Anda di halaman 1dari 163

GANTI HATI

Dahlan Iskan

Pengalaman Pribadi Menjalani Transplantasi Liver

Harus Turun Mesin, karena OrganOrgan Saya Rusak Parah


27 Agustus 2007 Pagi ini, hari ke-20 saya hidup dengan liver baru. Kelihatannya akan baikbaik saja. Tidak ada tanda- tanda kegagalan seperti yang dialami Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh yang digadang-gadang menjadi salah satu calon presiden), yang menjalani transplantasi liver di Tiongkok pada 19 Juli 2004. Kadar protein dalam darah saya yang tidak pernah bisa normal, kini menjadi sangat baik. Salah satu unsur penting di protein itu, albumin, sejak liver saya diganti sudah mencapai angka 3,6. Selama lebih dari 10 tahun saya hidup dengan kadar albumin yang hanya 2,7. Padahal, normalnya paling tidak 3,2. Rendahnya kadar albumin membuat tubuh saya tak mampu membuang kelebihan air, baik dalam bentuk keringat maupun kencing. Sehingga air yang berlebih ikut darah beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh saya jadi gemuk. Karena itu, kalau ada orang memuji badan saya terlihat lebih gemuk dan segar, dalam hati sebenarnya saya menderita. Sebab, saya tahu, tubuh saya tidak sedang gemuk, tapi bengkak! Begitu liver diganti dan albumin normal, badan saya langsung susut. Tapi tidak kuyu, melainkan sebaliknya: lebih segar. Dua hari pertama pascatransplantasi, kencing saya bisa mencapai 10 liter sehari. Sebagian karena memang banyak cairan yang masuk ke badan, sebagian lagi karena air yang tadinya beredar bersama darah, sudah bisa dipisahkan oleh albumin dan dikirim ke kandung kemih. Platelet atau trombosit saya, yang seharusnya minimal 200, pernah tinggal 55. Dengan platelet serendah itu, saya terancam mengalami perdarahan dari mana pun: mulut, hidung, lubang kemaluan, telinga, dan mata. Untuk menyelamatkan saya dari ancaman itu, dokter lantas memotong limpa saya hingga sepertiga. Setelah limpa dipotong, platelet saya naik sampai 120. ! "!

Sayangnya, itu tidak lama. Perlahan-lahan angka itu menurun secara konstan. Terakhir tinggal 70. Hampir sama dengan sebelum limpa saya dipotong. Tapi, setelah liver saya diganti, platelet saya langsung naik. Tiga hari lalu angkanya sudah mencapai 260. Normalnya, antara 200 sampai 300. Mengapa saya memutuskan ganti liver? Tidakkah takut gagal? Mengapa liver saya sakit? Separah apa? Bagaimana jalannya penggantian liver? Bagaimana mempersiapkan diri? Bahkan sampai ke doa apa yang saya ucapkan? Semua akan saya tulis untuk berbagi pengalaman dengan pembaca. 26 Agusutus 2007 Cerita ini mungkin akan agak panjang (bisa 50 hari). Bukan karena saya mau berpanjang-panjang, tapi karena redaksi membatasi saya untuk menulis hanya sekitar 1.000 kata di setiap seri. Berikut saya mulai dengan seri pertama ini. (Nama-nama dokter, rumah sakit, sengaja baru akan disebutkan di bagian-bagian akhir tulisan): *** Di umur 55 tahun ternyata saya harus turun mesin. Begitu parahnya kerusakan organ-organ di dalam badan saya sampai harus pada keputusan menambal seluruh saluran pencernaan saya, memotong sepertiga limpa saya, dan mengganti sama sekali organ terbesar yang dimiliki manusia: liver. Turun mesin total itu harus diatur sedemikian rupa karena mesin yang sama harus tetap menjalankan tugas sehari-hari, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Maka, saya pun mulai membuat jadwal turun mesin. Dimulai yang paling membahayakan agar yang penting nyawa bisa selamat dulu. Ternyata saya memang terancam meninggal dunia dari tiga jenis penyakit. Yang pertama adalah yang bisa membuat saya meninggal mendadak kapan saja tanpa penyebab apa pun. Tiba-tiba bisa saja saya muntah darah dan tak tertolong lagi. Ini karena seluruh saluran pencernaan saya, mulai tenggorok sampai perut sudah penuh dengan varises yang menor-menor karena sudah matang dan siap ! #!

pecah. Ibarat kumpulan balon-balon kecil berwarna merah, yang kulitnya sudah tipis seperti balon yang ditiup terlalu keras. Kapan meletusnya bisa setiap saat. Saat meletus itulah orang akan muntah darah dan tak tertolong lagi. Penyakit kedua, yang bisa membuat saya meninggal dalam hitungan bulan adalah jumlah darah putih saya yang terus merosot. Mengapa? Karena limpa saya sudah membesar tiga kali lipat dari ukuran normal. Limpa yang tugasnya antara lain mengubur sel-sel darah merah yang mati (dengan darah putih yang diproduksinya), tidak mampu lagi berfungsi baik. Platelet saya yang seharusnya antara 200-300, hari itu tinggal 60. Itu pun dalam posisi terus menurun. Pada penurunan beberapa poin lagi, saya akan menderita perdarahan dari mana saja: bisa dari hidung, dari telinga, dari mulut, atau dari mata. Limpa sendiri bisa juga pecah karena sudah tidak kuat lagi akibat terus membesar. Yang ketiga, ya liver saya sendiri, yang ternyata sudah amat rusak. Setelah liver saya dibuang setahun kemudian, tampaklah nyata bahwa liver saya sudah seperti daging yang dipanggang terlalu masak. Padahal, seharusnya mulus seperti pipi bayi. Ini yang bisa membuat saya meninggal dunia dalam hitungan dua-tiga tahun. Bahkan, sebenarnya liver itu yang membuat limpa saya membesar dan membuat seluruh saluran darah di sepanjang pencernakan saya penuh dengan balon-balon darah yang siap pecah. Maka, satu per satu harus saya selesaikan. Saya mulai dari mengatasi agar tidak terjadi muntah darah. Lalu, setengah tahun kemudian memotong limpa saya. Dan, terakhir 6 Agustus lalu, beberapa hari sebelum ulang tahun ke-56 saya, saya lakukan transplantasi liver: membuang liver lama, diganti dengan liver baru. Semua proses itu memakan waktu hampir dua tahun. Ini karena saya tetap harus menjalankan aktivitas, baik sebagai pimpinan Grup Jawa Pos maupun sebagai CEO perusahaan daerah Jatim yang lagi giat-giatnya membangun tiga proyek besar: pabrik conveyor belt, gedung ekspo, dan shorebase. Semua tahap itu saya jalani dengan keputusan yang mantap, tanpa keraguan sedikit pun mengenai kegagalan hasilnya. Banyak teman yang bertanya mengapa saya bisa tegas membuat keputusan yang begitu membahayakan hidup saya. Saya ! $!

jawab bahwa percaya sepenuhnya dengan takdir -sesuai dengan tafsir yang saya yakini, yakni mirip dengan uraian buku Saudara Agus Mustofa Takdir Itu Bisa Berubah. Faktor lain adalah bahwa rupanya, kebiasaan saya membuat keputusan berani, keputusan besar dan keputusan yang cepat di perusahaan ikut memengaruhi keberanian membuat keputusan dengan kualitas yang sama untuk diri sendiri. Lalu, keyakinan bahwa saya mampu me-manage hal-hal yang rumit selama ini, tentu juga akan mampu me-manage kerumitan persoalan yang ternyata ada di dalam tubuh saya. Apakah tidak ada kekhawatiran sama sekali akan gagal dan kemudian meninggal? Tentu ada. Tapi, amat kecil. Saya tahu kapan harus ngotot dan kapan harus sumeleh. Keluarga saya yang miskin dan menganut tasawuf Syathariyah sudah mengajarkan sejak awal tentang sangkan paraning dumadi (dari mana dan akan ke mana hidup dan semua kejadian). Ini membuat saya akan ngotot melakukan apa pun untuk berhasil, tapi juga tahu batas kapan harus berakhir. Tentu ada penyebab lain: Banyak keluarga saya mati muda, sehingga saya pun seperti sudah siap sejak kecil bahwa saya juga akan mati muda. Ibu saya meninggal dalam usia 36 tahun (muntah darah). Kakak saya, yang digelari agennya Nurcholish Madjid di Jatim untuk urusan pembaharuan pemikiran Islam, meninggal dalam usia 32 tahun (muntah darah). Dia sering memarahi saya, mengapa masih kecil sudah belajar filsafat/tasawuf dan mengapa sering pergi ke pondok salaf. Tapi, tahun depannya saya masih tetap ke pondok salaf Kaliwungu, 25 km sebelah barat Semarang. Paman saya dan pakde saya juga meninggal muda. Penyebabnya juga sama: muntah darah. Muntah darah sebenarnya bukan penyebab, tapi begitulah orang di desa mengatakannya, karena tidak tahu bahwa semua itu berawal dari persoalan liver. Tapi, ada juga sedikit harapan bahwa saya bisa berumur panjang: Bapak saya meninggal dalam usia 93 tahun. Kakak tertua saya yang amat baik, Khosiyatun,

%!

yang juga ketua umum Aisyiah Kaltim, kini berumur hampir 70 tahun dan masih aktif mengajar di SD swasta di Samarinda. Entahlah, saya ikut yang mana.

Tiga Jam Jelang Operasi Masih Ditawari Take Over Koran


27 Agustus 2007 Mudah-mudahan rencana operasi kali ini tidak gagal lagi. Yu Shi Gan Xian Sheng (nama saya di Tiongkok), besok mendapat giliran operasi. Itu kata seorang dokter di rumah sakit ini pada Minggu 5 Agustus 2007 kepada saya. Dia memakai istilah mudah-mudahan tidak gagal lagi karena memang sudah beberapa kali saya diberi tahu dapat giliran operasi, tapi selalu tertunda karena liver yang datang tidak cocok untuk mengganti liver saya. Kali ini kelihatannya cocok. Golongan darahnya sama. Juga sudah dinilai akan memenuhi syarat untuk ditransplantasikan ke saya. Harapan bahwa kali ini tidak gagal lagi kian besar setelah sore harinya, petugas cukur datang ke kamar saya. Dia harus mencukur rambut yang ada di badan saya, sebagai salah satu syarat dilakukannya operasi besar. Tugasnya sore itu ringan sekali karena hanya perlu mencukur rambut di sekitar kemaluan. Saya tidak punya rambut di dada atau di paha. Saya lalu membayangkan bagaimana dengan pasien yang punya bulu dada lebat dan cepat tumbuh kembali. Misalnya, seperti yang banyak dimiliki pasien dari negara-negara Arab. Saya juga membayangkan bagaimana kalau bulu dada itu cepat tumbuh, sementara luka akibat sayatan yang panjang di situ belum menyatu kembali. Tapi, bayangan-bayangan saya itu lenyap karena tiba-tiba tukang cukur menyatakan

&!

tugasnya sudah selesai. Sebentar dan sederhana sekali tugasnya untuk saya malam itu. Meski itulah malam menghadapi operasi besar, saya tidak punya kekhawatiran apa-apa. Malam itu saya tidur nyenyak sebagaimana biasa. Tidak punya perasaan galau sedikit pun, meski saya akan menjalani penggantian organ terbesar dalam tubuh seorang manusia. Sore sebelum tidur, saya potong rambut. Pendek sekali, nyaris gundul. Saya ingin agar setelah operasi kelak, kalau mau cuci rambut lebih gampang. Bangun pagi 6 Agustus 2007, saya bertanya kepada perawat kira-kira operasinya jam berapa. Setidaknya jam berapa harus berangkat ke ruang operasi. Perawat belum bisa menjawab. Memang jadwal transplantasi besar seperti ini tidak gampang dibuat. Karena itu, saya lantas mandi lebih bersih daripada biasanya. Saya tidak ingin ada kuman yang menempel di badan saya yang akan menjadi penyebab infeksi setelah operasi. Tentu ini kurang masuk akal, karena dalam proses operasi ada prosedur sterilisasi di badan saya. Yakni, seluruh badan saya akan diolesi cairan antiinfeksi yang biasanya berwarna merah kecokelatan itu. Pagi itu saya sudah tidak boleh makan apa pun. Perut harus kosong sejak malamnya. Namun, sekitar pukul 09.00 perut saya masih harus dibesihkan dari kotoran dengan cara dimasuki cairan bening sekitar seperempat liter melalui pantat. Kurang dari lima menit kemudian saya lari ke toilet karena semua isi perut seperti mau keluar. Setengah jam kemudian dilakukan lagi hal yang sama. Di toilet saya lihat tak ada lagi benda apa pun yang keluar kecuali air bening yang dimasukkan tadi. Maka saat itu dianggap perut saya sudah bersih. Beberapa sahabat penting saya di Tiongkok datang. Terutama Mr Guo yang sejak 10 tahun lalu mengangkat saya sebagai adik kelima, dan saya mengangkatnya sebagai kakak ketiga. Kakak pertama adalah seorang pensiunan jenderal polisi yang juga tinggal di kota ini. Pukul 09.30 saya diberi tahu tentang kepastian operasi. Bapak harus masuk ruang operasi pukul 14.00, kata seorang perawat. Alhamdulillah, kata saya dalam ! '!

hati. Kalau tidak, bagaimana dengan rambut yang telanjur dicukur? Apa saya akan minta ditempelkan lagi? Prioritas saya kemudian adalah menghubungi kantor, kakak saya yang di Samarinda, adik saya yang di Madiun, dan beberapa pemegang saham. Saya akan operasi jam 14.00 nanti, tulis saya di sms. Kepada kakak saya yang di Samarinda, saya bicara langsung melalui telepon. Saya harus hati-hati menjelaskannya. Itu kakak saya yang amat baik hatinya. Dia pernah menyerahkan seluruh gajinya sebagai guru SD untuk biaya sekolah dan hidup saya selama lebih dari lima tahun. Itu sebagai tanggung jawabnya karena dia harus pergi meninggalkan kami tanpa ibu di Magetan untuk pergi ke Kaltim, ikut paman saya. Dia merasa kasihan saya hidup dengan Bapak yang tidak punya penghasilan tetap. Apalagi, masih ada satu adik lagi yang masih kecil. Di Kaltim dia harus mengajar di dua sekolah agar masih punya penghasilan untuk hidupnya sendiri. Mbakyu, nanti sore saya harus operasi, kata saya. Operasi apa? tanyanya. Saya tidak berani menjelaskan apa adanya, khawatir mengganggu pikirannya. Saya akan operasi, agar tidak sampai terjadi seperti yang mengakibatkan ibu dan Mbak Sofwati meninggal muda, kata saya. Mbak Sofwati adalah kakak saya yang meninggal umur 32 tahun setelah muntah darah. Padahal, dia kami jagokan sebagai tokoh keluarga. Orangnya pintar dan karirnya bagus. Saat mahasiswa, dia jadi ketua Korps Himpunan Mahasiswa Islam Wanita Jatim. Ya, saya doakan semoga berhasil, katanya datar. Dia tidak saya beri tahu betapa berisikonya penggantian liver ini. Dalam waktu sekejap sms pemberitahuan operasi itu rupanya menyebar, sampai ke anak perusahaan. Mulai Aceh sampai Jayapura. Juga beredar di antara teman-teman. Ini saya ketahui dari sms yang segera mengalir ke telepon saya. Semua mengirimkan doa untuk keberhasilan operasi saya. Bahkan, SMS dari Bambang Sujiyono, seniman Surabaya itu, sangat dramatik. Dia kaget saya kok tibatiba memberitahunya akan operasi besar. Dia menangis dalam SMS-nya. ! (!

Allah, tulisnya, Selamatkan nyawa rekan saya ini. Kalau perlu, tukar dengan kematian saya. Bambang memang orang yang sangat humanis. Dia sendiri dalam keadaan sakit jantung. Saya balas tangisannya itu dengan tegar dan setengah guyon. Mas Bambang, di rumah sakit ini hampir tiap hari juga dilakukan operasi penggantian jantung, tulis saya. Juga operasi penggantian ginjal dan organ yang lain, tambah saya. Lalu dia tidak emosional lagi. Dia justru bertanya berat mana transplantasi ginjal dibanding liver. Transplantasi ginjal itu sekarang sudah dianggap biasa. Liver paling sulit, jawab saya. Sekitar pukul 10.30 saya terima sms dari Jakarta. Seorang teman lama menawarkan agar saya membeli tabloidnya yang mengalami kesulitan. Dia bilang, tabloid itu akan sukses kalau di tangan saya. Saya balas sms itu, agar dia menunggu keputusan saya beberapa minggu lagi. Setengah jam kemudian, teman lama yang lain, juga kirim sms. Isinya: apakah saya berminat mengambil alih koran berbahasa Inggris yang terbit di Jakarta? Saya jawab: saya perlu informasi lebih lengkap, dan dia saya minta kirim email. Tanpa tahu bahwa saya segera memasuki meja operasi yang bisa memakan waktu 12 jam dan entah apa hasilnya, seorang direksi saya di Jakarta menanyakan lewat sms apakah dokumen tender listrik yang disiapkan sudah saya tanda tangani. Sesaat sebelum saya berganti baju dengan baju operasi, saya masih sempat membalas sms itu: tidak perlu saya yang tanda tangan. Saya lantas memberi tahu siapa yang bisa menggantikan tanda tangan saya. Lalu petugas pembawa baju operasi saya datang membuka bungkusan sterilnya.

)!

Banyak Yang Doakan PanjangPanjang, Saya Berdoa Pendek


28 Agustus 2007 PUKUL 12.00 Senin (6/8) siang itu saya sudah diminta melepas baju saya, pertanda waktu operasi sudah akan tiba. Diganti baju kertas biru muda. Kepala saya juga dipasangi topi kertas dengan warna yang sama. Saya pun sudah siap mental segera menuju ruang operasi di lantai 13. Tapi, SMS masih terus mengalir masuk. Teman-teman Jawa Pos, entah siapa yang punya inisiatif, lagi berkumpul di rumah saya di belakang Graha Pena Surabaya. Mereka akan melakukan sembahyang dan doa bersama. Saya segera menelepon Misbahul Huda, Dirut Percetakan Temprina, yang akan menjadi imam pada acara itu. Saya minta suara teleponnya dibesarkan. Agar, semua yang hadir di rumah saya bisa ikut mendengar kata-kata saya. Setelah telepon siap, saya bertanya kepada yang hadir: apakah ada pertanyaan? Saya siap menjawab pertanyaan apa pun, kata saya. Salah seorang di antaranya bertanya apakah saya dalam kondisi siap. Saya jawab, saya siap sekali. Ada yang bertanya, kira-kira operasinya berlangsung berapa jam? Saya jawab sekitar 12 jam. Memang begitulah yang dikatakan dokter kepada saya, berdasarkan pengalaman mereka. Ada lagi beberapa pertanyaan dan harapan yang disampaikan dengan penuh suasana prihatin. Untuk membuat agar suasana mereka tidak sedih, saya tutup pembicaraan saya dengan kata-kata, Sampai jumpa minggu depan. Maksud saya, kira-kira saya perlu waktu satu minggu untuk bisa bicara lagi dengan teman-teman itu: satu hari operasi (pasti saya tidak bisa bicara), tiga hari di ICU (juga pasti belum bisa bicara), dan dua hari memulihkan badan. Genap satu minggu, saya pikir, saya sudah akan bisa bicara lagi. Setelah tidak ada pertanyaan, telepon saya tutup.

*+!

SMS terus mengalir masuk. Dari Madiun menceritakan bahwa keluarga tasawuf sathariyah lagi berkumpul untuk ber-zikir-pidak, yakni mendengungkan kata hu bersama-sama sebanyak 99.000 kali. Tentu dengan sistem borongan. Artinya, kalau yang mengucapkan lebih banyak orang, waktu yang diperlukan tidak perlu teralu lama. Dengungan hu adalah hasil compression (untuk meminjam istilah software komputer) dari kalimat syahadat. Kalau di-decompression, kata hu itu akan menjadi kalimat panjang: aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusam Allah. Mungkin, kalau harus mengucapkan kalimat yang begitu panjang sebanyak 99.000 kali dirasa akan memakan waktu yang lama sekali, sehingga perlu di-compress menjadi satu dengungan hu saja. Siapa menyangka bahwa zikir pun sejak dulu sudah dicompress seperti itu. Tapi, sistem compression zikir seperti inilah yang banyak dikecam aliran tasawuf lain dan terutama oleh kalangan syariah formal. Kalimat syahadat kok dipadatkan, kata mereka. Ini seperti juga Bung Karno yang dikecam telah menyelewengkan kemurnian Pancasila yang dia temukan sendiri. Yakni, ketika Bung Karno meng-compress Pancasila yang panjang itu menjadi satu kata yang simpel dan pas: gotong royong. SMS juga masuk dari teman-teman Kristen dan Katolik. Mereka mengirimkan doa-doa yang saya ketahui diambilkan dari Alkitab. Ibu Eric Samola, istri mendiang Pak Eric Samola, yang dulu punya inisiatif mengambil alih Jawa Pos dari keluarga The Chung Shen, mengirimkan doa paling panjang. Tokoh Buddha Surabaya juga mengirim SMS dan memberitahukan bahwa hari itu berkumpul lebih 1.000 penganut Buddha di shi mian fo (Buddha empat wajah) di Kenjeran. Mereka akan berdoa terus selama saya dioperasi. Karena itu, dia minta dikabari kalau operasi sudah selesai. Kalau tidak, doanya tentu tidak akan dihentikan. Saya berpesan kepada istri agar jangan lupa memberi tahu mereka nanti. Tempat ibadah itu memang saya yang meresmikan beberapa tahun lalu.

**!

Teman-teman dari penganut aliran kebatinan Sapta Dharma juga mengirim SMS, bahwa siang itu 200-an tokohnya berkumpul di Pujon, Malang. Mereka melakukan doa berdasar kepercayaan mereka untuk keberhasilan operasi saya. Demikian juga penganut aliran Sai Baba, mengirimkan doa panjang yang biasa diucapkan Sai Baba di India sana. Pukul 14.00 kurang 15 menit, kereta brankar sudah datang dengan beberapa orang yang berbaju biru muda. Itulah petugas ruang operasi. Saya harus segera berbaring di kereta itu. Sebenarnya saya bisa berjalan sendiri ke ruang operasi. Badan saya sangat sehat. Tapi, peraturan tidak membolehkannya. Saat saya sudah berbaring di kereta, Pak Mustofa, akuntan terkemuka Surabaya, telepon minta bicara. Ternyata, dia lagi makan siang dengan para pengusaha teman saya di Hotel Shangri-La Surabaya. Lalu, saya beri tahu bahwa saya sudah tidak punya waktu bicara. Saya sudah di atas kereta yang siap berangkat ke ruang operasi. Pak Alim Markus, yang rupanya ikut makan siang, memaksa bicara untuk memberi dorongan semangat agar saya kuat memasuki ruang operasi. Alim Markus juga pernah tiba-tiba sakit yang amat membahayakan hidupnya. Tapi, semangatnya untuk sembuh luar biasa. Saya sering mengatakan padanya, semangatnya itulah yang ikut mendorong saya punya semangat yang sama. Istri saya terus komat-kamit. Rupanya berdoa dengan serius. Anak laki-laki saya sibuk memotret. Saudara angkat saya, Mr Guo dan sahabat karib saya Robert Lai dari Singapura, memegangi tangan saya. Kereta pun didorong keluar dari ruang saya di lantai 11 untuk dibawa ke lift naik ke lantai 13. Ketika melewati kamar pasien dari Jepang, dia terlihat mengepalkan tangan ke arah saya, tanda ikut memberi semangat. Tak sampai 5 menit saya sudah tiba di lobi lantai 11, di depan lift yang akan membawa saya ke lantai 13. Ada lima lift di situ. Dua lift ukuran normal, tiga lift ukuran besar untuk mengangkut kereta pasien. Lift terbuka, tombol 13 dipencet, panah naik menyala. Zoom! Tibalah saya di lantai 13.

*"!

Istri, anak, saudara angkat saya, dan Robert Lai mengantar ke lantai 13, tapi hanya bisa sampai di pintu tertentu. Setelah itu semua harus melepaskan tangan dari tubuh saya. Mata istri saya kelihatan sembap. Juga mata Robert Lai. Robert Lai adalah orang yang rajin berpesan kepada siapa pun, agar saat mengantar saya ke lantai 13 nanti, jangan ada yang menangis. Juga jangan ada yang mengeluarkan air mata. Tapi, saya lihat dia sendiri ternyata terisak-isak ketika melepas saya untuk dibawa petugas ke tempat yang dia tidak bisa lagi menyertai saya. Sambil menahan tangis, dia akhirnya berteriak: jia you! tiga kali. Jia artinya tambah. You artinya bensin. Tapi, jia you dalam bahasa Mandarin berarti semangatlah! . Lalu pintu ditutup. Saya tidak bisa lagi melihat istri, anak, Saudara Guo, dan Robert Lai. Tinggal saya dan beberapa petugas yang terus mendorong kereta itu ke ruang operasi. *** Kereta didorong amat cepat. Rupanya saya harus segera tiba di ruang operasi, karena sedikit agak terlambat dari jadwal. Saya amati lorong-lorong apa saja yang dilewati kereta ini. Oh, harus menyeberang ke gedung sebelah, rupanya. Gedung rumah sakit ini memang terdiri atas dua tower, masing-masing berlantai 15. Di lantai 12 sampai 14, ada lorong untuk menyeberang dari gedung kiri ke gedung kanan. Saya akan dioperasi di gedung kanan. Seluruh lantai 13 adalah ruang operasi. Rumah sakit ini, dalam waktu bersamaan, bisa melakukan 30 operasi penggantian organ. Mulai ganti ginjal, mata, jantung sampai ganti liver seperti saya. Dalam perjalanan sepanjang lorong-lorong itu saya menyadari bahwa saya tadi belum sempat berdoa. Saya harus berdoa. Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. Tapi, segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia sendiri malas berusaha? Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya ! *#!

berdoa. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku? Karena itu, saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. Saya tidak mau serakah. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan, kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: otak? Maka saya putuskan akan berdoa se-simple mungkin. Tapi, masih ada pertanyaan yang tiba-tiba muncul. Apakah saya harus berdoa dengan biasa saja atau harus sampai menangis? Kalau doa itu saya sampaikan biasa-biasa saja, apakah Tuhan melihat saya sedang serius memintanya? Tapi, kalau harus saya ucapkan sampai menangis dan mengiba-iba, apakah Tuhan tidak akan menilai begini: lihat tuh Dahlan. Kalau sudah dalam posisi sulit saja dia merengek-rengek setengah mati. Tapi, nanti akan lupa kalau sudah dalam keadaan gembira! Saya tidak ingin Tuhan memberikan penilaian seperti itu. Apalagi, saya juga tahu bahwa sistem file di kerajaan Tuhan tidak membedakan doa yang dikirim secara biasa, secara khusus maupun secara tangismenangis. Tuhan punya sistem file-Nya sendiri, entah seperti apa. Waktu terus berjalan. Perdebatan di hati saya belum selesai. Padahal, kereta sudah hampir sampai di ruang operasi. Akhirnya saya putuskan berdoa menurut keyakinan saya. Satu doa yang pendek dan mencerminkan kepribadian saya sendiri: Tuhan, terserah engkau sajalah! Terjadilah yang harus terjadi. Kalau saya harus mati, matikanlah. Kalau saya harus hidup, hidupkanlah! Selesai. Perasaan saya tiba-tiba lega sekali. Plong. Kereta pun tiba di depan ruang operasi.

*$!

Sudah Tiga Jam Dimatikan, Belum Juga Di-Garap


29 Agustus 2007 Ketika memasuki ruang operasi, saya tertegun. Ruangnya sangat bersih, kinclong (karena didominasi stainless steel), dan modern. Begitu masuk, yang terdengar adalah musik soft-rock berbahasa Mandarin yang lagi digemari anak muda sekarang. Belakangan saya tahu judul lagu tersebut adalah Mei Fei Se Wu yang artinya bulu mata menari- nari, yang dibawakan oleh penyanyi top Hongkong Zheng Xiu Wen. Suara musik itu cukup keras sehingga suasananya ingar-bingar. Rupanya, sambil menunggu kedatangan saya, beberapa petugas muda menyenangi lagu itu. Suasananya pun menjadi seperti di sebuah disko, bukan seperti di sebuah tempat yang menyeramkan. Mata saya terus beredar dari dinding ke dinding. Dari alat ke alat. Saya ingin tahu apa saja yang ada di ruang itu agar, kalau operasi berhasil, saya bisa menuliskan deskripsinya secara baik. Dokter belum pada datang, karena memang pada tahap ini semua pekerjaan masih urusan perawat. Beberapa perawat membicarakan saya. Ini orang asing, kita harus pakai bahasa apa? ujar salah seorang di antara mereka. Dia orang Indonesia, tapi bisa berbahasa Mandarin, jawab yang lain. Maka saya sela pembicaraan mereka: Ya, saya bisa bahasa Mandarin sedikitsedikit. Mereka merasa lega, lalu memberikan beberapa perintah mengenai posisi badan saya. Harus bergeser sini dikit dan harus naik sedikit. Lalu, lengan saya diperiksa seperti akan memasang selang. Melihat tangan saya sudah dipasangi selang selama 3 bulan lebih, perawat memutuskan tidak mau pakai itu. Maka, dia minta lengan kanan saya dimasuki jarum untuk memasukkan beberapa zat kimia ke badan saya.

*%!

Musik soft-rock masih terus ingar-bingar. Beberapa perawat mengikuti suara musik itu dengan suara mulutnya tanpa kata-kata. Rupanya dia sangat menikmati lagu itu. Perawat yang lain mulai memasukkan cairan tertentu ke lengan saya. Hanya dalam beberapa saat, saya tidak lagi mendengar suara musik itu. Juga tidak mendengar apa-apa lagi. Saya sudah dimatikan untuk persiapan operasi. Saya baru akan dihidupkan lagi, nanti, 18 jam kemudian. *** Sejak saya masuk ruang operasi pukul 14.00, istri, anak, dan sahabat saya Robert Lai kembali ke kamar saya di lantai 11. Tepatnya kamar 1102. Di kamar ini mereka menantikan perkembangan operasi saya. Perawat akan selalu mengabarkan apa pun yang terjadi di ruang operasi. Sementara menunggu kabar, Robert yang sudah 11 bulan menemani saya ke mana pun pergi memutuskan untuk membersihkan kamar saya. Rumah sakit ini, terutama gedung baru ini, memang sudah sangat bersih. Tapi, Robert ingin kamar saya lebih bersih lagi. Tidak boleh ada virus atau sumber virus yang akan membahayakan pascaoperasi saya. Sudah diketahui bahwa virus pascaoperasi adalah pembunuh paling utama bagi pasien yang baru melakukan transplantasi organ. Rumah sakit juga sudah memberi kami buku panduan mengenai bagaimana menjaga agar tidak terkena virus. Buku itu berbahasa Mandarin, lalu kami terjemahkan ke dalam bahasa Inggris agar seluruh keluarga saya memahami isinya. Penerjemahan ini sangat bermanfaat karena banyak sekali pasien dari negaranegara Arab dan Pakistan yang kemudian minta kopinya kepada kami. Kamar saya di lantai 11 terdiri atas dua ruang. Ada ruang tidur pasien dengan kamar mandi khusus dan ruang pakaian. Lalu, ada satu ruang tamu yang besar di sebelahnya. Di ruang tamu ini ada satu set TV besar, dispenser air mineral, satu set sofa, lemari es besar, dan satu set dapur kering. Di dapur kering ini ada microwave, rice cooker, water boiler, dan keran panas dingin. Di ruang tamu ini ada kamar mandi dan toiletnya. Istri saya tidur di ruang ini. Yakni, di sebuah kursi yang kalau siang bisa untuk menambah kapasitas sofa, tapi ! *&!

kalau malam bisa dipanjangkan menjadi tempat tidur biasa. Di belakang sofa, ada satu meja makan dari kaca besar untuk makan bersama. Tapi, kami tidak makan di situ. Meja ini saya pakai untuk kantor dalam pengasingan. Kami pasang komputer, laptop, printer, dan internet. Saya memang dapat menggunakan internet kecepatan tinggi di ruang saya ini. Dari kamar inilah saya bisa membaca semua laporan perusahaan, mengirim dan menjawab e-mail, dan tak jarang juga mengadakan rapat. Terutama rapat dengan partner-partner usaha yang dari Tiongkok. Misalnya, saya harus panggil partner yang membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Kalimantan untuk mencari jalan agar proyek selesai sesuai dengan jadwal. Sebab, krisis listrik di daerah itu sudah tidak ketulungan. Di dinding-dinding kamar tamu yang kosong, lantas saya pasangi asesori. Dinding sebelah kanan saya tempeli peta Tiongkok yang besar sehingga mudah bagi saya untuk melihat negara ini secara keseluruhan. Di dinding satunya saya pasang peta Indoensia. Lalu, di belakang meja besar saya pasangi white board. Bukan saja untuk rapat, juga untuk saya pakai belajar bahasa Mandarin. Sambil menunggu giliran operasi yang tidak menentu waktunya, saya memang memutuskan untuk meneruskan belajar bahasa Mandarin. Sehari empat jam: pagi dua jam, sore dua jam. Saya mendatangkan guru dari IKIP di kota ini. Tiga orang guru secara bergantian mengajari saya bahasa Mandarin. Saya juga beli proyektor yang saya hubungkan dengan laptop yang softwarenya Mandarin. Ini saya pakai untuk latihan menulis cerita dalam bahasa dan tulisan Mandarin. Lalu, dari kursi di sebelah saya, guru saya tinggal melihat sorotan proyektor. Lalu, memberikan koreksi mana yang saya salah dalam menggunakan kata-kata, atau salah memilih huruf. Sampai sehari sebelum operasi saya masih masuk kelas, seperti besok tidak akan terjadi apa-apa. Ada juga sedikit tebersit perasaan, untuk apa ya saya susahsusah belajar begini. Toh, kalau operasi gagal, besok saya sudah tidak akan bisa lagi memanfaatkan hasil belajar saya ini. Malaikat toh akan bertanya kepada saya di akhirat sana dengan (eh, pakai bahasa apa, ya?) bahasa malaikat sendiri. ! *'!

Tapi, ketika saya berada di ruang operasi, semua peralatan yang ada di kamar ini dibersihkan. Buku- buku, koran-koran, dan kertas-kertas yang selama ini di mana-mana diangkut ke apartemen. Semua kursi dan meja dicuci. Tempat tidur saya lebih-lebih lagi, disterilkan. Lantainya menjadi mengilap. Bersih dan kinclong. Dua jam setelah operasi bersih-bersih itu, perawat masuk memberikan kabar bahwa sampai menjelang pukul 17.00 itu saya belum dioperasi. Hah? gumam Robert seperti tidak percaya. Berarti sudah hampir tiga jam saya di ruang operasi dan sudah dalam keadaan dimatikan, tapi belum juga di- garap. Livernya baru akan datang sekitar pukul 17.00, ujar perawat itu.

*(!

Tunggu Operasi, Suasana seperti Siaran Langsung Sepak Bola


30 Agustus 2007 Setelah diberi tahu bahwa liver yang akan dipasangkan di dalam tubuh saya ternyata baru akan tiba sekitar pukul 17.00, Robert Lai terperangah. Tiwas kita sudah tegang selama tiga jam. Ternyata belum diapa-apakan, katanya. Robert lantas menerjemahkan informasi dalam bahasa Mandarin itu kepada istri dan anak saya. Berarti, baru 10 menit lagi livernya tiba? tanya istri saya sambil melihat ke jam dinding. Dia lantas memperhatikan pintu masuk rumah sakit dari lantai 11, dari dalam kamar saya. Istri saya ingin melihat masuknya ambulans yang mungkin membawa liver yang akan dipasangkan ke dalam tubuh saya. Dia punya khayalan, bahwa kalau ada suara nguing...nguing... masuk ke rumah sakit, pastilah itu suara ambulans yang membawa liver. Dari ruang tamu di kamar saya itu, siapa pun memang bisa melihat apa yang terjadi di luar sana. Dinding kamar tersebut terbuat dari kaca. Di seberang kamar itu terlihat gedung pertama rumah sakit yang tingginya 17 lantai. Bangunannya dari luar mirip hotel. Di atas gedung itu, di bagian tengahnya, terdapat tambahan tiga lantai bulat. Lantai paling atas rata. Di situlah helikopter yang membawa pasien darurat atau helikopter yang membawa liver yang urgen mendarat. Istri saya juga memperhatikan puncak gedung tersebut, siapa tahu livernya dibawa dengan helikopter. Dari kamar itu juga terlihat simpang susun jalan layang yang melingkarlingkar di depan rumah sakit. Lalu, terlihat juga pemandangan sungai yang bersih yang dipakai untuk arena mainan anak-anak serta keluarga. Dari kamar tersebut,

*)!

kalau Sabtu dan Minggu malam, sering bisa melihat pemandangan indah. Yakni, mengudaranya kembang api berjam-jam di berbagai tempat. Itu pertanda malam tersebut banyak pesta perkawinan. Kalau sudah ada pesta kembang api seperti itu, kami biasanya mematikan lampu kamar, agar warnawarni kembang apinya lebih jelas. Istri saya kali ini tidak memperhatikan semua itu. Dia lebih memfokuskan perhatian ke bawah, melihat keluar masuknya ambulans di pintu gerbang depan sana. Dia mengira salah satu ambulans yang masuk pada jam-jam itu pastilah yang membawa liver yang akan menggantikan liver saya yang sudah rusak. Anak lelaki saya, katanya, jam-jam itu sibuk membalas SMS yang masuk. Semua seperti tidak sabar menanyakan perkembangan operasi saya. Tentu mereka tidak diberi tahu bahwa operasinya belum jadi dilaksanakan pada pukul 14.00. Mereka hanya diberi jawaban Belum ada kabar baru dari kamar operasi. Lamanya tidak ada kabar baru itu rupanya semakin membuat temanteman di Indonesia kian tegang. Ketegangan selama menunggu berlangsungnya operasi digambarkan oleh Yoto, Dirut grup anak perusahaan Jawa Pos di Papua, seperti ini: Kami tiap 10 menit SMS ke Mas Azrul (Posko di Tiongkok) atau ke Mbak Nany Wijaya (Posko di Surabaya). Kami seperti sedang mendengarkan siaran langsung sepak bola lewat radio, tapi dalam keadaan musuh selalu mengancam ke gawang kita! Semua itu saya nilai wajar karena operasi penggantian liver tidaklah gampang. Apalagi, kegagalan transplantasi liver di Tiongkok yang dialami tokoh seperti Nurcholish Madjid mendapat pemberitaan yang sangat besar. Kegagalan tersebut, dan kengeriannya, seperti baru terjadi beberapa minggu lalu. Kabar pertama dari ruang operasi masuk pukul 22.00. Kita diminta naik ke lantai 13. Kepada kita akan ditunjukkan sesuatu, kata Robert kepada istri dan anak saya dalam bahasa Melayu yang agak sulit dimengerti. Go! tambahnya. Maka, Robert, istri, anak, dan saudara angkat Guo naik lift ke lantai 13. Mereka menunggu di depan lift untuk menerima instruksi berikutnya. Tak lama kemudian, pintu lorong tempat saya dimasukkan menuju ruang operasi sore tadi ! "+!

terbuka. Sejumlah dokter membawa barang berdarah dan meletakkannya di lantai. Ini liver bapak yang sudah kami keluarkan, kata seorang dokter. Melihat barang tersebut, istri saya langsung lemas dan terduduk. Sesaat kemudian, dia bersujud di dekat seonggok daging berdarah itu. Anak saya memotretnya dari berbagai sudut. Waktu bersujud itu, Anda mengucapkan doa apa? tanya saya beberapa hari kemudian. Doa apa saja yang bisa saya ucapkan, ungkapnya. Lalu, dokter menjelaskan bagaimana keadaan liver saya yang sudah dikeluarkan itu. Digulang- gulingkannya. Lalu, menyayat-nyayatkan pisau di beberapa tempat untuk melihat dalamnya. Masya Allah, kata anak saya. Seperti daging yang dipanggang kematangan, ujarnya. Liver itu sudah begitu rusaknya. Dokter lantas mengiris lagi bagian lain. Dibenggangkannya irisan itu dengan jarinya yang masih terbungkus sarung karet. Itu lihat. Ada kanker di dalamnya, kata dokter sambil jarinya menuding ke arah benda yang dimaksud. Jepret, anak saya memotret lagi bagian itu. Liver lama tersebut memang tidak boleh dibawa. Hanya boleh difoto. Mengapa? Liver itu masih akan dimasukkan ke laboratorium untuk dianalisis lagi lebih teliti. Bukan hanya mengenai apa saja yang ada di dalamnya, melainkan juga untuk melihat sudah ada berapa kanker yang muncul. Dan, yang lebih penting, apakah kankernya telanjur menyebar atau tidak. Sebab, menurut hasil MRI sebelumnya, di dalam liver saya sudah ada tiga kanker yang besar (ukuran 6 cm, 4 cm, dan 2 cm). Lalu, masih ada dua lagi calon kanker baru. Dan, tentu mungkin masih akan terlihat anak-anak dan cucu-cucunya. Tapi, bagaimana persisnya keadaan liver lama saya itu, masih harus menunggu hasil penelitian. Kami baru akan diberi tahu sekitar seminggu kemudian. Liver ini kami bawa kembali, ujar dokter sambil kembali membungkusnya. Pintu ditutup lagi, para dokter meneruskan lagi pekerjaannya, menyelesaikan operasi terhadap saya.

"*!

Pukul 24.00, berita berikutnya disampaikan. Operasi sudah selesai. Pak Yu Shi Gan (baca: i-se-kan) akan segera dibawa ke ICU untuk menunggu siuman di sana, jelas seorang dokter kepada Robert. Pukul berapa akan siuman? kata Robert. Kira-kira 6 jam lagi, ujar dokter. Itu berarti saya baru akan siuman sekitar pukul 07.00 keesokan harinya. Keluaga saya sudah lebih tenang. Demikian pula dengan seluruh rekan yang memonitor perkembangan operasi dari Aceh sampai Papua. Dari foto mereka ketika mendengarkan penjelasan itu, terlihat jelas bahwa wajah-wajah mereka sudah tidak tegang. Bahkan sudah tersenyum-senyum. Semua disampaikan anak saya kepada teman-teman yang menanyakan perkembangan operasi saya. Suatu berita yang menggembirakan. Suasananya lantas seperti mendengar siaran radio pertandingan sepak bola, di mana lawan sudah tidak memborbardir gawang kita lagi. Bahkan, sepertinya pemain kita anti menyerang terus. Kita lantas seperti sedang menantikan terjadinya gol- gol ke gawang lawan, tulis Yoto di SMS-nya dari Papua. Keluarga di Samarinda, Madiun, dan Surabaya diberi tahu perkembangan itu. Kabar selesainya operasi juga dikirim ke umat Buddha yang terus bersemedi di Kenjeran, Surabaya. Diteruskan juga ke warga Sapto Dharmo di Pujon. Mereka sudah bisa menghentikan peribadatannya. Malam itu, istri dan anak saya langsung bisa tidur. Robert kembali ke apartemen. Saudara ketiga Guo pulang ke rumahnya. Saya tergolek menunggu siuman di ruang ICU di lantai 12. Di situlah berbagai jenis kabel dan selang menempel dan menancap di tubuh saya, seperti untuk sementara menggantikan nyawa saya.

""!

Begitu Sadar, Teriak Saya Hidup, tapi Tak Terucap


31 Agustus 2007 Begitu Sadar, Teriak Saya Hidup, tapi Tak Terucap Suasana orang yang lagi mau siuman selalu saja begini: Mula-mula terdengar dulu pembicaraan orang-orang yang berada di sekitar kita. Tapi, mata tidak mau membuka. Seperti orang yang ngantuknya luar biasa. Apalagi seperti saya, yang baru saja dibius selama 18 jam. Suara-suara itu tambah lama tambah jelas. Ingin sekali mata melihat siapa saja yang bersuara itu, tapi tetap saja tidak punya kemampuan membuka kelopak mata sendiri. Sesaat kemudian, napas terasa sesak. Seperti orang yang lagi kekurangan oksigen. Perasaan lantas seperti setengah berharap, setengah putus asa. Berharap karena ternyata masih bisa bernapas, putus asa karena jumlah oksigen kok seperti tidak segera cukup dan seperti mengancam kehidupan. Rasanya kok seperti mau mati karena kekurangan udara. Saya yang sudah pengalaman beberapa kali dibius (meski dulu tidak sampai 18 jam seperti saat penggantian liver kali ini), sadar bahwa saya ini sedang dalam proses dari tidak sadar ke sadar. Saya yakin bahwa saya segera mengatasi persoalan sesak napas itu. Tapi, kok sulit sekali ya? Maka, saya tetap berusaha sekuat tenaga. Saya lantas memberikan isyarat kepada perawat dengan tangan saya. Antara sadar dan tidak, saya coba menggerakkan jari-jari tangan saya seperti sedang memutar keran. Maksud saya, ini permintaan agar keran oksigen diperbesar. Tapi, mungkin perawat tidak melihat isyarat di tangan saya. Saya gerakgerakkan terus jari-jari saya dengan gerakan seperti memutar keran. Mungkin juga yang terjadi sebenarnya tidak seperti itu. Perasaan saya saja bahwa saya sedang menggerak-gerakkan jari, tapi sebenarnya tidak ada jari yang bergerak sama sekali.

"#!

Bahkan, sebenarnya, barangkali juga tidak ada oksigen yang dialirkan ke hidung saya. Begitulah kalau sadar dan tidak sadar bercampur jadi satu. Lama-lama, rasa sesak itu berkurang. Lalu, menjadi lega. Napas bisa ditarik dengan normal seperti biasa. Mata pun lama-lama bisa membuka. Agak berat memang, tapi ingin sekali membuka mata sebentar agar bisa melihat sekeliling. Kelihatanlah samar-samar bahwa saya sedang di ICU. Di ruang perawatan khusus setelah menjalani penggantian liver. Kesadaran ini datang tujuh jam setelah operasi. Saya hidup, komentar spontan yang muncul, tapi tak terucapkan. Saya hidup. Operasi tidak gagal. Saya hidup. Tentu saya amat bersyukur. Tapi, syukur saya tidak sampai mengabaikan rasa hormat saya kepada mereka yang telah belajar keras di universitas dan menggunakan akalnya secara sungguh-sungguh hingga melahirkan ilmu pengetahuan yang sangat maju. Saya bersyukur kepada Tuhan sekaligus hormat kepada ilmuwan. Setelah senang karena masih hidup, barulah saya sadar bahwa begitu banyak instrumen yang ada di sekitar tempat saya berbaring. Kabel-kabel, selang-selang, dan saluran infus seperti bertaut-tautan. Suara tat-tit-tat-tit dari mesin-mesin elektronik di sekitar saya mendominasi pendengaran saya. Rasa-rasa tidak enak mulai muncul satu per satu. Mula-mula rasa dada penuh dengan cairan lendir. Cairan itu harus segera bisa keluar sebagai dahak. Kalau tidak, akan membahayakan paru-paru. Begitulah bunyi petunjuk yang saya baca sebelum operasi. Untuk mengeluarkan lendir itu, saya harus berbuat seperti membatukkan diri keras-keras. Cara demikian juga saya ketahui dari buku petunjuk. Bahkan, sejak beberapa hari sebelum operasi, perawat sudah melatih cara berbatuk yang bisa mengeluarkan dahak. Waktu latihan, saya meraskan tidak ada kesulitan. Apa sih sulitnya batuk? kata saya dalam hati. Uhuk! Uhuk! Selesai. Perawat menyatakan saya berhasil menjalani latihan dengan tingkat kelulusan summa cum laude.

"$!

Tapi, latihan dan kenyataan ternyata sangat berbeda. Dalam praktik, ternyata saya sulit sekali lulus. Sudah saya usahakan batuk semirip-miripnya batuk waktu summa cum laude, tapi tidak juga berhasil. Sebagian mungkin karena saat itu saya sudah tidak lagi punya tenaga sebaik saat latihan. Setelah hampir dua hari tidak ada makanan apa pun yang masuk ke perut, tenaga pun rupanya ikut hilang. Namun, saya juga takut akan bahaya dahak itu terhadap paru-paru. Saya berusaha terus membatukkan diri. Sebatuk-batuknya. Akhirnya broll! Dahak yang amat banyak bisa keluar. Napas terasa amat lega. Ketika saya tanya mengapa begitu sulit saya mengeluarkan dahak itu, perawat mengatakan bahwa itu normal saja. Apakah saya terlalu meremehkan saat latihan? tanya saya. Tidak, kata perawat. Saya tahu, itu hanya untuk menyenangkan hati saya. Bagi perokok lebih sulit lagi mengeluarkan dahak itu, ujar perawat lebih lanjut. Meski sudah berhasil mendapatkan dua jenis kelegaan (bisa bernapas normal dan bisa mengeluarkan dahak dalam jumlah besar), tapi masih banyak yang membuat badan saya sangat tidak nyaman. Karena di lubang hidung masih ada dua selang yang dimasukkan sampai ke perut saya. Dalam dunia kedokteran, kedua selang itu dikenal dengan sebutan sonde. Dua selang kecil itu punya tugas sendiri-sendiri. Yang satu untuk membuang sisa makanan dari lambung saya. Yang lain untuk mengirimkan makanan langsung ke usus saya. Mengapa langsung ke usus? Sebab, pertama, saya belum bisa makan sendiri. Kedua, karena pembuluh darah di esofagus (jalan makan yang menghubungkan mulut dengan lambung), peritonium (selaput dinding perut), dan usus saya masih rawan pecah sehingga perlu dilindungi. Ketiga, karena liver baru saya belum bisa cari makan sendiri. Sehingga perlu ada yang mencarikan. Selain itu, masih ada empat selang lain yang menancap di leher saya. Satu selang masuk lewat lubang yang sengaja dibuat di bagian depan leher. Tiga lainnya masuk lewat pembuluh darah besar di leher kanan.

"%!

Satu selang yang dimasukkan lewat leher depan -di antara tulang belikatgunanya untuk mengalirkan napas bantuan dan membersihkan kelebihan lendir di paru-paru (broncho toilet). Saya diberi napas bantuan karena sampai beberapa jam pascaoperasi, saya kan belum bisa bernapas sendiri. Sehingga perlu dibantu. Agar bantuan itu bisa cepat sampai ke paru-paru, maka diambillah jalan pintas, yakni lewat tenggorokan. Dan karena belum bisa bernapas sendiri, maka sisa lendir di paru-paru pun tidak bisa saya keluarkan sendiri dengan cara batuk atau berdahak, seperti yang sudah diajarkan perawat. Sedangkan tiga selang lainnya masuk lewat pembuluh darah besar, yang dalam istilah kedokteran disebut dengan tri lumen atau central IV (baca : ai vi) line. Gunanya untuk mengalirkan semacam infus yang mengandung protein dan kalori tinggi. Infus jenis ini memang harus lewat pembuluh darah besar, tidak boleh lewat pembuluh darah di tangan seperti biasanya orang diinfus. Sebab, konsentrasinya sangat tinggi sehingga bisa merusak dinding pembuluh yang dilewati. Dinding pembuluh darah utama yang leher lebih kuat sehingga cukup kuat untuk dilewati infus jenis ini meski sampai tiga bulan secara terus-menerus. Fungsi lain tri lumen adalah untuk memasukkan obat-obat injeksi yang harus lewat pembuluh darah dan mengambil sampel darah. Dengan begitu, bila perawat ingin mengambil sampel darah atau menyuntikkan obat, tak perlu lagi dengan menusuk-nusuk tangan saya. Yang lebih istimewa dari tri lumen adalah bisa untuk memonitor kadar air dalam tubuh (central venus pressure=CVP). Sebab, salah satu ujung tri lumen bisa dihubungkan dengan alat monitor yang bisa menunjukkan perubahan kadar air di tubuh saya setiap menit, secara otomatis. Bahwa di tangan saya masih ada semacam pentil yang biasa dihubungkan dengan selang infus, itu bukan disiapkan untuk cairan infus atau injeksi. Melainkan untuk transfusi (tambah darah) bila diperlukan. Ketidaknyamanan lain yang saya rasakan saat itu adalah adanya alat pengukur tekanan darah yang dipasang di lengan kiri. Alat itu secara otomatis akan ! "&!

mencengkeram lengan saya sangat kuat setiap setengah jam sekali. Angka-angka tekanan darah otomatis keluar di layar monitor. Itu belum semuanya. Karena masih ada sejumlah alat dan kabel yang ditempelkan di dada kiri dan kanan untuk mengecek denyut jantung. Kabel itu juga terhubung dengan layar monitor. Ujung jari tangan dan kaki juga dijepit dengan alat yang dihubungkan dengan kabel ke layar yang lain lagi. Lengan kanan saya juga sedang dipasang jarum untuk mengalirkan berbagai jenis infus. Ujung selang infus itu bercabang-cabang karena lima macam cairan dari botol yang berbeda harus mengalir ke tubuh saya lewat satu jarum tersebut. Melihat keruwetan di sekitar tubuh saya, saya mencoba untuk tidak merasa terganggu. Saya berusaha tidak memikirkan itu. Saya justru teringat humornya rekan Zainal Muttaqien, Dirut anak perusahan di Grup Kalimantan yang kini jadi direktur Jawa Pos. Yakni mengenai susah payahnya seseorang untuk menyelamatkan hidup (mungkin seperti saya ini), tapi meninggal oleh penyebab yang amat sepele. Jangan sampai nanti meninggalnya justru hanya gara-gara kejatuhan singkong di jalan raya. Apa kejatuhan singkong di jalan raya bisa membuat orang sampai meninggal? Lha singkongnya satu truk. Lalu, truknya nabrak kita! Humor khas orang Surabaya. Humor ludrukan. Tapi, itu bisa mengalihkan perhatian saya dari rasa ruwet dibeliti selang dan kabel. Setidaknya untuk sementara. *** Pagi tanggal 7 Agustus 2007 itu, sebenarnya, saya ingin menghitung berapa banyak selang, botol, dan kabel yang saling berhubungan di tubuh saya. Ini agar saya bisa menggambarkannya dengan baik kalau kelak harus menuliskannya untuk pembaca. Namun, kesadaran saya dan tenaga saya tidak terlalu komplet pagi itu. Orang yang baru siuman setelah dibius selama 18 jam tidak memiliki tingkat konsentrasi yang sempurna. ! "'!

Bahkan, saya tidak sepenuhnya mengerti apakah ketika saya mulai sadar itu, waktunya sudah siang atau masih malam. Lama sekali saya menebak-nebak: siangkah ini? Malamkah ini? Memang suasana ruang ICU sangat terang. Tapi, saya ragu apakah itu terangnya matahari atau terangnya lampu? Saya berusaha melihat jauh ke dinding, ke arah jam besar dipasang. Tapi, pandangan saya lamur. Pertama, sedang tidak menggunakan kacamata. Kedua, ya memang saya belum sepenuhnya punya kemampuan normal. Ingin sekali saya berusaha mengalihkan pandangan ke kiri atau ke kanan, namun tidak bisa. Saya tidak mungkin bisa menoleh karena begitu banyak selang di leher. Apalagi kalau harus mendongakkan kepala untuk melihat sumber terang di belakang kepala saya. Tidak mungkin. Maka, saya tidak tahu apakah terang di balik kepala itu karena dinding kaca atau karena ada lampu yang dipasang di situ. Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui situasi waktu, ya hanya dengan melihat jam di dinding sana itu. Tapi, sulit sekali untuk bisa melihat dengan jelas. Kelopak mata berat sekali. Hanya secara timbul tenggelam saya melihat secara kabur bahwa itu seperti jam 11.00-an. Tapi 11 malam atau 11 siang, saya sungguh ragu dengan kemampuan saya memperkirakan. Ketika saya lihat ada perawat mendekat, saya bertanya, Ji dian? Jawabnya, Jam sembilan. Lalu, saya tanya lagi, Wan shang, hai shi shang wu? Dia jawab, jam sembilan siang! Tahulah saya bahwa saat itu sudah pagi hari. Berarti sudah satu malam saya tidak sadar sama sekali. Dan tahulah saya bahwa pandangan saya benar-benar gak sempurna. Jarum yang menunjuk jam 9 saya kira menunjuk angka 11.

"(!

Tahan Tak Bergerak 24 Jam di ICU karena Terbiasa 12 Jam di Jawa Pos
1 September 2007 SATU jam setelah sadar, saya melihat anak lelaki dan istri saya mendekat. Oh, ini jam besuk ke ICU. Memang hanya dua orang dari pihak keluarga yang boleh masuk ICU. Kecuali orang asing yang memerlukan penerjemah, maka ditambah satu penerjemah. Saya segera melambaikan tangan ke arah istri dan anak saya. Saya berusaha untuk tersenyum sebagai ganti kata-kata bahwa saya baik-baik saja. Saya memang tidak bisa omong jelas karena banyaknya selang di tenggorokan. Kalau saya paksakan omong, bisa jadi tenggorokan saya akan terluka dan itu akan menyulitkan diri saya sendiri akhirnya. Anak saya menceritakan apa yang sedang terjadi dan apa yang mereka lakukan malam sebelumnya. Juga menyampaikan daftar nama yang mengirim salam dan memberikan dukungan batin lewat SMS. Misalnya, informasi bahwa malam itu santri Pondok Langitan berdoa bersama dipimpin langsung oleh Gus Dulloh dan Gus Maksum, putra Kiai Faqih. Juga dari Panti Asuhan Yatim Piatu Zainudin, Baluran, Sepanjang. Istri saya diam saja seperti tertegun melihat ruwetnya jaringan kabel dan selang di sekitar badan saya. Setelah memotret-motret secukupnya, mereka pamit. Tinggal saya sendiri lagi menghadapi ketidaknyamanan keadaan. Tapi, saya sadar sepenuhnya memang begitulah pascaoperasi. Saya tidak mengeluh. Bagian ini juga harus saya jalani dan saya lewati sebagaimana saya harus menjalani dan melewati proses pembiusan, pembukaan rongga dada, pembuangan liver lama, dan pemasangan liver baru. Ini bukan operasi kecil. Ini operasi besaaar! Kalau setelah operasi ada rasa sakit, pastilah demikian. Maka, saya nikmati saja proses ini. Mengeluh hanya akan menambah penderitaan.

")!

Yang berat adalah menahan diri untuk tidak menggerakkan badan sama sekali. Apalagi harus selama 24 jam. Ini agar luka-luka akibat operasi dan penyambungan pembuluh darah di liver tidak terganggu. Saya sudah bertekad bagian ini pun harus bisa saya lewati dengan baik. Bahwa akan amat penat, ya itu sudah risikonya. Saya anggap saja sebagai yoga yang panjang. Atau sebagai bagian dari zikir-pidak di tarekat Sathariyah. Kalau saya bergerak untuk tujuan mengenakkan badan sesaat, akibatnya bisa berupa penderitaan yang panjang. Saya pernah menjalani dua operasi sebelumnya. Dua-duanya mengharuskan saya, kalau bisa, tidak bergerak selama delapan jam. Saya berhasil menjalani itu dulu. Maka, kalau kali ini saya harus tidak bergerak selama 24 jam pun, saya merasa akan mampu melakukannya. Dan, ternyata memang bisa. Penatnya bukan main, tapi itulah bagian yang harus dijalani untuk sukses. Saat mulai membangun Jawa Pos dulu, tiap malam saya harus berdiri di ruang layout lebih dari 12 jam. Tiap malam. Tujuh hari seminggu. 30 hari sebulan. 360 hari setahun. Kali ini saya juga harus mampu memenuhi persyaratan untuk tidak bergerak selama 24 jam! Sejak kecil pun, saya sudah belajar tahan menderita. Bukan saja oleh kemiskinan, tapi juga oleh kerasnya sikap bapak saya. Misalnya, bapak melarang saya untuk belajar naik sepeda. Mengapa? Kalau sepeda itu rusak, bagaimana kita bisa menggantinya? katanya. Karena itu, sampai kelas tiga SMA (aliyah), saya belum bisa naik sepeda. Saya harus sekolah sejauh 6 km dengan jalan kaki. Satu jam berangkat dan satu jam pulang. Kadang, kalau lagi ada pelajaran bahasa Inggris hari itu, saya tetap berangkat dari rumah, namun belok ke sungai di tengah jalan. Saya cari ikan karena takut dengan guru bahasa Inggris. Lama-lama, tiap pelajaran bahasa Inggris, saya berada di sungai. Akibatnya, saya tidak naik dari kelas 1 ke kelas 2. Rapor saya merah semua, kecuali ilmu bumi yang mendapat angka enam. Bapak marah besar. Saya juga merasa bersalah kepada kakak saya yang telah meninggalkan gajinya untuk saya dan adik saya. Sejak itu, saya kelihatan agak pinter di kelas. Bahkan, kemudian

#+!

sering jadi ketua berbagai kegiatan. Juga sering ditunjuk sebagai inspektur upacara pada tiap Senin. Tapi, cita-cita saya bukan itu. Cita-cita saya adalah bagaimana agar punya sepatu. Sampai kelas 2 SMA, saya belum punya sepatu. Tiap hari ke sekolah dengan telanjang kaki. Maka, ketika kelas 3 SMA, saya bisa beli sepatu (sepatu kets bekas yang ujung jempolnya sudah bolong dan bagian tumitnya sudah berserabut), saya hemat benar pemakaiannya. Hanya tiap Senin sepatu itu saya pakai. Maka, jadilah saya inspektur upacara dengan sepatu di kaki. Banggakah saya? Ternyata tidak. Karena dalam hati saya tersiksa. Sepatu itu menimbulkan rasa tidak nyaman yang hebat, bahkan menimbulkan luka. Karena itu, saya hanya tersenyum ketika melihat anak saya mempunyai sepatu sampai lebih dari 300 dan semuanya branded alias bermerek. Dia memang hobi mengoleksi sepatu. Kalau beli sepatu, dia tidak ingin kotak dan labelnya dibuang. Dia juga tidak pakai sepatu itu. Hanya dia jejer di lantai rumah, untuk dipandang setiap hari. Begitu penuhnya sehingga istrinya suatu saat bilang kepada saya, Sampai jalan masuk ke kamar tinggal satu galengan (pematang). Saya juga pernah dipukuli bapak dengan sapu. Mula-mula, saya menangis. Tapi, saya pikir tidak ada gunanya. Saya diam dan menikmati pukulan itu. Sambil merasa memang saya bersalah. Ternyata, bapak malah menghentikan pukulannya. Ini gara-gara saya sering menggunakan alat-alat pertukangannya untuk ndalang. Bapak sangat sayang pada alat pertukangannya. Kalau tidak lagi ada orang yang minta memperbaiki rumahnya, ayah menggosok-gosok alat-alat itu sampai tajam. Namun, suatu hari, anak-anak pasah itu (alat untuk menghaluskan kayu) saya gandeng-gandeng, dalam posisi menumpuk. Kalau disentuh, akan timbul bunyi crek-crek. Satu bunyi yang penting dalam memainkan wayang. Kecrek itulah, yang saya pasang di kotak kayu. Saya duduk mendalang di sebelahnya. Kaki saya dalam posisi akan sering menyentuh kecrek tersebut sehingga bisa menimbulkan bunyi crek-crek. Begitulah, kelirnya terbuat dari sarung saya. Gamelannya adalah mulut beberapa teman sepermainan. Wayangnya terbuat dari rumput. Dan, kecreknya dari alat pertukangan ayah. ! #*!

Ayah bukan hanya marah karena alat-alat cari uangnya dipakai secara salah, tapi juga karena di kotak itu ternyata ayah menyimpan uang. Dan, uang itu ikut saya ambil untuk saya belikan dawet. Padahal, meski hanya cukup untuk beli dawet (minuman khas di desa), tapi itulah satu-satunya tabungan ayah. Puluhan tahun saya menderita, kata saya dalam hati, kalau hanya akan ditambah 24 jam di ICU ini, apalah beratnya. Perawat ICU memuji ketahanan saya. Karena itu, tangan saya tidak perlu diikat. Banyak pasien yang tangan dan badannya harus diikat karena selalu berusaha untuk bergerak. Bahkan, ada yang mungkin tidak sadar, tangannya berusaha mencabut selang-selang yang memenuhi tenggorokannya. Saya pilih menjalani proses tidak bergerak dengan kesadaran sendiri daripada harus diikat seperti itu. *** Sebenarnya, masih ada tiga selang lagi yang juga amat mengganggu. Selain karena ukurannya yang cukup besar, juga lantaran ujung dua dari tiga selangselang itu dimasukkan ke dalam rongga perut saya melalui pinggang kanan dan kiri. Ujung selang yang satunya dimasukkan ke kandung kemih melalui lubang kemaluan. Ujung lain dari masing-masing selang itu masuk ke kantong plastik penampung cairan yang digantungkan di pinggir ranjang pasien. Dengan adanya selang yang di lubang kemaluan itu, selama di ICU, saya tak perlu lagi merasa akan kencing. Sebab, begitu kandung kemih saya penuh, air kencing saya keluar dengan sendirinya melalui selang, masuk ke kantong penampungnya. Secara teratur, air kencing di kantong itu diukur dan dianalisis. Jumlah dan warnanya menunjukkan normal tidaknya ginjal dan berfungsi atau tidaknya organ penting itu. Sama dengan yang di ujung kemaluan, selang yang di pinggang juga untuk mengeluarkan cairan- cairan yang tidak dibutuhkan tubuh saya. Semua cairan itu juga ditampung di kantong plastik, lalu secara teratur diukur dan dianalisis. Bedanya, selang yang di pinggang kanan berfungsi untuk mengeluarkan sisa darah yang mungkin masih menetes dari luka bekas sayatan operasi di liver dan ! #"!

kantong empedu baru saya. Karena itu, posisi ujung selangnya ada di dekat kedua organ yang baru ditransplantasikan itu. Selama saya di ICU, selang di pinggang kanan mengeluarkan cairan pekat berwarna merah. Makin hari, cairan itu makin sedikit keluarnya. Dan akhirnya berhenti karena luka-luka bekas sayatan operasi itu sudah kering. Tak lagi berdarah. Bersamaan dengan keluarnya sisa darah dari pinggang kanan, selang di pinggang kiri juga mengeluarkan cairan kuning kemerahan. Cairan itu merupakan kelebihan cairan di rongga perut yang bercampur dengan sisa darah operasi yang tercecer dan berkeliaran. Rongga perut memang harus bersih dari barang asing. Jika ada sesuatu yang tidak terdaftar sebagai penghuni rongga perut, seperti ceceran darah, sel tumor atau kanker, maka selaput dinding rongga perut -yang dalam istilah kedokteran disebut dengan peritonium- akan bereaksi, protes, dengan cara mengeluarkan lebih banyak cairan. Makin banyak cairan yang keluar, makin berbahaya karena peritonium bisa pecah dan orangnya meninggal. Liver dan empedu baru saya tidak termasuk dalam kategori barang asing yang ditolak karena kedua organ itu kan sebenarnya penghuni rongga perut juga. Sama dengan yang di pinggang kanan, cairan yang keluar dari pinggang kiri saya pun makin hari makin berkurang warna merahnya. Ini berarti semua ceceran darah sisa operasi sudah didorong keluar dari rongga perut. Jumlahnya pun makin hari juga semakin sedikit. Ini pertanda tak ada lagi kelebihan cairan di rongga perut saya. Sehingga selangnya pun bisa dicabut. Hari-hari pertama di ICU itu memang harus saya lalui dengan amat menderita, tapi saya berusaha tabah menjalaninya. Saya tidak mengeluh kepada siapa pun. Saat dokter bertanya apakah ada masalah, saya bilang tidak ada. Bahwa sebenarnya badan tidak enak, ya mesti saja. Tapi, bukankah memang harus demikian? Bukankah ini operasi yang sangat besar? Yang tidak mungkin tidak sakit? Tapi, sepanjang sakitnya masih masuk akal, saya bertekad untuk tidak mengeluh. Kalau saya merasa kesakitan, saya tahu paling-paling hanya akan diberi ! ##!

obat penghilang rasa sakit, painkiller. Itu berarti satu racun lagi akan dimasukkan dalam tubuh saya. Saya gak mau itu. Apalagi seminggu sebelumnya saya baru saja baca bahwa Australia melarang penggunaan painkiller tertentu karena terbukti membuat pasien yang baru menjalani transplantasi liver meninggal dunia. Sakit ini, meski sakit sekali, masih bisa saya rasakan. Yakni sakit akibat luka. Yakni luka yang sengaja dibuat dengan pisau bedah di sepanjang dada dan perut saya untuk mengeluarkan liver yang lama dan memasukkan liver yang baru. Tidak mungkin setelah perut ditutup tidak menimbulkan rasa sakit. Tapi, sakitnya, sekali lagi, bisa dirasakan. Dan, ketika kecil, saya sudah sering mengalami rasa sakit seperti itu. Yakni ketika telapak kaki terkena cangkul. Waktu kecil saya memang sering ikut jadi buruh tani, mencangkul di sawah, yang disiapkan untuk menanam padi. Kadang, cangkul meleset dan mengenai telapak kaki. Lukanya lebar, memutih, dan berdarah-darah. Tentu tidak ada obat. Biasanya hanya kami siram dengan minyak tanah, lalu kami bebat dengan kain sobekan dari kaus atau sarung. Kain yang tidak pernah dipertimbangkan bersih atau tidak karena ya baru disobek saat itu juga. Kadang masih bercampur lumpur juga. Sakitnya saat habis operasi ya kurang lebih seperti itu.

#$!

Sempat Berpikir Lebih Baik Mati daripada Melanjutkan Kemo


2 September 2007 KALAU saya sangat tahan menerima penderitaan selama di ICU, bukan saya jagoan dalam menerima rasa sakit. Bukan. Saya pernah mengalami rasa sakit sampai tidak tahan lagi menanggungkannya. Saya pernah mengalami rasa sakit yang sampai nggak bisa dirasakan. Yakni, ketika setahun lalu harus menjalani kemoterapi. Waktu itu diketahui (lewat scanner) bahwa di liver saya sudah ada kankernya. Lalu kanker itu dicoba dibunuh dengan cara di-TACE. Lalu dikemo. (Kelak akan saya jelaskan apa itu di-TACE). Setelah dikemo itu, rasanya luar biasa tidak karuan. Yakni sakit, mual, mulas, kembung, melintir-lintir, dan entah berapa jenis rasa sakit menjadi satu. Sampaisampai saya tak bisa memisah-misahkan bentuk sakitnya itu terdiri atas berapa macam rasa sakit. Dalam hal ini saya merasa kalah dengan Sara, salah satu manajer keuangan saya. Dia muda, cantik, tinggi, dan diserang kanker. Dia harus menjalani kemo berpuluh kali hingga kepalanya gundul. Kini dia kembali cantik dan sudah melupakan penderitaan kemonya. Sedang saya tidak tahan. Saya bilang kepada Robert Lai yang menunggui saya di Singapura, kalau dalam satu hari itu tidak juga reda, saya pilih mati. Tidak ada gunanya hidup dalam keadaan seperti itu. Saya minta mati saja, kata saya kepadanya. Lalu dia lapor ke dokter. Saya diberi obat tertentu. Pasti painkiller. Pelan-pelan rasa tidak karu-karuannya berkurang. Tapi, saya kemudian memutuskan tidak mau lagi dikemo. Tidak tahan. Saya akan cari jalan lain saja. Atau lebih baik mati saja. Toh saya sudah berumur 55 tahun. Sudah berbuat sesuatu yang lumayan. Juga sudah melebihi umur ibu saya, atau umur kakak saya, atau umur paman-paman saya. ! #%!

Ini bukan untuk menunjukkan bahwa saya pernah hampir putus asa, melainkan untuk menunjukkan kekaguman saya kepada orang-orang yang mampu menjalani kemo berkali-kali. Mereka jelas lebih hebat dari saya. *** Hari pertama di ICU itu saya tidak merasa mengantuk. Hanya, mata terus terpejam. Rasanya saya tidak punya kekuatan untuk membuka kelopak mata saya sendiri. Sambil mata tetap terpejam pikiran saya jalan ke mana-mana. Ke Surabaya, ke Medan, Bengkulu, Batam sampai ke Palu. Saya juga suka memperhatikan kesibukan di ruang ICU itu. Memperhatikan dengan mata terpejam. Semua saya catat dalam ingatan saya. Dasar bekas wartawan! Kata hati saya. Memperhatikan apa saja yang terjadi di ICU itu membuat perhatian saya terbagi. Ini baik. Karena tidak melulu tercurah ke rasa sakit. Perhatian saya menjadi tidak hanya kepada banyaknya selang yang menancap di sekujur tubuh. Saya juga bisa melupakan rasa penat akibat tekad saya sendiri untuk tidak akan menggerakkan tubuh sedikit pun selama 24 jam. Yakni, agar tidak berakibat buruk pada luka-luka operasi saya. Baik luka di kulit akibat sayatan pisau atau luka di dalam akibat terjadinya penyambungan-penyambungan pembuluh darah. Tak terasa sore pun tiba. Sore itu, satu selang yang dimasukkan lewat leher kanan saya dicabut, dilepas. Agak lega sedikit. Tapi, masih ada dua selang yang menancap di leher yang dilubangi itu. Agak lebih sore lagi, selang yang dimasukkan ke rongga perut lewat lubang hidung juga dicabut. Lebih lega lagi. Saya terus berharap, selang-selang itu satu per satu akan dilepas. Saya tidak mau bertanya jadwal melepaskan selang-selang sisanya. Khawatir berharap terlalu banyak. Saya sudah biasa dengan sikap untuk tidak berharap banyak pada apa pun dan pada siapa pun. Ini, menurut pendapat saya, baik. Karena akan membuat saya merasa lebih bahagia. Setidaknya tidak akan membuat saya terlalu kecewa. Bukankah bahagia dan kecewa sebenarnya bisa kita ciptakan sendiri? Orang akan merasa bahagia kalau keinginannya tercapai. Orang akan merasa kecewa kalau keinginannya tidak tercapai. Maka, ini saya, untuk mencapai kebahagiaan

#&!

sangatlah mudah: Jangan pasang keinginan terlalu tinggi. Jangan menaruh harapan terlalu banyak. Dulu pun saya hanya ingin Jawa Pos menjadi koran yang oplahnya separonya dari Surabaya Post. Tidak perlu lebih besar dari itu. Waktu itu, rasanya tidak mungkin mengejar Surabaya Post yang sudah merajalela kehebatannya. Baru setelah ternyata mudah sekali membuat koran yang bisa sebesar 50 persennya Surabaya Post, meningkatlah keinginan untuk bisa sebesar Surabaya Post. Keinginan itu meningkat terus secara bertahap, sehingga menjadi seperti Grup Jawa Pos sekarang. Sebuah koran nasional dari daerah dengan oplah lebih dari 300 ribu eksemplar per hari. Ini belum termasuk koran-koran Grup Jawa Pos yang terbit di Jakarta dan di kota-kota lain di luar pulau. Bahkan, koran ini berkembang sedemikian rupa hingga menjadi sebuah grup media yang membawahkan lebih dari 100 koran harian dan mingguan, delapan televisi lokal, pabrik kertas, dan power plant. Jadi, kalau ada yang menganalisis bahwa saya punya grand design untuk membuat Jawa Pos seperti sekarang, tidaknya begitu kenyataannya. Hanya desain-desain kecil yang saya buat. Tapi, saya wujudkan dengan konstan. Dengan istikamah, dalam istilah Pesantren Miftahul Ulum Al Islami, Kedungdung, pimpinan KH Ilyas Khotib, di Bangkalan, Madura. Saya punya prinsip semuanya sebaiknya mengalir saja seperti air. Hanya, kalau bisa, alirannya yang deras. Batu pun kadang bisa menggelundung, kalah dengan air yang deras. Itu menangnya orang yang tidak punya cita-cita tinggi sejak awal. Hidupnya lebih fleksibel. Karena tidak punya cita-cita, kalau dalam perjalanannya menghadapi batu besar, ia akan membelok. Tapi, kalau orang berpegang teguh pada cita-cita, bertemu batu pun akan ditabrak. Iya kalau batunya yang menggelundung, lha kalau kepalanya yang pecah gimana? Cita-cita saya semula hanya ingin punya sepatu, biar pun rombengan. Lalu ingin punya sepeda. Rasanya, waktu pertama punya sepeda (juga bekas) bahagianya melebihi saat punya Jaguar. Padahal, sepeda itu pernah putus as rodanya sehingga tidak bisa dinaiki. Bahkan, ! #'!

dituntun pun tidak bisa. Terpaksalah saya menggendongnya. Menggendong dengan bahagia. Malamnya saya juga tidak mengantuk. Mungkin sudah kelamaan ditidurkan! Yakni, 18 jam dibius. Malam itu saya menyaksikan kerja perawat di ruang ICU yang luar biasa sibuknya. Perawat shift malam itu mulai bekerja pukul 19.00 dan baru akan pulang pukul 07.00 keesokan harinya. Sepanjang malam mereka bekerja tanpa istirahat sedikit pun. Ini karena tiap tiga perawat mengurus lima pasien ICU. Semuanya baru saja menjalani penggantian organ tubuh. Ada yang ganti liver seperti saya, ada yang ganti ginjal, ada yang ganti jantung. Tiap-tiap pasien memerlukan begitu banyak obat, begitu banyak macam cairan infus, begitu banyak alat deteksi yang terus-menerus harus dipantau, diganti, dan dicatat. Dan, yang juga tak kalah penting adalah dibuatkan invoice-nya untuk menagihkan kepada pasien. Maka setiap habis menggunakan bahan, harus dicatat berapa harganya dan lalu di-invoice-kan. Ini penting sekali, bagi RS tentunya. Sebab, kalau salah dalam meng-invoice-kan, berarti rumah sakit akan menderita. Yakni, menderita kerugian. Setiap ada kesempatan saya selalu memuji mereka. Anda luar biasa sekali. Satu malam suntuk bekerja tanpa istirahat, kata saya. Untung Anda masih sangat muda. Kalau sudah tua, nggak mungkin bisa bekerja tanpa henti dengan konsentrasi tinggi sepanjang malam, kata saya. Terima kasih, jawabnya. Saya tahu dia akan libur besoknya. Jadi masih lumayan. Berbeda dengan muda saya dulu. Saya ingat waktu itu, waktu mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut, saya harus bekerja sepanjang malam. Besoknya tidak pakai libur. Bahkan, sudah harus bekerja sejak pagi lagi. Sampai malam lagi. Begitu seterusnya. Tidak libur. Besoknya sepanjang malam lagi, sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. Tujuh hari seminggu, 30 hari sebulan, 360 hari setahun. Selama kira- kira 15 tahun berturut-turut. Inilah yang membuat organ di dalam tubuh saya menderita. Liver saya kalah. Dia sebenarnya sudah lama menangis-nangis minta diperhatikan. Sudah lama minta untuk tidak diperlakukan seperti itu. Sudah lama komplain ke sana kemari. Namun, ! #(!

karena tidak dipedulikan, lantas ngambek seperti ini. Lalu minta diistirahatkan seterusnya.

Kesadaran Pulih, tapi Saya Tak Mampu Sujud Syukur


3 September 2007

SAYA memperoleh kesadaran penuh pada malam kedua di ICU. Di tengah malam yang sepi itu, tiba- tiba pikiran saya jernih sekali. Suara tat-tit-tat-tit mesin yang memonitor organ-organ tubuh saya terdengar kian jelas. Saya benar-benar masih hidup, kata hati saya. Alhamdulillah. Puji Tuhan, batin saya lagi. Tiba-tiba saya terlibat diskusi lagi dengan pikiran sendiri mengenai apa bentuk syukur yang harus saya lakukan. Sudah pasti saya belum punya kemampuan bersujud. Tapi, sujud kan tidak harus dengan kepala? Kan bisa juga yang sujud hati? Maka saya sujud dengan hati saya. Rasanya malah lebih ikhlas. Tidak ada yang lihat. Sepi sekali ing pamrih. Sebentar tapi menenangkan batin. Saya memang bertekad untuk tidak akan mendemonstrasikan rasa syukur itu dalam bentuk yang ekstrem. Misalnya, dengan sepanjang-panjangnya mengucapkan kalimat-kalimat tertentu atau bahkan sampai menitikkan air mata. Atau memotong sapi untuk acara besar-besaran. Saya khawatir, semakin panjang kalimat yang saya ucapkan, semakin saya sudah merasa bersyukur. Semakin banyak orang yang saya undang untuk syukuran, semakin saya sudah merasa bersyukur banyak. Saya akhirnya berkesimpulan akan bersyukur dengan cara memanfaatkan umur tambahan ini dengan seproduktif-produktifnya. Paginya, apa pun yang di ICU terlihat jelas dan terekam baik dalam ingatan. Hari kedua di ICU itu, pagi-pagi, pimpinan rumah sakit yang juga kepala tim dokter

#)!

yang menangani penggantian liver saya datang menjenguk. Karena dia pimpinan, yang menyertainya banyak sekali. Ze me yang? tanyanya sambil memegangi tubuh saya menanyakan apa kabar dalam bahasa Mandarin. Hen hao, jawab saya. Saya bilang bahwa saya baik-baik saja dan tidak punya keluhan apa pun. Tentu itu basa-basi. Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya katakan. Bukan mengenai keluhan saya, melainkan soal-soal lain yang membuat saya penasaran. Yang membuat saya ingin segera tahu. Misalnya, apakah ada kesulitan yang berarti untuk melakukan operasi tadi malam? Apakah liver saya yang lama benar-benar telah rusak seperti yang diperkirakan? Atau sebenarnya masih baik, yang akan membuat saya menyesal melakukan operasi? Soalnya, ada juga sedikit kekhawatiran bahwa jangan-jangan setelah perut dibuka, ternyata liver saya baik-baik saja. Jangan-jangan hasil scanner yang menyatakan liver saya sudah rusak dulu itu hanya karena alat scanner-nya salah lihat. Bukankah memang ada kasus-kasus salah diagnosis semacam itu? Ada juga pertanyaan yang lebih penting yang ingin segera saya ketahui. Benarkah sudah ada kanker di liver lama saya? Benarkah tanpa operasi ini sebenarnya saya masih bisa hidup lima tahun lagi? Benarkah, seperti kata sebagian dokter, bahwa sebenarnya saya tinggal punya kesempatan hidup enam bulan lagi? Karena kanker sudah menjalar ke beberapa bagian di dalam liver saya? Tapi, pertanyaan itu terlalu banyak untuk diajukan pagi itu. Juga terlalu dini. Rasanya kurang pas kalau saya sudah bertanya sejauh itu. Bukankah pagi itu dokter hanya mengunjungi saya untuk menunjukkan perhatian kepada saya? Untuk menunjukkan rasa persahabatan yang tulus? Sebab, tanpa mengunjungi saya pun dia sudah bisa baca dari laporan komputer mengenai perkembangan keadaan saya. Maka, saya urung mengajukan pertanyaan-pertanyaan tadi. Masih ada waku di lain hari. Toh, saya masih akan berhari-hari di rumah sakit ini. Bahkan, mungkin masih berminggu atau (kalau operasi ini gagal) masih akan berbulan lagi. Saya malah berubah pikiran dengan cepat. Saya justru bergegas menunjuk ke perawat yang berdiri di arah kaki saya. Dokter, perawat-perawat rumah sakit

$+!

ini luar biasa. Tadi malam mereka bekerja keras sepanjang malam, tanpa istirahat sedikit pun, kata saya kepada pimpinan rumah sakit itu. Sang pimpinan tersenyum senang. Lalu dia mendekat ke arah perawat dan memegang-megang pundaknya. Tidak ada kata-kata yang diucapkannya. Dan, saya kira memang tidak perlu ada kata-kata apa pun. Tepukan tangan ke pundak anak buah seperti itu sudah melebihi pujian yang diucapkan dengan ribuan kata. Terima kasih, Mr Yu memuji saya di depan pimpinan, kata perawat itu kepada saya setelah rombongan pimpinan berlalu. Di Tiongkok nama saya memang Yu Shi Gan (baca: i-se-kan), sehingga cukup dipanggil nama depannya saja (Yu) yang dikira nama marga saya. Saya tidak basa-basi memuji para perawat itu. Saya memang benar-benar ingin memujinya. Kerja yang luar biasa keras itu harus ada yang mencatatnya. Para perawat itu tidak hanya harus membuat laporan yang baik, tapi mereka sendiri juga harus dilaporkan. Terutama kebaikannya itu. Para perawat itu bekerja dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab kepada keselamatan pasien. Yakni, melakukan pekerjaan cepat, cermat dengan ketelitian yang tinggi di waktu malam yang sepi. Kalau saja tidak teliti pun siapa yang tahu? Mereka juga bekerja dengan penuh tanggung jawab kepada rumah sakit. Yakni, dengan cara tidak ceroboh mencatat harga-harga barang yang saya gunakan malam itu: obat, infus, selang, jarum, tisu, sarung tangan, plester, dan seterusnya. Setiap ada pemakaian bahan harus dicatat harganya dan dibuatkan invoice penagihannya. Kalau tidak, rumah sakit akan rugi. Pemakaian barang seharga 1 yuan (sekitar Rp 1.100) pun harus dicatat rapi dan dibuatkan perhitungannya. Jarum pun ada harganya, kapas secuil ada harganya. Apalagi selang, cairan infus, dan obat-obatan. Saya perlu memuji perawat tersebut sebagai bentuk ucapan terima kasih saya yang tulus kepada mereka. Saya tidak mungkin memberinya uang. Saya kan dalam keadaan telanjang! Mana bisa membawa dompet? Apalagi sudah menjadi kebiasaan saya, membawa dompet pun belum tentu ada duitnya. ! $*!

Saya perlu memujinya karena setelah hari itu saya tidak mungkin lagi bisa bertemu mereka. Hari ini mereka dapat giliran libur. Besok sudah akan menjalani kehidupan baru dengan pasien berikutnya lagi. Saya mungkin juga tidak berada lagi di ICU karena pagi itu sudah bisa kembali ke kamar saya di lantai 11. Terima kasih Bapak telah memuji saya di depan pimpinan saya, kata perawat itu. Wajahnya kelihatan bersorak gembira. Seperti mendapatkan uang berjuta. Saya tidak akan lupa wajahnya. Tidak akan lupa ekspresi kegembiraannya. Tidak akan lupa keterampilannya. Dan kerja kerasnya. *** Tiba-tiba anak saya laki-laki, Azrul Ananda, masuk ICU. Kali ini bersama adiknya, Isna Fitriana, yang baru malam harinya tiba dari Surabaya. Hari itu rupanya saya akan diserahterimakan. Bapak kan sudah aman. Dan Isna sudah di sini. Pagi ini saya kembali ke Surabaya, ujar Azrul. DBL harus segera dimulai, tambahnya. DBL (DetEksi Basketball League) adalah liga basket SMP/SMA terbesar di Indonesia yang dia prakarsai. Saya mengangguk karena rasanya memang tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Perasaan saya baik-baik saja. Rupanya, baru selama sakit ini saya punya komunikasi yang intensif dengan anak-anak saya. Sebelumnya, saya ternyata jarang sekali berbicara dengan mereka. Meski anak lelaki saya juga di Jawa Pos, saya membiarkan proses manajemen berjalan apa adanya. Saya hampir tidak pernah bicara soal perusahaan kepadanya. Keberadaan dia di Jawa Pos malah membuat hubungan saya sebagai bapak dan anak menjadi seperti hubungan atasan dan bawahan. Karena dia bukan bawahan langsung, berarti tidak perlu ada hubungan yang khusus. Anak-anak saya memang sudah terpisah sejak mereka masih amat remaja. Begitu tamat SMP, keduanya langsung ke USA, masuk SMA di sana. Bahkan, Azrul sampai tujuh tahun di sana. Ikut orang tua angkatnya yang didapat melalui proses undian. Karena itu, kami tidak pernah tahu di rumah siapa dia akan tinggal di AS. Ternyata, Azrul dapat orang tua angkat yang sama sekali tidak diperkirakan. Yakni,

$"!

seorang bapak yang ternyata juga pemilik surat kabar daerah di Kansas. Namanya John Mohn. Dia seorang master jurnalistik. Juga juragan koran. John tidak punya anak laki-laki. Maka, Azrul dia anggap sebagai anak lakilakinya. Tiap hari dia ajak anak saya ke kantor korannya. Dia ajari fotografi. Dia ajari jurnalistik. Bukan hanya penulisannya, tapi juga kemerdekaan dan filsafatnya. Jadilah Azrul anak yang mencintai koran. Bukan karena saya, tapi karena bapak angkatnya itu. Saya sendiri sejak awal tidak ingin dia kerja di koran. Terlalu berat. Terlalu menyiksa. Juga belum tentu menghasilkan kekayaan. Maka sejak tamat SMP saya kirim dia ke AS agar bisa punya pilihan lebih baik. Setidaknya agar bisa berbahasa Inggris. Tidak seperti bapaknya yang hanya tamatan SMA (aliyah), yang nama-nama hari dalam bahasa Inggris pun tidak hafal. Jadi, kalau ada yang menganggap saya sejak awal menyiapkan anak saya untuk di Jawa Pos, sungguh tidak demikian maunya. Saya justru mau anak saya bekerja di luar negeri dulu. Lalu jadi pengusaha yang mandiri. Ketika hal ini saya kemukakan kepada Azrul, dia balik bertanya: saya harus cari uang? Saya mau jurnalistik, katanya. Apakah saya menyesal? Ya dan tidak. Tapi, ada juga yang menilai bahwa saya harus bersyukur karena ada anak yang masih punya idealisme di bidang jurnalistik. Menyikapi kedua penilaian itu saya pasrah saja. Yang terjadi, terjadilah. Sepulang dari USA anak-anak saya praktis jadi dirinya sendiri-sendiri. Termasuk tidak mau lagi tinggal bersama kami di rumah. Mereka pilih tinggal di rumah sendiri. Mereka sudah terbiasa mandiri. Baru ketika saya sakit ini, mereka sering menemani saya. Kami pun sering dalam keadaan lengkap berada dalam satu ruangan: saya, istri saya, dan anak-anak saya. Sekarang ditambah dengan menantu-menantu dan seorang cucu. Eh, seorang cucu dan calon seorang cucu lagi. Justru ketika sakit ini saya seperti menemukan keluarga saya. Ternyata saya punya anak, gurau saya kepada keduanya. Ternyata kita punya bapak, ya, ! $#!

kata Isna kepada kakaknya. Sambil tertawa cekikikan. Suasana yang sangat mengurangi rasa sakit saya selama di ICU. Lebih menggembirakan lagi, siang itu dua selang yang masuk ke rongga dada lewat leher kanan saya juga dicabut. Lubang bekas selang-selang itu lantas ditutup dengan plester. Dua hari kemudian lubang itu sudah menutup. Kelak, ketika sudah berada di kamar biasa, saya masih sering meraba-raba bekas lubang di leher itu. Saya masih punya pikiran jangan-jangan lubangnya masih menganga.

Meski Keluar ICU, Jangan Anggap Sudah Merdeka


4 September 2007 SEPANJANG sore sampai malam (hari kedua di ICU), perut saya mulai merasa kembung. Sangat tidak enak. Oh, rupanya saya belum bisa buang air besar. Juga belum bisa buang angin. Ini saya sadari setelah beberapa kali perawat menanyakan soal yang kelihatannya sepele itu. Makanya perut seperti penuh sekali. Penuhnya bukan hanya di perut, tapi seperti sampai dada. Sepanjang malam saya tidak bisa tidur. Itu membuat pikiran saya lari ke mana-mana. Termasuk ke liver baru saya. Saya berkhayal sedang apakah dia? Lagi saling berkenalan dengan organ saya yang lain, atau lagi pasang kuda-kuda untuk saling bermusuhan? Apakah liver baru itu sedang tawar-menawar pekerjaan dengan organ lain? Apakah liver baru itu sedang mengajukan syarat-syarat kerja sama? Misalnya, hanya akan mau bekerja sama kalau tetap dibolehkan makan babi? Atau dia begitu baiknya sehingga akan ikut saja peran apa yang harus dia jalankan? Yang tak kalah penting adalah perbedaan umur yang mencolok antara liver baru dan organ saya yang lain. Apakah tidak akan menimbulkan persoalan?

$$!

Misalnya, terjadi generation gap yang tajam? Bukankah liver baru itu belum sampai berumur 25 tahun, apakah tidak akan mengajak balapan organ lain seperti jantung, paru, dan ginjal? Kalau organ-organ lain saya sudah berumur 56 tahun, apakah tidak akan terjadi konflik anak-bapak yang diakibatkan perbedaan zaman? Juga perbedaan gaya hidup? Apakah tidak akan terjadi adu balap? Apakah jantung tua saya kuat melayani balapan itu? Panjang sekali khayalan saya. Bukan khayalan yang ilmiah. Khayalan orang yang tidak bisa tidur saja. Paginya, hari ketiga di ICU, barulah saya rasa itu muncul. Saya panggil perawat. Ternyata untuk urusan buang air besar ini ada perawat khusus. Dia perawat yang berbaju biru, yang sudah lebih tua umurnya. Dialah yang memasang tadah kotoran dan membersihkannya. Urusan buang hajat pun selesai. Setelah itu tiba-tiba saya merasa seperti ingin buang angin banyak-banyak. Maka suara bom pun bergelegaran. Semua dicatat oleh perawat. Pagi itu juga diputuskan saya boleh keluar dari ICU. Rupanya keluar atau tidak dari ICU, salah satu ukuran yang menentukan adalah ada atau tidaknya rasa tadi. Kalau saja pagi itu saya belum punya rasa, akan dilakukan rekayasa. Perut saya akan dimasuki cairan lewat pantat. Untunglah saya tidak perlu melalui tahapan darurat itu. Mekanisme tubuh saya, dengan organ baru di dalamnya, berjalan dengan normal. Semua berjalan natural. Satu jam kemudian persiapan mengeluarkan saya dari ICU dilakukan. Selang yang sudah 56 jam berada di lubang kemaluan saya dicabut. Agak sakit rasanya. Tapi, kan tetap harus dicabut? Sakit tapi lega. Lega tapi memang sakit. Kencing pertama sampai ketiga nanti mungkin agak sakit, kata perawat setelah berhasil mencabut selang itu. Kata-kata itu terus melekat di ingatan saya. Sampai-sampai timbul rasa takut setiap merasa akan kencing. Tapi, sakitnya seperti apa kan belum dirasakan. Ya, saya harus merasakannya, karena saya toh harus kencing. Ternyata rasa sakitnya tidak seberat yang saya bayangkan. Atau barangkali karena saya sudah merasakan yang paling sakit, sehingga sakit-sakit kelas seperti itu sudah saya anggap bukan sakit lagi. ! $%!

Lalu, selang yang masuk ke rongga perut melalui pinggang kanan juga dicabut. Rasanya juga sakit, tapi sakit yang menimbulkan kelegaan. Alat untuk mengukur tekanan darah juga dilepas. Kabel-kabel yang menempel di dada kanan dan dada kiri dicabut. Juga kabel-kabel yang dihubungkan ke ujung- ujung jari. Semuanya hilang sudah. Rasa plongnya bukan main. Apalagi, kalau saya ingat banyak pasien yang keluar ICU masih dengan selang yang menancap di leher. Saya pun sebenarnya sudah membayangkan akan keluar ICU dalam keadaan seperti itu. Tapi, ternyata tidak. Saya bersyukur. Sekitar pukul 10.00 saya sudah dipindahkan dari ranjang ICU ke kereta angkut. Kereta ini dilengkapi sistem hidrolis. Ini untuk memudahkan memindah badan saya dari ranjang ICU. Tidak perlu ada orang yang mengangkat, yang bisa saja membuat badan saya berubah posisi dan menimbulkan bahaya bagi bekasbekas operasi. Dari kereta itu secara otomatis menjulur sebuah papan besi menyekop ke bawah badan saya. Badan saya terbawa di atasnya. Kereta ini yang membawa saya turun ke lantai 11, ke kamar lama saya yang sudah dibuat bersih sebersih-bersihnya. Dalam proses keluar dari ICU itulah saya baru tahu bahwa ruang ICU ini amat-amat panjangnya. Memang seluruh lantai 12 adalah ICU. Tiap pasien dapat satu kapling yang dibatasi dengan kaca terhadap pasien lain. Rumah sakit ini memang bisa melakukan transplantasi organ sebanyak 30 orang dalam waktu bersamaan. Berarti ruang ICU-nya memang harus banyak sekali. Tiba di lantai 11, para perawat menyambut. Perawat yang sudah tiga bulan lebih saya kenali dengan baik. Kini saya diserahterimakan dari perawat ICU ke perawat ruang rawat inap. Mereka segera membuat lubang baru di lengan saya untuk keperluan infus-infus berikutnya. Tiap hari saya masih harus diinfus beberapa obat dan vitamin. Mula-mula tiga jam sehari. Lalu tinggal dua jam. Lalu satu jam. Lalu tidak perlu infus sama sekali. Pasien lain yang belum operasi menyambut kepulangan saya dari ICU. Sebelah kamar saya, orang Jepang, melambaikan tangan. Dari kamar yang lain, orang Arab Saudi, mengucapkan salam. Pasien dari Taiwan mengucapkan selamat ! $&!

atas kesuksesan operasi saya. Saya sendiri sudah sering memberikan ucapan selamat seperti itu kepada pasien yang baru menjalani operasi sebelum saya. *** Meski sudah keluar ICU, jangan Anda anggap sudah merdeka, ujar Robert Lai, teman saya itu. Dia lantas menakut-nakuti saya dengan kisah banyaknya pasien yang sukses dalam menjalani operasi, tapi gagal menjauhkan diri dari virus dan infeksi. Terutama di seminggu pertama keluar dari ICU. Seorang kenalan dari Pakistan terkena infeksi setelah tiga hari keluar ICU. Terpaksa perutnya dibuka lagi. Diadakan perbaikan lagi di dalamnya. Contoh lainnya, ada pasien yang merasa kuat dan jalan sendiri ke kamar mandi. Dia terjatuh dan harus masuk ICU lagi. Masih sederet contoh tragedi seperti itu. Termasuk yang nekat pulang meski baru satu bulan setelah operasi. Memang sudah diizinkan pulang. Tapi, harus balik lagi ke Tiongkok tiga bulan kemudian. Yakni, untuk mengambil barang yang masih dititipkan di dalam. Orang tersebut merasa sudah sangat normal. Lalu ke rumah sakit di negaranya sendiri untuk mengeluarkan barang titipan sementara itu. Sayangnya, proses tersebut tidak mulus. Dia terkena infeksi. Setelah tidak bisa diatasi di negaranya, terpaksa balik lagi ke rumah sakit ini. Tapi, keadaannya sudah sangat payah. Berbagai usaha sudah disiapkan, termasuk akan dilakukan transplantasi liver lagi. Namun, dia harus menunggu kondisi badannya membaik dulu. Kondisi yang ditunggu itulah yang tidak datang. Akhirnya dia meninggal dunia di rumah sakit ini bulan lalu. Saya mendengarkan baik-baik nasihat itu. Robert tahu saya sering maunya sendiri. Tapi, kali ini dia kecele. Saya sudah bertekad akan taat peraturan setaattaatnya. Saya hanya minta kelonggaran dua saja. Pertama, boleh membuka, membaca, serta membalas dan mengirim email. Kedua, boleh mulai menulis cerita ini. Sebab, apa yang mau saya tulis ini semuanya sudah lengkap dan memenuhi kepala saya. Apa saja yang akan saya tulis, berapa seri tulisan itu nanti, tiap seri harus dibuka dengan kalimat apa dan ditutup dengan cara bagaimana, semua sudah ada ! $'!

di kepala. Kalau tidak segera saya tuangkan di komputer, tekanan darah bisa naik. Itu membahayakan hasil operasi. Sebab, obat sinkronisasi liver baru saya punya efek samping menaikkan tekanan darah. Kalau ditambah dengan penuhnya bahan tulisan di otak saya, apakah tekanan darah tidak akan semakin tinggi? Itu logika Anda saja. Anda bukan dokter. Itu alasan Anda saja untuk diperbolehkan menulis, ujar Robert Lai. Mana ada baru tujuh hari setelah transplantasi liver sudah memeras otak untuk menulis begitu panjang? sergahnya. Saya mengakui Robert benar. Tapi, saya tetap bermohon untuk dapat dispensasi melakukan dua pekerjaan itu.

$(!

Mulai Berdiri, Bergurau soal Liver, Dimarahi Saudara di Desa


5 September 2007 JANGAN begini. Jangan begitu. Banyak sekali peringatan yang disampaikan kepada kami sebelum pertama saya turun dari tempat tidur. Itu hari kelima setelah operasi atau hari kedua setelah keluar dari ICU. Misalnya, jangan sampai langsung berdiri. Bisa tiba-tiba pusing dan jatuh. Harus duduk lebih dulu. Tenang beberapa saat untuk lihat-lihat keadaan. Kalau tidak pusing, bisa diteruskan dengan turun dari tempat tidur dan mencoba berdiri. Maklum, sudah lima hari saya terus dalam posisi berbaring. Juga lima hari tidak makan. Meski ada cairan infus yang menggantikannya. Tidak sedikit kasus pasien jatuh saat pertama mencoba berdiri. Harus ada orang yang memegangi. Saya masih dapat peringatan tambahan. Tepatnya bukan peringatan, tapi pertanyaan. Datangnya dari dalam diri saya sendiri. Kalau saya nanti berdiri, apakah liver baru saya tidak jatuh? Apakah sambungannya sudah kuat? Tali apakah yang dipakai untung menggantung liver baru itu? Setengah serius, setengah bergurau. Saya memang suka bergurau. Kalau sedang tidak ada yang ditertawakan, saya sering mencoba menertawakan diri sendiri. Kekhawatiran-ngawur saya itu saya SMS-kan ke beberapa teman. Untuk memberikan gambaran bahwa saya sudah bisa bergurau lagi. Sekaligus memberi kabar baik mengenai kemajuan demi kemajuan yang saya peroleh. Hari ini saya sudah diharuskan mulai turun dari tempat tidur. Bahkan sudah harus latihan berdiri. Tapi, saya lupa bertanya kepada dokter apakah tali yang dipakai menggantung liver baru saya cukup kuat. Saya takut liver baru saya jatuh, tulis saya. Jawaban dari beberapa teman berdatangan. Margiono, Dirut Rakyat Merdeka yang lucunya bukan main, kontan membalas. Ha ha... Kalaupun jatuh, masih di perut. Masih mudah mencarinya, kata Margiono yang pandai mendalang ! $)!

itu. Saya tertawa. Bahkan ingin tertawa lebar. Tapi, jahitan di perut yang panjaaaang ini masih basah. Kalau dibuat tertawa masih sakit. Dan lagi, janganjangan kalau teralu banyak tertawa, jahitannya bisa mrotoli. Leak Kustiya, redaktur pelaksana Jawa Pos yang pendiam, tapi humornya sering cerdas, menimpali Margiono. Yang bahaya kalau jatuhnya di dekat pasar loak, tulisnya. Sekali lagi, saya harus menahan tawa. Mas Goenawan Mohamad, pendiri majalah TEMPO yang juga amat humoris, menambahkan: Ha ha. Saya justru takut hati baru itu jatuh di rumah Gong Li. Gong Li adalah artis yang paling terkenal dan konon juga paling cantik di antara artis Hongkong. Lebih berbahaya daripada jatuh di dekat pasar loak, tambahnya. Humor khas Surabaya datang dari Jamhadi, kontraktor yang membangun gedung Jatim Expo dan asrama mahasiswa Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya. Kalau sampai jatuh di rumah Gong Li, sih itu bukan jatuh. Tapi njatuh, tulisnya. Kata njatuh, bagi orang Surabaya lucu sekali. Tapi, mungkin tidak bisa dipahami di luar Surabaya. Masih banyak SMS yang masuk di sekitar jatuh-menjatuh itu. Tapi, empat itulah yang saya pilih sebagai yang paling lucu. Diam-diam saya sudah bisa menjadi juri lomba humor di hari kelima setelah operasi saya. Saya juga lega bahwa hati saya yang baru tenyata tidak mengubah selera humor saya. Dan memang, begitu saya berdiri, tidak ada suara benda jatuh. Padahal, kalau toh jatuh, apa juga bersuara? Keceriaan saya hari itu padam manakala masuk SMS dari keluarga saya di desa, 16 km dari Kota Magetan. Dia marah. Nyawa kok dibuat guyonan, tulisnya. Dia marah karena seharusnya saya tidak berhenti berdoa minta keselamatan dan kesembuhan dari Tuhan. Tidak guyon seperti itu. Kita di sini tidak hentihentinya berdoa, Mas Dahlan sendiri guyon. Tidak pantas, tambahnya. Lalu, saya SMS ke Ir Agus Mustofa, penulis buku Takdir Bisa Diubah yang laris itu. Apakah ada perintah untuk memperbanyak doa? tanya saya. Soalnya, saya tidak pernah membaca ada ajaran seperti itu. Bahkan, seperti yang sudah saya

%+!

utarakan di bab terdahulu, sedikit-sedikit berdoa seperti kita ini malas berusaha, malas menggunakan pemberian Tuhan yang amat penting itu: otak. Tidak ada perintah memperbanyak doa, balas Agus segera. Yang ada hanyalah Mintalah kepada- Ku, pasti Aku kabulkan, tambahnya. Yang diperintahkan beberapa kali adalah perbanyaklah mengingat Tuhan (zikir) dan perbanyaklah berbuat baik, ujar Agus. Ada alasan lain mengapa saya memilih sumeleh kepada Tuhan daripada sedikit-sedikit minta sesuatu kepada-Nya. Saya pernah belajar ilmu mantiq (logika) sewaktu di Madrasah Aliyah Pesantren Sabilil Muttaqien, Takeran, Magetan. Pesantren keluarga kami sendiri. Berdoa itu, menurut ilmu mantiq, pada dasarnya adalah memerintah Tuhan. Misalnya, doa ini: Ya Tuhan, masukkanlah saya ke surga. Bukankah, menurut ilmu itu, sama dengan kita memerintah Tuhan agar memasukkan kita ke surga? Bukankah kata masukkanlah itu kata perintah?. Hanya, dikemas secara halus dalam wujud yang bernama doa? Mengapa kita selalu memerintah Tuhan untuk memasukkan kita ke surga? Mengapa tidak kita sendiri berusaha sekuat tenaga, misalnya, dengan jalan banyak beribadah (termasuk kerja keras)? Ilmu inilah yang juga saya bawa ke praktik manajemen. Kalau ada karyawan yang sedikit-sedikit mengeluhkan atasannya, biasanya saya menasihatinya berdasar ilmu mantiq itu. Tentu sebelum mengucapkan kata-kata tersebut saya berpesan agar jangan membicarakan istilah saya ini dengan orang lain. Orang yang tidak pernah belajar ilmu mantiq bisa salah paham. Kata saya kepada karyawan yang suka mengeluhkan atasannya itu: Kita ini bisa dan sering memerintah...., mengapa memerintah atasan yang masih bernama manusia saja tidak bisa? Takut juga saya mengisi titik-titik itu. Takut orang salah paham. Padahal, guru ilmu mantiq saya dulu, KH Hamim Tafsir, tidak pernah takut mengatakan apa adanya. Saya harus mengenang guru saya itu. Dia sudah terpaksa jadi kiai ketika masih amat remaja. Ini karena enam kiai utama di pesantren kami (yang tidak lain paman-paman ibu saya) dibunuh orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Demikian ! %*!

juga guru-guru terkemuka lainnya, termasuk guru yang didatangkan pesantren kami dari Mesir. Mereka dimasukkan sumur hidup-hidup, lalu ditimbuni batu. Itu tahun 1948, ketika meletus peristiwa Madiun yang terkenal dalam sejarah itu. Sejak itu, pesantren kami yang sangat maju dan terkemuka mengalami kemunduran. Saya lantas memanfaatkan ilmu mantiq itu dalam praktik manajemen. Intinya: seorang bawahan, kalau memang cukup cerdas, harus bisa membuat atasannya memenuhi keinginannya. Tidak harus selalu keinginan atasan yang berlaku. Semua itu tinggal soal cara. Soal kemampuan kita memanajemeni atasan. Kalau seorang bawahan tidak mampu melakukan itu, berarti bukan bawahan yang cerdas. Saya tidak akan menaikkan karir bawahan yang seperti itu. Jadi, bawahan itu sebenarnya juga boleh me-manage atasan. Bukan hanya atasan yang bisa memanage bawahan. Sekali lagi, ini soal cara. Kepada Tuhan, kita menggunakan cara yang disebut berdoa. Kepada atasan, mungkin dengan gaya bermohon atau minta petunjuk atau mengiba atau apa sajalah. Yang penting, keinginan kita yang kita yakini benar bisa dipenuhi oleh atasan. Banyak manajer saya yang kemudian tidak mudah mengeluhkan ketidakmampuan atasannya. Dia mencari jalan beraneka cara untuk mencoba bisa me-manage atasannya dengan bijak. Demikian juga tidak lagi banyak staf yang mengeluhkan rekan kerjanya. Mengeluh berarti tidak cerdas. Bukankah kepada sesama rekan staf, kita bisa menggunakan gaya minta tolong. Bahkan, kepada bawahan pun kata minta tolong akan lebih efektif daripada kata saya perintahkan -meski atasan berhak memerintah bawahan. Jadi, kepada Tuhan kita berdoa, kepada atasan kita bermohon, kepada sesama kita minta tolong, dan kepada bawahan... teserahlah mau pakai yang mana. Tentu tidak pas kalau kepada bawahan Anda mengatakan, Saya berdoa kepadamu mudahmudahan engkau mau membersihkan kamar kecil itu lebih bersih lagi. Tapi, saya sering juga menggunakan gaya ini kalau hati sudah amat jengkel melihat kamar kecil yang kotor.

%"!

Di kantor-kantor Grup Jawa Pos, saya memang melarang pembuatan kamar kecil khusus di ruang pimpinan. Ini agar pimpinan juga menggunakan kamar kecil umum. Bukan saja agar sesekali bertemu bawahan di forum itu, tapi juga agar bisa ikut mengontrol kebersihan kamar kecil umum. Ilmu mantiq ternyata banyak membantu saya dalam menjalankan praktik manajemen. Dan saya dengar di kurikulum madrasah aliyah sekarang ini, tidak ada lagi mata pelajaran ilmu mantiq itu. Saya sendiri kini masih terus berpikir bagaimana saya bisa me-manage liver baru saya. Saya sudah bermohon kepadanya untuk jangan sekali-kali kangen akan daging babi. Tapi, kalau dia lebih pintar dan mampu me-manage saya agar saya mau memenuhi keinginannya, itu baru persoalan. Saya membayangkan dia memang pernah belajar kungfu, tapi saya berharap liver baru saya itu belum pernah belajar ilmu mantiq untuk mengalahkan saya.

%#!

Perawat Sekaligus Menjadi Polisi Penjaga Virus


6 September 2007 KELUAR dari ICU tidak berarti merdeka. Justru harus lebih hati-hati. Ini karena ruang biasa tidak dilengkapi peralatan monitor yang serbaotomatis. Padahal, terlalu banyak kasus kegagalan transplantasi liver terjadi justru pada minggu pertama setelah keluar dari ICU. Yakni, ketika pasien terkena infeksi. Kini ancaman kegagalan transplantasi liver bukan lagi seperti dulu. Bukan lagi akibat badan menolak kedatangan liver baru. Untuk mengatasi penolakan itu, kini sudah ada obat yang sangat modern. Obat yang menyinkronkan liver baru dan organ-organ lain yang lama. Infeksilah yang banyak mengakibatkan kegagalan. Bahkan, kemungkinan infeksi pun kini sudah bisa diturunkan maksimal karena adanya cara baru. Termasuk yang diterapkan kepada saya. (Akan ada uraian tersendiri untuk ini di bab-bab berikutnya. Termasuk bab mengapa liver saya sakit. Apa sebabnya. Mengapa tidak bisa ditanggulangi.) Untuk menjaga jangan sampai terjadi infeksi itulah, monitoring dilakukan ketat. Kalau toh terjadi, bisa diketahui secara dini, sejak masih dalam bentuk gejala. Karena itu, suhu badan diukur tiap dua jam. Demikian juga tekanan darah dan denyut jantung. Kebetulan, suhu badan saya sangat menggembirakan. Selalu antara 35,5 sampai 36,7 derajat Celsius. Sangat prima. Tidak sekali pun dalam minggu pertama itu suhu badan saya naik di atas angka itu. Ini pertanda bahwa infeksi tidak terjadi di dalam tubuh saya. Memang, semua orang yang masuk ruang saya harus taat akan peraturan ini. Lalu, ada polisi keras yang menjaganya: Robert Lai. Semua harus menggunakan masker penutup mulut dan hidung. Jangan sampai orang yang menjenguk menularkan virus yang sangat membahayakan.

%$!

Tiap pagi, saya juga di USG. Bukan takut hamil, tapi khawatir jangan-jangan ada yang tidak beres pada sambungan-sambungan pembuluh darah lama dan baru. Juga untuk melihat apakah ada genangan air atau darah di dalam rongga perut saya. Termasuk untuk melihat apakah ada masalah pada ginjal saya. Hasil USG tiap hari itu menunjukkan tidak ada tanda-tanda kegagalan penyambungan liver baru saya. Maka, pada hari kelima, USG tidak lagi dilakukan. Lega rasanya meski baru lega tahap satu. Pada hari pertama di luar ICU, paru saya juga dironsen. Ini untuk melihat apakah ada genangan air atau dahak di paru-paru. Hasil ronsen itu juga menggembirakan. Paru-paru bersih. Tapi, saya harus minum obat penyinkron liver baru. Biasa juga disebut obat antirejection. Anti penolakan terhadap liver baru. Obat ini berupa kapsul kecil-kecil tiga butir, diminum dua kali sehari. Namanya afk. Obat ini memang punya efek samping yang kuat. Yakni bisa membuat gula darah dan tekanan darah naik. Karena itu, sebelum makan, harus diukur dulu tekanan darah dan gula darah. Setelah makan, diukur lagi. Ujung jari saya di-ceklik beberapa kali sehari untuk mengeluarkan sedikit darah. Untuk dites kadar gulanya. Pada hari pertama, gula darah saya 17 (sebelum makan). Ini sangat-sangat tinggi. Bukan karena pankreas saya tidak berfungsi, melainkan karena afk tadi. Karena itu, sebelum makan, saya disuntik dulu untuk menurunkannya. Pada hari ketiga, gula darah saya sudah normal. Sekitar 4 sampai 6,5 (sebelum makan). Karena itu, pada hari berikutnya, tidak diperlukan lagi pemeriksaaan gula darah. Sewaktu saya kemukakan kekhawatiran saya akan tingginya gula darah itu, dokter meminta saya tidak waswas. Itu hanya karena efek obat. Bukan karena fungsi pankreas yang jelek. Pankreas Anda sempurna, kata dokter. Tekanan darah saya juga tinggi jika dibandingkan dengan sebelum operasi. Bangun tidur bisa mencapai 90/140. Tapi, ini juga karena pengaruh obat saja. Siang sedikit, sampai malam, selalu antara 80/120 sampai 85/130. Kita akan terus memonitornya, ujar dokter. Sedangkan denyut jantung sangat normal, antara 76

%%!

sampai 85. Banyak juga yang sukses operasinya, tapi tidak kuat jantungnya, ujar seorang suster. Untuk itu pun, tidak perlu takut karena ada obatnya. Selain obat anti penolakan itu, saya juga harus minum beberapa obat lainnya. Tapi, kali ini saya tidak bertanya obat apa saja itu, apa kegunaannya, dan apa efek sampingnya. Kali ini saya serahkan saja sepenuhnya pada keahlian dokter. Padahal, dulunya saya amat cerewet kalau diberi obat. Saya harus tahu persis apa-siapanya. Bahkan, sering saya cek lagi kebenarannya lewat internet. Tapi, kali ini saya putuskan tidak akan jadi dokter untuk diri saya sendiri. Pertama, karena saya memang bukan dokter. Kedua, banyak juga yang logika saya ternyata salah. Misalnya, bayangan saya akan transplantasi liver sama sekali berbeda dengan kenyataan dalam praktiknya. Apalagi keadaan badan saya terus membaik sehingga saya semakin percaya saja pada keputusan dokter. Mengingat indikator-indikator badan saya sudah begitu baik, pada hari keenam, obat sinkronisasi itu dikurangi 30 persen. Kini tinggal dua kapsul kecil sekali minum, dua kali sehari. Obat ini merupakan obat terpenting dalam menjaga keberhasilan transplantasi liver. Untuk meminumnya, ada petunjuk khusus mengenai waktunya. Kalau sudah ditetapkan jam enam pagi dan malam, harus tetap seperti itu. Tidak boleh terlambat. Juga tidak boleh dipercepat. Apalagi lupa, sama sekali tidak boleh. Bagaimana kalau lupa juga? Tetap, tidak boleh lupa. Dalil manusia itu tempatnya salah dan lupa tidak berlaku di sini. Agar tidak lupa itulah, diciptakan sistem kontrol. Trust is good, but control is better, ujar Robert Lai, ahli hukum dari Singapura lulusan Inggris itu. Dia orang yang amat disiplin. Sudah sebelas bulan ini selalu menemani saya pergi ke mana pun. Untuk mewujudkan prinsip yang dipegangnya itu, dia memutuskan menempatkan perawat khusus di kamar saya. Selama 24 jam sehari. Yakni, perawat yang khusus melayani kepentingan saya selama 24 jam. Terutama menjaga ketepatan waktu minum obat, menjaga kebersihan pakaian, handuk, air, dan kamar. Juga memandikan saya.

%&!

Rumah sakit ini punya semacam unit usaha yang menyediakan jasa perawat khusus seperti itu. Orangnya umumnya sudah agak tua, sabar, dan punya keterampilan sebagai perawat. Mereka memang para pensiunan perawat yang masih ingin terus bekerja. Karena itu, untuk mengukur tekanan darah, suhu badan, dan pekerjaan sejenis itu, perawat khusus tersebut yang melakukan. Perawat itu disiplinnya bukan main. Kalau sudah waktunya minum obat, apa pun harus kalah. Tepat jam enam, dia memaksa saya minum obat. Tidak kurang satu menit pun atau lebih satu menit pun. Petunjuk itu memang sudah diberikan jauhjauh hari sebelumnya sehingga saya juga tahu pentingnya kedisiplinan meminumnya. Kehadiran perawat khusus seperti itu amat penting karena belum tentu keluarga kita mengetahui detail mengenai pengobatan. Dia sudah hafal jenis-jenis obat yang disediakan dan jam-jam penggunaannya. Dia akan melakukan cek ulang, apakah obat yang diberikan lengkap atau tidak. Salah atau tidak. Jasa mereka itu juga penting karena ternyata banyak juga pasien yang tidak ditunggui keluarganya. Saya lihat beberapa orang Jepang, masuk ke ruang operasi tanpa satu pun ada anggota keluarga yang mengantarkannya. Mengingat begitu banyak pasien ganti liver yang pernah mereka rawat, pengalaman para perawat khusus ini sangat banyak. Dia menjadi seperti perawat spesialis pasien ganti liver. Dia tahu persis gejala-gejala yang baik dan gejala-gejala yang kurang baik dalam perkembangan pasien. Dan bagi saya, dia juga guru bahasa Mandarin. Sebab, dia memang hanya bisa berbahasa Mandarin, bahkan dengan logat yang sangat daerah. Berarti 24 jam saya bisa belajar Mandarin secara tidak langsung. Perawat itu juga menjadi polisi penjaga virus. Dia yang juga ikut mengawasi orang keluar masuk kamar. Yang tidak pakai masker, dia tegur. Robert memang menugaskan itu khusus kepadanya. Kalau ada dokter masuk yang tidak pakai masker, tentu Anda tidak berani menegur. Jangan ditegur. Tapi, Pak Dahlannya yang kamu pasangi masker, pesan Robert kepadanya. Robert, meski bahasa

%'!

pertamanya adalah Inggris, bisa bicara Mandarin dan beberapa bahasa daerah di Tiongkok. Untungnya, tidak pernah ada dokter yang tidak disiplin. Bahkan, Melinda dan suaminya sampai membuka sepatu ketika masuk ruang saya. Semula Melinda dan suaminya hanya ingin menengok saya karena kebetulan lagi di Tiongkok. Tahu kalau saya segera operasi, dia memtuskan menunggu saya sampai beberapa hari setelah operasi. Bahkan, dia ikut melakukan operasi nonteknik pada malam menjelang operasi. Ketika saya beri tahu tidak perlulah masuk kamar sampai copot sepatu, bos Pakuwon Jati itu mengatakan, Kamar ini harus lebih bersih daripada sepatu saya. Saya tahu sepatunya amat mahal dan tentu juga amat bersih. Tapi, dia tetap copot sepatu. Saya tidak mau dituduh sebagai pembunuh Pak Dahlan, katanya. Dia lao da saya. Masak saya harus jadi pembunuh saudara tua saya, tambahnya.

%(!

Boleh Tak Mengaku, 25 Juta Orang Menghadapi seperti Saya


7 September 2007 MENGAPA saya harus menjalani transplantasi liver? Karena sudah ada kanker di liver saya dan sudah mulai menyebar ke beberapa tempat meski semuanya masih di dalam liver. Mengapa ada kanker di liver saya? Karena liver saya sudah tidak normal, sudah mengecil, mengeras, dan rusak. Istilahnya, sudah mencapai tahap terjadi sirosis. Mengapa liver saya bisa sirosis? Karena saya mengidap virus hepatitis B, yang gagal saya usir atau saya matikan. Virus itu menjadi aktif dan merusak liver karena kondisi badan saya sering sangat lelah. Saat badan lemah, virus yang semula tidur saja di dalam liver punya kesempatan melakukan aksinya tanpa perlawanan yang berarti dari badan saya yang sedang lemah. Mengapa sering lelah? Masak itu ditanyakan. Bikin saya malu. He... he.... Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya? Karena liver saya tidak kebal ketika virus untuk pertama kalinya datang dan masuk ke dalam liver saya. Kenapa badan saya tidak kebal? Karena saya tidak pernah menjalani vaksinasi antihepatitis B saat saya masih bayi/kecil. Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi? Karena tidak tahu. Kenapa tidak tahu?

%)!

Karena tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan. Juga karena negara waktu itu masih sangat miskin dan pemerintah sibuk mengurus politik atau rebutan posisi. Soal pemerintah tidak perlu ditanyakan lebih lanjut. Tapi, kenapa Anda tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan? Karena miskin sekali. Keluarga saya, hampir semuanya, petani atau buruh tani. Kenapa miskin? Karena tidak berpendidikan. Kenapa tidak berpendidikan? Karena miskin! *** Itu bukan kata-kata juru penerang PKK yang setelah zaman reformasi tidak lagi berperan aktif, tapi akan sangat baik kalau dipakai menyadarkan ibu-ibu untuk memvaksinkan bayinya agar kebal terhadap virus hepatitis B. Sebab, sekitar 10 persen penduduk kita terkena hepatitis B. Soal jarang yang mengakui, itu soal lain. Artinya, sekitar 25 juta orang sedang menghadapi masa depan seperti saya. Padahal, belum tentu semuanya mendapatkan kesempatan sebaik saya: bisa menjalani transplantasi liver. Kalau toh banyak yang mampu, belum tentu operasinya bisa berhasil. Kesempatan menjalani transplantasi juga kian kecil. Tiap negara kini cenderung melindungi rakyatnya sendiri sehingga, seperti yang dilakukan Tiongkok saat ini, liver yang ada harus diprioritaskan untuk penduduk Tiongkok sendiri. Ini sangat wajar karena persoalan seperti ini akan bisa jadi isu nasional di negara tersebut. Di Tiongkok sendiri kini terdapat 120 juta orang yang mengidap hepatitis B, ujar Deputi Menteri Kesehatan Tiongkok Hao Yang saat melakukan kampanye vaksinasi hepatitis B pekan lalu seperti yang disiarkan China Daily 1 September barusan. Hao Yang lantas mengutip angka dari Samuel So, direktur Asian Liver Centre di Stanford University AS, bahwa 40 persen di antara segala macam penularan virus terjadi dari ibu ke anaknya. Maka, pencegahan sangat penting. Di Tiongkok, seluruh bayi sejak 1982 harus tiga kali divaksin antihepatitis. Tiap suntik harga obatnya sekitar Rp 75.000. Seluruhnya ditanggung negara. ! &+!

*** Meski ilmu pengetahuan semakin maju dan keterampilan dokter juga kian sempurna, tapi kalau sumber donor untuk liver makin terbatas, bagaimana? Bukankah kesempatan untuk menjalani transplantasi di masa depan kian langka? Termasuk bagi yang mampu transplantasi sekalipun? Bukankah lantas antrean untuk dapat giliran transplan kian panjang? Dan kian lama? Saya sendiri perlu empat bulan menunggu. Dalam keadaan harus terus siap. Penantian yang tidak jelas harus berapa lama. Yang juga berarti terus berjalannya argometer biaya. Empat bulan harus tinggal di luar negeri dan dengan keluarga yang harus mondar-mandir tentu bukan hal yang sederhana. Padahal, sekali lagi, kita tidak akan pernah tahu harus menunggu sampai berapa lama. Artinya, juga tidak akan tahu masih harus berapa banyak lagi uang yang disiapkan. Dengan logikanya yang sederhana, istri saya sering nyeletuk. Suatu celetukan yang mungkin juga mencerminkan rasa jenuh karena begitu lamanya menunggu. Begini sulit ya mempertahankan satu nyawa. Kok di Timur Tengah itu tiap hari orang dengan gampang menghilangkan nyawa, katanya. Istri saya lantas menyebut banyaknya orang Timur Tengah yang antre di rumah sakit ini. Bukankah di sana banyak sumber liver? Dari mereka yang begitu banyak meninggal muda itu? Dan pasti lebih pas karena dari ras yang sama? celetuk istri saya. Tentu tidak sesederhana itu. Ada soal yang bagi orang Islam lebih prinsip. Yakni apakah boleh, secara Islam, mendonorkan organ tubuh? Apakah boleh organ dari orang yang baru meninggal diambil untuk menyelamatkan orang lain? Soal itu di masa depan tidak hanya akan jadi isu agama. Tapi juga isu keadilan. Isu yang akan lebih mendominasi masa depan dunia. Bisa jadi, kelak, akan ada aturan bahwa suatu negara tidak boleh mendonorkan organ kepada penduduk suatu negara yang negara itu atau penduduknya melarang melakukan donor organ. Misalnya, Indonesia tidak mendukung digalakkannya donor organ atau penduduk Indonesia mengharamkan donor organ, maka di masa depan orang Indonesia tidak boleh menerima sumbangan organ dari warga negara lain. ! &*!

Kini

sudah

terasa penduduk

gejalanya.

Dimulai

dari

munculnya

kebijakan lantas

memprioritaskan memperkuatnya.

negaranya

sendiri.

Alasan

keadilan

Kesadaran seperti itu akan membuat banyak negara ikut mengubah peraturannya. Tiongkok sudah mengubahnya empat bulan lalu. Orang asing tidak akan gampang lagi mendapatkan donor dari penduduk setempat. Begitu banyak orang Tiongkok sendiri yang memerlukan transplantasi. Yang terkena hepatitis B saja mencapai 120 juta orang, sudah sama dengan separo penduduk Indonesia. Kalau mereka tidak terlayani karena miskin, tidak kuat bayar, maka akan menjadi isu kesenjangan sosial. Akan menjadi isu politik yang sensitif bagi Tiongkok yang lagi gencar-gencarnya memerangi kesenjangan sosial. Belum lagi, kini, orang kaya di Tiongkok bertambah-tambah dengan drastisnya. Mereka tentu akan semakin mampu dalam ikut memperebutkan donor yang kian terbatas. Singapura sudah lebih dulu membuat aturan seperti itu. Bahkan, melarang sama sekali liver orang Singapura untuk orang non-Singapura. Sebab, di Singapura sendiri antara kesediaan liver dan yang memerlukannya jauh lebih banyak yang terakhir. Awal bulan ini, diberitakan antrean transplantasi di Singapura sudah sampai 10 tahun. Artinya, mendaftar sekarang baru akan dapat liver 10 tahun lagi. Karena itu, setiap saat selalu ada pasien antre yang dicoret dari daftar antre. Mengapa? Sudah tidak layak antre. Selama penantian, kondisi badannya sudah semakin buruk, ujar dr Tong Ming Chuan, saah seorang direktur program jantung- paru Singapura. Tiga di antara empat orang yang dicoret dari daftar antre itu tak lama kemudian memang meninggal, ujar dr Tong sebagaimana disiarkan The Strait Times 2 September lalu. Kini, panjang antrean itu ratusan orang di Singapura. Sebanyak 555 orang antre untuk transplan ginjal dan 16 orang antre liver. Di antara lima orang yang antre transplan jantung, tinggal satu yang masih memenuhi syarat dalam daftar. Tapi, itu tidak berarti bisa cepat dapat giliran. Sebab, donor jantung lebih sulit. ! &"!

Donor liver atau ginjal bisa berupa separo organ tersebut. Tapi, donor jantung harus satu jantung utuh. Ini berarti pendonornya harus meninggal, katanya. Di antara 555 orang itu terakhir, yang 139 orang juga sudah tidak memenuhi syarat lagi untuk transplan. Di antara 139 itu pun, diperkirakan yang 22 orang sudah akan meninggal tidak lama lagi. Sudah terlalu terlambat untuk transplan. Kalau toh dipaksakan, peluang berhasilnya tipis. Sayang donornya. Mendingan diberikan kepada pasien yang kans berhasilnya lebih besar. Khusus untuk yang antre liver saja, tahun lalu enam orang meninggal karena perkembangan sakit livernya lebih cepat daripada waktu antrenya. Kini, siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati ternyata bisa ditentukan oleh dokter. Karena itu, Singapura akan melangkah lebih jauh. Peraturan baru sedang disiapkan. Kalau selama ini organ hanya diambilkan hanya dari orang yang sudah menyatakan organnya boleh didonorkan, nanti akan dibalik. Menjadi: hanya orang yang menyatakan keberatan saja, yang organnya tidak bisa jadi donor. Peraturan ini juga akan berlaku bagi penduduknya yang beragama Islam, katanya. Selama ini, aturan transplan selalu dikecualikan bagi yang muslim. Ini terkait dengan keyakinan agama. Kini kekhususan itu tidak ada lagi. Artinya, organ semua orang Singapura secara otomatis boleh diambil setelah dia mati, kecuali yang keberatan saja. Ini seperti prinsip ushul-fikh (kaidah aturan): semua yang tidak dilarang berarti dibolehkan. Singapura akan menggunakan prinsip ushul-fikh itu. Begitu seriusnya problem defisit donor itu, sehingga Tiongkok juga akan mengubah peraturan di bidang kedokteran tentang kapan seseorang dinyatakan meninggal. Ini setelah awal Agustus kemarin diperdebatkan di forum para ahli transplantasi di Beijing. Satu perdebatan yang amat teknis- medis di sekitar saat kematian datang. Yakni saat-saat kematian batang otak. Saya sendiri tidak paham istilah-istilahnya. Yang jelas, kalau peraturan lama yang dipakai menentukan tibanya saat kematian, akan banyak sekali organ yang sudah terlanjur ikut mati. Ini akan tidak bisa dimanfaatkan untuk amal jariyah berikutnya. Maka, aturan ! &#!

menentukan saat kematian itu akan dibuat lebih awal, sebagaimana yang sudah disepakati di banyak negara maju. Saya jadi berpikir dan diskusi lagi dengan diri sendiri. Saat kematian ternyata bisa diajukan atau dimundurkan walau hanya sesaat. Bagi yang paham ayat Al Kitab mengenai kematian (idza jaa-a ajal luhum...) tentu satu pekerjaan tersendiri untuk mendiskusikannya. Terutama apakah yang dimaksud dengan ajal di situ.

&$!

Tersenyum ketika Dioperasi seperti Menikmati Kemiskinan


8 September 2007 JELASLAH bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang

melatarbelakangi, saya menderita sakit liver. Apakah saya menyesali dilahirkan di keluarga miskin? Sama sekali tidak. Kemiskinan kami adalah kemiskinan struktural. Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan saya. Bahkan hampir di semua kampung saya. Di kapupaten saya. Juga di negara saya. Kemiskinan ramerame. Kami bisa menikmatinya bersama-sama. Jadi, jangan sampai ada yang menyangka bahwa kami sangat menderita. Tidak. Kami miskin bukan karena harta habis untuk main judi atau untuk mabukmabukan atau untuk narkoba. Kami memang tidak punya harta. Kalau toh kami boros, kurang hemat, itu pun jangan disalahkan. Keborosan kami adalah keborosan- religius. Juga keborosan-yang-beradab, yakni boros untuk melestarikan adat-istiadat. Kami harus banyak keluar biaya untuk selamatan Lebaran, kupatan, mauludan, rejeban, megengan, rebowekasan, dan seterusnya, tapi semua itu kami niati untuk ibadah -entah apakah seharusnya pakai selamatan segala. Kami sangat menyenangi selamatan. Terutama saat kami masih kecil. Itulah saatnya kami bisa makan nasi. Bukan gaplek. Itulah saatnya kami bisa makan telur. Bukan hanya sambal atau garam. Itulah saatnya kami, kalau nasibnya baik -yakni dapat ambeng yang baik-, bisa memperebutkan daging ayam secuil. Satu bentuk selamatan di serambi masjid yang amat kami tunggu-tunggu. Karena itu, kami hafal benar kapan akan ada mauludan atau megengan. Bahkan sudah kami nantikan sejak berhari-hari sebelumnya. Kami juga harus slametan nyepasari, mitoni, sunatan, wetonan, dan seterusnya. Tapi, itu juga kami perlukan sebagai wujud donga-katon (doa yang dipersonifikasikan). Karena itu, harus ada sayur kluwih untuk menandakan bahwa kita ingin rezeki yang linuwih (berlebih). Juga harus ada cakar ayam untuk lambang ! &%!

doa kuat melangkah. Pokoknya, semua kami wujudkan dalam makanan seperti seolah-olah kami bisu. Setiap kupatan, kami juga harus munjung ke kiai kami. Sesepuh kami. Punjungan itu berbentuk makanan yang paling istimewa. Ibu membuat lontong yang untuk merebusnya saja diperlukan waktu 24 jam. Agar lontong masak sempurna dan tidak basi sampai seminggu pun. Daun pembungkusnya harus daun pisang raja agar harumnya khas. Sayurnya harus lima macam, salah satunya harus opor ayam. Ibu pandai sekali bikin opor ayam. Tapi, kami hanya boleh makan sedikit kuahnya. Dagingnya untuk punjungan. Ibu sudah menyiapkan ayam itu sejak enam bulan sebelum kupatan. Tentu, kami tidak mungkin mampu membeli ayam. Sering ibu harus membeli dulu satu telur. Lalu dititipkan ke tetangga untuk bersama-sama ditetaskan di situ. Lalu dipeliharanlah ayam tunggal itu. Sampai tiba saatnya harus dipotong untuk dihaturkan kepada kiai kami yang sebenarnya sudah kaya. Bapak sangat menjunjung tinggi adat itu. Kiai kami bukan sembarang kiai. Kiai kami adalah guru- tarikat kami. Guru yang oleh bapak dipercaya sebagai wasilah dalam term filsafat ahl-dzikr. Tidak ada ahl-dzikr lain di dunia ini kecuali kiai kami itu. Ahl-dzikr hanya satu di dunia, kata bapak saya. Ini karena menurut tata bahasa Arab (nahwu), kata ahl di situ menunjukkan bentuk tunggal (ism mufrad). Ternyata, semua aliran tasawuf punyai klaim yang sama untuk kiai mereka sendiri. Tapi, bapak saya tidak tahu itu. Tahunya ya hanya tasawuf Sathariyah. Dan meyakini bahwa kiainya, KH Imam Mursyid Muttaqien, adalah sang ahl dzikr nan tunggal. Misalnya saja, bapak kedatangan tamu yang dulu sesama abdi dalem di rumah kiai tersebut. Tentu, bapak bicara seenaknya dan penuh guyon dengan tamunya. Tapi, begitu si tamu mengatakan kedatangannya hari itu diutus sang kiai, sikap bapak otomatis berubah. Bapak akan langsung bersila, menunduk, dan ngapurancang di depan teman sesama abdi dalem itu. Bapak langsung menggunakan kata-kata kromo inggil (bahasa Jawa level tertinggi) dalam percakapan dengan temannya itu. Bapak langsung merasa sedang berhadapan

&&!

dengan kiainya sendiri. Bapak adalah idola kami dalam bersikap tawadluk -hormat kepada sesepuh. Saya pernah bertugas mengantarkan punjungan yang aromanya sangat harum itu. Kami berjalan kaki sejauh 6 kilometer untuk sampai ke rumah sesepuh kami itu. Di jalan, kami bisa mengira-ngira nikmatnya makanan yang akan kami antar itu karena kami sudah merasakan rasa kuahnya. Meski kiai tersebut masih paman ibu saya sendiri, kami dilarang untuk masuk sampai ke dalam rumahnya. Kami hanya boleh mengantar sampai teras samping rumah pendapa itu. Kami sungguh menikmati kemiskinan kami seperti menikmati khayalan mengenai lezatnya opor ayam yang disiapkan sejak enam bulan sebelumnya itu. Saya, waktu kecil, memang hanya punya satu celana pendek dan satu baju, tapi saya masih punya satu sarung! Jangan remehkan kemampuan sarung ini. Dia bisa jadi apa saja. Mulai jadi alat ibadah, mencari rezeki, alat hiburan, fashion, kesehatan, sampai jadi alat memeras atau menakut-nakuti. Sarung inilah pakaian yang, meski hanya satu potong kain, fleksibelnya bukan main. Kalau saya lagi mencuci baju, sarung itu bisa saya kemulkan di bagian atas badan saya. Kalau saya lagi harus mencuci celana, sarung itu bisa jadi bawahan. Kalau kami lagi cari sisa-sisa panen kedelai di sawah orang kaya, sarung itu bisa jadi karung. Kalau saya lagi ingin mendalang (waktu kecil saya suka sekali mendalang, dengan wayang terbuat dari rumput dan gamelan dari mulut teman-teman), sarung itu saya bentangkan dengan tiang pendek di kiri kanannya: jadilah dia kelir. Kalau lagi musim angin dan kami ingin bermain-main dengan angin itu, sarung kami bentangkan di atas kepala: jadilah dia layar. Kalau saya lagi lomba terjun ke sungai dari atas jembatan, saya ikat ujung sarung itu: jadilah dia semacam payung parasit. Kalau perut lagi lapar sekali dan di rumah tidak ada makanan sama sekali, saya ikatkan kuat-kuat sarung itu di pinggang: jadilah dia pengganjal perut yang andal.

&'!

Saya belum menemukan bentuk pakaian lain yang fleksibelnya melebihi sarung. Kalau sembahyang, jadilah dia benda penting menghadap Tuhan. Kalau lagi kedinginan, jadilah dia selimut. Kalau lagi mau nakut-nakuti anak kecil, jadilah dia pocongan. Kalau sarung itu robek (biasa waktu dipancal kaki saat tidur kedinginan atau saat kena duri bambu saat mencuri tebu), sarung itu masih bisa dijahit. Kalau di tempat jahitan itu robek lagi, masih bisa ditambal. Kalau tambalannya pun sudah robek, sarung itu belum akan pensiun. Masih bisa dirobek- robek: bagian yang besar bisa untuk sarung bantal, bagian yang kecil untuk popok bayi. Sakit bisa dinikmati. Miskin pun bisa dinikmati. Apalagi suasananya sering diciptakan demikian. Misalnya saja, kisah tentang bagaimana Khalifah Umar menemukan orang miskin yang anaknya menagis terus karena lapar. Untuk meredam tangis si anak, ibunya pura-pura merebus sesuatu. Padahal, yang direbus itu adalah batu. Cerita yang demikian jadi kebanggaan. Juga cerita sufi tentang bagaimana orang sakti yang kalau lapar cukup mengganjal perutnya dengan batu. Atau bagaimana nabi hanya memakan kurma dua biji setelah seharian berpuasa. Lapar itu sering luar biasa nikmatnya. Orang miskin punya jalan sendiri untuk menikmati kemiskinannya, seperti juga orang kaya punya cara sendiri menikmati kekayaannya. Kadang, orang kaya merasa iba kepada orang miskin. Padahal, sering juga orang miskin merasa kasihan kepada orang kaya. Banyak orang desa yang merasa kasihan kepada Tommy Soeharto yang akhirnya harus menderita. Mereka tidak tahu bahwa Tommy masih kaya raya. Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya. Jangankan terkena kanker atau sirosis atau hepatitis. Mati pun dianggap, kalau memang sudah garisnya, harus diterima apa adanya. Karena itu,ayat yang menyatakan kalau sudah tiba waktunya, tidak bisa diundur sekejap pun atau dimajukan sedikit pun menjadi amat populer. Melebihi popularitas ayat yang mengajarkan carilah rezeki di bumi Tuhan ini.

&(!

Kisah sedekah yang populer juga terkait dengan kemiskinan. Sangat sering diajarkan bahwa sedekah tidak harus dengan harta. Menyingkirkan duri dari tengah jalan pun sudah merupakan sedekah. Bahkan, tersenyum pun sudah sedekah. Maka, marilah kita sering tersenyum. Mau dioperasi besar pun saya tersenyum. Itulah sedekah yang sudah sejak kecil diajarkan -dan yang dulu satusatunya yang mampu kami lakukan.

Setelah Rutin Disuntik, Menyangka Hepatitis Sudah Beres


9 September 2007 SAYA menerima kehadiran virus hepatitis B di liver saya sebagai takdir. Kalau kemudian berkembang menjadi sirosis dan kanker, itu sebagai sunnatullahNya -sudah seharusnya begitu. Jangan harap satu virus hepatitis B tidak akan menjadi sirosis. Dan, jangan ada harapan sirosis tidak akan jadi kanker. Tidak ada keajaiban di proses itu. Tidak ada mukjizat. Tinggal waktu saja yang berbeda. Proses perkembangan itu lama atau cepat. Karena namanya virus, pasti datangnya dari luar. Jadi, bukan keturunan atau gen, seperti yang semula saya kira. Bahwa keluarga saya banyak yang demikian, tentu itu karena gaya hidup di desa yang memang seperti itu. Makan bersama, berebut lauk dari piring yang sama, cuci tangan dari kobokan yang sama. Semua bisa saja jadi sarana penularan. Karena hidup seperti itu dilakukan sejak kecil, kemungkinan penularannya juga tidak kecil. Di Tiongkok, data terbaru menyebutkan hampir 10 persen penduduknya terkena virus hepatitis. Ini berarti lebih dari 120 juta orang. Di Indonesia, persentasenya saya kira hampir sama. Karena itu, penelitian terhadap hepatitis intensif sekali di Tiongkok, karena menyangkut begitu banyak orang.

&)!

Ke depan mestinya virus ini amat berkurang karena kesadaran melakukan vaksinasi hepatitis kepada bayi sangat tinggi. Di Tiongkok sejak 1982. Di Indonesia terutama sejak zaman Orde Baru. *** Saya sendiri tahu kalau mengidap hepatitis B sejak sekitar 25 tahun lalu. Yakni, ketika untuk kali pertama dalam hidup saya memeriksakan darah. Waktu itu tiba-tiba badan saya panas sekali. Maka saya harus periksa darah. Diketahuilah bahwa ada virus hepatitis B di liver saya. Sebelumnya, sejak kecil, kalau badan panas yang dibiarkan saja: toh akan dingin sendiri. Saat itu juga saya langsung mengambil langkah. Konsultasi dengan salah satu dokter ahli penyakit dalam terbaik di Surabaya: Prof Mohamad Hassan (kini almarhum). Dia mendengar ada obat yang masih baru sama sekali. Namanya interveron. Kalau mau, saya boleh mencoba obat baru itu, karena memang sebelumnya tidak pernah ditemukan obat untuk melawan virus itu. Tapi, Prof Hassan mengingatkan bahwa harganya mahal sekali. Juga harus disiplin tinggi karena obat itu harus disuntikkan 76 kali, setiap dua hari sekali. Kini interveron sudah amat murah dibanding harga 25 tahun lalu. Tapi, Prof Hassan juga memberitahukan bahwa kemungkinan berhasilnya juga tidak 100 persen, baru 25 persen. Ya, siapa tahu saya masuk yang 25 persen itu, katanya. Saya pun menyetujuinya. Maka setiap dua hari saya suntik interveron. Ketika pertama suntik saya harus ngamar di rumah sakit. Saya pilih RS Budi Mulia di Jalan Raya Gubeng. Mengapa harus ngamar? Akibat suntikan itu, suhu badan bisa tinggi sekali. Kalau terjadi sesuatu yang membahayakan, Anda sudah berada di rumah sakit, katanya. Obat itu berfungsi bukan membunuh virusnya, melainkan hanya mengurungnya. Maksudnya, dengan dikurung seperti itu, virus tidak akan merajalela. Sebab, memang belum ada obat ang bisa membunuhnya. Pada hari dilakukan penyuntikan pertama, saya langsung siap-siap selimut tebal. Kalau panas datang dan badan menggigil, saya sudah tidak bingung lagi. Saya tunggu kedatangan suhu tinggi dan rasa menggigil itu sampai sore. Tangan ! '+!

sudah selalu siap memegang selimut kalau tiba-tiba harus segera menutupkan ke tubuh saya. Saya tunggu sampai malam, ternyata si demam tidak datang juga. Bahkan sampai besoknya pun. Lalu saya boleh pulang. Saya bisa menyuntikkan interveron berikutnya di mana pun saya mau. Bisa di kantor, di poliklinik, atau di praktik dokter. Saya menyimpan interveron itu di termos khusus yang bisa saya bawa bepergian. Ke mana-mana saya membawa termos itu berikut alat suntiknya. Pernah suatu saat saya harus ke Ambon. Tentu saya bawa juga interveron itu. Di Ambon ternyata sulit sekali mencari dokter yang mau menyuntikkannya. Di sana umumnya dokter tidak tahu obat apa yang saya bawa itu. Sudah saya jelaskan panjang lebar, tetap saja dia tidak mau. Memang seharusnya demikian. Kalau tidak tahu, tidak boleh melakukannya. Yang jadi persoalan adalah bukan tidak mau, tapi memang betul-betul belum tahu obat tersebut. Maklum, memang obat yang masih sangat baru. Pernah juga saya mengalami kesulitan yang sama saat berada di Batam. Padahal, saya juga harus mengejar pesawat. Akhirnya saya minta disuntik di pos kesehatan bandara Batam. Setelah proses itu selesai, saya menjadi lengah. Saya menyangka, hepatitis saya sudah beres. Saya tidak pernah lagi memperhatikannya. Saya tenggelam oleh kesibukan dan kecerobohan saya sendiri. Kini, saya dengar kualitas interveron sudah semakin baik. Sudah puluhan kali lebih kuat daripada 25 tahun lalu -saat saya pertama menggunakannya. Barangnya juga sudah lebih mudah didapat. Tiongkok juga sudah memproduksinya besarbesaran. Harganya pun sudah jauh lebih murah dibanding ketika saya harus membeli dulu. Murah untuk ukuran orang sakit liver, tapi tetap mahal untuk kebanyakan orang. Sejak minum interveron itu saya tidak pernah mencari tahu lagi apakah sudah ada obat yang lebih jitu. Bahkan, saya sudah melupakan hepatitis saya. Badan saya yang selalu fit, membuat saya terlalu percaya diri. Pujian bahwa saya adalah orang yang tidak punya udel (tidak punya pusar, untuk menggambarkan ! '*!

punya kemampuan kerja kuda) membuat saya terlena. Saya terus kerja dan kerja. Terbang dan terbang. Di dalam negeri dan ke luar negeri. Sampailah pada Mei 2005. Hari itu saya terbang ke 19 kota hanya dalam waktu 8 hari. Mulai Surabaya-Jakarta-Pontianak-Kuching-Singapura-GuangzhouWenzhou-Jinhua-Hangzhou-NanchangGuangzhou-Jakarta-Makassar-AmbonMakassar-Kendari-Makssar-Jakarta-Surabaya. Istri saya, bersama Ibu Eric Samola, bergabung dengan saya di Makkasar untuk sama-sama ke Ambon. Tiba di Ambon tidak mau sarapan, langsung ke kantor harian Ambon Ekspress untuk rapat. Mengapa tidak mau sarapan? Setiap ke Ambon saya punya cita-cita khusus: akan makan durian sebanyak-banyaknya. Durian Ambon luar biasa enaknya. Apalagi kalau dimakan di pantai yang sangat natural itu: pantai Ambon yang indah. Di mana itu? Kalau Anda turun dari pesawat, keluar dari bandara, jangan belok kanan ke arah kota, tapi belok kiri ke arah kampung. Aduh naturalnya! Tapi, rapat masih diteruskan dengan mengajar. Dulu, setiap kedatangan saya ke anak perusahaan selalu dimanfaatkan untuk pertemuan dengan wartawan. Saya memang punya forum yang disebut bengkel wartawan. Di forum bengkel itulah saya selalu diminta menularkan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik. Berarti makan siang juga kelewatan. Selesai forum bengkel, sudah tidak tahan lagi untuk segera makan durian. Makannya tidak di pantai Ambon tidak apa-apa. Kebetulan di depan kantor, di pinggir jalan depan Masjid Al Fatah, banyak penjual durian. Kenyanglah. Lupa sudah makan siang. Malamnya, setelah makan malam dengan menu makanan lokal yang disebut papeda, saya ke kantor lagi sambil seperti menangis. Papeda malam itu merupakan makanan terpedas yang pernah saya alami setelah makanan yang disebut suai yang ru di Chongqing, Tiongkok. Mestinya, saya jangan makan papeda malam itu. Mestinya tetap saja makan ikan laut. Ikan laut Ambon segarnya, manisnya, enaknya, bukan kepalang. Saya selalu merindukannya. Tapi, sejak kerusuhan Ambon, saya tidak tahu lagi di mana restoran yang terkenal itu membuka usaha. ! '"!

Perut saya mulai bergolak malam itu. Mungkin ikan-ikan Ambon cemburu dan marah mengapa malam itu saya melupakannya. Lalu menyantet perut saya. Meski perut mulas, tengah malam itu saya masih harus ke percetakan. Paginya, pukul empat sudah harus berangkat ke Makassar. Rapat dengan harian Fajar yang kini baru menyelesaikan membangun gedung Graha Pena Makassar. Rapat pun buru-buru karena harus segera ke Kendari, rapat dengan harian Kendari Post yang waktu itu juga lagi membangun Graha Pena Kendari. Di Kendari saya juga punya cita-cita khusus: makan ikan bakar. Hari itu bumbunya juga pedas bukan kepalang. Tiba di Surabaya, barulah saya bisa tidur dengan baik. Bangun tidur, tiba-tiba saya mau muntah. Saya muntahkan saja, tapi kedua tangan saya menjadi penadah. Sambil tangan menampung muntahan, saya lari ke toilet untuk membuang muntahan yang ada di tangan. Tentu ada yang tercecer di lantai kamar. Dari yang tercecer itulah saya lihat banyak onggokan berwarna hitam. Setelah onggokan itu saya injak, ternyata warnanya merah: darah. Oh, ternyata saya muntah darah. Tapi, badan saya rasanya baik-baik saja. Saya memang merencanakan ke dokter, tapi besoklah. Setelah saya menghadiri coblosan pemilihan wali kota Surabaya. Anak buah saya, Pimred Jawa Pos Arif Afandi, menjadi calon wakil wali kota mendampingi calon Wali Kota Bambang D.H. Saya harus memilihnya sebagai dukungan ke anak buah. Barulah selesai coblosan saya ke Rumah Sakit Darmo Surabaya. Perkembangan hasil pilkada itu, di mana Bambang-Arief terpilih, saya ketahui saat saya berbaring di ranjang pasien. Saya ternyata memang harus ngamar di rumah sakit. Dokter menyesalkan saya, mengapa begitu muntah darah tidak langsung ke rumah sakit. Dokter bilang saya beruntung. Bisa jadi muntah darah itu akan sangat fatal dan mematikan. Lalu saya ingat kakak saya yang meninggal tidak lama setelah muntah darah. Juga ibu saya. Paman-paman saya. Pemeriksaan di Rumah Sakit Darmo menunjukkan betapa berbahayanya sakit saya. Bahaya yang sama sekali tidak saya rasakan sebelumnya. Bahaya yang

'#!

selalu kalah dengan semangat. Dalam istilah teman saya, penyakit tidak mau mampir ke badan saya karena tidak akan dilayani akibat kesibukannya. Ternyata semua itu menipu. Penyakit tetap datang dan diam-diam menggerogoti onderdil saya. Sebuah kerusakan di dalam, yang tidak segera diketahui di luarnya. Tahu-tahu saja sudah terlambat sekali.

Esofagus Ditambal atau Bilang Saja Pencernaan Dilaminating


10 September 2007 KETIKA kartu suara pemilihan wali kota Surabaya dihitung, dokter RS Darmo Surabaya juga mulai melihat dari mana asal darah yang saya muntahkan. Saya dibius. Tenggorokan saya dimasuki alat yang ujungnya berkamera superkecil. Tindakan ini dalam istilah kedokteran disebut dengan endoskopi. Yang mengendoskopi saya ketika di RS Darmo Surabaya saat itu adalah dr Pangestu Adi SpPD-KGEH, yang sudah sangat ahli dan senior di bidang itu. Dari tenggorokan, alat itu masuk sampai ke lambung saya, melalui pipa esofagus (yang menghubungkan mulut dengan lambung). Dari gambar yang dipantulkan alat itu terlihat, betapa banyak gelembung darah yang siap pecah di sepanjang esofagus saya. Ada yang kecil, banyak juga yang besar. Gelembung-gelembung itu sebenarnya adalah pembuluh darah esofagus yang karena tekanannya terlalu besar lantas menggelembung. Dalam istilah medis, pembuluh darah esofagus yang menggelembung dinamakan varises esofagus. Disebut varises karena memang mirip varises di betis. ! '$!

Hanya, karena dinding pembuluh darah esofagus lebih tipis, varises di bagian itu lebih gampang meletus, pecah. Jika itu terjadi, pasien akan mengalami pendarahan hebat yang sulit dikendalikan. Akibatnya bisa sangat fatal. Yakni, pasien meninggal karena kehabisan darah. Varises esofagus terjadi karena pembuluh darah utama yang masuk ke liver menyempit akibat adanya sirosis. Karena pintu masuknya menyempit, tekanan di pembuluh darah utama itu pun jadi meningkat. Karena tak segera diturunkan, tekanan itu pun merembet sampai ke pembuluh darah esofagus dan limpa. Itu sebabnya mengapa limpa saya juga ikut membesar sampai hampir tiga kali lipat. Kata banyak dokter di Surabaya ketika itu, saya termasuk orang yang beruntung. Karena tidak kolaps ketika beberapa gelembung varises di esofagus saya pecah dan menyebabkan saya muntah darah dua hari sebelum endoskopi dilakukan. Sebaiknya Pak Dahlan segera ke Singapura. Dalam kesempatan pertama, ujar Prof Dr dr Boediwarsono SpPD-KHOM yang merawat saya ketika itu. Lebih baik dilakukan di sana, tambahnya. Sampai saat itu, saya masih belum memahami sepenuhnya bahaya yang saya hadapi. Maklum, rasa badan saya baik-baik saja. Baru dua minggu kemudian, ketika ada acara di Singapura, saya mampir ke seorang ahli penyakit dalam yang terkenal di RS Mount Elizabeth. Saya diperiksa di situ untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dan tindakan apa yang harus dilakukan. Seminggu kemudian saya diminta datang lagi untuk operasinya. Hari itu dia sudah telanjur banyak janji dengan pasien lain. Padahal, operasinya perlu waktu dua jam sendiri. Agar kedatangan saya ke Singapura minggu depannya lebih efektif, saya bikin janji dengan investor Singapura yang bersama perusahaan daerah Jatim akan membangun shore base di Lamongan. Sebelum operasi, saya punya waktu membicarakan kelanjutan rencana proyek Rp 250 miliar itu. Dengan cara ini perusahaan daerah tidak perlu keluar uang perjalanan dinas dan biaya-biaya lain. Saya memang biasa begitu. Urusan perusahaan daerah selalu saya gabung dengan

'%!

urusan saya pribadi. Sehingga selama lima tahun sebagai Dirut perusahaan daerah, saya tidak pernah menggunakan uang perusahaan. Minggu depannya, selesai rapat, saya ke rumah sakit. Langsung dibius dan dioperasi. Sekali lagi, tenggorokan saya dimasuki alat yang bisa masuk sampai pencernaan. Seperti pada endoskopi, ujung alat itu pun dilengkapi kamera. Dengan bantuan kamera itu, tim dokter di Mount Elizabeth lantas mereparasi esofagus saya. Antara lain dengan menuangkan semacam lem berwarna putih ke gelembung-gelembung varises di esofagus saya. Tujuannya untuk menambal bagian yang sudah meletus, sekaligus melapisi yang sudah siap meletus. Dengan begitu, ketika meletus, darahnya tidak semburat ke luar lagi. Teknis penambalan esofagus sebenarnya tidak sesederhana penjelasan saya itu. Saya hanya menyederhanakannya. Bahkan, kepada keluarga saya, saya menggunakan istilah yang lebih sederhana lagi: Saluran pencernaan saya dilaminating. Karena jumlah gelembung yang harus ditambal begitu banyak, proses laminating-nya tak bisa hanya sekali. Dan, hari itu dokter hanya punya waktu untuk mengatasi gelembung yang besar-besar, yang sudah meletus dan benarbenar siap meletus. Selain itu, kalau yang dilaminating kebanyakan, beban bagi tubuh saya akan terlalu berat. Dengan hanya melaminating yang besar-besar, dokter berharap gelembung yang kecil-kecil akan mengecil dengan sendirinya. Untuk memastikan itu, saya diminta kembali dua bulan kemudian. Sesuai jadwal, dua bulan kemudian saya balik ke Singapura. Rapat lagi sambil meneruskan proses laminating berikutnya. Meski yang kecil-kecil tidak membesar, dokter memilih yang aman. Gelembung-gelembung kecil yang tersisa dilaminating semua. Hari itu, persoalan mendesak yang mengancam hidup saya teratasi. Tepatnya, teratasi sementara. Kenapa sementara? Ini karena penyebab terjadinya gelembung-gelembung itu sendiri masih njegog di badan saya: sirosis. Kelak saluran pencernaan saya akan tertekan lagi, bengkak lagi, dan menjadi gelembung-gelembung darah lagi. Berarti ! '&!

setahun kemudian saya masih terancam muntah darah lagi. Tapi, dengan laminating ini, setidaknya saya bisa mengulur waktu. Bulan berikutnya, ketika direksi perusahaan daerah sudah selesai merundingkan draf perjanjian dengan pihak Singapura, saya putuskan untuk menandatangi perjanjian setebal bantal itu. Saya juga sudah minta tolong agar teman saya, Robert Lai, lawyer lulusan Inggris yang sudah biasa bikin perjanjian dalam bahasa Inggris, untuk melihat, mencermati, dan memberikan koreksi manamana yang akan membuat posisi perusahaan daerah lemah. Dia memberikan banyak sekali koreksi. Lalu menyerahkan koreksi itu ke direksi perusahaan daerah untuk dipikirkan lebih lanjut. Dia melakukannya secara gratis. Sudah beberapa kali Robert membantu perusahaan daerah secara sukarela seperti itu. Menjelang tanda tangan perjanjian itulah saya berkonsultasi dengan dokter mengenai problem kesehatan saya yang berikutnya. Misalnya, bagaimana mengatasi sirosis saya. Bagaimana agar tidak terancam muntah darah lagi. Bagaimana agar kaki saya tidak bengkak lagi. Lalu saya tunjukkan kaki saya yang mengembung dan membesar itu kepada dokter yang merawat saya. Bagaimana mengatasinya? tanya saya. Jawaban dokter itu sungguh di luar dugaan saya. Beli saja sepatu yang lebih besar, katanya ketus. Kalau sesak lagi? tanya saya lagi. Ya, beli lagi yang lebih besar lagi! jawabnya, enteng. Jawaban itu memang seperti keluar dari mulut Asmuni-Srimulat. Tapi, saya merenungkannya. Getir jawaban itu, tapi saya kunyah lama-lama. Semakin dikunyah, memang semakin pahit rasanya. Seperti pahitnya butrawali, buah yang dijadikan ukuran terpahit di Jawa. Lalu saya telan sedikit-sedikit lewat tenggorokan saya yang sakit: beli sepatu yang lebih besar. Dan beli lagi yang lebih besar lagi. Begitu pahitnya kalimat dokter itu, membuat pencernaan seperti mulas dan mau muntah. Lalu saya muntahkan sekalian kalimat dokter itu: Dalam wujud muntah seperti darah. Merah rupanya, merah rasanya. Di atas muntahan itu seperti terbaca peringatan keras: tidak ada obatnya, Dahlan, tidak ada obatnya! ! ''!

*** Saya masih minta butrawali satu lagi: Bagaimana dengan sirosis saya? Maksud saya apakah sudah ada obat untuk memperbaiki sirosis? Atau, dalam bahasa orang awam, apakah ada jalan keluar untuk membuat liver yang sudah mengeras di sana-sini itu kembali lunak? Dan jalan darah yang sudah banyak yang buntu itu membuka lagi? Dokter rupanya tidak punya banyak waktu. Juga tidak mau bertele-tele. Dia seperti menganggap manusia ini benda yang tidak punya perasaan. Dokter melemparkan jawaban pendek, langsung, tajam. Terasa seperti lemparan pisau yang langsung mengarah ke liver saya. Menghunjam dalam sekali. Lalu menyayatnyayatnya. Berdarah-darah. Pedih. Anda lakukan transplantasi saja. Mungkin hidup Anda bisa lebih panjang lima tahun lagi, katanya. Sekarang Anda berumur 55 tahun. Tambah lima tahun menjadi 60. Cukuplah, katanya. OK. Lima tahun lagi, Dahlan, kau bisa dapat tambahan umur lima tahun lagi. Tidak boleh lebih. Bisa sampai umur 60 cukuplah. OK. Tapi, Kenapa setelah transplantasi hanya bisa hidup lima tahun? tanya dokter itu pada saya. Sebenarnya pertanyaan itu tidak perlu. Saya sudah oke. Tambah lima tahun sudah oke. Saya tidak mau dia memberi saya sekarung butrawali. Tapi, dia jawab sendiri pertanyaan itu: karena liver barunya nanti kemungkinan juga terkena hepatitis lagi, dan akan jadi sirosis lagi. Apalagi kalau saat itu sudah ada kankernya, bisa jadi bibit kanker itu juga masuk lagi ke liver baru. Berarti juga tidak ada jalan keluar untuk sirosis. Padahal, sirosis itu yang menyebabkan saluran pencernaan bengkak dan membuat gelembung-gelembung darah. Berarti juga, dua-duanya tidak ada jalan keluar. Tidak ada obatnya. Tidak ada alternatifnya. Tidak ada pula keajaiban yang bisa diharapkan. *** Dokter itu tidak kenal saya. Dia hanya tahu saya orang Surabaya. Dia tahu itu karena hampir semua pasiennya mengatakan kenal saya. Dia lantas mengira saya kerja di perusahaan periklanan. Satu perkiraan yang tidak terlalu salah. Ruang praktiknya memang penuh dengan pasien dan sebagian besar orang Indonesia. ! '(!

Mungkin karena itu, di dinding pendek dekat meja resepsionis terdapat banyak guntingan koran Indonesia yang memuat tentang ceramah dan wawancara dengan dokter itu. Salah satunya adalah koran dari Grup Jawa Pos. Saya sama sekali tidak menyangka akan berhubungan dengan kata transplantasi. Saya masih menganggap kata-kata transplan dari dokter tersebut tidak terlalu meyakinkan. Saya tidak terlalu memikirkannya. Apalagi, ancaman kematian tiba-tiba sementara sudah teratasi. Karena badan normal-normal saja, saya juga hidup normal lagi. Artinya sibuk lagi, terbang-terbang lagi. Hanya saya lebih care dibanding dulu. Saya terus memonitor darah saya di laboratorium. Dua minggu sekali, setiap akan membuka hasil lab, perasaan saya seperti anak sekolah yang sedang menerima rapor. Kadang saya membuka hasil lab itu seperti membuka kartu remi yang tertutup di atas meja. Pelan-pelan, sedikit-sedikit, takut angka-angka merahnya terlihat sekaligus.

')!

Dokter Mengetuk Dada, Timbul Bunyi seperti Tong Kosong


11 September 2007 SAYA pernah membenci kaus kaki. Setiap pulang dari bepergian, selalu saja kaki saya seperti balon panjang yang ditiup tidak sempurna. Besar atas bawahnya, dekok di tengahnya. Ini terjadi karena karet di kaus kaki tersebut menekan kaki saya. Karena yang dijepit adalah daging kaki yang bengkak, maka tidak gampang baliknya. Pernah saya merasa penat. Yakni, saat habis makan malam dengan Wakil Presiden H M. Jusuf Kalla dan lima menteri yang menyertainya. Waktu itu kami makan di satu restoran kecil, namun istimewa. Saya tahu alamat restoran itu dari Rajimin, bos Hotel J.W. Marriott Surabaya yang juga konsul kehormatan Hongaria. Restoran itu ada di pojok Jalan Tianjin, Shanghai. Semua masakannya terbuat dari kepiting. Mulai supnya, makanan kecilnya, sampai makanan penutupnya. Enaknya luar biasa. Pulang makan, saya mampir ke kios pijat kaki. Setelah melepas kaus kaki saya, si ahli refleksi kaget. Karet kaus kakimu terlalu kuat. Lihat. Sampai membuat kakimu seperti ini, katanya sambil melihat bagian kaki yang ambles. Dia pun, seperti saya, ternyata juga menyalahkan kaus kaki. Padahal, yang salah adalah kakinya. Tepatnya, yang salah sebenarnya liver saya yang tidak lagi mampu mengolah protein secara normal. Bahkan, kalau mau yang paling tepat lagi disalahkan adalah saya sendiri: Mengapa tidak menjaga baikbaik liver saya? Dua tahun lamanya saya membenci kaus kaki. Tapi juga tetap memerlukannya. Sebab, kalau tidak pakai kaus kaki, perut saya langsung kembung. Begitulah. Hubungan saya dengan kaus kaki menjadi sangat unik: Jenis hubungan yang disebut love and hate -cinta dan benci. Dalam situasi terus membenci kaus kaki seperti itulah, saya terus beraktivitas. Terbang berjam-jam. Berkendaraan beratus-ratus kilometer. Di dalam negeri. Di luar negeri. ! (+!

Sampai suatu saat saya punya urusan di kota Tianjin, 100 km dari Beijing. Di sini kebetulan ada kenalan dokter ahli liver yang hebat. Namanya Prof dr Shao. Seorang wanita tepat seumur saya, yang mengepalai bagian liver di suatu rumah sakit di sana. Dia dobel dokter. Dokter ilmu kedokteran Barat dan dokter ilmu kedokteran Tiongkok. Dia juga doktor di spesialisasi liver, limpa, dan empedu. Saya kepingin mencari pendapat pembanding. Benarkah tidak ada jalan keluar untuk problem bengkak saya itu. Benarkah sirosis itu tidak bisa disembuhkan, minimal dihentikan proses memburuknya. Tentu, saya diminta Prof Shao untuk menjalani pemeriksaan ulang. Mulai kencing, kotoran, darah, liver, limpa, paru, sampai prostat. Juga menjalani pemeriksaan fisik yang dia lakukan sendiri. Yakni pemeriksaan secara kedokteran Tiongkok. Dia ketuk-ketuk rongga dada saya dengan jarinya. Timbullah suara seperti tong kosong. Ini pertanda liver Anda memang sudah mengerut, mengecil, katanya. Di rongga dada Anda sudah mulai ada ruang kosongnya, tambahnya. Setiap Prof Shao memeriksa fisik saya, selalu banyak dokter muda yang diajaknya. Dokter-dokter muda itu menyimak dengan tekun apa saja dijelaskan Prof Shao sehubungan dengan kondisi badan saya. Dia memang juga pengajar di fakultas kedokteran yang terkait dengan rumah sakit itu. Lihat ini, kata Prof Shao kepada para dokter muda itu. Sambil berkata demikian, Prof Shao menyingkap baju saya sampai dada saya terbuka. Lalu, dia memegang-megang payudara saya (eh, kalau milik laki-laki apa juga disebut payudara?). Lihat payudara dia ini. Juga membesar. Seperti payudaranya gadis yang menginjak remaja. Orang yang terkena sirosis akan selalu seperti ini, ujarnya. Kenapa Prof Shao mengumpamakan payudara saya seperti payudara gadis belia, karena proses pembesaran kelenjar susu lelaki yang menderita sirosis memang mirip pertumbuhan payudara gadis yang beranjak remaja. Yakni dimulai dengan rasa nyeri pada bagian putingnya saat tersentuh sesuatu. Perlahan-lahan rasa nyeri itu berkurang, bersamaan dengan makin besarnya payudara. Seperti umumnya gadis remaja, pembesaran payudara saya juga dimulai dari yang kiri, baru kemudian yang kanan. ! (*!

Jika liver saya tidak keburu ditransplan, payudara saya akan terus membesar menyerupai payudara wanita. Dalam istilah medis, pembesaran payudara yang saya alami itu disebut dengan gynecomasty atau ginekomastia. Lama sekali dia memegang-megang payudara saya. Tapi, bayangan saya lebih kepada sirosis yang mengancam nyawa saya. Tidak hanya hari itu. Berkali-kali Shao menjadikan payudara saya sebagai alat peraga untuk mahasiswanya. Saya menerima saja. Bukan karena merasakan remasannya, melainkan itu memang penting agar orang lain jangan sampai seperti saya. Setelah selesai bagian dada, tangannya turun ke perut. Dia periksa perut saya dengan dua tangannya. Dia pejamkan matanya seolah ingin merasakan benar apa yang berubah dari perut saya senti ke senti. Dia goyang-goyang perut saya. Masih beruntung. Air belum masuk ke rongga perut, katanya. Prof Shao memang sangat khawatir air yang sudah memenuhi seluruh badan saya juga sudah mulai mengalir ke rongga perut. Sebab, memang begitulah proses yang akan terjadi berikutnya. Air akan bocor dan menggenangi rongga perut. Karena itu, penderita sakit liver seperti saya akan berakhir juga dengan keadaan perut membesar penuh air. Mula-mula perut akan seperti balon berisi air: Ginjurginjur. Dalam istilah medis, keadaan itu disebut dengan ascites. Semakin lama, jumlah air di perut akan semakin banyak dan memaksa perut untuk membesar. Bersamaan dengan membesarnya perut, biasanya pembuluhpembuluh darah di permukaan perut juga ikut melebar sehingga tampak seperti sarang laba-laba, tapi warnanya merah. Sesuai dengan tampilannya, para dokter menyebut pelebaran pembuluh darah itu dengan istilah spider veins. Pada tahap berikutnya, perut yang besar itu mengeras. Saya sudah berkalikali melihat perut orang sakit liver seperti ini dan biasanya sudah akan meninggal kurang dari enam bulan. Begitu juga ibu saya dulu. Satu pemandangan yang saya lihat ketika saya masih berumur 12 tahun dan terus hidup sampai saya sendiri dalam posisi akan mengalaminya. Saya sendiri beruntung karena sampai saat transplantasi, saya tidak mengalami yang disebut ascites maupun spider veins itu. ! ("!

Ini harus dicegah sedini mungkin, sebisa-bisanya, kata Shao kepada para dokter muda tersebut. Tapi, itu pun sifatnya hanya usaha untuk buying time. Dokter di Singapura berpendapat sama. Dia memberikan dua jalan: Meminum obat agar kencing lancar dan meminta saya untuk tidak banyak minum. Dua-duanya saya jalani. Sampai-sampai saya pernah merasa takut pada air minum. Setiap mau minum, selalu terbayang bahwa sebagian air itu akan terus membuat badan saya bengkak. Sebagian lain akan membuat perut saya membesar, ginjurginjur, dan akhirnya mengeras. Pada awalnya, saya agak terhibur dengan pil pelancar kencing. Tapi, lamalama satu pil tidak cukup membuat kencing saya mengalir lancar. Harus dua pil. Ini pun lama-lama juga sudah kurang manjur. Terpaksa, saya terus mengurangi minum. Beberapa bulan terakhir saya hanya berani minum satu liter saja sehari. Ini karena kencing saya hanya sekitar 700 sampai 900 mililiter sehari semalam. Di Tianjin, Prof Shao memberi saya obat Tiongkok yang sudah berwujud cairan infus. Tiap hari saya diinfus dengan itu dan bengkak berkurang. Kencing lancar sekali. Tapi, kalau infus dihentikan, tetap saja badan kembali bengkak. Shao menjelaskan mengapa demikian kepada para dokter muda - beberapa di antara mereka dokter muda dalam ilmu kedokteran Tiongkok. Ketika saya banyak tanya mengenai khasiat dan bahaya setiap obat yang diberikan kepada saya, Shao bergegas menatap wajah-wajah dokter muda. Lihat sahabat saya ini. Banyak bertanya. Kelak, semua pasien akan seperti ini. Kalian harus bisa menjelaskannya dengan sebaik-baiknya. Pasien memang punya hak untuk tahu, ujar Shao sambil tangannya tetap di perut saya. Kadang tangannya mampir lagi ke payudara saya. Ini karena di antara dokter muda hari itu, ada wajah baru yang belum diberi tahu bagaimana payudara saya juga membesar seperti gadis menginjak remaja. Lain hari, saya ingin Prof Shao ganti mengajar saya. Sebelum hari yang ditentukan itu tiba, saya beli kertas putih lebar. Lalu, saya tempelkan di dinding kamar rumah sakit. Saya ingin dia menjelaskan secara gamblang rangkaian penyakit saya. Saya juga beli spidol warna-warni untuk membedakan gambar aliran ! (#!

darah masuk dan keluar. Dia tersenyum melihat persiapan saya hari itu. Wah, saya harus mengajar berapa jam? tanyanya bergurau. Pipinya yang padat, hidungnya yang agak mancung, badannya yang tinggi, dan rambutnya yang ikal membuat penampilannya sangat aristokrat. Apalagi kalau berat badannya bisa turun satu kilo lagi. Satu jam 10.000 yuan ya? guraunya ketika menyebut uang setara Rp 11 jutaan tersebut. Di dinding itu dia menggambar isi tubuh saya. Menjelaskannya sangat detail dan terang-benderang. Dia pandai sekali mengajar. Pasti banyak mahasiswanya yang senang. Saya juga belajar yang lain lagi: bahasa. Sebab, bahasa Mandarin yang dia gunakan sangat teknis dengan logat yang sangat Tianjin. Kini tahulah saya secara gamblang penyakit saya, terutama ancaman mati yang nyata di depan mata saya. Ini tidak ada obatnya, katanya tegas. Muncul karakternya sebagai pemimpin. Kecuali istirahat total, tambahnya. Obat hanya memegang peranan kurang dari 15 persen. Yang 85 persen lebih adalah perilaku pasien sendiri, ujarnya. Prof Shao melarang saya banyak jalan, gerak, dan terlalu lelah. Tidak boleh marah, kemrungsung, dan berada dalam situasi tergesa-gesa. Padahal, salah satu hobi saya mengejar pesawat. Saya sering tidak sabar menunggu jadwal pesawat. Kalau pesawat yang akan terbang ke suatu tujuan masih tiga- empat jam lagi, biasanya saya cari pesawat ke jurusan yang lain dulu. Saya juga tidak boleh merasa kesal. Tidak memikirkan banyak persoalan sekaligus. Tidak boleh mikir yang berat-berat. Saya harus pensiun. Saya hanya boleh memikirkan badan saya sendiri. Tidak boleh lagi mikir orang lain. Ibaratnya, kata Prof Shao, Rumah tetangga terbakar pun, Anda jangan peduli. Tegas sekali peringatannya. Terang sekali contohnya. Hanya mahasiswa yang bodoh yang tidak bisa memahaminya. Dan saya ternyata termasuk mahasiswa-nya yang amat bodoh.

($!

Dokter Menegur Iba, Ingat Nasib Ayahnya yang Redaktur


12 September 2007 BUKAN. Bukan bodoh. Semua penjelasan Prof Shao mengenai bahayanya penyakit saya, saya mengerti sepenuhnya. Terang-benderang penjelasannya. Saya pasti tidak bodoh. Hanya saya sadari, saya agak ndablek. Dan dia tahu perilaku saya itu. Dia tahu keras kepala saya, sembrono saya. Suatu saat, ketika saya kembali menemuinya setelah setengah bulan menghilang, dia lama memandang saya. Ke mana saja Anda? Kami di sini prihatin sekali. Takut terjadi sesuatu pada Anda, katanya dengan nada khawatir. Mungkin juga jengkel. Saya baru datang dari Indonesia, jawab saya. Dia setengah tidak percaya, setengah gondok. Lho, setelah dari sini dulu itu, Anda pulang ke Indonesia? Kenapa? Apa kata saya tentang kebakaran rumah tetangga? ujarnya. Dia lantas menarik napas panjang sekali. Dahlan, Anda ini sudah gawat. Saya tidak mau kehilangan Anda, katanya. Berkata begitu, dia seperti setengah menegur setengah mengiba. Dia kembali menarik napas panjang sekali. Matanya kelihatan berlinang. Dia keluarkan tisu di sakunya. Dia usap air matanya. Beberapa hari kemudian, dia bercerita kepada saya mengapa sampai hampir menangis ketika menasihati saya. Ternyata, dia ingat bapaknya. Bapaknya seorang redaktur surat kabar. Ibunya seorang hakim terkemuka. Bapaknya terus menulis buku sepanjang malam. Lalu meninggal. Ternyata karena sakit liver. Dia tidak tahu itu dan tidak memperhatikan itu. Padahal, dia dokter ahli liver. Waktu itu, katanya, dia juga sedang belajar ekstrakeras selain kerja keras. Sebab, dia akan segera dapat beasiswa untuk sekolah lagi di luar negeri. Tapi, semuanya gagal. Beasiswa tidak jadi. Ayahnya pun pergi. Dia menangis lagi saat menceritakan itu.

(%!

Dia lantas ingin merawat saya semaksimal mungkin agar tidak seperti bapaknya. Saya sendiri juga kepingin agar tidak seperti ibu saya. Dia akan sangat kecewa kalau saya sendiri tidak peduli dengan badan saya. Apalagi dari hasil pemeriksaan total, dia lihat masih ada sedikit peluang. Hasil laminating yang dilakukan di Singapura terhadap saluran pencernakan saya yang sudah penuh varises sangat baik. Cukup untuk mengulur waktu beberapa bulan. Laminating itu kurang lebih bisa bertahan setahun. Kalau toh ada tanda-tanda bengkak lagi, masih bisa dilaminating sekali lagi. Prof Shao lebih prihatin pada kadar platelet atau trombosit saya yang tinggal 60. Angka minimal untuk kadar trombosit seharusnya 150 (ini angka dalam standar laboratorium di Tiongkok). Di negara lain, termasuk Indonesia, digunakan standar minimal 150.000. Normalnya 150.000 sampai 400.000 per milimeter kubik darah. Melihat rendahnya kadar platelet saya, Prof Shao lantas berpikir keras mencari jalan untuk menaikkan kadar platelet saya. Tapi, caranya tidak lewat injeksi karena hal itu hanya bisa bertahan dua-tiga hari. Setelah itu, platelet akan turun lagi. Mungkin saya akan mengecilkan limpa Anda, katanya. Limpa saya harus dipotong? Boleh dibilang begitu. Namanya diembolisasi, ujarnya. Dipotong seberapa banyak? Sekarang, limpa Anda sudah membesar tiga kali ukuran normal. Mungkin dikurangi sepertiganya dulu, katanya. Limpa dipotong? kata saya dalam hati. Saya minta waktu berpikir untuk memutuskannya. Mengapa limpa harus dikecilkan? Limpa adalah organ kecil -yang dalam keadaan normal hanya seukuran genggaman kita- di bawah iga kiri. Tugasnya melawan infeksi, memproduksi sel darah merah dan darah putih tipe tertentu, serta menyingkirkan sampah-sampah di pembuluh darah. Yang disebut sampah di pembuluh darah, antara lain, adalah selsel darah yang rusak. Seperti yang pernah saya sebutkan di tulisan terdahulu, aliran darah ke liver saya (baca: penderita sirosis) tidak bisa lancar. Akibatnya, darah mengalir balik ke

(&!

limpa. Untuk menampung limpahan itu, limpa lantas membesarkan diri. Makin banyak darah yang harus ditampung, semakin besar pula ukuran limpa. Karena jumlahnya di luar batas normal, limpa pun memperlakukan sel-sel darah yang numpuk itu sebagai sampah yang harus disingkirkan. Itu berarti sel-sel darah yang sehat pun ikut disingkirkan. Bagi limpa, luberan sel darah yang berlimpah itu memang menyulitkan. Sebab, jika tidak dihancurkan, sel-sel sehat dan rusak itu akan mengerak dan mengganggu fungsinya. Tapi, jika dihancurkan semua, darah akan kekurangan sel darah merah, darah putih, dan platelet yang sehat. Padahal, orang yang kekurangan sel darah merah akan mengalami anemia (kekurangan darah). Kalau kekurangan darah putih, orang akan gampang terkena infeksi dan yang kekurangan platelet akan mudah mengalami pendarahan. Tiga-tiganya bisa mengakibatkan kematian. Oh, ya saya lupa menjelaskan bahwa sebenarnya, bukan hanya kadar platelet saya yang turun. Tapi juga sel darah putih dan sel darah merah saya. Untuk menormalkan kadar sel-sel darah saya itulah, Prof Shao memutuskan perlunya mengecilkan limpa saya. Ini memang bukan langkah permanen. Sebab, selama liver saya sirosis, darah yang tidak bisa masuk liver akan meluber dan menekan ke mana-mana, termasuk ke limpa. Artinya, setelah dipotong pun, kelak limpa membesar lagi? Ya. Dan itu akan membuat pletelet juga turun lagi. Kalau tahap itu sudah terjadi, limpa saya masih bisa dipotong lagi, sekali lagi. Limpa memiliki tiga saluran darah masuk utama. Kalau salah satu saluran itu dimatikan, limpa akan mati sepertiga. Mematikan salah satu di antara tiga saluran itulah, yang akan dilakukan Prof Shao. Kelak, kalau limpa sudah membesar lagi, masih ada satu di antara dua saluran utama yang bisa dimatikan lagi. Tentu pemotongan limpa itu tidak bisa dilakukan tiga kali karena sama artinya dengan membuang limpa sama sekali. Tapi, dua tahap pemotongan limpa tersebut dianggap cukup untuk mengulur waktu sampai lima tahun.

('!

Saya tetap minta waktu memikirkannya. Saya kembali ke Indonesia lagi agar, antara lain, bisa mampir ke Singapura. Saya ingin mendapatkan opini pembanding. Saya harus kembali ke tanah air karena sudah terlanjur komit untuk mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim. Dari Kaltim-lah, saya memulai karir sehingga saya anggap Kaltim seperti daerah kelahiran sendiri. Setamat SMA, saya memang ke Kaltim, ikut kakak sulung saya. Tujuan satu: agar bisa kuliah. Di Jawa saya tidak mungkin bisa masuk universitas karena tidak punya biaya. Di Kaltim, masuk univeristas masih gampang dan murah. Saya masuk Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel cabang Samarinda. Kampusnya di sebuah rumah panggung di Jalan Panglima Batur IV. Sewaktu kuliah, saya sering melihat ke bawah. Karena lantai papannya tidak cukup rapat, saya bisa menyaksikan apa yang terjadi di kolong yang sering digenangi air. Sering ada suara krosak di kolong itu yang lebih menarik perhatian saya daripada mata kuliah. Itulah suara biawak berkelahi. Biawak adalah binatang seperti buaya, tapi hidup di darat. Sebagai tamatan aliyah, saya memang tidak mendapat ilmu baru dari mata kuliah yang sudah saya pelajari semua di kelas satu SMA itu. Tahun-tahun belakangan Kaltim mengalami krisis listrik. Pemadaman terjadi bergilir. Banyak kampung miskin terbakar karena saat lampu mati, mereka harus menyalakan lilin. Nah, lilin itulah yang sering mengakibatkan kebakaran. PLN tidak bisa banyak berbuat karena selalu rugi. Setahun PLN Kaltim bisa rugi hampir setengah triliun rupiah (2005). Kaltim tidak bisa berharap banyak pada PLN. Pembangkit-pembangkit listrik PLN sangat tidak efisien. Untuk menghasilkan satu watt, diperlukan biaya Rp 2.000-an. Padahal, rakyat hanya dikenai tarif Rp 750. Kalau tarif listrik dinaikkan, yang terjadi adalah demo. Jadi, sejak sebelum matahari terbit pun, PLN sudah tahu bahwa hari itu perusahaannya akan rugi Rp 1.250 per watt. Maka, saya meyakinkan pimpinan-pimpinan daerah di sana, mulai gubernur sampai DPRD, agar mau menyisihkan sebagian anggaran untuk investasi di listrik. Membangun PLTU yang efisien, yang biaya produksi listriknya hanya Rp 500 per watt. Kalau dijual Rp 750 per watt kepada masyarakat, PLN langsung untung. ! ((!

Anggaran Kaltim yang besar karena sumber alamnya yang melimpah jangan habis untuk kebutuhan konsumtif. Pemda setuju asal saya mau jadi direktur utama perusahaan daerah di sana. Seperti yang saya lakukan di Jatim. Proyek energi yang kelihatannya mulia itu ternyata juga memakan bukan hanya dana saya, tapi juga energi saya. Dan, yang utama lagi memakan batin saya. Meski tujuannya begitu hebat, logikanya begitu baik, dan hasilnya bagi PLN juga begitu nyata (dari perusahan rugi akan langsung jadi laba), proses perizinannya ternyata sangat panjang, melelahkan, dan menjengkelkan. Dua tahun baru beres. Padahal, saya kenal direksi PLN-nya, kenal menteri-menteri di bidangnya, kenal wakil presiden, dan bahkan presidennya. Memang, saya tidak pernah memanfaatkan kedekatan saya itu untuk urusan tersebut. Sudah jadi prinsip saya untuk tidak memanfaatkan keberadaan saya di pers untuk menekan seseorang. Pernah suatu saat saya diajak ke Tiongkok oleh Wapres Jusuf Kalla. Di atas pesawat, Wapres mengumpulkan menteri dan direksi PLN untuk membahas kasus Kaltim itu. Ini bukan karena saya mengadu, tapi karena Chairul Tanjung yang berinisiatif. Bos Bank Mega yang juga bos Trans TV itu yang prihatin dengan keluhan saya. Ini harus selesai. Kalau Dahlan saja mengalami hal seperti ini, bagaimana yang lain? katanya. Saya malu proyek sekecil itu saja sampai dibahas di forum yang begitu tinggi. Tinggi level dan tinggi pula tempatnya. Di dalam pesawat yang berada 36.000 kaki di atas permukaan laut. Urusan kecil begini kok panjang sekali, ya, kata saya kepada Chairul Tanjung. Sebagian karena malu, sebagian lagi sebagai ungkapan terima kasih atas inisiatifnya. Ini memang rusan kecil bagi Anda. Tapi kalau tembok ini tidak dijebol, siapa yang mau masuk jadi investor listrik, kata bos Bank Mega yang namanya meroket tahun-tahun terakhir ini. Saya saja tidak mau. Saya baru mau masuk ke listrik kalau urusan ini sudah selesai, tambahnya. Tentu sebenarnya juga bukan kecil bagi saya. Kecil yang saya maksud adalah dari sudut pandang negara. Ini besar bagi saya, terutama risikonya. Risiko pada keuangan saya dan pada kesehatan saya. Memang, saya akan dicatat sebagai ! ()!

penjebol tembok kebuntuan listrik itu. Namun, bisa jadi, kepala saya juga pecah ketika membenturnya. Tembok tersebut terlalu tebal. Memang ada juga salah saya. Saya terlalu terpengaruh suasana di Tiongkok. Ini gara-gara saya terlalu sering ke negeri itu dan melihat bagaimana antusiasnya pemerintah kalau ada investor datang. Bayangan saya juga begitu sewaktu saya memiliki semangat untuk ikut mengatasi krisis listrik di Kaltim. Pasti pemerintah di segala lapisan akan senang. Kalau proyek tersebut berhasil, kan sama artinya dengan menyumbang Rp 500 miliar tiap tahun kepada negara? Bayangan saya pemerintah akan membuat segalanya lancar. Kesalahan kedua saya, ketika setahun mengurus izin ini tidak berhasil (karena sejumlah peraturan yang tidak mengizinkan PLN menandatangani kontrak jangka panjang), saya setuju untuk kompromi. Yakni cukup mendapatkan kontrak tahunan saja dari PLN. Kalau kontrak tahunan, PLN tidak melanggar peraturan. Apalagi ada bank yang bersedia memberikan pinjaman meski kontraknya hanya tahunan. Ternyata, ujung-ujungnya, bank tetap mensyaratkan kontrak jangka panjang. Saya memahami aturan bank seperti itu. Saya juga memahami PLN tidak boleh melanggar aturan. Yang tidak saya pahami adalah mengapa ada peraturan yang menghambat kemajuan seperti itu. Kalau toh sudah telanjur ada karena masa lalu yang kelam, mengapa tidak segera dicabut. Maka, lagi-lagi kami harus mengurus izin kontrak panjang dengan PLN. Tepatnya izin dari tiga lembaga, masing-masing dengan birokrasinya sendiri: kementerian energi, kementerian BUMN, dan PLN. Di kementerian energi saya tidak punya masalah. Di PLN hanya sedikit masalah. Tapi, saya buntu di kantor menteri BUMN. Padahal, saya kenal Menteri Soegiharto. Bahkan, dia juga ikut dalam rapat tingkat tinggi yang benar-benar tinggi itu. Persoalan tersebut membuat saya harus mengabaikan peringatan keras Prof Shao bahwa saya tidak boleh terbang, tidak boleh lelah, tidak boleh mikir, tidak boleh marah, tidak boleh kesal. Saya ingat kata-kata Prof Shao bahwa walau terjadi kebakaran di rumah tetangga pun, saya tidak boleh peduli. Tapi, yang kebakaran ini

)+!

bukan rumah tetangga. Rumah saya sendiri: Kaltim. Juga rumah besar saya: Indonesia. Indonesia yang begitu rumit peraturannya. Saya harus pulang ke Indonesia untuk terus mengurus semua itu. Saya menyesal telah berinisiatif mengatasi kelangkaan listrik di Kaltim tersebut. Menyesal luar biasa. Tapi sudah tidak bisa mundur lagi. Meski kondisi badan saya sudah sedemikian parah, saya tidak bisa lari dari tanggung jawab itu. Tidak pantas saya sebutkan di sini apa usaha yang saya lakukan untuk mengatasi kebuntuan di kantor (Soegiharto, sebelum dicopot) menteri BUMN. Yang penting, akhirnya sang menteri mengeluarkan surat persetujuan. Sebuah persetujuan yang sudah sangat mahal; bukan saja karena prosesnya, tapi juga akibatnya. Lambatnya proses ini telah membuat biaya investasi membengkak luar biasa. Tapi, ini sudah bukan lagi soal untung rugi. Ini soal krisis listrik yang harus diatasi. Tiga-empat bulan lagi (akhir tahun ini), insya Allah Kaltim mulai bisa mengatasi kelangkaan listrik. Liver baru saya mungkin juga akan ikut berbinarbinar. Saya dengar setelah soal Kaltim itu selesai, berturut-turut banyak izin yang ditandatangani PLN untuk investor-investor lain. Dalam perjalanan pulang untuk mengurus listrik itu, saya bisa mampir ke Singapura. Saya ingin bertanya ke dokter di Singapura, benarkah limpa saya harus dipotong? Mengapa dokter di Singapura sama sekali tidak pernah menyinggung soal limpa?

)*!

Waktunya Tiba, ketika Menggigit Pisang Berlumur Darah


13 September 2007 SETUJUKAH dokter Singapura dengan pendapat Prof Shao dari Tianjin, Tiongkok, tentang rencana pemotongan limpa saya? Kalau tujuannya untuk menaikkan platelet, memang OK, katanya. Dia juga setuju kalau sampai platelet turun terus, ketahanan tubuh saya kian habis dan saya akan mengalami perdarahan dari setiap lubang yang saya miliki. Ini juga sama dengan penjelasan Prof Shao. Waktu itu saya juga tanya ke Prof Shao: Pada angka berapa perdarahan itu akan terjadi? Katakanlah platelet saya (yang seharusnya minimal 150) sekarang tinggal 60. Dan masih akan turun terus. Setiap orang tidak sama, jawab dr Shao. Ada yang pada angka 60 seperti Anda sekarang sudah perdarahan, tambahnya. Tapi, ada juga yang baru perdarahan ketika platelet-nya sudah 50, katanya lagi. Kapan platelet saya akan turun sampai angka 50? Berapa minggu lagi? Tidak bisa diperkirakan begitu. Bisa saja tiba-tiba drop jadi 50 atau bahkan di bawahnya, katanya. Perhatikan saja lubang hidung Anda. Atau telinga. Atau kalau sedang sikat gigi, tambahnya. Meski setuju platelet saya harus dinaikkan, dokter Singapura ternyata tidak setuju kalau itu dilakukan dengan cara memotong limpa. Dibuang saja sekalian, ujarnya. Uh! Dalam istilah medis, pembuangan limpa itu disebut dengan splenectomy. Mendengar kata limpa dipotong saja, saya sudah tidak senang. Ini malah disuruh membuang. Tidak apa-apa. Orang bisa hidup tanpa limpa, tambah dokter di Singapura itu. Memang, orang bisa hidup tanpa limpa. Tetapi, kan lantas tidak terlalu tahan terhadap infeksi. Makanya saya tanya ke dokter di Singapura itu. Fungsi limpanya bagaimana? Diganti obat, jawabnya. Pemotongan limpa, menurut dokter Singapura itu, sangat berbahaya. Bisa timbul infeksi di tiga tempat yang akan mengakibatkan kematian. Yakni, infeksi di ! )"!

selaput dada, infeksi di tempat limpa dipotong. Singapura sudah lama tidak mau lagi memotong limpa. Sudah lebih 15 tahun, katanya. Membuang limpa sama sekali malah lebih safe, tambahnya. Penjelasannya, meski singkat, sangat masuk akal. Saya bisa menerima sepenuhnya. Tapi, saya juga berpikir: Masak Prof Shao tidak tahu itu. Tidak mungkin, rasanya. Maka saya tidak begitu saja mengambil keputusan membuang limpa. Nanti, dalam kesempatan saya ke Tiongkok lagi, saya akan menemui Prof Shao untuk menguji-nya. Itu, tentu, kalau masih sempat. *** Saya memang harus ke Tiongkok lagi. Ada beberapa urusan. Urusan Jawa Pos sendiri, urusan pabrik steel conveyor belt-nya perusahaan daerah Jatim, urusan perusahaan daerah Kaltim, dan urusan menepati janji. Saya sudah berjanji kepada Dirjen minyak dan gas yang baru untuk mengajaknya ke Tiongkok. Untuk melihat bagaimana negara itu bekerja keras mencukupi kebutuhan minyak. Sudah lama saya gemas, mengapa Indonesia sebagai negara penghasil minyak justru menderita ketika harga minyak dunia membubung? Sampai harus menaikkan harga BBM yang menghebohkan itu? Mengapa tidak justru menikmatinya? Ini semua karena produksi minyak Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun. Terakhir, pada 2005, sudah berada di bawah satu juta barel per hari. Sudah sangat tidak layak menjadi anggota OPEC. Kebetulan Dirjen Migas yang baru juga berambisi mengatasi hal itu. Saya ingin membantunya meski saya hanyalah rakyat biasa. Saya sering ke ladang minyak di Tiongkok. Saya melihat betapa semangatnya orang di Daqing (Provinsi Heilongjiang) dan di Panjin (Provinsi Liaoning) menggali minyak. Padahal, sumursumur minyak di sana lebih dalam dan iklimnya juga lebih beku. Minyak yang didapat pun lebih jelek dibanding minyak mentah Indonesia. Tapi, semangat untuk menggalinya luar biasa. Dengan alat-alat yang lebih sederhana mereka bisa menghasilkan minyak lebih banyak. Hari itu kebetulan Dirjen Migas punya acara di Shanghai. Maka, saya ingin mengajaknya mampir ke Liaoning dan Heilongjiang. Saya janjian bertemu di Kota ! )#!

Dalian. Di bandara kota itu pukul 24.00, yakni saat pesawatnya mendarat dari Shanghai. Paginya saya masih di kota Tianjin, untuk bertemu Prof Shao. Kepada ahli penyakit liver ini langsung saja saya semprotkan pertanyaan berdasar pendapat dokter di Singapura. Di Singapura dokter tidak mau lagi memotong limpa. Di sana cara itu sudah dianggap kuno, kata saya. Siapa bilang itu kuno? sergahnya. Suaranya meninggi. Justru membuang limpa itu yang kuno sekali. Itu cara 60 tahun yang lalu, katanya. Ketika saya tanya soal risiko infeksi di tiga tempat yang sangat membahayakan, dia tidak mengelak. Tentu saya tahu. Tapi, juga tahu cara menghindarinya, katanya. Jawabannya tegas, mantap, dan percaya diri. Tinggal saya yang harus memilih lebih percaya kepada yang mana. Dua-duanya masuk akal. Dua-duanya bisa diterima secara medis. Ini soal pilihan. Giliran saya sendiri yang harus memutuskan. Segera saya gunakan ilmu mantiq saya: sudah berapa kali Prof Shao melakukan pemotongan limpa? Sudah banyak kali, katanya. Banyak itu berapa? Berapa puluh? tanya saya lagi. Sudah lebih dari 500, jawabnya mantap. Ya, sudah. Saya pilih dipotong saja. Biar berkurang, tapi masih ada sisanya. Saya ingat usul-fikh ahli sunnah wal jamaah: Sesuatu yang tidak bisa dipakai semua, jangan dibuang semua. Maka saya pun memutuskan akan titip nasib ke Prof Shao. Tapi, sore itu saya harus ke Dalian, karena tengah malam nanti harus menjemput Dirjen Migas di bandara kota itu. Penerbangan dari Tianjin ke Dalian memakan waktu satu jam. Saya minta izin ke Dalian dulu. Rumah besar saya, Indonesia, akan terbakar, gurau saya kepada Prof Shao. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Menarik panjang napasnya. Tiba di Dalian sudah agak malam. Sudah waktunya makan malam. Saat makan malam itulah saya kaget. Ketika saya menggigit pisang, sisa pisang itu berlumur darah! This is the time! Wo de shi jian dao le. Tibalah sudah waktu saya,

)$!

kata saya dalam hati. Saya menundukkan kepala sesaat. Memikirkan apa yang harus saya perbuat. Saya lari ke toilet. Berkumur. Merah airnya. Berkumur lagi dan berkumur lagi. Ah, hilang merahnya. Satu jam kemudian saya berkumur lagi, tidak ada darahnya. Saya pun bertekad tetap memenuhi komitmen saya. Saat menyalami kedatangan Dirjen Migas, saya tidak menceritakan apa yang terjadi atas diri saya. Saya terus tersenyum dan memberinya semangat untuk terus membangun dunia minyak. Saya tahu tekadnya kuat sekali untuk memperbaiki perminyakan Indonesia, dan karena itu saya antusias membantunya. Pagi-pagi kami bermobil sejauh 400 km ke Panjin. Sorenya bermobil lagi ke kota Shenyang. Malamnya terbang ke kota Harbin. Pagi-pagi bermobil 500 kilometer ke kota Daqing. Dirjen serius sekali melihat semua itu. Mereka ini benar-benar seperti koret-koret (mengais sisa-sisa) minyak, katanya. Malam hari balik lagi ke Harbin. Pagi-pagi Dirjen kembali ke Beijing untuk balik ke Indonesia. Saya terbang ke Tianjin untuk pemotongan limpa saya. Lakukan sekarang! kata saya begitu bertemu Prof Shao. Apa? tanyanya. Potong saja limpa saya, kata saya. Mengapa? tanyanya lagi, kali ini seperti tidak percaya. Juga gondoknya kepada saya meningkat. Dia sudah sering mengancam untuk tidak mau lagi mengurus saya. Wo bu guan ni, katanya. Tapi, saya tahu dia baik. Ujung-ujungnya luluh juga hatinya. Tidak bisa sekarang. Harus ada persetujuan istri Anda, katanya. Saya bisa usahakan sekarang, tegas saya. Saya lantas menelepon istri saya. Kalau nanti ada teman Jawa Pos membawa formulir ke rumah, tanda tangani saja. Formulirnya dalam bahasa Mandarin, kita nggak tahu maksudnya, kata saya. Istri saya tidak bertanya banyak. Saya akan operasi kecil, kata saya tidak ingin menggundahkan hatinya. Saya memang sudah beberapa kali operasi kecil. Yakni, untuk mengeluarkan benjolan yang ada di bawah kulit di beberapa bagian di tubuh saya. Saya langsung

)%!

minta formulir persetujuan operasi dan memfaksimilikan ke Surabaya. Setelah ditandatangani istri saya, dikirim balik ke Tianjin. Ini persetujuan istri saya, kata saya. Ini apa? tanyanya melihat tanda tangan istri saya yang tidak lazim untuk mata orang Tiongkok. Itu tanda tangan istri saya. Bentuknya tidak penting. Tapi, doa di balik tekenan itu yang penting, kata saya ingin setengah memuji istri saya, setengah melucu. Ternyata Prof Shao tidak tersenyum. Saya lupa kalau dia komunis, yang tidak tahu apa itu doa. Dengan datangnya persetujuan istri saya, saya mengira operasi pemotongan limpa bisa dilakukan hari itu, atau besoknya. Ternyata harus tiga hari kemudian. Mengapa? Karena ruang operasinya baru saja dirombak. Hari itu baru selesai. Dan, saya tidak boleh menjadi pasien pertama yang menggunakannya. Jadi, tidak bisa tanggal 6 Oktober 2006. Harus 8 Oktober. Padahal, saya ingin operasi itu dilakukan pada 6 Oktober. Lalu, sebagaimana dijelaskan Prof Shao, sebulan kemudian saya sudah akan bisa keluar dari rumah sakit. Setelah operasi, 8 jam saya tidak boleh bergerak. Lalu seminggu tidak boleh turun dari tempat tidur. Tiga minggu berikutnya harus tetap di rumah sakit. Saya ingin operasi itu dilakukan tanggal 6 karena pada tanggal 7 bulan berikutnya ada acara penting di Indonesia: menandatangani persetujuan proyek PLTU Kaltim dan peresmian gedung Expo Jatim. Maksud saya, tanggal 5 sebulan kemudian saya sudah bisa keluar dari rumah sakit. Langsung ke bandara untuk pulang ke Surabaya. Tanggal 7 sudah menandatangani perjanjian PLTU Kaltim dengan konsorsium bank dan meresmikan gedung Expo Jatim. Saya tidak pernah membayangkan operasi pemotongan limpa ini akan gagal. Namun, dengan mundurnya tanggal operasi, waktu recovery saya tidak cukup. Itulah sebabnya, saat upacara tersebut saya terlihat pucat. Keringat dingin memang memenuhi badan saya. Hari itu, ketika saya di panggung, seharusnya masih di atas tempat tidur di rumah sakit di Tianjin.

)&!

Baru Tahu Mengapa Dokter Singapura Pilih Potong Limpa Saya


14 September 2007 ANCAMAN infeksi yang serius setelah pemotongan (embolisasi) limpa, memang tidak dianggap enteng oleh Prof Shao. Apalagi, suhu badan saya, pada hari-hari pertama, naik sangat tinggi: lebih dari 38 derajat Celsius. Tapi, semua bisa diatasi. Seminggu kemudian, suhu badan saya kembali normal dan stabil. Rasa sakit setelah pemotongan itu lebih hebat daripada transplantasi liver. Juga lebih lama: seminggu penuh. Selama seminggu itu pula Prof Shao dalam ketegangan. Sudah lima hari saya belum pulang. Saya tidur di rumah sakit, di kantor saya. Menunggui Anda, ujar dr Shao. Sekarang Anda sudah stabil. Saya mau istirahat, pamitnya. Penampilannya memang agak lecek. Tidak secantik ketika dalam keadaan segar. Kalau sebelum operasi saya lihat dia sering berlinang air mata, kini ganti saya yang amat terharu. Saya minta maaf berkali-kali karena telah membuatnya tidak bisa pulang. Saya juga tabik tak henti- hentinya. Tabik dengan cara Tiongkok. Ini untuk mewakili ucapan terima kasih saya kepadanya yang tidak terhingga. Begitu besar perhatiannya. Begitu tinggi tanggung jawabnya. Saat itulah saya mengerti mengapa banyak dokter di Singapura memilih membuang saja limpa saya daripada memotongnya. Perawatan setelah pemotongan ternyata begitu sulit. Kebalikannya, perawatan setelah pembuangan limpa akan lebih mudah. Bahwa setelah limpa dibuang akan merepotkan pasien seumur hidup, itu kan sudah di luar tangung jawab dokter yang membuangnya. Mana ada dokter di negara lain yang mau menunggui pasien sampai lima hari tidak pulang, kata saya dalam hati. Tiga hari setelah libur, barulah Prof Shao menemui saya lagi di kamar rumah sakit. Wajahnya masih tidak terlalu cerah, seperti orang sakit. Matanya yang biasanya tajam, kali ini agak memerah. Bulu matanya yang hitam seperti bendera ! )'!

setengah tiang. Tahu sedang saya perhatikan, dia merasa risi. Dua hari saya flu, katanya segera. Semua gara-gara Anda, tambahnya. Sekali lagi saya minta maaf berulang-ulang. Ternyata saya telah menyiksanya. Rupanya, begitu kondisi saya stabil, ketegangan lima hari yang mencekam dirinya hilang. Bersamaan dengan itu flu datang menyerang. Jadi, tiga hari di rumah tidak bisa menikmati, katanya seperti ingin bergurau. Guraunya selalu ringan-ringan saja. Tidak pernah dikemukakan dengan lepas. Tertutupi oleh jabatan tingginya dan mungkin juga kekomunisannya. Tiga minggu kemudian, badan saya sudah terasa enak. Lalu ingat lagi acara PLTU Kaltim dan gedung Expo Jatim yang sudah menanti. Saya tahu tidak akan diizinkan pulang. Tapi, saya harus pulang. Ini soal kebakaran rumah memang, tapi yang terbakar rumah sendiri, bukan rumah tetangga. Pagi-pagi Guo Qiang, anak saudara angkat saya Mr Guo, saya minta menerjemahkan surat yang saya buat. Guo Qiang saya minta menuliskannya dalam bahasa Mandarin yang indah. Maksud saya yang akan bisa meluluhkan hati Prof Shao. Kemampuan bahasa Mandarin saya belum sampai pada tingkat untuk bisa dipakai merayu. Surat itu saya mulai dengan pujian. Mungkin, Andalah dokter terbaik di muka bumi ini, tulis saya di pembukaan surat. Setengah memuji, setengah memompa dadanya. Mana ada dokter yang mau lima hari tidak pulang untuk menunggui pasiennya? saya menunjukkan fakta. Saya tidak mengada- ada, meski fakta itu memang saya pakai merayu. Bait kedua saya manfaatkan untuk ucapan terima kasih. Lalu minta maaf. Baru pada bait ketiga saya memperkosa-nya. Yakni, memasukkan kalimat-kalimat merendah, tapi juga berisi memaksanya agar mengizinkan saya pulang. Saya juga mencoba lagi kemampuan ilmu mantiq yang saya pelajari di aliyah dulu. Tiba-tiba dia masuk kamar saya dengan menggenggam surat itu. Wajahnya merah serius. Langkahnya cepat. Beberapa dokter muda yang mengikutinya sampai agak tertinggal di belakang. Pagi itu, yang mestinya melakukan kegiatan rutin, langsung diubah untuk menemui saya. Dari ekspresi wajah dan body language-nya, ! )(!

Prof Shao seperti tidak membaca alinea pertama. Rayuan saya ternyata telah diabaikannya. Guru besar ternama di bidang liver itu seperti langsung membaca alinea yang memperkosa-nya. Bertatapan dengan saya, dia tidak langsung berkata-kata. Dia menatap wajah saya dengan tatapan multi-arti: marah, kesal, dan gondok bercampur jadi satu. Mudah-mudahan masih terselip raya sayang di dalam campuran itu. Lama dia tidak berkata-kata. Sampai-sampai banyak dokter muda yang menunduk. Setelah menarik napas panjang, barulah dia mengucapkan kalimat yang bernada putus asa. Sudah saya duga, katanya. Bukankah indikasi-indikasi dalam darah saya sudah menunjukkan bahwa saya kuat terbang jauh? kata saya memecah kebekuan. Lalu saya menunjukkan hasil lab. HB saya 13, SGPT-OT saya mendekati normal, Plt saya sudah 120, tekanan darah juga normal, kata saya. Prof Shao seperti kian gondok. Mungkin merasa kok saya seperti sok tahu kedokteran. Semua itu benar, jawabnya. Tapi, ada satu data yang saya sembunyikan. HBV-DNA Anda masih 15 juta. Padahal, seharusnya di bawah 100 saja, katanya. Saya terpojok. Tidak menduga sama sekali dia merahasiakan itu dari saya. Bahkan, saya tidak tahu apa hubungannya antara sakit saya dan HBV-DNA. Kami terdiam lama. Saya lihat Prof Shao mulai menitikkan air mata. Melihat itu, dokterdokter muda yang menyertainya menyerahkan tisu kepadanya. Mata saya juga mulai berlinang. Saya dalam posisi sulit. Saya terjepit antara keharuan dan romantisme di satu pihak dengan rasa tanggung jawab di pihak lain. Tanggung jawab yang juga tidak kecil. Tanggung jawab dan risiko sebagai pimpinan. Tanggung jawab kepada rakyat Kaltim dan Perusda Jatim. Lalu muncullah keteguhan dalam hati saya untuk lebih mementingkan tanggung jawab itu. Maka, saya putuskan untuk berbuat ini di depan Prof Shao. Turun dari tempat tidur dan ingin bergegas mencium kakinya. Ini sebagai tanda bahwa saya minta maaf yang dalam, tapi sekaligus minta dengan sangat agar diperbolehkan pulang. Dia tahu saya tidak pura-pura. Saya sudah hampir menubruk kakinya. Prof ! ))!

Shao bergegas mengangkat kepala saya. Dia menahan tangis. Robert Lai juga mengusap-usap matanya. Demikian juga istri saya. Lalu Prof Shao menarik napas panjang. Ya, sudah. Tidak bisa dicegah. Saya akan izinkan. Tapi, obat yang saya siapkan nanti harus diminum, katanya melemah. Kini ganti saya yang lebih banyak menitikkan air mata. Besok paginya, dari rumah sakit saya langsung ke bandara. Saya pakai kursi roda selama dalam perjalanan pulang. Dengan diungkapkannya data soal kadar HBV-DNA saya, ternyata saya belum prima. Saya harus lebih hati-hati. *** Kian hari kondisi saya kian baik. HBV-DNA saya juga menurun drastis. Seminggu kemudian sudah menjadi 1,5 juta. Sebulan kemudian sudah normal. Kini saya sudah terbebas dari ancaman tiba-tiba meninggal. Juga sudah terhindar dari ancaman tiba- tiba perdarahan dari lubang-lubang tubuh saya. Apalagi, sebelum potong-limpa itu saya juga sudah dua kali melakukan TACE di Singapura. Yakni, mengusahakan pembunuhan atas dua kanker liver saya dengan cara dimasuki alat pembunuh lewat selangkangan saya. Saya tahu semua itu tidak menyelesaikan persoalan. Sakit saya sudah terlewat parah. Semua itu hanya usaha untuk ulur-waktu, buying-time. Tapi, setidaknya saya kini punya kesempatan beberapa bulan untuk memikirkan cara terbaik mengatasi sirosis-kanker saya secara permanen. Termasuk mempertimbangkan untuk transplantasi.

*++!

Yang Pro dan Yang Anti-Transplan Bertinju Sengit dalam Pikiran


15 September 2007 KALAU saja saya dulu peduli sedikit dengan badan saya, sebenarnya masih ada jalan agar terhindar dari transplantasi. Juga terhindar dari potong-limpa. Katakanlah suntikan interveron yang saya jalani sampai 70 kali (setiap dua hari sekali) itu tidak berhasil memingsankan virus hepatitis B saya, tapi belakangan sebenarnya keluar obat baru yang harus diminum tiap hari. Agar virus yang tidak mungkin lagi dikeluarkan dari liver itu tidur nyenyak saja di dalam liver. Bangunnya virus hepatitis B akan langsung menyerang liver hingga kelak jadi sirosis. Kalau toh obat itu juga tidak berhasil, masih ada obat lain yang lebih mahal. Nama generik obat itu Octreotide (karena saya tak boleh menyebut nama obatnya). Obat tersebut harus disuntikkan tiap dua hari sekali selama sembilan bulan. Harga obatnya saja, untuk sekali suntik, sekitar Rp 1,1 juta. Selain Octreotide, masih ada satu obat baru lagi yang juga harus disuntikkan ke saya selama sembilan bulan berturut-turut. Nama generiknya Thymalfasin atau Thymosin Alpha-1. Yang ini nyuntiknya sebulan sekali. Antara satu dokter dengan lainnya memang masih berbeda pendapat mengenai keampuhan obat- obat itu. Tapi, bagi pasien yang ingin sembuh dan punya uang, pasti tergoda untuk mencobanya. Sayang, saya tahunya sudah sangat terlambat. Baru dua tahun lalu saya mendapatkan informasi tentang obat-obat itu. Yang Anticavier saya ketahui dari dokter di Singapura. Sedang dua obat yang lain saya ketahui dari Prof Shao. Semua saya ketahui setelah liver saya menjadi sirosis. Dan bahkan ketika sirosis saya sudah berkembang ke kanker. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Karena itu, meski telat, saya tetap memakai obat-obat tersebut. Setidaknya, bisa membantu saya buying time. Mengolor waktu. Untuk memberikan kesempatan

*+*!

bagi saya memikirkan harus melakukan apa yang lebih mendasar. Termasuk mulai mempertimbangkan kata yang mengerikan itu: transplantasi liver. Waktu itu, kata transplantasi sebenarnya masih jauh dari pikiran. Masak saya sampai harus melakukan itu? Masak saya separah itu? Masak tidak ada jalan lain? Masak tidak akan ada keajaiban? Masak tidak ada obat alternatif? Masak tidak ada dukun atau kiai yang linuwih (punya ilmu lebih)? Tapi, saya harus tetap rasional. Tetap menggunakan pemberian Tuhan yang sangat berharga itu: otak. Banyak teman menganjurkan juga untuk pindah ke jalur alternatif. Ke obat tradisional atau ke kekuatan supranatural. Baik yang kejawen maupun yang dibungkus religius. Siapa tahu ada rekayasa Tuhan di situ, kata teman saya. Rekayasa Tuhan? Apakah Tuhan punya hobi merekayasa? Saya lebih percaya bahwa Tuhan akan konsisten dengan sunatullah-Nya. Termasuk sunatullah bahwa kalau tidak melakukan imunisasi hepatitis, dia akan punya kemungkinan terjangkit hepatitis. Kalau sudah kena hepatitis, pasti akan mengarah ke sirosis. Dan kalau sudah sirosis, pasti akan menjadi kanker. Karena itu, kosa kata transplan sudah mulai masuk di bawah sadar. Meski bentuknya masih pertanyaan masak harus sampai transplan?, tapi itu juga berarti secara tidak sadar kata transplan sudah mulai masuk dalam proses internalisasi ke pikiran saya. Satu proses awal dalam sebuah perjalanan spiritual untuk sampai pada kata akhir: siap transplan. Kalau persoalannya hanya sirosis (sirosis kok dibilang hanya), transplantasi masih bisa ditunda. Meski sirosis tidak bisa disembuhkan, tapi mungkin masih bisa diperlambat. Begitu pula kalau masalahnya hanya kanker (kanker kok juga dibilang hanya). Sebab, masih ada tiga cara lain untuk mengatasinya, selain kemoterapi. Yakni, dengan memotong bagian yang terkena kanker, di-RFA (radio frequency ablation) atau di-TACE (trans arterial chemoembolization). Masalahnya, liver saya sudah dikeroyok sirosis dan kanker, sehingga tidak mudah untuk mengatasi kankernya. Misalnya, mau dipotong bagian yang ada ! *+"!

kankernya. Itu tidak mungkin karena sirosis membuat permukaan liver saya mengeras. Permukaan liver yang mengeras itu, kalau dipotong, akan menyebabkan pendarahan hebat yang bisa membunuh saya. Pendarahan di liver sangat tidak mudah untuk dihentikan, sekalipun oleh dokter yang paling pintar. Begitu pula kalau mau di-RFA atau dibakar dengan energi panas. Sebab, untuk membakar (mengablasi) sel kanker saya, dokter harus memasukkan sejenis metal berbentuk kail yang punya beberapa mata kail. Kail itu ditembuskan ke dalam liver melalui perut. Cara itu tentu sangat membahayakan saya karena mata kail tersebut harus lebih dulu menjebol permukaan liver saya, sebelum masuk ke sel kanker. Tindakan itu jelas bisa menyebabkan liver mengalami pendarahan. Karena itu, diputuskanlah untuk membunuh kanker saya dengan metode TACE. Cara itu pada prinsipnya sama dengan kemoterapi. Bedanya, obat kemonya tidak diinfuskan seperti umumnya kemoterapi, melainkan diinjeksikan langsung ke sel kankernya melalui selang kecil panjang (kateter) yang dimasukkan melalui pembuluh darah besar di pangkal paha (arteri femoral). Dengan bantuan fluoroscopy, sejenis sinar rontgen, kateter itu lantas didorong masuk sampai ke arteri (pembuluh darah yang membawa darah bersih dan sari makanan dari jantung) yang di hati. Setelah obat kemonya menembus sasaran, dokter lantas memasukkan lagi obat lain, melalui kateter yang sama, untuk memblokir cabang-cabang arteri di liver yang melewati sel kanker saya. Ini perlunya untuk menutup akses makanan ke selsel kanker itu. Dengan begitu, diharapkan sel-sel kanker saya akan kelaparan dan tak lama kemudian mati. Tindakan medis tersebut memakan waktu kurang lebih dua jam. Itu sudah termasuk mencabut kateter di pangkal paha saya dan membalut kuat-kuat bekas sayatan yang di paha. Selama hampir semalam saya tidak boleh turun ranjang karena khawatir luka sayatan itu terbuka, sehingga terjadi pendarahan. Kalau itu terjadi, akibatnya bisa fatal karena sayatan tersebut menembus sampai ke pembuluh darah besar di paha.

*+#!

Jadi, kalau problemnya hanya sirosis dan kanker (Huh! Sirosis dan kanker kok masih dibilang hanya), transplantasi juga masih bisa ditunda dengan cara di atas. Namun, persoalannya, akibat sirosis itu, bagian-bagian tubuh saya yang lain ikut rusak dan bisa saja jadi penyebab kematian yang lebih besar. Bahkan, kerusakan pada bagian tubuh yang masih baik akan terus terjadi. Kalau sampai tahun lalu, yang sudah ikutan rusak adalah saluran pencernaan, empedu, dan limpa saya. Kalau saya biarkan, barangkali ginjal, selaput perut, jantung, dan paru saya juga segera rusak. Limpa saya saja sudah membesar. Sudah tiga kali lipat lebih besar daripada limpa orang normal karena darah yang tidak bisa lancar masuk ke liver mbendal (terpental) masuk ke limpa. Limpa saya itu kian hari masih akan terus membesar. Lama-lama, kalau pinggang saya kena bola atau kena sodok, limpa bisa pecah: mati. Tidak pecah pun, limpa yang membesar membuat darah putih saya menurun. Padahal, darah putih berfungsi, antara lain, menguburkan sel-sel darah merah yang mati. Sel darah merah memang harus mati dalam kurun waktu tertentu dan harus dikuburkan. Darah putihlah yang menguburkannya dengan cara memakan-nya. Pekerjaan mengubur dan menghancurkan bangkai sel-sel darah merah itu dikerjakan di limpa. Tapi, karena limpa saya terus membesar, sel-sel darah putih yang baik pun ikut dikubur oleh organ itu. Makanya, saat itu jumlah darah putih saya terus menurun. Sementara bangkai sel-sel darah merah makin bertambah. Jadi, ke mana bangkai-bangkai darah merah tersebut? Itu juga membuat problem sendiri pada tubuh saya. Karena darah putih yang sangat kurang itu, saya akan sangat gampang terkena virus. Daya tahan tubuh saya sangat menurun. Seharusnya kadar darah putih saya minimal 200. Saat itu tinggal 60-an. Kalau turun 10 poin lagi, saya sudah tak bisa bertahan dari infeksi. Padahal, saat itu, platelet saya juga terus menurun. Sehingga, sewaktu-waktu saya terancam mengalami pendarahan dari mana saja:

*+$!

dari mulut, hidung, telinga, bahkan dari lubang kemaluan. Semua itu gara-gara liver yang sirosis. Ada yang lebih berbahaya lagi. Seperti yang sudah saya singgung sebelum ini, darah-darah yang mbendal itu juga memenuhi saluran percernaaan saya (varises esofagus). Akhirnya, dinding- dindingnya berubah jadi balon-balon berisi darah. Setiap saat bisa pecah. Misalnya, hanya karena terkena benda tajam seperti keripik atau tulang ikan atau roti kering. Karena itu, saya pernah takut makan ikan. Takut tulang-tulang kecilnya masuk ke tenggorokan, lalu melukai dan menusuk balonbalon itu. Saya bisa mati hanya oleh satu tulang ikan yang amat kecil. Jadi, meski mungkin saya bisa membunuh sel-sel kanker dengan TACE dan berhasil memperlambat proses kerusakan total liver oleh sisrosis, proses kerusakan di organ lain ternyata tak bisa saya hentikan. Kecuali liver saya segera baik. Dan, untuk itu, cuma ada satu jalan: transplantasi liver. Maka, status kata transplan pun meningkat dalam pikiran saya. Dari sekadar tamu yang sedang mampir menjadi penghuni utama. Lalu, bulatlah tekad saya: ganti liver. Tapi, kalau gagal gimana? tanya kubu yang anti-transplan di tim saya. Bukankah terlalu banyak contoh transplan yang gagal? tambahnya. Kegagalan transplantasi yang dilakukan tokoh Nurcholish Madjid (Cak Nur) sungguh menjadi alasan pembenar yang kuat sekali bagi kubu yang tidak setuju transplantasi. Kuat secara psikologis. Bukan secara rasional-teknis-medis. Saya sudah biasa menghitung komposisi psikologis dan rasionalitas dalam setiap mengambil keputusan. Bahkan, saya sering merenungkan (yang sampai sekarang belum sampai pada kesimpulan) soal yang rumit dan peka ini: khusyuk itu gejala religi atau gejala psikologi? Mengapa ada orang yang mudah khusyuk? Tapi, mengapa banyak juga yang sulit khusyuk? Sampai-sampai, ketika memulai sembahyang harus mengulangi takbir berkali-kali? Mengapa ada orang yang mudah menangis ketika berdoa? Mengapa ada yang tidak bisa menangis? Gejala agamakah? Gejala psikologiskah?

*+%!

Saya bukan ahli psikologi. Juga bukan ahli agama. Tapi, sudah pasti pertimbangan yang lebih didominasi perasaan, saya kalahkan. Secara tidak formal, saya memang membentuk dua tim. Satu yang punya pendapat jangan transplan. Satunya lagi yang pro-transplan. Saya ingin mendapat pertimbangan yang arahnya berlawanan. Tim yang pro-transplan mengemukakan, memang transplantasi Cak Nur gagal. Tapi, penyebabnya kan jelas: virus Citomegali. Virus yang munculnya hanya dalam kasus transplantasi. Tapi, bisa saja karena kondisi Cak Nur sendiri yang memang sudah lebih parah daripada kondisi saya saat ditransplan. Artinya, mungkin telanjur sangat parah. Kita tidak tahu pastinya. Dan kubu anti- transplan di tim saya juga tidak tahu mengapa Cak Nur gagal. Pak Dahlan pun, kalau misalnya kankernya sudah sampai di vena porta (pembuluh darah balik yang utama di liver), mungkin juga akan lebih sulit, kata pro-transplan. Atau, kalau ginjal dan paru sudah ikut rusak. Atau, ketika air sudah memenuhi rongga perut (ascites). Atau, ketika membran selaput dada sudah kena infeksi. Tapi, kubu anti-transplan di tim saya masih punya alasan lain. Katakanlah transplantasinya berhasil. Akan bisa bertahan hidup berapa tahun lagi? katanya seperti sedang mulai memberikan pukulan tinju kepada tim saya yang protransplan. Apakah tidak ada bibit kanker yang akan mbalik ke liver baru? Apakah bibit virus hepatitis B yang sudah ikut beredar di darah tidak menjangkiti liver baru? Lalu jadi sirosis lagi? Jadi kanker lagi? Katakanlah setelah transplan masih bisa hidup lima tahun lagi. Seperti kata dokter di Singapura itu. Apakah kalau tidak ransplan tidak bisa bertahan lima tahun lagi? Dengan obat-obat yang kian maju? tanya tim yang anti-transplan. Bertubi-tubi ayunan tinju dihokkan ke wajah tim yang pro-transplan. Lalu, ditutup dengan pukulan upper-cut yang telak: sama-sama bisa bertahan lima tahun, mengapa harus berjudi dengan transplan? ! *+&!

Sebagai dewan juri yang harus adil, saya melihat tim pro-transplan sempoyongan. Sampai mau terlempar dari kanvas. Tapi, tali ring menyelamatkannya: Tapi, apakah kita harus membiarkan Pak Dahlan selama lima tahun menjalani kehidupan dengan kualitas yang buruk? Harus selalu dikemo, diTACE, keluar-masuk rumah sakit, tidak bisa makan enak, tidak bisa bekerja dengan baik? Itukah hidup? Untuk apa hidup kalau kondisinya harus tersiksa seperti itu? serang tim pro-transplan tiba- tiba. Kedua tim masih akan terus bertinju. Tapi, bel sudah menunjukkan bahwa waktu sudah habis. Pemenang sudah harus ditentukan sebelum salah satunya KO. Saya mantap dengan transplan, kata saya. Semua diam. Keheningan terpecah oleh suara salah satu tim pro-transplan. Memang peran pasien sendiri amat menentukan. Kalau kita paksakan transplan tapi pasien tidak mantap, juga tidak boleh. Kemantapan tekad pasien akan menjadi kunci suksesnya. Begitu pasien ragu-ragu, kita sudah tiba pada kesimpulan transplantasi akan gagal, katanya. Ya. Saya mantap transplan. Dengan segala risikonya, kata saya.

*+'!

Ingin Naikkan Albumin, Berburu Banyak Ikan Kutuk


16 September 2007

SETELAH hati mantap melakukan transplantasi, barulah saya menentukan langkah. Ada tiga yang harus dipertimbangkan. Kehebatan dokter, kesediaan donor, dan ketepatan rumah sakitnya. Dari situ baru kami tentukan tempatnya. Tiga faktor itu saya sebut sebagai persyaratan mutlak. Lalu masih ada sejumlah persyaratan keinginan. Misalnya, kedekatan dengan Indonesia, kedekatan budaya, dan kedekatan bahasa. Saya sudah terbiasa, dalam setiap akan mengambil keputusan, menjalankan satu proses yang disebut problem solving. Satu proses untuk melakukan pembobotan dan penilaian atas semua pilihan. Lalu mengalikan bobot dan nilai. Hasil perkalian tertinggi, itulah pilihan terbaik. Saya pernah disekolahkan untuk itu di Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (LPPM) ketika saya masih jadi wartawan majalah berita mingguan TEMPO. Proses manajemen itu kemudian saya bawa juga ke dalam jurnalistik. Saya ajarkan sebagai doktrin di Jawa Pos. Itulah yang membedakan wartawan Jawa Pos dengan wartawan lain. Wartawan Jawa Pos harus menjalankan 10 rukun iman atau Ten Commandments yang saya tentukan. Itulah salah satu sumbangan ilmu manajemen ke dalam praktik jurnalistik di Jawa Pos. Tentu hal ini tidak diajarkan di fakultas publisistik atau di akademi wartawan. Mungkin tidak akan diakui sebagai salah satu teori jurnalistik, tapi saya tidak peduli. Proses yang sama saya terapkan dalam melakukan analisis problem-solving atas tekad saya yang sudah mantap melakukan transplantasi liver. Maka, tim menyeleksi dokter-dokter ahli transplantasi di dunia: Australia, Amerika, Jepang, Singapura, Belanda, dan Tiongkok. Dari masing-masing negara kita pilih satu nama. Kita pelajari track record-nya. Juga, terutama, umurnya. Saya ingin dokter yang ! *+(!

berpengalaman, tapi masih muda. Tangan anak muda, menurut logika saya, akan lebih firm ketika memegang pisau bedah. Saya memang sangat pro anak muda. Saya percaya hanya yang muda yang bisa diajak balapan di segala bidang. Dari proses itulah lantas kami pilih dokter ini. Umurnya masih 52 tahun dan badannya tinggi tegap. Penampilannya meyakinkan. Urat-uratnya kukuh, mengindikasikan akan kuat dalam menghadapi tekanan mental maupun fisik. Pengalamannya juga luar biasa. Sudah melakukan tranplantasi liver lebih dari 500 kali. Bahkan, sudah membukukan beberapa rekor: Rekor terbanyak, rekor transplantasi tanpa transfusi darah, rekor transplantasi untuk pasien usia dini (3 tahun), transplantasi untuk pasien tertua (76 tahun). Dia memperoleh pendidikan khusus untuk ini di Jepang. Boleh dikata, dialah dokter Tiongkok yang paling jago di bidang transplantasi liver. Tapi, masih ada satu yang meragukan. Padahal, yang saya ragukan ini masuk dalam persyaratan mutlak. Artinya, mau tidak mau harus dipenuhi. Kalau hanya masuk persyaratan keinginan, barangkali bisa diabaikan. Apa itu? Tempat! Apakah di Tiongkok ada rumah sakit yang bagus sekali? Bukankah rumah sakit di sana terkenal joroknya? Untuk ini Robert Lai memeriksa rumah sakit tempat dokter itu berada. Yakni, di satu kota di belahan utara Tiongkok. Untuk Indonesia kota ini tidak populer, tapi saya sudah mengenalnya dengan sangat baik. Berkali-kali saya ke kota itu. Kunjungan pertama saya ke sana sekitar 10 tahun lalu. Hasil kunjungan Robert Lai sangat memberi harapan. Khususnya tower yang baru. Sangat bersih dan terawat. Alat-alatnya juga amat modern. Dan, reputasinya yang tinggi sebagai pusat transplantasi liver sudah sangat terkenal. Saya sendiri pun lantas mengunjunginya. Saya langsung jatuh cinta pada kunjungan pertama. Hati saya mantap sekali. Masih juga ada satu pertanyaan: maukah dia menangani saya? Ada waktukah dia? Inilah tugas Robert berikutnya. Dan, dia selalu berhasil menjalankan misinya. Maka sudah tidak tengok sana-sini lagi: Di sinilah saya akan melakukan

*+)!

transplantasi liver. Saya mengenal baik kotanya, mengenal baik budayanya, dan sedikit banyak sudah bisa berkomunikasi dengan bahasanya. Sungguh tak terbayangkan bahwa tekad saya untuk belajar bahasa Mandarin lima tahun lalu ternyata saya sendiri yang akan memetik manfaat terbesarnya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau saya tidak bisa sedikit-sedikit berbahasa Mandarin. Memang, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Jepang dan orang dari negara-negara Arab, bisa saja mempekerjakan juru bahasa. Namun, tidak akan semulus kalau diri sendiri yang tahu bahasa itu. Bahkan, karena hampir selalu berbahasa Mandarin, saya sering tidak dianggap orang asing. Apalagi sosok saya yang sosok Asia. Bahwa kulit saya agak hitam, banyak juga orang dari wilayah selatan atau dari Hainan yang juga berkulit seperti saya. Robert juga langsung memesan kamar terbaik, yang ada ruang tamunya, dapurnya, saluran internet- nya. Dia tahu saya tidak akan bisa hidup tanpa jaringan internet. Robert juga langsung menyewa apartemen untuk setahun, membeli mobil, mencari sopir, pembantu rumah tangga, dan juru masak. Dia tahu belum tentu transplantasi bisa dilakukan segera. Problem transplantasi adalah di kesediaan donor. Masa menunggu tidak bisa ditentukan. Keluarga saya, dan juga Robert, tinggal di apartemen. Saya tinggal di rumah sakit. Istri saya tidur di ruang tamu. Untuk membunuh waktu saya memutuskan meneruskan belajar bahasa Mandarin. Dua kali sehari. Pagi 2 jam, sore 2 jam. Guo Qiang mencarikan gurunya: tiga gadis yang masih kuliah di tahun terakhir IKIP setempat. Istri saya sering melihat bagaimana saya belajar. Lalu dia sumpek sendiri membayangkan sulitnya. Dia memilih mendengarkan lagu-lagu kasidah dari CD yang dia bawa. Atau mendengarkan ayat-ayat Alquran yang kasetnya dia beli di Makkah. Yakni, ayat-ayat mulai Al Fatihah sampai terakhir surat An Nas dari imam salat tarawih di Masjidilharam. Sudah beberapa tahun saya dan istri selalu di Makkah saat akhir Ramadan.

**+!

Kalau akhir pekan, saya pamit ke kota lain. Saya tahu tidak ada operasi pada Sabtu dan Minggu. Pada hari-hari seperti itu saya terbang ke provinsi lain. Saya boleh terbang-terbang asal masih dalam radius empat jam penerbangan. Maksudnya, kalau ada sesuatu yang mendadak (misalnya, tiba-tiba ada donor), saya bisa kembali segera. Badan saya memang sangat sehat secara fisik lahiriah. Karena itu, saya sering lupa kalau di lengan saya sudah dipasangi selang kecil yang ujungnya ada di dekat jantung. Selang infus itu diperlukan kalau tiba-tiba harus transplan, sudah lebih siap. Suatu saat saya ke Kota Dalian, satu jam penerbangan dari kota ini. Di salah satu plaza di sana, ada penjual raket squash dengan bola yang diikat tali karet. Kita bisa mencoba main squash tanpa harus lari-lari mengejar bola. Saya lupa akan selang infus di lengan saya. Saya main squash cukup lama. Keesokan harinya lengan saya sakit sekali. Sepanjang selang itu (mulai dari lengan sampai dada) kemeng sekali. Suatu malam saya tidak bisa tidur. Pasien dari negara Arab di sebelah kamar saya berteriak-teriak sepanjang malam. Apakah dia sudah terkena kanker? Apakah kankernya sudah sampai ke kepala sehingga mengganggu otaknya? Paginya dia berteriak-teriak lagi. Saya mencoba menengoknya. Tahulah saya bahwa dia masih diikat di ranjang. Ini penting untuk kesehatannya sendiri. Ternyata dia berontak karena ada janji, pagi-pagi ikatan sudah akan dilepas. Tapi, ternyata tidak. Rupanya rumah sakit masih khawatir dia akan berontak sehingga terus diikat. Siangnya, saya tahu lebih jelas mengapa dia berontak. Ini saya ketahui setelah saya bicara kepadanya dalam bahasa Arab. Dia memang tidak bisa berbahasa Inggris. Bahasa Arab saya sudah banyak yang hilang sehingga perlu waktu lama untuk mengingat banyak kata yang jarang dipakai. Ternyata pasien itu ingin menelepon keluarganya, tapi tidak diizinkan. Yang tidak mengizinkan adalah kerabat yang menunggunya. Mungkin untuk menghemat pulsa, mungkin juga karena sering telepon memang tidak baik bagi pasien seberat dia. ! ***!

Ketika penunggunya lagi pergi, dan melihat saya bisa bicara Arab, dia minta tolong saya untuk memberi tahu perawat agar membantunya menelepon keluarga. Dia lantas menyodorkan hand phone yang rupanya tidak dibawa pergi oleh penunggunya. Ternyata dia juga sudah mengantongi secuil kertas lusuh berisi nomor telepon. Tapi, angka-angka itu angka Arab. Dia mendiktekannya ke suster dengan bahasa Inggris yang amat tidak jelas. Tapi, setiap kali nomor itu dihubungi selalu gagal nyambung. Dia mulai kesal dan uring- uringan. Akhirnya saya rayu dia untuk memberikan cuilan kertas itu. Tahulah saya bahwa angka yang dipijit kurang satu digit. Mengapa? Ini karena ada satu titik di belakang angka-angka itu. Suster tidak tahu dan pasien juga tidak jelas melihatnya. Saya menyarankan agar menambah nol di pijitan terakhir. Titik, dalam huruf Arab, berarti nol. Ternyata nyambung. Luar biasa senangnya. Sambil menunggu dan menunggu, saya terus menjaga kondisi. Badan saya harus sehat. Saya melakukan senam dan tidak mengenakan baju pasien. Para suster bilang bahwa saya ini bukan seperti orang sakit. Saya memang tidak sakit. Saya hanya perlu transplantasi liver, gurau saya kepada mereka. Dalam masa penantian itu saya tidak boleh terkena flu. Karena flu saja bisa mengurangi potensi kesuksesan transplantasi. Saya juga harus menjaga agar protein di darah saya, terutama albumin, tidak terus merosot. Untuk menambah protein banyak sumbernya. Mulai daging, putih telur sampai ikan. Tapi, meningkatkan albumin luar biasa sulitnya. Berminggu-minggu kami mendalami internet untuk mengetahui makanan apa saja yang bisa menaikkan albumin. Tidak ketemu. Di Tiongkok, yang biasa menyediakan menu ribuan macam di internet mereka dalam bahasa Mandarin, juga tidak ditemukan satu pun jenis makanan yang dimaksud. Satu-satunya sumber albumin adalah sahabat kecil saya dulu di desa: ikan kutuk. Di Kalimantan disebut ikan gabus. Dalam bahasa Inggris dikatakan ikan kepala ular, karena bentuknya seperti ular yang amat pendek.

**"!

Saya menghubungi guru besar Unibraw, Malang, Prof Eddy Suprayitno. Satusatunya orang yang melakukan penelitian terhadap ikan kutuk. Setelah penjelasannya meyakinkan, mulailah saya minta istri saya berburu kutuk setiap hari. Penjual ikan di Pasar Rungkut hafal betul dengan istri saya. Entah sudah berapa ton saya mengonsumsi sop kutuk. Saya lupa bertanya apakah Prof Suprayitno sudah mematenkan penelitiannya dan memikirkannya untuk sebuah industri. Yang saya tahu kehidupan Prof Suprayitno amat sederhana, sebagaimana umumnya guru besar di Indonesia. Di Tiongkok, peneliti seperti itu jadi kaya raya. Satu orang yang meneliti satu jenis tanaman liar yang disebut tear drop (di desa saya dulu disebut manikan, sering untuk tasbih) kini menjadi orang terkaya nomor 200 di Tiongkok. Sebab, buah manikan ternyata mengandung khasiat antikanker. Seorang peneliti padi yang dulu hidup di desa selama 20 tahun, kini menjadi pemegang saham perusahaan pembibitan dengan aset triliunan rupiah. Ikan kutuk ternyata tidak ada di tempat lain. Jadi amat berharga. Tapi, karena saya akan tinggal lama di Tiongkok, tentu saya akan kesulitan membawa kutuk ke sana. Lalu muncul di pikiran, masak tidak ada kutuk di Tiongkok. Maka saya mencari kutuk di sana. Di setiap kota yang saya singgahi saya perlukan untuk mengunjungi pasar ikannya: di Nanchang, di Nanjing, di Wuhan, di Harbin, di Dalian, di Qingdao, dan seterusnya. Tapi, saya tidak menemukannya. Di Nanchang, teman saya di pelosok desa mengabarkan di desanya banyak ikan kutuk. Saya pernah ke desa itu sebelum tahu bahwa saya punya sirosis. Ketika saya ke Nanchang, dia datang dengan bapaknya sambil membawa satu ember ikan. Dia naik kendaraan umum selama satu jam untuk bisa sampai ke kota. Bapak teman saya, dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti, menjelaskan panjang lebar bagaimana satu hari tadi dia berusaha mencari ikan satu ember itu. Saya berterima kasih padanya. Saya mengatakan benar, itulah ikan yang saya cari. Tapi, sebenarnya bukan. Bentuknya memang persis kutuk, tapi bukan kutuk. Kutuk Tiongkok ini lebih hitam. Karena itu, di sana disebut hei yu -hei ! **#!

artinya hitam, yu artinya, Anda bisa menduga sendiri. Kandungan daging hei yu tidak sama dengan kutuk di Jawa. Di Kalimantan lebih lengkap. Kutuk, yang di sana disebut ikan gabus, sangat banyak. Hei yu juga banyak. Hei yu, yang kalau di Kalimantan disebut ikan tomang, juga bisa tumbuh besar sampai kuat merusak perahu kayu kecil-kecil. Tapi, dagingnya hambar. Hei yu di Kalimantan lebih banyak dimanfaatkan untuk ikan asin. Sedangkan ikan gabus yang manis, enak sekali dimasak bumbu bali, dimakan dengan nasi kuning. Selama di Tiongkok saya kesulitan sumber albumin ini. Padahal, mempertahankan albumin menjadi amat penting. Dalam keadaan normal, liver bisa memproduksi albumin. Tapi, karena liver saya rusak, sungguh sulit mengatasinya. Akhirnya, agar badan tetap sehat, saya memutuskan untuk selalu makan banyak. Enak tidak enak sudah tidak penting lagi. Badan saya harus sehat menghadapi operasi besar. Ibaratnya saya harus seperti kerbau yang akan dijual untuk disembelih: Harus sehat dan gemuk.

**$!

Datang Tawaran Liver Hidup dari Orang Muda asal Bandung


17 September 2007 SAYA hampir kehilangan momentum. Kedatangan saya untuk antre transplantasi liver ini agak terlambat, meski belum fatal. Sebulan setelah saya menunggu, keluar peraturan baru: tidak gampang lagi pasien asing mendapatkan donor. Tapi, mestinya, saya belum terkena peraturan itu karena saya sudah mendaftar sebelum itu. Pasien asing banyak yang gelisah. Dulu-dulunya, waktu menunggu sering tidak sampai sebulan. Saya pun datang dengan harapan seperti itu. Apalagi di lengan saya sudah dipasangi saluran infus sampai ke dada, sebagai persiapan transplantasi yang sudah dekat. Tapi, ternyata terhalang aturan baru itu. Saya memutuskan sabar menunggu. Tapi, setelah dua bulan tidak juga ada tanda-tanda akan mendapat donor, saya ingin pulang dulu dua hari. Kali ini untuk menyelesaikan urusan di Kalimantan Barat. Saya merasa punya tanggung jawab yang belum saya penuhi. Sebagaimana juga di Kaltim, saya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar. Gubernurnya sudah sangat mendambakan turun tangan saya, mengingat krisis listrik di sana sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Krisis listrik di Kalbar lebih parah daripada di Kaltim. Maka saya bersama gubernur dan Dirut PLN menandatangani MoU pembangunan PLTU di Pontianak. Untuk menunjukkan keseriusan, saya langsung membeli tanah 20 hektare di lokasi yang paling cocok untuk itu. Juga melakukan perundingan dan penandatangan kontrak mesin-mesin di Tiongkok. Namun, beberapa waktu kemudian ternyata PLN melakukan tender untuk pembangunan PLTU itu, tanpa sedikit pun memberi informasi kepada saya bagaimana nasib MoU yang sudah dibuat.

**%!

Kami tidak mau ikut tender itu karena merasa PLN tidak beretika sama sekali. Dan lagi, saya memang tidak dalam posisi mencari proyek. Saya hanya ingin ikut mengatasi krisis listrik di Kalbar, sebagai awal dari membangun Kalbar lebih lanjut. Provinsi itu sangat kasihan. Tidak kaya sumber alam dan tidak punya proyek besar. Investor yang mau datang pasti mengeluhkan listrik. Tender itu berjalan lancar dan itu memang proses yang benar. Tapi, pemenang tendernya, sampai tulisan ini dibuat, tidak ada tanda-tanda fisik mulai membangun PLTU. Berarti Kalbar kehilangan lagi waktu tiga tahun. Jelek sekali nasib Kalbar. Juga nasib (tanah) saya. Memang, suatu ketika, kira-kira dua tahun lalu, peserta tender ingin mengajak saya bergabung membangun PLTU tersebut. Tentu saya tidak mau kalau modal dia hanya selembar kertas izin. Dia juga menanyakan apakah tanah kami akan dijual. Tentu saja tidak. Kami bukan spekulan atau jual beli tanah. Kami serius membeli tanah tersebut untuk PLTU. Memang bukan salah saya kalau sampai hari ini belum ada tanda-tanda konkret krisis listrik Kalbar akan teratasi. Tapi, setidaknya saya bertanggung jawab untuk mewujudkan sesuatu di sana. Terutama sebagai ungkapan terima kasih kepada masyarakat setempat bahwa koran kami di sana menjadi yang terbesar. Karena itu, saya bertekad menggunakan dana yang sudah saya siapkan untuk PLTU ke proyek lain: perkebunan rakyat. Yakni, mengolah hasil pertanian rakyat yang selama ini harganya selalu hancur- hancuran di musim panen. Proyek itu harus berjalan. Banyak pengungsi Madura akibat kerusuhan etnis pada 1999 itu yang mulai bekerja di proyek ini. Saya harus datang ke sana untuk membuat keputusan yang terpenting. Saat saya menyelesaikan urukan Kalbar itulah, sebenarnya ada donor yang potensial. Dokter mencari-cari saya apakah bisa membatalkan kepergian saya ke Indonesia. Tapi, saya sudah di atas pesawat. Tapi, beruntung bahwa ternyata donor potensial itu ternyata juga tidak cocok untuk saya. Saya harus menunggu lagi entah berapa lama. Orang-orang Pakistan mulai mencari jalan sendiri. Yakni, mendatangkan donor dari negaranya. Yakni, donor orang hidup. Mereka mencari salah satu keluarganya, atau sukarelawan, yang mau ! **&!

menyumbangkan separo livernya untuk dicangkokkan ke pasien. Ini mungkin karena liver adalah satu-satunya organ tubuh yang kalau dipotong bisa tumbuh utuh lagi. Hanya operasinya lebih sulit: Orang yang sehat dibedah, lalu livernya dipotong separo. Pada saat yang sama, si calon penerima (resipien) liver juga dibedah untuk membuang (seluruh) livernya yang sudah rusak. Setelah itu, potongan liver yang sudah dilepas dari tubuh pemiliknya ditanamkan ke tubuh si penerima. Seseorang bisa hidup normal dengan liver yang hanya separo karena liver atau hepar atau hati adalah satu-satunya organ yang bisa tumbuh kembali dengan cepat. Berbeda dengan ginjal dan organ lain. Karena itu, sekali orang kehilangan ginjal, ya sampai meninggal, ginjalnya tetap satu. Beda dengan donor liver. Hari ini separo livernya didonorkan, besok pagi sudah tumbuh lagi. Dan dalam tempo tiga minggu sampai maksimal sebulan, liver yang dipotong itu sudah akan utuh kembali. Dengan begitu, seorang donor juga tak perlu tinggal berlama-lama di rumah sakit. Hanya dalam tempo dua tiga hari pascaoperasi, dia sudah boleh latihan berdiri dan berjalan. Seminggu berikutnya dia sudah bisa beraktivitas lagi. Tapi, memang masih harus ekstrahati-hati karena tiga sayatan panjang bekas operasi di perutnya masih basah. Lantas bagaimana nasib potongan liver yang sudah berpindah tubuh tadi? Ini pun tak perlu dikhawatirkan karena dalam tempo maksimal tiga bulan, potongan itu sudah akan tumbuh menjadi liver yang utuh sebagaimana orang normal. Karena itu, di negara-negara yang jumlah donor mayat (cadaver)-nya terbatas, livernya dibagi dua. Jadi, satu liver untuk dua pasien. Di Tiongkok, umumnya masih satu liver untuk satu pasien. Termasuk saya. Menjelang transplantasi, Robert menemui keluarga-keluarga Pakistan itu untuk mempelajari bagaimana praktik cangkok liver dengan donor hidup. Dia menjadi amat yakin itu juga akan berhasil. Lalu mengajak salah satu pendonor ke kamar saya.

**'!

Dia mendonorkan livernya dua minggu yang lalu, kata Robert sambil menepuk bahu anak muda Pakistan itu. Sekarang sudah jalan-jalan dan mau saya ajak ke sini, tambahnya. Anak itu sendiri, yang bahasa Inggrisnya bagus sekali, lantas menceritakan mengapa mau melakukan itu, mengapa berani, dan bagaimana kondisinya sampai saat itu. Liver saya yang setelah dipotong tinggal 9 cm, sekarang sudah menjadi 16 cm lagi. Dua minggu lagi sudah kembali utuh seperti semula, katanya. Lalu dia menunjukkan perutnya yang masih dibebat untuk mengeringkan luka akibat pembedahan. Bagaimana dengan penerima livernya? Bapak itu juga mulai baik. Liver saya yang di sana, yang semula hanya 11 cm, hari ini sudah 17 cm, katanya sambil menggambar di papan tulis tentang bagaimana livernya tumbuh kembali, baik yang masih di dalam tubuhnya maupun yang sudah pindah ke tubuh orang lain. Saya amat yakin dengan jalan itu. Saya juga memutuskan akan melakukannya. Saya tidak yakin bisa dapat donor utuh dalam waktu dekat. Saya harus berhitung dengan sirosis dan kanker saya yang sedang berlomba dengan waktu. Kalau saya menunggu terlalu lama, bisa jadi fungsi liver saya akan keburu memburuk. Dan, karena penurunan fungsi itu bisa merusak pertahanan tubuh saya, sel-sel kanker yang mungkin masih tersisa di liver saya bisa menyebar (metastase) ke mana-mana. Saya butuh melangkah cepat. Mulailah saya melihat ke istri, anak-anak, dan keponakan-keponakan. Ternyata, tidak satu pun yang darah dan rhesus-nya sama dengan saya. Beberapa teman dekat yang siap mendonorkan separo livernya juga tidak ada yang cocok darahnya. Tapi, jalan tidak buntu. Tanpa kami cari, seseorang dari Jakarta menghubungi kami. Memberitahukan perihal seorang anak muda dari Bandung yang mau secara sukarela mendonorkan livernya. Darah maupun rhesus-nya cocok sekali dengan saya. Umurnya masih 32 tahun. Badannya yang tinggi tegap sangat sehat. Anak muda itu mengatakan tidak menginginkan apa pun kecuali menyelamatkan nyawa saya. Apakah harus dengan mempertaruhkan nyawanya ! **(!

sendiri? Dia bilang, dia sudah menghitung risikonya. Mengapa dia begitu berani? Karena, dia bilang, dia ingin menebus penyesalannya yang tak sempat menyelamatkan bapaknya yang keburu meninggal sebelum tranplantasi dilakukan. Tim kami segera ke Bandung melihat keadaan rumah tangganya. Semula kami memperkirakan harus membantu kehidupannya. Ternyata, dia cukup berada. Rumahnya baru, tidak kecil, di kompleks perumahan yang cukup mewah. Mobilnya juga masih gres dari merek yang tidak murah. Handphone- nya pun Communicator seri terbaru. Anak keduanya baru bisa berjalan. Sikap istrinya, di luar dugaan: Sangat mendukung keputusan suaminya. Kami pun makin percaya bahwa tidak ada motif komersial di balik niatnya yang mulia itu. Tapi, saya sendiri juga masih berpikir, haruskah sampai mengorbankan nyawa orang lain? Tidakkah lebih baik saya menunggu dengan risiko tidak keburu sekali pun? Bukankah membuat keputusan melakukan transplantasi saja sudah tersirat tekad untuk mungkin mati? Saya benar-benar sudah siap kalau harus mati. Saya punya filsafat tersendiri dalam menyikapi umur. Yakni, filsafat intensifikasi umur. Umur pendek tidak apaapa asal penggunaannya sangat intensif. Sikap ini muncul, barangkali karena saya melihat kok ibu saya, kakak saya, paman-paman saya berumur pendek. Saya kurang melihat bahwa bapak saya dan kakak sulung saya berumur panjang sekali. Tim kami terus mendesak agar saya jangan berpikir bahwa saya akan mengorbankan orang lain. Terutama Robert Lai. Dia tidak akan jadi korban. Dia juga akan memiliki kembali livernya secara utuh, kata Robert. Saya masih keberatan, tapi diam-diam tim kami terus menyiapkan saudara dari Bandung itu untuk siap berangkat ke Tiongkok. Dia juga menyatakan sudah siap kapan pun harus berangkat. Bersamaan dengan persiapan pemberangkatan saudara dari Bandung itulah, ada kabar bahwa saya mendapatkan donor. Transplantasi pun dilakukan dengan cara membuang sama sekali hati saya yang lama dan menggantinya dengan hati baru made in 1985-an secara utuh.

**)!

Istri Khawatir Saya Meninggal dengan Wajah Menghitam


18 September 2007 SAYA tidak berhasil menyembunyikan perubahan di wajah saya. Padahal, dua tahun lamanya saya berhasil menyembunyikan bengkaknya kaki. Juga bengkak di badan. Menyembunyikan membesarnya payudara. Yang tak kalah penting, saya berhasil menyembunyikan keloyoan fisik saya. Empat tahun saya bekerja dengan Anda. Sedikit pun saya tidak merasakan bahwa Anda mengidap penyakit begitu gawatnya, ujar Hadi Ismoyo, manajer di perusahaan minyak milik Pemda Jatim. Perusahaan minyak itu masih baru sehingga saya harus banyak belajar, diskusi, rapat, dan negosiasi. Selama ini tidak tampak kegelisahan sedikit pun tatkala tampil di banyak kegiatan masyarakat, tulis Lusye, pecinta Jawa Pos dari Manyar Jaya. Kalau tahu seperti ini, saya tidak akan sampai hati mengejar-ngejarnya selama ini, ujar Gunawan, direktur di perusahaan minyak kami. Ya, saya memang berhasil menyembunyikan semuanya. Tapi, saya sebenarnya tidak sengaja menyembunyikannya. Kalau ada yang bertanya tentang penyakit saya, selalu saya jawab apa adanya. Cuma, memang tidak banyak yang bertanya. Kalau ada yang bertanya pun, seperti para manajer di Perusda PT PWU Jatim, jawaban saya jujur, tapi saya sampaikan dengan nada yang menyenangkan. Menceritakan penyakit dengan cara yang menyenangkan, itulah kuncinya. Pernah dalam satu rapat evaluasi bulanan yang amat disiplin di PT PWU, saya jelaskan semua penyakit saya. Juga bahaya- bahayanya. Mereka memang ngeri mendengarnya, tapi juga tertawa-tawa. Setelah itu rapat evaluasi berjalan seperti biasa. Yang harus dimarahi, ya dimarahi. Yang harus dipuji, ya dipuji. Tetap saja persoalan rumit-rumit, harus dipecahkan. Padahal, persoalan Perusda tidak hanya soal bisnis, tapi juga politis.

*"+!

Tapi, sebenarnya, saya tidak berhasil menyembunyikan berubahnya wajah. Kulit saya yang aslinya memang agak hitam menjadi kian hitam. Terutama di dahi dan sekitar mata. Hitam yang tidak merata itulah yang kian mencurigakan. Saya akan menyembunyikannya dengan cara meratakannya. Tapi, bagaimana caranya? Atau pakai make up saja. Tapi saya kan laki-laki? Bahkan laki-laki yang bukan metroseksual? Tak pelak lagi, banyak orang yang mulai rasan-rasan, menggosipkan wajah saya. Gosip yang tidak menyenangkan. Untunglah, saya sudah sering digosipkan sehingga sudah agak kebal. Tapi, ini gosip yang benar. Dan, memprihatinkan. Gosip itu bukan lagi masih menyangkut fisik, tapi sudah masuk ke tataran psikis. Terutama psikis istri saya. Psikis seorang wanita yang sangat kuat memegang prinsip agama. Suatu saat istri saya memandangi wajah saya lama sekali. Lalu memberikan komentar yang sudah sering saya dengar itu. Ada nada sedih ketika mengucapkan itu. Sedih bercampur perasaan malu. Karena itu, kadang dia hanya memperhatikan wajah saya tanpa mengucapkan komentar apa-apa. Pandangannya penuh keprihatinan. Saya tahu dia menyimpan dua kekhawatiran. Pertama, khawatir akan kesehatan saya. Kedua, merasa malu kalau saja saya meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam. Sudah menjadi opini awam bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan wajah yang menghitam, tandanya tidak diterima oleh Tuhan. Tuhan murka padanya. Kalau sampai itu terjadi pada saya, alangkah malunya istri saya. Apalagi dia aktif di kegiatan keagamaan. Suaminya meninggal dalam keadaan dimurkai Tuhan. Karena banyak sekali dosa yang diperbuatnya. Dosa sebagai lelaki, dosa sebagai atasan yang kejam, dosa sebagai pribadi yang sombong, dosa sebagai suami yang amat sibuk, dosa orang kaya yang pelit, dan tentu masih banyak sekali sisi negatif yang bisa dihubung- hubungkan. Pembicaraan seperti itu kian kuat ketika Cak Nur meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Ada yang menilai, itu sebagai bukti bahwa Cak Nur dimurkai Tuhan. Ini karena dosa-dosanya yang tidak terampunkan. Yakni, dosa karena dia ! *"*!

telah menyekulerkan Islam. Yakni, ketika memelopori pembaharuan pemikiran dalam Islam yang menghebohkan pada 1970-an. Sampai-sampai disebutkan Cak Nur lagi mendirikan neo-Islam. Begitu hebatnya tentangan akan langkah Cak Nur tersebut sehingga sampai ada yang memvonis Cak Nur sudah murtad. Tentu saya bukan apa-apa dibanding Cak Nur. Saya bukan intelektual. Bukan budayawan. Bukan sarjana. Bukan ahli agama. Saya memang pernah mau didapuk jadi kiai di pesantren saya, tapi saya menolak. Ini karena saya sadar bahwa saya turunan dari jalur wanita (ibu) di struktur pesantren itu. Kebetulan yang dari jalur laki-laki masih kanak-kanak. Mengapa masih kanak-kanak? Karena pesantren kami kehilangan dua generasi sekaligus. Para kiai sepuh (enam orang bersaudara, paman- paman ibu saya), dan anak-anak mereka yang sudah dewasa, dibunuh PKI dalam peristiwa Madiun, pada 1948. Tapi, saya harus tahu diri bahwa kalau dia sudah dewasa, dialah yang punya hak mewarisi pesantren itu. Saya lantas memilih uzlah -menyingkir, menjauh, dan merenungkan masa depan. Bukan karena ngambek, tapi sebagai perwujudan sikap tawaduk seperti yang dicontohkan bapak saya. Toh saya akan tetap bisa berperan di pesantren itu kelak, yang mungkin tidak kalah besarnya. Apalagi saya juga baru gagal dalam pemilihan ketua umum pengurus besar Pelajar Islam Indonesia (PII) di Bandung, kalah dengan Yusuf Rahimi, tokoh dari Ambon. Saya mengambil kesimpulan, tidak akan bisa jadi kiai dan tidak bakat jadi politisi. Karena itu, saya bergegas mengambil keputusan pindah ke jalur hidup sama sekali. Sikap tawaduk yang sama saya lakukan juga di Jawa Pos pada 1980-an. Ketika Pak Eric Samola, direktur utama Jawa Pos saat itu, jatuh sakit, saya tidak mau menggantikannya sebagai Dirut. Padahal, sakitnya beliau amat berat sehingga tidak punya kemampuan menandatangani dokumen perusahaan. Beliau terkena stroke yang sampai mengakibatkan tidak bisa bicara dan harus diopname bertahun-tahun. Saya memilih mengerjakan saja semua pekerjaan direktur utama, tanpa menyandang jabatannya. Saya tetap direktur saja. Karena hal itu sudah ! *""!

berlangsung tiga tahun, lantas muncul kesulitan teknis. Banyak dokumen bank yang harus direktur utama yang boleh tanda tangan. Tidak bisa hanya direktur seperti saya waktu itu. Tapi, saya tetap tidak mau jadi Dirut. Jangan sampai saya minta jadi Dirut. Apalagi, sampai harus dengan cara sikut sana-sini. Bahwa ada kesulitan di bank, tiba-tiba saya punya ide baru yang barangkali tidak lazim. Inilah gunanya ilmu mantiq (logika), pikir saya. Saya ciptakan sendiri jabatan baru, meski hanya untuk sebutan: CEO (chief executive officer). Agar saya bisa meyakinkan bank bahwa meski saya hanya direktur, tapi saya ini CEO. CEO yang tidak ada SK dan legal formalnya. He he... kata saya dalam hati. Tapi, bank percaya. Apalagi mereka juga tahu sayalah yang selama ini yang selalu mengambil keputusan. Maka lahirlah jabatan CEO. Baru setelah lima tahun lebih, setelah beliau sendiri yang minta, saya mau jadi Dirut. Sebutan CEO telanjur melekat. Lalu keterusan sampai sekarang. Bahkan, saya membuat sebutan (untuk membedakan dengan jabatan) CEO lebih fleksibel lagi di grup yang saya pimpin. Bisa saja Dirut sebagai CEO, direktur sebagai CEO (Dirutnya bukan CEO), bahkan general manager sebagai CEO (semua direktur bukan CEO). Lebh dari itu sekarang ini berkembang seperti di AS. Meski saya bukan direktur utama lagi (karena jabatan itu sekarang dipegang Ratna Dewi Wonoatmodjo), saya yang tetap jadi CEO. Chairman yang CEO. Tentu tidak lagi seperti ketika Dirut merangkap CEO. Banyak hal sudah harus dialihkan menjadi tanggung jawab Dirut. Apalagi Ratna Dewi juga amat mampu. Sama dengan saya. Setidaknya sama- sama hanya tamatan SMA. Dia SMA di kota Surabaya (Petra), saya SMA di Desa Takeran, Magetan (aliyah). Hanya namanya yang sering bikin salah paham orang asing. Pernah ada tamu dari India yang ingin bertemu dengannya. Waktu itu Ratna Dewi masih menjabat direktur keuangan. Si tamu ternyata berharap akan ketemu seorang direktur keuangan keturunan India. Maklum namanya Ratna Dewi. Kami tidak menyangka kalau dia seorang Tionghoa, kata tamu itu sambil tertawa ngakak. Kami sendiri tidak terlalu mengenal nama Ratna Dewi, sehingga kalau ada tamu yang menanyakan, Apakah bisa bertemu ibu Ratna Dewi, staf-staf kami sering ! *"#!

bengong. Dia kami kenal sebagai Wenny saja. Bukan Bu Wenny, tapi Cik Wenny. Gosip bahwa saya segera meninggal dengan wajah hitam juga beredar di kalangan pesantren saya sendiri. Sebagian mengira saya dimurka Tuhan karena kurang taat beragama. Sebagian lagi karena saya berdosa kepada leluhur. Terutama karena saya uzlah, lari dari tanggung jawab menjadi kiai. Mereka tidak tahu kalau uzlah itu saya lakukan sebagai wujud sikap tawaduk saya. Tentu ada juga yang menyamakannya dengan Cak Nur. Padahal, saya dan Cak Nur jauh sekali derajatnya. Cak Nur seorang intelektual, doktor lulusan Chicago, ahli agama, bisa banyak bahasa, termasuk Prancis dan Parsi, Inggris, dan Arab. Saya hanya seperti itu tadi. Saya dan Cak Nur seperti langit dan sumur -untuk menunjukkan jarak langit-bumi kurang jauh. Satu-satunya yang menyamakan saya dan Nur adalah sakitnya. Sama-sama sakit liver, sama-sama sirosis. Karena itu, juga sama-sama menghitam di wajah.

*"$!

Prihatin atas Keprihatinan terhadap Wajah Hitam Saya


19 September 2007 SAYA nanti juga akan meninggal dengan wajah hitam, kata saya kepada istri saya. Saya ingin menyiapkan mental istri saya bagaimana harus menahan rasa malu. Terutama di mata keluarga dan teman-teman pengajiannya. Istri saya memang aktif di perkumpulan Pengajian Wanita Surabaya (Pengawas), satu perkumpulan yang amat besar dan aktif. Saya nanti akan seperti Cak Nur, tambah saya. Itu saya lakukan karena istri saya juga mendengar omongan orang tentang Cak Nur. Dia juga mendengar ada khatib di sembahyang Jumat yang mengatakan Tuhan murka pada Cak Nur (Nurcholish Madjid, tokoh pembaruan pemikiran Islam). Buktinya, ketika meninggal, wajahnya menghitam. Istri saya memang sudah beberapa lama kelihatan prihatin melihat perubahan di wajah saya. Saya prihatin atas keprihatinannya itu. Maka, saya perlukan bicara soal mengapa wajah saya menghitam dan mengapa ada orang menilai Cak Nur seperti itu. Saya jelaskan sebisa-bisa saya bahwa wajah hitam Cak Nur sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemurkaan Tuhan. Tuhan itu tidak punya hobi murka seperti khatib yang mengecam Cak Nur itu. Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Sampai di sini saya sadar bahwa istri saya sudah sangat sering mendengar khotbah sehingga saya tidak perlu menambahinya. Apalagi khotbah saya kurang meyakinkan. Saya memilih menjelaskannya secara ilmiah saja. Mengapa wajah Cak Nur, juga wajah saya, menghitam? Ya, begitulah memang salah satu perubahan fisik yang dihasilkan oleh liver yang terkena sirosis. Ini berlaku pada siapa saja. Yang Islam, yang Kristen, yang Buddha, yang Hindu, yang Kejawen, yang komunis, dan yang tidak punya aliran apa pun -free thinker.

*"%!

Wajah hitam adalah tanda-tanda perubahan fisik dari sirosis yang parah. Karena itu, kalau Anda sakit liver, minta saja meninggal sebelum sirosis parah. Terutama kalau Anda ingin meninggal dengan wajah yang tidak hitam. Terjadinya wajah hitam itu sama dengan akibat sirosis yang lain: Kaki yang bengkak, payudara yang membesar, dan kemudian muntah darah. Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan. Sebenarnya, masih banyak lagi tanda fisik lain. Yakni kulit menguning, mata juga menjadi kekuning- kuningan, bibir pucat, dan telapak tangan seperti tidak berdarah. Terutama kalau telapak tangan baru saja digenggamkan. Begitu genggaman dibuka, darah seperti tidak segera kembali memerahkan telapak tangan. Bahwa ada khatib yang menilai wajah Cak Nur yang menghitam sebagai tanda bahwa Tuhan tidak mau menerima rohnya, sebabnya mungkin si pengkhotbah tidak sempat belajar ilmu yang lain - misalnya, karena terlalu larisnya. Bahkan, sang khatib begitu sibuk berkhotbah, kadang isi khotbahnya ya hanya yang diketahuinya itu saja. Diulang-ulang. Seperti kaset lama yang diputar terusmenerus. Pasti si pengkhotbah juga tidak pernah melihat wajah mayat Mao Zedong. Setidaknya tidak pernah membaca tentang itu. Setidaknya lagi, kalau toh pernah membaca, tidak sampai menjadikannya pertimbangan. Mao adalah pendiri partai komunis Tiongkok yang tentu saja tidak mengakui adanya Tuhan. Namun, bagaimana wujud wajah mayatnya? Saya pernah melihatnya dua kali. Wajahnya putih, bersih, dan amat cerah. Bibirnya menunjukkan senyum kecil seperti amat bahagia di akhir hayatnya. Mayat itu sampai sekarang masih bisa dilihat di Beijing. Orang antre untuk menyaksikannya. Demikian juga di Kremlin, Moskow. Mayat Lenin, salah satu pendiri komunisme sedunia, terlihat putih, bersih, dan manis sekali. Saya juga pernah mengunjunginya. Apakah itu pertanda roh Lenin diterima dengan senang oleh Tuhan? Lebih diterima daripada Nurcholish Madjid? Meski Cak Nur tokoh Islam

*"&!

dan Lenin tidak mau mengakui adanya Tuhan? Bahkan menjadi pelopornya? Wallahu alam. Yang jelas, Lenin, dan juga Mao, tidak meninggal karena sirosis. Saya sangat prihatin atas keprihatinan istri saya. Tapi, saya juga prihatin memikirkan bagaimana umat di masa depan. Dengan pola berpikir seperti itu, apakah umat akan bisa maju? Apakah tidak semakin ketinggalan dan kemudian terpojok? Lalu, introvert dan mencari kompensasi dalam bentuk ekstremitas? Saya prihatin karena dengan pola pikir yang seperti itu, keseimbangan antara dunia dan akhirat tidak memadai. Banyak memang orang yang terlalu berat ke duniawi, tapi juga bukan berarti harus dibalas dengan bersikap lebih berat ke ukhrowi. Semua harus seimbang: beribadah sungguh-sungguh seperti besok akan mati saja, bekerja sungguh-sungguh seperti akan hidup seribu tahun. Kalau ukuran diterima Tuhan atau tidaknya seseorang dilihat dari wajah mayatnya, betapa suramnya kemajuan ilmu pengetahuan di masa depan. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan dan kemodernan sebuah negeri kalau penduduknya -terutama para pemimpin penduduk itu- berpikiran demikian. Dan lagi, ada satu kenyataan yang lebih pahit. Bukankah kini sudah ditemukan cara membuat wajah orang yang meninggal kelihatan tersenyum? Cerah dan bahagia? Lantas, apakah itu berarti ukuran diterima atau tidaknya sebuah roh oleh Tuhan ditentukan oleh para ahli perias mayat? Saya punya teman yang bisnisnya event organizer (EO). Tapi, EO khusus untuk orang meninggal. Mulai penyediaan pakaiannya, membentuk tubuh dan wajahnya, menyediakan peti matinya, angkutan ke kuburannya, sampai mencarikan siapa yang akan jadi pengkhotbahnya. Dia begitu menghayati bisnisnya itu sehingga akan terus mendalami ilmu di bidang itu. Satu-satunya anaknya (perempuan) dia sekolahkan khusus bagaimana memelihara mayat. Bagaimana membuat wajah orang meninggal menjadi lebih ganteng dan cantik daripada ketika masih dalam hidupnya. Bahkan, ilmu itu juga berkembang ke arah sebelum kliennya meninggal. Yakni bagaimana menyiapkan agar bisa meninggal dengan wajah tersenyum. ! *"'!

Tapi, saya juga sadar bahwa istri saya mungkin tidak gampang menerima penjelasan saya itu. Sebab, penjelasan seperti itu amat jarang dilakukan orang. Tapi, setidaknya, dia bisa menutup sedikit rasa malu karena suaminya meninggal dengan wajah menghitam. Bisa punya alasan -yang meskipun mungkin juga dia ragukan kebenarannya. Ragu karena bukan penjelasan seperti yang saya ucapkan tersebut tidak pernah didengarnya. Yang sering diperdengarkan kepadanya adalah kaset lama yang diputar tidak henti-hentinya itu. Dalam teori komunikasi, kebohongan pun kalau terus-menerus dijejalkan akan jadi seperti kebenaran. Padahal, kaset lama itu bukan juga kebohongan. Tapi, penafsiran. Sebuah penafsiran yang sangat bisa memuaskan orang dari sisi emosinya. Kebohongan saja bisa menang, apalagi bukan kebohongan. Berdasar teori itu, satu penjelasan yang benar tidak akan bisa menang atas kebohongan yang terus- menerus dikampanyekan. Agama memang akan menghadapi tantangan yang hebat. Kini bukan hanya Islam, tapi juga Kristen. Setelah abad informasi sekarang ini, akan ada abad baru lagi. Dulu kita masih meraba-raba abad apa gerangan yang akan menggantikan abad informasi?. Kita pernah mengalami berturut-turut, zaman batu, zaman besi, zaman cocok tanam, zaman industri, zaman teknologi, dan zaman informasi. Kini semakin jelas dunia akan mengalir ke zaman apa. Saya kira, zaman baru yang akan kita masuki adalah zaman biologi. Di zaman itu kehidupan akan bisa direkayasa, diperbaiki, bahkan diciptakan. Kehidupan tanaman, binatang, dan juga manusia. Tidak perlu lagi transplantasi seperti saya, tapi liver (dan organ apa pun) bisa direparasi dengan penemuan lebih lanjut dari pendalaman terhadap DNA manusia. Dan, itu bukan lagi akan ditemukan, tapi sudah ditemukan. Penemunya kini lagi merahasiakannya sampai pada akhirnya dia akan bisa memproduksi sesuatu yang bisa dijual secara masal dan terjangkau. Agar bisnis di bidang ini menjadi amat besar. Operasi tidak perlu lagi. Transplantasi tidak dibutuhkan. Bahkan, orang tidak perlu sakit. Sehat terus- menerus. Cukup membeli produk baru itu nanti. Kini pun ! *"(!

barang itu sudah bisa diproduksi sebenarnya. Tapi, karena belum ditemukan kombinasi-kombinasinya, harganya bisa jadi masih Rp 10 miliaran. Dengan harga setinggi itu, meski saya pun akan membelinya, tapi hanya berapa juta yang mampu beli? Bandingkan, kalau kelak, harganya tinggal Rp 1 jutaan. Betapa besar bisnis itu. Ia akan mengalahkan bisnis obat yang sudah amat raksasa itu. Bahkan akan mengalahkan bisnis minyak dan gas. Mengapa? Penemuan lebih lanjut dari itu adalah lahirnya sumber energi baru yang sama sekali tidak kita bayangkan. Kalau kehidupan sudah bisa dibikin, bagaimana kita akan menafsirkan ajaran agama? Orang boleh tidak percaya seperti juga zaman dulu tidak percaya akan bentuk dunia yang bulat. Tapi, ini akan menjadi kenyataan. Akan di situ tidak lama lagi. Kata akan mungkin kurang tepat. Yang tepat segera. Maka, apa yang ditulis Agus Mustofa di buku-bukunya, terutama mengenai Kitab Kejadian, sungguh menarik dan akan cocok dengan zaman baru itu nanti. Yakni jangan lagi kita membayangkan bahwa manusia pertama dulu dibuat dari lempung, lalu lempung itu di-emek-emek, dibentuk seperti boneka, kemudian Tuhan meniupkan roh ke ubun-ubunnya. Penggambaran seperti itu, meski ternyata memang tidak ada di kitab suci, amat melekat di setiap manusia. Juga melekat di pikiran saya. Saya tidak pernah mempersoalkannya secara kritis. Bahkan tidak pernah mengecek ulang apa bunyi ayat yang sebenarnya dari penggambaran seperti itu. Cerita itu sama melekatnya dengan istilah memanjatkan doa yang sering kita lakukan sampai sekarang. Kita, terutama saya, tidak pernah mempersoalkan apakah teknik menyampaikan doa seperti itu masih cocok dengan abad informasi seperti sekarang. Mengapa di zaman komputer, e-mail, dan SMS ini kita masih mengirim doa dengan menggunakan teknik memanjat. Alangkah lambatnya doa itu akan sampai. Tentu kata memanjat hanya simboliasi atau penyastraan. Dan lagi, Tuhan toh tidak akan membedakan doa yang dikirim dengan cara dipanjatkan, yang di-email-kan, atau yang di-compress- kan seperti yang dilakukan golongan tasawuf ! *")!

Shatariyah. Tapi, penggunaan term panjat juga mencerminkan ketertinggalan kita dalam menggunakan teknologi yang tersedia. Pak Nuh, mantan rektor ITS yang kini menteri informasi, bisa malu.

Transplantasi Berhasil, Istri Gembira karena Wajah Berubah


20 September 2007 KALAU saja foto liver lama saya dimuat di koran tanpa penjelasan (foto-foto itu akan dimuat di edisi buku), setidaknya akan muncul tiga versi tanggapan. Orang di desa saya akan langsung mengatakan, Pasti ini karena disantet. Begitu jugalah dulu penilaian terhadap ibu saya. Juga terhadap kakak saya. Liver saya memang seperti daging yang dibakar setengah matang! Pasti ketika menyantet saya, si penyantet membeli hati sapi dulu. Lalu memanggangnya. Asapnya lantas di-email-kan ke dalam tubuh saya. Karena maraknya pandangan santet di masyarakat kita, maka yang maju lantas dunia mistik dan bukan rasionalitasnya. Pandangan kedua akan datang dari kalangan agama yang berpandangan sempit. Yang suka marah- marah, termasuk di mimbar Jumat. Kalangan ini, kalau melihat hati seperti itu, akan langsung mengambil kesimpulan: Tuhan telah murka padanya. Bahkan, bisa-bisa mengerasnya liver saya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab sadat qulbuha (sudah keras hatinya), agar mirip dengan ayat Quran yang sangat terkenal, ... fasadat qulubuhum. Kalangan ini sudah kritis lagi, karena emosi lebih besar daripada rasio. Bahkan, lupa bahwa kata dalam bahasa Arab qalb (kalbu) artinya bukan hati dalam pengertian liver. Liver bahasa Arabnya kabid. Lupa bahwa qalb itu artinya jantung. Ini memang agak kacau. Direktur Radar Banyuwangi, Samsudin Adlawi ! *#+!

(Udi), orang yang paling jago bahasa Arabnya di lingkungan Group Jawa Pos, pernah saya Tanya arti qalb. Ini karena saya juga ragu akan ingatan bahasa Arab saya. Begitu saya tanya, Udi spontan menjawab: qalb artinya hati! Lantas saya tanya lagi. Mengapa kok lambang cinta itu gambar jantung? Mengapa dalam bahasa Inggris disebut heart? Dan, dalam bahasa Mandarin disebut xin? Rupanya dia baru berpikir ulang. Lalu bergegas meralat jawaban pertamanya. Saya tadi salah. Memang qalb itu artinya jantung. Sedang liver adalah...... kata Udi yang juga sastrawan itu. Bayangkan, Udi yang demikian mahir bahasa Arab terbius oleh sesuatu yang salah, tapi sudah memasyarakat. Memang, kita lupa mempersoalkan mengapa para ahli bahasa dulu menerjemahkan kata liver (bahasa Inggris) menjadi hati dalam bahasa Indonesia? Kini sudah sulit mengubah agar liver jangan lagi diterjemahkan menjadi hati. Sudah telanjur begitu mendarah-mendaging. Kalau diubah, nanti bisa banyak sekali konsekuensinya. Misalnya kata patah hati harus diubah menjadi patah liver. Atau patah jantung (broken heart). Jadi, sebaiknya, urusan ilmiah memang jangan terlalu dikait-kaitkan dengan keyakinan keagamaan, apalagi ketakhayulan. Kalau toh dikaitkan, harus dalam rangka dzikir, bahwa Tuhan telah memberikan manusia otak yang luar biasa cerdasnya. Begitu hebat pemberian itu sehingga harus digunakan sebanyakbanyaknya. Padahal, orang yang paling pinter pun baru menggunakan sebagian saja otaknya. Kita-kita barangkali baru menggunakan lima persennya. Kita tidak boleh memubazirkan rezeki dari-Nya itu. Kalau sedikit-sedikit sudah harus lari ke doktrin, kita akan semakin terbiasa tidak menggunakan ciptaan-Nya itu. Maka, kalau istri saya merasa sangat gembira akan keberhasilan transplantasi liver ini, antara lain karena wajah saya kini sudah sedikit berubah. Dia tidak perlu lagi menghadapi rasa malu karena suaminya meninggal dalam keadaan wajah menghitam. Memang setelah 1,5 bulan transplantasi, wajah saya yang sudah dua tahun menghitam, kini kembali ... hitam. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. Bukan hitam karena sirosis. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti ! *#*!

hitamnya kereta api (duile!), meski hitam banyak yang antre. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh, untuk sedikit mengangkat derajat mereka. Kini kaki saya juga tidak bengkak lagi. Meski begitu, saya masih sering memijit-mijitnya. Setengahnya karena sudah menjadi kebiasaan selama dua tahun terakhir, setengahnya lagi untuk mengetes apakah dekok akibat pijatan itu bisa cepat kembali. Ternyata biarpun saya pijit kuat-kuat, bukan lagi dekoknya cepat kembali, bahkan tidak bisa dekok sama sekali. Dulu, setiap memijat kaki, selalu berharap ada mukjizat atau keajaiban. Tapi, setiap kali saya memijit kaki, setiap itu pula saya disadarkan bahwa keajaiban tidak berlaku di bidang yang amat scientific ini. Kini saya kembali sering memijit kaki saya dengan sangkaan sebaliknya: jangan-jangan bengkak lagi. Saya juga tidak lagi membenci kaus kaki. Tapi, pada keadaan tidak membenci kaus kaki itu, justru saya tidak terlalu memerlukannya. Tanpa kaus kaki pun kini perut tidak merasa kembung. Bagaimana dengan payudara saya? Tiap hari saya masih meraba-rabanya. Masih tetap besar, tapi sudah mulai mengencang. Dokter bilang, lama-lama juga akan kembali normal. Saya belum bisa memperkirakan apakah saya akan lebih senang dengan payudara saya yang asli. Atau justru sudah terbiasa nyaman dengan payudara seperti gadis yang menginjak remaja. Limpa saya, yang meski sudah dipotong sepertiga, tapi masih dua kali lipat lebih besar dari limpa asli, lama-lama juga akan kembali normal. Demikian juga saluran pencernakan yang telanjur dilaminating. Tidak perlu lagi dilaminating kedua atau ketiga. Membaca SMS mengenai mulai pulihnya organ-orang di tubuh saya, seorang teman masih sempat menggoda saya dari Musi Banyuasin, Sumsel, sana: Apakah bulunya yang dicukur juga sudah kembali normal? tulisnya di SMS. Untung, dulu tidak jadi minta dikembalikan. Bisa-bisa susternya marah dan mengembalikannya ke dekat payudara, tambahnya.

*#"!

Saya makin sembuh, suasana pengajian di rumah juga lebih ceria. Berbeda dengan saat para karyawan berkumpul untuk berdoa di rumah menjelang saya operasi. Saat itu suasananya murung. Minggu lalu diadakan acara pengajian dan hafalan Alquran sehari penuh hingga tarawih. Para hafidz (penghafal) Alquran di Surabaya memang aktif berkumpul sebulan sekali di tempat berpindah- pindah. Tiap tiga bulan sekali di rumah saya Kini saya sudah bisa membuat perencanaan. Dulu, begitu tidak pastinya penyembuhan sakit saya, saya tidak berani bikin perencanaan yang agak panjang. Bahkan, tidak berani bikin janji kapan menerima tamu dan kapan harus rapat. Kecuali yang amat penting. Perencanaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah apa yang diucapkan Cak Nur. Yakni, ketika pemikir itu ditanya mengenai apa bagaimana berislam yang baik dan enak. Bekerjalah yang sungguh-sungguh, kata Cak Nur. Lalu mengisahkan keberhasilan Daud mengalahkan Jalut (Goliat). Di akhir ayat yang mengisahkan soal ini, tertulis Bekerjalah, wahai keluarga Daud, sebagai tanda syukur kepada-Ku. Bersyukur dengan cara bekerja keras. Itulah juga yang akan saya tiru. Saya akan mensyukuri keberhasilan transplantasi liver saya dengan meneruskan kerja keras. Apalagi, seperti dikatakan Cak Nur, bekerja adalah tingkatan syukur yang tertinggi setelah mengucapkan alhamdulillah dan istighfar (minta ampun). Saya sudah beberapa kali mengucapkan alhamdulillah. Juga sudah sering mengucapkan istighfar. Tinggal, begitu sembuh, kerja keras lagi.

*##!

Liver Ganti, Khawatir Berubah Tak Bisa Menulis Baik


21 September 2007 KARENA yang diganti ini adalah hati, apakah perasaan saya tidak berubah? Pertanyaan itu bahkan datang dari diri saya sendiri. Sejak sebelum dilakukan transplan sampai sesudahnya. Gara-garanya, literatur yang mengatakan bahwa banyak kasus si penerima organ akan mengalami perubahan. Tim saya juga mengatakan begitu. Ada yang menerima informasi bahwa kenalannya langsung berubah menjadi amat jeleknya. Liong Pangkiey, pemilik pabrik sepatu di Surabaya yang asli Gorontalo itu, kirim SMS bahwa temannya ganti ginjal. Setahun kemudian, badannya menjadi berbulu. Ini karena donornya dari India. Bahkan, keluarga salah satu direksi Grup Jawa Pos sendiri mengalaminya. Anaknya harus transplantasi ginjal di Guangzhou. Karena masih keturunan Arab, tentu anaknya juga masih membawa ciri-ciri fisik bapaknya. Operasi itu sukses sekali. Anaknya tumbuh dewasa, kemudian berumah tangga. Anehnya, setelah istrinya melahirkan, anaknya seperti Tionghoa. Kulitnya putih bersih. Suatu saat, si bapak kembali ke Guangzhou bersama anaknya yang masih kecil yang seperti anak Tionghoa itu. Maksudnya akan memeriksakan ginjalnya setelah lebih dari 10 tahun transplantasi. Ketika di rumah sakit, si kecil pergi ke taman bermain dengan pamannya yang juga membawa ciri fisik keturunan Arab. Waktu senja sudah tiba, si paman mengajak si kecil kembali ke hotel. Tapi, si kecil tidak mau. Bahkan sampai menangis. Saat menangis itulah, si paman memaksa menggendongnya pergi. Si kecil kian berontak dan berteriak-teriak. Melihat orang Arab membawa pergi anak Tionghoa sampai menjerit-jerit itu, polisi turun tangan. Si paman diamankan dengan sangkaan melarikan anak

*#$!

penduduk setempat. Terpaksa si paman menelepon bapak si kecil. Akhirnya, urusan selesai. Saya sendiri, ketika baru sebulan antre untuk mendapatkan donor, membawa koran lokal yang juga memberitakan kejadian serupa. Kali ini menyangkut wanita Shanghai yang baru transplantasi jantung di Kota Shenyang. Waktu itu jantungnya mogok di atas pesawat dalam penerbangan ShanghaiShenyang. Turun pesawat, langsung dilarikan ke RS dan harus menjalani transplantasi. Wanita itu biasanya pemurung, tidak mau keluar rumah, penakut, dan introvert. Tapi, beberapa bulan setelah operasi, dia mulai menyenangi internet, mengendarai mobil, dan banyak omong. Bahkan kalau naik mobil suka ngebut, ujar suaminya seperti diberitakan China Daily. Yang lebih mengherankan lagi, wanita itu kemudian suka main saham di pasar modal. Koran tersebut juga menampilkan foto keluarga itu yang lagi bergurau di rumahnya. Saya menjadi agak khawatir pada istri saya, kata suaminya. Saya juga sering membayangkan jangan-jangan mengalami hal yang sama. Kalau itu sampai terjadi, apakah yang paling saya takutkan? Kekhawatiran utama saya ternyata ini: tidak bisa lagi menulis baik. Karena itu, seminggu setelah operasi, saya sudah minta laptop. Saya memaksakan diri untuk memulai menuliskan pengalaman saya ini. Sebagian agar tidak ada catatan di otak saya yang hilang, sebagian lagi untuk mengetes apakah saya masih bisa menulis dengan baik. Kini giliran saya bertanya kepada pembaca: Apakah ada perubahan dalam gaya penulisan saya? Memang, ada seorang teman yang setengah bertanya dan setengah menyesalkan: Penyakit kok diberitahukan ke orang-orang. Secara terbuka, di koran lagi. Kepadanya saya jelaskan bahwa saya dulu, ketika masih jadi pemimpin redaksi Jawa Pos, sering menugasi wartawan agar mewawancarai tokohtokoh yang berhasil mengatasi penyakitnya. Tidak semua orang bisa menulis baik. Karena itu, harus wartawan yang menuliskan ceritanya. Karena itu, saya harus fair. Ketika saya sendiri mengalami itu, saya harus mau menuliskannya. ! *#%!

Tapi, mengapa tidak disertai foto-foto? Bukankah Anda dulu mengajarkan setiap features harus disertai foto? Kalau perlu pinjam ke sumber berita? tanya Edy Aruman, mantan redaktur Jawa Pos yang kini menjadi redaktur majalah Swa. Saya jawab: Kali ini saya memang minta jangan ada satu foto pun yang disertakan dalam tulisan ini. Mengapa? Ada dua tujuan. Pertama, saya akan mengetes diri sendiri agar dalam tulisan ini memberikan sebanyak mungkin deskripsi. Saya sering mengajarkan kepada wartawan kami agar jangan mengabaikan diskripsi. Yakni menceritakan hal-hal detil yang dianggap sepele, tapi sebenarnya penting. Sebuah tulisan yang deskripsinya kuat, begitu saya mengajarkan, bisa membawa pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri suatu kejadian. Deskripsi yang kuat bisa membuat pembaca seolah-olah merasakan sendiri kejadian itu. Deskripsi yang kuat bahkan bisa menghidupkan imajinasi pembaca. Imajinasi pembaca kadang lebih hidup daripada sebuah foto. Inilah salah satu kunci kalau jurnalistik tulis masih diharapkan bisa bertahan di tengah arus jurnalistik audio visual. Saya juga selalu mengajarkan agar dalam menulis kalimat-kalimatnya harus pendek. Kalimat pendek, begitu saya mengajar, akan membuat tulisan menjadi lincah. Kalimat-kalimat yang panjang membuat dada pembaca sesak. Semakin pendek sebuah kalimat, semakin membuat tulisan itu seperti kucing yang banal. Apalagi kalau di sana-sini diselipkan kutipan omongan orang. Kutipan itu -direct quotation-juga harus pendek-pendek. Mengutip kata seorang sumber berita dalam sebuah kalimat panjang sama saja dengan mengajak pembaca mendengarkan khotbah. Tapi, dengan selingan kutipan-kutipan pendek, tulisan itu bisa membuat pembaca seolah-olah bercakap-cakap sendiri dengan sumber berita. Alasan kedua mengapa foto tidak disertakan di tulisan ini adalah: Semua foto akan dimuat ketika tulisan ini diterbitkan dalam bentuk buku. Foto-foto seputar operasi, termasuk foto-foto liver saya yang lama. Sebenarnya, masih ada satu lagi ide saya yang akan saya sumbangkan ke dunia jurnalistik. Ide ini sudah saya kemukakan lima tahun yang lalu, namun penerapannya masih memerlukan pembuatan software komputer. Saya tidak puas ! *#&!

dengan lambatnya pelaksanaan ide ini karena saya tidak lagi dalam posisi pemimpin redaksi. Padahal, ide ini penting justru untuk menyesuaikan praktik jurnalistik di alam kebebasan mutlak seperti sekarang. Dalam alam demokrasi seperti ini, tanggung jawab justru lebih besar. Prinsip-prinsip jurnalistik yang baik harus lebih dipentingkan. Misalnya mengenai cover both side, pemberitaan yang berimbang. Maka, saya ingin di setiap komputer yang digunakan reporter dilengkapi software checklist. Setiap kali reporter selesai menulis berita kan harus mengirimkannya ke redaktur untuk diedit. Dalam proses pengiriman berita dari komputer ke komputer itu, reporter harus menekan tombol kirim. Nah, saat menekan tombol kirim itulah, saya ingin agar di layar komputer muncul dulu sejumlah pertanyaan yang harus diisi si reporter. Misalnya: Apakah Anda sudah membaca ulang tulisan Anda? Di belakangnya dimunculkan kolom isian: sudah dan belum. Kalau belum, dia tidak akan bisa menekan tombol kirim. Lalu, pertanyaan sudah berimbangkah berita yang Anda tulis? Apakah pihak-pihak yang Anda tulis sudah diwawancara? Dan seterusnya. Setiap pertanyaan disertai kolom isian. Kalau tidak mengisinya, si reporter tidak bisa menekan tombol kirim. Kalau kelak ada reporter yang menipu dengan cara mengisi kolom yang salah, tanggung jawabnya jelas. Saya berharap software yang saya inginkan itu segera dibuat. Lalu, Jawa Pos-lah yang pertama menerapkannya. Itu bukan saja menjadi sumbangan saya ke dunia jurnalistik berikutnya, tapi juga sumbangan IT ke dalam jurnalistik. Maka, saya bisa menyumbangkan ilmu manajemen ke dalam jurnalistik melalui penerapan rukun iman Jawa Pos. Lalu, menyumbangkan software untuk prinsip cover both side yang penting itu. Di tulisan mendatang saya juga akan menceritakan sumbangan ilmu tauhid ke dalam bisnis dan manajemen. Sumbang-menyumbang dari satu disiplin ilmu ke ilmu yang lain, apa salahnya dilakukan. Untuk kemajuan. Saya sendiri tidak tahu apakah tulisan saya mengenai pengalaman ganti liver ini masih mencerminkan doktrin jurnalistik saya itu. Kalau tidak, berarti juga ada kemunduran dalam kemampuan saya menulis. Dan jangan-jangan, itu karena saya ganti liver. ! *#'!

Setiap membicarakan persiapan transplantasi, tim saya ternyata juga sering menyinggung kemungkinan perubahan perilaku saya pascatransplantasi. Tentu dengan nada penuh humor. Melinda Teja, bos Pakuwon Jati itu, misalnya. Saya sangat khawatir kalau liver yang didonorkan itu punya sifat asli seorang gay, gurau Melinda. Kalian yang laki-laki harus waspada, tambahnya. Saya justru khawatir kalau itu liver Laura, ujar yang lain. Kita harus segera carikan pekerjaan yang cocok, tambahnya. Laura yang dimaksud adalah lanang ora, wedok ora (tidak laki-laki dan juga tidak perempuan). Sampai hari ini, saya belum merasakan perubahan apa-apa. Tapi, diri sendiri kadang memang tidak bisa merasakan. Orang lainlah yang tahu. Kalau saja seperti itu, tentu saya berharap segera diberi tahu. Jangan hanya dijadikan bahan gosip semata. Yang jelas sudah berubah adalah perut saya. Akibat sayatan pisau bedah yang panjang, kulit perut saya tidak mulus lagi. Ada sederet bekas jahitan yang kasar. Rupanya, tim dokter tidak membawa ahli obras malam itu, ujar tim kami. Karena itu, saya lagi mengusahakan untuk memperhalusnya. Ada cara yang katanya cukup mujarab. Terutama yang biasa digunakan ibu-ibu yang melahirkan secara caesar. Lebih terutama lagi ibu-ibu di Amerika. Yakni silicon scar treatment. Saya masih memesannya lewat internet karena hanya di AS barang itu dijual. Kalau saja usaha itu tidak berhasil, anggaplah saya baru saja melakukan caesar tiga kali berturut-turut.

*#(!

Tunggu Pulang Diimunisasi Hepatitis B, Saingi Cucu


22 September 2007 TEPAT sebulan setelah transplantasi, dokter sudah mengizinkan saya pulang. Jadi, 6 September yang lalu sebenarnya saya sudah bisa kembali ke Indonesia. Tapi, tim saya, terutama Robert Lai, minta saya lebih bersabar. Tim Surabaya juga demikian. Bahkan, ada yang minta biar enam bulan baru pulang juga lebih baik. Dia tahu, kalau pulang, saya pasti langsung lupa diri. Kalau selama ini sudah sabar enam bulan, mengapa tambah dua bulan lagi tidak kuat? tambah Ir Budiyanto, perancang Gedung Jatim Expo dan Rumah Cepat Tsunami Aceh, ketika menjenguk saya. Dulu Budi itu, saya kira, seorang Kristen. Dia Tionghoa dan lulusan Fakultas Teknik Universitas Kristen Petra Surabaya. Sebuah konotasi yang ternyata salah. Ini baru saya ketahui setelah bertahun-tahun kenal. Apakah tidak ke gereja? tanya saya saat dia mengajak rapat soal Aceh di hari Minggu. Saya bukan Kristen, Pak, jawabnya. Oh, berarti dia Konghucu atau Buddha. Saya berpikir salah sekali lagi. Saya penganut Sapto Dharmo, jawabnya. Bahkan, kemudian, saya tahu dia salah satu tokohnya. Makanya, ketika saya ajak omong Mandarin, dia tidak nyambung. Aneh. Dia Tionghoa, bicaranya kromo inggil. Saya yang Jawa bicara Mandarin. Sejak itu, saya selalu kromo inggil kepadanya. Agar tidak lupa bahasa Jawa tinggi itu. Sebab, di rumah saya menggunakan bahasa Banjar. Kromo inggil pas sekali kalau dipakai bicara soal ajaran sangkan paraning dumadi, filsafat ojo dumeh dan hukum timba sing kudu nggoleki sumur. Saling SMS dan email pun pakai kromo inggil hingga suatu saat kebentur kata forward. Nah, apa kromo inggil untuk forward? Keinginan pasien untuk cepat-cepat pulang memang agak ajaib. Begitu seminggu setelah operasi berhasil (umumnya mereka tandai dengan bisa jalan-

*#)!

jalan), pasien langsung membuat rencana tanggal berapa akan pulang. Fokus pikiran sudah berubah: Pulang! Pulang! Pulang! Ini bagian dari misteri rumah, misteri kampung halaman. Itu sebabnya bahasa Inggris membedakan mana kata rumah (house) dan mana kata rumah (home). Suasana kebatinan setelah operasi mirip dengan setelah berhaji di Makkah. Sebelum tiba hari pelaksanaan haji, biar dua bulan menunggu pun asyik-asyik saja. Semangat menjalani ibadah luar biasa. Tawaf (berjalan memutari Kabah) dilakukan berkali-kali -meski tawaf di mal dan supermarket juga tidak bosan-bosannya. Sudah tawaf siang hari, mencoba sore hari. Sudah pagi hari mencoba malam hari. Rasanya ingin terus dekat dengan Kabah dan mencium berkali-kali hajar aswad, sebuah batu hitam (blackstone) di pojok Kabah. (Waktu saya menulis bahwa Tiongkok dengan kekayaan barunya sudah mampu membeli saham perusahaan raksasa Amerika yang bernama Blackstone, seorang pembaca mengirim SMS ke saya: Tiongkok sudah pula membeli hajar aswad?) Karena itu, suasana di sekitar Kabah tidak pernah sepi. Kemacetan manusia selalu terjadi di sekitar hajar aswad. Mereka berebut menciumnya. Kadang dengan cara menyikut dan menyingkirkan orang lain. Saya tidak sampai hati melihat pemandangan itu. Karena itu, meski entah sudah berapa kali saya ke Makkah, saya belum bisa mencium hajar aswad -secara fisik. Saya tidak tega kalau harus berebut seperti itu caranya. Maka, saya selalu berusaha menciumnya dengan hati saya yang dalam. Hati dalam pengertian pedalaman saya -bukan hati dalam pengertian liver saya. Tuhan pasti tahu isi pedalaman saya. Uda, Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas, kata Pinto Janir dari Padang kirim SMS ke saya. Toh mencium hajar aswad itu bukan rukun tawaf. Bahkan, Syayidina Umar pernah mengatakan, Kalau bukan karena Rasulullah pernah menciumnya, saya tidak akan sudi menciumnya. Tentu, suatu saat saya akan menciumnya. Mungkin akan ada manajemen yang lebih baik untuk mengatur antrean itu. Ada terus kegiatan orang di Makkah sebelum hari haji. Tapi, begitu pulang dari Padang Arafah, apalagi begitu selesai salat Idul Adha, rasanya sudah amat

*$+!

berbeda. Antiklimaks yang tajam. Bagi yang masih lama dapat giliran pulang, luar biasa tidak sabarnya. Begitu juga pasien transplan liver. Begitu bisa jalan, pikirannya sudah langsung fokus ke pulang. Maklum, sudah terlalu lama menunggu di rumah sakit ini. Sudah antiklimaks. Pasien dari Taiwan umumnya sudah pulang sebulan setelah transplantasi. Pasien Jepang bahkan tiga minggu sudah check-out. Mereka memang tidak perlu khawatir. Di dua negara itu ada rumah sakit yang punya pengalaman merawat pasien pascatransplan. Bahkan sudah menjadi seperti satu network dengan pusat transplan di Tiongkok ini. Sedang kalau saya pulang, kalau terjadi apa-apa, rumah sakit mana yang punya pengalaman cukup untuk pasien seperti saya? Walhasil, saya memutuskan baru akan kembali ke Surabaya sekitar seminggu setelah Lebaran. Kebiasaan saya Lebaran di Makkah tidak bisa saya lakukan lagi tahun ini. Ternyata benar juga bahwa saya tidak buru-buru pulang. Saya masih harus menjalani satu proses yang amat lucu: Imunisasi hepatitis B. Saya tersenyum mendengar bahwa saya harus menjalani beberapa kali suntikan imunisasi. Sudah umur 56 tahun baru imunisasi. Bersaing dengan Icha, cucu saya, kata saya pada suster yang akan menyuntik. Suster tertawa. Saya kembali tersenyum. Kecut. Hasil tes terakhir memang menunjukkan bahwa liver baru saya bersih. Tidak kejangkitan hepatitis atau sel bibit kanker. Karena itu harus segera dilindungi dari dua makhluk halus (karena hanya bisa dilihat oleh mikroskop) yang pernah mengancam jiwa saya itu. Saya dapat informasi bahwa dokter-dokter anak di Surabaya juga kebanjiran bayi yang minta diimunisasi hepatitis B. Yakni pada hari saya mengungkapkan mengapa saya sampai menderita penyakit seperti itu. Jam lima pagi sudah lima ibu yang mendaftar, kata dr Wawan yang dulu pernah jadi anggota yang aktif di Dewan Pembaca Jawa Pos. Saya kaget. Kok tumben. Oh, agak siang sedikit, saya baru tahu sebabnya. Pasti pagi-pagi mereka sudah baca Jawa Pos, tambahnya.

*$*!

Departemen Kesehatan harus membayar Anda. Kampanye yang berhasil, tulisnya di SMS-nya. Tentu, saya tidak mengharapkan bayaran itu. Saya sudah amat senang kalau tulisan saya ini memberikan manfaat. Bahkan, saya berencana mendirikan lembaga yang tugasnya gerilya ke kawasan-kawasan miskin untuk mencari anak yang belum diimunisasi. Saya akan membiayai kegiatan itu. Saya perlu sejumlah tenaga yang punya antusiasme menangani pekerjaan tersebut. Diam-diam, tekun, dan njlimet. Karena teman-teman se-angkatan saya sudah pada pulang, tinggal saya sendiri yang dari Angkatan April 2007. Tidak ada lagi teman-teman lama yang saya kunjungi setiap hari. Saya harus mencari kawan baru. Berarti juga harus mau menjadi narasumber untuk bagi-bagi pengalaman kepada mereka. Saya melakukannya dengan senang hati. Hati baru, tentunya. Saya ingin ikut memberikan semangat agar mereka optimistis menghadapi operasi besar. Saya pun merasa dapat semangat yang sama dari pasien yang menjalani transplan sebelum saya. Saya merasa mereka beri semangat. Giliran saya memberikan semangat. Toh, saya tidak harus membeli semangat. Sebelum operasi, saya memang suka bertanya kepada pasien yang baru saja menjalani operasi. Atau ke keluarga mereka. Jawaban-jawaban itu tidak terlalu memengaruhi psikologi saya. Tapi, begitu pertama melihat pasien yang jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan kantong plastik berisi cairan merah menggantung di pinggangnya, saya tertegun. Oh, begini ya orang habis transplantasi, pikir saya. Badannya lebih kurus daripada yang saya lihat sebelum operasi. Jalannya thimikthimik pelan. Lengannya dipegangi oleh suster. Mulutnya, juga mulut susternya, dipasangi masker. Lalu, saya tanya kepada susternya: Sudah berapa hari dia operasi? Tepat seminggu yang lalu, jawabnya. Oh! Baru seminggu yang lalu! Sudah bisa jalan, meski thimik-thimik. Meski badannya kelihatan lemah, wajahnya segar. Juga lebih merah. Lebih segar dan merah daripada yang saya lihat sebelum operasi. Seminggu sudah bisa jalan! Saya pun akan begitu nanti! Seminggu, Dahlan, hanya seminggu! Sudah bisa jalan! Kau nanti juga harus begitu! Kalau perlu lima hari! ! *$"!

Dengan melihat contoh nyata itu, optimisme saya kian menyala-nyala. Saya kian rajin senam untuk membuat badan saya lebih segar. Saya lebih semangat makan, tanpa harus merasakan enak- tidaknya. Kalau badan saya lebih kuat, tentu lima hari setelah operasi sudah bisa jalan. Dia saja, yang badannya memang sudah kurus dan umurnya sudah 62 tahun, seminggu sudah bisa jalan. Rasa optimistis kian hari kian besar setelah melihat pasien tadi di hari-hari berikutnya. Kian hari kian cepat jalannya. Juga kian segar badannya. Pasien kedua yang saya lihat pun begitu. Pasien ketiga juga sama. Pasien keempat, kelima, dan seterusnya. Semua kurang lebih sama. Jadi, ajaib memang transplantasi ini. Bahkan, pasien yang sebelum operasi kelihatan matanya sudah amat keruh, sudah tergeletak tidak bisa berjalan, napasnya sudah tersengal-sengal, seminggu setelah operasi juga sudah bisa jalan. Suatu saat ada contoh-hidup yang lain. Serombongan besar orang Korea memenuhi lantai 11. Ada pemandu wisatanya. Wisatawankah mereka? Mereka adalah orang-orang yang dua-tiga tahun lalu transplantasi di sini, kata seorang perawat. Mereka ingin datang lagi bersama keluarga dan kerabat. Untuk menunjukkan di sinilah dulu mereka dapat sambungan nyawa. Tiba-tiba saya penasaran, ingin bertanya masak kini mereka bisa begitu sehatnya. Ternyata dengan suka rela mereka menceritakan segala pengalamannya. Bahkan, tiga orang di antara mereka (antara umur 60 dan 70 tahun) mau saya ajak masuk kamar saya. Agar bisa bicara lebih santai. Di kamar saya semangatnya menjadi-jadi. Lihat ini, katanya sambil menyingkap bajunya. Terlihatlah di kulit perutnya bekas sayatan dan jahitan yang panjang. Begitu jugalah saya nanti, pikir saya. Selama empat bulan menunggu operasi, saya hanya sekali mendengar orang meninggal. Yakni yang transplantasi enam bulan sebelumnya. Dia seorang wanita 60-an tahun dari Pakistan. Konon, seorang anggota parlemen. Transplantasinya sukses dan amat sehat. Sebulan setelah transplantasi langsung pulang. Mungkin memang politisi yang sibuk. Di negaranya langsung aktif karena memang terasa sudah amat sehat. ! *$#!

Perawatan terhadap slang yang masih ada di pinggangnya pun dilakukan di negerinya. Slang itu, berikut kantong plastik kecil, memang masih terus akan di situ selama tiga bulan. Tiap dua minggu harus dibersihkan dan dirawat. Agar tidak jadi sumber infeksi. Bahkan, tiga bulan kemudian, waktu seharusnya dia kembali ke Tiongkok untuk mengeluarkan benda yang dipasang untuk menyambung livernya dulu, dia tidak ke Tiongkok. Dilakukan sendiri oleh dokter setempat karena dia juga ahli. Beberapa saat setelah itu, dia bahkan pergi naik haji. Entah proses pengambilan benda asing itu yang salah atau karena kegiatannya yang berlebihan, dia terkena infeksi. Kian lama kian parah. Lalu datang lagi ke Tiongkok untuk menyelamatkannya. Di Tiongkok dia akan ditransplantasi sekali lagi, namun menunggu kondisi badannya stabil. Yang ditunggu tidak segera tiba. Bahkan memburuk. Dan akhirnya meninggal. Saya harus belajar dari pengalaman itu. Saya tidak harus buru-buru pulang.

*$$!

Sering Kaget Disapa Wanita Modis dan Ceria dalam Lift


23 September 2007 DI masa menanti waktu pulang ini, saya kehilangan dua teman wanita yang paling saya akrabi. Keduanya tinggal di lantai yang sama. Satu dari Jepang, satunya lagi dari Harbin, Tiongkok. Saya sering sekali mengunjungi kamar masing-masing dan ngobrol berlama-lama. Terutama kalau istri saya pergi belanja. Apalagi mereka senasib: juga hepatitis, sirosis, dan kanker hati. Kami biasa saling curhat. Yang wanita Jepang amat modis. Bajunya bagus-bagus dan mahal-mahal. Rambutnya disasak tinggi. Sepatunya seperti Cinderella. Dia sendirian. Tidak satu pun keluarganya mendampingi. Dia juga tidak bisa berbahasa Mandarin sehingga hanya saya pasien yang bisa dia ajak ngobrol dalam bahasa Inggris. Dua wanita itu juga amat mengesankan. Bicaranya, guraunya, dan intelektualnya bisa nyambung dengan saya. Dua-duanya juga amat cantik terutama kalau penilaian ini saya berikan 35 tahun yang lalu, saat keduanya masih kira-kira berumur 30 tahun. Saya nanti tidak sesukses kamu, kata wanita yang dari Jepang itu suatu saat kepada saya. Dia ngiri melihat badan saya yang sehat dan agak gemuk. Saya memang tidak menceritakan bahwa gemuk saya waktu itu karena bengkak. Umur saya sudah 72 tahun, tambahnya. Wanita yang dari Harbin lebih mengeluh lagi. Bukan saja mengenai umurnya, tapi juga kondisi badannya. Perut saya sudah berisi air, katanya. Kalau saja dia masih muda, tentu orang akan mengira dia hamil. Umur saya juga sudah 69 tahun, tambahnya. Lebih dari itu dia juga mengidap sakit gula. Saya memahami keadaannya. Saya tahu bahwa sakit gula akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sukses tidaknya transplantasi. Tapi, saya tidak menceritakan bagian ini padanya. Saya ceritakan kenyataan bahwa ada pasien lain yang juga punya sakit gula toh berhasil dengan baik juga. ! *$%!

Di lain waktu wanita Harbin tadi curhat yang lain lagi. Saya nanti pulangnya mungkin paling belakangan, katanya. Kalian sudah pulang semua, saya akan masih di sini. Sendirian, katanya. Saya menjawab: Saya juga tidak akan buru-buru pulang. Saya juga berjanji kepadanya untuk terus memberinya semangat. Saya cepat akrab dengan wanita Harbin ini, antara lain, karena saya pernah lama di sana: Belajar bahasa Mandarin dengan cara home stay. Juga sudah tak terhitung lagi berapa kali saya ke Harbin sesudah itu. Benar saja, si Cinderella sangat berhasil operasinya. Pasti semakin modis dia nanti. Juga benar bahwa seminggu setelah operasi dia sudah menentukan tanggal pulang. Dokter saya di Jepang yang minta saya segera pulang. Menjalani perawatan di sana, katanya seperti minta pengertian. Tentu kami tetap menampakkan transplantasinya. Yang wanita Harbin juga sudah menjalani transplantasi. Juga sukses. Perut saya yang mulai buncit dulu itu, sudah hilang, katanya dengan meraba-raba perutnya. Benar, saya lihat perutnya sudah hilang. Meski memang lebih lambat mulai bisa turun dari tempat tidur, bicaranya sudah keras dan tegas. Juga sudah bisa tertawa, meski kalau tertawa lantas kian terlihat umurnya yang sebenarnya. Saya sendiri akhirnya mendapat gelar yuan lao di rumah sakit ini. Penghuni lama. Pasien yang kerasan di rumah sakit. Tidak buru-buru pulang. Karena yuan lao, saya sangat hafal pada perawat, pegawai, dan dokter di rumah sakit ini. Mereka juga hafal pada saya. Meski begitu hafal, saya masih sering kecele kalau suatu saat disapa wanita yang sangat modis dan ceria di dalam lift atau di lobi. Terutama pada jam-jam pulang atau berangkat kerja. Siapa ya wanita cantik ini, sering saya bertanya dalam hati. Eh, baru sadar bahwa mereka adalah perawat atau pesuruh yang tadi melayani saya. Rupanya mereka biasa ganti-ganti baju. Begitu selesai bertugas, para perawat itu ganti pakaian seperti model. Bajunya, tatanan rambutnya, cara membawa tasnya, sama sekali tidak menyangka kalau dia tadi yang pakai baju ! *$&! kegembiraan kami bahwa dia begitu sukses dengan

perawat dengan topi putih. Dia sering menyapa, tapi saya seperti tidak kenal lagi siapa dia. Perawat di sini memang disediakan kamar mandi dan ganti baju. Setiap masuk kerja mereka mandi dulu dan baru ganti baju perawat. Demikian juga ketika pulang kerja. Ini agar kuman yang terbawa perawat saat berangkat kerja tidak terbawa ke pasien. Yang seperti itu tidak hanya perawat. Pesuruh dan tukang pel lantai pun idem ditto. Sewaktu bertugas mengepel kamar saya, pakaiannya baju-kerja penyapu lantai. Sepatunya sepatu kungfu yang murahan. Tapi, begitu pulang, sungguh membelalakkan mata. Bajunya you can see, celananya hot pants (maklum, musim panas) dan rambutnya dimain-mainkan seperti artis Korea. Mereka sama sekali tidak punya rasa rendah diri meski pekerjaannya tukang pel lantai. Sebaliknya, meski berangkat kerja dengan amat modis, ketika kerja tidak ogahogahan. Saya ingat direktur saya Zainal Muttaqien. Kami sering diskusi soal kemiskinan di Indonesia dan Tiongkok. Mengapa orang di Tiongkok yang juga banyak sekali yang lebih miskin dari orang miskin Indonesia, harga dirinya lebih baik. Bukan saja jarang lihat pengemis, juga kalau bertemu orang seperti tidak punya rasa rendah diri. Dan ini menjadi salah satu sumber kemajuan Tiongkok. Ini yang disebut social-capital -modal sosial. Bank Dunia menyebutkan social-capital ini menjadi faktor penting kemajuan Tiongkok di samping modal finansial. Muncullah istilah dari Zainal yang akan selalu saya ingat dan yang akan kami perjuangkan sebagai inti dimulainya pembangunan harga diri ini. Yakni, satu moto: Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat. Saya dan Zainal, dan banyak lagi yang lain, akan bisa jadi model perjuangan itu. Bagaimana ketika miskin dulu tidak jatuh sampai menjual harga diri dan jabatan. Dan, ketika sudah kaya (duille!) tidak sewenang-wenang. Saya ingat, meski waktu itu sudah menyandang gelar wartawan majalah TEMPO yang begitu ternama, saya belum punya sepeda, apalagi sepeda motor. Rumah pun masih menyewa di satu gang sempit di belakang pasar Kertajaya, ! *$'!

Surabaya. Rumah separo tembok separo kayu. Yang kamar mandinya dipakai bersama beberapa rumah tangga. Yang airnya dari sumur yang harus ditimba sendiri. Yang kasur tipisnya harus dihampar di lantai. Waktu harus wawancara ke daerah industri di Tandes Margomulyo, saya hanya punya uang Rp 75 di saku. Hanya cukup untuk naik bemo berangkatnya. Dari Kertajaya ke Jembatan Merah Rp 25, lalu dari Jembatan Merah ke Tandes Rp 50. Selesai wawancara, saya diberi amplop. Saya tahu isinya pasti uang. Saya menolaknya meski di saku tidak ada lagi uang sepeser pun. Meski TandesKertajaya begitu jauhnya. Saya pulang dengan jalan kaki. Hampir dua jam. Karena beberapa kali harus berhenti untuk menghindar dari panasnya Surabaya. Waktu harus pulang ke Kaltim, tentu banyak orang yang akan memberi saya tiket. Tapi, saya pilih naik kapal kayu ke Banjarmasin dulu, agar murah. Lalu naik kendaraan umum berupa jip terbuka yang penuh sesak dengan penumpang. Belum ada bus waktu itu. Saya khawatir dengan istri saya. Maka, saya bilang kepada sopir agar boleh naik di kursi dekat sopir. Istri saya hamil muda, kata saya. Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat akan membuat bangsa ini tidak gampang jatuh ke derajat bangsa-pengemis. Atau, bangsa yang kalau melihat orang kaya yang muncul kecemburuannya. Bangsa yang mudah disogok dan dipermainkan. Yang juga mudah dibayar untuk, misalnya, sekadar berdemo. Dari penampilan para perawat dan tukang pel di rumah sakit ini, saya belajar bagaimana menjalani pekerjaan rendahan dengan jiwa yang kuat. Saya kepingin sekali meniru ini di Graha Pena. Petugas cleaning service tidak harus merasa rendah diri. Saya sudah minta manajemen Graha Pena untuk menghitung konsekuensi biayanya. Kalau upaya meniru ini berhasil, penampilan Graha Pena juga akan lebih keren. Dan harga diri pegawai yang di situ sama tingginya. Lalu muncul ide gila yang tidak masuk akal. Untuk membuat kota-kota di Indonesia cantik, para wanita yang lalu lalang di kota itu harus juga terlihat cantik. Betapapun bersihnya sebuah kota, kalau yang lalu-lalang di dalamnya kumuhkumuh, nggak menarik jadinya. Maka, pemda yang menginginkan kotanya cantik

*$(!

dan menarik harus memberikan penduduknya yang wanita barang- barang ini secara gratis: Baju, lipstik, eye shadow, sepatu, dan biaya ke salon. Ide itu tentu tidak mungkin dilakukan. Kalaupun dilakukan, belum tentu lipstiknya digunakan. Bisa- bisa dijual. Sebab, filsafat Kaya Bermanfaat, Miskin Bermartabat belum menjadi budaya. Tentu semua biaya seperti itu, kalau di rumah sakit ini, ditanggung sendiri. Tapi, di Graha Pena kami akan mencoba memberikannya secara cuma-cuma kepada pegawai bagian cleaning service-nya. Tentu tidak harus sampai pada hot pants, tapi berjilbab pun akan dicarikan jilbab yang modis. Salah satu kesimpulan saya, membangun kepercayaan diri begitu pentingnya. Jarang saya lihat orang Tiongkok yang merasa rendah diri. Mereka bisa membedakan rendah diri dan rendah hati. Sedangkan kita, kalau tidak mau dibilang kurang ajar, sering terbelit filsafat unggah-ungguh, sopan- santun, tawaduk, yang sebenarnya tetap bisa kita lakukan tanpa harus jatuh ke derajat rendah diri. Kembali ke dua wanita tadi (eh, kok ingat dia lagi sih?), ternyata ada baiknya juga dia pulang lebih dulu. Kalau tidak, tulisan ini tidak akan bisa selesai tepat waktunya.

*$)!

Banyak Faktor Keberhasilan, tapi Jangan Buru-Buru Merasa Sehat


24 September 2007 MENGAPA operasi transplantasi liver saya berhasil? Setidaknya sampai hari ini? Faktor apa saja yang memengaruhinya? Jawabnya dua macam: mau yang pendek atau yang panjang. Mau yang religius atau yang ilmiah. Kalau mau pendek dan tampak religius, jawabnya ini: semua itu berkat tangan Tuhan. Selesai. Tidak perlu lagi tambahan apa-apa. Siapa yang bisa membantahnya? Siapa yang berani mempersoalkannya? SMS yang masuk ke saya pun hampir semuanya bernada begitu. Mereka mengatakan semua ini karena Allah. Hanya satu-dua yang mengatakan, Semua ini karena Allah dan kepintaran para dokternya. Tapi, kalau jawabnya itu, saya tidak perlu lagi menulis. Tapi, saya ingin menulis. Terutama ingin menulis sesuatu agar para dokter tidak kehilangan semangat karena tidak dipuji sama sekali. Saya ingin memujinya. Saya tidak ingin para dokter menjadi ngambek seperti humor ngambek-nya seorang istri yang sudah terkenal itu: Suatu saat sebuah keluarga ingin mengundang makan malam seorang suci. Sang istri sehari penuh sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. Waktu mau makan, sang suami meminta sang suci membacakan doa. Terima kasih, Tuhan, Engkau telah menyediakan makanan yang lezat- lezat ini. Ucap sang suci mengakhiri doanya. Selama makan sang istri merengut saja. Setelah sang suci pulang, si istri menggugat suaminya: Tidakkah tadi kau laporkan kepada sang suci bahwa sayalah yang sehari penuh menyiapkan makanan ini? Saya tidak ingin para dokter njegol seperti si istri itu. Sudah tentu tidak hanya faktor keahlian dokter yang menjadi satu-satunya kunci sukses. Saya mencoba merincinya sebagai berikut: Keahlian dan pengalaman dokternya. ! *%+!

Kecanggihan peralatannya. Kemajuan obat-obatannya. Kemampuan manajemen rumah sakit dan tim operasinya. Keberadaan donor yang sangat prima. Kondisi badan saya yang masih baik. Faktor mana yang terpenting, rasanya sulit menentukan. Tapi, kalau ada waktu membahasnya lebih dalam, pasti juga akan diketahui ranking-nya. Soal keahlian dokter, di Indonesia pun tidak akan kalah. Saya pernah menerima keluhan dokter ahli bedah jantung seperti Prof Dr dr Paul Tahalele. Keahliannya pasti tidak kalah dengan dokter Singapura. Tapi, kesempatan untuk memperoleh pengalaman yang banyak sangatlah minim. Baik karena langkanya donor maupun minimnya peralatan. Bagaimana bisa punya pengalaman transplantasi liver 150 kali setahun kalau di negeri itu orang tidak bisa mendonorkan organnya? Mengenai kecanggihan peralatan, rumah sakit ini tergolong yang terbaik di dunia. Bahkan, ada satu alat yang hanya empat di dunia: di AS, Korea, Jepang, dan di rumah sakit ini. Saya tidak diberi tahu alat yang mana. Tersedianya peralatan yang canggih ini sangat terkait dengan kemampuan dana dan keinginan pemimpinnya. Untuk Indonesia, dua-duanya belum bisa banyak dinanti. Begitulah nasib dokter kita meski itu juga dialami bidang yang lain. Di bidang kemajuan obat-obatan harus diakui bahwa kemajuan penemuan obat baru bukan main cepatnya. Kalau saja kemajuan obat-obatan tidak seperti sekarang, mungkin juga banyak halangannya. Untuk kegagalan transplantasi liver karena rejection, sekarang jumlahnya hampir nol. Obat sinkronisasi liver baru dengan organ lain sudah amat sempurna. Bahkan, obat antiinfeksi juga sudah membuat kegagalan karena infeksi amat minim. Kegagalan yang terbanyak kini karena tekanan darah tinggi dan gula darah. Sebab, obat-obatan yang harus dimakan setelah transplan menimbulkan efek samping di dua sektor itu. Kebetulan, saya tidak memiliki bakat darah tinggi maupun gula darah. ! *%*!

Kondisi pasien yang prima memegang peran penting karena banyaknya komplikasi juga akan menyulitkan. Salah satu pasien yang saya kenal kelihatan gembira sekali di hari pertama dan kedua setelah keluar dari ICU. Tapi mulai lemas di hari-hari berikutnya. Ini karena jantungnya memburuk. Itulah sebabnya, saya membuat keputusan justru harus melakukan transplantasi ketika saya masih sehat. Maksud saya ketika organ-organ lain saya masih baik. Kalau saja terlambat mengambil keputusan, akan lain hasilnya. Mendapatkan donor yang prima pun, antara lain, juga ditentukan oleh kondisi pasien. Misalnya, kalau saja saya tidak sabar menunggu. Mungkin akan mendapat juga donor, tapi kualitasnya belum tentu sebaik yang ada di dalam badan saya sekarang. Atau, kalau saya sabar, tapi kondisi badan saya sudah tidak bisa lagi menunggu lebih lama, tentunya donor seperti apa pun akan diterima. Toh semua donor sudah diperiksa kualitasnya. Bahwa ada kualitas I atau II, itu tentu ada kelaskelasnya. Kalau sejak sebelum operasi saya optimistis bahwa transplantasi ini akan berhasil, antara lain, saya sudah menghitung semua faktor di atas. Tentu, semua itu tidak saya informasikan kepada keluarga atau teman-teman. Hanya saya dan tim saya yang tahu. Teman-teman, juga para pemegang saham, mungkin banyak yang pesimistis. Terutama kalau mereka melihat tanda-tanda fisik saya: mulai dari sudah muntah darah, sudah bengkak, dan wajah sudah menghitam. Mereka juga melihat tandatanda nonfisik yang saya lakukan. Misalnya, saya tiba-tiba mengundang temanteman yang ketika bekerja di Jawa Pos dulu pernah saya marahi. Kadang saya sadari bahwa ternyata tidak seharusnya saya marah karena ternyata dia tidak salah. Tapi kalau sudah telanjur marah, masak bisa diralat? Yah, saya sering juga kemudian minta maaf, tapi saya yakin sudah telanjur melukai hati mereka. Kepada mereka (baik yang sudah pensiun maupun yang belum), saya berikan uang. Ada yang cuma Rp 5 juta, ada yang sampai Rp 100 juta. Tergantung perasaan saya seberapa saya merasa bersalah. Rupanya, bagi-bagi uang ini terdengar juga oleh pensiunan karyawan yang lain. Lantas, dia menghubungi saya lewat SMS: saya ! *%"!

menyesal mengapa dulu tidak pernah dimarahi. Boleh nggak sekarang saja dimarahi. Asal kemudian ikut diundang, katanya. Saya juga sering mengadakan khataman Alquran yang diikuti para hafiz (orang yang hafal Quran). Mereka aktif berpindah-pindah di Surabaya dan tiga bulan sekali di rumah saya. Apakah Pak Dahlan sudah mau mati? Mau khusnul khotimah? komentar seorang teman secara diam-diam tapi sampai juga ke telinga saya. Apalagi saya juga menyelenggarakan zikir-pidak dan ikut mendengungkan kalimat syahadat yang sudah di-compress menjadi kata pendek hu itu ribuan kali. Para pemegang saham juga sangat khawatir ketika saya minta bertemu dan menyampaikan sesuatu yang amat sangat pentingnya. Apakah yang Anda lakukan ini ada hubungannya dengan sakit Anda? tanya seorang pemegang saham. Sambil menunggu saatnya transplantasi pun, buku yang saya baca adalah buku kisah artis terkemuka Tiongkok yang meninggal muda setelah transplantasi liver. Sampai-sampai tim saya bilang, Mbok jangan baca buku yang begituan. Maksudnya jangan membaca yang seperti memberikan isyarat- isyarat bahwa saya akan gagal dan meninggal. Mereka tidak tahu bahwa saya ingin belajar dari buku itu. Terutama: mengapa gagal? Apa yang tidak boleh saya tiru agar saya tidak gagal? Juga ada maksud saya yang lain lagi: belajar membaca huruf Mandarin. Pelajaran penting yang saya peroleh dari buku itu adalah ini: jangan terlambat ambil keputusan transplantasi. Ini menambah kuat tekad saya untuk melakukan transplan ketika kondisi badan saya masih kuat. Artis itu sudah amat terlambat melakukannya. Transplantasi pertama dilakukan di Beijing. Berhasil. Belum dua bulan sudah sibuk menghadiri berbagai acara, termasuk talk show dan jumpa fans di kota- kota yang jauh. Padahal, dia melakukan transplantasi dalam keadaan sudah amat terlambat. Kankernya sudah telanjur menyebar ke bagian tubuhnya yang lain. Akhirnya, dia harus transplantasi lagi di kota ini. Juga berhasil. Tapi, kanker sudah lebih menyebar lagi. Akhirnya meninggal dunia. ! *%#!

Pelajaran lain yang saya dapat adalah: Jangan buru-buru merasa sehat dulu. Karena itu, sepulang dari Tiongkok nanti, saya akan mampir dulu di Singapura beberapa hari. Kebetulan, istri perdana menteri Singapura yang juga CEO Temasek Group, Madame Ho Ching, juga minta agar saya menjalani review di negaranya. Itu bisa dilakukan dalam rangkaian perjalanan saya pulang kelak. Singapura memang punya reputasi yang baik untuk perawatan pascaoperasi. Bahkan, untuk transplantasi separo hati, Singapura sudah amat berpengalaman. Saya yang akan atur, tulis Madame Ho Ching dalam email- nya kepada saya.

*%$!

Setelah Transplantasi, Kian Tidak Jelas Hitungan Umur Saya


25 September 2007

UMUR berapakah saya sekarang? Tepatnya saya tidak tahu. Apalagi setelah melakukan transplantasi liver ini. Kakak sulung saya memang pernah mencatat tanggal kelahiran saya. Yakni di balik pintu lemari kayu yang kasar. Ditulis dengan kapur lunak, diambilkan dari kapur yang biasa dipakai nenek untuk makan sirih. Itu bukan lemari pakaian karena kami tidak perlu lemari untuk pakaian. Baju kami, sekeluarga, tidak lebih dari sepuluh. Cukup disangkut-sangkutkan di paku yang menancap di dinding. Juga karena kami tidak bisa beli lemari. Lemari yang ada itu bikinan bapak sendiri untuk menyimpan apa saja: kaleng bekas, piring seng untuk makan, cobek (mangkuk terbuat dari tanah), dan leper (tempat mengulek sambal, terbuat dari tanah), dan sebangsanya. Makanan juga disimpan di situ -kalau kebetulan ada. Itulah satu-satunya perabot rumah tangga bapak saya. Tidak ada kursi atau meja makan. Kami makan sambil duduk di lantai. Lantai itu terbuat dari tanah karena tidak mampu menyemennya. Kalau mau makan, barulah dihamparkan tikar. Posisi duduk anak kecil seperti saya sangat minggir -kadang hanya dapat separo pantat saja yang di atas tikar. Di atas tikar itu juga kami tidur. Paginya, ketika tikar dilipat, sering ada gambar pulau di lantai tanahnya: ngompol. Jangan gusar. Bau kencing itu akan hilang dengan sendirinya kalau tanahnya sudah kering lagi. Inilah keunggulan yang tak tertandingi dari lantai tanah: Bisa menyerap ompol sebanyakbanyaknya! Dia seperti popok abadi! Tidak perlu dibuang yang sampahnya bisa merusak lingkungan. Dari segi ini, lantai tanah sangat ramah lingkungan setidaknya hidung kami sudah biasa tidak menghiraukannya. Kalau musim hujan, gambar pulaunya lebih banyak dan lebih lama hilangnya.

*%%!

Sejak masih ngompol, saya sudah harus bisa menyapu lantai. Tiap pagi, itulah tugas pertama masa kecil saya: menyapu lantai. Karena lantai itu akan menimbulkan debu, sebelum disapu harus dikepyur-kepyur dulu dengan air. Saya sangat ahli me-ngepyur-kan air ke lantai ini. Juga menyenanginya -terutama saya punya kesempatan untuk me-ngepyur-kan air lebih banyak di dekat pulau ompol untuk mengamuflasekannya. Meski akan menghabiskan air lebih banyak, tapi bisa mengurangi rasa malu. Setelah ibu sakit (seperti sakit saya ini), apa pun dijual. Sawah warisan yang hanya secuil, alat-alat tukang bapak yang bisa dirombengkan, dan juga lemari satusatunya itu. Maka, pergilah lemari dari rumah kami -dan hilanglah catatan tanggal lahir saya. Di desa, orang memang tidak peduli dengan tanggal lahir. Yang selalu diingat hanya hari dan pasarannya. Karena itu, bapak ingat saya lahir Selasa Legi. Tapi, Selasa Legi yang tanggal berapa, bulan berapa, tidak ingat. Untuk apa diingat? Untuk ulang tahun? Emangnya perlu ulang tahun? Bahwa orang itu ternyata bisa diulangtahuni belum pernah saya dengar sampai saya masuk SMA. Yang biasa diulangtahuni adalah orang mati. Pakai selamatan dan tahlilan. Kami hafal semua kapan meninggalnya siapa. Tanggal itu penting bagi anak-anak miskin karena berarti akan ada selamatan. Kalau toh ada orang yang selamatan kecil dikaitkan dengan hari kelahirannya, itu dilakukan setiap 35 hari sekali. Misalnya, setiap Selasa Legi. Tapi, keluarga kami tidak mengenal itu karena kurang kejawen. Kami keluarga santri. Ibadahnya pakai aliran NU ahli sunnah wal jamaah: tarwihnya 21 rakaat (sampai sekarang), salatnya pakai doa kunut, wiridannya pakai tahlil, nyekar ke kuburan, salat id tidak mau di lapangan. Namun, kami juga ikut Kejawen: Bersih desa, wayangan Murwad Kolo. Anehnya, aliran tarikat kami Syatariyah, bukan Naqsyabandiyah. Kalau bulan Syura, kami selamatan Rebo Wekasan, yang aslinya milik aliran Syiah. Pada selamatan ini, kiai kami menaruh gentong (tempat air yang besar terbuat dari tanah) dengan air yang penuh. Ke dalamnya dimasukkan rajah kertas yang ditulisi huruf Arab yang ruwet, entah apa bunyinya. Setelah kenduri, ! *%&!

kami antre minum airnya. Dengan ciduk yang sama: tidak terpikirkan itu sebagai sarana yang efektif untuk menularkan virus hepatitis. Itulah peringatan meninggalnya Sayidina Hasan dan Husein, putra Sayidina Ali dan Sayidah Fatimah, yang berarti cucu Rasulullah. Lebih aneh lagi, aliran politik keluarga kami adalah ini: Masyumi. Bahkan, saya ingat, gambar pertama yang bisa saya buat ketika kecil adalah lambang partai itu: Bulan bintang. Dan ketika terjadi Gestapu/PKI di tahun 1965, sepupu-sepupu saya yang sudah dewasa semua jadi anggota Banser. Suatu saat saya dicap sebagai Muhammadiyah. Lihat dia dari keluarga Masyumi, kata seorang tokoh. Di lain kali saya tidak diterima di kalangan Muhammadiyah. Dia tahlil, kata yang lain. Saya sendiri tidak peduli, saya ini orang apa. Semoga di langit sana tidak ada pengelompokan seperti itu. Lagi pula, kini, suasana juga sudah tidak seperti itu lagi. Perbedaan dua golongan itu sudah kian cair. Asal-usul keluarga kami adalah pelarian dari Jogja. Yakni setelah Pangeran Diponegoro kalah karena ditipu oleh Belanda. Para panglima perangnya melarikan diri, antara lain ke timur, ke Banjarsari di selatan Ponorogo. Lalu beranak-pinak dan ada yang membuka hutan di timur Gunung Lawu untuk dijadikan kampung: Takeran. Sekaligus jadi pusat Pesantren Sabilil Muttaqin. Karena saya dari jalur wanita, ibu saya tidak tinggal di pusat keluarga itu. Ibu harus ikut bapak saya. Bapak saya adalah abdi di pusat keluarga itu, tapi kemudian kawin dengan ibu saya. Jadilah bapak-ibu saya tinggal di desa, 6 km dari pusat keluarga itu. Jadi keluarga tani, kemudian jatuh ke buruh tani. Sampai tamat SMA, saya belum peduli dengan tanggal lahir dan karena itu juga tidak pernah bertanya ke bapak. Hidup di desa, waktu itu, tidak ada administrasi yang memerlukan tanggal lahir. Ketika sudah amat dewasa dan saya bertanya kepada bapak mengenai kapan saya dilahirkan, jawabnya tegas: Selasa Legi. Tapi, bukankah setiap 35 hari ada Selasa Legi? Waktu itu, kata bapak saya sambil berpikir keras, ada hujan abu yang sangat hebat. Maksudnya ketika

*%'!

Gunung Kelud meletus. Begitu hebatnya sampai desa saya yang jaraknya lebih 100 km dari gunung di Blitar itu dalam keadaan gelap selama sepekan. Tentu, saya malas melakukan riset kapan saja Gunung Kelud meletus. Bagi saya, tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Saya putuskan sendiri saja: Saya lahir tanggal 17 Agustus 1951. Itulah tanggal lahir yang secara resmi saya pakai di dokumen apa pun sampai sekarang. Tanpa dukungan surat kenal lahir. Tapi sudah diakui di banyak negara. Buktinya, saya tidak dianggap memalsukannya. Bukankah bisa ditelusuri kapan Gunung Kelud meletus? Soalnya bukan hanya itu. Bapak saya kemudian menyebut, ketika Gunung Kelud meletus, saya sudah mulai bisa merangkak! Kini, setelah ganti liver, kian tidak jelas lagi saya ini berumur berapa. Badan saya berumur 56 tahun, tapi hati saya belum lagi berumur 25 tahun. Apakah harus dijumlah lalu dibagi dua? Atau masing- masing diberi bobot dan nilai? Lalu, bobot dan nilai dikalikan seperti ajaran ilmu manajemen problem-solving yang sangat memengaruhi saya kalau ambil keputusan? Untuk apa juga saya pikirkan. Tiwas nanti merasa ge-er karena hitungannya jatuh bahwa saya baru berumur 38 tahun atau 45 tahun. Untunglah, saya belum pernah merayakan ulang tahun sehingga tidak kian ruwet memikirkannya. Ulang tahun saya adalah Selasa Legi. Titik. Yang lebih saya pikirkan adalah bagaimana hati baru itu bisa kerasan menjadi keluarga besar Dahlan Iskan. Dan, rasanya bisa. Sampai 1,5 bulan setelah ganti hati ini, kondisi saya terus saja membaik. Semua parameter darah normal. Yang juga menggembirakan saya adalah: sekarang saya bisa berkeringat. Sudah tiga tahun saya tidak pernah berkeringat. Habis jalan jauh pun tidak berkeringat. Kini, begitu habis makan, langsung berkeringat. Juga setelah sedikit senam atau joging. Saya memang harus banyak senam, terutama yang bisa membuat dada saya mekar lagi. Mengapa? Selama ini rongga dada saya ternyata dalam proses mengecil. Ini karena liver lama saya juga mengecil. Jadi tulang- tulang iga ikut bergerak ke dalam, berusaha menyesuaikan dengan ruang yang

*%(!

dilindunginya. Antara hati dan tulang iga, secara alamiah, memang tidak boleh ada ruang kosong. Ketika hati mengecil, tulang iga menyesuaikannya. Saya sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui itu. Tahunya ketika anak wanita saya bertanya kepada dokter: apa saja kesulitan dokter dalam melakukan transplantasi liver malam itu? Dokter mengatakan, Hampir tidak ada kesulitan apa pun. Kecuali satu: Rongga dada saya sudah mengecil. Akibatnya, ketika dokter mau memasang liver baru di ruang yang ditinggalkan liver lama, ruangnya agak terasa kesempitan. Sehingga menaruhnya jadi agak sulit. Sesak. Liver baru masih dalam ukuran normal, bukan? Itulah sebabnya saya memperbanyak senam agar liver baru saya bisa bernafas dengan lebih lega dan itu berarti membuatnya semakin kerasan tinggal di dalam badan saya.

*%)!

Kini Ada Simbol Mercy di Perut Saya (Sebuah Penutup)


26 September 2007 ADA kesan yang mendalam bahwa sakit saya yang parah kemarin-kemarin itu karena saya kerja terlalu keras. Seorang ibu sampai menasihati anaknya begini: Jangan kerja terus seperti itu. Nanti seperti Pak Dahlan Iskan! Setelah menerima SMS dari Saudara Socrates, teman di Batam yang lahir di Padang itu, saya jadi merasa bersalah. Ternyata, saya kurang pandai menjelaskan bahwa sakit saya ini bukan karena kerja keras, tapi karena saya terkena virus hepatitis B. Memang, setelah virus itu berkembang menjadi sirosis dan kemudian kanker, sebaiknya tidak kerja keras lagi. Tapi, itu bukan berarti akan menyembuhkan sakitnya, melainkan memperlambat saja perkembangannya. Tentu memperlambat juga amat baik. Hanya, saya tidak memilih itu karena saya punya filsafat sendiri dalam menyikapi umur manusia. Saya memilih berumur pendek tapi bermanfaat, daripada umur panjang tapi tidak bisa berbuat banyak. Jalan pikiran saya itu biasanya saya ungkapkan ke teman- teman dengan istilah: intensifikasi umur. Tentu kalau masih ada pilihan lain, saya akan memilih yang terbaik. Misalnya, ya berumur panjang, ya bermanfaat. Tentu, saya akan merasa sangat berdosa kalau gara-gara tulisan saya ini banyak orang takut bekerja keras. Bangsa ini memerlukan puluhan juta orang yang gigih. Kalau saya akan dijadikan contoh jelek, jangan dikaitkan dengan kerja keras, melainkan kaitkan saja dengan kecerobohan. Misalnya, jangan sampai terkena virus hepatitis seperti Pak Dahlan Iskan! ***

*&+!

Kesan yang lain dari serial tulisan saya ini adalah bahwa rumah sakit-rumah sakit di Tiongkok hebat. Sampai-sampai beberapa dokter menghubungi saya bagaimana kalau mereka studi banding ke Tiongkok untuk belajar manajemennya. Kepada para dokter itu, saya bilang bahwa ide tersebut kurang tepat. Belajar manajemen dan pelayanan rumah sakit jangan ke Tiongkok. Manajemen dan pelayanan rumah sakit-rumah sakit kita, secara umum, lebih baik. Terutama yang swasta. Memang, belakangan ini semakin banyak rumah sakit di Tiongkok yang lebih modern, tapi masih belum mencapai tingkat kecanggihan seperti di Singapura, bahkan di Malaysia sekalipun. Masih perlu satu kurun lagi untuk mencapai tahap itu. Ini karena, meski secara fisik dan peralatan sudah amat modern, carry over problems masih terbawa. Kebiasaan lama orang-orangnya tidak bisa begitu saja berubah. Saya sendiri sering berdebat dengan petugas kebersihan toilet di Graha Pena Jawa Pos Surabaya mengenai pertanyaan ini: sudah bersihkah toilet ini? Saya menilai belum. Tapi, petugas menilai sudah amat bersih. Saya bisa memahami itu karena toilet ini mungkin sudah lebih bersih daripada kamar tidur di rumahnya sekalipun. Saya tidak bisa marah karena tahu berapa gajinya dan bagaimana latar belakang ekonominya. Biasanya, saya hanya memberikan contoh dengan cara mengelap sendiri bagian-bagian yang kurang bersih itu di depan dia. Lama-lama standar kebersihannya berubah. Tapi, memang perlu waktu dan kesabaran. Kalau toh mau belajar ke Tiongkok adalah mengenai keseriusan riset dan semangat untuk majunya. Karena mereka sangat unggul di situ, saya yakin tidak lama lagi rumah sakit di Tiongkok akan mencapai tahap seperti Singapura, lebih cepat daripada waktu yang kita perlukan. Kecepatan itu akan fantastis kalau saja Tiongkok mengizinkan berdirinya rumah sakit swasta. Sampai sekarang, semua rumah sakit masih milik pemerintah. Rumah sakit juga menjadi sentral semua urusan kesehatan karena tidak boleh ada dokter praktik di sana. Semua dokter fokus bekerja di rumah sakit. *** ! *&*!

Berapakah biaya yang saya keluarkan untuk mereparasi organ-organ saya itu? Kalau di penutup tulisan ini saya memberikan isyarat jumlahnya, itu sudah meliputi semua pengeluaran. Biaya operasinya sendiri tidak besar untuk ukuran saya. Mungkin seharga rumah tipe 100 di lokasi yang sedang. Seandainya saya hanya punya rumah seperti itu pun, saya akan jual kalau harus melakukan transplantasi ini. Itu juga yang dilakukan bapak saya ketika ibu sakit: Menjual apa pun, termasuk alat- alat tukang kayunya, dan satu-satunya. Kalau waktu itu tidak menjual rumah, itu karena tidak akan ada orang yang mau membeli rumah lantai tanah di pelosok desa. Dari seluruh pengeluaran, yang terbanyak adalah untuk pendukungnya. Misalnya, transportasi lokal, akomodasi, dan konsumsi saya sekeluarga, wira-wiri saya sekeluarga dari Indonesia ke Tiongkok, dan sebagainya. Biaya itu juga sudah termasuk pengobatan sejak terjadinya muntah darah pada 2005. Jadi, biaya terbesar sebenarnya bisa ditekan sesuai dengan kemampuan. Misalnya, membatasi keluarga yang harus wira-wiri. Di Tiongkok juga jangan tinggal di hotel, tapi cari apartemen murah saja. Itu pun sewa saja. Misalnya, sewa enam bulan (tidak bisa sewa kurang dari enam bulan). Transportasi yang bagaimana juga memengaruhi besarnya biaya. Naik kendaraan umum? Taksi? Beli mobil sendiri? (Kebetulan saya beli mobil kelas Toyota Corolla dan itu berarti juga harus punya sopir). Makan dengan masak sendiri atau setiap makan ke restoran? Dan banyak lagi. Satu orang dan yang lain tidak akan sama. Kalau semua biaya itu ditotal, untuk kasus saya ini, biaya operasinya sendiri tidak sampai 20 persennya. *** Semua itu tidak ada artinya dibanding nilai kesehatan yang saya peroleh. Tapi, juga sekaligus menyadarkan betapa mahalnya sehat itu. Imunisasi yang sekali suntik Rp 70.000 memang mahal. Tapi, apa artinya dibanding yang harus saya keluarkan ini? Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. Waktu tua ! *&"!

menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya -dan banyak yang gagal. Kebetulan, saya tidak gagal. Dan lagi, saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. Atau sekadar hobi. Mainannya ya kerja keras itu. Seperti Pak Moh. Barmen, tokoh olahraga di Surabaya. Mainannya ya mengurus sepak bola itu. Juga banyak sekali orang kerja keras yang karena didorong niat mulia dan kekayaan hanya datang membuntutinya. *** Kini saya tidak hanya hidup baru dengan liver baru, tapi juga dengan tanda baru di kulit perut saya. Yakni, tanda mirip simbol mobil Mercy (Mercedes Benz), bekas sayatan dari tiga arah yang menyatu di tengah. Boleh juga dibilang sayatan dari satu titik di tengah ke tiga arah. Tapi, simbol Mercy di kulit perut saya itu tidak sempurna. Seperti simbol Mercy yang digambar oleh anak berumur tiga tahun. Jelek tapi tetap terlihat Mercy-nya. Jelek wujudnya, tetap mahal citranya. Kini saya punya dua Mercy. Yang satu, yang di rumah, adalah Mercy seri 500 keluaran 2005 yang dibeli dengan harga sekitar Rp 3 miliar. Satunya lagi Mercy di kulit perut saya. Jelek, tidak tahu seri berapa, tapi kira-kira sama harganya.

(TAMAT)

*&#!