Anda di halaman 1dari 32

PELUANG INVESTASI PROVINSI BANTEN

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL 2011

PROVINSI BANTEN KONDISI UMUM LETAK DAN LUAS Banten merupakan provinsi yang berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 secara administratif, terbagi atas 4 Kabupaten dan 2 Kota yaitu : Kabupaten Serang, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Cilegon, dengan luas 8.651,20 Km2. Letak geografis Provinsi Banten pada batas Astronomi 1051'11"-1067'12" BT dan 57'50"-71'1" LS. Provinsi Banten terdiri atas 4 kabupaten dan 4 kota. Berikut adalah daftar kabupaten dan kota di Banten, beserta ibukotanya. Tabel . Kabupaten/Kota di Provinsi Banten
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Kabupaten/Kota Kabupaten Tangerang Kabupaten Serang Kabupaten Lebak Kabupaten Pandeglang Kota Tangerang Kota Serang Kota Cilegon Kota Tangerang Selatan Ibu kota Tigaraksa Ciruas Rangkasbitung Pandeglang Ciputat

Gambar . Peta Administrasi Provinsi Banten

KONDISI FISIK A. Topografi Topografi wilayah Provinsi Banten berkisar pada ketinggian 0-1.000 m dpl. Secara umum kondisi topografi wilayah Provinsi Banten merupakan dataran rendah yang berkisar antara 0-200 m dpl yang terletak di daerah Kota Cilegon, K o t a Ta n g e r a n g , Kabupaten Pandeglang, dan sebagian besar Kabupaten Serang. Adapun daerah Lebak Tengah dan sebagian kecil Kabupaten Pandeglang memiliki ketinggian berkisar 201-2.000 m dpl dan daerah Lebak Timur memiliki

ketinggian 501-2.000 m dpl yang terdapat di Puncak Gunung Sanggabuana dan Gunung Halimun. Kondisi topografi suatu wilayah berkaitan dengan bentuk raut permukaan wilayah atau morfologi. Morfologi wilayah Banten secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu morfologi dataran, perbukitan landai-sedang (bergelombang rendah-sedang) dan perbukitan terjal. Morfologi Dataran Rendah umumnya terdapat di daerah bagian utara dan sebagian selatan. Wilayah dataran merupakan wilayah yang mempunyai ketinggian kurang dari 50 meter dpl (di atas permukaan laut) sampai wilayah pantai yang mempunyai ketinggian 0-1 m dpl. Morfologi Perbukitan Bergelombang Rendah-Sedang sebagian besar menempati daerah bagian tengah wilayah studi. Wilayah perbukitan terletak pada wilayah yang mempunyai ketinggian minimum 50 m dpl. Di bagian utara Kota Cilegon terdapat wilayah puncak Gunung Gede yang memiliki ketingian maksimum 553 m dpl, sedangkan perbukitan di Kabupaten Serang terdapat wilayah selatan Kecamatan Mancak dan Waringin Kurung dan di Kabupaten Pandeglang wilayah perbukitan berada di selatan. Di Kabupaten Lebak terdapat perbukitan di timur berbatasan dengan Bogor dan Sukabumi dengan karakteristik litologi ditempati oleh satuan litologi sedimen tua yang terintrusi oleh batuan beku dalam seperti batuan beku granit, granodiorit, diorit dan andesit. Biasanya pada daerah sekitar terobosaan batuan beku tersebut terjadi suatu proses remineralisasi yang mengandung nilai sangat ekonomis seperti cebakan bijih timah dan tembaga.

B. Iklim Potensi sumber daya air wilayah Provinsi Banten banyak ditemui di Kabupaten Lebak, sebab sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan hutan lindung dan hutan produksi terbatas. Berdasarkan pembagian Daerah Aliran Sungai (DAS), Provinsi Banten dibagi menjadi enam DAS, yaitu :

DAS Ujung Kulon, meliputi

wilayah bagian Barat Kabupaten Pandeglang (Taman Naional Ujung Kulon dan sekitarnya); DAS Cibaliung-Cibareno, meliputi bagian Selatan wilayah Kabupaten Pandeglang dan bagian selatan wilayah Kabupaten Lebak; DAS Ciujung-Cidurian, meliputi bagian Barat wilayah Kabupaten Pandeglang; DAS Rawadano, meliputi sebagian besar wilayah Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang; DAS Teluklada, meliputi bagian Barat wilayah Kabupaten Serang dan Kota Cilegon; DAS Cisadane-Ciliwung, meliputi bagian Timur wilayah Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang.

Tata air permukaan untuk wilayah Provinsi Banten sangat tergantung pada sumber daya air khususnya sumber daya air bawah tanah. Terdapat 5 satuan Cekungan Air Bawah Tanah (CABT) yang telah di identifikasi, yang bersifat lintas kabupaten maupun kota, antara lain CABT Labuan, CABT Rawadano dan CABT Malingping dan lintas propinsi, meliputi CABT SerangTangerang dan CABT Jakarta. Potensi dari masing-masing satuan cekungan air bawah tanah ini, dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Satuan Cekungan Air Bawah Tanah (CABT) Labuan

CABT Labuan ini mencakup wilayah Kabupaten Pandeglang (93%) dan

Kabupaten Lebak (7%) dengan luas lebih kurang 797 km2. Batas cekungan air bawah tanah di bagian barat adalah selat Sunda, bagian utara dan timur adalah batas pemisah air tanah dan di bagian selatan adalah batas tanpa aliran karena perbedaan sifat fisik batuan. Jumlah imbuhan air bawah tanah bebas (air bawah tanah pada lapisan akuifer tak tertekan/akuifer dangkal) yang berasal dari air hujan terhitung sekitar 515 juta m3/tahun. Sedang pada tipe air bawah tanah pada akuifer tertekan/akuifer dalam, terbentuk di daerah imbuhannya yang terletak mulai elevasi di atas 75 m dpl sampai daerah puncak Gunung Condong, Gunung Pulosari dan Gunung Karang; 2. Satuan Cekungan Air Bawah Tanah (CABT) Rawadano CABT Rawadano mencakup wilayah Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang, dengan total luas cekungan lebih kurang 375 km2. Batas satuan cekungan satuan air bawah tanah ini di bagian utara, timur dan selatan berupa batas pemisah air bawah tanah yang berimpit dengan batas air permukaan yang melewati Gunung Pasir Pematang Cibatu (420 m), Gunung Ipis (550 m), Gunung Serengean (700 m), Gunung Pule (259 m), Gunung Kupak (350 m), Gunung Karang (1.778 m), Gunung Aseupan (1.174 m) dan Gunung Malang (605 m). Sedang batas di bagian barat adalah Selat Sunda. Berdasarkan perhitungan imbuhan air bawah tanah, menunjukkan intensitas air hujan yang turun dan membentuk air bawah tanah di wilayah satuan cekungan ini sejumlah 180 juta m3/tahun, sebagian diantaranya mengalir dari lereng Gunung Karang menuju Cagar Alam Rawadano sekitar 79 m3/tahun. Sedang air bawah tanah yang berupa mata air pada unit akuifer volkanik purna Danau yang dijumpai di sejumlah 115 lokasi menunjukkan total debit mencapai 2.185 m3/tahun. Sementara itu pada unit akuifer volkanik Danau pada 89 lokasi, mencapai debit 367 m3/tahun. Total debit dari mata air keseluruhan sebesar 2.552 m3/tahun; 3. Satuan Sub Cekungan Air Bawah Tanah (CABT) Serang-Cilegon

Satuan sub cekungan ini merupakan bagian dari CABT Serang-Tangerang, yang secara administratif termasuk dalam wilayah Kota Serang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang, dengan luas wilayah sekitar 1.200 km2. Batas satuan cekungan ini di bagian utara adalah laut Jawa, bagian timur adalah K.Ciujung, bagian selatan merupakan batas tanpa aliran dan bagian barat adalah Selat Sunda. Dari hasil perhitungan neraca air menunjukkan jumlah imbuhan air bawah tanah di wilayah satuan cekungan ini sebesar 518 juta m3/tahun, sedang jumlah aliran air bawah tanah pada tipe lapisan akuifer tertekan sekitar 13 m3/tahun, berasal dari daerah imbuhan yang terletak di sebelah utara dan barat daya yang mempunyai elevasi mulai sekitar 50 m dpl. 4. Satuan Sub Cekungan Air Bawah Tanah (CABT) Tangerang Satuan sub cekungan ini mencakup wilayah Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak dan sebagian Kabupaten Bogor (Provinsi Jawa Barat), dengan total luas sekitar 1.850 km2. Batas sub cekungan ini di sebelah Utara adalah Laut Jawa, bagian timur adalah Kali Cisadane, bagian Selatan yang merupakan kontak dengan lapisan nir akuifer, serta bagian barat adalah Kali Ciujung. Jumlah imbuhan air bawah tanah di seluruh sub CABT Tangerang sekitar 311 juta m3/tahun, sedangkan jumlah aliran air bawah tanah tertekan terhitung sekitar 0,9 juta m3/tahun. Iklim wilayah Banten sangat dipengaruhi oleh Angin Monson (Monson Trade) dan Gelombang La Nina atau El Nino. Saat musim penghujan (Nopember-Maret) cuaca didominasi oleh angin Barat (dari Sumatera, Samudra Hindia sebelah selatan India) yang bergabung dengan angin dari Asia yang melewati Laut Cina Selatan. Agustus), cuaca didominasi oleh angin Timur yang menyebabkan wilayah Banten mengalami kekeringan yang keras terutama di wilayah bagian pantai utara, terlebih lagi bila berlangsung El Nino. Temperatur di daerah pantai dan perbukitan berkisar antara 22 C dan 32 C, sedangkan suhu di pegunungan dengan ketinggian

antara 400-1.350 m dpl mencapai antara 18 C-29 C. Curah hujan tertinggi sebesar 2.712-3.670 mm pada musim penghujan bulan September-Mei mencakup 50% luas wilayah Kabupaten Pandeglang sebelah barat dan curah 335-453 mm pada bulan September-Mei mencakup 50% luas wilayah Kabupaten Serang sebelah Utara, seluruh luas wilayah Kota Cilegon, 50% luas wilayah Kabupaten Tangerang sebelah utara dan seluruh luas wilayah Kota Tangerang. Pada musim kemarau, curah hujan tertinggi sebesar 615-833 mm pada bulan April-Desember mencakup 50% luas wilayah Kabupaten Serang sebelah utara, seluruh luas wilayah Kota Cilegon, 50% luas wilayah Kabupaten Tangerang sebelah utara dan seluruh luas wilayah Kota Tangerang, sedangkan curah hujan terendah pada musim kemarau sebanyak 360-486 mm pada bulan Juni-September mencakup 50% luas wilayah Kabupaten Tangerang sebelah selatan dan 15% luas wilayah Kabupaten Serang sebelah Tenggara. C. Kemiringan Kondisi kemiringan lahan di Provinsi Banten terbagi menjadi tiga kondisi yang ekstrim yaitu: Dataran yang sebagian besar terdapat di daerah Utara Provinsi Banten yang memiliki tingkat kemiringan lahan antara 0-15%, sehingga menjadi lahan yang sangat potensial untuk pengembangan seluruh jenis fungsi kegiatan. Dengan nilai kemiringan ini tidak diperlukan banyak perlakuan khusus terhadap lahan yang akan dibangun untuk proses prakonstruksi. Lahan dengan kemiringan ini biasanya tersebar di sepanjang pesisir Utara Laut Jawa, sebagian wilayah Serang, sebagian Kabupaten

Tangerang bagian utara serta wilayah selatan yaitu di sebagaian pesisir Selatan dari Pandeglang hingga Kabupaten Lebak; Perbukitan landai-sedang (kemiringan < 15% dengan tekstrur bergelombang rendah-sedang) yang sebagian besar dataran landai terdapat di bagian utara meliputi Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang, serta bagian utara Kabupaten Pandeglang; Daerah perbukitan terjal (kemiringan < 25%) terdapat di Kabupaten Lebak, sebagian kecil Kabupaten Pandeglang bagian selatan dan Kabupaten Serang. Perbedaan kondisi alamiah ini turut berpengaruh terhadap timbulnya ketimpangan pembangunan yang semakin tajam, yaitu wilayah sebelah utara memiliki peluang berkembang relatif lebih besar daripada wilayah sebelah Selatan. D. Jenis Tanah Sumber daya tanah wilayah Provinsi Banten secara geografis terbagi dua tipe tanah yaitu: (a) kelompok tipe tanah sisa atau residu dan (b) kelompok tipe tanah hasil angkutan. Secara umum distribusi dari masing-masing tipe tanah ini di wilayah Propinsi Banten, terdapat di Kabupaten Serang, Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Cilegon. Masing-masing tipe tanah yang terdapat di wilayah tersebut antara lain: 1. aluvial pantai dan sungai; 2. latosol; 3. podsolik merah kuning; 4. regosol; 5. andosol; 6. brown forest; 7. glei.

E. Geologi Struktur geologi daerah Banten terdiri dari formasi batuan dengan tingkat ketebalan dari tiap-tiap formasi berkisar antara 200-800 meter dan tebal keseluruhan diperkirakan melebihi 3.500 meter. Formasi Bojongmanik merupakan satuan tertua berusia Miosen akhir, batuannya terdiri dari perselingan antara batu pasir dan lempung pasiran, batu gamping, batu pasir tufaan, konglomerat dan breksi andesit, umurnya diduga Pliosen awal. Berikutnya adalah Formasi Cipacar yang terdiri dari tuf batu apung berselingan dengan lempung tufaan, konglomerat dan napal glaukonitan, umurnya diiperkirakan Pliosen akhir. Di atas formasi ini adalah Formasi Bojong yang terdiri dari napal pasiran, lempung pasiran, batu gamping kokina dan tuf. Banten bagian selatan terdiri atas batuan sedimen, batuan gunung api, batuan terobosan dan Alluvium yang berumur mulai Miosen awal hingga Resen, satuan tertua daerah ini adalah Formasi Bayah yang berumur Eosen. Formasi Bayah terdiri dari tiga anggota yaitu Anggota Konglomerat, Batu Lempung dan Batu Gamping. Selanjutnya adalah Formasi Cicaruruep, Formasi Cijengkol, Formasi Citarate, Formasi Cimapang, Formasi Sareweh, Formasi Badui, Formasi Cimancuri dan Formasi Cikotok. Batuan Gunung Api dapat dikelompokan dalam batuan gunung api tua dan muda yang berumur Plistosen Tua hingga Holosen. Batuan terobosan yang dijumpai bersusunan andesiot sampai bas al. Tuf Cikas ungka berumur Plistosen, Lava Halimun dan batuan gunung api Kuarter. Pada peta lembar Leuwidamar disajikan pula

singkapan batuan metamorf yang diduga berumur Ologo Miosen terdiri dari Sekis, Genes dan Amfibolit yang tersingkap di bagian utara tubuh Granodiorit Cihara. Dorit Kuarsa berumur Miosen tengah hingga akhir, Dasit dan Andesit berumur Miosen akhir serta Basal berumur kuarter. Batuan endapan termuda adalah aluium dan endapan pantai yang berupa Kerikil, pasir, lempung, rombakan batu gamping, koral bercampur pecahan moluska atau kerang kerangan, gosong pantai dan gamping terumbu PENGGUNAAN LAHAN Tabel Penggunaan Lahan di Provinsi Banten
No. 1 2 3 4 5 6 Penggunaan Lahan Sawah Bangunan Tegalan Kebun campuran Rawa dan kolam Lain-lain Jumlah Luas (ha) 197.295 100.451 177.465 408.896 15.094 44.092 943.833

Gambar : Peta Penggunaan Lahan Provinsi Banten

KEPENDUDUKAN DAN TENAGA KERJA


Penduduk Provinsi Banten pada tahun 2010 mencapai 9.028.816 orang atau 4,08% dari total penduduk Indonesia dengan kepadatan penduduk 1001,13 orang/km2. Dari jumlah tersebut, penduduk usia kerja berdasarkan pendidikan dan jenis kelamin disajikan dalam Tabel berikut. Tabel : Angkatan Kerja di Provinsi Banten Menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin Februari 2011
Pendidikan Jumlah SD SMTP SMTA Umum SMTA Kejuruan Diploma I/II/III/Akademi Universitas Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 3.282.051 1.882.630 1.329.996 809.502 591.441 336.542 664.210 312.926 399.231 157.552 90.335 104.019 206.838 162.089 Jumlah 5.164.681 2.139.498 927.983 977.136 556.783 194.354 368.927

Sumber : BPS, Survey Angkatan Kerja Nasional Februari 2011 diolah Pusdatinaker

PEREKONOMIAN DAERAH Kinerja perekonomian Banten pada Triwulan II 2011 sedikit melambat sebesar 6,27% (y-o-y) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai level 6,77% (y-o-y). Melambatnya sektor industri pengolahan sebagai kontributor utama Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Banten pada triwulan laporan diperkirakan menjadi faktor utama melambatnya kinerja perekonomian secara umum. Dari sisi permintaan, komponen investasi dan impor terindikasi meningkat sementara itu ekspor dan belanja pemerintah relatif masih tertahan. Melambatnya kinerja ekspor seiring dengan melambatnya sektor industri pengolahan pada triwulan ini, terutama dari industri kertas dan produk kertas; alas kaki dan tekstil. Sementara itu ekspor beberapa produk utama lainnya seperti pakaian jadi, besi/baja dan furniture masih cenderung meningkat dan diperkirakan mampu menopang kinerja ekspor dari perlambatan yang lebih besar. Melambatnya komponen konsumsi pemerintah didorong oleh masih tertahannya realisasi belanja daerah Pemerintah Provinsi Banten pada akhir triwulan II 2011 yang baru mencapai sekitar 27,45% atau sebesar Rp. 956,85 miliar, sementara realisasi hingga triwulan yang sama tahun sebelumnya dapat mencapai 35,45% dari pagu belanja tahun 2010. Di sisi lain, meningkatnya investasi dan impor yang diperkirakan terutama dari sektor industri pengolahan menjadi komponen-komponen yang dapat menahan perlambatan perekonomian Banten yang lebih dalam. Sementara itu dari sisi sektoral, sebagian sektor mengalami perlambatan namun tetap tumbuh pada level yang tinggi. Perlambatan terjadi pada berbagai sektor antara lain sektor pertanian; pertambangan; industri pengolahan; listrik, gas dan air bersih dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Namun, jika dibandingkan dengan triwulan II 2010, kinerja perekonomian pada triwulan laporan masih jauh lebih baik dan

dapat diindikasikan adanya peningkatan perekonomian pada periode yang sama tahun ini. Tekanan Inflasi Banten pada triwulan II 2011 terus menurun yang didorong oleh membaiknya kondisi pasokan volatile foods dan ditundanya penerapan kebijakan pengaturan konsumsi BBM bersubsidi oleh pemerintah. Inflasi tahunan Banten pada akhir triwulan II 2011 dapat mencapai level terendah sebesar 4,73% (y-o-y) sepanjang semester I 2011. Perkembangan menggembirakan juga tercermin dari tren inflasi Banten secara umum yang terus berada di bawah level inflasi nasional dengan level sebesar 5,54% (yo-y) pada Juni 2011. Berbagai program yang telah dilaksanakan seperti identifikasi permasalahan dan koordinasi penyaluran raskin oleh pemerintah dan BULOG, penerapan program cadangan pangan pemerintah provinsi, diseminasi publik dalam rangka meredam ekspektasi peningkatan harga dan berbagai program/kegiatan lainnya diperkirakan memberikan dampak positif terhadap perbaikan kondisi inflasi Banten. Namun demikian, di masa datang percepatan langkah dan strategi dalam rangka meredam kenaikan harga khususnya akibat gejolak pasokan dan harga yang diatur pemerintah perlu terus

ditingkatkan. Ekspansi kredit/pembiayaan perbankan pada triwulan II 2011 belum diikuti oleh membaiknya kualitas kredit dan proses intermediasi perbankan yang optimal seiring melambatnya kinerja sektor keuangan maupun perekonomian Banten. Kondisi tersebut tercermin dari menurunnya rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) bank umum dari sebesar 73,17% pada triwulan I 2011 menjadi sebesar 72,65% pada triwulan laporan. Sementara itu, resiko kredit bank umum sedikit meningkat meskipun angkanya relatif masih terjaga di bawah ambang batas aman 5%. Sebaliknya kinerja Bank Perkreditan Rakyat dan perbankan syariah yang terus membaik diperkirakan dapat menahan perlambatan kinerja sektor keuangan secara umum. Selain itu, Melambatnya kinerja perbankan juga diindikasikan dari melambatnya penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), meskipun tetap tumbuh pada level yang tinggi. Transaksi pembayaran non tunai secara umum belum menunjukkan peningkatan yang signifikan seiring dengan relatif melambatnya kinerja perekonomian Banten. Penggunaan kliring sebagai sarana dalam penyelesaian transaksi usaha relatif stabil pada triwulan II 2011 walaupun dengan pertumbuhan yang masih cukup tinggi, sementara penggunaan sistem pembayaran non tunai Real Gross Settlement (RTGS) masih cenderung melambat yang memberikan gambaran masih tertahannya pertumbuhan ekonomi Banten pada triwulan laporan. Realisasi pendapatan maupun belanja daerah Pemerintah Provinsi Banten hingga triwulan II 2011 relatif melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi pendapatan daerah Provinsi

Banten pada triwulan II 2011 relatif tinggi mencapai 59,53% namun sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan II 2010 dengan persentase realisasi mencapai 63,18%. Realisasi perolehan pendapatan tertinggi tetap berasal dari komponen Pendapatan Asli Daerah sebesar Rp. 1,36 triliun atau sekitar 65,49% dari target di tahun 2011. Realisasi belanja daerah pun masih cenderung tertahan hingga triwulan II 2011 sebesar Rp. 956,85 miliar atau sekitar 27,45% dari pagunya di tahun 2011. Sementara itu realisasi belanja daerah triwulan II 2010 lebih cepat dengan persentase sebesar 35,45% terhadap pagu belanja tahun 2010. Sedikit melambatnya perekonomian Banten pada triwulan II 2011 diperkirakan belum berpengaruh secara signifikan terhadap kondisi ketenagakerjaan di wilayah ini. Meningkatnya investasi pada triwulan laporan dengan pertumbuhan sekitar 8,26% (y-o-y) dibandingkan triwulan I 2011 sebesar 6,23% (y-o-y) diperkirakan dapat menahan penurunan angka indikator kondisi ketenagakerjaan yaitu Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Banten pada triwulan laporan. Sementara itu dari berbagai indikator diperkirakan tingkat kesejahteraan masyarakat cenderung stabil. Tetap tingginya pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan sebesar 6,27% (y-o-y) yang didukung oleh rendahnya laju inflasi diperkirakan tetap dapat menahan daya beli dan kesejahteraan masyarakat Banten pada level yang masih relatif stabil. Membaiknya performa berbagai komponen PDRB sisi permintaan maupun penawaran pada triwulan mendatang diperkirakan akan mendorong kinerja perekonomian Banten meningkat pada kisaran level 6,56%-6,60% (y-o-y). Kinerja sektor utama perekonomian Banten,

diperkirakan meningkat dengan motor utama tetap berasal dari sektor industri pengolahan yang juga diiringi oleh meningkatnya kinerja sektorsektor pendukung. Hampir seluruh sektor secara umum diperkirakan tumbuh meningkat kecuali sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor pertambangan dan penggalian. Sementara itu k e c e n d e r u n g a n meningkatnya konsumsi, investasi dan belanja pemerintah pada triwulan mendatang diperkirakan menjadi komponenkomponen yang mendukung peningkatan kinerja ekonomi Banten. Sementara itu, peningkatan kinerja ekonomi, meningkatnya potensi daya beli dan dorongan peningkatan konsumsi menjelang perayaan keagamaan diperkirakan berdampak positif terhadap peningkatan tekanan inflasi dengan prakiraan sekitar 4,69%-4,90% (y-o-y) pada triwulan III 2011. Peningkatan inflasi diperkirakan akan bersumber dari sisi fundamental maupun non fundamental. Dari sisi fundamental, tekanan inflasi diperkirakan meningkat seiring dengan potensi meningkatnya kinerja perekonomian yang mendorong percepatan konsumsi swasta yang distimuli oleh masuknya bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri, serta akselerasi pada komponen belanja publik serta potensi peningkatan imported inflation. Sementara itu dari sisi nonfundamental, adanya gejolak sisi supply pada komoditas volatile foods serta peningkatan administered prices seperti dari kenaikan tarif cukai rokok yang mendorong peningkatan harga jual rokok juga menjadi faktor-faktor yang memberikan tekanan inflasi triwulan mendatang. PELUANG INVESTASI DI PROVINSI BANTEN Sebagaimana dilakukan untuk Propinsi lainnya, penetapan investasi unggulan dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut

mempertimbangkan aspek kebijakan pada tingkat pemerintahan pusat dan usulan pemerintah daerah berdasarkan potensi wilayah seperti telah dijelaskan sebelumnya. Selanjutnya dalam rangka menangkap aspirasi daerah dalam menetapkan prioritas investasi unggulan telah disampaikan kuisioner daftar usulan prioritas investasi yang kemudian dibahas dalam FGD tanggal 16 Juni 2011 di Serang. Pada tahapan tersebut menghasilkan daftar judul-judul investasi yang paling mungkin untuk siap ditawarkan kepada investor. Memperhatikan berbagai pendapat dan usulan pada FGD, informasi yang diperoleh dalam kunjungan ke dinas/instansi terkait serta konsultasi dengan Pemerintah provinsi, dengan menggunakan kriteria dan bobot sebelumnya diperoleh skala prioritas investasi, jenis komoditas investasi yang diprioritaskan untuk dipasarkan kepada investor, yaitu : 1) 2) 3) Pembangunan Jalan Tol Serpong-Balaraja Pembangunan Double Track KA Lintas Cilegon-Bojonegara Pembangunan Jembatan Penghubung Tetap Jawa-Sumatera.

Pembangunan Jalan Tol Serpong-Balaraja infrastruktur jalan merupakan faktor pendukung yang amat penting bagi kelancaran pergerakan barang dan jasa serta manusia dari produsen terhadap konsumen Terkait hal tersebut, jalan tol merupakan infrastruktur yang penting dalam perekonomian. Pembangunan jalan tol ruas Serpong-Balaraja di Provinsi Banten diharapkan mampu mewujudkan hal tersebut. Jalan tol direncanakan dibangun sepanjang 1.500 km yang bertujuan untuk mengalihkan angkutan truk ke

pinggir Jakarta. Pembangunan ruas jalan tol ini melewati Kecamatan Serpong, Cisauk, Legok, Tigaraksa dan Balaraja Kabupaten Tangerang. Kebutuhan total investasi untuk pengembangan proyek ini adalah sebesar Rp. 3 Triliun. Indikator-indikator investasi dihitung dengan asumsi inflasi rata-rata sebesar 6.5% per tahun. Berdasarkan indikator kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa dengan asumsi suku bunga bank sebesar 14%, pembangunan jalan tol masih layak secara ekonomi, dengan ditunjukkan oleh nilai IRR sebesar 24,49% dan payback period selama 17 tahun. 1. Sasaran
Percepatan terwujudnya jaringan jalan tol 1.500 km; Membantu memecahkan kemacetan di jalan tol dalam kota; atau

mengalihkan angkutan truk ke pinggir Jakarta;


Memberikan pendapatan lain (Pajak dan sektor lainnya); Perintis pramakarsa jalan tol oleh Pemerintah Kabupaten dan menjadi

pola kerjasama pembangunan jalan tol bagi daerah lain. 2. Tujuan


Memudahkan transportasi, utamanya bagi masyarakat Kabupaten

Tangerang; Membuka isolasi daerah (pembangunan teransportasi); Mengurangi kemiskinan; Membuka lapangan kerja/mengurangi pengangguran; Membuka lapangan kerja bidang lainnya (pertanian dan perindustrian).

Lokasi proyek di Kecamatan Serpong, Cisauk, Legok, Tigaraksa dan Balaraja Kabupaten Tangerang. Dengan dibukanya Jalan Tol Ruas Serpong-Balaraja secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat yang terkena pembangunan jalan Tol

Ruang Serpong-Balaraja. Di lain pihak, dengan dibangunnya Jalan Tol Ruang Serpong-Balaraja maka akses transportasi akan menunjang bagi kawasan industri yang ada disekitarnya sehingga beban transportasi yang selama ini menggunakan akses Jalan Tol Tangerang-Balaraja akan terbagi di sisi lain pajak yang masuk kepada daerah akan semakin besar.

Gambar . Peta Lokasi Proyek Pembangunan Jalan Tol Provinsi Banten

3. Data Teknis Proyek Lokasi Kontruksi jalan tol Panjang jalan tol (At Grade) Elevated Panjang jembatan sungai Cipayeun dan Cibarebeg) Jumlah simpang susun Balaraja) Jumlah gerbang tol Cisoka) : Kabupaten Tangerang : Rigid Pavement : 37 Km : 200 Meter : 420 meter (Cisadane, Cirarab, Cimanceri, : 4 lokasi (Cisauk, Legok, Tigaraksa dan : 5 lokasi (Cisauk, Legok, Tigaraksa dan

Jumlah tempat istirahat Row jalan tol Luas lahan Kondisi lahan

: 2 lokasi (Cisauk dan Legok) : 60 Meter : 329,29 Ha :Tanah datar, sawah, tegalan & Berpasir.

Tabel .Biaya Investasi Pembangunan Jalan Tol Ruas Serpong-Balaraja


No. 1. Uraian Teknis Biaya Sebelum Eskalasi 2006 (Rp) 13.870.174.084 Biaya Setelah Eskalasi 2007/Jan-2009/Des (Rp) 14.841.086.270 (%) 0,49

Studi Kelayakan + Gambar Rencana Teknik + Amdal 2. Kontruksi 3. Peralatan tol 4. Sisten Kontrol Lalin/Perambu 5. Supervisi Sub Total I 6. Ppn 10% Sub Total II 7. Pra Proyek + Operasional (Overhead) 8. Persiapan Operasi Sub Total III (Biaya Proyek) 9. Tanah 10. Bunga bank selama Kontruksi 11. Biaya Keuangan Total Biaya Investasi

1.155.847.840.334 15.900.000.000 15.900.000.000 25.428.652.487 1.229.125.608.941 122.912.560.894 1.352.038.169.835 42.100.199.909 40.794.809.000 1.434.933.178.743 780.980.612.500 0 0 2.215.913.791.243

1.442.039.527.307 20.841.656.559 20.841.656.559 45.335.320.630 1.546.755.395.851 154.675.539.585 1.701.430.935.436 52.524.346.421 52.074.361.800 1.806.029.643.657 1.001.685.733.593 165.932.291.787 28.605.004.263 3.002.252.673.300

48,03 0,69 0,69 1,51 51,52 5.15 56,67 1,75 1,73 60,16 33,36 5,53 0,95 100,00

Tabel . Asumsi Perhitungan Kelayakan Proyek Pembangunan Jalan Tol Serpong-Balaraja


No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. Uraian Data Keuangan Bunga Bank p/a (selama konsesi) Financial Cost Grace Period = Masa Proyek DE R Equity Debts Tarif Tol Awal Kenaikan Tarif Tol per 2 tahun Konsesi I R R (Equity + Debts) I R R (Equity + Bungan + pajak) Payback Period Lain-lain LHR/Ruas terpadat (Awal Operasi) Pendapatan Tol per Tahun (Awal Operasi) Tahun dasar Perhitungan Harga Barang & Jasa Eskalasi Gaji pegawai dan Tanah, per Tahun Eskalasi Biaya Kontruksi dan O&Mper Tahun Manajemen Pengoperasian Tahap pengoperasian SistemPengumpulan Tol Data 14,00 1,50 4 70 : 30 900.715.093.022 2.101.537.580.278 600 15 30 21,75 24,49 17 28.251 309.604.985.598 2006 10.00 7.00 Keterangan % % Tahun Rp. Rp. Rp. % Tahun % % Tahun Kendaraan Rp.

% % Terpisah Serantak Tertutup

Gambar . Peta Peluang Investasi Pembangunan Jalan Tol Serpong-Balaraja di Provinsi Banten

Pembangunan Double Track K.A. Lintas Cilegon-Bojonegara Provinsi Banten memiliki keragaman potensi sumberdaya alam dan buatan yaitu pertambangan, perkebunan, pariwisata, kelautan, industri dan potensi sosial budaya yang merupakan modal dasar untuk mendukung dan memacu keberhasilan pembangunan nasional pada saat ini dan di masa mendatang. Untuk menunjang pertumbuhan dan pengembangan potensi yang ada, infrastruktur transportasi darat sangatlah penting. Infrastruktur yang ada, khususnya kereta api, belum mampu mengakomodasi kebutuhan mobilitas saat ini, oleh karena itu Pemerintah Provinsi Banten berencana

membangun jaringan rel kererta api yang berlokasi di Cilegon Bojonegara, dengan jalur kereta mulai dari Pelabuhan Bojonegara Kecamatan Bojonegara dan Kecamatan Puloampel hingga ke Merak dengan melintasi rel kereta api di Cilegon. Dari hasil studi yang dilakukan Pemerintah Pusat, maka pembangunan perkeratapian di Provinsi Banten, dibutuhkan investasi sebesar 63 milyar. 1. Sasaran dan Tujuan

Mewujudkan pembangunan infrastruktur transportasi darat, khususnya jaringan kereta api di Provinsi Banten dalam rangka pelayanan yang mampu memenuhi kebutuhan saat ini maupun untuk mengantisipasi kebutuhan di masa mendatang; Mewujudkan pelayanan transportasi darat khususnya kereta api secara terpadu dan terstruktur yang harmonis, serasi dan seimbang dalam satu kesisteman transportasi yang mampu memberikan pelayanan angkutan yang bersifat massal, cepat, aman dan efisien; Mendorong percepatan pembangunan dan perekonomian nasional dan daerah, melalui pembangunan infrastruktur transportasi kereta api yang mampu menghubungkan antara daerah produksi dengan daerah pemasaran maupun simpul-simpul strategis serta untuk memperlancar hubungan antar wilayah, sebagai perwujudan kebijakan; Mewujudkan jaringan transportasi yang mampu berperan sebagai pembentuk dan pengikat satu kesatuan sistem ruang wilayah di Pulau jawa yang utuh dan seimbang serta adanya pemerataan penyebaran distribusi pembangunan nasional.

Lokasi pembangunan Double Track Kereta Api lintas Cilegon Bojonegara yaitu mulai dari Pelabuhan Bojonegara Kecamatan Bojonegara dan Kecamatan Puloampel hingga ke Merak dengan melintasi rel kereta api di Cilegon.

Gambar . Lokasi Proyek Pembangunan Lintas KA Cilegon-Bojonegara

Dari hasil survei OD Nasional 2001, maka dengan permintaan perjalanan akan meningkat antara 5-7% per tahun sesuai dengan karakteristik ekonomi lokasi dan waktu secara keseluruhan produksi perjalanan barang di Provinsi Banten pada tahun 2020 akan berkembang menjadi 3,63 kali lipat. Sedangkan tahun 2020 total produksi perjalanan di provinsi Banten sekitar 277,2 juta ton/tahun, apabila dengan sudah beroperasinya pelabuhan Bojonegara maka dapat mengubah pola perjalanan yang akan banyak menghasilkan pergerakan di sekitar Kota Cilegon, adapun komposisi pergerakan barang adalah sebagai berikut: Kota Tangerang 5,17%, Kabupaten Tangerang 35,37%, kabupaten Serang 15,93%, Kota Cilegon 32,53%, Kabupaten Pandeglang 6,72% dan Kabupaten Lebak 4,28%. \ Dengan rencana pembangunan Double Track ke Merak dan Pelabuhan Bojonegara, maka pada tahun 2020 kebutuhan angkutan barang harus lebih banyak diakomodasi transportasi kereta api, karena pertimbangan waktu dan biaya untuk pergerakan barang secara regional transportasi kereta api

jauh lebih efisien dibandingkan dengan angkutan jalan dengan transportasi truk. Pengurangan beban jaringan jalan di masa mendatang untuk Provinsi Banten merupakan strategi penting karena keberadaan jaringan jalan Tol maupun Jaringan Arteri Pantura jawa di utara Cilegon dalam 10 tahun mendatang diperkirakan akan terjadi kemacetan, sehingga alternatif pengembangan angkutan kereta api merupakan solusi yang strategis untuk mengatasi hal tersebut, sekaligus membantu keberhasilan pengembangan transportasi laut di pelabuhan Bojonegara. 2. Rencana Anggaran Biaya Dari hasil studi yang dilakukan Pemerintah Pusat, maka pembangunan perkeratapian di Provinsi Banten, maka perhitungan investasi peningkatan dan pengembangan adalah sebagai berikut : 1) Pembangunan jalan baru (meliputi : Pembangunan track, signaling dan stasiun) At Grade : 15 Milyar/Km Elevated : 48 Milyar/Km 2) Double Track; 3) Reutilitas. Dengan dibangunnya Double Track kereta api Cilegon-Bojonegara maka beban kendaraan yang mengangkut barang baik dari pelabuhan Bojonegara atau dari industri disekitarnya yang melalui jalan lintas CilegonBojonegara akan mengurangi beban jalan sehingga kualitas jalan yang ada dapat dipertahan. Selain itu biaya angkutan yang selama ini menjadi bagian dari produksi dapat dikurangi dengan adanya Double Track kereta api yang melintasi Cilegon-Bojonegara.

Gambar . Peta Peluang Investasi Pembangunan Double Track K.A. Lintas CilegonBojonegara di Provisi Banten

Pembangunan Jembatan Penghubung Tetap Jawa-Sumatera Bila dilihat dari aktivitas penyeberangan antara Bakauheni-Merak, maka hubungan ekonomi antara pulau Sumatera dan Pulau Jawa sangat intensif. Setiap hari rata-rata lebih dari 2.000 ton barang dari Pulau Sumatera mengalir ke Pulau Jawa, selain itu rata-rata lebih dari 15.000 orang dan lebih dari 4.000 kendaraan per hari berupa truk, bis, kendaraan pribadi, dan sepeda motor melintas pada jalur penyeberangan MerakBakauheni. Pembangunan jembatan penghubung kedua pulau sangat penting untuk diwujudkan. Rincian biaya pembangunan sebesar USD 190 juta atau Rp. 1,8 trilyun untuk biaya studi dan USD 9.810 juta atau 90,2 trilyun untuk biaya konstruksi dengan jasa engineering dan waktu pelaksanaan konstruksi selama 6-10 tahun.

1.Sasaran dan Tujuan


Memperlancar pertumbuhan perekonomian di Sumatra maupun Jawa Memacu pertumbuhan wilayah, regional maupun nasional serta meningkatkan kemakmuran rakyat khususnya di kedua pulau. Memperkuat persatuan bangsa dan mencegah disintegrasi bangsa. Menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik terutama pada kawasan sekitar tapak jembatan. Menumbuhkan minat investasi ekonomi, sosial budaya, pertanian, industri, pariwisata, dll. Mempermudah pengawasan dan pengendalian Konservasi alam. Meningkatkan kesempatan dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

2. Peluang Pasar Setiap hari rata-rata lebih dari 2.000 ton barang dari Pulau Sumatera mengalir ke Pulau Jawa melalui Provinsi Banten. Selain itu rata-rata lebih dari 15.000 orang dan lebih dari 4.000 kendaraan per hari berupa truk, bis, kendaraan pribadi, dan sepeda motor melintas pada jalur penyeberangan Merak-Bakauheni, sementara kondisi kapal ratarata berumur 20 tahun sehingga rawan terjadi kecelakaan. Begitu juga dengan 22 ribu ton batu bara per hari dari Sumatera Selatan dikirim melalui pelabuhan Merak-Bakauheni untuk konsumsi PLTU Suralaya. 3. Rencana Anggaran Biaya Biaya studi dan jasa engineering : USD 190 juta atau Rp. 1,8 trilyun Biaya konstruksi : USD 9.810 juta atau 90,2 trilyun Total : USD 10 milyar Waktu pelaksanaan konstruksi : 6-10 tahun. Dengan dibangunnya jembatan selat sunda maka akan semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara nasional, hal ini diakibatkan

oleh waktu tempuh yang diperlukan untuk lintas jawa dan Sumatra. Jembatan Selat Sunda (JSS) juga merupakan solusi dari kendala yang sedang dihadapi oleh pelabuhan Merak-Bakauheni karena usia kapal ratarata berumur 20 tahun.

Gambar . Peta Peluang Investasi Pembangunan Jembatan Penghubung Tetap JawaSumatera di Provinsi Banten

BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL 2011