Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu Negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia. Sebagai Negara berkembang, salah satu masalah kependudukan yang ada di Indonesia adalah masih tingginya pertumbuhan penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan semakin besar usaha yang dilakukan mempertahankan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu Pemerintah terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhan dengan Program Keluarga Berencana. Gerakan KB Nasional adalah gerakan masyarakat yang menghimpun dan mengajak segenap potensi masyarakat untuk aktif dalam melembagakan dan membudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera(NKKBS) dalam rangka meningkatkan mutu dan sumber daya manusia. Tujuan gerakan KB Nasional adalah mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya keluarga kecil bahagia sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk Indonesia. Disamping itu Gerakan KB Nasional masuk kedalam deklarasi Mellinium Development Goals (MDGs) yang harus mencapai target akhir ditahun 2015. 1.1 Rumusan Masalah Untuk mengkaji dan mengulas tentang tingginya kelahiran bayi (baby booming) yang ada di Indonesia, maka diperlukan sub-pokok bahasan yang saling berhubungan, sehingga penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut: 1. Sejarah MDGs 2. Tujuan MDGs di Indonesia 3. Hubungan MDGs dengan keluarga berencana 4. Demografi di Indonesia 5. Program Keluarga Berencana 6. Gambaran demografi dan dampaknya 1.3 Tujuan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas akhir Small Group Discussion tentang program pembahasan skenario Zero Population Growth. Dengan topic mingguan Demografi dan KB.
1

1.4 Metode Penulisan Makalah Penulis memakai metode studi literatur dan kepustakaan dalam penulisan makalah ini. Referensi makalah ini bersumber hanya dari buku.

1.5 Sistematika Penulisan Makalah Makalah ini disusun menjadi tiga bab, yaitu bab pendahuluan, bab pembahasan, dan bab penutup. Adapun bab pendahuluan terbagi atas : latar belakang, rumusan makalah, tujuan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Sedangkan bab pembahasan dibagi berdasarkan sub-bab yang berkaitan dengan isi makalah. Terakhir, bab penutup terdiri atas kesimpulan dan saran.

BAB II PEMBAHASAN
MODUL IV (KB dan KEPENDUDUKAN) SKENARIO- 1 ZERO POPULATION GROWTH Puncak dari Millenium Development Goals (MDGs) adalah upaya untuk mengedepankan pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan umat manusia, baik untuk generasi saat ini maupun generasi mendatang dengan terwujudnya 8 arah pembangunan yang disepakati secara global. Berdasarkan teori Malthus maka dibutuhkan cara pengendalian laju cepatnyapeningkatan penduduk untuk mencegah terjadinya Baby Booming, khususnya di Indonesia yang dimulai sejak tahun 1957 dengan berbagai pasang surut perkembangannya hingga sekarang. Program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia seakan gagal adanya ,seiring program Persalinan (jampersal) gratis yang diluncurkan pemerintah dalam menerapkan MDGs, dimana setiap persalinan anak keberapapun itu akan ditanggung Negara yang menyebabkan masyarakat kurang peduli terhadap KB. Dibutuhkan koordinasi antar elemen masyarakat , organisasi dan pemerintah untuk menerapkan MDGs seiring dengan terlaksananya program KB nasional. Hasil survey demografi dan Keseehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 , menunjukkan indikasi kuat bahwa ledakan kelahiran bayi sangat mungkin terjadi lagi di Indonesia. Menurut hasil survey itu, selama 2007 peserta Keluarga Berencana (KB) hanya meningkat satu persen dari 60,3 persen menjadi 61,4 persen dan tingkat fertilitas total dalam lima tahun terakhir terhenti, hanya 2,6 anak per perempuan usia subur. Indonesia akan bisa mencapai populasi stabil ketika penduduk tumbuh seimbang atau tidak tumbuh bila tingkat fertilitas total bisa mencapai 2,1 anak per perempuan, rasio reproduksi atau rata-rata jumlah anak perempuan perkeluarga 1 orang dan peserta program KB mencapai 70 persen. 2.1 Sejarah Millenium Development Goals (MDGs) Millenium Development Goals (MDGs) atau Tujuan PembangunanMillennium adalah sebuah paradigma pembangunan yang berpihak pada pemenuhan hak-hak dasar manusia dan akan menjadi landasan pembangunan di abad millennium. Paradigma pembangunan
3

millennium baru ini merupakan kesepakatan 189 negara-negara anggota Perserikatan BangsaBangsa (PBB) di New York pada September 2000 pada saat Konverensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium deklarasi millennium tersebut di antaranya ditanda tangani bersama oleh 147 kepala pemerintahan yang ikut menghadiri KTT tersebut termasuk Indonesia. Semua negara anggota diharuskan mengadopsi tujuan MDGs ke dalam rencana pembangunan nasional. Negara-negara anggota yang relative tertinggal dalam pemenuhan hak-hak dasar manusia didorong untuk mempercepat pencapaiannya,sedang negara-negara yang telah mengalami kemajuan dalam pembangunan manusia berkewajiban untuk membantu negaranegera yang sedang berkembang dan tertinggal.

2.2 Tujuan Pembangunan Millenium Indonesia Sebagai penandatangan Deklarasi Milennium, Indonesia berkewajiban untuk merealisasikan tujuan MDGs seoptimal mungkin, dan mengintergrasikannya dalam rencana pembangunan nasional di seluruh nusantara mulai dari tingkat provinsi bahkan hingga pedesaan. Arah pembangunan MDGs dikemas menjadi satu paket yang dipilah menjadi 8 tujuan yang satu sama lain saling mempengaruhi dan bermuara pada percepatan peningkatan kualitas manusia yang lebih tinggi. Ke 8 tujuan tersebut adalah: MDGs 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan. Sebagaimana diukur oleh indikator USD 1,00 per kapita per hari. Prioritas kedepan untuk menurunkan kemiskinan dan kelaparan adalah dengan memperluas kesempatan kerja, meningkatkan infrastruktur pendukung, dan memperkuat sektor pertanian. Perhatian khusus yang perlu diberikan adalah pada: (i) (ii) perluasan fasilitas kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). pemberdayaan masyarakat miskin dengan meningkatkan akses dan penggunaan sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraannya. (iii) (iv) peningkatan akses penduduk miskin terhadap pelayanan sosial dan (iv) perbaikan penyediaan proteksi sosial bagi kelompok termiskin di antara yang miskin. MDGs 2: Mencapai pendidikan Dasar Untuk Semua. Upaya Indonesia untuk mencapai target MDGs di sektor pendidikan dasar dan melek huruf sudah menuju pada pencapaian target 2015 (on-track). Bahkan Indonesia menetapkan pendidikan dasar melebihi target MDGs dengan menambahkan sekolah menengah pertama sebagai sasaran pendidikan dasar universal.

Tantangan utama dalam percepatan pencapaian sasaran MDGs pendidikan adalah meningkatkan pemerataan akses secara adil bagi semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas di semua daerah. Berbagai kebijakan dan program pemerintah untuk menjawab tantangan tersebut adalah berupa: (i) perluasan akses yang merata pada pendidikan dasar khususnya bagi masyarakat miskin (ii) (iii) peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan penguatan tatakelola dan akuntabilitas pelayanan pendidikan. Disamping itu kebijakan alokasi dana pemerintah bagi sektor pendidikan minimal sebesar 20 persen dari jumlah anggaran nasional akan diteruskan untuk mengakselerasi pencapaian pendidikan dasar universal pada tahun 2015. MDGs 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Berbagai kemajuan telah dicapai dalam upaya meningkatkan kesetaraan gender di semua jenjang dan jenis pendidikan. Prioritas ke depan dalam mewujudkan kesetaraan gender meliputi : (1) peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan (2) perlindungan perempuan terhadap berbagai tindak kekerasan dan (3) peningkatan kapasitas kelembagaan PUG dan pemberdayaan perempuan. MDGs 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Target untuk 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun. MDGs 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu Ke depan, upaya peningkatan kesehatan ibu diprioritaskan pada perluasan pelayanan kesehatan berkualitas, pelayanan obstetrik yang komprehensif, peningkatan pelayanan keluarga berencana dan penyebarluasan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat. MDGs 6: Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit Menular lainnya Upaya untuk memerangi HIV/AIDS diperlukannya sosialisasi, edukasi kepada masyarakat bahwa penggunaaan narkoba dan pekerja seks sangat membahayakan. Pendekatan untuk mengendalikan penyebaran penyakit Tuberculosis ini terutama diarahkan pada upaya pencegahan dan pengarusutamaan ke dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. Selain itu, pengendalian penyakit harus melibatkan semua pemangku kepentingan dan memperkuat kegiatan promosi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran

masyarakat. MDGs 7: Memastikan Kelestarian Lingkungan Hidup i. Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap Negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya lingkungan. ii. Pada tahun 2015 mendatang diharapkan mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat. iii. Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai pengembangan yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh MDGs 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan i. Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi. Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik, pembangungan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional. ii. Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara kurang berkembang, dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauan-kepulauan kecil. Ini termasuk pembebasan-tarif dan -kuota untuk ekspor mereka; meningkatkan pembebasan hutang untuk negara miskin yang berhutang besar; pembatalan hutang bilateral resmi; dan menambah bantuan pembangunan resmi untuk negara yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan. iii. Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negaranegara berkembang. iv. Menghadapi secara komprehensif dengan negara berkembang dengan masalah hutang melalui pertimbangan nasional dan internasional untuk membuat hutang lebih dapat ditanggung dalam jangka panjang. v. vi. Mengembangkan usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda. Dalam kerja sama dengan pihak "pharmaceutical", menyediakan akses obat penting yang terjangkau dalam negara berkembang. vii. Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

2.3 Hubungan MDGs dengan Keluarga Berencana Paling tidak ada 3 (tiga) variabel penentu tingkat kelahiran, yaitu: 1. Demografi, 2. Sosial Ekonomi, dan 3. Variabel pendukung lain, misal budaya, agama, dan lain-lain. Poin nomor 2 merupakan poin yang paling berhubungan dengan sasaran MDGs. Bayangkan jika kondisi sosial ekonomi masyarakat membaik namun tanpa diiringi kesadaran dalam mengatur jumlah kelahiran, maka MDGs hanya akan menjadi proyek sia-sia belaka. Karena kuantitas penduduk mempunyai hubungan linier dengan kuantitas masalah hidup. Semakin besar jumlah penduduk, maka akan semakin besar pula masalah kehidupan yang akan dihadapi. Atau, misalkan dengan tingkat kesejahteraan yang sudah baik dan kesadaran mengatur kelahiran juga baik, namun ternyata tidak ada fasilitas bagi penduduk untuk mengatur kelahirannya maka juga akan menghasilkan peningkatan pertumbuhan penduduk yang dihasilkan dari kelahiran anak yang sebenarnya sudah tidak diinginkan. Sehingga siklus permasalahan itu akan terus berputar di dunia ini tanpa bisa berhenti pada titik : CASE CLOSED. Mencermati keadaan tersebut, sangat penting kiranya jika usaha keras pencapaian target MDGs dibarengi juga dengan usaha keras dalam mengendalikan angka kelahiran, sebagai contoh misalnya melalui intensifikasi Program Keluarga Berencana, termasuk di dalamnya segala infrastruktur pendukungnya. Untuk kondisi di Indonesia, upaya keras tersebut lebih-lebih sangat perlu dilaksanakan mengingat Program KB di Indonesia akhirakhir ini tidak se-intensif pada saat era Orde Baru.

2.4 Demografi di Indonesia Demografi dapat diartkan sebagai ilmu yang mempelajari kelompok manusia atau penduduk, oleh karena itu disebut juga itu kependudukan. Pemahaman masalah kependudukan diperlukan pada setiap sektor kegiatan ekonomi, misalnya; bidang pertanian, bidang kesehatan dan terutama bidang pendidikan. Bidang pendidikan menjadikan penduduk sebagai objek pelayanan, yang sepanjang waktu selalu mengalami perubahan, baik mengenai jumlah, komposisi dan penyebarannya. Untuk itu perlu diketahui aspek dinamis kependudukan, terdapat hubungan yang erat sekali antara demografi dengan perencanaan pendidikan. Di Indonesia masalah kependudukan yang harus mendapat perhatian adalah: (1) jumlah penduduk yang besar dan tingkat pertumbuhan yang tinggi, (2)penyebaran dan kepadatan penduduk yang tidak merata dan (3) kualitas penduduk yang perlu ditingkatkan. Pertumbuhan penduduk dipengaruhi
7

oleh

faktor;

kematian,

kelahiran

dan

perpindahan. Untuk mengatasi masalah kependudukan dilakukan dengan adanya program keluarga berencana, yang pada prinsipnya mengupayakan keluarga kecil yang sejahtera. Program pendidikan pun tidak kalah penting dalam upaya penanggulangan masalah kependudukan. Karena makin tinggi tingkat pendidikan akan dapat menunda perkawinan, dan kesempatan untuk melahirkan menjadi makin berkurang. Faktor utama dalam pendidikan adalah kemampuan dalam membuat perencanaan, termasuk dalam merencanakan keluarga yang sejahtera. Jadi sasarannya dalam program keluarga berencana adalah bagi mereka yang berpendidikan rendah yang masih beranggapan bahwa masalah kelahiran merupakan masalah takdir yang hanya diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. Tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi akan menjadi beban setiap usaha pembangunan di segala bidang yang meliputi pendidikan, kesehatan, pangan, pertanian, perhubungan dan pemukiman. Jumlah penduduk yang besar disertai tingkat pertumbuhan yang tinggi menjadi salah satu penghambat dalam perencanan pembangunan pendidikan, karena: - sektor-sektor lain di luar sektor pendidikan juga akan menyerap anggaran, berarti mempengaruhi penyediaan dana untuk pendidikan - sebagian besar penghasilan masyarakat

terserap untuk membiayai penduduk muda sehingga mengurangi kemampuan masyarakat membantu pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan. Untuk itulah masalah kependudukan harus mendapat perhatian dari pemerintah dan seluruh masyarakat secaraa bersama-sama. 2.5 Program Keluarga Berencana 2.5.1 Pengertian Keluarga Berencana Program Keluarga Berencana menurut UU No 10 tahun 1992 (tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Program KB adalah bagian yang terpadu (integral) dalam program pembangunan nasional dan bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual dan sosial budaya penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi nasional.

2.5.2 Tujuan Keluarga Berencana Tujuan umum untuk lima tahun kedepan mewujudkan visi dan misi program KB yaitu membangun kembali dan melestarikan pondasi yang kokoh bagi pelaksana program KB di masa mendatang untuk mencapai keluarga berkualitas tahun 2015. Sedangkan tujuan program KB secara filosofis adalah : 1. Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pengendalian pertumbuhan penduduk Indonesia. 2. Terciptanya penduduk yang berkualitas, sumber daya manusia yang bermutu dan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi: 1. Keluarga dengan anak ideal 2. Keluarga sehat 3. Keluarga berpendidikan 4. Keluarga sejahtera 5. Keluarga berketahanan 6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya 7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)

2.5.3 Sasaran Program Keluarga Berencana Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi: 1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun. 2. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan. 3. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6%. 4. Meningkatnya pesertaKB laki-laki menjadi 4,5persen. 5. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien. 6. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun. 7. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak. 8. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang aktif dalam usaha ekonomi produktif.

9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan Program KB Nasional. 2.5.4 Ruang Lingkup Program KB Ruang lingkup program KB meliputi : 1.Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) 2.Konseling 3.Pelayanan Kontrasepsi 4.Pelayanan Infertilitas 5.Pendidikan sex (sex education) 6.Konsultasi pra perkawinan dan konsultasi perkawinan 7.Konsultasi genetik 8.Tes keganasan 9.Adopsi

2.5.5 Strategi Pendekatan dan Cara Operasional Program Pelayanan KB 1.Pendekatan kemasyarakatan (community approach). Diarahkan untuk meningkatkan dan menggalakkan peran serta masyarakat (kepedulian) yang dibina dan dikembangkan secara berkelanjutan. 2.Pendekatan koordinasi aktif (active coordinative approach). Mengkoordinasikan berbagai pelaksanaan program KB dan pembangunan keluarga sejahtera sehingga dapat saling menunjang dan mempunyai kekuatan yang sinergik dalam mencapai tujuan dengan menerapkan kemitraan sejajar. 3.Pendekatan integrative (integrative approach). Memadukan pelaksanaan kegiatan pembangunan agar dapat mendorong dan menggerakkan potensi yang dimiliki oleh semua masyarakat sehingga dapat menguntungkan dan memberi manfaat pada semua pihak. 4.Pendekatan kualitas (quality approach). Meningkatkan kualitas pelayanan baik dari segi pemberi pelayanan (provider) dan penerima pelayanan (klien) sesuai dengan situasi dan kondisi. 5.Pendekatan kemandirian (self rellant approach). Memberikan peluang kepada sektor pembangunan lainnya dan masyarakat yang telah mampu untuk segera mengambil alih peran dan tanggung jawab dalam pelaksanaan program KB nasional.

10

6.Pendekatan tiga dimensi ( three dimension approach). Strategi tiga dimensi program KB sebagai pendekatan program KB nasional, dimana program tersebut atas dasar KIE.

KIE berasal dari kata komunikasi, informasi dan edukasi. Komunikasi kesehatan adalah usaha sistematis untuk mempengaruhi perilaku positif dimasyarakat, dengan menggunakan prinsip dan metode komunikasi baik menggunakan komunikasi pribadi maupun komunikasi massa. Informasi adalah keterangan, gagasan maupun kenyataan yang perlu diketahui masyarakat (pesan yang disampaikan). Edukasi adalah proses perubahan perilaku ke arah yang positif. Pendidikan kesehatanmerupakan kompetensi yang dituntut dari tenaga kesehatan karena merupakan salah satu peranan yang harus dilaksanakan dalam setiap memberikan pelayanan kesehatan. Tujuan dilaksanakannya Program KIE, yaitu :
1.

Meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek KB sehingga tercapai penambahan peserta baru

2. 3.

Membina kelestarian peserta KB Meletakkan dasar bagi mekanisme sosio-kultural yang dapat menjamin

berlangsungnya proses penerimaan


4.

Mendorong terjadinya proses perubahan perilaku ke arah yang positif, peningkatan pengetahuan, sikap dan praktik masyarakat (klien) secara wajar sehingga masyarakat melaksanakannya secara mantap sebagai perilaku yang sehat dan bertanggung jawab

11

BAB III PENUTUP


KESIMPULAN Negara Indonesia adalah Negara yang turut menandatangani MDGs untuk pencapaian hasil kerja yang telah disepakati pada deklarasi era ini. Demi kemajuan dalam pembangunan suatu Negara yang masih berkembang agar masyarakat hidup aman sehat dan sejahtera yang di berlakukan BKKBN dengan misi norma keluarga kecil sehat sejahtera. Jika keluarga berencana berjalan baik maka hasilnya sungguh sangat memuaskan karena angka kematian ibu melahirkan rendah, angka kelaparan rendah dan angka pengangguran rendah.

SARAN Jika masyarakat ingin hidup sehat sejahtera maka masyarakat harus mau untuk menjalankan keluarga berencana untuk menjarangkan jarak kelahiran demi kesehatan ibu dan buah hati.

12

Anda mungkin juga menyukai