Anda di halaman 1dari 13

PENDAHULUAN A.

Definisi Sindrom lobus temporal adalah berbagai kelainan psikopatologik yang diakibatkan oleh adanya gangguan atau kerusakan (lesi) pada bagian-bagian di lobus temporal.1 B. Epidemiologi 2. Epilepsi Lobus Temporal Penyebab Epilepsi parsial sering berasal dari lobus temporal. Sekitar 50% dari pasien dengan epilepsi parsial dikonfirmasi berasal dari lobus temporal. Lifelong prevalence dari seluruh gangguan psikotik pada pasien epilepsi berkisar antara 7-12%. Pada pengamatan 100 anak dengan kejang kompleks parsial dalam periode lebih dari 30 tahun, dari 87 yang masih hidup dan sampai dewasa tidak menderita retardasi mental, 9 orang (10%) mengalami gangguan psikotik. Penelitian lobektomi temporal yaitu pengangkatan fokus epilepsinya, terjadi psikosis pada 7-8% kasus, bahkan jauh setelah kejang-kejang berhenti. Hal ini memperlihatkan bahwa resiko terjadinya psikotik pada pasien epilepsi dua kali atau lebih dibandingkan populasi umum, khususnya pasien yang fokus epilepsinya di media basal lobus temporalis.2,3

3. Tumor Otak Gangguan psikiatrik pada tumor otak dapat berupa defisit kognitif, dan perubahan kepribadian. Sebuah penelitian melaporkan bahwa prevalensi gejalagejala psikiatrik pada pasien dengan tumor lobus temporalis adalah 94%, lobus frontalis 90% dan infratentorial 47%.2

1. Cerebrovasculer Event (CVE) Adalah salah satu penyebab angka morbiditas dan kematian terbesar di USA. Dari 100 pasien yang selamat, 10 yang tidak dapat kembali bekerja seperti semula, 30 yang mengalami disabilitas residual yang ringan, 50 mengalami

disabilitas yang lebih berat dan memerlukan perawatan khusus di rumah, dan 10 membutuhkan perawatan institutional yang permanen.1

C. Etiologi Penyebab paling umum dari lesi lobus temporal adalah Cerebro Vascular Event (CVE). Kemudian akibat tumor primer, jinak (seperti meningioma) atau ganas yang mungkin merupakan tumor sekunder atau metastasis karsinoma, paling sering dari kanker paru-paru atau kanker payudara. Trauma dari cedera kepala mungkin terlibat atau kerusakan bedah ketika pengangkatan tumor dari wilayah lobus temporal. Cedera kepala sering mencakup hematoma extradural dan cedera contrecoup (cedera otak di sisi yang berlawanan dengan titik trauma). pembedahan intra temporal pada kasus epilepsi lobus temporal banyak menyebabkan gangguan fungsi lobus temporal. Patologi lain seperti multiple sclerosis dapat mempengaruhi lobus temporal meskipun ini adalah manifestasi yang jarang.4

D. Anatomi dan Fisiologi Lobus Temporal Lobus temporal adalah salah satu regio dari kortex serebri yang terletak di bawah sulcus lateralis di kedua hemisfer otak manusia. Lobus temporal terlibat dalam retensi memori visual, proses input sensorik, memahami bahasa, penyimpanan memori baru, emosi dan memahami makna. Lobus temporal berisi hippocampus dan memainkan peran kunci dalam pembentukan eksplisit memori jangka panjang yang dimodulasi oleh amigdala.5

Parietal Frontal Lobe TEMPORAL LOBE Lobe Occipital Lobe

Gambar 1. Lobus temporal, satu dari empat lobus utama pada otak

Lobus temporalis merupakan satu dari empat lobus utama dari otak. Lobus temporalis berada di bawah sulcus lateralis dan di anterior korteks oksipital dan parietal. Brodmann mengidentifikasi 10 area temporal, tetapi penelitian anatomi terbaru menunjukkan banyak area pada monyet, apalagi pada wanita.5 Lobus temporalis tidak hanya memiliki satu fungsi, karena dalam lobus temporalis terdapat primary auditory cortex, the secondary auditory, visual cortex, limbic cortex, dan amygdala.5 Tiga fungsi basis dari korteks temporal adalah memproses input auditori, mengenali objek visual, dan penyimpanan memori jangka lama dari input sensori, ditambah dengan fungsi amigdala, yaitu afeksi (emosi). Beberapa fungsi lainnya adalah sebagai berikut:5
Tabel 1. Fungsi-fungsi lobus temporal

Fungsi Kemampuan Berbicara

Keterangan Diatur pada bagian sebelah kiri temporal, terdapat zona bahasa atau berbicara bernama Wernicke. Area ini mengontrol proses termasuk komprehensif dan memori verbal.

Memori

Mengatur eksplisit memori jangka panjang berupa fakta, kejadian, orang, dan tempat. diproses di hippocampus yang dimodulasi oleh amigdala.

Membaca

Memproses suara dan kata-kata tertulis menjadi suatu informasi sehingga menjadi ingatan.

Respon emosi Respon auditori

Berasal dari amygdala didalam lobus temporalis Primary auditory cortex (terletak pada Heschls gyri) bertanggung jawab untuk merespon frekuensi suara yang berbeda untuk lokalisasi suara. Bagian ini bertugas untuk peka terhadap suara.

Pemrosesan Visual Memunculkan perasaan yakin dan insight.

Gambar 2. Daerah gyrus temporalis superior, mengatur proses pendengaran dan area wernick sebagai zona bahasa dan berbicara

Di sekitar daerah superior, posterior dan lateral dari lobus temporal terlibat dalam proses pendengaran. Lobus temporal terlibat sebagai penerima persepsi auditori primer, yaitu proses mendengar karena terdapat kortex auditori primer (gambar 2). Gyrus temporalis superior (termasuk sulcus lateralis) meliputi area yang menerima sinyal dari koklea pertama kali begitu mencapai kortex cerebri. Kemudian stimulus ini diproses oleh kortex auditori primer di lobus temporal kiri.6

Daerah

yang berkaitan dengan

penglihatan

pada lobus

temporal

menginterpretasikan stimulus visual sehingga obyek penglihatan dapat dikenali. Bagian yang mengatur proses ini terletak di bagian ventral dari lobus temporal. Pada daerah tersebut terdapat gyrus fusiforme untuk proses mengenali wajah, dan gyrus parahippocampal untuk mengenali serta membaca suasana atau kejadian (gambar 3). Sementara bagian anterior dari daerah ini mengatur proses pengenalan benda.6

Gambar 3. Gyrus Parahippocampal untuk mengenali suasana/kejadian serta Amigdala yang mengatur afeksi (emosi)

Pada lobus temporal kiri terdapat kortex auditori primer yang memegang peranan sebagai pengolah proses semantik berbicara dan penglihatan manusia. Pelebaran regio antara lobus temporal dan parietal (tandem dengan area brocha di lobus frontal) memegang peranan dalam pemahaman dalam berbicara.6 Proses bahasa ucapan: Diterima alat dengar Pusat otak primer dan sekunder Pusat otak a sosiatif: area wernicke, kata yang didengar akan dipahami Girus angularis, tempat pola kata-kata dibayangkan lewat area Wernicke di fasikulus arkuatus area Broca: gerakan motorik pembicaraan area motorik primer ; otot-otot lidah untuk ucapan area motorik suplementer, agar ucapan/gerakan lidah menjadi jelas.5

Proses bahasa Visual: Diterima alat visual Pusat otak primer penglihatan Pusat otak asosiasi penglihatan: (di sini terjadi pengenalan informasi) Girus angularis area Wernicke area Broca (gerakan pembicaraan) area motorik primer dan suplementer, sehingga pada akhirnya tulisan dapat dimengerti.5 Lobus temporal medial diduga terlibat dalam pengkodean memori jangka panjang deklaratif. lobus temporal medial termasuk hippocampi (Gambar 2), penting untuk penyimpanan memori, sehingga kerusakan pada daerah ini dapat mengakibatkan penurunan dalam pembentukan memori baru yang mengarah ke amnesia anterograde permanen atau sementara. Lobus temporal medial terdiri dari struktur yang penting untuk memori deklaratif atau jangka panjang. Memori deklaratif (denotatif) maupun eksplisit adalah memori sadar dibagi ke dalam memori semantik (fakta) dan memori episodik (peristiwa). Struktur lobus temporal medial sangat penting untuk memori jangka panjang termasuk amigdala, batang otak, dan hippocampus. Hippocampus terdiri dari daerah neokorteks perirhinal, parahippocampal, dan entorhinal. Hippocampus penting untuk pembentukan memori, dan korteks temporal medial di sekitarnya.6 E. Berbagai Gejala Klinik Akibat Kerusakan pada Lobus Temporal Berikut manifestasi-manifestasi yang diasosiasikan dengan penyakit pada lobus temporal, yaitu:3,4,5 1. Gangguan sensasi auditory dan persepsi --kerusakan pada

auditoryperceptual terletak pada bagian kiri lobus temporal. Bagian kiri lobus temporal penting untuk membedakan ucapan. Pada bagian ini juga terdapat gangguan yang disebut dengan aphasia dimana seseorang sulit untuk mengenali kata-kata ( terletak pada Wernickes area). Selain itu, ketika terjadi kerusakan pada bagian kanan lobus temporal, maka seseorang akan mengalami kemunduran dalam mempersepsi karakteristik tertentu dari musik (loudness, quality dan pitch)

2. Gangguan selective attention input auditory dan visual --- kerusakan pada bagian kanan lobus temporal akan mengakibatkan ketidakmampuan seseorang dalam mengenali dan me-recall wajah maupun gambar-gambar. 3. Kelainan persepsi visual --- luka pada bagian kiri lobus temporal akan mengakibatkan ketidakmampuan untuk fokus karena sistem syarafnya terluka. Begitu juga dengan bagian kanan lobus temporal. 4. Kerusakan pengorganisasian dan pengkategorisasian materi verbal --kerusakan lobus temporal juga mengakibatkan seseorang tidak dapat mengkategorisasikan sebuah kata, gambar, maupun objek yang familiar. 5. Gangguan pemahaman bahasa --- Seseorang dengan kerusakan ini mengakibatkan ia selalu keluar dari konteks, apakah itu kalimat, gambar , maupun ekspresi wajah. 6. Kerusakan memori jangka panjang --- kerusakan pada lobus temporal mengakibatkan seseorang mengalami amnesia. Kerusakan pada

inferotemporal cortex mengakibatkan ketidaksadaran dalam me-recall informasi. Luka pada bagian kiri lobus temporal mengakibatkan seseorang tidak dapat me-recall materi verbal, sebaliknya jika bagian kanan rusak, akan mengakibatkan ketidakmampuan me-recall materi non-verbal. 7. Perubahan kepribadian dan perilaku afektif --- kerusakan lobus temporal mengakibatkan gangguan pada emosi (karena amygdala terstimulasi). 8. Perubahan perilaku seksual. Lesi lobus temporalis dapat mengakibatkan hyperseksualitas, transvestime dan perilaku transeksual. Pada kasus Cerebro vasculer event (CVE) biasanya mengurangi libido, tetapi lesi pada lobus temporal dapat meningkatkannya.5 9. Kluver-Bucy Syndrome --- Klver-Bucy Syndrome adalah sindrom neurobehavioural yang berhubungan dengan lesi bilateral di ujung lobus temporal anterior atau amigdala. Lesi lobus temporal sedikitnya telah dilaporkan dapat menimbulkan Klver-Bucy syndrome. Gejala sindrom ini antara lain : emosi yang menjadi tumpul dan tidak ekspresif, hipermetamorfosis dan hiperseksualitas.3

10. Epilepsi lobus temporal. Epilepsi lobus temporal adalah jenis epilepsi fokal yang paling sering ditemukan, serta potensial untuk resisten terhadap pengobatan. Efek fungsi kognitif ditandai dengan sklerosis hipokampus, kejang fokal dengan tanda kepribadian lobus temporal sebelah medial. Hipokampus dan sekitarnya adalah komponen terbesar dalam sistem frontotemporal. Epilepsi lobus temporal kiri berhubungan dengan defisit memori dan verbal, khususnya dalam penggabungan kalimat yang panjang dan pengungkapannya kembali. Pada epilepsi lobus temporal kanan dengan sklerosis hipokampus, defisit memori dan visual yang akan ditemukan. Selain itu juga bisa ditemukan defisit memori spasial yang spesifik, identifikasi wajah orang terkenal, pengenalan wajah dalam waktu lama, dan pengenalan ekspresi wajah. Karena mempunyai interaksi yang kuat antara lobus temporal dan area prefrontal prefrontal pada fungsi memori, pasien dengan epilepsi lobus temporal juga mempunyai kerusakan fungsi lobus frontal. Khususnya yang mempunyai gejala kejang tonik klonik umum. Epilepsi lobus temporal kiri umumnya berhubungan dengan kerusakan dalam berbahasa, memori, khususnya ketidakmampuan bersosialisasi. Pembedahan meski sukses, umumnya masih menyisakan defisit verbal dan memori dalam berbagai derajat. 7 Dari manifestasi-manifestasi di atas didapatkan berbagai perubahanperubahan yang berkaitan dengan penyakit gangguan kejiwaan kausa organik (dalam hal ini akibat kerusakan daerah-daerah di lobus temporal). Penyakitpenyakit tersebut sebagai berikut : 1. Gangguan Kepribadian Organik (F07.0) Sebagian besar kerusakan pada daerah lobus temporal mengakibatkan terjadinya perubahan kepribadian seperti gangguan emosi dan perilaku seksual. Terlebih lagi ditemukannya sindrom Kluver-Bucy (sindrom neuro-behavioral). Sesuai dengan manifestasi klinik di atas yaitu poin ke-7, ke-8 dan ke-9. 4,5,8

2. Gangguan Cemas (Anxietas) Organik (F06.4) Gangguan cemas yang timbul sebagai akibat gangguan organik yang dapat menyebabkan disfungsi otak dalam hal ini pada kasus epilepsi lobus temporal.8 3. Gangguan Disosiatif Organik (F06.5) Berdasarkan manifestasi klinik di atas poin ke-6. Di mana telah terjadi kerusakan memori jangka panjang akibat kerusakan inferotemporal cortex pada lobus temporal.5,8 4. Gangguan Kognitif Ringan (F06.7) Berdasarkan manifestasi klinik poin ke-4 dan ke-5. Dimana dikatakan bahwa terjadi kerusakan di dalam pengorganisasian dan pengkategorisasian materi verbal serta pemahaman bahasa.1,3 F. Diagnosis 1. Pemeriksaan penunjang seperti MRI dan CT-scan diperlukan untuk menilai kasus kausa organik (lesi pada lobus temporal maupun untuk menilai tumor pada lobus temporal).1 2. Untuk kasus epilepsi lobus temporal didiagnosis dengan menggunakan EEG (electroencephalograph, rekaman aktivitas listrik otak). 3. Untuk membedakan kelainan psikis yang diakibatkan oleh kausa organik atau non-organik, berdasarkan buku pedoman penggolongan diagnostik gangguan jiwa (PPDGJ III) :8 o F07.0 Gangguan Kepribadian Organik : Riwayat yang jelas atau hasil pemeriksaan yang mantap menunjukkan adanya penyakit, kerusakan, atau disfungsi otak ; Disertai, dua atau lebih, gambaran berikut :

a. Penurunan yang konsisten dalam kemampuan untuk mempertahankan aktivitas yang bertujuan (goaldirected activities), terutama yang memakan waktu lebih lama dan penundaan kepuasan; b. Perubahan perilaku emosional, ditandai oleh

labilitas emosional, kegembiraan yang dangkal dan tak beralasan (euforia, kejenakaan yang tak

sepadan), amarah berubah menjadi irritabilitas atau cetusan amarah dan agresi yang sejenak; pada beberapa keadaan, apati dapat merupakan gambaran yang menonjol. c. Pengungkapan kebutuhan dan keinginan tanpa mempertimbangkan konsekuensi atau kelaziman sosial (pasien mungkin terlibat dalam tindakan dissosial, seperti mencuri, bertindak melapaui batas kesopanan seksual, atau makan secara lahap atau tidak sopan, kurang memperhatikan kebersihan dirinya); d. Gangguan proses pikir, dalam bentuk curiga atau pikiran paranoid, dan atau preokupasi berlebihan pada satu tema yang biasanya abstrak seperti soal agama, benar dan salah. e. Kecepatan dan arus pembicaraan berubah dengan nyata, dengan gambaran seperti berputar-putar (circumstantiality), bicara banyak (over-

inclusiveness), alot (viscosity), dan hipergravia; f. Perilaku seksual yang berubah (hiposeksualitas atau perubahan selera seksual). o F06.4 Gangguan cemas (anxietas) organik Gangguan yang ditandai oleh gambaran utama dari gangguan cemas menyeluruh (F41.1), gangguan

panik (F41.0), atau campuran dari keduanya, tetapi timbul sebagai akibat gangguan organik yang dapat menyebabkan disfungsi otak (seperti epilepsi lobus temporalis, tirotoksikosis, atau feokromositoma) o F06.5 Gangguan disosiatif organik Gangguan yang memenuhi persyaratan untuk salah satu gangguan dalam gangguan disosiatif (F44,-) dan memenuhi kriteria umum untuk penyebab organik. o F06.7 Gangguan kognitif ringan Gambaran utamanya adalah turunnya kemampuan kognitif (termasuk hendaya daya ingat, daya belajar, sulit berkonsentrasi tidak sampai memenuhi kriteria demensia (F00-F03), sindrom amnestik organik (F04) atau delirium (F05,-). Gangguan ini dapat mendahului, menyertai atau mengikuti berbagai macam gangguan infeksi dan gangguan fisik, baik serebral maupun sistemik. G. Diagnosa Banding Kausa organik lainnya :4 o Alcoholism. o Alzheimer's disease. o myloid angiopathy. o Aphasia. o Apraxia and related syndromes. o Arteriovenous malformations. o Cardioembolic stroke. o Cerebral aneurysms. o Glioblastoma multiforme.

o Low-grade astrocytoma. o Meningioma. o Multiple sclerosis. o Pick's disease. o Primary central nervous system lymphoma. o Secondary brain tumours. o Substance abuse. o Sindrom pasca ensefalitis (F07.1) Kausa Non-Organik :8 o Gangguan Disosiatif (Konversi) (F44) o Perubahan kepribadian yang berlangsung lama setelah mengalami katastrofa (F62.1) o Gangguan kepribadian khas (F60.-) H. Terapi Berbagai kelainan kausa organik dapat ditangani dengan farmakoterapi, kemoterapi, radioterapi hingga tindakan operatif untuk menghilangkan kausa seperti tumor atau lesi-lesi pada lobus temporal.4 Pada kasus epilepsi lobus temporal, dengan mengobati penyebab tertentu dapat menghentikan kejang termasuk tindakan operatif. Penyebab epilepsi lobus temporal selain genetik juga dapat disebabkan oleh tumor dan lesi pada lobus temporal. Kebanyakan pasien dengan epilepsi memiliki prognosis yang baik bila kejang dapat dikontrol dengan antikonvulsan. Sebagian besar pasien tidak mengalami gangguan psikiatrik hanya jika mengalami kejang-kejang yang tidak terkontrol dalam jangka panjang/bertahun-tahun antikonvulsan atau operasi mungkin dapat mengatasi gejala seperti agresi.2,9

I. Prognosis Pada penderita yang masih muda, terutama anak-anak, memiliki kemampuan untuk membiarkan salah satu bagian dari otak mengambil alih fungsi dari bagian yang rusak (plastisitas) tapi ini hilang seiring dengan bertambahnya usia. Oleh karena itu pasien muda dapat kembali beberapa fungsi yang hilang tapi kemungkinan dapat terjadi penurunan seiring dengan bertambahnya usia. Dengan kausa organik yang ringan hanya dengan menangani penyebab utamanya pasien dapat disembuhkan secara total.2