Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

SISTEM INTEGUMEN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT KUSTA Dosen Pengasuh Ns. Antoni, S.Kep

Disusun Oleh:

Nama : HILI RIZA NPM : 1126010006 Jurusan/Kelas : Keperawatan / vA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) TRI MANDIRI SAKTI BENGKULU 2013/2014

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah- Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah tentang Sistem Integumen dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Pasien Kusta Dalam penyusunan makalah ini saya menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan baik dari teknik penulisan atau materi untuk itu kami mengharapkan saran dan kitik dari pembaca yang sifatnya

membangun guna penyempurnaan makalah ini. Selama menyeleaikan makalah ini saya banyak memperoleh masukan, bimbingan dan dukungan dari semua pihak untuk itu dengan segala kerendahan hati kelompok kami mengucapkan banyak terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb

Bengkulu, Desember 2013

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1.2 Tujuan ........................................................................................... 1.3 Manfaat .......................................................................................... BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian kusta ............................................................................. 2.2 Anatomi dan fisiologi integument .................................................. 2.3 Klasifikasi ...................................................................................... 2.4 Etiologi ........................................................................................... 2.5 Pathogenesis ................................................................................... 2.6 Macam-macam kusta ..................................................................... 2.7 Manisfestasi klinis.......................................................................... 2.8 Komplikasi ..................................................................................... 2.9 Penatalaksanaan ............................................................................. BAB III Asuhan Keperawatan A. Pengkajian ...................................................................................... B. Data Dasar Pengkajian Pasien ........................................................ C. Diagnosa Keperawatan .................................................................... D. Intervensi ......................................................................................... BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan .................................................................................... 4.2 Saran ............................................................................................... DAFTAR PUSTAKA

i ii iii

1 2 2

3 4 7 9 10 10 11 12 12

16 17 18 19

23 23

iii

iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Morbus Hansen atau biasa disebut sebagai lepra, kusta adalah penyakit infeksi kronis yg disebabkan oleh Mycobacterium leprae, pertama kali menyerang saraf tepi, setelah itu menyerang kulit dan organ-organ tubuh lain kecuali susunan saraf pusat. Mycobacterium Leprae ditemukan pertama kali oleh akmuer Hasen di norwegia dan memiliki sifat 1). Basil tahan asam dan tahan alkohol, 2). Obligat intraseluler, 3). Dapat diisolasi dan diinokulasi, tetapi tidak dapat dibiakkan, 4). Membelah diri antara 1221 hari, 5). Masa inkubasi rata-rata 3-5 tahun (Asing, 2010). Lepra merupakan penyakit yang menyeramkan dan ditakuti oleh karena dapat terjadi ulserasi, mutilasi, dan deformitas (Djuanda, 2005). Diperkirakan penderita didunia 10.596.000 dan di Indonesia 121.473 orang (data tahun 1992). Insiden dapat terjadi pada semua umur, tapi jarang ditemukan pada bayi, laki-laki lebih banyak dibanding wanita. Penularan Mycobacterium Leprae belum diketahui dengan jelas, tetapi diduga menular melalui saluran pernapasan (droplet infection), kontak langsung erat dan berlangsung lama. Faktor- faktor yang mempengaruhi penularan penyakit morbus hansen adalah umur, jenis kelamin, ras, genetik, iklim, lingkungan/sosial ekonomi (Asing, 2010). Penyebaran penyakit kusta dari suatu tempat ke tempat lain sampai tersebar diseluruh dunia, tampaknya disebabkan oleh perpindahan penduduk yang terinfeksi penyakit tersebut. Maka sebagai perawat profesional harus memiliki kompetensi yang baik dalam menanggulangi kejadian penyakit morbus hansen untuk memperbaiki mutu kesehatan masyarakat.

1.2 Tujuan a. Tujuan Umum Mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara komperhensif pada klien dengan penyakt morbus hansen atau yang sering kita dengar dengan penyakit lepra dan kusta. b. Tujuan Khusus Tujuan kami membuat makalah ini adalah sebagai berikut : a. b. Memahami konsep dasar penyakit morbus hansen Mampu melakukan pengkajian dan membuat asuhan keperawatan pada klien sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. c. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien sesuai dengan intervesi keperawatan. d. Mengevaluasi dan mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien morbus hansen.

1.3 Manfaat a. Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan bagi pembaca tentang kusta b. Makalah ini diharapkan menjadi panduan bagi mahasiswa dalam proses pembelajaran sistem Integumen c. Makalah ini semogadapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan serta wawasan dalam melakukan praktek keperawatan

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pengertian kusta Kusta (Lepra) adalah yang sering terjadi di negara tropis. Di Amerika Serikat, lepra dijumpai di California selatan, hawai, dan bagian di selatan. Lepra disebabkan oleh mycobacterium leprae, suatu bakteri tahan asam yang belum dibiakkan dimedia buatan. (Parakrama Chandrasoma dkk. 2005: 801) Kusta (Lepra) adalah penyakit infeksi yang kronik penyebabnya ialah Mycobacterium leprae yang intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktur respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali sususan saraf pusat. (Adhi Djuanda, 2002 : 71) Kusta (lepra atau morbus Hansen) adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium leprae (M. leprae). (Arif Mansjoer, dkk. 2000:65) Kusta penyakit yang menahun dan disebabkan oleh kuman kusta (mikobakterium leprae) yang menyerang syaraf tepi ,kulit dan jaringan tubuh lainnya.(Depkes RI,1998) Penyakit kusta adalah infeksi kronik pada manusia yang disebabkan oleh mycobacterium leprae, yang merupakan penyakit tropis menular yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia, khususnya di negara-negara sedang berkembang. Selain menimbulkan dampak psikologis penyakit inij uga mengakibatkan dampak sosial dan ekonomi ,yang disebabkan oleh sejenis kuman yang diberi nama Mycobacterium leprae, dan terutama menyerang syaraf tepi yang dapat menyebar ke kulit dan juga jaringan lainnya, seperti pada mata, selaput lendir saluran pernapasan bagian atas, otot, tulang dan kelenjar kelamin.

2.2

Anatomi dan fisiologi integument Pengertian sistem integumen : Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan,

memisahkan, melindungi,dan mengatur suhu tubuh dan mengendalikan hilangnya air dari tubuh dan mempunyai sedikit kemampuan ekskretori, sekrotiri, dan absorsi. Sistem ini sering sekali merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, kuku, sisik, kelenjar keringat dan produknya(keringat atau lendir).

Lapisan kulit terbagi menjadi 3: 1. Epidermis Merupakan bagian kulit paling luar,ketebalan epidermis berbedabeda pada berbagai bagian tubuh,yang paling tebal berukuran 1milimeter misalnya pada telapak tanggan dan telapak kaki,dan yang paling tipis berukuran 0,1 milimeter terdapat pada kelopak mata,pipi,dahi,dan perut .sel sel epidermis disebut keratinosit.Pada epidermis dibedakan atas lima lapisan kulit,yaitu: a. Lapisan tanduk(stratum corneum) Merupakan lapisan epidermis yang paling atas dan menutupi semua lapisan epidermis lebih kedalam ,lapisan tanduk terdiri atas beberapa lapisa sel pipih ,tidak memiliki inti, tidak mengalami proses metabolisme,tidak berwarna dan sedikit mngandung air. b. Lapisan bening(stratum lucidum) Merupakan lapisan barrier,terletak tepat dibawah lapisan tanduk,dan di anggap sebagai penyambung lapisan tanduk dngan lapisan berbutir ,lapisan bening terdiri dari protoplasma sel-sel jernih yang kecil kecil ,tipis dan bersipat trasnlusen sehingga dapat di lewati sinar(tembus cahaya),lapisan ini sanggat terlihat jelas pada telapak tanggan dan telapak kaki.

c. Lapisan berbutir(stratum granulosom) Tersusun oleh sel-sel keratonusit yang berbentuk kumparan yang mengandung butir-butir didalam protoplasma berbutir kasar dan berinti mengkerut. d. Lapiasan bertaju(stratum spinusom) Disebut juga dengan lapisan malpigi,terdiri atas sel-sel yang saling berhubungan dengan perantaran jembatan jembatan protoplasma berbentuk kubus . e. Lapisan benih(stratum germinativum atau stratum basale) Merupakan lapisan terbawah epidermis ,di bentuk oleh 1 baris torak(silider) dengan kedudukan tegak lurus terhadap permukaan dermis . Dermis menjadi tempat ujung saraf prasa,tempat keberadaan kandung rambut ,kelenjar keringat ,kelenjar-kelenjar palit(Sebacea) atau kelenjar minyak ,pembuluh pembuluh darah dan getah beningdan otot penegak rambut (muskulus arektor pili).Sel-sel umbi rambur berada di dasar kandung rambut terus menerus membelah dalam membentuk batang rambut.Ketebalan rata-rata kulit jangat diperkirakan antra 1-2mm dan yang paling tipis terdapat di kelopak mata seta paling tebal terdapat di telaak tanggan dan telapak kaki. Pada dasarnya dermis terdiri atas sekumpulan serat-serat elastis yang dapat membuat kulit berkerut akan kembali ke bentuk semula dan serat protein ini yang disebut kolagen. Serat-serat kolagen 2. Hipordermis atau Subcutis Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah dan limfe, saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit. Cabang-cabang dari pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menuju lapisan kulit jangat. Jaringan ikat bawah kulit berfungsi sebagai bantalan atau penyangga benturan bagi organ-organ tubuh bagian dalam, membentuk kontur tubuh dan sebagai cadangan makanan.

Ketebalan dan kedalaman jaringan lemak bervariasi sepanjang kontur tubuh, paling tebal di daerah pantat dan paling tipis terdapat di kelopak mata. Jika usia menjadi tua, kinerja liposit dalam jaringan ikat bawah kulit juga menurun. Bagian tubuh yang sebelumnya berisi banyak lemak, lemaknya berkurang sehingga kulit akan mengendur serta makin kehilangan kontur. Fungsi kulit yaitu: Fungsi proteksi Fungsi absorbsi Fungsi ekskresi Fungsi persepsi Fungsi pengaturan suhu tubuh Fungsi penbentukan pigmen Fungsi kreatinisasi Fungsi vitamin D

Gambar Integumen

2.3

Klasifikasi Klasifikasi berdasarkan Ridley dan Jopling adalah tipe TT (tuberkloid) ,BT(borderline tuberculoid),BB(mid bordeline),BL,(bordeline lepromatous),dan LL(lepromatasa).Sedangkan Depertemen Kesehatan Ditjen P2MPLP(1999). Tabel Klasifikasi PB dan MB menurut P2MPLP

No 1

Kelainan kulit dan hasil pemeriksaan bakteriologis Bercak (makula) a) Jumlah b) Ukuran c) Distribusi d) Permukaan e) Batas f) Gangguan sensibilitas

Tipe PB 1-5 Kecil dan besar Unilateral atau bilateral Asimentris Kering dan kasar Tegas Selalu ada dan jelas

Tipe MB Banyak Kecil kecil Bilateral simentris Halus ,berkilat Kurang tegas Biasanya tidak jelas,jika ada ,terjadi pada yang sudah lanjut Bercak masih berkeringat ,bulu tidak rontok

g) Kehilagan keempuaan berkeringat ,bulu rontok pada bercak

Bercak tidak berkeringat,ada bulu rontok pada bercak

Infiltrat a) Kulit b) Membran mukosa (hidung tersumbat pendarahaan di hidung)

Tidak ada Tidak pernah ada

Ada ,kadangkadang tidak ada Ada, kadangkadang tidak ada

Nodulus

Tidak ada

Kadang ada

kadang

Penebalan syrap tepi

Lebih sering terjadi dini,asimentris

Terjadi pada yang lanjut biasnya lebih dari satu simentris Terjadi pada stadium lanjut BTA positif

Depormitas (cacat)

Biasanya asimentris terjadi dini, BTA negatif

Sediaan apus

Untuk para petugas kesehatan di lapangan, bentuk klinis penyakit kusta cukup dibedakan atas dua jenis yaitu: 1. Kusta bentuk kering (tipe tuberkuloid) Merupakan bentuk yang tidak menular Kelainan kulit berupa bercak keputihan sebesar uang logam atau lebih, jumlahnya biasanya hanya beberapa, sering di pipi, punggung, pantat, paha atau lengan. Bercak tampak kering, perasaan kulit hilang sama sekali, kadang-kadang tepinya meninggi Pada tipe ini lebih sering didapatkan kelainan urat saraf tepi pada, sering gejala kulit tak begitu menonjol tetapi gangguan saraf lebih jelas Komplikasi saraf serta kecacatan relatif lebih sering terjadi dan timbul lebih awal dari pada bentuk basah Pemeriksaan bakteriologis sering kali negatif, berarti tidak ditemukan adanya kuman penyebab Bentuk ini merupakan yang paling banyak didapatkan di indonesia dan terjadi pada orang yang daya tahan tubuhnya terhadap kuman kusta cukup tinggi 2. Kusta bentuk basah (tipe lepromatosa) Merupakan bentuk menular karena banyak kuman dapat ditemukan baik di selaput lendir hidung, kulit maupun organ tubuh lain

Jumlahnya lebih sedikit dibandingkan kusta bentuk kering dan terjadi pada orang yang daya tahan tubuhnya rendah dalam menghadapi kuman kusta

Kelainan kulit bisa berupa bercak kamarahan, bisa kecil-kecil dan tersebar diseluruh badan ataupun sebagai penebalan kulit yang luas (infiltrat) yang tampak mengkilap dan berminyak. Bila juga sebagai benjolan-benjolan merah sebesar biji jagung yang sebesar di badan, muka dan daun telinga

Sering disertai rontoknya alis mata, menebalnya cuping telinga dan kadang-kadang terjadi hidung pelana karena rusaknya tulang rawan hidung

Kecacatan pada bentuk ini umumnya terjadi pada fase lanjut dari perjalanan penyakit Pada bentuk yang parah bisa terjadi muka singa (facies leonina) Diantara kedua bentuk klinis ini, didapatkan bentuk pertengahan

atau perbatasan (tipe borderline) yang gejala-gejalanya merupakan peralihan antara keduanya. Bentuk ini dalam pengobatannya dimasukkan jenis kusta basah.

2.4

Etiologi Kusta merupakan basil tahan asam (BTA), bersifat obligat intraselular, menyerang saraf perifer, kulit, dan organ lain seperti mukosa, saluran nafas bagian atas, hati, dan sumsum tulang kecuali susunan saraf pusat. Masa membelah diri M. leprae 12-21 hari dan masa tunasnya antara 40 hari-40 tahun. (Arif Mansjoer, dkk. 2000:65) Kuman penyebabnya adalah mycobacterium leprae yang ditemukan oleh G.A Hansen pada tahun 1874 di Norwegia, yang sampai sekarang belum juga dapat dibiakkan dalam media artificial. M. leprae bebentuk basil dengan ukuran 3-8 m x 0,5 m, tahan asam dan alcohol, serta positifGram. (Adhi Djuanda, 2002 : 71)

2.5

Pathogenesis Setelah kusta masuk kedalam tubuh, perkembangan penyakit kusta bergantung pada kerentanan seseorang. Respon tubuh setelah masa tunas dilampaui tergantung pada derajat sistem imunitas selular (cellular mediated immune) pasien. Kalau system imunitas selular tinggi penyakit berkembang kearah tuberkuloid dan bila rendah, berkembang arah lepromatosa. M. leprae berpredileksi didaerah-daerah yang relatif lebih dingin, yaitu daerah akral dengan vaskularisasi yang sedikit. Derajat penyakit tidak selalu sebanding dengan derajat infeksi karena respon imun pada tiap pasien berbeda. Gejala klinis lebih sebanding dengan tingkat reaksi selular dari pada itensitas infeksi. Oleh karena itu, penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit imunologi.

2.6

Macam-macam kusta a. kusta Tuberkuloid Kusta tuberkuloid terjadi pada pasien yang memiliki respon sel T yang baik terhadap bakteri. Organisme ini terletak ditempat masuk, jumlah lesi kecil, dan penyebaran bakterimia jarang terjadi. Secara klinik, lesi kulit merupakan macula anestetik hipopigmentasi. (macula adalah daerah datar, berbatas tegas yang mengalami perubahan warna). Keterlibatan saraf perifer besar (ulnaris, peronealis komunis, aurikularis magnus) menimbulkan penebalan dan palsi saraf yang dapat diraba (lumpuh pada pada tangan atau Wristdrop dan kaki atau footdrop merupakan gambaran yang sering. Lepra tuberkuloid memiliki perjalanan penyakit yang lambat tanpa pengobatan. Lepra ini dapat sembuh bila diobati. b. kusta Lepromatosa Kusta ini terjadi pada pasien pada pasien yang memiliki kadar imunitas selular rendah. Pada keadaan tidak adanya respon sel T yang efektif, bakteri berkembang tidak terkendali didalam makropag kulit, membentuk sel lepra besar yang berbusa yang banyak ditemukan pada

10

bakteri tahan asam. Agregasi makropag menyebabkan penebalan noduralitas kulit. Limposit ada tetapi tidak banyak. Bakteri menyebar melalui aliran darah, menimbulkan lesi didalam kulit, mata, saluran napas atas, dan testis. Bakteri lepra timbul terutama pada suhu dibawah 370c, dan organ dalam (limpa dan hati) yang jarang terserang pada suhu tubuh inti. Lepra lepromatosa merupakan penyakit serius yang menyebabkan kerusakan luas pada jaringan. Terkenanya jari, hidung dan telinga menimbulkan perubahan bentuk pengobatan memuaskan.tidak c. orang lain untuk menurunkan insidens penyakit kusta Borderline Kusta borderline memiliki gambaran antara lepra lepromatosa dan tuberkulosa. (Parakrama Chandrasoma dkk. 2005: 801)

2.7

Manisfestasi klinis Diagnosis didasarkan pada gambaran klinis, bakterioskopis, dan histopatologis. Menurut WHO (1995), diagnosis kusta ditegakkan bila terdapat satu dari tanda cardinal berikut: 1. Adanya lesi kulit yang khas dan kehilangan sensibilitas. Lesi kulit dapat tunggal atau multipel, biasanya hipopigmentasi tetapi kadang-kadang lesi kemerahan atau berwarna tembaga. Lesi dapat bervariasi tetapi umumnya berupa makula, papul, atau nodul. 2. Kehilangan sensibilitas pada lesi kulit merupakan gambaran khas. Kerusakan saraf terutama saraf tepi, bermanifestasi sebagai kehilangan sensibilitas kulit dan kelemahan otot. Penebalan saraf tepi saja tanpa disertai kehilangan sensibilitas dan/atau kelemahan otot juga

merupakan tanda kusta. 3. Pada beberapa kasus ditemukan basil tahan asam dari kerokan jaringan kulit. Bila ragu-ragu maka dianggap sebagai kasus dicurigai dan diperiksa ulangn setiap 3 bulan sampai ditegakkan diagnosis kusta atau penyakit lain.

11

2.8

Komplikasi Cacat merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada pasien kusta akibat kerusakan fungsi saraf tepi maupun karena neuritis sewaktu terjadi reaksi kusta.

2.9

Penatalaksanaan 1. Terapi Medik Tujuan utama program pemberantasan kusta adalah

menyembuhkan pasien kusta dan mencegah timbulnya cacat serta memutuskan mata rantai penularan dari pasien kusta terutama tipe yang menular kepada. Program multy drug therapy (MDT) dengan kombinasi rifampisin, klofazimin, dan DDS dimulai tahun 1981. program ini bertujuan untuk mengatasi resistensi dapson yang semakin meningkat, mengurangi ketidaktaatan pasien, menurunkan angka putus obat, dan mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan. Rejimen pengobatan MDT di indonesia sesuai rekomendasi WHO (1995) sebagai berikut : 1. Tipe B Jenis obat dan dosis untuk dewasa : Rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas. DSS tablet 100 mg/hari diminum dirumah. Pengobatan 6 dosis diselesaikan dalam 6-9 bulan dan setelah selesai minum 6 dosis dinyatakan RFT (released from treatment = berhenti minum obat kusta) meskipun secara klinis lesinya masih aktif. Menurut WHO (1995) tidak lagi dinyatakan RFT tetapi menggunakan istilah completion of treatment cure dan pasien tidak lagi dalam pengawasan. 2. Tipe MB Jenis obat dan dosis : Rifampisin 600 mg/bulan diminum didepan petugas.

12

Klofazimin 300 mg/bulan diminum didepan petugas dilanjutkan dengan klofazimin 50 mg/hari diminum dirumah. DSS 100 mg/hari diminum dirumah. Pengobatan 24 dosis diselesaikan dalam waktu maksimal 36 bulan. Sesudah selesai minum 24 dosis dinyatakan RFT meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan pemeriksaan bakteri positif. Menurut WHO (1998) pengobatan MB diberikan untuk 12 dosis yang diselesaikan dalam 12-18 bulan dan pasien langsung dinyatakan RFT 3. Dosis untuk anak Klofazimin: Umur dibawah 10 tahun : o Bulanan 100mg/bln o Harian 50mg/2kali/minggu Umur 11-14 tahun o Bulanan 100mg/bln o Harian 50mg/3kali/minggu DDS:1-2mg /Kg BB Rifampisin:10-15mg/Kg BB 4. Pengobatan MDT terbaru Metode ROM adalah pengobatan MDT terbaru. Menurut

WHO(1998), pasien kusta tipe PB dengan lesi hanya 1 cukup diberikan dosis tunggal rifampisin 600 mg, ofloksasim 400mg dan minosiklin 100 mg dan pasien langsung dinyatakan RFT, sedangkan untuk tipe PB dengan 2-5 lesi diberikan 6 dosis dalam 6 bulan. Untuk tipe MB diberikan sebagai obat alternatif dan dianjurkan digunakan sebanyak 24 dosis dalam 24 jam. 5. Putus obat Pada pasien kusta tipe PB yang tidak minum obat sebanyak 4 dosis dari yang seharusnya maka dinyatakan DO, sedangkan pasien kusta

13

tipe MB dinyatakan DO bila tidak minum obat 12 dosis dari yang seharusnya 2. Perawatan Umum Perawatan pada morbus hansen umumnya untuk mencegah kecacatan. Terjadinya cacat pada kusta disebabkan oleh kerusakan fungsi saraf tepi, baik karena kuman kusta maupun karena peradangan sewaktu keadaan reaksi netral. a) Perawatan mata dengan lagophthalmos o Penderita memeriksa mata setiap hari apakah ada kemerahan atau kotoran o Penderita harus ingat sering kedip dengan kuat o mata perlu dilindungi dari kekeringan dan debu b) Perawatan tangan yang mati rasa o Penderita memeriksa tangannya tiap hari untuk mencari tandatanda luka, melepuh o Perlu direndam setiap hari dengan air dingin selama lebih kurang setengah jam o Keadaan basah diolesi minyak o Kulit yang tebal digosok agar tipis dan halus o Jari bengkok diurut agar lurus dan sendi-sendi tidak kaku o Tangan mati rasa dilindungi dari panas, benda tajam, luka c) Perawatan kaki yang mati rasa o Penderita memeriksa kaki tiap hari o Kaki direndam dalam air dingin lebih kurang jam o Masih basah diolesi minyak

14

o Kulit yang keras digosok agar tipis dan halus o Jari-jari bengkok diurut lurus o Kaki mati rasa dilindungi d) Perawatan luka o Luka dibersihkan dengan sabun pada waktu direndam o Luka dibalut agar bersih o Bagian luka diistirahatkan dari tekanan o Bila bengkak, panas, bau bawa ke puskesmas Tanda penderita melaksanakan perawatan diri: 1) Kulit halus dan berminyak 2) Tidak ada kulit tebal dan keras 3) Luka dibungkus dan bersih 4) Jari-jari bengkak menjadi kaku

15

BAB III Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian 1. Biodata Umur memberikan petunjuk mengenai dosis obat yang diberikan, anakanak dan dewasa pemberian dosis obatnya berbeda. Pekerjaan, alamat menentukan tingkat sosial, ekonomi dan tingkat kebersihan lingkungan. Karena pada kenyataannya bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah. 2. Riwayat Penyakit Sekarang Biasanya klien dengan morbus hansen datang berobat dengan keluhan adanya lesi dapat tunggal atau multipel, neuritis (nyeri tekan pada saraf) kadang-kadang gangguan keadaan umum penderita (demam ringan) dan adanya komplikasi pada organ tubuh. 3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu Pada klien dengan morbus hansen reaksinya mudah terjadi jika dalam kondisi lemah, kehamilan, malaria, stres, sesudah mendapat imunisasi 4. Riwayat Kesehatan Keluarga Morbus hansen merupakan penyakit menular yang menahun yang disebabkan oleh kuman kusta ( mikobakterium leprae) yang masa inkubasinya diperkirakan 2-5 tahun. Jadi salah satu anggota keluarga yang mempunyai penyakit morbus hansen akan tertular. 5. Riwayat Psikososial Fungsi tubuh dan komplikasi yang diderita. Klien yang menderita morbus hansen akan malu karena sebagian besar masyarakat akan beranggapan bahwa penyakit ini merupakan penyakit kutukan, sehingga klien akan menutup diri dan menarik diri, sehingga klien mengalami gangguan jiwa pada konsep diri karena penurunan

16

B. Data Dasar Pengkajian Pasien 1. Aktivitas Aktifitas sehari-hari terganggu karena adanya kelemahan pada tangan dan kaki maupun kelumpuhan. Klien mengalami ketergantungan pada orang lain dalam perawatan diri karena kondisinya yang tidak memungkinkan. 2. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum klien biasanya dalam keadaan demam karena reaksi berat pada tipe I, reaksi ringan, berat tipe II morbus hansen. Lemah karena adanya gangguan saraf tepi motorik. a. Sistem penglihatan. Adanya gangguan fungsi saraf tepi sensorik, kornea mata anastesi sehingga reflek kedip berkurang jika terjadi infeksi mengakibatkan kebutaan, dan saraf tepi motorik terjadi kelemahan mata akan lagophthalmos jika ada infeksi akan buta. Pada morbus hansen tipe II reaksi berat, jika terjadi peradangan pada organ-organ tubuh akan mengakibatkan irigocyclitis. Sedangkan pause basiler jika ada bercak pada alis mata maka alis mata akan rontok. b. Sistem pernafasan. Klien dengan morbus hansen hidungnya seperti pelana dan terdapat gangguan pada tenggorokan. c. Sistem persarafan: Kerusakan fungsi sensorik Kelainan fungsi sensorik ini menyebabkan terjadinya kurang/ mati rasa. Alibat kurang/ mati rasa pada telapak tangan dan kaki dapat terjadi luka, sedang pada kornea mata mengkibatkan kurang/ hilangnya reflek kedip. Kerusakan fungsi motorik Kekuatan otot tangan dan kaki dapat menjadi lemah/ lumpuh dan lama-lama ototnya mengecil (atropi) karena tidak

dipergunakan. Jari-jari tangan dan kaki menjadi bengkok dan akhirnya dapat terjadi kekakuan pada sendi (kontraktur), bila

17

terjadi pada mata akan mengakibatkan mata tidak dapat dirapatkan (lagophthalmos). Kerusakan fungsi otonom Terjadi gangguan pada kelenjar keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit menjadi kering, menebal, mengeras dan akhirnya dapat pecah-pecah. 3. Sistem musculoskeletal Adanya gangguan fungsi saraf tepi motorik adanya kelemahan atau kelumpuhan otot tangan dan kaki, jika dibiarkan akan atropi. 4. Sistem integument Terdapat kelainan berupa hipopigmentasi (seperti panu), bercak eritem (kemerah-merahan), infiltrat (penebalan kulit), nodul (benjolan). Jika ada kerusakan fungsi otonom terjadi gangguan kelenjar keringat, kelenjar minyak dan gangguan sirkulasi darah sehingga kulit kering, tebal, mengeras dan pecah-pecah. Rambut: sering didapati kerontokan jika terdapat bercak.

C. Diagnosa Keperawatan a. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan lesi dan proses inflamasi b. Gangguan rasa nyaman, nyeri yang berhubungan dengan proses inflamasi jaringan c. Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan fisik d. Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan dengan

ketidakmampuan dan kehilangan fungsi tubuh

18

D. Intervensi No Diagnosa 1 Integritas kulit yang berhubungan dengan lesi dan proses inflamasi. Tujuan / Kriteria Hasil Intervensi / Rasional 1. Tujuan : setelah dilakukan 1. Intervensi:Kaji/ catat tindakan keperawatan warna lesi,perhatikan jika proses inflamasi berhenti ada jaringan nekrotik dan dan berangsur-angsur kondisi sekitar luka sembuh. Rasional:Memberikan inflamasi dasar tentang terjadi proses inflamasi 2. Kriteria hasil : dan atau mengenai 1) Menunjukkan sirkulasi daerah yang regenerasi jaringan. terdapat lesi. 1) encapai penyembuhan 2. Intervensi: Berikan tepat waktu pada lesi perawatan khusus pada daerah yang terjadi inflamasi Rasional: Menurunkan terjadinya penyebaran inflamasi pada jaringan sekitar 3. Intervensi : Evaluasi warna lesi dan jaringan yang terjadi inflamasi perhatikan adakah penyebaran pada jaringan sekitar Rasional: Mengevaluasi perkembangan lesi dan inflamasi dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi. 4. Intervensi : Bersihan lesi dengan sabun pada waktu direndam Rasional: Kulit yang terjadi lesi perlu perawatan khusus untuk mempertahankan kebersihan lesi 5. Intervensi : Istirahatkan bagian yang terdapat lesi dari tekanan Rasional:Tekanan pada lesi bisa maenghambat proses penyembuhan

19

Gangguan rasa nyaman, nyeri yang berhubungan dengan proses inflamasi jaringan

Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan kelemahan

1. Tujuan : setelah dilakukan 1. Intervensi : Kaji/ catat tindakan keperawatan warna lesi,perhatikan jika proses inflamasi berhenti ada jaringan nekrotik dan dan berangsur-angsur kondisi sekitar luka sembuh. Rasional: Memberikan 2. Kriteria hasil : inflamasi dasar tentang 1) Menunjukkan terjadi proses inflamasi regenerasi jaringan dan atau mengenai 2) Mencapai sirkulasi daerah yang penyembuhan tepat terdapat lesi waktu pada lesi 2. Intervensi : Berikan perawatan khusus pada daerah yang terjadi inflamasi Rasional: Menurunkan terjadinya penyebaran inflamasi pada jaringan sekitar. 3. Intervensi : Evaluasi warna lesi dan jaringan yang terjadi inflamasi perhatikan adakah penyebaran pada jaringan sekitar Rasional: Mengevaluasi perkembangan lesi dan inflamasi dan mengidentifikasi terjadinya komplikasi 4. Intervensi : Bersihan lesi dengan sabun pada waktu direndam Rasional: Kulit yang terjadi lesi perlu perawatan khusus untuk mempertahankan kebersihan lesi 5. Intervensi : Istirahatkan bagian yang terdapat lesi dari tekanan Rasional:Tekanan pada lesi bisa maenghambat proses penyembuhan 1. Tujuan: Setelah dilakukan 1. Intervensi : Pertahankan tindakan keperawatan posisi tubuh yang nyaman kelemahan fisik dapat Rasional: Meningkatkan

20

fisik.

Gangguan konsep diri (citra diri) yang berhubungan dengan ketidakmampuan dan kehilangan fungsi tubuh

teratasi dan aktivitas dapat posisi fungsional pada dilakukan ekstremitas 2. Kriteria hasil : 2. Intervensi : Perhatikan 1. Pasien dapat sirkulasi, gerakan, melakukan aktivitas kepekaan pada kulit sehari-hari, Rasional: Oedema dapat 2. Kekuatan otot penuh mempengaruhi sirkulasi pada ekstremitas 3. Intervensi : Lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, diawali dengan pasif kemudian aktif Rasional: Mencegah secara progresif mengencangkan jaringan, meningkatkan pemeliharaan fungsi otot/ sendi 4. Intervensi : Jadwalkan pengobatan dan aktifitas perawatan untuk memberikan periode istirahat Rasional: Meningkatkan kekuatan dan toleransi pasien terhadap aktifitas 5. Intervensi : Dorong dukungan dan bantuan keluaraga/ orang yang terdekat pada latihan 6. Rasional: Menampilkan keluarga / oarng terdekat untuk aktif dalam perawatan pasien dan memberikan terapi lebih konstan 1. Tujuan:setelah dilakukan 1. Intervensi:Kaji makna tindakan keperawatan perubahan pada pasien tubuh dapat berfungsi Rasional: Episode secara optimal dan konsep traumatik mengakibatkan diri meningkat perubahan tiba-tiba. Ini 2. Kriteria hasil: memerlukan dukungan 1. Pasien menyatakan dalam perbaikan optimal penerimaan situasi diri 2. Intervensi : Terima dan 2. Memasukkan akui ekspresi frustasi,

21

perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri negatif

ketergantungan dan kemarahan. Perhatikan perilaku menarik diri. Rasional: penerimaan perasaan sebagai respon normal terhadap apa yang terjadi membantu perbaikan 3. Intervensi : Berikan harapan dalam parameter situasi individu, jangan memberikan kenyakinan yang salah Rasional: meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk menyusun tujuan dan rencana untuk masa depan berdasarkan realitas 4. Intervensi : Berikan penguatan positif Rasional: Kata-kata penguatan dapat mendukung terjadinya perilaku koping positif 5. Intervensi : Berikan kelompok pendukung untuk orang terdekat Rasional : meningkatkan ventilasi perasaan dan memungkinkan respon yanglebih membantu pasien

E. Evaluasi Evaluasi yang kan dilakukan yaitu : 1. Memiliki pemahaman terhadap perawatan kulit terutama pada penyakit kusta 2. Mengikuti terapi dan dapat menjelaskan alasan terapi 3. Melaksanakan perawatan dan pembersihan lesi atau inflamasi sesuai program 4. Menggunakan obat yang sesuai dan tepat

22

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Kusta (Lepra) adalah penyakit infeksi yang kronik penyebabnya ialah Mycobacterium leprae yang intraselular obligat. Saraf perifer sebagai afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktur respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain kecuali sususan saraf pusat. Terdiri atas beberapa macam yaitu Lepra Tuborkoloid, Lepra Lepromatosa, dan Lepra Borderline. Gejala yang ditimbulkan dapat berupa lesi kulit, penebalan dan perubahan sensibilitas kulit, serta dapat terjadi kelemahan otot akibat kerusakan saraf tepi. 4.2 Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis mengharapkan kepada para mahasiswa keperawatan khususnya, agar dapat memahami dan menambah pengetahuan kita tentang Lepra dalam mata kuliah sistem integumen. Serta diharapkan kritik dan saran yang membangaun dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini.

23

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi III. Jakarta : EGC Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC Mansjoer, arif dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3 Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius Chandrasoma, Parakrama dan Clive R. Taylor. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi Edisi 2. Jakarta : EGC Djuanda, Adhi. 2002. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 3. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

24