Anda di halaman 1dari 33

Pelaksanaan Haji dan Umroh

Oleh Gentur Cipto Tri Atmaja 16 / XF

SMA N 1 KALASAN 2011 / 2012

Kata Pengantar
Pertama tama panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT. Atas segala rahmat dan karuniaNya hingga penyusunan makalah yang berjudul Pelaksanaan Haji dan Umroh ini dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya hambatan Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini. Dan juga sumber-sumber pustaka untuk menyusun makalah ini seperti blog-blog yang sangat membantu dalam penulisan Akhirnya penulis berharap semoga Tuhan memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah. Semoga setiap kata dan tulisan yang ada dalam makalah ini dapat memberi kontribusi yang nyata untuk membawa kehidupan kita bersama ke arah yang lebih baik.

Yogyakarta, 14 April 2012

Gentur Cipto Tri Atmaja

Daftar Isi
Kata Pengantar Bab I Pendahuluan Latar Belakang Identifikasi Masalah Batasan dan Rumusan Masalah

Bab II Isi Landasan Teori / Dalil Naqli dan Dalil Aqli Pembahasan

Bab III Penutup Kesimpulan Pesan, Kesan dan Saran

Daftar Pustaka

Bab I Pendahuluan

A.

Latar Belakang
Orang-orang Arab pada zaman jahiliah telah mengenal ibadah haji ini yang mereka warisi dari nenek moyang terdahulu dengan melakukan perubahan disana-sini. Akan tetapi, bentuk umum pelaksanaannya masih tetap ada, seperti thawaf, wukuf, dan melontar jumrah. Hanya saja pelaksanaannya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat yang sebenarnya. Untuk itu, Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dan tetap menjalankan apa-apa yang telah sesuai dengan petunjuk syara' (syariat), sebagaimana yang diatur dalam al-Qur'an dan sunnah rasul. Haji diwajibkan pada tahun kesembilan Hijriyah yakni setelah Isalm berkembang dan memperoleh kemajuan di Madinah. Tiap tahun lebih dari 2,5 tahun juta umat muslim menunaikan ibadah Haji. Haji adalah rukun Islam kelima, yang wajib untuk setian muslim yang mampu, sekali seumur hidup. Untuk setiap Negara, pemerintah Arab Saudi menerapkan system kuota haji sebanyak 1 persen dari jumlah muslim yang bersangkutan. Masjidil Haram,Luas masjid ini 130ribu m2,dapat menampung sejumlah 500ribu orang. Menaranya setinggi 90 meter. Kabah ,kiblat umat islam yang dalam shalat menjadi pusat dalam tawaf 15m. Didalam kabah terdabat batu hitam.Kabah dibangun oleh nabi Ibrahim dan Ismail, seluas 99 m2 , tinggi 15m dan tebal dinding 1m. Renovasi Kabah : 610 Masehi 683 Masehi : Dibangun kembali oleh Nabi Muhammad SAW : Khalifah Abdullah bin Az-Zubair merekontruksi Kabah mengikuti pondasi yang asli, sesudah hancur oleh angkatan bersenjata Suriah 693 Masehi 1959 Masehi 1996 Masehi : Dibangun kembali oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan : Renovasi sesudah parah karena banjir : Dibangun kembali menggunakan batu asli

Allah berfirman : Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan Haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus (unta yang kurus menggambarkan jauh dan sukarnya perjalanan yang ditempuh oleh jamaah Haji) Yang datang dari segala penjuru jauh. Supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang sudah ditentukan, atas rizeki yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebagian daripadanya dan ( sebagian lain) berikan orang-orang yang sengsara lagi kafir. ( Q.S. Al-Hajj : 27-28)

Dasar Hukum Pelaksanaan Haji dan Umroh QS Ali-Imran QS Al-Baqarah QS Al-Hajj : 97 : 196 - 197 : 27 - 28

B.

Rumusan Masalah
Rumusan yang akan dibahas dalam makalah Pelaksanaan Ibadah Haji dan Umroh ini adalah Apakah yang dimaksud dengan Ibadah Haji dan Umroh, Hukum Ibadah Haji dan Umroh, ketentuan pelaksaan Ibadah Haji dan Umroh yang dirangkai menjadi satu ?

C.

Batas-Batas Masalah
Untuk memberikan kejelasan makna serta menghindari meluasnya pembahasan, maka dalam makalah ini masalahnya dibatasi pada : 1. Pengertian Ibadah haji dan Umrah 2. Kegiatan selama Ibadah Haji dan Umrah 3. Tempat yang digunakan untuk Ibadah Haji dan Umrah 4. Hal-hal yang membatalkan ibadah Haji dan Umrah

D.

Tujuan Masalah
Makalah Pelaksanaan Haji dan Umroh ini disusun dengan tujuan memeberi gambaran dan penjelasan mengenai seluk beluk ibadah haji dan umroh secara umum, terutama hal-hal yang berkaitan dalam pelaksanaan ibadah haji dan umroh dari awal hingga selesai.

Adapun beberapa tujuan dalam pelaksanaan ibadah haji dan umroh yang akan dibahas didalam makalah ini, yaitu: 1. Untuk mengetahui pengertian ibadah haji dan umrah 2. Untuk mengetahui apa saja yang utama dilakukan selama ibadah haji dan umrah 3. Untuk mengetahui lokasi utama dalam ibadah haji dan umrah 4. Untuk mengetahui hal-hal yang dapat membatalkan ibadah haji dan umrah

Bab II Isi

A.

Landasan Teori
Dasar dasar hukum atau Landasan Teori dalam pelaksanaan Haji dan umroh antara lain :

a) Al - quran 1. QS. Ali Imran ( 97 )


Artinya: Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.( Ali Imran 97 )

2. QS. Al - Baqarah ( 158 )

Artinya: Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syiar Allah[102]. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-umrah, maka tidak ada dosa baginya[103] mengerjakan sai antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri[104] kebaikan lagi Maha Mengetahui. * (Q.S.2: Al Baqarah, 158) ayat tersebut di atas (S. 2: 158). (Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

3. QS. Al - Baqarah ( 189 )

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya[116], akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. * (Q.S.2: Al Baqarah, 189) (Diriwayatkan oleh abdu bin Hamid yang bersumber dari Qais bin Habtar anNahsyali.)

4. QS. Al - Baqarah ( 196 )

Artinya: Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu[121], sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau

bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. * (Q.S.2: Al Baqarah, 196) (Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari Atha yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

5. Qs. Al Baqarah ( 197 )

Artinya: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[122], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats[123], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa[124] dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. * (Q.S.2: Al Baqarah, 197) (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lainnya yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

b) Hadist Rasulullah saw. bersabda, " Islam didirikan di atas lima dasar." Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda, " Tidak ada balasan haji mabrur kecuali surga. " Seterusnya Rasulullah saw. bersabda, " Barangsiapa melaksanakan haji tanpa melakukan kejahatan seksual dan tidak melakukan tindakan kefasikan, maka ia kembali seperti saat dilahirkan oleh ibunya. " Juga sabda Rasulullah saw., "Wahai manusia! Sesungguhnya telah difardukan kepadamu haji, oleh sebab itu berhajilah." Kemudian seorang lelaki berdiri dan bertanya, "Wahai Rasulullah! Apakah setiap tahun "Rasulullah saw. diam sampai pertanyaan tersebut diulang tiga kali. Kemudian beliau bersabda, "Kalau aku jawab (Ya) maka akan wajib dan kamu sekalian tidak akan mampu melaksanakannya." Umat Islam sepakat bahwa haji adalah rukun Islam yang ke lima, hukumnya adalah fardu. Menurut mayoritas ulama, fardunya tidak bersifat segera, tetapi dapat ditunda dari awal waktu mampu melaksanakannya.

B.

Pengertian Haji
Haji adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, shalat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan umat Islam sedunia yang mampu (secara material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Dzulhijjah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu. Secara lughawi (bahasa), haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara, haji ialah menuju ke Baitullah dan tempattempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan tempat-tempat tertentu dalam definisi di atas, selain Kabah dan Masa(tempat sai), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sai, wukuf, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain. Pengertian haji, secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa Haji adalah berkunjung ke Baitullah, untuk melakukan Thawaf, Sai, Wukuf di Arafah dan melakukan amalan amalan yang lain dalam waktu tertentu ( antara 1 syawal sampai 13 Dzul Hijjah ) untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.

C.

Macam macam Haji


Setiap jamaah bebas untuk memilih jenis ibadah haji yang ingin dilaksanakannya. Rasulullah SAW memberi kebebasan dalam hal itu sebagaimana terlihat dalam hadist berikut. Aisyah RA berkata: Kami berangkat beribadah bersama Rasulullah SAW dalam tahun hajjatul wada. Di antara kami ada yang berihram, untuk haji dan umrah dan ada pula yang berihram untuk haji. Orang yang berihram untuk umrah ber-tahallul ketika telah berada di Baitullah. Sedang orang yang berihram untuk haji jika ia mengumpulkan haji dan umrah. Maka ia tidak melakukan tahallul sampai dengan selesai dari nahar. 1. HajiTamatu Ialah seorang berihram untuk melaksanakan umrah pada bulan-bulan haji, memasuki Makkah lalu menyelesaikan umrahnya dengan melaksanakan thawaf umrah, sa'i umrah kemudian bertahallul dari ihramnya dengan memotong pendek atau mencukur rambut kepalanya, lalu dia tetap dalam kondisi halal (tidak ber-ihram) hingga datangnya hari Tarwiyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah. Orang yang melaksanakan haji Tamattu' wajib menyembelih binatang "hadyu." Adapun dalilnya adalah hadits 'Abdullah bin 'Umar Radhiallaahu anhu , beliau berkata: "Pada waktu haji wada' Rasulullah ; mengerjakan umrah sebelum haji, beliau membawa binatang hadyu dan menggiring (binatang-binatang) itu bersamanya dari Dzul Hulaifah (Bir Ali), beliau memulai ber-ihlal (berniat) ihram untuk umrah, kemudian beliau ber-ihlal (berniat) untuk haji . Maka demikian pula manusia yang menyertai beliau, mereka mengerjakan umrah sebelum haji. Di antara mereka ada yang membawa binatang hadyu. Maka setibanya Nabi Shalallaahu alaihi wasalam di Makkah beliau ber-kata kepada manusia: 'Barangsiapa di antara kalian yang membawa binatang hadyu, maka tidak boleh dia berlepas dari ihram-nya hingga selesai melaksanakan hajinya, dan barangsiapa di antara kalian yang tidak membawa binatang hadyu, hendaklah ia melakukan thawaf di Baitullah (thawaf umrah/qudum,-Pent) dan melakukan thawaf antara shafa dan marwah (sa'i), lalu memendekkan (rambutnya) dan bertahallul. Kemudian (jika tiba hari haji,-Pent) hendak-lah ia berniat ihram untuk ibadah haji, dan hendaklah dia menyembelih binatang hadyu. Barangsiapa yang tidak (mampu) memperoleh binatang hadyu, maka dia berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila telah kembali kepada keluarganya (ke negeri asalnya,-Pent)

2. Haji Qiran ialah seorang berihram untuk melak-sanakan umrah dan haji secara bersamaan, atau dia berihram untuk umrah, lalu ber-ihram untuk haji sebelum memulai thawafnya, kemudian ia memasuki kota Makkah dan tetap pada ihramnya hingga selesai melaksanakan manasik hajinya (sampai tanggal 10 Dzulhijjah), dan wajib baginya untuk menyembelih "hadyu". 3. Haji Ifrad Yaitu seorang yang berihram untuk melaksanakan ibadah haji saja, dia tidak bertahallul dari ihramnya, kecuali setelah melempar jamroh 'aqabah (pada tanggal 10 Dzulhijjah), dan tidak ada kewajiban menyembelih "hadyu" baginya. Dalil haji Qiran dan haji Ifrad adalah hadits 'Aisyah Radhiallaahu anha , beliau berkata: "Kami keluar bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam pada tahun ketika beliau melaksanakan haji wada', di antara kami ada yang berihram untuk melaksanakan umrah, ada pula yang berihram untuk umrah dan haji (secara bersamaan), dan adapula yang berihram untuk melaksanakan haji saja, dan Rasulullah berihram untuk haji. Adapun yang berihram untuk haji atau yang berihram dengan menggabungkan antara haji dan umrah, maka mereka tidak bertahallul (berlepas dari ihram mereka,-Pent) hingga pada hari Nahar (hari 'Idul Adh-ha, 10 Dzulhijjah,-Pent).

D.

Syarat- Syarat dan Wajib Haji


a) Syarat-syarat Haji secara umum Meliputi :

Islam Baligh (dewasa) Aqil (berakal sehat) Merdeka (bukan budak). Istithaah (mampu)

Syarat-syarat haji menurut Mazhab Hanafi 1. 2. 3. Islam, haji tidak wajib bagi orang kafir, hajinya tidak sah. Akal, tidak wajib bagi orang gila dan hajinya tidak sah. Balig, tidak wajib bagi bayi tetapi bila sudah mumayyiz (bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk) hajinya diterima. Namun demikian setelah dewasa yang bersangkutan belum bebas dari fardu haji. 4. 5. 6. 7. Merdeka, tidak wajib haji bagi budak. Sehat jasmani. Memiliki bekal dan sarana perjalanan. Perjalanan aman.

Tambahan bagi wanita: 1. Harus didampingi suami atau mahramnya. 2. Tidak dalam keadaan iddah, baik karena cerai maupun kematian suami

b) Rukun Haji 1. Ihram Haji, yaitu niat mulai masuk ibadah Haji, sebagai berdasarkan Hadits : Bahwasanya amal-amal perbuatan itu dengan bemiat. Mengucapkan niat dan Talbiyah tidak wajib, tapi sunnah. Maka berkatalah di dalam hati dan lisannya Saya niat Haji dan Ihram Haji karena Allah swt, ku sambut panggilan-Mu sampai akhimya.

2. Wuquf di Arafah, yaitu menghadiri

walaupun hanya sejenak di sudut mana saja padang Arafah, sambil tidur atau lewat. Ini berdasar Hadiis riwayat At-Turmudziy : Haji Arafah. Waktu pelaksanaan wuquf adalah di antara zawal matahari Arafah tanggal 9 DzulHijjah sampai terbit fajar hari Nahar (10 Dzul Hijjah). Masjid Ibrahim dan Padang Namirah tidak masuk daerah wuquf Arafah. Bagi kaum lelaki, Yang lebih afdlal adalah berkesungguhan memilih tempat wuquf Rasulullah saw, yaitu pada batu-batu besar yang telah sama-sama kita kenal (di lembah gunung Rahmah).Tempat ini disebut Arafah, suatu pendapat menyebutkan karena di sinilah Adam dan Hawa bertaaruf.Pendapat lain mengemukakan bukan begitu. adalah

3. Thawaf Ifadlah, waktunya dimulai tengah malam hari Nahar (tgl. 10 Dzulhijjah);

Syarat-syarat Thawaf ada 6 : a. Suci daripada hadats dan najis. b. Tertutup aurat bagi yang kuasa menutupinya. Bila di tengah-tengah thawaf itu hilang (salah satu atau) dua syarat ini, maka menyempurnakan kembali dan boleh meneruskan thawafnya, sekalipun hal itu disengaja dan telah lama berselang. c. Niat thawaf, untuk yang dikerjakan sebagai ibadah berdiri sendiri bukan termasuk rangkaian rukun Nusuk, sebagaimana kewajiban niat pada ibadahibadah yang lain; Kalau bukan sebagai berdiri sendiri, niat hukumnya sunnah. d. Memulai thawaf dari Hajar Aswad dengan posisi belahan kiri badan bersejajaran dengan dia waktu berjalan (mengelilingi Kabah). Cara mensejajarkannya adalah berdiri di samping Hajar Aswad pada titik lintasan garis lurus dengan rukun Yamaniy sekira seluruh bagian Hajar Aswad itu berada di sebelah kanannya, kemudian niat thawaf lalu bedalan (ke arah kanan) dengan menghadap Hajar Aswad sampai dia habis dari hadapan; Dalam posisi ini kemudian hadap kanan dan menjadilah Kabah berada di sebelah kirinya; Tidak boleh menghadap Kabah (dalam thawaf) kecuali waktu awal thawaf ini. e. Membuat posisi sehingga Kabah berada di sebelah kirinya. Maka wajib seluruh badan termasuk tangan kirinya berada di luar Syadzirwan dan Hijir Ismail -sebagai ittiba Rasul; f. Thawaf dilakukan pada 7 kali putaran secara yakin, sekalipun pada waktu Makruh : Kalau kurang walaupun hanya sedikit, maka thawafnya belum mencukupi Jika tidak memakai cara-cara di atas, maka thawafnya tidak shah. Apabila sedang menghadap Kabah untuk misalnya berdoa, maka hendaknya memperhatikan agar jangan sampai berjalan dahulu sekalipun sedikit sebelum kembali pada posisi Kabah di sebelah kirinya. Wajib bagi orang yang mencium Hajar Aswad untuk membuat telapak kakinya tetap pada tempat semula sehingga berdiri tegak, karena di waktu menciumnya itu kepalanya masuk ke daerah bagian Kabah.

4. .Sai, yaitu lari-lari kecil dari Shafa sampai ke Marwah berputar 7 kali secara yakin. Apabila perputarannya kurang dari 7 kali, maka sai belum cukup Dan bila hitungan meragukan bilangan

sebelum selesai, maka mempedomani lebih inilah sedikit, yang yang karena diyakini

kebenarannya. Untuk sai, wajib

memulai hitungan putaran pertama kalinya dari Shafa dan berakhir di Marwah, sebagai ittiba Rasulullah saw. Jikalau memulai dari Marwah, maka perjalanannya sampai Shafa tidak terhitung, dan barulah sekembalinya dari Shafa ke Marwah bisa dihitung satu kali, dan dari Marwah ke Shafa putaran yang ke duanya. 5. Memotong rambut kepala, baik mencukur sampai pendek (habis) maupun hanya memotong sedikit, karena berada di sinilah letak Tahallul. Potong rambut, thawaf dan sai adalah tidak ada batas akhir waktunya; Namun makruh mengakhirkannya sampai lewat tanggal 10 Dzul Hijjah, dan lebih makruh lagi sampai setelah hari Tasyriq (11 13 DzulHijjah), dan lebih-lebih setelah ke luar dari Makkah.

5. Tertib, yaitu ihram didahulukan daripada rukun-rukun yang lain, wukuf daripada thawaf ifadlah dan memotong rambut; dan thawaf ifadlah daripada sai, jika belum dilakukan setelah thawaf qudum; Dasarnya sebagai ittiba Rasulullah saw.

c) Sunnah Haji Sunnah melakukan Haji Ifrad. Haji dan Umrah bisa ditunaikan dengan tiga cara : Ifrad, yaitu Haji terlebih dahulu dan setelah sempurna baru Umrah; Tamattu, yaitu Umrah dahulu dan setelah sempurna baru Haji; Qiran, yaitu Ihram sekaligus untuk Haji dan Umrah. Yang paling afdlal adalah Haji Ifrad jika Umrahnya dilakukan sebelum musim Haji berikutnya, kemudian sistim Tamattu; Bagi yang melakukan Tamattu dan Qiran terkena kewajiban membayar Dam, jika bukan penduduk Makkah serta tempatnya kurang dari jarak 2 Marhalah dari sana. Mandi atau Tayammum-(jika tak bisa mandi)-untuk ihram dan juga untuk memasuki Makkah, sekalipun belum mulai ihram, di Dzi Thuwa; Sunnah bermalam hari di Mina pada tanggal 10 Dzulhijjah. Sunnah mandi wuquf Arafah pada sore harinya, mandi wuquf Muzdalifah dan mandi melempar Jumrah pada setiap hari Tasyriq. Sunnah wuquf dalam waktu yang mencakup siang dan malam hari. Kalau tidak bisa, maka disunnahkan memberikan Dam Tamattu. Sunnah melakukan wuquf di Jama, yaitu yang sekarang dinamakan dengan Masyaril Haram; Ialah bukit di tepi daerah Muzdalifah; Maka di waktu wuquf ini hendaklah berdzikir dan berdoa dengan menghadap Qiblat hingga malam hampir terang kembali, sebagai ittiba Rasulullah. Sunnah memakai harum-haruman pada badan dan pakaian sekalipun memakai benda padat pengharum yang diiakukan menjelang ihram setelah mandi sunnahnya; Dan tidak mengapalah jika harum-haruman tersebut masih ada hingga selesai ihram, atau mengikuti keringat mengalir. Sunnah membaca Talbiyah, yaitu Labbaika dst. (Yaa Allah, benarbenar kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kusambut panggilan-Mu, sesungguhnya pujian, kenikmatan dan kerajaan adalah bagi-Mu jua tiada

penyekutu bagi-Mu); Makna ku sambut panggilan-Mu adalah kami bersedia taat kepada-Mu. Sunnah banyak-banyak membaca Talbiyah; Shalawat Nabi, mohon surga dan berlindung dari neraka setiap habis mengulangi Talbiyah 3 kali. Kesunnahan Talbiyah berjalan terus sampai waktu melontar Jumrah Aqabah, tapi tidak sunnah dibaca sewaktu thawaf qudum dan sai yang dilakukan sesudahnya karena telah ada dzikir-dzikir khusus yang dibaca di sini. Sunnah mengawali thawafnya dengan menjamah Hajar Aswad memakai tangan, menjamahnya setiap kali putaran terlebih-lebih pada putaran gasal, mencium Hajar Aswad dan meletakkan kening padanya. Ketika thawaf, sunnah menjamah rukun Yamaniy memakai tangan lalu tangan itu diciumnya. Sunnah bagi kaum lelaki pada tiga putaran yang pertama dalam thawaf yang dilakukan sebelum sai, berjalan ramal yaitu mempercepat dan memperpendek langkah-langkahnya; Dan 4 putaran berikutnya sunnah berjalan seperti biasanya; sebagai ittiba Rasulullah saw. Sunnah bagi kaum lelaki mengambil tempat thawaf yang lebih mendekati Kabah, selama tidak mengganggu orang lain atau terasa sulit lantaran berjejalan manusia; Apa bila bersilangan antara mendekati Kabah dengan berjalan ramal tapi tidak mendekatinya, maka dilakukan yang pertama (mendekati Kabah), sebab sesuatu yang berkaitan dengan ibadah itu sendiri adalah lebih utama daripada yang berkaitan dengan tempatnya. Sunnah pada putaran-putaran thawaf dan sai yang dilakukan dengan ramal (larilari kecil) bagi kaum lelaki memakai selendangnya dengan cara bagian tengah diletakkan di bawah pundak kanan dan dua ujungnya di atas pundak kiri, sebagai ittiba Rasul. Sunnah bagi lelaki maupun wanita yang masuk ke dalam Masjidil Haram untuk terlebih dahulu melakukan thawaf, sebagai ittiba Hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim; Kecuali bila berbepatan dengan jamaah shalat fardlu atau khawatir kehabisan waktu shalat fardlu atau shalat Rawatib Muakkad, maka supaya mendahulukan shalat-shalat tersebut bukan thawafnya.

Sunnah mengerjakan shalat dua rakaat setelah thawaf di belakang Maqam Mustajab, kemudian pada Hijir Ismail.

Sunnah Thawaf Qudum, karena berlaku sebagai penghormatan terhadap Baitullah; Hanya sanya sunnah dilakukan oleh orang Haji atau Qiran yang datang ke Makkah sebelum menunaikan wuquf; Kesunnahannya tidak hilang lantaran telah duduk dalam masjid atau diakhirkan pelaksanaannya; Tapi kesunnahan hilang lantaran telah wuquf di Arafah.

Untuk Sai, sunnah bagi kaum lelaki mendaki ke atas bukit Shafa setinggi orang berdiri; Berjalan biasa pada batas dua tepi tempat sai dan lari-lari kecil di tengahnya, sebagaimana pada tempat yang telah sama-sama kita kenal.

Sunnah membaca dzikir dan doa-doa tertentu yang dibaca pada waktu dan
tempat tertentu pula; Doa dan dzikir ini telah tersusun secukupnya dalam karangan As-Suyuthiy, Wadhoifil Yaumi Wai Lailati.

d) Wajib Haji Wajib yang dimaksudkan di sini adalah suatu perbuatan yang bila tertinggal, maka wajib membayar fidyah (sedang Haji-nya tetap syah). 1. lhram dari Miqat (batas tempat mulai Ihram). Bagi penduduk Makkah, miqat Hajinya dari tempatnya sendiri; Miqat Haji dan Umrah bagi pendatang dari arah Madinah adalah Dzul Hulaifah yang dinamakan Biru Aliy. Dari Syam, Mesir dan daerah-daerah Maghrib (daerah sebelah Barat) adalah di Juhfah; Dari Tihamatul Yaman adalah Yalamlam dan dari Hijaz adalah Qamu; Dari arah daerah-daerah Timur, miqatnya di Dzati irqin. Miqat Umrah bagi orang yang ada di tanah Haram adalah dari daerah Halal; Tempat yang paling afdlal ialah Jiranah, kemudian Tanim barulah Hudaibiyah. Miqat untuk para pendatang yang tidak melewati jalanan miqat-miqat di atas, adalah dari tempat-tempat yang sejajar dengan miqat-miqat tersebut bila terdapat pesejajarannya di darat maupun di laut; Kalau tidak terdapat, maka dari jarak 2 Marhalah dari Makkah.

Apabila baru mulai Ihram setelah lewat miqatnya sekalipun karena lupa atau tidak mengetahui, maka wajib membayar Dam selama tidak mengulanginya kembali dari miqat yang bersangkutan sebelum tersela-selai dengan Nusuk sekalipun berupa Thawaf eudum. Dan berdosa bila hal itu dilakukan oleh selain orang lupa atau tidak mengetahui Batas-batas waktu/tempat atau miqat itu ada dua macam: 1) Miqot zamani (batas waktu). Batas waktu untuk ihram haji ialah mulai bulan Syawal sampai tanggal 10 Zulhijjah. Oleh karena itu apabila menjalankan ihram haji di luar bulan-bulan itu, maka ihramnya menjadi ihram umrah. Adapun untuk ihram umrah tidak ada batas waktunya. Haji hanya dapat dikerjakan-sekali setahun, sedangkan umrah dapat dikerjakan beberapa kali setahun. 2) Miqot makani (batas tempat), yaitu batas tempat yang telah ditentukan dari mana orang memulai memakai pakaian ihram untuk melaksanakan umrah dan haji. Setiap orang yang mengerjakan umrah dan haji tidak boleh melampaui miqat makani (batas tempat) itu tanpa ia mengenakan pakaian ihram dari miqat makani yang telah ditentukan tersebut. Jika terjadi pelanggaran batas tempat di mana ia telah melewati miqat tanpa mengenakan pakaian ihram ia harus membayar dam, kecuali kalau kembali ke miqat dan melakukan ihram dari miqat yang telah ditentukan itu. Batas tempat (miqat) ihram ini tergantung kepada jurusan dari mana orang itu datang atau tempat tinggal orang yang mau berihram.

Miqot Bagi Orang yang Tinggal di dalam dan di Luar Tanah Haram Miqat makani (batas-batas tempat) yang ditentukan itu dibedakan antara orang yang bertempat tinggal di Tanah Haram (Mekah) dan orang yang bertempat tinggal di luar Tanah Haram (Mekah) sebagai berikut: a. Bagi orang yang bertempat tinggal di Tanah Haram (Mekkah) untuk melakukan umrah harus terlebih dahulu keluar dari Tanah Haram ke Tanah Halal. Tanah Halal yang biasa dipergunakan untuk berumrah ialah Jiranah dan Tanim. Untuk ihram haji bagi yang bertempat tinggal di Mekah yang akan berangkat ke Arafah, berihram mulai dari rumahnya sendiri atau pondokannya.

b. Bagi orang-orang yang datang dari luar di Tanah Haram ada 5 (lima) tempat yang telah ditentukan sebagai batas-batas untuk wajib memulai ihram, yaitu:

1) Zulhulaifah

: Yang sekarang disebut Ali, adalah miqat bagi orangorang yang datang dari jurusan Madinah.

2) Juhfah (Rabig)

: Miqat bagi orang-orang yang datang dari jurusan Mesir, Syam dan Magribi

3) Qarnul-Manazil : Miqat bagi orang-orang yang datang dari Najd dan Kuwait. 4) Yalamlam 5) Zaty Irqin : Bagi orang-orang yang datang dari jurusan Yaman. : Sebagai miqat bagi orang-orang yang datang dari jurusan Iraq. c. Orang-orang yang tempat tinggalnya di daerah miqat yang lima tersebut (di luar tanah haram), miqatnya dari tempat tinggalnya masing-masing.

Miqat Lain Yang Tidak Disebutkan Dalam Hadis Pada zaman sekarang kebanyakan jamaah haji, seperti jamaah haji Indonesia, tidak lagi, melalui miqat yang disebutkan dalam hadis-hadis Nabi. Mereka naik pesawat udara langsung menuju Bandara King Abdul Aziz. Dapatkah Bandara ini dijadikan miqat? Sebagian ulama mengatakan bahwa miqat orang yang tidak melalui salah satu miqat yang sudah ditentukan Nabi ditetapkan berdasarkan ijtihad, yaitu setentang dengan miqat terdekat yang dilaluinya atau kalau tidak mengetahui miqat terdekat, ditetapkan dengan 2 marhalah dari Mekah, yaitu bandara King Abdul Aziz. Sebagian lain tidak memperbolehkan King Abdul Aziz dijadikan sebagai miqot. 2. Mabit di Muzdalifah Mabit (bermalam) di Muzdalifah dilakukan tanggal 10 Zulhijah, yaitu lewat tengah malam sehabis wukuf di padang Arafah. Mabit tahap pertama ini biasanya hanya beberapa saat saja, yaitu secukup waktu untuk mengumpulkan 7 buah krikil guna melontar jumrah Aqabah.. Para jamaah di sunatkan berangkat dari Arafah setelah matahari terbenam menuju Muzdalifah. Dalam perjalanan itu dianjurkan memperbanyak talbiah. Perjalan tersebut hendaknya dilakukan dengan tenang, mantap dan tidak tergesa-gesa.

Setelah tiba di Muzdalifah maka salat Maghrib dijamakan dengan Isya (Jama takhir) dengan satu azan dan dua iqamah. Di Muzdalifah para jemaah hendaklah bermalam (mabit), meskipun hanya sebentar, misalnya duduk berdiri atau berjalan. Yang penting ialah bahwa malam itu ada di Muzdalifah. Jika pada malam itu parajemaah tidak berada di sana maka mereka terkena denda. Salat Subuh didirikan pada awal waktunya. 3. Mabit di Mina Mabit ini dilakukan di Mina dalam 2 hari (11 dan 12 Zulhijah) bagi yang akan mengambil Nafar Awal, dan 3 hari (11,12,13 Zulhijah) bagi yang akan mengambil Nafar Akhir. Dari hari pertama sampai terakhir dari mabit di Mina ini adalah melontar ketiga jumrah Ula, Wusta dan Aqabah.

4. Melempar Jumrah Lempar jumrah atau lontar jumrah adalah sebuah kegiatan yang merupakan bagian dari ibadah haji tahunan ke kota suci Mekkah, Arab Saudi. Para jemaah haji melemparkan batu-batu kecil ke tiga tiang. Para jemaah mengumpulkan batu-batuan tersebut dari tanah di hamparan Muzdalifah dan meleparkannya. Kegiatan ini adalah kegiatan kesembilan dalam rangkaian kegiatan-kegiatan ritual yang harus dilakukan pada saat melaksanakan ibadah haji, dan umumnya menarik jumlah peserta yang sangat besar (mencapai lebih dari sejuta jemaah). Waktu melontar mulai setelah lewat tengah malam sampai terbenam matahari, sedangkan utamanya pada waktu duha (pagi setelah matahri terbit). Pada tanggal 10 Zulhijah (Hari Nahr) jemaah haji hanya melontar 1 jumrah saja yaitu jumrah Aqabah. Kemudian pada hari-hari Tasyrik yang lain, yaitu pada tanggal 11, 12, 13 Zulhijah yang dilontar adalah ketiga-tiganya (Ula, Wusta, dan Aqabah). Melontar dimulai sesudah masuk waktu Zuhur atau sesaat tergelincirnya matahari sampai terbit besok pagi. Jumrah yang terletak paling dekat dengan Mekah disebut jumrah Aqabah, letaknya diatas perbukitan Aqabah .

5. Thawaf Wada Dalam pengertian umum Ibadah Tawaf adalah mengelilingi Ka'bah sebanyak 7 kali, dimana tiga putaran pertama dengan lari - lari kecil (jika mungkin), dan selanjutnya berjalan biasa. Tawaf dimulai dan berakhir di Hajar Aswad ( tempat batu hitam ) dengan menjadikan Baitullah disebelah kiri. Namun, thawaf wada pada saat melaksanakan ibadah haji yaitu thawaf perpisahan sebelum meninggalkan jota Mekah. Jika seorang wanita telah mengerjakan seluruh manasik haji dan umrah, lalu datang haid sebelum keluar untuk kembali ke negerinya dan haid ini terus berlangsung sampai ia keluar, maka ia boleh berangkat tanpa thawaf wada'. Dasarnya, hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma.

"Artinya : Diperintahkan kepada jemaah haji agar saat-saat terakhir bagi mereka berada di Baitullah (melakukan thawaf wada'), hanya saja hal itu tidak dibebankan kepada wanita haid". [Hadits Muttafaq 'Alaih].

Dan tidak disunatkan bagi wanita haid ketika hendak bertolak, mendatangi pintu Masjidil Haram dan berdo'a. Karena hal ini tidak ada dasar ajarannya dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan seluruh ibadah harus berdasarkan pada ajaran (sunnah) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan, menurut ajaran (sunnah) Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebaliknya. Sebagaimana disebutkan dalam kisah Shafiyah, Radhiyallahu 'Anha, ketika dalam keadaan haid setelah thawaf ifadhah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya :"Kalau, demikian, hendaklah ia berangkat" (Hadits Muttafaq 'Alaih). Dalam hadits ini, Nabi tidak menyuruhnya mendatangi pintu Masjidil Haram. Andaikata hal itu disyariatkan, tentu Nabi sudah menjelaskannya. Dan hendaklah mereka melakukan tawaf sekeliling rumah tua itu ( Baitullah). (Q.S.Al-Hajj29)

Catatan : Wajib Haji harus dilaksanakan dan apabila salah satu ada yang ditinggalkan, maka hajinya sah tapi harus membayar dam (denda).

e) Larangan-larangan Saat Ber Haji 1. Bagi setiap laki-laki tidak boleh memakai pakaian yang ada jahitannya. Ibnu Umar r.a. berkata seorang sahabat telah bertanya (kepada Nabi Saw.), Wahai utusan Allah, pakaian apa yang boleh dikenakan bagi orang yang berihram? Jawab beliau, Tidak boleh mengenakan baju, sorban, celana topi dan khuf (sarung kaki yang terbuat dari kulit), kecuali seseorang yang tidak mendapatkan sandal, maka pakailah khuf, namun hendaklah ia memotongnya dari bawah dua mata kakinya; dan janganlah kamu mengenakan pakaian yang dicelup dengan pewarna atau warna merah. (Muttafaqun alaih: Fathul Bari III:401 no:1542, Muslim II:834 no:1177, Aunul Mabud V:269 no:1806, dan Nasai V:129).

Dan diberi keringanan bagi orang yang tidak memiliki kecuali celana panjang dan khuf agar mengenakan keduanya tanpa harus memotong. Ini didasarkan pada hadits dari Ibnu Abbas r.a. bertutur, saya pernah mendengar Nabi saw. berkhutbah di Arafah, Barangsiapa yang tidak mendapatkan sandal, maka pakailah khuf; dan barangsiapa yang tidak mendapatkan kain panjang maka pakailah celana [beliau mengucapkan hal ini untuk orang yang berihram]. (Bukhari wa Muslim: Fathul Bari IV:57 no:1841, Nasai V:132, Muslim II:835 no:1178, Tirmidzi II:165 no:835, dan Aunul Mabud V:275 no:1812). 2. Bagi setiap laki laki tidak boleh memakai sepatu yang sampai menutupi mata kakinya. 3. Bagi setiap laki-laki tidak boleh menutupi kepala baik sebagian ataupun seluruhnya. Hal ini mengacu kepada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., Tidak boleh memakai baju dan tidak (pula) sorban. (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:1012). Namun boleh berteduh di bawah kemah dan semisalnya, karena dalam hadits riwayat Jabir ra yang telah dimuat dalam beberapa halaman sebelumnya bahwa Nabi saw. menyuruh (seorang sahabat) menyediakan kemah, lalu dipasanglah kemah untuk beliau di Namirah, kemudian beliau singgah di dalamnya). 4. Bagi setiap wanita tidak boleh menutup wajahnya. Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Nabi Muhammad bersabda, Janganlah seorang perempuan yang berihram mengenakan cadar dan jangan (pula) menggunakan

kaos tangan. (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:1022, Fathul Bari IV:52 no:1838, Aunul Mabud V:271 no:1808, Nasai V:133, dan Tirmidzi II:164 no:834). Namun boleh bagi perempuan menutup wajahnya bila ada sejumlah laki-laki yang lewat di dekatnya. Dari Hisyam bin Urwah dari Fathimah binti al-Mundzir bahwa ia pernah bertutur, Kami pernah menutup wajah kami sewaktu kami berihram, dan kami bersama Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq. (Shahih: Urwa-ul Ghalil no:1023, Muwattha Imam Malik hal.224 no:724, dan Mustadrak Hakim I:454).

5. 6.

Bagi setiap wanita tidak boleh memakai kaos tangan. Bagi setiap wanita tidak boleh membuka tutup kepala baik sebagian atau seluruhnya.

7.

Memakai wewangian berdasarkan hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., Dan, janganlah kamu mengenakan pakaian yang dicelup dengan rafaran (kumkuka) atau dengan waras (sebangsa celupan berwarna merah). (Muttafaqun alaih: Fathul Bari III:401 no: 1542, Muslim II:834 no: 117, Aunul Mabud V:269 no:1806, dan Nasai V:129) Dan, sabda Rasulullah saw. tentang seorang yang berihram yang terlempar dari atas untanya hingga wafat, Janganlah kalian memulurinya (dengan balsam) agar tetap awet dan jangan (pula) menutup kepalanya; karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat (kelak) dalam keadaan membaca talbiyah. (Muttafaqun alaih: Fathul Bari III:135 no:265, Muslim II:865 no:1206, Aunul Mabud IX:63 no:3222-3223, dan Nasai V:196).

8.

Memotong kuku dan rambut / bulu badan. Allah SWT berfirman, Dan janganlah kamu mencukur rambutmu, sebelum binatang hadyu sampai di lokasi penyembelihannya. (Al-Baqarah:196). Di samping itu, para ulama sepakat atas haramnya memotong kuku bagi orang yang sedang berihram. (al-Ijma oleh Ibnul Mundzir hal. 57).

Boleh saja menghilangkan rambut bagi orang yang merasa terganggu dengan adanya rambut tersebut, namun ia harus membayar fidyah, Allah SWT menegaskan, Jika ada diantar kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya bayar fidyah, yaitu berpuasa atau berhadaqah atau berkorban. (Al-Baqarah:196). Dari Kaab bin Ujrah r.a. bahwa Nabi saw. melewatinya ketika ia berada di daerah Hudaibiyah sebelum masuk Mekkah dan ia sedang berihram ketika menyalakan api di bawah kualinya, sementara kutunya berkeliaran di wajahnya, lalu beliau bertanya, Apakah kutumu ini mengganggumu? Jawabnya, Ya, (menggangu), Sabda beliau (lagi), Maka cukurlah rambutmu dan berilah makan tiga sha makanan (yang dibagi bagi) antara enam orang miskin, atau berpuasalah tiga hari atau berkurban seekor binatang kurban! (Muttafaqun alaih: Muslim II861 no:83 dan 1201 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari IV:12 no:1814 Aunul Mabud V:309 no:1739, Nasai V:194, Tirmidzi II:214 no:960 dan Ibnu Majah II:1028 no:3079). 9. Membunuh atau memburu binatang darat. Allah SWT berfirman, Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat selama kamu dalam keadaan ihram. (Al-Ma-idah:96). Di samping itu, ada sabda Nabi saw, yaitu tatkala beliau ditanya oleh para sahabat yang sedang berihram perihal seekor keledai betina yang ditangkap dan disembelih oleh Ibu Qatadah yang tidak ikut berihram. Maka jawab beliau, Adakah seorang di antara kamu sekalian yang menyuruh dia (Abu Qatadah) agar menangkapnya, atau memberi isyarat ke tempat binatang itu? Maka jawab mereka, Tidak ada. Sabda beliau (lagi), Maka makanlah! (Muttafaqun alaih: Fathul Bari V:28 no:1824, Muslim II:853 no:60 dan 1196, Nasai V:186 semana). 10. 11. Memotong atau mencabut tanaman di tanah Haram. Nikah atau menikahkan. Berdasarkan hadits Utsman dari Usman r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, Orang yang berihram tidak boleh menikahi, tidak boleh dinikahi, dan tidak boleh melamar. (Shahih: Mukhtashar Muslim no:814, Muslim II:1030 no:1409, Aunul Mabud V:296 no:1825, Tirmidzi II:167 no:842, dan Nasai V:192). 12. Bercumbu rayu dan bersetubuh.

13.

Mencaci-maki atau mengucapkan kata-kata kotor.

f) Pelaksanaan Haji Berikut adalah kegiatan utama dalam ibadah haji berdasarkan urutan waktu:

Sebelum 8 Zulhijah, umat Islam dari seluruh dunia mulai berbondong untuk melaksanakan Tawaf Haji di Masjid Al Haram, Makkah.

8 Zulhijah, jamaah haji bermalam di Mina. Pada pagi 8 Zulhijah, semua umat Islam memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbiyah. Jamaah kemudian berangkat menuju Mina, sehingga malam harinya semua jamaah haji harus bermalam di Mina.

9 Zulhijah, pagi harinya semua jamaah haji pergi ke Arafah. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang luas ini hingga Maghrib datang. Ketika malam datang, jamaah segera menuju dan bermalam Muzdalifah.

10 Zulhijah, setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina untuk melaksanakan ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolisasi mengusir setan. Setelah mencukur rambut atau sebagian rambut, jamaah bisa Tawaf Haji (menyelesaikan Haji), atau bermalam di Mina dan melaksanakan jumrah sambungan (Ula dan Wustha).

11 Zulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.

12 Zulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.

g) Tempat Pelaksanaan Haji 1. Makkah Al Mukaromah Di kota inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka'bah, yang berada di pusat Masjidil Haram. Dalam ritual haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan thawaf hajiArafah. Kota di sebelah timur Makkah ini juga dikenal sebagai tempat pusatnya haji, yiatu tempat wukuf dilaksanakan, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah tiap tahunnya. Daerah berbentuk padang luas ini adalah tempat berkumpulnya sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh dunia. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.

2. Mina Tempat berdirinya tugu jumrah, yaitu tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu ke tugu jumrah sebagai simbolisasi tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Dimasing-maising tempat itu berdiri tugu yang digunakan untuk pelaksanaan: Jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam.

3. Muzdalifah

Tempat di dekat Mina dan Arafah, dikenal sebagai tempat jamaah haji melakukan Mabit (Bermalam) dan mengumpulkan

bebatuan untuk melaksanakan ibadah jumrah di Mina.

4. Madinah Adalah kota suci kedua umat Islam. Di tempat inilah panutan umat Islam, Nabi Muhammad SAW dimakamkan di Masjid Nabawi. Tempat ini sebenarnya tidak masuk ke dalam ritual ibadah haji, namun jamaah haji dari seluruh dunia biasanya menyempatkan diri berkunjung ke kota yang letaknya kurang lebih 330 km (450 km melalui transportasi darat) utara Makkah ini untuk berziarah dan melaksanakan salat di masjidnya Nabi. Lihat foto-foto keadaan dan kegiatan dalam masjid ini

h) Amalan Saat Haji 1. Mqt Mqt adalah batas waktu dan tempat melakukan ibadah haji dan umrah. Mqt terdiri atas mqt zamn dan mqt makn. Mqt zamn adalah kapan ibadah haji sudah boleh dilaksanakan. Berdasarkan kesepakatan para ulama yang bersumber dari sunah Rasulullah SAW, mqt zamn jatuh pada bulan Syawal, Zulkaidah, sampai dengan tanggal 10 Zulhijah. Mqt makn adalah dari tempat mana ibadah haji sudah boleh dilaksanakan. Tempat-tempat untuk mqt makn adalah: o Zulhulaifah atau Bir-Ali (450 km dari Mekah) bagi orang yang datang dari arah Madinah o Al-Juhfah atau Rabiq (204 km dari Mekah) bagi orang yang datang dari arah Suriah, Mesir, dan wilayah-wilayah Maghrib o Yalamlan (sebuah gunung yang letaknya 94 km di selatan Mekah) bagi orang yang datang dari arah Yaman o Qarnul Manazir (94 km di timur Mekah) bagi orang yang datang dari arah Nejd o Zatu Irqin (94 km sebelah timur Mekah) bagi orang yang datang dari arah Irak 2. Ihram 3. Tawaf 4. Sa`i 5. Wukuf di Arafah Wukud di Arafah adalah berdiam diri di padang Arafah sejak matahari tergelincir pada tanggal 9 Zulhijah sampai terbit fajar pada tanggal 10 Zulhijah (hari nahar), baik dalam keadaan suci maupun tidak suci. 6. Melontar Jumrah Melontar jumrah ialah melempar batu kerikil ke arah 3 buah tonggak, yaitu l, wust, dan ukhr, masing-masing 7 kali lemparan. Hari melontar jumrah dimulai pada tanggal 10 Zulhijah, ke arah jumrah `aqabah atau jumrah kubra, dan 2 atau 3 hari dari hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah) ke arah 3 jumrah yang telah disebutkan di atas. Waktu melontar jumrah disunahkan sesudah matahari terbit. Bagi orang yang lemah atau berhalangan boleh melakukannya pada malam hari. Adapun melontar jumrah pada 3 hari yang lain, hendaknya dimulai pada waktu matahari sudah mulai turun ke barat sampai saat matahari terbenam.

Ketika melontar jumrah disunahkan: 1. Berdiri dengan posisi Mekah ada di sebelah kiri dan Mina di sebelah kanan 2. Mengangkat tangan tinggi-tinggi bagi laki-laki

3. Membaca takbir ketika melempar batu yang pertama Bagi orang yang berhalangan menyelesaikan haji dengan tidak melakukan wukuf di Arafah, tawaf, ataupun sa`i, apa pun penyebabnya, menurut pendapat jumhur ulama orang tsb wajib menyembelih seekor kambing, sapi, atau unta di tempat ia bertahalul. Apabila ibadahnya itu ibadah wajib, ia harus meng-qadha pada tahun berikutnya, tetapi bila bukan ibadah wajib, ia tidak perlu meng-qadha.

Bab III Umroh

A.

Pengertian Umroh

Daftar Pustaka