Anda di halaman 1dari 10

1.

Pertempuran Surabaya Pada tanggal 25 oktober 1945 Brigade 49 dibawah pimpinan Brigadir Jenderal A W.S Mallaby mendarat dipelabuhan tanjung perak Surabaya. Brigade ini merupakan bagian dari devisi India ke-2, dibawah pimpinan Jenderal D.C. Hawthorn. Mereka mendapat tugas melucuti tentara jepang dan menyelamatkan tawanan sekutu. Pasukan ini berkekuatan 6000 personil dimana perwira-perwiranya kebanyakan orang-orang inggrisdan prajuritnya orang-orang Gurkha dari Nepal yang telah berpengalaman perang. Rakyat dan pemerintahan Jawa Timur di bawah pimpinan gubernur R.M.T.A Suryo semula enggan menerima kedatangan Sekutu. Kemudian antara wakil-wakil pemerintahan RI dan Brigjen AW.S Mallaby mengadakan pertemuan yang menghasilkan kesepakatan sebagai berikut. 1) Inggris berjanji mengikut sertakan Angkatan Perang Belanda 2) Disetujui kerjasama kedua belah pihak untuk menjamin keamanan dan ketentraman 3) Akan dibentuk kontak biro agar kerja sama berjalan lancar 4) Inggris hanya akan melucuti senjata jepang Pada tanggal 26 oktober 1945 pasukan sekutu melanggar kesepakatan terbukti melakukan penyergapan ke penjara Kalisosok. Mereka akan membebaskan para tawanan Belanda diantaranya adalah Kolonel Huiyer. Tindakan ini dilanjutkan dengan penyebaran pamphletpamflet yang berisi perintah agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata-senjata mereka. Rakyat Surabaya dan TKR bertekad akan mengusir Sekutu dari bumi Indonesia dan tidak akan menyerahkansenjata mereka. Kontak senjata antara rakyat Surabaya melawan Inggris terjadi pada tanggal 27 Oktober 1945. Para pemuda dengan perjuangan yang gigih dapat melumpuhkan tank-tank Sekutu dan berhasil menguasai objek-objek vital. Strategi yang digunakan rakyat Surabaya dalah dengan mengepungdan menghancurkan pemusatan-pemusatan tentara Inggris kemudian melumpuhkan hubungan logistiknya. Serangan tersebut mencapai kemenangan yang gemilang walaupun dipihak kita banyak jatuh korban. Pada tanggal 29 Oktober 1945 Bung Karno beserta Jenderal D.C Hawthorn tiba di Surabaya. Dalam perundingan antara pemerintahan RI dengan Mallaby dicapai kesepakatan untuk menghentikan kontak senjata. Kesepakatan ini dilanggar oleh pihak sekutu. Dalam satu insiden, Jenderal Mallaby terbunuh. Dengan terbunuhnya Mallaby, pihak Inggris menuntut pertanggung jawaban kepada rakyat Surabaya. Pada tanggal 9 November 1945 Mayor Jenderal E.C Mansergh sebagai pengganti Mallaby mengeluarkan ultimatum kepada bangsa Indonesia di Surabaya. Ultimatum ini isinya agar seluruh rakyat Surabaya beserta pemimpin-pemimpinnya menyerahkan diri dengan senjata, mengibarkan bendera putih, dan dengan tangan diatas kepala berbaris satu persatu, jika pada pukul 06.00 ultimatum ini tidak di indahkan maka inggris akan akan mengerahkan seluruh kekuatan darat, kekuatan laut dan udara. Ultimatum ini dirasa menghina terhadap bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan. Oleh karena itu rakyat Surabaya menolak ultimatum tersebut secara resmi melalui pernyataan Gubernur Suryo.

Karena penolakan ultimatum itu maka meletuslah pertempuran pada tanggal 10 November 1945. Melalui siaran radio yang dipancarkan dari Jl. Mawar No. 4 Bung Tomo membakar semangat juang arek-arek Surabaya. Kontak senjata pertama terjadi di Perak sampai pukul 18.00. pasukan sekutu dibawah pimpinan Jenderal Mansergh mengerahkan satu devisi infantry sebanyak 10.000-15.000 orang dibantu tembakan dari laut oleh kapal perang penjelajah Sussex serta pesawat tempur mosquito dan Thunderbolt. Dalam pertempuran di Surabaya ini seluruh unsur kekuatan rakyat bahu membahu, baik dari TKR, PRI, BPRI, Tentara Pelajar, Polisi Istimewa, BBI, PTKR, maupun TKR laut dibawah komandan pertahanan Kota, Soengkono. Pertempuran yang berlangsung sampai akhir November 1945 ini rakyat Surabaya berhasil mempertahankan kota Surabaya dari gempuran Inggris walaupun jatuh korban yang banyak dari pihak Indonesia. Oleh karena itu setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Hal ini sebagai penghargaan atas jasa para pahlawan di Surabaya yang mempertahankan tanah air Indonesia dari kekuasaan asing. 2. Pertempuran Ambarawa Kedatangan sekutu di Semarang tanggal 20 Oktober 1945 dibawah pimpinan Brigadir Jenderal Bethel semula diterima dengan baik oleh rakyatkarena akan mengurus tawanan perang. Akan tetapi, secara diam-diam mereka bersama-sama NICA dan mempersenjatai para bekas tawanan perang Ambarawa dan Magelang. Setelah terjadi insiden di Magelang antara TKR dengan tentara Sekutu maka tanggal 2 November 1945 Presiden Soekarno dan BrigJend Bethtel mengadakan Perundingan gencatan senjata. Pada tanggal 21 November 1945 pasukan Sekutu mundur dari Magelang ke Ambarawa. Gerakan ini segera dikejar resimen Kedu Tengah dibawah pimpipinan Letnal Kolonel M. Sarbini dan meletuslah pertempuran Ambarawa . Pasukan Angkatan muda dibawah Pimpinan Sastrodihardjo yang diperkuat pasukan gabungan dari Ambarawa, Suruh dan Surakarta menghadang sekutu didesa Lambu. Dalam pertempuran di Ambarawa ini gugurlah Letnan Kolonel Isdiman, Komandan Resimen Banyumas. Dengan gugurnya Letnan Kolonel Isdiman, Komandan pasukan dipegang oleh kolonel Soedirman, Panglima Divisi di Purwokerto. Kolonel Soedirman mengkoordinir komandan-komandan sektor untuk menyusun strategi penyerangan terhadap musuh. Pada tanggal 12 Desember 1945 pasukan TKR berhasil mengepung musuh yang bertahan dibenteng Willem, yang terletak ditengah-tengah kota Ambarawa. Selama 4 hari 4 malam kota Ambarawa di kepung. Kerena merasa terjepit maka pada tanggal 15 Desember 1945 pasukan Sekutu meninggalkan Ambarawa menuju ke Semarang. Pertempuran Medan Area dan Sekitarnya

3.

Berita Proklamasi Kemerdekaan baru sampai di medan pada tanggal 27 Agustus 1945. Hal ini disebabkan sulitnya komunikasi dan adanya sensor dari tentara Jepang. Berita tersebut dibawa oleh Mr. Teuku M. Hasan yang diangkat menjadi Gubernur Sumatra. Ia ditugaskan oelh pemerintah untuk menegakkan kedaulatan Republik Indonesia di Sumatra dengan membentuk Komite Nasional Indonesia di wilayah itu. Pada tanggal 9 Oktober 1945 pasukan sekutu mendarat di Sumatra Utara di bawah pimpinan Brigadir Jenderal E.T.D. Kelly. Serdadu Belanda dan NICA ikut membonceng pasukan ini yang dipersiapkan mengambil alih pemerintahan. Pasukan Sekutu membebaskan para tawanan tatas persetujuan Gubernur Teuku M. Hasan. Para bekas tawanan ini bersikap congkak sehinggga menyebabkan terjadinya insiden dibeberapa tempat. Achmad Tahir, seorang bekas perwira tentara Sukarela memelopori terbentuknya TKR Sumatra Timur. Pada tanggal 10 Oktober 1945. Di samping TKR, di Sumatra Timur terbentuk Badan-badan perjuangandan laskar-laskar partai. Pada tanggal 18 Oktober 1945 Brigadir Jenderal T.E.D Kelly memberikan ultimatum kepada pemuda Medan agar menyerahkan senjatnya. Aksi-aksi teror mulai dilakukan oleh Sekutu dan NICA. Pada tanggal1 Desember 1945 Sekutu memasang papan-papan bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut pinggiran Kota Medan. Bagaimana sikap para pemuda kita ? mereka dengan gigih membalas setiap aksi yang dilakukan oleh pihak Sekutu dan NICA. Pada tanggal 10 Desember 1945 pasukan Sekutu melancarkan serangan militer secara besar-besaran dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur. Pada bulan April 1946 pasukan inggris berhasil mendesak pemerintahan RI ke luar Medan. Gubernur, Markas Divisi TKR, Walikota RI pindah ke Pematang Siantar. Walaupun belum berhasil menghalau pasukan Sekutu, rakyat Medan terus berjuang dengan membentuk Lasykar Rakyat Medan Area. Selain di daerah Medan, di daerah-daerah sekitarnya juga terjadi perlawanan rakyat terhadap Jepang, Sekutu, dan Belanda. Di Padang dan BukitTinggi pertempuran berlangsung sejak bulan November 1945. Sementara itu dalam waktu yang sama di Aceh terjadi pertempuran melawan Sekutu. Dalam pertempuran ini Sekutu memanfaatkan pasukan-pasukan Jepang untuk menghadapi perlawanan rakyat sehingga pecah pertempuran yang dikenal dengan peristiwa Krueng Panjol Bireuen. Pertempuran di sekitar Langsa/Kuala Simpang Aceh semakin sengit ketika pihak rakyat dipimpin langsung oleh Residen Teuku Nyak Arief. Dalam pertempuran ini pejuang kita berhasil mengusir Jepang. Dengan demikian diseluruh Sumatra rakyat bersama pemerintah membela dan mempertahankan kemerdekaan. 4. Bandung Lautan Api Pada tanggal 17 Oktober 1945 pasukan Sekutu mendarat di Bandung. Pada waktu itu para pemuda dan pejuang di kota Bandung sedang gencar-gencarnya merebut senjata dan kekuasaan dari tangan Jepang. Oleh Sekutu, senjata dari hasil pelucutan tentara Jepang supaya diserahkan padanya. Bahkan pada tanggal 21 November 1945, sekutu mengeluarkan ultimatum agar Bandung bagian utara dikosongkan oleh pihak Indonesia paling lambat tanggal 29 November 1945 dengan alasan untuk menjaga keamanan. Oleh para pejuang, ultimatum tersebut tidak diindahkan sehingga sejak saat itu sering terjadi insiden dengan pasukan-pasukan Sekutu.

Sekutu mengulangi ultimatumnya pada tanggal 23 Maret 1945 yakni agar TRI meninggalkan kota Bandung. Dengan adanya ultimatum ini, pemerintahan RI di Jakarta menginstruksikan agar TRI mengosongkan kota bandung, akan tetapi dari markas TRI Yogyakarta menginstruksikan agar kota Bandung tidak dikosongkan. Akhirnya, para pejuang Bandung meninggalkan kota Bandung walaupun dengan berat hati. Sebelum meninggalkan kota Bandung terlebih dahulu para pejuang Republik Indonesia menyerang ke arah kedudukankedudukan Sekutu sambil membumihanguskan kota Bandung bagian Selatan. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Bandung Lautan Api Read more at http://tipsyoman.blogspot.com/2013/01/peristiwa-surabaya-medan-areaambarawa.html#ftLRO8hWQcCVaoWt.99
Latar Belakang Peristiwa Palagan Bojongkokosan. Perlu dipahami bahwa, pada saat itu kondisi Indonesia sangat berbeda dengan Negara lainnya. Indonesia telah memproklamirkan diri sebagai Negara merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Mulai mencurigai sepak terjang pasukan sekutu, bahkan tidak sedikit memusuhinya, akan tetapi kenyataannya di kota kota yang di datangi oleh pasukan sekutu selalu di datangi oleh pasukan sekutu selalu terjadi insiden bahkan pertempuran dengan pihak RI, dan tidak menghargai pemimpinnya baik pusat maupun di daerah daerah. Akibat tekanan hidup yang begitu berat dan menyakitkan lahir dan batin serta di dorong oleh semangat, senasib sependeritaan, di berbagai daerah di Indonesia. Seluruh rakyat di Indonesia menyadari betul bahwa penjajahan oleh bangsa lain telah menyebabkan bangsa Indonesia telah terbelakang dalam berbagai bidang kehidupan, baik social, politik, ekonomi maupun pendidikan. Pelayanan dalam bentuk yang lebih terarah dan terorganisir di awali dengan berdirinya pergerakan Budi Utomo tanggal 20 Mei 1908 yang kita peringati sebagai hari kebangkitan nasional. Kelahiran Budi Utomo telah menyadarkan bangsa Indonesia sepenuhnya untuk bangkit dan bersatu serta berwawasan nasional. Menyusul kemudian sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang mempertegaskan dan memperkuat kesadaran akan kepentingannya bersatu di bawah ikrar bangsa, berbahasa dan bertanah air Indonesia. Pernyataan ikrar sumpah pemuda tahun 1928 tersebut diatas merupakan modal utama di dalam upaya mencapai kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia. Parungkuda adalah sebuah kota kecamatan berjarak kurang lebih 26 Km dari kota Sukabumi menuju kearah Bogor. Di daerah inilah terjadi peperangan yang menggemparkan kedunia Internasional.

Tepatnya di desa bernama desa Bojongkokosan pada tanggal 9 Desember 1945 terjadi peristiwa yang sangat heroik dan patriotic. Dalam hal ini kita berharap peristiwa ini dapat di jadikan tonggal sejarah perlawanan rakyat Sukabumi khususnya dan bangsa Indonesia umumnya.

PERISTIWA BOJONGKOKOSAN Peristiwa di gekbrong telah menyisakan kepenasaran dan kegeraman para pejuang karena belum berhasil mengalahkan pihak sekutu kesempatan untuk menggempur musuh terbuka pada tanggal 2 Desember 1945 di desa Bojongkokosan. Di desa ini terjadi dua kali pertempuran pertama tidak menimbulkan banyak korban tetapi pertempuran kedua, minggu tanggal 9 Desember 1945 merupakan pertempuran yang menggemparkan dunia, pertempuran di Bojongkoksan ini merupakan penghadang tentara sekutu yang dating dari arah Bogor menuju ke Sukabumi dengan kekuatan satu batalayon, adapun maksud konvoi tentara sekutu tersebut adalah sebagai berikut : * Mengambil interniran (tawanan) Jepang di daerah Sukabumi dan sekitarnya * Memberikan bantuan ke Bandung yang pada saat itu sedang terjadi pergolakan antara pihak pemuda dengan tentara sekutu di Bandung. * Menjagai kelancaran hubungan jalan darat antara Bogor Sukabumi Cianjur (Badan Pengelola Monumen Sejarah Peristiwa Bojongkokosan, halp 16) Desa Bojongkokosan termasuk ke dalam wilayah kecamatan Parungkuda kabupaten sukabumi. Lokasinya merupakan jalan protocol antara sukabumi bogor, berjarak kuarang lebih 26 Km dari kota Sukabumi arah Bogor. Ciri khas jalannya adalah berkelok kelok menyerupai huruf S. jika dilihat dari arah Sukabumi posisinya agak naik dengan kemiringan kira kira 10%. Di sebelah kanan kiri jalannya terdapat bukit terjal tingginya kira kira 15-20 meter dan ditumbuhi tanaman liar mulai dari yang perdu hingga pohon pohon tinggi. Desa Bojongkokosan pun ditandai juga dengan adanya talang air yang melintas jalan. Talang ini menghubungkan dua bukit yang konon di bangun oleh Belanda jauh sebelum peristiwa Bojongkokosan terjadi. Tinjauan secara strategis militer kondisi geografis alam demikian memang sangat menunjang dan tepat untuk di jadikan sebagai tempat penghadangan kendaraan yang melintas. Sehubungan dengan itu mudah di mengerti bahwa di daerah tersebut sering terjadi atau sering dilakukan penghadangan penghadangan tentara musuh. Tercatat beberapa peristiwa penghadangan yang terjadi di Bojongkokosan yaitu : Pada tanggal 2 Desember 1945 dan 6 Desember 1945 akan tetapi gangguan yang dilakukan oleh barisan rakyat dan TKR hanya berupagangguan kecil yang kurang berarti dan tidak menimbulkan korban jiwa. Dan pada hari minggu tanggal 9 Desember 1945 terjadi peristiwa yang sangat hebat, yaitu penghadangan terhadap konvoi sekutu yang dating dari arah Bogor menuju Sukabumi. Penghadangan ini melibatkan banyak personil baik pihak pejuang maupun pihak sekutu yang melibatkan sekitar satu Batalayon. Peristiwa Bojongkokosan pada tanggal 9 Desember 1945 adalah awal dari serangan serangan yang disusun oleh TKR pimpinan Letnan Kolonel Eddie Sukardi. Peristiwa ini kemudian menjadi pemicu awal dalam peristiwa yang kita kenal dengan perang konvoi dan merupakan perang konvoi pertama (The Firs Convoy Battle) tanggal 9 sampai dengan 12 Desember 1945 penghadangan sepanjang 81 Km mulai dari

Cigombong (Bogor) sampai Ciranjang (Cianjur) telah mengakibatkan banyak korban dari kedua belah pihak : pihak sekutu : 50 orang meninggal, 100 orang luka berat dan 30 orang menyerah. Koraban di pihak pejuang : 73 orang meninggal sedangkan perang konvoi kedua pada tanggal 10 sampai dengan 14 maret 1946

DISKOLASI/PENEMPATAN PASUKAN Sukabumi di kenal dengan daerah perkebunan yang Finansial bagi kekuatan Belanda/NICA dan merupakan daerah paling pintu (slaagBoom). Faktor inilah yang mengakibatkan sekutu dating ke Sukabumi kondisi demikianpun telah melahirkan sebuah asumsi yang mengatakan bahwa apabila ingin menguasai Jakarta harus dapat menguasai Jawa Barat dan apa ia ingin menguasai Jawa Barat, kuasai dulu Sukabumi. Hal ini pulalah yang juga turut membakar semangat para pejuang untuk mempertahankan Sukabumi sampai titik darah penghabisan. Salah satu upaya mempertahankan Sukabumi dari serangan musuh adalah mengatur strategi dan rencana yang matang Resimen III yang di tugasi operasi penghadangan konvoi pasukan sekutu mengadakan Herdiskolasi Batalayon batalayonnya. Resimen III TKR Sukabumi : Terbentuk dari 4 Batalayon (Bekas Dai dan Peta) yang masing masing berjumlah satu batalayon. Mereka ini mantan Dai dan Peta, pernah ditempatkan di kota Sukabumi, Pelabuhan Ratu, Surade, Cibeber, sampai Cianjur. Selanjutnya kerja sama dengan lascar lascar hisbullah, fisabilillah, Barisan Banteng, Pesindo dan lain lain ditingkatkan dalam koordinasi operasinya melawan konvoy konvoy sekutu. JALANNYA PERTEMPURAN Berita dari Pos Cigombong, sekitar pukul 12.00 adalah tentara sekutu Inggris menuju jurusan Sukabumi. Di dalam upaya menghadang laju perjalanan konvoy sekutu justru posisi kunci utama berada pada kekuatan penempatan personil di sekitar tebing Bojongkokosan. Mayor Yahya Bahrum selaku pimpinan batalayon I mempercayakan daerah ini kepada kompi 3 yang di pimpin oleh kapten Murad Idrus untuk menempati tempat tempat strategi dalam penghadangan. Tugas komandan Batalayon yang diintruksikan oleh komandan Resimen diteruskan kepada kemandan kompi dan komandan seksi adalah sebagai berikut : * Menerima dan melaksanakan tugas dari komandan Batalayon * Mengambil insiatif masing masing dengan situasi dan kondisi * Bekerja sama dengan barisan kelaskaran dan masyarakat

Berpegang pada tugas yang telah di berikan, komandan seksi I & II melakukan kerjasama dengan barisan kelaskaran. Barisan kelaskaran itu adalah : barisan Hisbullah di bawah pimpinan H. akbar, barisan banteng yang di pimpin oleh H. Toha dan barisan rakyat lainnya masing masing mendapat tugas memasang brikade di bawah talang air. Sedangkan barisan pesindo dipusatkan di bagian barat Bojongkokosan sampai daerah cicurug dan benda Seksi IV di wakili sersan Sahnan bekerjasama dengan barisan kelaskaran membuat lubang jebakan dan brikade di sekitar Ongkrak, Cipetir, dan Cirohani. Sementara saudara Wiranta dan kawan kawan mengambil insiatif merusak jembatan pamuruyan setelah pertempuran Bojongkokossan.

Hari minggu tanggal 9 Desember 1945 pukul 12.00 di kawasan tebing Bojongkokosan ada 165 anggota TKR bersama barisan kelaskaran bersiaga di tempat tempat strategis berlindung di sekitar pohon pohon dan lubang lubang perlidungan. Senjata yang di gunakan pistol parabelum, granat, senapan tangan editon/ hambur bouman/doubl loop, bambu runcing, panah ketapel dan lain lain. Sebelumnya penghadangan di Bojongkokosanpun pernah dilakukan 2 kali pada tanggal 2 dan 6 Desember 1945. udara pada saat itu sangat panas, sepanas para pejuang untuk mengusir para penjajah di tanah air. Tidak lama berlangsung ratusan konvoy truk tentara sekutu yang di kawal beberapa tank baja Sherman, Panser wagon dan beberapa pesawat tempur telah lewat dari Cigombong dan muncullah konvoy sekutu pada pukul 15.00 di Bojongkokosan. Konvoy tersebut di ibaratkan seekor ular berbisa yang berjalan mencari mangsa. Kepalanya tank Sherman tengkuknya : panser wagon badan sampai ekornya truk dan diperkuat oleh ruas ruas tulangnya Brancirrier2. Tepat diantara dua tebing jalan raya Bojongkokosan, di bawah talang air dipasang pelintang jalan kendaraan batang batang pohon silang melintang tak karuan. Sungguh terkejutnya konvoy sekutu, sebab mereka menganggap aman dan pada sebuah tank serman. Terdepan bekerja keras mendorong paksa menyingkirkan brikade brikade tersebut di luar dugaan roda depan serman terperosok kedalam lubang perangkap di ikuti dengan ledakan dahsyat ranjau darat sehingga rantai rantai roda tank tersebut berburai. Seorang kapten yang tertembak kakinya sambil terpicang pincang berteriak teriak memberikan komando supaya konvoy bergerak maju setelah mereka mengetahui posisi TKR dan barisan rakyat maka terjadilah perlawanan seru. Tank serman memuntahkan ledakannya, menghadang tebing tebing hingga longsor. Satu tegu sebanyak 12 orang TKR di bawah pimpinan sersan Saban yang bertahan pada bagian tebing, dihantam tank serman tersebut hingga tergusur longsor jatuh ke jalan raya, yang kemudian di brondong oleh tembakan tembakan tentara sekutu. Semuanya gugur seketika dengan kondisi yang mengenaskan. sebuah konvoy di kawal oleh batalayon 5/9 juats sebagai pendatang baru di pulau jawa, mulai bergerak melewati perbukitan. Kendaraan pendahulu berhenti di hadang perintang jalan, di atas perbukitan di penuhi orang orang (tentara) Indonesia pada umumnya mengenakan pakaian seragam mirip jepang dan menempati lubang lubang persembunyiannya, dari sanalah mereka menyerang menghujani dengan granat dan molotv cocktail keatas kendaraan konvoy. Bukan pekerjaan yang mudah untuk menghindari pertempuran dan serangan mendadak musuh yang tak terlihat menguasai tebing pengawalan infantry menyebar sepanjang 12 Km. apalagi beberapa jam kemudian tibanya malam. Komandan batalayon jats cedera berat dalam serangan tersebut, sebuah kendaraan hancur lebur dan kendaraan lainnya banyak yang rusak berat terutama sopir sopir berjatuhan dari atas truk dan tewas tertembak secara mengerikan. (sumber The Fighting cock Doulton 1951 hal 283) Sekitar pukul 17.00 pertempuran dilokasi jalan raya Bojongkokosan berhenti tak satupun letusan senjata terdengar kecuali teriakan perintah perintah perwira perwira jats berteriak teriak agar semua tentaranya segera menaiki truknya. Setelah pasukan sekutu meninggalkan Bojongkokosan satu regu dari pasukan TKR memeriksa sekitar

tempat kejadian dan mencari komandan kompi yang kebetulan tidak jauh berlindung di tengah tengah rumput bamboo di sertai seorang ajudan dalam keadaan selamat. Selanjunya H. Toha dan tiga orang anggotanya di perintahkan menghubungi markas pesindo di Cicurug dan Parungkuda untuk meminta bantuan rakyat dalam mengangkut para korban korban yang gugur diangkut ke Cicurug sedangkan yang luka luka dibawa ke rumah sakit sekarwangi Cibadak. Pada waktu korban diangkut ke Cicurug yang di tempatkan di markas Pesindo, turut serta dalam pengurusan korban saat itu ialah Bupati Sukabumi Harun, SH. Ketika terjadi pertempuran di Bojongkokosan beliau sudah ada di perbatasan Parungkuda Cibadak kedatangannya ke Bojongkokosan di maksudkan untuk mengecek persiapan pasukan TKR dan barisan kelaskaran serta memberikan dorongan semangat juang. Korban yang meninggal di tempat kejadian sebanyak 28 orang, yaitu sebagi berikut : 1. Sabar sersan TKR 2. Udin Prajurit TKR 3. Aceng Prajurit TKR 4. Rapi Prajurit TKR 5. Subagyo Prajurit TKR 6. Djarkasih Prajurit TKR 7. Didi Prajurit TKR 8. Aping Tholib Prajurit TKR 9. Cecep Prajurit TKR 10. Ukoh Prajurit TKR 11. Hadir Prajurit TKR 12. Hamzah Prajurit TKR 13. Dari Bin Ikuk Prajurit TKR 14. Sahuri Prajurit TKR 15. Madsani Bin Inung Prajurit TKR 16. Madkosin Prajurit TKR 17. Koko Bin Uceh Prajurit TKR 18. Munajat Prajurit TKR 19. Karta Bin Parudin Prajurit TKR 20. Acep Djaenudin Prajurit TKR 21. Acep Suganda Prajurit TKR 22. Sobari Prajurit TKR 23. Dana Bin safei Prajurit TKR 24. Muin Laskar Hisbullah 25. Sukanta Laskar Hisbullah 26. H. mamun laskar Hisbullah 27. Tidak di kenal 28. Tidak di kenal (sumber museum palagan bojongkokosan) Para pejuang yanmg gugur ini terutama dari pasukan yang menempati tebing bagian bawah pinggir jalan ada juga korban yang gugur di atas talang air yaitu Prajurit acing. Prajurit yang luka diangku ke rumah sakit sekarwangi cibadak. Sedangkan yang gugur di makamkan di depan markas pesindo, sedangkan korban penembakan selama perjalanan dari Bojongkokosan ke Sukabumi sebanyak 45 orang termasuk korban peristiwa pemboman oleh pesawat tempur sekutu di Cibadak tanggal 10 Desember 1945 jumlah korban di pihak sekutu yang gugur dalam pertempuran Bojongkokosan 50 orang.

AKIBAT PERTEMPURAN BOJONGKOKOSAN Terlepas dari serangan Bojongkokosan, konvoy sekutu harus terus berhadapan dengan dengan pasukan TKR dan pasukan kerakyatan di sepanjang jalan yang dilaluinya. Di daerah Ongkrak lagi lagi tank serman bagian roda depannya terperosok kedalam lubang jebakan dan ranjau darat kembali meledak. Secara tiba tiba serangan gencapura kembali muncul pertempuran galu sulit diperkirakan menyebabkan beberapa orang orang tentara sekutu tewas luka luka. Suasana tegang menyelimuti tentara tentara sekutu, konvoy terus berjalan dan mulai memasuki Cibadak di sini tank serman dapat mempercepat jalannya diikuti oleh panser wagon, pada jalur antara Cibadak Cikukulu, diluar perkiraan mereka diuji peluru kejadian seperti di Bojongkokosan terulang. Pertempuran berikut terjadi ketika pasukan sekutu sampai di Cikukulu, sekutu berhadapan dengan pasukan TKR. Pertempuran disini tidak banyak memakan korban di samping itu hari sudah gelap pada pertempuran ini dari pihak sekutu ada yang terbunuh 1 orang ada beberapa para pejuang yang gugur pada peristiwa ini tercatat sebanyak 25 orang adalah sebai berikut : 1. Engking Dambigi Kapten TKR 2. Ali Arsad Sersan TKR 3. Atjeng Nawawi Sersan TKR 4. Achmad Sersan TKR 5. Ujang Bin Maan Kopral TKR 6. Maniji Bin Jaur Prajurit TKR 7. Marasai Prajurit TKR 8. Majun Prajurit TKR 9. Goyong Prajurit TKR 10. Karki Prajurit TKR 11. Suganda Prajurit TKR 12. Udin Prajurit TKR 13. Mad Leapi Prajurit TKR 14. Ehan Prajurit TKR 15. Madsai Prajurit TKR 16. Sukarna Prajurit TKR 17. Bantamei Prajurit TKR 18. Achromi Prajurit TKR 19. Muchtar Laskar Sabilalah 20. Sukarja Laskar Sabililah 21. Burachman Laskar Sabililah 22. Achmad Laskar Sabililah 23. Maman Laskar pesindo 24. Mahdi Laskar pesindo 25. Juli Laskar pesindo

Adapun rakyat rakyat yang tidak berdosa menjadi korban :

1. Siti Nurmala 11. Tati 2. Ibu Hj. Ruhiyat 12. Ibu Tati 3. Suganda 13. Pepe Rapei 4. Nyonya Uit 14. Muad Kosih 5. Majen 15. Dahlan 6. Ujang 16. Wiwi Jawawi 7. Muchamad 17. Kosim Bin Saleh 8. Ujang Tisna 18. Muhtar 9. Kisur 19. Mamad 10. Ibu Sukarman 20. Madyadi Para korban pemboman ini semuanya di bawa kerumah sakit sekarwangi Cibadak di bawah pimpinan Dr. Hasan Sadikin ( sekarang menjadi nama rumah sakit umum daerah jawa barat Bandung). Hari itu juga baik korban yang gugur pada pertempuran Bojongkokosan maupun yang gugur akibat serangan udara dimakamkan di pemakaman Rumah Sakit Sekarwangi Cibadak disaksikan oleh komandan Resimen letnan Kolonel Eddie Sukardi. 4.5 perundingan dengan pihak sekutu perwira batalayon Jats tidak henti hentinya kontak dengan markas besar sekutu di Jakarta mereka mempertanyakan bagai mana kelanjutan setelah Cibadak. Karena tetap tidak menjamin keamanan untuk melanjutkan perjalanan konvoynya ke Bandung. Malam itu juga kendaraan Jip berbendera putih dan di kawal dengan beberapa orang tentara khususnya Mayor Rawin Singh berangkat dari Bogor menuju Sukabumi.