Anda di halaman 1dari 25

RISET PEMASARAN

BUILDING BRAND LOYALTY THROUGH MANAGING BRAND COMMUNITY COMMITMENT

Dosen : Fatik Rahayu, SE, MSi

Disusun Oleh : Yuda Pramudia Putri Mayang Sari Havitz Syahputra Miftahun Najih Shendy Alfati Agung Fareza Rizky P

UNIVERSITAS TRISAKTI FAKULTAS EKONOMI

Jakarta 2013

BAB I I.1. Latar Belakang Persaingan pasar yang semakin ketat secara tidak langsung akan

mempengaruhi suatu perusahaan dalam mempertahankan pangsa pasar. Untuk dapat bertahan dalam persaingan yang semakin ketat, maka produsen dituntut untuk lebih memperhatikan kebutuhan dan keinginan konsumen, terutama pada strategi untuk mempertahankan loyalitas konsumennya. Pada umumnya konsumen yang loyal tidak mencari alternatif dan tidak mudah berpaling pada merek produk lain. Dengan alasan tersebut perusahaan berusaha untuk membentuk konsumen yang loyal. Menurut Kotler (2000) para pesaing adalah perusahaan-perusahaan yang memuaskan pelanggan yang sama. Begitu perusahaan mengidentifikasi pesaingnya, maka harus mengetahui dengan pasti karakteristik, khususnya strategi, tujuan, kelemahan, dan pola reaksi pesaing ketika mendapatkan ancaman pasar. Persaingan yang semakin ketat saat ini untuk semua kategori produk melahirkan berbagai macam merek yang semakin menjadi identitas masing-masing produk tersebut. Peranan merek bukan lagi sekedar nama atau pembeda dengan produk-produk pesaing, tetapi sudah menjadi salah satu faktor penting dalam keunggulan bersaing. Merek memberikan konsumen suatu sumber pilihan, menyederhanakan keputusan, menawarkan jaminan mutu, membantu ekspresi diri, serta menawarkan persahabatan dan kesenangan. Berbagai program telah dikembangkan dan diimplementasikan untuk meningkatkan loyalitas pelanggan. Sebagian besar manfaat dari target ini pelanggan

program fungsional dan ekonomi (misalnya diskon, kupon, dll). Namun, jenis program loyalitas yang diperlukan tetapi bukan suatu kondisi yang cukup untuk secara bersamaan meningkatkan loyalitas pelanggan yang beragam (Gustafsson et al., 2005). Artinya, meningkatkan loyalitas pelanggan dalam arti holistik (luas) membutuhkan serangkaian strategi pemasaran yang disesuaikan dengan jenis loyalitas yang berbeda. Brand communitiesdiprakasai oleh fakta bahwa brand communitiesmembantu perusahaan untuk menarik pelanggan individu dan untuk memperkuat hubungan dengan para pelanggan, sehingga membentuk hubungan jangka panjang (Stokburger Sauer, 2010). Hubungan jangka panjang dengan pelanggan membuat perusahaan lebih dapat bersaing dan sebagai hasilnya sangat meningkatkan produktivitas pemasaran mereka (Berry, 1995, Webster, 1992). Bagaimanapun brand communitiesbelum mampu menangani seluruh lingkaran, dari memulai hubungan dengan pelanggan untuk peningkatan produktivitas pemasaran. Sebaliknya, fokus peneliti telah di berbagai bidang, seperti pengaruh sikap brand communities terhadap brand loyalty (Algesheimer et al., 2005; Jang et al., 2008), sikap berdasarkan tingkat harmoni antara brand community dan konsep diri, dan hubungan antara kegiatan brand community dan brand community loyalty (McAlexander et al, 2002;Muniz and OGuinn, 2001; Bagozzi and Dholakia, 2006). Brand community sering didefinisikan dalam hal

hubungan antara pelanggan dan merek, antara pelanggan dan perusahaan, antara pelanggan dan produk yang digunakan, dan di antara sesama pelanggan (McAlexander et al., 2002). Peran penting dari brand commitment terhadap membangun brand loyalty, dan brand communityyang telah membatasi diri dalam berurusan dengan commitment

sebagai pemain penting dalam perilaku meningkatkan brand loyalty, serta memeriksa anteseden brand community commitment. I.2. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah seperti telah di uraikan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut: Apakah terdapat pengaruh positif brand community affect dan brand

community trust terhadap word of mouth of brand melalui brand community commitment I.3. Tujuan Penelitian a. Untuk menganalisis pengaruh positif brand commumity users

trustterhadapbrand community commitment. b. Untuk menganalisis pengaruh positif brand community users

affectterhadapbrand community commitment. c. Untuk menganalisis pengaruh positif brand community

commitmentterhadapword-of-mouth.

I.4. Manfaat Penelitian a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan bahwa pemasaran brand community memiliki kekuatan untuk mempengaruhi kekuatan hubungan antara masyarakat, merek, dan perusahaan. Untuk secara aktif mengelola brand community.

b. Bagi peneliti selanjutnya dapat sebagai informasi tambahan mengenai brand commumity trust, brand community affect, brand community commitment, dan word-of-mouthsebagai bahan pengembangan penelitian selanjutnya. I.5. Sistematika Pembahasan Dalam sistematika pembahasan akan diuraikan secara singkat dan sistematis isi dari setiap bab dalam penulisan penelitian ini. Adapun pembagian dari setiap bab dan uraian sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Dalam bab ini dikemukakan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian yang dilakukan serta sistematika pembahasan. BAB II : KERANGKA TEORITIS Dalam bab ini diuraikan mengenai landasan teori yang mendasari konsep-konsep pemikiran dalam penyusunan penelitan, dimana di dalamnya terdapat beberapa teori mengenai brand commumity trust, brand community affect, brand community commitment,dan word-ofmouthyang mendukung penelitian yang dikemukakan oleh para ahli pemasaran, serta memuat kerangka pemikiran yang merupakan kristalisasi dari teori-teori yang akan digunakan serta perumusan hipotesa.

BAB III

: METODOLOGI PENELITIAN Dalam bab ini dikemukakan tentang rancangan penelitian yang digunakan, variabel dan pengukurannya, uji instrumen, teknik pengumpulan data, dan metode analisa.

BAB II LANDASAN TEORI


2.1. Tinjauan Pustaka

Brand community commitment Salah satu unsur yang paling penting untuk pembentukan dan keberlanjutan community dalam jangka panjang adalah pasrtisipasi anggota. Tidak hanya mengembangkan hubungan kelompok (Casalo et al., 2007), tetapi juga meningkatkan nilai dari masyarakat untuk anggota dan mendukung identisifikasi para anggota dengan community (Algesheimer et al., 2005). Koh and Kim (2004) menunjukkan bahwa tingkat partisipasi yang lebih besar memungkinkan anggota untuk memperoleh dukungan emosional dari anggota lain dan untuk menyebarkan ide-ide dan pengetahuan dengan cepat. Bettencourt (1997) berpendapat bahwa partisipasi dapat dianggap sebagai perilaku sukarela. Karena itu bukan tindakan wajib yang harus dilakukan oleh anggota, frekuensi dan tingkat partisipasi dalam community dapat dikurangi atau bahkan dihentikan relatif mudah (Bagozzi and Dholalia 2002). Partisipasi anggota didefinisikan sebagai sejauh mana anggota aktif terlibat dalam brand community akan memungkinkan konsumen untuk lebih mengenal merek tersebut. Community commitment mengacu pada masing-masing anggota terhadap masyarakat. Dalam hal ini, konsep komitmen digunakan sebagai prediktor perilaku aktual anggota dalam sebuah community, seperti berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, menawarkan bantuan kepada masyarakat, dan memecahkan masalah bagi

orang lain. Mengingat peran komitmen dalam hubungan dengan perilaku aktual di masyarakat, komitmen harus diperlakukan sebagai faktor sikap yang ditekankan ketika anggota mengakui nilai hubungan yang berkelanjutan antara masyarakat dan diri mereka sendiri Brand trust Chaudhuri and Holbrook (2001) mendefiniskan kepercayaan terhadap merek atau brand trust sebagai kemauan dari rata-rata konsumen untuk bergantung kepada kemampuan dari sebuah merek dalam melaksanakan segala kegunaan atau fungsinya. Lebih lanjut dikatakan bahwa, secara spesifik, kepercayaan dapat mengurangi ketidak pastian dalam sebuah lingkungan di mana konsumen merasa tidak aman di dalamnya, karena mereka mengetahui bahwa mereka dapat mengandalkan merek yang sudah dipercaya tersebut. Belief atau rasa percaya terhadap reliabilitas, keamanan, dan kejujuran merupakan faktor-faktor terpenting dalam trust. Dalam konteks merek, Delgado-Ballester and Munuera-Aleman (2001)

mendefinisikan trust atau kepercayaan sebagai a feeling of security held by the consumer that brand will meet his/her consumption expectations (p.1242). Kepercayaan adalah rasa aman yang dirasakan oleh konsumen terhadap merek; bahwa merek tersebut akan memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Kepercayaan terhadap merek (Aaker, 1996; Lassar et al., 1995) menunjukkan bahwa nilai merek dapat diciptakan dan dikembangkan melalui manajemen atas beberapa aspek yang melebihi kepuasan dari konsumen, serta diimbangi dengan kinerja produk beserta atribut-atributnya secara fungsional (Delgado-Ballester and Munuera-Aleman,

2001, p. 1241). Proses di mana seorang individu menghubungkan kepercayaan dengan merek didasarkan atas pengalamannya dengan merek tersebut. Brand affect Brand affect is defined as a brands potential to elicit a positive emotional response in the average consumer as a result of its use (Chaudhuri and Holbrook, 2001, p. 82). Pengaruh merek didefinisikan sebagai kekuatan sebuah merek untuk memunculkan tanggapan emosional yang positif dari rata-rata konsumen sebagai akibat dari penggunaan merek tersebut. Pengaruh merek didefinisikan sebagai kekuatan sebuah merek untuk memunculkan tanggapan emosional yang positif dari rata-rata konsumen sebagai akibat dari penggunaan merek tersebut. Sistem afektif biasanya bersifat reaktif, dimana sistem afektif biasanya tidak dapat direncanakan, dibuat keputusan, tidak dapat ditujukan untuk mencapai beberapa objektif. Sistem afektif seseorang biasanya merespon secara langsung dan otomatis aspek tertentu dalam lingkungan. Untuk lebih menggambarkan lebih jelas mengenai pengaruh merek, perhatikan ilustrasi berikut ini. Apakah alasan yang mendasari seorang konsumen menjadi pelanggan dari hanya sebuah showroom? Ada beberapa macam skenario yang mungkin bisa menjelaskan hal tersebut. Penjelasan pertama untuk perilaku tersebut adalah bahwa konsumen tersebut mungkin tidak mempunyai banyak informasi mengenai showroom dan sudah terbiasa membeli hanya showroom itu. Alasan kedua, konsumen tersebut mungkin sudah mencoba beberapa showroom lain, dan setelah melakukan perbandingan (dalam hal kualitas, kenyamanan, layanan, dan sebagainya), ia memutuskan bahwa showroom di mana ia menjadi pelanggannya adalah yang

terbaik. Alasan lainnya, konsumen tersebut mungkin mempunyai semacam ikatan emosional dengan para karyawan yang bekerja di showroom tersebut. Pengaruh merek dapat mengakibatkan komitmen yang lebih besar dalam bentuk loyalitas sikap dan kesediaan untuk tidak hanya mengunjungi kembali suatu showroom, namun juga kesediaan untuk membayar kesenangan yang didapat dengan harga premium. Lebih lanjut, konsumen yang loyal tersebut menjadi lebih sering pergi ke showroom favoritnya itu daripada ke showroom lain, yang pada akhirnya juga meningkatkan pendapat showroom tersebut. Konsumen tersebut juga memanfaatkan fasilitas-fasilitas layanan yang disediakan oleh showroom tersebut semaksimal mungkin, misalnya dengan menggunakan layanan home service apabila ia tidak mempunyai waktu luang untuk mengunjungi showroom tersebut. Tindakan tersebut dapat mendukung peningkatan penjualan dan kinerja merek yang menguntungkan bagi showroom tersebut. 2.2. Rerangka Konseptual Tujuan utama dari partisipasi brand community adalah fungsional dan hedonis. Tujuan fungsional mengacu pada pertukaran informasi antar anggota community, sedangkan tujuan hedonis memimpin orang-orang untuk memiliki pengalaman yang kaya dan positif melalui interaksi antara mereka (Holland and Baker, 2001). Dengan demikian, perusahaan telah mulai menggunakan merek bagi perusahaan untuk mengidentisifikasikan karakteristik pelanggan dan kebutuhan yang lebih akurat, sehingga perusahaan mampu mengelola hubungan jangka panjang kepada pelanggan dengan biaya lebih rendah.

Menurut Gundlach et al, (1995, p. 78) commitment yang seharusnya dianggap sebagai penting dalam pemasaran karena fokus pemasaran bergerak dari penawaran untuk ketika seorang pelanggan bercommitment untuk merek atau perusahaan, sangat mungkin bahwa pelanggan akan bekerja sama secara aktif dan tidak akan mudah tertarik dengan pesaing, yang dalam hubungan gilirannya akan meningkatkan keuntungan. Selain itu, commitment dianggap sebagai sumber daya saing suatu perusahaan karena memiliki hubungan kausal dengan pengurangan biaya perusahaan dan meningkatkan keuntungan, efek word-of-mouth melalui rekomendasi, dan efek harga premium (Reichheld, 1996). Dalam konteks hubungan merek konsumen, community commitment mengacu pada sikap masing-masing anggota terhadap community. Mengingat peran commitment dalam hubungan dengan perilaku aktual di community, commitment harus diperlakukan sebagai faktor sikap yang ditekankan ketika anggota mengakui nilai hubungan berkelanjutan antara community dan diri mereka sendiri. Di sisi lain, penelitian berfokus pada peran mediasi dari community commitment telah mengidentisifikasi bahwa konstruksi ini positif mempengaruhi kinerja merek, seperti loyalitas merek (Jang et al, 2008; Fuller et al, 2007). Anderson and Narus (1990) mendefinisikan trust sebagai harapan umum tentang perilaku masa depan mitra. Dalam hal ini, Chaudhuri and Holbrook (2001) menyajikan gagasan brand trust, sehingga dalam proses dipikirkan dengan baik dan seksama. Brand trust dapat dilihat sebagai kecenderungan pelanggan untuk percaya bahwa merek terus menepati janjinya mengenai kinerjanya (Fuller et al,. 2008).

Dibutuhkan waktu lebih lama membangun trust daripada kepuasan, dan pelanggan lebih bergantung pada trust mereka dari pada kepuasan dalam pengambilan keputusan dal hal apakah meraka dapat melakukan atau tidak (Achrol, 1991). Oleh karena itu, interaksi antara perusahaan sangat membantu brand community berpengaruh positif terhadap brand community commitment, sambil mengingatkan bahwa saat ini ada kurangnya yang berhubungan langsung dengan hubungan antara trust dan commitment dalam konteks brand community.

Gambar 2.2 Rerangka Konseptual

Brand community affect

H1

Brand community commitment

H2
Brand community trust

Sumber: Won et al., (2011)

2.3.

Perumusan Hipotesis Penelitian ini menganalisa efek dari trust dan affect terhadap brand community

commitment. Dampak dari trust dan affect terhadap brand community commitment. Pelanggan sebagai makhluk rasional mengejar nilai maksimum dalam setiap transaksi, sehingga mereka mencoba untuk melibatkan transaksi dengan perusahaan yang menawarkan nilai terbaik. Dalam hal ini, trust dianggap sebagai salah satu mediator yang paling penting yang menyebabkan commitment dalam hubungan pembeli dan penjual (Morgan and Hunt, 1994). Moorman et al., (1993) mengidentisifikasi trust yang mengarah ke commitment dalam hubungan kerja, dan Schemwell et al., (1994) menunjukkan bahwa trust memberikan nilai yang lebih tinggi dalam hubungan, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas hubungan. Berdasarkan pembahasan ini, brand community commitment tampaknya dipengaruhi oleh brand community trust, menunjukkan hipotesis berikut untuk brand community users: H1. Brand community affect berpengaruh positif terhadap brand community commitment. Pengaruh brand community commitment tentang jenis loyalitas merek. Repurchase intention telah didefinisikan secara luas dan banyak diperiksa dalam psikologi sosial dan pemasaran. Dalam teori pertukaran sosial (Kelly and Thibaut, 1978) dan model investasi (Rusbult, 1983) dalam psikologi sosial, repurchase intention dijelaskan sebagai pemeliharaan hubungan. Di sisi lain, studi di manajemen

saluran pemasaran atau perilaku organisasi konsep repurchase intention dalam komitmen relasional sebagai niat untuk menjaga hubungan (Morgan and Hunt, 1994). Manfaat ekonomi, yang dikenal sebagai pendahuluan dari bagian perilaku loyalitas juga dilaporkan menjadi anteseden komitmen kalkulatif (Dick and Basu, 1994; Klemper, 1995) komitmen kalkulatif mempengaruhi kecenderungan untuk mempertahankan hubungan (Lee et al, 2004;,. Verhoef et al, 2002) dan memiliki peran penting untuk menjaga hubungan jangka panjang (Fournier, 1998). Hal ini juga banyak menyatakan bahwa komitmen afektif, termasuk lampiran psikologis dan rasa persatuan, mendorong pelanggan untuk tetap dalam pelayanan yang ada dan membuat mereka mencoba menjadi pesaing. Sheth and Parvatiyar (1995) menemukan bahwa konsumen yang menunjukkan komitmen afektif kurang tertarik pada promosi pesaing. Pembahasan sebelumnya meminta hipotesis berikut tentang brand community user: H2. Brand community trust berpengaruh positif terhadapbrand community commitment. Pelanggan mengekspresikan diri melalui merek yang mereka sukai, dan mereka yang menguntungkan dan melekat pada merek yang memilki harmoni yang lebih tinggi dengan citra diri mereka. Sebagai hasilnya, mereka sangat mungkin repurchase merek tersebut secara konsisten (Jamal and Goode, 2001). Graeff (1967) mengungkapkan bahwa sikap positif terhadap merek terbentuk ketika citra diri konsumen dan citra merek yang sama dan sebangun. Demikian pula, Grubb and Grathwohl (1967) menegaskan bahwa pelanggan mereka meningkatkan konsep diri dengan mengkonsumsi aspek psikologis dari produk. Hubungan antara fit psikologis konsumen dengan kata lain, keterikatan affect kepada brand community dan sikap

menguntungkan mereka, seperti commitment terhadap brand community, mengarah ke hipotesis berikut tentang brand community user

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Rancangan Penelitian Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Won et al., (2011)

yang berjudul Building brand loyalty through managing brand community commitment apakah ada pengaruh positif antara brand community trust dan brand community affect terhadap word of mounth of brand melalui brand community commitment. Unit analisanya adalah individu yaitu para pemilik Toyota Kijang Innova, yang telah bergabung menjadi anggota komunitas Toyota Kijang Club Indonesia di Jakarta. Penelitian ini bersifat uji hipotesis (Hypotheses Testing). Dataini merupakan data Cross Sectional, yaitu data yang dikumpulkan pada satu waktu tertentu pada beberapa objek dengan tujuan menggambarkan keadaan di dalam komunitas Toyota Kijang Club Indonesia.

3.2.

Variabel dan Pengukuran

Di dalam penelitian ini, terdapat 3 variabel yaitu brand community affect, brand community trust, brand community commitment.

1. SS = Sangat Setuju 2. S = Setuju 3. TS = Tidak Setuju 4. STS = Sangat Tidak Setuju

Brand community affect Brand community affect terdiri dari beberapa item pertanyaan yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya (Chaudhuri and Holbrook, 2001). 1. Komunitas Toyota Kijang Club Indonesia ini membuat saya senang. 2. Komunitas Toyota Kijang Club Indonesia ini memberi saya kesenangan. 3. Saya merasa baik ketika saya berpartisipasi dalam komunitas Toyota Kijang Club Indonesia. Brand community trust Brand community trust terdiri dari beberapa item pertanyaan yang diadaptasi dari penelitian sebelumnya (Chaudhuri and Holbrook, 2001). 1. Saya percaya komunitas Toyota Kijang Club Indonesia. 2. Saya bergantung pada komunitas Toyota Kijang Club Indonesia. 3. Komunitas Toyota Kijang Club Indonesia adalah jujur.

Brand community commitment Brand community commitmentterdiri dari beberapa item pertanyaan yang diadaptasi dari Jang et al., (2008) dan Algesheimer et al. (2005). 1. Saya merasakan rasa memiliki dalam komunitas Toyota Kijang Club Indonesia. 2. Saya akan mengunjungi komunitas Toyota Kijang Club Indonesia terus menerus. 3. Saya akan bertukar informasi dan pendapat dengan anggota komunitas Toyota Kijang Club Indonesia. 4. Saya akan mengumpulkan informasi melalui komunitas Toyota Kijang Club Indonesia.

3.3.

Uji Instrumen Penelitian

1. UjiValiditas Uji Validitas pada penelitian ini menggunakan analisis faktor. Adapun dasar pengambilan keputusan uji validitas adalah dengan membandingkan standardize factor loading dengan faktor loading sebagai berikut (Hair et al., 2010): a) Jika standardize factor loading <factor loading (0.5) maka item pernyataan tidak valid b) Jika standardize factor loading >factor loading (0.5) maka item pernyataan valid

2. Uji Reliabilitas Pengujian realibilitas pada alat ukur perlu dilakukan untuk memastikan instrumen dari alat ukur yang digunakan untuk penelitian ini adalah konsisten dan akurat. Realibilitas berkaitan dengan konsitensi, akurasi, dan prediktabilitas suatu alat ukur (Hermawan, 2006). Standar nilai Alpha yang digunakan adalah lebih besar atau sama dengan 0,6 yang berarti indikator yang digunakan konsisten untuk mengukur konsep (Sekaran, 2006). Kriteria yang digunakan dalam pengujian realibilitas adalah: a. Cronbachs Alpha > 0,60 (Cronbachs Alpha reliable) b. Cronbachs Alpha <0,60 (Cronbachs Alpha tidak reliable)

3.4.

Prosedur Pengumpulan Data Pada penelitian ini, data yang digunakan adalah data primer karena data harus

diolah terlebih dahulu. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara langsung kepada 150 anggota komunitas Toyota Kijang Club Indonesia sebagai responden dari jumlah populasi sebanyak 240 anggota sebagai populasi. Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner tentang variabel-variabel penelitian yang diajukan kepada responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengumpulan data berdasarkan kriteria-kriteria tertentu (Hermawan, 2006). Responden dari penelitian adalah anggota komunitas Toyota Kijang Club Indonesia. Dalam penelitian ini cara penentuan jumlah sampelnya adalah menggunakan rumus Slovin dengan perhitungannya sebagai berikut (Hermawan, 2006).

3.5.

Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi

dengan menggunakan program spss 11.5 Menurut ferdinand (2000), regresi pada dasarnya merupakan sekumpulan teknik-teknik statistikal yang memungkinkan yang mengkombinasikan aspek regresi berganda dan analisis faktor untuk mengestimasi serangkaian hubungan ketergantungan secara simultan (Hair et al., 2010). Uraian masing-masing dari goodness of fit index dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.Absolute Fit Measures a. CMIN/DF The minimum sampel discrepancy function (CMIN) dibagi dengan degress of freedomnya (DF) akan menghasilkan indeks CMIN/DF, yang umumnya dilaporkan oleh para peneliti sebagai salah satu indicator untuk mengukur tingkat fitnya suatu model. CMIN/DF tidak lain adalah statistik chi-square, dibagi Df-nya sehingga disebut relatif. Nilai relative< 2,0 adalah indikasi dari acceptable fit antara model dan data.

b. Goodness-Fit-Index (GFI) Goodness-Fit-Index (GFI) merupakan suatu ukuran mengenai ketepatan model dalam menghasilkan observed matrikskovarians. Nilainyaberkisardari 0 (poor fit) sampai1 (perfect fit). Nilai GFI yang tinggimenunjukkan fit yang lebihbaik. Nilaiyang direkomendasikanadalah 0,90 yang menunjukkangood fit, sedangkan 0,80 GFI < 0,90 seringdisebutsebagaimarginal fit.

c. The Root Mean Square Error of Approximation (RMSEA) RMSEA merupakan ukuran yang mencoba memperbaiki kecenderungan statistik chisquare menolak model dengan jumlah sampel yang besar. Nilai RMSEA antara 0,05 0,08 mengindikasikan good fit dan nilai RMSEA <0,05 mengindikasikan close fit.

Hasil uji empiris RMSEA cocok untuk menguji model konfirmatori atau competing model strategy dengan jumlah sampel besar.

d. Root Mean Square Residual (RMR) Root Mean Square Residual mewakili nilai rerata residual yang diperoleh dari mencocokkan matrik varian-kovarian dari model yang dihipotesiskan dengan matrik varian-kovarian dari data sampel. Model yang mempunyai kecocokan baik (good fit) akan mempunyai nilai Standardized Root Mean Square Residual lebih kecil dari 0,05.

2. Incremental Fit Measures a. Adjusted Goodness-of-Fit (AGFI) Adjusted Goodness-of-Fit adalah analog dari R dalam regresi berganda. Fit indeks ini dapat disesuaikan terhadap degrees of freedom yang tersedia untuk menguji diterima atau tidaknya model. AGFI adalah kriteria yang memperhitungkan proporsi tertimbang dari varians dalam suatu matriks kovarians sampel. Nilai > 0,90 dapat diinterpretasi kan sebagai tingkatan yang baik (good overall model fit), sedangkan nilai > 0,80, menunjukkan tingkatan yang cukup (marginal fit).

b. Tucker Lewis Index (TLI) Tucker Lewis Index adalah suatu alternative incremental fit index yang

membandingkan suatu model yang diuji terhadap suatu baseline model. Nilai yang direkomendasikan sebagai acuan untuk diterimanya suatu model adalah 0,90 mengindikasikan good fit dan nilai Tucker Lewis Index sebesar 0,80 0,90 mengindikasikan marginal fit, dan nilai yang sangat mendekati 1 menunjukkan a very good fit.

c. Normed Fit Index (NFI) Normed Fit Index merupakan perbandingan relative dari pada model yang dibuat terhadap null model. Nilai Normed Fit Index berkisar dari 0 (sama sekali tidak cocok) sampai 1 (kecocokan sempurna). Tidak ada nilai absolut yang menunjuk tingkat penerimaan, namun nilai yang direkomendasikan adalah lebih besar dari 0,90 yang menunjukkan good fit, sedangkan 0,80 NFI < 0,90 sering disebut sebagai marginal fit.

d. Comparative Fit Index (CFI) Besaran indeks ini adalah pada rentang nilai sebesar 0 1. Semakin mendekati 1 mengindikasikan tingkat fit paling tinggi (a very good fit). Nilai CFI 0,90 mengindikasikan good fit dan nilai Comparative Fit Index sebesar 0,80 0,90 mengindikasikan marginal fit. Keunggulan dari indeks ini adalah bahwa indeks ini besarannya tidak dipengaruhi oleh ukuran sampel, karena itu sangat baik untuk mengukur tingkat penerimaan suatu model. Dalam penilaian model, indeks TLI dan

CFI sangat dianjurkan untuk digunakan karena indeks ini relative tidak sensitive terhadap besarnya sampel dan kurang dipengaruhi pula oleh kerumitan model.

3. Parsimonious Fit measures a. Parsimonious Normal Fit Index (PNFI) Parsimonious Normal Fit Index memasukan jumlah degree of freedom yang digunakan untuk mencapai level fit. Nilai Parsimonious Normal Fit Index yang tinggi menunjukkan kecocokan yang lebih baik, tetapi ini hanya digunakan dalam membandingkan model alternatif. Dalam membandingkan model, perbedaan sebesar 0.06-0.09 menunjukkan perbedaan yang sangat besardari model tersebut.

b. Parsimonious Goodness-of-Fit Index (PGFI) Parsimonious Goodness-of-Fit Indexmemodifikasi GFI atasdasarparsimony estimated model. Nilai PGFI berkisarantara 0 sampai 1. Nilai CFI 0,90mengindikasikangood fit dannilai CFI sebesar 0,80 0,90 mengindikasikanmarginal fit.

HasilGoodness of Fit Model Pengukuran Goodness of Fit Batas Penerimaan Yang Disarankan <3,00 Nilai Keputusan

2 / df

Acceptable Fit

p-value GFI RMSEA AGFI TLI CFI Normed chi square

>0,05 > 0,80 atau mendekati 1 <1 > 0, 80 atau mendekati 1 > 0, 090 atau mendekati 1 >0,90 >0,90

Acceptable Fit Acceptable Fit Acceptable Fit Acceptable Fit Acceptable Fit Acceptable Fit Acceptable Fit