Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dewasa ini lingkungan menjadi masalah yang perlu dan harus mendapat perhatian yang seksama karena saat ini lingkungan sudah mulai terancam oleh berbagai dampak yang ditimbulkan karena berbagai aktifitas manusia. Hidup merupakan sebuah proses yang harus dilalui oleh setiap orang. Dalam hidup terdapat proses berinteraksi dengan sesamanya, yaitu, manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan sekitar, dan lain sebagainya. Hal itu, tergolong dalam unsur-unsur kehidupan di bumi. Lingkungan merupakan sebuah tempat dimana terdapat interaksi makhluk hidup tinggal. Di dalam lingkungan hidup terdapat segala bentuk dan bagian yang tidak terpisahkan, seperti, air, tanah, dan udara. Semua itu saling mengisi satu sama lain atau dapat dikatakan saling melengkapi dalam pemenuhan makhluk hidup. Contoh, air sangat dibutuhkan makhluk hidup untuk minum, membersihkan diri, melindungi diri dari teriknya sinar matahari, dan lain sebagainya. Tanah, digunakan untuk menanam, menyimpan air, dan lain sebagainya. Udara, digunakan untuk bernafas, terbang, dan lain sebagainya. Lingkungan terdiri dari komponen abiotik dan komponen biotik. Komponen abiotik adalah segala yang tidak bernyawa seperti tanah, udara, iklim, kelembaban, cahaya, bunyi, dan sebagainya. Sedangkan

komponen biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa seperti tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroorganisme. Permasalahan lingkungan dapat dikategorikan dalam masalah lingkungan lokal, nasional, regional dan global. Pengkategorian tersebut berdasarkan pada dampak dari permasalahan lingkungan, apakah dampaknya hanya lokal, nasional, regional atau global. Bila kita melihat bumi secara utuh maka bumi merupakan satu sistem yang utuh dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Hal tersebut sesuai dengan teori Gaia bahwa bumi merupakan kumpulan sistem-sistem hidup yang menjadi satu kesatuan. Dalam sistem tersebut ada sub sistem, akan tetapi apabila ada perubahan sekecil apapun dalam subsistem bumi maka akan memberikan dampak bagi bumi sebagai satu system (Teori Chaos).

B.

Rumusan Masalah Makalah yang berjudul Isu Lingkungan Nasional dan Lokal ini akan mengkaji tentang : 1. Bagaimana pengaruh manusia dalam lingkungan ? 2. Bagaimana memahami isu lingkungan nasional ? 3. Bagaimana memahami isu lingkungan lokal ?

C.

Tujuan Makalah yang berjudul Isu Lingkungan Nasional dan Lokal ini bertujuan untuk : 1. Memahami pengaruh manusia dalam lingkungan 2. Memahami dan memiliki wawasan tentang isu lingkungan nasional 3. Memahami dan memiliki wawasan tentang isu lingkungan lokal

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengaruh Manusia dalam Lingkungan Manusia dengan pengetahuannya mampu mengubah keadaan lingkungan sehingga meguntungkan dirinya, untuk memenuhi kebutuhannya. Awalnya perubahan itu dalam lingkungan yang kecil dan pengaruhnya sangat terbatas. Pada zaman Neolitikum kira-kira 12.000 tahun yang lalu, nenek moyang kita dari berburu kemudian memelihara hewan buruannya. Dari manusia pemburu berubah menjadi manusia pemelihara, dari manusia nomadis berubah menjadi manusia menetap. Mulailah berkembang cara bercocok tanam. Ekosistem sekarang ini dalah ekosistem baru yang diciptakan manusia, sesuai dengan kebutuhan manusia. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan manusia untuk mengubah lingkungan semakin besar. Sehingga, manusia ingin menguasai alam. Alam yang awalnya tetap dapat mempertahankan keseimbangan sekarang keseimbangan itu hilang dan timbul kerusakan di mana-mana karena, ulah tangan manusia. (Maskoeri Jasin, 1988:132) Berbagai kerusakan ditimbulkan manusia, sekarang ini banyak manusia yang menyadari pentingnya alam untuk kelangsungan hidup mereka. Perlahan manusia memperbaiki alam yang telah rusak dan mengurangi hal-hal yang merugikan alam. Manusia melakukan upaya penyelamatan hutan dan makhluk hidup lain yang menggantungkan kehidupannya pada alam. Namun, banyak pula manusia yang terus mencemari alam tanpa memikirkan resiko yang ditimbulkan ke depan. Mengembalikan keseimbangan alam merupakan pekerjaaan yang sulit dan selalu menginginkan terciptanya lingkungan hidup seperti yang diharapkan.

B.

Isu Lingkungan Nasional Isu lingkungan nasional yaitu permasalahan lingkungan dan dampak yang ditimbulkan dari permasalahan lingkungan tersebut mengakibatkan dampak dalam skala nasional. Di negara Indonesia banyak terjadi perusakan lingkungan yang mengakibatkan tidak seimbangnya ekosistem di alam. Menurut TIM IAD MIKU & TIM MUP (2012:155), ada beberapa isu lingkungan nasional, diantaranya :

1.

Banjir Banjir merupakan suatu peristiwa terbenamnya daratan (yang pada keadaan normal kering) karena meningkatnya volume air. Banjir dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya akibat pemanasan global, yaitu dapat meningkatkan tinggi permukaan air laut, sehingga beberapa daerah di pesisir pantai akan terkena luapan air tersebut. Selain itu banjir juga disebabkan karena meningkatnya curah hujan dan tidak adanya saluran air yang baik dan cukup untuk menampung air hujan. Banjir juga dapat disebabkan karena peluapan air sungai akibat meningkatnya curah hujan atau karena sebab lain, seperti pecahnya bendungan sungai. Banjir yang banyak melanda kota-kota besar biasanya disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat yang membuanga sampah ke sungai atau saluran air lain. Banjir juga disebabkan oleh kurangnya resapan air karena tanah telah tertutup bangunan. Banjir menyebabkan kerugian pada segi perekonomian, kesehatan, dan lingkungan.

2.

Kerusakan Hutan di Indonesia Hutan di Indonesia banyak berkurang dan yang masih ada banyak mengalami kerusakan. Penyebab kerusaan hutan paling besar karena ulah manusia. Manusia melakukan eksploitasi dari hutan secara berlebihan dan mengabaikan segi ekologisnya. Faktor alam yang merusak hutan salah satunya adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan ini dipicu oleh musim kemarau yang panjang maupun pemanasan global.

3.

Sampah Manusia sebagai konsumen setiap harinya menghasilkan sampah/limbah. Libah yang dihasilkan berupa organik dan anorganik. Sampah anorganik dihasilkan dari rumah tangga maupun industri. Sampah merupakan masalah sosial yang dapat menyebabkan konflik. Di Indonesia masalah sampah kurang mendapat penanganan yang baik.

4. Banjir Lumpur Panas Sidoarjo Banjir lumpur panas di Sidoarjo merupakan peristiwa menyemburnya lumpur panas di lokasi pengeboran PT Lapindo Brantas sejak tanggal 27 Mei 2006. Banjir lumpur panas tersebut terus meningkat dan penyebab utama semburan tersebut belum jelas. Semburan tersebut menyebabkan tergenangnya kawasan pemukiman, pertanian, dan peridustrian. Masalah banjir lumpur panas ini telah menjadi masalah nasional, yang memaksa pemerintah pusat turut campur dalam upaya penanggulannya.

C.

Isu Lingkungan Lokal

Kawasan hutan Aceh beserta sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan kekayaan yang perlu dilestarikan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat, baik di tingkat lokal maupun secara nasional dalam rangka pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, serta untuk menjamin bahwa rakyat memiliki kedaulatan dan hak-hak mereka atas lingkungan hidup dan pengelolaan sumber daya alam yang adil dan lestari; Selain itu, kawasan hutan Aceh merupakan wilayah yang secara alami terintegrasikan oleh faktor-faktor bentangan alam, karakteristik khas dari flora dan fauna, keseimbangan habitat dalam mendukung keseimbangan hidup keanekaragaman hayati, dan faktorfaktor khas lainnya sehingga membentuk satu kesatuan ekosistem tersendiri. Untuk mempertahankan, melestarikan, dan memulihkan fungsi kawasan ekosistem hutan Aceh termasuk satwa dan tumbuhan, serta sumberdaya alam lainnya yang terkandung di dalamnya yang akhir-akhir ini semakin menurun karena berbagai kegiatan yang kurang memperhatikan aspek pelestarian alam dan lingkungan, dipandang perlu melakukan berbagai bentuk kegiatan dalam rangka penyelamatan hutan dan lingkungan Aceh. Aceh memiliki hutan tropis seluas 3,25 juta hektar, yang diperkirakan memiliki kandungan karbon sebesar 415 juta ton. Secara tidak langsung, pemerintah dan pemerintah daerah di Aceh merespon solusi degradasi hutan melalui perdagangan karbon. Melalui peluang ini, Aceh dengan otoritas khusus dalam Undang Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) membuka peluang untuk menyatakan bahwa secara legislasi KEL, tak boleh lagi dieksploitasi. Kawasan seluas 2,7 juta hektar di KEL menjadi modal lingkungan sangat menentukan bagi pembangunan di Aceh. Bahkan catatan Greenomics Indonesia mengungkapkan bahwa lebih dari 3.000 industri kecil, menengah, dan besar, yang beroperasi di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut) bergantung pada pasokan air dari KEL. Kawasan itu juga menjadi penyuplai utama air bersih bagi lebih dari 4 juta penduduk Aceh dan Sumut. Pasal 150 UUPA tegas melarang pemberian izin untuk pengusahaan hutan, di kawasan yang menjadi benteng ekologi Aceh itu.

Yang tak kalah mencemaskan adalah berubahnya lahan hutan menjadi perkebunan. Pengubahan hutan menjadi perkebunan adalah penyakit lama yang tak pernah sembuh. Dimulai sejak manusia mulai membutuhkan komoditas tertentu, kini pembukaan hutan untuk dijadikan perkebunan tanaman industri/konsumsi telah mengubah 70% hutan dunia. Di Indonesia, perkebunan yang paling rakus melahap hutan adalah perkebunan kelapa sawit.

Perkebunan kelapa sawit dunia terkonsentrasi di dua Negara, yaitu Indonesia dan Malaysia. Karena Malaysia, yang menyadari efek buruk perkebunan sawit, telah melakukan moratorium sejak beberapa tahun lewat, maka kebutuhan CPO dunia sebagian besar disediakan oleh Indonesia. Di tanah air, pulau yang terbanyak ditanami kelapa sawit adalah Sumateradengan Aceh sebagai pusat utamanya. Luas hutan Aceh banyak menyusut akibat gerusan perkebunan kelapa sawit yang mayoritas berada di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Barat, Aceh Timur, Aceh Barat Daya, Nagan Raya dan Aceh Singkil. Pembukaan lahan untuk kelapa sawit telah lama diakui banyak menimbulkan korban. Cara pembukaan hutan yang umumnya dibakar, atau pengeringan rawa, membantai keseimbangan ekosistem dan melepaskan zat yang tidak diperlukan atau bahkan beracun ke dalam ekosistem. Penggerusan hutan menjadi perkebunan yang paling memprihatinkan terjadi di kawasan Rawa Tripa. Rawa Tripa adalah salah satu dari tiga hutan rawa yang berada di pantai Barat pulau Sumatera dengan luas mencapai 61.803 hektare. Secara administratif, 60% luas Rawa Tripa berada di kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya. Sisanya berada di wilayah Babahrot, Aceh Barat Daya (Abdya). Wilayah tersebut berada dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Di dalamnya mengalir tiga sungai besar yang menjadi batas kawasan. Rawa gambut Tripa memiliki peran sangat penting, yaitu sebagai pengatur siklus air tawar dan banjir serta benteng alami bagi bencana tsunami. Selain itu, Tripa juga dapat menjaga stabilitas iklim lokal, seperti curah hujan dan temperatur udara yang berperan positif bagi produksi pertanian yang berada di sekitarnya. Selain itu, berbagai jenis satwa penting dan langka yang terdapat di kawasan hutan rawa gambut Tripa antara lain Beruang Madu (Helarctos Malayanus), Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrensis), Buaya Muara (Crocodilus porosus), Burung Rangkok (Buceros sp), dan berbagai jenis satwa liar lainnya. Bahkan hasil penelitian Prof. Carel Van

Schaik pada tahun 1996 menemukan kepadatan populasi orangutan tertinggi di dunia terdapat di dalam kawasan hutan rawa gambut Tripa, Kluet dan Singkil. Namun, Rawa Tripa saat ini mengalami kerusakan yang sangat parah akibat pembukaan lahan oleh perusahaan perkebunan dan perambahan oleh masyarakat. Menurut perkiraan, luas hutan di Rawa Tripa hanya tersisa kurang dari 50% dari luas total 61.000 hektare. Saat ini, 36.185 hektare luas Rawa Tripa sudah menjadi wilayah konsesi bagi 4 perusahaan Kelapa sawit besar yang beroperasi di Rawa Tripa yaitu PT. Astra Agro Lestari (13.177 Ha), PT. Kalista Alam (6.888 Ha), PT. Gelora Sawita Makmur (8.604 Ha) dan PT. Cemerlang Abadi (7.516 Ha). Dari total luas konsesi HGU di rawa Tripa, 20.200 hektare di antaranya telah dibuka. Sisanya berupa hutan primer dan sekunder yang akan segera mati sebagai dampak pembukaan kanal-kanal oleh perusahaan yang akan mengeringkan rawa tersebut, kalau tidak dihentikan dan mulai memperbaiki (restorasi, rehabilitasi) dalam waktu dekat. Selain itu, teknik pembukaan lahan (land clearing) dengan cara pembakaran kerap dilakukan oleh pihak HGU yang memperparah kerusakan di hutan Rawa Tripa. Keberadaan perkebunan kelapa sawit skala besar ini juga mengancam fungsi hidrologis dari Rawa Tripa. Jika tidak mengalami gangguan, lahan gambut dapat menyimpan air sebanyak 0,8 0,9 m3/m3. Dengan demikian lahan gambut dapat mengatur debit air pada musim hujan dan musim kemarau (Murdiyarso et al, 2004). Sehingga kerusakan gambut dapat berakibat pada bencana banjir seperti yang kerap terjadi di desa-desa di sekitar Tripa selama ini.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan


Manusia dengan pengetahuannya mampu mengubah keadaan lingkungan sehingga meguntungkan dirinya, untuk memenuhi kebutuhannya. Awalnya perubahan itu dalam lingkungan yang kecil dan pengaruhnya sangat terbatas. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan manusia untuk mengubah lingkungan semakin besar. Sehingga, manusia ingin menguasai alam. Alam yang awalnya tetap dapat mempertahankan keseimbangan sekarang keseimbangan itu hilang dan timbul kerusakan di mana-mana karena, ulah tangan manusia Ada beberapa masalah lingkungan nasional, diantaranya banjir, kerusakan hutan di Indonesia, sampah, dan banjir lumpur panas di Sidoarjo. Selain masalah lingkungan nasional, ada masalah lingkungan lokal. Contohnya seperti di Aceh yaitu pengubahan hutan menjadi perkebunan. Luas hutan Aceh banyak menyusut akibat gerusan perkebunan kelapa sawit. Pembukaan lahan untuk kelapa sawit telah lama diakui banyak menimbulkan korban. Cara pembukaan hutan yang umumnya dibakar, atau pengeringan rawa, membantai keseimbangan ekosistem dan melepaskan zat yang tidak diperlukan atau bahkan beracun ke dalam ekosistem.

B. Saran Untuk mencegah pencemaran lingkungan Nasional dan Lokal dalam hidup, maka ada beberapa hal yang harus di perhatikan oleh setiap manusia yakni:

Harus mengurangi perbuatan yang merugikan lingkungan, Harus adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan.