Anda di halaman 1dari 3

METODE-METODE EDISI TEKS

A. Naskah Tunggal (codex unicus)

1. Metode Edisi Diplomatik

Teks diterbitkan tanpa perubahan. Teks direproduksi secara fotografis


dengan menggunakan teknologi faksimili, mikrofilm, dan lain-lain.
Contohnya edisi Adat Aceh (Drewes dan Voorhoeve) dan Hikayat
Isma Yatim dan Hikayat Sultan Mogul Mengajar Anaknya (Roger
Told an J.J.Witkam). Dalam membuat edisi ini mereka juga
memberikan penjelasan mengenai asal naskah, deskripsi naskah,
metode edisinya, memberi pengantar, dan memberi gambaran isi
kedua naskah yang dicetak seperti aslinya.

2. Metode Edisi Kritis atau Edisi Biasa

Teks diperbaiki dengan memperbaiki kesalahan-kesalahan dan


ketidakajegan. Ejaan yang terdapat dalam teks disesuaikan dengan
ketentuan yang berlaku. Contohnya dapat dilihat pada edisi teks
Hikayat Andaken Penurat (S.O Robson). Dalam edisinya ini Robson
memberi pengantar dan catatan kritis untuk teks yang diterbitkannya .
Contoh lain ialah edisi teks Hikayat Sultan Ibrahim versi pendek
(Russel Jones). Edisi Jones ini menarik karena ia menggabungkan
antara metode edisi diplomatik dan edisi standar/edisi biasa. Jones
menyajikan reproduksi teks dalam aksara Jawi , kemudian membuat
transliterasi, terjemahan dalam bahasa Inggris, memberikan
keterangan, dan catatan tentang teks.
B. Naskah Jamak (lebih dari satu)

1. Metode Stemma
Metode ini dikembangkan oleh Lachmann pada tahun 1830-an.
Dengan Memperhatikan kesalahan bersama dalam naskah tertentu
dapat Disimpulkan naskah-naskah tersebut berasal dari satu sumber.
Dengan demikian, dapat ditentukan silsilah naskah. Metode ini dapat
diterapkan pada teks yang disalin satu demi satu dari atas ke bawah
(secara vertikal) menurut satu garis keturunan (tradisi tertutup)1.

Otograf

Arketip
hiparketip hiparketip

X Y

A B C D

Otograf : teks asli yang ditulis oleh pengarang.


Arketip : nenek moyang naskah-naskah yang tersimpan. Arketip
membawahi naskah-naskah setradisi.
Hiparketip: kepala keluarga naskah-naskah yang membawahi naskah-
naskah seversi.

1
Selain terdapat tradisi tertutup dalam tradisi penyalinan terdapat pula tradisi terbuka. Dalam tradisi
terbuka penurunan naskah tidak terbatas pada satu garis keturunan saja. Akan tetapi, ada kalanya penyalin
berusaha mendapatkan bacaan yang paling baik dengan memakai lebih dari satu naskah. Dengan demikian,
terjadi penularan secara horizontal (kontaminasi horizontal).
Metode ini digunakan oleh J.J Ras pada Hikayat Banjar dan
Panuti Sudjiman pada Adat Raja-Raja Melayu.

2. Metode Landasan

Metode ini digunakan apabila ada satu atau segolongan teks


yang unggul kualitasnya dari teks yang lain dari segi bahasa,
sastra, sejarah, atau usia. Metode ini digunakan oleh S.W.R
Mulyadi ketika menyusun edisi teks Hikayat Indraputra. Ia
menggunakan teks yang lebih tua dan teks yang urutan
maupun peristiwanya paling lengkap di antara teks Hikayat
Indraputra lainnya.

3. Metode Gabungan

Metode ini dipakai apabila nilai teks semuanya hampir sama.


Perbedaan ada tetapi hanya perbedaan kecil. Dengan
menggunakan metode ini berarti penyunting menghasilkan
teks baru hasil gabungan bacaan dari semua teks yang ada.
Metode ini digunakan L.F Brakel pada Hikayat Muhammad
Hanafiyyah.