Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH

PEMANFAATAN ANIMAL FAT UNTUK PEMBUATAN BIODIESEL

Dosen Pengampu : Prasetyo Hermawan, ST, M.Si

Disusun Oleh : Nama NIM Prodi Kelompok : Tri Revinta Yanti : 100202028 : Tpk.tpl.2010 : 8 (Delapan)

LABORATORIUM UJI AKADEMI TEKNOLOGI KULIT YOGYAKARTA 2012

PEMANFAATAN ANIMAL FAT UNTUK PEMBUATAN BIODIESEL

A. TUJUAN PRAKTIKUM Praktikan mampu menerapkan prinsip-prinsip reaksi esterifikasi dan reaksi transesterifikasi untuk mengolah limbah semi padat pengolahan kulit mentah berupa limbah lemak hewan menjadi biofuel atau biodiesel, serta melakukan pengujian angka asam dari produk.

B. DASAR TEORI Bioenergi (berupa biodiesel dan bioetanol) merupakan energy alternatif untuk menyelesaikan permasalahan ketersediaan bahan bakar, dimana pada saat ini masih sangat tergantung pada Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berasal dari fosil. Pengembangan bioetanol dari ubi kayu sebagai pengganti BBM memiliki beberapa keuntungan, yaitu penggunaan bioetanol sebagai campuran premium (gasohol) menghasilkan emisi gas buang yang lebih ramah terhadap lingkungan dan tingginya kandungan oksigen sehingga dapat meningkatkan efisiensi pembakaran. Biodiesel merupakan sumber energy alternative pangganti solar yang dapat disintesis dari minyak tumbuhan ataupun lemak hewan, biodiesel tidak mengandung sulfur dan tidak beraroma, sehingga menghasilkan emisi gas buang yang lebih ramah terhadap lingkungan. Biodiesel dihasilkan dengan mereaksikan minyak tanaman atau lemak hewan dengan alkohol dengan menggunakan senyawa basa sebagai katalis yang dilakukan pada suhu dan komposisi tertentu, sehingga akan dihasilkan dua zat yang disebut alkil ester (biodiesel; metil ester atau etil ester) dan gliserin. Biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar pada mesin tanpa harus melakukan modifikasi pada mesin, dalam penggunaannya biodiesel dapat dimanfaatkan secara murni (net) ataupun dalam bentuk campuran (blend) dengan minyak solar. Campuran biodiesel dengan minyak solar ini biasa ditulis sebagai BXX, dimana XX menyatakan persen komposisi biodiesel dalam total campuran tersebut. Sebagai contoh B20 terdiri dari 20% biodiesel dan 80% petrodiesel. Petrodiesel (solar) merupakan nama dari suatu hidrokarbon yang didestilasi dari fraksi minyak mentah atau minyak bumi yang saat ini banyak digunakan

sebagai bahan bakar otomotif bermesin diesel. Bentuk biodiesel yang cair dan kemampuan dicampurkan dengan solar pada segala perbandingan, merupakan salah satu keunggulan biodiesel. Biodiesel merupakan monoalkil ester dari asamasam lemak rantai panjang yang terkandung dalam minyak nabati atau lemak hewani, biodiesel dapat disintesis melalui reaksi transesterifikasi trigliserida atau reaksi esterifikasi asam lemak bebas. Transesterifikasi adalah proses yang mereaksikan trigliserida dengan alcohol rantai pendek seperti methanol atau etanol sehingga menghasilkan metil ester asam lemak (Fatty Acids Methyl Esters/ FAME) atau biodiesel dan gliserol (gliserin) sebagai produk samping. Katalis yang digunakan pada proses transesterifikasi adalah basa atau alkali, pada umumnya digunakan Natrium Hidroksida (NaOH) atau Kalium hidroksida (KOH). Esterifikasi dalam pembuatan biodiesel adalah proses yang mereaksikan asam lemak bebas (FFA) yang terkandung dalam lemak atau minyak dengan alcohol rantai pendek (metanol atau etanol) menghasilkan metil ester dan air. Katalis yang digunakan untuk reaksi esterifikasi adalah asam, pada umumnya asam sulphat (H2SO4) atau asam fosfat (H2PO4). Proses pembuatan biodiesel (berdasarkan kandungan FFA) secara komersial dibedakan menjadi 2 tahap. Tahap pertama adalah proses esterifikasi dengan katalis asam (khusus untuk minyak nabati dengan kandungan FFA tinggi) dan dilanjutkan dengan transesterifikasi dengan katalis basa.. Asam lemak bebas adalah asam lemak yang terpisahkan dari trigliserida, digliserida, monogliserida dan gliserin bebas. FFA dapat terbentuk oleh pemanasan dan terdapatnya air sehingga terjadi proses hidrolisis, oksidasi juga dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas dalam minyak nabati. Pada proses konversi trigliserida menjadi alkil esternya melalui reaksi transesterifikasi dengan katalis basa, asam lemak bebas harus dipisahkan atau dikonversi menjadi alkil ester terlebih dahulu, karena asam lemak bebas akan mengkonsumsi katalis. Kandungan asam lemak bebas dalam biodiesel akan mengakibatkan terbentuknya suasana asam yang dapat mengakibatkan korosi pada peralatan injeksi bahan bakar, membuat filter tersumbat dan terjadi sedimentasi pada injector, persamaan reaksi esterifikasi : RCOOH + CH3OH RCOOCH3 + H2O

Esterifikasi dilakukan untuk membuat biodiesel dari minyak berkadar asam lemak bebas tinggi (berangka asam 5 mgKOH /g). Tahap kedua adalah proses transesterifikasi dengan katalis basa, khususnya untuk bahan baku refined oil atau

minyak nabati dengan kandunga FFA rendah. Trigliserida adalah triester dari gliserol dengan asamasam lemak, yaitu asamasam karboksilat beratom karbon 6 s/d 30. Trigliserida banyak dikandung dalam minyak dan lemak. Reaksi transesterifikasi disebut juga dengan reaksi alkoholisis adalah tahap konversi dari trigliserida dengan reaktan alcohol menjadi alkyl ester dan menghasilkan produk samping yaitu gliserol. Alcohol yang umum digunakan adalah metanol, karena harganya murah dan reaktifitasnya paling tinggi. Transesterifikasi memerlukan katalis dalam reaksinya karena tanpa adanya katalis, konversi yang dihasilkan maksimum namun reaksi berjalan dengan lambat. Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan pada temperature 30-65C karena titik didih methanol sekitar 65C. Produk yang diinginkan dari reaksi transesterifikasi adalah ester metil asamasam lemak, kondisi proses yang menggeser kesetimbangan ke arah pembentukan produk, antara lain adalah menambahkan metanol berlebih ke dalam reaksi, memisahkan gliserol, menurunkan temperature reaksi (transesterifikasi merupakan reaksi eksotermis).

C. PROSEDUR KERJA/METODOLOGI a. Alat dan Bahan Alat Gelas beker 500 ml Gelas beker 250 ml Gelas beker 100 ml Gelas ukur 50 ml Gelas ukur 5 ml Pengaduk Pengaduk magnet Thermometer Thermolyne 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

Bahan Lemak Etanol NaOH 5N KOH

b. Cara Kerja

Mengambil lemak yang telah disediakan Memanaskan menggunakan termolyne sampai lemak mencair Memasukkan dalam gelas beker 100 ml Mengambil 50 ml cairan lemak tadi menggunakan gelas ukur 50 ml Memasukkan kedalam gelas beker 250 ml Menambahkan etanol 100 ml Mengaduk menggunakan pengaduk Menambahkan NaOH 5N 5 ml Mengaduk-aduk dengan pengaduk magnet dan memanaskan dengan suhu 50C selama 1 jam

Memasukkan dalam gelas ukur 250 ml Mengamati dan mengukur volume biodiesel dan gliserol yang terjadi Mencatat hasilnya

Pengujian Parameter Biodiesel Angka asam adalah banyak miligram KOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam-asam bebas di dalam satu (1) gram contoh biodiesel, sekalipun terutama terdiri asam-asam lemak bebas, sisa-sisa asam mineral, jika ada, juga akan tercakup di dalam angka asam yang ditentukan dengan prosedur ini.

Prosedur Analisis angka asam

Menimbang 1 gram contoh biodiesel ester alkil ke dalam sebuah labu erlenmeyer 250 ml.

Menambahkan 5 ml campuran pelarut (50% diethil eter, 50% ethanol) yang telah dinetralkan NaOH 0,1 N, ke dalam labu erlenmeyer tersebut.

Mentitrasi larutan dengan KOH 0,1N sampai berwarna merah jambu

D. PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN Pengamatan Pada saat lemak dipanaskan keluar cairan warna kuning Saat larutan lemak ditambahkan etanol 100 ml dan diaduk-aduk terdapat endapan lemak dibawah dan larutan bening diatas Saat ditambahkan 5 ml NaOH 5N, larutan berubah menjadi keruh tapi masih terdapat endapan dibawah Saat dipanaskan dan diaduk dengan pengaduk magnet pada suhu 50C selama 1 jam, larutan berwarna kuning, dan terdapat endapan lemak pada bagian bawah dengan warna kuning lebih tua Setelah selesei dipanaskan, larutan dimasukkan kedalam gelas ukur 250 ml dan didiamkan sampai lemak mengendap dan diukur biodiesel 5 cm dan gliserol 7,5 cm Setelah dilakukan analisis angka asam menggunakan 1 gram contoh biodiesel dam dititrasi menggunakan KOH. Jumlah KOH yang terpakai untuk blangko adalah 2,4 ml Setelah itu dilakukan titrasi menggunakan KOH, volume titrasi yang terpakai adalah 0,5 ml

Perhitungan

Angka asam = 56,1 x 2,4 x 0,1 1 = 13,464 mg/g

Dengan : V = volume larutan KOH yang dibutuhkan pada saat titrasi (ml) N = normalitas eksak larutan KOH dalam alkohol (N) m = berat contoh biodiesel ester alkil (gr)

E. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, lemak yang dipakai adalah lemak yang berbentuk padatan sehingga harus dipanaskan dengan suhu sekitar 50C agar lemak tersebut mencair dan memudahkan dalam proses percobaan. Setelah lemak ini mencair dan berurai minyak kemudian dicampur dengan bahan yang lain seperti ethanol dan NaOH. NaOH harus diencerkan terlebih dahulu agar bisa bekerja efektif dalam larutan yang berfungsi sebagai katalis. Metode yang digunakan dalam praktikum animal fat and vegetable oil for biodiesel ini adalah melalui proses transesterifikasi yaitu proses yang mereaksikan trigliserida dengan alkohol rantai pendek seperti methanol untuk menghasilkan metil ester asam lemak atau biodiesel dan gliserol sebagai produk samping. Katalis yang digunakan pada proses transesterifikasi adalah basa/alkali, biasanya digunakan natrium hidroksida (NaOH) atau kalium hidroksida (KOH). Transesterifkasi memerlukan katalis dalam reaksinya karena tanpa adanya katalis, konversi yang dihasilkan maksimum namun reaksi berjalan dengan lambat. Produk yang diinginkan dari

reaksi transesterifikasi adalah ester metil asam-asam lemak (biodesel). Melakukan pemisahan antara gliserol dan biodiesel. Dari hasil pemisahan terbentuk 2 fase zat, yaitu methyl ester (biodiesel) dan gliserol. Biodiesel di bagian atas, sedangkan gliserol berada di bagian bawah larutan. Biodiesel berwarna kuning, dan gliserol berwarna putih keruh. Perlakuan selanjutnya yaitu pengujian parameter biodiesel dengan melakukan penitrasian. Pertama, menimbang sebanyak 1 gram biodiesel yang telah terpisah dengan gliserol dan kemudian memasukkan pada Erlenmeyer 250 ml lalu menambahkan 5 ml campuran pelarut ( 50% v dietil ester 50% v etanol ). Selanjutnya menambahkan indikator PP 3 tetes dan warna berubah menjadi bening dan kemudian dilakukan titrasi dengan menggunakan KOH 0,1 N sampai larutan tersebut berwarna merah muda atau merah jambu. Volume KOH yang dibutuhkan untuk menitrasi minyak adalah 0,3 ml. Dari perhitungan angka asam biodiesel tersebut didapatkan angka asam sebesar 13,464 KOH/gram biodiesel.

F. KESIMPULAN

Transesterifikasi adalah proses yang mereaksikan trigliserida dengan alcohol rantai pendek seperti methanol atau etanol sehingga menghasilkan metil ester asam lemak (Fatty Acids Methyl Esters/ FAME) atau biodiesel dan gliserol (gliserin) sebagai produk samping.

Esterifikasi dalam pembuatan biodiesel adalah proses yang mereaksikan asam lemak bebas (FFA) yang terkandung dalam lemak atau minyak dengan alcohol rantai pendek (metanol atau etanol) menghasilkan metil ester dan air

Keuntungan dari penggunaan dari biodiesel: o Ramah lingkungan o Bahan baku yang terbaharui o Pembakaran sempurna (bebas sulfur dan rendah jumlah bilangan asap) o Mengurangi efek rumah kaca o Memiliki efek pelumasan terhadap mesin.

Perhitungan angka asam biodiesel didapatkan angka asam sebesar 13,464 KOH/gram biodiesel.

DAFTAR PUSTAKA

- Hermawan, Prasetyo. Buku Petunjuk Praktikum Teknik pengolahan Limbah. Yogyakarta: Akademi Teknologi Kulit, 2011 - www.jurnalinsinyurmesin.com/index.php?option=com_content&view=article&id=50 - 42k Similar

LEMBAR PENGESAHAN

Yogyakarta,5 Juni 2012

Mengetahui dosen:

(Prasetyo Hermawan, S.T. M.Si)

Asisten dosen:

Praktikan

(Eko Nuraini, A.md)

( Tri Revinta Yanti )