Anda di halaman 1dari 12

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal Menggunakan Bilangan Baku Penelitian

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal Menggunakan Bilangan Baku

Widodo*)

Abstrak alam upaya meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan di sekolah baik di masingmasing satuan pendidikan dan secara nasional, Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) memberikan kebebasan menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sesuai dengan kondisi lokal tanpa mengabaikan tuntutan mutu secara nasional. Dalam kenyataannya tidak jarang ditemui KKM yang ditetapkan itu tidak dapat dipenuhi karena penyusunan dan penetapannya kurang tepat dan kurang berpedoman pada ketentuan yang ada. Dengan demikian proses dan hasil belajar dan membelajarkan di sekolah tidak mencapai mutu seperti yang direncanakan. Tulisan berikut membahas cara menyusun dan menetapkan KKM untuk masing-masing mata pelajaran dengan tujuan dapat memberikan pencerahan kepada guru dan sekolah sehingga peserta didik dan guru, serta sekolah secara keseluruhan, dapat memenuhi KKM secara baik. Tulisan ini secara khusus membahas penggunaan bilangan baku dalam mencapai KKM.

Kata kunci : KKM, sekolah, LHBS, bilangan baku Abstract To enhance the education quality at school level as well as at national level, the government has been implementing the 2006 Curriculum (Curriculum of Educational Unit Level) in which every school is authorized to develop its own curriculum based on the basic guidelines given by the Central Government. To attain the curriculum objectives, each school is also encouraged to set the criteria for learning mastery (KKM) for each subject. However, in the implementation not all of schools can fulfill the criteria (KKM) as they were not properly formulated and set. This article discusses how to formulate and define the criteria (KKM) properly based on the regulations and existing school conditions. This article introduces the techniques of using standardized scores in relation to the fulfillment of KKM. Key words: KKM, SKBM, standardized score

Pendahuluan
Kurikulum 2006 merupakan kurikulum yang memberikan tempat seluas-luasnya bagi setiap sekolah untuk merancang sendiri kurikulumnya. Kurikulum 2006 disebut dengan Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Salah satu kebebasan sekolah yang dapat berbeda dengan sekolah lain adalah dalam menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) setiap mata pelajarannya. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sama artinya dengan istilah Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM).

*) Guru SDK BPK PENABUR Tasikmalaya

30

Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember 2009

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal Menggunakan Bilangan Baku

Sebelum tahun pelajaran dimulai setiap guru menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) mata pelajaran yang akan diajarkan. KKM tersebut menjadi KKM sekolah. KKM Pelajaran yang satu berbeda dengan pelajaran lainnya. KKM pelajaran yang sama di tingkat kelas yang di bawah dapat berbeda dengan tingkat kelas di atasnya. KKM yang telah ditetapkan oleh guru dan sekolah harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar Siswa disingkat LHBS atau Rapor (Bimtek Kurikulum 2006: 2). Sebagian besar guru-guru SD BPK PENABUR Tasikmalaya menetapkan KKM hanya berdasarkan alasan agar mudah dicapai siswa dan lebih terkesan Sesuai yang aku mau secara spontan menyebut suatu angka aman, sehingga tidak berani menetapkan KKM dengan angka lebih tinggi. Penetapan KKM tidak dibentuk menggunakan kriteria-kriteria yang sebenarnya. Guru tidak dapat menunjukkan dasar penetapan KKM secara tertulis, guru hanya memberikan suatu angka. Sementara itu ada juga sejumlah guru beranggapan penetapan KKM merepotkan, hanya menambah pekerjaan, dan belum dapat melihat manfaat tambahan bagi guru. Akibatnya KKM yang ditetapkan kurang mencerminkan intake siswa, kompleksitas bahan ajar, serta daya dukung yang dimiliki. Guru tidak melakukan perubahan dan pembangunan diri dalam pembelajarannya. Seolaholah ada atau tidak ada KKM sama saja, yang penting semua bahan ajar telah diajarkan. Tidak terlihat semangat guru yang dapat mempengaruhi siswa berusaha mencapai KKM. Penyusunan soal tes tidak mencerminkan indikator-indikator Kompetensi Dasar, sehingga terdapat ketidak sesuaian antara soal tes dengan indikatornya dan hasilnya kurang memuaskan. Ada tes ulang tanpa ada remedial atau bimbingan. Kualitas pendidikan tidak meningkat, bahkan cenderung menurun, dan tertinggal dengan pesaing-pesaing yang bersemangat melakukan perubahan-perubahan. Dengan demikian, dirasakan sangat perlu membenahi pembelajaran dengan penetapan KKM yang benar (sesuai kriteria) dan cara-cara mencapai KKM yang benar pula. Penetapan KKM sejalan dengan sistem Belajar Tuntas atau Mastery Learning (Moleong, 1978: 6). Seluruh siswa tanpa kecuali harus dapat mencapai taraf penguasaan penuh pada setiap Kompetensi Dasar (KD). Tes formatif (ulangan harian) dan tes sumatif (Tes evaluasi akhir semester atau uji blok) dilakukan bukan

hanya untuk menentukan angka kemajuan belajar semata, tetapi juga sebagai dasar catu balik (feed back) untuk menentukan saat setiap siswa memperoleh bantuan dalam mencapai tujuan pembelajaran (Stone & Nielson, 1982: 11). Tes formatif dimaksud merupakan tes yang dilakukan untuk melakukan evaluasi setelah pembahasan selesai satu atau dua Kompetensi Dasar (KD). Tes sumatif dimaksud merupakan tes yang dilaksanakan setelah seluruh Kompetensi Dasar dalam satu semester telah selesai pembahasannya (Dick & Carey, 1978: 8, 10, 11). Dengan demikian tes yang dilakukan disebut Diagnostic Progress Test atau Tes Diagnosa Kemajuan. Pencapaian KKM meskipun secara eksplisit ditujukan kepada siswa yang harus mencapainya, namun sebenarnya secara implisit juga ditujukan kepada guru untuk mencapainya. Guru yang profesional harus dapat menentukan KKM yang tepat dan dengan segala kemampuannya mengupayakan seluruh siswa dapat mencapai bahkan dapat melampaui KKM. Upaya guru secara garis besar meliputi empat langkah yang dikenal dengan istilah P3R yaitu Persiapan, Pelaksanaan, Penilaian, dan Refleksi (Suparno 1998: 72). Yang dimaksud persiapan yaitu guru membuat program pembelajaran tahunan, program semester, menyusun silabus, dan membuat rencana pembelajaran. Pembuatan program pembelajaran tersebut dituntun dan merupakan pengembangan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang terdapat dalam kurikulum 2006. Guru dapat mengembangkan atau memperkaya dengan menambahkan materi lain yang berhubungan. Di dalam pembuatan rencana pembelajaran (RP) atau rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dapat ditambahkan catatan tentang isu atau kejadian atau peristiwa atau berita yang sedang hangat yang dapat dikaitkan dengan kompetensi dasar (KD) yang akan dibahas. Selanjutnya, guru melaksanakan pembelajaran sesuai jadwal dan sesuai program semester. Setiap selesai pembahasan satu atau dua kompetensi dasar (KD) dilakukan tes formatif untuk melakukan penilaian mengukur tingkat pencapaian KKM. Disarankan menggunakan tes obyektif agar mudah melakukan analisa tes. Tahap akhir adalah guru melakukan refleksi merenungkan semua tahapan yang telah dilaksanakan untuk menemukan kekurangankekurangan guna melakukan perbaikan tugas
Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember 2009

31

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal Menggunakan Bilangan Baku

profesional guru di kemudian hari. Demikian juga gaya mengajar guru mencerminkan pelaksanaan pengajaran ikut mempengaruhi pencapaian KKM (Dianne Lapp, dkk, 1975: 1). Guru sebagai orang dewasa diharapkan mampu memperbaiki bahkan mengubah gaya mengajarnya bila ternyata gaya mengajarnya kurang dapat mendukung / membantu siswa mencapai ketuntasan (KKM) yang diharapkan. Tidak kalah pentingnya guru harus memahami, bahwa setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian yang merupakan ciri-ciri khusus yang bersifat menonjol yang membedakan dirinya dengan orang lain. (Hall & Lindsey, 1981: 9). Dengan demikian pemberian bimbingan harus disesuaikan dengan sifat-sifat khas setiap siswa. Uraian sebelumnya menunjukkan KKM di awal proses pembelajaran menentukan proses belajar-membelajarkan dan pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan demikian penyusunan dan penetapan KKM perlu dilakukan secara cermat, tidak semata-mata memperhatikan apa yang hendak dicapai, tetapi juga bagaimana keadaan yang ada. Masalahnya kemudian ialah, bagaimana menyusun, menetapkan KKM dan mencapai KKM itu?

Keterangan: KKM Indikator Indikator-indikator yang terdapat dalam Kompetensi Dasar (KD) kemungkinan berbeda-beda kompleksitasnya, ada yang tinggi, sedang, dan rendah. Dengan demikian setiap indikator memiliki KKM yang berbeda. KKM Indikator dirata-ratakan dan menjadi KKM Kompetensi Dasar (KD). KKM Kompetensi Dasar (KD) Setiap Standar Kompetensi (SK) terdiri atas beberapa Kompetensi Dasar (KD) yang memiliki KKM yang berbeda (hasil rata-rata KKM indikator-indikatornya). Rata-rata KKM KD menjadi KKM SK. KKM Standar Kompetensi (SK) KKM Standar Kompetensi (SK) merupakan hasil rata-rata KKM KD. Rata-rata dari KKM SK suatu mata pelajaran menjadi KKM Mata Pelajaran. KKM Mata Pelajaran (MP) KKM Mata Pelajaran (MP) merupakan hasil rata-rata KKM setiap Standar Kompetensi (SK). KKM MP antara tingkat kelas yang satu dengan tingkat kelas yang lainnya boleh berbeda, boleh juga sama ditentukan oleh kriteria-kriteria yang membentuk KKM. KKM Sekolah Menggambarkan KKM Mata Pelajaran seluruh tingkat kelas di sekolah tersebut. KKM sekolah yang satu boleh berbeda dengan KKM sekolah lainnya. Kompetensi Dasar (KD) merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi. Standar Kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diharapkan

Pembahasan
Penetapan KKM Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ditetapkan pada awal tahun pelajaran oleh forum warga sekolah (Guru dan Kepala Sekolah) dalam rapat. Nilai KKM dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat dengan rentang 0 100. Nilai ketuntasan belajar maksimal adalah 100, tetapi sekolah diperbolehkan menetapkan KKM di bawah 100. Nilai KKM yang telah ditetapkan sekolah harus dicantumkan dalam Laporan Hasil Belajar Siswa (LHBS) atau Rapor dalam kolom KKM atau SKB. Urut-urutan penetapan KKM adalah sebagai berikut.

KKM Indikator

KKM KD

KKM SK

KKM MP

KKM Sekolah

32

Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember 2009

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal Menggunakan Bilangan Baku

dicapai pada setiap tingkat dan/atau semester. SK terdiri atas sejumlah KD sebagai acuan baku yang harus dicapai dan berlaku secara nasional (Kurikulum 2006). Kriteria Penetapan KKM Penetapan KKM tidak dilakukan secara sembarangan menetapkan angka tertentu sesuai keinginan guru, tetapi harus memenuhi kriteria (1) kompleksitas (kesulitan dan kerumitan bahan ajar), (2) daya dukung, dan (3) intake siswa. Ketiga kriteria ini merupakan kriteria minimal untuk mencapai target minimal penguasaan siswa terhadap suatu kompetensi dasar. Sedangkan hasil belajar siswa dapat dilihat dari berbagai segi pengukuran selain tes tertulis, ada tes lisan, pengamatan, unjuk kerja, tugas, dan lain-lain. 1. Kompleksitas (kesulitan dan kerumitan bahan ajar) Tingkat kompleksitas setiap mata pelajaran bahkan setiap Kompetensi Dasar (KD) berbedabeda. Tingkat kompleksitas yang tinggi akan mempengaruhi penetapan KKM menjadi rendah dan sebaliknya tingkat kompleksitas rendah akan mempengaruhi penetapan KKM yang tinggi. Tingkat kompleksitas suatu mata pelajaran dikategorikan tinggi bila dalam pelaksanaan pembelajarannya menuntut (1) guru harus memahami dengan sungguhsungguh kompetensi yang harus dicapai siswa, dan guru dituntut harus kreatif serta inovatif dalam melaksanakan pembelajaran, (2) waktu yang diperlukan untuk pembelajaran cukup lama (jam tatap muka banyak) karena memerlukan pengulangan-pengulangan, dan (3) sangat diperlukan penalaran dan kecermatan siswa yang tinggi. Contoh kompleksitas tinggi: Mata pelajaran Matematika 1) Matematika SD pembahasan Bangun Ruang (khususnya Luas Permukaan), kelas VI - Anak harus membayangkan bentuk bangun ruang - Anak harus mampu mengembangkan rumus penghitungan - Anak harus memahami bahan pembelajaran kelas sebelumnya (kelas IV dan V) 2) Matematika SMP pembahasan Aljabar Perfaktoran, kelas VIII

3)

Anak harus membayangkan bentuk aljabar - Anak harus memahami bahan pembelajaran kelas sebelumnya (kelas VII) Matematika SMA pembahasan Dimensi 3 (Ukur Ruang), kelas X - Siswa harus mampu membayangkan permasalahan Dimensi 3 - Siswa harus mampu menggambar bangun - Siswa harus mampu membuat model - Siswa harus mampu menganalisa

Contoh kompleksitas rendah: Mata pelajaran Matematika 1) Matematika SD pembahasan operasi bilangan - Anak hanya dituntut kemampuan menambah dan mengurangkan. Misal 10 + 5 = . . .atau 75 30 = . . . 2) Matematika SMP pembahasan Statistik, kelas IX - Sedikit rumus dan hanya operasi menambah dan mengurangkan 3) Matematika SMA pembahasan Matrik, kelas XII - Hanya operasi menambah dan mengurangkan Tinggi-rendahnya kompleksitas bahan pembelajaran dapat dikatakan relatif. Untuk sekolah yang satu dinilai tinggi tetapi di sekolah lain dinilai sedang. Khususnya Matematika, bila soalnya saja belum terbayang, bagaimana bisa mengerjakannya?. Rupanya kalimat tersebut yang menjadi kunci Matematika memiliki kompleksitas tinggi. Guru masa depan tidak lagi tampil sebagai pengajar (teacher), melainkan beralih sebagai pelatih ( coach), pembimbing (counselor), dan manajer belajar (learning manager). (Sidi, 2001). Ada pepatah kuno, bahwa murid tidak dapat melebihi gurunya, sudah baik bila ia dapat menyamai gurunya. Bagaimana mungkin siswa dapat menyamai atau bahkan melebihi gurunya, kalau sang guru tidak memberikan seluruh ilmunya kepada siswanya. Mengukur keberhasilan belajar siswa dari apa yang telah dipelajarinya, bukan yang tidak dipelajarinya. Sesulit apapun soal, bila mengetahui cara memecahkannya, karena pernah berlatih soal yang serupa pastilah siswa dapat memecahkannya. Setidaknya ada semangat untuk berusaha memecahkannya.

Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember 2009

33

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal Menggunakan Bilangan Baku

Sebenarnya tidak ada mata pelajaran yang memiliki kompleksitas tinggi, bila semua bahan ajar telah diajarkan tuntas sampai dengan pemberian soal-soal latihannya. Suatu mata pelajaran menjadi memiliki kompleksitas tinggi karena ada sebagian bahan yang tidak diajarkan secara tuntas, demikian juga soal-soal latihannya ada yang tidak dibahas. Bahan yang tidak diajarkan dan soal-soal latihan yang tidak dilatihkan justru dijadikan soal tes. Sudah dapat dipastikan hasilnya tidak semua siswa mampu mencapai KKM, lalu disimpulkan memiliki kompleksitas tinggi. Siswa tidak mampu memecahkan, karena guru tidak pernah mengajarkannya dan tidak pernah melatihkan soal yang serupa (bukan soal yang sama). Diharapkan keadaan yang demikian tidak terjadi, khususnya di lingkungan BPK PENABUR sehingga guru benar-benar tetap menjaga profesionalismenya. 2. Daya Dukung Yang dimaksudkan dengan daya dukung yaitu (a) tenaga pengajar (guru) yang memenuhi kualifikasi minimal S1/D4 yang selalu siap melaksanakan pembelajaran (b) sarana penunjang pendidikan meliputi (ruangan kelas, media pembelajaran, laboratorium, perpustakaan) , (c) manajemen sekolah yang mampu mendukung kelancaran Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan baik, dan (d) kepedulian pemangku kepentingan (stakesholder) sekolah (Pengurus, Orang tua siswa, guru, dan karyawan). Keempat jenis daya dukung itu diharapkan tersedia dalam jumlah, kualitas dan waktu yang tepat. Daya dukung di BPK PENABUR tergolong sangat baik, terlihat dari kenyataan bahwa hampir semua guru TK sampai dengan SMA/ SMK memiliki kualifikasi Sarjana S1 / D4, bahkan ada yang S2. Ada sebagian kecil guruguru TK dan SD yang sedang menempuh studi penyetaraan peningkatan kualifikasi untuk memperoleh gelar sarjana S1 / D4. Setiap guru siap mengajar 5 atau 6 hari penuh, sarana prasarana pendidikan di atas rata-rata baik, dukungan pengurus baik, dan dukungan orang tua siswa juga baik. Kadang-kadang daya dukung yang baik yang telah dimiliki belum disadari benar, sehingga belum dapat memacu kinerja atau semangat berprestasi bagi sebagian guru.

3. Intake Siswa Intake siswa atau tingkat kemampuan rata-rata siswa (Bimtek KTSP-Depdiknas, 2008) dapat ditentukan sebagai berikut. Untuk siswa kelas 1 SD atau kelas 7 SMP atau kelas 10 SMA/SMK, penentuan intake siswa berdasarkan rata-rata hasil seleksi Penerimaan Siswa Baru (PSB), atau menggunakan STTB/Ijazah, atau LHBS/Rapor tingkat kelas sebelumnya. Bagi SD yang tidak melaksanakan seleksi Penerimaan Siswa Baru (PSB), penetapan langsung KKM berdasarkan KKM tahun pelajaran sebelumnya, atau ditetapkan berdasarkan keputusan rapat forum warga sekolah. Siswa kelas 2 6 SD atau kelas 8-9 SMP atau kelas 11-12 SMA/SMK, penetapan intake siswa berdasarkan tingkat kemampuan rata-rata siswa yang dicapai dalam LHBS atau Rapor semester sebelumnya. Intake siswa yang dimiliki BPK PENABUR di atas rata-rata sampai sangat baik. Sudah diakui oleh masyarakat sekitar BPK PENABUR, bahwa rata-rata anak-anak yang belajar di BPK PENABUR berasal dari keluarga-keluarga yang memiliki latar belakang pendidikan baik, sehingga dapat dipastikan kalau output lulusannya juga pasti baik

Table 1: Menafsirkan Kriteria menjadi Angka Nilai Kriteria 1. Kompleksitas Tingkat Tinggi Sedang Rendah 2. Daya Dukung Tinggi Sedang Rendah 3. Intake Siswa Tinggi Sedang Rendah Poin Nilai 1 2 3 3 2 1 3 2 1 Rentang Nilai 50 - 64 65 - 80 81 - 100 81 - 100 65 - 80 50 - 64 81 - 100 65 - 80 50 - 64

(Bimtek KTSP-Depdiknas, 2008)

34

Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember 2009

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal Menggunakan Bilangan Baku

Jika suatu Mata Pelajaran kompleksitasnya rendah, daya dukungnya sedang, dan intake siswa sedang, maka perhitungan penetapan KKM sebagai berikut. a. Perhitungan berdasarkan Poin Nilai
KKM= 3+2+2 9 x100 = 77.78 dibulatkan menjadi 78

b.

Perhitungan berdasarkan Rentang Nilai


KKM = 90+76+68 x100 = 78

Guru BPK PENABUR minimal berijazah Sarjana (S1 atau D-4), sering mendapat pelatihan melalui MGMP, dan pelatihan-pelatihan lainnya, bekerja penuh berada di sekolah meskipun tidak ada jadwal mengajar. Jadi dapat dikategorikan memiliki nilai sedang, bahkan seharusnya nilai sedang maksimal. Apalagi yang berijazah S2, berpengalaman mengajar dibidangnya lebih dari 10 tahun, tentu nilainya lebih dari sedang. Sarana dan prasarana belajar rata-rata sekolah BPK PENABUR baik, tidak relevan kalau diberi nilai rendah. Orang tua siswa percaya kepada BPK PENABUR, bahkan rela mengeluarkan uang lebih agar putra/ putrinya tidak ketinggalan teman-temannya, mendukung setiap kegiatan sekolah, maka dukungan orangtua tidak relevan kalau diberi nilai rendah. Jika suatu Mata Pelajaran kompleksitasnya tinggi, daya dukung tinggi, dan intake siswa sedang, maka perhitungan penetapan KKM sebagai berikut.
KKM= 1+3+2

tua siswa sangat baik) dan intake siswa di atas rata-rata, dengan demikian seharusnya setiap mata pelajaran KKM-nya di atas 75. Penulis mengasumsikan, bahwa sekolah yang berani menetapkan KKM tinggi mencerminkan keseriusan, kesiapan, dan kesungguhan warga sekolah (terutama kepala sekolah, guru, dan karyawannya) dalam memberikan pelayanan yang semakin baik. Masyarakat melihat kepedulian sekolah dalam membimbing dan menghantar siswa-siswanya untuk meraih prestasi lebih. Penulis mengasumsikan bila Sekolah-sekolah BPK PENABUR berani menetapkan KKM tinggi berarti kepala sekolah, guru, dan karyawannya benar-benar siap, serius, dan sungguh-sungguh dalam memberikan pelayanan yang semakin baik. Dengan demikian masyarakat mau mempercayakan putra-putrinya menjadi bagian BPK PENABUR untuk ikut memiliki prestasi lebih.

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal


Sekolah harus menginformasikan KKM yang telah ditetapkan kepada seluruh siswa dan orang tua siswa (masyarakat), demikian juga cara mencapai KKM tersebut. Tercapai atau tidak tercapainya KKM dapat diketahui dari hasil Tes Formatif dan Tes Sumatif. Bila KKM suatu Kompetensi Dasar (KD) belum dapat dicapai oleh sebagian besar siswa, maka sebaiknya guru tidak melanjutkan pembahasan Kompetensi Dasar (KD) berikutnya. Guru harus mengadakan remedial (pengajaran ulang), bimbingan dan tes perbaikan. Bila hanya sebagian kecil siswa yang tidak mencapai KKM, pembahasan Kompetensi Dasar (KD) berikutnya dapat dilaksanakan, tetapi guru harus memberikan remedial, bimbingan, dan tes perbaikan kepada siswasiswa tersebut sampai semua siswa mencapai KKM. Remedial, bimbingan, dan tes perbaikan sebaiknya dilaksanakan di luar jam tatap muka Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), agar semua Kompetensi Dasar (KD) dapat dibahas sesuai waktu yang telah ditetapkan. Pemberian remedial, bimbingan, dan tes perbaikan tidak terbatas waktu dan pelaksanaannya sampai setiap siswa mencapai KKM. Bila dalam membuat soal tes sesuai dengan indikator sesuai dengan kompetensi dasar (KD), dan KD diberitahukan kepada siswa setiap awal pembelajaran, serta diajarkan kepada siswa
Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember 2009

x100 = 66.67 dibulatkan menjadi 67

a. Perhitungan berdasarkan Poin Nilai Atau c. Perhitungan berdasarkan Rentang Nilai


KKM = 60+85+65 x100 = 70

BPK PENABUR dikenal masyarakat memiliki daya dukung sangat baik (perhatian pengurus tinggi, sarana tersedia baik, guru-guru dan karyawan sangat baik, dan perhatian orang

35

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal Menggunakan Bilangan Baku

dapat dipastikan sebagian besar hasil tes siswa mencapai KKM. Bila guru konsekuen dengan profesinya dibuktikan dengan selalu memberikan remedial, bimbingan, dan tes perbaikan kepada siswa-siswa yang belum mencapai KKM, maka semua siswa tidak terkecuali akan mampu mencapai KKM setiap kompetensi dasar (KD) yang diajarkan. Kuncinya hanya pada guru sadar profesi atau tidak. Pencapaian KKM untuk setiap Kompetensi Dasar (KD) melalui Tes Formatif mudah dilaksanakan atau sangat dimungkinkan (meskipun ada beberapa siswa yang harus diberikan remedial, bimbingan, dan tes perbaikan berulang-ulang), karena waktu yang tersedia cukup banyak dan bahan ajar yang dibahas dan dievaluasi masih sangat sedikit (satu atau dua Kompetensi Dasar). Yang menjadi masalah atau kendala yaitu dalam pencapaian KKM ketika Tes Sumatif atau uji blok bila ternyata ada banyak siswa dari hasil Tes Sumatifnya tidak mencapai KKM. Untuk melaksanakan remedial, bimbingan, dan tes perbaikan kurang memungkinkan, karena waktu yang tersedia sampai dengan penulisan Laporan Hasil Belajar Siswa (LHBS atau Rapor) sangat terbatas. Untuk mengatasi masalah/ kendala tersebut penulis ingin membagikan pengalaman mencapai KKM dengan menggunakan bilangan baku. Mencapai KKM menggunakan Bilangan Baku Bilangan Baku (Pawitan, 2009: 62-63) atau dikenal dengan istilah Z-skore (Mc Clave & Sincich, 2003: 72). Bila data sampel berukuran n, dinotasikan dengan {X1, X2, . . ., Xn} yang mempunyai rata-rata X dan simpangan baku Sx dapat ditransformasikan menjadi {Z1, Z2, . . .,Zn}, yang mempunyai rata-rata Z dan simpangan baku Sz. Rumus Z-skore atau Bilangan Baku, yaitu :
Zi = Xi - X

S = merupakan penjumlahan setiap nilai hasil tes yang dikuadratkan. Z-skore bila digunakan untuk membentuk bilangan baru dengan rata-rata dan simpangan baku So, maka bilangan baru tersebut adalah Keterangan: = nilai rata-rata bilangan baru yang diharapkan (misalnya sebesar KKM) So= besarnya simpangan baku yang kita harapkan (misalnya 5 atau 10) Zi = hasil dari Z-skore. Zi dapat berupa bilangan positif atau bilangan negatif Zi yang positif (+) akan membentuk nilai baru lebih besar dari Zi yang negatif (-) akan membentuk bilangan baru lebih kecil dari Contoh hasil nilai Evaluasi Akhir Semester Genap tahun pelajaran 2008/2009 mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kelas VI SD BPK PENABUR Tasikmalaya dengan sampel sebanyak 40 siswa sebagai berikut. 65 50 45 31 21 37 46 52 45 35 34 33 31 42 47 38 31 33 48 47 36 34 31 32 33 37 31 33 33 32 36 32 31 40 31 33 33 34 33 33

Sx

Keterangan: Xi = nilai hasil tes = rata-rata nilai hasil tes. diperoleh dengan cara menjumlahkan seluruh nilai sampel (misalnya sebanyak 40 siswa), kemudian hasil penjumlahan tersebut dibagi dengan banyaknya sampel (misalnya 40 siswa). Sx = simpangan baku (standar deviasi), yang diperoleh dari 36
Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember 2009

Angka-angka tersebut di atas merupakan hasil tes dari soal tes yang dibuat oleh tim penyusun soal UPTD Pendidikan Kecamatan. Butir-butir soal yang tersusun ternyata merupakan bahan yang tidak diajarkan lebih mendalam oleh guru, sehingga semua siswa kebingungan dan memberikan jawaban tidak dengan pasti. Hasilnya tidak sesuai atau tidak menggambarkan kemampuan siswa. Memang ada kemungkinan soal menjadi sangat sulit atau sebaliknya menjadi sangat mudah bila soal tes tidak dibuat oleh gurunya. Hasil yang tidak memuaskan tersebut di atas bukan sepenuhnya kesalahan guru, karena ada kelemahan terdapat pada butir-butir soalnya. Bagaimanapun juga hasil tes menunjukkan semua siswa memperoleh nilai sangat rendah, tidak memuaskan. KKM ditetapkan 70 sedangkan rata-rata Tes Formatif, PR, dan Tugas berkisar diantara nilai 70 90. bila diproses menjadi nilai akhir sebagai nilai yang dituliskan pada LHBS akan diperoleh banyak siswa tidak mencapai KKM. Agar KKM

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal Menggunakan Bilangan Baku

bimbingan, dan tes perbaikan tidak ada pembatasan, dan dilakukan di luar jam tatap muka atau sepulang sekolah (guru BPK PENABUR setelah 90 menit KBM selesai baru boleh meninggalkan sekolah). Bila banyak siswa yang tidak mampu mencapai KKM, guru harus mawas diri (introspeksi) jangan-jangan kesalahan terdapat pada cara guru mengajar. Mungkin perlu memperbaiki metode, mungkin perlu ditambah porsi latihannya, mungkin perlu mengubah gaya mengajar, mungkin perlu menambah alat peraga, dan atau mungkin butir soal tidak sesuai dengan indikator tidak sesuai dengan kompetensi dasar. Seandainya ada kelemahan guru tetap memberikan remedial, bimbingan, dan tes perbaikan, serta melakukan perbaikan atau perubahan yang berhubungan dengan guru. Mencapai KKM dengan menggunakan bilangan baku atau Z-skore atau melakukan konversi (transformasi) menjadi nilai baru hanya diperbolehkan digunakan untuk hasil tes sumatif (tes evaluasi akhir semester). Sebab waktu yang tersedia antara akhir pelaksanaan tes dengan penulisan Laporan Hasil Belajar Siswa (LHBS atau Rapor) sangat terbatas. Tidak memungkinkan untuk memberikan remedial, bimbingan, dan tes perbaikan. Dengan kemajuan teknologi yang dimiliki BPK PENABUR dapat digunakan guru untuk membantu membentuk nilai baru menggunakan bilangan baku atau Zskore. Dengan demikian sebagian tugas guru dapat digantikan oleh teknologi.

Saran
Dari pembahasan yang dipaparkan di atas diharapkan agar guru menggunakan kriteria yang benar dalam menetapkan KKM, sebab akan mengarahkan pembelajaran menjadi lebih fokus, memungkinkan melakukan inovasi, dan memotivasi anak didik untuk mengetahui pentingnya menguasai bahan ajar bagi dirinya

agar bersemangat mencapai KKM. Guru harus melayani setiap siswa, memuaskan haknya ntuk memperoleh remedial, bimbingan, dan tes perbaikan sampai mencapai KKM. Hal itu menunjukkan keseriusan guru dalam pembelajaran dan menunjukkan kasih sayang yang besar kepada setiap siswa. Remedial, bimbingan, dan tes perbaikan dilaksanakan mengunakan waktu luang (waktu sebelum pulang) seusai kegiatan belajar mengajar. Agar waktu tatap muka di kelas tidak berkurang karena mengkhususkan waktu untuk melayani siswa yang membutuhkan bimbingan. Dalam meningkatkan pelayanannya guru sebaiknya melakukan refleksi atau perenungan dan introspeksi diri serta mempertanyakan sudah benarkah melakukan persiapan pembelajaran (termasuk menetapkan KKM), pelaksanaan pembelajaran, dan melakukan evaluasi selama ini. Haruskah dilakukan perubahan dan perbaikan?. Dan selalu ingat untuk melihat ada wajah-wajah Allah di wajah setiap anak didik yang selalu berharap hanya yang terbaik guru persembahkan. Guru yang terbuka terhadap perubahan harus melakukan pembangunan pembelajaran. Artinya selalu memperbaiki atau menyempurnakan persiapan pembelajarannya, pelaksanaan pembelajarannya, dan penilaiannya. Dengan demikian akan membuahkan hasil yang berkualitas tinggi, baik bagi guru pribadi, bagi siswa, juga bagi BPK PENABUR dan masyarakat. Masing-masing guru memotivasi diri (melakukan penguatan diri) secara pribadi untuk bekerja dan melayani semakin baik. Nama BPK PENABUR harus semakin bertambah dan aku (guru) harus semakin berkurang. Maksudnya kita membiasakan diri untuk bekerja keras agar dapat memberikan yang terbaik seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, dan hasilnya lamakelamaan menjadi terbiasa dan tidak menjadi beban, tetapi sukacita. Bila nama BPK PENABUR semakin besar, maka guru dan karyawan semakin memiliki kepastian untuk terus tetap dapat berkarya.

40

Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember 2009

Mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal Menggunakan Bilangan Baku

Daftar Pustaka
Dick, Walter, & Lou Carey. (1978). The systematic design of instruction, Illinois: Scott, Forresman & Co Hall, Calvin S., & Linsey Gardner. ( 1981). Theories of Personality. New York : John Wiley & Son Lapp, Dianne, dkk. (1975). Teaching and learning: philosophical, psychological and curricular application .New York : Mac Milan Publishing Co, Inc. Mc.Clave, James T., Sincich Terry. (2003). A first course in statistics, New Jersey : Perarson Education, Inc. Moleong, L.J. (1978). Belajar tuntas, Jakarta : BP3 Departemen P dan K

Pawitan, Gandhi. (2009). Statistika untuk Bisnis, Bandung : Unpar Sidi, Indra Djati. (2001). Menuju Masyarakat Belajar, Jakarta : PT Logos Wacana Ilmu. Stone, David R., & Elwin C. Nielson. (1982). Educational psychology :The develompment of teaching skills. New York : Harper & Row Publishers Suparno, Paul. (1998). Dasar dan orientasi pendidikan Jesuit, dalam P.J.Suwarno, Sanata Dharma menemukan jalannya. Yogyakarta : USD _______, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22, 2006, Kurikulum 2006, Jakarta : Media Makmur Maju Mandiri

Jurnal Pendidikan Penabur - No.13/Tahun ke-8/Desember 2009

41