Anda di halaman 1dari 10

I.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ARUS LAUT

A. Potensi Energi Arus Laut di Perairan Indonesia

Kecepatan arus pasang-surut di pantai-pantai perairan Indonesia umumnya kurang dari 1,5 m/detik, sedangkan di selat-selat diantara pulau-pulau Bali, Lombok, dan Nusa Tenggara Timur, kecepatannya bisa mencapai 2,5 3,4 m/detik. Arus pasang-surut terkuat yang tercatat di Indonesia adalah di Selat antara Pulau Taliabu dan Pulau Mangole di Kepulauan Sula, Propinsi Maluku Utara, dengan kecepatan 5,0 m/detik.

B. Konversi Energi Arus Laut Menjadi Listrik

Pada dasarnya, arus laut merupakan gerakan Horizontal massa air laut, sehingga arus laut memiliki energi kinetik yang dapat digunakan sebagai tenaga penggerak rotor atau turbin pembangkit listrik. Pengembangan teknologi ekstraksi energi arus laut ini dilakukan dengan mengadopsi prinsip teknologi energi angin yang telah lebih dulu berkembang, yaitu dengan mengubah energi kinetik arus laut menjadi energi rotasi dan energi listrik.

C. Permasalahan Perkembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut di Indonesia

Permasalahan dari perkembangan pembangkit listrik tenaga arus laut hampir sama dengan permasalahan pembangkit listrik energi terbarukan lainnya. Dibandingkan dengan negara lain, kita memiliki potensi energi yang besar dari arus laut yang bisa kita manfaatkan. Teknologi pembangkit listrik arus laut juga bukanlah teknologi yang baru untuk orang Indonesia dan beberapa industri lokal yang bergerak di bidang energi telah mampu dengan baik memproduksi turbin dan generatornya. Permasalahan utama dalam membangun pembangkit listrik jenis ini adalah bahan baku yang sebagian besar harus didatangkan dari luar negri. Sehingga memerlukan biaya investasi yang lebih besar dalam membangunnya. Sebagai contoh, komponen elektronika daya yang merupakan kunci dari pemanfaatan teknologi energi terbarukan, semuanya harus didatangkan dari luar negri. Apabila Indonesia ingin mengembangkan pembangkit listrik energi terbarukan, sebaiknya pemerintah terlebih dahulu berusaha untuk mengembangkan industri elektronika daya beserta sumber daya manusiannya.

Permasalahan lainnya adalah kurangnya dukungan kelembagaan, dukungan fiskal dan moneter serta dukungan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sehingga pengusaha belum dapat berpacu memanfaatkan peluang sosial, ekonomi, dan politik secara nasional dan regional yang ada dalam penerapan energi alternatif arus laut ini. D. Prinsip Kerja Teknologi Marine Current Turbine (MCT) bekerja seperti pembangkit listrik tenaga angin yang dibenamkan di bawah laut. Kincir memutar rotor yang menggerakkan generator yang terhubung kepada sebuah kotak gir (gearbox). Kincir tersebut dipasangkan pada sebuah sayap yang membentang horisontal dari sebuah barang silinder yang diborkan ke dasar laut. Turbin tersebut akan menghasilkan 750-1500 KW per unitnya, dan dapat disusun dalam barisanbarisan sehingga menjadi ladang pembangkit listrik. Demi menjaga agar ikan dan makhluk hidup lainnya tidak terluka oleh alat ini, kecepatan rotor diatur 10-20 rpm (sebagai perbandingan saja, kecepatan baling-baling kapal laut berkisar hingga sepuluh kalinya).

Gambar 1. Teknologi Marine Current Turbine

Daya keluaran dari pembangkit listrik arus laut dapat diperoleh melalui persamaan berikut : (2.1) dengan : P = daya output (watt) = berat jenis air = 1025 kg/m3 A V = luas permukaan turbin (m2) = kecepatan arus (m/s)

Dengan mempertimbangkan bahwa pembangkit energi arus laut memiliki losses di turbin, maka persamaan daya keluaran pembangkit menjadi :

CP = konstanta performa turbin.

E. Komponen MCT

Pembangkit listrik tenaga arus laut memiliki beberapa komponen penting antara lain : Rotor, untuk mengkonversikan energi kinetic terdapat dua jenis rotor (daun turbin) yang biasa digunakan Jenis rotor yang mirip dengan kincir angin atau cross-flow rotor atau rotor

Gambar.2 Komponen Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut

Darrieus Generator, dapat mengubah energi gerak menjadi energi listrik. Generator yang digunakan oleh pembangkit arus laut dengan teknologi MCT adalah generator asinkron. Gearbox, berfungsi untuk mengubah putaran rendah pada turbin energi arus laut menjadi

putaran tinggi agar daat digunakan untuk memutar generator. Sistem Pengereman, digunakan untuk menjaga putaran pada poros setelah gearbox agar bekerja pada titik aman saat terdapat arus yang besar. Alat ini perlu dipasang karena generator memiliki titik kerja aman dalam pengoperasiannya Rectifier-Inverter, untuk mengatasi naik turunnya keluaran listrik dari generator karena naik turunnya putaran turbin maka listrik yang dihasilkan oleh generator harus disalurkan terlebih dahulu ke sistem rectifier-inverter agar keluaran tegangan dan frekuensi listriknya sama dengan listrik yang dihasilkan PLN 2 : 3

II.

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PASANG SURUT AIR LAUT

A. Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut Air

Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut La Rance, Perancis

Manusia tidak akan kehabisan energi, selama matahari tetap bersinar dan lautan tidak mengering. Bumi ini kira-kira 70 % terdiri dari lautan. Laut menjadi pendukung kehidupan manusia, segala kekayaan yang terkandung didalamnya tersedia bagi kesejahteraan manusia : ikan, mineral , rumput laut dan energi dalam segala bentuk. Lautan merupakan kolektor surya terbesar di dunia, kolektor gravitasi dalam bentuk pasang surut, kolektor elemen-elemen kimia, kolektor energi dan lain-lain.

Banyak gaya dan kekuatan yang mempengauhi lautan dipermukaan bumi. Salah satu kekuatan yang bekerja terhadap air bumi adalah pengaruh massa bulan yang mengakibatkan adanya gaya tarik, sehingga menjelma suatu gejala yang dikenal sebagai pasang surut.Dalam waktu 24 jam, terdapat dua kali pasang dan dua kali surut. Beda tinggi antara permukaan laut pasang dan surut dapat mencapai 5 sampai 6 meter atau lebih, bahkan ada beberapa tempat yang melampaui 10 meter.

Gaya tarik gravitasi akan terbesar, bilamana baik matahari maupun bulan ada pada sisi yang sama terhadap bumi. Dilain pihak bilamana bulan dan matahari berada pada sisi yang berlainan, pengaruh gaya tarik gravitasi kurang lebih akan saling menghapuskan.

Pemanfatan energi potensial yang terkandung dalam perbedaan pasang dan surut lautan antara lain dapat dilakukan misalnya jika terdapat suatu teluk yang agak cekung dan dalam, teluk ini dibendung sehingga terbentuk suatu waduk.

Bulb Turbine

Rim Turbine

Tubular Turbine

Pada waktu laut pasang, maka permukaan air laut tinggi, mendekati ujung atas bendungan. Waduk diisi dengan air laut, dengan mengalirkannya melalui sebuah turbin air. Dengan sendirinya turbin ini di kopel dengan sebuah generator, sehingga pada proses pengisian waduk dari laut generator akan menghasilkan energi listrik. Hal ini dapat dilakukan hingga tinggi permukaan air dalam waduk akan sama tingginya dengan tinggi permukaan laut. Pada saat laut surut terjadi sebaliknya , waduk dikosongkan. Dengan sendirinya air mengalir lagi melalui turbin yang dikopel generator listrik. Ada kekhususan bahwa turbin harus berputar dua arah, dan hal ini akan dilakukan berganti-ganti. Sering juga waduk ini dibentuk dari muara sungai, untuk sekaligus dapat memanfaatkan air sungai dalam membangkitkan tenaga listrik. Siklus Pembangkit Listrik Tenaga Pasang Surut adalah sebagai berikut :

Keterangan Gambar : KB : Katup Buka M : Menunggu G : Generator Bekerja E : Jumlah energi yang dibangkitkan Waktu 1 s.d 7 adalah 12,5 jam

Pada dasarnya, antara tenaga pasang surut dan tenaga air konvensional terdapat persamaan, yaitu kedua-duanya adalah tenaga air, yang memamfaatkan gravitasi tinggi jatuh air untuk pembangkitan tenaga listrik. Perbedaan-perbedaan utama secara garis besar adalah : 1. Pasang surut menyangkut arus air periodik dua-arah dengan dua kali pasang dan dua kali surut tiap hari. 2. Operasi di lingkungan air laut memerlukan bahan-bahan konstruksi yang lebih tahan korosi daripada dimiliki material untuk air tawar

3. Tinggi jatuh relative sangat kecil bila dibandingkan dengan instalasi hidro konvensional.

Berdasarkan berbagai studi dan pengalaman, energi yang dapat dimamfaatkan adalah sekitar 8 sampai 25 % dari seluruh energi teoritis yang ada. Proyek Pusat Listrik Tenaga Pasang Surut La Rance Perancis, yang merupakan sentral pertama yang dibangun tahun 1967 dengan daya instalasi sebesar 240 MW dan terdiri dari 24 mesin masing-masing 10 MW. Bilamana tinggi jatuh air, yaitu selisih antara tinggi air laut dan tinggi air waduk pasang surut adalah H, debit air Q, maka besar daya yang dihasilkan adalah Q kali H, atau QH. Bilamana selanjutnya luas waduk pada ketinggian h adalah S(h), yaitu S sebagai fungsi h, maka jumlah energi yang dibangkitkan dengan mengosonkan sebahagian dh dari ketinggian h adalah berbanding lurus dengan isi S(h) h. dh.

Dengan demikian energi yang dihasilkan : Waktu mengosongkan waduk

Waktu mengisi waduk

Maka energi yang dibangkitkan per siklus adalah

dimana : E = energi yang dibangkitkan persiklus H = Selisih tinggi permukaan air laut antarav pasang surut V = Volume waduk pasang surut

Untuk mendapatkan besaran energi, pada rumus tersebut besaran V masih perlu diganti dengan besaran massa air laut, sehingga dapat ditulis : Emaks = b.g.H^2.S

dan P = f.Q.H dimana : Emaks : jumlah energi yang maksimal dapat diperoleh per siklus b g H S Q f P : berat jenis air laut : gravitasi : tinggi pasang surut terbersar : luas waduk rata-rata antara pasang dan surut : debit air : factor efisiensi : daya

Perkiraan potensi teoritis daya pasang surut seluruh dunia agak berbeda-beda. Pekeris dan Accad memperkirakan potensi teoritis ini sebesar 6,3.10^6 MW, sedangkan Hendershott memberikan angka 2,7.10^6 MW. Suatu iktisar yang dirumuskan oleh Jeffreys menganggap potensi teoritis daya pasang surut sebesar 3.10^6 MW.

Kesimpulan Indonesia memiliki potensi energi arus laut yang sangat besar. Di masa depan, agar teknologi ini dapat kita kuasai, pemerintah Indonesia harus mempersiapkan diri agar kelak pasar pembangkit energi listrik di Indonesia tidak dikuasai oleh perusahaan asing. Persiapan ini harus mencakup persiapan sumber daya manusia, industri, dan peraturannya. Hambatan fiskal, moneter, subsidi, dan permasalahan perundang-undangan harus segera dapat diatasi.