Anda di halaman 1dari 15

BAB 1 MUSIK

A. DEFENISI MUSIK Musik berasal dari kata muse yang merupakan nama Dewi bangsa Yunani yang menguasai kesenian terutama yang dikenal sebagai musik. Websters Dictionary menulis bahwa musik adalah ilmu akan seni dalam menyusun nada-nada dan bunyi secara teratur untuk menghasilkan suatu bentuk yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan. Musik adalahbunyi atau suara yang diorganisir. Jika suara-suara itu tidak diorganisir, maka musik itu hanyalah sebuah teriakan atau suara yang gaduh. Karena musik pada dasarnya terdiri dari suara, maka musik merupakan bagaian yang integral dari manusia dan kehidupan manusia itu sendiri. Asal muasal kehidupan adalah suara. Allah bersuara yang menyebabkan terwujudnya penciptaan. Oleh karena itu musik dengan kehidupan manusia sangat erat terutama secara emosional. Jadi musik merupakan suatu ilmu, sehingga dapat dijabarkan atau dibicarakan secara ilmiah. Namun musik juga merupakan suatu seni, sehingga dapat dipakai sebagai ungkapan isi hati seorang seniman untuk mewujudkan keindahan ataupun idealisme yang dibayangkan. Musik sebagai ilmu dan seni bersifat aktif dan dinamis, selalu bergerak maju untuk mencari hal-hal baru.Musik diciptakan oleh manusia, namun manusia juga dipengaruhi olehnya.Sejarah kehidupan manusia dapat dikenal melalui sejarah musiknya. Phytagoras,seorang filsuf dan ahli matematika Yunani kuno, berpendapat bahwa bahwa musik adalah suatu sistem dari bunyi dan irama yang berbeda dibawah pengaruh hukum matematikayang terdapat dialalam ini. Sehingga dalam pandangan ini musik merupakan suatu kekuatan yang aktif dan dapat mempengaruhi alam. Aristoeles,juga seorang Yunani, berpendapat bahwa musik adalah sesuatu yang dipakai untuk mengungkapkan dan meniru apa yang terdapat dalam hati atau jiwa seseorang. Sehingga bila seseorang mendengarkan jenis musik musik tertentu secara terus menerus, ia akan dipengaruhi oleh apa yang di dengarnya itu. Dengan kata lain musik dapat mempengaruhi jiwa,emosi dan kepribadian seseorang.

Oleh karena pengaruh musik dapat membangunan ataupun menghancurkan jemaat, maka penting sekali bagi para pelayan musik gereja untuk mempelajari secara serius bidang pelayanan musik ini. Sebagai pelayan dibidang musik penulis ingin memberikan suatu konsep pemikiran praktis mengenai peranan musik ditinjau dari prinsip-prinsip umum sehubungan dengan peranan musik itu sendiri. 1. Musik Sebagai Suatu Ilmu Pengetahuan. Karakteristik musik sebagai suatu ilmu pengetahuan dinyatakan dalam simbolsimbol musik,seperti notasi dan tanda kunci,meskipun begitu,ilmu pengetahuan musik secara umum dinyatakan dalam 3 unsur utama; MELODI, yang merupakan nada dalam berbagai pitch dan nilai nada.Melodi juga merupakan dasar bagi dibangunya suatu komposisi. Bagi para pendengar, melodi merupakan aspek termudah untuk mengenal suatu lagu.Efek dari melodi adalah melodi akan meninggkan kesan bagi para pendengarnya. HARMONI, merupakan kombinasi dari nada-nada yang terdengar secara serempak, seringkali harmoni dikenal dengan akord. Harmoni ini menggambarkan sustu suasana dari suatu melodi. RITME, adalah bunyi yang menggambarkan panjang pendeknya suatu nada. Ritme ini juga menyebabkan timbulnya perhatian dan tanggapan emosi dari pemusik dan pendengarnya. Dengan adanya ritme ini maka syair lagu menjadi semakin jelas. Efek dari ritme ini ialah mempengaruhi fisikdan mental dari pemusik maupun pendengarnya. 2. Musik Sebagai Suatu Seni. Nilai seni dari suatu musik akan terlihat jelas ketika unsur-unsur dari ilmu pengetahuan musik seperti not, tanda kunci, akord disuarakan melalui alat musik atau suara manusia. Setiap kebudayaan memiliki musiknya sendiri. Melalui peralatan komunikasi modern kita diperkenalkan dengan musik dari berbagai kultur yang sering kali jauh berbeda dengan musik kita sendiri. Misalnya, musik dari Jepang, musik tiup dari Pegunungan Andes, atau tam-tam dart Afrika Tengah. Dalam suatu konser musik pop, orang juga bisa dibuat menjadi histeris, biasanya dikenal dengan istilah kehilangan diri, atau tidak bisa menguasai dirinya lagi, sering kali diikuti dengan kemasukan roh. Hal ini terjadi melalui ritme yang dimainkan oleh kelompok pemusik tertentu .

BAB 2 IBADAH
A. DEFENISI IBADAH Secara umum makna kata ibadah antara lain: 1. Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai definisi sebagai berikut: perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari oleh ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 2. The International Standard Encyclopedia mendefinisikan kata ibadah sebagai: kemuliaan dan penghormatan dalam pikiran, perasaan, atau tindakan yang dilakukan oleh manusia, malaikatmalaikat yang ditujukan semata-mata kepada Allah. 3. Dalam Webster Dictionary edisi kedua ibadah didefinisikan sebagai: penghargaan kepada ilahi serta pengakuan keberadaan yang tertinggi melalui penyembahan, pengakuan dosa, pengucapan syukur. 4. Evelyn Underhill mendefinisikan ibadah sebagai: penyembahan total manusia sebagai respons kepada Allah yang kekal, yang menyatakan diri-Nya. 5. Kata ibadah itu sendiri dalam bahasa Inggris (worship) berawal dari kata Anglo Saxon, yang secara literal adalah weorth (eorthy) dan scipe (ship). Pengertiannya merujuk kepada kelayakan seseorang yang menerima penghargaan dan penghormatan yang khusus. Kemudian kata ini berkembang menjadi worthship dan akhirnya menjadi worship yang artinya beribadah kepada Allah karena Ia layak dipuja dan disesebagai berikut: perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah.

BAB 3 MUSIK DAN AGAMA KRISTEN


A. MUSIK DAN AGAMA Tuhan Allah sangat menyukai musik. Dengan keagungan-Nya Ia menciptakan burung-burung indah yang berkicauan dengan suara merdu. Dalam kitab Wahyu kita membaca bahwa Dia yang berada di surga dikelilingi oleh musik. Pada setiap acara kebaktian di Bait Allah, musik memegang peranan yang sangat penting. Kitab 2Tawarikh 5:12-14 memperlihatkan betapa kemuliaan Tuhan memenuhi Bait Allah ketika umat-Nya mengumandangkan puji-pujian. Musik yang diciptakan oleh orang-orang kudus Allah, musik yang sengaja dibuat demi kehormatan Allah, akan mengangkat jiwa kita untuk mendekat kepadaNya. Hal ini juga tergantung pada jenis musik tertentu. Setiap jenis musik bisa diamati, apakah musik jenis tertentu digunakan untuk menghancurkan manusia atau mengangkat jiwa manusia mendekat kepada Allah. Ingatlah akan cerita Raja Saul yang menderita tekanan jiwa. Pada saat Daud datang memainkan kecapi, Raja Saul kembali menjadi lega dan tenang. Dari berbagai penelitian ditarik kesimpulan bahwa kebanyakan agama menyuguhkan musiknya dalam nada minor. Hampir setiap kali mereka menggunakan pertukaran nada atau irama yang menuntun pada ekstase. Siapa saja yang terbawa hanyut dalam arus ekstase, ia menemukan pintu masuk ke dalam dunia roh, dunia para dewa. Hanya pada agama Yahudi dan Kristen, kita bisa menjumpai musik yang memberikan ketenangan batin serta sukacita. Kita menjumpai contoh musik seperti ini dalam Perjanjian Lama, tentang bagaimana hubungan manusia dengan Allah begitu menggebu-gebu dinyatakan dalam puji-pujian untuk kemuliaan Allah. Mereka memuji Allah bukan hanya karena sukacita, tetapi juga ketika berada di jurang ketakutan atau tekanan. B. MUSIK GEREJA Musik gereja merupakan nyanyian yang dihasilkan oleh orang percaya (Kristen) untuk meng-ekspresikan Iman mereka kepada Tuhan. Jadi, Musik Gereja
4

adalah bukan musik dari sorga, tetapi adalah musik dari dunia, diciptakan oleh orang-orang yang beriman, dinyanyikan oleh orang-orang yang percaya, untuk memuliakan Tuhan. Musik gereja dapat menguatkan iman percaya bagi orang-orang yang menciptakan, membawakan serta mendengarkannya. Musik Gereja sering dibawakan dan diperdengarkan dalam Ibadah, Doa, pertemuan-pertemuan orang Kristen, serta pribadi-pribadi orang Kristen. Nyanyian adalah suatu perpaduan harmonis antara lagu dan syair yang memiliki arti. Lagu adalah perpaduan harmonis antara nada dan irama; sedangkan syair adalah susunan kata-kata yang harmonis

C. MUSIK DALAM ALKITAB Mazmur dan nyanyian pujian bagi kemuliaan Allah muncul berkali-kali di sepanjang isi Alkitab. Nabi Musa menyanyikan pujian bagi Allah setelah mereka menyeberangi Laut Teberau. Pada saat itu juga Miryam mengambil rebana lalu menari yang kemudian diikuti oleh semua perempuan Israel (Keluaran 15:1-21). Debora dan Barak pun menyanyikan pujian yang diakhiri dengan, "Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya" (Hakim-Hakim 5:31). Kita mengenal tembang indah Hana dalam 1Samuel 2. Dari Daud kita mengenal banyak mazmur dan pujian. Daud merupakan "Raja Agung" yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Penyebab utamanya antara lain ialah bahwa di usia mudanya ia sudah mengenal lagu pujian dan mazmur bagi Tuhan. Ratapan Yeremia tidak semuanya menggambarkan kesedihan atau kepahitan, meskipun kitab tersebut ditulis pada masa kesesakan Israel. Dalam Perjanjian Baru kita juga membaca nyanyian pujian Maria serta mazmur Zakharia. Lalu, tahukah Anda berapa banyak lagu pujian yang tercatat dalam kitab Wahyu? Rasul Paulus mengajar orang Kristen yang masih muda agar bersikap sebagaimana mereka semestinya. Ia menulis kepada jemaat di Efesus, "dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati" (Efesus 5:19). Inilah yang menjadi dasar terpenting bagi kita untuk bernyanyi bersama anak-anak dalam ibadah. 1. Musik Dalam Perjanjian Lama Menurut tata ibadah dalam perjanjian lama, dapat dilihat bahwa musik memiliki tempat yang utama dalam kehidupan bangsa Israel. Musik dalam Perjanjian Lama tidak hanya didominasi oleh musik vokal yang menekankan pada isi atau keindahan syair saja,tetapi musik instrumental yang mengiringi nyanyian jemaat,menentukan tempo, dinamik yang memberikan semangat dari nyanyian juga memegang peranan
5

yang penting. Musik bangsa Israel terdiri dari nyanyian pujian, ucapan syukur, pengajaran, pengalaman pribadi, dan acara peringatan yang historis. Kesalehan dalam Perjanjian Lama merupakan tanggapan hati terhadap penyingkapan diri Allah. Pada saat Allah yang abadi menyatakan diri-Nya kudus dan penuh kasih, pastilah ada tanggapan. Campur tangan Allah dalam hubungan dengan tata ibadah dan musik dapat dilihat dalam acara pentahbisan Bait Allah yang didirikan oleh raja Salomo seperti tertulis didalam II Tawrikh5:13-14. Pernyataan hadirat Allah dirasakan dan dilihat oleh umat ketika musik dimainkan didalam ibadah tersebut. Musik tidak hanya mempunyai kekuatan untuk berbicara, tetapi juga mempunyai kekuatan untuk bertindakMzm 33:3, 40:4, 96:1, 98:1, 137:4, 144:9, 149:1 Nyanyikanlah bagi Tuhan nyanyian baru Sewaktu bangsa Israel keluar dari perbudakan, dalam kitab Mazmur, Daud menyanyi memuji Tuhan atas perbuatanNya yang besar atau sifatNya yang mulia. I Tawarikh 25 adalah pasal yang sangat special dalam Alkitab yang berjudulkan Para Penyanyi Daud mengatur banyak hal, dan salah satu yang diaturnya adalah untuk keperluan Ibadah. Ibadah harus dimajagement sedemikian rupa sehingga terorganisasi dengan rapi.Yang ditunjuk adalah anak-anak Asaf, anak-anak Heman dan anak-anak Yedutun. Tugas utama mereka adalah bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap. Perhatikan bahwa nubuatan sangat erat kaiatannya dengan pelayanan musik. Pada jaman itu nubuatan disampaikan dengan nada nyanyian. Ul 31:19-43 Sebelum ajalnya tiba, Musa diperintahkan Tuhan untuk mengajarkan nyanyian baru kepada umat Israel, dimana nyanyian baru tersebut mengandung nubuatan-nubuatan dari Tuhan Ay 8 digenapi di Kis 17:26, ay 17 digenapi di I Kor 10:20, ay 21 digenapi di Rm 10:19, I Kor 10:22, ay 35 digenapi di Rm 12:19, Ibr 10:30, ay 36 digenapi di Mzm 135:14,, ay 43 digenapi di Rm 15:10, Why 19:2 I Sam10:5-6 Serombongan nabi yang turun dari bukit pengorbanan dengan gambus, rebana, suling dan kecapi. Dalam sekolah untuk para nabi di jaman Samuel, pelajaran musik merupakan salah satu pelajaran utama untuk para siswa, karena kenabian, nubuatan, tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan musik. 2 Raj 3:15-16 Dalam ayat ini, Nabi Elisa tidak bernubuat , kekuasaan Tuhan tidak meliputi dia sampai dipanggil pemetik kecapi dan pada waktu pemetik kecapi itu memainkan kecapinya barulah nubuatan dapat mengalir.

Taw25:1-3,5-6,7 Anak-anak Asaf Heman dan Yedutun bernubuat dengan diiringi kecapi, gambus dan ceracap 2Taw20:14-17 Yehaziel bernubuat sambil bernyanyi, dia adalah keturunan Asaf. 2Taw29:27,30-31 kata-kata Asaf sang pelihat dinyanyikan beserta iringn alat-alat musik Mzm49;5 Peribahasa, amsal, dan kata-kata bijak diutarakan oleh bani korah dengan bermain kecapi Hab3:1-19 Pada saat nabi Habakuk bernubuat dalam doanya, dia menyanyikannya dengan iringan kecapi Perhatikanlah ayat 1 dan ayat 19 b Anak- anak Asaf dibawah pimpinan Asaf bertugas bernubuat sesuai petunjuk raja Anak anak Yedutun di bawah pimpinan Yedutun bertugas bernubuat dengan diiringi kecapi pada waktu menyanyikan syukur dan puji-pujian bagi Tuhan Anak-anak Heman dibawah pimpinan Heman, sang pelihat, bertunyas menyanyikan nyanyian di rumah Tuhan diiringi ceracap, gambus dan kecapi untuk ibadah di rumah Allah dengan petunjuk raja.

Jumlah mereka semua adalah 288 orang dengan kriteria: Terlatih tehnik vocal dan teknik musik. Ahli seni musik dan seni vokal Tua dan muda, artinya gabungan antara 2 generasi Guru dan murid, artinya ada regenerasi dimana ilmu diturunkan ke murid Masing-masing kelompok berjumlah 12 orang Bertugas menurut jadwal yang disusun berdasarkan undian Berada di bawah kepemimpinan yang terstruktur dengan tugas yang tertentu. Dalam bukunya, Chuck D. Pierce mengatakan:Saat menyembah kita membungkuk atau merendahkan diri kita di hadapan seseorang dalam tindakan penuh penundukan diri atau kekaguman. Penyembahan sebenarnya berarti membuat seseorang rendah. Karenanya, menyembah Tuhan berarti kita sujud di kaki-Nya dan menghormati Dia karena siapa Dia dalam hidup kita. Artinya saat menyembah kita harus datang ke tempat di mana Tuhan berada.

2. Musik Dalam Perjanjian Baru Dalam perjanjian baru, meskipun tidak terlalu banyak dibicarakan tentang tentang musik untuk ibadah, namun dapat dipastikan bahwa pengaruh Yahudi
7

sangat kuat mempengaruhi pemakaian musik dalam ibadah umat kristen mula-mula. Hal ini dapat dilihat dalam hubungan dengan kelahiran Kristus dimana para malaikat menyanyi memuji Tuhan. Lukas mengutip nyanyian para malaikat ini dan juga nyanyian Maria,Zakharia dan Simon. Alkitab juga menulis tentang keterlibatan Yesus dalam hal menyanyi seperti tertulis didalam Matius 26:26-30.Rasul Paulus dan Silas memuji Tuhandalam penjara di Filipi.Rasul Paulus juga mendorong umat Kristen di Efesus dankolose untuk saling mengajar dan menguatkan melalui mazmur, nyanyian pujian dannyanyian rohani. Ef 5:19 Bernyanyi & bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati Yes 23:16 Melalui lagu/nyanyian, kita mengingatkan Tuhan Kol 3:16 Nyanyian untuk Ungkapan Syukur Dyrness mengatakan

BAB 4
PERANAN MUSIK ROHANI DALAM IBADAH MASA KINI
A. PERANAN MUSIK Tidak dapat disangkal lagi bahwa musik merupakan bagaian integral dalam ibadah Kristen.Peranan dan pengaruh musik dalam ibadah tidaklah dapat disepelekan. Dalam buah liturgi musik gereja mampu berperan 40-50 %.Jumlah ini cukup besar karena musik ternyata dapat berpengaruh terhadap perasaan emosi ataupun intelek. Studi tentang peranan dan pengaruh musik terhadap kehidupan umat sangatlah penting dan tidak dapat diabaikan. Bagi orang yang ingin melayani Tuhan melalui musik, belumlah lengkap kalau mereka memiliki ketrampilan bermain musik saja. Ia juga harus memiliki pengetahuan Teologia yang baik. Meskipun ia bisa bermain musik secara luar biasa, atau ia memiliki suara emas, tetapi kalau ia mengabaikan kehidupan pribadinya, ia tidakakan menjadi berkat, karena Allah hanya memakai mereka yang suci hatinya. Musik sangat berperan besar didalam ibadah Kristen.Pentingnya musik yang baik dalam gereja adalah untuk menciptakan suasana yang mendukung kegiatan ibadah. Peran Musik di dalam ibadah bukan sebagai sarana menghibur jemaat, melainkan sarana untuk menolong jemaat melihat dan mengerti realitas hidupnya sebagai orang percaya serta dikuatkan untuk menghadapinya. Menurut Harold Best, ibadah harus merupakan aksi persembahan yang bersifat kreatif, sekaligus menyebut musik sebagai korban persembahan kreativitan.

Yang perlu untuk diperhatikan kembali adalah penempatan Kristus yang harus dijadikan sebagai jantung dalam syair-syair yang dinyanyikan dalam setiap lagu Kristen. Hal ini didasarkan kembali kepada peran Musik di dalam suatu ibadah. Alkitab menyaksikan bahwa musik cukup mendapat tempat dan perhatian yang tersendiri dan ini mengandung implikasi bahwa kehadiran musik mempunyai tujuan dan sasaran tertentu yang perlu dicapai. Allah memberikan perintah dan tuntutan tertentu terhadap pemanfaatan dan peran musik di dalam kehidupan gereja-Nya. Semua ini bertolak dari pemahaman bahwa musik (dalam ibadah) pada dasarnya merupakan ide Allah yang dikaruniakan kepada manusia pada umumnya dan umat Allah pada khususnya untuk memperkaya kehidupan mereka. Walaupun inisiatif pengadaan musik itu diperintahkan oleh Allah, namun jika tidak sesuai dengan maksud Allah maka Allah tak berkenan atasnya. Bila Allah sendiri menyatakan perhatian yang cukup serius terhadap pemanfaatan musik di dalam kehidupan umat-Nya, maka sudah seharusnyalah kita yang diwarisi peninggalan karya-karya musik yang kaya dan indah harus memikirkan musik gereja dengan serius pula.

Peran musik gereja adalah sebagai berikut:

1.Membantu memperdalam penghayatan dan ekspresi Iman warga Gereja. 2.Menggerakkan warga Gereja untuk bersaksi dan memberitakan Injil. 3. Membina menumbuhkan warga Gereja, sehingga memiliki: Kesatuan Iman,

B. FUNGSI MUSIK DALAM IBADAH Harus disadari bahwa dalam ibadah yang benar hanyalah mungkin bila ada partisipasi yang sesungguhnya dari jemaat. Untuk mencapai hal ini, Luther mengajar jemaatnya bernyanyi dengan menggubah nyanyian-nyanyian jemaat. Dengan tujuan yang sama, Calvin menggubah lagu-lagu yang sederhana untuk Mazmur-mazmur, sehingga jemaat dapat menyanyikannya dengan mudah. Nyanyian Solo dan Antifonis (nyanyian berbalasan) tidak harus disingkirkan, asal tidak meninggalkan sifatnya sebagai bagian ibadah jemaat. Mereka harus sepenuhnya dipadukan dengan struktur umum dari ibadah, dan tidak bersifat memaksa secara kaku. Ibadah jemaat bukanlah pentas pertunjukkan musik bagi suatu paduan suara atau pemusik, supaya jangan kita mengabaikan pemuliaan Allah dan menggantinya dengan pemujaan manusia.Jemaat yang beribadah tidak boleh dikorbankan hingga menjadi penonton pasif suatu pertunjukkan musik. Tiga fungsi dalam ibadah yaitu:
9

1. Musik merupakan sarana bagi orang Kristen untuk menganggapi dan memberi respon terhadap apa yang disingkapkan Alkitab tentang Allah. Kita dapat melihat adanya sifat Allah yang tercermin pada para penggubah lagu-lagu rohani. Reformasi Martin Luther ditentang keras. Namun Luther merenungkan Mazmur 46:2: Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Menyelami bahwa Allah adalah tempat perlindungannya, ia menulis Allah kita Benteng Teguh. Itu menjadi nyanyian para pendukung Reformasi dan menjadi inspirasi bagi orang-orang Kristen yang menghadapi mati syahid. John Newton nyaris tewas dalam amukan badai tapi Tuhan menyelamatkan dia. Sejak itu ia mengenal Tuhan sebagai Tuhan yang penuh rahmat dan pengampunan. Ia menulis, Sangat besar anugrahNya yang tlah kualami! Sesat aku dulu kala, slamatlah ku kini. 2. Musik juga sarana untuk mengekspresikan ucapan terima kasih atas kehidupan kita yang sudah diubah, yaitu kehidupan baru yang adalah hasil dari perjumpaan dengan Tuhan. 3. Sebagai sarana untuk mengekspresikan bahwa kita menyetujui jalan dan cara Tuhan bekerja. Sifat-sifat Allah sering dapat dihayati melalui kesedihan dan penderitaan umat manusia. Kesedihan dan persoalan hidup berubah menjadi alunan musik dalam hati orang yang sudah menerima Yesus Kristus sebagai Juru Slamatnya pribadi. Dengan demikian fungsi dari paduan suara adalah memimpin puji-pujian jemaat, dan bukannya menghalangi kegiatan beribadah. Demikian juga peran yang dimainkan oleh alat-alat musik. C. PERINGATAN TENTANG MUSIK DALAM IBADAH Musik adalah sarana untuk beribadah, mengungkapkan perasaan kita yang terdalam kepada Tuhan. Peringatan tentang musik ibadah; 1. Kita harus waspada agar jangan sampai kita menyanyi dalam kebaktian sekedar kebiasaan saja. 2. Ibadah yang benar bertumpu pada anugrah Allah, bukan pada perbuatan manusia. Maka dari itu kita harus waspada jangan sampai musik menjadi sesuatu yang kita pakai untuk memamerkan bakat kita. Musik merupakan seni yang seharusnya dipakai untuk menyatakan kemuliaan dan keagungan Tuhan. Rasul Paulus dapat dipandang sebagai seorang seniman. Suratsuratnya termasuk karya terbesar dalam dunia literatur tapi Rasul Paulus sendiri berkata, Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah (1 Korintus 2:4,5). Dengan kata lain, bakat seni Paulus bukan untuk dipamerkan tetapi untuk membimbing orang-orang sehingga mereka mengenal kuasa dan kemuliaan Tuhan. 3. Waspadalah pada kesalahpahaman yang timbul karena perbedaan kebudayaan. Ibadah seharusnya menjadi sumber persatuan tapi musik dalam kebaktian sering menjadi penyebab timbulnya perselisihan antar umat Kristen. Terpecah belahnya umat Kristen sering disebabkan oleh perbedaan
10

metode dalam ibadah, bukan oleh tujuan ibadah itu sendiri. Maka dari itu penting sekali bagi kita untuk saling memahami perbedaan kebudayaan dan kepribadian kita masing-masing. Hakekat yang utama adalah kita memuliakan Yesus. Metode hanyalah sarana ibadah. Hendaknya kita masing-masing beribadah kepada dia dengan metode yang cocok dengan kebudayaan dan kepribadian kita. Musik jangan sampai menomorduakan pemberitaan Firman Allah dalam kebaktian. Musik adalah respons/tanggapan hati kita kepada Allah, respons tidak akan ada kalau Allah tidak menyatakan diriNya di dalam Firman Tuhan. Pemeluk agama lain juga menyanyikan lagu rohaninya masing-masing akan tetapi kekristenan bukan sekedar salah satu agama besar melainkan pernyataan diri Allah kepada manusia dalam pribadi Yesus Kristus yang adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah (Ibrani 1:3).

D. BEBERAPA KONSEP DI DALAM IBADAH

1. Sebagai Sarana untuk Memuji Tuhan. Seorang profesor Emeritus dalam bidang musik gerejawi dari Universitas Rochester, M. Alfred Bicheh pernah mengatakan dalam khotbahnya di Concordia Theological Seminary Indiana, 16 Maret 1978 : Musik merupakan pemberian karunia yang dianugerahkan Allah kepada manusia, karena itu manusia harus memakainya untuk memuji Tuhan. Hal ini merupakan prinsip dasar manusia, seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam Roma 11:36: Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Pengertian seseorang terhadap konsep peranan musik dalam ibadah akan menentukan sikap orang yang bersangkutan dalam melakukan tindakan ibadahnya. Lovelace dan Rice mengatakan dengan keras bahwa penyalahgunaan musik dalam ibadah pada dasarnya merupakan tindakan yang sudah menjadikan musik untuk menjalankan peranan yang tidak sesuai dengan makna dan maksud ibadah yang sesungguhnya. Maka sebagai bagian dari ibadah, musik harus diperankan sesuai dengan makna ibadah, dalam hubungan antara umat Allah dan Allah sendiri. Alasan dan tujuan pemanfaatan musik dalam relasi tersebut harus bertolak dari Allah dan berporos kepada Allah. Dr. Leafblad menyimpulkan: In our ministry to the Lord, our ultimate goal is to glorify Him. The goal of worship is not the delight of man, but the pleasure of God. Thus the ministry of music in worship must be primarily concerned with pleasing and glorifying God. In worship, God is the audience . Tujuan akhir ibadah bukanlah kepuasan manusia melainkan kepuasan Allah. Maka, pelayanan musik gerejawi dalam ibadah pertama-tama harus berusaha memuaskan dan memuliakan Allah. Di dalam Mazmur 100:2b berkata: Datanglah di hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ayat ini menunjukkan bahwa musik Allah memiliki sesuatu yang disukai-Nya ketika Dia dihampiri.[9] Musik bukan sekadar pencair suasana, bukan pula sebagai pembangkit semangat
11

jemaat. Karena itu tuntutan kualitas musik tidak hanya ditekankan pada aspek science and art saja, melainkan juga pada aspek isi atau berita dari syair-syair nyanyian yang bersangkutan. Hal ini dimaksudkan untuk melihat apakah ada keselarasan antara isi atau berita dengan realitas sifat dan eksistensi Allah beserta musiknya. 2. Sebagai Sarana untuk Persekutuan (fellowship). Relasi pertama, yaitu antara umat dengan Allah, yang diwujudkan dalam ibadah akan dengan sendirinya membawa mereka masuk dalam relasi kedua, yaitu antara umat dengan sesamanya. Hal ini terjadi sebagai konsekuensi logis, di mana setiap orang sama-sama datang ke hadirat Allah sebagai umat yang telah ditebus, disucikan, diperbarui. Musik memiliki daya untuk mempersatukan, sehingga dapat berperan sebagai sarana pemersatu jemaat yang berkumpul bersama-sama untuk menyembah Tuhan. Jemaat yang sudah dipersatukan dalam Kristus dipanggil dan tergerak untuk mengikrarkan pengakuan, penyembahan, pengucapan syukur bahkan puji-pujian kepada Allah. Hal tersebut sesuai dengan karakteristik musik. Pengertian tentang peranan musik yang demikian akan mempunyai akar theologis sebagaimana yang digariskan Alkitab, dan bukan sekadar alasan fungsional belaka. Musik sakral senantiasa mempersatukan karena pada saat ibadah dilangsungkan gereja telah menjadi satu.[10] 3. Sebagai Sarana untuk Pembinaan (nurture). Peranan musik erat hubungannya dengan menasehati jemaat. Musik sebagai sarana untuk menyampaikan nasehat, dorongan, peringatan dan penghiburan (encouragement, comfort) kepada saudara seiman agar mereka dapat dikuatkan untuk bertumbuh dan berani menghadapi segala realitas dan tantangan hidup sebagai orang Kristen yang benar. Ini jelas berbeda dengan fungsi musik yang hanya sekadar bersifat entertainment atau hiburan, di mana umumnya membawa orang kepada dunia mimpi yang seolah-olah tidak ada persoalan dan kesulitan hidup yang menyebabkan timbulnya rasa pesimis dan frustasi. Walaupun musik itu sendiri memiliki aspek nilai Entertainment, namun di tengahtengah jemaat hal tersebut tidaklah menjadi tujuan yang paling utama.Dengan berdasarkan pengertian di atas, maka peranan musik gerejawi dapat dimanfaatkan sebagaimana seharusnya sehingga hal-hal yang bersifat negatif, misalnya memanipulasi emosi yang ditimbulkan sebagai efek sampingan dari jenis musik atau nyayian tertentu dapat dihindari. Sebaliknya, kehangatan ekspresi persekutuan dengan Allah yang saling membangun akan tampak dan dapat dirasakan oleh jemaat. 4. Sebagai Sarana untuk Pengajaran (education). Pada umumnya peranan musik di sini dimengerti sebagai sarana untuk menanamkan pengajaran-pengajaran yang terdapat dalam Alkitab ke dalam hati, pikiran dan kehidupan umat-Nya. Kebenaran-kebenaran spiritual tersebut menjadi lebih jelas, ekspresif dan komunikatif ketika dinyatakan melalui melodi, harmoni dan ritme yang bersangkutan. Dalam hal ini musik merupakan sarana yang amat efektif daripada pendekatan verbal. Musik sebagai sarana pendidikan
12

sudah lama dikenal dan diterapkan. Di India para guru memakai musik untuk membina kerohanian atau mental para murid atau pengikutnya. Begitu pula Plato dan Aristoteles amat menganjurkan penggunaan musik sebagai mata pelajaran wajib bagi para murid mereka untuk membentuk karakter. Secara pedagogis, musik juga merupakan metode pengajaran itu sendiri (a sound teaching method).Penjelasan di atas sebenarnya sudah dikenal sebelumnya oleh para filsuf di abad ke-3 sM, dan khususnya berkenaan dengan integrasi keunikan peranan musik dengan pendidikan agama Kristen, Marthin Luther mengatakan bahwa musik adalah metode dan sekaligus kurikulum.[11] Oleh karena itu, gereja-gereja liturgikal mempunyai kepekaan akan pentingnya pengajaran doktrinal di dalam musik gerejawi. Theologi yang tidak membawa manusia menyembah kepada Allah adalah theologi yang tidak benar dan berbahaya. Agar makna ibadah tidak diselewengkan, maka hubungan liturgi dan ibadah harus jelas. Liturgi dipakai untuk menjaga keutuhan pengajaran yang benar agar gereja tidak terlena dengan keindahan yang tidak menumbuhkan iman.Erik Routley mengatakan bahwa melodi-melodi dalam suatu puji-pujia memiliki daya untuk menimbulkan imaginasi dan ide dalam pikiran, maka perlu diyakinkan bahwa melodi yang bersangkutan tidak menimbulkan imaginasi/ide yang pada dasarnya melemahkan / mencemarkan gambaran tentang Anak Allah yang berinkarnasi sebagaimana yang diwahyukan dalam Alkitab.[12] Karena itu kehadiran musik dalam gereja harus terwujud dengan baik dan bermanfaat, sehingga musik dapat terefleksikan dengan tepat, indah, dan kaya dalam gereja. Musik gerejawi perlu mengandung konsep ibadah yang berpolakan theocentris bukan pengalaman egocentris demi subjective spirituality. Gereja tidak boleh acuh terhadap sisi doktrinal/theologi yang disajikan dalam syair. Motivasi dan tujuan pemakaian musik seharusnya bermula pada Allah dan berakhir pula pada diri Allah. Musik gereja harus memberitakan Injil keselamatan pada dunia. Oleh sebab itu musik yang dipergunakan di dalam gereja harus mengandung atau menyampaikan berita, pengajaran, theologi yang benar dan utuh sesuai dengan wahyu Alkitab.

13

Best, Music: Offering of Creativity, 12-13. Kamus Besar Bahasa Indonesia (ed.198, ibadah, 318. The International Standard Encyclopedia Vol. 5, worship 3112. Jean L. McKechnie, Websters Dictionary (USA: The World Publishing Co, 1975), 2109. Warren W. Wiersbe, Real Worship (New Jersey, Nashville: Oliver Nelson, 1986), 21. Walter Elwell, Evangelical Dictionary of Theology (Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1985) 1192. Austin C. Lovelace & William C. Rice, Worship and Music in the Church (Nashville: Abingdon, 1976), 20-21. Leafblad, What Sound Church Music?, 19. Lamar Boschman, Musik Bangkit Kembali (Jakarta: Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, 2001), 19. Best, Music: Offering of Creativity, 15. John F. Wilson, An Introduction to Church Music (Chicago: Moody Press, 1974), 39. Erik Routley, Church Music and Christian Faith (London: Collins Liturgical Publications, 197, 80. William Dyrness, Tema-tema Dalam Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 2004), hlm. 141. Chuck D. Pierce dan John Dickson, The Worship Warrior (Tunas Pusaka, 2003), hlm. 15.
14

Tim Penulis dan Redaksi Yayasan Pekerjaan Pelayanan Anak Timotius , Pujian dan Pemimpin Pujian(Foundation Child and World), hlm. 60-61. La Mar Boschman dlm bukunya Rebirth Of Music

15