Anda di halaman 1dari 34

Teknologi Beton

Struktur beton dapat didefinisikan sebagai bangunan yang terletak diatas tanah yang menggunakan tulangan atau tidak menggunakan tulangan Struktur beton sangat dipengaruhi oleh komposisi dan kaulitas bahan-bahan pencampur beton

Bergantung juga pada kemampuan daya dukung tanah (supported by soil) atau kemampuan struktur atasnya (vertikal support) Ditinjau dari estetika, beton hanya membutuh kan sedikit pemeliharaan, tahan terhadap serangan api.

Sifat-sifat yang kurang disenangi : mengalami deformasi yang tergantung pada waktu dan disertai dengan penyusutan akibat mengeringnya beton. Beton merupakan fungsi dari bahan-bahan penyusunnya yang terdiri dari bahan semen hidrolik (portland cement), agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tambah (admixture dan additive)

Parameter-parameter yang berpengaruh terhadap kekuatan beton : - kualitas semen - proporsi semen terhadap campuran - kekuatan dan kebersihan agregat - Adhesi antara pasta semen dan agregat - Pencampuran yang cukup dari bahan-bahan pembentuk beton - Penyelesaian dan pemadatan beton

Kelebihan Beton : a. Dapat dengan mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan konstruksi b. Mampu memikul beban yang berat c. Tahan terhadap temperatur yang tinggi d. Biaya pemeliharaan kecil

Kekurangan beton : a. Bentuk yang sudah dibuat sulit untuk diubah b. Pelaksanaan pekerjaan membutuhkan ketelitian yang tinggi

Jenis Semen
Semen non hidrolik Semen non hidrolik tidak dapat mengeras di air tetapi dapat mengeras di udara (ex. kapur). Jenis kapur yang baik adalah kapur putih yaitu yang mengandung kalsium oksida >> ketika masih dalam bentuk kapur tohor (belum bersentuhan dengan air, CaO) dan mengandung kalsium hydroksida >> setelah berhubungan dengan air (Ca(OH)2)

Semen hidrolik Kemampuan untuk mengikat dan mengeras di air (kapur hidrolik, semen pozollan, semen terak, semen portland, semen alam, semen portland putih, semen warna, dll. a. Kapur hidrolik 65-75% bahan terbuat dari batu gamping yaitu kalsium karbonat beserta bahan pengikutnya (silika,alumina, magnesia, oksida besi)

Semen pozollan Sejenis bahan yang mengandung silisium atau aluminium yang tidak mempunyai sifat penyemenan, dapat bereaksi dengan kalsium hidroksida pada suhu ruang membentuk senyawa yang mempunyai sifat-sifat semen (semen merah, abu terbang, bubukan terak tanur tinggi.

c. Semen terak 60% terak tanur tinggi dan 40% kapur tohor Semen terak dipergunakan sebagai bahan kombinasi portland cement dalam pembuatan beton. d. Semen portland Bahan konstruksi yang paling banyak di pergunakan dalam pekerjaan beton Bahan utama : kapur (CaO), silika (SiO3) alumina (Al2O3) dan gipsum (CaSO4 .2H2O)

Karakteristik senyawa penyusun semen portland


1. 2. 3. 4. Trikalsium silikat (3CaO.SiO2 ) C3S Dikalsium silikat (2CaO.SiO2 ) C2S Trikalsium aluminat (3CaO.Al2O3 ) C3A Tetrakalsium aluminofferit (4CaO.Al2O3 . Fe2O3) C4AF

Jenis semen portland


Type 1 Type 2 Dalam penggunaannya tidak memerlukan persyaratan khusus Semen untuk semua tujuan Dalam penggunaannya memerlukan Digunakan untuk struktur ketahanan terhadap sulfat dan panas besar hidrasi sedang Dalam penggunaannya memerlukan Digunakan untuk struktur kekuatan awal yang tinggi jembatan Dalam penggunaannya memerlukan Digunakan untuk panas hidrasi rendah bendungan beton Dalam penggunaannya memerlukan Digunakan untuk saluran ketahanan yang tinggi terhadap dan struktur yang sulfat diekspose terhadap sulfat

Type 3 Type 4 Type 5

Kekuatan dan Faktor Air Semen (FAS)


Banyaknya air yang dipakai selama proses hidrasi akan mempengaruhi karakteristik kekuatan beton jadi. Jumlah air yang dibutuhkan dalam proses hidrasi sekitar 25% dari berat semen. FAS sebagai berat air dibagi berat semen

Agregat
Kandungan agregat dalam campuran beton cukup tinggi berikisar 60-70% Ukuran agregat dalam campuran beton biasanya < 40 mm, agregat yang ukurannya lebih besar digunakan untuk pekerjaan sipil lainnya (pekerjaan jalan,tanggul, bendungan, dll) Agregat halus pasir dan agregat kasar kerikil, split, batu pecah, dll)

Admixture (Bahan tambah)


Admixture adalah bahan-bahan berbentuk serbuk yang ditambahkan kedalam campuran beton pada saat atau selama pencampuran berlangsung Fungsi : untuk mengubah sifat-sifat dari beton agar menjadi lebih cocok untuk pekerjaan tertentu atau untuk menghemat biaya

Water-Reducing Admixtures : Bahan tambah untuk mengurangi air pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu. Retarder admixture : Digunakan untuk memperlambat reaksi hidrasi pada beton.

Accelerator admixture : Digunakan untuk mempercepat reaksi hidrasi atau proses pengurangan air dalam beton untuk meningkatkan kekuatan beton Water Reducer dan Retarder admixture : Digunakan untuk mengurangi kwantitas mencampur air yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan nilai slump yang ditentukan dan memperlambat reaksi hidrasi pada beton

High Range Water Reducer admixture : Digunakan untuk mengurangi kwantitas dari mencampur air yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan nilai slump 12 persen atau lebih besar

Klasifikasi beton ringan


Beton insulasi (insulating concrete) Beton ringan dengan density 300 kg/m3 800 kg/m3 Kekuatan tekan berkisar 0,69 6,89 Mpa Dipakai sebagai beton penahan panas Digunakan untuk keperluan insulasi dan peredam suara konduktivitas panas << Jenis aggregat : Perlite dan Vermiculite

Beton ringan kekuatan sedang (Moderate Strength Concrete) Density) 800 kg/m3 1440 kg/m3 Dipakai sebagai beton struktur ringan/pengisi (fill concrete). Terbuat dari aggregat ringan : terak (slag), abu terbang, lempung, batu sabak (slate), batu serpih (shale), dan aggregat ringan alami. Beton ini biasanya memiliki kekuatan tekan berkisar 6,89 17,24 Mpa.

Beton Struktural (Structural Concrete) Beton ringan dengan berat (density) antara 1440 kg/m3 1850 kg/m3 (90 115 lb/ft), yang dapat dipakai sebagai beton struktural jika bersifat mekanik (kuat tekan) dapat memenuhi syarat pada umur 28 hari mempunyai kuat tekan berkisar > 17,24 Mpa (2500 psi). Untuk mencapai kekuatan sebesar itu, beton ini dapat memakai aggregat kasar seperti expanded shale, clays, slate, dan slag.

Beton ringan aerasi. Pori pori udara berukuran 0,1 1 mm Memiliki berat isi 200 1440 kg/m3 Digunakan untuk keperluan insulasi serta beton tahan api. Hidrogen peroksida sebagai Aerated Agent Beton yang teraerasi kemudian diperkeras didalam cetakan dengan memberikan tekanan, proses dilakukan dengan memasukkan beton ke dalam pressurized steam chamber (autoclave).

AKIBAT PENURUNAN ATAU PATAHNYA PONDASI


Kerusakan pada dinding, retak-retak, miring dll Lantai pecah, retak, bergelombang Penurunan atap dan bagian-bagian bangunan lain.

Pembuatan pondasi dihitung berdasarkan


Berat bangunan yang harus dipikul pondasi (beban hidup, beban mati, beban yang diakibatkan gaya-gaya eksternal. Jenis tanah dan daya dukung tanah. Bahan pondasi yang tersedia atau mudah diperoleh di tempat. Alat dan tenaga kerja yang tersedia. Waktu dan biaya pekerjaan.

SOIL INVESTIGATION
Hal penting berkaitan dengan pondasi adalah penyelidikan tanah (soil investigation) . Pondasi harus diletakkan pada lapisan tanah yang cukup keras dan padat Untuk mengetahui letak/kedalaman tanah keras dan daya dukung tanah, perlu diadakan penyelidikan tanah

a. Pemboran (drilling) : Dari lubang hasil pemboran (bore holes), diketahui contoh-contoh lapisan tanah yang kemudian dikirim ke laboraturium mekanika tanah. b. Percobaan penetrasi (penetration test) : Menggunakan alat yang disebut sondir static penetrometer. Ujungnya berupa conus yang ditekan masuk kedalam tanah, dan secara otomatis dapat dibaca hasil sondir tegangan tanah (kg/cm2).

TEKNIK PEMBORAN
Bor Tangan Digunakan untuk pengambilan sampel pada kedalaman maksimum 6.0 m. Alat yang digunakan berupa auger yang diputar secara manual. Untuk mendeteksi tanah dekat dengan permukaan.

Bor Mesin Bor Basah (Wash Boring) Pemboran dengan cara kombinasi pemotongan dan jetting air Hasil pemotongan tanah diangkat ke atas dengan aliran air bertekanan melalui casing. Pemboran basah dapat dilakukan dengan atau tanpa casing. Casing digunakan bila dijumpai tanah pasiran karena umumnya runtuh ke dalam lubang bor tanpa adanya casing.

Pemboran Perkusi (Percussion Drilling) Pemboran dilakukan dengan cara memukulmukul alat bor kedalam lubang dengan diameter 600 mm. Tanah yang terpotong bercampur dengan air menjadi bubur (slurry). Bubur ini secara berangsur angsur dikeluarkan dengan bailer atau pompa lumpur. Jenis tanah diidentifikasi dari lumpur yang diangkat keluar. Kejelekan : tanah mengalami gangguan yang besar sehingga sampel yang diambil memiliki kualitas rendah.

Bor Kering (Rotary Drilling/Dry Coring) Pemboran dilakukan tanpa air, dengan menggunakan rotasi pada mata bor (drillbit) bersamaan dengan penekanan untuk membuat lubang bor. Keuntungan : contoh tanah dapat disimpan pada corebox dan diidentifikasi secara visual. dan dapat digunakan pada jenis tanah apapun dan dapat untuk membor batuan.

PUSTAKA
Holtz, R.D., Introduction to Geotechnical Engineering . Cernica, J.N., Geotechnical Engineering : Foundation Design