Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

Gangguan penyesuaian merupakan gangguan jiwa yang paling sering dijumpai pada pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit untuk penyakit medik ataupun operasi, namun jarang ada penelitiannya.1 Gangguan penyesuaian, berhubungan dengan stress, jangka pendek, gangguan nonpsikotik. Berdasarkan ICD X dan DSM-IV mendefenisikan gangguan penyesuaian sebagai keadaan sementara dari tekanan dan gangguan emosional, yang timbul dalam proses beradaptasi dengan perubahan hidup yang signifikan , kehidupan yang stress, penyakit fisik yang serius, atau kemungkinan penyakit serius. Stressor dapat hanya melibatkan individu bahkan mempengaruhi masyarakat luas.2,3 Pasien dengan gangguan penyesuaian biasanya terlihat seperti terbebani atau terlalu berlebihan dalam memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan. Manifestasi respon dapat berupa reaksi emosional atau perilaku terhadap suatu peristiwa stress atau perubahan dalam hidup seseorang; misalnya pada populasi anak, peristiwa dapat berupa perceraian kedua orang tua, kelahiran angota keluarga baru, atau kehilangan figur atau benda (mis. Hewan peliharaan ). Gangguan ini memiliki batas waktu, biasanya mulai dalam waktu 3 bulan dari peristiwa stress. Gejala akan berkurang dalam waktu 6 bulan setelah stressor menghilang atau ketika adaptasi baru terjadi. 3 Gangguan ini dapat ada pada semua usia dan lebih sering pada remaja.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Gangguan penyesuaian (adjustment disorder) merupakan reaksi maladaptif jangka pendek terhadap stressor yang dapat diidentifikasi, yang muncul selama tiga bulan dari munculnya stressor tersebut. Gangguan ini merupakan respon patologis terhadap apa yang oleh orang awam disebut sebagai kekurang beruntungan, atau yang menurut para psikiater disebut sebagai stressor psikososial. Gangguan ini bukan merupakan kondisi lebih buruk dari gangguan psikiatrik yang sudah ada. 1 Halgin & Whitbourne (1994) mengungkapkan bahwa gangguan penyesuaian diri adalah reaksi terhadap satu atau beberapa perubahan (stressor) dalam kehidupan seseorang yang lebih ekstrem dibandingkan dengan reaksi normal orang pada umumnya, terhadap perubahan (stressor) yang sama. Reaksi maladaptif terlihat dari adanya hendaya yang bermakna (signifikan) dalam fungsi sosial, pekerjaan, akademis, atau adanya kondisi distress emosional yang melebihi batas normal. Hendaya tersebut muncul dalam 3 bulan setelah adanya stressor. Reaksi maladaptif dalam bentuk gangguan penyesuaian ini, mungkin teratasi bila stressor dipindahkan atau individu belajar mengatasi stressor. Bila reaksi maladaptif ini berlangsung lebih dari enam bulan setelah stressor (konsekuensinya) dialihkan, diagnosis gangguan penyesuaian perlu diubah. ICD-10 dan DSM-IV mendefinisikan gangguan penyesuaian sebagai keadaan sementara yang ditandai dengan munculnya gejala dan terganggunya fungsi seseorang akibat tekanan pada emosi dan psikis, yang muncul sebagai bagian adaptasi terhadap perubahan hidup yang signifikan, kejadian hidup yang penuh tekanan, penyakit fisik yang serius, atau kemungkinan adanya penyakit yang serius. Stresor bisa hanya melibatkan individual, atau bahkan mempengaruhi komunitas yang lebih luas. Predisposisi dan vulnerabilitas individu memiliki peran yang lebih penting dalam risiko munculnya manifestasi dari gangguan penyesuaian dibandingkan dengan reaksi terhadap kejadian penuh tekanan lainnya, seperti post-traumatic stress disorder. Gangguan
2

Penyesuaian diasumsikan sebagai suatu keadaan yang tidak akan terjadi tanpa adanya stressor. ICD-10 mendefinisikan stressor di sini sebagai stressor yang tidak termasuk tipe yang tidak biasa atau katastropik Menggolongkan gangguan penyesuaian sebagai sebuah gangguan mental

memunculkan beberapa kesulitan karena tidak mudah mendefinisikan apa yang normal dan tidak normal dalam konsep gangguan penyesuaian. Bila sesuatu yang buruk terjadi pada hidup kita, maka wajar bila kita merasa sedih. Bila ada krisis dalam pekerjaan, saat dituduh melakukan kejahatan, mengalami kebanjiran, bisa dimengerti bila kita mengalami kecemasan atau depresi. Sebaliknya justru apabila kita tidak bereaksi maladaptif, paling tidak secara temporar, karena terjadinya peristiwa- peristiwa tersebut, dapat menunjukkan ada yang tidak wajar pada diri kita. Namun, bila reaksi emosional kita berlebihan, atau kemampuan kita untuk berfungsi mengalami penurunan atau hendaya, maka kondisi ini bisa didiagnosis sebagai gangguan penyesuaian. Jadi, bila kita sulit berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas kuliah karena putus cinta dan nilai akademis menurun, maka ada kemungkinan kita mengalami gangguan penyesuaian Gangguan penyesuaian terkadang dikritik sebagai memedikalisasi masalah dalam kehidupan, karena perbedaan yang ditimbulkan antara kondisi ini dengan reaksi normal terhadap stres. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, gangguan penyesuaian biasanya mengganggu fungsi sosial dan penampilan, dan muncul sebagai adaptasi terhadap perubahan hidup yang signifikan. Stresor dapat mempengaruhi integritas kehidupan sosial seseorang (melalui kehilangan atau perpisahan), atau bahkan yang melibatkan sistem yang lebih luas (migrasi atau pengungsian).1,2,3

2.2 Epidemiologi Prevalensi gangguan penyesuaian berkisar dari 2,3% pada pasien rawat jalan yang tidak memiliki gangguan pada Axis I atau II hingga 20% pada diagnosis dengan Axis I dan II. Pada dewasa, perempuan mendominasi dari pria dengan perbandingan 2:1.4 Insiden dan prevalensi Beberapa studi menunjukkan angka 12%, angka tertinggi 23% pada data pasien yang disimpan. Mood depresi adalah subtipe dari gangguan penyesuaian yang paling sering, diikuti
3

dengan gangguan penyesuaia dengan mood anxietas, gabungan anxietaas dan depresi, kemudian gangguan perilaku.3 Gangguan penyesuaian merupakan salah satu gangguan yang paling banyak ditemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit, baik yang dirawat karena penyakit fisik, maupun juga pasien yang hendak mengalami operasi. Pada suatu penelitian ditemukan bahwa 5 persen dari semua pasien yang dirawat pada suatu rumah sakit selama masa 3 tahun didiagnosis mengalami gangguan penyesuaian. Kemudian juga ditemukan bahwa 50 persen dari orang-orang yang memiliki riwayat penyakit medis, didiagnosis mengalami gangguan penyesuaian Berdasarkan penelitian selama 5 tahun, diperoleh perbedaan penting antara remaja dan dewasa terkait dengan prognosis gangguan penyesuaian. Sebagian besar individu dewasa dengan gangguan penyesuaian bebas dari gejala (71% yang benar-benar baik, 8% memiliki masalah intervensi, dan 21% mengalami depresi atau kecanduan alcohol), remaja memiliki hasil yang jauh berbeda. Selama 5 tahun, penelitian ini dilanjutkan, hasil bahwa 43% remaja memiliki gangguan psikiatri utama (misalnya, skizofrenia, gangguan skizoafektif, depresi, gangguan penyalahguanaan zat, dan gangguan kepribadian), 13% memiliki gangguan mental intervensi, dan 44% tidak memiliki gangguan mental.
1

2.3 Etiologi Gangguan penyesuaian diperkirakan tidak akan terjadi tanpa adanya stressor. Walaupun adanya stressor merupakan komponen esensial dari gangguan penyesuaian, namun stress adalah salah satu dari banyak faktor yang menentukan berkembangnya, jenis dan luasnya psikopatologi. Hingga sekarang, etiologi belum pasti dan dapat dibagi atas beberapa faktor sebagai berikut: (1) 1. Genetik Temperamen yang tinggi ansietas cenderung lebih bereaksi terhadap suatu peristiwa stress dan kemudian mengalami gangguan penyesuaian. Ada penelitian menyatakan bahwa berbagai peristiwa kehidupan dan stressor ada kolerasi pada anak kembar.(1) 2. Biologik

Kerentanan yang besar dengan riwayat penyakit medis yang serius atau disabilitas. (1) 3. Psikososial Kerentanan yang besar pada individu yang kehilangan orang tua pada masa bayi atau mereka yang ada pengalaman buruk dengan ibu, kemampuan mentolerir frustasi dalam hidup individu dewasa berhubungan dengan kepuasan dari kebutuhan dasar hidup masa bayi. (1) Diagnosis gangguan penyesuaian membutuhkan identifikasi dari kejadian yang penuh tekanan. Masih terjadi perdebatan apakah pasien dengan gangguan penyesuaian memiliki vulnerabilitas yang tinggi terhadap stressor yang umum atau vulnerabilitas yang umum terhadapp stressor yang besar. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan penyesuaian pada seseorang. Peran stress Seseorang harus mengalami kejadian yang penuh tekanan untuk dianggap mengalami gangguan penyesuaian. Stressor yang menyebabkan gangguan

penyesuaian bisa jadi berbeda tipe dan bobot. Paykel et al mengklasifikasikan kejadian hidup menjadi desirable/undesirable (seperti kemajuan karir.penyakit), penerimaan/kehilangan (seperti pernikahan/kematian seseorang yang dicintai). Stressor bisa single/tunggal bisa multiple/banyak, single misalnya, kehilangan orang yang dicintai, sedangkan yang multiple misalnya selain kehilangan orang yang dicintai, juga di PHK, dan mengidap suatu penyakit. Selain itu stressor juga dapat berupa sesuatu yang berulang, misalnya kesulitan bisnis di masa sulit, serta dapat berupa sesuatu yang terus menerus, misalnya kemiskinan dan penyakit kronis. Perselisihan dalam keluarga dapat menyebabkan gangguan penyesuaian yang berpengaruh terhadap semua anggota keluarga, namun dapat juga gangguan hanya terbatas pada satu anggota keluarga yang mungkin menjadi korban, atau secara fisik, menderita penyakit. Terkadang, gangguan penyesuaian juga dapat muncul pada konteks kelompok atau komunitas, dimana sumber stresnya mempengaruhi beberapa orang sekaligus, seperti yang terjadi pada komunitas yang mengalami bencana alam. Selain itu tahap perkembangan tertentu seperti, mulai masuk sekolah, meninggalkan rumah untuk merantau, menikah, menjadi ayah/ibu, gagal dalam meraih cita-cita,
5

maupun ditinggal oleh anak untuk merantau, sering diasosiasikan dengan gangguan penyesuaian (Kaplan & Sadock, 2007).

Vulnerabilitas individu Masing-masing individu memiliki vulnerabilitas yang berbeda terhadap gangguan penyesuaian, tergantung dari karakteristik kepribadian dan latar belakang masingmasing. Tidak semua orang yang mengalami stress akan memiliki gangguan penyesuaian. Berikut adalah hal-hal yang mempengaruhi vulnerabilitas seseorang terhadap stress: Variabilitas individu: usia, jenis kelamin, tingkat kesehatan atau komorbiditas kejiwaan. Faktor hubungan, seperti tingkat instruksi; etik, politik, kepercayaan. Lingkungan keluarga: keberadaan dukungan, kekuatan hubungan, dan status ekonomi. Kejadian di masa kecil: seorang ibu yang mengontrol anaknya atau seorang ayah yang suka meng-abuse anaknya, berhubungan dengan peningkatan risiko gangguan penyesuaian. Faktor personal dari tingginya neurotisme dan rendahnya ekstraversi mungkin berhubungan dengan gangguan penyesuaian. Level pendidikan: Level pendidikan yang tinggi dapat melindungi diri dari distress psikologis. Status pernikahan: Pernikahan dianggap sebagai faktor yang dapat melindungi diri dari gangguan penyesuaian. Hubungan antara kelainan kepribadian dan gangguan penyesuaian masih tidak jelas. Meskipun gangguan kepribadian dapat meningkatkan risiko

berkembangnya gangguan penyesuaian, pasien dengan gangguan penyesuaian lebih jarang untuk memiliki kelainan kepribadian dibandingkan dengan pasien depresi.

2.4 Manifestasi Klinis Gangguan penyesuaian didiagnosis saat seseorang memiliki gejala kejiwaan saat menyesuaikan diri terhadap keadaan baru.
6

Gejala-gejala yang muncul bervariasi, misalnya depresi, kecemasan, atau campuran di antara keduanya. Gejala campuran ini yang paling sering ditemukan pada orang dewasa. Berikut adalah gabungan dari beberapa gejala gangguan penyesuaian: Gejala psikologis. Meliputi depresi, cemas, khawatir, kurang konsentrasi, dan mudah tersinggung. Gejala fisik. Meliputi berdebar-debar, nafas cepat, diare, dan tremor. Gejala perilaku. Meliputi agresif, ingin menyakiti diri sendiri, alcohol abuse, penggunaan obat-obatan yang tidak tepat, kesulitan sosial, dan masalah pekerjaan.

Gejala-gejala tersebut muncul bertahap setelah adanya kejadian yang penuh tekanan, dan biasanya berlangsung dalam waktu sebulan (ICD-10) atau 3 bulan (DSM IV). Gangguan ini jarang terjadi lebih dari 6 bulan. Contoh kejadian yang penuh tekanan antara lain putusnya hubungan, pemutusan hubungan kerja, perselisihan dalam pekerjaan, kehilangan, sakit dan perubahan besar.

Seseorang yang menderita gangguan penyesuaian akan memiliki kesulitan dalam fungsi sosial dan pekerjaan; kerja dan hubungan antara sesama akan terganggu akibat stress yang berlangsung atau kurangnya konsentrasi. Bagaimanapun juga kesulitan yang terjadi tidak akan mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang sampai level yang signifikan. Gejala tidak selalu menghilang segera setelah stressor menghilang dan jika stressor berlanjut, gangguan mungkin akan menjadi kronik.2,4,7

2.5 Kriteria Diagnosis DSM-IV-TR A. Perkembangan gejala emosi maupun perilaku yang muncul sebagai respon terhadap stresor yang dapat diidentifikasi, terjadi dalam/tidak lebih dari 3 bulan setelah onset dari stresor tersebut. B. Gejala atau perilaku tersebut secara klinis bermakna sebagaimana ditunjukkan berikut ini: a. Penderitaan yang nyata melebihi apa yang diperkirakan, saat mendapatkan paparan stressor. b. Gangguan yang bermakna pada fungsi sosial atau pekerjaan, termasuk dalam bidang akademik. C. Gangguan yang berhubungan dengan stres tidak memenuhi kriteria untuk kelainan Axis I secara spesifik dan bukan merupakan eksaserbasi dari kelainan Axis I atau II yang ada sebelumnya. D. Gejalanya yang muncul tidak mencerminkan kehilangan (Bereavement)
8

E. Jika stressor (atau sequence-nya) telah berhenti, gejala tidak muncul lagi untuk tambahan 6 bulan ke depan. Tentukan jika: Akut: Jika gangguan terjadi selama kurang dari 6 bulan Kronik: Jika gangguan terjadi selama 6 bulan atau lebih lama adjusment disorder dikode berdasarkan pada sub tipenya, yang dipilih berdasarkan gejala yang predominan. Stresor yang spesifik dapat ditentukan dalam axis IV 309.0 With Depressed Mood 309.24 With Anxiety 309.28 With Mixed Anxiety and Depressed Mood 309.3 With Disturbance of Conduct 309.4 With Mixed Disturbance of Emotions and Conduct 309.9 Unspecified

ICD-10 Gangguan penyesuaian dikode ke dalam F43.2, golongan Reaction to severe stress, and adjustment disorders (F43). Menurut ICD 10, terdapat bermacam-macam manifestasi klinis dari gangguan penyesuaian, termasuk mood depresi, cemas, khawatir (atau gabungan antara ketiganya), perasaan tidak mampu untuk mengatasi perasaan, merencanakan masa depan, atau melanjutkan kondisi saat ini, dan beberapa tingkatan atas ketidakmampuan dalam penampilan sehari-hari. Mungkin saja akan terjadi gangguan perilaku (seperti agresivitas dan disosial), terutama pada orang dewasa. Tidak ada gejala yang predominan untuk masuk ke dalam diangosis spesifik lainnya. Pada anak-anak biasanya terdapat fenomena regresif, seperti mengompol, berbicara seperti bayi, atau menghisap jempol. Onset biasanya terjadi dalam 1 bulan sejak terjadinya kejadian yang penuh dengan tekanan atau mengubah kehidupan, dan biasanya durasi dari gejala tersebut tidak melebihi 6 bulan, kecuali masuk ke dalam kasus reaksi depresi berkepanjangan (F 43.21). Jika gejala
9

yang muncul berlangsung lama, maka diagnosis sebaiknya diubah sesuai dengan gambaran klinis yang muncul. Jika penyebabnya adalah kehilangan, maka harus dipertimbangkan juga sebagai reaksi normal dari kehilangan (bereavement), yang sesuai dengan budaya seseorang dan biasanya tidak lebih dari 6 bulan. Untuk diagnosis tersebut biasanya dikode dengan Z63.4 (menghilangnya atau meninggalnya anggota keluarga). Reaksi kehilangan dalam berbagai waktu, yang dianggap tidak normal karena bentuk atau isinya, harus dikode sebagai F43.22, F43.23, F43.24, atau F43.25, dan yang mana masih selalu muncul dan bertahan hingga 6 bulan dapat dikode sebagai F43.21 (reaksi depresi berkepanjangan) Pedoman Diagnosis a. Diagnosis tergantung pada evaluasi terhadap hubungan antara: Bentuk, isi, dan beratnya gejala; Riwayat dan corak kepribadian sebelumnya; dan Kejadian , situasi yang penuh tekanan, atau krisis kehidupan.

b. Keberadaan ketiga faktor ini harus jelas dan mempunyai bukti yang kuat bahwa gangguan tersebut tidak akan terjadi bila tidak mengalami hal tersebut. c. Jika stressornya dianggap minimal, atau jika merupakan sebuah hubungan sementara (kurang dari 3 bulan), kelainan tersebut harus diklasifikasikan di tempat lain, sesuai dengan gejala yang muncul.

Includes: Culture shock Grief reaction Hospitalism in children

Excludes: Gangguan cemas terpisah pada anak (F93.0)

10

Jika kriteria untuk gangguan penyesuaian sudah tepat, bentuk klinis atau fitur-fitur yang dominan dapat dispesifikan ke dalam 5 karakter: F43.20 Brief depressive reaction Suatu keadaan depresi yang ringan dan sementara dengan durasi tidak melebihi 1 bulan. F43.21 Prolonged depressive reaction Suatu keadaan depresi ringan yang terjadi sebagai respon dari pajanan situasi penuh tekanan yang berkepanjangan, namun durasi tidak melebihi 2 tahun. F43.22 Mixed anxiety and depressive reaction Baik gejala depresi maupun cemas cukup banyak, namun pada level yang tidak lebih tinggi dari mixed anxiety and depressive disorder (F41,2) atau gangguan cemas campuran lainnya (F41.3). F43.23 With predominant disturbance of other emotions Gejalanya biasanya berupa emosi yang parah, seperti cemas, khawatir, tegang, dan marah. Kategori ini juga dapat digunakan pada anak-anak yang memiliki perilaku regresif, seperti mengompol atau menghisap ibu jari. F43.24 With predominant disturbance of conduct Gangguan paling utama adalah yang meliputi perilaku, seperti reaksi kehilangan orang dewasa yang mengakibatkan terjadinya perilaku agresif atau disosial. F43.25 With mixed disturbance of emotions and conduct Baik gejala emosional maupun gangguan perilaku, keduanya muncul dalam bentuk yang prominent. F43.28 With other specified predominant symptoms

PPDGJ-III: a. Diagnosis tergantung pada evaluasi terhadap hubungan antara:

bentuk, isi, dan beratnya gejala


11

riwayat sebelumnya atau corak kepribadian kejadian, situasi yang penuh stres, atau krisis kehidupan

b. Adanya ketiga faktor di atas harus jelas dan mempunyai bukti yang kuat bahwa gangguan tersebut tidak akan terjadi bila tidak mengalami hal tersebut. c. Manifestasi gangguan bervariasi dan mencakup afek depresi, anxietas, campuran depresi dan anxietas, gangguan tingkah laku disertai adanya disabilitas dalam kegiatan rutin sehari-hari. d. Biasanya mulai terjadi dalam satu bulan setelah terjadinya kejadian yang penuh stres, dan gejala-gejala biasanya tidak bertahan melebihi 6 bulan kecuali dalam hal reaksi depresi berkepanjangan. e. Karakter kelima : F43.20 = reaksi depresi singkat F43.21 = reaksi depresi berkepanjangan F43.22 = reaksi campuran anxietas dan depresi F43.23= dengan predominan gangguan emosi lain F43.24= dengan predominan gangguan perilaku F43.25= dengan gangguan campuran emosi dan perilaku F43.28= dengan gejala predominan lainnya YDT.

2.6 Terapi a. Psikoterapi Intervensi psikoterapi pada gangguan penyesuaian bertujuan untuk mengurangi efek dari stressor, meningkatkan kemampuan mengatasi (coping) stressor yang tidak bisa dikurangi, dan menstabilkan status mental dan system dukungan untuk memaksimalkan adaptasi. Psikoterapi dapat berupa: terapi perilaku-kognitif, terapi interpersonal, upaya psikodinamik atau konseling.4 Tujuan utama dari psikoterapi ini untuk menganalisa stressor yang mengganggu pasien kemudian dihilangkan atau diminimalkan. Sebagai contoh, amputasi kaki dapat menghancurkan perasaan seseorang tentang dirinya, terutama jika individu tersebut adalah seorang atlet lari. Perlu diperjelas bahwa pasien tersebut tetap memiliki suatu kemampuan besar, dimana ia dapat menggunakannya untuk pekerjaan yang berguna, tidak perlu kehilangan hubungan yang berharga, dapat bereproduksi, dan ini tidak berarti bagian tubuh yang lain juga akan hilang. Jika tidak, pasien tersebut
12

dapat berfantasi ( bahwa semuanya hilang) dan stressor (amputasi) dapat mengambil alih, membuat disfungsional (pekerjaan, seks) pada pasien, dan menyebabkan disforia yang menyakitkan atau kecemasan.4 Beberapa stressor dapat menyebabkan reaksi yang berlebihan (misalnya, pasien memutuskan untuk bunuh diri atau melakukan pembunuhan setelah ditinggalkan oleh kekasihnya). Pada kasus seperti reaksi berlebihan dengan perasaan, emosi atau perilaku, terapis akan membantu individu menempatkan perasaan dan kemarahannya melalui kata-kata daripada melakukan tindakan destruktif dan memberikan perspektif. Peran verbalisasi dan gabungan afek dan konflik yang tidak berlebihan dalam upaya mengurangi stressor dan meningkatkan coping. Obat-obatan dan alkohol tidak dianjurkan.4 Psikoterapi, konseling krisis medis, intervensi krisis, terapi keluarga, terapi kelompok, terapi perilaku-kognitif, dan terapi interpersonal semua mendorong individu untuk mengekspresikan pengaruh, ketakutan, kecemasan, kemarahan, rasa tidak berdaya, dan putus asa terhadap stressor. Mereka juga membantu individu untuk menilai kembali realitas dalam beradaptasi. Sebagai contoh, hilangnya kaki bukan berarti kehilangan nyawa. Tetapi itu adalah kerugian besar. Psikoterapi singkat berusaha untuk membingkai makna stressor tersebut, cara meminimalkannya dan mengurangi defisit psikologis terhadap kejadian tersebut. 4,7

b.

Farmakoterapi Biasanya, penggunaan terapi farmakologi oleh individu dengan gangguan penyesuaian adalah untuk mengurangi gejala seperti insomnia, kecemasan dan serangan panik. Yang paling umum diresepkan untuk agen individu dengan gangguan penyesuaian adalah benzodiazepine dan anti-depresan. Stewart et al

merekomendasikan percobaan antidepresan pada pasien dengan depresi ringan atau berat yang belum memberi respon atau intervensi psikoterapi suportif lainnya selama 3 bulan. 3 Dalam sebuah penelitian yang ditujukan untuk membedakan respon terapi antidepresi pada Depresi Major dengan gangguan penyesuaian dengan mood depresi, ditemukan hasil bahwa tidak ada perbedaan respon klinis antara keduanya terhadap antidepresi. Namun kecepatan respon terapinya lebih cepat 2 kali pada gangguan penyesuaian dibandingkan pasien depresi biasa.

13

Tidak ada terapi antidepresi yang lebih efektif, baik terapi tunggal maupun terapi kombinasi, dalam pengobatan gangguan penyesuaian. Pengobatan dengan trazodone maupun clorazepate pada pasien gangguan penyesuaian dengan HIV menunjukan hasil yang sama dalam penyembuhan penyakit. Pengobatan dengan etifoxine (obat anxiolitic non benzodiazepine) dan lorazepam juga menunjukkan adanya kemanjuran dalam mengobati gejala, namun pada pasien yang menggunakan etifoxine ditemukan bahwa pasiennya membaik secara nyata dan menunjukan efek yang baik tanpa efek samping.

2.7 Prognosis Dengan terapi yang efektif, prognosis pada umunya adalah baik. Kebanyakan pasien kembali ke fungsi semula dalam waktu 3 bulan. 1Ada gangguan penyesuaian yang berlangsung sementara dan dapat sembuh sendiri atau setelah mendapat terapi. 1 Remaja membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih kembali dibandingkan dengan orang dewasa. Terdapat penelitian follow-up setelah 5 tahun mendapatkan terapi, 71% pasien dewasa sembuh tanpa gejala residual, 21% berkembang menjadi gangguan depresi mayor, atau alkoholisme. 1 Pada remaja prognosis kurang baik, karena 43% menderita Gangguan Skizofrenia denga gangguan skizoafektif, depresi mayor. Gangguan penyalahgunaan zat, serta gangguan kepribadian. Adapun resiko bunuh diri cukup tinggi. 1

14

BAB III KESIMPULAN

Gangguan penyesuaian didefinisikan sebagai gejala-gejala emosional atau perilaku yang bermakna secara klinis dan terjadi sebagai respons terhadap suatu stressor dan menghilang dalam waktu 6 bulan setelah tak ada stressor. Gangguan ini dapat dijumpai pada semua usia dan lebih sering pada remaja. Gangguan penyesuaian diperkirakan tidak akan terjadi tanpa adanya stressor. Walaupun adanya stressor merupakan komponen esensial dari gangguan penyesuaian, namun stress adalah salah satu dari banyak faktor yang menentukan berkembangnya, jenis dan luasnya psikopatologi. Berdasarkan DSM IV-TR, gangguan penyesuaian ditandai dengan gejala berdasarkan beberapa kriteria. Gejala emosional dan perilaku bisa munculdalam jangka waktu 3 bulan setelah onset stressor dan seharusnya pulih dalam jangka waktu 6 bulan setelah stressor hilang. Menurut PPDGJ-III, gangguan penyesuaian dapat terdiagnosis jika gejala muncul 1 bulan setelah onset stressor dan biasanya tidak bertahan melebihi 6 bulan. Pada gangguan penyesuaian, dapat diberikan psikoterapi atau farmakoterapi atau kombinasi kedua terapi. Psikoterapi adalah pilihan utama; dengan tujuan untuk menganalisa stressor yang mengganggu pasien kemudian dihilangkan atau diminimalkan. Psikoterapi, konseling krisis medis, intervensi krisis, terapi keluarga, terapi kelompok, terapi perilakukognitif, dan terapi interpersonal semua mendorong individu untuk mengekspresikan pengaruh, ketakutan, kecemasan, kemarahan, rasa tidak berdaya, dan putus asa terhadap stressor. Farmakoterapi diberikan dalam waktu singkat, dan tergantung dari tipe gangguan penyesuaian, dapat diebrikan penggolongan obat yang efektif. Pemberian antiansietas berguna untuk pasien dengan kecemasan. Antidepresi dapat diberikan bila dijumpai adanya depresi. Farmakoterapi adalah sebuah augment psikoterapi dan bukan sebagai terapi primer.

15

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

1. Kandou JE. Gangguan Penyesuaian. In: Elvira SD, Hadisukanto G, editors. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: FK UI; 2010. 2. Wilson DS. Adjustment Disorder. 2008:1-13. uk.info/publications/adjustment_disorder.pdf 3. Tami D Benton M. Adjustment Disorders Medscape. 2012. Available in: Available in: http://www.veterans-

http://emedicine.medscape.com/article/292759-overview 4. Chapter 61: Adjusment Disorder. In: Kay J, Tasman A, editors. Essentials of Psychiatry. Spain: John Wiley & Sons; 2006. p. 1-13. 5. Chapter 41: Adjusment Disorder. In: First MB, Tasman A, editors. A Clinical Guide to the Diagnosis and Treatment of Mental Disorders. UK: John Wiley & Sons; 2006. p. 435-8. 6. Maslim R. Gangguan Terkait Stress. In: Maslim R, editor. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III. Jakarta: PT Nuh Jaya; 2001. p. 79-80. 7. Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa cetakan kesembilan. Airlangga University Press : Surabaya

16