Anda di halaman 1dari 13

limfoma malignum

Apa itu limfoma malignum ? Limfoma adalah istilah umum untuk kanker pada sistem kelenjar getah bening ( limfe ) yang merupakan suatu keganasan kelompok sel darah putih yang dikenal dengan limfosit yang berkembang dan membelah secara tidak normal. Sistem kelenjar getah bening terdiri dari kelenjar kelenjar getah bening yang dihubungkan satu dengan lain melalui saluran limfe. Sel sel limfosit beredar dalam pembuluh limfe dan di beberapa tempat seperti ketiak, perut, pangkal paha, dan lain lain. Dalam keadaan normal atau sehat, sel limfosit/ kelenjar getah bening merupakan salah satu sistem pertahanan tubuh kita dalam menangkal infeksi bakteri, jamur, parasit dan virus. Secara umum limfoma dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis : 1. Limfoma Hodgkin ( LH ) 2. Limfoma Non Hodgkin ( LNH )

Limfoma Hodgkin pertama kali ditemukan oleh Thomas Hodgkin pada tahun 1832. Penyakit ini bermula dengan timbulnya pembengkakan di pangkal leher dan kemudian menyebar ke kelenjar getah bening lainnya melalui pembuluh getah bening. Kejadian limfoma non hodgkin lebih sering dibandingkan limfoma hodgkin. Jenis ini merupakan jenis kanker kelenjar getah bening yang cenderung timbul bersamaan pada beberapa bagian tubuh. Insidens Limfoma Menurut American Cancer Society dari 63.190 kasus baru Non Hodgkin Limfoma yang terdiagnosa sejak tahun 2007 diperkirakan 18.660 orang meninggal. Insidens timbulnya Non Hodgkin Limfoma lima kali lebih banyak daripada penyakit Hodgkin. Insidens bervariasi menurut ras, dimana ras berkulit putih mempunyai faktor resiko yang lebih tinggi dibandingkan ras berkulit hitam. Pada laki laki insidens sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita dengan rasio 1,4 : 1. Limfoma dapat mengenai semua usia dari anak anak sampai usia tua, namun lebih sering pada

umur tua dan insidensnya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Kanker kelenjar getah bening merupakan keganasan nomor 6 tersering di Indonesia. Penyebab Limfoma Sampai saat ini belum diketahui penyebab yang pasti dari kanker kelenjar getah bening, namun perlu dihindari faktor faktor resiko yang mempengaruhi timbulnya penyakit ini. Faktor resiko tersebut adalah - Penurunan daya tahan tubuh - Infeksi virus seperti Hepatitis C, HIV, infeksi bakteri, jamur, parasit - Terpajan dengan zat zat toksin lingkungan seperti herbisida, pewarna rambut, pengawet kayu, terpajan dengan sinar ultraviolet, dan rokok baik aktif maupun pasif Gejala dan keluhan limfoma Sering terjadi bahwa pasien tidak mengeluhkan sesuatu yang khas pada saat terdiagnosis limfoma, namun gejala dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala tambahan. Gejala umum berupa : - Pembesaran kelenjar getah bening yang tidak nyeri, ukurannya biasanya lebih dari satu cm dan terus membesar seiring waktu, lokasinya sering di pangkal leher namun dapat pula di tempat lain seperti ketiak, pangkal paha dan lain lain. Biasanya tidak ditemukan tanda peradangan seperti nyeri, panas dan warna kemerahan. Gejala tambahan berupa - Perasaan tidak sehat - Kehilangan berat badan - Deman berulang ( suhu diatas 38 oC )tanpa diketahui sebabnya - Cepat lelah - Nafsu makan berkurang - Pernapasan pendek - Gejala akibat turunnya sel sel darah seperti anemia karena penurunan Hb, perdarahan karena penurunan trombosit, dan mudah terkena infeksi karena pemurunan jumlah dan fungsi leukosit ( sel darah putih ). Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan histopatologik jaringan kelenjar getah bening yang dicurigai sangat diperlukan untuk mendiagnosis kanker ini. Untuk itu diperlukan biopsi dari kelenjar getah bening yang membesar. Tindakan ini merupakan suatu operasi kecil dengan pembiusan lokal atau umum ( total ) Bila hasil biopsi menunjukkan adanya sel sel limfoma, maka perlu dilakukan pemeriksaan penunjang untuk menentukan stadium dan perjalanan penyakit ini. Pemeriksaan penunjang tersebut adalah : 1. Pemeriksaan darah dan urine 2. Foto rontgen dada dan paru 3. Ultrasonografi ( USG ) perut ( abdomen ) 4. Pemeriksaan sumsum tulang 5. Pemeriksaan tenggorokan 6. Limfografi 7. Bila perlu ( ada indikasi ) dilakukan punksi lumbal

Pilihan terapi Pilihan pengobatan berbeda tergantung pada jenis kanker kelenjar getah bening 1. Kemoterapi 2. Radioterapi 3. Immunoterapi ( antibodi monoklonal/ rituximab ) tunggal atau kombinasi dengan kemoterapi 4. Cangkok sumsum tulang atau sel induk darah Pencegahan Sampai saat ini pencegahan limfoma belum diketahui dengan pasti sehingga cara pencegahan secara tepatpun belum ditemukan. Walaupun demikian yang dapat dilakukan adalah menghindari faktor resiko yang diduga menjadi penyebab seperti infeksi virus, bakteri, parasit dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan secara baik. Selain itu hindari kokntak dengan zat zat yang bersifat karsinogenik yaitu zat zat yang mempermudah timbulnya kanker

Mendeteksi Kanker Limfoma


Saturday, 08 January 2011 12:32 | Written by Mochamad Subecha | | |

Saya baru mengetahui apa itu kanker kelenjar getah bening, setelah ayah saya mengalaminya. Benjolan yang semula kecil di daerah leher, tiba-tiba menjadi besar dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Dan karena harus dilakukan biopsi untuk mengetahui jaringan dalam benjolan tersebut terdapat sel kanker atau tidak, menyebabkan benjolan tersebut menjadi luka yang menganga yang setiap saat dapat mengeluarkan darah. Luka pada leher tidak dapat dioperasi karena sudah tidak memungkinkan lagi, dan bila melakukan kemoterapi dibutuhkan biaya dan kesiapan mental tidak hanya pada ayah tapi juga kami sekeluarga. Dan akibat kanker kelenjar getah bening inilah ayah saya kembali menghadap yang maha kuasa.

Saya benar-benar tidak tahu apa yang menjadi penyebab kanker kelenjar getah bening itu. Karena kurangnya informasi kami sekeluarga juga tidak bisa memberikan pengobatan secara maksimal kepada ayah. Dan kini setelah 14 tahun berpulangnya ayah, saya temukan jawabannya. Dan saya ingin membagi pengetahuan ini dengan Anda semua.

Kelenjar getah bening merupakan merupakan suatu kumpulan limfosit berukuran sebesar kacang yang tersebar di seluruh tubuh. Kelenjar getah bening merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh kita. Tubuh kita memiliki kurang lebih sekitar 600 kelenjar getah bening, namun hanya didaerah submandibular (bagian bawah rahang bawah), ketiak atau lipat paha yang teraba normal pada orang sehat.

Secara umum, limfoma diklasifikasikan menjadi 2 kelompok besar, yaitu :

Limfoma Hodgkin. Limfoma ini ditemukan oleh Thomas Hodgkin pada tahun 1832. Pada lymphoma Hodgkin sel-sel dari sistem limfatik bertumbuh secara abnormal dan dapat menyebar ke luar sistem limfatik. Jika penyakit ini semakin berkembang, maka akan mempengaruhi fungsi pertahanan tubuh penderitanya. Pada penyakit ini ditemukan perkembangan sel B abnormal atau dinamakan sel Reed-Sternberg (sel B adalah salah satu jenis sel limfe yang berfungsi dalam sistem pertahanan tubuh yang memproduksi antibodi). Limfoma non-Hodgkin. Pada limfoma jenis ini penyakit berkembang dari limfosit (salah satu jenis sel darah putih). Pada keadaan normal limfosit akan mengalami suatu siklus. Limfosit yang tua akan mati dan tubuh membentuk limfosit yang baru. Pada limfoma non-Hodgkin tubuh membentuk limfosit yang abnormal yang akan terus membelah dan bertambah banyak dengan tidak terkontrol. Limfosit yang bertambah banyak ini akan memenuhi kelenjar getah bening dan menyebabkan pembesaran. Keganasan ini dapat timbul pada berbagai lokasi di tubuh. Umumnya akan timbul sel kanker di kelenjar getah bening, dan dapat menyebar ke organ limfatik lainnya, termasuk pembuluh limfe, tonsil, adenoid, limpa, kelenjar timus, dan sumsum tulang. Kadangkadang limfoma non-Hodgkin melibatkan organ lain di luar sistem limfatik. Insiden limfoma non-Hodgkin secara global 7 kali lebih sering dibandingkan limfoma Hodgkin. Limfoma merupakan kanker yang mempengaruhi sel-sel yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh dan terutama sel yang terlibat dalam sistem limfatik tubuh. Sistem limfatik merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sistem ini terdiri dari jaringan pembuluh yang membawa cairan yang disebut getah bening, mirip dengan jaringan pembuluh darah membawa darah ke seluruh tubuh. Getah bening mengandung sel-sel darah putih yang disebut limfosit. Limfosit menyerang berbagai agen infeksi serta banyak sel pada tahap prakanker pembangunan.

Limfosit bertugas untuk mengenali benda-benda asing atau yang dianggap membahayakan dan sekaligus untuk menghancurkan benda asing tersebut. Ada dua subtipe utama limfosit yaitu limfosit B dan limfosit T, juga disebut sebagai sel B dan sel T. Sel B bertugas untuk memproduksi antibodi yang gunanya untuk mengenali dan menghancurkan benda asing yang masuk. Sedangkan sel T bila diaktifkan akan membunuh patogen secara langsung.

Kanker limfoma terjadi ketika sel-sel normal mengalami perubahan dimana mereka tumbuh dan berkembang biak tak terkendali, terutama terjadi transformasi pada pertumbuhan sel B dan T. Penyebab Limfoma

Penyebab pasti terjadinya limfoma belum diketahui . Beberapa faktor telah dihubungkan dengan peningkatan risiko limfoma, tetapi tidak jelas apa peran mereka dalam perkembangan aktual limfoma. Faktor-faktor risiko antara lain:

Umur: Secara umum risiko Limfoma Non Hodgkin meningkat seiring dengan usia lanjut. Sedangkan pada Limfoma Hodgkin pada lansia dikaitkan dengan prognosis yang lebih buruk daripada yang diamati pada pasien yang lebih muda. Infeksi, diantaranya yaitu infeksi HIV, infeksi dengan virus Epstein-Barr (EBV) salah satu faktor etiologi di mononucleosis, infeksi dengan Helicobacter pylori , bakteri yang hidup dalam saluran pencernaan Infeksi dengan hepatitis B atau virus hepatitis C kondisi medis yang membahayakan sistem kekebalan tubuh HIV Penyakit autoimun Penyakit yang membutuhkan terapi penekan kekebalan tubuh, sering digunakan berikut transplantasi organ Immunodeficiency mewarisi penyakit (severe combined immunodeficiency, ataksia telangiectasia, antara tuan rumah orang lain) Paparan bahan kimia beracun Pekerjaan yang berkaitan dengan bahan kimia beracun tertentu seperti pestisida, herbisida, atau benzena dan / atau lainnya pelarut Pewarna rambut hitam, yang selama lebih dari 20 tahun telah dikaitkan dengan tingkat lebih tinggi Limfoma Non Hodgkin. Faktor Genetika Gejala dan Tanda

Sering kali, tanda pertama dari limfoma adalah rasa sakit bengkak di leher, bawah lengan, atau di selangkangan.

Kelenjar getah bening atau jaringan lain dalam tubuh juga dapat membengkak. limpa, misalnya, sering menjadi diperbesar di limfoma. Simpul getah bening membesar kadang-kadang menyebabkan gejala lain dengan menekan terhadap vena atau pembuluh limfatik (pembengkakan tangan atau kaki), saraf (sakit, mati rasa, atau kesemutan), atau perut (perasaan awal kepenuhan). Pembesaran limpa dapat menyebabkan sakit perut atau ketidaknyamanan. Banyak orang tidak memiliki gejala lainnya. Gejala limfoma dapat mencakup sebagai berikut: Demam Panas dingin Penurunan berat badan Malam berkeringat Kurangnya energi Gatal Gejala-gejala ini tidak spesifik. Ini berarti bahwa mereka bisa disebabkan oleh berbagai kondisi yang tidak terkait dengan kanker. Misalnya, mereka bisa menjadi tanda-tanda flu atau infeksi virus, tetapi dalam kasus-kasus, mereka tidak akan berlangsung lama. Pada limfoma, gejala bertahan dari waktu ke waktu dan tidak dapat dijelaskan oleh infeksi atau penyakit lain. Diagnosis

Sebagian orang penderita penyakit ini mungkin tidak menyadari bahwa dirinya menderita limfoma. Pada limfoma Hodgkin kadang ditemukan dari adanya temuan pada pemeriksaan rontgen dada untuk indikasi lain. Diagnosis ditegakkan dari biopsi kelenjar getah bening yang membesar. Jika hasil biopsi ditemukan perubahan bentuk kelenjar getah bening dan adanya sel Reed-Sternberg, maka hal tersebut memastikan diagnosis. Pemeriksaan penunjang lainnya yang mungkin dibutuhkan untuk diganosis maupun untuk melihat perluasan / keterlibatan organ lain adalah : rontgten, CT-scan, MRI, Gallium scan, PET scan, biopsi sumsum tulang, dan pemeriksaan darah. Limfoma Hodgkin dapat dibagi menjadi 2 yaitu Tipe A bila penderita tidak mengalami gejala demam, berkeringat dan penurunan berat badan. Sedangkan tipe B bila penderita mengalami gejala demam, berkeringat dan mengalami penurunan berat badan.

Sedangkan pada Limfoma non Hodgkin dapat dilihat melalui pemeriksaan laboratorium untuk melihat kemungkinan timbulnya penyakit akibat infeksi, karena infeksi juga dapat menimbulkan pembesaran kelenjar getah bening. Selain juga dilakukan biopsi dan pemeriksaan penunjang lainnya yang hampir sama dengan Limfoma Hodgkin, juga dilakukan pemeriksaan laboratorium immunophenotyping yang dapat membedakan limfoma non-Hodgkin jenis sel B atau sel T.

Dari tingkat keparahannya, Limfoma dibagi menjadi 4 stadium, baik untuk Limfoma Hodgkin dan Non Hodgkin serupa yaitu :

Tahap I (penyakit awal): Limfoma terletak di daerah kelenjar getah bening tunggal atau dalam satu wilayah atau organ di luar kelenjar getah bening. Tahap II (lokal penyakit lanjut): Limfoma terletak di dua atau lebih node getah bening semua daerah yang terletak di sisi yang sama dari diafragma atau di salah satu wilayah node getah bening dan jaringan di dekatnya atau organ. Tahap III (penyakit lanjut): Limfoma mempengaruhi dua atau lebih daerah kelenjar getah bening, atau salah satu node getah bening daerah dan satu organ, di sisi berlawanan dari diafragma. Tahap IV (luas atau disebarluaskan penyakit): Limfoma adalah di luar kelenjar getah bening dan limpa dan telah menyebar ke daerah lain atau organ seperti sumsum tulang, atau hati, tulang, atau sistem saraf pusat. Terapi

Limfoma ditangani oleh dokter spesialis hematologi-onkologi dan mungkin dirujuk ke dokter spesialis lainnya jika dibutuhkan.

Pada Limfoma Hodgkin, terapi yang diberikan tergantung pada beberapa faktor, seperti stadium penyakit, jumlah dan daerah mana saja kelenjar getah bening yang terlibat, usia, gejala yang dirasakan, hamil/tidak, dan status kesehatan secara umum. Tujuan terapi adalah menghancurkan sel kanker sebanyak mungkin dan mencapai remisi. Pilihan terapinya adalah :

Radiasi, diberikan jika hanya pada daerah tubuh tertentu saja. Biasanya diberikan bersamaan dengan kemoterapi. Jika setelah diradiasi kanker kembali kambuh maka diperlukan kemoterapi untuk mengatasinya. Kemoterapi, dilakukan jika kanker sudah menyebar dan melibatkan kelenjar getah bening yang lain atau organ lain. Transplantasi Sumsum Tulang, dilakukan jika penyakit kembali kambuh setelah remisi dicapai dengan kemoterapi inisial, maka kemoterapi dosis tinggi dan transplantasi sumsum tulang atau sel induk perifer autologus (dari diri sendiri) dapat membantu memperpanjang masa remisi penyakit Pada Limfoma non Hodgkin,terapi yang diberikan juga ditentukan berdasarkan tipe dan stadium penyakit, usia, dan status kesehatan secara umum. Pilhan terapinya yaitu :

Kemoterapi, diberikan untuk limfoma jenis derajat keganasan sedang-tinggi dan pada stadium lanjut. Radiasi, diberikan untuk membunuh sel kanker dan mengecilkan ukuran tumor. Terapi radiasi umumnya diberikan untuk limfoma derajat rendah dengan stadium awal. Transplantasi sel induk, umumnya digunakan untuk limfoma derajat sedang-tinggi yang kambuh setelah terapi awal pernah berhasil. Observasi. Jika limfoma bersifat lambat dalam pertumbuhan, maka dokter mungkin akan memutuskan untuk observasi saja. Terapi biologi Radioimunoterapi. Pencegahan

Tidak ada cara yang diketahui untuk mencegah limfoma. Sebuah rekomendasi standar adalah untuk menghindari faktor risiko untuk penyakit ini. Namun, beberapa faktor risiko untuk limfoma tidak diketahui, dan karena itu tidak mungkin untuk menghindari. Infeksi virus seperti HIV, EBV, dan hepatitis merupakan faktor risiko yang dapat dihindari dengan sering mencuci tangan, mempraktekkan seks yang aman , dan dengan tidak berbagi jarum, pisau cukur, sikat gigi, dan barang-barang pribadi yang serupa yang mungkin terkontaminasi dengan darah yang terinfeksi atau cairan .

Mencermati Pencetus Kanker

Para ahli di Amerika menemukan salah satu kemungkinan penyebab kanker limfoma adalah adanya intake tinggi lemak-lemak trans, yang sudah terbukti juga meningkatkan risiko penyakit jantung. Dalam penelitian terhadap 88.410 perempuan, yang paling banyak makan lemak trans (sekitar 5,7 gram/hari) mempunyai risiko 2 kali lebih tinggi terserang limfoma dibanding mereka yang makan paling sedikit (sekitar 2,4 gram/hari). Lemak trans itu yang bagaimana? Lemak trans banyak digunakan dalam biskuit misalnya cracker, cake, pie, dan cookies siap beli. Untuk lebih aman, setiap kali ingin membeli biskuit yang siap beli, lebih baik baca bahan kandungan terlebih dahulu. Hindari produk yang didalamnya mengandung 'Partially Hydrogenated Oil' yang merupakan sumber lemak trans.

Naturally Plus: Cara Mencegah dan Mengatasi Limfoma Non Hodgkin

Limfoma Non-Hodgkin adalah sekelompok keganasan (kanker) yang berasal dari sistem kelenjar getah bening dan biasanya menyebar ke seluruh tubuh. Beberapa dari limfoma ini berkembang sangat lambat (dalam beberapa tahun), sedangkan yang lainnya menyebar dengan cepat (dalam beberapa bulan). Penyakit ini lebih sering terjadi dibandingkan dengan penyakit Hodgkin. PENYEBAB Penyebabnya tidak diketahui, tetapi bukti-bukti menunjukkan adanya hubungan dengan virus yang masih belum dapat dikenali. Sejenis limfoma non-Hodgkin yang berkembang dengan cepat

berhubungan dengan infeksi karena HTLV-I (human T-cell lymphotropic virus type I), yaitu suatu retrovirus yang fungsinya menyerupai HIV penyebab AIDS. Limfoma non-Hodgkin juga bisa merupakan komplikasi dari AIDS. GEJALA Gejala awal yang dapat dikenali adalah pembesaran kelenjar getah bening di suatu tempat (misalnya leher atau selangkangan) atau di seluruh tubuh. Kelenjar membesar secara perlahan dan biasanya tidak menyebabkan nyeri. Kadang pembesaran kelenjar getah bening di tonsil (amandel) menyebabkan gangguan menelan. Pembesaran kelenjar getah bening jauh di dalam dada atau perut bisa menekan berbagai organ dan menyebabkan: gangguan pernafasan berkurangnya nafsu makan sembelit berat nyeri perut - pembengkakan tungkai. Jika limfoma menyebar ke dalam darah bisa terjadi leukemia. Limfoma dan leukemia memiliki banyak kemiripan. Limfoma non-Hodgkin lebih mungkin menyebar ke sumsum tulang, saluran pencernaan dan kulit. Pada anak-anak, gejala awalnya adalah masuknya sel-sel limfoma ke dalam sumsum tulang, darah, kulit, usus, otak dan tulang belakang; bukan pembesaran kelenjar getah bening. Masulknya sel limfoma ini menyebabkan anmeia, ruam kulit dan gejala neurologis (misalnya kelemahan dan sensasi yang abnormal). Biasanya yang membesar adalah kelenjar getah bening di dalam, yang menyebabkan: - pengumpulan cairan di sekitar paru-paru sehingga timbul sesak nafas - penekanan usus sehingga terjadi penurunan nafsu makan atau muntah - penyumbatan kelenjar getah bening sehingga terjadi penumpukan cairan. DIAGNOSA Harus dilakukan biopsi dari kelenjar getah bening untuk menegakkan diagnosis limfoma nonHodgkin dan membedakannya dari penyakit Hodgkin atau penyakit lainnya yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening. Menentukan stadium limfoma non-Hodgkin. Limfoma non-Hodgkin dikelompokkan berdasarkan tampilan mikroskopik dari kelenjar getah bening dan jenis limfositnya (limfosit T atau limfosit B). Salah satu dari pengelompokkan yang digunakan menghubungkan jenis sel dan prognosisnya: Limfoma tingkat rendah, memiliki prognosis yang baik Limfoma tingkat menengah, memiliki prognosis yang sedang - Limfoma tingkat tinggi, memiliki prognosis yang buruk.

Pada saat terdiagnosis, biasanya limfoma non-Hodgkin sudah menyebar luas; hanya sekitar 1030% yang masih terlokalisir (hanya mengenai salah satu bagian tubuh). Untuk menentukan luasnya penyakit dan banyaknya jaringan limfoma, biasanya dilakukan CT scan perut dan panggul atau dilakukan skening gallium. PENGOBATAN Beberapa penderita bisa mengalami kesembuhan total, sedangkan penderita lainnya harus menjalani pengobatan seumur hidupnya. Kemungkinan penyembuhan atau angka harapan hidup yang panjang tergantung kepada jenis limfoma dan stadkum penyakit pada saat pengobatan dimulai. Biasanya jenis yang berasal dari limfosit T tidak memberikan respon sebaik limfosit B. Angka kesembuhan juga menurun pada: penderita yang berusia diatas 60 tahun limfoma yang sudah menyebar ke seluruh tubuh - penderita yang memiliki tumor (pengumpulan sel-sel limfoma) yang besar - penderita yang fungsinya dibatasi oleh kelemahan yang berat dan ketidakmampuan bergerak. Penderita pada stadium awal (stadium I dan II) seringkali diobati dengan terapi penyinaran yang terbatas pada sisi limfoma dan daerah di sekitarnya. Terapi penyinaran biasanya tidak menyembuhkan limfoma tingkat rendah, tetapi dapat memperpanjang harapan hidup penderita sampai 5-8 tahun. Terapi penyinaran pada limfoma tingkat menengah biasanya akan memperpanjang harapan hidup penderita sampai 2-5 tahun, sedangkan pada limfoma tingkat tinggi hanya 6 bulan sampai 1 tahun. Jika dimulai sesegera mungkin, pemberian kemoterapi dengan atau tanpa terapi penyinaran pada limfoma tingkat menengah dan tingkat tinggi, bisa menyembuhkan lebih dari separuh penderitanya. Sebagian besar penderita sudah mencapai stadium lanjut (stadium III dan IV) pada saat penyakitnya terdiagnosis. Penderita limfoma tingkat rendah mungkin tidak memerlukan pengobatan segera, tetapi harus menjalani pemeriksaan sesering mungkin untuk meyakinkan bahwa penyakitnya tidak menyebabkan komplikasi yang serius. Kemoterapi dilakukan pada penderita limfoma tingkat menengah. Penderita limfoma tingkat tinggi memerlukan kemoterapi intensif segera karena penyakit ini tumbuh dengan cepat. Tersedia beberapa sediaan kemoterapi yang sangat efektif. Obat kemoterapi bisa diberikan tunggal (untuk limfoma tingkat rendah) atau dalam bentuk kombinasi (untuk limfoma tingkat menengah dan tingkat tinggi). Pemberian kemoterapi disertai faktor pertumbuhan dan pencangkokan sumsum tulang masih dalam tahap penelitian. Pengobatan baru yang masih dalam penelitian adalah antibodi monoklonal yang telah digabungkan dengan racun, yang memiliki bahan racun (misalnya senyawa radioaktif atau protein tanaman yang disebut risin), yang menempel di antibodi tersebut. Antibodi ini secara khusus akan menempel pada sel-sel limfoma dan melepaskan bahan racunnya, yang selanjutnya akan membunuh sel-sel limfoma tersebut.

Pada pencangkokan sumsum tulang, sumsum tulang diangkat dari penderita (dan sel limfomanya dibuang) atau dari donor yang sesuai dan dicangkokkan ke penderita. Prosedur ini memungkinkan dilakukannya hitung jenis darah, yang berkurang karena kemoterapi dosis tinggi, sehingga penyembuhan berlangsung lebih cepat. Pencangkokan sumsum tulang paling efektif dilakukan pada penderita yang berusia dibawah 55 tahun dan bisa menyembuhkan sekitar 3050% penderita yang tidak menunjukkan perbaikan terhadap pemberian kemoterapi. Tetapi pencangkokan sumsum tulang memiliki resiko, sekitar 5% penderita meninggal karena infeksi pada minggu pertama, sebelum sumsum tulang membaik dan bisa menghasilkan sel darah putih yang cukup untuk melawan infeksi. Pencangkokan sumsum tulang juga sedang dicoba dilakukan pada penderita yang pada awalnya memberikan respon yang baik terhadap kemoterapi tetapi memiliki resiko tinggi terjadinya kekambuhan.

- General Faktor Risiko dan Pencegahan Kanker Limfoma 22/05/2009 14:23, General.

Faktor Risiko dan Pencegahan


Penyebab limfoma tidak diketahui. Namun terdapat beberapa faktor risiko terkait timbulnya penyakit limfoma, yaitu :

Orang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) memiliki risiko tinggi untuk timbulnya limfoma.

Orang yang sering kontak dengan herbisida atau pestisida, misalnya petani. Infeksi virus Epstein-Barr

Faktor risiko limfoma Hodgkin : - Usia. Usia terbanyak ditemukan limfoma Hodgkin adalah antara 15 40 tahun, dan > 55 tahun. - Ada keluarga yang menderita penyakit ini - Jenis kelamin laki-laki - Infeksi virus Epstein-Barr atau human T-cell lymphocytotropic virus (HTLV). HTLV menyebabkan limfoma sel T (T-cell lymphoma). - Sistem kekebalan tubuh yang menurun, seperti pada penderita HIV/AIDS atau yang mendapat terapi imunosupresan. Faktor risiko limfoma non-Hodgkin : Usia. Limfoma non-Hodgkin bisa terjadi pada usia berapa saja, namun tersering ditemukan pada usia 60-an.

Sistem pertahanan tubuh yang menurun (imunosupresan), seperti yang telah menjalani transplantasi organ.

Infeksi. Infeksi yang berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit ini adalah infeksi HIV. Infeksi malaria dan virus Epstein-Barr berhubungan dengan peningkatan risiko timbulnya limfoma jenis Burkitt. Selain itu, infeksi Helicobacter pylori juga dapat meningkatkan risiko peyakit ini.

Bahan kimia seperti pestisida atau herbsida.