Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair(setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB (Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkatDi negara maju diperkirakan insiden sekitar 0,5-2 episode/orang/tahun sedangkan dinegara berkembang lebih dari itu. Di USA dengan penduduk sekitar 200 juta diperkirakan 99 juta episode diare akut pada dewasa terjadi setiap tahunnya.WHO memperkirakan adasekitar 4 miliar kasus diare akut setiap tahun dengan mortalitas 3-4 juta pertahun. Bila angka itu diterapkan di Indonesia, setiap tahun sekitar 100 juta episode diarepada orang dewasa per tahun. Dari laporan surveilan terpadu tahun 1989 jumlah kasus diare . didapatkan 13,3 % di Puskesmas, di rumah sakit didapat 0,45% pada penderita rawat inap dan 0,05 % pasien rawat jalan. Penyebab utama disentri di Indonesia adalah Shigella, Salmonela, Campylobacter jejuni, Escherichia coli, Dan Entamoeba histolytica. Disentri berat umumnya disebabkan oleh Shigella dysentery, kadang-kadang dapat juga disebabkan oleh Shigella flexneri, Salmonella dan Enteroinvasive E.coli ( EIEC). Beberapa faktor epidemiologis penting dipandang untuk mendekati pasien diare akut yang disebabkan oleh infeksi. Makanan atau minuman terkontaminasi, sanitasi

lingkungan yang buruk, berpergian ke daerah endemik , HIV positif atau AIDS,

merupakan petunjuk penting dalam mengidentifikasi pasien beresiko tinggi untuk diare infeksi. Salah satu program pada Puskesmas Sukasada II adalah program pencegahan penyakit menular, salah satunya diare yang bertujuan Untuk mengendalikan penyakit diare di wilayah kerja puskesmas Sukasada II Diharapkan, program ini dapat meurunkan jumlah penderita diare Namun, pada kenyataannya kasus Diare di wilayah kerja puskesmas Sukasada masih tinggi Berdasarkan laporan tahunan puskesmas Sukasada II kabupaten Buleleng, jumlah usila di daerah tersebut juga termasuk tinggi. Pada tahun 2011, didapatkan jumlah penderita diare 52 kasus dan dalam laporan program P2M mengatakan bahwa cakupan penangan diare masih rendah yaitu 8,8 persen yang dianggap bahwa penanganan awal yang harusnya ke Puskesmas atau Pustu belum dilaksanakan sehingga mungkin terjadi kekurang pengetahuan mengenai penanganan awal diare dan pengobatannya. Pada Laporan Program kesehatan lingkungan dikatakan bahwa penggunaan jamban keluarga masih dibawah target yaitu dibawah 80 persen dan dianggap masih rendahnya Perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat wilayah kerja Puskesmas Sukasada II walaupun belum ada angka yang menyebutkan persentase setiap desa. Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa banyak faktor yang mempengaruhi kejadian diare . Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah sanitasi lingkungan, keadaan sosial ekonomi dan hygiene makanan . Faktor-

faktor tersebut merupakan faktor yang berasal dari luar dan dapat diperbaiki, sehingga dengan memperbaiki faktor resiko tersebut diharapkan dapat menekan angka kesakitan dan kematian diare (Irianto, 2000, Warouw, 2002, Asnilet al, 2003). Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik mengetahui gambaran pola hidup, sanitasi lingkungan serta sosial ekonomi yang menjadi faktor resiko

terjadinya diare pada masyarakat di wilayah kerja puskesmas sukasada II September 2012 1.2 Identifikasi masalah Bagaimanakah gambaran pola hidup, sanitasi lingkungan serta sosial ekonomi yang menjadi faktor resiko terjadinya diare pada masyarakat di wilayah kerja puskesmas sukasada II September 2012? 1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran pola hidup, sanitasi lingkungan serta sosial ekonomi yang menjadi faktor resiko terjadinya diare pada masyarakat di wilayah kerja puskesmas sukasada II bulan September 2012? 1.3.2Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui gambaran pola hidup pada masyarakat di wilayah kerja puskesmas sukasada II b. Untuk mengetahui gambaran sanitasi lingkungan pada masyarakat di wilayah kerja puskesmas sukasada II c. Untuk mengetahui status sosial ekonomi pada masyarakat di wilayah kerja puskesmas sukasada II 1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1Bagi Puskesmas Informasi dari penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk menyusun langkah-langkah strategi dalam mencegah serta menurunkan jumlah penderita diare di wilayah kerja puskesmas Sukasada II 1.4.2 Bagi Peneliti 1. Melalui penelitian ini peneliti dapat menerapkan dan memanfaatkan ilmu yang didapat selama pendidikan di bagian IKK/IKP Fakultas Kedokteran Universitas Udayana serta menambah pengetahuan dan pengalaman dalam membuat penelitian ilmiah.

2. Menambah pengetahuan peneliti tentang pola hidup, sanitasi lingkungan serta sosial ekonomi yang menjadi factor resiko terjadinya diare pada masyarakat di wilayah kerja gambaran di wilayah kerja Puskesmas Sukasada II 3. Penelitian ini juga diharapkan dapat dipakai sebagai data dasar untuk penelitian yang lebih luas di masa yang akan datang 1.4.3 Bagi Masyarakat Memberikan informasi mengenai pentingnya partisipasi anggota masyarakat dalam memperhatikan penerapan pola hidup bersih serta sanitasi lingkungan untuk mencegah penyebaran penyakit diare.

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Definisi Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari (DepKes RI,2005). Diare juga didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya / lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah (WHO 1999). Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten. Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (Soegijanto, 2002). Diare atau mencret didefinisikan sebagai buang air besar dengan feses yang tidak berbentuk (unformed stools) atau cair dengan frekwensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Bila diare berlangsung kurang dari 2 minggu, di sebut sebagai Diare Akut. Apabila diare berlangsung 2 minggu atau lebih, maka digolongkan pada diare kronik. Pada feses dapat dengan atau tanpa lendir, darah, atau pus. Gejala ikutan dapat berupa mual, muntah, nyeri abdominal, mulas, tenesmus, demam dan tandatanda dehidrasi (SE Goldfiner,2009). 2.2 Prevalensi Diare merupakan masalah umum ditemukan diseluruh dunia. Di Amerika Serikat keluhan diare menempati peringkat ketiga dari daftar keluhan pasien pada ruang praktek dokter, sementara di beberapa rumah sakit di Indonesia data menunjukkan diare akut karena infeksi terdapat peringkat pertama sampai ke empat pasien dewasa yang datang berobat ke rumah sakit. Di negara maju diperkirakan insiden

sekitar 0,5-2 episode/orang/tahun sedangkan di negara berkembang lebih dari itu. Di USA dengan penduduk sekitar 200 juta diperkirakan 99 juta episode diare akut pada dewasa terjadi setiap tahunnya. WHO memperkirakan ada sekitar 4 miliar kasus diare akut setiap tahun dengan mortalitas 3-4 juta pertahun (P Tjaniadi, 2003). Di negara maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat, tetapi insiden diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara Barat ini oleh karena foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan bakteri Salmonella spp, Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC) (ACC Jones,2004) sedangkan di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk setiap tahun. Di Afrika penduduknya terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya, di banding di negara berkembang lainnya yang hanya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahunnya. (ACC Jones,2004). Diare merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian anak dinegara berkembang, dan penyebab terpenting kejadian malnutrisi.5 Di dunia,sebanyak 4 sampai 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare,dimana sebagian besar kematian tersebut terjadi di negara berkembang.Pada tahun 2003, kira-kira 1.87 juta anak di bawah usia lima tahun (balita) meninggal karena diare. Delapan dari 10 kematian tersebut terjadi di bawah usia dua tahun. Di indonesia sendiri Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan

masyarakat di negara berkembang karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 IR penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374

/1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi, dengan CFR yang masih tinggi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang (CFR 2,94%). Tahun 2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100 orang (CFR 1,74%), sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 dengan kematian 73 orang (CFR 1,74 %.). Penyakit diare termasuk dalam 10 penyakit yang sering menimbulkan kejadian luar biasa. Berdasarkan laporan Surveilans Terpadu Penyakit bersumber data KLB (STP KLB) tahun 2010, diare menempati urutan ke 6 frekuensi KLB terbanyak setelah DBD, Chikungunya, Keracunan makanan, Difteri dan Campak. 2.3 Patogenesis dan patofisiologi Diare dapat disebabkan oleh satu atau lebih patofisiologi/patomekanisme sebagai berikut: 1). Osmolaritas intraluminal yang meninggi, disebut diare osmotik; 2). Sekresi cairan dan elektrolit meninggi, disebut diare sekretorik; 3). Malabsorbsi asam empedu, malabsorbsi lemak; 4). Defek system pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit; 5). Motilitas dan waktu transit usus abnormal; 6). Gangguan permeabilitas usus; 7). Inflamasi dinding usus, disebut diare imflamatorik; 8). Infeksi dinding usus, disebut diare infeksi (World

Gastroenterology Organization, 2005). Diare sekretorik: diare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air dan elektrolit dari usus, menurunnya basorbsi. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum. Penyebab dari diare tipe ini antara lain karena efek enterotoksin pada infeksi Vibrio cholera, atau Escherichia coli, penyakit yang menghasilkan hormone (VIPoma), reseksi ileum (gangguan absorbs garam empedu), dan efek obat laksatif (dioctyl sodium sulfosuksinat dll) (World Gastroenterology Organization, 2005).

Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit: diare tipe ini disebabkan adanya hambatan mekanisme transport aktif Na+K+ATP ase di enterosit dan absorpsi Na+ dan air yang abnormal (Zein U,2003). Motilitas dan waktu transit usus abnormal: diare tipe ini disebabkan hipermotilitas dan iregularitas motilitas usus sehingga menyebabkan absorbsi yang abnormal di usus halus. Penyebab gangguan motilitas antara lain: diabetes mellitus, pasca vagotomi, hipertiroid. Gangguan permeabilitas usus: diare tipe ini disebabkan permeabilitas usus yang abnormal disebabkan adanya kelainan morfologi membrane epitel spesifik pada usus halus (Procop GW,2003).

Inflamasi dinding usus (diare inflamatorik): diare tipe ini disebabkan adanya kerusakan usus karena proses inflamasi, sehingga terjadi produksi mucus yang berlebihan dan eksudasi air dan elektrolit kedalam lumen, gangguan absorpsi airelektrolit. Inflamasi mukosa usus halus dapat disebabkan infeksi (disentri Shigella) atau non infeksi (colitis ulseratif dan penyakit crohn) (Procop GW,2003)

Diare infeksi: infeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. Dari sudut kelaianan usus, diare oleh bakteri dibagi atas non-invasif (tidak merusak mukosa) dan invasive (merusak mukosa). Bakteri noninvasive menyebabkan diare karena toksin yang disekresi oleh bakteri tersebut, yang disebut diare toksigenik. Contoh diare toksigenik a.l. kolera. Enterotoksin yang dihasilkan kuman Vibrio cholare/eltor merupakan protein yang dapat menempel pada epitel usus, lalu membentuk adenosisn monofosfat siklik (AMF siklik) di dinding usus dan menyebabkan sekresi aktif anion klorida yang diikuti air, ion bikarbonat dan kation natrium dan kalium. Mekanisme absorpsi ion natrium melalui mekanisme pompa natrium tidak terganggu karena itu keluarnya ion klorida (diikuti ion bikarbonat, air, natrium, ion kalium) dapat dikompensasi oleh mneingginya absorsi ion natrium (diiringi oleh air, ion kalium dan ion bikarbonat, klorida). Kompensasi ini dapat dicapai dengan pemberian larutan glukosa yang diabsorpsi secara aktif oleh dinding sel usus (Thielman NM,2004). Pada dasarnya mekanisme terjadinya diare akibat kuman enteropatogen meliputi penempelan bakteri pada sel epitel dengan atau tanpa kerusakan mukosa, invasi mukosa, dan produksi enterotoksin atau sitotoksin. Satu bakteri dapat menggunakan satu atau lebih mekanisme tersebut untuk dapat mengatasi pertahanan mukosa usus (Goldfinger SE, 1987). Mekanisme adhesi yang pertama terjadi dengan ikatan antara struktur polimer fimbria atau pili dengan reseptor atau ligan spesifik pada permukaan sel epitel. Fimbria terdiri atas lebih dari 7 jenis, disebut juga sebagai colonization factor antigen (CFA) yang lebih sering ditemukan pada enteropatogen seperti Enterotoxic E. Coli (ETEC) (Procop GW,2003). Mekanisme adhesi yang kedua terlihat pada infeksi Enteropatogenic E.coli (EPEC), yang melibatkan gen EPEC adherence factor (EAF), menyebabkan perubahan konsentrasi kalsium

intraselluler dan arsitektur sitoskleton di bawah membran mikrovilus. Invasi intraselluler yang ekstensif tidak terlihat pada infeksi EPEC ini dan diare terjadi akibat shiga like toksin. Mekanisme adhesi yang ketiga adalah dengan pola

agregasi yang terlihat pada jenis kuman enteropatogenik yang berbeda dari ETEC atau EHEC(Procop GW,2003). Kuman Shigella melakukan invasi melalui membran basolateral sel epitel usus. Di dalam sel terjadi multiplikasi di dalam fagosom dan menyebar ke sel epitel sekitarnya. Invasi dan multiplikasi intraselluler menimbulkan reaksi inflamasi serta kematian sel epitel. Reaksi inflamasi terjadi akibat dilepaskannya mediator seperti leukotrien, interleukin, kinin, dan zat vasoaktif lain. Kuman Shigella juga memproduksi toksin shiga yang menimbulkan kerusakan sel. Proses patologis ini akan menimbulkan gejala sistemik seperti demam, nyeri perut, rasa lemah, dan gejala disentri. Bakteri lain bersifat invasif misalnya Salmonella (Procop GW,2003). Prototipe kelompok toksin ini adalah toksin shiga yang dihasilkan oleh Shigella dysentrie yang bersifat sitotoksik. Kuman lain yang menghasilkan sitotoksin adalah Enterohemorrhagic E. Coli (EHEC) serogroup 0157 yang dapat menyebabkan kolitis hemoragik dan sindroma uremik hemolitik, kuman EPEC serta V. Parahemolyticus (Procop GW,2003). Prototipe klasik enterotoksin adalah toksin kolera atau Cholera toxin (CT) yang secara biologis sangat aktif meningkatkan sekresi epitel usus halus. Toksin kolera terdiri dari satu subunit A dan 5 subunit B. Subunit A1 akan merangsang aktivitas adenil siklase, meningkatkan konsentrasi cAMP intraseluler sehingga terjadi inhibisi absorbsi Na dan klorida pada sel vilus serta peningkatan sekresi klorida dan HCO3 pada sel kripta mukosa usus. ETEC menghasilkan heat labile toxin (LT) yang mekanisme kearjanya sama dengan CT serta heat Stabile toxin (ST).ST akan meningkatkan kadar cGMP selular, mengaktifkan protein kinase, fosforilasi protein membran mikrovili, membuka kanal dan mengaktifkan sekresi klorida (Procop GW,2003).

2.4 Transmisi dan Pencegahan Karena penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral, penularannya dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Ini termasuk sering mencuci tangan setelah keluar dari toilet dan khususnya selama mengolah makanan. Kotoran manusia harus diasingkan dari daerah pemukiman, dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran manusia (Wingate, 2001). Tindakan dalam pencegahan diare ini antara lain dengan perbaikan keadaan lingkungan, seperti penyediaan sumber air minum yang bersih, penggunaan jamban, pembuangan sampah pada tempatnya, sanitasi perumahan dan penyediaan tempat pembuangan air limbah yang layak. Perbaikan perilaku kebiasaan mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, membuang pada tempat yang tepat (Andrianto, 1995). Masyarakat dapat terhindar dari penyakit asalkan pengetahuan tentang kesehatan dapat ditingkatkan, sehingga perilaku dan keadaan lingkungan sosialnya menjadi sehat ( Notoadmodjo, 2003) 2.5 Sanitasi Lingkungan Sejak pertengahan abad ke-15 para ahli kedokteran telah menyebutkan bahwa tingkat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut model segitiga epidemiologi, suatu penyakit timbul akibat beroperasinya faktor agen, hostdan lingkungan. Menurut model roda timbulnya penyakit sangat tergantung dari lingkungan (Mukono, 1995). Faktor lingkungan merupakan faktor yang sangat penting terhadap timbulnya berbagai penyakit tertentu, sehingga untuk memberantas penyakit menular diperlukan upaya perbaikan lingkungan (Trisnanta, 1995). Melalui faktor lingkungan, seseorang yang keadaan fisik atau daya tahannya terhadap penyakit kurang, akan mudah terserang penyakit (Slamet, 1994). Penyakit-penyakit tersebut seperti diare, ,demam berdarah dengue, difteri, tifus dan lain-lain yang dapat ditelusuri determinan-determinan lingkungannya (Noerolandra, 1999). Masalah kesehatan lingkungan utama di negara-negara

yang sedang berkembang adalah penyediaan air minum, tempat pembuangan kotoran, perumahan, dan pembuangan air limbah (Notoatmodjo, 2003). 2.5.1 Sumber Air Syarat air minum ditentukan oleh syarat fisik, kimia dan bakteriologis. Syarat fisik yakni, air tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, jernih dengan suhu sebaiknya di bawah suhu udara sehingga terasa nyaman. Syarat kimia yakni, air tidak mengandung zat kimia atau mineral yang berbahaya bagi kesehatan misalnya CO2, H2S, NH4. Syarat bakteriologis yakni, air tidak mengandung bakteri E. coli yang melampaui batas yang ditentukan, kurang dari 4 setiap 100 cc air. Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air minum. Sumbersumber air ini antara lain : air hujan, mata air, air sumur dangkal, air sumur dalam, air sungai & danau. 2.5.2 Pembuangan Kotoran manusia Kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan harus dikeluarkan dari dalam tubuh seperti tinja, air seni dan CO2. Masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah pokok karena kotoran manusia adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain : tipus, diare, disentri, kolera, bermacam-macam cacing seperti cacing gelang, kremi, tambang, pita,schistosomiasis. Syarat pembuangan kotoran antara lain, tidak mengotori tanah permukaan, tidak mengotori air permukaan, tidak mengotori air tanah, kotoran tidak boleh terbuka sehingga dapat dipergunakan oleh lalat untuk bertelur atau berkembang biak, kakus harus terlindung atau tertutup, pembuatannya mudah dan murah (Notoatmodjo, 2003). Bangunan kakus yang memenuhi syarat kesehatan terdiri dari : rumah kakus, lantai kakus, sebaiknya semen, slab, closet tempat feses masuk, pit sumur penampungan feses atau cubluk, bidang resapan, bangunan jamban ditempatkan pada lokasi yang tidak mengganggu pandangan, tidak menimbulkan bau, disediakan alat pembersih seperti air atau tisu pembersih. (Notoatmodjo, 2003)

2.5.3 Keadaan perumahan Perumahan adalah salah satu faktor yang menentukan keadaan hygiene dan sanitasi lingkungan. Adapun syarat-syarat rumah yang sehat ditinjau dari ventilasi, cahaya, luas bangunan rumah, serta fasilitas-fasilitas di dalam rumah sehat sebagai berikut : a. Ventilasi Fungsi ventilasi adalah untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar dan untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen. Luas ventilasi kurang lebih 15-20 % dari luas lantai rumah b. Cahaya Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, kurangnya cahaya yang masuk ke dalam ruangan rumah, terutama cahaya matahari disamping kurang nyaman, juga merupakan media atau tempat baik untuk hidup dan berkembangnya bibit penyakit. Penerangan yang cukup baik siang maupun malam 100-200 lux. c. Luas bangunan rumah Luas bangunan yang optimum adalah apabila dapat menyediakan 2,5-3 m2 untuk tiap orang. Jika luas bangunan tidak sebanding dengan jumlah penghuni maka menyebabkan kurangnya konsumsi O2, sehingga jika salah satu penghuni menderita penyakit infeksi maka akan mempermudah penularan kepada anggota keluarga lain. d.Fasilitas-fasilitas di dalam rumah sehat Rumah yang sehat harus memiliki fasilitas seperti penyediaan air bersih yang cukup, pembuangan tinja, pembuangan sampah, pembuangan air limbah, fasilitas dapur, ruang berkumpul keluarga dan gudang. 2.5.4 Pembuangan Air Limbah Air limbah adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri dan pada umumnya mengandung bahan atau zat yang membahayakan. Sesuai dengan zat yang terkandung di dalam air limbah, maka limbah yang tidak diolah

terlebih dahulu akan menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup antara lain limbah sebagai media penyebaran berbagai penyakit terutama kolera, diare, dan typus, media berkembangbiaknya mikroorganisme patogen, tempat berkembangbiaknya nyamuk, menimbulkan bau yang tidak enak serta pemandangan yang tidak sedap, sebagai sumber pencemaran air permukaan tanah dan lingkungan hidup lainnya, mengurangi produktivitas manusia, karena bekerja tidak nyaman (Notoatmodjo, 2003). Usaha untuk mencegah atau mengurangi akibat buruk tersebut diperlukan kondisi, persyaratan dan upaya sehingga air limbah tersebut tidak

mengkontaminasi sumber air minum, tidak mencemari permukaan tanah, tidak mencemari air mandi, air sungai, tidak dihinggapi serangga, tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit dan vektor, tidak terbuka kena udara luar sehingga baunya tidak mengganggu. 2.6 Sanitasi Makanan Makanan adalah kebutuhan pokok manusia yang dibutuhkan setiap saat dan memerlukan pengolahan yang baik dan benar agar bermanfaat bagi tubuh. Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu kesehatan mulai dari sebelum makanan di prosuksi selama dalam proses pengolahan, penyimpanan pengangkutan sampai pada saat dimana makanan dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsi. Sanitasi makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit, diantaranya: a. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki b. Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan selanjutnya

c. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari pengaruh enzim, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan. d.Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang dihantarkan oleh makanan. kebersihan hendaklah sentiasa terjaga mulai dari pemilihan, penyediaan, penyimpanan dan makanan. Prinsip kebersihan yang harus dilakukan oleh setiap individu antara lain a. Peralatan yang dipakai harus dicuci sebelum dan sesudah proses pengolahan makanan. b. Mencuci tangan sebelum dan sesudah mengolah bahan makanan c. Makanan yang dihidangkan harus ditutup d. Gunakan sendok atau garpu untuk mengambil makanan e. Simpan makanan dalam tempat yang bersih, kedap udara, dan kering f. Bersihkan semua bahan makanan segar seperti ikan, sayur, dan buah sebelum disimpan 2.6 Kondisi Sosial Ekonomi Kemiskinan didefinisikan sebagai suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Kemiskinan bukan semata-mata kekurangan dalam ukuran ekonomi, tapi juga melibatkan kekurangan dalam ukuran kebudayaan dan kejiwaan (Suburratno, 2004). Kemiskinan bertanggung jawab atas penyakit yang ditemukan pada seseorang. Hal ini karena kemiskinan mengurangi kapasitas orang tersebut untuk mendukung perawatan kesehatan yang memadai, cenderung memiliki higiene yang kurang, miskin diet, miskin pendidikan. Sehingga orang yang miskin memiliki angka kematian dan kesakitan yang lebih tinggi untuk hampir semua penyakit (Behrman 1999) Di Indonesia, garis kemiskinan ditetapkan berdasarkan jumlah kalori. BPS sejak 1984 menetapkan kriteria dan garis kemiskinan diukur

dari konsumsi kalori perkapita perhari, yaitu 2100 kalori. Tahun 2010 menurut BPS, penetapan perhitungan garis kemiskinan dalam masyarakat adalah masyarakat yang berpenghasilan dibawah Rp7.057 per orang per hari. Penetapan angka Rp7.057 per orang per hari tersebut berasal dari perhitungan garis kemiskinan yang mencakup kebutuhan makanan dan minuman sebesar 2.100 kalori per orang per hari dan kebutuhan non makanan dan minuman yang jika ditotal lebih kurang mencapai Rp7.000 per hari per orang. Kemudian ukuran world Bank yang menetapkan standar garis kemiskinan berdasarkan pendapatan perkapita. Penduduk yang pendapatan perkapitanya kurang dari sepertiga rata-rata pendapatan perkapita nasional, maka termasuk dalam kategori miskin. Dalam konteks tersebut, maka ukuran World Bank adalah USD $2 per orang per hari. World Bank mendefinisikan kemiskinan dalam Kemiskinan absolut sebagai hidup dengan pendapatan dibawah USD $1 per orang per hari dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah USD $2 per orang per hari. Apabila standar garis kemiskinan per hari per yang digunakan sesuai adalah dengan

standar world bank yaitu USD $2

kapita,

tujuan Millenium Development Goals (MDGs). Maka diperkirakan angka kemiskinan Indonesia akan meningkat lebih banyak melebihi 50 % atau lebih 120 juta penduduk Indonesia.

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor risiko terjadinya diare dapat disebabkan dua faktor, yaitu faktor yang melibatkan manusia sebagai host, dalam hal ini adalah perilaku, serta faktor lingkungan. Sehingga di dalam penelitian ini, variabel-variabel yang akan diteliti yaitu mengenai perilaku manusia dan juga keadaan lingkungan di rumah tempat tinggalnya. Serta pengetahuan mengenai diare pun mempengaruhi angka kejadian diare dan juga penanganan diare lebih lanjut.Sehingga didapatkan bagan kerangka konsep penelitian ini sebagai berikut :
Sanitasi lingkungan Sumber air Pembuangan kotoran atau tinja Keadan perumahan Pembuangan air limbah

Sanitasi makanan (variabel bebas) Cuci tangan Penggunaan peralatan makanan Cara menyimpan makanan Pengolahan makanan Faktor sosial ekonomi Tingkat pendidikan kepala keluarga Kondisi sosial ekonomi

Variabel tergantung

DIARE

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

BAB IV METODELOGI PENELITIAN

4.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Singaraja, dari September 2012. 4.2 Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. 4.3 Populasi dan Sampel Populasi penelitian ini adalah semua kepala keluarga (KK) yang terdaftar di kelian desa dan berdomisili di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Singaraja. 4.3.1 Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah kepala keluarga yang merupakan bagian dari populasi yang telah dipilih secara random. Dengan persyaratan sebagai berikut : 1. Kriteria Inklusi : Kepala keluarga di Desa Pancasari yang dipilih secara random 2. Kriteria Eksklusi : a. Kepala keluarga yang menolak berpartisipasi b. Kepala keluarga beserta anggota keluarganya yang sempat tinggal di daerah lain dan menderita diare 4.3.2 Besar sampel Besar sampel dalam penelitian ini dihitung berdasarkan rumus berikut:
n 1 Z 2 ( pq) x 1 f d2

1 1,96 2 (0,088 x0,912 ) n x 1 10 % 0,12

1 3,8416 x0,080 x 1 0,1 0,01

n : 1,11 x 30,7328 n : 34.113 ~ 34

Keterangan : n p q d : besar sampel : besarnya kesalahan tipe I 0.05 (z 1.96) : prevalensi di populasi 8,8% = 0,08 : (1- p) 0,92 : tingkat ketepatan absolut yang dikehendaki (ditetapkan oleh

peneliti) 0.1 f : 10 % (perkiraan drop out)

Dari hasil perhitungan diatas, besar sampel minimal yang diperlukan sebesar 62 sampel. Karena jumlah populasi terbatas (kurang dari 10.000) maka jumlah sampel yang didapat dari perhitungan tersebut dikoreksi dengan menggunakan rumus :

nK

n 1

n N 34 nK 34 1 6572 34 nK 1 0,051
nK = 32,35~ 32 Keterangan : nK n N : besar sampel dengan koreksi : 34 (besar sampel sebelum dikoreksi) : besar populasi sampel penelitian

Dari hasil perhitungan didapatkan jumlah sampel yang diperlukan adalah 32 sampel. 4.3.3 Cara pengambilan sampel Sampel dipilih dengan metode Multistage systematic random sampling. Dari 6 desa di wilayah kerja Puskesmas Sukasada II,dipilih satu desa secara acak menggunakan dadu dan diperoleh desa pancasari. Dari data kepala keluarga yang didapatkan dari desa tersebut diurut kemudian dipilih secaara acak sehingga memenuhi sampel 4.4 Responden Sampel yang terpilih,yaitu kepala keluarga yang berdomisili di Desa Pancasari selanjutnya ditetapkan sebagai responden untuk memperoleh informasi tentang perilaku yang menjadi faktor risiko terjadinya diare 4.5 Variabel Penelitian 1. Sanitasi Lingkungan 2. Sanitasi Makanan 3. Faktor ekonomi dan sosial 4.6 Definisi Operasional Variabel 1. Tingkat higiene sanitasi lingkungan adalah jumlah skor dari praktek responden dan sampel tentang higiene sanitasi lingkungan dan hasil observasi sesaat yang meliputi kebersihan pribadi dan lingkungan sekitar rumah responden yang diukur dari ketersediaan air bersih, ketersediaan jamban, jenis lantai rumah serta kebersihan peralatan makan. 2. Sanitasi makanan adalah nilai dari kegiatan mencuci tangan, penggunaan peralatan makanan, cara menyimpan makanan dan pengolahan makanan. Yang dimaksud mencuci tangan adalah mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih dan sabun. Penggunaan peralatan makanan adalah menggunakan peralatan makanan baik untuk makan dan memasak yang telah dicuci dengan air bersih dan sabun. Cara menyimpan makanan mengolah makanan dengan baik tempat yang bersih, kedap udara, dan

kering. Sedangkan, pengolahan makanan adalah makanan yang dimakan dimasak hingga matang dan sebelum memasak apakah makanan dicuci dengan air bersih serta menyajikan dengan baik dan apabila makanan tersebut disajikan dalam jangka waktu yang lama, makanan tersebut dihangatkan kembali. 3. Faktor sosial ekonomi adalah kondisi sosial ekonomi keluarga responden yang dinilai dari tingkat pendidikan Kepala Keluarga, tingkat pendapatan per kapita, tingkat pengetahuan Kepala Keluarga tentang diare. Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal yang terakhir diikuti. Tingkat pendapatan per kapita Adalah jumlah pendapatan tetap dan sampingan dari kepala keluarga, ibu, dan anggota keluarga lain dalam 1 bulan dibagi jumlah seluruh anggota keluarga yang dinyatakan dalam rupiah. Tingkat Pengetahuan dari kepala keluarga yang dinilai dari kuisioner. 4.7 Instrumen/Alat pengumpulan Data Instrumen yang digunakan dalam penelitian menggunakan kuisioner dalam bentuk wawancara terstruktur untuk memperoleh data kuantitatif 4.8 Cara Pengumpulan Data Data diperoleh dengan cara melakukan wawancara kepada responden, dalam hal ini adalah kepala keluarga yang dapat diwakili oleh istrinya apabila KK berhalangan. Apabila sampel tetap tidak dapat dihubungi, maka sampel diganti dengan nomer urut dibawahnya yang diperoleh dari daftar nama KK. Wawancara dilakukan di rumah kediaman KK dengan tidak adanya pihak ketiga agar tidak mempengaruhi jawaban KK. 4.9 Penyajian dan Analisa Data Data-data yang diperoleh dari kuesioner akan dianalisis dengan menggunakan bantuan program SPSS 16 dan disajikan dalam bentuk tabel disertai penjelasan naratif. 4.10 Seminar

Seminar dilakukan pada akhir penelitian untuk mendapatkan masukan dan perbaikan untuk kesempurnaan hasil penelitian.