Anda di halaman 1dari 21

Pengendalian waktu pelaksanaan mutlak dilakukan dalam suatu proyek karena pelaksanaan proyek dibatasi oleh waktu.

Pengendalian waktu dilakukan dengan cara membandingkan prestasi kerja kemajuan fisik di lapangan dengan rencana kerja yang telah dibuat oleh tim pelaksana. Pengendalian waktu ini erat dengan segi pembiayaan bangunan.Keterlambatan suatu pekerjaan berarti kerugian dari segi waktu dan biaya. Pengendalian waktu dilakukan dengan membuat time schedule atau rencana waku kerja berupa diagram batang (bar chart) dan kurva S (S-Curve) yang menggambarkan jadwal kerja proyek secara keseluruhan dan jadwal masing-masing tahapan pekerjaan. Rencana kerja ini dibuat oleh tim pelaksana dan disetujui oleh pemilik proyek (owner). Dalam proyek Karebosi Condotel rencana kerja yang dibuat oleh Tim Pelaksana (PT. PP (Persero), Tbk), terdiri dari : a. Bar Graph Schedule (Bar Chart) Bar chart schedule proyek berhubungan dengan perencanaan daftar waktu dan penentuan tanggal-tanggal dimana sumber daya yang ada melaksanakan kegiatan yang diperlukan untuk menyelesaikan keseluruhan proyek.Sehingga bar chart schedule merupakan landasan dari sistem perencanaan dan

pengendalian.Bar chart schedule menyatukan berbagai informasi dari beberapa aspek proyek. Misalnya, perkiraan durasi kegiatan, hubungan antar kegiatan, ketersediaan sumber daya dan budget, dan mungkin deadline kegiatan, sehingga bar chart schedule dapat dijadikan patokan dalam melakukan perencanaan, fungsi eksekutif dan monitoring atau pengendalian.

Gambar 3.19aBar Chart Proyek b. Kurva S (S-Curve) Grafik kurva S ini menggambarkan tentang item pekerjaan, volume masing-masing pekerjaan, prosentase (bobot) pekerjaan secara keseluruhan dan jangka waktu pelaksanaan.Dari kurva S ini dapat diketahui kemajuan dan keterlambatan pelaksanaan proyek yang telah dicapai.Fakor-faktor yang berpengaruh dalam pembuatan kurva S adalah data mengenai tenaga kerja, alat, bahan, volume pekerjaan, dan hal-hal lain yang dapat berpengaruh pada pelaksanaan kerja.

Gambar 3.19bKurva S Proyek IV.1. MATERIAL


Pada suatu proyek pembangunan, peralatan kerja dan bahan bangunan sangat mendukung keefektifan kinerja dari proyek tersebut. Pengelolaan bahan dan peralatan yang baik sangat menunjang kelancaran pekerjaan. Oleh karena itu, bahan bahan serta peralatan yang digunakan dalam proyek harus dapat diatur sedemikian rupa, baik dari segi penggunaannya, penyimpanannya, maupun pemeliharaannya. Sehingga diharapkan tidak akan terjadi kerusakan atau kehilangan, serta dapat dimanfaatkan dan digunakan semaksimal mungkin. Demikian pula didalam penempatan material harus tepat dan efisien sehingga akan mempermudah pekerjaan. Standard yang berlaku dalam pelaksanaan proyek sangat dibutuhkan didalam pengawasan kualitas dan kuantitas seluruh bahan dan peralatan yang digunakan.

Bahan bangunan yang digunakan harus sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat syarat (RKS). Pengadaan bahan bangunan harus diperhatikan agar mutu bahan dapat dipertahankan sehingga tetap pada kondisi layak pakai. Bahan bahan yang perlu mendapat perhatian dan penyimpanan yang baik seperti semen, kayu, tegel keramik, multipleks, bata ringan, baja tulangan serta partisi partisi lainnya harus disimpan dalam tempat atau ruangan yang terlindungi dari panas, hujan serta udara. Tempat yang dimaksudkan adalah gudang yang berventilasi cukup baik serta pada bagian bawahnya diberi papan kayu sebagai alas agar bahan bahan tersebut tidak lembab. Sedangkan bahan bahan seperti baja tulangan, paku, bata ringan cukup diletakkan di luar. Persyaratan Teknis yang menyebutkan merek dagang dari bahan ditujukan untuk perbandingan dalam hal mutu, model bentuk dan jenis, hendaknya tidak diartikan sebagai persyaratan (merek) yang mengikat. Tim pelaksana boleh mengusulkan merek dagang lainnya yang setaraf atau lebih baik, melalui data teknis bahan, pengujian bahan dari lembaga pengujian bahan yang disetujui dan dapat meyakinkan pemilik proyek. Penggunaan produksi dalam negeri akan sangat diperhatikan atau diutamakan selama barang tersebut memenuhi syarat minimum yang ditetapkan.

IV.1.1 Material Beton


1. Semen

Semen berfungsi sebagai material pengikat (binder) pada adukan beton. Penggunaan semen selain harus melihat peraturan dalam SNI 2847 bab 3.2 juga harus memenuhi persyaratan dalam SII 0013-81 untuk butir pengikat awal, ketebalan bentuk, kekuatan tekan adukan dan susunan kimianya.
Semen yang digunakan dalam proyek Karebosi Condotel adalah semen portland dengan mutu terbaik yang terdiri dari satu jenis merek dengan persetujuan pengawas proyek, dan harus memenuhi NI-8, semen yang digunakan adalah semen tonasa. Tempat penyimpanan harus diusahakan sedemikian rupa sehinggga terbebas dari kelembaban, bebas dari air dengan lantai terangkat dari tanah dan ditumpuk sesuai dengan syarat penumpukan semen. Pengawas berhak untuk memeriksa semen yang disimpan dalam gudang pada setiap waktu sebelum dipergunakan dan dapat menyatakan dipakai atau tidak semen tersebut. Semen dalam kantung semen tidak boleh ditumpuk setinggi 2 m. Tiap-tiap penerimaan semen harus disimpan sedemikian rupa sehingga dapat secara kronologis sesuai dengan penerimaan. Semen-semen ini dapat juga dipakai dalam pekerjaan plesteran dinding, pekerjaan waterproofing (untuk coating lantai atau dinding), pekerjaan pembataan, beton praktis dan lain-lain.

Gambar 4.1. Semen Tonasa

2.

Agregat halus Agregat halus seperti pasir berfungsi sebagai filler atau pengisi rongga-rongga pada beton. Pasir yang digunakan adalah hasil disintegrasi alami dari batu-batuan. Dalam proyek ini digunakan pasir dari yang dianggap baik mutunya. Persyaratan pasir yang digunakan :

Pasir yang digunakan terdiri dari butiran yang bersih, tajam, keras, bebas lumpur, tanah lempung dan sebagainya, serta konsisten terhadap NI-3 (PUBB tahun 1970) pasal 14 ayat 3 Untuk pasir urug harus dengan persetujuan direksi pengawas Memenuhi komposisi butir serta kekerasan yang dicantumkan dalam Peraturan Beton Indonesia. Pasir untuk beton terdiri dari butir-butir yang bersih dan bebas dari bahan organis, lumpur dan sebagainya. Pasir yang dipakai harus mempunyai kadar air yang merata dan stabil dan harus terdiri dari butiran yang keras dan padat. Pasir yang digunakan dalam membuat adukan baik untuk beton, plester, ataupun grouting, harus mendapatkan persetujuan dari pengawas. Untuk Pasir aduk harus memenuhi NI-3 Pasal 14 ayat 2 dan PUBI 1982

2. Kerikil (Agregat kasar) Agregat kasar adalah agregat yang ukuran butirannya lebih dari 5 mm (PBI 1971). Agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil atau batu pecah. Kerikil adalah bahan yang terjadi sebagai hasil desintegrasi alami dari batuan-batuan dan berbentuk agak bulat serta permukaannya licin. Sedangkan batu pecah (kricak) adalah bahan yang diperoleh dari batu yang digiling (dipecah) menjadi pecahan-pecahan berukuran 5-70 mm. Persyaratan kerikil yang digunakan : Agregat kasar dapat berupa kerikil yang merupakan hasil disintegrasi alami batuan serta batu pecah yang merupakan hasil dari mesin pemecah batu (stone crusher). Agregat kasar yang digunakan harus bersih, bermutu baik, tidak berpori serta mempunyai gradasi kekerasan sesuai dengan syarat-syarat Peraturan Beton Indonesia. Apabila agregat mengandung Lumpur dan bahan organik atau bahan organik lainnya lebih dari 1% maka harus dicuci terlebih dahulu. Dalam proyek ini digunakan agregat dengan ukuran maksimum 40mm, karena ukuran agregat kasar sangat mempengaruhi mutu beton dan penampakan beton setelah pengecoran selesai dan beton cor sudah mengering. Penyimpanan atau penimbunan koral/split dengan pasir harus dipisahkan satu dengan yang lain, hingga dapat dijamin kedua bahan tersebut tidak tercampur untuk mendapatkan perbandingan adukan beton yang tepat

Untuk plesteran dinding atau beton, campuran agregat untuk plester harus dipilih yang benar-benar bersih dan bebas dari segala macam kotoran dan melewati ayakan ukuran 1.6 2.0 mm
4. Air Air berfungsi menghidrasi semen untuk membuat pasta semen. Adapun syarat syarat penggunaan air adalah sebagai berikut :

Air yang digunakan dalam pembuatan beton harus air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak, asam, alkali dan bahan-bahan organik atau bahan lain yang dapat merusak beton. Air untuk adukan pasangan, harus air yang bersih tidak mengandung

lumpur/minyak/asam basa serta memenuhi PUBI-1952 pasal 9 Air harus memenuhi persyaratan yang memenuhi dalam PUBI 82 pasal 9, AFNOR P18-303 dan ZS-3121/1974 Memenuhi NI-3 pasal 10
5. Besi Beton Besi beton adalah tulangan besi berbentuk silinder yang digunakan untuk memberi tulangan pada beton. Pada proyek ini digunakan tulangan ulir dan polos. Syarat-syarat besi beton yang digunakan dalam proyek ini adalah :

Mutu U-24, Tulangan harus bersih dari lapisan minyak/lemak dan bebas dari cacat dan serpihan Penampang besi harus bulat serta memenuhi persyaratan (Peraturan Beton Indonesia). Pengiriman besi beton dilakukan langsung pada saat persiapan pekerjaan proyek Penempatan besi tulangan ini diatur kelompok-kelompok sesuai dengan diameter dan mutunya. Setiap kelompok diberi pemisah dan setiap penumpukan diberi alas kayu menghindari korosi. Kontraktor diwajibkan dan bila perlu memeriksa besi beton ke laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan syah atas biaya kontraktor Untuk pekerjaan besi non struktural digunakan mutu U-24 dan besi plat ST.30, besi beton minimal 12 mm atau sesuai dengan dengan ketentuan detai gambar, Tulangan yang digunakan untuk konstruksi plat, kolom, dan balok : o Untuk baja tulangan polos () digunakan mutu baja U24

o Untuk baja tulangan ulir (D) digunakan mutu baja U40

Gambar 4.2. Besi Tulangan

6.

Cetakan Decking Cetakan decking ini digunakan sebagai acuan pada saat pemasangan bekisting, sehingga pada saat pengecoran mendapatkan tebal decking sesuai dengan yang ditentukan. Ukuran beton decking ini berbeda-beda dari yang digunakan untuk kolom, pelat, dan balok.

7.

Beton Ready Mix


Pada proyek ini beton ready mix digunakan dalam pengecoran basement, tie beam, kolom, balok dan pelat untuk semua lantai dan lainnya. Beton ready mix yang digunakan berasal dari PT. Kalla Mix dan PT. Prima Karya Manunggal dengan mutu beton fc 30 Mpa untuk pengecoran horizontal dan 40 MPa untuk pengecoran vertikal. Untuk pengontrolan dibuat benda uji silinder dengan ukuran 15 x 30 cm sebanyak 6 sampel. Pengujian terhadap benda uji tersebut dilakukan di laboratorium Universitas Hasanuddin. Pengujian campuran beton ready mix juga dilakukan dengan uji slump yang berbeda sesuai dengan ketentuan yang ada , slump ini dilakukan pada saat beton ready mix berangkat ke lokasi proyek dan saat tiba di lokasi proyek. Hal ini dilakukan untuk melihat kesesuaian nilai slump pada beton ready mix yang akan digunakan. Penggunaan beton ready mix ini dipilih karena :

o Penghematan waktu dalam pengecoran. o Pemakaian beton ready mix dapat mengontrol dengan baik kualitas beton.

Gambar 4.4. Beton Ready Mix

IV.1.2 Material Bekisting


1. Multipleks Syarat kayu untuk bekisting adalah kayu memiliki permukaan yang halus, rata, dan tidak bergelombang atau bengkok. Kondisinya harus kering udara, memiliki kadar air antara 12 18 %. Syarat-syarat kelembaban kayu yang dipakai harus memenuhi syarat Peraturan Kayu Indonesia Untuk dinding bekisting digunakan multipleks berukuran 1,20 2,40 meter dengan tebal 12 mm, yang kemudian dipotong-potong sesuai ukuran yang dibutuhkan. Tujuan pemakaian multipleks adalah supaya permukaan beton yang dihasilkan lebih halus. Multipleks tersebut sebisanya dihemat pemakaian, diusahakan agar tidak rusak setelah dijadikan bekisting supaya dapat digunakan kembali.

2.

Balok kayu Balok kayu yang digunakan berukuran 4/6, 5/7, dan 6/12, dengan panjang yang berbeda-beda tergantung kebutuhan. Balok kayu diperlukan sebagai frame pengaku (usukusuk bekisting) agar multipleks tidak melendut saat pengecoran.

Gambar 4.6. Balok kayu sebagai penopang bekisting

3.

Perancah (scaffolding/steiger)
Scaffolding adalah bagian dari perancah yang berupa besi galvansi yang mempunyai ukuran dan bentuk tertentu, yaitu segiempat panjang dan besi diagonal/menyilang pada bagian tengahnya.

Kegunaan scaffolding adalah : o Mendukung beban bekisting dan adukan beton waktu pengecoran sampai beton cukup kuat menahan beban sendiri. o Menjaga ketinggian elevasi balok tetap seperti rencana sampai adukan beton mengeras.
Alat ini mempunyai uliran pada keempat ujungnya yang dapat disambung satu dengan yang lain, sehingga dapat dibuat atau disusun bertingkat ke atas sesuai kebutuhan.

Gambar 4.7. Scaffolding Bagian bagian dari scaffolding, antara lain : Main frame, tinggi batang 170 cm dan 190 cm Leadger frame, tinggi batang 90 cm Jack base, sebagai bantalan scaffolding U-head jack, sebagai tumpuan balok suri Joint point, untuk menyambung antara batang scaffolding Cross brace, sebagai pengaku silang

IV.1.3 Penyimpanan Material


Di proyek ini penyimpanan material dilakukan dengan baik. Berikut ini adalah hal-hal yang harus diperhatikan dalam penyimpanan material besi tulangan, yaitu: besi harus terlindung dari sampah dan kotoran, minyak/oli dan tidak terendam air cara penumpukan harus rapih dan tidak boleh bersentuhan dengan tanah, harus diberi ganjal balok kayu atau sejenisnya, harus diberi tanda sesuai dengan diameter, jangan dicampur dalam penumpukannya penempatan agar dapat dijangkau oleh alat angkut (Tower crane dan mobile crane) ikatan besi diberi label, yang berisi panjang, kode, dsb.

Sistem penanganan (penyimpanan) material memerlukan evaluasi untuk efisiensi. Jika seluruh material disimpan digudang, maka biaya penyimpanan akan tinggi. Untuk penyimpanan material seperti besi diletakkan di luar, namun harus terdapat perlakuan khusus seperti menutupinya dengan terpal ketika hujan dan terhindar dari tanah dan air secara langsung karena dapat menyebabkan korosi, untuk peralatan lainnya seperti kayu, scafolding, peralatan listrik,pipa diletakkan di dalam gudang. Material yang akan digunakan adalah material yang sekiranya layak pakai sesuai dengan izin pengawas lapangan

IV.2

PERALATAN Dalam pelaksanaan proyek konstruksi, peralatan konstruksi merupakan faktor yang turut

menentukan keberhasilan suatu proyek konstruksi. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan alat berat yaitu kebutuhan, biaya, dan produktivitas alat. Untuk memudahkan pekerjaan selama proyek berlangsung pihak kontraktor atau sub-kontraktor menyediakan beberapa peralatan dan perlengkapan pekerjaan yang mendukung dan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

IV.2.1

Peralatan Pengukuran Pekerjaan ini menjadi dasar realisasi gambar kerja, dari atas kertas ke lapangan yang

sesungguhnya. Alat yang digunakan diantaranya : Waterpass dipakai untuk menyamakan elevasi lantai, agar didapatkan permukaan yang benar-benar rata. Theodolit ataupun auto level digunakan untuk menentukan titik-titik pada pengerjaan pengukuran seperti as bangunan dan mengontrol suatu ketinggian agar didapat posisi yang benar-benar sesuai dengan level yang diinginkan.

IV.2.2

Peralatan pembesian

1. Bar Bender Bar bender merupakan alat yang digunakan untuk membentuk atau

membengkokkan tulangan sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Dalam proyek ini pembengkokkan tulangan dilakukan secara manual maupun dengan mesin. Cara manual dipakai apabila tulangan yang dibengkokkan berdiameter kecil ( < 13 mm). Pembengkokkan tulangan secara manual menggunakan alat pembengkok yang terdiri dari bangku kayu panjang dengan tonjolan besi pada bagian atasnya yang berfungsi sebagai penahan. Dalam proyek ini alat bar bender berkapasitas 25mm dan 42mm

Gambar 4.2.2.1 Bar Bender 2. Bar Cutter Machine Tulangan yang dijual di pasaran berbentuk lonjoran dengan panjang 12 m. Pada proyek ini digunakan mesin bar cutter untuk memotong baja tulangan yang berdiameter maximal 35 mm.

Gambar 4.2.2.2 Bar Cutter 3. Takel Takel merupakan alat untuk menarik besi tulangan dalam mass foundation yang turun dari elevasi yang diharapkan. Alat ini digunakan ketika besi tulangan sudah dipasang dan telah dilakukan pengukuran elevasi ketika akan melakukan pengecoran. Sehingga alat ini ini digunakan untuk menarik besi tulangan ke atas agar elevasi kembali seperti yang diinginkan.

IV.2.3 1.

Peralatan pengecoran Concrete Mixer Truck

Concrete Mixer truck merupakan alat transportasi yang dilengkapi dengan mixer untuk mengaduk campuran beton ready mix yang akan digunakan untuk pengecoran di lapangan. Truk ini mengangkut beton siap pakai (ready mix) dari tempat pencampuran beton (batching plan) sampai ke lokasi pengecoran. Selama pengangkutan truk ini terus berputar searah jarum jam dengan kecepatan tertentu per menit agar adukan beton tersebut terus homogen dan tidak mengeras. Dalam pengangkutan perlu diperhatikan interval waktu, karena bila terlalu lama beton akan mengeras dalam mixer, sehingga

akan menimbulkan kesulitan dan menghambat kelancaran pelaksanaan pengecoran. Cara kerjanya adalah sebagai berikut: Bila arah putarannya searah jarum jam maka truk berfungsi untuk mengeluarkan beton ready mixed Bila arah putarannya berlawanan arah jarum jam maka truk berfungsi untuk mengaduk beton ready mixed Sebelum beton ready mixed dikeluarkan ke dalam concrete pump atau bucket, maka beton ready mixed tersebut akan diaduk dengan kecepatan tinggi, dengan tujuan untuk meratakan gradasi agregat yang ada dalam campuran beton

Gambar 4.2.3.1 Concrete Mixer 2. Concrete Pump Concrete pump dapat digunakan untuk pengecoran plat lantai, balok, dan kolom yang tinggi atau sulit dijangkau oleh truck mixer. Concrete pump digunakan untuk menghantarkan adukan beton dari truck mixer kebagian lokasi yang akan dicor.

Concrete pump dan lokasi dihubungkan dengan pipa-pipa yang jangkauannya dapat mencapai + 30 m. Hal ini menyebabkan pengecoran menggunakan concrete pump harus memperhatikan letak dan struktur yang akan dicor. Untuk pengecoran lantai atas, concrete pump biasanya maksimum + 50 m Tinggi jatuh penuangan beton ke lokasi yang akan dicor tidak boleh terlalu tinggi, maksimum 0,5 m. Karena bila terlalu tinggi akan terjadi segregasi pada beton dan

tidak meratanya penyebaran beton. Pertimbangan penggunaan concrete pump di proyek ini antara lain: o o Volume pekerjaan beton cukup besar, yaitu lebih besar dari 100 m3 Areal bangunan yang di cor cukup luas, sehingga akan memakan waktu lama bila diangkut dengan tenaga manusia o Areal pekerjaan berada diluar jangkauan tower crane, sehingga tidak bisa memakai bucket.

3.

Concrete Vibrator Vibrator berfungsi untuk menggetarkan campuran beton agar rongga-rongga dapat terisi dengan baik sehingga diperoleh beton yang padat dan tidak keropos, serta kekuatan beton yang dikehendaki dapat tercapai. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemakaian vibrator adalah: o o o Kedudukan jarum vibrator selama pengecoran harus tegak lurus. Harus dihindari kontak antara jarum vibrator dengan tulangan. Penggunaan tidak boleh terlalu lama disatu tempat, hal ini untuk menghindari terjadinya segregasi atau pemisahan, ataupun bleeding dari campuran beton yang akibatnya dapat mengurangi kekuatan beton.

Gambar 4.2.3.2 Concrete Vibrator

4.

Molen Digunakan untuk mencampur material seperti semen, pasir, kerikil dan juga air yang akan digunakan dalam pembuatan beton. Pemakaian molen biasanya untuk adukan dengan volume kecil (kurang dari 0,2 m3). Molen digunakan untuk jumlah luasan pengecoran yang tidak terlalu besar

5.

Bucket Bucket merupakan tempat menampung adukan beton yang akan digunakan dalam proses pengecoran. Alat ini bekerja yang secara vertikal dibantu dengan tremie yang memanjang ke bawah dan tower crane sebagai alat pengangkutnya. Bucket mempunyai kapasitas maksimum 0.8 m, biasanya digunakan pada pengecoran kolom, corelift dan corewall.

Gambar 4.2.3.3 Bucket

6. Air Compressor Air Compressor digunakan untuk membersihkan konstruksi pada saat bidang kerja akan dilakukan pengecoran. Tujuan dilakukannya pembersihan dengan air compressor adalah untuk menghilangkan kotoran seperti sisa potongan alat pengikat, serbuk kayu, air dan debu yang berada pada bagian yang akan dicor. Air compressor pada proyek ini adalah menggunakan 175 CFM. Dengan adanya penyemprotan, membuat bidang kerja menjadi bersih untuk dilakukan pengecoran dan tidak akan mengurangi kualitas dari pengecoran yang dilakukan.

IV.2.4

Peralatan pekerjaan tanah Pelaksanaan pekerjaan tanah dapat dilakuka dengan tenaga manusia ( manual) padat karya

atau menggunakan mesin (alat-alat berat). Pemilihan metode konstruksi yang akan dipilih, tentunya tidak akan terlepas dari pertimbangan teknis dan ekonomis. Penguasaan atas pengetahuan teori terkait dengan pekerjaan disertai dengan pengalaman dari berbagai pekerjaan, akan memberikan suatu pertimbangan yang menguntungkan dalam pengambilan keputusan. Sesuai dengan kemajuan teknologi saat ini, keterlibatan alat berat tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pembangunan, terutama untuk proyek yang padat, Kehadiran alat berat sangat membantu kita anatara lain : Waktu pelaksanaan akan lebih cepat Mempercepat proses pelaksanaan pekerjaan, terutama pada pekerjaan yang sedaqng dikejar target waktu penyelesaian atau target produksi Tenaga Besar Melaksanakan jenis pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan oleh tenaga manusia Ekonomis

Karena alsan efisiensi, keterbatasan tenaga kerja, keamanan dan faktor ekonomis lainnya

1.

Excavator (Backhoe) Excavator merupakan istilah dari alat penggali. Dalam proyek ini jenis excavator yang digunakan yaitu Backhoe atau Excavator KOBELKO SK 200. Pengoperasian Backhoe umunya untuk penggalian saluran, terowongan atau basement. Dalam perhitungan cycle time dari ekcavator tergantung dari ukuran alat itu sendiri, semakin besar alat, cycle time semakin tinggi, semakin kecil alat, maka akan semakin lincah tergantung dari kondisi kerja. Kondisi medan yang baik ekcavator akan mempunyai siklus lebih cepat dibandingkan dengan kondisi yang berat Untuk cycle time terdiri dari 4 gerakan dasar ekcavating time (digging time) swing time (loaded) dumping swing time (empty)

2.

Breaker Breaker merupakan salah satu alat berat yang digunakan sebagai penghancur atau sebagai pemecah. Dalam proyek biasanya alat ini digunakan untuk menghancurkan potongan potongan bore pile yang sudah tidak terpakai lagi. Potongan bore pile dihancurkan agar proses pembuangan dapat menjadi lebih mudah.

3. Tandem Roller Tandem Roller merupakan salah satu jenis alat berat yang digunakan untuk meratakan dan memadatkan tanah. Dalam proyek allainz tower, alat ini digunakan dalam pengerjaan akses jalan agar jalan tersebut menjadi rata dan padat. nilai pemadatan yang baik dan ideal adalah mendekati atau sama dengan 100% semakin mendekati nilai tersebut maka semakin baik pemadatannya, dalam proyek ini kepadatan yang dicapai adalah 95 %. Kemudian setelah nilai pemadatan didapat, dapat dilaksanakan pengerjaan lantai kerja untuk dilakukan pengecoran beton terhadap jalan. yang harus diperhatikan dalam mempengaruhi pemadatan adalah Gradasi material, Moisture content, dan Compaction Effort

IV.2.5

Peralatan Pengangkatan 1. Tower Crane Tower crane merupakan alat yang digunakan untuk mengangkat material secara vertical dan horizontal kesuatu tempat yang tinggi pada ruang gerak yang terbatas. Tipe crane ini dibagi berdasarkan cara crane tersebut berdiri yaitu crane yang dapat berdiri bebas (free standing crane), crane diatas rel (rail mounted crane), crane yang ditambatkan pada bangunan (tied-in tower crane) dan crane panjat (climbing crane).

Gambar 4.2.5.1 Tower Crane a. Bagian Crane Bagian dari crane adalah mast atau tiang utama,, jib dan counter jib, counterweight, trolley dan tie ropes. Mast merupakan tiang vertical yang berdiri di atas base atau dasar. Jib merupakan tiang horizontal yang panjangnya ditentukanberdasarkan jangkauan yang diinginkan.

b. Kriteria pemilihan Tower Crane Pemilihan tower crane sebagai alat untuk memindahkan material didasarkan pada kondisi lapangan yang tidak luas, ketinggian yang tidak terjangkau oleh alat lain. Dan tidak dibutuhkanya pergerakan alat. Pemilihan jenis tower crane yang akan dipakai harus mempertimbangkan situasi proyek, bentuk struktur bangunan, kemudahan operasiaonal baik pada saat pemasangan maupun pada saat pembongkaran. Sedangkan pemilihan kapasitas tower crane berdasarkan berat, dimensi, dan daya jangkau pada beban terberat,

ketinggian maksimum alat, perakitan alat diproyek, berat alat yang harus ditahan oleh strukturnya, ruang yang tersedia untuk alat, luas area yang harus dijangkau alat dan kecepatan alat untuk memindahkan material.

c. Kapasitas Tower Crane Kapasitas tower crane tergantung beberapa factor. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jika material yang diangkut oleh crane melebihi kapasitasnya maka akan terjadi jungkir. Oleh karena itu, berat material yang diangkut sebaiknya sebagai berikut : 1).Untuk mesin beroda crawler adalah 75% dari kapasitas alat 2).Untuk mesin beroda ban karet adalah 85% dari kapasitas alat 3).Untuk mesin yang memilliki kaki adalah 85% dari kapasitas alat Factor luar yang harus diperhatikan dalam menentukan kapasitas alat adalah 1). Kekuatan angin terhadap alat 2). Ayunan beban pada saat dipindahkan 3). Kecepatan pemindahan material 4). Pengereman mesin dalam pergerakanny Keuntungan/ kelemahan TC dibandingkan dengan service crane adalah radius jangkauan, kapasitas dan mobilitasnya. TC statis terhadap perletakannya, tidak memiliki kemampuan untuk mobilisasi, namun radius lengan dan kapasitasnya lebih besar dari service crane, sedangkan service crane memiliki mobilitas tinggi. Lengannya dapat dipanjangkan atau dipendekkan sesuai kebutuhan. Radius jangkauan TC yang digunakan di proyek total ini adalah dengan jib length 45 m dan kapasitas 3.5 ton. Service crane merupakan peralatan yang digunakan untuk mengangkat material-material berat ke atas secara vertikal maupun horizontal, alat berat ini bekerja berdasarkan prinsip kesetimbangan momen dan tegangan tarik baja. Penggunaan service crane adalah untuk melayani kebutuhan alat-alat maupun material yang berdimensi besar dan memiliki massa yang cukup besar, sehingga proses pengangkatan dan pemindahannya dapat merupakan hal yang sangat sulit bila tidak menggunakan alat berat ini.

IV.3

TENAGA KERJA Dalam penyelenggaraan proyek, salah satu sumber daya yang menjadi faktor penentu

keberhasilannya adalah tenega kerja, dalam proyek jenis dan intensitas kegiatan proyek berubah cepat sepanjang siklusnya, sehinnga penyediaan jumlah tenaga kerja, jenis

keterampilan, dan keahlian harus mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang berlangsung, maka dari itu suatu perencanaan tenaga kerja proyek yang menyeluruh dan terperinci harus meliputi perkiraan dan jenis dan kapan keperluan tenaga kerja, seperti tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu. Dalam proyek ini Pada pelaksanaannya, untuk pengadaan tenaga kerja di proyek ini tergantung pada bagaimana setiap mandor membutuhkan jumlah tenaga kerja berdasarkan penjelasan dari pengawas tentang volume pekerjaan yang harus dikerjakan. Rapat koordinasi antara pihak pengawas dengan pelaksana juga diadakan rutin setiap pagi dan waktu tertentu untuk mengontrol dan mengkoordinasikan proses pekerjaan. Dalam proyek ini sebagian besar tenaga kerja direkrut dan menjadi tanggung jawab pihak Kontraktor. Namun, jika suatu bagian pekerjaan proyek diserahkan kepada subkontraktor, maka tenaga kerja yang terlibat menjadi tanggung jawab subkontraktor tersebut sehingga mengenai upah dan perekrutan menjadi permasalahan subkontraktor tersebut. Pada umumnya proyek berlangsung dengan kondisi yang berbeda, maka dalam merencanakan tenaqga kerja hendaknya dilengkapi dengan analisis produktivitas dan indikasi variabel yang mempengaruhi, variabel yag memperngaruhi produktivitas tenaga kerja di lapangan antara lain : 1. Kondisi fisik lapangan dan sarana bantu 2. Supervisi, perencanaan dan koordinasi 3. Komposisi kelompok kerja 4. Kerja lembur 5. Upah pekerja 6. Kurva pengalaman 7. pekerja langsung vs subkontraktor 8. Kepadatan tenaga kerja Menurut prosedur pengadaan tenaga kerja pada proyek Pembangunan Gedung Departemen Perdagangan ini adalah sebagai berikut:
a. Membuat rencana pengadaan tenaga kerja dengan berdasarkan Detail

Schedule (dilakukan oleh supervisor) b. Memberi penjelasan seperlunya oleh Manager Konstruksi kepada

subkontraktor mengenai pekerjaan yang akan dilaksanakan, yang akan meliputi:


o Struktur organisasi proyek

o Pembagian pekerjaan o Rencana kerja/time schedule o Pengaturan site facilities o Instruksi kerja o Rencana penggunaan alat dan material o Keselamatan kerja o Koordinasi di lapangan o Hal-hal lain yang dianggap perlu.

Permasalahan yang kerapkali timbul dan menjadi penghambat dalam suatu pekerjaan konstruksi terkait dengan tenaga kerja, antara lain:
Pembayaran Upah

Pembayaran upah tenaga kerja yang tepat waktu dan sesuai dengan perjanjian pembayaran tenaga kerja berperan penting karena membantu tenaga kerja untuk tetap mempunyai semangat kerja dan produktivitas yang tinggi, maka perjanjian mengenai sistem pembayaran dan besarnya upah tenaga kerja harusdipikirkan dan dibicarakan terlebih dahulu dan pihak kontraktor harus melaksanakan kewajibannya sebaik mungkin demi kelancaran pekerjaan konstruksi.
Pembagian tugas dan penempatan tenaga kerja

Pembagian tugas dan penempatan tenaga kerja harus melalui proses perencanaan yang baik dan matang sehingga setiap tenaga kerja yang tersedia dapat melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Dengan demikian, kemungkinan adanya tenaga kerja yang menganggur akibat jumlah tenaga kerja yang tersedia jauh melampaui kebutuhan tenaga kerja untuk suatu pekerjaan yang akan dilaksanakan dapat diminimalisir. Oleh karena itu, diperlukan adanya koordinasi yang baik dengan jadwal penggunaan sumberdaya yang lain supaya pemanfaatan tenaga kerja dapat dilaksanakan secara optimal sesuai dengan fungsinya masing masing.