Anda di halaman 1dari 11

Apakah Quran Mengandung Mukjizat Saintifik?

(Bagian 1)
12 September 2013 pukul 19:06 Apakah Quran Mengandung Mukjizat Saintifik? Pendekatan Baru tentang cara untuk Rekonsiliasi dan Diskusikan Ilmu dalam Al Al-Quran Sejak tahun delapan puluhan tumbuh gerakan dari kalangan akademisi dan apologis Muslim yang menggunakan sains untuk meneguhkan karakter kemukjizatan dan kewahyuan pada wacana mengenai Alquran. Pada tingkat akar rumput, umat Islam di seluruh dunia, terutama di Barat, mereka mencoba mengartikulasikan kebenaran Islam dengan menggunakan ayat-ayat yang mengisyaratkan sains sebagai bukti keilahian sumber al Al-Quran itu. Internet dipenuhi dengan website, esai, video, dan tulisan tentang ayat-ayat saintifik dalam Al-Quran . Sebuah pencarian Google dengan kata kunci "Al-Quran dan sains" menghasilkan lebih dari 40 juta hasil pencarian.[1] Gerakan ini memiliki asal-usul klasik dan modern. Tradisi keilmuan klasik Islam pernah masuk dalam perdebatan mengenai penggunakan sains sebagai alat tafsir ayat-ayat Alquran. Pada masa modern, yaitu dekade delapan puluhan, ekspresi apologetis gerakan ini lahir. Saya berpendapat ada dua peristiwa utama yang mendorong munculnya gerakan ini. Yang pertama adalah penerbitan buku "Bible, the Qurn and Science" pada tahun 1976 yang ditulis Dr Maurice Bucaille, dan yang kedua adalah video tahun 1980 This is The Truth yang diproduseri Abdul Majid az-Zindani. Dr Bucaille dalam bukunya berpendapat tidak ada kesalahan saintifik dalam Al-Quran , sedang bible penuh ketidakakuratan saintifik. Buku Dr Bucaille menjadi best seller di dunia Muslim dan telah diterjemahkan ke banyak bahasa. Meskipun telah menghadapi kritik akademik[2], buku ini masih populer dibaca dan digunakan sebagai acuan bagi apologetika dan dakwah Islam. Abdul Majid az-Zindani, pendiri Commission on Scientific Signs in the Qurn and Sunnah, memproduksi sebuah video berjudul "This is the Truth". Az-Zindani mengundang akademisi Barat terkemuka untuk menghadiri salah satu konferensi mereka. Pada konferensi tersebut, azZindani mengklaim sekelompok saintis non-Muslim terkemuka berbagai bidang membenarkan fakta adanya kemukjizatan saintifik dalam Al-Quran . Namun, komisi ini dikritik karena dianggap telah menyebarkan pernyataan di luar konteks dan menyesatkan demi membenarkan narasinya.[3] Baru-baru ini seorang blogger video dan komentator yang ateis menghubungi secara pribadi beberapa ilmuwan yang menghadiri konferensi dan melakukan wawancara dengan mereka. Wawancara itu direkam dan diunggah di YouTube. Semua ilmuwan yang diwawancarai menyatakan bahwa pernyataan mereka telah diambil di luar konteks, dan bahwa tidak ada mukjizat pada isyarat saintifik yang ada dalam wacana mengenai Alquran.[4] Berawal dari sana, jutaan buku dan pamflet yang mengklaim bahwa ada kemukjizatan saintifik dalam Al-Quran dicetak, dan tak terhitung non-Muslim telah masuk Islam sebagai buahnya. Gerakan ini pun berkembang mempengaruhi dunia akademik, misalnya buku akademik diterbitkan oleh Curzon yang berjudul "Qurn Translation: Discourse, Texture and Exegesis" menampilkan beberapa halaman untuk topik ini.[5] Tokoh populer yang terkenal seperti Dr Zakir Naik[6] dan Yusuf Estes[7] juga menggunakan narasi kemukjizatan saintifik untuk membenarkan kewahyuan Al-Quran .

Setelah rutin dipopulerkan selama beberapa dekade terakhir, kini berkembang gerakan perlawanan yang mencoba mengungkap apa yang disebut-sebut sebagai isyarat saintifik, dan argumen mereka tampaknya lebih mengena, begitu pula dengan popularitasnya yang terus tumbuh. Sejumlah besar orang yang keluar dari Islam (banyak di antara mereka berkomunikasi secara pribadi dengan saya) mengutip gagasan gerakan perlawanan tersebut sebagai alasan meninggalkan agama ini. Namun demikian, saya percaya bahwa kemurtadan tidak sepenuhnya keputusan intelektual melainkan lebih pada masalah spiritual dan psikologis. Hal ini bisa mencakup pada kurangnya hubungan spiritual dengan Allah dan patah semangat berislam justru karena pengalaman buruk bersama Muslim lain dan masyarakat Muslim. Sayangnya, narasi kemukjizatan saintifik telah mempermalukan para apologis Muslim secara intelektual, termasuk saya sendiri. Beberapa tahun yang lalu saya bersama beberapa aktivis pergi ke Irlandia untuk berinteraksi dengan para peserta dan pembicara World Atheist Convention. Sepanjang konvensi, kami membuka lapak di luar venue dan hasilnya kami berinteraksi secara positif dengan ratusan ateis, termasuk dengan akademisi ateis populer, Profesor PZ Myers dan Profesor Richard Dawkins. Percakapan dadakan kami dengan Profesor Myers berakhir pada pembicaraan mengenai keberadaan Allah dan kewahyuan al Al-Quran. Topik embriologi pun tiba, Profesor Myers sebagai ahli pada bidangnya menantang narasi kami. Dia mengklaim bahwa Al-Quran tidak mendahului kesimpulan saintifik modern pada masalah ini. Sebagai hasil dari posting video[8] secara on-line, kami menghadapi kecaman intelektual besarbesaran. Kami menerima email yang tak terhitung dari Muslim dan non-Muslim. Banyak Muslim menjadi bingung dan bimbang, sedang non-Muslim justru geli dengan keseluruhan pendekatan. Karena itu, saya memutuskan untuk mengkompilasi dan menulis mengenai Al-Quran dan embriologi dengan panjang lebar, dengan maksud menanggapi keberatan-keberatan itu, baik yang populer maupun akademis.[9] Selama proses penulisan, saya mengandalkan para mahasiswa dan sarjana pemikiran Islam untuk memverifikasi referensi dan untuk memberikan umpan balik pada hal-hal yang saya harus bergantung pada sumber sekunder dan tersier. Sayangnya, mereka tidak memeriksanya secara teliti dan tampaknya mengandalkan kepercayaan pada apologis Muslim lainnya. Ketika diterbitkan, tulisan tersebut ditempatkan di bawah mikroskop oleh para aktivis ateis.[10] Meskipun ada beberapa poin yang salah mengerti, namun mereka memunculkan beberapa bantahan yang penting. Sejak saat itu, saya telah menghapus tulisan tersebut dari website saya. Dalam perenungan jika hal ini tidak pernah terjadi, saya mungkin tidak akan menulis esai ini sekarang. Ini semua adalah kurva belajar, sebuah bagian penting dari pengembangan integritas intelektual. Dari sisi ini, esai ini bertujuan memberikan perspektif rasional dan Islami tentang bagaimana memahami ayat-ayat saintifik dalam Al-Quran . Sudah saatnya lebih banyak orang dari

komunitas Muslim berbicara mengenai pendekatan bermasalah dalam membenarkan kemukjizatan Al-Quran . Hal ini telah membuat malu para apologis Muslim secara intelektual dan telah terbongkarnya kekurangpaduan cara mereka dalam merumuskan argumen. Secara signifikan, banyak Muslim yang masuk Islam karena narasi mukjizat saintifik, telah meninggalkan agama ini karena menemukan argumen bantahan. Esai ini bermaksud menjelaskan bagaimana narasi kemukjizatan saintifik itu bermasalah dan tidak koheren, dan saya bermaksud memperlihatkan pendekatan baru untuk mendamaikan dan mendiskusikan sains dalam Al-Quran tersebut. Harus dicatat bahwa saya tidak menyatakan Al-Quran itu tidak akurat atau salah, atau bahwa tidak ada yang luar biasa dari ungkapan Al-Quran mengenai fenomena alam. Saya hanya mencoba memperlihatkan bahaya klaim bahwa beberapa ayat Alquran menjadi mukjizat karena mengandung pernyataan yang saintifik. Untuk alasan ini, saya menawarkan pendekatan baru untuk topik ini yang lebih mengena serta lulus ujian dan masalah intelektual yang dihadapi narasi kemukjizatan saintifik. Ringkasan klaim mukjizat saintifik Mukjizat saintifik Al-Quran disajikan dengan berbagai cara berbeda tetapi memiliki implikasi filosofis yang sama, yaitu: 1. Nabi Muhammad tidak memiliki akses pengetahuan saintifik yang disebutkan Al-Quran , karena itu pengetahuan tersebut pasti dari Tuhan. 2. Tak seorang pun di saat wahyu turun (pada abad ke-7) memiliki akses teknologi yang diperlukan untuk memahami atau memverifikasi pengetahuan saintifik dalam Al-Quran , karena itu pengetahuan tersebut pasti dari Tuhan. 3. Ayat-ayat Al-Quran turun pada masa sains masih primitif dan tidak ada manusia yang bisa mengungkapkan kebenaran yang ada dalam Al-Quran , karena itu pengetahuan tersebut pasti dari Tuhan. Ada berbagai alasan mengapa ekspresi kemukjizatan saintifik di atas bermasalah dan tidak koheren. Ini termasuk, 1. Kesalahan Pertengahan Tak Terdistribusi (The Fallacy of the Undistributed Middle) 2. Sejarah yang tak akurat 3. Tujuan penciptaan pada ayat-ayat Al-Quran 4. Saintisme, Masalah Induksi dan Empirisme 5. Ayat yang tidak "Saintifik" 6. Mujizat, Kesederhanaan dan Catatan tentang tafsir Al-Quran Masing-masing poin akan dijelaskan secara rinci. (bersambung) -------------------------[1] https://www.google.co.uk/search?q=quran+science&oq=quran+science&aqs=chrome.0.69i57j0l 3j69i61j69i62.6621j0&sourceid=chrome&ie=UTF-8 [2] Bigliardi, S. (2011), Snakes from Staves? Science, Scriptures, and the Supernatural in Maurice Bucaille. Zygon, 46: 793805. doi: 10.1111/j.1467-9744.2011.01218.x

[3] Strange Bedfellows: Western Scholars Play Key Role in Touting `Science of the Quran by Daniel Golden Wall Street Journal, January 23, 2002. pg. A.1, posted on the website of California State University, Fullerton by Dr. James Santucci. [4] Here is an example: Alfred Krner Quote mined scientist denounces Quran miracle claims http://www.youtube.com/watch?v=ClHuG880pqU, accessed 9:20AM, 26 June 2013 [5] Written by the academic linguist Hussein Abdul-Raof. Refer to pages 166 169. [6] Dr. Zakir Naik Quran & Modern Science: http://www.youtube.com/watch?v=r5h6CNhtVls. [7] Yusuf Estes Science in Islam: http://www.youtube.com/watch?v=G6ehcirhZ-g. [8] See http://www.youtube.com/watch?v=3T5Pm7qLH50. [9] You can download a copy here http://www.iera.org.uk/downloads/Embryology_in_the_Quran_v2.pdf. [10] You can download a copy here http://www.scribd.com/doc/110224187/2-101612Embryology-in-the-Quran-Much-Ado-About-Nothing.

diterjemahkan dari http://www.hamzatzortzis.com/essays-articles/exploring-the-quran/does-thequran-contain-scientific-miracles-a-new-approach/

Apakah Quran Mengandung Mukjizat Saintifik? (Bagian 2)


13 September 2013 pukul 14:57 1. Kesalahan Pertengahan Tak Terdistribusi Klaim (adanya mukjizat) sains dalam Al-Quran memiliki kesalahan logika yang disebut kesalahan pertengahan tak terdistribusi (the fallacy of the undistributed middle). Kesalahan ini terjadi di mana dua hal yang berbeda disamakan karena kesamaan basis pertengahan yang disalahgunakan. Di bawah ini adalah contoh yang biasa disajikan: 1. Semua A adalah C 2. Semua B adalah C 3. Karena itu, semua A adalah B Kesalahan di atas ada pada kesimpulan. Walau A dan B berbagi kategori C bersama, tidak berarti bahwa A sama dengan B. Contoh lain yaitu: 1. John membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup 2. Anjing saya membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup 3. Karena itu, John adalah anjing saya Seperti yang bisa dilihat di atas, basis pertengahan yang disalahgunakan adalah oksigen. Walaupun benar pada dua tempat, yaitu baik John dan anjing saya membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup, tidak berarti bahwa John adalah anjing saya. Sebagian besar argumen adanya sains dalam Al-Quran melakukan kesalahan logika jenis ini. Di bawah ini adalah ringkasannya:

1. Sebuah deskripsi fakta saintifik mengenai A memiliki sifat C 2. Sebuah deskripsi Al-Quran mengenai B memiliki sifat C 3. Karena itu, deskripsi Al-Quran mengenai B sedang menggambarkan A Berikut ini beberapa contoh spesifik: 1. Salah satu fakta saintifik dalam embriologi adalah implantasi blastosis pada dinding uterus (uterine wall). Implantasi tersebut dapat disifatkan sebagai tempat yang aman. 2. Al-Quran menggunakan kata-kata qarrin[11] makn[12], yang dapat berarti tempat yang aman. 3. Karena itu, Al-Quran sedang menggambarkan fakta saintifik implantasi blastosis. Dalam silogisme di atas, tidak berarti bahwa kata-kata qarrin makn (tempat yang aman) menyiratkan proses implantasi hanya karena berbagi penyifatan sebagai suatu tempat yang aman. Argumen ini hanya akan valid jika semua deskripsi qarrin makn menunjukkan dan menjelaskan proses implantasi. Karena qarrin makn juga dapat menunjukkan makna rahim (womb)[13], yang merupakan pemahaman kata qarrin makn abad ke-7, argumen ini jadi tidak valid. Korelasi antara kata dalam Al-Quran dengan suatu proses atau deskripsi saintifik tertentu tidak dapat serta merta memastikan makna yang dituju dari ayat ini. Contoh lain meliputi : 1. Adalah fakta saintifik bahwa atmosfer bumi membantu menghancurkan meteorit ketika mereka mendekati bumi, menyaring sinar cahaya yang merusak, melindungi bumi dari suhu dingin angkasa, dan Van Allen Belt-nya bertindak seperti sebagai perisai melawan radiasi berbahaya. Atmosfer bumi dapat disifatkan sebagai atap pelindung. 2. Al-Quran menggunakan kata-kata saqfan mafan, yang berarti atap pelindung.[14] 3. Karena itu, Al-Quran sedang menjelaskan fungsi atmosfer bumi. Sekali lagi, silogisme di atas tidak valid. Tidak serta merta kata-kata saqfan mafan, yang menunjukkan makna atap pelindung, sedang menjelaskan fungsi atmosfer bumi. Hal ini karena saqfan mafan juga dapat menunjukkan makna atap fisik. Beberapa tafsir Al-Quran menjelaskan bahwa langit itu didirikan dengan pilar-pilar tak terlihat, dan bahwa suatu bagian dari langit atau angkasa dapat jatuh di Bumi, (lihat Al-Quran 13:2 dan 34:9). Tafsir ini menunjukkan makna struktur seperti atap yang kokoh, sebagaimana yang ditegaskan ahli tafsir klasik Ibnu Katsir yang mengutip seorang seorang ulama yang menyebutkan, "langit seperti kubah di atas bumi".[15] Karena itu, kata-kata saqfan mafan dapat juga merujuk atap fisik atau suatu struktur mirip kubah. Untuk alasan ini, argumen di atas hanya akan valid jika semua tafsir dan deskripsi saqfan mafan memang sedang menggambarkan fungsi atmosfer bumi. Dari sini ini, argumen bahwa Al-Quran adalah mukjizat karena deskripsi kata-kata tertentu tampak berhubungan dengan deskripsi yang digunakan dalam fakta-fakta saintifik, secara logis, merupakan kesalahan. Klaim mukjizat saintifik hanya akan valid jika kita dapat menunjukkan tafsir kata-kata yang tampaknya berkorelasi dengan sains merupakan satu-satunya makna yang dituju. Prinsip-prinsip tafsir Al-Quran menyatakan bahwa mustahil mencapai kepastian tersebut. (masalah ini akan dibahas pada bagian akhir).

Selain itu, ada segudang pertanyaan yang juga memperlihatkan inkoherensi narasi kemukjizatan saintifik. Misalnya: mengapa penjelasan dan makna ayat-ayat dalam Al-Quran yang lebih sederhana diabaikan? Bagaimana dengan penafsiran alternatif ayat-ayat yang ternyata tidak saintifik atau biasa saja? Karena ambiguitas kata-kata membuat mustahil untuk mengetahui makna pasti yang dituju dari ayat-ayat tersebut, bagaimana bisa ada yang mengklaim bahwa ayat-ayat tersebut adalah mukjizat? Bagaimana dengan peradaban kuno yang memiliki prediksi akurat mengenai fenomena saintifik sebelum ditemukan oleh sains modern? Apakah itu menunjukkan peradaban kuno tersebut mendapat wahyu? (bersambung) -------------------------[11] http://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=qrr#(23:13:5) [12] http://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=mkn#(23:13:6) [13] The classical exegete Ibn Kathr mentions that these words mean the womb. See here http://www.qtafsir.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2481&Itemid=78. [14] http://corpus.quran.com/wordbyword.jsp?chapter=21&verse=33 [15] http://www.qtafsir.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2321&Itemid=68

Apakah Al-Qur'an Mengandung Mukjizat Saintifik? (Bagian 3)


14 September 2013 pukul 16:55

2. Sejarah yang Tak Akurat

Untuk menguatkan argumennya, mereka yang menganjurkan narasi kemukjizatan saintifik menegaskan bahwa pengetahuan tentang sains yang diisyaratkan ayat-ayat Al-Quran belum ada pada abad ke-7. Argumen ini biasanya muncul dalam dua bentuk:

Pertama, pengetahuan yang diisyaratkan ayat-ayat Al-Quran belum ada atau ditemukan pada saat turunnya wahyu (abad ke-7). Kedua, Nabi Muhammad tidak memiliki akses terhadap pengetahuan yang diisyaratkan ayat-ayat Al-Quran.

I. Pengetahuan yang diisyaratkan ayat-ayat Al-Quran belum ada atau ditemukan pada saat turunnya wahyu

Mengenai pernyataan di atas, ketika merujuk pada sejarah, kita akan mengetahui bahwa pernyataan tersebut salah. Berikut ini beberapa contoh ayat yang menyebutkan pengetahuan yang sudah ada dan diketahui pada saat (atau sebelum) wahyu turun:

Mukjizat Turunnya Besi: Ambil contoh pernyataan bahwa Al-Quran adalah mukjizat karena fakta Al-Quran menyebutkan besi yang "diturunkan"[16] (). Hal ini dapat merujuk pada kenyataan bahwa besi memang diturunkan dari luar angkasa, sesuatu yang telah terkonfirmasi secara saintifik.[17] Al-Quran menyatakan, "Dan Kami turunkan besi..."[18] Namun, bangsa Mesir Kuno 1400 tahun sebelum kenabian Muhammad telah menyebut besi sebagai ba-en-pet berarti "besi dari surga".[19] Orang Assyria dan Babilonia juga memiliki konsep yang serupa mengenai besi.

Mukjizat Bulan Meminjam Cahaya: Contoh lain adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan cahaya bulan. Kata yang digunakan adalah nran[20] ( )yang berarti cahaya dipinjam atau dipantulkan. "Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya (nran) dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui."[21] Klaim yang dibuat pendukung kemukjizatan saintifik adalah tidak ada satu orang pun pada saat itu, atau bahkan sebelumnya, yang tahu bahwa bulan tidak mengeluarkan cahaya sendiri. Dari sisi sejarah, ini tidak benar. Sekitar 500 SM atau 1200 tahun sebelum wahyu Al-Quran, Thales sudah mengatakan, "Bulan diterangi oleh matahari."[22] Anaxagoras, dalam 400-500 SM menegaskan bahwa, "Bulan tidak memiliki cahaya sendiri, tapi cahaya dari matahari."[23]

Mukjizat Gunung Memiliki Akar: Pertimbangkan ayat-ayat berbicara tentang gunung yang memiliki pasak atau akar. Al-Quran menyatakan, "Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?[24]

Pengetahuan mengenai hal ini sudah ada pada peradaban Ibrani kuno sebagaimana Perjanjian Lama secara gamblang menyebutkan akar pegunungan:

"Untuk akar ( ) pegunungan yang aku tenggelamkan, bumi di bawah menahanku selamanya. Tapi kau membawa hidupku keluar dari lubang, ya Tuhanku.[25]

Kata kunci pada ayat ini adalah penggunaan kata Ibrani yang berarti ujung. Ini merupakan penggambaran puitis mengenai dasar atau akar pegunungan.[26]

Mukjizat Big Bang: Al-Quran menyebutkan penciptaan alam semesta dengan cara berikut, "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"[27]

Pengetahuan mengenai hal ini sudah ada pada kebudayaan sebelumnya, misalnya salah satu kisah penciptaan alam dari Mesir kuno yang juga membahas pemisahan langit dari bumi. Alan Alford, peneliti dan penulis independen, menulis tentang pandangan Mesir tentang penciptaan alam semesta, "Inilah mitos pemisahan langit dari bumi. Yang perlu diperhatikan adalah pemisahan tersebut merupakan bentuk bencana."[28] Dalam literatur Sumeria, kita dapat menemukan konsep serupa dalam Epic of Gilgamesh, "Ketika langit dipisahkan dari bumi, ketika bumi dibatasi dari langit, ketika itulah kejayaan umat manusia tegak."[29] Dari sisi ini, mengklaim ayat-ayat tersebut sebagai mukjizat tidak masuk akal dan tidak memperhitungkan kemungkinan Nabi Muhammad mengakses pengetahuan umum budaya lain dan tidak mempertimbangkan fakta bahwa peradaban sebelumnya membuat pernyataan yang sama. Ini tidak berarti saya mengadopsi pandangan konyol bahwa Nabi Muhammad meminjam pengetahuan peradaban lain dan memasukkan pengetahuan tersebut ke dalam Al-Quran, juga tidak saya percaya bahwa Al-Quran merupakan representasi pengetahuan abad ke-7. Saya percaya Al-Quran adalah akurat dan benar. Poin utama saya di sini adalah bahwa klaim kemukjizatan ayat-ayat yang berbicara tentang fenomena alam tidak kebal uji intelektual. Karena itu, diperlukan pendekatan baru sesuatu yang akan saya bahas nanti pada tulisan ini. Keberatan untuk pandangan di atas adalah bahwa penggunaan makna dasar dan pemahaman sederhana dari bahasanya yang digunakan, bukan makna lain yang bisa diselaraskan dengan kesimpulan saintifik modern. Pandangan ini mungkin benar, mungkin ada makna lain yang memang bisa menyelaraskan antara ayat-ayat dengan kesimpulan saintifik. Hanya saja, poin

yang ditekankan di atas bukanlah bahwa ayat-ayat ini tidak dapat diselaraskan dengan sains modern, tapi poinnya di sini ingin menunjukkan bahwa makna dasar atau gamblang dari ayatayat yang mengisyaratkan pengetahuan meskipun tidak sepenuhnya akurat bisa saja diperoleh atau diketahui pada saat turunnya wahyu. Dari sisi ini, mengklaim ayat-ayat tersebut sebagai mukjizat adalah salah. Dari sudut pandang rasional, jika ada penjelasan natural yang masuk akal, maka penjelasan tersebut akan diutamakan dibanding penjelasan supranatural. Kenyataan penjelasan natural yang masuk akal ternyata mungkin terjadi, menyiratkan tidak adanya mukjizat. Hal ini karena menurut definisi, mukjizat adalah peristiwa yang tidak bisa dijelaskan secara natural. Hal ini akan dijelaskan nanti dalam tulisan ini.

II. Nabi Muhammad tidak memiliki akses terhadap pengetahuan yang diisyaratkan ayatayat Al-Quran Di mata seorang skeptik atau pencari kebenaran, pengetahuan tentang sejarah gagasan yang tersedia saat ini membuat pernyataan di atas tidak bisa diterima. Nabi Muhammad bisa memperoleh beberapa bentuk pengetahuan umum pada saat wahyu turun karena beliau sendiri sudah menyebut beberapa kebudayaan dan peradaban lainnya. Misalnya, mengenai izin berhubungan dengan istri yang menyusui, Nabi mempertimbangkan praktek yang terjadi di Romawi dan Persia. Di bawah ini hadits Nabi, "Sungguh, aku ingin melarang kalian menggauli istri yang menyusui. Lalu aku melihat bangsa Romawi dan Persia di mana mereka melakukannya terhadap anak-anak mereka. Ternyata hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka.[30] [Harap dicatat bahwa ini tidak berarti Nabi menggunakan pengetahuan dari peradaban lain sebagai sumber wahyu. Sebaliknya, menurut pandangan teologi Islam hal-hal yang menyangkut urusan medis dan saintifik, disarankan mencari pendapat terbaik dan praktek terbaik, seperti yang dilakukan Nabi sendiri. Akses link berikut mendiskusikan penggunaan penyerbukan silang sebagai contohnya http://en.islamtoday.net/node/1691.] Hadits shahih ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad memiliki akses terhadap praktek medis yang lazim di peradaban lain. Karena itu, di mata skeptis, bukan tidak mungkin beliau bisa memperoleh pengetahuan saintifik peradaban lain yang populer pada masa itu. Penting dicatat bahwa kehidupan ekonomi Arab abad ke-7 berpusat seputar perdagangan dan perniagaan. Perjalanan ke Timur Jauh lazim terjadi. Karena itu, bukan tidak mungkin ada pertukaran praktik saintifik dan gagasan-gagasan populer. Sejarawan Ira M. Lapidus dalam bukunya A History of Islamic Societies, jelas menyatakan orang-orang Arab di Mekah adalah pedagang mapan yang biasa bepergian jauh dan ke mana-mana:

"Pada pertengahan abad keenam, sebagai pewaris Petra dan Palmyra, Mekkah menjadi salah satu kota kafilah penting di Timur Tengah. Orang Mekah pergi membawa rempah-rempah, kulit, obat-obatan, kain dan budak yang datang dari Afrika atau Timur Jauh ke Suriah, mereka pulang membawa uang, senjata, biji-bijian, dan anggur ke Arab."[31] Karena itu, dalam pandangan skeptis atau pencari kebenaran, pernyataan bahwa Nabi Muhammad tidak bisa memperoleh pengetahuan yang tersirat pada ayat-ayat Al-Quran adalah salah. Hal ini disebabkan fakta bahwa Nabi bertukar gagasan dan kebiasaan dengan budaya lain kemungkinannya lebih tinggi dibanding Nabi tidak mengakses pengetahuan tersebut. Karena itu, pendekatan baru diperlukan untuk mengatasi kendala intelektual ini, sesuatu yang akan saya bahas nanti.

(bersambung)

--------------------------

[17] See here http://mineralsciences.si.edu/collections/meteorites.htm#3 [18] Qurn 57:25 [19] See The Story of Chemistry. N. C. Datta, p. 22; The Spirit of Ancient Egypt. Ana Ruiz. Algora Publishing, p. 72; Origins and Development of Applied Chemistry. James Riddick Partington, p87. Ayer Company Pub, 1975; http://www.digitalegypt.ucl.ac.uk/metal/metalinegypt.html. [20] http://corpus.quran.com/qurandictionary.jsp?q=nwr#(10:5:7) [21] Qurn 10:5 [22] Doxographi on Thales, Aet. ii. 1 ; Dox. 327. See online reference here http://history.hanover.edu/texts/presoc/thales.html. [23] The Doxographists on Anaxagoras, Hipp. Phil, 8 ; Dox. 561 260-1. [24] Qurn 78:6-7 [25] Bible Jonah 2:6, http://biblehub.com/jonah/2-6.htm [26] Reading Jonah in Hebrew. Duane L. Christensen. Bibal Corporation. 2005, p. 16. See online link here http://www.bibal.net/04/proso/psalms-ii/pdf/dlc_reading-jonah-b.pdf.

[27] Qurn 21:30 [28] http://www.eridu.co.uk/Author/myth_religion/egyptian.html [29] http://etcsl.orinst.ox.ac.uk/cgi-bin/etcsl.cgi?text=t.1.8.1.4# [30] Sahih Muslim Book 8 adth 3392[also repeated in adth 3394 and Maliks Muwatta Book 30, adth 16]. [31] Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, Cambridge, p.14.