Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS BUTIR KERAKAL DALAM INTERPRETASI TINGKAT ABRASI AKIBAT PROSES SEDIMENTASI DI KALI GARANG, TINJOMOYO, SEMARANG, JAWA

TENGAH
Lukluk Mahya Rahmah 21100112130036 SARI Kali Garang tergolong kali stadia muda dengan material sedimen lepasan yang masih kasar. Material sedimen lepasan yang berada di lokasi tersebut dapat menjadi salah satu indikasi tingkat abrasi yang dialami batuan. Kerakal merupakan salah satu jenis butir sedimen yang dapat digunakan sebagai objek penelitian. Dengan melakukan analisis terhadap butir kerakal, dapat diketahui kuantitas dari roundness-nya, sphercity-nya, dan flatness ratio-nya. Beberapa parameter yang digunakan dalam analisis kuantitatif butir kerakal dapat dijadikan dasar untuk melakukan interpretasi tingkat abrasi, tingkat pelapukan, erosi, dan proses sedimentasi yang dialaminya. Kata Kunci : Kali Garang, sedimentasi, abrasi, kerakal
dengan kondisi lapangan. Analisis dilakukan dengan pengambilan 3 kg pasir basah di bagian sungai terdalam, pengambilan sampel 20 butir kerakal, dan perhitungan kecepatan arus air. 2. Metode Laboratorium Data yang telah diperoleh setelah melakukan analisis granulometri, mineral berat, dan bentuk kerakal diolah di laboratorium. Pengolahan data mentah yang telah diperoleh di lapangan bertujuan untuk mendapatkan data yang siap untuk digunakan sebagai interpretasi stadia sungai. 3. Metode Pustaka Metode pustaka dilakukan dengan mencari referensi dalam penyusunan paper baik dalam HASIL DAN DISKUSI Analisis Granulometri Analisis granulometri merupakan analisis besar butir yang dilakukan dengan 2 cara yaitu cara grafis dan cara matematis. Pada analisa granulometri cara grafis didapatkan beberapa data laboratorium meliputi koefisien sortasi sebesar 3,314 (very poorly sorted), skewness sebesar 0,041 (near symetrical), kurtosis 0,059 (very platy kurtic). Pada cara matematik diperoleh beberapa data meliputi koefisien sortasi sebesar -1,349 (very well sorted), skewness sebesar 2,47 (fine skewed), kurtosis 0,733 (platy kurtic).

PENDAHULUAN Kali Garang merupakan salah satu kali di Semarang yang hulunya berada di Ungaran dan aliran sungainya hingga daerah Tinjomoyo. Kegiatan lapangan dilakukan pada aliran Kali Garang yang berada di daerah selatan Kota Semarang yaitu di daerah Tinjomoyo. Morfologi daerah berbukit bergelombang dilihat dari relief daerahnya yang cukup tinggi dengan bentuk lahan fluvial berupa sungai stadia muda. Kegiatan lapangan dilakukan dengan melakukan analisis terhadap sungai yang dibagi menjadi 3 segmen. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data yang sesuai dengan kondisi lapangan. Tujuan penulisan paper ini adalah untuk menginterpretasi tingkat abrasi yang dialami batuan akibat proses sedimentasi yang terjadi pada Kali Garang. Interpretasi dilakukan berdasarkan data lapangan yang telah diolah di laboratorium berupa data hasil analisis granulometri, mineral berat, dan bentuk kerakal. METODE Dalam penyusunan paper ini dilakukan beberapa metode yaitu 1. Metode Lapangan Pada metode lapangan dilakukan 3 jenis analisis yaitu analisis granulometri, mineral berat, dan bentuk kerakal. Ketiga analisis ini dilakukan untuk mendapatkan data yang sesuai

Analisis Mineral Berat Analisis mineral berat merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui apa saja mineral berat yang terkandung dalam suatu sedimen. Analisis mineral berat yang dilakukan di laboratorium dengan mengambil sampel mineral berat sebanyak 300 butir. Dari 300 butir mineral berat tersebut, 230 butir merupakan mineral magnetit dan 70 butir merupakan mineral hematit. Analisis Bentuk Kerakal Analisis bentuk kerakal merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui morfologi butir kerakal berdasarkan parameter tertentu. Pada analisa bentuk kerakal didapatkan beberapa data laboratorium meliputi kebundaran yang tergolong rounded, kebolaan yang tergolong elongated, dan kepipihan yang tergolong relatif pipih. Hasil Interpretasi Data Roundness atau kebundaran mengindikasikan seberapa besar abrasi yang dialami oleh butiran tersebut. Tingkat abrasi dapat dikatakan sebagai tingkat kekuatan air sungai untuk mengikis batuan. Tingkat abrasi berbanding lurus dengan nilai debit sungai. Apabila debit sungai besar maka tingkat abrasi juga besar. Hal ini menyebabkan kekuatan air untuk mengikis batuan juga besar. Tingkat abrasi mencerminkan proses transportasi keseluruhan namun tidak menunjukkan seberapa jauh butiran tersebut tertransport dari asalnya. Secara kuantitatif kebundaran butir kerakal dapat dihitung dengan metode perhitungan Tester dan Bay sebagai berikut.

Menurut Folk secara kuantitatif kebolaan dapat dihitung dengan rumus

Kebolaan yang tergolong elongated menunjukkan bahwa butir kerakal yang diambil sebagai sampel tidak memiliki kesamaan pada ukuran sumbunya. Jadi spherecity-nya tergolong rendah. Analisis kerakal yang ketiga dilihat dari kepipihan yang dapat dihitung dengan rumus Dimana A=panjang B=lebar C=tebal Hasil perhitungan 20 sampel kerakal, seluruhnya menunjukkan nilai Fr >1 yang berarti bahwa tingkat kepipihannya tergolong relatif pipih. Proses sedimentasi berlangsung dalam beberapa tahap dan saling berhubungan. Pada awalnya batuan mengalami pelapukan, tererosi, tertransport, kemudian terdeposisi dan mengalami proses diagenesis. Kecepatan aliran sungai yang diketahui di lapangan dapat digunakan untuk mengetahui proses sedimentasi apa yang sedang dialami oleh suatu butir sedimen. Pada segmen 3 dimana sampel kerakal diambil, diketahui kecepatan alirannya sebesar 54 cm/s. Arus sebesar itu tergolong relatif tinggi. Arus yang tergolong tinggi berbanding lurus dengan debit sungai. Sedangkan apabila debit sungai tinggi, kekuatan air untuk mentransport dan mengikis batuan juga semakin tinggi. Untuk mengetahui hubungan antara kecepatan aliran dan transportasi butir kerakal tersebut digunakan Diagram Hjulstrom. Menurut diagram Hjulstrom, pada kecepatan 54 cm/s butir kerakal mengalami transportasi secara bedload. Transportasi bedload merupakan mekanisme transportasi partikel kasar yang cenderung bergerak sangat dekat dengan bed. Kontak transportasi bedload yang kontinyu dengan bed dikenal sebagai tipe transportasi sedimen traksi. Transportasi ini dapat terjadi dalam bentuk rolling, sliding, creeping, dan saltation. Dilihat dari bentuk kerakalnya yang tergolong pipih, mekanisme transportasi yang terjadi dapat dimungkinkan secara sliding. Pada awalnya butir kerakal yang diangkut oleh media berupa air sungai tersebut berbentuk runcing atau menyudut di ujung-ujungnya. Namun, butiran ini mengalami penggerusan intensif oleh butir lain yang terbawa bersamanya atau dapat juga tergerus

dst. Berdasarkan perhitungan di atas, 20 sampel kerakal yang diambil menunjukkan bahwa sebagian besar tergolong rounded. Hal ini mengindikasikan bahwa abrasi yang dialami oleh butir tersebut cukup intensif. Ditinjau dari kebolaan atau spherecitysampel kerakal yang diambil tergolong elongated (bernilai sekitar 0,6-0,63). Kebolaan merupakan pengukuran yang menggambarkan bentuk butir ke arah bentuk membola sehingga secara tiga dimensi ukuran sumbunya mendekati sama.

oleh dasar sungai sehingga ujungnya menjadi tumpul atau membulat. Hal ini juga diperkuat oleh hasil diagram Hjulstom yang menunjukkan bahwa transportasinya dengan cara bedload sehingga memungkinkan butir kerakal untuk melakukan kontak lebih banyak dengan dasar sungai yang menyebabkan abrasi dan erosi terhadap butirnya lebih kuat. KESIMPULAN Analisis butir kerakal dapat digunakan untuk mengetahui tingkat abrasi yang dialami batuan akibat proses sedimentasi. Pada daerah penelitian di Kali Garang, Tinjomoyo, sampel

butir kerakal memiliki butiran yang rounded, elongated, dan relatif pipih. Hal tersebut mengindikasikan tingkat abrasi yang dialami oleh batuan tergolong tinggi. REFERENSI

Lewis, D.W. 1983. Practical Sedimentology. Hutchinson Ross Publishing Company. Stroudsburg, Pennsylvania. Tim Asisten Praktikum. 2013. Buku Panduan Praktikum Sedimentologi dan Stratigrafi. Semarang: UNDIP