Anda di halaman 1dari 13

PEMERIKSAAN COD ( CHEMICAL OXYGEN DEMAND )

Hari / Tanggal : Jumat, 10 Januari 2014 Nama Nim : Dhika Juliana Sukmana : P07134012 009

I. Tujuan Mahasiswa dan mahasiswi mampu melakukan Pemeriksaan COD menggunakan titrasi dengan metode Refluks Tertutup.

II.

Prinsip Analisa Zat organic dioksidasi dengan larutan K2Cr2O7 berlebih dalam suasana Asam. Kelebihan K2Cr2O7 dititrasi kembali dengan larutan Ferro Amonium Sulfat (FAS) Fe(NH4)2(SO4)2 menggunakan indicator Ferroin.

III.

Prinsip Reaksi CxHyOz + Cr2O72- CO2 + H2O + Cr3+ Cr2O72- (kelebihan) + Fe2+ Fe3+ + 2Cr3+ + H2O

IV.

Landasan Teori Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1 liter sample air, dimana pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxygen agent). Angka COD merupakan ukuran bagi pencamaran air oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Analisa COD berbeda dengan analisa BOD namun perbandingan antara angka COD dengan angka BOD dapat ditetapkan.

Pemeriksaan COD

Page 1

Jenis Air Air buangan domestic (penduduk) Air buangan domestic setelah pengendapan primer Air buangan domestic setelah pengolahan secara biologis Air sungai

BOD/COD 0,40-0,60 0,60

0,20 0,10

Tabel. Perbandingan Rata-rata Angka BOD/COD Beberapa Jenis Air Sebagian besar zat orgnis melalui tes COD ini dioksidasi oleh larutan K2Cr2O7 dalam keadaan asam yang mendidih. Selama reaksi yang berlangsung 2 jam ini, uap direfluk dengan alat kondensor, agar zat organis volateli tidak lenyap keluar. Perak sulfat Ag2SO4ditambahkan sebagai katalisator untuk mempercepat reaksi. Sedang merkuri sulfat ditambahkan untuk menghilangkan gangguan klorida yang pada umumnya ada di dalam buangan. Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organis habis teroksidasi maka zat pengoksidasi K2Cr2O7 masih harus tersisa sesudah direfluk. K2Cr2O7 yang tersisa di dalam larutan tersebut digunakan untuk menetukan berapa oksigen yang telah terpakai. Sisa K2Cr2O7 tersebut ditentukan melalui titrasi dengan ferro ammonium sulfat (FAS), dimana reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut : 6Fe2+ + Cr2O72- + 14H+ 6Fe3+ + 2Cr3+ + 7H2O

Indikator ferroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi yaitu disaat warna hijau biru larutan berubah menjadi coklat merah. Sisa K2Cr2O7 dalam larutan blanko adalah K2Cr2O7 awal, karena diharapkan blanko tidak mengandung zat organis yang dapat dioksidasi oleh K2Cr2O7. Penetapan COD gunanya untuk mengukur banyaknya oksigen setara dengan bahan organik dalam sampel air, yang mudah dioksidasi oleh senyawa kimia oksidator kuat. COD adalah banyaknya oksidator kuat yang diperlukan untuk mengoksidasi zat organik dalam air, dihitung sebagai mg/l O2.

Pemeriksaan COD

Page 2

Manfaat Dalam studi kualitas air parameter COD sangat penting sekali karena parameter ini juga merupakan salah satu indikator pencemaran air. Penentuan kadar COD bermanfaat untuk menentukan sistem pengolahan limbah. Air yang tercemar, misalnya oleh limbah domestik ataupun limbah industri pada umumnya mempunyai nilai COD yang tinggi, sebaliknya air yang tidak tercemar mempunyai COD yang rendah. Metode Penetapan 1. Metode Refluks terbuka Sampel 20,0 ml dimasukkan erlenmayer + 0,4 HgSO4 dan 10 ml reagent K2Cr2O7 , + 30 ml campuran H2SO4 + Ag2SO4 , batu didih, panaskan 2 jam dan dihubungkan dengan kondensor tegak dan dipanaskan dan dititrasi dengan FAS 0,1 N dengan indikator ferroin dari warna biru hijau kekuningan sampai coklat merah. Perhitungan : 1000 x ( ml titrasi blanko ml titrasi sampel) COD = ------------------------------------------------------- x N FAS x 8 = .... mg/l ml sample 2. Metode Refluks Tertutup Caranya : Sampel 2,0 ml dalam tabung COD ditambahkan 5,0 ml K2Cr2O7 0,25 N + Hg2SO4 0,1 g dan 3 ml campuran H2SO4 + Ag2SO4 lalu ditutup rapat. Dipanaskan selama 2 jam 150OC 2OC dan dipindahkan lalu dititrasi dengan FAS 0,1 N dengan indikator ferroin dari warna biru hijau kekuningan sampai coklat merah. Keuntungan refluks tertutup dibanding terbuka : - Lebih praktis dan mudah - Sampel yang digunakan lebih sedikit - Reagent yang digunakan lebih sedikit - Peralatan yang digunakan lebih sedikit
Pemeriksaan COD Page 3

Perhitungan : 1000 x ( ml titrasi blanko ml titrasi sampel) COD = ------------------------------------------------------- x N FAS x 8 = .... mg/l ml sample

3. Metode Spektrofotometer Menggunakan standar yang dibuat dari glukosa atau kalium biftalat. Abs. Sampel Perubahan warna pada titik akhir titrasi dimulai dari warna kuning, hijau, biru, lalu menjadi warna coklat merah (warna coca cola). Guna penambahan batu didih untuk mempercepat pemanasan dan meratakan panas nyala api. Penanggulangan Kelebihan/Kekurangan Kadar COD 1. Penanggulangan kelebihan Kadar COD Pada Trickling filter terjadi penguraian bahan organik yang terkandung dalam limbah. Penguraian ini dilakukan oleh mikroorganisme yang melekat pada filter media dalam bentuk lapisan biofilm. Pada lapisan ini bahan organik diuraikan oleh mikroorganisme aerob, sehingga nilai COD menjadi turun. Pada proses pembentukan lapisan biofilm, agar diperoleh hasil pengolahan yang optimum maka dalam hal pendistribusian larutan air kolam retensi Tawang pada permukaan media genting harus merata membasahi seluruh permukaan media. Hal ini penting untuk diperhatikan agar lapisan biofilm dapat tumbuh melekat pada seluruh permukaan genting. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa semakin lama waktu tinggal, maka nilai COD akhir semakin turun (prosentase penurunan COD semakin besar). Hal ini disebabkan semakin lama waktu tinggal akan memberi banyak kesempatan pada mikroorganisme untuk memecah bahanbahan organik yang terkandung di dalam limbah. Di sisi lain dapat diamati pula bahwa semakin kecil nilai COD awal (sebelum treatment dilakukan) akan menimbulkan kecenderungan penurunan nilai COD akhir sehingga persentase
Pemeriksaan COD Page 4

penurunan COD nya meningkat. Karena dengan COD awal yang kecil ini, kandungan bahan organik dalam limbah pun sedikit, sehingga bila dilewatkan trickling filter akan lebih banyak yang terurai akibatnya COD akhir turun. Begitu pula bila diamati dari sisi jumlah tray (tempat filter media). Semakin banyak tray, upaya untuk menurunkan kadar COD akan semakin baik. Karena dengan penambahan jumlah tray akan memperbanyak jumlah ruang / tempat bagi mikroorganisme pengurai untuk tumbuh melekat. Sehingga proses penguraian oleh mikroorganisme akan meningkat dan proses penurunan kadar COD semakin bertambah. Jadi prosen penurunan COD optimum diperoleh pada tray ke 3. Permukaan media bertindak sebagai pendukung mikroorganisme yang memetabolisme bahan organik dalam limbah. Penyaring harus mempunyai media sekecil mungkin untuk meningkatkan luas permukaan dalam penyaring dan organisme aktif yang akan terdapat dalam volume penyaring akan tetapi media harus cukup besar untuk memberi ruang kosong yang cukup untuk cairan dan udara mengalir dan tetap tidak tersumbat oleh pertumbuhan mikroba. Media berukuran besar seperti genting (tanah liat kering) berukuran 2-4 in akan berfungsi secara maksimal. Media yang digunakan berupa genting dikarenakan lahan diatas permukaan genting cenderung berongga dibanding media lain yang biasa mensuplai udara dan sinar matahari lebih banyak daripada media lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba pada genting. Pada penelitian ini, efisiensi Trickling Filter dalam penurunan COD tidak dapat menurunkan sampai 60% dikerenakan : a. Aliran air yang kurang merata pada seluruh permukaan genting karena nozzle yang digunakan meyumbat aliran air limbah karena tersumbat air kolam retensi Tawang. b. Supplay oksigen dan sinar matahari kurang karena trickling filter diletakkan didalam ruangan sehingga pertumbuhan mikroba kurang maksimal. Dalam penumbuahan mikroba distibusi air limbah dibuat berupa tetesan agar air limbah tersebut dapat memuat oksigen lebih banyak jika dibanding dengan aliran yang terlalu deras karena oksigen sangat diperlukan mikroba untuk tumbuh berkembang.
Pemeriksaan COD Page 5

2. Penanggulangan Kekurangan Kadar COD Senyawa organik yang terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen dengan elemen aditif nitrogen, sulfur, fosfat, dll cenderung untuk menyerap oksigenoksigen yang tersedia dalam limbah air dikonsumsi oleh mikroorganisme untuk mendegredasi senyawa organik akhirnya oksigen. Konsentrasi dalam air limbah menurun, ditandai dengan peningkatan COD, BOD, SS dan air limbah juga menjadi berlumpur dan berbau busuk. Semakin tinggi konsentrasi COD menunjukkan bahwa kandungan senyawa organik tinggi tidak dapat terdegredasi secara biologis. EM4 pengobatan 10 hari dalam tangki aerasi harus dilanjutkan karena peningkatan konsentrasi COD. Fenomena ini menunjukkan bahwa EM4 tidak bisa eksis baik di kondisi ini air limbah, karena populasi yang kuat dan jumlah rendah mikroorganisme dalam air limbah.

V. a.

Alat dan Bahan Alat Neraca analitik Buret dan stand Corong COD Reactor Tabung COD Botol semprot Erlenmeyer 250 ml Gelas ukur Pipet volume Filler Beaker glass Pipet Ukur

Pemeriksaan COD

Page 6

b.

Bahan K2Cr2O7 0,0167 N Ferro Amonium Sulfat 0,01 N H2SO4 pekat Sampel no 624 Hg2SO4 Pekat Ag2SO4 Pekat Indikator Ferroin Aquadest Tissue

VI.

Cara Kerja

a. Standarisasi larutan Ferro Amonium Sulfat dengan Kalium Bikromat 0,0167 N Diisi buret dengan larutan Ferro Amonium Sulfat 0,01 N Dipipet 5,0 larutan Ferro Amonium Sulfat 0,01 N Ditambahkan 4 ml asam sulfat pekat Ditambahkan 3-4 tetes indicator Ferroin Dimasukkan kedalam labu erlenmeyer tutup asah volume 250 ml Ditambahkan lebih kurang 25 ml aquadest dan 5 ml H2SO4 6 N Dititrasi dengan larutan Ferro Amonium Sulfat 0,01 N sampai timbul warna dari hijau biru menjadi coklat merah Dihitung normalitas larutan tersebut

b. Penetapan kadar sampel 2,0 ml sampel dimasukkan ke dalam tabung COD 20 ml dan 0,1 g HgO Ditambahkan 3 ml campuran H2SO4 - Ag2SO4 dan Kalium Bikromat 0,25 N Panaskan dengan COD reactor selama 2 jam pada suhu 1500C
Pemeriksaan COD Page 7

Dinginkan, pindahkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml (sebelumnya dihomogenkan dulu) Ditambahkan 2 3 tetes indicator Ferroin Dittitrasi dengan larutan Ferro Ammonium Sulfat 0,01 N dari warna kuning hijau kemudian coklat

VII.

Rumus Perhitungan

Normalitas Fe(NH4)2(SO4)2 Nilai COD =

VIII.

Data Percobaan

a.

Data Titrasi Standarisasi Fe(NH4)2(SO4)2

No.

Volume Baku Primer (ml)

Volume Buret (ml) 0,00 6,70 6,70 13,10 0,00 6,70

Volume Titrant (ml)

1. 2. 3.

5,0 5,0 5,0

6,70 6,40 6,70

b.

Data Penetapan Kadar Permanganometri

No.

Volume Sampel (ml)

Volume Buret (ml) 2,30 5,00

Volume Titrant (ml)

1.

2,50 ml

2,70

Pemeriksaan COD

Page 8

IX.

Perhitungan

Standarisasi Larutan Ferro Amonium Sulfat

Fe(NH4)2(SO4)2 Percobaan 1

= = = = 0,0125 N

Percobaan 2

= = = 0,0130 N

Percobaan 3

= = = 0,0125 N

N Ferro Amonium Sulfat rata-rata

= = 0,0127 N

Penetapan Kadar Sampel

Nilai COD

= = =109,278 ppm

Pemeriksaan COD

Page 9

X.

Hasil

Dari percobaan perhitungan COD pada sampel menggunakan metode Refluks Tertutup diperoleh Nilai COD sampel sebesar 109,278 ppm. Kandungan COD dalam air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82 / 2001 mengenai baku mutu air minum golongan B maksimum yang dianjurkan adalah 12 mg/l. Berdasarkan pada Permenkes tersebut, dapat disimpulkan bahwa kadar COD sampel yang di uji berada jauh diatas nilai yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan kualitas air sampel sangat tidak bagus ( tercemar berat ). Namun, jika sampel digolongkan kedalam Limbah cair, maka nilai COD sampel kurang dari setengah nilai COD maksimal limbah cair golongan 3, karena kadar COD yang diperbolehkan berdasarkan pada Kepmen LH No. KEP03/MENKLH/II/1991 tentang baku mutu limbah cair golongan 3 COD yaitu 300 mg/L.

XI.

Pembahasan

Pada praktikum perhitungan COD dengan titrimetri metode Refluks Tertutup sebelumnya dilakukan pencampuran sampel dengan pereaksi COD yaitu Ag2SO4 pekat dan Hg2SO4 pekat, pada pencampuran ini akan timbul endapan. Sebelum pemanasan menggunakan COD reactor, sampel yang telah membentuk endapan tersebut dihomogenkan terlebih dahulu kemudian dimasukkan kedalam COD reactor (1500C selama 2 jam). Penambahan Perak Sulfat Ag2SO4 berfungsi sebagai katalisator, dan amerkuri sulfat MgSO4 berguna untuk menghilangkan gangguan klorida yang pada umumnya ada didalam air buangan. Selama selang waktu 2 jam, untuk mengefektifkan waktu dilakukan titrasi penetapan kadar Larutan baku sekunder (ferro Amonium Sulfat) terhadap larutan baku primer (Kalium Bikromat) dengan tambahan asam sulfat pekat dan indicator ferroin. Ketika ditambahkan asam sulfat pekat, seketika larutan akan menjadi panas ( terjadi kenaikan suhu ). Titrasi ini akan
Pemeriksaan COD Page 10

menunjukkan duakali perubahan warna. Dari kuning kecoklatan akan berubah menjadi warna hijau-biru kemudian titrasi dilanjutkan hingga warna berubah menjadi merah kecoklatan. Setelah dua jam dipanaskan,sampel dikeluarkan dari COD reactor dan kemudian di dinginkan. Sebelumdititrasi, sampel di homogenkan dulu dan ditambahkan indicator ferroin. Saat titrasi penetapan kadar, perubahan warna yang terjadi sama dengan perubahan warna pada titrasi standarisai. Dari serangkain proses tersebut dan pada akhirnya diperoleh nilai COD sampel sebesar 109,728 ppm.

XII.

Dokumentasi

Sebelum Titrasi Standarisasi

perubahan warna sebelum TAT

Pemeriksaan COD

Page 11

Sampel

Sampel sebelum dan sesudah PK

Sesudah TAT Standarisasi dan PK

Pemeriksaan COD

Page 12

Mengetahui, Praktikan Pembimbing Praktikum

Dhika Juliana Sukmana

H. Haerul Anam, SKM

Pemeriksaan COD

Page 13