Anda di halaman 1dari 7

Pemeriksaan rutin ibu hamil untuk deteksi dini bila ada kelainan

Submitted by haidar on 21 June 2010 - 4:45pm 20Share Penting untuk diperhatikan agar ibu hamil secara rutin melakukan pemeriksaan ke bidan atau dokter. Hampir semua ibu hamil pasti menginginkan kehamilannya berjalan lancar, persalinan berjalan normal, dan melahirkan bayi sehat. Untuk mewujudkan keinginan tersebut tak pelak lagi dibutuhkan pemeriksaan kehamilan yang teratur. Pemeriksaan apa sajakah yang diperlukan ibu selama kehamilannya Pemeriksaan sangat bermanfaat bukan hanya untuk ibu, namun juga untuk kesejahteraan janin. Untuk ibu, misalnya, pemeriksaan berguna untuk mendeteksi dini jika ada komplikasi kehamilan, sehingga dapat segera mengobatinya; mempertahankan dan meningkatkan kesehatan selama kehamilan; mempersiapkan mental dan fisik dalam menghadapi persalinan; mengetahui berbagai masalah yang berkaitan dengan kehamilannya, juga bila kehamilannya dikategorikan dalam risiko tinggi, sehingga dapat segera ditentukan pertolongan persalinan yang aman kelak. Sementara untuk bayi, pemeriksaan itu bisa meningkatkan kesehatan janin dan mencegah janin lahir prematur, berat bayi lahir rendah, lahir mati, ataupun mengalami kematian saat baru lahir. JADWAL PEMERIKSAAN Jadwal pemeriksaan kehamilan dapat dibagi sebagai berikut:

ANC (antenatal care) pada trimester I cukup satu kali saja. ANC trimester II sebanyak 1 kali setiap empat minggu. Setelah kehamilan berusia 28 minggu, pemeriksaan dilakukan satu kali setiap tiga minggu. Setelah kehamilan berusia 32 minggu, pemeriksaan dilakukan satu kali setiap dua minggu. Setelah 38 minggu, pemeriksaan dilakukan satu kali setiap minggu.

Jadi, semakin tua kehamilan maka perlu pemeriksaan semakin sering. Mengapa demikian? Sebab dengan semakin tuanya usia kehamilan, maka sewaktu-waktu bayi bisa lahir. "Nah, untuk mencegah kebrojolan, maka diperlukan pemeriksaan lebih rutin." JENIS PEMERIKSAAN Lantas, pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan selama kehamilan? 1. Anamnesa Terdiri atas pertanyaan tentang identitas, lama terhambat menstruasi, tanggal menstruasi terakhir, dan keluhan yang berkaitan dengan kehamilan. Misalnya, mual-muntah, sakit kepala, nyeri ulu

hati, nafsu makan berkurang atau malah bertambah. Juga akan ditanyakan riwayat kehamilan sebelumnya jika itu bukan kehamilan pertamanya. 2. Pemeriksaan Fisik Mencakup berat badan, tanda-tanda kehamilan, adanya penyakit kelamin atau tidak, ada anemia atau tidak, bagaimana pula jantungnya, paru-parunya, serta bagaimana payudaranya (ada air susu yang keluar atau tidak), serta adakah bengkak di kaki. Untuk melihat tanda-tanda kehamilan, karena pada usia muda ini pembesaran rahim belum atau sulit diraba dari luar, maka tanda-tanda kehamilan dilakukan lewat pemeriksaan dalam; melalui evaluasi pembesaran rahim, tanda perlunakan leher rahim, dan sebagainya. Sedangkan pada trimester III, pemeriksaan rutin meliputi keadaan fisik pasien, misalnya, tampak sakit atau pucat, pengukuran tekanan darah, nadi pernafasan, suhu, dan keadaan kulit, misalnya, adakah pigmentasi, striae perut, keadaan kulit di sekitar puting susu, dan sebagainya. Juga dilakukan pemeriksaan khusus yang meliputi pemeriksaan payudara, mendengarkan detak jantung janin, serta pemeriksaan dalam. Pemeriksaan dalam pun akan dilakukan bila ibu sudah merasa mulas. Gunanya untuk melihat pembukaan, penurunan kepala, dan sebagainya. Selama pemeriksaan dilakukan ibu tak perlu khawatir akan menyakitkan. "Ibu hamil tak akan merasakan apa-apa, mulas pun tidak. Kecuali pemeriksaan dalam untuk melihat kedudukan panggul, yaitu pada kehamilan 32 minggu, maka mungkin ibunya akan merasa sedikit tak enak." 3. Pemeriksaan USG Pada trimester awal USG berguna untuk meyakinkan adanya kehamilan, melihat kelainan bawaan pada janin, bayinya hidup atau mati, apakah bayinya satu atau kembar, hamil di dalam atau di luar kandungan, menentukan penyebab perdarahan atau bercak darah dini pada kehamilan muda, misalnya, kehamilan ektopik, mencari lokasi alat KB yang terpasang saat hamil, menentukan kondisi janin jika tidak ada denyut jantung atau pergerakan janin, adakah yang mengganggu kehamilan, misalnya, kista, mioma, dan sebagainya; juga untuk menentukan usia kehamilan. "Untuk menentukan usia hamil akan lebih akurat jika dilakukan di trimester I, terutama di bawah usia 12 minggu." USG pada trimester II dilakukan pada usia kehamilan 20-22 minggu. Tujuannya melihat tumbuh kembang janin dalam rahim, menilai jumlah air ketuban, kedudukan janin dalam rahim, menentukan kondisi plasenta, menentukan jenis kelamin dalam rahim, dan menentukan kelainan bawaan janin dalam rahim. "Sehingga bisa dibicarakan lebih lanjut jika ada perkembangan yang abnormal." Sedangkan pada trimester III, USG biasanya hanya dilakukan bila ada indikasi medis. Misalnya, kepala janin tak bisa masuk jalan lahir, bayinya terlalu kecil, atau letaknya melintang. 4. Pemeriksaan Laboratorium

* Urin lengkap "Biasanya untuk melihat infeksi saluran kemih. Karena ibu-ibu, kan, sering suka menahan kencingnya, sehingga kalau ada infeksi bisa segera diobati." * Pemeriksaan darah Dari Hb, gula darah, rhesus darah, sampai golongan darah. Pemeriksaan Hb dilakukan sebagai data dasar karena orang hamil di Indonesia kemungkinan anemianya besar, sekitar 60-70 persen. Sedangkan pemeriksaan gula darah untuk menentukan adanya diabetes atau tidak. Golongan darah dan rhesus juga penting diperiksa kalau-kalau ada ketidaksesuaian golongan darah dan rhesus. Pemeriksaan Hb dan gula darah akan diulang di trimester II. "Hal ini dilakukan sebagai penapisan/deteksi awal penyakit diabetes dalam kehamilan. Jika positif diabetes, maka ibu harus melakukan diet." Diabetes sering tidak terdeteksi pada kehamilan trimester I. "Baru pada trimester II atau III akan kelihatan, sejalan dengan peningkatan berat badan ibu. Kecuali kalau memang sejak sebelum hamil ibu sudah menderita diabetes, lo." Karena itu, saat kehamilan mencapai usia 28 minggu biasanya diperlukan pemeriksaan laboratorium kembali untuk mengetes gula darahnya. * TORCH dan hepatitis Dilakukan untuk skrining infeksi pada trimester I. "Karena jika TORCH positif aktif akan membawa kelainan bawaan sehingga harus diobati sejak awal." 5. Amniosentesis Bila usia ibu saat hamil di atas 38 tahun, maka perlu dilakukan juga pemeriksaan amniosentesis pada kehamilan 16-19 minggu; untuk mencari kelainan kromosom pada janin atau adakah kemungkinan idiot, imbisil, down syndrome, dan sebagainya. "Pemeriksaan ini juga perlu dilakukan untuk ibu hamil yang membawa risiko; ada riwayat kelainan kromosom, misalnya, anak pertamanya idiot. Nah, kalau ada riwayat demikian, maka pada kehamilan kedua walau ia belum berumur 38 tahun pun tetap diperlukan pemeriksaan ini." MENGABAIKAN PEMERIKSAAN RUTIN Semua pemeriksaan sebaiknya dilakukan. "Dengan demikian ibu hamil dapat mengetahui secara rinci apa saja yang diperlukan agar kehamilannya sehat." Bahkan, idealnya ibu hamil pun mematuhi jadwal pemeriksaan. "Bila ibu tidak melakukan pemeriksaan rutin bisa berdampak pada kehamilannya, bisa pula tidak. Kalau kehamilannya normal-normal hingga persalinannya kelak, tentu saja tak akan jadi masalah. Seperti halnya yang dilakukan wanita jaman dulu saat dokter kandungan belum banyak. Mereka juga tak melakukan pemeriksaan rutin seperti halnya sekarang, kan?" Justru masalah baru ada jika ternyata kehamilan itu bermasalah. "Sehingga dengan tidak melakukan salah satu pemeriksaan di atas, maka kalau ada 'sesuatu hal' kita jadi tak tahu. Entah itu bayinya kecil, ibunya anemia, atau janinnya tanpa kepala. Bisa saja, kan, karena tak pernah di USG, kita tak tahu kalau bayinya tanpa kepala. Kita baru tahu setelah dilahirkan." Jadi, kalau ingin kehamilannya safe, ya, sebaiknya semua pemeriksaan yang dianjurkan dokter dilakukan. "Juga dengan melakukan pemeriksaan, maka kita juga bisa mendeteksi lebih dini dan mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Misalnya, ada kelainan saluran

pencernaan di bayinya, maka saat lahir sudah dipersiapkan tim bedahnya. Jadi, si bayi tidak keburu meninggal, tapi langsung dilakukan pertolongan untuk memperbaiki saluran pencernaan." Nah, mengingat begitu banyak manfaatnya, masih akan beranikah Ibu mengabaikan pemeriksaan rutin?

Wajib Tes Darah Saat Hamil


Pemeriksaan darah saat kehamilan bisa untuk mendeteksi adanya kelainan genetis pada janin. Segera setelah dinyatakan positif hamil, ada serangkaian tes atau pemeriksaan untuk memantau kondisi kesehatan Anda dan janin. Salah satunya adalah tes darah. Biasanya dilakukan saat usia kehamilan 10-12 minggu dan dilakukan lagi saat usia kehamilan 28 minggu. Apa yang dilakukan pemeriksa? Mengambil sampel darah, biasanya dari pembuluh vena yang ada di tangan untuk mengetahui:

Golongan darah (A, B, AB, atau O) dan rhesus darah (positif atau negatif). Bila ternyata Anda rhesus negatif sementara darah bayi memiliki rhesus positif, Anda perlu suntikan Anti D setelah melahirkan, atau bila terjadi keguguran untuk perlindungan agar pada kehamilan berikutnya bayi tidak akan menderita penyakit anemia akut. Kadar zat besi dan hemoglobin. Risiko menderita anemia meningkat saat hamil karena Anda perlu zat besi ekstra untuk membentuk darah bayi dan ini bisa diketahui dari rendahnya kadar hemoglobin. Kemungkinan Anda menderita IMS (Infeksi Menular Seksual). Bila dari hasil tes ternyata Anda mengidap PMS, seperti sifilis, dokter bisa segera melakukan tindakan pencegahan agar bayi tidak tertular. Antibodi terhadap TORCH (toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus dan herpes). Bila ternyata antibodi Anda kurang, Anda bisa melakukan tindakan pencegahan. Misalnya, menghindari orang-orang yang pernah atau mungkin terjangkit penyakit rubella, terutama pada trimester pertama kehamilan, dan setelah melahirkan Anda perlu mendapat imunisasi (saat hamil Anda tidak boleh mendapat imunisasi rubella). Kemungkinan bayi menderita kelainan genetis, seperti familial hypercholesterolemia (memiliki kolesterol tinggi), cystic fibrosis (kelainan yang menyebabkan penyakit multisistem), sickle-cell anemia (kelainan bentuk sel darah merah), Thalassemia (kelainan asam amino pembentuk hemoglobin), dan penyakit Tay-Sachs (terbentuknya lemak dalam sel, terutama sel otak dan saraf).

Sebelum melakukan tes darah, sebaiknya konsultasi dulu dengan dokter untuk mendapatkan cukup bekal informasi seputar tes yang akan dijalani.

GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN PROTEIN URINE PADA IBU HAMIL TRIMESTER III di RUMAH BERSALIN BHAKTI IBU SEMARANG Undergraduate Theses from JTPTUNIMUS / 2010-06-11 15:38:02 Oleh : INDAH FEBRIANTI, GO3.2004.001013, Universitas Muhammadiyah Semarang

Dibuat : 2008-01-07, dengan 3 file Keyword : PROTEIN URINE, IBU HAMIL, TRIMESTER III Url : http://digilib.unimus.ac.id Latar Belakang br /br /br / Ditemukannya protein dalam urine merupakan tanda paling sering dijumpai pada preeklamsia, penyakit ginjal, bahkan sering merupakan petunjuk dini dari latent glomerulo nephitis, toxemia gravidarum ataupun diabetic nephropathy (Ibid). Selama kehamilan normal terdapat kenaikan hemodinamika ginjal dan diikuti dengan tekanan vena renalis. Kenaikan tekanan vena renalis ini akan menyebabkan proteinuria terutama pada posisi ortostatik. Pada pasien yang telah menderita penyakit parenkhim ginjal, faktor kehamilan ini mungkin akan memperberat kebocoran protein melalui urine. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran protein urine pada ibu hamil trimester III yang memeriksakan diri di Rumah Bersalin Bhakti Ibu Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2007 dengan jumlah sampel 30 yang diambil secara purposif dan sampel diperiksa secara semi kuntitatif dengan metode stik. Hasil penelitian menunjukkan gambaran protein urine pada ibu hamil trimester III adalah negatif sebanyak 5 sampel (16,66%), positif negatif sebanyak 14 sampel (46,66%), positif satu sebanyak 9 sampel (30%)dan positif dua sebanyak 2 sampel (6,66%). Diharapkan ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan rutin sehingga perkembangan janin dapat dipantau. br / Deskripsi Alternatif : Latar Belakang br /br /br / Ditemukannya protein dalam urine merupakan tanda paling sering dijumpai pada preeklamsia, penyakit ginjal, bahkan sering merupakan petunjuk dini dari latent glomerulo nephitis, toxemia gravidarum ataupun diabetic nephropathy (Ibid). Selama kehamilan normal terdapat kenaikan hemodinamika ginjal dan diikuti dengan tekanan vena renalis. Kenaikan tekanan vena renalis ini akan menyebabkan proteinuria terutama pada posisi ortostatik. Pada pasien yang telah menderita penyakit parenkhim ginjal, faktor kehamilan ini mungkin akan memperberat kebocoran protein melalui urine. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran protein urine pada ibu hamil trimester III yang memeriksakan diri di Rumah Bersalin Bhakti Ibu Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2007 dengan jumlah sampel 30 yang diambil secara purposif dan sampel diperiksa secara semi kuntitatif dengan metode stik. Hasil penelitian menunjukkan gambaran protein urine pada ibu hamil trimester III adalah negatif sebanyak 5 sampel (16,66%), positif negatif sebanyak 14 sampel (46,66%), positif satu sebanyak 9 sampel (30%)dan positif dua sebanyak 2 sampel (6,66%). Diharapkan ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan rutin sehingga perkembangan janin dapat dipantau. br /
PEMERIKSAAN DARAH RUTIN HEMOGLOBIN (CARA SAHLI)

1. Prinsip Hemoglobin darah diubah menjadi asam hematin dengan pertolongan larutan HCL, lalu kadar dari asam hematin ini diukur dengan membandingkan warna yang terjadi dengan warna standard memakaimata biasa.

2. Tujuan Menetapkan kadar hemoglobin dalam darah 3. Alat dan bahan yang dipergunakan a. Hemoglobinometer (hemometer), Sahli terdiri dari : 1) Gelas berwarna sebagai warna standard 2) Tabung hemometer dengan pembagian skala putih 2 sampai dengan 22. Skla merah untuk hematokrit. 3) Pengaduk dari gelas 4) Pipet Sahli yang merupakan kapiler dan mempunyai volume 20/ul 5) Pipet pasteur. 6) Kertas saring/tissue/kain kassa kering b. Reagen 1) Larutan HCL 0,1 N 2) Aquades 4. Cara Pemeriksaan a. Tabung hemometer diisi dengan larutan HCL 0,1 N sampai tanda 2 b. Hisaplah darah kapiler/vena dengan pipet Sahli sampai tepat pada tanda 20 ul. c. Hapuslah kelebihan darah yang melekat pada ujung luar pipet dengan kertas tissue secara hatihati jangan sampai darah dari dalam pipet berkurang. d. Masukkan darah sebanyak 20 ul inike dalam tabung yang berisi larutanHCL tadi tanpa menimbulkan gelembung udara. e. Bilas pipet sebelum diangkat dengan jalan menghisap dan mengeluarkan HCL dari dalam pipet secra berulang-ulang 3 kali f. Tunggu 5 menit untk pembentukan asam hematin g. Asam hematin yang terjadi diencerkan dengan aquades setetes demi setetes sambil diaduk dengan pengaduk dari gelas sampai didapat warna yang sama dengan warna standard. h. Miniskus dari larutandibaca. Miniskus dalam hal ini adalah permukaan terendah dari larutan. 5. Pelaporan Dinyatakan dalam gr/dl Hanya dilaporkan dalam angka bulat, atau naik setengah, Misal 11, 11 , 12, 12 , dan sebagainya. 6. Catatan a. Nilai normal Laki-laki : 14 18 gram/dl Wanita : 12 16 gram/dl b. Kesalahan yang sering terjadi 1. Alat/regen kurang sempurna, yaitu : a. Volume pipet Hb tidak selalu tepat 20 ul b. Warna standard sering sudah pucat. c. Kadar larutan HCL sering tidak dikontrol. 2. Orang yang melakukan pemeriksaan : a. Pengambilan darah kurang baik. b. Penglihatan pemeriksa tidak normal atau sudah lelah. c. Intensitas sinar/penerangan kurang. d. Pada waktu waktu membaca hsil dipermukaan terdapat gelembung udara.

e. Pipet tidak dibilas dengan HCL. f. Pengenceran tidak baik.

Sumber : Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas, Jakarta, Departemen Kesehatan RI, 1991 PEMERIKSAAN HAEMOGLOBIN (Hb) Menurut Soenarto (1980) dengan pemeriksaan Hb ini kita akan mendapatkan gambaran dari penderita apakah normal atau abnormal . Nilai atau batas terendah manakah dari Hb yang dianggap normal ? Untuk itu perlu kita menggunakan kriteria yang seragam ialah dari WHO (1972). Ini telah dipakai dan dianjurkan oleh ahli-ahli kita. Kriteria persangkaan Anemi pada : bila Hb dibawah : Pria dewasa 13 g % Wanita tak hamil 12 g % Wanita hamil 11 g % Anak : 6 bl 6 th 11 g % 6 th 14 th 12 g % Pengukuran Hb yang disarankan oleh WHO ialah dengan cara cyanmet, namun cara oxyhaemoglobin dapat pula dipakai asal distandarisir terhadap cara cyanmet. Sampai saat ini baik di PUSKESMAS maupun dibeberapa Rumah sakit di negara kita masih menggunakan alat Sahli. Sumber : Mengenal Penyakit Darah dari Pemeriksaan Hemoglobin dan Hapusan Darah Tepi dr. Soenarto Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/RS dr. Kariadi Semarang Cermin Dunia Kedokteran No.18, 1980