Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Menurut Peraturan Pemerintah RI No.28, Tahun 2004, Rhodamin B merupakan zat warna tambahan yang dilarang penggunaannya dalam produkproduk pangan. Rhodamin B merupakan zat warna sintetik yang umum digunakan sebagai pewarna tekstil. (Djalil, dkk., 2005). Rhodamin B dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan, iritasi kulit, iritasi pada mata, iritasi pada saluran pencernaan, keracunan dan gangguan hati (Trestiati, 2003). Zat warna rhodamin B walaupun telah dilarang penggunaannya tetapi masih ada produsen yang sengaja menambahkan zat warna rhodamin B pada produknya karena harga zat pewarna untuk pangan lebih mahal jika dibandingkan dengan zat pewarna tekstil dan kulit biasanya warna dari zat pewarna tekstil dan kulit lebih menarik dibanding dengan zat pewarna untuk makanan. Pemberian zat pewarna berbahaya dalam bahan makanan dan minuman juga disebabkan karena ketidaktahuan tentang zat pewarna apa saja yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan untuk ditambahkan pada makanan. Masyarakat kurang mengetahui bahwa pewarna tekstil yang digunakan dalam makanan dapat menimbulkan gangguan kesehatan tubuh yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit seperti kanker dan tumor pada organ tubuh manusia (Judarwanto, 2006). Beberapa pedagang karena ketidaktahuannya telah menggunakan beberapa bahan pewarna yang dilarang untuk pangan, seperti Rhodamin B yang ditemukan pada produk sirup jajanan, kerupuk, saus dan terasi merah. Dari hasil penelitian jajanan yang beredar di Bandung bahwa dari 25 sampel makanan dan minuman,

Universitas Sumatera Utara

terdapat 5 sampel yang positif mengandung zat warna yang dilarang oleh pemerintah, yaitu Rhodamin B pada produk sirup jajanan, kerupuk dan terasi merah (Cahyadi, 2008). Oleh karena itu, penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah pada saus dan kerupuk menggunakan zat pewarna Rhodamin B dan kadar Rhodamin B yang terdapat pada pada saus dan kerupuk. Pemeriksaan Rhodamin B dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan metode Spektrofotometer Sinar Tampak. Identifikasi dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Rhodamin B akan memberikan fluoresensi kuning jika dilihat dibawah sinar UV 254 nm dan berwarna merah jambu jika dilihat secara visual (Ditjen POM, 1997). Secara spektrofotometer sinar tampak diukur serapan maksimumnya pada panjang gelombang 450-750nm. Penetapan kadar rhodamin B dengan metode spektrofotometri sinar tampak (BPOM, 2006). 1.2 Perumusan Masalah 1. Apakah Rhodamin B masih digunakan sebagai zat pewarna pada saus dan kerupuk di Kota Medan? 2. Berapakah kadar Rhodamin B yang terdapat didalam saus dan kerupuk di Kota Medan? 1.3 Hipotesis 1. Pada saus dan kerupuk yang ada di Kota Medan mengandung zat pewarna Rhodamin B. 2. Rhodamin B dalam saus dan kerupuk yang ada di Kota Medan terdapat dalam jumlah tertentu.

Universitas Sumatera Utara

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian adalah untuk: 1. Mengetahui apakah Rhodamin B masih digunakan sebagai zat pewarna pada saus dan kerupuk di Kota Medan. 2. Menentukan kadar Rhodamin B yang terdapat pada saus dan kerupuk di Kota Medan Manfaat Penelitian Memberikan informasi kepada masyarakat dan instansi terkait tentang adanya zat warna berbahaya yang masih digunakan sebagai zat pewarna pada makanan yaitu Rhodamin B pada saus dan kerupuk yang beredar di Kota Medan.

Universitas Sumatera Utara