Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH

OKSIDASI POLUTAN DALAM FASE TERLARUT DAN FASE KOLOID DENGAN PENGOLAHAN BIOLOGI AEROBIK

Dosen Pengampu : Prasetyo Hermawan, ST, M.Si

Disusun Oleh : Nama NIM Prodi Kelompok : Tri Revinta Yanti : 100202028 : Tpk.tpl.2010 : 8 (Delapan)

LABORATORIUM UJI AKADEMI TEKNOLOGI KULIT YOGYAKARTA 2012

OKSIDASI POLUTAN ORGANIK DALAM FASE TERLARUT DAN FASE KOLOID DENGAN PENGOLAHAN BIOLOGI AEROBIK

A. TUJUAN PRAKTIKUM Praktikan mampu melakukan pengolahan sederhana limbah cair dengan model kolam aerasi biologi (biological aeration pond) dan menetapkan unjuk kerja pengolahan ini dengan menganalisis hasil pengukuran nilai COD dan BOD-nya.

B. DASAR TEORI Polutan yang terkandung dalam limbah cair merupakan pada umumnya merupakan senyawa organic dan anorganik, baik dalam fase tersuspensi, koloid maupun terlarut. Bahan pencemar ini akan mempengaruhi perubahan sifat (fisika, kimia maupun biologis) badan air sebagai penerima beban polutan dan prubahan ini umumnya menyebabkan penurunan mutu badan air. Limbah cair yang mengandung bahan polutan yang dapat didegrasi oleh mikroorganisme atau biodegradable materials dapat diolah dalam unit pengolahan biologi. Prinsip pengolahan limbah cair secara biologis adalah pemanfaatan aktivitas mikroorganisme/ mikrobia (seperti; bakteri dan protozoa), untuk mengkonsumsi polutan organic biodegradable dan mengkonversinya menjadi molekul sederhana (seperti; karbondioksida, air) dan energy untuk pertumbuhan/ reproduksinya. System pengolahan limbah cair secara biologis harus memberikan kondisi yang optimum mikroorganisme untuk dapat hidup dan berkembang biak, sehingga mikroorganisme tersebut dapat menstabilkan polutan organic secara optimum. Guna mempertahankan agar

mikroorganisme tetap hidup dan produktif, maka mikroorganisme tersebut harus mendapatkan sumber oksigen dan nutrisi yang cukup, waktu kontak dengan polutan organic yang memadai, temperature dan komposisi medium yang sesuai. Perbandingan BOD5 : N : P juga harus seimbang (missal; 100: 5: 1) sehingga optimum untuk pengolahan limbah cair secara aerobic.

Kemajuan industri dan teknologi seringkali berdampak pula terhadap keadaan air lingkungan, baik air sungai, air laut, air danau maupun air tanah. Dampak ini disebabkan oleh adanya pencemaran air yang disebabkan oleh berbagai hal seperti yang telah diuraikan di muka. Salah satu cara untuk menilai seberapa jauh air lingkungan telah tercemar adalah dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air. Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah. Hal itu karena oksigen yang terlarut di dalam air diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi bahan buangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (yang ditandai dengan bau busuk). Selain dari itu, bahan buangan organik juga dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air organik yang ada di dalam air, makin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya. Bahan buangan organik biasanya berasal dari industri kertas, industri penyamakan kulit, industri pengolahan bahan makanan (seperti industri pemotongan daging, industri pengalengan ikan, industri pembekuan udang, industri roti, industri susu, industri keju dan mentega), bahan buangan limbah rumah tangga, bahan buangan limbah pertanian, kotoran hewan dan kotoran manusia dan lain sebagainya.

Berdasarkan mobilitas mikroorganismenya, maka desain unit/ reactor pengolahan secara biologi dapat dibedakan atas dua jenis yaitu : reactor pertumbuhan tersuspensi (suspented growth reactor) dan reactor prtumbuhan melekat (attached growth reactor). Dalam reactor pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme tumbuh dan berkembang dalam keadaan tersuspensi, missal : pada unit lumpur aktif, aerated lagoon, facultative lagoon, arobic lagoon. Dalam reactor pertumbuhan melekat, mikroorganisme tumbuh di atas media pendukung/ substrat dengan membentuk lapisan film untuk melekatkan diri, missal pada trickling filter dan cakram biologi. Ditinjau dari lingkungan mikroorganisme melangsungkan proses penguraian secara biologi, maka proses ini dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu; proses aerob yang berlangsung dengan hadirnya oksigen, proses anaerob yang berlangsung tanpa adanya oksigen dan proses fakultatif yang berlangsung dengan hadirnya oksigen maupun tidak. Nilai BOD air buangan yang kurang dari 400mg/L, maka

proses aerob lebih ekonomis dari proses anaerob, tetapi pada nilai BOD lebih tinggi dari 4000 mg/L maka proses anaerob lebih ekonomis. Pada dasarnya system lumpur aktif terdiri dari dua unit proses utama, yaitu unit bioreactor berupa tangki aerasi dan tangki sedimentasi/ tangki pengendapan. Pada sistem ini, antar limbah cair dan biomassa atau mikroorganisme dicampur dalam suatu reaktor dan diaerasi. Aerasi berfungsi untuk mensuplai kebutuhan oksigen mikroorganisme dan sarana pengadukan suspensi biomassa. Suspensi yang terjadi dialirkan ke unit tangki sedimentasi, dimana biomassa dipisahkan dari air yang telah diolah. Sebagian biomassa yang terendapkan dikembalikan ke bioreaktor, dan air yang telah diolah (beningan) dialirkan ke lingkungan/ unit pengolahan selanjutnya. Konsentrasi biomassa di dalam reaktor dipertahankan dengan mengalirkan kembali sebagian biomassa kedalam reactor aerasi. Proses pengolahan anaerobic adalah proses pengolahan senyawa-senyawa organik yang terkandung dalam limbah menjadi gas metana dan karbondioksida oleh mikroorganisme tanpa memerlukan oksigen. Penguraian senyawa organik seperti karbohidrat, lemak dan protein yang terdapat dalam limbah cair dengan proses anaerobik akan menghasilkan biogas yang mengandung metana (50-70%), CO2 (25-45%) dan sejumlah kecil nitrogen, hidrogen, dan hidrogen sulfida. Reaksi sederhana penguraian senyawa organik secara aerob : Bahan organik Anaerob Mikroorganisme Peruraian bahan organic secara anaerob disederhanakan menjadi 2 tahap, yaitu tahap pembentukan asam dan tahap pembentukan metana. Langkah pertama tahap pembentukan asam adalah hidrolisa senyawa organik dengan berat molekul besar menjadi senyawa organik sederhana oleh enzim-enzim ekstraseluler. Pembentukan asam dari senyawa organik sederhana dilakukan oleh bakteri penghasil asam. Pembentukan metana dilakukan oleh bakteri penghasil metana dengan menguraikan asam asetat menjadi metana dan karbon dioksida. Selanjutnya karbondioksida dan hidrogen disintesa menjadi metana dan air. CH4 + CO2 + H2 + N2 + H2O

Lingkungan

mempunyai

pengaruh

besar

terhadap

laju

pertumbuhan

mikroorganisme, baik microorganisme aerobic maupun anaerobic. Factor- factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan aktifitas mikroorganisme anaerob antara lain adalah : temperature, pH, Konsentrasi, substrat dan keberadaan zat beracun. Proses pembentukan metana terjadi pada rentang temperature 30-40C , laju produksi gas akan naik 100-400% untuk setiap kenaikan temperature 12C pada rentang temperature 4-65C. Mikroorganisme jenis thermophilic lebih sensitive terhadap perubahan temperature daripada jenis mesophilic. Pada temperature 38C, jenis mesophilic dapat bertahan pada perubahan temperature 0,8C dan pada temperature 52C perubahan temperature yang diizinkan 0,3C. Bakteri penghasil metana sangat sensitive terhadap perubahan pH, rentang pH optimum untuk jenis bakteri penghasil metana antara 6,4 7,4. Bakteri yang tidak menghasilkan metana tidak begitu sensitive terhadap perubahan pH, dan dapat bekerja pada pH antara 5 hingga 8,5. Proses anaerobic terdiri dari dua tahap yaitu tahap pembentukan asam dan tahap pembentukan metana sehingga pengaturan pH awal proses sangat penting. Tahap pembentukan asam akan menurunkan pH awal, jika penurunan ini cukup besar akan dapat menghambat aktivitas mikroorganisme penghasil metana, untuk meningkatkan pH dapat dilakukan dengan penambahan kapur. Sel mikroorganisme rata-rata mengandung karbon, nitrogen, fosfor dan sulfur dengan perbandingan 100: 10: 1: 1, untuk pertumbuhan mikroorganisme, unsure-unsur ini harus ada pada sumber makanannya (substrat). Konsentrasi substrat dapat mempengaruhi proses kerja mikroorganisme, dan kondisi yang optimum dicapai jika jumlah mikroorganisme sebanding dengan konsentrasi substrat. Kandungan air dalam substrat dan homogenitas system juga mempengaruhi aktivitas mikroorganisme, karena kandungan air yang tinggi akan memudahkan proses penguraian, sedangkan homogenitas system membuat kontak antar mikroorganisme dengan substrat menjadi lebih intensif. Senyawa organic maupun anorganik toxic (missal; Cl-, Cl6+) baik yang terlarut maupun tersuspensi dapat menjadi penghambat/ pembunuh bagi pertumbuhan mikroorganisme (pada konsentrasi yang tinggi). Oleh karena itu keberadaan zat ini harus dihindari.

C. PROSEDUR KERJA/METODOLOGI a. Alat dan Bahan Alat Gelas beker 500 ml Penyaring COD reactor Aerator Pipet volume 5 ml Propipet Botol winkler Kuvet Gelas ukur 10 ml Erlenmeyer 500 ml Buret Statip Pipet tetes 2 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 6 buah 3 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah

Bahan Limbah Mikroorganisme Aquadest MnSO4 H2SO4 pekat Na(S2O3) 0,025 N Larutan pengencer K2Cr2O4 Perak sulfat FAS 0,1 N Feroin

b. Cara Kerja Teknik pengolahan biologis kolam aerasi Sampel limbah cair diambil dari fase beningan tangki sedimentasi pada UPAL ATK Yogyakarta Mengambil 500 ml limbah cair dimasukkan ke dalam kedua gelas beker 500 ml

Limbah cair pada gelas beker pertama tanpa perlakuan pengolahan sedangkan limbah cair pada gelas beker kedua ditambah dengan mikrobia aerob dan dialiri dengan udara atau diaerasi selama 2 jam

Analisis BOD0 Memipet sejumlah volume sampel limbah (baik yang dilakukan pengolahan maupun tanpa pengolahan serta blangko) dan memasukkan dalam masing-masing dua botol winkler 50 ml Memipet larutan pengencer masing-masing sebanyak 100 ml dan memasukkan dalam enam botol winkler (empat botol berisi sampel limbah dan dua botol untuk uji blangko), menambahkan 1 ml larutan MnSO4 dan 1 ml larutan alkali iodide azida Menutup botol dan mengojok sampai terjadi flok berwarna coklat dan dibiarkan selama 5 menit Menambahkan larutan pengencer pada keenam botol winkler sampai penuh (untuk BOD5 disimpan di lemari es atau diinkubasi selama 5 hari) Dibiarkan sampai terdapat endapan Memisahkan bagian beningan dan endapan, beningan pada Erlenmeyer Endapan ditambah 1 ml H2SO4 pekat, mengojok sampai endapan larut, endapan dimasukkan dalam Erlenmeyer Menitrasi dengan larutan Na(S2O3) 0,025 N sampai berwarna kuning ditambahkan 3 tetes amilum, dititrasi lagi sampai bening Menghitung konsentrasi oksigen terlarut (DO) sebelum dan setelah inkubasi

Analisis COD Mengambil sampel non treatment, treatment dan blangko masing-masing 5 ml menggunakan kuvet Menambahkan 1 ml K2Cr2O4 dan 1 ml perak sulfat pada masing-masing kuvet Memanaskan kuvet menggunakan COD reactor dengan suhu 150C selama 1 jam (COD diletakkan didalam lemari asam)

Didinginkan, menuangkan pada Erlenmeyer dan menambahkan aquadest 5 ml (perlakuan untuk setiap kuvet, yaitu blangko, non treatment, dan treatment) Menitrasi dengan FAS 0,1 N, sebelum dititrasi ditetesi 3 tetes feroin terlebih dahulu Sampai terjadi perubahan warna.

Analisis BOD5 Mengambil larutan blangko, non treatment, dan treatment dari lemari es Memisahkan larutan beningan dan endapan, larutan bening dituang ke Erlenmeyer dan endapan tetap di botol winkler Menambahkan 1 ml H2SO4 pada ke tiga botol winkler yang sudah diambil larutan beningannya Mencampurkan endapan + H2SO4 dalam Erlenmeyer (larutan bening), mengojok Menitrasi dengan Na(S2O3) lalu meneteskan 3 tetes amilum lalu dititrasi kembali sampai larutan berwarna bening. D. PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN Pengamatan Pada saat 50 ml larutan limbah dimasukkan dalam 3 botol winkler (blangko, non treatment, treatment) ditambahkan 50 ml aquadest, 100 ml larutan pengencer, 1 ml larutan MnSO4, 1 ml larutan alkali iodide azida, larutan limbah tersebut terdapat endapan berwarna coklat Pada saat filtrat dan endapan terbentuk, filtrate dipisahkan dan dititrasi dengan larutan Na(S2O3) 0,025 N sampai berwarna bening dan ditambahkan 3 tetes amilum dan dititrasi sampai bening. Volum titrasi yang didapat yaitu : No 1 2 3 Uji Blangko Non treatment Treatment Volum titran (Na2S2O3) 4,4 ml 4,2 ml 5,8 ml

Dalam analisis COD, saat dilakukan titrasi dengan FAS 0,1 N dan ditetesi 3 tetes feroin terjadi perubahan warna dari biru menjadi coklat kemerahan dan volum titrasi yang didapat yaitu :

No 1 2 3

Uji Blangko Non treatment Treatment

Volum titrasi 2,7 ml 1 ml

2,5 ml

Analisis BOD5, saat ditetesi amilum berwarna biru, saat dititrasi Na(S 2O3) berwarna bening. Volum titrasi yang didapat yaitu : No 1 2 3 Uji Blangko Non treatment Treatment Volum titrasi 4,3 ml 3 ml

2,5 ml

Perhitungan Treatment DO0 (mg/L) = V. NaS2O3 (ml) x N. NaS2O3 (N) x 8000 V sampel (ml) = 5,8 x 0,1 x 8000
50

/305
= 28292,683 mg/L

= 4640 0,164

DO5 (mg/L)

= V. NaS2O3 (ml) x N. NaS2O3 (N) x 8000 V sampel (ml) = 2,5 x 0,1 x 8000
50

/305
= 12195,122 mg/L

= 2000 0,164 Non Treatment

DO0 (mg/L)

= V. NaS2O3 (ml) x N. NaS2O3 (N) x 8000 V sampel (ml) = 4,2 x 0,1 x 8000
50

/305 = 20487,805 mg/L

= 3360 0,164 DO5 (mg/L)

= V. NaS2O3 (ml) x N. NaS2O3 (N) x 8000 V sampel (ml) = 3 x 0,1 x 8000


50

/305
= 14634,146 mg/L

= 2400 0,164 Blangko

DO0 (mg/L)

= V. NaS2O3 (ml) x N. NaS2O3 (N) x 8000 V sampel (ml)

= 4,4 x 0,1 x 8000


50

/305
= 21463,415 mg/L

= 3520 0,164

DO5 (mg/L)

= V. NaS2O3 (ml) x N. NaS2O3 (N) x 8000 V sampel (ml)

= 4,3 x 0,1 x 8000


50

/305
= 20975,609 mg/L

= 3440 0,164

P (derajat pengenceran)

V sampel (ml) V pengencer + V sampel (ml)

50 255 + 50

50 305

= 0,164

f (prosentase MO) = 0,1

Treatment BOD (mg/L) = (DO0 DO5) {(DOB0 DOB5)}. f P = (16097,561) (487,806) . 0,1 0,164 = 1560,976 0,164 = 9518,146 mg/L

Non Tratment

BOD (mg/L) = (DO0 DO5) {(DOB0 DOB5)}. f P = (5853,659) (487,806) . 0,1 0,164 = 536,5853 0,164
Perhitungan COD -

= 3271,862 mg/L

Treatment

COD (mg/L) = (A-B) x N x 8000 V sampel

= (2,7-2,5) x 0,1 x 8000 5 = 160 5 Non Treatment = 32 mg/L

COD (mg/L) = (A-B) x N x 8000 V sampel = (2,7- 1) x 0,1 x 8000 5 = 1360 5 = 272 mg/L

E. PEMBAHASAN BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organik yang terlarut dan sebagian zat-zat organik yang tersuspensi dalam air. Penguraian zat organik adalah peristiwa alamiah, yaitu apabila sesuatu badan air dicemari oleh zat-zat organik, maka mikroorganisme akan menghabiskan oksigen untuk menguraikannya. Metode yang digunakan adalah metode titrasi Winkler, yaitu filtrat limbah setelah mengalami perlakuan dibagi dalam dua perlakuan. Perlakuan pertama larutan yang telah mengalami perlakuan lalu diukur oksigen terlarutnya pada hari ke nol, perlakuan lainnya yaitu larutan dalam botol Winkler setelah mengalami perlakuan diinkubasi selama 5 hari dan kemudian diukur oksigen terlarutnya pada hari ke lima. Analisis BOD pada penelitian ini dilakukan dengan metode titrasi Winkler yaitu dengan menentukan oksigen terlarut 0 hari kemudian mengurangkannya dengan oksigen terlarut 5 hari. Hasil dari pengurangan tersebut merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan zat-zat organik dalam limbah.

Tujuan inkubasi dalam lemari es selama 5 hari yaitu agar tidak terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen, dan dalam waktu 5 hari ini diharapkan hanya terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganisme sehingga yang tejadi hanyalah pengolahan oksigen tersisa. Prinsip analisis BOD adalah oksigen di dalam sampel akan mengoksidasi MnSO4 yang ditambahkan ke dalam larutan pada keadaan basa, sehingga terjadi endapan MnO2. Penambahan asam sulfat dan adanya alkali iodida akan membebaskan iodin yang setara dengan oksigen terlarut, yang kemudian dititrasi oleh larutan thiosulfat dengan indikator amilum. COD adalah banyaknya oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik dengan sumber oksigen berasal dari zat kimia. Pada praktikum ini zat pengoksidasi yang digunakan adalah K2Cr2O7, sedang sampel yang digunakan limbah cair dari tempat Pengolahan Limbah Kampus ATK Yogyakarta. Cairan limbah yang diambil dari tempat pengolahan limbah ini selanjutnya diencerkan dengan larutan pengencer. Limbah yang sudah diencerkan ini selanjutnya yang diuji BOD dan COD nya. Apabila suatu perairan memiliki angka COD yang besar hal ini menunjukkan bahwa perairan tersebut tercemar dan memiliki kandungan zat-zat organik yang tinggi. Banyaknya kandungan zat organik ini akan mengakibatkan berkurangnya kandungan oksigen terlarut di dalam perairan. Pada analisis COD, sampel limbah cair ditambah dengan 1 mL K2Cr2O7 dan 1 ml perak sulfat, kemudian direfluk menggunakan COD reaktor selama 1 jam pada suhu 150C. Hasil refluk kemudian didinginkan dan dititrasi dengan FAS 0,1 N dengan penambahan amilum 3 tetes sampai berubah warna. Perak sulfat (Ag2SO4) ditambahkan sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi. Zat pengoksidasi K2Cr2O7 harus masih tersisa sesudah refluk. K2Cr2O7 yang tersisa di dalam larutan menentukan besarnya oksigen yang telah terpakai. Sisa K2Cr2O7 tersebut ditentukan melalui titrasi dengan ferro Ammonium Sulfat (FAS) dan feroin sebagai indikatornya. Titrasi dihentikan jika larutan telah berubah warna.

Dari hasil praktikum kami, diperoleh nilai COD < BOD. Ini artinya bahwa dalam cairan limbah tersebut terdapat polutan biodegradable dan unbiodegradable, dan air yang keluar dari hasil pengolahan COD dan BOD tersebut sudah bebas dari mikroorganisme. Dalam pengukuran BOD, menggunakan mikroorganisme sebagai pengurai bahan organik, maka analisis BOD memang cukup memerlukan waktu. Lima hari inkubasi adalah kesepakatan umum dalam penentuan BOD. Bisa saja ditentukan dengan menggunakan waktu inkubasi yang berbeda, asalkan dengan menyebutkan lama waktu tersebut dalam nilai yang dilaporkan (misal BOD5, BOD7) agar tidak salah dalam interpretasi atau memperbandingkan. Sedangkan pengukuran COD sedikit lebih kompleks karena menggunakan peralatan khusus refluks, penggunaan asam pekat, pemanasan dan titrasi. Peralatan refluks digunakan untuk menghindari berkurangnya air sampel karena pemanasan. Selanjutnya dilakukan perbandingan COD dengan BOD untuk mengetahui seberapa besar jumlah bahan-bahan organik yang ada di cairan yang diuji tersebut.

F. KESIMPULAN BOD (Biological Oxygen Demand)adalah suatu karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang menunjukkan jumlah oksigen (biasanya bakteri) untuk mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. Tujuan inkubasi dalam ruang gelap selama 5 hari yaitu agar tidak terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen, dan dalam waktu 5 hari ini diharapkan hanya terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganisme sehingga yang terjadi hanyalah pengolahan oksigen tersisa. COD (Chemical Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air. Dari hasil percobaan COD dan BOD, dapat diketahui bahwa nilai COD < BOD. Ini artinya bahwa dalam cairan limbah tersebut terdapat polutan biodegradable dan unbiodegradable, dan air yang keluar dari hasil pengolahan COD dan BOD tersebut sudah bebas dari mikroorganisme.

DAFTAR PUSTAKA

- Hermawan, Prasetyo. Buku Petunjuk Praktikum Teknik pengolahan Limbah. Yogyakarta: Akademi Teknologi Kulit, 2011 - erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/pengertian-cod-dan-bod/ - 118k - Similar - ephie.blog.uns.ac.id diakses tanggal 4 Juni 2012

LEMBAR PENGESAHAN

Yogyakarta, Juni 2012

Mengetahui dosen:

(Prasetyo Hermawan, S.T. M.Si)

Asisten dosen:

Praktikan

(Eko Nuraini, A.md)

( Tri Revinta Yanti )