hubungan rekan kerja ,teman sekolah , sahabat,pacaran , perkawinan , rekan bisnis , dan sebagaiinya. Hubungan itu dapat bersifat positif (saling menyukai , saling curiga , saling iri ) atau dapat berlanjut atau putus berdasarkan karakterisasi yang diberikan pada saat tertentu (Jaspers & Hewstone , 1990). Setelah kita mengetahui bagaimana proses terjadinya atribusi , pertanyaan yang berikut adalah bagaimana kita menetapkan atribusi internal atau atribusi eksternal . Hal ini dijelaskan oleh teori tentang atribusi berikut.

3. Teori atribusi internal dan eksternal , teori ini yang tetap mendasarkan diri pada akal sehat saja mengatakan bahwa ada tiga hal yang perlu di perhatikan untuk menetapkan apakah suatu perilaku beratribusi internal atau eksternal. a) konsensus , apakah suatu perilaku cenderung dilakukan oleh semua orang pada situasi yang sama . Makin banyak yang melakukannya , makin tinggii konsensus dan makin sedikit yang melakukannnya ,makin rendah. b) Konsistensi, apakah pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan perilaku yang sama di masa lalu dalam situasi yang sama kalau ya , konsistensinnya tinggi , kalau tidak konsistensinya rendah. c) Distingsi atau kekhususan , apakah pelaku yang bersangkutan cenderung melakukan perilaku yang sama dimasa lalu dalam situasi yang berbedabeda. Kalau ya , maka distingsinya tinggi , kalau tidak distingnya rendah.

Sekarang marilah kita kembali ke contoh Jhon dan Wayan. Buat Jhon , perilaku Wayan membawa kemenakannya menginap di rumahnya tanpa izin , meminta ongkos untuk kemenakannya dan tidak mau pulang walau sudah diusir adalah perilaku yang konsistensinnya rendah (sepengetahuaanya jhon tidak lazim dilakukan orang), konsistensinya tinggi (Wayan mengatakan bahwa ia sudah biasa pergi dari rumah selama lebih dari satu bulan, ia biasa tidur sekamar berlima , ia biasa tidur dikursi dan sebagainya) dan distingnnya rendah (waktu Jhon di Bali , perilaku Pak Wayan berbeda sekali ). Pelaku jenis ini (consensus rendah , konsistensi tinggi dan disting rendah) di beri simpulan sebagai atribut internal (memang pada dasarnya Waab bersifat curang).

Dengan demikian , atribusi yang dibuat oleh pengamat , sekali lagi sangat tergantung pada keadaan kognisi si pengamat itu, hal tersebut tidak berarti bahwa atribusi hanya ditentukan oleh pengamat dan pelaku. Kadang-kadang adanya factor lain atau orang lain juga dapat menentukan apakah suatu atribusi adalah internal atau eksternal.

4. Atribusi karena factor lain , kalau seorang ibu marah kepada anaknya , atribusi yang mungkin diberikan oleh orang yang menyaksikannnya (pengamat) adalah bahwa ibu itu (pelaku)galak kepada anaknya. Apalagi jika marah-marah itu dilakukan di depan orang lain yang seharusnya tidak menyaksikan perilaku semacam itu (misalnya dihadapan guru anaknya), kesan atribusi internal (ibu itu memang galak) akan lebih kuat lagi. Akan tetaoi , jika inu itu marah karena tibatiba anaknya menyebrang jalan seenaknnya sehingga hampir tertabrak mobil , simpulan pengamat cenderung pada atribusi eksternal daripada internal (pantas ibu itu marah-marah karena anaknya nakal,melakukuan hal yang berbahaya , menyeberang tiba-tiba dan hampir ditabrak mobil).

5.

Analisis konseptual menunjukkan bahwa tindakan yang perseptor didasarkan pada stereotip - atribusi yang dihasilkan tentang target individu tertentu dapat menyebabkan perilaku individu yang untuk mengkonfirmasi atribusi awalnya keliru perseptor itu . Sebuah penyelidikan paradigmatis konfirmasi perilaku stereotip yang melibatkan daya tarik fisik ( misalnya , " orang-orang cantik adalah orang-orang baik " ) . 51 laki-laki " perceivers " berinteraksi dengan 51

perempuan " target " ( semua mahasiswa ) yang mereka percaya secara fisik menarik atau tidak menarik secara fisik . Tapi rekaman perilaku percakapan setiap peserta dianalisis oleh hakim pengamat naif untuk bukti konfirmasi perilaku . Hasil menunjukkan bahwa target yang dirasakan ( tidak mereka ) untuk menjadi menarik secara fisik datang untuk berperilaku dengan cara yang ramah , menyenangkan , dan bersosialisasi dibandingkan dengan target yang perceivers menganggap mereka sebagai tidak menarik.

Dimensi Lain dari Atribusi Kausal Selain ingin mengetahui tingkah laku orang lain disebabkan oleh faktor internal atau eksternal.kita juga biasanya ingin mengetahui apakah faktor penyebab yang mempengaruhi tingkah laku itu menetap atau hanya sementara dan apakah faktor faktor itu dapat dikendalikan atau tidak,.Dimensi atribusi kasual ini terlepas dari dimensi internal eksternal ,ada faktor penyebab internal yang stabil serta tidak berubah seiring ruang dan waktu.seperti sifat kepribadian yang temperamen,disisi lain ada faktor penyebab internal yang berubah berubah seperti motiv,kesehatan,kelelahan,dan suasana hati.Hal serupa juga berlaku pada faktor faktor penyebab eksternal.Norma sosial serta kondisi geografis merupakan contoh faktor penyebab eksternal yang menetap.Sedangkan nasib baik dan tuntutan orang lain merupakan contoh penyebab eskternal yang berubah ubah Kita dapat melakukan atribusi dengan menggunakan beragam penyebab potensial yang berbeda.Contohnya berikut ini dapat menunjukakn kepada kita tentang ha tersebut.Ketika kita bertemu dengan seseorang teman yang menguji penampilan kita ,kita meras senang dan menilai usaha kita memilih baju tadi pagi itu tidak sia-sia .Kita juga bisa menilai bahwa teman tersebut memiliki selera yang relative sama dengan kita,Akan tetapi setelah bercakap cakap beberapa saat,teman kita mengajukan permohonan bantuan untuk mengajarkan sebuah pekerjaan yang tidak

mudah.Permintaan itu membuat kita mempertanyaka lagi mengapa iya menguji penampilan kita,Kita bisa saja berfikir Jangan jangan iya memuji karena ingin mengambil hati supaya saya mau mebantunya? ,Namun mungkin juga iya membang benar bersunguh sungguh ingin memuji penampilan kita.terlepan dari keinginan untuk meminta bantuan kita,Ada dua hal yang mungkin menjadi penyebab dari tingkah laku

teman kita tersebut.kita bisa saja terlibat denga apa yang oleh pskolog sosial disebut discounting,yaitu kita menilai penyebab pertama bahwa iya punya selera yang relatif sama dan berbaik hati memuji kita menjadi kurang oenting atau merupakan efek dari penyebab lain,yaitu meminta bantuan kita.Banyak penelitian tentang gejala ini menunjukan bahwa discounting merupakan hal yang cukup umum terjadi dan memberikan pengaruh yang besar terhadap atribusi kta dalam berbagai situasi. Kita bayangkan kemungkinan kejadian lain,jika teman kita yang memberikan pujian adalah orang yang setahu kita tidak pernah atau jarang sekali memuji penampilan orang lain ,maka kita bisa menilai tingkah laku memujinya itu sebagai tindakan yang tulus.Permintaan bantuan mungkin sudah sejak awal dianiatkan untuk disampaikan kepada kita ,tetapi itu hal tersebut disampaikan belakangan karena iya sungguh sungguh tergugah oleh penampilan kita.Psikologi sosial menyebut gejala seperti ini sebagai augmenting yaitu kecenderungan untuk menambahkan bobot atau sifat penting terhadap sebuah faktor yang mungkin memfasilitasi tingkah laku yang ditampilkan ketika faktor ini dan faktor lainya mungkin yang mungkin menghambat tingkah laku itu muncul bersamaan.Dengan pertimbangan bahwa tingkah laku itu tetap ditampilkan kita menilai bahwa faktor yang menfasilitasi tingkah laku itu jauh lebih besar pengaruhnya dari pada faktor yang menghambatnya.Dalam keseharian gejala discounting dan augmenting banyak kita temukan gejala kedua ini mengunggah para peneliti dibidan psikologi sosial untuk menguji secara ilmiah keberadaanya.hasilnya memperkuat pendapat bahwa discounting dan augmenting beroeran dalam atribusi kasual. Adapun Studi yang menunjukkan bahwa 1 persepsi kausal peristiwa sosial, tetapi peristiwa tidak secara fisik berbeda antara mahasiswa Amerika dan Cina. Studi menemukan 2 surat kabar berbahasa Inggris lebih disposisional dan koran berbahasa Cina lebih situasional dalam penjelasan kejahatan yang sama . Studi menemukan bahwa 3 responden survei Cina berbeda dalam bobot disposisi personal dan faktor situasional sebagai penyebab pembunuhan baru-baru ini dan dalam penilaian kontrafakta tentang bagaimana pembunuhan mungkin telah dihindari oleh situasi berubah . Implikasi bagi isu-isu dalam psikologi kognitif , sosial , dan organisasi yang dibahas.

C. Kesalahan dalam Atribusi Kesan Jhon, baik terhadap Wayan , maupun Wayan terhadap Jhon , pada akhir kisah diatas sama-sama negative. Sebelumnya mereka saling member atribusi internal yang positif. Mana yang benar? Negatif atau Positif? Jika di tinjau menurut penelitian Kenny dan Kashy (1994), mungkin hubungan kedua orang itu belum cukup dekat untuk dijadikan andalan, sedangkan ditinjau dari pendapat Jaspers & Hewstone (1990) informasi yang diperoleh kedua orang itu belum cukup untuk membuat skema kognitif yang benar. Bagaimanapun juga , pemberian atribusi bisa salah. Kesalahan itu menurut Baron & Byrne (1994) dapat bersumber pada beberapa hal . 1. Kesalahan atribusi yang mendasar (fundamental error) , yaitu kecenderungan untuk selalu member internal. Padahal , banyak kemungkinan factor penyebab Jhon dan Wayan sama saling member internal kemungkinan besar perilaku mereka disebabkan oleh factor eksternal sebagainya ) 2. Efek pelaku-pengamat , proses persepsi dan atribusi sosial tidak hanya berlaku dalam hubungan antar pribadi , melainkan juga terjadi dalam hubungan antarkelompok , karena pada hakikatnya prinsip-prinsip yang terjadi ditingkat individu dapat di generalisasikan ke tingkat antarkelompok (Betancourt,1990) 3. Pengutamaan diri sendiri (self-serving biss) , sehubungan dengan pengaruh posisi sebagai pengamat dan pelaku diatas , sumber kesalahn berikutnya adalah bahwa setiap orang cenderung untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Dalam hubungan antarpribadi , kecenderungan untuk memebrikan atribusi eksternal pada hal-hal yang negative ini dipengaruhi oleh factor kepribadian. Misalnya , dalam penelitian murid kelas 3,4,7,dan 8 di Amerika , nilai yang jelek oleh murid-murid dengan kesulitan belajar dianggap karena kesalahan-kesalahan diluar dirinya (atribusi eksternal),seperti soal yang terlalu sulit ,gurunya tidak jelas,dan sebagainya , sedangkan diantara siswa-siswa yang tidak mengalami kesulitan belajar nilai yang jelek lebih dianggap sebagai kesalahan sendiri (atribusi internal) , seperti kurang belajar ,kurang usaha .(Tur & Bryan 1993). Oleh karena besarnya kemungkinan kesalahan atribusi inilah maka atribusi memerlukan pengkajian yang lebih mendalam, walaupun prinsipnya tetap (adat , tradisi,kebiasaa masyarakat , dan

berdasarkan akal-sehat. Dengan perkataan lain , proses pengolahan oleh akal sehat itu di pengaruhi oleh berbagai factor. Karena itu , kita perlu mempelajari proses kognisi secara lebih mendalam. 4. Efek relevansi dengan keuntungan pribadi (hedonic relevance) Ini adalah kecenderungan seseorang untuk menilai lebih positif perilaku orang lain yang menguntungkan dirinya pribadi, dan menilai lebih negatif perilaku yang merugikan dirinya. Misalnya teman Anda mencuri buah di kebun tetangga. Jika Anda mendapat bagian buah curian (positif bagi Anda), maka Anda cenderung menganggapnya melakukan pencurian hanya untuk senang-senang saja. Sebaliknya jika Anda tidak mendapat bagian (negatif bagi Anda), maka Anda menganggap teman Anda berjiwa maling. 5. Bias egosentrisme Ini adalah kecenderungan seseorang untuk menilai orang dengan menggunakan diri sendiri sebagai referensi, alias beranggapan orang lain juga melakukan hal yang sama. Misalnya Anda membaca buku karena mengisi waktu luang. Maka Anda menganggap orang lain membaca buku juga untuk mengisi waktu luang. Padahal boleh jadi tugasnya menuntut untuk membaca buku.

BAB 3 KESIMPULAN Atribusi adalah proses mengenali penyebeb dari tingkah laku orang lain serta sekaligus memperoleh pengetahuan tentang sifat-sifat dan disposisi-disposisi yang menteap pada orang lain.Atribus merupakan tindakan penafsiran : apa yang terberi (kesan dari data indrawi) dihubungknan kembali pada sumber asalnya.Ada dua sumber atribusi terhadap tingkah laku : (1)atribusi internal disposisional ;dan (2) atribusi eksternal atau lingkungan.Untuk menjadikan tingkah laku konsisten orang membuat atribusi personal ketika consensus dan keberadaan rendah. Sedangkan pada saat consensus dan keberadaan tinggi orang membuat atribusi stimulus. Karena besarnya kemungkinan kesalahan atribusi inilah maka atribusi memerlukan pengkajian yang lebih mendalam, walaupun prinsipnya tetap berdasarkan akal-sehat. Dengan perkataan lain , proses pengolahan oleh akal sehat itu di pengaruhi oleh berbagai factor.

DAFTAR PUSTAKA Baron A.R.Psikologi Sosial. Erlangga: Jakarta 2003 Sarwono W.S. Psikologi Sosial-Individu dan teori-teori psikologi sosial. Balai Pustaka : Jakarta , 2002 Sarwono W.S. Psikologi Sosial. Salemba Humanika: Jakarta ,2009

JURNAL : PsycINFO Basis Data Record ( c) 2012 APA