Anda di halaman 1dari 326

1

KESALAHAN DALAM PENGUKURAN DAN


METODE ANALISA DATA

1.1 Definisi
Umumnya, di dalam pengukuran dibutuhkan instrumen sebagai suatu cara fisis
untuk menentukan suatu besaran (kuantitas) atau variabel. Insrument tersebut membantu
keterampilan manusia dan dalam banyak hal memungkinkan seseorang untuk
menentukan nilai dari suatu besaran yang tidak diketahui. Tanpa bantuan instrument
tersebut, manusia tidak dapat menentukannya. Dengan demikian, sebuah instrumen
dapat berupa alat yang konstruksinya sederhana dan relatif tidak rumit seperti halnya
sebuah alat ukur dasar untuk arus searah (lihat bab 4). Tetapi dengan perkembangan
teknologi, tuntutan akan perkembangan instrumen intrumen yang lebih terpecaya dan
lebih telitian semakinmeningkat yang kekmudian mengjhasilkan perkembangan-
perkembangan baru dalam perencanaa dan pemakaian. Untuk menggunakan instrumen-
instrumen ini secara cermat, kita perlumemahami prinsip-prisip kerjanya dan mampu
memperkirakan apakah instrumen tersebut sesuai untuk pemakain yang telah
direncanakan
Dalam pengukuran digunakan sejumlah istilah yang akan didefinisikan sebagai
berikut:
Instrument : suatu alat yang diguankan atau kebesaran suatu kuantitas atau
variabel
Ketelitian (accurity) : harga terdekat dengan mana suatu pembacaan instrument
mendekati harga sebenarnya dari variabel yang diukur.
Ketepatan (preccision) : Suatu ukuran kemampuan untuk mendapatkan hasil
pengukuran yang serupa. Dengan memberikan suatu harga tertentu bagi sebuah
variabel.

1.2 Ketelitian dan ketepatan
Ketelitian menyatakan tingkat kesesuaian atau dekatnya suatu hasil pengukuran
terhadap hasil sebenarnya; sedang ketepatan (presisi) menyatakan tingkat kesamaan di
dalam sekelompok pengukuran atau sejumlah instrumen.
Untuk menunjukkan perbedaan antara ketelitian dan ketepatan, bandingkan dua
buah voltmeter dari pembuatan dan model yang sama. Kedua voltmeter tersebut
mempunyai jarum penunjuk yang ujungnya tajam dan juga dilengkapi dengan cermin
yang menghindari beda lihat (paralaks) ; selain itu skala masing-masing voltmeter telah
dikalibrasi (ditera) secara seksama. Dengan demikian, kedua alat ini dapat dibaca pada
ketepatan yang sama. Jika nilai tahanan deret di dalam salah-satu voltmeter berubah
banyak, pembacaannya bisa mengakibatkan kesalahan yang cukup besar. Karena itu
ketelitian keduavoltmeter tersebut dapat berbeda sama sekali (untuk menentukan
voltmeter mana yang menghasilkan kesalahan, diperlukan perbandingan terhadap
voltmeter standar).
Ketepatan terdiri dari dua karakteristik , yaitu kesesuian (conformity) dan
jumlah angka berarti (significant figure) terhadap mana suatu pengukuran dapat
dilakukan. Sebagai contoh, sebuah tahanan yang besarnya 1.384.572 ohm setelah diukur
dengan ohmmeter secara konsisten dan berulang menghasilkan 1,4 mega ohm. Yang
menjadi pertanyaan, apaakah orang yang mengukur (pengamat) tersebut telah membaca
harga yang sebenarnya? Sebetulnya yang dilakukan adalah memperkirakan pembacaan
skala yang menurut dia secara konsisten menghasilkan 1, 4 mega-ohm. Dalam hal ini
hasil yang diberikan adalah yang lebih mendekati harga yang sebenarnya berdasarkan
penaksiran. Walaupun dalam pengmatan ini tidak terdapat penyimpangan
penyimpangan, kesalahan yang diakibatkan oleh pembatasan terhadap pembacan skala
adalah suatu kesalahan presisi(precision). Contoh yang telah diberikan menujukkan
2

bahwa kesesuaian adalah suatu persyaratan yang perlu tetapi belum cukup untuk
memperoleh ketepatan, sebab angka-angka yang berarti belum dibicarakn. Dengan cara
yang sama presisi merupakan suatu yang perlu, tetapi belum cukup untuk persyaratan
ketelitian.
Siswa pemula cenderung mencatat pembacaan alat ukur berdasrkan harga yang
dilihatnya. Mereka tidak sadar bahwa ketelitian suatu pembacaan tidak perlu dijamin
oleh ketepatannya. Kenyatannya, cara-cara pengukuran yang baik menuntut sikap
yang selalu ragu tentang ketelitian hasil pengukuran.
Dalam pekerjaan yang kritis, latihan yang baik menunjukkan bahwa pengamat
yang melakukan suatu rentetan pengukuran yang tidak saling bergantung dengan
menggunakan instrumen atau cara-cara pengukuran yang berberbeda, tidak dipengaruhi
oleh kesalahankesalahan sistermatis yang sama. Ia juga harus memastikan bahwa
instrumeninstrumen yang digunakan berfungsi baik dan telah dikalibrasi terhadap
suatu standar yang telah diketahui, dan tidak ada pengaruh ketelitian pengukuran.

1-3 Angka-angka Penting
Suatu indikasi bagi ketepatan pengukuran diperoleh dari banyaknya angka-
angka yang berarti (significant figures). Angka angka yang berarti tesebut memberikan
informasi yang aktual (nyata) mengenai kebesaran dan ketepatan pengukura. Makin
banyak angka-angka yangberarti, ketepatan pengukuran manjadi lebih besar.
Sebagai contoh, jika nilai sebuah tahanan dinyatakan sebesar 68 ini berarti
bahwa tahanan tersebut akan lebih mendekati 68 daripada 67 atau 69 . Selanjutnya
jika disebutkan nilai tahanan adalah 68,0 , berarti nilai tahanan tersebut lebih
mendekati 68.0 dari pada 67.9 atau 68.1 . Pada tahanan 68 terdapat dua angka
yang berarti, sedangkan pada tahanan 68.0 terdapat tiga angka yang berarti.
Dikatakan bahwa tahanan 68.0 yaitu yang memiliki angka berarti yang lebih banyak,
mempunyai ketepatan yang lebih tinggi daripada tahanan 68 .
Tetapi, sering terjadi bahwa banyaknya angka belum tentu menyatakan
ketepatan pengukuran. Bilangan-bilangan besar dengan angka-angka nol sebelum titik
desimal sering digunakan pada penaksiran jumlah penduduk atau uang. Misalnya, jika
jumlah penduduk sebuah kota dilaporkan dalam enam angka sebanyak 380.000, ini bisa
diartikan bahwa penduduk sebenarnya adalah 379.000 dan 380.001 yakni dalam enam
angka berarti. Tetapi maksud sebenarnya adalah bahwa jumlah penduduk tersebut
mendekati 380.00 daripada 370.000 atau 390.000. karena dalam hal ini jumlah
penduduk hanya dapat dilaporkan dalam dua angka yang berarti, maka diperlukan cara
untuk menyatakan jumlah yang besar.
Bentuk penulisan teknis yang lebih tepat adalah menggunakan perpangkatan sepuluh,
misalnya 38 x 10
4
atau 3,8 x 10
5
. di sini ditunjukkan bahwa jumlah pendudukan hanya
teliti sampai dua angka yang berarti. Ketidakpastian yang disebabkan oleh angka-angka
nol di sebelah kiri titik desimal biasanya diatasi dengan tanda penulisan ilmiah
(scientific notation) yaitu dengan menggunakan perpangkatan sepuluh. Misalnya,
dengan menuliskan kecepatan cahaya 186.000 mil persekon, hal ini tidak akan
menimbulkan masalah bagi orang yang berlatar belakang teknik, tetapi walaupun
dituliskan dalam bentuk 1,86 x 10
5
mil/ sekon juga tidak akan mengakibatkan keragu-
raguan.
Adalah lazim untuk mencatat suatu hasil pengukuran dengan menggunakan
semua angka yang kita yakin paling mendekati ke harga yang sebenarnya. Misalnya jika
sebuah voltmeter dibaca 117,1 Volt, maka ini menunjukkan bahwa penaksiran yang
paling baik menurut pengamat lebih mendekati ke 117,1 volt daripada 117,0 volt atau
117,2 volt. Cara lain untuk menyatakan hasil pengukuran ini adalah mengguankan
rangkuman rangkuman kesalahan yang mungkin (range of possible error). Dengan
3

cara ini tegangan dapat dituliskan menjadi 117,1 0,05 volt; yang menunjukkan bahwa
nilai tegangan terletak antara 117,05 volt dan 117,15 volt.
Jika sejumlah pengukuran yang independent (tidak saling bergantungan)
dilakukan dalam upaya untuk mendapatkan hasil paling baik yang mungkin (paling
dekat dengan ke harga yang sebenarnya), biasanya hasil tersebut dinyatakan dalam nilai
rata-rata dari semua pembacaan; dan rangkuman kesalahan yang mungkin merupakan
penyimpangan terbesar (lagest deviation) dari nilai rata-rata tersebut. Hal ini
ditunjukkan pada Contoh 1-1.
Contoh 1.1 : Satu rentetan pengukuran tegangan yang tidak saling bergantungan
dilakukkan oleh empat pengamat yang menghasilkan : 117,02 volt; 117,11 volt; 117,08
volt; dan 117,03 volt. Tentukan (a) tegangan rata-rata , (b) rangkuman kesalahan;

Penyelesaian:
(a)
V
N
E E E E
06 , 117
4
03 , 117 08 , 117 11 , 117 02 , 117
E
4 3 2 1
rata - rata
=
+ + +
=
+ + +
=

(b) Rangkuman =E
maksimum
-E
rata-rata

= 117,11 117,06 = 0.05 V
Tetapi juga E
rata-rata
-E
minimum
=117,06 117,02 = 0.04 V
Maka rangkuman kesalahan rata-rata menjadi:

V 05 . 0 045 . 0
2
04 . 0 05 . 0
= =
+
=

Bila dua atau lebih pengukuran dengan tingkat ketelitian yang berbeda
dijumlahkan, maka hasilnya seteliti pengukuran yang paling kecil keteliltainnyla. Hal
ini dijelaskan dengan menjumlahkan dau buah tahanan serert pada Contoh 1-2 berikut.
Penyelesaian:
R
1
= 18.7 (tiga angka yang berarti)
R
2
= 3.624 (empat angka yang berarti)

R
T
= R
1
+ R
2
= 22,345 (empat angka yang berarti)= 22.3
Angka-angka yang dicetak miring untuk menunjukkan bahwa pada penjumlahan
R
1
dan R
2
, ketiga angka terakhir merupakan angka-angka yang meraguakan. Dalam hal
ini tidak ada gunanya untuk mrngguankan dua angka (2 dan 4) sebab salah satu tahanan
hanya telilti sampai tiga angka yang berarti atau sepersepuluh hm. Dengan demikian,
yang diperlukan hanya sampai tiga angka yang berarti atau sepersepuluh yang terdekat,
yakni 22,3 .
Banyaknya angka-angka yang berarti dalam perkalian bisa bertambah dengan
cepat, tetapi sekali lagi diingatkan bahwa yang diperlukan dalam jawaban hanya angka-
angka berarti yang memenuhi. Hal ini ditunjukkan pada Contoh 1-3:
Contoh 1.3 : Untuk menetukan penurunan tegangan, arus sebedar 3,18 A
dialirkan melalui sebuah tahanan 35,68 . Tentukan penurunan tegangan pada tahanan
tersebut sampai angka-angka berarti yang memenuhi.
Penyelesaian : E=I R= (3,18) x (35,68) = 113.4624 = 113 V
Karena didalam perkalian tersebut terdapat tiga angka yang berarti (yaitu 3,18),
maka jawaban hanya dapat dituliskan maksimal dalam tiga angka yang berarti.
Pada contoh 1-3, arus I memiliki tiga angka yang berarti dan R memiliki empat
angka yang berarti; sedang hasilnya hanya dalam tiga angka yang berarti. Ini
menunjukkkan bahwa jawaban tidak dapat diketahui sampai suatu ketelitian yang lebih
besar daripada faktor-faktor yang didefinisikan paling jelek. Juga perlu dicatat bahwa
4

jika angka angka tambahan bertambah banyak dalam jawaban, sebaiknya dihilangkan
atau dibulatkan. Dalam praktek yang umum jika angka-angka paling tidak berarti (least
significant digits) dalam posisi pertama yang akan dihilangkan atau lebih kecil dari
lima, maka angka tersebut beserta angka-angka berikutnya dihilangkan (hal ini telah
dilakukan pada contoh 1.3). Jika angka dalam posisi pertama yang akan dihilangkan
sama atau lebih besar dari lima, maka angka sebelumnya ditambah satu. Dengan
demikian, untuk ketepatan tiga angka, 113, \46 dibulatkan menjadi 13; dan 113,74
menjadi 114
Penjumlahan angka-angka disertai dengan rangkuman keragu-raguan diberikan
pada Contoh 1-4.
Contoh 1.4 : Jumlahkan 826 5 terhadap 628 3
Penyelesaian : N
1
= 826 5 ( = 0.605 %)
N
2
= 628 3 ( = 0.477 %)
Hasil penjumlahan = 1.454 8 (= 0.55)
Dalam contoh ini perlu diperhatikan bahwa bagian-bagian yang meragukan
dijumlahkan, sebab tanda berarti bahwa satu bilangan bisa tinggi yang lain rendah.
Kombinasi jangkauan keragu-raguan yang mungkin harus dimasukkan ke dalam
jawaban. Persentase keragu-raguan di dalam N
1
dan N
2
tidak berbeda banyak dari
persentase keragu-raguan pada hasil penjumlahan.
Jika kedua bilangan tersebut dikurangkan seperti ditunjukkan pada contoh 1-5,
terdapat suatu perbedaan yang menarik antara penjumlahan dan pengurangan mengenai
rangkuman keragu-raguan.
Contoh 1-5: Kurangkan 628 3 dari 823 5 dan nyatakan rangkuman keragu-
raguan dalam persen.
Penyelesaian: N
1
= 826 5 ( = 0.605 %)
N
2
= 628 3 ( = 0.477 %)
Selisih = 198 8 (= 4.04%)
Dengan alasan yang sama seperti pada Contoh 1-4, keragu-raguan dalam Contoh 1-5 ini
juga dijumlahkan. Dengan membandingkan kedua contoh ini dapat kita lihat bahwa
prosisi hasil keduanya berbeda banyak setelah dinyatakan dalam persen. Juga
terlihat bahwa persentase keragu-raguan pada pengurangan lebih besar dari persentase
keragu-raguan pada penjumlahan. Persentase keragu-raguan ini malah akan bertambah
bila selisih antara kedua bilangan relatif keeil. Tinjaulah Contoh 1-6 berikut.
Contoh 1-6 : Kurangan 437 4 dari 462 4 dan tentukan persentase
keraguraguan.
Penyelesaian : N
1
= 462 4 0.87%.)
N
2
=4 3 7 4 ( = 0 . 9 2 %)
Selisih = 25 8 ( = 32%)
5

Contoh
-
1-6 dengan jelas menunjukkan bahwa cara-cara pengukuran yang bergantung
pada pengurangan hasil-hasil percobaan sebaiknya dihindarkan; sebab rangkuman ke-
raguan-raguan dalam hasil pengurangan tersebut bisa makin bertambah besar.
1-4 JENIS-JENIS KESALAHAN
Tidak ada pengukuran yang menghasilkan ketelitian yang sempurna, tetapi adalah
penting untuk mengetahui ketelitian yang sebenarnya dan bagaimana kesalahan yang
berbeda digunakan dalam pengukuran. Langkah pertama yang diperlukan untuk me-
nguranginya adalah mempelajari kesalahan-kesalahan tersebut; di mana dari hal ini juga
dapat ditentukan ketelitian hasil akhir.
Kesalahan-kesalahan dapat terjadi karena berbagai sebab dan umumnya
dibagi dalam tiga jenis utama, yaitu:
Kesalahan-kesalahan umum (gross-errors) : kebanyakan disebabkan oleh
kesalahan manusia, di antaranya adalah kesaIahan pembacaan alat ukur, penyetelan
yang tidak tepat dan pemakaian instrumen yang tidak sesuai, dan kesalahan
penaksiran.
Kesalahan-kesalahan sistematis (systematic errors): disebabkan oleh kekurangan-
kekurangan pada instrumen sendiri seperti kerusakan atau adanya bagiar~ba lan yang
aus dan pengaruh lingkungan terhadap peralatan atau pemakai.
Kesalahan-kesalahan yang tak disengaja (random errors): diakibatkan oleh
penyebab-penyebab yang tidak dapat langsung diketahui sebab perubahan-perubahan
parameter atau sistem pengukuran terjadi secara acak.
Masing-masing kelompok kesalahan ini akan dibahas secara ringkas dengan menya-
iankan beberapa metoda untuk memperkecil atau menghilangkannya.
1-4-1 Kesalahan-kesalahan umum (kecerobohan, gross errors)
Kelompok kesalahan ini terutama disebabkan oleh kekeliruan
manusia dalam melakukan pembacaan atau pemakaian instrumen dan dalam
secara keseluruhan, usaha untuk mencegah dan memperbaikinya perlu dilakukan. Be-
berapa kesalahan umum dapat mudah diketahui tetapi yang lainnya mungkin sangat
tersembunyi.
Kesalahan umum yang sering dilakukan oleh pemula adalah pemakaian
instrumen yang tidak sesuai. Umumnya instrumen-instrumen penunjuk berubah
kondisi sampai batas tertentu setelah digunakan mengukur sebuah rangkaian yang
lengkap, dan akibatnya besaran yang diukur akan berubah. Sebagai contoh sebuah
voltmeter yang telah dikalibrasi dengan baik dapat menghasilkan pembacaan yang salah
bila dihubungkan antara dua titik di dalam sebuah rangkaian tahanan tinggi
(Contoh 1-7); sedang bila voltmeter tersebut dihubungkan ke sebuah rangkaian
yang tahanannya rendah, pembacaannya bisa berlainan bergantung pada jenis voltmeter
yang digunakan (Contoh 1-8). Contoh-contoh berikut menunjukkan bahwa
voltmeter menimbulkan suatu "efek pembebanan" (loading effect) terhadap
rangkaian, yakni mengubah keadaan awal rangkaian tersebut sewaktu mengalami
proses pengukuran.
Contoh 1-7 : Sebuah voltmeter dengan kepekaan (sensitivity) 1000 /Volt mem-
baca 100 V pada skala 150 V bila dihubungkan. di antara ujung-ujung sebuah tahanan
yang besarnya tidak diketahui. Tahanan ini dihubungan secara seri dengan sebuah
miliampermeter.
Bila miliampermeter membaca 5 mA, tentukan (a) tahanan yang terbaca, (b) nilai
tahanan aktual dari tahanan yang diukur, (c) kesalahan karena efek pembebanan voltmeter.
6

Penyelesaian
(a ) Tahanan total rangkaian adalah:
O = = = k
mA
V
I
V
R
T
T
T
20
5
100

Dengan rnengabaikan tahanan miliampermeter, harga tahanan yang tidak diketahui
adalah R
x
=20 k
(b) Tahanan voltmeter adalah
O =
O
= k V
V
R
T
150 150 1000
Karena voltmeter tersebut paralel terhadap tahanan yang tidak diketahui, kita
dapat menuliskan :
O =

= k
R R
R R
Rx
V T
V T
05 , 23
20 150
150 20

(c) Persentase kesalahan adalah :
% 23 , 13 % 100
05 , 23
20 05 , 23
% 100 % =

= x x
aktual
terbaca aktual
Kesalahan


Contoh 1-8 : Ulangi contoh soal 1-7 jika miliampermeter menunjukkan 800 mA
dan voltmeter menunjukkan 40 V pada skala 150 V.
Penyelesaian :
(a) O = = = 50
8 , 0
40
A
V
I
V
R
T
T
T

(b) O =
O
= k V x
V
R
T
150 150 1000
O =
+
=

= k
x
R R
R R
Rx
V T
V T
1 , 50
150 50
150 50

(c) % 2 , 0 % 100
1 , 50
50 1 , 50
% =

= x Kesalahan

Kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh efek pembebanan voltmeter dapat
dihindari dengan menggunakan alat tersebut secermat mungkin. Misalnya, sebuah
voltmeter yang tahanannya kecil tidak akan digunakan untuk mengukur tegangan-
tegangan di dalam sebuah penguat tabung hampa. Untuk pengukuran khusus seperti ini
diperlukan sebuah voltmeter dengan impedansi masukan yang tinggi (misalnya VTVM
atau TVM).
Kesalahan-kesalahan umum dalam jumlah besar dapat dikenali dari keteledoran
atau kebiasaan-kebiasaan yang buruk, seperti : pembacaan yang tidak tepat, pencatatan
yang berbeda dari pembacaan aktual yang diambil, atau penyetelan instrumen
yang tidak tepat. Pandang sebagai comoh sebuah voltmeter rangkuman ganda yang
menggunakan satu papan skala dengan angka-angka (tanda yang berbeda untuk
setiap rangkuman). Dalam hal ini adalah mudah untuk menggunakan sebuah skala
yang tidak bersesuaian terhadap penyetelan sakelar pemilih rangkuman voltmeter
7

tersebut. Kesalahan umum juga dapat terjadi bila instrumen tersebut tidak
dikembalikan ke angka nol sebelum melakukan pengukuran dan akibatnya semua
pembacaan menjadi salah.
Kesalahan-kesalahan seperti ini tidak dapat dinyatakan secara matematis
tetapi hanya dapat dihindari dengan melakukan pembacaan yang cermat dan juga
pencatatan data pengukuran yang benar. Hasil yang baik memerlukan pembacaan
lebih dari satu kali, atau mungkin dengan pengamat yang berbeda. Dalam hal ini kita
sama sekali tidak boleh bergantung pada satu pembacaan saja, tetapi paling sedikit
harus melakukan tiga pembacaan terpisah. Yang lebih disukai adalah pemabacaan
pada kondisi kondisi dengan pengubahan intrumen-instrumen dari keadaan mati ke
keadaaan hidup (off-on).
1-4-2 Kesalahan sistematis
Jenis kesalahan-kesalahan ini biasanya dibagi dalam dua bagian
(1) kesalahan-kesalahan instrumental yakni kekurangan-kekurangan dari instrumen itu
sendiri, dan
(2) kesalahan-kesalahan lingkungan, yakni yang disebabkan oleh keadaan-keadaan luar
yang mempengaruhi pengukuran.
Kesalahan-kesalahan instrumental (instrumental errors) merupakan
kesalahan yang tidak dapat dihindarkan dari instrumen karena struktur mekanisnya.
Misalnya di dalam alat ukur d'Arsonval, gesekan berapa komponen yang bergerak
terhadap bantalan dapat menimbulkan pembacaan yang tidak tepat. Tarikan pegas yang
tidak teratur, perpendekan pegas, berkurangnya tarikan karena penanganan yang tidak
tepat atau pembebanan instrumen secara berlebihan, juga akan mengakibatkan
kesalahan-kesalahan. Jenis kesalahan instrumental lainnya adalah kesalahan kalibrasi
yang mengakibatkan pembacaan instrumen yang terlalu tinggi atau terlalu rendah
sepanjang seluruh skala (kegagalan pengembalian jarum penunjuk ke nol sebelum
melakukan pengukuran memiliki efek yang serupa)
Kesalahan-kesalahan instrumental terdiri dari beberapa macam bergantung
pada jenis instrumen yang dipergunakan. Yang selalu harus diperhatikan adalah
memastikan bahwa instrumen yang digunakan tersebut bekerja baik dan tidak
menambah kesalahan-kesalahan lainnya. Kesalahan pada instrumen dapat diketahui
dengan melakukan pemcriksaan terhadap tingkah laku yang tidak biasa terjadi,
terhadap kestabilan dan terhadap kemampuan instrumen untuk memberikan hasil
pengukuran yang sama. Suatu cara yang cepat dan mudah

untuk untuk memeriksa
instrumen tersebut adalah membandingkannya terhadap instrumen lain yang
memiliki karakteristik yang sama atau terhadap suatu alat ukur yang diketahui lebih
akurat (teliti).
Kesalahan-kesalahan instrumental dapat dihindari dengan cara (1) pemilihan
instrumen yang tepat untuk pemakaian tertentu; (2) menggunakan faktor-faktor
koreksi setelah mengetahui banyaknya kesalahan instrumental; (3) mengkalibrasi
instrumen tersebut terhadap sebuah instrumen standar.
Kesalahan-kesalahan karena lingkungan (environmental errors) disebabkan
olch keadaan luar
-
yang mempengaruhi alat ukur termasuk keadaan-keadaan di sekitar
instrumen seperti : efek perubahan temperatur, kelembaban, tekanan udara luar atau
medan maknetik atau medan elektrostatik. Dengan demikian, suatu perubahan pada
temperatur sekeliling instrumen menyebabkan perubahan sifat-sifat kekenyalan
pegas yang terdapat di dalam mekanisme kumparan putar; yang dengan demikian
mempengaruhi pembacaan instrumen. Cara-cara yang tepat untuk mengurangi efek-
efek ini di antaranya adalah pengkondisian udara, penyegelan komponen-komponen
8

instrumen tertentu secara rapat sekali, pemakaian pelindung maknetik, dan lain-lain.
Kesalahan-kesalahan sistematis dapat juga dibagi dalam kesalahan statis dan
kesalahan dinamis. Kesalahan statis disebabkan oleh pembatasan-pembatasan alat ukur
alau hukum-hukum fisika yang mengatur tingkah laku alat ukur tersebut. Suatu
kesalahan statis akan dihasilkan dalam sebuah mikrometer bila diberikan tekanan
yang berlebihan untuk memutar poros. Kesalahan-kesalahan dinamis disebabkan oleh
ketidak mampuan instrumen untuk memberikan respons (tanggapan) yang cukup cepat
bila terjadi perubahan-perubahan dalam variabel yang diukur.

1-4-3 Kesalahan-Kesalahan Acak (Random Errors)
Kesalahan-kesalahan ini diakibatkan oleh penyebab-penyebab yang tidak
diketahui dan terjadi walaupun semua kesalahan-kesalahan sistematis telah
diperhitungkan. Kesalahan ini biasanya hanya kecil pada percobaan/pengukuran
yang telah direncanakan secara baik; tetapi menjadi penting pada pekerjaan-pekerjaan
yang memerlukan ketelitian tiggi. Misalkan suatu tegangan akan diukur olch
sebuah voltmeter yang,dibaca setiap setengah jam. Walaupun instrumen
dioperasikan lingkungan yang sempurna dan telah dikalibrasi secara tepat
sebelum pegukuran akan diperoleh hasil -hasil pembacaan yang sedikit
berbeda selama periode pengamatan perubahan ini tidak dapat dikoreksi
dengan cara kalibrasi apapun dan juga oleh cara pengontrolan yang ada.
Cara satu-satunya untuk membetulkan kesalahan ini adlah dengan
menembah jumlah pembacaan dan menggunakan cara-cara statistik untuk
mendapatkan pendekatan paling baik terhadap harga yan g sebenarnya.

1-5 ANALISIS STATISTIK (STATISCAL ANALYSIS)
Analisis statistik terhadap data pengukuran adalah pekerjaan yang biasa sebab
dia memungkinkan penentuan ketidak-pastian hasil pengujian akhir secara analitis.
Hasil dari suatu pengukuran dengan metoda tertentu dapat diramalkan
berdasarkan data contoh (sample-data) tanpa memiliki informasi (keterangan)
yang lengkap mengenai semua faktor-faktor gangguan. Agar cara-cara statistik dan
keterangan yang diberikannya (interprestasi) bermanfaat, biasanya diperlukan
sejumlah pengukuran yang banyak. Juga dalam hal ini, kesalahan-kesalahan
sistematis harus kecil dibandingkan terhadap kesalahan-kesalahan acak; sebab
pengerjaan data secara statistik tidak dapat menghilangkan suatu prasangka tertentu
yang selalu terdapat dalam semua pengukuran.

1-5-1 Nilai Rata-rata (arithmetic mean)
Nilai yang paling mungkin dari suatu variabel yang diukur adalah nilai rata-
rata dari semua pembacaan yang dilakukan. Pendekatan paling baik akan diperoleh
bila jumlah pembacaan untuk suatu besaran sangat banyak. Secara teoritis,
pembacaan yang banyaknya tak berhingga akan memberikan hasil paling baik,
walaupun dalam prakteknya hanya dapat dilakukan pengukuran yang terbatas. Nilai
rata-rata diberikan oleh persamaan :
n
x
n
x x x x x
x
n
E
=
+ + + + +
=
....
4 3 2 1
(1-1)
di mana x = nilai rata-rata
x
1,
x
2
, x
n
= pembacaan yang dilakukan
n = jumlah pembacaan
9

Contoh 1-1 menunjukkan cara pemakaian nilai rata-rata.
1-5-2 Penyimpangan terhadap nilai rata-rata
Penyimpangan (deviasi) adalah selisih

antara suatu pembacaan terhadap nilai
rata-rata dalam sekelompok pembacaan. Jika penyimpangan pembacaan pertama x
1

adalah d
1
, penyimpangan pembacaan kedua x
2
adalah d
2
, dan seterusnya, maka
penyimpangan-penyimpangan terhadap, nilai rata-rata adalah
x x d =
1
'
1
x x d =
2 2
x x d
n n
= (1-2)
Perlu dicatat bahwa penyimpangan terhadap nilai rata-rata boleh positif atau negative
dan jumlah aljabar semua penyimpangan tersebut harus nol.
Contoh 1-9 menunjukkan perhitungan penyimpangan (deviasi).
Contoh 1-9 : Satu rentetan pengukuran arus yang tidak saling bergantung an dilakukan
oleh enam pengamat dan menghasilkan 12,8 mAl 12,5 mA; 13,1 mA; 12,9 mA dan 12,4
mA. Tentukan (a) niali rat-rata, (b) deviasi terhadap nilai rata-rata ;
Penyelesaian :
(a). Dengan menggunakan persamaan (1-1) nilai rata-rata adalah :
mA x 65 , 12
6
4 , 12 9 , 12 1 , 13 5 , 12 2 , 12 8 , 12
=
+ + + + +
=
(b) Dengan menggunakan persamaan (1 -2), penyimpangan-penyimpangan adalah :
d
1
=12. 8-12. 65=0. 15 mA
d
2
=12. 2-12. 65=-0. 45 mA
d
3
=12. 5-12. 65=-0. 15 mA
d
4
=13. 1-12. 65=0. 45 mA
d
5
=12. 9-12. 65=0. 25 mA
d
6
=12. 4-12. 65=-0. 25 mA
Dari sini dapat dilihat bahwa jumlah aljabar semua penyimpangan adalah nol.
1-5-3 Penyimpangan Rata-rata (average deviation)
Deviasi rata-rata adalah suatu indikasi ketepatan instrumen-instrumen yang
digunakan untuk pengukuran. Instrumen-instrumen yang ketepatannya tinggi akan
menghasilkan deviasi rata-rata yang rendah antara pembacaan-pembacaan. Menurut
definisi, deviasi rata-rata adalah penjumlahan nilai-nilai mutlak dari penyimpangan-
penyimpangan dibagi dengan jumlah pembacaan
Deviasi rata-rata dapat dinyatakan sebagai :
n
d
n
d d d d
D
n n
E
=
+ + + +
=
....
3 2 1

pcnentuan deviasi ini diberikan pada Contoh 1-10 berikut.
Contoh 1 -10 : Tentukan deviasi rata-rata untuk data yang diberikan pada Contoh 1-9
Penyelesaian :
D = 0.15 + 0.45 + 0.15 + 0.45 - 0.25 + 0.25 = 0.283 mA
6


1-5-4 Deviasi standar
Deviasi standar (root - mean - square) merupakan cara, yang sangat ampuh
10

untuk menganalisa kesalahan-kesalahan acak secara statistik. Deviasi standar dari
jumlah data terbatas didefinisikan sebagai akar dari penjumlahan semua
penyimpangan (deviasi) setelah dikuadratkan dibagi dengan banyaknya pembacaan.
Secara matematis dituliskan:
n
d
n
d d d d
t n
2 2 2
3
2
2
2
1
.... E
=
+ + + +
= o (1-4)
Tentunya dalam praktek, jumlah pengamatan yang muncul adalah

terbatas.
Deviasi untuk sejumlah data terbatas adalah :
1 1
....
2 2 2
3
2
2
2
1

E
=

+ + + +
=
n
d
n
d d d d
t n
o (1-5)
Persamaan (1-5) ini akan diguankan dlaam Contoh 1-11,
Suatu pernyataan lain yang sesungguhnya besaran yang sama adalah
variasi (mean square deviation) yang besarnya sama dengan kuadrat deviasi
standar, yaitu :
Variasi (V) = mean square deviation =o
2

Variansi merupakan besaran yang menyenangkan untuk dipakai dalam
banyak perhitungan sebab sifatnya yang aditif. Tetapi deviasi standar memiliki
keuntungan karena mempunyai satuan yang sama seperti variabel, sehingga mudah
membuatnya untuk membandingkan besaran-besaran. Sekarang ini kebanyakan hasil-
hasil ilmiah dinyatakan dalam deviasi standar.

1-6 KEMUNGKINAN KESALAHAN-KESALAHAN
(PROBABILITY OF ERROR)
1-6-1 Distribusi kesalahan normal
Pada Tabel 1-1 ditentukan sebuah daftar dari 50 pembacaan tegangan yang
dilakukan pada selang waktu yang singkat dan dicatat paling sedikit pada setiap
kenaikan 0,1 volt. Tegangan nominal tegangan yang diukur adalah 100,00 volt. Hasil
rentetan pengukuran ini dapat disajikan secara grafik dalam bentuk sebuah balok atau
histogram dalam mana jumlah pengamatan digambarkan terhadap masing-masing pem-
bacaan tegangan. Histogram pada Gambar 1-1 menyatakan data dari tabel 1-1.
Pembacaan Tegangan (V) Jumlah pembacaan
99.7 1
99.8 4
99.9 12
100.0 19
100.1 10
100.2 3
100.2 1
50
Pada Gambar 1-1 ditunjukkan bahwa jumlah pembacaan terbanyak (19)
terdapat pada nilai tengah 100 Volt, sedang pembacaan-pembacaan nilainya
berada hampir simetri pada kedua sisi nilai tengah tersebut. Seandainya pembacaan
11

yang lebih banyak dilakukan dengan kenaikan yang lebih kecil, misalnya 200
pembacaan dengan selang 0,05 Volt, distribusi pengamatan akan tetap mendekati
simetri terhadap nilai tengah dan bentuk histogram akan tetap menyerupai bentuk
sebelumnya. Dengan data yang makin banyak pada kenaikan-kenaikan pengukuran
yang makin kecil, kontur histogram akhirnya akan menjadi kurva yang lembut,
seperti ditunjukkan oleh garis-garis patah pada Gambar 1-1. Kurva yang berbentuk
lonceng ini disebut kurva Gauss. Makin panjang dan makin sempit kurva tersebut,
seorang pengamat dapat menyatakan lebih pasti bahwa nilai pembacaan sebenarnya
yang paling mungkin adalah nilai tengah atau pembacaan rata-rata.

GAMBAR 1-1 Histogram yang menunjukkan frekuensi terjadinya pembacaan 50
tegangan berdasarkan tabel 1-1. Kurva patah-patah menyatakan batas histogram bila
dilakukan pembacaan yang banyak dengan pertambahan yang kecil.

Hukum kesalahan Gauss atau hukum Normal membentuk dasar dalam mempelajari
clek-efek acak secara analitis. Walaupun penulisan matematis bagi masalah ini
diluar lingkup pernbatasan ini, pernyataan-pernyataan kualitatif berikut adalah
didasarkan pada hukum Normal :
(a) Semua pengamatan termasuk efek gangguan-gangguan kecil, disebut kesalahan-
kesalahan acak;
(b) Kesalahan-kesalahan acak bisa positif atau negatif;
(c) Kemungkinan kesalahan acak yang positif dan negatif adalah sama.
Dengan demilkian kita dapat mengharapkan bahwa pengamatan-pengamatan
pengukuran yang mengandung kesalahan-kesalahan yang positif dan negatif besarnya
hampir sama, sehingga jumlah kesalahan total akan kecil dan nilai rata-rata akan
menjadi nilai sebenarnya dari variabel yang diukur.
Adapun kemungkinan-kemungkinan bentuk kurva distribusi kesalahan adalah
sebagai berikut :
(a) Kemungkinan kesalahan-kesalahan yang kecil lebih besar dari kemungkinan
kesalahan- kesalahan besar;
(b) Kesalahan-kesalahan besar adalah sangat mustahil
(c) Terdapat kemungkinan yang sama bagi kesalahan kesalahan positif dan negatif
sehingga kemungkinan suatu kesalahan yang diberikan akan simetris terhadap
harga nol.
Kurva distribusi kesalahan pada Gambar 1-2 didasarkan pada hukum Normal
dan menunjukkan suatu distribusi kesalahan yang simetris. Kurva normal ini
dapat dipandang sebagai bentuk yang membatasi histogram yang diberikan
pada Gambar 1-1 dalam mana nilai yang paling mungkin dari tegangan yang
sebenarnya adalah nilai rata-rata 100,0 V.
12



GAMBAR 1-2 Kurva untuk hukum Normal. Bagian yang digelapkan menunjukkan
daerah kesalahan yang mungkin, di mana r = 0,6745 .
1-6-2 Kesalahan yang mungkin (probable error)
Luasan yang dibentuk oleh kurva kemungkinan Gauss dalam Gambar 1-2 di antara
+ dan - . menyatakan semua jumlah pengamatan. Luasan yang dibatasi antara +
dan 9- menyatakan kasus-kasus yang selisihnya dari nilai rata-rata tidak akan
melebihi deviasi standar. Integrasi luasan yang dibatasi oleh kurva dalam batas-batas
menghasilkan jumlah total semua kasus di dalam batas-batas tersebut. Untuk data
yang tersebar secara normal, berdasarkan distribusi Gauss diperoleh bahwa hampir
68% dari semua kasus-kasus tersebut berada di dalam daerah + dan - dari nilai rata-
rata. Nilai-nilai yang sehubungan dengan penyimpangan-penyimpangan lainnya
dinyatakan dalam diberikan pada Tabel 1-2.
TABEL 1-2 Luasan di bawah kurva kemungkinan
Deviasi (+)
()
Bagian luasan total
yang tercakup
0.6745
1.0
2.0
3.0
0.5000
0.6828
0.9546
0.9972
Jika misalnya sejumlah tahanan-tahanan yang nilai nominalnya 100 diukur dan
nilai rata-rata yang diperoleh adalah 100,00 , maka dengan deviasi standar sebesar
0,20 kita mengetahui bahwa pada pukul rata, sebanyak 68% (atau sekilar dua
pertiga) dari semua tahanan mempunyai nilai (harga) yang terletak di dalam batas-batas
0,20 dari nilai rata-rata. Dengan demikian, terdapat sekitar dua banding satu
kcmungkinan bahwa nilai setiap tahanan yang, dipilih dari nilai rata-rata. Dengan
demikian, terdapat sekitar dua banding satu kemungkinan bahwa nilai setiap tahanan
yang dipilih dari kumpulan secara acak, akan terletak diantarabatas-batas tersebut. Jika
diinginkan perbedaan yang lebih besar, penyimpangan dapai diperbesar sampai batas
2 yang dalam hal ini adalah 0,40 . Sesuai dengan Tabel 1-2, hal ini sekarang
mengandung 95% dari semua kasus, dan memberikan perbedaan sepuluh banding satu;
yaitu bahwa setiap tahanan yang dipilih secara acak terletak dalam batas-batas 0,40
dari nilai rata-rata 100,00 .
Pada Tabel 1-2 juga ditunjukkan bahwa separoh dari kasus tersebut berada di
dalam batas-batas penyimpangan 0,6745 . Besaran r disebut kesalahan yang-
mungkin (probable error) yang didefinisikan sebagai
13

Kesalahan yang mungkin r = 0.6745 (1-6)
Nilai ini adalah mungkin dalam art bahwa terdapat suatu kesempatan yang sama
di mana setiap pengamatan akan memiliki suatu kesalahan acak yang tidak melebihi r.
Kesalahan yang mungkin telah digunakan sampai pemakaian tertentu di masa lampau,
tetapi deviasi standar lebih menyenangkan dalam pekerjaan statistik dan lebih disukai.
Contoh 11-1 : Pengukuran sebuah tahanan sebanyak sepuluh kali
memberikan 101,2 ; 101,7 ; 101,3 ; 101 ,0 ; 101,5 ; 101,3 ; 101,2 ;
101 ,4 ; 101,3 dan 101,1 .
Dengan menganggap bahwa yang ada hanya kesalahan acak, tentukan : (a)
nilai rata-rata, (b) deviasi standar, (c) kesalahan yang mungkin.
Penyelesaian : Pengamatan yang banyak seperti ini lebih baik dibuat dalam
bentuk, tabel (daftar), sehingga menghindari keragu-raguan dan kesalahan.
Pembacaan
x
Deviasi
d d
101.2 -0. 1 0.01
101.7 0.4 0.16
101.3 0.0 0.00
101.0 -0. 3 0.09
101.5 0.2 0.04
101.3 0.0 0.00
101.2 -0.1 0.01
101.4 0.1 0.01
101.3 0.0 0.00
101.1 -.0.2 0.04
x = 1,013.0 d = 1.4 d
2
= 0.36
(a). Nilai rata-rata : O = =
E
= 3 , 101
10
0 , 1013
n
x
x
(b). Deviasi standar : O = =

= 2 , 0
9
36 , 0
1
2
n
d
o
(c). Kesalahan yang mungkin = 0,6745 = 0,6745 x 0.2 =0,1349

1-7 KESALAHAN BATAS (LIMITING ERRORS)
Dalam kebanyakan instrumen, ketelitian hanya dijamin sampai suatu
persentase tertentu dari skala penuh. Komponen-komponen rangkaian (seperti
kondensator, tahanan, dan lain-lain) dijamin dalam suatu persentase tertentu dari nilai
rencana (rated value). Batas-batas penyimpangan dari nilai yang ditetapkan disebut
kesalahan batas (limiting errors) atau kesalahan garansi (guarantee errors).
Misalnya jika nilai sebuah tahanan adalah 500 10%, make pabrik menjamin
bahwa nilai tahanan tersebut berada di antara 450 dan 550 . Pabrik tidak
menetapkan deviasi standar atau kesalahan yang mungkin, tetapi menjanjikan
bahwa kesalahan tidak akan lebih besar dari batas-batas yang lelah ditetapkan.
Contoh 1-12 : Ketelitian sebuah voltmeter 0-150 V dijamin sampai 1%
skala penuh. Tegangan yang diukur oleh voltmeter adalah 83 V. Tentukan
"limiting error" dalam persen.
14

Penyelesaian : Besar kesalahan batas (limiting error) adalah
0.01 x 150 V = 1.5 V
p
ersentase kesalahan pada penunjukan voltmeter sebesar 83 V adalah
persen persen x 81 , 1 100
85
5 , 1
=
Penting dicatat dalam Contoh 1-12 bahwa voltmeter dijamin memiliki suatu
ketelitian yang lebih baik pada 1% skala penuh, tetapi sewaktu voltmeter tersebut
membaca 83 voltmeter kesalahan batas bertambah menjadi 1,81%. Secara berkaitan,
bila tegangan yang diukur lebih kecil, kesalahan batas akan bertambah. maka
voltmeter membaca 60 V, kesalahan batas adalah sebesar 1,5/60 x 100% = 2,5%,
sedang untuk pembacaan 30 V menjadi 1,5/30 x 100% = 5%. Pertambahan
persentase kesalahan batas sewaktu mengukur tegangan yang lebih kecil adalah
karena besarnya kesalahan batas merupakan suatu kuantitas tertentu yang didasarkan
pada skala maksimum alat ukur. Contoh 1-12 menunjukkan pentingnya melakukan
pengukuran sedekat mungkin ke skala penuh.
Pengukuran-pengukuran atau perhitungan-perhitungan (komputasi),
penggabungan kesalahan-kesalahan garansi sering dilakukan. Contoh 1-13
menunjukkan suatu komputasi.
Contoh 1-13 : Tiga buah kotak tahanan dekade (kelipatan sepuluh) yang
masing-masing dijamin sampai 1% digunakan dalam sebuah rangkaian
jembatan Wheatstone untuk mengukur sebuah tahanan yang tidak diketahui
R
x
. Tentukan batas-batas R
x
yang diberikan oleh ketiga kotak tahanan tersebut.
Pen
.
velesaian : Persamaan untuk kesetimbangan jembatan menunjukkan
bahwa R
x
dapal ditvidukan dari ketiga kotak tahanan yaitu
R
x
= R
1
R
2
/ R
3,
dimana R
1,
R
2
dan R
3
. adalah tahanan-tahanan kotak tahanan
yang dijamin sampai 0,1 %. Harus diketahui bahwa kedua suku dalam
pembilang (yaitu R
1
dan R
2
) bisa positif sampai batas maksimal 0,1 %
dan harga dalam penyebut bisa negatif sampai maksimal 0,1 % dan
keduanya menghasilkan suatu kesalahan total sebedar 0, 3%. Dengan
demikian, kesalahan garansi diperoleh dengan menjumlahkan langsung
semua kesalahan yang mungkin. Pengambilan tanda-tanda aljabar
menghasilkan kombinasi yang mungkin yang paling jelek.

Sebagai ilustrasi berikutnya untuk menghitung disipasi daya di dalam sebuah
tahanan dengan menggunakan hubungan P = I
2
R diberikan pada Contoh 1-14 berikut.
Contoh 1-14 : Arus melalui sebuah tahanan 100 0,2 adalah 2,00 0,01
A. Dengan menggunakan persamaan P = 12 R, tentukan kesalahan batas
untuk disipasi daya.
Penyelesaian : Dengan menyatakan batas-batas garansi arus dan tahanan
dalam persen, diperoleh :
I = 2,00 0,01 A = 2,00 A 0,5 %.
R = 100 0,2 = 100 0,2 %
Jika dalam hal ini digunakan kombinasi kesalahan yang mungkin yang paling jelek,
15

kesalahan batas dalam disipasi daya adalah (P = 1
2
R)
(2 x 0,5 %) + 0,2 % = 1,2 %

Dengan demikian, disipasi daya menjadi P = 1
2
R =(2,00)2 x100 = 400 W
1,2% 400 4,8 W.
PUSTAKA
1. Bartholomew, Davis, Electrical Measurement and Instrumentation, hall 1, 2.
Boston : Allyn and Bacon, Inc., 1963.
2. Frank, Ernest, Electrical Measurement Analysis, bab 14. New York : Mc.Graw-
Hill Book Company, Inc., 1960.
3. Stout, Mellville B., Basic Electrical Measurements, Edisi kedua, bab 2.
Engle*ood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall, Inc., 1960.
4. Young, Hugh D., Statistical Treatment of Experimental Data. New York :
Mc.Graw-Hill Book Company, Inc., 1962.


PERTANYAAN-PERTANYAAN
1. Apa beda antara ketelitian dan ketepatan?
2. Sebutkan empat cumber kesalahan yang mungkin di dalam instrumen-instrumen.
3. Sebutkan tiga kelompok kesalahan yang umum.
4. Artikan :
a. kesalahan instrumental d. kesalahan lingkungan
b. limiting error (kesalahan batas) e. kesalahan acak
c. kesalahan kalibrasi f. kesalahan yang mungkin
SOAL-SOAL
1. Sebuah voltmeter 0-100 V, memiliki 200 pembagian skala yang dapat
dibaca sampaui setengah pembagian. Tentukan daya urai (resolusi) alat
ukur tersebut dalm volt!
2. Sebuah voltmeter dijital memiliki rangkaian pembacaan dari 0 sampai
9999 hitungan. Tentukkan resolusi instrumen tersebut dalam volt bila
pembacaan skala penuh adalah 9,999 V.
3. Tentukan jumlah angka yang berarti dalam masing-masing bilangan berikut :
(a). 542, (b). 0.65,
(c). 27,25 (d) 0.00005,
(e). 40 x 10
6
(f) 20,000.
4. Empat buah tahanan dihubungkan secara berderet (seri). Nilai tahanan-
tahanan tersebut adalah 28,4 ; 4,25 ; 56,605 ; 0,75 dengan keragu-
raguan satu satuan dalam angka terakhir masing-masing bilangan. Tentukan
tahanan total. Berikan hanya angka-angka yang berarti di dalam jawaban.
5. Penurunan tegangan sebesar 112,5 V diukur pada sebuah tahanan yang
16

dialiri arus sebesar 1,62 A. Tentukan disipasi daya tahanan tersebut.
Berikan hanya angka-angka yang berarti di dalam jawaban.
6. Sebuah voltmeter yang kepekaannya 10 /V membaca 75 V pada skala 100 V
bila dihubungkan ke sebuah tahanan yang tidak diketahui. Bila arus
melalui tahanan adalah 1,5 mA, hitung (a) tahanan aktual dari tahanan yang
tidak diketahui, (c) persentase kesalahan karena efek pembebanan voltmeter.
7. Tegangan antara ujung-ujung sebuah tahanan adalah 200 V dengan
kesalahan yang mungkin sebesar 2%. Tahanan adalah 42 dengan
kesalahan yang mungkin sebear 1,5%. Tentukan (a) disipasi daya di dalam
tahanan, (b) persentase kesalahan.
8. Pengukuran sebuah tahanan memberikan hasil -hasil berikut : 147,2 ; 147,4
; 147,9 ; 148,1 ; 147,1 ; 147,5 ; 147,6 ; 147,4 ; 147,6 dan
147,5 . Tentukan (a) nilai rata-rata, (b) deviasi rata-rata, (c) deviasi
standar, (d) kesalahan yang mungkin dari rata-rata kesepuluh pembacaan
tersebut.
9. Untuk menentukan sebuah besaran (kuantitas) dilakukan enam pengamatan
dan kemudian data yang disajikan tersebut akan dianalisa. Data tersebut
adalah 12,35; 12,71; 12,48; 10,24; 12,63; dan 12,58. Dengan memeriksa
data tersebut dan berdasarkan kesimpulan saudara, tentukan (a) nilai rata-
rata, (b) deviasi standar, (c) kesalahan yang mungkin dari pembacaan rata-rata
dalam persen.
10. Dua buah tahanan mempunyai nilai berikut :
R
1
= 36 5% da n R
2
= 75 5%
Tentukan (a) besarnya kesalahan dalam masing-masing tahanan, (b) kesalahan
batas (dalam ohm dan dalam persen) kedua tahanan tersebut jika
dihubungkan secara berderet (seri), (c) kesalahan batas dalam ohm dan
persen bila keduanya dihubungkan paralel.
11. Sebuah tahanan yang tidak diketahui ditentukan dengan menggunakan
rangkaian jembatan Wheatstone. Hasil tahanan tersebut diperoleh dari R
x
= R
1

R
2
/R
3

di mana R
1
= 500 1%
R
2 =
615 3 %
R
3
= 1 0 0 0 . 5 %
Tentukan (a) nilai nominal tahanan yang tidak diketahui, (b) kesalahan balas
tahanan tersebut dalam persen.
12. Sebuah tahanan diukur dengan menggunakan voltmeter-ampere meter.
pembacaan voltmeter pada skala 250 V adalah 123,4 V sedang pembacaan
ampere meter pada skala 500 mA adalah 293,5 mA. Kedua alat ukur dijamin
ketelitiannya sampai 1% skala penuh. Tentukan (a) nilai tahanan yang
ditunjukkan, (b) batas0batas dalam maan hasilnya dapat dijamin.
13. Dalam sebuah rangkaian arus searah, tegangan pada sebuah komponen
adalah 64,3 V dan arus adalah 2,53 A. Arus dan tegangan diberikan pada
suatu keragu-raguan sebesar satu satuan dalam angka terakhir. Tentukan
disipasi daya sampai jumlah angka berarti yang memenuhi.
14. Sebuah transformator daya diuji untuk menentukan kehilangan daya
(rugi-daya atau kerugian daya) dan efisiensi. Daya masukan yang diukur
adalah 3650 W dan daya keluaran yang dihasilkan adalah 3385 W. Masing-
masing pembacaan memberi keragu-raguan sebesar 10 W. Tentukan (a)
17

persentase keragu-raguan kerugian daya dalam transformator, (b)
persentase keragu-ragauan efisiensi transformator yang ditentukan
berdasarkan perbedaan pembacaan daya masukan dan daya keluran.
15. Faktor daya dan sudut fasa dalam sebuah rangkaian yang dialiri arus
sinusoidal ditentukan dengan cara mengukur arus, tegangan dan daya. Arus
yang terbaca adalah 2,50 A pada ampermeter 5 A; tegangan 115 Volt pada
voltmeter 250 V; dan daya sebesar 220 W pada wattmeter 500 W.
Ampermeter dan voltmeter dijamin teliti dalam daerah 0,5% skala penuh
dan wattmeter dalam daerah 1% skala penuh. Tentukan : (a) persentase
ketelitian yang dapat menjamin faktor daya; (b) kesalahan yang mungkin
dalam sudut fasa.
16. Lengan-lengan sebuah jembatan Wheatstone ditandai berurutan sekeliling
jembatan dengan tanda-tanda B, A, X, dan R. Ketiga lengan yang diketahui
mempunyai konstanta-konstanta berikut :
A = 840 (Deviasi Standar, DS = 1 )
B = 90 (D.S = 0,5 )
C = 250 (D.S = 1 )
Tentukan : (a) niali X yang mungkin, (b) deviasi standar dari X




























18


SISTEM-SISTEM SATUAN DALAM
PENGUKURAN BESARAN LISTRIK

2.1 SATUAN DASAR DAN SATUAN TURUNAN
Untuk menyatakan dan melakukan kalkulasi besaran-besaran fisis, besaran-
besaran tersebtit hams diartikan menurut jenis dan kebesarannya (magnitude). Standar
ukuran bagi setiap jenis besaran fisis adalah satuan (unit), banyaknya satuan tersebut
muncul dalam sejumlah besaran (kuantitas) tertentu yang sejenis adalah merupakan
banyaknya pengukuran. Misalnya, bila kita mengatakan bahwa suatu jarak adaiah 100
meter, ini menunjukkan bahwa meter adalah satuan panjang dan 100 adalah jumlah
satuan panjang tersebut. Dengan demikian, besaran fisis panjang diartikan oleh satuan
meter. Tanpa satuan, jumlah pengukuran tidak akan mempunyai arti fisis.
Dalam ilmu pengetahuan dan teknik digunakan dua jenis satuan, yaitu satuan
dasar unit satuan turunan. Satuan-satuan dasar di dalam mekanika terdiri dari ukuran
panjang, massa dan waktu. Jenis satuan-satuan dasar tersebut apakah kaki atau meter,
pon atau kilogram, sekon atau jam adalah sekehendak kita dan dapat dipilih agar
memenuhi suatu kondisi tertentu. Karena panjang, massa dan waktu adalah besaran-
besaran utama untuk kebanyakan besran-besaran fisis lainnya selain mekanika, mereka
disebut satuan-satuan dasar yang utama (primary). Ukuran beberapa besaran fisis
tertentu dalam ilmu termal, lisirik dan penerangan (ilumination) juga dinyatakan dengan
satuan-satuan dasar. Satuan-satuan ini hanya digunakan bila kelompok-kelompok
khusus tersebut terlibat di dalamnya; dan dengan demikian, mereka didefinisikan
sebagai satuan-satuan dasar pembantu (auxiliary).
Semua satuan lain yang dapat dinyalakan dengan satuansatuan dasar disebut
satuan-satuan turunan. Setiap satuan turunan berasal dari beberapa hukum fisika yang
mengartikan satuan tersebut. Misanya, luasan (A) sebuah persegi panjang sebanding
dengan panjang (p) dan lebar (l), atau A= pl. Jika satuan yang telah dipilih adalah
meter, maka luas persegi panjang tersebut adalah 3 meter x 4 meter = 12 m
2
. Perhatikan
bahwa hasil-hasil pengukuran dikalikan (3 x 4 = 12), demikian juga halnya dengan
satuan (m x m = m
2
) Satuan yang diturunkan untuk luasan A menjadi m
2
.
Sebuah satuan turunan dikenali dan dimensi-dimensinya, yang dapat diartikan
sebagai rnmusan aljabar yang lengkap bagi satuan yang diturunkan tersebut. Simbol-
simbol dimensi untuk untuk satuan-satuan dasar panjang, massa dan waktu secara
berturut-turut adalah L, M dan T. Simbol dimensi bagi satuan luasan yang diturunkan
adalah L
2
dan bagi isi (volume) adalah L
3
. Simbol dimensi bagi satuan gaya adalah
LMT
2
yang diturunkan dari persamaan gaya yang telah didefinisikan. Khususnya,
rumus-rumus dimensional dari satuan-satuan yang diturunkan sangat berguna untuk
pengubahan satuan dan satu sistem ke sistem yang lain, seperti ditunjukkan pada bab 2-
6.
Untuk mudahnya, beberapa satuan turunan telah diberi nama barn. Misalnya
untuk gaya dalam sistem SI dinamakan Newton yaitu yang menggantikan kgm/sekon
2.
.

2-2 SISTEM-SISTEM SATUAN.
Pada tahun 1790 pemerintah Perancis menyampaikan pengarahan kepada Akademi Ilmu
Pengetahuan Perancis untuk mempelajari dan memberikan usulan (proposal) mengenai
suatu sistem berat dan sistem ukuran untuk menggantikan semua sistem yang telah ada.
Sebagai dasar pertama, para ilmuwan Perancis memutuskan bahwa sebuah sistem yang
umum (universal) dari berat dan ukuran tidak harus bergantung pada standar-standar
19

acuan (referensi) yang dibuat oleh rnanusia, tetapi sebaliknya didasarkan pada ukuran-
ukuran permanen yang diberikan oleh alam. Karena itulah, sebagai satuan panjang
mereka memilih meter, yang didefinisikan sebagai sepersepuluh juta bagian dari jarak
antara kutub dan katulistiwa sepanjang meridian melewati Paris. Sebagai satuan rnassa
mereka memilih massa 1 cm air yang telah disuling pada temperatur 4C dan pada
tekanan udara (atmosfer) normal (760 milimeter air raksa, mmHg) dan menaina kannya
gram. Sebagai satuan ketiga adalah satuan waktu, mereka memutuskan tetap
menggunakan sistem lama yaitu sekon, yang didefinisikan sebagai 1/86400 had
matahari rata-rata.
Sebagai dasar kedua, mereka memutuskan bahwa semua satuan-satuan lainnya
akan dijabarkan (diturunkan) dari ketiga satuan dasar yang telah disebutkan tersebut
yaitu panjang, massa dan waktu. Selanjutnya, adalah prinsip ketiga, mereka
mengusulkan bahwa semua pengalian dan pengalian tambahan dari satuan-satuan dasar
adalah dalain sistem desimal, dan mereka merancang sistem awalan-awalan yang
kemudlan digunakan sampai sekarang. Tabel 2-1 memberikan pengalian tambahan
persepuluhan (decimal).
Pada tahun 1795 usulan Akademi Perancis ini dikabulkan dan diperkenalkan
sebagai sistem satuan metrik. Sistem metrik ini tersebar secara cepat ke mana-mana dan
akhirnya pada tahun 1875, tujuh belas negara menandatangani apa yang disebut
Perjanjian Meter (Metre Convention) yang membuat sistem satuan-satuan metrik
menjadi sistem yang resmi. Walaupun lnggris dan Amerika Serikat termasuk yang
menandatangani perjanjian tersebut, mereka hanya mengakuinya secara resmi dalam
transaksi-transaksi internasional, tetapi tidak menggunakan sistem metrik tersebut untuk
pemakaian didalam negeri.
Dalam pada itu, lnggris telah bekerja dengan suatu sistem satuan listrik dan Asosiasi
Pengembangan Ilmu Pengetahuan Inggris (British Association for the Advancement of
Science) telah menetapkan cm (centimeter) sebagai dasar untuk panjang dan gram
sebagai satuan dasar untuk massa. Dari sini dikembangkan sistem satuan centimeter-
gram-sekon atau s absolut CGS yang kernudian digunakan oleh para fisika wan di
seluruh dunia. Kesukaran muncul sewaktu sistem CGS tersebut akan dikembang kan
untuk pengukuran-pengukuran listrik dan maknetik, sebab masih diperlukan paling
sedikit satu satuan lagi. Dalarn kenyataannya, dua sistem yang paralel telah ditetapkan.

Tabel 2. Perkalian dan perkalian tambahan desimal
Nama Simbol Ekivalen
Tera
giga
mega
kilo
hecto
deca
deci
centi
mili
T
G
M
k
h
da
d
c
m
10
12
10
9
10
6
10
3
10
2
10

10
-1
10
-2
10
-3
20

micro
nano
pico
femto
atto

n
p
f
a
10
-6
10
-9
10
-12
10
-15
10
-18

Dalam sistem elekitrostatik CGS, satuan muatan listrik diturunkan (dijabarkan)
dari centimeter, gram, dan sekon dengan menetapkan bahwa permissivitas ruang hampa
pada hukum Coulomb mengenai muatan-muatan listrik adalah satu. Dalam sistem
elektro maknetik CGS, satuan-satuan dasar adalah sama dan satuan kuat kutub magnet
ditu runkan dad padanya dengan mengambil permeabifitas ruang hampa sebesar satu
dalam rumus yang menyatakan besamya gaya antara kutub-kutub magnet.
Satuan-satuan turunan untuk arus listrik dan potensial listrik dalarn sistem
elektro maknetik, yaitu amper dan volt, digunakan dalam pengukuran-pengukuran
praktis. Kedua satuan ini beserta salah satu dan satuan lainnya seperti coulomb, ohm,
henry, farad dan lain-lain digabungkan di dalam satuan ketiga yang disebut sistem
praktis (practical system). Penyederhanaan selanjutnya dalam menetapkan suatu sistem
umum yang sesungguhnya diperoleh dari rintisan kerja seorang insinyur Italia bernama
Giorgi, yang menunjukkan bahwa satuan-satuan praktis untuk arus, tegangan, energi
dan daya, yang digunakan oleh insinyur-insinyur listrik disulitkan dengan penggunaan
sistern meter kilograrn-sekon. Dia menyarankan agar sistem metrik dikembangkan
menjadi suatiu sistem koheren (coherent) dengan menyertakan satuan-satuan listnik
praktis. Sistem Giorgi yang diterima oleh banyak negara dalam tahun 1935, menjadi
dikenal sebagni sistern satuan MKSA di mana arnper dipilih sebagai satuan dasar
keempat.
Sebuah sistem yang Iebih dimengerti telah diterima dalam tahun 1954; dari atas
persetujuan intemasiona] ditunjuk sebagal sistem Internasional (SI System
International dUnites) pada tahun 1960. Dalam sistem ini digunakan 6 satuan dasar,
yaitu meter, kilogram, sekon dan ampereyang diambil dalam sistem MKSA, dan sebagai
satuan dasar tambahan adalah derajat Kelvin dan lilin (kandela) yaitu berturut-turut
sebagai satuan temperatur dan intensitas penerangan. Satuan-satuan SI menggantikan
sistem-sistem lain dalam ilmu pengetahuan dan teknologi; dan mereka diakui sebagai
satuan -satuan resmi di Perancis, dan akan menjadi sistem yang diwajibkan dalarn
negara-negara metrik lainnya.
Knenarn besaran dasar SI dan satuan-satuan pengukuran, beserta simbol-simbol
satuannya diberikan dalam tabel 2-2.
Tabel 2.2 Besaran-besaran dasar SI, satuan dan simbol
Nama Simbol Ekivalen
Panjang
Massa
Waktu
Arus listrik
Temperatur termodinamika
Intensitas penerangan
Meter
Kilogram
Sekon
Ampere
Derajat kelvin
Lilin (kandela)
m
kg
s
A
o
K
cd

21


2-3 SATUAN LISTRIK DAN MAGNET
Sebelum membuat daftar satuan-satuan SI (kadang-kadang disebut sistem satuan
MK lnternasional), diberikan suatu tinjauan singkat mengenai satuan-satuan listrik dan
magnet. Satuan-satuan listrik dan rnaknit praktis yang telah kita ketahui seperti volt,
amper, ohm, henry dan lain-lain, mula-mula diturunkan dalam sistem-sistem satuan
CGS.
Sistem elektrostatik CGS (CGSe) didasarkan pada hukum Coulomb yang
diturunkan secara eksperimental untuk gaya antara dua muatan listrik. Hukum Coulomb
menyatakan bahwa
2
2 1
r
Q Q
k F = (2-1)
dimana F = gaya antara muatan-muatan dinyatakan dalarn satuan gaya CGSe
(gram cm/sekon = dyne)
A = sebuah konstanta kesebandingan
Q
1, 2
= muatan-muatan listrik dinyatakan dalam satuan muatan Iistrik CGSe
(centimeter).
r = jarak antara muatan-muatan dinyatakan dalam satuan dasar CGSe
(cm).

Coulumb juga mendapatkan faktor kesebandingan k bergantung pada medi media ,
berbading terbalik dengan permitivitas e (Faraday menyebutkan permitivitas sebagai
konstanta dielektrik ). Dengan demikian dengan hukum Coulumb menjadi:
2
2 1
r
Q Q
k F
c
= (2-2)
Karena adalah suatu nilai numerik yang hanya bergantung pada media, nilai
permitivitas untuk ruang hampa
o
ditetapkan sebesar satu, karena itu
o
didefinisikan
sebagai satuan dasar keempat dari sistem CGSe. Berarti hukum Coulumb mengijikan
satuan muatan listrik Q dinyatakan oleh keempat satuan dasar ini menurut hubungan
2
2
2
) 1 ( cm
Q
s
cm g
dyne
o
=
= =
c

Dan dengan demikian, menurut dimensi
1 2 / 1 2 / 3
= s g cm Q (2-3)
Satuan muatan listrik CGSe dinamakan StatCoulumb
Satuan muatan listrik yang diturunkan dalam sistem CGSe memungkinkan
penentuan satuan listrik lainnya berdasarkan persamaan-persamaan yang telah diartikan.
Misalnya, arus listrik (Simbol I) diartikan sebagi laju aliran muatan listrik yang
dinyatakan sebagai
t
Q
I = (Statcoulumb/sekon) (2-4)
22

Satuan arus listrik dalam CGSe dinamakan statamper. Kuat medan E, beda
potensial V dan kapasitansi C, dapat diturunkan dengna cara yang sama berdasarkan
persamaan-persamaan yang didefinisikannya.
Dasar sistem satuan elektromaknetik (CGSm) adalah Hukum Coulumb yang
ditentukan secara eksperimental untuk gaya antara dua kutub magnet, yang menyatakan
bahwa
2
2 1
r
m m
k F = (2-5)
Faktor kesebandingan k, bergatung pada media di mana kutub-kutub tersebut berada da
berbanding terbalik dengan permabilitas maknetik dari media tersebut. Untuk ruang
hampa permeabilitasnya ditetapkan sama dengan satu sehingga k =1/
o

= 1,
permabilitas ruang hampa yang ditetapkan ini (
o
) adalah satuan dasar keempat bagi
sistem CGSm. Dengan demikian satuan, satuan kekuatan kutub elektromagnetik (m)
didefinisikan dalam keempat satuan dasar berdasarkan hubungan:
2
2
2
) 1 ( cm
m
s
cm g
dyne
o
=
= =


Yang berarti satuan m secara dimensional adalah :
1 2 / 1 2 / 3
= s g cm m (2-6)
Satuan yang diturunkan untuk kuat kutub magnet dalam sistem CGSm menuntun
penentuan satuan-satuan maknetik lainnya; juga berdasarkan persamaan-persamaan
yang mendefinisikannya. Sebagai contoh diambil kerapatan fluksi magnet (magntic flux
density), B, yang didefinisikan sebagai kuat magnet dibagi satuan kuat kutub, dimana
gaya dan kuat kutub adalah satuan gaya yang diturunkan dalam satuan CGS. Secara
dimensional, satuan B adalah cm
-1/2

gram
-1/2
sekon
-1
( dyne-sekon)/ abcoulumb-cm) yang dinamakan Gauss. Dengan cara
yang sama, satuan-satuan magnet lainnya dapat diturunkan dari persamaan yang
mengartikannya dan kita peroleh bahwa satuan untuk fluksi maknetik () dinamakan
maxwell; untuk kuat medan magnet (H) dinamakan Oersted; dan satuan beda potensial
magnetik atau gaya gerak magnet , ggm (H) dinamakan gillbert.
Kedua sistem CGS ini yaitu CGSe dan CGSm dihubungan bersama berdasarkan
penemuan Faraday yaitu bahwa magnet dapat mengindusir suatu arus listrik didalam
sebuah konduktor, da sebaliknya muatan listrik yang bergerak dapat menghasilkan efek-
efek maknetik. Hukum Amper mengenai medan magnet yang menghasilkan arus listrik
(I) ke kuat medan magnet (H)*, secara kuantitatif menghubungan satuan maknetik
dalam CGSm ke satuan listrik dalam satuan CGSe. Dimensi kedua sistem ini tidak
persis sesuai, sehingga di gunakan faktor-faktor pengubah numerik. Pada akhirnya
kedua sistem ini membentuk satu sistem satuan-satuan listrik praktis yang secara resmi
disetujui oleh kongres Listrik International (Internatonal Electrical Congress)
Satuan-satuan listrik praktis yang diturunkan dari sistem CGSm belakangan
didefinisikan dalam pengertian yang disebut satuan-satuan Internasional. Pada waktu itu
diperkirakan (1908) bahwa penetapan satuan-satuan praktis berdasarkan definisi-
definisi sistem CGSm akan terlalu sulit bagi kebanyakan laboratorium; dan sayangnya
waktu itu diputuskan untuk mendefinisikan satuan-satuan praktis dalam suatu cara yang
membuatnya cukup sederhana untuk menetapkannya. Dengan demikian amper diartikan
sebagai laju endapan perak dari larutan perak nitrat dengan melewatkan suatu arus
melalui larutan tersebut; dan ohm diartikan sebagai tahanan suatu kolom air raksa yang
23

spesifikasinya telah ditentuakan. Satuan-satuan ini beserta yang telah diturunkan dari
mereka disebut satuan-satuan internasional. Dengan diperbaikinya teknik-teknik
pengukuran, diperoleh adanya perbedaan kecil antara satuan-satuan praktis CGSm yang
diturunkan dengan satuan-satuan Internasional, yang kemudian diperinci sebagai
berikut :
1 ohm internasional = 1,00049 ohm (satuan praktis CGSm)
1 amper internasional = 0,99985 A
1 volt internasional = 1,00034 v
1 coulumb internasional = 0,99984 C
1 farad internasional = 0,99951 F
1 henry internasional = 1,00049 H
1 Watt internasional = 1,00019 W
1 Joule internasional = 1,00019 J
Satuan listrik dan magnet yang utama dan hubungan definisi diberikan dalam
tabel 2-3. Faktor-faktor perkalian untuk pengubahan ke satuan SI diberikan dalam
kolom CGSm dan CGSe.

2-4 SISTEM SATUAN INTERNASIONAL
Sistem satuan internasional MKSA diakui pada tahun 1960 oleh Konferensi
Umum Kesebelas mengenai Berat dan Ukuran (Elevent General Conference of Weights
and Measures) dengan nama Sistem International (SI, systeme International dUnites).
Sistem ini mengantikan semua sistem lain di negara-negara yang menggunakan sistem
metrik.

*N menyatakan integral Neumann untuk dua rangkaian linier yang masing-masing
membawa arus I. F
s
adalah gaya antara kedua rangkaian menurut arah yang
didefinisikan oieh koordinat z. Rangkaian-rangkaian berada dalam ruang hampa.
p menyatakan daya
I
2
menyatakan luasan
c = kecepatan cahaya di dalam ruang hampa dalam cm/sekon = 2,997925 X 10
10


24

Keenam besaran dasar SI diberikan pada Tabel 2-2. satuan turunan dinyatakan
keenam satuan dasar tersebut menurut persamaan-persamaan yang mendefinisikannya.
Beberapa contoh persamaan yang memberikan definisi (arti) daripada besaran listrik
dan magnet diberikan pada Tabel 2-3. Daftar yang diberikan pada tabel 2-4 bersama-
sama dengan besaran-besaran dasar, satuan-satuan tambahan dan satuan turunan dalam
satuan SI adalah yang disarankan oleh konferensi umum tersebut.
Kolom pertama dalam Tabel 2-4 menunjukkan besaran-besaran (dasar,
tambahan dan turunan). Kolom kedua menunjukkan simbol persamaan untuk masing-
masing bcsaran. Kolom ketiga menunjukkan dimensi tiap satuan yang diturunkan
dinyatakan dalain keenam dimensi dasar. Kolom keempat menunjukkan nama tiap
satuan, dan kolom kelima adalah simbol satuan. Simbol satuan ini tidak boleh
dikacaukan dengan simbol persamaan; misalnya untuk tahanan, simbol persamaan
adalah R, tetapi simbol untuk satuan ohm adalah .
2-5 SISTEM SATUAN LAIN
Sistem satuan Inggeris menggunakan kaki (ft), pon-massa (pound.mass - lb), dan
sekon (s) berturut-turut sebagai satuan dasar untuk panjang, massa dan waktu.
Walaupun ukuran panjang dan berat adalah warisan pendudukan Romawi atas Britania
dan pendefinisiannya agak kurang baik, satu inci (yang besarnya adalah 1/12 kaki) telah
ditetapkan persis sama dengan 25,4 mm. Dengan cara sama, ukuran untuk pon (lb) telah
(litetapkan persis sama dengan 0,45359237 kilogram (kg). Kedua bentuk ini
mengijinkan pengubahan semua satuan dalam sistem lnggeris menjadi satuan-satuan SI.
Dimulai dan satuan-satuan dasar yaitu kaki, pon dan sekon, satuan-satuan
mekanik dapat diturunkan dengan mudah dengan menggantikannya ke dalam
persamaan dimensional yang terdapat pada Tabel 2-4. Misalnya, satuan kerapatan
dinyatakan dalam pon/kaki
3
(lb/ft
3
) dan satuan percepatan dalam kaki/sekon
2
(ft/s
2
).
Satuan yang diturunkan untuk gaya dalam sistem kaki - port - sekon (ft - lb - s) disebut
pondal (poundal) yakni gaya yang diperlukan untuk mempercepat 1 pon - massa pada
percepatan 1 ft/s
2
. Sebagai akibatnya, satuan usaha atau tenaga (energi) menjadi kaki-
pondal (ft pdl).

Karena ukuran Inggris masih digunakan secara luas, di Britania dan Benua
Amerika utara pengubahan ke sistem SI menjadi perlu jika kita akan bekerja dalam
sistem tersebut. Pada tabel 2-5 diberikan beberapa faktor pengubah (faktor konversi)
yang umumnya dari satuan Inggris ke Satuan SI






Tabel 2-4 Satuan dasar suplementer dan satuan turunan
25


* Konferenai Umum ke sebelas menetapkan satuan-satuan ini sebagai suplementer,
walaupun dapat didebat bahwa mnereka adalah satuan-satuan turunan.
Dalam beberapa negara, frekuensi tidak dinyatakan dalam Hz tetapi dalam satuan
yang ekivalen, getaran per sekon (cycle per second, cps), dan kerapatan fraksi magnet,
tidak dalam T, tetapi dalam satuan yang ekivalen yaitu weber per meter kuadrat
(Wb/m
2
).













Tabel 2-5 Konversi satuan Inggeris ke SI
26


2-6 PENGUBAHAN SATUAN (CONVERSION)
Pengubahan kuantitas (besaran) fisis dan satu sistem satuan ke sistem satuan
lainnya sering diperlukan. Bab 2-1 menyatakan bahwa sebuah besaran fisis dinyatakan
oleh satuan dan besarya ukuran; jadi yang harus diubah adalah satuan, bukan besarnya
ukuran. Untuk melakukan pengubahan dan satu sistem satuan ke sistem satuan lainnya,
cara yang paling menyenangkan adalah menggunakan persamaan-persamaan
dimensional. Cara ini memerlukan pengetahuan mengenai hubungan numerik antara
satuan-satuan dasar dan beberapa kepintaran dalarn mengerjakan pengalian dan
pengalian tambahan dan satuan-satuan tersebut.
Metoda (cara) yang digunakan dalam pengubahan dari satuan sistem satuan ke
sistem lainnya ditunjukkan melalui sejumlah contoh yang makin lama dibuat makin
sulit.
Contoh 2-1 Luas lantai sebuah bangunan kantor adalah 5000 m
2
. Tentukan luas tersebut
dalam kaki kuadrat (ft
2
).
Penyelesaian: Untuk mengubah satuan m
2
menjadi ft
2
kita harus mengetahui hubungan
antara keduanya. Dalam tabel 2-5 ditunjukkan bahwa kesamaan metrik 1 ft adalah 30,48
cm., atau 1 ft = 0,3048 m. Maka,
2
2
2
800 , 53
3048 , 0
1
000 , 5 kaki
m
kaki
x m A =
|
|
.
|

\
|
=
Contoh 2-2 Ukuran luas lantai sebuah ruang kelas adalah 30 kaki x 24 kaki. Tentukan
luas tersebut dalam m
2
,
Penyelesaian : Dengan menggunakan Tabel 2-5 kita peroleh bahwa pengubahan
sebaliknya dan kaki (ft) ke cm adalah 0,0328084. Maka,
1 cm = 0,0328 kaki atau 1 m = 3,28 kaki
A = 30 ft x 24 ft = 720 ft
2

Atau
2
2
2
3 , 67
28 , 3
1
720 m
f t
m
x f t A =
|
|
.
|

\
|
=
27

Contoh 2-3 Kerapatan fluksi dalam sistem CGS adalah 20 maxwell/cm
2
. Tentukan
kerapatan tersebut dalam garis/inci
2
(lines/in
2
), dengan catatan bahwa 1 maxwell 1=
garis gaya
Penyelesaian :
. / 129
max 1
1 54 . 2 max 20
2 .
2
2
inci gaya garis
well
line
x
in
cm
x
cm
wells
B =
|
.
|

\
|
=
Contoh 2-4 Kecepatan cahaya di dalam ruang hampa adalah 2,997925 x 10
8
meter/sekon. Nyatakan kecepatan tersebut dalam km/jam.
Penyelesaian :
. / 10 79 . 10
1
10 6 . 3
10
1
10 997925 , 2
8
3
3
8
jam km X
jam
x
x
m
km
x
s
m
x c = =
Contoh 2-5 Nyatakan massa jenis air, 62,5 pon/kaki
3
(= ib/ft
3
) dalarn
(a) pon/inci
3
(b) gram/cm
3
.
Penyelesaian :
(a) massa jenis =
3 2
3
. / 10 62 . 3
. 12
1 5 . 62
in lb X
in
ft
x
ft
lb

=
|
|
.
|

\
|

(b) massa jenis = . / 1
54 . 2
. 1
1
6 . 453
10 62 . 3
3
3
2
cm g
cm
in
x
lb
g
x
in
lb
X =
|
|
.
|

\
|


Contoh 2-6 Batas kecepatan yang diijinkan di sebuah jalan raya adalah 60 km per jam.
Nyatakan batas kecepatan tensebut dalam (a) mil/jam, (b) kaki/sekon.
Penyelesaian :
(a) batas kecepatan
= jam mi
ft
mil
x
in
ft
x
cm
in
x
m
cm
x
km
m
x
jam
km
/ 74 . 3
280 , 5
1
. 12
1
. 54 . 2
. 1
1
10
1
10 60
2 2
=
(b) batas kecepatan = s ft
s x
jam
x
mi
ft
x
jam
mi
/ 9 . 54
10 6 . 3
1
1
280 , 5 74 . 3
3
=


PUSTAKA
1. Hvistendahl, H.S., Engineering Units and Physical Quantites. London : MacMillan
and Co., Ltd., 1964.
2. Kaye, G'W.C., and T.H. Laby, Tables of Physical and Chemical Constants, Edisi
ke 13. London : Longmans, Green and Co., Ltd., 1966.
28

SOAL-SOAL
1. Dengan menggunakan perpangkatan sepuluh, nyatakan hal-hal berikut dalam Hz:
(a) 1,500 Hz (b) 20 kHz (c) 1,800 Hz
(d) 0,5 MHz (e) 50 MHz (f) 1,2 GHz
2. Dengan menggunakan perpangkatan sepuluh, nyatakan hal-hal berikut dalam volt:
(a) 24 mV (b) 540 V (c) 4,4 kV
(d) 1,2 MV (e) 16 nV (f) 0,4 mV
3. Dengan menggunakan perpangkatan sepuluh, nyatakan hal-hal berikut dalam A:
(a) 23,5 mA (b) 45 A (c) 0,25 mA
(d) 72 nA (e) 620 A (f) 74, 6 nA
4. Dengan menggunakan perpangkatan sepuluh, nyatakan hal-hal berikut dalam A:
(a) 0.00036 A (b) 0.027 A (c) 0.250 mA
(d) 25 pA (e) 2.5 A (f) 1.275 mA
5. Tentukan tinggi seseorang 5 kaki 11 inci dalam cm.
6. Tentukan massa 1 yard
2
besi dengan kerapatan 7,86 gram/cm
3
dalam kilogram.
7. Tentukan faktor konversi untuk mengubah mil/jam menjadi kaki/sekon.
8. Sebuah bends bermuatan listrik mempunyai kelebihan elektron sebanyak
1015 Tentukan muatannya dalam Coulomb.
9. Sebuah kereta-api menjalani suatu jarak sebesar 220 mil dalam 2 jam dan 45
menit. Tentukan kecepatan rata-rata kereta api tersebut dalam meter/sekon.
10. Dua muatan listrik terpisah sejauh 1 meter. Jika muatan-muatan tersebut
adalah +10 Coulomb dan -6 Coulomb, tentukan gays tarik antara muatan-
muatan tersebut dalam Newton dan pon-gaya (= lb). Anggap bahwa kedua
muatan ditempatkan dalam ruang hampa.
11. Satuan praktis energi listrik adalah kWh (kilowatt hour = kilowatt jam).
Satuan energi dalam SI adalah joule (J). Tentukan banyaknya joule dalam 1 kWh.
12. Sebuah alat pengangkat menaikkan massa 100 kg setinggi 20 meter dalam 5
sekon. Tentukan (a) usaha yang dilakukan oleh alat pengangkat tersebut
dalam satuan SI. (b) Pertambahan energi potensial (tenaga tempat) dalam
satuan SI, (c) days atau laju melaksanakan usaha, dalam satuan SI.
13. Tentukan tegangan sebuah batere jika muatan sebesar 3 x 10
-4
Coulumb berada
di terminal batere positif yang memiliki energi sebesar 6 x 10
-2

joule.
14. Muatan listrik sebesar 0,035 Coulomb mengalir mlalui sebuah konduktor
(penghantar) tembaga selama 5 menit. Tentukan arus rata rata dalam mA
16. Arus rata-rata sebesar 25 A dialirkan melalui sebuah kawat selama 30
sekon. Tentukan jumlah elektron yang dialihkan melalui sebuah konduktor.Batas
kecepatan pada sebuah jalan empat jalur adalah 70 mil/jam. Tentukan batas
kecepatan tersebut dalam (a) km/jam; (b) kaki/sekon.
17. Massa-jenis tembaga adalah 8,93 gram/cm
2
. Nyatakan massa-jenis tersebut
dalam (a) kg/m
2
; (b) pon-gaya/kaki
3
.
I 8. Titik lebur magnesium adalah 660C. Nyatakan titik lebur tersebut dalam
(a)
o
F; (b)
o
K.
29



























STANDAR PENGUKURAN

3-1 PENGELOMPOKAN STANDAR-STANDAR
Standar pengukuran merupakan pernyataan fisis dari sebuah satuan
pengukuran. Sebuah satuan di nyatakan dengan menggunakan suatu bahan standar
sebagai acuan (referensi) atau terhadap gejala alam termasuk konstanta-konstanta
fisis dan atom. Sebagai contoh, satuan dasar massa dalam sistem internasional (SI)
adalah kilogram, yang didefinisikan sebagai massa 1 dm
3
air pada temperatur
kerapatan maksimal sebesar 4
o
C (lihat bab 2-2). Satuan massa ini dinyatakan oleh
suatu bahan standar yaitu massa Kilogram Prototip Intenasional yang terdiri dari
sebuah silinder panduan platina dan iridium. Silinder ini disimpan di IBWM
(Internasional Bureau of Weight and Measures, Biro Internasional untuk berat dan
Ukuran) yang berkedudukan di Serves, dekat Paris, dan merupakan bahan yang
menyatakan kilogram. Standar-standar yang serupa telah dikembangkan untuk satuan-
satuan pengukuran lainnya termasuk standar untuk satuan-satuan dasar maupun untuk
beberapa satuan mekanik dan listrik yang diturunkan.
Dengan adanya satuan dasar dan sataun turunan dalam pengukuran, terdapat
beberapa jenis standar pengukuran ynag dikelompokkan menurut fungsi dan
pemakaiaannya yaitu :
(a) Standar Internasional (Internasional Standards)
30

(b) Standar Primer (Primary Standards)
(c) Standar Sekunder (Secondary Standards)
(d) Standar Kerja Working Standards)

Standar-standar internsional didefinisaiakan oleh perjanjian interasional.
Mereka menyatakn satuan-satuan pengukuran terteneu sampi ketelitian terdekat yang
mungkin yang diijinkan oleh produksi dan teknologi pengukuran. Secara berkala,
standar internasional ini dinailai dan diperiksa melalui pengukuran-pengukuran absolut
ynag dinaytakan dalam satauan-sataun dasar (lihat Tabel 2-2). Standarstandar ini
dirawat di IBWM (Internasional Bureau of Weight and Measures) dan tidak tersedia
bagai pemakai alat-alat ukur biasa untuk maksud pembanding dan kalibrasi.
Standar-standar primer dipelihara oleh laboratorium-laboratorium standar
nasional diberbagai negara didunia. NBS (Nasional Bureau of Standards) di
Washsington bertanggung jawab untuk perawatan standar-standar primer di Amerika
Utara. Laboratorim-laboratorium lainnya adalah NPL (nasional Pysical Laboratorium )
di Britania Raya dan yang tertua didunia adalah PTR (Physikalisch-Technische
Reichsanstalt) di Jerman. Sekali lagi ditegaskan bahwa standar-standar primer yang
mewakili satuan-satuan dasar da sebagian dari satuan mekanik dan satuan listrik yang
diturunkan, dikalibrasi secara tersendiri berdasarkan pengukuran-pengukuran absolut di
tiap-tiap laboratorium nasional dan kemudian hasil-hasil pengukuran tersebut
dibandingkan satu sama lain. Standar-standar primer tidak tersedia untuk digunakan di
luar laboratorium-laboratorium nasional. Salah satu fungsi dari standar primer adalah
memeriksa dan mengalibrasi standar-standar sekunder.
Standar-standar sekunder merupakan acuan (referensi) dasar bagi standar-
standar yang digunakan dalam laboratorium pengukuran industri. Standar ini dipelihara
oleh industri khusus yang berkaitan dan diperiksa setempat terhadap standar acuan lan
didaerah tersebut. Tanggung-jawab pemeliharaan dan kalibrasi standar sekunder
dilakukan oleh industri itu sendiri. Standar sekunder ini biasanya diserahkan kepada
laboratorium-laboratorium standar nasional secara berkala yaitu untuk melakukan
kalibrasi dan membandingkan terhadap standar-standar primer. Kemudian mereka
dikembalikan ke industri pemakai disertai dengan tanda bukti kalibrasi (sertifikat).
Standar kerja adalah alat utama bagi sebuah laboratorium pengukuran.
Mereka digunakan untuk digunakan untuk memeriksa dan mengkalibrasi instrumen-
instrumen laboratorium yang umum mengenai ketelitian dan prestasi atau untuk
melakukan perbandingan dalam pemakaiannya di industri. Sebuah pabrik yang
menghasilkan tahanan-tahanan presisi misalnya dapat menggunakan tahanan
standar (satuan standar kerja) dibagian pengendalian mutu untuk memeriksa
peralatan ujinya. Dalam hal ini, dia membuktikan bahwa pengukurannya dilakukan
dalam batas-batas ketelitian yang diinginkan.
Dalam pengukuran listrik dan elektronik kita berhubungan dengan standar
pengukuran listrik dan maknetik. Hal ini dibicarakan dalam bab-bab berikutnya.
Dalam hal ini kita telah melihat bahwa satuan-stau listrik dapat ditelusuri kembali
ke satuan dasar panjang, massa dan waktu (kenyataannya, laboratorium-
laboratorium standar melakukan pengukuran untuk mendapatkan hubungan antara
satuan listrik yang diturunkan terhadap satuan-satuan dasar) dan mereka telah
berjasa bagi penemuan ini.

3-1 STANDAR UNTUK MASSA, PANJANG DAN ISI
Satuan massa dalam metrik mula-mula didefinisikan sebagai massa 1 dm
3
air
pada temperatur kerapatan maksimum. Bahan yang menyatakan satuan tesebut
adalah IPK (Internasional Prototype Kilogram; Kilogram Prototip Internasional)
31

yang disimpan di IBWM (Internasional Bureau of Weight and Measures) dekat Paris.
Standar primer untuk massa di Amerika Utara adalah Kilogram Prototip Internasional
Amerika Serikat (United States Prototype Kilogram) yang disimpan oleh NBS pada
suatu ketelitian sebesar 1 bagian dalam 10
8
dan ketelitian tersebut sekali-sekali
diperiksa dengan membandingkannya terhadap standar di biro internasional.
Standar sekunder untuk massa dipelihara di laboratorium-laboratorium industri
yang umumnya mempunyai ketelitian sebesar 1 bagian per-juta dan ketelitian
tersebut dapat diperiksa terhadap standar primer NBS. Standar-standar kerja
komersil disediakan dalam suatu rangkuman harga yang besar agar sesuai terhadap
setiap pemakaian. Ketelitiannya adalah dalam orde bagian per-juta. Standar-standar
kerja ini diperiksa dengan membandingkannya terhadap standar laboratorium
sekunder.
Pon (lb), yang ditetapkan oleh Akta Beret dan Ukuran pada tahun 1963
(yang secara aktual terlaksana pada Januari 1964) didefinisikan persis sama
dengan 0,4S.459237 kg. Semua negara yang menggunakan pon sebagai satuan dasar
pengukuran, sekarang ini mengakui definisi baru yang menggantikan standar pon
yang sebelumnya yaitu yang terbuat dari platina.
Satuan panjang dalam metrik yaitu meter (m), mula-mula didefinisikan
sebagai sepersepuluh juta bagian dari kuadran meridian melalui Paris (lihat Bab
2-2) yang jika dilihat dari bendanya dinyatakan oleh jarak antara dua garis yang
diukir pada sebuah batang paduan platina-iridium yang disimpan di IBWM dekat
Paris. Dalam tahun 1900 meter didefinisikan kembali lebih teliti dan dinyatakan
dalam standar optik yang disebut radiasi jingga merah dari sebuah atom krypton.
Lampu pelepas krypton-86 yang dieksitasi dan diamati pada kondisi normal,
memancarkan cahaya jingga yang panjang p.clombangnya digunakan sebagai
pembentuk standar dasar untuk panjang yaitu 1 bagian /juta (1 ppm, part per million).
Meter, sebagai satuan SI untuk panjang sekarang ini diartikan sama dengan
1650763,73 panjang gelombang radiasi jingga-merah dari atom Krypton-86 dalam
ruang hampa. Standar panjang yang didefinisikan secara optik ini merupakan satuan
dasar panjang yang sama dengan batang platina iridium, tetapi dengan tingkat
ketelitian yang lebih besar.
Yard diartikan persis sama dengan 0,9144 meter (1 inci = 25,4 mm) dan
melalui definisi ini, juga bergantung pada standar yang dihasilkan oleh panjang
gelombang krypton-86. Definisi yard ini menggantikan definisi yang sebelumnya yang
dinyatakan dalam yard standar kerajaan. Semua negara yang menggunakan yard sebagai
satuan dasar pengukuran, sekarang ini mengakui definisi baru tersebut.
Standar-standar kerja industri untuk panjang yang paling banyak digunakan
adalah balok-balok tentangan (gage blocks) yang terbuat dari baja. Balok-balok
baja ini memiliki dua permukaan sejajar yang rata dengan jarak yang telah
ditetapkan, dengan toleransi ketelitian dalam rangkuman 0,5- 0,25 mikron (1
mikron = 10
-6
m). Pengembhangan dan pemakaian balok-balok tentangan presisi
disebabkan oleh harganya yang rendah dan ketelitiannya yang tinggi, dan
memungkinkannya untuk menghasilkan komponen-komponen industri yang dapat
saling dipertukarkan dalam pemakaian pengukuran presisi yang sangat ekonomis.
Satuan isi (volume) adalah besaran yang diturunkan dan tidak dinyatakan
oleh sebuah standar internasional. Namun NBS telah membuat sejumlah standar
untuk isi, yang dikalibrasi dalam dimensi-dimensi absolut panjang dan massa.
Standar sekunder yang diturunkan untuk isi adalah tersedia dan dapat dikalibrasi
dalam standar primer NBS.
3-3 STANDAR WAKTU DAN FRREKUENSI*
32

Sejak dahulu manusia telah mencari suatu standar acuan bagi skala waktu yang
sera-gam beserta cara-cara untuk menginterpolasi suatu selang waktu yang kecil
terhadap, standar acuan tersebut. Untuk beberapa abad lamanya acuan waktu yang
digunakan adalah perputaran bumi pada sumbunya mengelilingi matahari. Pengamatan-
pengamatan astronomi yang tepat telah menunjukkan bahwa perputaran bumi
mengelilingi matahari sangat tidak teratur; hal ini disebabkan oleh variasi yang
terjadi berabad-abad dan ketidak teraturan kecepatan perputaran bumi. Karena skala
waktu yang didasarkan pada waktu matahari yang kelihatan ini tidak menunjukkan
suatu skala waktu yang seragam, maka dicari/diselidiki jalan lain. Waktu matahari
rata-rata diperkirakan memberikan skala waktu yang lebih teliti. Hari matahari
rata-rata adalah rata-rata dari Semua hari yang kelihatan selama satu tahun.
Dengan demikian, sekon matahari rata-rata sama dengan 1/86400 hari matahari
rata-rata. Berarti sekon matahari rata-rata yang didefinisikan masih belum memadai
terhadap satuan dasar waktu, karena dia dikaitkan dengan perputaran bumi yang
ternyata setelah diketahui tidak serba sama (seragam).
Sistem waktu universal (UT, Universal time), atau waktu matahari rata-
rata juga didasarkan pada perputaran bumi pada sumbunya. Sistem ini dikenal dengan
UT
o
dan dipengaruhi oleh variasi-variasi berkala yang berlangsung lama dan tidak
teratur. Koreksi terhadap, UT
o
menghasilkan dua skala waktu universal yang
berturutan yaitu UT
1
dan UT
2.
UT
1
menyadari kenyataan bahwa bumi dipengaruhi
oleh gerakan kutub, dan skala waktu IJTZ didasarkan pada kecepatan sudut bumi yang
sebenarnya yang dikoreksi terhadap variasi perputaran bumi yang terjadi secara
musiman. Variasi-variasi ini secara jelas disebabkan oleh perpindahan materi di
atas permukaan bumi secara musiman, seperti halnya perubahan banyaknya es di
daerah kutub sewaktu matahari bergerak dari belahan bumi selatan ke utara dan kembali
lagi setelah satu tahun. Distribusi massa yang kembali secara berputar ini beraksi
terhadap perputaran bumi karena dia mengakibatkan perubahan-perubahan dalam
momen inersia (kelembaman) bumi. Waktu atau saat waktu dari UT
2
dapat ditetapkan
sampai ketelitian beberapa milisekon, namun tidak biasa didistribusikan ke ketelitian
tersebut. Waktu yang ditunjukkan oleh sinyal-sinyal waktu dari gelombang radio
standar dapat berbeda dengan waktu UT
2
sampai 100 milisekon. Nilai aktual dari
selisih waktu tersebut diberikan di dalam buletin yang diterbitkan oleh pelayanan-
pelayanan waktu nasional (NBS) dan oleh BIH (the Bureau Internationale de I'Heure)
Observatorium Paris.
(*Catatan pemakaian (Application Note, AN 52), Standar Frekuensi dan Waktu,
diterbitkan oleh Hewlett Packard, Palo Alto, Kalifornia; menjelaskan cara
membandingkan frekuensi, skala waktu, pemancar-pemancar standar di dunia.)



Penyelidikan mengenai satuan waktu yang umum yang sesungguhnya
telah menuntun para ahli astronomi untuk mendefinisikan suatu satuan waktu yang
disebut waktu yang sangat singkat (ephemeris time, ET). ET didasarkan pada
pengamatan astronomi dari gerakan bulan mengelilingi bumi. Sejak 1956 sekon sesaat
telah diartikan oleh IBWM (International Bureau of Weights and Measures) sebagai
1/31.556.925.9747 tahun tropis pada Januari tanggal not tahun 1900 pada ET 12
jam, dan diakui sebagai satuan dasar waktu yang tidak berubah-ubah. Kerugian
pemakaian sekon sesaat ini adalah bahwa dia hanya dapat ditentukan selama
beberapa tahun dari keseluruhan pekerjaan yang masih harus dilakukan dan secara
tidak langsung hanya didasarkan pada pengamatan posisi matahari dan bulan. Untuk
pengukuran-pengukuran fisis, satuan selang waktu sekarang ini didefinisikan
33

berdasarkan standar atom; Namun sekon universal dan waktu sekon sesaat, akan
tetapi digunakan pada pelayaran, survai geodesi dan mekanika mengenai langit.
Perkembangan dan perbaikan resonator atom telah memberi kemungkinan
pengontrolan frekuensi sebuah osilator, dan ini berarti berdasarkan pengubahan
frekuensi yaitu jam atom. Transisi antara dua tingkatan enesi E
1
dan E
2
dari
sebuah atom disertai dengan pemancaran (emisi) atau penyerapan (absorpsi) radiasi
mempunyai frekuensi yang diberikan oleh persamaan hv = E
2
- E
l
,

di mana h adalah
konstanta Planck. Dengan memberikan bahwa tingkat (keadaan) energi tidak
dipengaruhi oleh kondisi-kondisi luar seperti medan magnet, frekuensi v adalah
konstanta fisis yang hanya bergantung pada strukur bagian dalam dari atom. Karena
frekuensi adalah kebalikan dari selang waktu, maka atom sedemikian memberikan
suatu selang waktu yang konstan. Peralihan atom daaair berbagai logam telah
ditemukan, dan jam atom pertama yang didasarkan pada atom Cesium telah
dioperasikan pada tahun 1955. Selang waktu yang diberikan oleh jam esiumlebih
teliti dari yang diberikan oleh sebuah jam yang dikalibrasi berdasarkan pengukuran
astronomi. Satuan waktu atom pada mulanya dikaitkan terhadap UT tetapi akhirnya
dinyatakan dalam ET. Panitia Internasional mengenai Berat dan Ukuran ICWM
(International Committee of Wights and Measures) sekarang ini telah mende-
finisikan sekon berdasarkan frekuensi peralihan cesium, dengan menetapkan nilai
sebesar 9192631770 Hz untuk peralihan atom cesium yang paling baik tanpa diganggu
oleh medan-medan luar.
Definisi atom untuk sekon yang memberi kenyataan suatu ketelitian yang
jauh lebih besar dari yang dicapai berdasarkan pengamatan astronomi,
menghasilkan dasar waktu yang lebih seragam dan lebih memuaskan. Sekarang ini
penentuan selang waktu dapat dilakukan dalam beberapa menit pada ketelitian yang
lebih besar dari yang mungkin sebelumnya yaitu pengukuran astronomi yang
memerlukan waktu beberapa tahun untuk melengkapinya. Sebuah jam atom dengan
ketepatan yang melebihi satu mikrosekon (S) setiap hari dalam operasinya,
merupakan standar frekuensi primer di NBS. Sebuah skala waktu atom, yang
dinamakan NBS-A dipelihara bersama-sama dengan jam ini.
NBS menyiarkan standar waktu dan frekuensinya melalui beberapa stasiun radio
pemancar yang beroperasi pada frekuensi transmisi yang berlainan dari berbagai tempat
di benua Amerika dan Hawaii. Informasi yang lengkap mengenai jadwal penyiaran dan
pernbalian operasi di tiap stasiun dapat diperoleh dari NBS.

3-4 STANDAR LISTRIK
3-4-1 Amper Absolut
Satuan standar internasional (SI) mendefinisikan amper (satuan dasar untuk
arus listrik) sebagai arus konstan, yang jika dipertahankan di dalam dua konduktor
lurus yang sejajar yang panjangnya tak berhingga dan penampangnya diabaikan, dan
kedua konduktor tersebut ditempatkan pada jarak 1 m di dalam ruang hampa; akan
menghasilkan gaya antara kedua konduktor tersebut sebesar 2 x 10
-7
Newton per-
satuan panjang. Pengukuran sebelumnya mengenai nilai amper absolut dilakukan
dengan menggunakan kesetimbangan arus (current balance) yakni dengan
mengukur gaya antara dua konduktor sejajar. Pengukuran ini agak kasar, sedang
yang dibutuhkan adalah mendapatkan standar yang lebih praktis dan dapat diproduksi
kembali untuk laboratorium-laboratorium nasional. Berdasarkan persetujuan
internasional, nilai dari pada amper internasional didasarkan pada endapan elektrolit
34

perak dari larutan perak nitrat. Kemudian amper internasional didefinisikan sebagai
arus yang niengendapkan perak dengan laju ketepatan sebesar 1,118 miligram per-
sekon dari suatu larutan perak nitrat standar. Kesulitan ditemukan dalam pengukuran
endapan perak yang tepat dan terdapat suatu perbedaan kecil antara pengukuran-
pengukuran yang telah dilakukan secara terpisah oleh berbagai laboratorium standar
nasional.
Dalam tahun 1948 Amper Internasional diganti oleh Amper Absolut.
Penentuan amper absolut ini juga dilakukan dengan cara kesetimbangan arus, yakni
mengukur gaya yang dihasilkan oleh dua kumparan pembawa arus. Perbaikan dalam
cara-cara pengukuran gaya memberikan suatu harga bagi amper yang jauh lebih baik
dari yang sebelumnya. Hubungan antara gaya dan arus yang menghasilkan gaya
tersebut dapat ditemukan dari konsep teori dasar elektromaknetik dan diturunkan
menjadi perhitungan sederhana yang mencakup dimensi geometrik kumparan-
kumparan. Sekarang ini amper absolut menjadi satuan dasar arus listrik dalam SI dan
secara umum diakui oleh perjanjian internasional.
Instrumen-instrumen yang dibuat sebelum 1948 dikalibrasi dalam Amper
Internasional sedangkan instrumen-instrumen yang lebih barn menggunakan Amper
Absolut sebagai dasar kalibrasi. Karena kedua jenis instrumen tersebut bisa ditemukan
di dalam satu laboratorium, maka NBS telah menetapkan faktor-faktor konversi
yang memberikan hubungan antara kedua satuan tersebut. Faktor-faktor
pengubahan ini diberikan dalam bab 2-3.

Hubungan antara tegangan, arus dan tahanan diberikan oleh hukum Ohm dengan
perbandingan yang konstan (E = IR). Dengan mengetahui ciri dari setiap dua besaran,
otomatis menentukan besaran ketiga. Dua jenis standar bahan membentuk suatu kombi-
nasi yang secara menyenangkan memelihara amper pada ketepatan tinggi untuk
waktu yang lama. Kedua standar tersebut adalah tahanan standar (standard
resistor) dan sel standar (standard cell) untuk tegangan. Masing-masing standar ini
dibicarakan pada bab-bab selanjutnya.
3-4-2 Standar Tahanan (Resistance standards)
Nilai ohm absolut dalam sistem SI didefinisikan dalam satuan-satuan dasar
panjang, massa dan waktu. Pengukuran ohm absolut dilakukan oleh IBWM di
Sevres dan juga oleh laboratorium-laboratorium standar nasional yang merawat
sekelompok standarstandar tahanan primer. NBS merawat sekelompok standar
primer tersebut (tahanan-tahanan standar 1 ohm) yang secara berkala diperiksa satu
sama lain dan sekali-sekali dibuktikan (diverifikasi) terhadap pengukuran absolut.
Tahanan standar adalah sebuah kumparan kawat terbuat dari paduan mirip
manganin yang memiliki tahanan jenis (resistivitas) listrik yang tinggi dan koefisien
tahanan temperatur yang rendah (hubungan antara tahanan dan temperatur hampir
konstan). Kumparan tahanan tersebut ditempatkan di dalam sebuah bejana
berdinding rangkap yang disegel (Gambar 3-1) untuk mencegah perubahan tahanan
karena kondisi uap air di dalam udara luar (atmosfir). Dengan suatu perlengkapan yang
terdiri dari 4 atau 5 tahanan masing-masing bernilai 1 ohm dari jenis ini, satuan tahanan
dapat dinyatakan dengan ketepatan sebesar beberapa bagian dari 10
7
setelah beberapa
tahun.
Standar sekunder dan standar kerja dibuat oleh beberapa pabrik instrumen
dalam rangkuman yang lebar, biasanya dalam perkalian 10 ohm. Tahanan-tahanan
standar ini dibuat dari paduan kawat tahanan, seperti halnya manganin atau Evanohm.
35


Gambar 3-1 Penampang standar tahanan berdinding rangkap (seijin perusahaan

Gambar 3-2 Standar tahanan 10 kiloohm (seijin Hewlett-Packard Co.).

Gambar 3-2 adalah sebuah potret tahanan dari sebuah standar sekunder di
laboratirum, yang kadang-kadang disebui tahanan alih (transfer resistor).
Kumparan tahanan dari tahanan alih ini disangga di antara lapisan polyester untuk
mengurangi regangan pada kawat dan untuk memperbaiki stabilitas tahanan.
Kumparan dicelupkan di dalam minyak yang tidak mengandung uap air dan
ditempatkan di dalam tabung yang disegel. Sambungan-sambungan ke kumparan adalah
solderan perak sedang cantelan-cantelan terminal dibuat dari tembaga berlapis nikel
yang bebas dari oksigen. Karakteristik stabilitas dan temperatur dari tahanan alih ini
diperiksa pada daya nominalnya dan pada temperatur kerja yang telah ditetapkan
(biasanya 25C). Suatu laporan kalibrasi yang menyertai tahanan memberi ciri
kemampuannya untuk mengikuti standar NBS termasuk koefisien temperatur dan
. Walaupun kawat tahanan yang dipilih memberikan tahanan yang hampir konstan
pada rangkuman temperatur yang cukup lebar, nilai yang tepat dari tahanan pada
36

setiap temperatur dapat ditentukan berdasarkan hubungan
2
25
) 25 ( ) 25 (
0
+ + = t t R R
C
t
| o (3-1)
di mana R
t
= tahanan pada temperatur sekeliling t.
R
25
o
C
= tahanan pada 25C.
dan = koefisien-koefisien temperatur.
Koefisien temperatur biasanya lebih kecil dari 10 x 10
-6
dan terletak antara -3 x
10
-7
dan -6 x 10
-7.
Ini berarti bahwa perubahan temperatur sebesar 10C dari tempe-
ratur referensi 25C dapat menyebabkan perubahan tahanan sebesar 30 sampai 60 ppm
(parts per million, bagian per juta) dari nilai nominal.
Pemakaian tahanan alih terdapat di laboratorium4aboratorium industri,
penelitian, standar dan kalibrasi. Sebagai pemakaian khas, tahanan alih dapat digunakan
untuk menentukan tahanan dan perbandingan (ratio) tahanan atau untuk membuat
pembagi kelipatan sepuluh (decade divider) yang sangat linear yang kemudian
dapat digunakan untuk mengalibrasi perlengkapan pembanding (ratio set), kotak-
kotak tegangan, dan pembagi Kelvin-Varlet.

3-4-3 Standar tegangan
Standar primer untuk tegangan yang telah dipilih oleh NBS untuk
pemeliharaan volt adalah sel Weston yang normal atau saturasi (jenuh). Sel Weston
memiliki sebuah elektroda positif air raksa dan elektroda negatif kadmium amalgam
(10% Cd). Elektrolitnya adlah suatu larutan kadmium sulfat. Komponen-komponen
ini ditempatkan di dalam sebuah bejana berbentuk H seperti ditunjukkan pada Gambar
3-3.


Gambar 3-3 Konstruksi lengkap sel Weston yang saturasi
Sel Weston terdiri dari dua jenis yaitu sel yang jenuh (saturasi) dalam mana
elektrolit dibuat saturasi pada semua temperatur oleh kristal-kristal kadmium sulfat
yang menutupi elektroda-elektroda; dan sel tidak jenuh (unsaturated), di mana
konsentrasi kadmium sulfat adalah sedemikian hingga menghasilkan saturasi pada
4C. Sel jenis kedua ini mempunyai koefisien tegangan temperatur yang dapat
37

diabaikan pada temperatur ruangan yang normal. Sel jenuh (saturasi) mempunyai
variasi tegangan dengan kenaikan sekitar -40 V per 1C, tetapi memiliki
kemampuan reproduksi yang lebih baik dan jugs lebih stabil dari sel yang tidak
saturasi.
Laboratorium-laboratorium standar nasional seperti NBS, merawat sejumlah
selsafitrasi sebagai standar primer untuk tegangan. Sel-sel ini disimpan di dalam
sebuah bak minyak agar dapat mengontrol temperatur sampai batas-batas 0,01C.
Tegangan sel satuwsi Weston pada 20C adalah 1,01858 Volt (absolut), dan pada
temperatur lain gaya gerak listriknya (ggl) diberikan oleh rumus :
e
t
= e
20
o
C
-0.000046(t - 20) - 0.00000095(t- 20)
2
+ 0.00000001(t -20)
3
(3-2)
Sel saturasi Weston tetap memuaskan sebagai standar tegangan untuk jangka
waktu 10-20 tahun, dengan syarat bahwa mereka diperlakukan dengan hati -hati.
Pergeseran tegangan adalah dalam orde 1V per tahun. Karena sel saturasi sensitif
terhadap temperatur, sel ini tidak sesuai untuk pemakaian umum di laboratorium
sebagai standar sekunder atau sebagai standar kerja.
Standar sekunder dan standar kerja yang lebih kokoh dan dapat
dipindahkan (portabel) ditemukan pada sel Weston yang tidak saturasi. Konstruksi
sel-sel ini sangat mirip dengan sel normal tetapi tidak memerlukan pengontrolan
temperatur secara tepat. Resarnya gaya gerak listrik sebuah sel yang tidak saturasi
terletak antara 1,0180 Volt -1,0200 Volt dan perubahannya kurang dari 0,01% pada
temperatur 10C sampai 40C. Tegangan sel biasanya dituliskan pada rumah sel
seperti ditunjukkan pada Gambar 3-4 (yaitu 1,0193 Volt absolut). Tahanan-dalam sel
Weston berkisar antara 500 ohm - 800 ohm. Ini berarti bahwa arus yang dialirkan
dari sel-sel ini tidak akan melebihi 100 A, sebab tegangan nominal akan terpengaruh
oleh penurunan tegangan di dalam sel.
Standar-standar kerja laboratorium yang dapat diandalkan telah
dikembangkan dengan ketelitian sampai orde ketelitian sel standar. Gambar 3-5 adalah
potret dari sebuah standar tegangan laboratorium untuk pemakai an ganda yang
di sebut st andar al i h (transfers standart) dan didasarkan pada kerja sebuah dioda
zener sebagai acuan tegangan.

Edited by Foxit Reader
Copyright(C) by Foxit Software Company,2005-2008
For Evaluation Only.
38

Gambar 3-4 Sel kadmium Weston yang tidak saturasi : ggl 1,0193 Volt, ketelitian
0,1% (seijin perusahaan Epply Laboratory).


Gambar 3-5 Sebuah standar alih arus searah yang dapat digunakan sebagai sumber
acuan (referensi) 1,000 V, sebagai instrumen pembanding sel standar, dan sebagai
sumber 0-1000 V dc (seijin perusahaan Hewlett-Packard).

Pada dasarnya instrumen ini terdiri dari sebuah sumber tegangan yang dikontrol oleh
zener dan ditempatkan dalam sebuah lingkungna yang temperaturnya terkontrol oleh
zener ditempatkan dalam sebuah lingkungan yang temperaturnya terkontrol untuk
perbaikan ketahanan stabilitas; dan sebuah pembagi tegangan presisi. Tungku yang
temperatur terkontrol dan dipertahankan pada 0,03C dari rangkuman temperatur
sekeliling antara 0C sampai 50C, memberikan stabilitas keluaran dalam orde 10
ppn/bulan. Keempat keluaran yang tersedia adalah (a) 0-1000 V dengan resolusi
sebesar 1 V yang disebut (); (b) referensi sebesar 1 Volt untuk pengukuran
potensiometer kotak tegangan; (c) referensi sebesar 1,018 + () untuk melakukan
perbandingan terhadap sel-sel saturasi; (d) referensi 1,0190 + () untuk perbandingan
terhadap sel-sel tidak saturasi. Standar alih arus searah (dc) dapat digunakan sebagai
sebuah instrumen alih dan dapat dibagi menjadi beberapa peralatan untuk dikalibrasi
sebab dia mudah dilepas dari sumber tegangan jala-jala di satu lokasi dan dipasang
kembali pada lokasi yang berlainan dengan mendapatkan kembali 1 ppm dalam
waktu pemanasan kira-kira 30 menit.
3-4-4 Standar kapasitansi (capacitance standard)
Karena satuan tahanan dinyatakan dengan tahanan standar dan satuan
tegangan oleh set standar Weston, banyak satuan-satuan listrik dan magnet yang
dapat dinyatakan oleh standar-standar tersebut. Satuan kapasitansi (farad) dapat
diukur dengan menggunakan rangkaian Maxwell yang dijalankan oleh arus searah (dc-
direct current) di mana kapasitansi tersebut ditentukan dari lengan-lengan jembatan
yang resistip dan dari frekuensi komutasi dc. Rangkaian jembatan ini ditunjukkan
pada Gambar 3-6.



39


Gambar 3-6 Cara komutasi arus searah untuk pengukuran kapasitansi. Kapasitas C
secara bergantian dimuati dan dikosongkan melalui kontak komutasi dan tahanan R.
Kesetimbangan jembatan diperoleh dengan mengatur R
3
, memberikan penentuan yang
tepat bagi nilai kapasitansi dinyatakan dengan konstanta-konstanta lengan jembatan dan
frekuensi komutasi.

Walaupun penurunan yang tepat bagi kapasitansi yang dinyatakan oleh tahanan-
tahanan dan frekuensi adalah agak rumit, dapat dilihat bahwa kapasitor dapat diukur
dengan cara ini. Karena tahanan dan frekuensi dapat ditentukan dengan sangat teliti
maka nilai kapasitansi dapat diukur dengan ketelitian yang tinggi. Kapasitor-kapasitor
standar (standard capacitor) biasanya dibuat dari susunan pelat-pelat logam dengan
menggunakan udara sebagai bahan dielektrik. Luas pelat-pelat dan jarak antara pelat-
pelat tersebut harus diketahui dengan tepat; dan dengan demikian kapasitansi kapasitor
udara dapat ditentukan dari dimensi- dimensi dasar ini. NBS memelihara satu tanggul
kapasitor udara sebagai standar dan menggunakannya untuk mengalibrasi standar
sekunder dan standar kerja laboratorium pengukuran dan pemakai di industri.
Standar-standar kerja kapasitansi (capacitance working standards) dapat
diperoleh dalam suatu rangkuman yang sesuai. Nilai yang lebih kecil biasanya
adalah kapasitor-kapasitor udara, sedangkan kapasitor yang lebih besar
menggunakan bahan dielektrik padat. Konstanta dielektrik yang tinggi dan lapisan
dielektrik yang sangat tipis diperhitungkan untuk keteguhan standar-standar ini.
Kapasitor yang terbuat dari perak-mika merupakan standar kerja yang sangat baik;
mereka sangat stabil, mempunyai faktor disipasi yang sangat rendah (bab 8-5),
mempunyai koefisien temperatur yang sangat rendah dan tidak terpengaruh oleh
lamanya pemakaian (umur). Kapasitor mika tersedia dalam kelipatan sepuluh,
tetapi biasanya kapasitor-kapasitor dengan kelipatan sepuluh ini tidak digaransi
lebih baik dari 1%. standar-standar tetap umumnya digunakan bila ketelitian
merupakan hal yang penting.
3-4-5 Standar induktansi (inductance standards)
Standar primer untuk induktansi diturunkan dari ohm dan farad daripada
menurunkannya dari induktor-induktor yang ukuran geometrisnya besar yang
digunakan untuk penentuan nilai ohm absolut. NBS memilih standar Campbell untuk
induktansi bersama sebagai standar primer bagi induktansi bersama dan bagi induksi
diri. Secara komersil, standar-standar kerja untuk induktansi tersedia dalam suatu
rangkuman yang lebar dengan nilai-nilai praktis yang tetap dan berubah-ubah
(variabel). Suatu perlengkapan khas dari standar induktansi yang tetap mempunyai nilai
dari 100 H sampai 10 H dengan ketelitian garansi sebesar 0,1% pada suatu frekuensi
40

operasi yang telah ditetapkan. Induktor-induktor yang nilainya berubah juga tersedia.
Ketelitian induktansi bersama yang khas adalah dalam orde 2,5% dengan nilai
induktansi antara 0-200 mH. Kapasitansi terdistribusi terdapat antara gulungan-
gulungan induktor, dan kesalahan yang diakibatkannya harus diperhitungkan.
Pertimbangan ini biasanya disertai spesifikasi untuk pemakaian komersial.


3-5 STANDAR MAGNET
3-5-1 Pengukuran balistik (ballistics measurements)
Pengukuran fluksi magnet umumnya membutuhkan pemakaian sebuah
galvanometer balistik. Galvanometer balistik sesungguhnya adalah gerakan d'Arsonval,
yang secara khusus dirancang untuk pemakaian (operasi) yang lama (20 sekon sampai
30 sekon) dan dengan kepekaan yang tinggi. Dalam pengukuran-pengukuran balistik,
kumparan menerima suatu impuls arus sesaat, yang menyebabkannya berayun ke satu
sisi dan kemudian kembali berhenti dalam gerakan berosilasi, yang diatur oleh
rangkaian peredam (bab 4-2-3). Bila impuls arus cukup singkat (sebentar), defleksi
(penyimpangan) mula-mula dari posisi berhenti adalah berbanding langsung dengan
kuantitas pengosongan muatan listrik melalui kumparan. Besar relatif dari impuls
arus diukur dalam defleksi sudut mula-mula dari kumparan dan dapat dituliskan
sebagai
Q = K (3-3)
dimana Q = muatan dalam Coulomb
K = kepekaan galvanometer dalam
defleksi radian
Coulumb

= penyimpangan sudut dari kumparan, dalam radian.
kepekaan K, bergantung pada redaman dan besarnya arus diperoleh secara
eksperimental melalui pemeriksaan kalibrasi pada kondisi-kondisi pemakaian yang
aktual.

Beberapa prosedur dapat digunakan untuk mengalibrasi galvanometer
balistik; diantaranya adalah metoda kapasitor, metoda solenoida dan metoda
induktor bersama (mutual inductor). Metoda terakhir ini ditunjukkan pada
Gambar 3-7 dalam mana mana sumber arus di dalam rangkaian primer dikopel ke
galvanometer balistik melalui cara pengujian induktansi bersama. Pembalikan arus
primer yang diketahui (I) menyebabkan penyimpangan galvanometer () yang
sebanding dengan konstanta-konstanta rangkaian dan kepekaan galvanometer.
Dapat ditunjukkan bahwa muatan total di dalam, rangkaian yang disebabkan
oleh perubahan arus dari + I menjadi -I adalah,
) (
2
coulumb
R
MI
Q = (3-4)

Dimana M = induktansi bersama dalam henry
R = tahanan total dalam rangkaian sekunder.

41




Gambar 3-7 Kalibrasi sebuah galvanometer balistik dengan cara induktansi bersama
Substitusi persamaan (3-4) ke dalam persamaan (3-3) menghasilkan nilai kepekaan
galvanometer yaitu :
u R
MI
K
2
= (3-5)
Sekali dikalibrasi, galvanometer balistik dapat digunakan untuk mengukur
fluksi yang dihasilkan oleh perubahan magnet-magnet permanen. Metoda ini
ditunjukkan pada Gambar 3-8.

Gambar 3-8 Pengukuran fluksi dengan galvanometer balistik
Sebuah kumparan pencari (searah coil) yang mengelilingi magnet permanen
yang akan ditentukan fluksinya, dihubungkan secara seri (berderet) dengan
galvanometer balistik dan sebuah tahanan variabel. Tahanan variabel umumnya
disetel (diatur) agar menghasilkan redaman kritis bagi galvanometer. Jika magnet
persamaan dicabut (dilepas) dengan cepat dari kumparan pencari, suatu impuls arus
akan dihasilkan dan galvanometer menyimpang. Kuantitas muatan melalui
galvanometer balistik berbanding langsung dengan fluksi total (P dari magnet
permanen dan jumlah gulungan (lilitan) kumparan pencari (N), dan berbanding
terbalik dengan tahanan rangkaian total R, sehingga diperoleh
) (coulumb
R
N
Q
u
|
= (3-6)

Dari persamaan (3-3) penyimpangan galvanometer adalah
42

) ( radian
KR
N
K
Q |
u = = (3-7)

Dengan menyusun kembah persamaan (3-7) untuk Q diperoleh
) ( weber
N
KR u
| = (3-8)
Perlu ditekankan bahwa faktor kepekaan K harus dievaluasi (dinilai) terhadap, tahanan
rangkaian yang digunakan dalam setiap pengukuran.
3-5-2 Standar fluksi magnet
Metoda pengukuran yang telah dijelaskan pada Gambar 3-8 digunakan untuk
mengukur fluksi standar yang dihasilkan oleh variasi magnet permanen. Kemudian
magnetmagnet permanen ini dipelihara sebagai standar-standar fluksi magnet
(maknetic flux standards).
Sering sangat menguntungkan memiliki sebuah sumber fluksi standar yang tidak
bergantung pada arus eksitasi dari luar. Standar magnet Hibbert (Gambar 3-9)
adalah contoh peralatan seperti ini. Sebuah magnet permanen dibungkus di dalam
sebuah bejana yang terbuat dari besi lunak yang mempunyai senjang udara berbentuk
lingkaran yang sempit.


Gambar 3-9 Dasar konstruksi dari standar magnet Hibbert
Sebuah silinder kuningan digantungkan di dalam senjang udara tersebut dan pada
Silinder ini dililitkan sebuah gulungan terisolasi yang terbuat dari bahan penghantar,
misalnya tembaga. Dengan melepas sebuah pemegang, silinder kuningan dan
perlengkapan gulungan akan jatuh melalui fluksi di dalam senjang udara. Arus
listrik Yang dihasilkan yakni yang diindusir di dalam gulungan kawat sebanding
dengan laju pada mana fluksi magnet dipotong oleh gulungan yang jatuh tersebut.
Karena medan gravitasi setempat adalah satu-satunya gaya yang bekerja terhadap
gulungan, maka laju pada mana fluksi terpotong adalah konstan. Dengan demikian
berarti bahwa arus induksi berbanding langsung dengan fluksi di dalam senjang
udara. Standar Hibbert merupakan standar sekunder dan harus dikalibrasi terhadap
metoda induktansi bersama yang lehili dibicarakan sebelumnya.
43

3-6 STANDAR TEMPERATUR DAN INTENSITAS PENERANGAN
Temperatur termodinamika adalah salah satu besaran dasar S1 dan satuannya
adalah derajat Kelvin (Bab 2-2). Skala termodinamika Kelvin dikenal sebagai skala
dasar (fundamental scale) kepada mana semua temperatur akan diacu. Temperatur pada
skala ini dinyatakan sebagai K dan dengan simbol T. Besar daripada derajat Kelvin
telah ditetapkan dengan mendefinisikan temperatur termodinamika dari titik tripel air
pada temperatur tepat sebesar 273,16K. Titik tripel air adalah temperatur
keseimbangan antara es, air dan uap air.
Karena pengukuran temperatur pada skala termodinamika adalah sukar,
Konferensi umum ke 11 mengenai Berat dan Ukuran dalam tahun 1927
menyetujui sebuah skala Praktis yang telah dimodifikasi beberapa kali dan
sekarang disebut skala praktis internasional untuk temperatur (IPST - International
Practical Scale of Temperature). Temperatur-temperatur pada skala ini dikenal sebagai
derajat Celcius (C) yang diberi simbol t. Skala Celcius mempunyai dua temperatur
dasar yang tetap yaitu titik didih air yang tetap yang besarnya 100
o
C dan titik I ripel
air yang besarnya 0,01C, keduanya ditetapkan pada tekanan atmosfer. Sejumlah
temperatur primer yang nilainya tertertu telah ditetapkan di atas dan di bawah
kedua temperatur dasar tersebut. Temperatur-temperatur tersebut adalah titik
didih oksigen (-182,97C), titik didih belerang (444,6C), titik beku perak
(960,8C), dan titik beku emas (1063C). Nilai-nilai numerik dari semua temperatur-
temperatur ini adalah besaran-besaran (kuantitas) yang dapat direproduksi pada tekanan
atmosfer. Pengubahan (konversi) antara skala. Kelvin dan Celsius dinyatakan oleh
hubungan :

t(C) = T(
O
K) T
o
(3-9)
di mana To = 273.15 derajat.
Termometer standar primer adalah sebuah termometer tahanan platina
dengan konstruksi yang khusus sedemikian sehingga kawat platina tidak
terpengaruh oleh regangan. Nilai-nilai yang diinterpolasi antara temperatur dasar yang
nilainya tetap dan temperatur primer yang nilainya tetap pada skala ditentukan oleh
rumus-rumus yang didasarkan pada sifat-sifat tahanan kawat platina tersebut.
Standar primer untuk intensitas penerangan (standard of luminous intensity)
adalah sebuah radiator sempurna (radiator benda hitam atau Planck) pada temperatur
pembekuan platina (kira-kira 2042K). Kemudian lilin (kandela) didefinisikan
sebagai 1/60 intensitas penerangan setiap cm
2
radiator sempurna. Standar sekunder
untuk intensitas penerangan adalah lampu-lampu khusus yang filamennya terbuat dari
Wolfram yang beroperasi pada temperatur yang menyebabkan distribusi days
spektral di dalam daerah yang dapat dilihat (visibel) sepadan dengan standar dasar.
Standar-standar sekunder ini dikalibrasi kembali terhadap standar dasar secara berkala.
PUSTAKA
1. Kaye, G.W.C., dan T.H. Laby, Tables of Physical and Chemical Constants, edisi
ke 13. London : Longmanns, Green and Co., Ltd., 1966.
2. Philco Technological Center, Electronic Precision Measurement Techniques and
Experiments, Englewood Cliffs, N.J. : Prentice-Hall, Inc., 1964.
3. Stout, Melville B., Basic Electrical Measurements, edisi ke 2. Englewood Cliffs,
44

N.J. : Prentice-Hall, Inc., 1960.
45

SOAL-SOAL
1. Jelaskan secara singkat perbedaan-perbedaan antara standar primer dan standar se-
kunder dalam hal ketelitian dan pemakaian.
2. Apa yang dimaksud dengan "Skala waktu atom"? Bagaimana hubungan skala waktu
ini terhadap UT
2
? .
3. Stasiun-stasiun radio NBS, WWV, dan WWVB memancarkan sinyal-sinyal waktu
standar yang dapat digunakan untuk mengalibrasi perlengkapan laboratorium seper-
ti jam dan alat-pencacah (counter). Secara singkat jelaskan jenis pelayanan yang
ditawarkan oleh stasiun-stasiun radio tersebut dan tunjukkan bagaimana sinyal yang
ditransmisikan dapat ditelusur kembali ke standar waktu primer.
4. Sebutkan beberapa tindakan pencegahan yang harus diambil sewaktu menggunakan
sebuah sel standar Weston.
5. Beberpa ggl (gaya gerak listrik) sebuah sel Weston normal pada 20C dan berapa
banyak berubah bila digunakan pada 0C?
6. Anda diminta untuk menentukan tahanan dalam sebuah sel Weston yang tidak satu-
rsasi. Jelaskan suatu metoda yang akan memberikan jawaban yang benar.
7. Anda mencurigai bahwa gaya gerak listrik (ggl) salah satu sel standar di dalam labo-
nflommi kalibrasi mungkin memberikan kesalahan dalam jumlah yang cukup
besar. Anda ingin memeriksa hal ini tetapi menyadari bahwa sebuah voltmeter
biasa akan mengaikkan terlalu banyak arus dan kemungkinan besar akan merusak
sel. Rangkaian Vann bagaimana yang ands pikirkan untuk melakukan pengukuran
ini?
8. Sebuah generator koda waktu (time code generator) berisi sebuah osilator presisi
Yang hams diperiksa setiap hari terhadap transmisi frekuensi standar dari stasiun
WWV. Dengan pertolongan sebuah diagram balok, jelaskan bagaimana hal ini
dapat dilakukan
9. Jelaskan secara singkat konstruksi standar peimer untuk ohm absolut dan henry
absolut














4. INSTRUMEN PENUNJUK ARUS SEARAH (DC)

4-1 GALVANOMETER SUSPENSI
Pengukuran pengukuran arus searah sebelumnya menggunakan
galvanometer dengan sistem. gantungan (suspension galvanometer). Instrumen ini
mempakan pelopor instrumen kumparan putar, dasar bagi kebanyakan alat-alat
penunjuk arus searah yang dipakai secara umum. Gambar 4-1 menunjukkan
46

konstruksi sebuah galvanometer suspensi.
Sebuah kumparan (coil) kawat halus digantung di dalam medan magnet yang
dihasilkan oleh sebuah magnet permanen. Menurut hukum dasar gaya elektro
maknetik kumparan tersebut akan berputar di dalarn, medan magnet bila dialiri oleh
arus listrik. Gantungan kumparan yang terbuat dari serabut halus berfungsi sebagai
pembawa arus dari dan ke kumparan, dan keelastisan serabut tersebut membangkitkan
suatu torsi yang melawan perputaran kumparan. Kumparan akan terus berdefleksi
sampai gaya elektromaknetiknya mengimbangi torsi mekanis lawan dari gantungan.
Dengan demikian penyimpangan kumparan merupakan ukuran bagi arus yang dibawa
oleh kumparan tersebut. Sebuah cermin yang dipasang pada kumparan menyimpangkan
seberkas cahaya dan menyebabkan sebuah bintik cahaya yang telah diperkuat
bergerak di atas skala pada suatu jarak dari instrumen. Efek optiknya adalah sebuah
jarum penunjuk yang panjang tetapi massanya nol.
Dengan penyempurnaan baru galvanometer suspensi ini masih digunakan dalam
pengukuran-pengukuran laboratorium sensitivitas tinggi tertentu, bila keindahan
instrumen bukan merupakan masalah dan bila portabilitas (sifat dapat dipindahkan)
tidak dipentingkan.

Gambar 4-1 Galvanometer suspensi (seijin Western Instruments, Inc.).


4-2 TORSI DAN DEFLEKSI GALVANOMETER

4-2-1 Defleksi dalam keadaan mantap (steady state deflection)
Walaupun galvanometer suspensi bukan instrumen yang praktis ataupun
portabel (mudah dipindahkan), prinsip-prinsip yang mengatur cara kerjanya
diterapkan secara lama terhadap jenis yang lebih baru yakni mekanisme kumparan putar
magnet permanen (PMMC, permanent magnet moving-coil mechanism). Gambar 4-2
menunjukkan konstruksi dan bagian-bagian dari mekanisme PMMC ini.
Juga di sini terdapat sebuah kumparan, digantung di dalam medan magnet
sebuah magnet permanen berbentuk sepatu kuda. Kumparan digantung sedemikian
sehingga ia dapat berputar bebas di dalam medan magnet. Bila arus mengalir di
dalam kumparan torsi elektromaknetik yang dibangkitkannya akan menyebabkan
perputaran kumparan tersebut. Torsi ini diimbangi oleh torsi mekanis pegas-pegas
47

pengatur yang diikat pada kumparan. Kesetimbangan torsi-torsi dan juga posisi sudut
kumparan putar, dinyatakan olch jarum penunjuk terhadap referensi tertentu yang
disebut skala.
Persamaan untuk pengembangan torsi yang diturunkan dari hukum dasar
elektromaknetik adalah,
T =B x A x I x N (4-1)
Dimana: T =torsi dalam newton-meter (N-M)
B = kerapatan fluksi di dalam senjang udara , Wb/m
2

A = luas efektif kumparan, m
2

I = arus dalam kumparan putar, amper (A)
A = jumlah lilitan kumparan


Gambar 4-2 Konstruksi terperinci dari gerakan PMMC magnet luar
(seijin Weston Instruments, Inc.).
Persamaan (4-1) menunjukkan bahwa torsi yang dibangkitkan berbanding
langsung dengan kerapatan fluksi medan di dalam mana kumparan berputar, arus
dalam kumparan dan konstanta-konstanta kumparan (luas dan jumlah lilitan). Karena
kerapatan fluksi dan luas kumparan merupakan parameter-parameter yang tetap bagi
sebuah instrumen, maka torsi yang dibangkitkan merupakan indikasi langsung
dari arus di dalam kumparan. Torsi ini menyebabkan defleksi (penyimpangan) jarum
ke keadaan mantap (steady-state) di mana dia diimbangi oleh torsi pegas pengontrol.
Persamaan (4-1) juga menunjukkan bahwa perencana hanya dapat mengubah
nilai torsi pengatur dan jumlah lilitan kumparan guns mengukur suatu arus skala
penuh. Umumnya luas kumparan praktis adalah antara 0,5 sampai 2,5 cm
2
, sedang
kerapatan fluksi pada instrumen-instrumen modern (baru) berkisar antara 1500 -
5000 gauss (0,15 - 0,5 Wb/m
2
). Jadi, tersedia pilihan mekanisme yang banyak bagi
perencana yang memenuhi terhadap banyak pemakaian dalam pengukuran.
Sebuah instrumen khas PMMC dengan teromol 3% inci, rangkuman 1 mA dan
defleksi penuh 100 derajat busur, memiliki karakteristik-karakteristik* berikut :
A= 1,75 cm2
B= 2000 G (0,2 Wb/m2)
N= 84 lilitan
T= 2,92 x 10
-6
N-m
Tahanan Kumparan = 88
48

Disipasi daya = 88 W

* Data sheet, Weston Instrument, Inc. Newark,
NJ.)

4-2-2 Sifat dinamik (dynamic behavior)
Dalain Bab 4-2-1 galvanometer dianggap sebagai alai penunjuk sederhana di
mana defleksi jarum berbanding langsung dengan besarnya arus yang dialirkan ke
kumparan. Ini betul-betul memuaskan bila kita bekerja dalam kondisi mantap
(steady-state) dimana kita terutama tertarik untuk mendapatkan pembacaan yang
terpercaya. Namun dalam beberapa pemakaian, sifat dinamik galvanometer (seperti
kecepatan tanggapan, redaman, overshoot) bisa menjadi penting. Sebagai contoh,
bila arus bolak-balik dihubungkan ke sebuah galvanometer pencatat, pencatatan
yang dihasilkan oleh gerakan kumparan putar mencakup karakteristik tanggapan
(respons) dari elemen yang berputar itu sendiri dan dengan demikian adalah penting
untuk mempertimbangkan sifat dinamiknya.
Sifat dinamik galvanometer dapat diamati dengan secara tiba-tiba memutuskan
arus yang dimasukkan, sehingga kumparan berayun kembali dari posisi
penyimpangan menuju posisi nol. Akan terlihat bahwa sebagai akibat kelembaman
(inersia) dari sistem yang berputar, jarum berayun melewati titik nol dalam arch
yang berlawanan, dan kemudian berosilasi ke kiri ke kanan sekitar titik nol. Osilasi
ini perlahan-lahan mengecil sebagai akibat dari redaman elemen yang berputar dan
akhirnya jarum akan berhenti pada nol.

Gerakan sebuah kumparan putar di dalam medan magnet dikenali dari tiga
kuantitas :
a. Momen inersia (kelembaman) kumparan putar terhadap sumbu putarnya (J)
b. Torsi lawan yang dihasilkan oleh gantungan kumparan (S)
c. Konstanta redaman (D)
Solusi persamaan differensial yang memperhubungkan ketiga faktor ini
memberikan tiga kemungkinan yang masing-masing menjelaskan sifat dinamik
kumparan dalam sudut defleksinya, Q. Ketiga jenis sifat tersebut ditunjukkan oleh
kurva-kurva pada Gambar 4-3 dan disebut teredam lebih (overdamped), kurang
teredam (underdamped) dan teredam kritis (critically damped).
Kurva I pada gambar 4-3 menunjukkan keadaan teredam lebih di mana kumparan
kembali secara perlahan ke posisi diam tanpa lonjakan (overshoot) atau osilasi.
Jarum cenderung menuju ke keadaan mantap dengan lambat. Hal ini kurang menarik
sebab yang lebih diinginkan dalam kebanyakan pemakaian adalah keadaan II dan 111.
Kurva II menunjukkan kurang teredam di mana gerakan kumparan dipengaruhi oleh
osilasi sinusoida teredam. Laju pada mana osilasi ini berhenti, ditentukan oleh
konstanta redaman (D),
49


Gambar 4-3 Sifat dinamik sebuah galvanometer
momen inersia Q), dan torsi lawan (S) yang dihasilkan oleh gantungan kumparan.
Kurva III menunjukkan redaman kritis dalam mana jarum kembali dengan cepat ke
keadaan mantapnya tanpa osilasi.
Secara ideal, tanggapan (respons) galvanometer adalah sedemikian sehingga
jarum bergerak ke posisi akhir tanpa lonjakan; berarti gerakan tersebut harus
teredam kritis. Di dalam praktek, biasanya galvanometer sedikit kurang teredam,
yang menyebabkan jarum sedikit melonjak sebelum berhenti. Cara ini mungkin
lebih lambat dari redaman kritis, tetapi dia menjamin pemakai bahwa gerakan tidak
rusak karena penanganan yang kasar, dan dia mengkompensir setiap gesekan tambahan
yang dapat dihasilkan oleh debu atau keausan.
4-2-3 Mekanisme redaman
Redaman galvanometer terjadi dalam dua mekanisme, yaitu mekanis dan
elektromaknetik. Redaman mekanis terutama disebabkan oleh perputaran kumparan
terhadap udara sekehlingnya; dia tidak bergantung pada arus listrik melalui kumparan.
Gesekan gerakan di dalam bantalan-bantalannya dan pembengkokan pegas-pegas
gantungan yang disebabkan oleh kumparan berputar jugs berkontribusi terhadap efek
redaman mekanis. Redaman elektromaknetik disebabkan oleh efek induksi di dalam
kumparan putar bila dia berputar di dalam medan magnet, dengan syarat bahwa
kumparan tersebut merupakan bagian dari sebuah rangkaian listrik tertutup.
Alat-alat ukur PMMC umumnya dibuat agar menghasilkan redaman viskos
yang sekecil mungkin dan derajat redaman yang diinginkan diperbesar. Salah sate
mekanisme redaman yang paling sederhana dilengkapi dengan sebuah sudu aluminium,
yang dipasang pada poros kumparan putar. Begitu kumparan berputar, sudu bergerak di
dalam sebuah rongga udara (air chamber). Besarnya ruang bebas antara dinding-dinding
rongga dan sudu udara mengontrol derajat redaman secara efektif.
Beberapa instrumen menggunakan prinsip redaman elektromaknetik (hukum
Lenz), di mana kumparan putar digulungkan pada sebuah rangka aluminium ringan.
Perputaran kumparan didalam medan magnet membangkitkan arus-arus sirkulasi di
dalam rangka logam penghantar, menyebabkan suatu torsi penahan yang melawan
gerakan kumparan. Sesungguhnya, prinsip yang sama sering diterapkan untuk
melindungi instrumen-instrumen PMMC selama pengiriman dengan memasang sebuah
sengkang hubungan singkat dari logam (shorting strap) antara terminal-terminal
kumparan untuk mengurangi defleksi.
Sebuah galvanometer dapat juga diredam dengan menghubungkan sebuah
tahanan ke kumparan. Bila kumparan berputar di dalam medan magnet, tegangan
50

dibangkitkan di dalam kumparan yang mengedarkan (mensirkulasikan) suatu arus
melalui kumparan dan tahanan luar. Ini menghasilkan sebuah torsi lawan yang
meredam gerakan kumparan. Bagi setiap galvanometer, nilai tahanan luar yang
dihubungkan tersebut adalah tahanan yang menghasilkan redaman kritis. Tahanan
ini disebut CDRX (Critical Damping Resistance External) yang merupakan suatu
konstanta penting bagi galvanometer. Torsi redaman dinamik yang dihasilkan oleh
CDRX bergantung pada tahanan total rangkaian; tahanan total rangkaian yang makin
kecil menghasilkan torsi redaman yang makin besar.
Salah satu cara untuk menentukan CDRX adalah mengamati ayunan
galvanometer bila arus dihubungkan atau diputuskan dari kumparan. Dimulai
dari kondisi osilasi, dicoba memperbesar nilai tahanan-tahanan luar sampai
diperoleh suatu nilai pada mana lonjakan (overshoot) barn saja menghilang.
Penentuan dengan cara ini tidak begitu lepat tetapi cukup memadai bagi
kebanyakan tujuan praktis. Nilai CDRX dapat juga ditentukan juga dari
konstanta-konstanta galvanometer yang telah diketahui.

4-3 MEKANISME KUMPARAN-PUTAR MAGNET PERMANEN
4-3-1 Gerak d'Arsonval (D'Arsonval movement)
Gerakan dasar kumparan putar magnet permanen (permanent magnet
moving coil, PMMC) yang ditunjukkan pada Gambar 4-2 sering disebut gerak
d'Arsonval. Desain ini memungkinkan magnet besar di dalam suatu ruang tertentu
dan digunakan bila diinginkan fluksi paling besar di dalam senjang udara. Dia
adalah instrumen dengan kebutuhan daya yang sangat rendah dan arus yang
kecil untuk penyimpangan skala penuh (full scale deflection). Gambar 4-4
menunjukkan sebuah pandangan maya dari gerakan d'Arsonval.
Pengamatan terhadap Gambar 4-4 menunjukkan sebuah magnet
permanen berbentuk sepatu kuda dengan potongan-potongan kutub besi lunak
yang menempel kepadanya. Antara potongan-potongan tersebut terdapat sebuah
silinder besi lunak yang berfungsi untuk menghasilkan medan magnet yang serba
sama (homogen) di dalam senjang udara antara kutub-kutub dan silinder.
Kumparan dililitkan pada sebuah kerangka logam ringan dan dipasang sedemikian
hingga dapat berputar secara beban di dalam senjang udara. Jarum penunjuk yang
dipasang di bagian alas kumparan bergerak sepanjang skala yang telah terbagi-
bagi dan menunjukkan defleksi sudut kumparan dan berarti menunjukkan arus
melalui kumparan tersebut.
51


Gambar 4-4 Gambar maya mekanisme kumparan putar luar yang menunjukkan
perincian konstruksi kumparan magnet luar berbentuk sepatu kuda dan jarum
penunjuk (seijin Weston Instruments, Inc.).

Bagian berbentuk Y adalah pengatur nol (zero adjust) dan dihubungkan ke ujung
tetap pegas pengatur depan (front control spring). Sebuah pasak eksentrik (eccentric
pin) yang menembus kotak instrumen memegang bagian berbentuk Y tersebut sehingga
posisi nol jarum dapat diatur dari luar. Dua pegas konduktif (conductive spring)
dari fosfor perunggu yang umumnya berkekuatan sama, menghasilkan gaga terkalibrasi
untuk melawan torsi kumparan putar. Prestasi pegas yang konstan diperlukan
untuk mempertahankan ketelitian instrumen. Ketebalan pegas diperiksa secara teliti di
pabrik untuk mencegah kondisi pegas yang permanen (elastisitasnya hilang). Arus
disalurkan dari dan ke kumparan oleh pegas-pegas pengatur.
Keseluruhan sistem yang berputar dibuat setimbang statis oleh tiga buah
beban keseimbangan (balance wight) untuk semua posisi penyimpangan
(defleksi) seperti ditunjukkan pada Gambar 4-5. Jarum, pegas dan titik putar
(pivot) dirakit ke peralatan kumparan dengan menggunakan alas titik putar dan
seluruh elemen kumparan yang dapat berputar disangga oleh "jewel bearings".
Beberapa sistem bantalan yang berbeda ditunjukkan pada Gambar 4-6.
"Jewel" berbentuk V seperti ditunjukkan pada Gambar 4-6 (a) dipakai
secara umum dalam bantalan-bantalan instrumen. Titik putar, bantalan dalam
lubang di dalam jewel mempunyai jari-jari dari 0,01 mm - 0,02 mm pada
ujungnya, bergantung pada beban mekanis dan getaran yang akan dialami oleh
instrumen. Jari-jari lubang di dalam "jewel" sedikit lebih besar dari jari-jari titik
putar, sehingga permukaan yang mengalami kontak berbentuk lingkaran hanya
beberapa mikron jauhnya. Desain jewel V dalam Gambar 4-6 (a) mempunyai gesekan
yang paling kecil di antara semua bantalan praktis. Walaupun elemen instrumen yang
berputar dirancang seringan mungkin, luas permukaan kontak antara titik putar dan
jewel menghasilkan regangan dalam orde 10 kg/mm
2
. Jika berat elemen yang
berputar masih bertambah lagi, permukaan yang kontak tidak akan bertambah secara
sebanding sehingga reganganpun lebih besar.


52


GAMBAR 4-5 Perincian sebuab kumparan putar pada gerak PMMC, menunjukkan
pegas-pegas pengalur dan indikator bersama beban-beban pembuat setimbang (seijin
Weston Instruments, Inc.).

Gambar 4-6 Perincian bantalan-bantalan instrumen: (a) bantalan jewel
berbentuk V (V-jewel bearing), (b) bantalan jewel tipe "spring back" (Benin
Weston Instruments, Inc.).
Regangan yang dihasilkan oleh percepatan-percepatan yang relatif sedang
(seperti suara kasar atau jatuhnya instrumen) dapat berakibat merusak titik putar.
Instrumen-instrumen yang dilindungi secara khusus (dibuat kokoh) menggunakan
bantalan jewel dengan pegas penahan (incobloc) seperti ditunjukkan pada Gambar 4-6
(b). Dia ditempatkan pada posisi normalnya oleh pegas dan beban bergerak secara
aksial bila mekanisme ini makin Bering mengalami goncangan.
Tanda-tanda skala pada instrumen dasar PPMC biasanya terpisah secara linear
sebab torsi (yang berarti defleksi jarum) berbanding langsung dengan arus kumparan
[lihat persamaan (4-1) untuk torsi yang dibangkitkan]. Berarti instrumen dasar
PMMC merupakan peralatan dc yang pembacaannya linear (linear-reading dc
device). Daya yang dibutuhkan oleh gerak d'Arsonval secara menakjubkan adalah
kecil : nilai khasnya adalah dari 25 W 200 W. Umumnya ketelitian instrumen ini
adalah dalam orde 2 -5% pembacaan skala penuh.
53

Jika arus bolak-balik frekuensi rendah dialirkan ke kumparan putar,
penyimpangan jarum akan naik selama setengah perioda gelombang masukan dan
menurun (dalam arah yang berlawanan) selama setengah perioda berikutnya. Pada
frekuensi jala-jala (60 Hz) dan yang lebih besar, jarum tidak mampu mengikuti
pertukaran arah yang cepat sehingga akan bergetar ringan sekitar harga nol mencari
nilai rata-rata (average) arus bolak-balik (yang besarnya adalah nol). Dengan
demikian, instrumen PMMC tidak sesuai untuk pengukuran arus bolak-balik, kecuali
arus tersebut disearahkan (diratakan) sebelum memasukkannya ke kumparan (bab 5-4).
4-3-2 Konstruksi magnet inti (core-magnet construction)
Dalam tahun-tahun belakangan ini, dengan perkembangan Alnico dan bahan-
bahan maknetik yang disempurnakan lainnya, telah menjadi laik untuk merancang
sebuah sistem maknetik di dalam mana magnetnya sendiri berfungsi sebagai inti
(core). Magnet-magnet ini memiliki keuntungan yang nyata yaitu relatif tidak
terpengaruh oleh medan-medan magnet luar, meniadakan efek shunt maknetik
dalam konstruksi panel baja di mana beberapa alat ukur yang bekerja berdekatan
dapat saling mempengaruhi pembacaan masing-masing. Kebutuhan akan pelindung
maknetik (shielding) dalam bentuk selubung-selubung besi, juga ditiadakan pada
konstruksi magnet inti. Perincian dari alat ukur magnet inti dengan pelindung sendiri
ditunjukkan pada Gambar 4-7.
Pelindung yang dimiliki sendiri menjadikan mekanisme magnet inti sangat
bermanfaat terutama dalam pemakaian pesawat udara dan ruang angkasa, di mana
sejumlah instrumen harus dipasang saling berdekatan satu sama lain. Sebuah contoh
cara pemasangan ini ditemukan pada indikator jarum silang (cross printer), di
mana sebanyak lima mekanisme berada di dalam satu selubung untuk membentuk
satu kesatuan peragaan. Jelas, peniadaan selubung-selubung besi dan penurunan beban
yang sesuai merupakan keuntungan besar bagi instrumen-instrumen pesawat udara dan
ruang angkasa.

Gambar 4-7 Detail konstruksi dari mekanisme kumparan putar magnet -inti. (a)
Magnet dengan sepatu kutubnya dikelilingi oleh yoke, yang bertindak sebagai
sebuah pelindung maknetik; (b) gerak yang telah dirakit; (c) pandangan potongan
yoke, inti dan sepatu kutub (seijin Weston Instruments, Inc. ).

4-3-3 Suspensi "taut-band" (taut-band suspension)
Mekanisme galvanometer jenis suspensi telah dikenal selama beberapa tahun.
Sampai belakangan ini alat tersebut hanya digunakan di dalam laborato-rium di mana
dinginkan sensitivitas tinggi dan torsi yang sangat rendah (sebab arus yang kecil).
Juga dalam instrurumen seperti ini, diinginkan untuk meniadakan gesekan rendah yang
dihasilkan oleh titik putar (pivot) dan jewel. Galvanometer suspensi (Gambar 4-1) harus
54

digunakan pada posisi tegak, sebab bagian yang melengkung ke bawah (sag) dalam
tali-tali sendi (ligament) torsi rendah menyebabkan sistem yang berputar menyentuh
bagian-bagian mekanisme yang diam pada setiap posisi lainnya. Pertambahan gesekan
ini menyebabkan kesalahan-kesalahan.
Instrumen ban kencang (taut band) pada Gambar 4-8 mempunyai keuntungan
meniadakan gesekan suspensi titik putar-jewel. Kumparan yang berputar digantung
dengan menggunakan dua pita torsi (torsion ribbons). Kedua pica ini dipasang dengan
regangan (tensi) yang cukup kuat untuk menghilangkan pelengkungan seperti halnya
pada galvanometer suspensi di Gambar 4-1. Tensi ini dilengkapi dengan sebuah pegas
tensi sehingga instrumen dapat digunakan dalam sembarang posisi. Secara umum dapat
dikatakan, instrumen-instrumen suspensi ban kencang dapat dibuat dengan sensitivitas
yang lebih tinggi dari yang menggunakan titik putar (pivot) dan jewel, dan mereka
dapat digunakan dalam hampir semua pemakaian yang dapat dilakukan oleh
instrumen-instrumen bertitik putar. Selanjutnya, instrumen-instrumen ban kencang
relatif tidak sensitif terhadap goncangan dan temperatur dan mampu menahan kelebihan
beban yang lebih besar dari jenis lainnya.

Gambar 4-8 Suspensi ban kencang meniadakan gesekan suspensi tipe pivot
jewel yang biasa. Gambar menunjukkan sebagian perincian konstruksi, khususnya
pits torsi beserta mekanisme pegas tarikan (seijin Weston Instruments, Inc.).
4-3-4 Kompensasi temperatur (temperature compensation)
Gerak dasar PMMC bukannya memiliki sifat bawaan yang tidak sensitif
terhadap temperatur, tetapi temperaturnya bisa dikompensir dengan menggunakan
tahanan shunt dan tahanan seri yang sesuai dari bahan tembaga dan manganin.
Keduanya, kuat Medan magnet dan regangan pegas berkurang terhadap kenaikan
temperatur. Perubahan-perubahan ini cenderung membuat jarum membaca rendah
pada suatu arus yang diberikan berkenan dengan kuat Medan magnet dan tahanan
kumparan. Sebaliknya, perubahan pegas cenderung membuat jarum membaca tinggi
dengan suatu kenaikan temperatur. Tetapi efeknya tidak identik; sehingga alat
ukur yang tidak terkompensir cenderung menghasilkan pembacaan rendah sebesar
sekitar 0,2 persen setiap kenaikan temperatur dalam C. Untuk pencirian instrumen,
gerak dianggap terkompensasi bila perubahan ketelitian karena perubahan temperatur
sebesar 10C tidak melebihi seperempat kesalahan total yang diijinkan.*
(*PMMC Data-sheets, Weston Instrument Inc. Newark, N.J)
55

Kompensasi dapat dilakukan dengan menggunakan tahanan yang dilengkapi
dengan koreksi suhu (swamping resistors) dihubungkan seri dengan kumparan putar
seperti ditunjukkan pada Gambar 4-9(a). Tahanan ini terbuat dari manganin (yang
memiliki koefisien temperatur yang praktis nol) digabungkan dengan tembaga dalam
perbandingan 20/1 sampai 30/1. Tahanan total kumparan dan tahanan "swamping" ini
bertambah sedikit terhadap kenaikan temperatur, tetapi hanya cukup untuk
menghalang-halangi perubahan pegas-pegas dan aknit, sehingga efek temperatur
keseluruhan adalah nol.
Suatu cara yang lebih lengkap untuk menghilangkan efek temperatur adalah
dengan susunan Gambar 4-9(b). Di sini tahanan rangkaian total bertambah sedikit
terhadap kenaikan temperatur karena kehadiran kumparan tembaga dan tahanan
shunt tembaga. Dengan demikian untuk tegangan masuk tertentu, arus total berkurang
sedikit terhadap kenaikan temperatur. Tahanan-tahanan shunt tembaga bertambah
lebih besar dari galungan seri kumparan dan tahanan manganin; sehingga sebagian
besar arus total dilewatkan melalui rangkaian kumparan. Dengan perbandingan
jumlah tembaga dan manganin yang sesuai di dalam rangkaian, efek temperatur dapat
dihilangkan secara sempuma. Satu kerugian dari pemakaian tahanan-tahanan yang
dilengkapi dengan koreksi temperatur adalah penurunan sensitivitas skala penuh alat
ukur, sebab diperlukan tegangan masuk yang lebih tinggi untuk mempertahankan arus
skala penuh.

4-4 SENSITIVITAS GALVANOMETER
Untuk menyatakan sensitivitas sebuah galvanometer, umumnya digunakan
tiga definisi, yaitu :
(a) sensitivitas arus (current sensitivity);
(b) sensitivitas tegangan (voltage sensitivity);
(c) sensitivitas mega-ohm (megohm sensitivity).
Sensitivitas arus (current sensitivity) didefmisikan sebagai perbandingan
penyimpangan (defleksi) galvanometer terhadap arus yang menghasilkan defleksi
tersebut. Biasanya arus dinyatakan dalam mikroamper dan defleksi dalam milimeter.
Bagi galvanometer yang skalanya tidak dikalibrasi dalam milimeter, defleksi dapat
dinyatakan dalam bagian skala. Sensitivitas arus adalah :
A
mm
I
d
S
V

= (4-1)

Gambar 4-9 Penerbangan tahanan koreksi suhu untuk kompensasi suhu sebuah alat
ukur.
56


dimana d = defleksi galvanometer dalam bagian skala atau mm
i = arus galvanometer dalam A
Sensitivitas tegangan (voltage sensitivity) didefinisikan sebagai
perbandingan defleksi galvanometer terhadap tegangan yang menghasilkannya. Oleh
karena itu
mV
mm
V
d
S
V
= (4-3)
di mana d = defleksi galvanometer dalam bagian skala atau mm
V = tegangan yang diberikan ke galvanometer dalam mV
Adalah lazim untuk memandang galvanometer bersama-sama dengan tahanan redaman
kritisnya (CDRX - Critical Damping Resistance External), dan kebanyakan pabrik me-
nyatakan sensitivitas tegangan galvanometer dalam mm/mV.
Sensitivitas megaohm (megohm sensitivity) didefinisikan sebagai tahanan
(dalam mega-ohm) yang dihubungkan secara seri dengan galvanometer agar
menghasilkan defleksi sebesar satu bagian skala bila tegangan 1 V dimasukkan ke
rangkaian tersebut. Karena tahanan ekivalen dari galvanometer yang diparalelkan
diabaikan terhadap tahanan (dalam mega-ohm) yang seri dengannya, arus yang
dimasukkan praktis sama dengan 1/R A dan menghasilkan defleksi sebesar satu
bagian (divisi). Secara numerik, sensitivitas mega ohm sama dengan sensitivitas arus,
sehingga
A
mm
S
I
d
S
R

1
= = (4-4)
di mana d = defleksi galvanometer dalam bagian skala atau mm
I = arus galvanometer dalam A
Bentuk sensitivitas keempat ditemukan pada galvanometer balistik. Hal ini disebut
sensitivitas balistik (ballistic sensitivity) dan didefmisikan sebagai perbandingan
defleksi maksimal galvanometer, d terhadap jumlah muatan listrik, Q di dalam satu
pulsa tunggal yang menghasilkan defleksi tersebut. Maka
C
mm
Q
d
S
m
Q

= (4-5)
di mana d = defleksi maksimal galvanometer dalam bagian skala atau mm
Q = kuantitas listrik dalam C

Contoh 4-1 Menunjukkan suatu prosedur pengujian terhadap sebuah galvanometer.
Contoh 4-1 : Sebuah galvanometer diuji dalam rangkaian Gambar 4-10, di mana
Dimana E = 1.5 V
R
1
= 1.0
R
2
= 2500
R
3
adalah variabel

57


Gambar 4-10 Rangkaian pengujian galvanometer
Dengan membuat R
3
pada 450 , defleksi galvanometer adalah 150 mm, dan
untuk R
3
= 950 , defleksi berkurang menjadi 75 mm. Tentukan : (a) tahanan
galvanometer, (b) sensitivitas arus galvanometer tersebut.
Penyelesaian :
(a).Bagian dari arus total I
T
yang diambil oleh galvanometer adalah
T
G
G
I x
R R R
R
I
+ +
=
3 1
1

Karena defleksi untuk R
3
= 450 adalah 150 mm dan untuk R
3
= 950 adalah
75 mm, arus galvanometer I
G
dalam hal kedua ini adalah separuh dari arus
galvanometer dalam kasus pertama. Karena itu dapat dituliskan,
G G
G G
R R
atau I I
+ +
=
+ +
=
950 0 . 1
0 . 1
2
450 0 . 1
0 . 1
2
1 1


dan dengan menyelesaikannya untuk R
G
diperoleh R
G
= 40'.
(b). Dengan melihat rangkaian Gambar 4-10 diperoleh bahwa tahanan total
rangkaian, R
T
adalah
O ~
+ +
+
+ = 2500
) (
3 1
3 1
2
G
G
T
R R R
R R R
R R
Sehingga
mA
V
I
T
6 , 0
2500
5 , 1
=
O
=
Untuk R
3
= 450 , arus galvanometer I
G
adalah :
A mA x
I
R R R
R
I
T
G
G
2 , 1 6 , 0
49 450 0 . 1
0 . 1
1 3 1
1
1
=
+ +
=
+ +
=

A mm
A
mm
S

/ 125
2 , 1
150
1
= =
4-5 AMPERMETER ARUS SEARAH (DC AMMETERS)
4-5-1 Tahanan shunt (shunt resistor)
58

Gerakan dasar dari sebuah ampermeter arus searah (dc ammeter) adalah
galvanometer PMMC. Karena gulungan kumparan dari sebuah gerakan dasar
adalah kecil dan ringan dia hanya dapat mengalirkan arus yang keeil. Bila yang akan
diukur adalah arus besar,

Gambar 4-11 Rangkaian dasar ampermeter arus searah (dc)

sebagian besar dari arus tersebut perlu dialirkan ke sebuah tahanan yang disebut shunt
seperti ditunjukkan pada Gambar 4-11.
Tahanan shunt dapat ditentukan dengan menerapkan analisa rangkaian
konvensional terhadap Gambar 4-11,
di mana R
m
= tahanan dalam alat ukur
R
s
= tahanan shunt
I
m
= arus defleksi skaha penuh dari alat ukur
I
s
= arus shunt
I = arus skala penuh ampermeter termasuk arus shunt.
Karena tahanan shunt paralel terhadap alat ukur (ampermeter), penurunan
tegangan pada tahanan shunt dan alat ukur harus sama dan dituliskan:
ukur alat shunt
V V =

atau
s
m m
s m m s s
I
R I
R dan R I R I = =
(4-6)
Karena
m s
I I I =
dapat ditulis
m
m m
s
I I
R I
R

=
(4-7)

Dengan demikian untuk setiap nilai arus skala penuh, besarnya tahanan shunt
yang diperlukan dapat ditentukan.
Contoh 4-2 : Sebuah alat ukur 1 mA dengan tahanan dalam 100 akan diubah
menjadi 0 -100 mA. Tentukan nilai tahanan shunt yang diperlukan.
Penyelesaian :
mA I I I
m s
99 1 100 = = =

O =
O
= = 01 . 1
99
100 1
2
mA
x mA
I
R I
R
m m
s

Tahanan shunt yang digunakan dalam sebuah alat ukur dasar bisa
terbuat dari sebuah kawat tahanan bertemperatur konstan yang dit empatkan di
dalam instrumen atau sebuah shunt luar (manganin atau konstantan) yang
memiliki tahanan yang sangat rendah. Sebuah shunt luar ditunjukkan pada Gambar 4-
12. Tahanan shunt ini terdiri dari lempengan-lempengan bahan resistif yang
disusun berjarak sama dan masing-masing ujungnya dilas ke sebuah batang
tembaga besar dan berat. Bahan tahanan ini mempunyai koefisien temperatur
59

yang sangat rendah dan memberikan efek termolistrik yang kecil terhadap
tembaga. Shunt luar jenis ini biasanya digunakan untuk mengukur arus yang
sangat besar.


Gambar 4-12 Shunt arus tinggi untuk instrumen papan hubung (switch board), seijin
Weston Insfinnients, Inc.



4-5-2 Shunt Ayrton
Batas ukur sebuah ampermeter arus searah (dc) masih dapat diperbesar
dengan menggunakan sejumlah tahanan shunt yang dipilih melalui sakelar
rangkuman (range switch). Alat ukur seperti ini disebut ampermeter rangkuman
ganda (multirange ammeter). Alat ini ditunjukkan pada Gambar 4-13. Rangkaian
ini memiliki empat shunt R
a
, R
b
, R
c
dan R
d
yang dihubungkan paralel terhadap
alat-ukur agar menghasilkan empat alat ukur (rangkuman) yang berbeda. Sakelar
S adalah sebuah sakelar posisi ganda dari jenis menyambung sebelum memutuskan
(make-before-break), sehingga alat pencatat tidak akan rusak, tidak terlindung
dalam rangkaian tanpa sebuah shunt sewaktu penguibahan batas ukur.
Shunt universal atau shunt Ayrton dalam Gambar 4-14 mencegah kemungkinan pe-
makaian alat ukur tanpa tahanan shunt. Keuntungan yang diperoleh adalah nilai
tahanan total yang sedikit lebih besar. Shunt Ayrton ini memberikan
kemungkinan yang sangat baik untuk menerapkan teori dasar rangkaian listrik dalam
sebuah rangkaian praktis.

Gambar 4-13 Diagram skema ampermeter rangkuman ganda sederhana.

60

Gambar 4-14 Shunt universal atau Ayrton

Contoh 4-3 : Rancang sebuah shunt Ayrton yang menghasilkan ampermeter
dengan batas ukur (rangkuman) IA, 5A, dan 10A. Gerakan d'Arsonval yang
digunakan pada konfigurasi Gambar 4-14 mempunyai tahanan dalam R
m
= 50
dan defleksi penuh 1 mA.
Penyelesaian : Pada batas ukur 1A : R
a
+ R
b
+ R
c
. paralel terhadap 50 . Karena
gerakan alat ukur memerlukan 1 mA untuk defleksi penuh diperlukan shunt
untuk mengalirkan arus sebesar 1 A - I mA = 999 mA. Dengan menggunakan
persamaan (4-6) diperoleh :
O = = + + 05005 , 0
999
50 1 x
R R R
c b a
(I)
Pada batas ukur 5 A : R
a
+ R
b
paralel terhadap R
c
+ R
m
(50 ). Dalam hal
ini arus 1 mA akan mengalir melalui R
m
+ R
c
dan 4999 mA melalui R
a
+ R
b
.

Dengan menggunakan persamaan (4-6) diperoleh
999 , 4
) 50 ( 1 O +
= +
c
b a
R x
R R (II)
Pada batas ukur 10 A : dalam posisi ini R
a
menjadi shunt dan R
b
+ R
c
seri dengan
R
m
.

Arus, melalui R
m
adalah 1 mA dan melalui shunt (R
a
) adalah sisanya
sebesar 9999 mA. Dengan mengulangi persamaan (4-6) diperoleh:

999 , 9
) 50 ( 1 O + +
=
c b
a
R R x
R (III)

Dengan menyelesaikan ketiga persamaan simultan ini (I, II dan III) diperoleh
4,999 x (I): 4,999 R
a
+ 4,999 R
b
+ 4,999 R
c
= 250,2
(11): 4,999 R
a
+ 4,999 R
b
- R
c
= 50
dengan mengurangkan (II) dari (I), diperoleh
5,000 R
c
= 200,2
R
c
= 0,04004
Dengan cara yang sama,
9,999 x (I): 9,999 R
a
+ 9,999 R
b
+ 9,999 R
c
= 500,45
(I11): 9,999 R
a
- R
b
- R
c
= 50
dengan mengurangkan (III) dari (I), diperoleh
10,000 R
b
+ 10,000 R
c
= 450,45
Substitusi harga R
c
yang telah diperoleh ke dalam persamaan ini memberikan
10,000 R
b
= 450,45 - 400,4
R
b
= 0,005005
R
a
= 0,005005
61

dan
Perhitungan ini menunjukkan bahwa untuk arus besar nilai tahanan shunt bisa
menjadi sangat kecil.
Ampermeter arus searah secara komersial tersedia dalam berbagai rangkuman
dari 20 A sampai 50 A skala penuh dengan shunt yang berada di dalam alat ukur;
dan sampai 50 A dengan shunt luar. Ampermeter presisi jenis laboratorium dilengkapi
dengan kartu kalibrasi, schingga pembacaan untuk setiap kesalahan pada skala dapat
dikoreksi.
Tindakan pencegahan yang harus diperhatikan bila menggunakan sebuah
ampermeter adalah :
(a) Jangan sekali-kali menghubungkan ampermeter ke sumber tegangan. Karena
tahanannya yang rendah dia akan mengalirkan arus yang tinggi sehingga
merusak alat tersebut. Sebuah ampermeter harus selalu dihubungkan seri
terhadap beban yang mampu membatasi arus.
(b) Periksa polaritas (polarity) yang tepat. Polaritas yang terbalik
menyebabkan defleksi yang berlawanan yang dapat merusak jarum penunjuk.
(c) Bila menggunakan alat ukur rangkuman ganda, mula-mula gunakan rangkuman
yang tertinggi; kemudian turunkan-sampai diperoleh defleksi yang
sesungguhnya. Untuk memperbesar ketelitian pengukuran (lihat Bab 1),
gunakan rangkuman yang akan menghasilkan pembacaan terdekat ke skala
penuh.

4-6 VOLTMETER ARUS SEARAH
4-6-1 Tahanan pengali
Penambahan sebuah tahanan seri atau pengali (multiplier), mengubah
gerakan d'Arsnoval menjadi sebuah voltmeter arus searah, seperti ditunjukkan
pada Gambar 4-15. Tahanan pengali membatasi arus ke alat ukur agar tidak melebihi
arus skala penuh (I
dp
). Sebuah voltmeter arus searah mengukur beda potensial antara
dua titik dalam sebuah rangkaian arus searah dan dengan demikian dihubungkan paralel
terhadap sebuah sumber tegangan atau komponen rangkaian. Biasanya terminal-
terminal alat ukur ini diberi tanda "pos" (positif) dan "neg" (negatif) karena polaritas
harus ditetapkan.
Nilai tahanan pengali yang diperlukan untuk memperbesar batas ukur tegangan
ditentukan dari Gambar 4-15, di mana :
di mana I
m
= arus defleksi dari alat ukur
R
m
= tahanan-dalam alat ukur
R
s
= tahanan pengali
V = tegangan rangkuman maksimum dari instrumen
62


Gambar 4-15 Rangkaian dasar voltmeter arus searah

Pala rangkaian di Gambar 4-15,
) (
m s m c
R R I V + =
Selesaikan untuk R
s
menghasilkan
Biasanya untuk batas ukur sedang yakni sampai 500 V pengali dipasang di
dalam kotak voltmeter. Untuk tegangan yang lebih tinggi, pengali tersebut
dipasang pada sepasang apitan kutub (binding post) di luar kotak yakni untuk
mencegah kelebihan panas di bagian dalam kotak voltmeter.
4-6-2 Voltmeter rangkuman ganda
Penambahan sejumlah pengali beserta sebuah sakelar rangkuman (range
switch) membuat instrumen mampu digunakan bagi sejumlah rangkuman tegangan.
Dalam Gambar 4-16 ditunjukkan sebuah voltmeter rangkuman ganda (multirange)
yang menggunakan sebuah sakelar empat posisi (V
1
, V
2,
V
3,
dan

V
4
) dan empat
pengali (R
I
, R
2
, R
3
dan R
4
). Nilai daripada tahanan-tahanan pengali dapat ditentukan
dengan menggunakan metoda sebelumnya, atau dengan metoda sensitivitas
(sensitivity method). Metoda sensitivitas diberikan pada Contoh 4-5 dalam Bab 4-7.

Gambar 4-16 Voltmeter rangkuman ganda
Sebuah variasi dari rangkaian Gambar 4-16 ditunjukkan pada Gambar 4-17, di
mana tahanan-tahanan pengali dihubungkan dalam susunan berderet (seri) dan sakelar
pemilih di setiap posisi menghasilkan sejumlah tahanan tertentu yang seri terhadap
R
m
. Sistem ini memiliki keuntungan yaitu semua pengali kecuali yang pertama
memiliki nilai tahanan standar dan dapat diperoleh di pasaran dengan toleransi yang
tepat. Pengali untuk rangkuman rendah, R
4
, adalah satu-satunya tahanan yang harus
dibuat agar memenuhi
persyaratan rangkaian.
Contoh 4-4 : Sebuah gerak d'Arsonval dengan tahanan-dalam R
m
= 100 dan
skala penuh I
dp
= 1 mA, akan diubah menjadi voltmeter arus searah rangkuman
63

ganda dengan batas-ukur 0 - 10 V, 0 - 50 V, 0- 250 V dan 0- 500 V. Untuk voltmeter
ini digunakan rangkaian pada Gambar 4-17.


Gambar 4-17 Suatu susunan tahanan pengali yang lebih praktis di dalam
voltmeter rangkuman ganda.
Penyelesaian : Pada rangkuman 10 V (posisi V4) tahanan total rangkaian adalah
O = = k
mA
V
R
T
10
1
10

O = O O = = 900 , 9 0 10 10
4
k R R R
m T

Pada rangkuman 50 V (posisi V
3
)
O = = k
mA
V
R
T
50
1
50

O = O O = + = k k k R R R R
m T
40 10 50 ) (
4 3

Pada rangkuman 250 V (posisi V
2
)
O = = k
mA
V
R
T
250
1
250

O = O O = + + = k k k R R R R R
m T
200 50 250 ) (
4 3 2

Pada rangkuman 500 V (posisi V
1
)
O = = k
mA
V
R
T
500
1
500

O = O O = + + + = k k k R R R R R R
m T
250 250 500 ) (
4 3 2 1

Perhatikan dalam Contoh 4-4 ini bahwa hanya pengali rangkuman rendah R
4

yang memiliki nilai yang tidak standar.
4-7 SENSITIVITAS VOLTMETER
4-7-1 Nilai ohm per Volt
Dalam Bab 4-6 telah ditunjukkan bahwa arus defleksi penuh I
dp
dicapai pada semua rangkuman bila sakelar dihubungkan ke rangkuman tegangan
yang sesuai. Seperti ditunjukkan pada Contoh 4-4, arus sebesar 1 mA diperoleh pada
tegangan 10 V, 50 V, 250 V dan 500 V dan pada masing-masing rangkuman tersebut,
perbandingan tahanan total R
T
terhadap tegangan rangkuman V selalu 1000 /V.
64

Bentuk ini disebut sensitivitas voltmeter atau nilai ohm per Volt (ohm-per-Volt
rating) Perhatikan bahwa sesungguhnya sensitivitas S, adalah kebalikan dari defleksi
skala penuh alat ukur yaitu :
V I
S
dp
O
=
1
(4-9)
Sensitivitas S dapat digunakan pada metoda sensitivitas untuk menentukan
tahanan pengali voltmeter arus searah. Perhatikan rangkaian pada Gambar 4-17, di
mana
S = sensitivitas voltmeter, /V
V = rangkuman tegangan yang ditentukan oleh posisi sekelar
R
m
= tahanan-dalam alat ukur (ditambah tahanan-tahanan seri)
R
s
= tahanan pengali.
Pada rangkaian Gambar 4-17,
R
T
= S x V
dan R
s
= (S x V) - R
m
(4-10)
Pemakaian metoda sensitivitas diberikan pada Cothoh 4-5.
Contoh 4-5 : Ulangi Contoh 4-4, dan gunakan metoda sensitivitas untuk
menentukan tahanan-tahanan pengali.
Penyelesaian :
V A I
S
dp
O
= = = 000 , 1
001 . 0
1 1

O = O = 900 , 9 100 10
000 , 1
R - V) x (S = R
m 4
V x
V

O = O = k V x
V
40 000 , 10 50
000 , 1
R - V) x (S = R
m 3
O = O = k V x
V
200 50 250
000 , 1
R - V) x (S = R
m 2
O = O = k V x
V
250 250 500
000 , 1
R - V) x (S = R
m 1


4-7-2 Efek pembebanan (loading effect)
Sensitivitas voltmeter arus scarab merupakan faktor penting dalam pemilihan se-
buah alat ukur untuk pengukuran tegangan tertentu. Sebuah voltmeter
sensitivitas rendah dapat memberikan pembacaan yang tepat sewaktu mengukur
tegangan dalam rangkaian-rangkaian tahanan rendah; tetapi jelas menghasilkan
pembacaan yang tidak dapat dipercaya dalam rangkaian-rangkaian tahanan
tinggi. Bila sebuah voltmeter dihubungkan antara dua titik di dalam sebuah
rangkaian tahanan tinggi, dia bertindak sebagai shunt bagi bagian rangkaian sehingga
65

memperkeeil tahanan ekivalen dalam bagian rangkaian tersebut. Berarti voltmeter
akan menghasilkan penunjukan tegangan yang lebih rendah dari yang sebenarnya
sebelum dihubungkan. Efek ini disebut efek pembebanan instrumen yang terutama
disebabkan oleh instrumen-instrumen sensitivitas rendah (low sensitivity). Efek
pembebanan sebuah voltmeter ditunjukkan pada Contoh 4-6











Gambar 4-18 Efek pembebanan voltmeter

Contoh 4-6 : Diinginkan untuk mengukur tegangan antara ujung-ujung tahanan 50 W
dalam rangkaian Gambar 4-18. Untuk pengukuran ini tersedia dua Voltmeter :
Voltmeter 1 dengan sensitivitas 1000 /V dan Voltmeter 2 dengan sensitivitas
20000 /V. Kedua voltmeter dipakai pada rangkuman 50 V. Tentukan (a) pembacaan
tiap voltmeter; (b) kesalahan dalam tiap pembacaan, dinyatakan dalam persentase,
nilai yang sebenarnya.

Penyelesaian : Pemeriksaan rangkaian menunjukkan bahwa tegangan pada tahanan
50 k adalah
V x
k
k
50 150
150
50
=
O
O

Ini adalah nilai tegangan sebenarnya pada tahanan 50 k

(a) Voltmeter 1 (S = 1000 /V) memiliki tahanan 50 V x 1000 /V = 50
k pada rangkuman 50 V. Menghubungkan voltmeter antara tahanan 50 kQ
menyebabkan pertambahan tahanan paralel ekivalen menjadi 25 k dan tahanan
total rangkaian menjadi 125 k. Beda potensial pada gabungan voltmeter dan
tahanan 50 k menghasilkan penunjukan voltmeter sebesar
V x
k
k
V 30 150
125
25
1
=
O
O
=
Voltmeter 2 (S = 20 k/V) memiliki tahanan 50 V x 20 k/V = 1 m pada
rangkuman 50 V. Bila voltmeter ini dihubungkan ke, tahanan 50 k, tahanan
ekivalen paralel adalah 47,6 k. Gabungan ini menghasilkan penunjukan
tegangan pada voltmeter sebesar
V x
k
k
V 36 , 48 150
147
6 , 47
1
=
O
O
=

(b) Kesalahan pembacaan voltmeter 1 adalah :
66

% 40 % 100
50
30 50
% 100 %
=

=
x
V
V V
x
sebenarnya tegangan
yangdiukur tegangan sebenarnya tegangan
kesalahan

Kesalahan pembacaan voltmeter 2 adalah :
% 40 % 100
50
30 50
% 100 %
=

=
x
V
V V
x
sebenarnya tegangan
yangdiukur tegangan sebenarnya tegangan
kesalahan

Perhitungan dalam Contoh 4-6 menunjukkan bahwa voltmeter dengan sensitivitas atau
nilai ohm-per-volt yang lebih tinggi memberikan hasil yang paling terpercaya.
Adalah penting untuk menyatakan faktor sensitivitas ini, khususnya untuk
pengukuran tegangan dalam rangkaian-rangkaian bertahanan tinggi.
Keandalan (reliability) dan ketelitian hasil pengujian memberikan suatu hal
menarik. Bila sebuah voltmeter arus scarah yang tidak sensitif (insensitive) tetapi
berketelitian tinggi (highly accurate) dihubungkan antara ujung-ujung sebuah
tahanan tinggi, secara teliti voltmeter tersebut merefleksikan persyaratan tegangan
yang dihasilkan oleh pembebanan. Kesalahan adalah oleh manusia atau kesalahan
umum (Bab 1-4) sebab tidak menggunakan instrumen yang sesuai. Voltmeter
"mengganggu" rangkaian, dan idealnya instrumentasi pada semua waktu adalah
kemampuannya mengukur suatu persyaratan tanpa mempengaruhinya dengan cara
apapun. Manusia bertanggung jawab memilih instrumen yang sesuai, terandalkan, dan
cukup sensitif sehingga tidak mengganggu yang diukur. Kegagalan bukan terletak
pada instrumen yang ketelitiannya tinggi melainkan pada pemakai yang tidak
menggunakannya dengan tepat. Kenyataannya, pemakai yang berpengalaman dapat
menentukan tegangan sebenarnya dengan menggunakan voltmeter yang tidak sensitif
tetapi teliti. Berarti ketelitian (accuracy) selalu diperlukan dalam instrumen;
sensitivitas (sensitivity) hanya diperlukan dalam pemakaian khusus di mana
pembebanan mengganggu yang akan diukur. Contoh 4-7 menunjukkan penggunaan
sebuah instrumen yang tidak sensitif tetapi teliti untuk melakukan suatu pengukuran.

Contoh 4-7 : Satu-satunya voltmeter yang tersedia di seluruh laboratorium memiliki
sensitivitas 100 /V dan tiga skala, 50 V, 150 V dan 300 V. Bila dihubungkan
ke rangkaian Gambar 4-19, voltmeter membaca 4,65 V pada skala terendahnya
(50 V). Tentukan R
x
.

Penyelesaian : Tahanan ekivalen voltmeter pada skala 50 V adalah
O =
O
= k V x
V
R
V
5 50 100
Tuliskan R
p
= tahanan paralel R
x
dan R
p
O = O = = k k x R x
V
V
R
s
s
p
p
878 , 4 100
35 , 95
65 , 4

67


Gambar 4-19 Pemakaian sebuah voltmeter akurat tetapi tidak sensitif
untuk menentukan tahanan Rx.
Maka

O =
O
O O
=

= k
k
k x k
R R
R x R
R
p V
V P
x
200
122 , 0
5 878 , 4

Contoh 4-7 menunjukkan bahwa bila pemakai sadar akan kekurangan-
kekurangan intrumennya dia masih dapat membuat toleransi dengan syarat bahwa
voltmeter adalah teliti.
Tindakan pencegahan yang umum bila menggunakan sebuah voltmeter adalah :
a. Periksa polaritas yang besar. Polaritas yang sal ah (terbalik)
menyebabkan voltmeter menyimpang kesumbat mekanis dan ini dapat merusak
jarum.
b. Hubungkan voltmeter paralel terhadap rangkaian atau komponen
yang akan diukur tegangannya.
c. Bila menggunakan voltmeter rangkuman ganda, gunakan selalu
rangkuman tertinggi dan kemudian turunkan sampai diperoleh pembacaan naik yang
baik.
d. Selalu hati-hati terhadap efek pembebanan. Efek ini dapat diperkeeil
dengan menggunakan rangkuman setinggi mungkin (dan sensitivitas paling tinggi).
Ketepatan pengukuran berkurang bila penunjukan berada pada Skala yang lebih
rendah (Bab 1-4).
4-8 METODA VOLTMETER AMPERMETER
Suatu cara populer untuk pengukuran tahanan menggunakan metoda voltmeter
ampermeter (voltmeter ammeter method), karena instrumen-instrumen ini biasanya
tersedia di laboratorium. Jika tegangan V antara ujung-ujung tahanan dan arus I melalui
tahanan tersebut diukur, tahanan R
x
yang tidak diketahui dapat ditentukan
berdasarkan hukum ohm :
I
V
R
x
=
Persamaan (4-11) berarti bahwa tahanan ampermeter adalah not dan tahanan
voltmeter IA berhingga, sehingga kondisi rangkaian tidak terganggu.
Dalam Gambar 4-20(a) arus sebenarnya (true current) yang disalurkan ke
beban diukur oleh ampermeter, tetapi voltmeter lebih tepat mengukur tegangan
sumber dari pada tegangan beban nyata (aktual). Untuk mendapatkan tegangan yang
sebenarnya pada beban, penurunan tegangan didalam ampermeter harus dikurangkan
dari penunjukan voltmeter
68


Gambar 4-20 Efek penempatan voltmeter dam ampermeter dalam pengukuran-
pengukura voltmeter-ampermeter
Jika voltmeter dihubungkan langsung di antara ujung-ujung tahanan seperti
dalam Gambar 4-20(b), dia mengukur tegangan beban yang sebenarnya, tetapi
ampermeter menghasilkan kesalahan (error) sebesar arus melalui voltmeter.
Dalam kedua cara pengukuran R
x
ini kesalahan tetap dihasilkan. Cara yang betul untuk
rnenghubungkan voltmeter bergantung pada nilai R
x
, beserta tahanan voltmeter dan
ampermeter. Umumnya tahanan ampermeter adalah rendah sedang tahanan voltmeter
adalah tinggi.
Dalam Gambar 4-20(a) ampermeter membaca arus beban (I
x
) yang sebenarnya,
dan voltmeter mengukur tegangan sumber (V
t
). Jika R
x
, besar dibandingkan terhadap
tahanan dalam ampermeter, kesalahan yang diakibatkan oleh penurunan tegangan di
dalam ampermeter dapat diabaikan dan V
t
sangat mendekati tegangan beban yang
sebenarnya (V
x
). Dengan demikian rangkaian Gambar 4-20(a) adalah yang paling baik
untuk pengukuran nilai-nilai tahanan yang tinggi (high-resistance values).
Dalam Gambar 40-20(b) voltmeter membaca tegangan beban yang sebenarnya
(V") dan ampermeter membaca arus sumber (I
t
). Jika R
.
, kecil dibandingkan
terhadap tahanan dalam voltmeter, arus yang dialirkan ke voltmeter tidak begitu
mempengaruhi arus sumber dan I
t
sangat mendekati arus beban sebenarnya Q
.'
).

Berarti rangkaian Gambar 4-20(b) paling baik untuk pengukuran nilai-nilai tahanan
rendah (low-resistance values).
Selanjutnya dengan memberikan sebuah tahanan R
x
yang besarnya tidak
diketahui, bagaimana cara mengetahui jika voltmeter telah dihubungkan dengan tepat?
Perhatikan rangkaian Gambar 4-21 dalam mana voltmeter dan ampermeter dapat
dihubungkan dalam dua cara pembacaan yang bersamaan. Prosedurnya adalah sebagai
berikut :
(a) Hubungkan voltmeter terhadap R
x
, dengan sakelar pada posisi 1 dan amati pemba-
caan ampermeter.
(b) Pindahkan sakelar ke posisi 2. Jika pembacaan ampermeter tidak berubah,
kembalikan sakelar ke posisi 1. Gejala ini menunjukkan pengukuran tahanan
rendah. Catat pembacaan arus dan tegangan dan hitung R
x
, menurut persamaan (4-
11).
(c) Jika pembacaan ampermeter berkurang sewaktu memindahkan sakelar dari posisi
1 ke posisi 2, biarkan voltmeter pada - posisi 2. Gejala ini menunjukkan pengukuran
tahanan tinggi. Catat arus dan tegangan dan hitung R
x
, menurut persamaan (4-11).
Pengukuran tegangan di dalam rangkaian elektronik umumnya dilakukan dengan
voltmeter rangkuman ganda atau multimeter, dengan sensitivitas antara 20 k/V sampai
50 /V. Dalam pengukuran daya di mana arus umumnya besar, sensitivitas voltmeter
bisa serendah 100 /V. Tahanan ampermeter bergantung pada perencanaan kumparan
dan umumnya lebih besar bagi arus skala penuh yang rendah. Beberapa nilai khas
tahanan ampermeter diberikan dalam Tabel 4-1.

69



Gambar 4-21 Efek posisi voltmeter dalam pengukuran cara voltmeter-ampermeter.





Tabel 4-1 Nilai khas tahanan ampermeter*

Catatan: Rangkuman arus di atas 30 mA biasanya di
shunt.
* Data sheets, Weston Instruments, Inc., Newark, N.J.
4.9 OHMMETER TIPE SERI
Ohmmeter tipe seri (series-type ohmmeter) sesungguhnya mengandung
sebuah gerak d'Arsonval yang dihubungkan seri dengan sebuah tahanan dan batere ke
sepasang terminal untuk hubungan ke tahanan yang tidak diketahui. Berarti arus
melalui alat ukur bergantung pada tahanan yang tidak diketahui, dan indikasi alat
ukur sebanding dengan nilai yang tidak diketahui, dengan syarat bahwa masalah
kalibrasi diperhitungkan. Gambar 4-22 menunjukkan elemen sebuah ohmmeter satu
rangkuman tipe seri.


Gambar 4-22 Ohmmeter tipe seri.


Dalam Gambar 4-22, R
1
= tahanan pembatas arus
R
2

= tahanan pengatur nol
70

E = batere di dalam alat ukur
R
m
= tahanan dalam d' Arsonval
R
x
= tahanan yang tidak diketahui
Bila R
X
, = 0 (terminal A dan B dihubungsingkatkan) arus paling besar mengalir di
dalam rangkaian. Dalam keadaan ini, tahanan shunt R
2
diatur sampai jarum
menunjukkan skala penuh (I
dp
). Posisi skala penuh ini ditandai dengan "0 ". Dengan
cara sama, bila R
x
, = (terminal A dan B terbuka), arus di dalam rangkaian berobah ke
nol dan jarum menunjuk arus nol yang ditandai oleh " " pada skala. Tanda skala di
antara kedua ini dapat ditentukan dengan menghubungkan beberapa R
x
yang berbeda
dengan nilai yang telah diketahui. Ketelitian tanda-tanda skala ini tergantung pada
pengulangan ketelitian alat ukur dan toleransi tahanan kalibrasi.
Walaupun ohmmeter tipe seri merupakan desain yang populer dan digunakan
secara luas untuk pemakaian umum, dia memiliki beberapa kekurangan. Di antaranya
yang penting adalah tegangan batere yang berkurang secara perlahan-lahan karena
waktu dan umur, akibatnya arus skala penuh berkurang dan alat ukur tidak membaca
"0" sewaktu A dan B dihubungsingkatkan. Tahanan shunt variabel R
2
dalam Gambar
4-22 memberikan cara untuk mengatasi efek perubahan batere. Tanpa R
2

pengembalian jarum ke skala penuh dapat dilaksanakan dengan penyetelan R
1
,

tetapi ini akan mengubah kalibrasi sepanjang skala. Pengaturan melalui R
2
adalah
cara yang paling baik, sebab tahanan paralel R
2
dan R
3
selalu kecil dibandingkan
terhadap R
1
dan berarti perubahan R
2
yang diperlukan untuk penyetelan ini tidak
mengubah kalibrasi begitu banyak. Rangkaian Gambar 4-22 tidak mengkompensir
umur batere secara sempurna, tetapi dia melakukan tugas yang cukup baik dalam batas-
batas ketelitian yang diharapkan.
Besaran yang menyenangkan dalam perencanaan sebuah ohmmeter tipe seri
adalah nilai R
x
yang membuat defleksi setengah skala. Pada posisi ini, tahanan antara
terminal A dan B didefinisikan sebagai tahanan pada posisi setengah skala R
h
. Dengan
mengetahui arus skala penuh I
dp
dan tahanan-dalam gerakan R, tegangan batere E
dan nilai R
h
yang diinginkan, rangkaian dapat dianalisis; yakni nilai R
I
dan R
2
dapat
diperoleh.
Disain dapat didekati dengan mengingat bahwa, jika R
h
menyatakan arus
I
dp
, tahanan yang tidak diketahui harus sama dengan tahanan dalam total ohmmeter.
Berarti
m
m
h
R R
R R
R R
+
+ =
2
2
1
(4-12)
Kemudian tahanan total yang dihadirkan ke batere adalah 2 R
h
, dan arus batere yang
diperlukan untuk memberikan defleksi setengah skala adalah
h
h
R
E
I
2
= (4-13)
Untuk menghasilkan defleksi skala penuh arus batere harus didobel, dan berarti
h
h t
R
E
I I = = 2 (4-14)

Arus shunt melalui R
2
adalah

dp t
I I I =
2
(4-15)

Tegangan pada jarak shunt (E
sh
)

sama dengan tegangan pada jarak gerakan dan
71

m dp m sh
R I R I atau E E = =
2 2

2
2
I
R I
R
m dp
= (4-16)
dan
subtitusikan persamaan (4-15) ke dalam (4-16) memberikan
m dp
h m dp
dp t
m dp
R I E
R R I
I I
R I
R

=
2
(4-17)
Selesaikan persamaan (4-12) untuk R, menghasilkan
m
m
h
R R
R R
R R
+
=
2
2
1
(4-18)

Substitusi persamaan (4-17) ke dalam persamaan (4-18) dan Selesaikan untuk R
1
meng-
hasilkan

E
R R I
R R
m h dp
h
=
1

Sebuah perhitungan khas bagi ohmmeter tipe seri diberikan dalam Contoh 4-8.
Contoh 4-8 : Ohmmeter pada Gambar 4-22 yang menggunakan gerak dasar 50 0
memerlukan arus skala penuh sebesar 1 mA. Tegangan batere adalah 3 V. Tanda
skala yang diinginkan untuk defleksi setengah skala adalah 2000 . Tentukan (a)
nilai R
1
, dan R
2
; (b) nilai R
2
terbesar untuk mengkompensir penurunan tegangan 10%
dalam batere, (c) kesalahan skala pada tanda skala (2000 ) bila R
2
disetel seperti
(b).
Penyelesaian :
(a) Arus total batere pada defleksi skala penuh adalah
mA
V
R
E
I
h
t
5 , 1
2000
3
=
O
= =
Lalu arus melalui tahanan pengatur nol R
2
adalah
mA mA mA I I I
dp t
5 , 0 1 5 , 1
2
= = =
Nilai R
2
adalah:
O =
O
= = 100
5 , 0
50 1
2
2
mA
x mA
I
R I
R
m dp



Tahanan paralel gerakan dan shunt (R
p
) adalah
O = =
+
= 3 , 33
150
100 50
2
2
x
R R
R R
R
m
m
p

Nilai tahanan pembatas arus R
1
adalah
O = = = 7 , 1966 3 , 33 000 , 2
1 p h
R R R
72

(b) Pada penurunan 10% tegangan batere
E = 3 V - 0, 3 V = 2,7 V
maka arus total batere menjadi
mA
V
R
E
I
h
t
35 , 1
2000
7 , 2
=
O
= =
Arus shunt adalah
mA mA mA I I I
dp t
35 , 0 1 35 , 1
2
= = =
maka tahanan pengatur nol R
2
adalah :
O =
O
= = 143
35 , 0
50 1
2
2
mA
x mA
I
R I
R
m dp


(c) Tahanan paralel gerak dan nilai R
2
yang barn menjadi
(d) O = =
+
= 37
193
50 143
2
2
x
R R
R R
R
m
m
p

Karena tahanan setengah skala R
h
sama dengan tahanan-dalam total rangkaian,
R
h
, akan bertambah menjadi
R
h
= R
1
+ R
p
= 1.966,7 +37 =2.003,7
Berarti nilai sebenarnya dan tanda setengah skala adalah 2003,7 sedang
tanda skala aktual adalah 2000 . Persentase kesalahan menjadi
% 185 , 0 % 100
7 , 003 . 2
7 , 003 . 2 000 . 2
% =

= x kesalahan
Tanda negatif menunjukkan bahwa pembacaan alai ukur adalah rendah.
Ohmmeter pada Contoh 4-8 dapat direncanakan untuk nilai-nilai R
h
yang
lain dalam batas-batas: Jika R
h
= 3000 , arus batere yang dibutuhkan untuk
defleksi penuh menjadi 1 mA. Seandainya tegangan batere akan berkurang karena
umur, arus total batere akan turun di bawah 1 mA dan berarti tidak ada ketentuan
mengenai pengaturan.

4-10 OHMMETER TIPE SHUNT
Diagram rangkaian sebuah ohmmeter tipe shunt ditunjukkan pada Gambar 4-
23. Alat ini terdiri dari sebuah batere yang dihubungkan seri dengan sebuah tahanan
pengatur R
1
, dan gerak d'Arsonval. Tahanan yang akan diukur dihubungkan ke
terminal-terminal A dan B. Di dalam rangkaian ini diperlukan sebuah sakelar
menghidupkanmematikan (off-on switch) untuk memutuskan hubungan batere ke
rangkaian bila instrumen tidak digunakan. Bila tahanan yang tidak diketahui R
x
=
0 (A dan B terhubung singkat), arus melalui "gerakan" adalah nol. Jika R
x
= (A
dan B terbuka) arus hanya mengalir ke "gerakan", dan melalui pengaturan R, jarum
dapat dibuat membaca skala penuh. Berarti ohmmeter ini mempunyai tanda "nol" di
sebelah kiri (tanpa arus) dan "tak berhingga" di sebelah kanan skala (defleksi paling
besar).
Ohmmeter tipe shunt terutama sesuai untuk pengukuran tahanan-tahanan
rendah (low-value resistor). Dia tidak lazim digunakan, tetapi ditemukan di
laboratorium khusus untuk pengukuran tahanan rendah.
Analisa ohmmeter tipe shunt serupa dengan ohmmeter tipe seri (Bab 4-9). Dalam
73

Gambar 4-23 bila R
x
= , arus skala penuh adalah :
mA
V
R R
E
I
m
dp
35 , 1
2000
7 , 2
1
=
O
=
+
=

(4-20)
di mana E = tahanan batere
R
1
= tahanan pembatas arus
R
m
= tahanan-dalam dari "gerakan"


Gambar 4-23 Ohm meter tipe shunt.
Selesaikan untuk R
1
, menghasilkan :
m
dp
R
I
E
R =
1
(4-21)
Untuk setiap nilai R
x
yang dihubungkan ke terminal-terminal, arus melalui alat ukur
berkurang dan diberikan oleh :
( ) | |
x m
x
s m s m
dp
R R
R
x
R R R R R
E
I
+
)
`

+ +
=
/
1

atau
) (
1 1 m x m
x
dp
R R R R R
R E
I
+
= (4-22)
Arus mendahului alat ukur pada setiap nilai R
x
dibandingkan terhadap arus skala
penuh adalah:
( )
( )
x m x m
m x
dp
m
R R R R R
R R R
I
I
s
+ +
+
= =
1
1

atau
( )
( )
m m x
m x
R R R R R
R R R
s
1 1
1
+ +
+
= (4-23)
dengan definisi

p
m
m
R
R R
R R
=
+
1
1
(4-
24)
dari subtitusikan persamaan (4-24) dan (4-25) diperoleh
p x
x
R R
R
s
+
= (4-25)

Jika persamaan (4-25) digunakan, alat ukur dapat dikalibrasi dengan menentukan
S yang dinyatakan dalam R
x
dan R
P
.
Pada pembacaan setengah skala (I
m
= 0,5 I
dp
)
,
persamaan (4-22) menjadi
74

) (
5 , 0
1 1
R R R R R
R E
I
m h m
h
dp
+
= (4-26)
di mana R
h
= tahanan luar yang menyebabkan defleksi setengah skala. Untuk
menentukan nilai-nilai skala relatif pada nilai R
1
yang diketahui, pembacaan
setengah skala dapat diperoleh dengan membagi persamaan (4-20) oleh
persamaan (4-26) dan diselesaikan untuk R
h
,


m
m
h
R R
R R
R
+
=
1
1
(4-27)
Analisis menunjukkan bahwa tahanan setengah skala ditentukan oleh tahanan batas
RI dan tahanan-dalam gerakan kumparan R
m
. Tahanan batas R
I
berturut-turut
ditentukan oleh R
m
,dan arus defleksi penuh, I
dp
.
Untuk menunjukkan bahwa ohmmeter shunt terutama sesuai untuk pengukuran
tahanan-tahanan yang sangat rendah, perhatikan Contoh 4-9.
Contoh 4-9 Rangkaian Gambar 4-23 menggunakan gerak d'Arsonval 10 mA de-
ngan tahanan dalam 5 . Tegangan batere E = 3 V. Diinginkan untuk mengubah
rangkaian dengan menambahkan sebuah tahanan R
sh
yang sesuai dengan gerakan
sehingga instrumen menunjukkan 0,5 pada pertengahan skala. Tentukan (a) nilai
tahanan shunt R
sh
, (b) nilai tahanan batas R
1
.

Penyelesaian
(a) Untuk defleksi setengah skala,
I
m
= 0,5 I
dp
= 5 mA
Tegangan pada "gerakan" adalah
E
m
= 5 mA x 5 = 25 mA
Karena tegangan ini juga muncul pada R
x
arus melalui R
x
adalah

mA
mA
I
x
50
5 , 0
25
=
O
=

Arus melalui gerakan (I
m
) ditambah arus melalui shunt (I
sh
)

harus sama dengan arus
melalui
.
tahanan yang tidak diketahui (I
x
). Berarti
mA mA mA I I I
m x sh
45 5 50 = = =
shunt menjadi
O = = =
9
5
45
25
mA
mV
I
E
R
sh
m
sh


(b) Arus total batere adalah
mA 100 mA 50 mA 45 mA 5 I I I I
x sh m t
= + + = + + =
Penurunan tegangan pada tahanan batas R, sama dengan 3 V - 25 mV = 2,975 V. Maka
O = = 75 , 29
100
975 , 2
mA
V
R
t

4-11 MULTIMETER ATAU VOM

Ampermeter, voltmeter dan ohmmeter, semuanya menggunakan gerak
d'Arsonval. Perbedaan qntara instrumen-instrumen ini adalah rangkaian di dalam mana
75

gerak dasar tersebut digunakan. Berarti adalah jelas bahwa sebuah instrumen tunggal
dapat direncanakan untuk melakukan ketiga fungsi pengukuran tersebut. Instrumen
ini dilengkapi dengan sebuah sakelar posisi (function-switch) untuk menghubungkan
rangkaian-rangkaian yang sesuai ke gerak d'Arsonval, disebut multimeter atau volt-ohm
miliampermeter (VOM).
Sebuah Contoh multimeter komersil ditunjukkan pada Gambar 4-24. Diagram
rangkaian alat ukur ini diberikan pada Gambar 4-25. Alat ukur ini merupakan
kombinasi dari sebuah miliampermeter arus searah (dc), voltmeter arus searah,
voltmeter arus bolak-balik (ac), ohmmeter rangkuman ganda, dan unit penunjuk
(rangkaian voltmeter ac dan unit penunjuk dibicarakan dalam Bab 5-4).
Gambar 4-26 menunjukkan sebagian rangkaian yakni voltmeter dc, di mana ter-
minal-terminal masukan (input) "common" digunakan untuk batas ukur 0 - 1,5 V sam-
pai 0 - 1000 V. Sebuah terminal tambahan ("external jack") yang ditandai dengan
"DC 5000 V" digunakan untuk pengukuran tegangan searah sampai 5000 V.
Kerja rangkaian ini sama dengan rangkaian Gambar 4-15 yang telah dibahas dalam Bab
4-6.



Gambar 4-24 Multimeter untuk pemakaian umum: Simpson Model 260
(seijin Simpson Electric Company).

Gerakan dasar (d'Arsonval") multimeter pada Gambar 4-24 mempunyai arus
skala penuh sebesar 50 A dan tahanan dalam 2000 . Nilai tahanan-tahanan pengali
diberikan pada Gambar 4-26. Perhatikan bahwa pada rangkuman 5000 V sakelar
rangkuman dipindahkan ke posisi 1000 V, tetapi kawat sambung untuk
pengukuran (test lead) harus dihubungkan ke terminal "DC 5000 V". Cara-cara
pencegahan yang umum pada pengukuran tegangan tetap dilakukan. Karena
sensitivitasnya yang cukup tinggi (20 k/V), alat ini sesuai untuk keperluan servis
(reparasi) dalam bidang elektronika.
Rangkaian pengukuran mA dan Amper searah ditunjukkan pada Gambar 4-27.
Terminal-terminal "common" (+) dan "negatif' (-) digunakan untuk pengukuran arus
sampai 500 mA dan perancah (Jack) "+ 10 A" dan " 10 A" untuk pengukuran dari
0-10 A.
76

Ohmmeter sebagai bagian dari VOM ini ditunjukkan pada Gambar 4-28.
Rangkaian pada Gambar 4-28(a) menunjukkan rangkaian ohmmeter dengan pengalian
skala sebesar satu. Sebelum melakukan suatu pengukuran, instrumen dihubung
singkatkan lebih dahulu dan kemudian pengatur nol ("zero adjust") diubah-ubah
sampai alat ukur menunjuk nol ohm (arus skala penuh). Perhatikan bahwa rangkaian
merupakan sebuah bentuk variasi ohmmeter tipe shunt. Pengalian skala 100 dan 10.000
ditunjukkan pada Gambar 4-28(b), (c).
Voltmeter ac sebagai bagian dari multimeter diperoleh dengan membuat
sakelar "ac-dc" ke posisi "ac". Kerja rangkaian ini dibicarakan dalam Bab 5-4.



Gambar 4-25 Diagram skema multimeter Simpson Model 260 (seijin Simpson
Electric Company).


77

Gambar 4-26 Bagian voltmeter arus searah dari multimeter Simpson Model 260
(seijin Simpson Electric Company).

Gambar 4-27 Bagian ampermeter dc dari multimeter Simpson Model 260
(seijin Simpson Electric Company).

Gambar 4-28 Bagian ohmmeter dari multimeter Simpson Model 260
(seijin Simpson Electric Company).




4-12 KALIBRASI INSTRUMEN-INSTRUMEN ARUS SEARAH
Walaupun teknik-teknik kalibrasi yang lengkap adalah di luar lingkup bab
ini, diberikan beberapa prosedur umum kalibrasi instrumen dasar untuk arus searah.
Kalibrasi sebuah ampermeter arus searah (dc) paling mudah dilakukan
dengan rangkaian Gambar 4-29. Nilai arus melalui ampermeter yang akan dikalibrasi
78

ditentukan dengan mengukur beda potensial antara ujung-ujung tahanan standar,
berdasarkan metoda Potensiometer dan kemudian menentukan arus menurut hukum
ohm. Hasil perhitungan ini dibandingkan terhadap pembacaan nyata ampermeter
yang akan dikalibrasi dan dihubungkan ke rangkaian (pengukuran tegangan
dengan metoda potensiometer dibicarakan lebih jelas dalam Bab 6-6). Sebuah
sumber arus konstan dibutuhkan, dan biasanya nu dihasilkan oleh elemen
akumulator (storage cells) atau sumber daya presisi. Sebuah lahanan geser dihubungkan
di dalam rangkaian untuk mengontrol arus pada harga yang diinginkan sehingga titik-
titik yang berbeda pada skala dapat dikalibrasi.


Gambar 4-29 Metode Potensiometer untuk mengalibrasi sebuah ampermeter dc.

Suatu cara sederhana untuk mengalibrasi sebuah voltmeter arus searah
(dc) ditampilkan pada Gambar 4-30, di mana tegangan pada tahanan R (dropping
resistor) diukur secara seksama dengan sebuah potensiometer. Voltmeter yang
akan dikalibrasi dihubngkan ke ke titik-titik yang sama pada potensiometer dan
berarti akan menunjukkan tegangan yang sama. Sebuah tahanan geser
dihubungkan di dalam rangkaian untuk mengontrol banyaknya arus dan dengan
demikian mengontrol penurunan tegangan pada tahanan R, sehingga beberapa
titik pada skala dapat dikalibrasi. Voltmeter-voltmeter yang diuji berdasarkan
metoda Gambar 4-30 dapat dikahbrasi dengan ketelitian 0,01%, yang melebihi ketelitian
sebuah gerak d'arsonval yang biasa.



GAMBAR 4-30 Metoda potensiometer untuk mengalibrasi sebuah voltmeter
arus searah

Ohmmeter umumnya dipandang sebagai instrumen berketelitian sedang
(moderat) dan presisi yang rendah. Kalibrasi secara kasar dapat dilakukan
dengan menggunakan sebuah tahanan standar dan mencatat pembacaan
ohmmeter tersebut. Dengan melakukan ini pada beberapa titik skala dan pada
beberapa rangkuman memungkinkan kita untuk memperoleh penunjukan
instrumen dengan operasi yang betul. Pengukuran presisi untuk tahanan
biasanya dilakukan oleh salah satu metoda rangkaian jembatan, yang akan dibahas
lebih jelas dalam Bab 7.
79


PUSTAKA
1. Bartholomew, Davis, Electrical Measurements and Instrumentation, Bab 4.
Boston : Allyn and Bacon, Inc., 1963.
2. Frank, Ernest, Electrical Measurement Analysis, Bab 8. New York : Mc. Grave-Hill
Book Company, Inc., 1959.
3. Stout, Melville B., Basic Electrical Measurements, edisi kedua, Bab 4, 5, 17.
Englewood Cliffs, N. J. : Prentice-Hall, Inc., 1960.
4. The Instrument Sketchbook. Weston Instruments, Inc., Newark, N.J., 1966.

SOAL-SOAL

1. Tentukan tegangan skala penuh yang ditunjukkan oleh sebuah alat ukur 500 A
dengan tahanan-dalam 250 jika tidak ada pengali yang digunakan.
2. Rencanakan sebuah ampermeter dc rangkuman ganda dengan batas ukur 0-10
mA, 0-50 mA, 0-100 mA dan 0-500 mA. Digunakan sebuah alat d'Arsonval
dengan tahanan-dalam R
m
= 50 dan arus defleksi penuh I
dp
= 1 mA.
(a) Tentukan nilai-nilai shunt yang diperlukan.
(b) Gambarkan diagram rangkaian yang lengkap.
3. Sebuah ampermeter arus searah yang diberi shunt, menggunakan gerakan dasar degan
tahanan-dalam Rm = 1800 dan defleksi penuh, I
dp
= 100 A, dihubungkan ke
sebuah rangkaian dan menghasilkan pembacaan 3,5 mA pada rangkuman 5 mA.
Pembacaan ini dibandingkan dengan sebuah ampermeter dc yang telah dikalibrasi
dan memberikan pembacaan sebesar 4,1 mA. Kesimpulan adalah bahwa ampermeter
pertama mempunyai kesalahan shunt pada rangkuman 5 mA. Tentukan (a) nilai
aktual dari shunt yang salah; (b) shunt yang tepat untuk rangkuman 5 mA.
4. Rencanakan sebuah shunt Ayrton bagi sebuah gerakan meter dengan
tahanandalam R = 2500 dan arus defleksi penuh I
dp
= 50 A agar
menghasilkan rangkuman-rangkuman arus sebesar 50 A, 100 A, 500 A, 10 mA
dan 100 mA.
(a) Hitung tahanan-tahanan shunt Ayrton tersebut;
(b) Gambarkan diagram skema termasuk posisi sakelar bagi ampermeter
rangkuman ganda ini.
5. Diinginkan mengubah "gerakan" 50 A, dc dengan tahanan-dalam 1000 2
menjadi voltmeter dc 0-2.500 V. Tentukan (a) tahanan pengali; (b) sensitivitas
instrumen.
6. Sebuah voltmeter 0-200 V, dc mempunyai sensitivitas 100 2/V. Tentukan
nilai tahanan seri yang diperlukan untuk mengobah voltmeter menjadi 0 -1000 V,
dc.
7. Dengan menggunakan gerakan 50 A dengan tahanan-dalam 1.500 ,
rencanakan sebuah voltmeter rangkuman ganda dengan batas-ukur :
0-5 V, 0-10 V, 0-50 V dan 0-100 V. Tentukan (a) nilai tahanan- tahanan
pengali; (b) sensitivitas instrumen. Gambarkan diagram rangkaian perencanaan
yang lengkap.
8. Sebuah mikroampermeter arus searah dengan tahaan-dalam 250 dan
defleksi penuh 500 A menunjukkan arus 300 A bila dihubungkan ke
sebuah rangkaian yang terdiri dari batere kering 1,5 V dan tahanan yang
tidak diketahui. Tentukan nilai dari tahanan yang tidak diketahui tersebut.
80

9. Rencanakan sebuah ohmmeter tipe seri yang serupa dengan rangkaian Gambar
4-22. "Gerakan" yang akan digunakan memerlukan 0,5 mA untuk defleksi
penuh dan mempunyai tahanan-dalam sebesar 50 . Tegangan batere adalah
3,0 V. Nilai yang diinginkan untuk tahanan setengah skala adalah 3000 .
Tentukan (a) nilai R
I
dan R
2
; (b) batas-batas nilai R
2
jika tegangan batere
dapat berubah dari 2,7 V - 3,1 V. Gunakan nilai R
1
yang diperoleh pada (a).
10. Sebuah ohmmeter tipe seri yang direncanakan bekerja dengan batere 6 V,
mempunyai diagram rangkaian seperti ditunjukkan dalam Gambar 4-22.
"Gerakan" alat ukur mempunyai tahanan-dalam 2000 dan memerlukan arus
100 A untuk defleksi penuh. Nilai tahanan R
1
adalah 49 k.
(a) Dengan menganggap bahwa tegangan batere telah berkurang menjadi 5,9
V. tentukan nilai R
2
yang diperlukan untuk membuat ohmmeter menjadi nol.
(b) Dengan persyaratan seperti pada (a), tahanan yang tidak diketahui R
x

dihubungkan ke alat ukur dan menyebabkan defleksi 60%. Tentukan nilai R
x
.
11. "Gerakan" voltmeter rangkuman ganda dari Gambar 4-17 mempunyai
defleksi penuh sebesar 50 A dan tahanan-dalam sebesar 2000 . Pembacaan skala
penuh adalah 150 V dengan membuat sakelar ke posisi V
1,
50 V pada posisi V
2
, 10
V pada posisi V
3
dan 1 V pada posisi V
4
. Tentukan (a) tahanan-tahanan pengganti
R
1
, R
2
, R
3
dan R
4
; (b) Sensitivitas voltmeter.
12. Sebuah voltmeter arus searah dengan nilai sensitivitas 10 k/ V digunakan pada
rangkuman 0-150 V untuk mengukur tegangan antara ujung-ujung tahanan 100 k
dalam Gambar 4-18 . tentukan persentase kesalahan penunjukan alat ukur.
13. Rencanakan sebuah Volt-Ohm-miliampermeter dengan karakteristik berikut:
(a). Rangkuman tegangan : 0 -5, 0-25, 0-100, dan 0-500 Vdc.
(b). Rangkuman arus : 0-10, 0-100, 0-500, dan 0-1000 mA dc.
(c). Rangkuman tahanan : 20 , 2000 , 200 k pada setengah skala
Gerakan yang digunakan adalah mekanisme dArsonval dengan tahanan dalam
1500 dan defleksi penuh 50 A.(Acu pada diagram-diagram rangkaian dan
penjelasan multimeter dalam Gambar 4-24)
14. Voltmeter arus searah dalam Gambar 4-20 (b) mempunyai sensitivitas 1000 /V
dan pembacaan skala penuh 100 V. Alat ukur ini menunjukkan 84 V sebagai
tegangan pada beban. Tentukan kesalahan pengukuran disipasi daya pada beban
dengan metoda voltmeter-ampermeter bila ampermeter menunjukkan arus (a) 50
mA; (b) 1 A; (c) 10 A.

5. INSTRUMEN PENUNJUK ARUS BOAK-BALIK (AC)


5-1 PENDAHULUAN
Gerak dArsonval memberi tanggapan (response) terhadap nilai rata-rata
(avarage) atatu searah (dc) melalui kumparan putar. Jika gerakan tersebut membawa
arus bolak-balik selama siklus positif dan negatif , torsi penggerak akan positif dan
negatif (berlawanan arah) selama setengah perioda berikutnya. Jika frekuensi arus
bolak-balik sangat rendah jarum akan berayun ke kiri ke kanan sekitar titik nol
sepanjang skala. Pada frekuensi-frekuensi yang lebih tinggi, inersia (kelembaman)
kumparan begitu besar sehingga jarum tidak dapat mengikuti pergantian arah torsi yang
cepat sehingga dia berayun-ayun sekitar nol sambil bergetar ringan.
Untuk mengukur arus bolak-balik dalam pergerakan dArsonval, beberapa cara
untuk memperoleh torsi satu arah yang tidak berlawanan setiap periode harus
direncanakan. Salah satu cara adalah menyearahkan arus bolak-balik sehingga arus yang
81

diarahkan (diratakan) tersebut menyimpangkan kumparan. Cara lain adalah
memanfaatkan efek pemanasan arus bolak-balik agar menghasilkan indikasi
kebesarannya. Beberapa dari metode ini dibicarkan dalam bab ini.


5-2 ELEKTRODINAMOMETER
Salah satu alat ukur bolak-balik yang paling penting adalah
elektrodinamometer. Dia sering digunakan sebagai voltmeter dan ampermeter akurat
bukan hanya pada frekuensi jala-jala (power line) , tetapi juga dalam daerah frekuensi
audio yang rendah. Dengan sedikit modifikasi, elektrodinamometer dapat digunakan
sebagai pengukur daya (wattmeter), pengukur VAR (VARmeter), pengukur faktor daya
(power-factor meter) atau pengukur frekuensi (frekuency-meter). Gerak
elektrodinamometer dapat juga berfungsi sebagai instrumen alih (transfer instrument),
sebab ia dapat dikalibrasi pada arus searah dan digunakan langsung pada arus bolak-
balik, menyatakan cara langsung yang pasti untuk menyamakan pengukuran tegangan
dan arus (dc dan ac).


Gambar 5-1 Diagram skema sebuah gerak Elektrodinamometer
Kalau gerak dArsonval menggunakan magnet permanen untuk menghasilkan
medan magnet, elektrodinamometer memanfaatkan arus yanga akan di ukur guna
menghasikan fluksi medan yang diperlukan. Gambar 5-1 menunjukkan skema alat ini.
Sebuah kumparan yang stasioner (diam) dibuat menjadi dua bagian yang sama
membentuk medan magnet di dalam mana kumparan berputar. Kedua kumparan ini
dihubungkan seri ke kumparan yang berputar dan dialiri oleh arus yang diukur.
Kumparan-kumparan yang diam ditempatkan agak berjauhan memberi tempat bagi
poros kumparan berputar. Kumparan berputar menggerakkan jarum yang diimbangi
oleh beban-beban lawan. Perputaran jarum dikontrol oleh pegas-pegas pengatur sama
halnya seperti konstruksi dArsonval. Keseluruhan peralatan dibungkus oleh penutup
yang telah dilaminasi guna melindungi instrumen dari medan magnet tersebar (stray
magnet fieds) yang padat mempengaruhi operasinya. Redaman dilengkapi dengan
baling-baling aluminium yang bergerak didalam sektor yang berbentuk rongga-rongga
(chamber). Seluruh peralatan ini dibuat kuat dan kokoh guna mempertahankan
kestabilan dimensi dimensi mekanik dan mempertahankan kalibrasi yang tetap
sempurna. Pandangan potongan elektrodinamometer ditunjukkan pada gambar 5-2.
Bekerjanya instrumen ini dapat dipahami dengan meninjau kembali persamaan
torsi yang dibangkitkan oleh sebuah kumparan yang bergantung di dalam medan
magnet. Persamaan (4-1) telah dinyatakan sebelumnya bahwa

T = B x A x I x N

Menunjukkan bahwa torsi yang menyimpangkan kumparan putar berbanding langsung
dengan konstanta konstanta kumparan (A dan H) , kuat medan magnet di dalam mana
82

kumparan berputar (B), dan arus yang melalui kumparan (I). Di dalam
elektrodinamometer kerapatan fluksi (B) bergantung pada arus yang melalui kumparan
yang diam dan berarti berbanding langasung dengan arus defleksi (I). Karena dimensi-
dimensi kumparan dan jumlah lilitan merupakan besaranbesaran yang diketahui untuk
satu alat ukur tertentu, torsi yang dibangkitkan menjadi fungsi kuadrat arus (I
2
).
Jika elektrodinamometer semata-mata direncanakan hanya untuk pemakaian
arus searah, skala kuadratnya mudah diamati, yaitu tanda-tanda skala yang banyak pada
nilai-nilai arus yang sangat rendah, dan menyebar maju pada nilai arus yang
frekuensinya lebih tinggi. Pada pengukuran arus bolak-balik, torsi yang dibangkitkan
setiap saat sebanding dengan kuadrat arus sesaat (i
2
). Nilai sesaat dari i
2
selalu positif
dan akibatnya dihasilkan torsi yang bergetar. Namun gerakan jarum tidak dapat
mengikuti perubahan torsi yang cepat sehingga dia menempati suatu posisi dalam mana
torsi rata-rata diimbangi oleh torsi pegas-pegas pengatur. Dengan demikian defleksi alat
ukur merupakan fungsi rata-rata dari kuadrat arus. Skala elektrodinamometer biasanya
dikalibrasi dalam akar kuadrat arus rata-rata, dan berarti alat ukur membaca nilai rms
atau nilai efektif (effective value) arus bolak-balik.




Gambar 5-2 Gambar maya sebuah elektrodinamometer, menunjukkan susunan
kumparan-kumparan tetap dan yang dapat berputar. Mekanisme yang dibangun secara
kokoh ini dikelilingi oleh pelindung terlaminasi untuk memperkecil efek medan
magnetik luar terhadap penunjukkan alat-ukur (seijin Weston Instruments, Inc.)

Sifat-sifat pengalihan elektrodinamometer menjadi jelas bila kita
memebandingkan nilai efektif arus bolak-balik terhadap arus searah berdasarkan efek
pemanasan atau pengalihan dayanya. Suatu arus bolak-balik yang menghasilkan panas
didalam sebuah tahanan yang besarnya diketahui pada laju rata-rata yang sama dengan
arus searah (I), menurut definisi akan mempunyai nilai sebesar I amper di dalam sebuah
tahanan R adalah I
2
R watt. Laju rata-rata pengeluaran panas oleh arus bolak-balik i
amper selama satu perioda dalam tahanan R yang sama adalah
}
T
dt R i
T
0
2
.
1
Berarti
berdasarkan definisi,
}
=
T
dt R i
T
R I
0
2 2
.
1

83

dan
2
0
2
.
1
i rata rata dt i
T
I
T
= =
}

Selanjutya arus I ini disebut nilai rms (root mean square) alat nilai efektif dari arus
bolak-balik dan sering disebut nilai arus searah ekivalen.
Jika elektrodinamometer dikalibrasi untuk arus searah 1 A dan pada skala
diberi tanda yang menyatakan nilai 1 A ini, maka arus bolak-balik yang akan
menyebabkan jarum menyimpang ke tanda skala untuk 1 A dc tersebut harus
memiliki nilai rms sebcsar I A. Dengan demikian kita dapat "mengalihkan"
pembacaan yang dihasilkan oleh arus searah ke nilai bolak-balik yang sesuai dan
karena itu menetapkan hubungan antara ac dan dc. Karena itu elektrodinamometer
menjadi sangat bermanfaat sebagai sebuah instrumen kalibrasi dan sering digunakan
untuk keperluan ini karena ketelitian yang dimilikinya.
Namun demikian, elektrodinamometer mempunyai kekurangan-kekurangan
tertentu. Salah satu adalah konsumsi daya yang besar sebagai akibat langsung dari
konstruksinya. Arus yang akan diukur tidak hanya harus mengalir melalui kumparan
putar, tetapi juga harus menghasilkan fluksi medan. Untuk memperoleh suatu medan
magnet yang cukup kuat diperlukan ggm (gaya gerak magnet) yang tinggi dan untuk
itu sumber harus menyalurkan arus dan daya yang tinggi. Berlawanan dengan
konsumsi daya yang besar, medan magnet jauh lebih lemah daripada yang dihasilkan
oleh gerak d'Arsonval yang setaraf sebab tidak terdapat besi di dalam rangkaian
(seluruh lintasan fluksi berisi udara). Beberapa instrumen telah dirancang
menggunakan baja laminasi khusus bagi sebagian lintasan fluksi, tetapi penggunaan
logam ini menimbulkan masalah kalibrasi yang disebabkan oleh efek frekuensi dan
bentuk gelombang. Nilai khas dari kerapatan fluksi elektrodinamometer adalah dalam
rangkuman sekitar 60 gauss. Ini memberikan bandingan yang tidak menyenangkan
terhadap gerak d'Arsonval yang baik yang memiliki rapat fluksi tinggi (1000-4000
gauss). Rapat fluksi yang rendah dengan cepat mempengaruhi torsi yang
dibangkitkan dan dengan demikian sensitivitas instrumen ini secara khasnya adalah
sangat rendah. Penambahan sebuah tahanan seri mengubah elektrodinamometer
menjadi voltmeter, yang juga dapat digunakan untuk mengukur tegangan searah dan
bolak-batik. Berdasarkan alasan yang telah disebutkan sebelumnya, sensitivitas
voltmeter elektrodinamometer adalah rendah yakni sekitar 10 sampai 30 /V
(bandingkan terhadap 20 k/V pada alat ukur d'Arsonval). Reaktansi dan tahanan
kumparan-kumparan juga bertambah terhadap pertambahan frekuensi sehingga
pemakaian voltmeter elektrodinamometer terbatas untuk daerah frekuensi rendah.
Namun alat ini sangat akurat untuk frekuensi jala-jala dan karena itu sering
digunakan sebagai standar sekunder.
Gerak elektrodinamometer (juga yang tanpa shunt) dapat dianggap sebagai
ampermeter, tetapi untuk merencanakan sebuah kumparan putar yang dapat
membawa arus lebih dari sekitar 100 mA menjadi agak sulit. Arus yang lebih besar ini
harus dialirkan ke kumparan putar melalui kawat-kawat besar, yang akan kehilangan
fleksibilitasnya. Sebuah shunt bila digunakan biasanya hanya ditempatkan paralel
terhadap kumparan yang berputar. Kemudian kumparan-kumparan yang diam
dibuat dari kawat besar yang dapat mengalirkan arus yang besar dan adalah layak
untuk membangun amperemeter sampai 20 A. Nilai-nilai arus yang lebih besar
biasanya diukur dengan menggunakan sebuah transformator arus dan sebuah ampere-
meter standar 5 A, ac (Bab 5-11).

5-3 INSTRUMEN BESI PUTAR
84

Instrumen-instrumen besi putar dapat dikelompokkan dalam dua jenis,
yaitu instrumen tarikan (attraction) dan tolakan (repulsion). Yang terakhir ini lebih
umum digunakan. Sebuah gerak tolakan daun radial (radial vane) ditunjukkan dalam
bentuk diagram pada Gambar 5-3.
Gerak ini terdiri dari sebuah kumparan stasioner (diam) yang mempunyai
banyak gulungan dan membawa arus yang akan diukur. Dua daun besi lunak (iron-
vane) ditempatkan di bagian dalam kumparan. Salah satu daun diikatkan tetap ke
kerangka kumparan sedang daun lainnya dihubungkan ke poros instrumen sehingga
dapat berputar secara bebas. Arus melalui kumparan memaknetisasi kedua daun
dengan polaritas yang lama tanpa memperhatikan arah arus sesaat. Kedua daun yang
termaknetisasi ini menghasilkan gaya tolakan, dan karena hanya satu daun yang bisa
berputar, defleksi (penyimpangannya) adalah analogi dari besarnya arus kumparan.
Gaya tolak sebanding dengan kuadrat arus, tetapi efek frekuensi dan histeresis
cenderung menghasilkan defleksi jarum yang tidak linear dan akibatnya tidak
mempunyai hubungan kuadrat yang sempurna.
Instrumen daun radial jenis tolakan adalah gerak besi putar yang paling sensitif
dan mempunyai skala paling linear. Perencanaan yang baik dan bermutu tinggi
diperlukan bagi instrumen-instrumen tingkat tinggi. Perhatikan bahwa daun
aluminium yang diikat ke poros tepat di bawah jarum berputar di dalam sebuah
rongga yang besarnya hampir pas yang membawa jarum untuk berhenti dengan cepat.

Gambar 5-3 Mekanisme besi putar dalam radial. Daun peredam dari aluminium
dipasang pada poros tepat di bawah jarum, berputar di dalam sebuah rongga yang
besarnya pas untuk membawa jarum berhenti dengan cepat.

Sebuah variasi instrumen daun radial adalah gerak tolakan daun konsentrik (con-
centric-vane) yang ditunjukkan pada Gambar 5-4. Instrumen ini memiliki dua
daun konsentrik. Salah satu daun diikat tetap, ke kerangka kumparan sedang yang lain
dapat berputar secara koaksial di bagian dalam daun yang diam. Kedua daun ini
dimaknetisasi oleh arus di dalam kumparan ke polaritas yang sama dan
menyebabkannya bergeser ke sisi sewaktu mengalami gaya tolakan. Karena daun
yang dapat berputar terikat ke sebuah poros ber-engsel, gaya tolak ini menghasilkan
gaya rotasi yang merupakan fungsi arus di dalam kumparan. Dikontrol oleh pegas
seperti mekanisme lainnya, posisi akhir jarum merupakan ukuran arus kumparan.
Karena gerak ini seperti halnya semua instrumen daun berputar tidak membedakan
polaritas, dia dapat digunakan untuk dc atau ac, tetapi lebih lazim digunakan untuk
pengukuran bolak-balik (ac). Redaman instrumen ini diperoleh dari sebuah daun
redaman (damping vane) dari bahan aluminium ringan yang dipegang oleh flens
pada semua sisi dan berputar dengan ruang main yang kecil di dalam rongga udara
tertutup. Bila digunakan untuk arus bolak-balik, torsi aktual akan bergetar dan dapat
85

mengakibatkan getaran ujung jarum. Konstruksi jarum yang kokoh terbungkus, secara
efektif menghilangkan getaran tersebut pada suatu daerah frekuensi yagn lebar dan
berfungsi untuk mencegah pelengkungan jarum bila mengalami beban.


Gambar 5-4 Gambar maya sebuah instrumen besi-putar daun konsentrik. Gambar

menunjukkan perincian indikator bersama bobot lawannya, pegas pengatur dan daun
peredam. Daun putar dapat dipandang sebagai suatu perbedaan dari daun tetap pada
penahan kuningan, dan ditunjukkan oleh permukaan yang dinaungi tipis (seijin Weston
Instruments, Inc.).

Instrumen konsentrik memiliki sensitivitas yang sedang dan mempunyai
karakteristik skala kuadratis. Adalah mungkin untuk mengubah bentuk daun-daun agar
memiliki karakteristik skala yang khusus, yaitu dengan "membuka skala" bila
diinginkan.
Ketelitian instrumen-instrumen besi putar terutama dibatasi oleh ketidak-
linearan kurva magnetisasi daun-daun besi. Untuk nilai arus yang rendah, puncak arus
bolak-balik menghasilkan penyimpangan persatuan arus yang lebih besar dari nilai rata-
rata, mengakibatkan pembacaan bolak-balik yang lebih tinggi dari pembacaan arus
searah ekivalen pada skala rendah. Dengan cara sama, pada skala tinggi lutut kurva
maknetisasi didekati, Jan nilai puncak arus bolak-balik akan menghasilkan defleksi
persatuan arus yang lebih kecil dari nilai rata-rata, sehingga pembacaan arus bolak-
balik akan lebih rendah dari nilai arus searah ekivalen.
Histeris di dalam besi dan arus pusar (eddy-curent) di dalam daun-daun dan
bagian logam lainnya di dalam instrumen, juga mempengaruhi ketelitian
pembacaan. Rapat fluksi, termasuk pada nilai arus skala penuh sangat kecil,
sehingga instrumen mempunyai sensitivitas arus yang agak rendah. Di dalam
sistem yang berputar ini tidak ada bagian yang membawa arus sehingga alat ukur
daun besi sangat kokoh dan terpercaya. Dia tidak mudah rusak walaupun kelebihan
beban sering terjadi.
Penambahan sebuah tahanan pengali yang sesuai akan mengubah gerak daun-besi
menjadi voltmeter; dengan cara sama, penambahan sebuah shunt akan menghasilkan
rangkuman arus (current ranges) yang berbeda. Bila gerak daun besi digunakan sebagai
voltmeter arus bolak-balik, frekuensi memperbesar impedansi rangkaian instrumen dan
karena itu cenderung memberikan pembacaan tegangan yang lebih rendah. Karena itu
voltmeter daun besi sebaiknya selalu dikalibrasi untuk setiap frekuensi yang digunakan.
Instrumen komersil yang biasa dapat digunakan dalam batas-batas ketelitiannya dari 25
sampai 125 Hz. Rangkaian kompensasi khusus dapat memperbaiki prestasi alat
86

ukur pada frekuensi-frekuensi yang lebih tinggi walaupun batas frekuensi atas tidak
mudah diperluas melebihi sekitar 2500 Hz. Walaupun instrumen-instrumen ini akan
memberi tanggapan terhadap arus searah, mereka tidak dapat digunakan sebagai
instrumen alih. Namun demikian, alat ini sangat populer sebab murah dan kokoh, dan
berprestasi sesuai dengan batas-batas yang telah ditetapkan.

5-4 INSTRUMEN JENIS PENYEARAH
5-4-1 Rangkaian penyearah
Satu jawaban jelas bagi masalah pengukuran arus bolak-balik diperoleh dengan
menggunakan sebuah penyearah untuk mengubah arus bolak-balik menjadi arus
searah dan menggunakan gerak arus searah tersebut guna menunjukkan nilai arus
bolak-balik yang disearahkan. Cara ini sangat menarik sebab alat ukur arus searah
umumnya memiliki sensitivitas yang lebih tinggi daripada elektrodinamometer atau
besi putar.
Instrumen-instrumen jenis penyearah umumnya menggunakan sebuah gerak
PMMC digabung dengan rangkaian penyearah. Elemen penyearah biasanya terdiri dari
dioda germanium atau silikon. Penyearah-penyearah oksida tembaga. (copper oxide)
dan selenium sudah tidak digunakan lagi, sebab mereka memiliki nilai tegangan-batik
(inverse voltage) yang kecil dan hanya mampu menangani arus yang terbatas. Dioda
germanium mempunyai tegangan balik paling besar (peak inverse voltage, PIV)
dalam orde 300 V dan nilai arus sekitar 100 mA. Penyearah dioda silikon arus
rendah mempunyai PIV sampai 1000 V dan nilai arus dalam orde 500 mA.


(a). Rangkaian



(b) Arus yang disearahkan melalui gerak alat-ukur
Gambar 5-5 Voltmeter ac penyearah gelombang penuh
Penyearah di dalam instrumen kadang-kadang terdiri dari empat dioda dalam
bentuk rangkaian jembatan dan menghasilkan penyearah gelombang penuh. Gambar 5-5
menunjukkan sebuah rangkaian voltmeter arus bolak-balik yang terdiri dari
tahanan pengali, penyearah rangkaian jembatan, dan gerak PMMC.
Penyearah rangkaian jembatan menghasilkan arus searah yang bergetar (pulsasi)
melalui gerak meter (PMMC) selama satu siklus penuh dari tegangan masukan.
Karena inersia kumparan putar, alat ukur akan menunjukkan suatu defleksi mantap,
yang sebanding dengan nilai arus rata-rata. Karena arus dan tegangan bolak-balik
biasanya dinyatakan dalam nilai rms, maka skala alat ukur dikalibrasi dalam nilai rms
gelombang sinus.
Contoh 5-1 : Sebuah voltmeter bolak-balik percobaan menggunakan
rangkaian Gambar 5-5(a), di mana gerak PMMC mempunyai tahanan-dalam 50 Q dan
Gerak-d'Arsonval
m m rms
I I I 707 . 0
2
2
= =

I
m

I
m m dc
I I I 636 . 0
2
= =
t
87

memerukan arus searah sebesar 1 mA untuk defleksi penuh. Dengan menganggap
bahwa dioda-dioda adalah ideal (tahanan-maju nol dan tahanan-balik tak berhingga),
tentukan nilai tahanan pengali R
s
yang menghasilkan defleksi penuh jika tegangan
sebesar 10 Vac (rms) dimasukkan ke terminal-terminal masukan.
Penyelesaian: Untuk penyearahan gelombang penuh,
rms rms m dc
E E E E 9 , 0
2 2 2
= = =
t t

Dan V V x E
dc
9 10 9 , 0 = =

Tahanan total rangkaian dengan mengabaikan tahanan dioda dalam arah maju
adalah

O = = + = k
mA
V
R R R
m s t
9
1
9

O = = 8950 50 9000
ts
R

Sebuah geombang bukan sinus mempunyai nilai rata-rata yang dapat
berbeda banyak dari nilai rata-rata gelombang sinus murni (pada mana alat ukur
dikalibrasi) dan pembacaan yang ditunjukkan mungkin salah. Faktor bentuk (form
factor) memberikan hubungan nilai rata-rata dan nilai rms tegangan-tegangan dan arus
yang berubah terhadap waktu, yaitu :
balik - bolak gelombang rata - rata nilai
balik - bolak gelombang efektif nilai
bentuk faktor =
Untuk sebuah gelombang sinus :
( )
( )
11 . 1
/ 2
2 / 2
= = =
m
m
rata rata
rms
E
E
E
E
bentuk faktor
t
(5-1)
Perhatikan bahwa voltmeter pada Contoh 5-1 mempunyai skala yang hanya
sesuai untuk pengukuran arus bolak-balik sinus. Karena itu faktor bentuk persamaan (5-
1) juga merupakan faktor dengan mana arus searah aktual (rata-rata) diperbesar untuk
mendapatkan tanda-tanda skala rms ekivalen.
Elemen penyearah yang ideal harus mempunyai tahanan-maju dan tahanan-balik
tak bcrhingga. Namun dalam praktek, penyearah merupakan komponen yang tidak
linier seperti ditunjukkan oleh kurva karakteristik pada Gambar 5-6. Pada nilai
arus maju yang rendah, penyearah bekerja di bagian kurva yang sangat tidak linier dan
tahanannya besar dibandingkan terhadap tahanan untuk nilai -nilai arus yang lebih
besar. Karena itu skala rendah dari sebuah voltmeter ac rangkuman ganda sering saling
berdekatan dan kebanyakan pabrik menyediakan skala tegangan rendah yang terpisah
yang khususnya dikalibrasi untuk keperluan ini. Tahanan tinggi dalam bagian
permulaan karakteristik penyearah juga memberikan suatu batas sensitivitas yang dapat
ditemukan dalam mikroampermeter dan voltmeter.


88



Gambar 5-6 Kurva Karakteristik dari sebuah penyearah solid-state

Tahanan elemen penyearah berobah terhadap temperatur, salah satu kekurangan
utama dari instrumen jenis penyearah. Ketelitian alat ukur biasanya memuaskan dalam
kondisi operasi normal pada temperatur kamar dan umumnya adalah dalam orde 5%
pembacaan skala penuh untuk gelombang-gelombang sinus. Pada temperatur yang
sangat tinggi atau yang lebih rendah, tahanan penyearah mengubah tahanan total
rangkaian pengukuran cukup untuk mengakibatkan kesalahan berat. Jika diperkirakan
variasi temperatur adalah besar, alat ukur ini harus dimasukkan di dalam sebuah kotak
yang temperaturnya terkontrol.
Frekuensi juga mempengaruhi kerja elemen-elemen penyearah. Penyearah
memiliki sifat kapasitif dan cenderung melewatkan frekuensi-frekuensi yang lebih
tinggi. Pembacaan alat ukur dapat menghasilkan penurunan kesalahan sebesar
0,5% untuk setiap kenaikan frekuensi sebesar 1 kHz.

5-4-2 Rangkaian khas multimeter
Voltmeter arus bolak-batik jenis penyearah yang biasa sering menggunakan
rangkaian yang ditunjukkan pada Gambar 5-7. Di dalam rangkaian ini digunakan dua
dioda, membentuk penyearahan gelombang penuh dengan alat ukur yang dihubungkan
sedemikian sehingga dia hanya menerima separuh dari arus yang diarahkan. Dioda D
1

konduksi selama setengah siklus positif gelombang masukan dan menyebabkan alat
ukur berdefleksi sesuai dengan nilai rata-rata setengah siklus ini. Alat ukur di shunt oleh
sebuah tahanan R
sh
,

yakni untuk mengalirkan arus yang lebih besar ke D
1
dan
memindahkan titik kerjanya ke bagian kurva karakteristik yang linear. Tanpa adanya
D
2
, setengah periode negatif dari tegangan masukan akan memberikan tegangan balik
ke dioda D
1
, dan mengakibatkan kebocoran arus yang kecil dalam arah balik. Karena itu
nilai rata-rata dari siklus total akan lebih kecil dari yang seharusnya dihasilkan oleh
penyearahan setengah gelombang. Dioda D
2
mengatasi masalah ini. Pada setengah
siklus negatif, D
2
konduksi dan arus melalui rangkaian pengukuran yang dalam hat
ini berlawanan arahnya, tidak lewat melalui alat ukur.
Multimeter komersil Sering menggunakan tanda-tanda skala yang sama untuk
rangkuman-rangkuman arus-searah dan bolak-balik. Karena komponen arus searah
gelombang sinus untuk penyearahan setengah gelombang sama dengan 0,45 kali nilai
rms nya, suatu masalah akan terjadi. Untuk memperoleh defleksi yang sama pada
rangkuman tegangan searah dan bolak-balik yang saling berhubungan, tahanan
pengali bagi rangkuman bolak-balik harus diperkecil secara berimbang. Rangkaian
pada Gambar 5-8 menunjukkan salah satu penyelesaian bagi masalah tersebut dan
dibahas lebih mendalam dalam Contoh 5-2.


89



Gambar 5-7 Bagian khas voltmeter ac dari sebuah multimeter komersil.




Gambar 5-8 Komputasi tahanan pengali dan sensitivitas voltmeter ac.


Contoh 5-2 : Sebuah alat-ukur mempunyai tahanan-dalam 100 dan
memerlukan 1 mA dc untuk defleksi penuh. Tahanan shunt yang dihubungkan (R
h
)
paralel terhadap alat-ukur tersebut besarnya 100 . Dioda D
1
dan D
2
masing-masing
mempunyai tahanan-maju rata-rata sebesar 400 dianggap mempunyai tahanan
balik tak berhingga. Pada rangkuman 10 V, tentukan (a) nilai tahanan pengali R
s
; (b)
sensitivitas voltmeter pada rangkuman ac tersebut.
Penyelesaian :
(a) Karena R
m
,

dan R
sh
keduanya 100 , arus total yang harus disalurkan oleh
sumber untuk defleksi penuh adalah I
t
= 2 mA. Untuk penyearahan setengah gelombang
nilai dc ekivalen dari tegangan ac yang disearahkan adalah
E
dc
= 0,45 E
rms
= 0,45 x 10 V = 4,5 V
maka tahanan total rangkaian instrumen menjadi
O = = = 250 . 2
2
5 , 4
mA
V
I
E
R
t
dc
t

Tahanan total ini terdiri dari beberapa bagian. Karena kita hanya tertarik pada ta-
hanan rangkaian selama setengah periode di mana alat-ukur menerima arus, kita dapat
menghilangkan tahanan-balik dioda D
2
dari rangkaian.
Karena itu,
sh m
sh m
D s t
R R
R R
R R R
+
+ + =
1

atau O + = + + = 450
200
100 100
400
s s t
R
x
R R
Dengan demikian nilai tahanan pengali adalah
O = = 1800 450 2250
s
R
(b) Sensitivitas voltmeter pada rangkuman 10 Vac adalah
V
V
S / 225
10
2250
O =
O
=
Gerak yang serupa yang digunakan dalam voltmeter arus searah akan
memberikan sensitivitas sebesar 1000 /V.
90


Bab 4-11 merupakan rangkaian arus searah dari sebuah multimeter khas
dengan menggunakan diagram rangkaian yang disederhanakan pada Gambar 4-25.
Rangkaian untuk mengukur tegangan-tegangan bolak-balik (diambil dari Gambar 4-25),
diulangi pada Gambar 5-9. Tahanan R
9
, R
13,
R
7
dan R
6
membentuk suatu deretan pengali
untuk rangkuman 1000 V, 50 V dan 10 V dan nilainya ditunjukkan pada diagram
Ganmbar 5-9. Pada rangkuman 2,5 V ac, tahanan R
23
bekerja sebagai pengali dan
mempil nyai hubungan dengan pengali R
s
pada Contoh 5-2 yang ditunjukkan pada
Gambar 5-8. Tahanan R
24
adalah shunt bagi alat ukur dan fungsinya adalah
memperbaiki bekerjanya penyearah. Harga R
23
dan R
24
tidak diberikan di dalam
diagram karena merupakan pilihan pabrik. Namun dapat diperkirakan bahwa tahanan
shunt tersebut dapat bernilai 2000 , sama dengan tahanan alat-ukur. Jika tahanan-maju
rata-rata dari elemen penyearah adalah 500 (suatu anggapan yang beralasan), maka
tahanan R
2
harus 1000 . Ini memenuhi sebab sensitivitas voltmeter yang diberikan
dalam rangkuman bolak-balik adalah 1000 /V pada rangkuman 2,5 V; karena itu
tahanan total rangkaian harus 2500 . Nilai ini dibentuk oleh jumlah R
23
yaitu
tahanan-maju dioda, dan kombinasi tahanan meter dan tahanan shunt seperti
ditunjukkan pada Contoh 5-2.

5-4-3 Pengukuran Desibel
Hampir semua VOM dan sebagian multimeter elektronik dilengkapi dengan
skala desibel (decibel, dB). Satu desibel (sepersepuluh bel) menyatakan rasio daya
listrik atau akustik yang diacu terhadap skala logaritma (dasar 10). Jumlah desibel
dikaitkan pada rasio dua daya P
1
dan P
2
dinyatakan oleh
2
1
log 10
P
P
dB =


di mana umumnya P
1
adalah daya yang tidak diketahui dan P
2
adalah referensi
atau daya level nol.



Gambar 5-9 Rangkaian voltmeter ac rangkuman ganda dari multimeter Simpson Model
260 (seijin Simpson Electric Company).

Karena tegangan dan arus dihubungkan ke daya oleh impedansi, desibel dapat
juga digunakan untuk menyatakan perbandingan (rasio) arus dan tegangan, dengan
syarat bahwa diperlukan untuk memperhitungkan impedansi yang bersatu dengan
mereka. Bila dua tegangan E1 dan E2 atau dua arus I1 dab I2 bekerja pada impedansi
yang identik, perbandingan dB dapat dinyatakan sebagai

91

2
1
log 10
E
E
dB =
dan
2
1
log 20
I
I
dB =

Pengubahan dapat dilakukan dalam kedua arah yaitu penjumlahan desibel, dan
perbandingan antara daya, tegangan dan arus yang berhubungan dengan
menggunakan tabel konversi standar (lihat lampiran 2).
Level referensi daya umumnya digunakan dalam bidang komunikasi yakni 1 mw
daya yang didisipasi dalam sebuah beban resistif sebesar 600 . Bentuk ini juga menya-
takan suatu tegangan sebesar 0,775 Vrms di antara ujung-ujung beban 600 .
Untuk pengukuran dB, rangkaian tegangan bolak-balik VOM atau multimeter
digunakan dalam cara yang biasa, kecuali bahwa setiap dc dalam arus yang diukur harus
diblokir, misalnya dengan menghubungkan kawat sambung ke terminal "output" VOM,
dan pembacaan dilakukan pada skala dB. Skala dB biasanya dihubungkan ke skala
VOM ac terendah dan pemilih rangkuman harus ditempatkan pada rangkuman tersebut
bila pembacaan-pembacaan akan diambil langsung dari skala dB. Jika rangkuman lain
dipilih, suatu nilai dB tertentu harus ditambahkan ke pembacaan dB yang ditunjukkan.
Dalam VOM di Gambar 4-24 skala dB dihubungkan langsung ke skala 2,5 Vac;
kenyataannya 0 dB (level referensi) segaris dengan tanda skala 0,775 V. Pengukuran-
pengukuran desibel dilakukan dengan membuat sakelar rangkuman ke 2,5 Vac. Dengan
membuat saklar ke 10 V atau 50 V ac, diperlukan penambahan berturut-turut sebesar
12 dB atau 26 dB terhadap pembacaan aktual. Koreksi terhadap desibel ini biasanya di-
tuliskan pada bagian luar alat ukur atau pada buku cara pernakaian instrumen (manual
instruction).
Perhatikan bahwa skala dB pada VOM atau multimeter hanya teliti untuk
gelombang sinus dan untuk beban resistip 600 . Jika bentuk gelombang atau kondisi
beban berlainan dari persyaratan ini, faktor koreksi barns diperhitungkan.
Dalam pemakaian khas, penguatan daya sebuah penguat audio diukur dengan
membandingkan daya keluaran terhadap daya masukan dalam desibel. Dua pengukuran
yang berbeda harus dilakukan; satu pada masukan dan satu pada keluaran. Jika kedua
pembacaan dilakukan dalam kondisi yang identik (impedansi masukan sama dengan
impedansi keluaran), maka selisih aljabar antara kedua pembacaan adalah
penguatan amplifier. Misalnya, jika pengukuran masukan adalah 3 dB (3 dB di atas
level referensi 1 mW pada 600 ) dan pembacaan keluaran adalah 16 dB, maka
penguatan amplifier adalah 13 dB. Dengan membandingkan terhadap tabel konversi
dalam, Lampiran 2, kita lihat bahwa ini dapat juga dinyatakan sebagai perbandingan
daya langsung, dan diperoleh bahwa 13 dB berhubungan dengan perbandingan daya
sebesar 19,95. Jika pengukuran dilakukan dengan impedansi yang tidak sama,
koreksi yang sesuai harus dilakukan. Cara ini ditunjukkan dalam, Lampiran 2.


5-5 TERMOINSTRUMEN
5-5-1 Mekanisme kawat-panas (Hot wire mechanism)
Sejarah awal dari instrumen-instrumen yang bekerja berdasarkan pemanasan
(termo- instrumen) adalah mekanisme kawat-panas, yang ditunjukkan secara skematis
dalam Gambar 5-10. Arus yang akan diukur dilewatkan melalui sebuah kawat halus
yang dire-gang kencang antara dua terminal

92



Gambar 5-10 Skema ampermeter kawat panas
Kawat kedua diikat ke kawat halus tersebut pada satu ujung dan pada ujung lainnya ke
sebuah pegas yang berusaha menarik kawat halus ke bawah. Kawat kedua ini
dilewatkan melalui sebuah canal (roller) pada mana jarum dihubungkan. Arus yang
akan diukur menyebabkan pemanasan kawat halus dan memuai sebanding dengan
kuadrat arus pemanasan. Perubahan panjang kawat menggerakkan jarum dan
menunjukkan besarnya arus. Ketidakstabilan karena regangan kawat, lambatnya
tanggapan (respons), dan kurangnya kompensasi terhadap temperatur sekeliling
membuat mekanisme ini tidak memuaskan secara komersil. Sekarang ini mekanisme
kawat panas tidak dipakai lagi dan diganti dengan yang lebih sensitif, lebih teliti dan
memiliki kombinasi kompensasi yang lebih balk bagi elemen termolistrik dan gerak
PMMC.

5-2-2 Instrumen termokopel
Gambar 5-11 menunjukkan gabungan sebuah termokopel dan gerak PMMC
yang dapat digunakan untuk mengukur arus bolak-balik (ac) dan arus searah (dc).
Gabungan ini disebut instrumen termokopel karena bekerjanya didasarkan pada
tindakan elemen termokopel. Bila dua logam yang berbeda disambungkan bersama-
sama, suatu tegangan dibangkitkan pada sambungan kedua logam tersebut. Tegangan
ini bertambah sebanding dengan temperatur sambungan. Dalam Gambar 5-11, CE dan
DE menyatakan kedua logam yang tidak sama tersebut, disambungkan pada
,
titik E dan
digambarkan dengan garis tipis dan garis tebal untuk menunjukkan ketidaksamaannya.
Beda potensial antara C dan D bergantung pada temperatur yang disebut ujung
dingin (cold junction), E. Suatu kenaikan temperatur mengakibatkan pertambahan
tegangan dan ini merupakan suatu keuntungan yang diperoleh dari termokopel.
Elemen panas AB yang mengalami kontak mekanis dengan sambungan kedua logam
pada titik E membentuk sebagian rangkaian pengukuran arus. AEB disebut ujung
panas (hot junction). Energi panas yang dibangkitkan oleh arus di dalam elemen
panas menaikkan temperatur ujung dingin, dan menyebabkan pertambahan tegangan
yang dibangkitkan antara C dan D. Beda potensial ini menghasilkan suatu arus searah
melalui instrumen PMMC. Panas yang ditimbulkan oleh arus berbanding langsung
dengan kuadrat arus (I
2
R), dan kenaikan temperatur (yang berarti tegangan dc yang
dibangkitkan) sebanding dengan kuadrat arus rms. Berarti defleksi alat penunjuk
akan memenuhi hubungan aturan kuadratis, menyebabkan penumpukan tanda-tanda
skala pada skala rendah dan menyebar pada skala tinggi. Susunan Gambar 5-11
tidak memberikan kompensasi terhadap perubahan-perubahan temperatur sekeliling.

93



Gambar 5-11 Skema sebuah instrumen termokopel dasar dengan menggunakan
termokopel CDE dan sebuah gerak PMMC

Termoelemen yang terkompensasi ditunjukkan secara skematis dalam Gambar 5-
12, menghasilkan suatu tegangan termolistrik dalam termokopel CED yang
berbanding langsung dengan arus melalui rangkaian AB. Karena tegangan termokopel
yang dibangkitkan adalah fungsi dari beda temperatur antara ujung panas dan ujung
dingin, beda temperatur ini hares disebabkan oleh arus yang diukur saja. Berarti untuk
pengukuranpengukuran yang teliti, temperatur titik C dan D haruslah rata-rata
temperatur titik A dan B. Ini diperoleh dengan menempatkan ujung termokopel C dan
D di tengah-tengah potongan tembaga (copper strip) yang terpisah, yang ujung-
ujungnya mengalami kontak termal dengan A dan B, tetapi secara elektris terisolasi dari
A dan B.
Instrumen-instrumen termolistrik yang terpasang-di dalam dari jenis
terkompensasi, tersedia dalam batas ukur 0,5 - 20 A. Rangkuman yang lebih tinggi juga
tersedia, tetapi dalam hal ini elemen pemanas merupakan bagian luar indikator. Elemen-
elemen termokopel yang digunakan untuk rangkuman di atas 60 A umumnya dilengkapi
dengan siripsirip pendingin udara.
Pengukuran arus dalam batas-batas ukur yang lebih rendah yakni sekitar 0,1-
0,75 A menggunakan termo-elemen dalam bentuk jembatan, ditunjukkan dalam
Gambar 5-13. Susunan ini tidak menggunakan pemanas yang terpisah : arus yang akan
diukur dilewatkan langsung melalui termoelemen yang menaikkan temperaturriya
sebanding dengan I
2
R


Gambar 5-12 Termokopel terkompensasi untuk mengukur tegangan termo yang
dihasilkan oleh arus i sendiri. Terminal termokopel C dan D mengalami kontak termal
dengan terminal pemanas C dan D, tetapi terisolasi secara elektris dari C dan D.


94



Gambar 5-13 Instrumen termokopel tipe jembatan

Ujung dingin (tanda c) berada pada pasak-pasak (pin) yang ditempelkan di dalam
kerangka isolasi, dan ujung panas (h) dipasang/dicabangkan di tengah-tengah
antara pasak-pasak. Termokopel-termokopel disusun seperti ditunjukkan pada Gambar
5-13, dan tegangan termal resultan membangkitkan beda potensial dc pada instrumen
penunjuk. Karena lengan-lengan rangkaian memiliki tahanan yang sama, tegangan
bolak-balik pada alat ukur adalah 0 V dan tidak ada arus bolak-balik yang melalui alat
ukur. Pemakaian beberapa termokopel secara Seri memberikan tegangan keluaran dan
defleksi yang lebih besar daripada yang mungkin dihasilkan oleh satu elemen,
menghasilkan instrumen dengan sensitivitas yang lebih tinggi.
Instrumen-instrumen panas (termo instrumen) dapat diubah menjadi
voltmeter dengan menggunakan termokopel arus rendah dan tahanan-tahanan seri yang
sesuai, Voltmeter termokopel tersedia dalam batas ukur sampai 500 V dan
sensitivitasnya sekitar 100 sampai 500 /V.
Keuntungan utama instrumen termokopel adalah ketelitian yang dapat mencapai
I % pada frekuensi sampai sekitar 50 MHz dan untuk alasan ini digolongkan sebagai
instrumen frekuensi radio (RF instrument). Di atas 50 MHz, efek permukaan (skin
effect) cenderung memaksa arus ke permukaan luar konduktor, memperbesar
tahanan efektif kawat panas, dan mengurangi ketelitian instrumen. Untuk arus kecil
(sampai 3 A), kawat pemanas adalah padat dan sangat tipis. Di atas 3A elemen pemanas
dibuat berbentuk tabung yakni untuk mengurangi kesalahan akibat efek permukaan pada
frekuensi yang lebih tinggi.

5-5-3 Konvertor panas ke Watt
Susunan termokopel yang dihubungkan ke elemen pemanas tips jembatan
digunakan dalam konvektor panas ke watt (thermal watt converter). Peralatan ini
menghasilkan pengukuran daya bolak-balik dan searah dengan cara termoelektris. Dari
teori dasar arus bolak-balik kita mengetahui bahwa daya diukur dalam watt dan
dinyatakan oleh W = E I cos , di mana E dan I menyatakan besaran fasor dari
tegangan dan arus, dan menyatakan sudut fasa antara keduanya. Dengan
membandingkannya terhadap diagram fasor gambar 5-14, di mana fasor tegangan E dan
fasor arus I telah ditempatkan pada sudut fasa , kita lihat bahwa jumlah S dari dua
fasor dapat diperoleh dari hubungan

S
2
= E
2
+ I
2
+ 2 E I cos (5-2)

dimana S menyatakan jumlah fasor E dan fasor I. Dengan cara sama, selisih D antara
kedua fasor tersebut diperoleh dari hubungan
D
2
= E
2
+ I
2
- 2 E I cos (5-3)
Kurangkan persamaan (5-3) dari (5-2), diperoleh
S
2


D
2
= 4 E I cos (5-4)
95

dimana E I Cos adalah daya yang dibangkitkan oleh kedua besaran fasor di dalam
sebuah rangkaian listrik.
Sebuah rangkaian yang mampu mengukur besaran S
2
- D
2
dapat juga
mengukur sebuah besaran yang sebanding dengan EI cos , adalah menyatakan daya.
Sebuah termoinstrumen yang mampu mengukur daya disebut konvertor pengubah
panas menjadi watt (thermal watt converter).




Gambar 5-14 Hubungan geometrik antara penjumlahan (S) dan pengurangan (D) dari
dua vektor E dan I pada sudut fasa .

Gambar 5-15 menunjukkan diagram skematis rangkaian elementer dari sebuah
konvertor panas ke watt. Untuk suatu scat yang ditetapkan, panah tipis menunjukkan
arah arus sesaat dari transformator arus. Panah tebal menunjukkan arah arus sesaat di
dalam rangkaian potensial. Elemen termokopel A menerima penjumlahan arus yang
dihasilkan oleh transformator arus dan rangkaian potensial tetapi elemen B menerima
selisih kedua arus tersebut. Melalui perencanaan yang sesuai, panas yang ditimbulkan di
dalam termokopel yang berarti gaya gerak listrik (ggl) yang dibangkitkan, sebanding
dengan kuadrat arus di dalam pemanas. Dengan demikian termokopel A
membangkitkan gaya gerak listrik yang sebanding dengan S
2
, sedang termokopel B
membangkitkan ggl yang sebanding dengan D
2
. Tegangan keluaran kedua termokopel
tersebut dihubungkan sedemikian sehingga mereka saling berlawanan. Gaya gerak
listrik total yang diukur oleh alai ukur sebanding dengan S
2
- D
2
, yang ditunjukkan
oleh persamaan (5-4) untuk menyatakan daya.


Gambar 5-15 Rangkaian elementer sebuah konvertor termal
96


Dalam praktek digunakan beberapa termokopel (sebagai pengganti satu termo-
kopel) untuk memperbesar tegangan yang dibangkitkan. Termokopel-termokopel adalah
dari jenis pemanasan sendiri (self-heating) yang serupa dengan elemen tipe
jembatan yang telah dibicarakan sebelumnya. Dalam rangkaian praktis hasil ini
ditunjukkan pada Gambar 5-16.
Konvertor panas ke watt merupakan instrumen yang sangat terpercaya dan
digunakan secara luas untuk pengukuran daya di dalam rangkaian-rangkaian yang
berbeda. Keluaran (output) nya dijumlahkan dan dimasukkan ke sebuah
potensiometer pencatat yang menggambarkan grafik daya total yang telah dipakai oleh
rangkaian. Mereka juga digunakan untuk mengalibrasi instrumen searah (dc) dan bolak-
balik (ac) dan untuk memonitor proses instrumentasi.

5-6 VOLTMETER ELEKTROSTATIK
Voltmeter elektrostatik atau elektrometer adalah satu-satunya instrumen yang
langsung mengukur daya daripada menggunakan efek arus yang dihasitkannya.
Instrumen ini mempunyai satu karakteristik lain yaitu : die tidak memakai daya
(kecuali se-lama perioda yang singkat dari penyambungan awal ke rangkaian) dan
berarti menyatakan impedansi tak berhingga terhadap rangkaian yang diukur.
Tingkah lakunya bergantung pada reaksi antara due benda bermuatan listrik (hukum
Coulumb). Mekanisme elektrostatik mirip sebuah kapasitor variabel, di mana gaya
yang terjadi antara kedua pelat paralel merupakan fungsi dari beda potensial yang
dihubungkan kepadanya. Gambar 5-17 menunjukkan prinsip instrumen ini.




Gambar 5-16 Diagram rangkaian sebuah konvertor termal ke watt (seijin Weston
Instruments, Inc.).

97



Gambar 5-17 Skema sebuah voltmeter elektrostatik

Pelat X dan Y berisi sebuah kapasitor yang kapasitasnya bertambah bile jarum P
bergerak ke kanan. Gerakan jarum dilawan oleh pegas kumparan yang juga berfungsi
untuk menghasilkan kontak listrik antara terminal A dan pelat X. Bila terminal X dan Y
dihubungkan ke titik-titik yang potensialnya berlawanan, pelat-pelat memffiki muatan
yang berlawanan; dan gaya tarik antara kedua benda yang same tetapi bermuatan ber-
lawanan tersebut mendorong jarum bergerak ke kanan. Jarum akan berhenti bila torsi
yang disebabkan oleh tarikan listrik antara pelat-pelat sama dengan torsi lawan dari
pegas kumparan.
Analisis dari energi yang disimpan di dalam medan listrik antara pelat -pelat
kapasitor mengijinkan kita untuk menentukan suatu pernyataan torsi yang
dibangkitkan dalain tegangan yang dimasukkan. Tegangan sesaat, e, pada
kapasitor adalah e = qC dengan mengabaikan kebocoran tahanan kapasitor udara.
Energi sesaat yang disimpan di dalam medan listrik adalah
2
2
2
1
2
1
Ce
c
q
W = =
(5-5)
Torsi sesaat dapat diperoleh dengan mempertahankan e konstan dan mengijinkan
pelat-pelat yang dapat berputar mengalami suatu pergeseran sudut yang kecil, d.
Karena itu torsi yang dibangkitkan adalah
u u u
u
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
=
c
c
=
c
e Ce
W
T
2 2
2
1
2
1
(5-6)
Persamaan (5-6) menunjukkan bahwa torsi sesaat sebanding dengan kuadrat
tegangan sesaat dan juga bergantung pada cara dalam mana C berubah terhadap Torsi
rata-rata selama satu periode T dari tegangan bolak-balik adalah,
2
0
2
0
2
1 1 1
rms
T T
av
E K dt
c
e
T
dt T
W
T =
c
c
= =
} }
u
u
(5-7)

Torsi defleksi yang dinyatakan oleh persamaan (5-7) berbanding langsung dengan
kuadrat tegangan yang dimasukkan tidak bergantung pada bentuk gelombangnya,
dan defleksi elektrometer dapat dikalibrasi langsung dalam Volt rms.
Elektrometer dapat digunakan untuk dc atau pun ac dan untuk rangkuman
frekuensi yang cukup lebar. Instrumen dapat dikalibrasi dengan de dan berlaku
untuk ac sebab defleksi tidak bergantung pada bentuk gelombang tegangan yang
dimasukkan. Karena elektrometer adalah instrumen yang memenuhi aturan kuadrat,
98

maka tidak akan terdapat kesalahan bentuk gelombang seperti ditemukan pada
voltmeter tipe penyearah. Bila elektrometer mula-mula dihubungkan ke sebuah
sumber, dia mengalirkan arus bermuatan seketika yang menurun secara eksponensial.
Sekah pelat telah dimuati, tidak ada lagi arus yang dialirkan dari rangkaian dan
akibatnya alat ukur menyatakan impedansi tak berhingga.
Instrumen ini terbatas pada pemakaian khusus tertentu terutama dalam
rangkaianrangkaian bolak-batik yang tegangannya relatif tinggi; di mana oleh
instrumen lain arus yang diambil akan menghasilkan indikasi yang salah. Sebuah
tahanan pelindung umumnya dihubungkan secara seri ke instrumen untuk membatasi
arus dalam hal terjadi hubungan singkat antara pelat-pelat.
Sebuah pemakaian menarik dari prinsip yang sama dengan tarikan atau tolakan
elektrostatik antara dua pelat paralel, ditemukan dalam elektrometer piringan
(disk electrometer). Instrumen ini terdiri dari dua pelat paralel yang sangat besar,
dipasang di dalam, sebuah kotak tertutup dan menggunakan pilar penyangga dari bahan
kwartz. Dengan mengukur gaya tarik antara pelat-pelat paralel yang dihasilkan oleh
pemberian beda potensial, dan dengan menggunakan dimensi pelat-pelat dan jaraknya,
tegangan antara pelat-pelat dapat ditemukan. NBS (National Bureau of Standard)
menggunakan instrumen jenis ini sebagai standar tegangan sampai 300000 V.
Dengan elektrometer tegangan tinggi seperiti ini perbandingan transformasi
transformator potensial. Tegangan tinggi dapat diperiksa langsung secara terpisah
(independen).
5-7 ELEKTRODINAMOMETER DALAM PENGUKURAN DAYA
5-7-1 Wattmeter satu fasa
Elektrodinamometer dipakai secara luas dalam pengukuran daya. Dia dapat
digunakan untuk menunjukkan, daya searah (dc) maupun bolak-balik (ac) untuk setiap
bentuk gelombang tegangan dan arus dan tidak terbatas pada gelombang sinus saja.
Seperti telah dijelaskan pada Bab 5-2, elektrodinamometer yang digunakan sebagai
voltmeter atau ampermeter terdiri dari kumparan-kumparan yang diam dan yang
berputar dihubungkan secara seri, karena itu bereaksi terhadap efek kuadrat arus. Bila
digunakan sebagai alat ukur daya satu fasa, kumparan-kumparan dihubungkan dalam
cara yang berbeda (lihat Gambar 5-18).




Gambar 5-18 Diagram sebuah wattmeter elektrodinamometer, dihubungkan untuk
mengukur dayal3keban satu fasa.
Kumparan-kumparan yang diam atau kumparan-kumparan medan
ditunjukkan di sini sebagai dua elemen terpisah yang dihubungkan secara seri dan.
membawa arus jala-jala total (i
c
). Kumparan yang berputar yang ditempatkan di dalam
99

medan magnet kumparan-kumparan yang diam, dihubungkan seri dengan tahanan
pembatas arus dan membawa arus kecil (i
p
). Arus sesaat di dalam kumparan yang
berputar adalah i
p
= e/R
p
, di mana e adalah tegangan sesaat pada jala-jala, dan R
p

adalah tahanan total kumparan berputar beserta tahanan serinya. Defleksi kumparan
putar sebanding dengan perkalian i
c
, dan i
p
dan untuk defleksi rata-rata selama satu
periode dapat dituliskan :
}
=

T
p c rata rata
dt i i
T
K
0
1
u
(5-8)
Dimana Q
rata-rata
= defleksi sudut rata-rata dari kumparan
K = Konstanta instrument
1
c
= arus sesaat di dalam kumparan-kumparan medan
I
p
= arus sesaat di dalam kumparan potensial.

Dengan menganggap sementara i
c
sama dengan arus beban i (secara aktual i, = i
p
+ i),
dan menggunakan nilai i
p
= e/R
p
, kita lihat bahwa persamaan (5-8) berubah menjadi :

} }
= =

T T
p
c rata rata
dt ei
T
K dt
R
e
i
T
K
0
2
0
1 1
u
(5-9)
Menurut definisi daya rata-rata di dalam suatu rangkaian adalah
}
=

T
rata rata
dt ei
T
P
0
1
(5-10)

yang menunjukkan bahwa elektrodinamometer yang dihubungkan dalam konfigurasi
Gambar 5-18 mempunyai defleksi yang sebanding dengan daya rata-rata. Jika e dan i
adalah besaran sinus dengan bentuk e = E
m
sin t dan i = I
m
sin (t + ), Persamaan
(5-9) berubah menjadi
u u cos
3
El K
rata rata
=

(5-11)

di mana E dan I menyatakan nilai-nilai rms tegangan dan arus dan menyatakan sudut
fasa antara tegangan dan arus. Persamaan (5-9) dan (5-10) menunjukkan bahwa elektro-
dinamometer mengukur daya rata-rata yang disalurkan ke beban.
Wattmeter mempunyai satu terminal tegangan dan satu terminal arus yang
ditandai dengan "+". Bila terminal arus yang ditandai ini dihubungkan ke jala-jala
masuk dan terminal tegangan ke sisi jala-jala dalam, mana kumparan arus
dihubungkan, alai ukur selalu akan membaca naik bila daya dihubungkan ke beban.
Jika
,
untuk suatu alasan (seperti dalam metoda dua wattmeter untuk mengukur daya
tiga fasa) jarum membaca mundur, sambungan arus (bukan sambungan tegangan)
harus dipertukarkan.
Wattmeter elektrodinamometer membutuhkan sejumlah daya untuk
mempertahankan medan magnetnya, tetapi ini biasanya begitu kecil dibandingkan
terhadap daya beban sehingga dapat diabaikan. Jika diperlukan pembacaan daya yang
tepat, kumparan arus harus persis membawa arus beban, dan kumparan potensial harus
dihubungkan di antara terminal-terminal beban. Dengan menghubungkan kumparan
potensial ke titik A seperti dalam Gambar 5-18, tegangan beban terukur dengan tepat,
tetapi arus melalui kumparan-kumparan medan lebih besar sebanyak I
p
. Berarti
wattmeter membaca lebih tinggi sebesar kehilangan daya tambahan di dalam rangkaian
potensial. Tetapi, jika kumparan potensial dihubungkan ke titik B dalam Gambar 5-18,
kumparan medan mencatat arus beban yang tepat, tetapi tegangan pada kumparan
potensial akan lebih besar sebanyak penurunan tegangan pada kumparan-kumparan
medan. Juga wattmeter akan mencatat lebih tinggi, tetapi dengan kehilangan sebesar R
100

di dalam kumparan-kumparan medan. Cara penyambungan yang tepat bergantung pada
situasi. Umumnya, Sambungan kumparan potensial pada titik A lebih diinginkan untuk
beban-beban arus tinggi, tegangan rendah; sedang sambungan kumparan potensial
pada titik B lebih diinginkan untuk beban-beban arus rendah,

tegangan tinggi.

Kesulitan dalam menempatkan sambungan kumparan potensial, diatasi dalam
wattmeter yang terkompensasi seperti ditunjukkan pada Gambar 5-19. Kumparan arus
ter-(lit i dari dua kumparan, masing-masing mempunyai jumlah lilitan yang sama. Salah
satu kumparan menggunakan kawat besar yang membawa arus beban ditambah arus
untuk kumparan potensial. Gulungan lain menggunakan kawat kecil (tipis) dan
hanya membawa arus ke kumparan tegangan. Tetapi arus ini berlawanan arah dengan
arus di dalam piltingan besar, menyebabkan fluksi yang berlawanan dengan fluksi
utama. Berarti elek i
p
dihilangkan dan wattmeter menunjukkan daya yang sesuai.



Gambar 5-19 Diagram wattmeter terkompensasi dalam mana efek arus di dalam
kumparan potensial dihilangkan oleh arus di dalam kumparan kompensasi.


5-7-2 Wattmeter fasa banyak
Pengukuran daya dalam suatu sistem fasa banyak memerlukan pemakaian dua
atau lebih wattmeter. Kemudian daya nyata total diperoleh dengan menjumlahkan
pembacaan masing-masing wattmeter secara aljabar. Teorema Blondel menyatakan
bahwa daya nyata dapat diukur dengan mengurangi satu elemen wattmeter dari
sejumlah kawat-kawat dalam setiap sistem fasa banyak, dengan persyaratan bahwa
satu kawat dapat dibuat "common" terhadap semua rangkaian potensial. Gambar 5-
20(a) menunjukkan sambungan dua wattmeter untuk pengukuran konsumsi daya
oleh sebuah beban tiga fasa yang setimbang yang dihubungkan secara delta.
Kumparan arus wattmeter 1 dihubungkan dalam jaringan A, dan kumparan
tegangannya dihubungkan antara antaran (jala-jala, line) A dan C. Kumparan arus
wattmeter 2 dihubungkan dalam antaran B, dan kumparan tegangannya antara
antaran B dan C. Daya total yang dipakai oleh beban setimbang tiga fasa sama
dengan penjumlahan aljabar dari kedua pembacaan wattmeter.
101






Gambar 5-20 (a) Dua wattmeter dihubungkan untuk mengukur daya total di dalam
sebuah sebuah sistem tiga-fasa tiga-kawat; (b) Diagram fasor tegangan dan arus di
dalam sistem tiga-fasa tiga-kawat. Sudut antara tegangan fasa dan arus fasa dinyatakan
oleh B.

Diagram fasor Gambar 5-20(b) menunjukkan tegangan tiga fasa V
AC
, V
CB
, dan
V
BA
dan arus tiga fasa I
AC
,I
CB
dan I
BA
.

Beban yang dihubungkan secara delta dianggap
induktif, dan arus fasa ketinggalan, dari tegangan fasa sebesar sudut . Kumparan arus
wattmeter I membawa arus antara I
AA
yang merupakan penjumlahan vektor dari arus-
arus fasa I
AC
dari I
AB
.
. Kumparan potensial wattmeter 1 dihubungkan ke tegangan
antaran V
AC
.
Dengan cara sama kumparan arus wattmeter 2 membawa arus antaran
I
B'B
yang merupakan penjumlahan vektor dari arus-arus fasa I
BA
dan I
BC
;

sedang
tegangan pada kumparan potensialnya adalah tegangan antaran V
BC
.

Karena beban
adalah setimbang, tegangan-tegangan fasa dan arus-arus fasa sama besarnya dan
dituliskan

V
AC
= V
BC
= V dan I
AC
= I
CB
= I
BA
= I

Daya, dinyatakan oleh arus dan tegangan masing-masing wattmeter adalah

W
1
= V
AC
I
AA
cos (30- ) = VI cos (30- ) (5-12)
102

W
2
= V
BC
I
BB
cos (30+ ) = VI cos (30+ ) (5-13)
W
1
+ W
2
= V I cos (30- ) + VI cos (30+ )
= ( cos 30- cos + sin 30- sin + cos 30 cos - sin 30 sin ) VI
= u cos 3 I V (5-14)

Persamaan (5-14) merupakan pernyataan daya total dalam sebuah rangkaian tiga fasa,
dan karena itu kedua wattmeter pada Gambar 5-20(a) secara tepat mengukur daya total
tersebut. Dapat ditunjukkan bahwa penjumlahan aljabar dari pembacaan kedua
wattmeter akan memberikan nilai daya yang benar untuk setiap : kondisi yang tidak
setimbang, faktor daya atau bentuk gelombang.
Jika kawat netral dari sistem tiga fasa juga tersedia seperti halnya pada,beban
yang tersambung dalam hubungan bintang 4 kawat, sesuai dengan teorema Blondel, --
diperlukan tiga wattmeter untuk melakukan pengukuran daya nyata total. Dalam
Soal 12 pembaca diminta untuk membuktikan bahwa tiga wattmeter akan mengukur
daya total dalam sebuah sistem empat kawat.

5-7-3 Pengukuran daya reaktif
Daya reaktif yang disuplai ke sebuah rangkaian arus bolak-balik dinyatakan
sebagai satuan yang disebut VAR (Volt-Amper-Reaktif); karena itu memberikan
perbedaan antara daya nyata dan daya oleh komponen reaktif. Gambar 5-21
menunjukkan dua fasor E dan I yang menyatakan tegangan dan arus pada sudut fasa .
Daya nyata adalah perkalian komponen-komponen sefasa dari tegangan dan arus (EI
Cos ), sedang daya reaktif adalah perkalian komponen-komponen reaktif yaitu EI
Sin 0 atau EI Cos ( 90). Jika tegangan bergeser sebesar 90 dari nilai
sebenarnya, komponen tegangan sefasa yang tegeser akan menjadi E Cos ( 90)
sehingga perkalian komponen-komponen sefasa akan menjadi EI Cos ( 90), yang
mana adalah daya reaktif.
Setiap wattmeter biasa bersama-sama dengan sebuah jaringan penggeseran fasa
yang sesuai, dapat digunakan untuk mengukur daya reaktif. Dalam sebuah
rangkaian satu fasa, pergeseran fasa 90 dapat dihasilkan oleh komponen R, L dan C
yang berimbang. Namun pemakaian umum dari pengukuran VAR ditemukan dalam
sistem tiga fasa di mana pergeseran fasa yang diinginkan dilakukan dengan
menggunakan dua autotransformator yang dihubungkan dalam konfigurasi delta-
terbuka pada Gambar 5-22. Seperti biasanya kumparan-kumparan arus dari
wattmeter dihubungkan saei dengan jala-jala.


Gambar 5-21 Diagram vektor fasor-fasor tegangan dan arus yang menggambarkan,
pergeseran fasor tegangan sebesar 90.
103



Gambar 5-22 Pengukuran daya relatif

Kumparan-kumparan potensial dihubungkan ke kedua autotransformator dalam cara
yang ditunjukkan pada gambar. Antaran fasa B dihubungkan ke terminal bersama
("common") kedua transformator, dan fasa antaran A dan C dihubungkan ke
pencahangan (tap) 100% kedua transformator tersebut. Kedua transformator akan
menghasilkan 115,4% tegangan antaran pada gulungan total. Kumparan potensial
wattmeter 1 dihubungkan dari pencabangan (tap) 57,7% transformator 1 ke
pencabangan 115,4% transformator 2, menghasilkan tegangan yang sama dengan
tegangan antaran tetapi tergeser sebesar 90. Ini ditunjukkan dalam diagram fasor
Gambar 5-22. Kumparan tegangan wattmeter 2 dihubungkan dengan cara yang serupa.
Karena sekarang kedua kumparan tegangan menerima gays gerak listrik (ggl) yang
sama dengan tegangan antaran tetapi tergeser sejauh 90, kedua wattmeter akan
membaca daya reaktif yang dipakai oleh beban. Penjumlahan aljabar dari kedua
pembacaan wattmeter menyatakan daya reaktif total yang disalurkan ke beban.
Dalam, sebuah paket instrumen tunggal, gabungan wattmeter dan transformator
pergeser fasa disebut VAR meter.

5-8 ALAT UKUR WATTJAM
Alat ukur wattjam (watthourmeter) tidak sering digunakan di laboratorium tetapi
banyak digunakan untuk pengukuran energi listrik komersil. Kenyataannya adalah jelas
bahwa di semua tempat di manapun, perusahaan listrik menyalurkan energi listrik ke
industri dan pemakai setempat (domestik). Gambar 5-23 menunjukkan elemen alat ukur
wattjam satu fasa dalam bentuk skema.
Kumparan arus dihubungkan seri dengan antaran, dan kumparan tegangan dihu-
bungkan paralel. Kedua kumparan yang dililitkan pada sebuah kerangka logam
dengan desain khusus melengkapi dua rangkaian magnet. Sebuah piringan aluminium
ringan digantung di dalam senjang udara medan kumparan arus yang menyebabkan arus
pusar mengalir di dalam piringan. Reaksi arus pusar dan medan kumparan tegangan
104

membangkitkan sebuah torsi (aksi motor) terhadap piringan dan menyebabkannya
berputar.




Gambar 5-23 Elemen alat ukur wattjam satu fasa

Torsi yang dibangkitkan sebanding dengan kuat medan kumparan tegangan dan arus
pusar di dalam piringan yang berturut-turut adalah fungsi kuat medan kumparan
arus. Berarti jumlah putaran piringan sebanding dengan energi yang telah dipakai oleh
beban dalam selang waktu tertentu, dan diukur dalam kilowatt jam (kWh, kilowatt-
hour). Poros yang menopang piringan aluminium dihubungkan melalui susunan roda
gigi ke mekanisme jam dipanel alat ukur, melengkapi suatu pembacaan kWh yang
terkalibrasi dalam desimal.
Redaman piringan diberikan oleh dua magnet permanen kecil yang
ditempatkan saling berhadapan pada sisi piringan. Bila piringan berputar, magnet-
magnet permanen mengindusir arus pusat di dalamnya. Arus-arus pusar ini bereaksi
dengan medan magnet dari magnet-magnet permanen kecil dan meredam gerakan
piringan. Sebuah alat ukur wattjam satu fasa ditunjukkan pada Gambar 5-24.
Kalibrasi alat ukur watt jam dilakukan pada kondisi beban penuh yang
diijinkan dan pada kondisi 10% dari beban yang diijinkan. Pada beban penuh, kalibrasi
terdiri dari pengaturan posisi magnet-magnet permanen kecil agar alat ukur membaca
dengan tepat. Pada beban-beban yang sangat ringan, komponen tegangan dari medan
menghasilkan suatu torsi yang tidak berbanding langsung dengan beban. Kompensasi
kesalahan diperoleh dengan menyisipkan sebuah kumparan pelindung atau pelat di alas
sebagian kumparan dengan membuat membuat alat ukur bekerja pada I0% beban yang
diijinkan. Kalibrasi alat-ukur pada kedua posisi ini biasanya menghasilkan
pembacaan yang memuaskan untuk semua beban-beban lainnya.

105



Gambar 5-24 Alat ukur wattjam untuk industri atau pemakaian rumah tangga
(seijin Westinghouse Electric Corporation).

Alat ukur watt-jam tipe poros terapung (floating shaft) menggunakan sebuah
desain yang unik untuk menggantungkan piringan. Poros berputar mempunyai sebuah
magnet kecil pada masing-masing ujung. Magnet poros bagian alas ditarik ke sebuah
magnet dalam bantalan atas, sedang magnet bawah ditarik ke sebuah magnet dalam
bantalan bawah. Berarti gerakan pelampung tidak akan menyentuh kedua permukaan
bantalan, dan satu-satunya kontak terhadap gerakan adalah melalui roda gigi yang
menghubungkan poros ke kelengkapan roda gigi.
Pengukuran energi dalam sistem tiga fasa dilakukan oleh alat-ukur watt jam fasa
banyak. Kumparan arus dan kumparan tegangan dihubungkan dengan cara yang sama
seperti wattmeter tiga fasa pada Gambar 5-20. Masing-masing fasa alat ukur watt-jam
mempunyai rangkaian magnetik dan piringan tersendiri, tetapi sernua piringan
dijumlahkan secara mekanis dan putaran total permenit dari poros sebanding dengan
energi total tiga fasa yang dipakai.

5-9 ALAT UKUR FAKTOR DAYA
Menurut definisi, faktor daya adalah kosinus sudut fasa antara tegangan dan
arus, dan pengukuran faktor daya biasanya menyangkut penentuan sudut fasa ini.
Ini ditunjukkan dalam kerja alat ukur faktor daya kumparan bersilang (crossed-
coil power factor meter). Pada dasarnya instrumen ini adalah gerak
elektrodinamometer di mana elemen yang berputar terdiri dari dua kumparan yang
dipasang pada poros yang sama tetapi tegak lurus satu sama. lain. Kumparan putar
berputar di dalam medan maknetik yang dihasilkan oleh kumparan medan yang
membawa arus jala-jala.
Penyambungan alat ukur ini di dalam sebuah rangkaian satu fasa ditunjukkan
pada diagram Gambar 5-25. Seperti biasanya kumparan medan dihubungkan seri
dengan antaran dan mengalirkan arus antaran. Salah satu kumparan dari elemen yang
berputar ,dihubungkan seri dengan sebuah tahanan (R) pada antaran-antaran dan
menerima arus dari beda potensial yang dimasukkan.

106



Gambar 5-25 Rangkaian alat ukur faktor daya kumparan silang satu fasa

Kumparan kedua elemen yang berputar tersebut dihubungkan seri dengan sebuah
induktor (L) pada antaran. Karena di sini tidak digunakan pegas-pegas pengatur posisi
setimbang, elemen yang berputar akan bergantung pada torsi yang diakibatkan oleh
kedua kumparan yang sating bersilang. Bila elemen yang berputar dalam posisi
setimbang, kontribusi masing-masing elemen terhadap torsi total harus sama
tetapi berlawanan tanda. Torsi yang dibangkitkan di dalam masing-masing
kumparan adalah fungsi arus melalui kumparan dan berarti bergantung pada impedansi
rangkaian kumparan tersebut. Torsi juga bergantung pada induktansi bersama antara
tiap bagian kumparan yang bersilang dan kumparan medan stasioner. Induktansi
bersama ini bergantung pada posisi sudut elemen-elemen kumparan bersilang terhadap
posisi kumparan medan stasioner. Bila elemen yang berputar dalam keadaan setimbang,
dapat dilihat bahwa simpangan sudutnya merupakan fungsi dari sudut fasa antara arus
antaran (kumparan medan) dan tegangan antaran (kumparan-kumparan yang bersilang).
Penunjukan jarum yang dihubungkan ke elemen berputar dikalibrasi langsung
dalam sudut fasa atau faktor daya.
Alat ukur faktor daya dengan daun terpolarisasi (polarized vane power-factor
meter) ditunjukkan dalam sketsa konstruksi Gambar 5-26. Instrumen ini terutama
digunakan dalam sistem daya tiga fasa sebab prinsip kerjanya bergantung pada
pemakaian tegangan tiga fasa. Kumparan luar adalah kumparan potensial yang
dihubungkan ke antaran-antaran sistem tiga fasa. Penyambungan tegangan tiga fasa ke
kumparan potensial menyebabkannya bertindak seperti stator motor induksi tiga fasa
sewaktu membangkitkan suatu fluksi magnet berputar. Kumparan di tengah atau
kumparan arus dihii bungkan seri dengan salah satu antaran fasa, dan ini mempolariser
daun-daun besi. Daun daun terpolarisasi ini bergerak di dalam medan magnet
berputar dan mengambil suatu posisi di mana medan putar pada suatu saat mempunyai
fluksi polarisasi paling besar (maksimal). Posisi ini merupakan indikasi sudut fasa dan
berarti indikasi faktor daya. Instrumen ini dapat digunakan dalam sistem satu fasa
dengan syarat bahwa sebuah rangkaian pemisah fasa (serupa dengan yang digunakan
dalam motor satu fasa) ditambahkan untuk membangkitkan medan magnet putar yang
diperlukan.
107



Gambar 5-26 Alat ukur faktor daya tipe daun terpolarisasi
(seijin General Electric Company Ltd.)

Kedua jenis alai ukur faktor daya terbatas pada pengukuran frekuensi yang
relatif rendah dan khususnya digunakan pada frekuensi jala-jala (60 Hz). Pengukuran
fasa pada frekuensi -frekuensi yang lebih tinggi sering lebih teliti dan ini secara
memuaskan akan dihasilkan oleh instrumen-instrumen elektronik atau tehnik-tehnik
tertentu. Cara-cara pengukuran fasa pada frekuensi-frekuensi yang lebih tinggi beserta
instrumen-instrumennya, dibicarakan pada Bab 9, 11, dan 12.






5-10 ALAT UKUR FREKUENSI
Frekuensi dapat ditentukan dengan berbagai cara, tetapi sementara kita
membicarakan instrumen-instrumen penunjuk yang dalam kategori ini adalah alat-
alat ukur frekuensi yang memanfaatkan efek frekuensi terhadap faktor-faktor seperti :
induktansi bersama, resonansi sirkuit penyetalaan (tuned circuit) dan resonansi
mekanik.
Sebuah contoh pemakaian rangkaian penyetalaan ditemukan pada alat-ukur
frekuensi tipe elektrodinamometer, yang ditunjukkan secara skematis dalam Gambar
5-27. Dalam alat ukur frekuensi ini, kumparan-kumparan medan membentuk
sebagian dari dua rangkaian resonan terpisah. Kumparan medan 1 adalah seri dengan
induktor L
1
dan kapasitor C
I
, dan membentuk sebuah rangkaian resonan yang disetel ke
suatu frekuensi sedikit di bawah skala terendah dari instrumen. Kumparan medan 2
adalah seri dengan induktor L
2
dan kapasitor C
2
, dan membentuk sebuah rangkaian
resonan yang disetel ke frekuensi sedikit lebih tinggi dari skala tertinggi
instrumen. Dalam hal frekuensi jala-jala rangkaianharus disetel ke frekuensi
berturut-turut 50 Hz dan 70 Hz, dengan 60 Hz pada pertengahan skala.

108



Gambar 5-27 Rangkaian alat-ukur frekuensi tipe elektrodinamometer

Kedua kumparan medan disusun seperti ditunjukkan pada diagram dan dikembalikan
ke jala-jala melalui gulungan kumparan yang dapat berputar. Torsi pada elemen
yang berputar sebanding dengan arus melalui kumparan berputar. Arus ini terdiri
dari penjumlahan kedua arus kumparan medan. Untuk frekuensi yang dimasukkan
dalam batas-batas rangkuman instrumen, rangkaian kumparan medan 1 bekerja di alas
frekuensi resonan dengan arus i
1
ketinggalan dari tegangan yang dimasukkan.
Rangkaian kumparan medan 2 bekerja di bawah frekuensi resonannya dan dengan
demikian adalah kapasitif dengan arus i
2
yang mendahului tegangan yang
dimasukkan. Karena itu torsi yang dihasilkan oleh kedua arus terhadap kumparan putar
adalah berlawanan, dan torsi yang dihasilkan tersebut merupakan fungsi dari
frekuensi tegangan yang dimasukkan. Untuk setiap frekuensi yang dimasukkan dalam
batas ukur instrumen, torsi yang dibangkitkan pada elemen yang berputar
menyebabkan jarum berada pada posisi yang dihasilkannya dan defleksi jarum
dikalibrasi dalam frekuensi yang diberikan tersebut. Torsi pemulih dilengkapi oleh
sebuah daun besi kecil yang dipasang pada kumparan yang berputar. Daerah
pengukuran instrumen ini biasanya terbatas pada frekuensi jala-jala dan pemakaian
utama adalah dalam bidang ini yakni untuk memonitor frekuensi sebuah sistem daya.
Alat ukur frekuensi jenis batang atau lidah bergetar (tuned-reed frequency
meter bekerja berdasarkan prinsip resonansi mekanis. Sederetan batang-batang
dipasang het sama-sama pada sebuah alas fleksibel yang terpasang pada jangkar sebuah
elektromaknit Kumparan elektromagnet diberi energi listrik dari jala-jala arus bolak-
balik yang frekuensinya akan ditentukan. Batang disetel ke suatu frekuensi dasar yang
tepat berdasarkan pemilihan panjang dan massa yang sesuai. Batang yang frekuensi
dasarnya sama dengan frekuensi pada mana elektromagnet diberi energi, membentuk
suatu getaran. Getaran batang ini dapat dilihat pada panel alat ukur di mana ujung
getaran batang ditunjukkanl melalui sebuah jendela. Jika frekuensi yang diukur berada
di antara frekuensi dua batang yang berdekatan, kedua batang akan bergetar dan
frekuensi jala-jala akan paling dekat ke batang yang bergetar paling tinggi. Interpolasi
antara frekuensi-frekuensi dasal daft batang-batang ini dapat dilakukan dengan mudah
dan teliti, sebab frekuensi-frekuensi batang adalah tepat. Instrumen ini mempunyai
keuntungan karena konstruksi yang sangat sederhana dan sangat kokoh. Dia
mempertahankan kalibrasinya dengan baik dengan syarat bahwa getaran batang-batang
dipertahankan dalam batas-batas yang wajar. Walaupun operasinya tidak bergantung
pada nilai tegangan yang tepat, pengubahan batas ukur tegangan biasanya dilakukan
dengan penambahan tahanan.
109

Alat ukur frekuensi tipe inti jenuh (saturable-core frequency meter),
yang dapat menangani dan mengukur suatu rangkuman frekuensi dengan baik,
ditunjukkan secara skematis pada Gambar 5-28. Transformator terdiri dari dua inti
(core) dan satu gandar (yoke). Satu inti adalah bahan non-magnet, sedang inti yang
lain adalah bahan magnetik yang saturasi pada nilai ggl dan arus yang sangat kecil.
Gandar terbuat dari bahan magnet dengan penampang yang cukup besar sehingga
tidak mencapai saturasi. Kumparan primer transformator dililitkan pada kedua inti
tersebut secara bersamaan (simultan), seperti ditunjukkan pada Gambar 5-28.
Kumparan sekunder terdiri dart dua bagian: separuh gulungan dililitkan pada inti
magnet dan separuh lainnya pada inti non-magnetik. Gulungan-gulungan sekunder
dihubungkan seri dengan cara sedemikian sehingga tegangan yang diinduksikan
didalam gulungan-gulungan berlawanan satu sama lain daya ke kumparan primer"
transformator akan mengindusir tegangan di dalam kumparan-kumparan
sekunder



Gambar 5-28 Skema alat ukur frekuensi tipe inti jenuh
Karena nilai saturasi inti maknetik yang rendah, inti ini akan saturasi pada
tegangan sekunder yang sangat kecil. Begitu inti ini saturasi, laju pertambahan
tegangan induksi di dalam kumparan tersebut akan sama dengan laju pertambahan
tegangan induksi di dalam gulungan pada inti bukan magnet. Dengan dengan
demikian laju pertambahan tegangan-tegangan induksi saling meniadakan karena
ggl di dalam gulungan-gulungan sekunder berlawanan satu sama lain. Karena itu
tegangan sekunder bukan merupakan fungsi tegangan primer yang dimasukkan,
tetapi hanya akan bergantung pada frekuensi tegangan tersebut. Tegangan
keluaran sekunder disearahkan dan dimasukkan ke sebuah alat ukur arus searah
yang defleksinya sebanding frekuensi. Skala alat-ukur dikalibrasi dalam frekuensi.

5-11 TRANSFORMATOR INSTRUMEN
Transformator-transformator instrumen digunakan untuk mengukur tegangan
bolak-balik pada stasiun pembangkit, stasiun transformator dan pada saluran transmisi,
dalam kaitannya dengan instrumen-instrumen pengukur arus bolak-balik (voltmeter,
ampremeter, Wattmeter, VARmeter, dan lain-lain). Transformator-transformator
instrumen dikelompokkan sesuai dengan pemakaiannya dan disebut transformator arus,
TA) dan transformator potensial (potential transformer, TP).
110

Transformator-transformator ini melakukan dua fungsi penting: memperbesar
rangkuman alat ukur arus bolak-balik seperti halnya halnya shunt atau tahanan pengali
pada alat ukur arus searah; dan mengisolir alat ukur dari jala-jala listrik tegangan
tinggi..
Rangkuman sebuah ampermeter arus searah dapat diperbesar dengan
menggunakan sebuah shunt yang membagi arus yang diukur ke alat-ukur dan shunt.
Metoda ini memuaskan bagi rangkaian-rangkaian arus searah, tetapi didalam rangkaian-
rangkaian arus bolak balik pembagian arus tidak hanya bergantung pada tahanan alas
ukur dan shunt, tetapi juga pada reaktansinya. Karena pengukuran arus bolak-balik
dilakukan pada rangkuman frekuensi yang lebar, menjadi sulit untuk mendapatkan
ketelitian yang tinggi. Sebuah transformator arus menghasilkan perluasan rangkuman
yang diinginkan melalui perbandingan transformasinya dan di samping itu
menghasilkan pembacaan yang hampir sama tanpa memperhatikan konstanta alat-ukur
(reaktansi dan tahanan); atau kenyataannya jumlah instrumen (dalam batas-batas yang
sesuai) yang dihubungkan di dalam rangkaian.
Isolasi alat-ukur dari jala-jala listrik tegangan tinggi adalah penting bila kita
ingat bahwa sistem daya bolak-balik sering bekerja pada tegangan-tegangan orde
beberapa ratus kilovolt. Adalah tidak praktis menghubungkan jala-jala listrik tegangan
tinggi langsung ke panel instrumen untuk maksud pengukuran tegangan dan arus, bukan
hanya karena risiko keselamatan yang terlibat tetapi juga karena masalah isolasi yang
berkaitan dengan jala-jala tegangan tinggi yang bekerja secara bersamaan di dalam
suatu ruang terbatas. Bila sebuah transformator digunakan, hanya kawat-kawat
tegangan rendah saja dari kumparan transformator sekunder yang dihubungkan ke
panel instrumen dan hanya tegangan rendah yang boleh ada antara kawat-kawat
tersebut dan bumi; dengan demikian memperkecil risiko keselamatan dan masalah
isolasi.
Banyak literatur yang secara terperinci membahas teori mengenai operasi
transformator. Di sini yang dijelaskan hanya transformator instrumen beserta
penggunaannya dalam situasi pengukuran.*
(*Untuk mempelajari mesin-mesin bolak-balik dan rangkaian, periksa buku-buku
seperti berikut :Michael Liwshitz-Garik and Clyde C.Whipple, AC Machines, edisi
kedua . (Princenton, N.J.: D. Van Nostrand C ompan, Inc., 1961), dan penunjang
lainnya.)


Gambar 5.29 Transformator potensial tegangan-tinggi (seijin Westinghouse Electric
Co.)
111


Gambar 5-29 menunjukkan sebuah transformator potensial; Gambar 5-30
menus jukkan sebuah transformator arus. Transformator potensial (TP) digunakan
untuk mengalihkan tegangan tinggi dari sebuah jala-jala ke yang lebih rendah yang
sesuai bagi hubungan langsung ke sebuah voltmeter arus bolak-balik atau kumparan
potensial watt meter arus bolak-balik. Tegangan sekunder transformator yang biasa
adalah 120 V. Tegangan-tegangan primer dibuat standar untuk menyesuaikan terhadap
tegangan saluran transmisi yang umum yakni : 2400 V; 4160 V; 7200 V; 13,8 kV,
44 kV, 66 kV, dan 220 kV. Transformator potensial ditetapkan agar menghasilkan
sejumlah daya tertentu ke beban sekunder. Berbagai kapasitas beban yang berbeda
tersedia agar sesuai bagi pemakaian individu; kapasitas yang umum adalah 200 VA
pada frekuensi 60 Hz.
Transformator potensial harus memenuhi persyaratan desain tertentu yang
mencakup : ketelitian perbandingan lilitan, reaktansi kebocoran yang kecil, arus
maknetisasi yang kecil, dan penurunan tegangan yang paling kecil. Selanjutnya karena
kita mungkin bekerja pada tegangan primer yang sangat tinggi, isolasi antara gulungan-
gulungan primer dan sekunder harus mampu menahan beda potensial yang tinggi,
dan persyaratan lain adalah dielektrik yang sangat tinggi. Dalam hal yang lazim,
kumparan tegangan dibuat dari konstruksi kue panggang bundar, dan dilindungi guna
pencegahan regangan-regangan dielektrik setempat. Kumparan tegangan rendah
atau kumparan-kumparan dililitkan pada sebuah gulungan kertas dan dirakit di bagian
dalam kumparan tegangan tinggi. Semua rakitan ini dipadatkan kering (impregnated)
atau diredam di dalam minyak. Rakitan inti dan kumparan kemudian ditempatkan di
bagian dalam sebuah kotak/ selubung baja yang menyangga terminal-terminal
tegangan tinggi atau bushing-bushing porselen. Kemudian kotak diisi dengan minyak
isolasi.
Perkembangan baru dalam industri karet sintetik telah memperkenalkan
transformator potensial jenis karet tuang/cetak (molded rubber), menggantikan minyak
isolasi dan bushing porselen dalam beberapa pemakaian. Gambar 5-29 menunjukkan
sebuah transformator potensial 25 kV tipe karet tuang/cetak yang sesuai untuk
pemakaian diluar. Unit ini lebih murah dari transformator potensial konvensional yang
berisi minyak dan karena bushing terbuat dari karet tuang, sifat rapuh porselen
dihilangkan. Sebuah titik polaritas berwarna putih ditempatkan pada "bushing" yang
tepat di bagian depan transformator. Dua terminal kumpara sekunder tipe baut tap (stud)
dimasukkan di dalam sebuah kotak saluran yang dapat dipindahkan. Daya yang
diijinkan (rating) bagi sebuah transformator potensial didasarkan pada pertimbangan-
pertimbangan selain kapasitas beban, karena alasan yang telah diberikan
sebelumnya. Beban khas yang diijinkan adalah 200 VA pada 60 Hz untuk
transformator yang mempunyai perbandingan 2400/120 V. Tetapi pada kebanyakan
pengukuran, beban yang berarti akan lebih kecil dari 200 VA.


112



Gambar 5-30 Transformator arus (seijin Westinghouse Electric Co.)

Transformator arus (TA) kadang-kadang mempunyai kumparan primer dan selalu
mempunyai kumparan sekunder. Jika terdapat kumpran primer, dia mempunyai
julmalah gulungan yang kecil. Dalam kebanyakan hal kumparan primer hanya
berupa sale gulungan atau satu konduktor yang dihubungkan seri ke beban yang
arusnya akan diukur. Kumparan sekunder mempunyai jumlah lilitan yang lebih
banyak dan di hubungkan ke alat ukur arus atau ke sebuah kumparan rile. Kumparan
primer sering berupa sebuah konduktor tunggal berbentuk batang tembaga atau batang
kuningan beral yang dilewatkan melalui inti transformator. Transformator arus
sedemikian disebut transformator arus tipe batang (bar-type). Kumparan sekunder
transformator arus ini biasanya dirancang untuk menghasilkan arus sekunder sebesar
5 A. Sebuah transformator arus tipe batang 800/5 A mempunyai 160 lilitan pada
kumparan sekundernya.
Kumparan primer transformator arus dihubungkan langsung di dalam rangkaian
beban. Bila kumparan sekunder adalah rangkaian terbuka, tegangan yang dibangkitkan
pada terminal-terminal terbuka bisa sangat tinggi (sebab kenaikan perbandingan
transformator) dan dapat dengan mudah merusak isolasi antara gulungan-gulungan
sekunder. Karena itu kumparan sekunder sebuah transformator harus selalu
dihubungsingkatkan atau dihubungkan ke sebuah alat ukur atau kumparan rile. Sebuah
transformator arus tidak boleh mempunyai kumparan sekunder yang terbuka bila
kumparan primernya membawa arus; dia selalu harus ditutup melalui sebuah alat ukur
arus, kumparan rile, kumparan arus wattmeter, atau mudahnya oleh sebuah penghubung
singkat. Kelalaian mengetahui tindakan pencegahan ini dapat menimbulkan kerusakan
berat bagi peralatan atau bagi personel.
Transformator arus yang ditunjukkan pada Gambar 5-30 terdiri dari sebuah
inti dengan kumparan sekunder yang terbungkus di dalam isolasi karet tuang.
Jendela di dalam inti memungkinkan penyisipan satu atau lebih gulungan
konduktor tegangan tinggi pembawa arus. Sebuah konduktor tunggal berisi satu
kumparan primer dengan satu lilitan. Perbandingan nominal transformator
113

diberikan pada pelat namanya; ini bukan perbandingan lilitan (karena lebih dari
satu lilitan dapat digunakan sebagai kumparan primer) tetapi hanya menunjukkan
bahwa suatu arus primer sebesar 500 A akan menghasilkan arus sekunder 5 A bila
kumparan sekunder tersebut dihubungkan ke sebuah ampermeter 5 A. Dalam batas-
batas praktis, arus di dalam gulungan sekunder ditentukan oleh arus eksitasi primer
dan bukan oleh impedansi rangkaian sekunder. Karena di dalam sistem arus bolak-
balik arus primer ditentukan oleh beban maka arua sekunder dikaitkan ke arus
primer sebesar sekitar kebalikan perbandingan lilitan. Ini benar dalam batas-batas
tingkah laku beban sekunder yang agak lebar.
Gambar 5-31 menunjukkan pemakaian transformator-transformator
instrumen dalam suatu pengukuran khas. Diagram ini menggambarkan hubungan
transformator- transformator instrumen di dalam sebuah rangkaian tiga fasa tiga kawat
termasuk dua wattmeter, dua voltmeter dan dua ampermeter. Transformator-
transformator potensial dihubungkan terhadap antaran fasa A dan B, dan antaran fasa C
dan D; sedang transformator-transformator arus adalah dalam antaran fasa A dan D.
Kumparan-kumparan sekunder dari transformator-transformator potensial
dihubungkan ke kumparan-kumparan voltmeter dan kumparan-kumparan potensial
wattmeter; kumparan-kumparan sekunder transformator arus mengaliri ampermeter dan
kumparan-kumparan arus watt meter.



Gambar 5-31 Transformator-transformator instrumen dalam pengukuran tiga fasa.
Tanda-tanda polaritas transformator potensial dan transformator arus ditunjukkan
oleh empat persegi panjang hitam.

Tanda-tanda polaritas pada transformator dinyatakan oleh sebuah titik pada
antaran transformator, dengan maksud membuat sambungan polaritas yang tepat ke
alat-alat ukur. Pada setiap saat siklus bolak-balik yang diketahui, terminal-terminal
yang diberi tanda titik mempunyai polaritas yang sama dan terminal -terminal
wattmeter yang diberi tanda harus dihubungkan ke antaran transformator ini seperti
yang ditunjukkan.
PUSTAKA
1. Stout, Melville B., Basic Electrical Measurements, edisi kedua, bab 17.
Englewood Cliffs, N.J. Prentice Hall, Inc., 1960.
2. Bartholomew, Davis, Electrical Measurements and Instrumentation, bab S. Boston :
Allyn and Bacon, Inc., 1963.
114

















SOAL-SOAL
1. Yang mana, dari alat-alat ukur berikut akan mengukur arus bolak-balik tanpa
bergantung pada penggunaan penyearah
(a) Alat ukur besi putar daun radial
(b) Elektrodinamometer
(c) Mekanisme kumparan putar magnet inti
(d) Instrumen termokopel tipe jembatan.
2. (a) Apa yang dimaksud dengan instrumen alih (transfer instrument) ?
(b) Jelaskan mengapa elektrodinamometer dapat digunakan sebagai instrumen alih.
3. Jelaskan mengapa nilai ohm per volt bagian arus bolak-balik (ac) dari sebuah
multi-meter komersil lebih rendah dari bagian arus searah (dc) nya.
4. (a) Apa yang dimaksud dengan kesalahan bentuk gelombang pada suatu pembacaan
voltmeter.
(b) Voltmeter yang mana yang dapat dipengaruhi oleh kesalahan bentuk gelombang.
5. (a) Apa keuntungan utama dari voltmeter elektrostatik.
(b) Jelaskan mengapa instrumen ini memiliki skala "aturan kuadrat".
(c) Dapatkah instrumen ini digunakan sebagai instrumen alih? Mengapa atau meng-
apa tidak?
115

6. Jelaskan prosedur kalibrasi bagi sebuah voltmeter arus bolak-balik tipe elektrodina-
mometer. Nyatakan peralatan laboratorium mana yang diperlukan untuk kalibrasi ini
dan tunjukkan ketelitian yang diharapkan.
7. Diagram rangkaian Gambar 5-5 menunjukkan sebuah voltmeter arus bolak-balik tipe
penyearah. Gerak alat ukur mempunyai tahanan dalam 250 dan memerlukan 1
mA untuk defleksi penuh. Masing-masing dioda mempunyai tahanan-maju 50 dan
tahanan-balik tak berhingga. Tentukan :
(a) Tahanan seri R
s
yang diperlukan untuk defleksi penuh bila tegangan 25 V
rms
dimasukkan ke terminal-terminal alat ukur.
(b) Nilai ohm per-volt dari voltmeter arus bolak-balik ini.
8. Tentukan penunjukan alat ukur pada Soal 7 bila sebuah gelombang segitiga dengan
nilai puncak 20 V dimasukkan ke terminal-terminal alat ukur.
9. Sebuah tahanan 250 dihubungkan paralel terhadap gerak alat ukur instrumen
pada soal 7.
(a) Apa fungsi tahanan ini?
(b) Efek apa yang dimiliki tahanan ini terhadap nilai ohm-per-volt Voltmeter.
(c) Tentukan nilai baru R
s
agar memberikan defleksi penuh untuk tegangan masukan
25 V
rms
.
10. Voltmeter komersil Gambar 5-7 menggunakan gerak alat ukur 1 mA dengan
tahanan dalam 100 . Tahanan shunt terhadap gerak adalah 200 . Dioda D
1
dan D
2

masing-masing mempunyai tahanan maju 200 dan tahanan balik tak berhingga.
(a) Jelaskan fungsi tahanan shunt terhadap gerak alat ukur tersebut
(b) Jelaskan fungsi dioda D
2
.
(c) Tentukan nilai tahanan-tahanan seri R
1
, R
2
dan R
3
jika rangkuman yang di
inginkan berturut-turut adalah 10 V, 50 V, dan 100 V.
11. Sebuah instrumen termokopel membaca 10 A pada defleksi penuh. Tentukan arus
yang nienyebabkan defleksi setengah skala.
12. Buktikan bahwa tiga wattmeter mengukur daya total yang tepat di dalam sebuah
sistem empat kawat tiga fasa. Anggap bahwa beban dihubungkan secara bintang,
setimbang dan resistif murni. Gambarkan diagram fasor yang lengkap dari semua
tegangan fasa dan arus antaran.
13. Berapa wattmeter yang diperlukan untuk mengukur daya total di dalam rangkaian
empat kawat tiga fasa bila beban mengandung sebuah motor induksi dengan hu-
bungan Y ? Anggap bahwa diperlukan menggunakan transformator arus dan poten-
sial, dan gambarkan diagram rangkaian lengkap dari instalasi pengukuran.
14. Apa arti titik-titik tanda pada sebuah transformator arus atau transformator poten-
sial.















116



















6. PRINSIP-PRINSIP DAN PEMAKAIAN POTENSIOMETER

6-1 PENDAHULUAN
Potensiometer adalah sebuah instrumen yang direncanakan untuk mengukur te-
gangan yang tidak diketahui dengan cara membandingkannya terhadap tegangan yang
diketahui. Tegangan yang diketahui dapat disuplai dari sebuah sel standar atau setiap
sumber tegangan referensi yang diketahui. Pengukuran-pengukuran dengan mengguna-
kan cara perbandingan mampu menghasilkan tingkat ketelitian yang sangat tinggi sebab
hasil yang diperoleh tidak bergantung pada defleksi aktual jarum penunjuk sebagaimana
halnya pada instrumen kumparan putar; tetapi hanya bergantung pada ketelitian tegang-
an standar yang diketahui terhadap mana perbandingan dilakukan.
Karena potensiometer memanfaatkan kondisi setimbang atau kondisi nol,
maka bila instrumen tersebut dibuat setimbang, tidak ada daya yang diambil dari
rangkaian yang, mengandung ggl yang tidak diketahui; sebagai akibatnya,
penentuan tegangan tidak bergantung dari tahanan sumber. Walaupun potensiometer
mengukur tegangan, din dapat juga digunakan untuk menentukan arus dengan
hanya mengukur penurunan tegangan yang dihasilkan oleh arus tersebut melalui
sebuah tahanan yang diketahui.
Potensiometer digunakan secara luas untuk mengalibrasi voltmeter dan
ampermeter dan melengkapi cara standar untuk mengalibrasikan instrumen-instrumen
ini. Karena itu potensiometer merupakan sebuah instrumen penting dalam bidang
pengukuran listrik dan kalibrasi.

6-2 RANGKAIAN-RANGKAIAN POTENSIOMETER
6-2-1 Rangkaian dasar
Prinsip kerja semua potensiometer didasaikan pada rangkaian Gambar
6-1 yang menunjukkan skema dasar dari potensiometer kawat geser (slide-wire).
Kita akan mempelajari operasi rangkaian dasar ini secara keantitatif dan kemudian
melanjutkannya ke instrumen-instrumen potensiometer yang lebih rumit.
117


Gambar 6-1 Diagram rangkaian potensiometer kawat geser dasar
Dengan memindahkan sakelar ke S ke posisi "operasi" dan membuat
sakelar kunci potensiometer K terbuka, batere kerja akan menyalurkan arus ke
tahanan-geser dan kawat geser. Arus kerja melalui kawat geser dapat diubah
dengan mengubah posisi tahanan geser. Metoda pengukuran tegangan yang tidak
diketahui, E, bergantung pada cara mendapatkan suatu posisi kontak geser
sedemikian rupa sehingga galvanometer menunjukkan defleksi nol bila sakelar
galvanometer K ditutup. Arus galvanometer nol berarti bahwa tegangan E yang
tidak diketahui sama dengan penurunan tegangan E' pada bagian xy dari kawat
geser. Penentuan nilai tegangan yang tidak diketahui selanjutnya menjadi masalah
penentuan penurunan tegangan E' sepanjang kawat geser.
Kawat geser diproduksi secara cermat dan memiliki tahanan yang serba
sama sepanjang seluruh kawat. Sebuah skala yang telah dikalibrasi yang biasanya
dalam skala centimeter dan milimeter terdapat sepanjang kawat geser sehingga kontak
geser dapat dipindahkan secara cermat ke setiap posisi yang diinginkan. Karena
tahanan kawat geser telah diketahui secara tepat, penurunan tegangan sepanjang
seluruh kawat tersebut atau sepanjang bagian

kawat dapat dikontrol dengan mengatur
arus kerja (working current).
Sebagai langkah awal dalam prosedur pengukuran , arus kerja perlu diatur
atau distabdarkan ke sebuah sumber tegangan referensi yang diketahui seperti sel
standar dalam Gambar 6-1. Prosedur ini dijelaskan dalam pembahasan berikut:
Kawat geser mempunyai panjang total 200 cm dan tahanan 200 . Gaya gerak
listrik (ggl) tegangan referensi yang ditunjukkan oleh sel standar dalam Gambar 6-1
adalah 1,019 V. Sakelar S ditempatkan pada posisi kalibrasi dan kontak geser diatur
agar memberikan arus kerja sedemikian rupa, sehingga bila sakelar ditutup
galvanometer tidak menghasilkan defleksi. Dalam kondisi setimbang ini penurunan
tegangan pada kawat sepanjang 101,9 cm sama dengan tegangan sel standar sebesar
1,019 V. Karena bagian kawat sepanjang 101,9 cm menyatakan tahanan sebesar 101,9
, yang berarti arus kerja telah diatur ke 10 mA. Tegangan pada setiap titik sepanjang
kawat geser sebanding dengan panjang kawat geser dan diperoleh dengan mengubah
panjang yang terkalibrasi menjadi tegangan yang sesuai dengannya hanya dengan
menempatkan titik desimal ke posisi yang sesuai (misalnya 146,3 cm = 1,463 V). Sekali
dikalibrasi, arus kerja tidak pernah berubah.
Setelah potensiometer distandarkan, setiap tegangan dc yang kecil yang
tidak diketahui (maksimum 1,6 V) dapat diukur. Sakelar S dipindahkan ke posisi
"operasi" dan kotak geser digerakkan sepanjang kawat sampai galvanometer tidak
menunjukkan defleksi bila sakelar K ditutup. Pada konsisi nol ini, tegangan E yang
tidak diketahui sama dengan penurunan tegangan E' sepanjang bagian xy dari kawat
118

geser, dan pembacaan skala kawat geser secara mudah diubah ke nilai tegangan yang
sesuai.
Contoh 6-1 : Potensiometer dasar kawat geser Gambar 6-1 mempunyai batere kerja
3,0 V dengan tahanan dalam yang diabaikan. Tahanan kawat geser adalah 400
dan panjangnya 200 cm. Sebuah skala 200 cm sepanjang kawat geser mempunyai
bagian skala 1 mm dan dapat diinterpolasi pada nilai seperempat dari satu bagian
skala. Instrumen distandarkan terhadap sebuah sumber tegangan referensi 1,0180 V
dengan menyetel kontak geser ke
.
posisi 101,8
.
cm pada skala.
Tentukan : (a) arus kerja; (b) nilai tahanan geser; (c) rangkuman pengukuran; (d) re-
solusi instrumen dinyatakan dalam mV.
Penyelesaian :
Bila instrumen distandarkan, tanda 101,8 cm pada skala sesuai dengan 1,0180 V (E'
dalam Gambar 6-1). 101,8 cm kawat geser menyatakan tahanan sebesar 101,8/200 x
400 = 203,6 . Berarti arus kerja akan menjadi 1,0180 V/203,6 = 5 mA.
(a) Dengan arus kerja sebesar 5 mA penurunan tegangan pada seluruh kawat geser
adalah 5 mA x 400 = 2,0 V. Dengan demikian penurunan tegangan pada tahanan
geser adalah 3,0 - 2,0 = 1,0 V dan penyetelan tahanan geser menjadi 1,0 V/5 mA 200
.
(b) Rangkuman pengukuran ditentukan oleh tegangan total seluruh kawat gesel,
yaitu 5 mA x 400 = 2,0 V.
(c) Resolusi potensiometer ditentukan dari tegangan yang dinyatakan oleh
seperempat dari satu bagian skala yaitu 0,25 mm. Karena panjang total 200 cm
menyatakan tegangan 2,0 V, resolusi adalah
mV V x
cm
mm
25 , 0 0 , 2
200
25 , 0
=

6-2-2 Potensiometer satu rangkuman
Potensiometer kawat geser memiliki konstruksi kurang praktis. Potensiometer
tipe laboratorium modern menggunakan tahanan tingkat (dial reisistor) yang telah
dikalibrasi dan sebuah kawat geser berbentuk lingkaran kecil dengan salah satu atau
lebih gulungan sehingga memperkecil dimensi instrumen. Gambar 6-2 menunjukkan
diagram skema sebuah potensiometer sederhana dimana kawart geser yang panjang
digantikan oleh gabungan 15 tahanan presisi beserta kawat geser berbentuk lingkaran
satu gulungan. Dalam hal ini kawat geser adalah 10 dan tahanan-tahanan piringan
(dial) mempunyai nilai masing-masing 10 sehingga tahanan total sakelar
tingkat/piringan (dial switch) adalah 150 . Kawat geser dilengkapi dengan 200
pembagian skala dan interpolasi sebesar seperlima dari satu bagian skala dapat ditaksir
dengan baik. Arus kerja potensiometer dipertahankan pada 10 mA sehingga setiap satu
langkah dari sakelar tingkat menyatakanl tegangan 0,1 V. Masing-masing bagian skala
pada skala kawat geser menyatakan 0,0005 V dan pembacaan dapat ditaksir sampai
sekitar 0,0001 V.






119




Gambar 6-2 Diagram rangkaian sebuah potensiometer sederhana yang menunjukkan
pemakaian tahanan tingkat dan kawat geser berbentuk lingkaran.

Contoh 6-2 : Potensiometer satu rangkuman pada Gambar 6-2 diperlengkapi
dengan sakelar tingkat 20 langkah dimana masing-masing langkah
menyatakan 0,1 V. tahanan masing-masing tingkat adalah 10 . Kawat
geser 11 gulungan yang mempunyai tahanan 11 , memperbolehkan saling
menutupi sebagian antara penyetelan-penyetelan sakelar tingkat. Skala kawat
geser berbentuk lingkaran mempunyai 100 bagian skala dan interpolasi dapat
dilakukan pada seperlima dari satu bagian skala. Batere kerja mempunyai
tegangan terminal 6,0 V dan tahanan dalam yang diabai kan.
Tentukan : (a) rangkuman pengukuran potensiometer; (b) resolusi dalam /IV;
(c) arus kerja; (d) penyetelan tahanan geser.
Penyelesaian :
(a) Tahanan total rangkaian pengukuran R
m
adalah ;
R
m
= R
piringan
+ R
kawat geser
= (20 x 10) + 11 = 211
Karena setiap langkah 10 menyatakan tegangan 0,1 V, rangkuman total peng-
ukuran adalah 211/10 x 0,1 V = 2,11 V.
(b) Kawat geser 11 menyatakan tegangan 0,11 V. Berarti tiap gulungan tahanan geser
menyatakan 0,11 V/11 = 0,01 V, atau 10 mV. Tiap bagian skala pada skala kawat
geser menyatakan 1/100 x 10 mV = 0,1 mV, atau 100 V. Jadi solusi instrumen
adalah 1/5 x 100 V = 20 V.
(c) Untuk mempertahankan tegangan sebesar 0,1 V pada tiap-tiap tahanan piringan 10
, arus kerja harus 0,1 V/10 = 10 mA.
(d) Karena tegangan pada keseluruhan tahanan pengukuran 2,11 V, maka penurunan
tegangan pada tahanan geser harus 6,0 V 2,11 V = 3,89 V. Dengan demikian
penyetelan tahanan geser adalah 3,89 V/10 mA = 389


6-2-3 Pengukuran Tegangan Potensiometrik
120

Langkah-langkah yang diperlukan dalam melakukan suatu pengukuran
potensiometrik adalah sebagai berikut:
(a) Kombinasi tahanan-tahanan piringan dan kawat geser diatur ke nilai tegangan sel
standar (nilai ini biasanya dituliskan pada tubuh sel);
(b) Sakelar dipindahkan ke posisi "kalibrasi" dan sakelar galvanometer K dicabangkan
sewaktu tahanan geser diatur untuk memberikan defleksi nol pada galvanometer.
Rangkaian pengaman dibiarkan di dalam rangkaian guna mencegah kerusakan
galvanometer selama pengaturan tingkat awal.
(c) Setelah defleksi nol hampir tercapai, tahanan pengaman dihubungsingkatkan dan
penyetelan akhir dilakukan dengan mengontrol tahanan geser.
(d) Setelah standardisasi selesai, sakelar dipindahkan ke posisi "operasi", berarti
menghubungkan ggl yang tidak diketahui ke rangkaian. Instrumen dibuat setimbang
oleh piringan utama (main dial) dan kawat geser, dengan tetap membiarkan
tahanan, pengaman di dalam rangkaian.
(e) Begitu kesetimbangan hampir tercapai, tahanan pengaman dihubungsingkatkan dan
penyetelan akhir dilakukan guna mendapatkan suatu kondisi setinibang yang
sebenarnya.
(f) Nilai tegangan yang tidak diketahui dibaca langsung dari penyetelan-
penyetelan piringan.
(g) Arus kerja diperiksa dengan mengembalikan ke posisi "kalibrasi". Jika
penyetelan-penyetelan piringan persis sama dengan prosedur kalibrasi semula,
pengukuran yang dilakukan telah memenuhi. Jika pecmbacaan tidak sesuai,
pengukuran kedua harus dilakukan dan kembali lagi ke pengujian kalibrasi.

6-2-4 Potensiometer dua rangkuman
Potensiometer satu rangkuman pada Bab 6-2-2 biasanya dibuat untuk meliput
rangkuman tegangan sampai 1,6 V. Rangkaian dapat diubah agar mencakup
rangkuman pengukuran lain dari nilai yang lebih rendah dengan menambahkan dua
tahanan rangkuman dan satu sakelar rangkuman. Gambar 6-3 menunjukkan diagram
skema sebuah potensiometer dua rangkuman, di mana R
I
dan R
2
adalah tahanan-
tahanan rangkuman dan sakelar S adalah sakelar rangkuman. Bekerjanya
potensiometer ini dapat lebih mudah dimengerti dan dianalisa dengan
menggambarkannya dalam bentuk yang disederhanakan yaitu menghilangkan sebagian
dari perincian rangkaian galvanometer dan rangkaian kalibrasi. Skema yang
disederhanakan ditunjukkan pada Gambar 6-4.



Gambar 6-3 Diagram skema potensiometer dua rangkuman
121


Pada Gambar 6-4 tahanan pengukuran total R
m
terdiri dari kawat geser yang
dihubungkan seri dengan piringan utama. Piringan utama terdiri dari 15 tingkatan
dengan masing-masing 10 sehingga tahanan. total 150 . Tahanan kawat geser
adalah 10 Untuk menghasilkan suatu penurunan tegangan sebesar 1,6 V pada
piringan utama dan kawat geser, arus pengukuran. I
m
harus 10 mA. Bila sakelar
rangkuman dibuat pada posisi x 0,1, arus pengukuran I
m
harus diturunkan menjadi
sepersepuluh dari nilai semula, yakni 1 mA, agar diperoleh suatu penurunan tegangan
0,16 V pada tahanan pengukuran R
m
.

Adalah penting dalam perencanaan rangkaian

agar rangkaian tersebut
mampu mengubah rangkuman tanpa mengatur kembali tahanan geser atau
tanpa megubah tegangan batere kerja. Sekali insliumen telah dikalibrasi pada
rangkuman x 1 dengan mengikuti prosedur standardisasi pada Bab 6-2-3, kalibrasi
rangkuman x 0,1 tidak diperlukan. Ini memerlukan bahwa tegangan E dalam Gambar
6-4 tetap sama pada kedua posisi sakelar rangkuman. Kondisi ini hanya dipengaruhi
bila arus total batere mempunyai nilai yang sama bagi setiap rangkuman pengukuran.

Gambar 6-4 Diagram skema yang disederhanakan untuk potensiometer dua rangkuman

Untuk menganalisa bekerjanya potensiometer dua rangkuman pada Gambar 6-4
digunakan rangkaian dasar rangkuman x 1 dan x 0,1 seperti ditunjukkan pada
Gambar 66-5. Pada rangkuman x 1 (Gambar 6-5(a) ), tahanan-tahanan rangkuman R
1
dan R
2
paralel terhadap tahanan total R
m
. Pada rangkuman x 0,1 (Gambar 6-5(b)),
tahanan rangkuman R
1
paralel terhadap kombinasi seri dari R
2
dan R
M
. Suatu arus
batere yang konstan hanya mungkin bila tahanan rangkaian total pada masing-
masing rangkuman adalah sama. Menyamakan tahanan-tahanan Gambar 6-5(a) dengan
Gambar 6-5(b), menghasilkan

m
m
m
m
R R R
R R R
R R R
R R R
+ +
+
=
+ +
+
2 1
2 1
2 1
2 1
) ( ) (
(6-1)


Dan setelah disederhanakan,
2 1 2
R R R R
m
= atau
m
R R =
1
(6-2)
Persamaan (6-2) menunjukkan bahwa tahanan rangkuman R
I
harus sama dengan
tahanan pengukuran R
m
, agar batere menyalurkan arus yang sama pada kedua
rangkuman.
Tegangan E' harus sama pada kedua posisi sakelar rangkuman guna mengubah
rangkuman-rangkuman tanpa mengacaukan kalibrasi permulaan. E' dapat dievaluasi de-
ngan menunjuk ke Gambar 6-5. Dengan posisi sakelar pada x 1 [Gambar 6-5(a)],
m m
R I E =
'
(6-3)

122



GAMBAR 6-5 Rangkaian elementer dari potensiometer dua rangkuman yang
menunjukkan rangkaian (a) pada rangkuman x I dan (b) pada rangkuman x 0.1.

Dengan sakelar pada posisi x 0,1 (Gambar 6-5(b) ),
1 2
'
R I E = (6-4)
Gabungan persamaan (6-3) dan (6-4) menghasilan
1 2
'
R I R I E
m m
= = (6-5)

Substitusi Persamaan (6-2) ke dalam persamaan (6-5), diperoleh
2
I I
m
= (6-6)
Persamaan (6-6) menunjukkan bahwa arus shunt I
2
pada rangkaian x 0,1 harus sama
dengan arus pengukuran I
m
pada rangkuman x 1.
Arus batere I
t
dalam Gambar 6-5(a) adalah
m t
I I I + =
1
(6-7)
Arus batere I
t
dalam Gambar 6-5(b) adalah

m t
I I I 1 , 0
2
+ = (6-8)
Gabungkan persamaan (6-7) dan (6-8) dan gunakan persamaan (6-6) diperoleh
m m
I I I I 1 , 0
2 1
+ = +
atau
m
I I 1 , 0
1
= (6-9)
Akhirnya, dengan memperhatikan kembali Gambar 6-5(a), maka untuk menetapkan
tahanan R
2
, hanya tidak diketahui yang dibiarkan di dalam rangkaian potensiometer.
Penurunan tegangan pada R
m
harus sama dengan penurunan tegangan pada kombinasi
seri R
1
dan R
2
; menjadi
m m
R I R R I = + ) (
2 1 1
(6-10)

Subtitusikan persamaan (6-2) dan (6-9) ke dalam (6-10) menghasilkan
1 2 1
) ( 1 . 0 R I R R I
m m
= +
Atau
1 2
9 R R = (6-11)

Pada rangkaian Gambar 6-4, di mana tahanan pengukuran R
m
= 160 , kita
dapatkan bahwa R
1
=R
m
=160 d a n R
2
= 9 R
1
= 9 x 160 = 1440 . Karena kita
telah hahwa arus pengukuran adalah 10 mA pada rangkuman x 1, maka arus
shunt I
1
=0,1 N 10 mA=1 mA, dan arus total batere adalah I
t
= 11 mA. Pada rangkuman
x 0,1, arus pengukuran adalah 0,1 I
m
= 1 mA dan arus shunt I
2
= i
M
= 10 mA, lagi-lagi
memberikan arus kerja total sebesar 11 mA. Berarti persyaratan arus kerja yang
konstan pada kedua rangkuman telah dipenuhi.
Kalibrasi potensiometer dua rangkuman dilakukan dengan cara yang biasa yaitu
pada posisi rangkuma x 1. Tahanan-tahanan rangkuman R
1
dan R
2
keduanya adalah
tahanan presisi dan kalibrasi permulaan harus berlaku untuk rangkuman yang lebih
rendah.potensiometer pada Gambar 6. 1 dapat di gunakan untuk mengukur
tegangan-tegangan sampai 0,16 pada rangkuman yang lebih rendah.
Pembacaan-pembacaan piringan (dial) hanya dikalikan dengan faktor
123

rangkuman sebesar 0, 1. Jika kawat geser mempunyai 100 pembagian skala yang
dapat diinterpolasi pada sepersepuluh dari satu bagian skala, resolusi pembacaan
potensiometer pada rangkuman x 0,1 adalah 1/5 x 1/100 x 0,01 V = 20 V.
Potensiometer dua rangkuman pada Gambar 6-3 dibuat untuk perbandingan
(rasio) tegangan sebesar 10/1. Susunan yang serupa dapat digunakan untuk setiap
perbandingan lain dengan pemilihan tahanan rangkuman R
I
dan R
2
yang sesuai.


6-2-5 Potensiometer rangkuman ganda
Potensiometer-potensiometer laboratorium presisi biasanya memiliki tiga rang-
kuman tegangan: rangkuman tinggi (1,6 V), rangkuman menengah (0,16 V), dan rang-
kuman rendah (0,016 V). Diagram rangkuman yang disederhanakan dari sebuah instru-
men tiga rangkuman yang diberikan pada Gambar 6-6 menunjukkan bahwa rangkaian
sakelar rangkuman sedikit lebih rumit dari potensiometer dua rangkuman pada. Gambar
6-3; walaupun tentunya dia melakukan fungsi yang sama. Untuk mempertahankan kali-
brasi instrumen bila operator memindahkan sakelar dari satu rangkuman ke rangkuman
berikutnya, arus total batere harus dijaga konstan pada ketiga rangkuman pengukuran.
Standardisasi arus kerja dilengkapi dengan dua tahanan geser 10 gulungan yang
dihubungkan seri, sebuah tahanan geser pengatur "kasar" dan sebuah pengatur "peka"
dan arus dapat disetel ke suatu derajat resolusi yang tinggi.
Tingkat ketelitian pengukuran biasanya dihubungkan dengan potensiometer
presisi sedemikian rupa sehingga rangkaian memerlukan komponen-komponen stabilitas
tinggi dan sambungan-sambungan yang dirangkai secara cermat; sebagai akibatnya
beberapa elemen rangkaian harus dilindungi secara termal dan secara elektrostatik. Ciri
tidak langsung kelihatan dari diagram rangkaian, tetapi umumnya bersatu di dalam po-
tensiometer presisi, meliputi pembalikan sakelar pada detektor dan tegangan yang tak
diketahui, pembacaan numerik dari susunan pengukuran, dan penempatan otomatik dari
titik desimal dalam pembacaan.



Gambar 6-6 Potensiometer laboratorium tiga rangkuman

Gambar 6-7 menunjukkan sebuah potensiometer portabel yang dirancang khusus
untuk mengalibrasi instrumen-instrumen yang dioperasikan oleh termokopel dan untuk
pengukuran tegangan termokopel. Diagram rangkaian yang disederhanakan bagi instru-
men ini diberikan pada Gambar 6-8. Pembaca disarankan untuk mempelajari diagram ini
124

dan menghubungkan berbagai pengontrolan yang ditunjukkan dalam gambar terhadap
diagram rangkaian yang aktual.

Gambar 6-7 Instrumen portabel yang dirancang untuk mengalibrasi instrumen yang
dioperasikan oleh termokopel dan mengukur tegangan termokopel pada rangkuman -1
sampai +15 mV dan 0 sampai 80 mV (seijin Honeywell Test Test Instruments Division,
Denver, Colo).



6-3 KOTAK VOLT
Potensiometer untuk pemakaian umum biasanya menyangkut pengukuran dalam
rangkuman 0 V sampai 1,0 Vdc. Jika tegangan yang akan diukur lebih tinggi
digunakan sebuah pembagi tegangan yang presisi, atau kotak volt, yang digunakan
untuk memperbesar batas ukur potensiometer. Sebagai contoh pemakaian khas
ditemukan dalam kalibrasi voltmeter dc dan wattmeter (Bab 6-6)
Gambar 6-9 adalah diagram skema dari sebuah kotak volt dengan rangkuman
dari 3 V sampai 750 Vdc. Tegangan yang diukur ke terminal-terminal antaran (line")
dan rangkuman tegangan yang sesuai dipilih dengan menyetel sakelar pilih berputar.
Nilai-nilai tahanan dipilih sedemikian, sehingga keluaran pembagi tegangan yang
dihubungkan ke potensiometer sama dengan 150 mV pada tegangan masukan maksimal
pada masing-masing rangkuman.








125




Gambar 6-8 Diagram skema yang disederhanakan untuk potensiometer portable dari
Gambar 6-7 (seijin Honeywell Test Test Instruments Division, Denver, Colo).



Gambar 6-9 Diagram skema sebuah kotak volt

Arus yang disalurkan dari sumber tegangan yang diukur dapat dibuat sangat
kecil dengan menggunakan pembagi tegangan tahanan tinggi. Namun dalam praktek,
pemiliha nilai-nilai tahanan mencakup kompromi (persesuaian) : tahanan tinggi
diinginkan untuk memperkecil arus yang mengalir dari sumber tegangan, meskipun
tahanan-tahanan rendah umumnya lebih stabil. Juga, tahanan-tahanan rendah
menghasilkan sensitivitas galvanometer yang lebih tinggi dan memperkecil efek
kebocoran tahanan tinggi sekitar apitan kutub. Dalam gambar 6-9 tahanan total adalah
relatif tinggi (750 /V) dengan jaminan aliran arus yang kecil pada sumber tegangan
yang tidak diketahui (paling besar 1,33 mA).
Kestabilan yang sangat baik dan ketelitian yang tinggi dapat dicapai dengan
mengunakan komponen-komponen bermutu tinggi seperti tahanan kawat bahan
manganin dan kontak-ontak paduan perak bagi sakelar berputar. Pada. sebuah kotak volt
yang khas, batas kesalahan adalah dalam orde 0,02%.

6-4 KOTAK SHUNT
126

Kotak Shunt dimaksudkan untuk digunakan bersama potensiometer dalam
pengukuran presisi searah dan untuk kalibrasi amperemeter dc dan wattmeter (Bab 6-6).

Gambar 6-10 Diagram skema sebuah kotak shunt


Gambar 6-10 adalah sebuah diagram skema dari sebuah kotak shunt khas.
Arus yang diukur dimasukkan melalui terminal-terminal antaran kotak dan
menghasilkan penurunan tegangan pada tahanan shunt. Sebuah sakelar putar
memungkinkan pemilihan rangkuman arus yang diinginkan dari 75 mA sampai 15
A dc. Seperti halnya pada kotak volt Gambar 6-9, tegangan keluaran kotak shunt di
terminal-terminal potensiometer sama dengan 150 mV pada arus maksimum di tiap
rangkuman. Dengan tahanan shunt total sebesar 2,0 , disipasi daya paling besar
hanya 2,25 W, sehingga kesalahan karena pemanasan sendiri dari tahanan-tahanan
dipertahankan pada nilai minimumnya.
Dalam situasi pengukuran khas tegangan yang dibangkitkan pada tahanan
shunt diukur oleh sebuah potensiometer. Dengan menempatkan sakelar pemilih pada
0,75 A seperti ditunjukkan pada gambar, arus sebesar 600 mA akan membangkitkan
tegangan keluaran sebesar 600/750 x 150 mV = 120 MV. Sebaliknya, pembacaan
potensiometer sebesar 120 mV menunjukkan bahwa shunt membawa arus sebesar
120/150 x 750 mA= 600 mA.
Pemakaian komponen-komponen bermutu tinggi seperti tahanan kawat
manganin dan kontak-kontak paduan perak pada sakelar rangkuman menghasilkan
stabilitas listrik yang sangat baik, mengakibatkan suatu Batas kesalahan dalam orde
0,02 persen.


6-5 DETEKTOR NOL
Potensiometer-potensiometer portabel seperti ditunjukkan pada Gambar 6-7
umumya berisi sebuah detektor di dalamnya yang sesuai terhadap rangkaian
potensiometer yang lainnya. Detektor atau galvanometer ini biasanya merupakan
sebuah bentuk bin dari gerak d'Arsonval yang telah dikenal dan semata-mata
menunjukkan kondisi tidak setimbang selagi jarum berdefleksi pada sebuah skala.
Potensiometer-potensiometer laboratorium presisi umumnya tidak mempunyai
indikator yang terpasang di dalam, tetapi harus dilengkapi dengan sebuah
galvanometer atau detektor nol yang dilitihimr. kan di luar.
Pada dasarnya ads tiga jenis detektor nol, yaitu :
(a) Galvanometer jenis penunjuk dengan suspensi ban kencang (taut-band),
umumnya ditemukan dalam instrumen-instrumen portabel. Ini merupakan
detektor nol yang, cukup kasar dengan sensitivitas 1,0 A sampai 0,1A setial)
bagian skala.
127

(b) Galvanometer refleksi dilengkapi dengan lampu dan skala, khususnya
digunakan dilaboratorium. Galvanometer ini memiliki sensitivitas tinggi,
biasanya dalam rangkuman 0,1 A sampai 0,01 A setiap bagian skala.
(c) Detektor nol elektronik (electronic null detector) dengan rangkaian semi
konduktor memiliki sensitivitas yang sangat baik pada impedansi masukan yang
tinggi dan sangat kasar tetapi cukup mahal.
Pemilihan tipe detektor nol yang paling baik untuk suatu pemakaian tert entu
bergantung pada beberapa faktor. Pada galvanometer jarum penunjuk atau
galvanometer defleksi, faktor-faktor yang menentukan mencakup : sensitivitas, tahanan
kumparan galvanometer, perioda galvanometer, dan tahanan peredam kritis luar
(ECDR) dari rangkaian. Secara umum dapat dikatakan, sensitivitas galvanometer
yang tinggi bersekutu dengan perioda yang lama dan tahanan redaman luar yang besar.
Namun, sebuah galvanometer sensitivitas tinggi sulit dirangkai dan cenderung
tidak stabil pada titik defleksi nol-nya, sehingga pemilihan galvanometer sering
membutuhkan pertimbangan antara sensitivitas dan kemudahan operasi.
Gambar 6-11 menunjukkan sebuah skema galvanometer refleksi dengan
lampu dan skala lengkap yang telah terpasang di dalamnya. Lampu A dipasang di
dalam sebuah rumah dekat bagian belakang instrumen. Cahaya bersinar melalui
sebuah tabung berisi sebuah lensa cembung datar B. Permukaan datar lensa ini dilapisi
perak, dipasang menghadap lampu, kecuali sebuah celah persegi sempit yang sisi -sisi
panjangnya vertikal. Sebuah garis rambut halus menyilang celah paralel terhadap sisi-
sisi panjangnya.
Lensa-lensa menghasilkan sebuah bayangan dari filamen lampu dan garis
rambut melalui sebuah lensa akromatik C ke cermin galvanometer D yang dipasang
pada kumparan potensiometer. Cermin berputar menurut perimbangan sewaktu
menanggapi arus melalui kumparan, dan memantulkan kembali berkas cahaya
melalui lensa C menuju cermin silidris E yang berada di bagian belakang kotak
instrumen. Di sini bayangan tersebut diperbesar dan dipantulkan ke skala penunjuk F
di bagian depan. Efek gabungan dari lensa C dan cermin silindris membentuk
bayangan utama garis rambut dan. digunakan sebagai pedoman untuk menunjukkan
defleksi.



Gambar 6-11 Skema subuah galvanometer refleksi bersama lampu dan skala

Sewaktu berkas cahaya dipantulkan oleh cermin galvanometer ke cermin
silindris, dia lewat melalui gelas bening G. Hampir semua cahaya lewat melalui
gelas tersebut tetapi sebagian kecil dipantulkan ke skala untuk membentuk sebuah
bayangan sekunder. Bayangan sekunder ini muncul sebagai bintik terang sempit yang
terpusat pada bayangan primer. Dia bergerak sedikit sekali pada defleksi bayangan
128

primer yang relatif besar (rasio 1/10) dan sangat berguna dalam menentukan arah
defleksi sekiranya bayangan primer berada di luar skala.
Detektor nol elektronik mempunyai keuntungan pada impedansi masukan
dan sensitivitas yang tinggi. Umumnya dia berisi sebuah penguat dc semi
konduktor beserta sebuah pelemah masukan yang dilengkapi dengan beberapa
rangkuman masukan terkalibrasi melalui sakelar pemilih. Setiap penyimpangan dari
kondisi nol ditunjukkan oleh defleksi jarum pada alat ukur yang titik nolnya berada di
tengah.

6-6 KALIBRASI VOLTMETER DAN AMPERMETER
Metoda potensiometer mempakan dasar yang umum untuk mengalibrasi
voltmeter, ampermeter dan wattmeter. Karena potensiometer adalah alat ukur arus
searah (dc), instrumen yang akan dikalibrasi hams dari jenis dc atau elektro-
dinamometer. Rangkaian pada Gambar 6-12 menunjukkan susunan pengukuran
untuk kalibrasi sebuah voltmeter arus searah. Salah satu persyaratan pertama dalam
prosedur kalibrasi ini adalah tersedianya sumber de yang stabil dan sesuai, karena
setiap perubahan dalam tegangan sumber menyebabkan perubahan yang sesuai pada
tegangan kalibrasi voltmeter.





Gambar 6-12 Kalibrasi sebuah voltmeter arus searah dengan metoda potensiometer

Gambar 6-12 menunjukkan bahwa sebuah rangkaian pembagi tegangan yang
terdiri dari dua tahanan geser guna pengaturan tegangan kalibrasi secara kasar dan peka,
dihubugkan antara terminal-terminal sumber daya. Tegangan pada voltmeter diturunkan
ke suatu harga yang sesuai untuk hubungan ke potensiometer dengan menggunakan
sebuah kotak volt. Tegangan yang dimasukkan ke kotak volt tersebut diatur oleh dua
tahanan geser sampai jarum penunjuk berhenti pada suatu bagian skala utama.
Potensiometer di gunakan untuk menentukan nilai sebenarnya dari tegangan ini. Bila
pembacaan potensiometer tidak sesuai dengan penunjukan voltmeter, kesalahan positif
atau negatif akan ditunjukkan. Sejumlah bagian skala utama yang dipilih diperiksa
melalui cara ini, pertama-tama pada pertambahan tegangan (skala naik) dan
kemudiaii pada penurunan te gangan (skala turun). Setelah pembacaan ini dilakukan
pada titik-titik Skala yang
.
dipilih, kurva kalibrasi digambarkan. Sebuah contoh
data yang siperlukan untuk membuat sebuah kurva kalibrasi siberikan pada
Tabel 6-1


Tabel 6-1 Hasil Kalibrasi sebuah voltmeter dc dengan metoda potensiometer (dalam
Volt)
Pembacaan skala
voltmeter
Pembacaan voltmeter
sebenarnya
Koreksi
0.0 0.00 0.00
129

1.0 0.95 -0.05
2.0 2.00 0.00
3.0 3.05 +0.05
4.0 4.10 +0.10
5.0 5.10 +0.10
6.0 6.15 +0.15
7.0 7.10 +0.10
8.0 8.15 +0.15
9.0 9.20 +0.20
10.0 10.25 +0.25

Kolom pertama tabel ini menunjukkan bagian-bagian skala utama dalam mana
pembacaan kalibrasi dilakukan. Kolom kedua memberikan nilai yang benar dari
tegangan-tegangan kalibrasi sebagaimana diukur dengan potensiometer. Selisih
antara kedua tegangan ini disebut nilai koreksi, ditunjukkan dalam kolom ketiga. Nilai
koreksi didefinisikan sebagai pembacaan tegangan yang sebenarnya dikurangi dengan
pembacaan skala; dan berarti dapat positif atau negatif. Dengan demikian, koreksi
sebagaimana didefinisikan di sini hareu ditambahkan ke nilai yang diamati guna
mendapatkan nilai yang benar.
Gambar 6-13 menunjukkan kurva kalibrasi yang digambarkan menurut data
yang diberikan oleh Tabel 6-1. Pembacaan-pembacaan skala dari kolom 1 digambarkan
sepanjang, absisi dan nilai koreksi yang sesuai (kolom 3) digambarkan sepanjang
ordinat.



Gambar 6-13 Kurva kalibrasi khas

Karena tidak ada yang diketahui dari variasi antara titik-titik skala yang diamati, peng-
amatan-pengamatan ini dihubungkan oleh garis-garis lurus yang menghasilkan kurva kalibrasi
khas seperti ditunjukkan pada gambar.
Bila sebuah voltmeter menerima kalibrasi awalnya, misalnya dalam hal instrumen
tersebut akan dilengkapi dengan suatu skala baru, prosedurnya adalah sebagai berikut:
Tegangan yang tertera pada instrumen diatur dengan menggunakan dua tahanan-geser dan
disetel pada salah satu dari nilai-nilai tegangan utama (misalnya 1,0 V; 2,0 V;).
Pengaturan dilakukan sampai potensiometer menunjukkan bahwa nilai yang diinginkan betul-
betul telah tercapai, dan kemudian tanda skala dituliskan pada skala. Dengan cara ini
sejumlah titik-titik tegangan utama ditandai pada skala, sedang nilai-nilai tengahnya
diinterpolasi.
Karena proses kalibrasi ini memakan waktu banyak, metoda potensiometer serial,
digunakan untuk mengalibrasi voltmeter laboratorium standar. Voltmeter standar jenis ini
130

merupakan instrumen yang sangat presisi dengan menggunakan sebuah skala besar yang
dilengkapi dengan cermin untuk mempertinggi ketelitian pembacaan. Ketelitian instrumen
sedemikian ini umumnya lebih besar dari 0,1% pembacaan skala penuh. Aral ukur
laboratorium biasa dan instrumen-instrumen panel kemudian diperiksa dengan
membandingkannya terhadap standar laboratorium ini, sebagai pengganti terhadap
sebuah potensiometer.
Gambar 6-14 menunjukkan rangkian yang digunakan untuk mengalibrasi sebuah
ampermeter. Sebuah kotak shunt (lihat Gambar 6-10) dihubungkan seri dengan ampei meter
yang akan dikalibrasi. Tegangan pada kotak shunt diukur oleh potensiometer, dan arus
melalui shunt yang berarti melalui ampermeter, ditentukan. Karena tahanan shunt diketahui
secara tepat dan tegangan pada shunt diukur oleh potensiometer, metoda kalibras,
ampermeter ini sangat teliti. Prosedur kalibrasi aktual di berbagai titik pada Skala alat ukur
sangat mirip dengan kalibrasi pada voltmeter. Sebuah kurva kesalahan (atau kurva
kalibrasi) dapat digambarkan dengan cara yang telah dibicarakan.



Gambar 6-14 Kalibrasi sebuah ampermteer dengan metoda potensiometer


6-7 POTENSIOMETER YANG MENYETIMBANGKAN SENDIRI (SELF
BALANCING POTENSIOMETER)

Potensiometer self-balancing dipakai secara luas dalam industri sebah I idak
Im-111. I lukan perhatian yang tetap dari seorang operator. Di samping sifat
membuat seimbang secara otomatis, dia menggambarkan kurva besaran yang
diukur dan dapat dipasang pada sebuah papan hubung (switch-board) atau panel
tujuan pemonitoran. Dlam instrumen self-balacing, ggl yang tidak seimbang yang dalam
sebuah potensiometer normal akan menghasilkan defleksi galvanometer, dimasukkan ke
sebuah penguat melalui sebuah konvertor. Keluaran penguat tersebut menggerakkan
sebuah motor insuksi dua fasa yang membuat kontak geser potensiometer setimbang.
Konvertor, yang dihubungkan antara keluaran potensiometer dan masukan penguat, mengubah
tegangan tegangan dc yang tidak seimbang menjadi tegangan ac yang tidak setimbang yang
dengan mudah dapat diperkuat oleh sebuah penguat ac ke nilai yang diinginkan. Skema
ini menghindindari pemakaian penguat dc karena sifatnya yang tidak stabil dan masalah
pergeseran
Diagram rangkaian Gambar 6-15 menunjukkan perincian skematis dari potensio-
owtvi yang menyetimbangkan sendiri yang dalam hal ini digunakan untuk mengukur
temperatur oleh sebuah termokopel. Konvertor terdiri dari sebuah batang bergetar,
digerakkan secara sinkron dari tegangan jala-jala 60 Hz. Batang tersebut bekerja sebagai
sakelar yang membalik arus melalui gulungan pemisah dari kumparan primer
transformator pada tiap getaran batang. Pembalikan arus yang konstan pada masing-
masing siklus vibrasi batang mengubah tegangan dc yang tidak setimbang dari rangkaian
potensionmeter menjadi tegangan bolak-balik pada kumparan sekunder transformator. Keluar-
aan ac dari konvertor yang sebanding dengan masukan dc ke konvertor, dimasukkan ke
penguat. Output penguat terdapat pada gulungan pengontrol dari motor induksi dua
fasa. Gulungan lain dari motor disuplai oleh tegangan jala-jala. Tegangan jala-jala ac
131

tergeser sebesar 90 terhadap tegangan output kapasitor di dalam rangkaian penggerak
konvertor. Bergantung pada polaritas tegangan dc yang tidak setimbang yang
dimasukkan ke terminal-terminal masukan konvertor, fasa tegangan keluaran penguat
akan mendahului atau ketinggalan fasa sebesar 90
0
dari tegangan jala-jala yang
dimasukkan ke motor induksi. Arah perputaran motor ditentukan oleh hubungan
fasa antara kedua tegangan pada kedua gulungan, dan ini secara berturutan
ditentukan oleh polaritas tegangan yang disuplai ke konvertor. Jadi jika ggl yang
diukur lebih kecil dari tegangan kesetimbangan yang dihasilkan oleh potensiometer,
maka keluaran penguat akan tergeser sebesar 180 dan motor akan berputar dalam
arah yang berlawanan.



Gambar 6-15 Diagram rangkaian potensiometer Speed-O-Max yang
menyetimbangkan sendiri (seijin Leeds & Northrup Company)

Poros motor dihubungkan secara mekanis ke kontak kawat geser dalam cara
sedemikian sehingga perputaran motor memperkecil ketidaksetimbangan dalam
rangkaian potensiometer. Bila ggl yang akan diukur sama dengan tegangan
potensiometer, tegangan keluaran penguat adalah nol dan motor tidak berputar.
Berarti dalam setiap kondisi tidak setimbang, tegangan keluaran penguat akan
menyebabkan motor menggerakkan potensiometer ke kedudukan setimbang.
Motor yang menggerakkan kontak kawat-geser untuk mempertahankan
kesetimbangan potensiometer secara mekanis di kopel ke sebuah mekanisme pena, dan
setiap gerakan kontak kawat geser diikuti oleh suatu gerak simultan dari pena pada kart-
jalui (strip-chart). Kart digerakkan oleh sebuah motor-jam tersendiri dengan
kelengkapan roda gigi yang dapat diatur untuk mendapatkan kecepatan kart yang
diinginkan.
Ggl yang dihasilkan oleh termokopel. pada Gambar 6-15 adalah fungsi dari
selisih temperatur antara ujung panas dan ujung dingin (operasi termokopel dibahas
dalam Bab 5). Variasi temperatur titik referensi dikompensir oleh sebuah rangkaian
kompensasi elektris. Penurunan tegangan pada tahanan D, yang terbuat dari
paduan nikel tembaga mengkompensir perubahan temperatur titik referensi. Tahanan G
menyetimbangkan penurunan tegangan pada D pada temperatur dasar yang
diinginkan. Tahanan A dan kawat geser S membentuk rangkaian pengukuran yang
132

aktual, dan tahanan B menghasilkan penurunan tegangan yang tepat guna mengalibrasi
rangkaian terhadap tegangan referensi, yang dalam hal ini adalah referensi dioda Zener.



Gambar 6-16 Pandangan bagian dalam dari potensiometer pencatat yang
menyetimbangkan sendiri : Speedomax W/L recorder (seijin Leeds & Northrup
Company)


Sinyal yang disuplai ke masukan rangkaian potensiometer dilewatkan
melalui sebuah penapis (filter) yang melewatkan frekuensi rendah. Kapasitor-kapasitor
filter tidak mempunyai efek terhadap tegangan searah yang disalurkan ke masukan,
tetapi setiap perubahn sinyal masukan yang cepat dan setiap sinyal-sinyal ac terpencar
yang mungkin dihasilkan pada sinyal masukan, diratakan oleh kapasitor-kapasitor
tersebut.



133

Gambar 6-17 Penggerak kart dari Speedomax recorder
(seijin Leeds & Northrup Company)


Potret-potret pada Gambar 6-16 dan 6-17 menunjukkan perincian konstruksi dari
sebuah potensiometer pencatat yang menyetimbangkan sendiri. Motor untuk membuat
setimbang dan motor penggerak kart bersama dengan dua bejana penyalur tinta, ditun-
jukkah pada Gambar 6-16. Penguat-penguat dari potensiometer dua pencatat ini ditem-
patkan di pojok kanan kotak instrumen. Sumber tegangan dan sumber referensi
zener hanya kelihatan sebagian di sebelah kiri penguat di bagian dalam kotak. Gambar
6-17 menunjukkan sebagian perincian konstruksi dari mekanisme penggerak kart.
Sebagaimana dapat jelas dilihat dari gambar ini, instrumen mempunyai dua skala dan
dua pena pencatat.


PUSTAKA
1. Bartholomew, Davis, Electrical Measurements and Instrumentation, bab
10. Boston : Allyn and Bacon, Inc. 1963.
2. Frank, Ernest, Electrical Measurement Analysis, bab 9. New York :
Mc. Grave Hill Book Company., Inc. 1959.
3. Stout, Melville B., Basic Electrical Measurements, edisi kedua, bab 7.
Englewood, Cliffs, N.J. Prentice-Hall, Inc. 1960.
4. Honeywell Catalog C-15 a, Elektronik 15 Potentiometers. Ft.
Washington, Pa. : Honeywell, Inc. Industrial Division, 1966.

SOAL-SOAL
1. Ggl sebuah sel standar diukur dengan sebuah potensiometer yang
memberikan pembacaan 1,01892 V. Bila sebuah tahanan I M dihubungkan
ke terminal-terminal sel standar, pembacaan potensiometer turun menjadi 1,01874
V. Tentukan tahanan dalam R
i
dari sel standar.
2. Sebuah sel standar mempunyai ggl 1,0190 V dan tahanan-dalam 250 .
Sebuah voltmeter dc dengan rangkuman skala penuh 3 V dan tahanan-dalam
3000 dihubungkan terhadap sel standar.
(a) Tentukan pembacaan Voltmeter.
(b) Tentukan arus yang dialirkan dari sel standar.
(c) Jika arus sel standar dalam (b) melebihi 10 A, tentukan nilai
tahanan-dalam yang harus dimiliki oleh voltmeter untuk membatasi arus ke 10
A.
3. Potensiometer dalam Gambar 6-1 mempunyai batere kerja dengan tegangan
terminal 4,0 V dan tahanan-dalam yang diabaikan. Kawat geser 200 cm.
mempunyai tahanan 100 dan tahanan-dalam-galvanometer 50. Ggl sel
standar adalah 1,0191 V dan tahanan-dalam 200 . Tahanan geser diatur
sehingga potensiometer distandarkan dengan menyetel kontak geser pada tanda
101,91 cm pada kawat geser.
(a) Tentukan arus kerja dan nilai tahanan-geser.
(b) Jika sambungan-sambungan ke sel standar dibalik secara kebetulan
tentukan arus melalui sel standar.
(c) Sebuah tahanan pengaman dihubungkan seri dengan galvanometer
untuk membatasi arus melalui galvanometer sampai 10 A pada kondisi (b).
Tentukan tahanan pengaman ini.
4. Tegangan antara dua titik di dalam sebuah rangkaian arus searah diukur dengan buah
potensiometer kawat-geser yang menghasilkan pembacaan 1 .0 V Sebuah voltmeter
134

dc 20 k/V hanya mancatat 0,5 V pada skala 2,5 V bila dihubungkan antara
kedua titik tersebut. Tentukan tahanan rangkaian antara kedua titik yang
diukur.
5. Pada rangkaian Gambar 6-3, piringan utama berisi 15 langkah, masing-
masing 20 , dan tahanan kawat geser adalah 30 . Tegangan sel -
standar adalah 1, 0190 V. Potensiometer direncanakan mempunyai
rangkuman pengukuran 1,65 V dc pada batas ukur x 1. Tentukan (a)
nilai arus pengukuran I
m
pada masing-masing rangkuman; (b) arus yang
disalurkan oleh batere I
t
pada tiap rangkuman; (c) nilai tahanan rang-
kuman R
1
, dan R
2
; (d) nilai tahanan-geser yang diperlukan jika tegangan
batere keda adalah 6,0 V.
6. Sebuah potensiometer yang memiliki 15 langkah masing-masing 5 dan
sebuah kawat geser 5,5 dihubungkan seri dengan batere kerja 2,40 V dan
sebuah tahanan geser. Rangkuman maksimal instrumen adalah 1,61 V.
Sensitivitas voltmeter adalah 0,05 A/mm dan tahanan-dalam 50 .
(a) Tentukan nilai penyetelan tahanan geser.
(b) Tentukan resolusi instrumen jika kawat geser mempunyai 11 gulungan, 100
bagian setiap gulungan, dan dapat diinterpolasi pada seperlima dari satu bagian
skala.
(c) Sebuah sumber 1,10 V dengan tahanan-dalam yang diabaikan diukur
dengan potensiometer ini. Tentukan kesalahan (dalam V) dari kesetimbangan
yang sebenarnya agar bintik galvanometer berdefleksi sejauh 1 mm.
7. Potensiometer pada soal 6 mula-mula distandarkan dan kemudian
disetimbangkan secara tepat terhadap sebuah sumber tegangan dc 1,50 V
dengan tahanan-dalam 20 . Tentukan defleksi galvanometer bila kawat geser
digerakkan sebanyak tiga bagian skala.
8. Potensiometer Gambar 6-2 direncanakan bersama piringan 15 langkah (step),
masing-masing 10 V; 0,1 V; dan sebuah kawat -geser 10 . Tetapi, tahanan
dari langkah 0 - 0,1 V hanya 9,9 , bukan 10 seperti yang diinginkan.
Potensiometer distandarkan terhadap sebuah referensi tegangan 1,0185 V dan
kemudian digunakan untuk mengukur tegangan yang tidak diketahui. Pembacaan
instrumen pada kosetimbangan adalah 0,6525 V. Tentukan (a) nilai sebenarnya dari
tegangan yang tidak diketahui; (b) persentase kesalahan.
9. Rencanakan sebuah kotak Volt dengan tahanan 20 /V dan rangkuman 3 V, 10
V, 40 V dan 100 V. Kotak volt ini akan digunakan bersama sebuah
potensiometer yang mempunyai rangkuman ukur 1,6 V.
10.Rencanakan sebuah shunt dengan rangkuman 1 A, 5 A, 10 A dan 20 A.
Shunt ini akan digunakan bersama sebuah potensiometer yang
mempunyai batas ukur 1, 6 V.













135

7. JEMBATAN ARUS SEARAH
DAN PEMAKAIANNYA

7-1 PENDAHULUAN
Rangkaian-rangkaian jembatan dipakai secara luas untuk pengukuran nilai-niai
komponen seperti tahanan, induktansi atau kapasitansi, dan parameter rangkaian lain
nya yang diturunkan secara langsung dari nila-nilai komponen, seperti frekuensi,
sudut fasa dan temperatur. Karena rangkaian jembatan hanya membandingkan nilai
komponen yang tidak diketahui dengan komponen yang besarnya diketahui secara
tepat (sebuah standar), ketelitian pengukurannya tentu saja bisa tinggi sekali. Ini
adalah demikian sebab pembacaan pengukuran dengan cara perbandingan, yang
didasarkan pada penunjukkan nol dari kesetimbangan rangkaian jembatan, pada
dasarnya tidak bergantung pada karakteristik detektor nol. Jadi ketelitian pengukuran
adalah langsung sesuai dengan ketelitian komponen-komponen jembatan, bukan dengan
indikator nolnya sendiri.
Bab ini membahas sebagian dari rangkaian dasar arus searah. Dimulai dengan
instrumen uji yang dapat dipindahkan (portabel), kita mengenal jembatan
Wheatstone untuk pengukuran tahanan dc, jembatan Kelvin untuk pengukuran tahana
rendah, dan perangkat uji (test set) untuk pemeriksaan tahanan kabel. Dalam pengujian
presisi tinggi dan kalibrasi, kita mengemukakan prinsip jembatan Wheasstone dengan
pengaman (guarded wheatstone bridge) serta pengukuran tahanan-tahanan yang sangat
tinggi.

7-2 JEMBATAN WHEATSTONE
7-2-1 Operasi dasar
Gambar 7-1(a) adalah sebuah jembatan Wheatstone portabel (self-contained).
Operasinya didasarkan didasarkan pada diagram dasar Gambar 7-1(b). Rangkaian
jembatan memiliki empat lengan resistif beserta sebuah sumber ggl (batere) dan sebuah
detektor nol yang biasanya adalah galvanometer atau alat ukur arus sensitif lainnya.


(a) Gambar instrumen

136




(b) Skema rangkaian jembatan yang disederhanakan

Gambar 7-1 Jembatan Wheatstone tipe laboratorium yang digunakan untuk
pengukuran presisi tahanan dari rangkuman pecahan satu ohm

sampai beberapa mega
ohm. Pengontrol perbandingan memilih lengan-lengan pembanding dalain kelipatan
sepuluh. Keempat sakelar tinggi menyetel tahan an lengan standar(seijin Backman
Instruments, Inc, Cedar Grove Operations).

Arus melalui galvanometer bergantung pada beda potensial antara titik c dan d.
Jembatan disebut setimbang bila beda potensial pada galvanometer adalah 0 volt,
artinya tidak ada arus yang melalui galvanometer. Kondisi ini terjadi bila tegangan dari
titik c dan a sama dengan tegangan dari titik c ke b sama dengan tengagan dari titik d ke
b. Jadi jembatan adalah setimbang jika:
2 2 1 1
R I R I = (7-1)

Jika arus galvanometer adalah nol, kondisi-kondisi berikut juga dipenuhi :
3 1
3 1
R R
E
I I
+
= = (7-2)
dan
4 2
4 2
R R
E
I I
+
= = (7-3)

Dengan menggabungkan persamaan (7-1), (7-2) dan (7-3) dan
menyederhanakannya, diperoleh

4 2
2
3 1
1
R R
R
R R
R
+
=
+
(7-4)
atau
3 2 4 1
R R R R = (7-5)

Persamaan (7-5) merupakan bentuk yang telah dikenal dalam kesetimbangan
jembatan Wheatstone. Jika tiga dari tahanan-tahanan tersebut diketahui, tahanan
keempat dapat ditentukan dari persamaan (7-5). Berarti, jika R
4
tidak diketahui,
tahanannya R
x
dapat dinyatakan oleh tahanan-tahanan yang lain, yaitu :
1
2
3
R
R
R R
x
= (7-6)
Tahanan R
3
disebut lengan standar dari jembatan, dan tahanan R
2.
dan R
1
disebw
lengan-lengan pembanding (ratio arms).
Pengukuran tahanan R
x
yang tidak diketahui tidak bergantung pada
karakteristik atau kalibrasi galvanometer defleksi nol asalkan detektor nol tersebut
mempunyai sensitivitas yang cukup untuk menghasilkan posisi setimbang jembatan
pada tingkat presisi yang diperlukan.
137


7-2-2 Kesalahan pengukuran
Jembatan Wheatstone dipakai secara luas pada pengukuran presisi tahanan
dari sekitar 1 sampai rangkuman mega ohm rendah. Sumber kesalahan utama
terletak pada kesalahan batas dari ketiga tahanan yang diketahui (lihat Bab 1, Soal 11).
Kesalahan- kesalahan lain bisa mencakup:
Sensitivitas detektor nol yang tidak cukup. Masalah ini dibahas lebih lanjut
dalam Bab 7-2-3.
Perubahan tahanan lengan-lengan jembatan karena efek pemanasan arus melalui
tahanan-tahanan tersebut. Efek pemanasan (1
2
R) dari arus-arus lengan jembatan dapat
mengubah tahanan yang diukur. Kenaikan temperatur bukan hanya mempengaruhi
tahanan selama pengukuran yang sebenarnya, tetapi arus yang berlebihan dapat
mengakibatkan perubahan yang permanen bagi nilai tahanan. Hal initidak boleh
terjadi, karena pengukuran-pengukuran selanjutnya akan menjadi salah. Karena itu
disipasi daya dalam lengan-lengan jembatan harus dihitung sebelumnya hingga arus
dapat dibatasi pada nilai yang aman.
Ggl termal dalam rangkaian jembatan atau rangkaian galvanometer dapat juga
diakibatkan masalah sewaktu mengukur tahanan-tahanan rendah. Untuk mencegah ggl
termal, kadang-kadang galvanometer yang lebih sensitif dilengkapi dengan sistem
kumparan tembaga dari sistem suspensi tembaga yakni untuk mencegah pemilihan
logam-logam yang tidak sama yang saling kontak satu sama lain dan untuk mencegah
terjadinya ggl termal.
Kesalahan-kesalahan karena tahanan kawat sambung dan kontak-kontak luar
memegang peranan dalam pengukuran nilai-nilai tahanan yang sangat rendah.
Kesalahan ini dapat dikurangi dengan menggunakan jembatan Kelvin (lihat Bab 7-3).

7-2-3 Rangkaian pengganti Thevenin
Untuk menentukan apakah galvanometer mempunyai sensitivitas yang
diperlukan untuk mendeteksi kondisi tidak setimbang atau tidak, arus galvanometer
perlu ditentukan. Galvanometer-galvanometer yang berbeda bukan hanya
memerlukan arus persatuan

yang berbeda (sensitivitas arus), tetapi juga dapat
mempunyai tahanan-dalam yang berbeda. Adakah tidak mungkin mengatakan tanpa
menghitung sebelumnya, galvanometer mana yang akan membuat rangkaian
jembatan lebih sensitif terhadap suatu kondisi tidak seimbang. Sensitivitas ini dapat
ditentukan dengan "memecahkan persoalan rangkaian jembatan pada
ketidaksetimbangan yang kecil. Pemecahan ini didekatkan dengan mengubah
jembatan Wheatstone Gambar 7-1 ke penggantinya Thevenin.
Karena kita tertarik pada arus melalui galvanometer, rangkaian pengganti
Thevenin ditentukan dengan memeriksa terminal galvanometer c dan d dalam Gambar
7-1. untuk memperoleh pengganti, Thevenin, dilakukan dua langkah : langkah pertama
menyangkut penentuan tegangan ekivalen (pengganti) yang muncul pada terminal c
dan d bila galvanometer dipindahkan dari rangkaian. Langkah kedua menyangkut
penentuan tahanan pengganti dengan memperhatikan terminal c dan d, dan mengganti
batere dengan
tahanan-dalamnya. Untuk baiknya, rangkaian Gambar 7-1(b) digambarkan
kembali pada Gambar 7-2 (a).
138



Gambar 7-2 Pemakaian teorema Thevenin terhadap jembatan Wheatstone . (a)
konfigurasi jembatan Wheatstone ;(b) Tahanan Thevenin dengan memeriksa terminal c
dan d; (c) Rangkaian lengkap Thevenin dengan galvanometer tersambung ke terminal c
dan d.

Tegangan Thevenin atau tegangan rangkaian terbuka diperoleh dengan
menunjuk kembali ke Gambar 7-2(a), dan menuliskan:
2 2 1 1
R I R I E E E
ad ac cd
= =
dimana
4 2
2
3 1
1
R R
E
I dan
R R
E
I
+
=
+
=
dengan demikian
|
|
.
|

\
|
+

+
=
4 2
2
3 1
1
R R
R
R R
R
E E
cd
(7-7)

Ini adalah tegangan generator Thevenin.

Tahanan rangkaian pengganti Thevenin diperoleh dengan melihat kembali
terminal c dan d dan mengganti batere dengan tahanan-dalamnya. Rangkaian Gambar
7-2(b) menyatakan tahanan Thevenin. Perhatikan bahwa tahanan-dalam, R
b
, dari
batere tehli termasuk dalam Gambar 7-2(b). Pengubahan rangkaian ini menjadi bentuk
yang lebih menyenangkan memerlukan penggunaan teorema transformasi delta-Y
(delta-Wye). Pembaca yang tertarik pada pendekatan ini sebaiknya membaca buku
analisa rangkaian yang membahas dan menggunakan teorema ini.* Bagaimanapun,
dalam kebanyakan hal, tahanan dalam batere yang sangat rendah dapat diabaikan dan
ini jelas mempermudah penurunan Gambar 7-2(a) menjadi pengganti Theveninnya.

Dengan memperhatikan Gambar 7-2(b) dapat dilihat bahwa, hubungan singkat
akan terjadi antara titik a dan b bila tahanan-dalam batere dianggap nol. Dengan
demikian, tahanan Thevenin, dengan memeriksa terminal c dan d, menjadi
4 2
4 2
3 1
3 1
R R
R R
R R
R R
R
TH
+
+
+
= (7-8)


139

Jadi pengganti Thevenin dari rangkaian jembatan Wheatstone berubah
menjadi sebuah generator Thevenin dengan ggl yang dinyatakan oleh persamaan (7-7)
dan tahanan-dalam oleh persamaan (7-8). Ini ditunjukkan dalam rangkaian Gambar 7-
2(c).
Bila sekarang detektor nol dihubungkan ke terminal-terminal keluaran rangkaian
pengganti Thevenin, arus galvanometer menjadi :
g TH
TH
g
R R
E
I
+
= (7-9)

di mana I
g
adalah arus galvanometer dan R
g
adalah tahanannya.

(* Herbert W. Jackson, Introduction to Electric Circuits edisi ketiga (Englewood Cliffs,
N.J. :Prentice-Hall, Inc., 1970), pp. 461 ff)

Contoh 7-1 : Gambar 7-3(a) menunjukkan diagram. skema sebuah jembatan
Wheatstone dengan nilai-nilai elemen seperti ditunjukkan. Tegangan batere adalah 5 V
dan tahanan-dalamnya diabaikan. Sensitivitas- arus galvanometer adalah 10 mm/A dan
la hanan-dalam 100 . Tentukan defleksi galvanometer yang disebabkan oleh keti-
daksetimbangan 5 dalam lengan BC.
Penyelesaian : Kesetimbangan jembatan tercapai jika lengan BC memiliki
tahanan 1000 . Diagram yang menunjukkan lengan BC sebagai tahanan 2005
menyatakan ketidaksetimbangan yang kecil (<< 2000 ). Langkah pertama
dalam pemecahan adalah mengubah rangkaian jembatan ke rangkaian pengganti
Thevenin.









140

Gambar 7-3 Perhitungan defleksi galvanometer yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan kecil dalam lengan BC dengan menggunakan pendekatan Thevenin
yang disederhanakan

Karena kita tertarik untuk memperoleh arus di dalam galvanometer,
pengganti Thevenin ditentukan dengan mengacu pada terminal-terminal galvanometer
B dan D. Beda potensial dari B ke D dengan melepas galvanometer dari rangkaian
adalah tegangan Thevenin. Dengan menggunakan persamaan (7-7), diperoleh :
|
|
.
|

\
|
+
+
+
= =
2005 1000
1000
200 100
100
5 x V E E E
AB AD TH

mV 77 , 2 ~

Langkah pemecahan berikutnya menyangkut penentuan tahanan pengganti
Thevenin, dengan memeriksa terminal B dan D, dan mengganti batere dengan
tahanan dalamnya. Karena tahanan batere adalah 0 , rangkaian dinyatakan oleh
konfig rani Gambar 7-3(b) dari mana diperoleh,

O ~ + = 730
3005
2005 1000
300
200 100 x x
R
TH

Rangkaian pengganti Thevenin diberikan pada Gambar 7-3(c). Bila sekarang
gale; nometer dihubungkan ke terminal-terminal keluaran rangkaian pengganti,
arus melalui galvanometer adalah :
A
mV
R R
E
I
g TH
TH
g
34 , 3
100 730
77 , 2
=
O + O
=
+
=

Defleksi galvanometer menjadi
mm
A
mm
x A d 34 , 3
10
34 , 3 = =


Pada Contoh ini manfaat rangkaian pengganti Thevenin guna menyelesaikan
ketidaksetimbangan jembatan menjadi jelas. Jika digunakan galvanometer yang
berbeda (dengan sensitivitas arus dan tahanan dalam yang berbeda), perhitungan
defleksinya sangat sederhana, seperti jelas dari Gambar 7-3(c). Sebaliknya, jika
sensitivitas galvanometer diketahui, kita dapat menghitung tegangan tidak setimbang
yang diperlukan gun menghasilkan satu satuan defleksi (misalnya 1 mm). Nilai ini
penting bila kita ingin III nentukan sensitivitas jembatan terhadap ketidaksetimbangan;
atau dalam menangga pertanyaan : "Apakah galvanometer yang dipilih mampu
mendeteksi suatu ketida setimbangan kecil tertentu?" Metoda Thevenin digunakan
untuk mendapatkan tanggapan galvanometer, yang dalam kebanyakan hat merupakan
perhatian utama.

Contoh 7-2 : Galvanometer dalam Contoh 7-1 diganti dengan yang lain dengan
tahanan-dalam 500 dan sensitivitas arus 1 mm/A. Dengan menganggap bahwa
defleksi 1 mm dapat diamati pada skala galvanometer, tentukan apakah galvanometer
yang barn ini mampu mendeteksi ketidaksetimbangan sebesar 5 dalam lengan BC
pada Gambar 7-3 (a).

Penyelesaian : Karena konstanta-konstanta jembatan belum diganti , rangkaian
pengganti masih dinyatakan oleh generator Thevenin sebesar 2,77 mV dengan
tahanan sebesar 730 . Sekarang galvanometer baru dihubungkanke terminal -
terminal keluaran, menghasilkan arus galvanometer sebesar
141

A
mV
R R
E
I
g TH
TH
g
25 , 2
500 730
77 , 2
=
O + O
=
+
=

Dengan demikian defleksi galvanometer sama dengan 2,25 A x 1 mm/A =
2,25 mm, yang menunjukkan bahwa galvanometer ini menghasilkan defleksi yang
mudah diamati.

Jembatan Wheatstone terbatas pada pengukuran tahanan-dalam rangkuman
beberapa ohm sampai beberapa mega ohm. Batas atas disetel melalui penurunan
sensitivitas terhadap ketidaksetimbangan yang disebabkan oleh nilai-nilai tahanan
tinggi, sebab daIam hal ini tahanan pengganti Thevenin dari Gambar 7-3(c) menjadi
tinggi, yang berarti menurukan arus galvanometer. Batas bawah disetel oleh tahanan
kawat-kawat penghubung dan tahanan kontak pada apitan-apitan kutub. Tahanan
kawat ini dapat dihitung atau diukur, dan hasil akhir dimodifikasi; tetapi tahanan
kontak sangat sulit ditentukan maupun diukur. Karena itu untuk pengukuran
tahanan rendah, umumnya jembatan Kelvin adalah instrumen yang lebih disukai.


7-3 JEMBATAN KELVIN
7-3-1 Efek kawat-kawat penghubung
Jembatan Kelvin merupakan modifikasi dari jembatan Wheatstone dan
menghasilkan ketelitian yang jauh lebih besar dalam pengukuran tahanan-tahanan
rendah (low value resistances), umumnya di bawah 1 . Perhatikan rangkaian
jembatan yang ditunjukkan dalam Gambar 7-4 di mana R
y
menyatakan tahanan
kawat penghubung dari R
3
ke R
x
. Dua jenis hubungan galvanometer adalah mungkin,
yaitu ke titik m atau ke titik n. Bila galvanometer dihubungkan ke titik m, tahanan R
y

dari kawat penghubung dijumlahkan ke tahanan R
x
yang tidak diketahui, dan
menghasilkan indikasi R
x
yang terlalu tinggi. Bila hubungan dibuat ke titik n, R
y

dijumlahkan ke lengan jembatan R
3
dan hasil pengukuran R
x
akan lebih rendah dari
yang seharusnya, sebab sekarang nilai aktual R
3
menjadi lebih besar dari nilai
nominalnya sebesar R
y
. Jika galvanometer dihubungkan ke sebuah titik p di antara titik
m dan n sedemikian rupa sehingga perbandingan tahanan dari n ke p dan dari m ke
p sama dengan perbandingan tahanan-tahanan R
1
dan R
2
, dapal dituliskan
2
1
R
R
R
R
mp
np
= (7-10)
Persamaan setimbang untuk jembatan memberikan
( )
mp np x
R R
R
R
R R + = +
3
2
1
(7-11)


Gambar 7-4 Rangkaian jembatan Wheatstone, menujukkan tahanan
142

R
y
dari kawat titik m ke titik n


Dengan mensubtitusikan persamaan (7-10) ke dalam persamaan (7-11),
diperoleh:
(

|
|
.
|

\
|
+
+ =
|
|
.
|

\
|
+
+
y y x
R
R R
R
R
R
R
R
R R
R
R
2 1
1
3
2
1
2 1
1
(7-12)
yang telah disederhanakan menjadi

3
2
1
R
R
R
R
x
= (7-13)

Persamaan (7-13) adalah persamaan setimbang yang umum yang dikembangkan
terhadap jembatan Wheatstone dan dia menunjukkan bahwa efek tahanan kawat
penghubung dari titik m ke n telah dihilangkan dengan menghubungkan galvanometer
ke posisi p.
Perkembangan ini membentuk dasar-dasar konstruksi jembatan ganda Kelvin,
yang umumnya dikenal sebagai jembatan Kelvin.

7-3-2 Jembatan ganda Kelvin
Istilah jembatan ganda (dobel) digunakan sebab rangkaian memiliki
pembanding lengan kedua, seperti ditunjukkan dalam diagram skema Gambar 7-5.
Pasangan lengan kedua ini, yang diberi nama a dan b dalam diagram,
menghubungkan galvanometer ke sebuah titik p pada potensial yang sesuai antara m
dan

n, dan dia menghilangkan efek tahanan gandar (yoke) R
y
.

Persyaratan awal yang
ditetapkan adalah bahwa perbandingan tahanan a dan b sama dengan perbandingan R
1
da
R
2
Penunjukkan galvanometer akan nol bila potensial pada k sama dengan potensial
pada potensiometer, atau bila Ekl == Eemp, dimana:
(
(

+ +
+
+ +
+
=
+
=
) (
) (
1
3
2 1
2
2 1
2
y
y
x kl
R b a
R b a
R R
R R
R
E
R R
R
E (7-14)
dan

(
(

+ +
+
+
+ =
) (
) (
) (
1
3
y
y
imp
R b a
R b a
b a
b
R E (7-15)
kita dapat menentukan R
x
dengan menggunakan E
h1
dan E
imp
dalam cara berikut:
(
(

+ +
+
+
+ =
(
(

+ +
+
+ +
+ ) (
) (
.
) (
1
) (
) (
1
3 3
2 1
2
y
y
y
y
x
R b a
R b a
b a
b
R
R b a
R b a
R R
R R
R


143




Gambar 7-5 Rangkaian dasar jembatan ganda Kelvin


Atau disederhanakan menjadi
(
(

+ +
+
+
=
+ +
+
+ +
) (
) (
) (
) (
3
2
2 1
3
y
y
y
y
x
R b a
R b
R
R
R R
R b a
R b a
R R
dan mengilangkan tanda kurung pada ruas sebelah kanan memberikan :

) (
.
) (
) (
2
2 1
3
2
3 1
3
y
y
y
y
x
R b a
R b
R
R R
R
R
R R
R b a
R b a
R R
+ +
+
+ + =
+ +
+
+ +
Penyelesaian untuk R
x
memberikan

) (
) (
) ( ) (
.
2
1
2
3 1
y
y
y
y
y
y
x
R b a
R b a
R b a
R b
R b a
R b
R
R
R
R R
R
+ +
+

+ +
+
+ +
+ =
sehingga
|
|
.
|

\
|
+
+ +
+ =
b
a
R
R
R b a
R b
R
R R
R
y
y
x
2
1
2
3 1
) (
(7-16)
Gunakan syarat awal yang telah ditetapkan yaitu: a/b =R,/R
2
, maka persamaan
(7-16) berubah menjadi hubungan yang terkenal :


2
1
3
R
R
R R
x
= (7-17)

Persamaan (7-17) adalah persamaan kerja yang biasa bagi jembatan Kelvin.
Dia menunjukkan bahwa tahanan gandar tidak mempunyai efek terhadap
pengukuran, asalkan kedua pasangan lengan-lengan pembanding mempunyai
perbandingan tahanan yang sama.
Jembatan Kelvin digunakan untuk mengukur tahanan yang sangat rendah yakni
dari sekitar 1 sampai screndah 0,00001 . Gambar 7-6 menunjukkan diagram
rangkaian yang disederhanakan bagi sebuah jembatan Kelvin komersil yang mampu
mengukur tahanan dari 10 sampai 0,00001 . Dalam jembatan ini, tahanan R
3

dari persamaan (7-17) dinyatakan oleh tahanan variabel standar dalam Gambar 7-6.
Lengan-lengan pembanding (R
1
dan R
2
) biasanya dapat dipilih dalam sejumlah langkah
kelipatan sepuluh.
Penurunan tegangan kontak dalam rangkaian pengukuran dapat mengakibatkan
kesalahan besar, dan untuk menurunkan efek ini tahanan standar dilengkapi dengan
144

sembilan langkah masing-masing 0,001 ditambah sebuah batang manganin 0,0011
yang telah dikalibrasi beserta sebuah kontak geser. Dengan demikian tahanan total
lengan R
3
adalah 0,0101 dan dapat diubah dalam langkah 0,001 ditambah bilangan
pecahan 0,0011 oleh kontak geser. Bila kedua kontak dipindahkan untuk memilih
nilai tahanan standar yang sesuai, penurunan tegangan antara titik-titik sambungan
lengan pembanding akan berubah, tetapi tahanan total sekeliling rangkaian baterai tidak
berubah. Susunan ini menempatkan tahanan kontak secara seri dengan lengan-lengan
pembanding yang nilai tahanannya relatif tinggi, dan tahanan kontak mempunyai efek
yang diabaikan.
Perbandingan R
1
/R
2
sebaiknya dipilih sedemikian sehingga yang digunakan
dalam

rangkaian pengukuran adalah bagian standar tahanan yang relatif besar. Dengan
cara ini nilai tahanan R
x
yang tidak ketahui ditentukan berdasarkan kemungkinan
jumlah angka-angka berarti yang paling besar, sehingga ketelitian pengukuran lebih
baik.


Gambar 7-6 Rangkaian jembatan ganda Kelvin yang disederhanakan, digunakan pada
pengukuran tahanan yang sangat rendah.


7- 4 UJI SIMPAL DENGAN PERANGKAT UJI PORTABEL
7- 4 - 1 Uji Simpal Murry
Jembatan Wheatstone yang dapat dipindahkan (portabel) sering digunakan untuk
menentukan kerusakan dalam kabel-kabel kawat banyak (multi core), kawat telepon
dan saluran transmisi daya dengan menggunakan yang disebut uji simpal Murray dan
simpal Varley. Pengujian-pengujian ini khususnya digunakan untukmendapatkan
lokasi terjadinay hubungan singkat, atau kerusakan karena tahanan rendah antara
sebuah konduktor

dan bumi. Sebuah jembatan Wheatstone komersial yang
seluruhnya dapat dipindah-pindah bersama batere dan sebuah galvanometer jenis
penunjuk dan dilengkapi dengan sambungan-sambungan khusus untuk pengujian-
pengujian simpal, disebut perangkat uji (test set).
Pengujian simpal yang paling dikenal dan paling sederhana adalah yang disebut
uji simpal Murray (Murray-loop test), yang pada dasarnya digunakan untuk
menemukan kerusakan pentanahan-pentanahan (ground) di dalam kabel-kabel
145

terbungkus. Susunan pengujian ini ditunjukkan pada Gambar 7-7. Konduktor yang
rusak dengan panjang I
2
dibentuk oleh kedua konduktor ini dihubungkan ke susunan
pengujian dengan cara yang ditunjukkan pada Gambar 7-7, dan jembatan
disetimbangkan melalui lengan pembanding A yang dapat diatur.
Pada kesetimbangan,
L x
x
x L
R
B A
A
R atau
R
R R
B
A
+
=

= (7-18)
dimana R
L
adalah tahanan total simpal (konduktor yang rusak ditambah
konduktor yang baik) dan R
x
adalah tahanan konduktor dari terminal jembatan ke
lokasi tanah yang rusak.
Karena tahanan kawat sebanding dengan panjang dan luas penampang
konduktor, kita dapat menggantikan panjang untuk tahanan di persamaan (7-18) dan
menuliskan l
x

) (
2 1
l l
B A
B
l
x
+
+
= (7-19)




Gambar 7-7 Menemukan kerusakan tanah (hubungan singkat) dengan uju simpal
Murray

Dalam sebuah kabel kawat banyak, konduktor balik l
2
memiliki panjang dan
penampang yang sama dengan kawat yang rusak, jadi l
1
=l
2
=l dan karena itu

B A
B
l l
x
+
= 2 (7-20)
Dimana l adalah panjang kabel kawat banyak diukur dari terminal-terminal
jembatan ke titik ujung. Jika konduktor balik tidak mempunyai karakteristik yang sama
dengan kawat yang rusak, kelonggaran harus diberikan bagi perbedaan tahanan
persatuan pan jang yang dihasilkan.
Akhirnya, jika tahanan dari kerusakan tanah adalah rendah (misalnya suatu
hubungan singkat), perangkat portabel tersebut dapat mengukur lokasi kerusakan kabel
sampai ketelitian yang layak. Tetapi seandainya tahanan yang rusak adalah tinggi,
perangkat uji yang dioperasikan oleh batere adalah tidak sesuai; dan suatu pengukuran
tegangan tiligyi harus dilakukan.

7-4-2 Pengujian simpal Varley
Salah satu metoda yang paling teliti untuk menemukan tanah, persimpangan atau
hubungan-hubungan singkat dalam sebuah kabel kawat banyak adalah apa yang disebut
engujian simpal Varley. Metoda ini, yang pada dasarnya adalah modifikasi dari
pengujian simpal Murray pada bab sebelumnya juga menggunakan sebuah jembatan
Wheatstone, tetapi dengan dua lengan perbandingan yang tetap A dan B, dan sebuah
146

tahanan geser atau lengan standar. Dalam sebuah perangkat uji komersial yang khas
rasio perkalian dari lengan-lengan pembanding ini dikontrol oleh sebuah sakelar tingkat
(dial switch) dan umumnya mempunyai daerah pengukuran dari 0,001 sampai 1000
dalam kelipatan sepuluh. Tahanan geser kerapkali terdiri dari empat tingkat kelipatan
sepuluh dalam hubungan seri, yang penyetelannya dapat dipilih melalui sakelar-sakelar
tingkat.
Ketiga susunan rangkaian yang diperlukan untuk menemukan suatu kerusakan
tanah ditunjukkan pada Gambar 7-8(a) sampai (c). Pada masing-masing pengukuran
perbandingan perkalian dari lengan A dan lengan B dibuat tetap, dan jembatan
dibuatl setimbang ke defleksi nol galvanometer oleh tahanan geser dalam lengan
standar. Hasil-hasil yang diinginkan ditentukan berdasarkan analisa rangkaian
konvensional dan diperoleh bahwa x
1
dan x
2
yang menyatakan tahanan-tahanan
bagian kabel pada tiap sisi kawat yang rusak seperti ditunjukkan pada Gambar 7-8,
adalah
) (
1 2 1
R R
B A
A
X
+
= (7-21)
dan ) (
2 3 2
R R
B A
A
X
+
= (7-22)

Karena tahanan sebanding dengan panjang dan luas penampang, jarak ke
kerusakan dapat segera ditentukan dengan menggunakan satu hasil sebagai
pembanding terhadap yang lain. Metoda ini akan menemukan cacat kerusakan sampai
balas 500 kaki dalam suatu kabel berpenampang 50 mi.
Bila sebuah rangkaian terdiri dari konduktor dengan ukuran yang berbeda pada
berbagai seksi (penampang), tahanan tiap penampang harus diperhitungkan. Misalnya
jika kabel udara dihubunkan ke kabel bawah tanah dari ukuran yang berlainan, selisih
tahanan dari kedua penampang bukan hanya harus memperhitungkan ukuran konduktor
yang berbeda, tetapi juga selisih temperatur antara kabel udara dan kabel bawah tanah
tersebut.


Gambar 7-8 Uji

simpal Varley, digunakan untuk menemukan tanah, persilangan atau
hubungan tingkat dibawah kabel kawat banyak.
147


Pengujian simpal Varley yang lebih sederhana namun kurang teliti dapat
dilakukan hanya dengan menggunakan susunan pengukuran dari Gambar 7-8(b),
asalkan lengan-lengan pembanding A dan B sama dan rasio perkalian adalah satu.
Persamaan kesetimbangan jembatan yang biasa memberikan,
`
2
2 2
1 2
X R
X X
B
A
+
+
= (7-23)

Karena lengan pembanding adalah sama yakni A/B = 1, persamaan berubah
menjadi
2
2
1
R
X = (7-24)
Yang selanjutnya mengarahkan ke lokasi kerusakan.

7-5 JEMBATAN SHEATSTONE DENGAN PENGAMAN
7-5-1 Rangkaian pengaman
Pengukuran tahanan yang sangat tinggi seperti tahanan isolasi kabel atau
tahanan kebocoran kapasitor (umumnya dalam orde beberapa ribu mega ohm), berada di
luar ke mampuan jembatan Wheatstone yang biasa. Salah satu masalah utama dalam
pengukuran tahanan tinggi adalah kebocoran yang terjadi sekitar dan sekeliling
komponen atau bahan yang diukur, atau sekeliling apitan kutub pada titik mana
komponen disambunkan ke instrumen, atau di dalam instrumen itu sendiri. Arus
kebocoran ini tidak diinginkan sebab mereka dapat memasuki rangkaian pengukuran
dan mempengaruhi ketelitian pengukuran sampai besar sekali. Arus kebocoran, entah di
dalam instrumen sendiri atau bersatu dengan bahan yang diuji dan tempat
pemasangannya, secara khusus jelas kelihatan dalam pengukuran tahanan tinggi di
mana tegangan tinggi sering diperlukan untuk mendapatkan sensitivitas defleksi yang
cukup. Juga, efek-efek kebocoran umumnya berubah dari hari ke hari bergantung pada
kelembaban atmosfer (udara luar).
Dalam pengukuran, efek lintasan yang bocor biasanya dihilangkan dengan
suatu bentuk rangkaian pengaman. Prinsip sebuah rangkaian pengaman sederhana di
dalam lengan R
x
dari sebuah jembatan Wheatstone dijelaskan dengan bantuan
Gambar 7-9. Tanpa sebuah rangkaian pengaman, arus kebocoran I
t
sepanjang
permukaan apitan kutub yang terisolasi bergabung dengan arus I
x
melalui komponen
yang diukur agar menghasilkan arus total rangkaian yang dapat jelas kelihatan lebih
besar daripada arus peralatan aktual. Sebuah kawat pengaman yang secara sempurna
mengelilingi permukaan kutub yang terisolasi, menahan arus kebocoran ini dan
mengembalikannya ke batere. Pengaman ini harus ditempatkan secara cermat agar
arus kebocoran selalu menuju sebagian dari kawat pengaman dan mencegahnya
memasuki rangkaian jembatan.


148


Gambar 7-9 Kawat pengaman sederhana pada terminal R
x
dari sebuah jemabatan
Wheatstone berpengaman menghilangkan kebocoran permuakaan

Dalam diagram skema Gambar 7-10 pengaman sekeliling apitan kutub R
x
yang
di tunjukkan oleh lingkaran keeil sekitar terminal, tidak menyentuh satu bagian pun
dari rangkaian jembatan dan dihubungkan langsung ke terminal batere. Prinsip kawat
pengaman terhadap apitan kutub yang dapat di serapkan terhadap setiap bagian dari
dalam dari rangkaian jembatan di mana kebocoran mempengaruhi pengukuran,
dinamakan jembatan Wheatstone dengan pengaman (guarded Wheatstone bridge).







Gambar 7-10 Terminal yang dilindungi mengembalikan arus kebocoran ke batere

7-5-2 Tahanan tiga Terminal
Untuk mencegah arus kebocoran keluar dari rangkaian jembatan, titik-titik
sambungan lengan-lengan pembanding R
A
dan R
B
biasanya ditunjukkan sebagai terminal
pengaman yang terpisah pada panel depan instrumen. Terminal pengaman ini dapat
digunakan untuk menghubungkan apa yang disebut tahanan tiga terminal (three
termina lresistance), seperti ditunjukkan pada Gambar 7-11. Tahanan tinggi
dihubungkan pada dua kutub isolasi yang terpasang pada sebuah pelat logam. Kedua
terminal utama dari jembatan menurut cara yang biasa. Terminal ketiga dari tahanan
adalah titik bersama tahanan dihubungkan ke terminal R
x
dari jembatan menurut
cara yang biasa. Terminal ketiga dari tahanan adalah titik bersama (common) dari
tahanan R
1
dan R
2
, yang menyatakan lintasan kebocoran terminal utama sepanjang
kutub-kutub isolasi ke pelat logam atau pengaman. Pengaman dihubungkan ke terminal
pengaman pada panel depan jembatan seperti ditunjukkan pada skema Gambar 7-11.
Sambungan ini membuat R
1
paralel terhadap lengan pembanding R
A
, tetapi karena
R
1
jauh lebih besar dari R
A
efek paralelnya diabaikan. Dengan cara sama,
149

tahanan kebocoran R
2
paralel terhadap galvanometer, tetapi tahanan R
2
begitu
tinggi dari tahanan galvanometer sehingga efek yang ada hanya penurunan yang
kecil pada sensitivitas galvanometer. Karena itu lintasan kebocoran luar
dihilangkan dengan menggunakan rangkaian pengaman pada tahanan tiga terminal.
Seandainya rangkaian pengaman tidak digunakan, tahanan kebocoran R
1
dan R
2

akan langsung pada R
x
dan nilai R
x
yang diukur akan jelas salah. Misalnya, dengan
menganggap bahwa yang tidak diketahui adalah 100 M dan tahanan kebocoran
dari masing-masimg teminal ke pengaman juga 100 M, maka tahanan R
x
, akan terukur
sebesar 67 M

dengan kesalahan sebesar sekitar 33 persen.

7-5-3 Jembatan Megaohm
Sebuah jembatan megaohm komersial tegangan tinggi ditunjukkan pada Gambar
7-12, dimana berbagai alat kontrol dapat dengan mudah dikenali. Piringan besar di
tengah-tengah instrumen adalah lengan pembanding variabel R
B
dari Gambar 7-11.





Gambar 7-11 Tahanan tiga terminal dihubungkan ke jembatan megaohm
tegangan tinggi berpegaman

Piringan pengali tahanan di sebelah kanan piringan perbandingan besar menyataka
tahanan standar Re pada rangkaian dan melengkapi pengalian perbandingan dalam
berapa kelipatan sepuluh. Sumber tegangan searah dapat diatur dengan membuat
beberapa kenaikan tegangan dari 10 V sampai 1000 V, sedangkan untuk
menghubungkan sebuah generator luar dibuat ketentuan. Detektor nol pada dasarnya
adalah sebuah penguat (amplifier) arus searah dan sebuah alai pencatat keluaran
mencakup sensitivitas yang diperlukan untuk mendeteksi tegangan-tegangan tidak
setimbang yang kecil. Titik sambungan dari lengan-lengan pembanding R
A
dan R
B

dibuat sebagai terminal pengaman pada panel depan, yang akan digunakan sewaktu
mengukur tahanan tiga terminal

150

Jembatan megaohm tegangan tinggi adalah salah satu instrumen yang
digunakan untuk pengukuran tahanan tinggi. Metoda-metoda lain mencakup
pemakaian alas terkenal megger untuk mengukur tahanan isolasi mesin-mesin
listrik; metoda defleksi langsung (direct deflection) untuk pengujian contoh-
contoh isolasi, dan metoda kerugian muatan (loss of charge method) untuk
pemeriksaan tahanan kebocoran kapasilor*



Gambar 7-12 Jembatan megaohm komersial, digunakan untuk pengukuran tahanan
dalam rangkuman terraohm (seijin General Radio Company).



PUSTAKA
1. Buckingham, H., and E.M. Price, Principles of Electrical
Measurement,
edisi kedua, bab 9. London,: The English University, Press, 1966.
2. Frank, Earnest , Electrical Measurement Analysis, bab 10, New
York:Mc Graw-Hill Book Company,. Inc., 1959.
3. Stout, Mellville B; Basic Electrical Measurements, edisi kedua, bab 4
Englewood Cliffs, N. J. :Prentice-Hall, Inc., 1960.












151



SOAL-SOAL
1. Keempat lengan dari sebuah jembatan Wheatstone mempunyai tahanan 100 ,
1000 , 500 , dan 50,5 ,ditempatkan berturutan sekeliling jembatan. Sebuah
galvanometer dengan tahanan dalam 75 dihubungkan dari titik pertemuan
tahanan 100 dan 50,5 ke titik pertemuan tahanan 1000 dan 500 . Sebuah
batere 4 V dihubungkan ke kedua pojok (simpang) jembatan lainnya. Gunakan
teorema Thevenin untuk memperoleh (a) rangkaian pengganti jembatan diacu
terhadap terminal-terminal galvanometer; (a) arus melalui galvanometer.
2. Lengan-lengan pembanding jembatan Wheatstone pada Gambar 7-1 adalah R
1
=
1000 dan R
2
= 100 , tahanan standar R
3
= 400 ., yang tidak diketahui R
x
= 41
. Sebuah batere 1,5 V dengan tahanan dalam yang dihubungkan dari a ke b.
Tahanan dalam galvanometer adalah 50 dan sensitivitas arus adalah 2
mm/A.
(a) Tentukan rangkaian pengganti jembatan di acu terhadap terminal-
terminal galvanometer.
(b) Tentukan defleksi galvanometer yang disebabkan oleh
ketidaksetimbangan rangkaian.

3. Ulangi soal 2 dengan mempertukaran tempat galvanometer dan batere dan tentukan
konfigurasi mana yang lebih sensitif terhadap ketidaksetimbangan.
4. Lengan tahanan standar R
3
dalam soal 2 dapat diatur dari 0 sampai 1000
dengan kenaikan 0,1 . Defleksi galvanometer dapat dibaca dalam batas 0,5 mm.
Jika tahanan yang tidak dikenal R
.x
= 50 , tentukan resolusi pembacaan dalam
ohm dan dalam persen R
x

5. Ketiga lengan tahanan yang diketahui dari sebuah jembatan Wheatstone
mempunyai kesalahan-kesalahan batas sebesar 0,1%. Tentukan kesalahan batas
tahanan yang tidak diketahui bila diukur dengan instrumen ini.
6. Pada rangkaian jembatan Gambar 7-1, R
1
= 1000 , R
2
= 4000 , R
3
=100 , dan
R
4
= 400 menunjukkan bahwa jembatan tersebut setimbang. Galvanometer
mempunyai tahanan dalam 100 dan sensitivitas arus 100 mm/A. Tegangan
batere adalah 3,0 V. Tentukan defleksi galvanometer pada ketidaksetimbangan
sebesar 1 dalam lengan tahanan R
4
. (Petunjuk : tentukan tegangan dan tahanan
Thevenin dipandang dari segi ketidaksetimbangan kecil x dalam R
4
. Kemudian
sederhanakan bentuk matematis tegangan dan tahanan Thevenin tersebut dengan
menghilangkan pertambahan x dari penyebut setelah penyederhanaan).
7. Sebuah jembatan Wheatstone mempunyai lengan-lengan pembanding 1000 dan
100 dan digunakan untuk mengukur tahanan yang tidak dikenal sebesar 25 .
Batere mempunyai tahanan dalam yang diabaikan dan ggl sebesar 1 V. Dua
galvanometer tersedia. Galvanometer A mempunyai tahanan dalam 25 dan
sensitivitas arus 20 mm/A. Galvanometer B mempunyai tahanan dalam 200
dan sensitivitas arus 100 mm/A. Tentukan (a) sensitivitas masing-masing
galvanometer untuk membuat lengan R
x
tidak setimbang, dinyatakan dalam mm/.
(b) perbandingan sensitivitas kedua galvanometer tersebut terhadap ketidak
seimbangan .
8. Sebuah jembatan Wheatstone digunakan untuk mengukur tahanan tinggi
(dalaill daerah megaohm). Jembatan mempunyai lengan pembanding sebesar
10 k dan I0 . Lengan standar adalah variabel dan dapat diatur dari 1
sampai 10 k. Sebuah batere 10 V dengan tahanan dalam yang diabaikan
152

dihubungkan dari titik pertemuan lengan-lengan pembanding ke pojok yang di
hadapannya.
(a) Tentukan tahanan maksimal yang dapat diukur dengan susunan ini;
(b) Jika galvanometer mempunyai sensitivitas 200 mm/A dan tahanan 50
, dan tahanan maksimal yang diperoleh pada (a) dihubungkan ke
terminal R
x
, tentukan ketidaksetimbangan yang diperlukan agar
menghasilkan defleksi galvanometer sebesar 1 mm;
(c) Jika galvanometer diganti dengan yang lain dengan sensitivitas arsu 100
mm/A dan tahanan dalam 1000 , tentukan ketidaksetimbangan
dalam R
x
yang diperlukan guna menghasilkan defleksi galvanometer
sebesar 1 mm
9. Masing-masing lengan pembanding dari sebuah jembatan Wheatstone tipe
laboratorium mempunyai ketelitian garansi sebesar 0,1 %. Kedua lengan
pembanding disetel pada 1000 (perbandingan 1/1), dan jembatan
disetimbangkan melalui lengan standar yang diatur pada 3154 . Tentukan
batas atas dan batas bawah tahanan yang tidak diketahui didasarkan pada ketelitian
garansi dari lengan-lengan jembatan yang diketahui.
10. Lengan-lengan pembanding jembatan Kelvin pada Gambar 7-5 masing-masing
adalah 100 . Galvanometer mempunyai tahanan dalam 500 dan sensitivitas
arus 200 mm/A. Tahanan yang tidak dikenal R
x
= 0,1002 , dan tahanan
standar disetel pada 0,1000 . Arus searah sebesar 10 A dilewatkan melalui
tahanan standar dan tahanan yang tidak dikenal melalui sebuah batere 2,2 V
seri dengan tahanan geser. Tahanan gandar dapat diabaikan. Tentukan (a) defleksi
galvanometer dalam milimeter; (b) Ketidaksetimbangan tahanan yang
diperlukan agar menghasilkan defleksi galvanometer sebesar 1 mm (Petunjuk :
dalam perhitungan tegangan dan tahanan Thevenin, perkirakan efek lengan-
lengan pembanding dan tahanan geser, dan abaikan suku-suku yang sesuai).
11. Lengan-lengan pembanding sebuah jembatan Kelvin masing-masing adalah 1000
. Galvanometer mempunyai tahanan dalam 100 dan sensitivitas arus 500
mm/A. Arus searah sebesar 10 A dilewatkan ke lengan standar dan yang
tidak dikenal melalui sebuah batere 2,2 V seri dengan sebuah tahanan geser.
Tahanan standar disetel pada 0,1000 dan defleksi galvanometer adalah 30 mm.
Dengan mengabaikan tahanan gandar, tentukan nilai tahanan yang tidak diketahui.








8. JEMBATAN ARUS BOLAK-BALIK
DAN PEMAKAIANNYA

8-1 BENTUK UMUM JEMBATAN ARUS BOLAK-BALIK
8-1-1 Syarat-syarat kesetimbangan jembatan 12 Z' + Z'
Jembatan arus bolak-balik merupakan perluasan wajar dari jembatan arus searah
dan dalam bentuk dasarnya terdiri dari empat lengan jembatan, sumber eksitasi, dan
sebuah detektor nol. Sumber daya menyalurkan suatu tegangan bolak-balik ke jembatan
pada frekuensi yang diinginkan. Untuk pengukuran pada frekuensi rendah, antaran
sumber daya (power line) dapat berfungsi sebagai sumber eksitasi; pada frekuensi yang
153

lebih tinggi, sebuah osilator umumnya menyalurkan tegangan eksitasi. Detektor nol
harus memberi tanggapan terhadap ketidakseimbangan arus-arus bolak-balik dan dalam
bentuk yang sederhana (tetapi sangat efektif) terdiri dari sepasang telepon kepala (head
phone). Dalam pemakaian lain, detektor nol dapat terdiri dari sebuah penguat arus bolak
balik bersama sebuah alat pencatat keluaran atau sebuah indikator tabung sinar elektron
(tuning eye).
Bentuk umum sebuah jembatan arus bolak-balik ditunjukan pada gambar 8-1.
keempat lengan jembatan Z
1
, Z
2
, Z
3
dan Z
4
ditunjukan sebagai implementasi yang
nilainya tidak ditetapkan dan detektor dinyatakan oleh teepon kepala. Seperti dalam
jembatan Wheatstone untuk pengukuran arus searah, syarat kesetimbangan dalam
jembatan bolak balik ini dicapai bila tanggapan detektor adaah nol atau menunjukan
harga nol. Pengaturan setimbang untuk mendapatkan tanggapan nol dilakukan dengan
mengubah salah satu atau lebih lengan-lengan jembatan.
Persamaan umum untuk kesetimbangan jembatan diperoleh dengan
menggunakan notasi kompleks untuk impedansi rangkaian jembatan (huruf tebal
digunakan untuk menunjukan besaran-besaran dalam notasi kompleks). Besaran ini
dapat berupa impedensi atau admitansi atau admitansi seperti tegangan atau arus.
Persyaratan kesetimbangan jembatan memerlukan bahwa beda potensial dari A ke C
dalam gambar 8-1 adalah nol. Ini akan terjadi bila penurunan tegangan dari B ke A
sama dengan penurunan tegangan dari B ke C untuk kebesaran (magnitude) atau fasa.
Dalam notasi kompleks dapat dituliskan
E
BA
= E
BC
atau I
l
Z
l
= I
2
Z
2
(8-1)
Agar arus detektor nol (kondisi setimbang), arus-arus adalah

3 1
1
Z Z
E
I
+
=
(8-2)
Dan
4 2
2
Z Z
E
I
+
=
(8-3)
Subsitusi persamaan (8-2) dan (8-3) kedalam persamaan (8-1) memberikan
Z
1
Z
4
=Z
2
Z
3
(8-4a)

Atau jika menggunakan admitasi sebagai penganti impedansi,
Y
1
Y
4
=Y
2
Y
3
(8-4b)
Persamaan (8-4a) adalah bentuk yang paling menyenangkan dalam kebanyakan
hal dan merupakan persamaan umum untuk kesetimbangan bolak balik. Persamaan (8-4
b) dapat digunakan secara menguntungkan bila terdapa komponen-komponen paralel
dalam lengan-lengan jembatan.









Gambar 8-1 Bentuk umum jembatan arus bolak balik

Persamaan (8-4 a) menyatakan bahwa perkalian impedansi dari pasangan lengan
154

yang saling berhadapan harus sama dengan perkalian impedansi dari pasangan lengan
yang berhadapan lainnya, dengan impedansi yang dinyatakan dalam notasi kompleks.
Jika impedansikan dalam bentuk Z=Z/, dimana Z menyatakan kebesaran dan adalah
sudut fasa impedansi kompleks, persamaan (8-4 a) dapat dituliskan kembali dalam
bentuk
(Z
1
Z
1
)(Z
4
Z
4
) = (Z
2
Z
2
)(Z
3
Z
3
) (8-5)
karena dalam perkalian bilangan-bilangan komplek kebesaran-kebesaran dikalikan dan
sudut fasa dijumlahkan, maka persamaan (8-5) daapat juga dituliskan sebagai
Z
1
Z
4
Z (
1
+
4
) = Z
2
Z
3
Z (
2
+
3
) (8-6)

Persamaan (8-6) menunjukkan bahwa untuk membuat sebuah jembatan arus bolak-balik
setimbag, dua persyaratan harus dipenuhi secara bersamaan (simulatan). Syarat pertama
kesetimbagan impedansi memenuhi hubungan
Z
1
Z
4
= Z
2
Z
3
(8-7)
atau dalam perkataan : Perkalian kebesaran-kebesaran dari lengan-lengan yang saling
berhadapan harus sama
Syarat kedua memerlukan bahwa sudut-sudut fasa impedansi memenuhi hubungan
3 2 4 1
u u u u Z + Z = Z + Z
(8-8)
Atau dituliskan kembali dengan perkataan : Penjumlahan sudut-sudut fasa dari lengan-
lengan yang saling berhadapan harus sama.


8-1-2 Pemakaian persamaan setimbang
Kedua persyaratan yang dinyatakan oleh persamaan (8-7) dan (8-8) dapat digunakan
bila impedansi lengan-lengan jembatan diberikan dalam bentuk polar beserta saran dan
sudut fasanya. Namun dalam hal yang umum, nilai-nilai komponen dari lengan-lengan
jembatan diberikan, dan persoalan diselesaikan dengan menuliskan persamaan
setimbang dalam bentuk kompleks. Contoh berikut menggambarkan prosedur tersebut.
Contoh 8-1 : Impedansi-impedansi jembatan arus bolak-balik dasar pada Gambal 8-
1 diberikan sebagai berikut :
Z
1
= 100 Z 80
o
(impedansi induktif)
Z
2
= 250 (tahanan murni)
Z
3
= 400 Z 30
o
(impedansi induktif)
Z
4
= tidak diketahui
Tentukan konstanta-konstanta lengan yang tidak diketahui.

Penyelesaian : Syarat pertama bagi kesetimbangan jembatan menunjukkan bahwa
Z
1
Z
4
= Z
2
Z
3
(8-7)
Substitusi kebesaran dari komponen-komponen yang diketahui dan selesaikan untuk
Z
4
, menghasilkan
O = = = 1000
100
400 250
1
3 2
4
x
Z
Z Z
Z

Syarat kedua untuk kesetimbangan jembatan menyatakan bahwa penjumlahan sudut-
sudut fasa dari lengan-lengan yang berhadapan adalah sama, atau
3 2 4 1
u u u u + = +

155

Substitusi sudut fasa yang diketahui dan selesaikan untuk
4
, memberikan
o
50 80 30 0
1 3 2 4
= + = + = u u u u

Maka impedansi Z
4
yang tidak diketahui dapat diluliskan dalam bentuk polar, sebagai
o
Z 50 1000
4
Z =

menunjukkan bahwa kita menemukan suatu elemen kapasitif, mungkin terdiri dari
kombinasi seri dari sebuah tahanan dan sebuah kapasitor.
Soal ini akan sedikit menjadi lebih sulit bila nilai-nilai komponen dari lengan-
lengan jembatan ditetapkan dan impedansi akan dinyatakan dalam bentuk kompleks.
Dalam hal ini, reaktansi induktif atau kapasitif hanya dapat ditentukan bila frekuensi
tegangan eksitasi diketahui seperti pada Contoh 8-2 berikut :

Contoh 8-2 : Jembatan arus bolak-balik pada Gambar 8-1 adalah setimbang dengan
konstanta-konstanta berikut : lengan AB, R = 450 ; lengan BC, R = 300 seri dengan
C =0,265 F; lengan CD, tidak diketahui; lengan DA, R =200 seri dengan L= 15,9
mH. Frekuensi osilator adalah I kHz. Tentukan konstanta-konstanta lengan CD.

Penyelesaian : Persamaan umum untuk kesetimbangan jembatan menyatakan bahwa
Z
1
Z
4
= Z
2
Z
3
(8-4a)
Impedansi lengan-lengan jembatan yang dinyatakan dalam bentuk kompleks, adalah
Z
1
= R =450
Z
2
= R j/C =(300-j600)
Z
3
= R + jL =(200-j100)
Z
4
= tidak diketahui

Dengan memasukkan harga-harga ini ke dalam persamaan (8-4a) dan penyelesaian
untuk Z
4
diperoleh
200 6 , 266
450
) 100 200 ( ) 600 300 (
1
3 2
4
j
j j
Z
Z Z
Z =
+
= =

Hasil ini menunjukkan, bahwa Z
4
merupakan gabungan dari sebuah tahanan dan
kapasitor. Karena Xc = f C = 200 , maka
F C
t
8 , 0
(1000) (200) 2
1
= =



8-2 JEMBATAN JEMBATAN PEMBANDING
8-2-1 Jembatan pembanding kapasitansi
Dalam bentuk dasarnya jembatan arus bolak-balik dapat digunakan untuk
pengukuran induktansi dan kapasitansi yang tidak diketahui dengan
membandingkannya terhadap sebuah induktansi atau kapasitansi yang diketahui.
Sebuah jembatan pembanding kapasitansi dasar ditunjukkan pada Gambar 8-2. Kedua
lengan perbandingan adalah resistif dan dinyatakan oleh R
1
dan R
2
. lengan standar
terdiri dari kapasitor C
s
seri dengan tahanan R
s
, dimana C
s
adalah kapasitor standar
kualitas tinggi dan R
s
adalah tahanan variabel. C
x
menyatakan kapasitansi yang tidak
156

diketahui dan R
x
adalah tahanan kebocoran kapasitor.


Gambar 8-2 Jembatan pembanding kapasitansi
Untuk menuliskan persamaan setimbang, mula-mula impedansi dari keempat
lengan jembatan dinyatakan dalam bentuk kompleks dan diperoleh bahwa
; ; ; ;
4 3 2 2 1 1
x
x
s
s
C
j
R Z
C
j
R Z R Z R Z
e e
= = = =

Dengan mensubstitusikan impedansi-impedansi ini ke dalam persamaan (8-4 a) yaitu
persamaan umum untuk kesetimbangan jembatan, diperoleh
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|

s
s
x
x
C
j
R R
C
j
R R
e e
2 1
(8-9)
yang dapat diuraikan. Menjadi
s
s
x
x
C
j
R R R
C
j
R R R
e e
2 2 1 1
=
(8-10)
Dua bilangan kompleks adalah sama bila bagian-bagian nyata dan bagian-bagian kba 91
yalnya adalah sama. Dengan menyamakan bagian-bagian nyata dari persamaan (8-10),
diperoleh
s x
R R R R
2 1
=
atau
1
2
R
R
R R
s x
=
(8-11)

Samakan bagian-bagian khayal dari persamaan (8-10), diperoleh
s x
C
R j
C
R j
e e
2 1
=
atau
2
1
R
R
C C
s x
=
(8-12)

Persamaan (8-11) dan (8-12) memberikan dua syarat setimbang yang harus dipenuhi
secara bersamaan dan mereka juga menunjukkan bahwa C
x
dan R
x
yang tidak diketahui
dinyatakan dalam komponen jembatan yang diketahui.
Agar memenuhi kedua syarat setimbang dalam konfigurasinya, Jembatan hallim
mengandung dua elemen variabel. Setiap, dua dari empat elemen yang tersedia dapat
dipilih walaupun dalam praktek kapasitor C
s
merupakan kapasitor standar presisi tinggi
dengan nilai yang tetap dan tidak dapat diatur. Pemeriksaan terhadap persamaan-
persamaan setimbang menunjukkan bahwa R
s
tidak muncul dalam bentuk C
x
Jadi untuk
menghilangkan setiap interaksi antara kedua pengontrol kesetimbangan, R
s
merupakan
pilihan yang tepat sebagai elemen variabel. Kita selanjutnya menerima bahwa R
1

adalah elemen variabel kedua seperti ditunjukkan pada Gambar 8-2.
Karena kita mengukur kapasitor yang tidak diketahui yang efek tahanannya
lebih kecil sekali,pengaturan pertama sebaiknya dilakukan pada bagian kapasitif yang
berarti mengatur R
1
aga menghasilkan agar menghasilkan suara paling kecil dalam
157

telepon kepala. Dalam kebanyakan hal suara tersebut tidak akan hilang seluruhnya,
sebab syarat setimbang kedua belum dipenuhi. Maka R
1
diatur untuk kesetimbangan
bagian resistif dan suara dibuat semakin mengecil. Ternyata bahwa pengaturan kedua
tahanan secara bergantian adalah perlu untuk menghasilkan keluaran nol dalam telepon
kepala dan untuk mencapai kondisi setimbang yang sebenarnya. Perlunya pengaturan
secara bergantian menjadi jelas bila kita sadari bahwa setiap, perubahan dalam R
1
bukan hanya mempengaruhi persamaan setimbang kapasitif, tetapi juga mempengaruhi
persamaan setimbang resistif; sebab R
1
muncul dalam kedua bentuk persamaan.
tersebut.
Proses menggunakan (manipulasi) R
I
dan R
s
secara bergantian merupakan khas
dari prosedur pembuatan setimbang yang umum bagi jembatan-jembatan arus bolak-
balik dan disebut menyebabkan pemusatan (konvergensi) titik setimbang. Juga perlu
diperhatikan bahwa frekuensi sumber tegangan tidak muncul dalam salah satu dari
persamaan-persamaan setimbang dan dengan demikian jembatan disebut tidak
bergantung pada frekuensi tegangan yang dimasukkan.
8-2-2 Jembatan pembanding induktansi
Konfigurasi umum jembatan pembanding induktansi mirip dengan jembatan
pembanding, kapasitansi. Induktansi yang tidak diketahui ditentukan dengan
membandingkan terhadap sebuah induktor standar yang diketahui seperti ditunjukkan
pada diagram Gambar 8-3. Penurunan persamaan setimbang pada dasarnya mengikuti
langkah-langkah yang sama seperti pada jembatan pembanding kapasitansi dan tidak
akan dikemukakan secara lengkap.
Dapat ditunjukkan bahwa persamaan setimbang induktif memberikan
1
2
R
R
L L
s x
=
(8-13)
Dan persamaan setimbang resistif memberikan. :
1
2
R
R
R R
s x
=
(8-14)
Dalam jembatan ini, R
2
dipilih sebagai pengontrol kesetimbangan induktif, dan R
s

sebagai pengontrol kesetimbangan resistif.


Gambar 8-3 Jembatan pembanding induktansi

158



Gambar 8-4 Jembatan pembanding induktansi dengan rangkuman pengukuran yang
diperbesar.
Rangkuman pengukuran jembatan pembanding standar pada Gambar 8-3 dapat
di perbesar dengan sedikit mengubah rangkaian. Ini ditunjukkan pada Gambar 8-4, di
mana tahanan variabel r dapat dihubungkan melalui sakelar S ke salah satu
lengan'standat (posisi 1) atau ke lengan yang tidak diketahui (posisi 2). Dengan sakelar
pada posisi I pemecahan untuk R
x
adalah
( )
1
2
R
R
r R R
s x
+ =
(8-15)
Dengan sakelar pada posisi 2, pemecahan untuk R, adalah
r
R
R
R R
s x
=
1
2
(8-16)
Karena komponen resistif dari sebuah induktor biasanya jauh lebih besar dari
komponen resistif sebuah kapasitor, pengaturan resistif menjadi cukup penting dan
harus dilakukan pada permulaan sekali. Penambahan tahanan r memberikan kebebasan
memperbesar rangkuman pengukuran bagi persamaan kesetimbangan resistif.
8-3 JEMBATAN MAXWELL
Jembatan Maxwell, yang diagram skemanya ditunjukkan pada Gambar 8-5,
mengukur sebuah induktansi yang tidak diketahui dinyatakan dalam kapasitansi yang
diketahui. Salah satu lengan perbandingan mempunyai sebuah tahanan dan sebuah
kapasitansi dalam hubungan paralel, dan untuk hal ini adalah lebih mudah untuk
menuliskan persamaan kesetimbangan dengan menggunakan admitansi lengan I sebagai
pengganti impedansi



Gambar 8-5 Jembatan Maxwell untuk pengukuran induktansi
Dengan menyusun kembali persamaan umum kesetimbangan jembatan seperti
159

dinyatakan dalam persamaan (8-4 a), diperoleh

1 3 2
Y Z Z Z
x
=
(8-17)
dimana Y
1
adalah admitansi lengan 1. Dengan melihat kembali ke Gambar 8-5
ditunjukkan bahwa
1
1
1 3 3 2 2
1
; ; C j
R
Y dan R Z Z Z e + = = =

Subtitusikan harga-harga ini ke dalam persamaan (8-17) memberikan
|
.
|

\
|
+ = + =
1 3 2
2
1
C j R R L j R Z
x x x
e e
(8-18)
Pemisahan bagian nyata dan bagian khayal memberikan

2
1
3 2
R R
R
x
=
(8-19)
1 3 2
C R R L
x
=
(8-20)

dan
Dan dimana tahanan dinyatakan dalam ohm, induktansi dalam henry, dan kapasitansi
dalam farad
Jembatan Maxwell terbatas pada pengukuran kumparan dengan Q menengah (1
<Q). Ini dapat ditunjukkan dengan memperhatikan syarat setimbang kedua yang
menyatakan bahwa jumlah sudut fasa satu pasang lengan yang berhadapan harus sama
dengan jumlah sudut-sudut fasa pasangan lainnya. Karena sudut fasa dari elemen-
elemen resistif lengan 2 dan lengan 3 berjumlah 0, jumlah sudut-sudut lengan 1 dan
lengan 4 juga harus berjumlah 0. Sudut fasa sebuah komponen dengan Q tinggi akan
sangat menndekati 90 (positif), yang menghendaki bahwa sudut fasa lengan kapasitif
juga harus sangat mendekati 90 (negatif). Ini selanjutnya berarti bahwa tahanan R
1

sungguh-sungguh sangat tinggi, yang. bisa sangat tidak praktis. Dengan demikian
kumparan-kumparan Q tinggi umumnya diukur dalam jembatan Hay, yang disajikan
pada Bab 8-4.
Jembatan Maxwell juga tidak sesuai untuk pengukuran kumparan dengan nilai Q
yang sangat rendah (Q < 1) karena masalah pemusatan kesetimbangan. Sebagai contoh
Q yang sangat rendah lerdapat dalam tahanan induktif atau dalam kumparan frekuensi
radio (RF) jika diukur pada frekuensi rendah. Sebagaimana dapat dilihat dari
persamaan R
x
dan L
x
, pengaturan kesetimbangan induktif oleh R
3
akan menggangu
kesetimbangan resistif sebesar R
1
dan menghasilkan efek yang disebut setimbang
bergeser (sliding balance). Setimbang bergeser menjelaskan interaksi antara
pengontrolan-pengontrolan, sehingga bila kita menyetimbangkan dengan R
1
dan
kemudian dengan R
3
dan kembali ladg ke R
1
, kita mendapatkan titik setimbang yang
baru. Titik setimbang nampaknya bergerak atau bergeser menuju titik akhirnya melalui
banyak pengaturan. Interaksi tidak terjadi dengan menggunakan R
1
dan C
1
sebagai
pengatur kesetimbangan, tetapi sebuah kapasitor variabel tidak selalu memenuhi.

160



Gambar 8-6 Jembatan Hay untuk pengukuran

Prosedur yang biasa untuk menyetimbangkan jemabatan Maxwaell adalah
dengan pertama-tama mengatur R
3
untuk kesetimbangan induktif dan kemudian
mengatur R
1
untuk kesetimbangan resistif. Kembali kepengaturan R
3
ternyata bahwa
kesetimbangan resistif telah terganggu dan berpindah ke suatu nilai barn. Proses ini
diulangi dan memberikan pemusatan yang lambat ke kesetimbangan akhir. Untuk
kumparan-kumparan Q menengah, efek tahanan tidak dinyatakan, dan kesetimbangan
tercapai melalui beberapa pengaturan.

8-4 JEMBATAN HAY
Jembatan Hay pada Gambar 8-6 berbeda dari jembatan Maxwell yaitu
mempunyal tahanan R
1
yang seri dengan kapasitor standar C
1
sebagai pengganti tahanan
paralel. Dengan segera kelihatan bahwa pada sudut-sudut fasa yang besar, R
1
akan
mempunyai nilai yang sangat rendah. Dengan demikian rangkaian Hay lebih
menyenyangkan untuk pengukuran Q tinggi.
Persamaan-persamaan setimbang juga diturunkan dengan memasukkan nilai
impedansi lengan-lengan jembatan ke dalam persamaan umum kesetimbangan
jembatan. Pada rangkaian Gambar 8-6 kita peroleh bahwa
x x x
L j R Z dan R Z R Z
C j
j
R Z e
e
+ = = = + = ; ; ;
3 3 2 2
1
1 1

Dengan memasukkan nilai-nilai ini ke dalam persamaan (8-4 a), diperolel/
yang akan berubah menjadi
( )
3 2
1
1
R R L j R
C j
j
R
x x
= +
|
|
.
|

\
|
+ e
e
(8-21)
yang akan berubah menjadi
3 2 1
1 1
1
R R R L j
C
jR
C
L
R R
x
x x
x
= + + e
e

Pemisahan bagian nyata dan bagian khayal. menghasilkan
3 2
1
1
R R
C
L
R R
x
x
= +
(8-22)
dan
1
1
R L j
C
jR
x
x
e
e
=
(8-23)

161

Kedua persamaan (8-22) dan (8-23) mengandung L
x
dan R
x
, dan kita harus
menyclesaikan persamaan-persamaan ini secara simultan. Ini memberikan
2
1
2
1
2
3 2 1
2
1
2
1 R C
R R R C
R
x
e
e
+
=
(8-24)
2
1
2
1
2
1 3 2
1 R C
C R R
L
x
e +
=
(8-25)

Kedua bentuk matematis untuk induktansi dan tahanan yang tidak diketahui ini
mengandung kecepatan sudut dan dari sini kelihatan bahwa frekuensi sumber,
tegangan harus diketahui secara tepat. Bahwa ini tidak benar bila yang diukur adalah
sebuah kumparan Q tinggi dapat diikuti dari pertimbangan-pertimbangan berikut :
dengan mengingat bahwa penjumlahan pasangan sudut fasa yang berhadapan harus
sama, kita peroleh bahwa sudut fasa induktif harus sama dengan sudut fasa kapasitif
karena sudut- sudut resistif adalah nol. Gambar 8-7 menunjukkan bahwa tangen sudut
fasa induktif sama dengan
Q
R
L
R
X
x
x L
L
= = =
e
u tan
(8-26)

Dan tangen sudut fasa kapasitif adalah
1 1
1
tan
R C R
X
C
C
e
u = =
(8-27)
Bila kedua sudut fasa tersebut sama, tangennya juga adalah sama dan dapat dituliskan
1 1
1
tan tan
R C
Q atau
L L
e
u u = =
(8-28)
Dengan memperhatikan kembali suku
( )
2
1
2
1
2
1 R C e +
yang muncul dalam persamaan (8-
24) dan (8-25), kita peroleh bahwa setelah memasukkan persamaan (8-28) ke dalam
bentuk L
x
persamaan (8-25) berubah menjadi
1
2
1 3 2
) / 1 ( 1 Q
C R R
L
x
+
=
(8-29)
Untuk nilai Q yang lebih besar dari sepuluh, suku (1/Q)
2
akan menjadi lebih kecil dari
1/100 dan dapat diabaikan. Karena itu persamaan (8-25) berubah menjadi bentuk yang
diturunkan untuk jembatan Maxwell, yaitu :
1 3 2
C R R L
x
=

Jembatan Hay cocok untuk pengukuran induktor Q tinggi, terutama yang mem-
punyai Q yang lebih besar dari sepuluh. Untuk nilai Q yang lebih kecil dari sepuluh,
suku (1/Q)
2
menjadi penting dan tidak dapat diabaikan. Dalam hal ini jembatan
Maxwell adalah lebih sesuai.
162


Gambar 8-7 Segitiga-segitiga impedansi yang menggambarkan sudut fasa induktif dan
kapasitif


8-5 JEMBATAN SCHERING
Jembatan Schering, salah satu jembatan arus bolak-batik yang paling penting
pakai secara luas untuk pengukuran kapasitor. Dia memberikan beberapa keuntungan
atas jembatan pembanding kapasitansi yang telah dibahas dalam Bab 8-2-1. Walaupun
jembatan Schering digunakan untuk pengukuran kapasitansi dalam pengertian yang
umum, dia terutama sangat bermanfaat guna mengukur sifat-sifat isolasi yakni sudut-
sudut fasa yang sangat mendekati 90
o
.
Susunan rangkaian dasar ditunjukkan pada Gambar 8-8, dan pemeriksaan rangk
menunjukkan suatu kemiripan yang kuat terhadap jembatan pembanding. Perhatikan
bahwa lengan 1 sekarang mengandung suatu kombinasi paralel dari sebuah tahanan
sebuah kapasitor, dan lengan standar hanya berisi sebuah kapasitor. Biasanya kapasitor
standar adalah sebuah kapasitor mika bermutu tinggi dalam, pemakaian pengukuran
yang umum, atau. sebuah kapasitor udara guna pengukuran isolasi. Sebuah kapasitor
mika mutu tinggi mempunyai kerugian yang sangat rendah (tidak ada tahanan) dan
karena mempunyai sudut fasa yang mendekati 90. Sebuah kapasitor udara yang
dirancang secara cermat memiliki nilai yang sangat stabil dan medan listrik yang sangat
kecil; bahan isolasi yang akan diuji dapat dengan mudah dihindari dari setiap medan
yang kuat.
Persyaratan setimbang menginginkan bahwa jumlah sudut fasa lengan 1 dan
Iengan 4 sama dengan jumlah sudut fasa lengan 2 dan lengan 3. Karena kapasitor
standar berada dalam lengan 3, jumlah sudut fasa lengan 2 dan lengan 3 akan menjadi
0 + 90 =90. Agar menghasilkan sudut fasa 90 yang diperlukan untuk
kesetimbangan, jumlah sudut fasa lengan 1 dan lengan 4 harus sama dengan 90.
Karena dalam pekerjaan pengukuran yang umum besaran yang tidak diketahui akan
memiliki sudut fasa yang lebih kecil, 90, maka lengan 1 perlu diberi suatu sudut
kapasitif yang kecil dengan menghubungkan kapasitor C
I
paralel terhadap R
1
. Suatu
sudut kapasitif yang kecil sangat mudah diperoleh, yakni dengan menghubungkan
sebuah kapasitor kecil terhadap R
1
.
Persamaan kesetimbangan diturunkan dengan cara yang biasa, dan dengan
memasukkan nilai-nilai impedansi dan admitansi yang memenuhi ke dalam persamaan
umum kita peroleh,
1 3 2
Y Z Z Z
x
=

atau
|
|
.
|

\
|
+ +
|
|
.
|

\
|
=
1
1 3
2
1 1
C j
R C
j
R
C
R
x
x
e
e e


163


Gambar 8-7 Jembatan Schering untuk pengukuran kapasitansi
Dan dengan menghilangkan tanda kurung,
1 3
2
3
1 2
1
R C
jR
C
C R
C
R
x
x
e e

=
(8-30)
Dengan menyamakan bagian nyata dan bagian khayal kita peroleh. bahwa
3
1
2
C
C
R R
x
=
(8-31)

2
1
3
R
R
C C
x
=
(8-32)

Sebagaiman dapat dilihat dari diagram rangkaian Gambar 8-8, kedua variabel yang
dipilih guna pengaturan kesetimbangan adalah kapasitor C
1
dan tahanan R
2
.
Kelihatannya tidak ada yang tidak biasa dalam persamaan kesetimbangan atau
pemilihan komponen variabel Ini, tetapi untuk sementara kita tinjau bagaimana kualitas
sebuah kapasitor didefinisikan.
Faktor daya (power factor, PF) dari sebuah kombinasi seri RC didefinisikan
sebagai cosinus sudut fasa rangkaian. Dengan demikian faktor daya yang tidak
diketahui sama dengan PF=R
x
/Z
x
. Untuk sudut-sudut fasa yang sangat mendekati 90,
reaktansi hampir sama dengan impedansi dan kita dapat mendekati faktor daya menjadi

x x
x
x
R C
X
R
PF e = ~
(8-33)
Faktor disipasi (dissipation factor ) adalah sebuah rangkaian seri RC didefinisikan
sebagai cotangen sudut fasa dan karena itu, menurut definisi, faktor disipasi adalah

x x
x
x
R C
X
R
D e = =
(8-34)
Disamping itu karena kualitas sebuah kumparan didefinisikan oleh Q = X
L
/R
L
, kita
peroleh bahwa faktor disipasi D adalah kebalikan dari faktor kualitas Q, dan. Berarti D=
1/Q. Faktor disipasi memberitahukan kita sesuatu mengenai kualitas sebuah kapasitor
yakni bagaimana dekatnya sudut fasa kapasitor tersebut ke nilai idealnya 90
o
. Dengan
memasukan nilai C
x
dalam persamaan (8-32) dan R
x
, dalam persamaan (8-31) kedalam
bentuk faktor diperoleh

1 1
R C D e =
(8-35)

Jika tahanan R
1
dalam jembatan Schering pada Gambar 8-8 mempunyai suatu nilai
yang tetap, piringan (dial) kapasitor C
1
dapat dikalibrasi langsung dalam faktor disipasi
D. Ini merupakan hal yang biasa didalam sebuah jembatan Schering. Perhatikan bahwa
164

suku muncul dalam penyataan faktor disipasi (persamaan 8-35). Tentunya ini berarti
bahwa kalibrasi piringan C
1
hanya berlaku untuk satu frekuensi tertentu pada mana
piringan kalibrasi. Frekuensi yang berbeda dapat digunakan asalkan dilakukan suatu
koreksi, yakni dengan mengalikan pembacaan piringan C
1
terhadap perbandingan dari
kedua frekuensi tersebut.

8-6 KONDISI TIDAK SETIMBANG
Kadang-kadang terjadi bahwa sebuah jembatan arus bolak-balik tidak dapat
disetimbangkan sama sekali hanya karena salah satu persyaratan setimbang yang telah
ditetapkan (Bab 8-1) tidak dapat dipenuhi. Sebagai contoh, perhatikan rangkaian
Gambar 8-9, di mana Z
1
dan Z
2
adalah elemen-elemen induktif (sudut fasa positif), Z
2

adalah kapasitansi murni (sudut fasa -90
0
), dan Z
3
adalah sebuah tahanan variabel
(sudut fasa nol). Tahanan R
3
yang diperlukan guna menghasilkan kesetimbangan
jembatan dapat ditentukan dengan menggunakan syarat setimbang pertama (kebesaran-
kebesaran) dan diperoleh bahwa
O = = = 300
400
600 200
2
4 1
3
x
Z
Z Z
R

Jadi, pengaturan R
3
ke nilai 300 akan memenuhi syarat pertama.
Tinjauan terhadap syarat setimbang kedua (sudut-sudut fasa) menghasilkan situasi
berikut :
o o o
90 30 60
4 1
+ = + + = + u u

o o o
90 0 90
3 2
= + = + u u

Jelas,
3 2 2 1
u u u u + = +
, dan persyaratan kedua tidak dipenuhi. Dalam hal ini
kesetimbangan jembatan tidak dapat dicapai.
Sebuah ilustrasi menarik mengenai masalah menyetimbangkan sebuah jembatan di
berikan dalam Contoh 8-3, di mana pengaturan kecil terhadap satu atau lebih lengan-
lengan jembatan menghasilkan suatu situasi di mana kesetimbangan dapat diperoleh.
Contoh 8-3 : Perhatikan rangkaian Gambar 8-10(a) dan tentukaii apakah jembatan
tersebut setimbang sempurna atau tidak. Jika tidak, tunjukkan dua cara agar dia dapat
dibuat setimbang dan tetapkan nilai-nilai numerik untuk setiap komponen tambahan.
Anggap bahwa lengan jembatan 4 adalah yang tidak diketahui yang tidak dapat diubah.
Penyelesaian : Pemeriksaan rangkaian menunjukkan bahwa syarat pertama
kesetimbangan (kebesaran-kebesaran) dengan mudah dapat dipenuhi dengan sedikil
memperbesar tahanan R
3
. Syarat setimbang kedua menginginkan bahwa
3 2 4 1
u u u u + = +

di mana
1
= -90 (kapasitansi murni)

2
=
3
= 0
o
(tahanan murni)

4
< +90 (impedansi induktif)




165


Gambar 8-9 Sebuah jembatan arus bolak-balik yang tidak dapat setimbang
Jelas, kesetimbangan tidak mungkin dicapai dengan konfigurasi Gambar 8-10(a) sebab
penjumlahan
1
dan
4
akan sedikit negatif sedangkan
2
+
3
akan persis 0.
Kesetimbangan ini dapat dipulihkan kembali dengan pengubahan rangkaian sedemikian
rupa sehingga persyaratan sudut fasa dipenuhi. Pada dasarnya terdapat dua metoda
untuk melakukan hal ini : pilihan pertama adalah mengubah Z
1
sehingga sudut fasanya
berkurang menjadi lebih kecil dari 90 (sama dengan
4
) dengan menghubungkan
sebuah tahanan paralel terhadap kapasitor. Pengubahan ini menghasilkan konfigurasi
jembatan Maxwell seperti ditunjukkan pada Gambar 8-10(b). Tahanan R
1
dapat
ditentukan melalui pendekatan standar dari Bab 8-3 dengan menggunakan admitansi
lengan 1, dan dapat dituliskan
3 2
4
1
Z Z
Z
Y =

1000
1
1
1
j
R
Y + =

dimana


Gambar 8-10 Suatu masalah menyetimbangkan jembatan

Masukkan nilai-nilai yang diketahui dan selesaikan untuk R
1
, diperoleh
166

1000 500
500 100
1000
1
1
x
j j
R
+
= +

dan R
1
= 5,000
Perlu diperhatikan bahwa penambahan R
1
mengganggu syarat setimbang pertama (ke-
besaran Z
1
telah berubah) sehingga tahanan variabel R
3
harus diatur untuk mengimbangi
efek ini. Pilihan kedua adalah mengubah sudut fasa lengan 2 atau lengan 3 dengan
menambahkan sebuah kapasitor seri seperti ditunjukkan pada Gambar 8-10(c). Juga
dengan menuliskan persamaan setimbang dengan menggunakan impedansi, diperoleh
2
4 1
3
Z
Z Z
Z =

Substitusi nilai-nilai komponen dan penyelesaian untuk X
C
menghasilkan
500
) 500 100 ( 1000
1000
j j
jX
C
+
=

atau Xc = 200
Juga dalam hal ini, kebesaran Z
3
telah bertambah sehingga syarat setimbang pertama
telah berubah. Suatu pengaturan kecil terhadap R
3
diperlukan kembali untuk
memulihkan kesetimbangan.

8-7 JEMBATAN WIEN
Jembatan Wien dikemukakan di sini bukan hanya untuk pemakaiannya sebagai
jelli batan arus bolak-balik guna mengukur frekuensi, tetapi juga untuk berbagai
rangkaian bermanfaat lainnya. Sebagai contoh, sebuah jembatan Wien kita temukan di
dalam alat penganalisa distorsi harmonik (harmonic distortion Analyzer), di mana dia
digunabii sebagai saringan pencatat (notch filter) yang membedakan terhadap satu
frekuensi tertentu. Pemakaian jembatan Wien juga terdapat di dalam osilator audio dan
frekuensi tinggi (high frequency, HF) sebagai elemen pengukur frekuensi (frequency
determining element). Namun dalam bab ini, jembatan Wien dibahas dalam bentuk
dasarnya yang direncanakan untuk mengukur frekuensi; dalam bab-bab lainnya dia
ditunjukkaa sebagai elemen dari berbagai jenis instrumen.
Jembatan Wien memiliki sebuah kombinasi seri RC dalam satu lengan dan sebuah
kombinasi paralel RC dalam lengan di sebelahnya (lihat Gambar 8-11).

Gambar 8-11 Pengukuran frekuensi dengan jembatan Wien

Impedansi lengan 1 adalah Z
1
= R
1
-j/C
1
. Admitansi lengan 3 adalah Y
3
= I/R
3
+jC
3
.
Dengan menggunakan persamaan dasar untuk kesetimbangan jembatan dan
memasukkan nilai-nilai yang tepat, diperoleh
167


|
|
.
|

\
|
+
|
|
.
|

\
|
=
3
3
4
1
1 2
1
C j
R
R
C
j
R R e
e
(8-36)
Dengan menguraikan bentuk ini diperoleh

( )
1
3 4
3 1
4
4 1 3
3
4 1
2
C
C R
R C
jR
R R C j
R
R R
R + + =
e
e
(8-37)

Dengan menyamakan bagian-bagian nyata diperoleh

1
3 4
3
4 1
2
C
C R
R
R R
R + =
(8-38)
yang berubah menjadi

1
3
3
1
4
2
C
C
R
R
R
R
+ =
(8-39)
Dengan menyamakan bagian-bagian khayal diperoleh

3 1
4
4 1 3
R C
R
R R C
e
e =
(8-40)
dimana = 2f,
dan penyelesaian bagi f diperoleh

3 1 3 1
2
1
R R C C
f
t
= (8-41)
Perhatikan bahwa kedua persyaratan bagi kesetimbangan jembatan sekarang menghasil-
kan sebuah persamaan yang menentukan perbandingan tahanan R
2
/R
4
yang diperlukan,
dan sebuah persamaan lain yang menentukan frekuensi tegangan yang dimasukkan.
Dengan perkataan lain, jika kita memenuhi persamaan (8-39) dan juga menghidupkan
(mengeksitasi) jembatan dengan suatu frekuensi yang diberikan oleh persamaan (8-41),
maka jembatan tersebut akan setimbang.
Dalam kebanyakan rangkaian jembatan Wien, komponen-komponen dipilih
sedemikian sehingga R
1
=R
3
dan C
1
= C
3
. Ini menyederhanakan persamaan (8-39)
menjadi R
2
/R
4
=2 dan persamaan (8-41) menjadi :
C R
f
t 2
1
=
yang merupakan pernyataan umum bagi frekuensi jembatan Wien. Dalam sebuah
jembatan praktis, kapasitor C
1
dan C
3
adalah kapasitor-kapasitor tetap, dan tahanan R
1

dan R
3
, adalah tahanan variabel yang dikontrol oleh sebuah poros bersama. Dengan
menetapkan bahwa sekarang R
2
=2R
4
, jembatan dapat digunakan sebagai alat pengukur
frekuensi yang setimbangkan oleh suatu pengontrol tunggal. Pengontrol ini dapat
dikalibrasi langsung dalam frekuensi.
Karena kualitas frekuensinya, jembatan Wien mungkin sulit dibuat setimbang
(kecuali bentuk gelombang tegangan adalah sinus murni). Karena jembatan tidak
setimbang untuk setiap harmonik terdapat di dalam tegangan yang dimasukkan,
harmonik-harmonik ini kadang-kadang akan menghasilkan suatu tegangan keluar yang
menutupi titik setimbang yang benar.
8-8 ALAT PENTANAHAN WAGNER
Hingga sekarang pembahasan telah menganggap bahwa keempat lengan
jernbaim, terdiri dari impedansi-impedansi tergumpal sederhana yang tidak berinteraksi
168

dalam cara apa pun. Namun dalam praktek, kapasitansi-kapasitansi kebocoran (Stray
capacitances), terdapat antara berbagai elemen jembatan dan tanah, dan juga antara
lengan-lengan jembatan sendiri. Kapasitansi kebocoran ini paralel terhadap lengan-
lengan jembatan dan mengakibatkan kesalahan-kesalahan pengukuran, khususnya pada
frekuensi-frekuensi yang lebih tinggi atau bila yang diukur adalah kapasitor-kapasitor
kecil atau induktor-induktor besar. Salah satu cara untuk mengontrol kapasitansi
kebocoran ini adalah dengan membungkus lengan-lengan dan menghubungkan
pembungkus (shield) tersebut ke tanah. Ini tidak menghilangkan kapasitansi tetapi
paling tidak membuat nilai mereka konstan, dan dengan demikian dapat dikompensir.
Salah satu metoda yang paling banyak dipakai guna menghilangkan sebagian dmi
efek kapasitansi kebocoran di dalam sebuah rangkaian jembatan adalah alat pentanahan
Wagner (Wagner ground connection). Rangkaian ini menghilangkan kapasitansi
penganggu yang terdapat antara terminal-terminal detektor dan tanah.


Gambar 8-12 Alat pentanahan Wagner menghilangkan efek kapasitansi kebocoran
pada detektor
Gambar 8-12 menunjukkan rangkaian dari sebuah jembatan kapasitansi di mana C
1
dan
C
2
menyatakan kapasitansi kebocoran. Osilator dipindahkan dari sambungan tanahnya
yang biasa dan dijembatani oleh suatu kombinasi seri dari tahanan R
w
dan kapasitor C
w
.
Titik pertemuan R
w
dan C
w
ditanahkan dan disebut sambungan tanah Wagner. Prosedur
untuk pengaturan permulaan bagi jembatan adalah sebagai berikut : Detektor
dihubungkan ke titik 1, dan R
1
diatur agar menghasilkan nol atau suatu minimum di
dalam telepon kepala. Kemudian sakelar dipindahkan ke posisi 2 yang menghubungkan
detektor ke titik tanah Wagner. Sekarang tahanan R
w
diatur agar suara minimum. Bila
sakelar dipindahkan ke posisi 1 sekali lagi, sesuatu ketidaksetimbangan mungkin akan
ditunjukan. Kemudian tahanan R
1
dan R
3
diatur agar respons detektor minimal dan
sakelar dipindahkan lagi ke posisi 2. Sedikit pengaturan bagi R
w
dm R
1
(dan R
3
)
mungkin diperlukan sebelum mencapai nol pada kedua posisi sakelar. Bila akhirnya nol
diperoleh, titik 1 dan 2 berada dalam potensial yang lama, dan ini adalah potensial
tanah. Kemudian kapasitansi kebocoran C
1
dan C
2
secara efektif terhubung singkat
keluar dan tidak mempunyai efek terhadap kesetimbangan jembatan yang normal. Juga
terdapat kapasitasi dari titik-titik C dan D ke tanah, tetapi penambahan titik tanah
Wagner menghilangkannya dari rangkaian detektor, karena arus melalui kapasitansi ini
akan masuk melalui sambungan tanah Wagner.
Kapasitansi di antara lengan-lengan jembatan tidak dihilangkan oleh sambungan
tanah Wagner dan mereka masih mempengaruhi ketelitian pengukuran. Ide sambungan
tanah Wagner dapat juga diterapkan ke jembatan-jembatan lain, selama diperhatikan
bahwa lengan-lengan pentanahan menggandakan impedansi satu pasang lengan
jembatan terhadap mana mereka dihubungkan. Karena penambahan sambungan tanah,
Wagner tidak mempengaruhi syarat-syarat kesetimbangan, prosedur pengukuran tetap
tidak berubah.

169

8-9 JEMBATAN IMPEDANSI UNIVERSAL
Salah satu jembatan laboratorium yang paling bermanfaat dan terandalkan
adalah jembatan impedansi universal. Beberapa konfigurasi jembatan yang dibahas
sebegitu jauh tergabung di dalam satu instrumen yang mampu mengukur tahanan dc dan
ac, menginduktansi dan faktor penyimpanan Q dari sebuah induktor, dan kapasitansi
dan faktor disipasi D dari sebuah kapasitor.

Gambar 8-13 Jembatan impedansi Universal (seijin John Fluke Manifacturing
Company)
Sebuah contoh jembatan impedansi universal yang tepat diberikan pada Gambar 8-13
yang dengan jelas menunjukkan susunan berbagai alat kontrol di panel depan.
Jembatan universal terdiri dari empat rangkaian jembatan beserta sakelar-sakelar
yang sesuai, detektor ac dan dc, generator ac dan dc, dan standar-standar impedansi
Rangkaian jembatan Wheatstone digunakan untuk mengukur tahanan ac dan dc.
Kapasitansi diukur dalam sebuah kapasitor standar dan tahanan-tahanan presisi di
dalam sebuah jaringan empat lengan beserta cara-cara untuk menentukan kerugian di
dahm kapasitor yang tidak diketahui. Konfigurasi Maxwell digunakan untuk
pengukuran induktor Q rendah dan jembatan Hay untuk pengukuran induktor dengan Q
di atas sepuluh. Untuk pengukuran tahanan dc, digunakan sebuah galvanometer
suspensi dengan sensitivitas arus sebesar 0,5 A per divisi. Sebuah penguat selektif
yang mengoperasikan tabung sinar elektron digunakan sebagai indikator nol bagi semua
pengukuran ac.
170



Gambar 8-14 Konfigurasi jembatan dari jembatan impedansi universal dari Gambar 8-
13

Terminal-terminal dilengkapi untuk hubungan ke detektor nol ac dan dc dari luar.
Telepon kepala impedansi tinggi dapat juga dihubungkan dan digunakan sebagai
detektor ac. Generator dc adalah sebuah sumber daya sederhana. Generator ac terdiri
dari sebuah osilotor yang menggunakan jaringan RC kontak tusuk (plug-in) untuk
pemilihan frekuensi, dengan frekuensi 10 kHz. sebagai standar.
Gambar 8-14 menunjukkan berbagai konfigurasi jembatan yang digunakan di
dalam jembatan impedansi ini. Akan ditemukan bahwa kebanyakan jembatan untuk
pemakaian umum menggunakan ide yang sama seperti instrumen yang dijelaskan di
sini.
PUSTAKA
1. Stout, Melville B., Basic Electrical Measurements, edisi kedua, Bab 9, 10,
Englewood Cliffs, N.1. Prentice-Hall, Inc., 1960.
2. Frank, Ernest, Electrical Measurement Analysis, Bab 9, 13. New York : Mr.
Graw-Hill Book Company, Inc., 1959.
171

SOAL-SOAL
1. Sebuah jembatan arus bolak-balik setimbang mempunyai konstanta-konstanta
berik tit : lengan AB, R = 200 paralel terhadap C = 0,047 F; BC, R = 1000
seri dengan C = 0,47 F; CD tidak diketahui; DA, C = 0,5 F. Frekuensi osilator
adalah 1000 Hz. Tentukan konstanta-konstanta lengan CD.
2. Sebuah jembatan setimbang pada 1000 Hz dan mempunyai konstanta-konstanta
berikut : AB, 0,2 F kapasitansi murni; BC, 500 tahanan murni; CD, tidak di-
ketahui; DA, R = 300 paralel terhadap C = 0,1 F. Tentukan R dan C atau
konstanta L dari lengan CD, dianggap sebagai suatu rangkaian seri.
3. Sebuah jembatan 1000 Hz mempunyai konstanta-konstanta berikut : lengan AB,
R = 1000 paralel terhadap C = 0,5 F; BC, R = 1000 seri dengan C = 0,5 pF;
CD, L = 30 mH seri dengan R = 200 . Tentukan konstanta-konstanta lengan DA
agar membuat jembatan setimbang. Nyatakan hasil tersebut sebagai tahanan murni
R seri dengan sebuah C atau L murni, dan juga sebagai sebuah R murni paralel ter-
hadap sebuah C atau L murni.
4. Dalam lengan AB sebuah jembatan arus bolak-balik terdapat sebuah kapasitansi
murni 0,2 F; dalam lengan BC sebuah tahanan murni 500 ; dalam lengan CD,
Suatu kombinasi seri dari R = 50 dan L = 0,1 H, Lengan AD terdiri dari sebuah
kapasitor C = 0,4 F seri dengan sebuah tahanan variabel R
S
. = 500 rad/s.
(a) Tentukan nilai R
S
guna mendapatkan kesetimbangan jembatan;
(b) Dapatkah kesetimbangan sempurna tercapai melalui pengaturan R
s
? Jika tidak,
tetapkan posisi dan nilai sebuah tahanan yang dapat diatur untuk melengkapi
kesetimbangan.
5. Sebuah jembatan arus bolak-balik setimbang mempunyai konstanta-konstanta
berikut : AB, R =500 ; BC, R =1000 ; CD tidak diketahui; DA, C = 0,2 F.
Tegangan sebesar 10 V pada 1000 Hz dimasukkan ke jembatan pada titik-titik A
dan C
(a) Tentukan konstanta-konstanta yang tidak diketahui;
(b) Tahanan 1000 diubah ke 1002 . Tentukan tegangan pada detektor impedansi
tinggi.
(c) Ulangi (b), dengan mempertukarkan detektor dan generator.
6. Sebuah jembatan arus bolak-balik yang tidak setimbang mempunyai konstanta-
konstanta berikut : lengan AB, R =2000 paralel terhadap C = 0,2 F; BC, R
=1500 ; CD, L = 0,8 H seri dengan R = 500 ; DA, R = 2000 . Osilator
mempunyai keluaran 20 V dan dihubungkan ke A dan C. Frekuensi adalah 1000
Hz.
(a) Berapa seharusnya nilai konstanta-konstanta lengan CD agar jembatan set bang;
(b) Berdasarkan konstanta jembatan mula-mula yang diberikan dalam soal ini,
tentukan tegangan pada detektor impedansi tinggi.
7. Sebuah jembatan setimbang pada 1000 Hz dan mempunyai lengan-lengan
pembanding berupa tahanan murni., AB =1500 dan BC = 1000. Yang tidak
diketahui dihubungkan dari C ke D. Lengan DA mempunyai kapasitor standar se0,1
pF dengan tahanan dalam yang diabaikan, terhadap mana sebuah tahanan
ditambahkan agar menghasilkan kesetimbangan. Generator mempunyai keluaran 15
V dan dihubungkan dari B ke D. Detektor berupa sebuah voltmeter impedansi
172

tinggi.
(a) Tentukan konstanta-konstanta lengan CD;
(b) Tentukan tegangan detektor jika pertambahan 10 diberikan dalam lengan BC
8. Dalam jembatan arus bolak-balik Gambar 8-3; R
1
= 521 , R
2
= 1200 , Cs
=0,045 F, dan R
s
= 12,1 . Frekuensi osilator adalah 10 kHz.
(a) Tentukan nilai R
x
dan C
x

(b) Ditemukan bahwa R
1
memiliki induktansi seri 2 H dan kapasitansi paralel
550 pf, R
2
memiliki induktansi seri 5 H dan kapasitansi paralel 1050 pf, C
s

memiliki tahanan paralel 1,5 M, dan R
s
tidak berubah. Tentukan kesalahan
dalam pengukuran R
x
dan C
x
seperti pada (a).
9. Sebuah jembatan arus bolak-balik mempunyai konstanta-konstanta berikut :
lengan AB, R = 1000 paralel terhadap C = 0,159 F; BC, R = 1000 ; CD, R =
500 ; DA, C = 0,636 F seri dengan tahanan yang tidak diketahui. Tentukan
frekunsi pada mana jembatan ini setimbang dan tentukan nilai tahanan di dalam
lengan DA guna menghasilkan kesetimbangan ini.
10. Sebuah jembatan arus bolak-balik mempunyai konstanta-konstanta berikut :
Lengan AB, R = 800 , paralel terhadap C = 0,4 F; BC, R = 500 seri dengan C
=1,0 F; CD, R = 1200 ; DA, tahanan R murni dengan nilai yang tidak diketahui.
(a) Tentukan frekuensi pada mana jembatan setimbang.
(b) Tentukan tahanan yang diperlukan dalam lengan DA guna menghasilkan
kesetimbagan
11. Sebuah jembatan arus bolak-balik mempunyai tahanan-tahanan murni dalam tiga
lengan : R
1
dalam lengan AB, R
2
dalam lengan BC , dan R
3
dalam lengan DA.
Lengan CD terdiri dari sebuah kumparan dengan komponen-komponen seri R dan L
paralel terhadap sebuah kapasitansi variabel C. Tentukan persamaan- persamaan
setimbang untuk jembatan ini dengan mengukur konstanta-konstanta kumparan
dinyatakan dalam komponen-komponen lainnya. Nyatakan Q kumparan dalam
kontanta-konstanta lengan jembatan dalam keadaan setimbang.
12. Sebuah jembatan arus bolak-balik, yang diberi tanda ABCD sekeliling pojok-
pojoknya, mempunyai konstanta-konstanta berikut : AB kapasitansi murni 0,01 F;
BC , tahanan murni 2500 ; CD, tidak diketahui; DA, kapasitansi 0,02 F seri
dengan sebuah tahanan 7500 . Jembatan setimbang pada frekuensi sedemikian
sehingga = 50000 rad/ s
(a) Tentukan kostanta jembatan yang tidak dikatahui (pada CD).
(b) Jika disamping konstanta-konstanta yang diberikan terdapat kapasitansi
kebocoran sebesar 100 pF pada lengan DA, tentukan nilai yang sebenarnya dari
yang tidak diketahui.
dari berbagai fone- rad/ s











173

9. OSILOSKOP

9-1 PENDAHULUAN
Osiloskop sinar katoda (cathode ray oscilloscope, selanjutnya disebut CRO)
adalah instrumen laboratorium yang sangat bermanfaat dan terandalkan yang
digunakan untuk pengukuran dan analisa bentuk-bentuk gelombang dan gejala lain
dalam rangkaian-rangkaian elektronik .Pada dasarnya CRO adalah alat pembuat grafi
atau gambar ploter X-Y yang sangat cepat yang memperagakan sebuah sinyal
masukan terhadap sinyal permukaan layar dalam memberi tanggapan terhadap
tegangan-tegangan masukan.
Dalam pemakaian CRO yang biasa, sumbu X atau masukkan horisontal adalah
tegangan tanjak (ramp voltage) linier yang dibangkitkan secara internal, atau basis
waktu (time base) yang secara periodik menggerakkan bintik cahaya dari kiri ke kanan
melalui permukaan layar. Tegangan yang akan diperika dimasukkan ke sumbu Y atau
masukkan vertikal CRO, menggerakkan bintik ke atas dan ke bawah sesuai dengan nilai
sesaat tegangan masukkan. Selanjutnya bintik tersebut menghasilkan jejak berkas
gambar pada layar yang menunjukkan variasi tegangan masukan sebagai fungsi dari
waktu. Bila tegangan masukkan berulang dengan laju yang cukup cepat, gambar akan
kelihatan sebagai sebuah pola yang diam pada layar. Dengan demikian, CRO
melengkapi suatu cara pengamatan tegangan yang berubah terhadap waktu.
Disamping tegangan, CRO dapat menyajikan gamabaran visual dari berbagai
fenomena dinamik melalui pemakaian transduser yang mengubah arus, tekanan
regangan, temperatur, percepatan, dan banyak besaran fisis lainnya yang menjadi
tegangan .
CRO digunakan untuk menyelidiki suatu bentuk gelombang, peristiwa transien
dan besaranl lainnya yang berubah terhadap waktu dari frekuensi yang sangat rendah ke
frekuensi yang sangat tinggi. Pencatatan kejadian ini dapat dilakukan oleh kamera
khusus yang ditempelkan ke CRO guna penafsiran kuantitatif.
Prinsip-prinsip pada mana CRO bekerja dibahas lebih lanjut dalam bab-bab
berikut.

9-2 OPERASI DASAR CRO
Subsistem utama dari sebuah CRO untuk pemakaian umum ditunjukkan pada
diagram balok yang disederhanakan pada Gambar 9-1. Terdiri dari
(a) Tabung sinar katoda (Cathode ray tube) atau CRT.
(b) Penguat vertikal (vertical amplifier).
(c) Saluran tunda (delay line).
(d) Generator basis waktu (time base generator).
(e) Penguat horisontal (horizontal amplifier).
(f) Rangkaian pemicu (trigger circuit).
(g) Sumber daya (power supply).
Tabung sinar katoda atau CRT merupakan jantung osiloskop, dengan yang
lainnya dari CRO terdiri dari rangkaian guna mengoperasikan CRT. Pada dasarnya,
CRT menghasilkan suatu berkas elektron yang dipusatkan secara tajam dan dipercepat
ke suatu kecepatan yang sangat tinggi. Berkas yang dipusatkan dan dipercepat ini
bergerak dad sumbernya (senapan elektron, electron gun) ke depan CRT, di mana
dia membentur bahan fluoresensi yang melekat di permukaan CRT (layar) bagian
dalam dengan enelgi yang cukup, untuk membuat layar bercahaya dalam sebuah bintik
kecil.
Selagi merambat dari sumbernya ke layar, berkas elektron lewat di antara
sepasany, pelat defleksi vertikal dan sepasang pelat defleksi horisontal. Tegangan yang
174

dimasukkan ke pelat defleksi vertikal dapat menggerakkan berkas elektron pada
bidang vertikal sehingga bintik CRT bergerak ke atas dan ke bawah. Tegangan
yang dimasukkan kv pelat defleksi horisontal dapat menggerakkan berkas pada bidang
horisontal dan bintikan CRT ini dari kiri ke kanan. Gerakan-gerakan ini saling tidak
bergantungan satu sama lain sehingga bintik CRT dapat ditempatkan di setiap tempat
pada layar dengan menghubungkan masukan tegangan vertikal dan horisontal yang
sesuai secara bersamaan.


Gambar 9-1 Diagram blok dari sebuah osiloskop pemakaian umum

Bentuk gelombang Sinyal yang akan diamati pada layar CRT dihubungkan
ke masukan penguat vertikal (vertical amplifier). Penguatan ini disetel melalui
peleman masukan (input attenuator) yang telah terkalibrasi, yang biasanya diberi tanda
VOLTS/DIV. keluaran dorong-tarik (push-pull) dari penguat dikembalikan ke pelat
defleksi vertikal melalui yang disebut Saluran tunda (delay line) dengan daya yang
cukup untuk mengendalikan bintik CRT dalam arah vertikal.
Generator basis waktu atau generator penyapu (sweep generator)
membangkitkan sebuah gelombang gigi gergaji yang digunakan sebagai tegangan
defleksi horisontal dalam CRT .Bagian gelombang gigi gergaji yang menuju positif
adalah linear, dan laju kenaikannya disetel oleh suatu alai kontrol di panel dengan
yang diberi tanda. TIME/DIV. Tegangan gigi gergaji ini dikembalikan ke penguat
horisontal. Penguat ini berisi sebuah pembalik fasa (phase inverter) dan
menghasilkan dua gelombang keluaran simultan yaitu gigi gergaji yang menuju
positif (menaik) dan gigi gergaji yang menuju negatif (menu-full). Gigi gergaji
yang menuju positif dimasukkan ke pelat defleksi horisontal CRT sebelah kanan
dan gigi gergaji yang menuju negatif ke pelat defleksi sebelah kiri. Tegangan-
tegangan ini menyebabkan berkas elektron melejang (menyapu) sepanjang layar CRT
dari kiri ke kanan, dalam satuan waktu yang dikontrol oleh TIME/DIV.
Pemasukan tegangan defleksi ke kedua pasangan pelat secara bersamaan
menyebabkan bintik CRT meninggalkan bekas bayangan pada layar. Ini ditunjukkan
pada Gambar 9-1,

di mana sebuah tegangan gigi gergaji atau tegangan penyapu (sweep)
dimasukkan ke pelat horisontal dan sinyal gelombang sinus ke pelat vertikal.
Karena tegangan penyalm horisontal bertambah secara linear terhadap waktu,
bintik CRT bergerak sepanjang layar pada suatu kecepatan yang konstan dari kiri
ke kanan. Pada akhir penyapuan, bila tegangan gigi gergaji secara tiba-tiba
turun dari harga maksimalnya ke nol, bintik CRT kembali dengan cepat ke
posisi awalnya di bagian kiri layar dan tetap berada di sana sampai penyapuan
baru dimulai. Bila sebuah sinyal masukan dimasukkan secara bersamaan dengan
tegangan penyapuan horisontal ke pelat defleksi vertikal, berkas elektron akan
dipengaruhi oleh dua gaya, yaitu satu dalam bidang horisontal menggerakkan
175

bintik CRT sepanjang layar pada suatu laju yang linear; dan satu dalam bidang vertikal
yang, menggerakkan bintik CRT ke atas dan ke bawah sesuai dengan besar dan
polaritas sinyal masukan. Dengan demikian, gerak resultants dari berkas elektron
menghasilkan peragaan sinyal masukan vertikal pada CRT sebagai fungsi waktu.


Gambar 9-2 Bintik CRO menghasilkan jejak bayangan pada layar bila
tegangan-tegangan defleksi horisontal dan vertikal dimasukkan

Jika sinyal masukan mempunyai sifat yang berulang, peragaan CRT yang
stabil dapat dipertahankan dengan cara memulai setiap penyapuan horisontal
dititik yang sama pada gelombang sinyal. Untuk mencapai ini, contoh gelombang
masukan dikernimlikan ke rangkaian pemicu (trigger) yang akan menghasilkan
sebuah pulsa pemicu (11 suatu titik yang dipilih pada gelombang masukan.
Pulsa pemicu ini digunakan untuk menghidupkan generator basis waktu, yang
pada gilirannya memulai penyapuan bintik CRT secara horisontal dari kiri ke kanan
layar.

Dalam hal yang lazim, transisi gelombang masukan yang terjadi mula-mula
(leading, edge) digunakan untuk mengaktifkan generator pemicu agar
menghasilkan pulsa pemicu dan memulai penyapuan. Kejadian ini berlangsung
sampai suatu selang waktu tertentu (0,15 S), sehingga penyapuan tidak dimulai
sampai setelah leading edge sinyal masukatn dilewatkan. Ini selanjutnya mencegah
peragaan leading edge gelombang pada layar. Maksud dari saluran tunda adalah
memperlambat kedatangan gelombang masukai. pada pelat defleksi vertikal sampai
rangkaian pemicu dan rangkaian basis waktu telah mempunyai kesempatan untuk
memulai penyapuan berkas. Saluran tunda ini menghasilkan keter lambatan total
sebesar sekitar 0,25 s di dalam saluran defleksi vertikal; sehingga "leading-
edge" gelombang dapat dilihat walaupun dia digunakan untuk memicu penyapuan
Sumber daya terdiri dari bagian tegangan tinggi untuk mengoperasikan
CRT, d.m tegangan rendah untuk mencatu (mensuplai) rangkaian elektronik
osiloskop. Sumber-sumber daya ini adalah dari buatan yang biasa dan tidak
memerlukan uraian selanjutnya.
9-3 TABUNG SINAR KATODA (CRT)
9-3-1 Operasi CRT
176

Struktur bagian dalam sebuah tabung sinar katoda (Cathode ray tube)
atau CRT ditunjukkan pada Gambar 9-3. Komponen utama dari CRT untuk
pemakaian umum ini adalah :
(a) Perlengkapan senapan elektron.
(b) Perlengkapan pelat defleksi.
(c) Layar fluorensi.
(d) Tabung gelas dan dasar tabung
177





Gambar 9-3 Struktur dalam dari sebuah tabung sinar katoda.


178

Ringkasnya, peralatan senapan elektron menghasilkan suatu berkas elektron
sempil dan terfokus secara tajam yang meninggalkan senapan pada keeepatan yang
sangat tinggi dan bergerak menuju layar fluoresensi. Pada waktu membentur layar, energi
kinetik dari elektron-elektron berkecepatan tinggi diubah menjadi pancaran
cahaya, dan berkas menghasilkan suatu bintik cahaya kecil pada layar CRT. Dalam
perjalanannya menuju layar, berkas elektron tersebut lewat di antara dua pasang
pelat defleksi elektrostatik, ditunjukkan pada Gambar 9-3 sebagai susunan pelat
defleksi. Jika tegangan dimasukkan ke pelat-pelat defleksi, berkas elektron dapat
dibelokkan dalam arah vertikal dan horisontal, sehingga bintik cahaya menimbulkan
jejak gambar pada layar sesuai dengan masukan-masukan tegangan ini.
Sebuah senapan elektron konvensional yang digunakan dalam sebuah CRT
pemakaian umum, ditunjukkan pada Gambar 9-4. Sebutan "senapan elektron"
berasal dari kesamaan antara gerakan sebuah elektron yang dikeluarkan dari
struktur senapan CRT dan lintasan sebuah peluru yang ditembakkan dari sebuah
senapan. Kenyataannya, studi mengenai gerakan partikel-partikel bermuatan
(elektron) dalam sebuah medan listrik wring disebut balistik elektron (electron
ballistics).


Gambar 9-4 Senapan elektron dan perlengkapan pelat defleksi dari sebuah CRT untuk
pemakaian umum (Seijin Tetronix, Inc.).


Dalam skema CRT pada Gambar 9-3, elektron-elektron dipancarkan dari
sebuah katoda termionik yang dipanaskan secara tidak langsung. Katoda ini secara
keseluruhan dikelilingi oleh sebuah kisi pengatur (control grid) yang terdiri dari
sebuah silinder nikel dengan lubang kecil di tengahnya, satu sumbu (koaksial)
dengan sumbu tabung (silinder). Elektron-elektron yang mengatur agar lewat
melalui lubang kecil di dalam kisi tersebut secara bersama-sama membentuk
yang disebut arus berkas (beam current). Besarnya arus berkas ini dapat diatur
melalui alat kontrol di panel depan g diberi tanda INTENSITY, yang mengubah
tegangan negatif (bias) kisi pengatur di ac terhadap katoda. Kenaikan tegangan negatif
kisi pengatur menurunkan arus berkas dan berarti menurunkan intensitas (terangnya)
bayangan CRT; dengan penurunan tegangan negatif kisi memperbesar arus berkas.
Kejadian ini identik dengan kisi pengatur di dalamsebuah tabung hampa trioda yang
biasa.
Elektron-elektron yang dipancarkan oleh katoda dan lewat melalui lubang kecil
179

di dalam kisi pengatur, dipercepat oleh potensial positif tinggi yang dihubungkan ke
kedua anoda pemercepat (accelerating anodes). Kedua anoda ini dipisahkan oleh
sebuah anoda pemusat (focusing anode) yang melengkapi suatu metoda guna
memusatkan elektron ke dalam berkas terbatas yang sempit dan tajam. Kedua anoda
pemercepat anoda pemusa I ini juga berbentuk silinder dengan lubang-lubang kecil di
tengah-tengah masing-masing silinder, satu sumbu dengan sumbu CRT. Lubang-
lubang di dalam elektroda-elektroda ini membolehkan berkas elektron yang
dipercepat dan terpusat merambat lewat pelat -pelat defleksi vertikal dan horisontal
menuju layar fluoresensi.
9-3-2 Pemusatan elektrostatik
Pemusatan elektrostatik (electrostatic focusing) digunakan dalam semua
CRO. Itiluk memahami bekerjanya metoda pemusatan elektrostatik, sangat
bermanfaat untuk pertama-tama memperhatikan kelakukan dari masing-masing
partikel di dalam sebuah medan listrik. Perhatikan diagram Gambar 9-5 yang
menunjukkan sebuah elektron hipoteisis dalam keadaan diam di dalam sebuah medan
magnit. Definisi intensitas medan listrik menyatakan bahwa gaya pada satu-satuan
muatan positif pada setiap titik di dalam wilayah medan listrik adalah intensitas medan
listrik pada titik tersebut. Dengan demikian menurut definisi.
) / ( m V
q
f
e = (9-1)

dimana : e = intensitas medan listrik, dalam V/m.
f = gaya pada muatan, dalam N.
q = muatan, dalam C.

Sebuah elektron adalah sebuah partikel bermuatan negatif dan muatannya adalah
e = 1, 602 x 10
- 19
C (9-2)

Dari persamaan (9-1), gaya pada elektron di dalam sebuah medan listrik menjadi
N e f c = (9-3)


dimana tanda minus menunjukkan bahwa gaya tersebut bekerja dalam arah yang ber-
lawanan dengan arah medan magnet.

Gambar 9-5 Gaya f terhadap sebuah elektron di dalam medan lsitrik seragam
180


Ini hanya berlaku bila medan listrik di dalam mana partikel bermuatan berada
ailalith dari intenstias yang seragam (uniform). Bahwa ini tidak selalu demikian dapat di-
Iihat dari Gambar 9-6, di mana ditunjukkan medan listrik antara dua pelat paralel oloiigati
ditnensi terbatas. Dalam Gambar 9-6, intensitas medan diarahkan dari pelat positif ke
negatif. Tolakan garis-garis gaya medan listrik ke arah camping (lateral) yang
iiwnvvhahkan penyebaran ruangan di antara garis-garis gaya, menghasilkan pelengkungan
medan pada ujung-ujung kedua pelat. Dengan demikian kerapatan garis-garis gaya medan
akan Iebih kecil pada ujung-ujung pelat daripada di bagian tengah antara kedua pelat. Bila
titik-titik dengan potensial yang sama pada masing-masing garis-garis medan saling
dihubungkan, diperoleh permukaan dengan potensial yang sama (equtpotential surfaces)
yang ditunjukkan sebagai garis-garis tebal pada Gambar 9-6. Karena gaya pada sebuah
elektron bekerja dalam arah gaya pada sebuah elektron adalah tegak lurus pada permukaan-
permukaan yang potensialnya sama.


Gambar 9-6 Medan listrik dan permukaan-permukaan berpotensial sama untuk dua plat
paralel.

Bila dua silinder ditempatkan ujung ke ujung dan kepada mereka dimasukkan
beda potensial, medan listrik yang dihasilkan antaia kedua silinder tersebut tidak
mempunyai kerapatan yang seragam. Gaya tolak lateral akan menyebabkan
penyebaran garis-garis gaya dan menghasilkan sebuah medan seperti ditunjukkan pada
Gambar 9-7. Permukaan-permukaan- engan potensial yang sama ditunjukkan sebagai garis
tebal. Karena kerapatan medan listrik yang berubah di dalam daerah ant ara silinder-
silinder, permukaan permukaan dengan potensial yang sama adalah lengkung.

Gambar 9-7 Pemukaan berpotensial sama untuk dua silinder yang ditempatkan ujung
keujung
Perhatikan sekarang daerah pada kedua sisi sebuah permukaan berpotesial sama
181

ditunjukkan pada Gambar 9-8. Potensial di sebelah kiri permukaan S adalah V
-
dan di
sebelah kanan adalah V
+
. Sebuah elektron yang bergerak dalarn arah AB dan membentuk
suatu sudut terhadap garis yang tegak lurus pada permukaan berpotensial sama dan
memasuki daerah sebelah kiri S dengan kecepatan V
I
, mengalami gaya pada permukaan S.
Gaya ini bekerja dalam arah yang tegak lurus pada permukaan berpotensial sama. Karena
gaya ini, kecepatan elektron naik ke suatu nilai baru v
2
setelah melewati S. Komponen
singgung (tangensial) v
t
dari kecepatan terhadap kedua sisi S tetap sama. Hanya komponen
tegak lurus dari kecepatan v
n
yang diperbesar oleh gaya pada permukaan berpotensial sama
ke suatu nilai baru v
n
. Selanjutnya dari gambar 9-8 dipenuhi bahwa
r i
v v v u u sin sin
2 1 1
= = (9-4)



Gambar 9-8 Pembiasan suatu berkas elektron pada sebuah permukaan berpotensial sama

dimana
i
adalah sudut datang dan,
r
adalah sudut bias (refraksi) sinar elektron.
Dengan inenyusun kembali persamaan (9-4) diperoleh

1
2
sin
sin
v
v
r
i
=
u
u
(9-5)
Persamaaan (9-5) identik dengan bentuk aljabar yang berhubungan dengan
pembiasan hoikas cahaya dalam optika geometric. Dengan demikian pembiasan atau
pembelokan sebuah elektron pada sebuah permukaan berpotensial sama mengikuti
hukum yang sama seperti pembelokan sebuah berkas cahaya pada permukaan pembias,
seperti halnya lensa optik. Untuk alasan ini, sistem pemusatan elektrostatik di dalam.
CRT kadang-kadang disebut lensa elektron.
Perhatikan sekarang ketiga elemen sistem pemusatan elektrostatik yang ditunjukkan
dalam diagram fungsional pada Gambar 9-9. Elektroda pertama dari lensa elektron ini
adalalah anoda yang sebelumnya telah dipercepat, sebuah silinder logam yang berisi
beberapa pelat pengatur (baffle) untuk mengumpulkan berkas elektron yang masuk melalui
lubang kecil di sebelah kiri. Elektroda kedua adalah anoda pemusat, dan elektroda ketiga
adalah anoda pemercepat. Ketiga elektroda berbentuk silindris dan satu sumbu CRT
182


Gambar 9-9 Suatu pemusatan elektrostatistik pada sebuah CRT
Anoda yang sebelumnya telah dipercepat dan anoda pemercepat dihubungkan
bersama ke sebuah potensial positif yang tinggi (misalnya + 1500 V) yang disalurkan
dari sumber tegangan tinggi. Anoda pemusat yang berada di antara kedua anoda
pemercepat dihubungkan ke suatu potensial positif yang lebih rendah (misalnya + 500
V). Selisill potensial antara anoda pemusat dan anoda pemercepat ini membangkitkan
medan listrik di antara elemen-elemen silinder. Karena jarak garis-garis gaya tidak seragam
seperti ditunjukkan pada Gambar 9-7, permukaan-permukaan berpotensial sama
menjadi lengkung dan membentuk sebuah sistem lensa cekung dobel (double concave
lens). Ini ditunjukkan pada Gambar 9-9 oleh garis-garis gaya di daerah antara elektroda-
elektroda.
Elektron-elektron dipancarkan oleh katoda sebagai suatu berkas yang sedikit
menyebar (divergen). Elektron-elektron yang memasuki medan listrik antara anoda yang
sebelumnya telah dipercepat dan anoda pemusat pada sudut yang berlainan dari sudill
yang tegak lurus pada permukaan berpotensial sama akan dipantulkan menuju garis
tegak lurus. Jadi berkas elektron cenderung menjadi paralel terhadap sumbu CRT
seperti yang telah ditunjukkan. Berkas yang hampir paralel ini selanjutnya memasuki
lensa cekung kedua dan dibiaskan sekah lagi menjadi agak mengumpul (konvergen) dan
dipusatkan pada layar di pertengahan sumbu CRT.




Panjang titik api dari sistem lensa-lensa cekung ini dapat diperbesar atau diperkecil
dengan mengubah tegangan pada anoda pemusat, sehingga titik api berkas berubah
sepanjang sumbu CRT. Potensiometer yang melengkapi pengaturan tegangan pada anoda
terdapat di panel depan CRO yang diberi tanda FOCUS.
9-3-3 Defleksi elektrostatik
Dalam membahas metoda defleksi elektrostatik dari sebuah berkas elektron didalam
sebuah osiloskop kita kembali pada pernyataan yang diberikan pada Bab 9-3-2 perihal
gaya pada elektron di dalam sebuah medan listrik seragam. Untuk baiknya, diagram
Gambar 9-5 diulangi lagi dalam Gambar 9-10. Menurut definisi intensitas medan lisilik
e, gaya pada elektron adalah f
e
= -ee Newton. Tindakan gaya terhadap elektron akan
mempercepatnya menuju elektroda positif sepanjang garis-garis gaya fluksi medan.
Hukum Newton kedua mengenai gerak memungkinkan kita untuk menghitung
183

percepatan ini, yaitu
ma f =
( 9- 6)



Gambar 9-10 Gaya f yang bekerja pada sebuah elektron di dalam medan listrik yang
seragam

Dengan memasukkan persamaan (9-3) ke dalam persamaan (9-6) diperoleh
2
/ s m
m
e
m
f
a
c
= =
( 9- 7)

Di mana a =percepatan elektron, dalam m/s2
f = gaya terhadap elektron, dalam N
m = massa elektron, dalam kg.
Bila gerak sebuah elektron dibahas di dalam medan listrik, biasanya dia ditentukan
dengan menggunakan sumbu kartesian yang umumya seperti yang ditunjukkan pada
gambar 9-11. Dalam membahas konsepsi berikut kita akan menggunakan notasi tulisan di
bawah garis (subskript) bagi komponen-komponen vektor kecepatan, intensitas medan,
percepatan. Sebagai contoh, komponen gaya sepanjang sumbu X akan dituliskan v
x
(m/s);
komponen gaya sepanjang sumbu Yang dituliskan f
y
(N), daan sebagainya. Gerak sebuah
elektron didalam sebuah medan listrik yang diketahui tidak akan dapat ditentukan
kecuali jika nilai-nilai awal kecepatan lintasan diketahui. Istilah awal menyatakan nilai
kecepatan atau lintasan pada saat pengamatan, atau waktu t=0. Tulisan 0 di bawah garis
akan digunakan untuk menunjukkan nilai-nilai awal ini. Sebagai contoh, komponen
kecepatan awal sepanjang sumbu X dituliskan sebagai v
0x

Sekarang tinjaulah suatu medan listrik yang intensitasnay konstan dengan garis-garis
gaya yang menuju ke arah Y negatif seperti yang ditunjukkan pada gambar 9-12 . sebuah
elektron yang memasuki medan ini dalam arah X positif dengan kecepatan awal vox akan
mengalami sebuah gaya. Karena medan hanya bekerja sepanjang sumbu Y, maka tidak
akan ada gaya sepanjang sumbu X maupun sumbu Z., dan percepatan elektron sepanj ang
sumbu-sumbu itu harus nol. Percepatan nol berarti kecepatan konstan; dan karena elekron
memasuki medan dalam arah X positif dengan kecepatan awal v0x, sepanjang sumbu Z
adalah nol pada waktu t = 0, tidak terjadi gerakan elektron sepanjang sumbu Z.
184


Gambar 9-11 Sistem koordinat kartesian



Gambar 9-12 Lintasan sebuah elektron yang bergerak di dalam sebuah medan listrik
seragam

Hukum Newton kedua mengenai gerak yang diterapkan terhadap gaya pada
elekttron yang bekerja dalam arah Y, adalah
=

= = =
m
e
m
f
a atau ma f
y y
c
konstan ( 9- 8)

Persamaan (9-8) menunjukkan bahwa elektron bergerak dalam arah Y dengan suatu
percepatan yang konstan dalam medan listrik yang seragam. Untuk mendapatkan
lintasan elektron akibat gaya pemercepat ini, kita menggunakan persamaan-
persamaan yang telah dikenal untuk kecepatan lintasan, yaitu :
v = v
o
+ at (m/s) (kecepatan) (9-9)
x = x, + v
a
t + at
2
(m) (lintasan) (9-10)
Sehubungan dengan syarat awal dari kecepatan nol dalam arah Y ( v
oy
= 0),
persamaan (9-9) menghasilkan
v, = a
y
t (m/s)
yang setelah memasukkan persamaan (9-8), menghasilkan
) / ( s m
m
t e
v
y
y
c
= (9-11)
Lintasan elektron dalam arah Y mengikuti persamaan (9-10) yang setelah memasukkan
syarat-syarat awal lintasan nol (y
o
= 0) dan kecepatan nol (v
oy
= 0), diperole
y = a
y
t
2
( m)
yang setelah mensubstitusikan persamaan (9-8), menghasilkan

) (
2
2
m
m
t e
y
y
c
= (9-12)

185

Jarak X yang dilalui oleh elektron dalam selang waktu t bergantung pada kecepatan awal v
ox

dan dengan menggunakan kembali persamaan (9-10) dapat dituliskan,
x = x
o
+ v
o
x
t
+ a
x
t
2
(m)

yang setelah memasukkan syarat awal untuk arah X (x
o
= 0 dan a
x
= 0), menjadi
x = v
0 x
t at au t = ) (
0
s
v
x
x
(9-13)
dengan memasukkan persamaan (9-13) ke dalam persamaan (9-12) kita peroleh
suatu pernyataan defleksi vertikal sebagai fungsi dari jarak horisontal yang dilalui
elektron yaitu;

) (
2
2
2
0
m x
m v
t e
y
x
y
(


=
c
(9-14)
Persamaan (9-14) menunjukkan bahwa lintasan sebuah elektron yang, bergerak
melalui sebuah medan listrik dengan intensitas yang konstan dan memasuki medan
tegak lurus,pada garis-garis fluksi, adalah parabolis dalam bidang X-Y.

Gambar 9-13 Penyimpangan berkas sinar katoda

Dalam Gambar 9-13 dua plat paralel yang disebut pelat-pelat defleksi, ditempatkan sejauh
d dan dihubungkan ke sebuah sumber potensial E
d
, sehingga medan listrik E terdapat
diantara pelat-pelat tersebut. Intensitas medan listrik ini diberikan oleh:
) / ( m V
d
E
d
= c (9-15)

Sebuah elektron yang memasuki medan dengan kecepatan awal vox disimpangkan
menuju pelat positif mengikuti lintasan parabolik menurut persamaan (9-14) seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 9-13. bila elektron meninggalkan daerah pelat -pelat
defleksi, gaya yang menyebabkan defleksi gaya yang tidak lama berlangsung, dan
elektron bergerak pada sebuah garis lurus menuju titik P, yaitu sebuah titik pada
layar flouresensi. Kemiringan parabola pada suatu jarak x = l
d
dimana elektron
meninggalkan pengaruh medan listrik, didefinisikan sebagai :

dx
dy
= u tan (9-16)
Dimana yang diberikan oleh persamaan (9-14). Dengan mendiferesnsiasikan persamaan
(9-16) terhadap dengan x dan menggantikan x = l
d
diperoleh
186

2
0
tan
x
d y
x
y
v m
l e
d
d c
u = = (9-17)
Garis lurus dari lintasan elektron menyinggung parabola pada x = l
d
dan garis singgung
ini memotong sumbu X pada titik 0. Lokasi titik asal 0 yang jelas kelihatan ini
diberikan oelh persamaan (9-14) dan persamaan (9-17) karena
) (
2 /
2 /
tan
2
0
2
0
2
m
I
v m l e
v m l e
d
d
d
x d y
x d y
x
y
= = =
c
c
u (9-18)
Berarti, titik asal 0 yang jelas kelihatan berada di tengah-tengah kedua pelat defleksi dan
berjarak L dari layar flouresensi
Defleksi pada layar diberikan oleh
Dengan mensubtitusikan persamaan (9-17) ke dalam tan diperoleh
) (
2
0
2
m
v m
l e
L D
x
d y
c
= (9-20)

Energi potensial elektron yang memasuki daerah di antara kedua pelat defleksi dengan
kecepatan awal v
0x
adalah

a x
eE v m =
2
0
2
1
(9-21)

Di mana E
a
adalah tegangan pemercepat di dalam senapan elektron. Dengan menyusun
kembali persamaan (9-21) diperoleh

m
eE
v
a
x
2
2
0
= (9-22)

Dengan mensubstitusikan persamaan (9-15) untuk intensitas medan E
y
, dan persamaan (9-
22) untuk kecepatan elektron v
ox
dalam arah X ke dalam persamaan (9-20), diperoleh
) (
2
2
0
2
m
E d
E l L
v m
l e
L D
a
y d
x
d y
= =
c
(9-23)

di mana D = defleksi pada layar fluoresensi (meter)
L = jarak dari pusat pelat-pelat defleksi ke layar (meter)
I
d
= panjang efektif pelat-pelat defleksi (meter)
E
d
= tegangan defleksi (volt)
E
q
= tegangan pemercepat (volt).
Persamaan (9-23) menunjukkan bahwa untuk tegangan pemercepat E
a
yang diberikan dan
untuk dimensi CRT tertentu, defleksi berkas elektron pada layar berbanding langsung
dengan tegangan defleksi E
d
. Kesebandingan langsung ini menunjukkan bahwa CRT dapat
digunakan sebagai alat penunjuk tegangan linear (a linear voltage-indicating device).
Pembahasan ini menganggap bahwa E
d
adalah sebuah tegangan searah (dc) yang nilainya
tetap. Akan tetapi, tegangan defleksi lazimnya merupakansebuah besaran yang,berubah dan
bayangan pada layar mengikuti perubahan tegangan defleksi tersebut dalam cara yang
linear sesuai dengan persamaan (9-23).
187

Sensitivitas defleksi S dari sebuah CRT didefinisikan sebagai defleksi pada layar (dalam
meter) per volt tegangan defleksi. Dengan demikian, menurut definisi;
) / (
2
V m
E d
l L
E
D
S
a
d
d
= = (9-24)

di mana S = sensitivitas defleksi (m/V).
Faktor defleksi (deflection factor) G dari sebuah CRT menurut definisi adalah
kembalikan dari sensitivitas S dan dinyatakan sebagai
) / (
2 1
m V
LI
dE
S
G
a
a
= = (9-25)

dengan semua terminologi didefinisikan seperti pada persamaan (9-23) dan 9-24).
Pernyataan untuk sensitivitas defleksi S dan faktor defleksi G menunjukkan bahwa
sensitivitas sebuah CRT tidak bergantung pada tegangan defleksi tetapi berubah
secara linear terhadap potensial pemercepat. Berarti, tegangan-tegangan pemercepat
yang tinggi menghasilkan suatu berkas elektron yang memerlukan potensial
defleksi yang tinggi untuk suatu penyimpangan tertentu pada layar. Suatu berkas
yang dipercepat tinggi memiliki energi kinetik yang lebih besar dan dengan demikian
menghasilkan bayangan yang lebih lerang pada layar CRT; tetapi berkas ini juga
lebih sukar disimpangkan dan kadang-kadang disebut berkas yang sukar (hard beam).
Nilai khas faktor defleksi ini adalah dalam rangkuman 10 V/em sampai 100 V/em,
yang berturut-turut sesuai dengan sensitivitas sebesar 1,0 mm/V sampai 0,1 mm/V.

9-3-4 Layar untuk CRT
Bila berkas elektron membentur layar CRT, dihasilkan sebuah bintik cahaya. Bahan
layar di bagian dalam CRT yang menghasilkan efek ini adalah fosfor. Fosfor menyerap
energi kinetik elektron-elektron pembombardir dan memancarkan kembali energi tersebut
pada frekuensi yang lebih rendah dalam spektrum yang dapat dilihat. Sifat dari beberapa
bahan berkristal seperti fosfor atau oksida seng (zinc oxide) yang memancarkan cahaya bila
dirangsang oleh radiasi disebut fluoresensL Bahan-bahan fluoresen memiliki karakteristik
kedua yang disebut fosforisensi (phosphorescence) yang berkenan dengan sifat bahan yang
terus memancarkan cahaya walaupun sumber eksitasi telah dihidupkan (dalam hal ini
berkas elektron). Lama waktu terjadinya fosforisensi atau, cahaya yang tinggal setelah
bahan yang bersinar hilang disebut ketahanan (persistensi) fosfor. Ketahanan biasanya
diukur berdasarkan waktu yang dibutuhkan oleh bayangan CRT berkurang ke suatu
persentase tertentu (biasanya 10 persen) dari keluaran cahaya semula.

Intensitas cahaya yang dipancarkan dari layar CRT disebut luminansi (luminance),
dan bergantung pada beberapa faktor. Yang pertama adalah, intensitas cahaya dikontrol
oleh jumlah elektron pembombardir yang membentur layar setiap sekon. Jika yang disebut
arus berkas (beam current) ini diperbesar atau arus berkas dengan jumlah yang sama
dipusatkan di dalam sebuah daerah yang lebih kecil dengan mengurangi ukuran 0 luminansi
akan bertambah. Yang kedua adalah, luminansi bergantung pada energi dengan mana
elektron-elektron pembombardir membentur layar; dan ini pada gilirannya ditentukan oleh
188

potensial pemercepat. Suatu kenaikan pada potensial pemercepat akan menghasilkan
pertambahan luminansi. Ketiga, luminansi merupakan fungsi dari waktu berkas untuk
membentur suatu permukaan fosfor tertentu;berarti kecepatan penyapuan akan
mempengaruhi luminansi. Dan akhirnya, luminansi merupakan fungsi karakteristik fisik
dari fosfor itu sendiri. Hampir semua pabrik melengkapi pembeli dengan pilihan bahan
fosfor. Tabel 9-1 menyajikan karakteristik beberapa fosfor yang lazim digunakan
Seperti ditunjukkan pada Tabel 9-1, sejumlah faktor harus dipertimbangkan
dalam memilih suatu fosfor untuk pemakaian tertentu. Sebagai contoh, fosfor P
11

yang memiliki katahanan yang singkat, sangat baik untuk pemotretan bentuk
gelombang tetapi sama sekali tidak sesuai untuk pengamatan visual fenomena
kecepatan rendah. P
31
dengan luminansi yang tinggi dan ketahanan sedang,
merupakan kompromi paling baik, untuk penglihatan gambar secara umum dan dengan
demikian ditemukan dalam ke banyakan CRO standar tipe laboratorium.
Adalah mungkin untuk membebankan kerusakan berat pada layar CRT karena
penanganan yang tidak tepat terhadap, alat-alat kontrol di panel depan. Bila sebuah fosfor
dieksitasi oleh berkas elektron pada rapat arus yang berlebihan, kerusakan seterusnya
karena panas dapat terjadi pada fosfor tersebut, dan keluaran cahaya akan berkurang.
Dua faktor yang mengontrol terjadinya panas adalah kerapatan berkas dan lamanya
eksitasi. Kerapatan berkas dikontrol oleh INTENSITY, FOCUS dan ASTIGMATISM
pada panel dengan CRO. Waktu yang diperlukan oleh berkas untuk mengeksitasi suave
permukaan fosfor tertentu dapat diatur dengan penyapu atau alai kontrol TIME/DIV.
Panas, dan mungkin kerusakan total pada fosfor, dicegah dengan mempertahankan
berkas pada intensitas yang rendah dan pada waktu pencahayaan yang singkat.

Tabel 9-1 Kart data fosfor


Elektr
on
pembomb
ardir yang
membentu
r fosfor
mengeluar
kan
elektron
enlist
sekunder,
jadi
memperta
hankan layar dalam keadaan setimbang elektris. Elektron emisi sekunder berkecepatan

rendah ini dikumpulkan oleh sebuah lapisan konduktif di permukaan dalam tabung gelas
yang dikenal sebagai aquadag, yang secara elektris dihubungkan ke anoda kedua. Dalam
beberapa tabung, khususnya CRT yang dilengkapi dengan pemusatan magnetik (seperti
tabung gambar TV), anoda pemercepat ditiadakan seluruhnya dan menggunakan lapisan
konduktif sebagai anoda pemercepat akhir.
Jenis
fosfor
Fluorese
nsi
Fosforise
nsi
Lumina
nsi
relatif
(*)
Penurun
an
ke 0,1%
(ms)
Komentar)
P
1
kuning-
hijau
kuning-
hijau
50% 95 Pemakaian umum;
dalam kebanyakan
pemakaian diganti
oleh P
31

P
2

biru-
hijau
kuning-
hijau
55% 120
Kompromi yang tidak
baik untuk pemakaian
kecepatan tinggi dan
kecepatan rendah
P
4

Pu tih

Putih

50%


20


Peragaan televisi


P
7





Biru





kuning-
hijau


35%


1500



Penurunan yang lama,
pengamatan
fenomena
kekecepatan rendah
P
11

ungu-
biru
ungu
biru
15% 20
Pemakaian
fotografi
P
31
kuning-
hijau
kuning-
hijau
100% 32 Pemakaian umum
fosfor paling terang
189

9-3-5 Graticules.
Peragaan bentuk gelombang pada permukaan CRT secara visual dapat diukur pada
sepadang tanda skala horisontal dan vertikal yang disebut graticule, seperti ditunjukkan
pada Gambar 9-14.



Gambar 9-14 Graticule luar (6 X 10 cm) dan penerangannya. Layar flouresen tidak
sebidang dengan garis-garis graticule yang dicetak pada bagian belakang pelat plastik
graticule, sehingga penyejajaran jejak CRT dan graticule akan berubah menurut posisi
penglihatan (paralaksis)

Tanda-tanda skala ini dapat ditempatkan di permukaan luar tabung CRT, yang
dalimi hal ini disebut external graticule atau di bagian dalam permukaan CRT, yang
diwhid internal graticule. Graticule yang dipasang di permukaan luar terdiri dari
sebuah pe1at plastik bening atau berwarna yang dilengkapi dengan tanda pembagian
skala. Dia dipasang di permukaan luar layar CRT. Graticule luar mempunyai
keuntungan, mudah diganti dengan sesuatu yang memiliki pola gambar khusus, seperti
tanda-tanda derajat untuk analisis vektor TV berwarna. Juga, posisi graticule luar
dapat dengan mudah diatur agar sejajar dengan jejak CRT. Kerugian utama graticule
luar adalah paralaksis, sebab tanda skala tidak sebidang dengan bayangan gelombang
yang dihasilkan pada fosfor. Sebagai akibatnya, penjajaran jejak dan graticule akan
berubah terhadap posisi pengamatan.
Sebuah graticule yang dipasang di permukaan dalam CRT disebut internal
graticule. Dengan adanya graticule ini tidak terjadi paralaksis, sebab bayangan CRT
dan graticule Jim wh pada bidang yang sama. Namun CRT dengan internal graticule lebih
mahal dalam pembuatannya dan tidak dapat diganti tanpa mengganti CRT. Di samping
itu, CRT dengan graticule di permukaan dalam harus mempunyai suatu cara untuk
menjajarkan jejak, dan ini menambah harga keseluruhan CRO.
9-3-6 Sambungan CRT
Sambungan elektris ke berbagai elemen di bagian dalam tabung gelas CRT
dilakukan memlalui dasar tabung. Gambar 9-15 menunjukkan sambungan khas CRT pada
osiloskop pemakaian umum.
Berbagai tegangan suplai bagi peralatan senapan elektron dibangkitkan oleh
dua sumber daya yang dihubungkan secara seri, yaitu sumber tegangan tinggi untuk
tegangan pemercepat, dan sumber tegangan rendah untuk rangkaian tambahan. Sebuah
190

jaringan pembagi tegangan dihubungkan ke kedua sumber daya guna melengkapi
tegangan kerja yang dibutuhkan oleh sistem.



GAMBAR 9-15 Sambungan khas CRT, menuniukkan alat-alat kontrol panel depan CRO
yang menentukan Intensitas, fokus, dan posisi bintik CRT pada layar.

Intensitas berkas elektron diatur dengan mengubah tegangan antara katoda grid dari
trioda. Dalam Gambar 9-15 pengaturan ini dilakukan oleh potensiometer 500 W, yang
terdapat sebagai alat kontrol pada panel depan dengan tanda INTENSITY. Potensiometer 2
M di dalam jaringan pembagi tegangan juga merupakan alat kontrol pada panel depan
yang ditandai dengan FOCUS. Dia mengatur tegangan negatif pada cincin fokus dari seksi
lensa antara -500 V dan -900 V. Efek lensa menjadi lebih kuat (panjang fokus lebih
pendek) bila tegangan pada cincin fokus dibuat lebih negatif terhadap kedua anoda luar.
Alat kontrol ASTIGMATISM pada panel depan CRT menyetel pada anoda pemercepat di
acu terhadap pelat-pelat defleksi vertikal yang mengikuti seksi lensa. Ini membentuk
sebuah lensa silindris yang mengkoreksi setiap penyebaran bintik (defocusing) yang
mungkin terjadi, dan pengaturan dilakukan agar mendapatkan bintik yang paling bulat pada
layar CRT.
Berkas dapat ditempatkan di mana saja pada layar dengan menggunakan dua konI
rol panel depan terpisah yang ditandai dengan VERTICAL POSITION dan HORIZON-
TAL POSITION. Dengan mengatur VERT POS pada posisi tengahnya, pelat-pelat deIleksi
vertikal dihubungkan ke tegangan dc yang identik, sehingga tidak ada medan listrik antara
keduanya. Berarti, berkas elektron tidak disimpangkan dan hanya merambat inenuju pusat
CRT. Sedikit pengaturan pada alat kontrol VERT POS mengakibatkan ketidaksetimbangan
pada tegangan de yang dimasukkan ke pelat vertikal, sehingga beda potensial yang
dihasilkan membentuk medan listrik antara keduanya. Medan ini mempengaruhi defleksi
191

berkas sewaktu lewat di antara pelat dan membawa bintik CRT ke suatu posisi baru pada
layar. Dengan cara yang serupa, alat kontrol HOR POS dapat menggerakkan bintik CRT
dalam setiap arah horisontal pada layar. Selanjutnya, pengaturan kedua pengontrol posisi
ini secara bersamaan dapat membawa bintik ke setiap lokasi yang diinginkan pada layar.

9-4 SISTEM DEFLEKSI VERTIKAL
9- 4-1 Elemen-elemen dasar
Sistem defleksi vertikal harus memenuhi persyaratan prestasi yang cukup ketat
yang dapat disimpulkan dengan menyatakan bahwa sistem tersebut secara meyakinkan
menghwalkan kembali bentuk gelombang masukan dalam batas-batas lebar bidang
(bandwidht), kenaikan waktu (risetime) dan amplitudo yang telah ditetapkan. Sistem
defleksi vertikal juga melengkapi sebuah penyangga (isolation) antara sumber sinyal dan
pelat defleksi vertikal. Dalam beberapa hal sistem vertikal melengkapi berbagai modus
operasi seperi kopling dc atau ac, operasi jejak banyak (multiple trace), modus peragaan
banyak (multiple display modes), kemampuan menerima masukan selisih dan lain-lain.
Ciri-ciri khusus ini umumnya tersedia pada CRO tipe laboratorium yang lebih rumit yang
menggunakan yang disebut unit-unit kontak tusuk (plug-in).
Sistem deneksi vertikal biasanya terdiri dari elemen-elemen yang ditunjukkan pada
diagram balok Gambar 9-16, yaitu:
(a) jarum penguat CRO (probe)
(b) Pemilih masukan (input selector),
(c) Pelemah masukan (input attenuator),
(d) Pengauat vertikal


Gambar 9-16 Diagram blok fungsional dari sistem defleksi vertikal

Jarum penduga CRO (CRO probe) melakukan fungsi penting yaitu
menghubungkan penguat vertikal ke rangkaian yang diukur tanpa membebani atau jika
tidak menggangu rangkaian. Jenis jarum penduga yang berbeda tersedia untuk berbagai
pemakaian da lam pengukuran. Hal ini dibahas lebih terperinci pada Bab 9-7. Jarum
penduga untuk pemakaian umum pada Gambar 9-16 disebut jarum penduga pasif (passive
probe). Dia terdiri dari sebuah tahanan seri (pelemahan sinyal) dan sebuah kapasitor shunt
variabel (kompensasi jarum penduga), keduanya berada di dalam tubuh jarum penduga,
ditambah dengan ujung jarum penduga (probe tip) dan sebuah penghubung ke tanah
(ground connector). Tubuh jarum penduga dihubungkan ke terminal masukan vertikal
melalui sebuah kakel yang dilengkapi dengan konektor BNC (banana connector); atau path
CRO frekuensi rendah yang murah digunakan kontak tusuk tipe pisang (banana) atau
konektor sederhana lainnya.
192

9-4-2 Pemilih masukan (input selector)
Pemilih masukan (input selector) pada Gambar 9-16 ditunjukkan sebagai sebuah
sakelar tiga posisi yaitu arus bolak-balik-tanah--arus searah (ac - gnd - dc). Penempalalke
pelemah (attentuator). Kapasitor menahan (memblokir) komponen dc dari gelombang
masukan dan hanya mengijinkan komponen ac memasuki penguat. Ini merupakan ciri yang
sangat bermanfaat yang memungkinkan pengukuran tegangan sinyal ac yang bergabung
dengan tegangan catu dc atau sumber tegangan. Penempatan pemilih masukan pada posisi
dc menghubungkan tegangan sinyal secara langsung ke pelemah sehingga kedua komponen
ac dan dc tersambung ke penguat. Modus pengukuran ini terutama sangat bermanfaat guna
menentukan nilai tegangan sesaat total sambungan tanah pada pemilih masukan yang
terdapat pada beberapa CRO sebagai posisi pertengahan antara ac dan dc, merupakan ciri
pengamanan yang memindahkan setiap muatan yang tersimpan di dalam pelemah masukan
dengan cara mentanahkan masukan pelemah secara seketika sewaktu modus dc diubah ke
modus ac.

9-4-3 Pelemah masukan (input attenuator)
Pelemah masukan (input attenuator) terdiri dari sejumlah pembagi tegangan RC
yang dikontrol melalui panel depan CRO oleh pemilih VOLTS/DIV. Pemilih ini dikalibrasi
dalam faktor defleksi (V/DIV) yang biasanya dalam urutan 1-2-5. Rangkuman khas
penyetelan pelemah adalah 0,1; 0,2; 0,5; 1; 2; 5; 10; 20; dan 50 Volt/divisi, dengan
pelemahan maksimal pada kedudukan 50 V/DIV.
Untuk menjamin operasi CRO yang linear pada rangkuman frekuensi yang tertentu
(lebar bidang khas adalah dc sampai 25 MHz), pelemahan sinyal masukan harus tidak
bergantung pada frekuensi, dan ini memerlukan yang disebul pelemah yang terkompersir
(compensated attenuator). Gambar 9-17 menunjukkan pelemahan ini bersama tingkat
masukan dari penguat vertikal yang impedansi masukannya dinyatakan oleh tahanan R
i
,
paralel terhadap kapasitor C
i
.
Dengan menempatkan sakelar pelemah di posisi atas, sinyal masukan v
i
tersambung
langsung ke masukan penguat vertikal tanpa pelemahan. Dalam contoh, ini akan sesuai
dengan penyetelan 0,1 V atau dengan sensitivitas sistem defleksi yang maksimal.





Gambar 9-17 Pelemah masukan (Pemilih Volt/ Div)
Dengan membuat sakelar pada posisi bawah seperti ditunjukkan pada Gambar 9-17, ja-
ringan pelemah Ra - Ca tersambung ke rangkaian sehingga terjadi pembagian tegangan. Dia
mengikuti tegangan keluaran v
o
yang sebanding dengan perbandingan impedansi antara
masukan penguat dan impedansi rangkaian total. Dalam pelemah yang terkomporisir,
193

perbandingan impedansi ini dipertahankan konstan tidak bergantung pada frekuensi
tegangan sinyal dengan mengatur C
a
sedemikian, sehingga konstanta waktu R
a
C
a
sama
dengan konstanta waktu R
a
C
a
. Bahwa ini adalah demikian, ditunjukkan pada Gambar 9-18,
di mana R
a
, C
a
, R
t
dan C
t
disajikan dalam konfigurasi jembatan yang telah dikenal


Gambar 9-18 Pelemah masukan dinyatakan sebagai rangkaian jembatan.
Pada kesetimbangan jembatan cabang xy dapat diambil dari rangkaian, dan
i
a
o
v
R R
R
v
1
1
+
=

Jembatan adalah setimbang bila R
a
XC
a
=R
i
XC
a
atau bila R
a
C
a
= R
i
C
i
. Pada keadaan
setimbang, tidak ada arus dalam cabang penghubung xy, sehingga sambungan xy apat
dihilangkan dari rangkaian. Jadi, tegangan keluaran pada kesetimbangan ditentukan oleh
pembagi tegangan resistif yang besarnya sama dengan ,
i
a
o
v
R R
R
v
1
1
+
=
(9-26)
Sebuah cara praktis untuk menyetimbangkan jembatan dan mengkompensir
pelemah adalah memasukkan sinyal uji berbentuk gelombang persegi (pengkalibrasi)
kemasukan pelemah dan mengatur C
a
sehingga tegangan keluaran yang diamati pada layar
CRT adalah tiruan persis dari sinyal masukan. Efek kompensasi pelemah ditunjukkan pada
Gambar 9-19. Dengan menghubungkan sebuah sinyal pengalibrasi ke masukan dan
mengatur C
a
secara tepat, tegangan keluaran adlah gelombang persegi seperti ditunjukkan
pada Gambar 9-19(a). Kompensasi-lebih (over-compensation) terjadi bila C
a
terlalu besar,
dan ini ditunjukkan sebagai lonjakan (overshoot) pada gelombang pulsal; sedang C
a
sinus
frekuensi tinggi kelihatan lebih besar dari gelombang semula, seperti ditunjukkan pada
Gambar 9-19(b). Kompensasi kurang (undercompensation) terjadi bila C
a
lerlalu kecil
sehingga mengakibatkan lengkungan pada pojok bentuk gelombang pengalibrasi, sedang
sinyal frekuensi tinggi mengalami pelemahan yang berlebihan seperti ditunjukkan pada
Gambar 9-19(c).




194

























Gambar 9-19 Efek kompensasi terhadap pelemah

Efek pelemah terkompensir yang tidak tepat (overshoot atau lengkungan) dapat
dijelaskan melalui bantuan Gambar 9-20. Pada Gambar 9-20(a), tegangan tangga (step
voltage) dimasukkan ke pelemah sehingga masukan berubah secara mendadak dari 0 V ke
+ E V pada waktu t = 0. Suatu arus yang besarnya tak berhingga terjdi pada saat t = 0 untuk
waktu yang kecil tak berhingga, dan muatan

}
+

=
0
0
dt i q
disalurkan ke masing-masing kapasitor. Sesuai dengan Hukum Kirchoff
mengenai tegangan, tegangan yang dimasukkan pada saat t =0 adalah

) (
1
1
1
V q
C C
C C
C
q
C
q
E
a
a
a
+
= + =
(9-27)
Tegangan awal keluaran t = 0 bila perubahan sesaat dalam tegangan masukan adalah besar
tak berhingga (dari 0 ke +E), ditentukan oleh pembagi tegangan kapasitif dan besarnya
sama dengan

) (
1 1
) (
V E
C C
C
C
q
v
a
a
awal o
= =
(9-28)
Gelombang
persegi 1 kHz
Pulsa sempit
Gelombang
sinus
1 ms/Div 1 ms/Div 1 ms/Div
1 s/Div 1 s/Div 1 s/Div
50 kHz 50 kHz 50 kHz
(a)Terkompensasi (b) Kompensasi lebih (c) Kurang kompensasi
195

Tegangan keluaran berubah secara eksponensial dari nilai awal ke nilai akhir
keadaan mantap (stady state) dengan konstanta waktu = R
TH
C
TH
, dimana R
TH
dan C
TH

adalah parameter-parameter Thevenin dari pelemah dengan melihat kembali ke terminal-
teminal keluaran pada masukan yang terhubung singkat. Tegangan akhir keluaran pada t =

hanya ditentukan oleh tahanan, sebab kapasitor-kapasitor bertindak sebagai rangkaian


terbuka pada keadaan mantap tegangan dc. Berarti
) (
) (
V E
R R
R
v
a i
i
akhir o
+
=
(9-29)
Bila pelemah dikompensasi secara tepat,
) ( ) ( akhir o awal o
v v =

atau dengan menggunakan persamaan (9-28) dan (9-29) diperoleh

i i a a
C R C R =
(9-30)
yang tentunya adalah kondisi kesetimbangan jembatan.


Gambar 9-20 Tanggapan sebuah pelemah terhadap sebuah masukan tegangan tangga.
Kompensasi sempurna terjadi bila konstanta waktu pelemah
a
= R
a
C
a
sama dengan
kontanta waktu dati masukan penguat yaitu
i
= R
i
C
i
(lihat juga Gambar 9-18). Kompensasi
lebih terjadi bila
a
>

i.
Kurang kompensasi terjadi bila
a
<

i

Pelemahan vertikal dapat diubah-ubah melalui penyetelan VOLTS/DIV, dan setiap
pengubahan memberikan jaringan pelemah R
a
-C
a
yang berlainan. Semua jaringan ini
menggunakan prinsip yang sama yakni : pembagi tegangan RC sederhana yang
mempertahankan suatu perbandingan penyetelan (set ratio) terhadap satu sama lain dan
frekuensinya dikompensir oleh kapasitor variabel kecil C
a
.



Pada CRO tipe laboratorium komponen-komponen resistif dan kapasitif dari pelemah
dipilih sedemikian, sehingga masukan vertikal CRO selalu menyajikan impedansi yang
sama terhadap rangkaian yang diuji, tanpa menghiraukan kedudukan VOLTS/DIV. Nilai
196

khas parameter masukan ini adalah 1 M diparalel oleh 33 pF.

9-4-4 Penguat vertikal
Penguat vertikal (vertical amplifier) terdiri dari beberapa tingkatan dengan
sensitivitas atau penguatan total yang tetap, biasanya dinyatakan dalam faktor defleksi
(V/div) Keuntungan penguatan tetap adalah bahwa penguat tersebut dapat lebih mudah
dirancang agar memenuhi atau mempertahankan persyaratan stabilitas dan lebar bidang
(bandwidth). Penguat vertikal dipertahankan dalam batas kemampuannya untuk menangani
sinyal berdasarkan pemilihan pelemah masukan (input attenuator) yang sesual Dengan
membuat pelemah pada posisi yang paling sensitif, penguatan total dari penguat
berhubungan dengan pembacaan terendah dari selektor VOLTS/DIV.
Penguat vertikal umumnya terdiri dari dua balok rangkaian utama yaitu pra-penguat
(preamplifier) dan penguat vertikal utama (main vertical amplifier). Dalam CRO I I
laboratorium, pra penguat sering tersedia sebagai suatu unit kontak tusuk yang dengan
mudah dan cepat dapat dihubungkan ke rangka casis utama (main frame) CRO. Kemudian
penguat utama membentuk sebuah bagian yang utuh dari kerangka utama. Unit vertikal
kontak tusuk yang berbeda jenis yang dirancang untuk pemakaian pengukuran tertentu,
dapat memperbesar kemampuan CRO dengan biaya yang pantas.
Gambar 9-21 menunjukkan diagram balok fungsional dari penguat vertikal. Elemen
pertama dari pra penguat adalah tingkat masukan; sering berisi sebuah FET sourcefollower,
yang impedansi masukannya yang tinggi pada dasarnya memisahkan penguat dari pelemah.
Tingkat masukan FET ini kadang-kadang disusul oleh sebuah emiter follower BJT yang
bertindak sebagai transformator impedansi menyesuaikan (match) impedansi keluaran FET
yang besarnya sedang terhadap masukan pembalik fasa impedansi rendah yang
menyusulnya. Pembalik fasa atau penguat parafasa (praphase amplifier), menyediakan dua
sinyal keluaran antifasa yang dibutuhkan untuk mengtipetasikan penguat keluaran jenis
dorong-tarik (push-pull). Tingkat akhir dari pra penguat menyediakan penggerak yang
dibutuhkan bagi penguat vertikal utama. Sinyal keluaran dari penguat dorong-tarik sebesar
100 mV/diV adalah cocok bagi sebuah pra penguat standar dari jenis kontak tusuk.





Gambar 9-21 Diagram balok penguat vertikal
197

Penguat vertikal utama yang ditunjukkan dalam diagram balok pada Gambar 9-21
terdiri dari dari sebuah penguat penggerak (driver amplifier) dan sebuah penguat tingkat
keluaran jenis dorong-tarik yang memberikan tegangan-tegangan sinyal yang sama tetapi
berlawanan polaritas ke kedua pelat defleksi vertikal CRT. Rangkaian-rangkaian dorong-
tarik hampir selalu digunakan di dalam penguat vertikal, sama halnya seperti penguat
horisontal sebab mereka memperbaiki linearitas defleksi CRT. Dalam penguat utama juga
termasuk rangkaian yang dibutuhkan untuk memusatkan berkas, beserta penguatpenguat
tambahan untuk menggerakkan saluran tunda vertikal.
9-5 SALURAN TUNDA (DELAY LINE)
9-5-1 Fungsi saluran tunda
Semua rangkaian elektronik di dalam CRO (pelema, penguat, pembentuk pulsa,
generator, dan tentu saja di dalam kawat rangkaian sendiri) menyebabkan keterlambatan
waktu tertentu di dalam transmisi tegangan sinyal ke pelat-pelat defleksi. Hampir semua
keterlambatan ini terjadi di dalam rangkaian-rangkaian yang melakukan pemindahan,
pembentukan atau pembangkitan.Dengan membedakan rangkaianrangkaian defleksi
vertikal dann horisontal dalam diagram blok. Gambar 9-22, kita lihat bahwa sinyal
horisontal (basis waktu atau tegangan penyapu), dimulai atau sipicu oleh sebagian dari
sinyal keluaran yang dimasukkan ke pelat-pelat vertikal CRT. Pengolahan sinyal dalam
saluran horisontal mencakup pembagkitan dan pembentukan sebuah pulsa pemicu saluran
horisontal mencakup pembangkitan dan pembentukan sebuah pulsa pemicu (trigger pick-
up) yang menghidupkan generator penyapu, yang keluarannya dikemabalikan ke penguat
horisontal dan kemudian ke pelat-pelat defleksi horisontal dan kemudian ke pelat-pelat
defleksi horisontal. Keseluruhan proses ini membutuhkan waktu dalam orde 80 ns atau
sekitarnya.

Gambar 9-22 Keterlambatan sinyal vertikal memungkinkan penyapuan horisontal
dimulai saluran defleksi vertikal.
Untuk memungkinkan operator mengamati "leading edge" dari bentuk gelomban
sinyal, berarti penggerak sinyal bagi pelat-pelat vertikal CRT harus terlambat paling sedikit
sebesar jumlah waktu yang sama. Ini merupakan fungsi dari saluran tunda vertikal. Kita
melihat bahwa pada Gambar 9-22 saluran tunda sebesar 200 ns telah ditambahkai ke
198

saluran vertikal, sehingga tegangan sinyal ke pelat-pelat CRT terlambat sebesar 200 ns, dan
penyapuan horisontal dimulai sebelum defleksi vertikal. Walaupun saluran tunda dapat
muncul hampir di mana-mana sepanjang lintasan sinyal vertikal, pemicuan harus
mendahului saluran tunda.
Pada dasarnya terdapat dua jenis saluran tunda, yaitu saluran tunda dengan parameter
tergumpal (lumped parameter delay line) dan saluran tunda dengan parameter terbagi
(distributed parameter delay line).
9-5-2 Saluran tunda dengan parameter tergumpal
Saluran tunda dengan parameter tergumpal (lumped-parameter line) terdiri dari
sejumlah jaringan simetri LC bertingkat, sebagaimana disebut bagian berbentuk T (T-
section) dari Gambar 9-23.
Jika bentuk T berakhir pada impedansi karakteristiknya Zo (characteristic imo dance
Zo), maka menurut definisi, impedansi, dengan melihat kembali ke terminal masukan juga
adalah Zo. Kondisi penutupan ini memberikan karakteristik filter pelewat rendah (low pass
filter) bagi bentuk T yang pelemahan dan pergeseran fasanya merupakan fungsi dari
frekuensi, dan yang pits pelewatnya (passband) didefinisikan oelh rangkuman frekuensi
pada mana pelemahan adalah nol. Batas atas dari pita pelewat disebut frekuensi pemutus
(cut-off frequency) dari filter, yang diberikan oleh

LC
f
c
t
1
=
(9-31)

Gambar 9-23 Seksi Penampis berbentuk T

Jika spektrum pemutus, sinyal keluaran v
t
terdiri dari frekuensi yang jauh lebih rendah dari
frekuensi pemutus, sinyal keluaran v
o
akan merupakan tiruan yang tepat dari v
i
, tetapi
terlambat sebesar
LC
f
t
c
s
= =
t
1
(9-32)
dimana t., adalah keterlambatan waktu untuk satu seksi T. Sejumlah seksi T yang disusun
bertingkat menjadi yang disebut saluran tunda parameter tergumpal memperbesar
keterlambatan waktu total menjadi
t
d
= nt
s
(9-33)


di mana n adalah jumlah tingkatan dari bagian-bagian T.
Karena frekuensi pemutus dari saluran tunda parameter tergumpal yang tajam,
amplitudo dan distorsi fasa menjadi suatu masalah bila frekuensi sinyal masukan ber-
199

lainbah. Sebagai contoh, pemberian masukan tegangan tangga yang mengandung kom-
ponen-komponen frekuensi tinggi (frekuensi harmonik ganjil) menyebabkan distorsi linda
respons transien tegangan keluaran dalam bentuk lonjakan (overshoot) dan bentuk cincin
(ringing), seperti ditunjukkan pada Gambar 9-24. Jenis respons ini dapat diperbmki agar
lebih mirip dengan masukan tegangan tangga semula dengan mengubah rancangan bagian
filter menjadi, misalnya bagian m yang diturunkan. Bagian m yang dituninkan merupakan
rangkaian populer yang menggunakan gandengan bersama antara kedua induktor dari
bagian T.
Adalah penting untuk menyesuaikan saluran tunda sedekat mungkin ke impedansi
karakteristiknya Z
o
pada ujung masukan maupun ujung keluaran. Persyaratan ini sering
membawa ke rangkaian penutupan yang remit dalam usaha untuk mengoptimumkan
kesetimbangan antara amplitudo dan distorsi fasa dan dalam mendapatkan respons transien
yang lebih baik.
Selmali rangkaian saluran tunda praktis di dalam sebuah CRO digerakkan oleh sebuah
penguat dorong-tarik dan selanjutnya terdiri dari susunan bagian-bagian filter bertingkat
yang simetri, seperti ditunjukkan pada Gambar 9-25. Respons optimal dari saluran tunda
menentukan perimbangan komponen L dan C yang tepat dalam masing-masing bagian,
kapasitor variabel harus diatur dengan cermat agar efektif.

Gambar 9-24 Tanggapan sebuah filter benrbentuk Tegangan terhadap tegangan tangga,
ditutup pada impedansi karakteristiknya Z
o
= L/C

Lonjakan



Gambar 9-25 Saluran stransmisi dorong tarik dengan satu penutupan (terminasi).
9-5-3 Saluran tunda dengan parameter terbagi
Saluran tunda dengan parameter terbagi (distributed parameter delay line)
terdin dari kabel koaksial yang dibuat secara khusus dengan nilai induktansi yang
tinggi setiap satuan panjang. Untuk jenis saluran tunda ini konduktor tengah dari
kabel koaksial normal yang lurus diganti dengan sebuah kumparan kawat kontinu,
digulung dalam bentuk spiral pada sebuah inti lunak di bagian dalam. Untuk
mengurangi arus pusar (eddy current) biasanya konduktor luar dibuat dari kawat
jalinan terisolasi (braided insulated wire), yang secara elektris dihubungkan pada
200

ujung-ujung kabel. Perincian konstruksi ditunjukkan secara skema pada Gambar 9-26.

Gambar 9-26 Saluran tunda berimpedansi tinggi berbentuk spiral
Induktansi saluran tunda dihasilkan oleh kumparan di bagian dalam, dan besaillya
sama dengan induktansi solenoids dengan n lilitan setiap meter. Induktansi dapat diperbesar
dengan menggulung konduktor spiral bagian dalam pada sebuah inti ferromagnetik, yang
memiliki efek memperbesar waktu keterlambatan t
d
dan impedansi karakteristik Z
O
.
Kapasitansi dari saluran tunda dinyatakan oleh kapasitansi dari silinder koaksial yang
dipisahkan oleh dielektrik dari bahan politilene (polyethylene). Kapasitansi diperbesar
dengan menggunakan jarak ruang dielektrik yang lebih kecil antara konduktor dalam dan
konduktor luar.
Parameter khas untuk sebuah saluran tunda berimpedansi tinggi berbentuk spiral
adalah Z
o
= 1000 dan t
d
= 180 ns/m. Saluran tunda koaksial adalah menguntungkan ebab
tidak memerlukan pengaturan yang cermat terhadap parameter tergumpal, dan dia
memerlukan ruangan yang jauh lebih kecil.
9-6 SISTEM DEFLEKSI HORISONTAL
9-6-1 Generator penyapu (Sweep generator)
CRO biasanya memperagakan bentuk gelombang, masukan vertikal sebagai fungsi
dari waktu ini memerlukan tegangan defleksi horisontal guna menggerakkan atau menyapu
bintik CRT sepanjang layar dari kiri ke kanan dengan kecepatan konstan, dan kemudian
mengembalikan bintik tersebut dengan cepat ke posisinya semula di bagian kiri layar, siap
untuk penyapuan berikutnya. Tegangan penyapu atau basis waktu ini dihasilkan di dalam
sistem defleksi horisontal CRO oleh generator penyapu (sweep generator).
Tegangan penyapu yang ideal bertambah dengan kecepatan yang linear dari suatu nilai
minimal ke nilai maksimal tertentu, dan kemudian turun dengan cepat ke level semula
seperti ditunjukkan dalam gelombang gigi gergaji pada Gambar 9-27.

Gambar 9-27 Bentuk gelombang gigi-gergaji linear
201

Bagian gigi gergaji yang naik secara linear disebut tegangan tanjak (ramp voltage).
Selama selang waktu T
s
bila tegangan tanjak naik dari V
minimal
ke V
maksimal
bintik CRT
tersapu sepanjang layar dari kiri ke kanan. Dalam selang waktu kembali memulai jejak atau
melenting (fly back), T
r
, tegangan penyapu turun dengan cepat ke nilai minimalnya, dan
bintik CRT kembali ke titik semula pada layar. Dalam hampir semua CRO berkas elektron
dilenyapkan selama selang waktu pembalikan ini, sehingga bintik CRT tidak dapat
menghasilkan bayangan pada layar.
Semua generator penyapu merupakan pengembangan dari rangkaian pengisi dasar RC
yang ditunjukkan pada Gambar 9-28 (a). Dalam rangkaian ini, mula-mula sakelar S tutup
sehingga tegangan e, pada kapasitor adalah nol. Bila sakelar dibuka, tegangan itallmlloi e
c

bertambah secara eksponensial dari nol menuju tegangan suplai E seperti ditunjukkan pada
Gambar 9-28(b). Tegangan sesaat pada kapasitor diberikan oleh persamaan
) 1 (
/ RC t
C
E e

= c
(9-34)
Kenaikan tegangan kapasitor sangat tidak linier: e
c
mencapai 63 persen nali
akhirnya dalam satu konstanta waktu dan mencapai nilai penuh E dalam 5 kali konstanta
waktu. Jelas bahwa e
c
tidak dapat digunakan sebagai tegangan penyapu linier. Tetapi, jika
proses pengisian sebelumnya diakhiri dengan menutup sakelar S sehingga yang digunakan
sebagai tegangan penyapu hanya bagian permulaan sari bentuk gelombang tegangan yaitu
bagian yang kenaikannya curam, maka linearitas yang pantas dapat diperoleh. Sebagai
contoh, jika S ditutup pada tegangan = 0,2 , tegangan kapasitor e
c
=0,1 E dan kesalahan
kemiringan (penyimpangan dari linieritas) adala lebih kecil dari 10 persen.
di mana t adalah waktu total proses pengisian dan RC adalah konstanta waktu rangkaian
pengisian
Dalam beberapa pemakaian, besarnya ketidaklinearan ini dapat diterima dan karenanya di
dalam beberapa CRO frekuensi rendah yang harganya murah, digunakan rangkaian RC
sederhana.


Gambar 9-28 Rangakaian dasar pengganti RC

Dalam rangkaian penyapu RC yang praktis, fungsi sakelar S dalam Gambar 9-28(a )
diganti oleh sebuah alat penghubung (sakelar) elektronik, misalnya transistor UJT (Uni
Junction Transistor), sakelar yang dikontrol oleh silikon, thyristor, gas thyratron, dan lain-
lain. Gambar 9-29(a) menunjukkan osilator rileksasi (relaxation oscillator) yang terkenal,
202

dalam mana UJT bertindak sebagai sakelar. Bila mula-mula daya dimasukkan, kapasitor C
mengisi secara eksponensial melalui tahanan R, dan tegangan emitter UJT yaitu V
E
naik
menuju tegangan suplai E
BB
. Bila V
E
mencapai tegangan puncak UJT yaitu V
p
, dioda
emitter ke basis 1 (E B
1
) akan dicatu dalam arah maju (forward biased ) dan UJT memicu.
Ini menyediakan lintasan pengosongan muatan tahanan rendah antara E dan B
I
, sehingga
kapasitor mengosongkan muatan dengan cepat melalui UJT. Dengan demikian, tegangan
emitter V
E
berkurang dengan tiba-tiba sampai dia tidak dapat lebih lama menyokong catu
minimal yang diperlukan untuk konduksi UJT. Pada titik ini lintasan bertahanan rendah E-
B
1
terputus, dan kapasitor mengisi kembali siklus (perioda) pengisian dan pengosongan
muatan ini berulang dalam suatu proses yang kontinu atau bekerja penuh (free running
process dan menghasilkan sebuah gelombang gigi gergaji seperti ditunjukkan pada Gambar
9-29(b).

Gambar 9-29 Generator gigi gergaji praktis
Untuk memperbaiki linearitas penyapuan, sebuah rangkaian rilaksasi UJT yang se-
benarnya mungkin sebaiknya menggunakan dua sumber tegangan terpisah, yaitu sumber
legangan rendah untuk UJT dan sumber tegangan tinggi untuk rangkaian RC.
Frekuensi osilasi dapat diubah dengan mengubah nilai R dan/atau. C (mengubah
konstanta waktu). Dalam sebuah rangkaian penyapu CRO yang praktis, tahanan R digu-
nakan untuk pengontrolan frekuensi secara kontinu (oleh alat kontrol VARIABLE) dan
kapasitor C diubah secara bertahap guna menghasilkan sejumlah rangkuman frekuensi
(sakelar pemilih TIME/DIV). Karena R maupun C keduanya dapat mengubah frekuensi
penyapuan atau basis waktu, mereka wring disebut tahanan pengatur waktu (timing
resistor) dan kapasitor pengatur waktu (timing capacitor).
9 6-2 Sinkronisasi penyapuan
Generator gigi gergaji pada Gambar 9-29 disebut bekerja penuh (free running)
sebab tidak tersedia alat kontrol luar yang menghidupkan generator pada setiap penyapuan
hm. penyapuan barn benar-benar dimulai begitu kapasitor telah dikosongkan dan cukup
untuk membuat UJT tidak bekerja. Adalah mungkin menggunakan sebuah peiiyapti yang
beroperasi secara penuh guna menghasilkan suatu peragaan CRT yang stabil, asalkan
frekuensi sinyal masukan vertikal merupakan perkalian bulat dari frekuensi penyapuan (f
u

= nf
s
). Keadaan ini ditunjukkan pada Gambar 9-30, di mana dua siklus bentuk gelombang
sinyal terjadi dalam selang waktu yang sama dengan satu siklus tegangan penyapu (f
v
= s f
s
).
Jika hubungan frekuensi yang eksak ini tidak dipertahankan, peragaan CRT akan tidak
stabil dan akan bergeser sepanjang layar. Untuk menghasilkan suatu peragaan yang stabil
203

generator penyapu harus berjalan secara sinkron atau sejalan dengan sumber sinyal
vertikal, sehingga sinyal vertikal dan horisontal keduanya mencapai satu titik referensi
dalam siklusnya pada saat yang bersamaan.
Dalam osilalor relaksasi yang ditunjukkan pada Gambar 9-29(a) sinkronisasi
penyapuan dapat diperoleh dengan memasukkan yang disebut sinyal sinkronisasi (sync
signal) ke terminal masukan sync sedemikian sehingga memperkecil tegangan puncak
UJT; dan dengan demikian menghentikan tegangan tanjak,naik sebelum waktunya.
Keadaan ini dijelaskan pada Gambar 9-31, di mana sederetan pulsa sinkronisasi negatif
ditindihkan di atas tegangan puncak UJT.


Gambar 9-30 Sinyal masukan vertikal dan penyapuan kontinu ( free runing)

Beberapa pulsa pertama tidak mempunyai efek terhadap frekuensi gelombang gigi
gergaji, dan generator penyapu terns berjalan tidak sinkron pada frekuensi pribadinya
sendiri. Akhirnya, proses pengisian kapasitor dihentikan sebelum waktunya oleh sebuah
pulsa sinkronisasi yang terjadi pada saat yang tepat yaitu pada saat tegangan tanjak yang
naik sama dengan penurunan seketika tegangan puncak UJT. Pada saat itu kapasitor
mengosongkan muatan secara cepat melalui UJT, dan tegangan tanjak yang menaik
diakhiri. Bila tegangan kapasitor telah turun ke tegangan minimal yang dibutuhkan untuk
mempertahankan konduksi UJT, transistor tidak bekerja dan kapasitor mengisi kembali
guna menghasilkan tegangan tanjak berikutnya.
Adalah jelas bahwa proses sinkronisasi hanya dapat terjadi karena pulsa
sinkronisasi menghentikan penyapuan sebelum. waktunya. Ini berarti bahwa perioda (T)
dari sinyal sinkronisasi harus lebih kecil dari perioda yang biasa (T
o
) dari gelombang gigi
gergaji Ini juga berarti bahwa bila penyapuan dibuat serempak, dia menganggap frekuensi
sinyal sinkronisasi sedikit lebih rendah dari frekuensinya sendiri yang biasa. Di samping
ifti, amplitudo sinyal sinkronisasi harus cukup besar untuk menjembatani kesenjangan
antara tegangan kapasitor yang sebenarnya dan tegangan puncak titik kerja (quiscent) dari
UJT. Pulsa-pulsa sinkronisasi beramplitudo rendah benar-benar tidak akan mensinkronkan
penyapuan.


204

Gambar 9-31 Prisip Sinkronisasi penyapuan
Sebagai pengganti pemakaian pulsa sinkronisasi negatif seperti pada Gambar 9-31,
sinkronisasi penyapuan dapat juga diperoleh melalui sebuah sinyal sinkronisasi shms(IIIhs
dengan amplitudo yang cukup. Pulsa sinkronisasi negatif menghentikan proses pellpyJall
kapasitor sebelum waktunya, berarti memperpendek perioda yang biasa dari sinvill
penyapu. Sinyal sinkronisasi gelombang sinus juga dapat memperpendek atau
memperpanjang perioda yang biasa dari gigi gergaji. Ini ditunjukkan pada Gambar 9-32,
dimana dua tegangan penyapu dari frekuensi yang berbeda disinkronkan ke sinyal
sinkronisasi gelombang sinus yang sama. Satu gelombang gigi gergaji (digambarkan
sebagai garis tebal), yang periodanya yang biasa lebih pendek dari perioda sinyal
sinkronisasi, diperpanjang sampai dia sejalan dengan panjang gelombang sinus.
Gelombang gjgi gergaji yang lain (digambarkan bagai garis putus-putus), yang periodanya
yang biasa lebih panjang dari periods sinyal sinkronisasi, diperpendek hingga dia sinkron
dengan gelombang sinus sebelumnya; dalam kedua hal ini penyapuan yang telah
disinkronkan menggunakan frekuensi sinyal sinkronisasi.

Gambar 9-32 Sebuah sinyal sinkronisasi berbentuk sinus dapat digunakan untuk
menyinkronkan tegangan-tegangan penyapu yang perioda pribadinya lebih lama atau lebih
pendek dari perioda. Sinyal peyelaras (sinkronisasi).

Sinyal sinkronisasi untuk generator penyapu dapat diperoleh dari berbagai sumber
dan dipilih oleh sebuah alai kontrol pada panel depan CRO yang disebut SYNC SELEC-
TOR. Dalam Gambar 9-33 pemilih ini ditunjukkan sebagai sebuah sakelar tiga posisi yang
diberi tanda INT-EXT-LINE. Pada posisi internal atau INT, digunakan sebuah sampel
sinyal penguat vertikal yang dilengkapi dengan sebuah pembagi tegangan untuk
membangkitkan pulsa sinkronisasi. Dengan demikian, ini menghubungkan mulainya pe-
nyapuan terhadap sinyal masukan vertikal yang diselidiki. Pada posisi eksternal atau EXT
generator penyapu dapat disinkronkan terhadap sebuah sinyal yang dimasukkan dari luar
melalui sebuah cagak (jack) di panel depan yang diberi tanda EXT.
205


Gambar 9-33 Rangkaian pemilih sinkronisasi

Pada posisi LINE sebuah sampel tegangan jala-jala dimasukkan ke generator penyapu,
sehingga sinyal yang diamati disinkronkan terhadap frekuensi jala-jala.

9-6-3 Penyapuan terpicu (triggered sweep)
CRO jenis laboratirum biasanya dflengkapi dengan sistem basis waktu yang
menggupakan apa yang disebut penyapu terpicu (triggered sweep). Dengan penyapuan
terpicu ini generator gigi gergaji tidak membangkitkan suatu tegangan tanjak kecuali kalau
diminta untuk melakukannya oleh sebuah pulsa pemicu. Sebuah penyapu terpicu me-
ningkatkan keandalan CRO dalam pengertian bahwa dia memungkinkan CRT mempe-
ragakan smyaj-sinyal masukan vertikal yang waktunya sangat singkat (misalnya pulsa
sempit), terbentang sepanjang satu permukaan layar yang cukup besar, hanya karena
penyapuan diawali oleh sebuah pulsa pemicu yang berasal dari gelombang yang diselidiki.

206



Gambar 9-34 Generator penyapu terpicu

Tahanan-tahanannya dipilih sedemikian schingga tegangan V
D
pada katoda dari dioda D
berada di bawah tegangan puncak V
p
untuk menghidupkan UJT. Bila mula-mula rangkaian
dibuat bekerja dan UJT pada keadaan tidak konduksi, kapasitor pengatur waktu C
T
mengisi
muatan secara eksponensial melalui tahanan pengatur waktu RT menuju V
BB
sampai
tercapai suatu titik di mana dioda menjadi tercatu maju (forward-biased) dan konduksi.
Selanjutnya kapasitor tidak pernah mencapai tegangan puncak yang dibutuhkan untuk
menghidupkan UJT tetapi dikepit (clamped) pada V
D
dan tidak dapat mengosongkan
muatan. Jika sekarang sebuah pulsa pemicu negatif dengan amplitude yang cukup
dimasukkan, ke basis no. 2 dari UJT, tegangan puncak V
p
secara seketika turun dan UJT
menyala. Sebagai akibatnya, C
T
mengosongkan muatan dengan cepat melalui UJT sampai
tegangan yang mempertahankan UJT tercapai. Pada titik ini UJT berobah ke tidak bekerja,
dan C
T
mengisi muatan menuju tegangan sumber V
BB
sampai dia dikepit sekali lagi pada V
D

di mana dia menantikan kedatangan pulsa pemicu berikutnya.
Bentuk gelombang keluaran dari generator penyapu terpicu ditunjukkan pada Gam-
bar 9-34(b). Perhatikan bahwa pulsa pemicu memulai penjejakan kembali sebelum pe-
nyapuan dapat dibangkitkan, sehingga bagian awal dari gelombang yang akan diselidiki
akan hilang dalam waktu penjejakan kembali yang singkat, kecuali jika saluran tunda
ventikal memberikan keterlambatan (delay) sinyal yang cukup.
Diagram balok pada Gambar 9-35 menunjukkan seuah rangkaian pemicu yang khas
hagi CRO dengan penyapu terpicu. Rangkaian pemicu menerima sinyal masukan dari
heOuk dan amplitude yang berlainan, dan dari berbagai sumber; dan mengobahnya menjadi
pulsa-pulsa yang amplitudonya seragam untuk operasi penyapuan yang terperraya. Selektor
pemicu ditunjukkan sebagai sebuah sakelar tiga posisi yang diberi tanda INT- EXT-LINE
dan memperlengkapi operator guna memilih sinyal masukan pemicu dalam cara yang sama
seperti selektor SYNC pada Gambar 9-33. Sinyal masukan pemicu ini dimasukkan ke
sebuah pembanding tegangan yang level acuannya disetel oleh alat kontrol TRIGGER
LEVEL pada panel depan CRO. Rangkaian pembanding memberi reaksi terhadap
perubahan sinyal masukan pemicu yang melampaui nilai yang telah disetel melalui
pengontrol level pemicu. Generator pulsa (pemicu Schmitt) di belakagnya pembanding
menghasilkan sebuah pula pemicu negatif setiap kah keluaran pembanding, memotong
207

level titik kerjanya (quiscent level) yang pada gilirannya akan memicu generator penyapu
guna memulai penyapuan yang baru.


Gambar 9-35 Diagram balok dari sebuah rangkaian pemicu penyapu
9-6-4 Perbaikan linearitas penyapuan
Osilator-osilator laboratorium dirancang untuk melakukan pengukuran yang telititerhadap
waktu dan karena itu memerlukan penyapuan dengan linearitas penyapuan. Di antaranya
yang terpenting adalah:
(a) Arus pengisian yang konstan, dengan cara mana kapasitor pengatur waktu dimuati
secara linear dari sumber arus yang konstan.
(b) Rangkaian penyapu Miller, dengan cara mana sebuah masukan tangga (step
input)diubah menjadi sebuah fungsi tanjak linear dengan menggunakan integrator
operasi onal.
(c) Rangkaian "phantastron" yang merupakan variasi dari rangkaian Miller.'
(d) Rangkaian bootstrap, dengan cara mana arus pengisian yang konstan dapat dipelihara
yakni dengan mempertahankan tegangan pada tahanan pengisi; dan dengan demikian,
arus pengisian yang melaluinya adalah konstan.
(e) Rangkaian kompensasi, yang digunakan untuk memperbaiki linearitas rangkaian
Miller dan rangkaian bootstrap.
Analisis terperinci dari rangkaian-rangkaian ini tidak termasuk dalam jangkauan bukiiini.
Mahasiswa yang ingin mempelajari materi ini dapat membaca buku-buku bermutu
mengenai rangkaian pulsa dan penyakelaran (switching).
9-6-5 Penguat horisontal
Dalam sebuah CRO yang biasa tingkat persyaratan prestasi (penguatan/lebal
bidang) penguat horisontal lebih rendah dari penguat vertikal. Sementara penguat vertikal
harus mampu menangani sinyal-sinyal beramplitudo kecil dengan kenaikan waktu yang
cepat, penguat horisontal hanya harus memproses sinyal penyapu yang amplitudonya yang
cukup tinggi dan kenaikan waktunya relatif lambat. Akan tetapi penguatan penguat
208

horisontal lebih besar dari penguatan penguat vertikal, sebab sensitivitas defleksi horisontal
CRT lebih kecil dari sensitivitas defleksi vertikal.
Gambar 9-36 menunjukkan diagram balok dari sebuah penguat horisontal dasar
yang umumnya digunakan dalam CRO sederhana yang frekuensinya rendah. Penguat ini
terdiri dari tiga tingkatan: penguat masukan, penguat parafasa, dan tingkat keluaran
dorong-tarik. Dalam pemakaian yang lazim, penguat masukan menerima sinyalnya dari
generator penyapu, yang secara khas menghasilkan suatu sinyal tanjak basis waktu sebesar
10 V. Bersama-sama dengan tegangan penyapu, tingkat masukan juga menerima suatu
tegangan pengimbangi arus searah (dc offset voltage) yang memungkinkan pengaturan
posisi horisontal bintik CRT pada layar. Keluaran satu jenis ini dihubungkan ke sebuah
penguat parafasa berumpan-balik negatif, yang menghasilkan dua sinyal keluaran yang
seimbang guna menghidupkan tingkat akhir. Penguat keluaran dorong-tarik menyediakan
dua tegangan tanja, yaitu tanjak yang menuju positif dan yang menuju negatif; diperkuat ke
level yang diperlukan untuk memasukkan secara simultan ke kedua pelat defleksi
horisontal CRT.



Gambar 9-36 Diagram balok sebuah penguat horisontal dasar
Terdapat sejumlah pemakaian yang sangat bermanfaat jika CRO ditempatkan pada
yang disebut modus operasi X-Y sebagai pengganti modus Y-t yang lazim. Dalam modus
X-Y sinyal masukan vertikal dihubungkan ke CRO dengan cara yang biasa, tetapi basis
waktu horisontal diganti dengan sebuah sinyal luar yang dihubungkan ke penguat
horisontal melalui sebuah penguat depan dan posisi EXT pada selektor penyapu. Jika pera-
gaan X-Y harus menyajikan hubungan tepat antara sinyal horisontal dan sinyal vertikal,
kedua sistem harus memiliki keterlambatan fasa, faktor defleksi dan pita pelewat (band-
pass) yang sama. Persyaratan ini menempatkan sistem penguat horisontal dalam kelas yimg
sama dengan sistem penguat vertikal.
Dalam CRO tipe laboratorium yang lebih maju, tingkat masukan sering digabung-
kan ke generator penyapu agar membentuk unit basis waktu kontak tusuk, dengan penguat
parafasa dan penguat keluaran yang tetap berada di dalam kerangka utama CRO.
9-7 JARUM PENDUGA CRO
9- 7- 1 Pendahuluan
Jarum penduga (probe) CRO melakukan fungsi penting yaitu menghubungkan
rangkaian yang akan diselidiki ke terminal-terminal masukan CRO tanpa membebani atau
jika tidak mengganggu susunan pengujian. Agar memenuhi persyaratan dari berbagai CRO
209

pemakaian umum dan pemakaian khusus, terdapat berbagai jenis jarum penduga, dari jenis
tegangan pasif yang sederhana sampai ke jarum penduga aktif yang baik untuk pemakain
khusus. Namun dalam masing-masing hal jarum penduga tidak harus menurunkan prestasi
CRO, dan gabungan jarum penduga bersama CRO harus disesuaikan dengan tepat dan
dikalibrasi sebagai suatu sistem pengukuran guna menjamin ketelitian pengukuran yang
maksimal.
Gambar 9-37 merupakan diagram balok yang umum yang dapat dipakai pada semua
jarum penduga CRO. Kepala jarum panduga (probe head) berisi rangkaian pengindera
sinyal. Rangkaian ini bisa pasif seperti halnya tahanan 10 M yang diparalel oleh sebuah
kapasitor 7 pF; atau bisa aktif seperti halnya sebuah FET source follower beserta elemen-
elemen yang sesuai.


Gambar 9-37 Diagram balok yang umum untuk sebuah jarum penduga CRO
Sebuah kabel koaksial (jenis kabel bergantung pada jenis jarum penduga; digunakan
untuk menggandengkan kepala jarum peduga ke rangkaian penutup (termination), yang
juga bisa aktif atau pasif. Rangkaian penutup ini melengkapi CRO dengan impedansi
sumber yang dia perlukan dan menutup kabel koaksial pada impedansi karakteristiknya.
9-7-2 Jarum penduga tegangan pasif (passive probe)
Jarum penduga yang paling terkenal dan mengenyangkan untuk menggandengkan
sinyal yang akan diselidiki ke CRO adalah jarum penduga tegangan pasif (disebut demi-
kian sebab tidak mengandung elemen-elemen aktif).
Jarum penduga pasif paling sederhana adalah jarum penduga, tanpa pelemahan atau
jarum penduga XI. Jarum penduga ini berisi sebuah kabel koaksial dengan ujung jarum
penduga (probe tip) pada salah satu ujung kabel dan konektor BNC pada ujung lainnya.
Walaupun sambungan dari titik uji ke masukan CRO adalah langsung, kapasitansi paralel
dari kabel memainkan suatu peranan dan harus diperhitungkan. Secara khas, kapasitansi
sebuah kabel koaksial 50 adalah sekitar 30 pF/kaki, sehingga sebuah kabel koaksial yang
panjangnya 5 kaki menambahkan sekitar 150 pF terhadap kapasitansi masukan CRO.
Dengan demikian jarum penduga XI pada dasarnya adalah sebuah kapasitansi pemaralel
(shunting capacitance) yang besar dengan terminal masukan yang letaknya beberapa kaki
dari masukan CRO. Karena jarum penduga XI menyajikan beban besar terhadap sinyal-
sinyal frekuensi tinggi, dia biasanya dibatasi untuk pemakaian frekuensi rendah seperti
halnya pengukuran kerut gelombang sumber daya arus bolak balik.
Salah satu jarum penduga tegangan pasif yang paling banyak dipakai adalah jarum
penduga terkomperisasi I0 X yang ditunjukkan pada Gambar 9-38, dirancang untuk me-
legkapi peleinaban sinyal sebesar 10 banding 1 pada suatu rangkuman frekuensi yang lebar.
Pada Gambar 9-38 kepala jarum penduga berisi tahanan pelemah R
1
, yang diparalel oleh
sebuah kapasitor variabel kecil C
1
, untuk kompensasi jarum penduga (pembaca dianjurkan
mempelajari Bab 94-3 dalam mana materi mengenai kompensasi pelemah dibahas secara
terperinci). Sebuah kabel koaksial menghubungkan kepala jarum penduga ke CRO yang
210

impedansi masukannya dinyatakan oleh tahanan R
in
paralel terhadap kapasitor C
in
. Untuk
instrumen laboratorium pemakaian umum, R
in
= 1 M dan C
in
= 20 pF merupakan nilai-
nilai yang pantas.



Gambar 9-38 Kompensasi jarum penduga 10 X
Sepanjang yang menyangkut tegangan dc, gabungan jarum penduga dan CRO meru-
pakan sebuah sebuah pembagi tegangan 10 banding 1 yang karakteristik alih dc nya adalah
in
in
in out
R R
R
v v
+
=
1
(9-35)
Untuk nilai-nilai rangkaian yang diberikan pada Gambar 9-38, ini menghasilkan
in out
v v 1 , 0 =

yang sesungguhnya adalah pembagi tegangan 10 banding 1.

Untuk mengkompensir pembagi tegangan ini pada rangkuman frekuensi CRO, kon-
stanta waktu v
1
= R
1
C
1
dari jaringan masukan harus sama dengan konstanta waktu
2
= R
in

(C
2
+ C
in
) dari jaringan keluaran. Perhatikan bahwa C
2
menyatakan kapasitansi kabel
koaksial. Dengan mengambil panjang kabel 3,5 kaki dan kapasitansi adalah 30 pF/kaki,
maka kapasitansi total adalah C
2
= 3,5 x 30 pF = 105 pF. Jadi konstanta waktu
2
= 1 m
(105 pF + 20 pF) = 125 S. Untuk R
1
= 9 M, kapasitor kompensasi C
1
harus diatur
menjadi C
1
= 125 S/9 M = 13,88 pF. Karena kapasitansi masukim CRO dapat berubah
dari sekitar 15 pF sampai 150 pF bergantung pada masingmasing instrumen, maka
kapasitor kompensasi C
1
harus dapat diatur dari sekitar 13 pF sampai 17 pF seperti
ditunjukkan pada Gambar 9-38.
Adalah penting untuk menyadari bahwa bila jarum penduga pelemah 10 X mula-
mula dihubungkan ke CRO, maka kapasitor kompensasi C
1
harus diatur agar menghasilkan
respons frekuensi gabungan jarum penduga dan CRO yang optimal. Pengaturan ini paling
mudah dilakukan dengan cara menghubungkan ujung jarum penduga ke sinyal uji
gelombang persegi 1 kHz (tegangan pengalibrasi) dan mengamati peragaan CRT yang
menghasilkan respons optimal sewaktu mengatur C
1
. Gambar respons khas ditunjukkan
pada Gambar 9-19.

9 7-3 Jarum penduga tegangan aktif
Jarum penduga tegangan aktif yang dirancang guna memberikan suatu cara yang
efisien dalam menggandengkan sinyal frekuensi tinggi yang kenaikan waktunya cepat ke
masukan CRO, berisi komponen aktif seperti dioda, FET, BJT atau tabung vakum miniatur.
Umumnya jarum penduga aktif memiliki impedansi masukan yang sangat tinggi dengan
pelemahan yang lebih kecil dari jarum penduga pasif. Karena mereka berisi rangkaian
211

elektronik, jarum penduga aktif lebih mahal dan lebih besar dari jarum penduga pasif, tetapi
mereka sangat memperbesar kemampuan pengukuran dari sistem jarum penduga dan CRO.
Bentuk jarum penduga aktif yang terdahulu adalah jarum penduga cathode follow-
er (CF) pada Gainbar 9-39, yang menggunakan sebuah tabung vakuum trioda miniatur
sebagai elemen aktif. Keseluruhan rangkaian CF terkandung di dalam kepala jarum pen-
duga; sebuah kabel koaksial menghubungkan keluaran CF ke terminal-terminal masukan
CRO. Ketentuan khusus dibuat untuk penyaluran tegangan tinggi dan tegangan filamen ke
trioda vakum dengan cata penyambungan kabel yang terpisah. Impedansi masukan dari
rangkaian CF adalah tinggi sekali, khasnya dalam orde 10 M atau lebih; sedang
kapasitansi masukan adalah rendah sekali (kira-kira 5 pF).



Gambar 9-39 Jarum penduga jenis "cathode follower" yang digandeng oleh ac
(arus bolak-balik).
Impedansi keluaran dari CF dimaksudkan untuk mengemudikan kabel koaksial yang
ditutup pada impedansi karakteristiknya pada masukan CRO. Jarum penduga CF dibatasi
pada tegangan masukan yang tidak melebihi beberapa volt, walaupun rangkuman
tegangannya dapat diperbesai dengan penambahan pembagi tegangan terkompensasi 10 : 1
ke masukan CF dengan cara menambah ujung jarum penduga.
Versi jarum penduga tegangan aktif yang lebih baik adalah jarum penduga FET pada
Gambar 9-40, di mana sebuah transistor efek medan (field effect transistor) dalain
konfigurasi "source follower" digunakan sebagai elemen masukan yang aktif.



Gambar 9-40 Jarum penduga aktif dengan masukan FET

Jarum penduga FET, seperti jarum penduga lainnya, terdiri dari tiga bagian yakni kepala
jarum penduga, kabel koaksial dan penutupan. Kepala jarum penduga berisi "source
followel FET" ditambah sebuah penguat pengemudi EF (EF driver amplifier) untuk
mengemudikan kabel koaksial. Impedansi masukan dari rangkaian FET adalah sekitar 10
M yang diparalel oleh 5 pF, dan rangkuman sinyal dinamik dari penguat jarum penutup
dibatasi pada sekitar 500 mV. Untuk memperbesar rangkuman tegangan masukan yang
terbatas ini, biasanya tersedia pelemah 10 X dan 100 X sebagai alat tambahan Kabel,
koaksial menghubungkan kepala jarum penduga ke kotak penutupan (terminal toll box)
212

yang pada gilirannya dihubungkan ke masukan CRO. Kabel koaksial ditutup pada
impedansi karakteristiknya (misalnya Z
o
= 50 ) oleh peralatan aktif yang terdapat di
dalam kotak penutup. Rangkaian tambahan yang direncanakan untuk memperbaiki
stabilitas rangkaian respons frekuensi yang sering mengandung peralatan aktif dan penguat
keluaran, juga disediakan di dalam kotak penutup.
9-7-4 Jarum penduga arus
Jarum penduga arus memberikan suatu metoda penggandengan sinyal ke masukan
CRO secara induktif, sehingga tidak memerlukan hubungan listrik langsung ke rangkaian
uji. Sebagaimana halnya pada jarum penduga tegangan, jarum penduga arus terdiri dari
sebuah pengindera (sensor), sebuah kabel koaksial dan rangkaian penutup;
Terdapat berbagai jensi jarum penduga arus. Sebuah contoh jarum penduga arus
yang terkenal adalah yang disebut jarum penduga arus pasif jenis inti terpisah (split-core)
pada Gambar 9-41 yang dapat dibuka dan dijepit sekeliling konduktor yang arusnya akan
diukur. Alat pengindera arus pada jarum penduga ini adalah yang disebut transformator
arus (current transformer) dari inti terpisah, terdiri dari lempeng stasioner berbentuk U dan
sebuah lempeng datar yang dapat bergerak Sebuah kumparan dengan jumlah lilitan sekitar
25 digulungkan pada salah satu kaki dari inti ferrit guna membentuk kumparan
transformator sekunder. Konduktor yang akan diuji adalah kumparan primer satu gulungan.












Gambar 9-41 Jarum penduga arus inti terpisah dengan penutupan pasif
(seijin Tetronix, Inc.)

Sinyal masukan ke jarum penduga adalah arus di dalam konduktor yang akan diukur;
sinyal keluaran adalah tegangan yang dibangkitkan pada sekunder transformator. Jelas
bahwa jarum penduga arus ini hanya mengindera perubahan arus dan dengan demikian
hanya dapat digunakan untuk mengukur sinyal-sinyal bolak-balik (ac). Jika ditutup secara
tepat, sensitivitas jarum penduga ini adalah dalam orde 10 mA/mV (keluaran sinyal sebesar
1 milivolt sebagai akibat dari perubahan arus masukan sebesar 10 mA). Tegangan keluaran
transformator digandengkan dari kepala jarum penduga ke penutupan meIalui sebuah kabel
koaksial. Rangkaian penutupan dapat pasif atau aktif berganfung pada jenis jarum penduga,
dan pada umumnya disediakan untuk penutupan kabel koaksial pada impedansi
karakteristiknya. Rangkaian tambahan guna memperbaiki karakteristik respons jarum
penduga juga terdapat di dalam kotak penutup.
213

9-7-5 Jarum penduga tegangan tinggi
Jarum penduga tegangan tinggi digunakan untuk menghubungkan sinyal-sinyal
kilovolt ke CRO konvensional dengan melengkapi perbandingan tegangan sebesar 1000 : 1
atau lebih. Kepala jarum penduga tegangan tinggi dibuat dari bahan termoplastik yang
kekuatan tumbuknya (impact strength) tinggi dan direncanakan secara khusus guna
melindungi pemakai terhadap bahaya kejutan elektris.


Gambar 9-42 Jarum penduga tegangan tinggi (seijin Tetronix, Inc.)

Gambar 9-42 menunjukkan diagram rangkaian sebuah jarum penduga tegangan
tinggi khas 1000 : 1. Kepala jarum penduga berisi sebuah tahanan 100 M yang pan-
jangnya sekitar 4 inci, yang kapasitansi terbaginya ditunjukkan pada skema. Sebuah kabel
jarum penduga yang khusus menghubungkan kepala ke kotak penutup yang dapat
ditusukkan ke dalam terminal-terminal masukan vertikal CRO. Perbandingan pelemahan
sebesar 1000 : 1 diperoleh dengan mengatur tahanan R
s
yang seri dengan R
4
= 100 k, dan
dengan tahanan masukan CRO sebesar 1 M seperti terlihat pada gambar. Jarum, penduga
dikompensir terhadap konstanta waktu masukan CRO melalui pengaturan jaringan yang
terdiri dari R
1
, C
1
, R
2
, C
2
dan C
3
. Kabel jarum penduga ditutup pada impedansi
karakteristiknya oleh tahanan R
3
dan R
6
.
Kemampuan jarum penduga untuk mengukur tegangan tinggi dipengaruhi oleh ka-
pasitansi paralel terhadap rangkaian masukan, yang dapat menjadi kelihatan dengan jelas
pada frekuensi-frekuensi di atas 100 kHz. Kenaikan temperatur juga menurunkan ke-
mampuan jarum penduga untuk mengukur tegangan tinggi.

214


9-8 GAMBAR LISSAJOUS
9-8-1 Konstruksi gambar Lissajous
Gambar-gambar Lissajous dihasilkan bila gelombang-gelombang sinus dimasukkan
secara bersamaan ke pelat-pelat defleksi horisontal dan vertikal CRO. Konstruksi sebuah
gambar Lissajous ditunjukkan secara grafik pada Gambar 9-43.

















Gambar 9-43 Konstruksi Gambar Lissajous
Gelombang sinus e
v
menyatakan tegangan defleksi vertikal dan gelombang sinus e
h

adalah tegangan defleksi horisontal. Frekuensi sinyal vertikal adalah dua kali frekuensi
sinyal horisontal, sehingga bintik CRT bergerak dua siklus lengkap dalam arah vertikal
dibandingkan terhadap satu siklus dalam arah horisontal. Gambar 9-43 menunjukkan
bahwa angka 1 sampai 16 pada kedua bentuk gelombang menyatakan titik-titik yang
berhubungan dengan selang waktu. Dengan menganggap bahwa bintik diawali dari pusat
layar CRT (titik 0), perjalanan bintik dapat dilukiskan kembali menurut cara yang
ditunjukkan, dan gambar yang dihasilkan disebut gambar Lissajous. Dua gelombang
sinus dengan frekuensi yang sama menghasilkan gambar Lissajous yang bisa berbentuk
garis lurus, elips atau lingkaran, bergantung pada fasa dan amplitukedua sinyal tersebut.
Sebuah lingkaran hanya dapat terbentuk bila amplitude kedua sinyal sama. Jika mereka
tidak sama dan/atau tidak sefasa, terbentuk sebuah elips yang sumbu-sumbunya adalah
bidang-horisontal dan bidang vertikal (dengan menganggap penempatan CRO yang
normal). Tanga memperhatikan amplitude sinyal, hal yang menentukan jenis gambar yang
terbentuk dengan memasukkan dua sinyal yang frekuensinya sama ke pelat defleksi adalah
215

beda fasa antara kedua sinyal tersebut. Gambar 9-44 menunjukkan hubungan fasa yang
diperlukan untuk masing-masing gambar yang dihasilkan.




Gambar 9-44 Gambar-gambar Lissajous dengan perbandingan 1/1 menunjukkan efek
hubungan fasa

Sejumlah kesimpulan dapat diambil dari penyelidikan gambar-gambar ini. Schmid
contoh, sebuah garis lurus dihasilkan bila kedua sinyal adalah sefasa atau berbeda fasa
180. Sudut yang terbentuk dengan horisontal akan persis sama dengan 45 bila amplitudo
kedua sinyal adalah sama. Suatu kenaikan pada tegangan defleksi vertikal menyebabkan
garis yang membentuk sudut lebih besar dari 45 terhadap horisontal. Dengan cara sama,
penurunan penguatan penguat vertikal memperlihatkan sebuah garis dengan sudut yang
lebih kecil dari 45
0
terhadap horisontal. Sebuah lingkaran dihasilkan bila beda fasa antara
kedua sinyal persis sama dengan 90
0
atau 270
0
, dengan anggapan bahwa kedua sinyal
tersebut mempunyai amplitudo yang sama. Jika sinyal vertikal memiliki amplitudo yang
lebih besar, terbentuk sebuah elips dengan sumbu panjang adalah sumbu vertikal. Bila
sinyal horisontal lebih besar, sumbu panjang elips akan terletak sepanjang sumbu
horisontal. Dalam hal elips-elips yang terbentuk karena perbedaan fasa selain dari 90,
suatu perubahan hubungan antara tegangan-tegangan defleksi mempunyai efek yang
serupa.
216

9-8-2 Penentuan frekuensi
Bagi setiap perbandingan sinyal yang dimasukkan, terdapat banyak kemungkinan
konfigurasi. Salah satu pertimbangan adalah apakah yang dimasukkan ke pelat-pelat
defleksi horisontal adalah frekuensi tinggi atau frekuensi rendah. Akan tetapi, pertim-
bangan yang paling penting adalah fasa dari sinyal frekuensi tinggi berkenaan dengan
sinyal frekuensi rendah. Pola pada Gambar 9-43 menunjukkan sebuah gambar berbentuk
angka delapan, bersandar pada kedua sisinya yang dihasilkan bila kedua sinyal berangkat
keluar bersama-sama. Sebuah garis singgung yang dilukiskan melalui ujung atas gambar
akan membentuk titik singgung pada dua tempat; sebuah garis singgung yang dilukiskan
melalui satu sisi vertikal akan membentuk titik singgung pada satu titik. Jelas bahwa
juinlah garis-garis singgung horisontal berhubungan dengan frekuensi tegangan defleksi
vertikal, sedang jumlah garis-garis singgung vertikal berhubungan dengan frekuensi
legangan defleksi horisontal. Jadi perbandingan antara frekuensi defleksi vertikal terhadap
frekuensi defleksi horisontal adalah 2/1.
Gambar-gambar yang menarik akan diperoleh bila sinyal frekuensi tinggi dan sinyal
frekuensi rendah tidak berangkat pada waktu yang bersamaan tetapi berbeda fasa. Gambar
9-45 menunjukkan hubungan fasa selanjutnya antara kedua sinyal. Gambar 9-45(b)
menunjukkan keadaan di mana sinyal frekuensi tinggi tergeser ke depan sebesar 90. Di
sini sinyal frekuensi tinggi berada pada nilai maksimalnya bila sinyal frekuensi rendah ham
akan memulai siklusnya. Bila kondisi ini terjadi, gambar yang dihasilkan membentuk
sebuah parabola terbalik. Gambar jenis ini biasanya disebut bayangan rangkap (double
image); karena berkas elektron, setelah mengubah arahnya, kembali mengikuti Iintasan
(jejak) yang persis sama.
Bila sebuah bayangan rangkap seperti halnya parabola dihasilkan, untuk
mengevaluasi perbandingan frekuensi harus digunakan suatu metoda lain. Dalam hal ini
sebuah garis singgung yang ditarik melalui ujung gambar yang terbuka dihitung sebagai
setengah garis singgung. Sebagai contoh pada Gambar 9-45(d), sebuah garis singgung yang
digambarkan melalui puncak membentuk dua titik singgung pada bagian atasnya yang
terbuka dan dengan demikian masing-masing menghitung sebagai setengah garis singgung,
menghasilkan total satu titik. Melalui sisi vertikal hanya terdapat satu titik singgung terbuka
yang memberikan hitungan setengah. Dengan demikian, perbandingan frekuensi vertikal
terhadap frekuensi horisontal masih 2/1. Terdapat beberapa pembatasan terhadap frekuensi
yang dimasukkan ke pelat-pelat defleksi. Jelas, salah satu adalah bahwa CRO harus
memiliki lebar bidang yang, dibutuhkan pada frekuensi frekuensi ini. Pembatasan lainnya
adalah bahwa hubungan antara kedua frekuensi sebaiknya tidak akan memperlihatkan
sebuah gambar yang akan terlalu dilibatkan dalam penetuan perbandingan frekuensi yang
tepat. Sebagai aturan, pebandigan setinggi 10/1 dan teredah 10/2 dapat ditentukan dengan
baik sekali
217


Gambar 9-45 Gambar-gambar Lissajous untuk berbagai hubungan fasa antara tegangan
defleksi vertikal dan horisontal.
Di samping gambar-gambar untuk perbandingan-perbandingan frekuensi yang
bulat, terdapat banyak gambar pada mana pembilang dan penyebut dari perbandingan
tersebut adalah angka-angka bulat. Sebagai contoh, Gambar 9-46 menunjukkan gambar-
gambar untuk perbandingan 3/2 dan 5/3. Dalam setiap hal, metoda penentuan
perbandingan-perbandingan dari frekuensi-frekuensi yang dimasukkan adalah sama seperti
yg telah dibicarakan sebelumnya.
Membandingkan frekuensi dengan menggunakan gambar-gambar Lissajous scring
dilakukan pada CRO. Bila sebuah gambar Lissajous dibentuk oleh dua sinyal yang
amlitudonya sama dengan perbedaan frekuensi yang hanya sedikit, gambar kelihatan
bergeser pelan-pelan sesuai dengan beda fasa antara keduanya. Bila dari perinuhmi kedua
sinyal adalah sefasa dan gambar merupakan sebuah garis lurus seperti ditunjukkan pada
Gambar 9-44, garis terbuka menjadi sebuah elips, kemudian menjadi sebuah lingkaran,
tertutup menjadi elips, dan kemudian menjadi garis lurus dengan kemiringan (inklinasi)
yang berlawanan terhadap yang semula. Urutan ini terjadi dengan pergeseran sebesar
setengah getaran. Dalam menyelesaikan perbedaan satu getaran, gambar telah kembali ke
posisi bergerak semula. Sebagai contoh, jika sebuah gambar Lissajous digunakan untuk
membandingkan dua osilator, satu dengan frekuensi 1000 Hz dan yang lain dengan
frekuensi 1001 Hz, gambar pada layar CRT menyelesaikan satu siklus perubahan dalam
satu sekon. Jika frekuensi satu osilator dapat diatur sehingga diperlukan beberapa sekon
untuk menyelesaikan satu perubahan gambar yang lengkap, maka kedua frekuensi satu
sama lain merupakan bilangan pecahan (fraksi) dari satu getaran (siklus) yang merupakan
persentase yang sangat kecil dalam frekuensi osilasi sebesar 1000 Hz. Bila satu frekuensi
bergeser sedikit berkenaan dengan yang lain, gambar akan berputar atau meluncur dengan
218

cepat (barrel) dari perbandingan yang bulat.


Gambar 9-46 Menentukan frekuensi dengan menggunakan gambar-gambar Lissajous. (a)
Gambar Lissajous 3/2; (b) Gambar Lissajous 5/3.

9- 8-3 Perhitungan sudut fasa
Tanpa memperhatikan amplitudo relatif dari tegangan-tegangan yang dimasukkan,
elips memberikan cara sederhana urituk mendapatkan beda fasa antara dua sinyal dengan
frekuensi yang sama. Metode ini ditunjukkan pada Gambar 9-47. Sinus sudut fasa antara
kedua sinyal sama dengan perbandingan antara titik potong pada sumbu Y yang dinyatakan
oleh Y
1
terhadap defleksi vertikal maksimal yang dinyatakan oleh Y
2
Dapat dituliskan:
2
1
sin
Y
Y
= u
(9-36)
Agar menyeyangkan, penguatan-penguatan vertikal dan horisontal diatur sehingga elips
tepat berada di dalam sebuah bujur sangkar seperti yang ditandai oleh garis-garis koordinat
pada "graticule". Gambar 9-47 menunjukkan cara menafsirkan sudut fasa sesuai dengan
orientasi elips. Jika sumbu panjang terletak dalam kuadran pertama dan ketiga seperti
ditunjukkan pada Gambar 9-47(b), sudut fasa adalah antara 0 dan 90 atau antara 270 din
360. Bila sumbu panjang lewat melalui kuadran kedua dan keempat, sudut fasa adalah
antara 90 dan 180 atau antara 180 dan 270. Dalam contoji Gambar 9-47 sinus sudut
fasa sama dengan 0,5 sesuai dengan nilai sudut-sudut fasa yang berbeda yang ditunjukkan
pada Gambar
9-9 CRO UNTUK PEMAKAIAN KHUSUS
9- 91 CRO dengan jejak rangkap dua (dual trace CRO)
Kemampuan CRT satu jejak (single trace) yang biasa dapat ditingkatkan agara
menghasilkan bayangan ganda atau peragaan jejak rangkap dusa dengan cara penyakelaran
dua sinyal masukan terpisah secara elektronik (electronic switching). Diagram balok yang
di sederhanakan pada Gambar 9-48 menunjukkan bahwa CRO jejak rangkap dua mempu-
nyai dua rangkaian masukan vertikal yang diberi tanda : saluran A dan B dengan pra
penguat dan saluran tunda yang identik.
219



Gambar 9-47 Penentuan sudut fasa antara dua sinyal dengan frekuensi yang sama.
Keluaran pra-penguat A dan B diumpankan kc sebuah sakelar elektronik yang secara
bergantian menghubungkan masukan penguat vertikal utama ke kedua masukan sinyal.
Sakelar elektronik juga dapat berisi rangkaian untuk memilih variasi modus peragaan.
Walaupun selektor untuk modus peraga tidak ditunjukkan dalam diagram balok, mereka
jelas kelihatan pada Gambrar 7-49 sebagai alai kontrol di panel depan.


Gambar 9-48 Diagram balok yang disederhanakan untuk sebuah Cro jejak rangkap dua.


220


Gambar 9-49 Susunan panel depan dari sebuah osiloskop portabel jejak rangkap dua
dengan frekuensi 50 MHz (seijin Tektrionix, Inc.).
Bila sakelar modus peragaan berada pada posisi altermate (bergantian), sakelar
elektronik secara bergantian menghubungkan penguat vertikal utama saluran A dan saluran
B. Penyakelaran ini terjadi pada permulaan tiap-tiap penyapuan yang baru. Kecepatan
pemindahan elektronik diselaraskan dengan kecepatan penyapuan, sehingga bintik CRT
mengikuti jejak sinyal saluran A pada satu penyapuan dan sinyal saluran B pada pada
penyapuan berikutnya. Karena tiap penguat vertikal mempunyai sebuah pelemah masukan
yang telah terkalibrasi dan sebuah pengontrol posisi vertikal, amplitudo sinyal masukan
dapat diatur secara tersendiri sehingga kedua bayangan ditempatkan secara terpisah pada
layar. Modus operandi ini terutama sangat berguna pada laju penyapuan yang relatif cepat,
bila kedua bayangan kelihatan sebagai satu peragaan yang simultan dan stabil.
Perhatikan bahwa sinyal pemicu penyapuan tersedia dari saluran A atau saluran B,
dan bahwa dia terpicu sebelum penyakelaran elektronik. Susunan ini mempertahankan
hubungan fasa yang tepat antara sinyal A dan sinyal B.
Dalam modus operandi tercincang (chopped), sakelar elektronik bekerja penuh pada
kecepatan 100 sampai 500 kHz, seluruhnya tidak bergantung pada frekuensi generator
penyapu. Dalam modus ini, penyakelaran secara berturut-turut menghubungkan segmen-
segmen kecil gelombang A dan B ke penguat vertikal utama. Pada laju pencincangan yang
relatif cepat misalnya 500 kHz, segmen 1S dari tiap-tiap bentuk gelombang diumpankan
ke CRT untuk peragaan. Jika laju pencincangan jauh lebih cepat dari laju penyapuan
horisontal, segmen-segmen terpisah yang kecil yang diumpankan ke penguat vertikal utama
bersama-sama akan menyusun kembali bentuk gelombang A dan B yang ash pada layar
CRT, tanpa mengakibatkan gangguan yang nyata pada kedua bayangan. Jika kecepatan
penyakelaran hampir sama dengan kecepatan pencincangan, segmen-segmen kecil dari
gelombang yang tercincang akan kelihatan sebagai bayangan-bayangan terpisah, dan
kesinambungan peragaan bayangan hilang. Dalam gal ini, akan lebih baik menggunakan
modus operandi alternate.
Dalam modus operandi penjumlahan (added) sinyal A dan sinyal B dijurnlahkaii
secara aljabar dan basil penjumlahannya diperagakan sebagai satu bayangan tunggal
sebagai fungsi dari waktu. Jika pada kedua saluran digunakan sakelar-sakelar pengubah
polaritas, adalah mungkin untuk memperagakan A + B, A - B, B - A dan -A -B.
Dalam modus operandi X - Y, generator penyapu terputus dan saluran B
221

tersambung ke penguat horisontal. Karena kedua prapenguat adalah identik dan mempunyai
keterlambatan waktu yang sama, maka pengukuran X - Y yang benar-benar teliti dapat
dilakukan.
Di samping modus peragaan-peragaan yang khusus ini, CRO jejak rangkap dua
dapai digunakan sebagai instrumen yang lazim, yaitu memperagakan saluran A atau saluran
It sebagai fungsi waktu.

9-9-2 CRO berkas rangkap (dual beam CRO)
CRO berkas rangkap menerima dua sinyal masukan vertikal dan memperagakanya
sebagai dua bayangan terpisah pada layar CRT. Sebagai pengganti penyakelaran kedua
sinyal ke sebuah penguat vertikal tunggal secara elektronik seperti pada CRO jejak rangkap
pada Bab 9-9-1, osiloskop berkas rangkap menggunakan CRT khusus yang menghasilkan
dua berkas elektron yang betul-betul terpisah yang secara bebas dapat disimpangkan dalam
arah vertikal. Dalam beberapa CRT berkas rangkap keluaran senapan elektron tunggal
dipisahkan secara mekanis menjadi dua berkas terpisah (yang disebut teknik pemisahan
berkas), sedang CRT yang lain berisi dua senapan elektron tepisah, yang masing-masing
menghasilkan berkas sendiri. CRT berkas rangkap mempunyai dua pasang pelat defleksi
vertikal, satu pasang untuk tiap saluran, dan satu pasang pelat defleksi horisontal.




Gambar 9-50 Diagram balok yang disederhanakan dari sebuah osiloskop berkas rangkap.

222


Gambar 9-51 Peragaan khas berkas rangkap dua . (a) Bentuk gelombang masukan dan
keluaran dari sebuah rangkaian pembentuk pulsa. (b) Gambar-gambar modulasi (seijin
Tektrionix, Inc.).

Diagram balok yang disederhanakan pada Gambar 9-50 menunjukkan bahwa CRO
berkas rangkap mempunyai dua saluran vertikal yang identik yang ditandai dengan A dan
B. Tiap saluran terdiri dari prapenguat dan pelemah masukan, saluran tunda, penguat
vertikal utama dan pelat-pelat vertikal CRT. Generator basis waktu yang menggerakkan
pasangan tunggal pelat-pelat horisontal menyapu kedua berkas sepanjang layar pada laju
kecepatan yang sama. Generator penyapu dapat dipicu secara internal dari salah satu
saluran dari suatu sinyal pemicu yang dihubungkan dari luar, atau dari tegangan jala-jala.
Karena CRO berkas rangkap tidak mempunyai jumlah modus peragaan yang sama
seperti instrumen jejak rangkap, dia mungkin kelihatan kurang terandalkan, tetapi secara
ideal sesuai untuk peragaan berbagai jenis sinyal masukan secara simultan. Potret pada
Gambar 9-51 menunjukkan keandalan CRO berkas rangkap dalam memperlihatkan pera-
gaan fenomena yang sating berhubungan. Gambar 9-51(a) menunjukkan bentuk gelombang
masukan dan keluaran dari sebuah rangkaian pembentuk pulsar Gambar 9-51(b)
memperlihatkan sebuah contoh pola modulasi khan dalam sebuah rangkaian komunikasi.
9-9-3 CRO penyimpanan (storage CRO)
Dalam CRT yang biasa ketahanan fosfor berkisar dari beberapa milisekon sampai
beberapa sekon (lihat Tabel 9-1), sehingga suatu peristiwa yang hanya terjadi sekali saja
akan lenyap dari layar setelah perioda waktu yang relatif singkat. Sebuah CRT penyim-
panan dapat menyimpan peragaan jauh lebih lama, sampai beberapa jam setelah bayangan
terbentuk pada fosfor. Ciri ingatan atau penyimpanan (retention) ini dapat juga sangat
bermanfaat sewaktu memperagakan bentuk gelombang sinyal yang frelcuensinya sangat
rendah. Dalam CRO yang biasa (tidak menyimpan), bagian awal dari peragaan sedemikian
akan menghilang sebelum bagian akhirnya terbentuk pada layar.
CRT penyimpanan dapat digolongkan sebagai tabung-tabung dengan dua kondisi
stabil (bistable) dan tabung-tabung setengah nada (half tone). Tabung dengan dua kondisi
stabil akan menyimpan satu peristiwa atau tidak, dan hanya menghasilkan satu level
keterangan (brightness) bayangan.
223



Gambar 9-52 Rangkaian percobaan untuk mendemonstrasikan emisi elektron sekunder.


Tabung setengah nada dapat menyimpan suatu bayangan untuk pengubahan larnanya waktu
(ketahanan berubah) dan pada level keterangan bayangan yang berbeda. Tabung dengan
dua kondisi stabil dan setengali nada keduanya menggunakan fenomena emisi elektron
sekunder guna membentuk dan menyimpan muatan elektrostatik pada permukaan suatu
sasaran yang terisolasi. Pembahasan berikut berlaku pada kedua jenis tabung tesebut.
Bila sebuah sasaran ditembaki oleh suatu aliran elektron primer, suatu pengalihon
energi yang memisahkan elektron lain dari permukaan sasaran akan terjadi dalam suatu
proses yang disebut emisi sekunder. Jumlah elektron sekunder yang dipanaskan dim
permukaan sasaran bergantung pada kecepatan elektron primer, intensitas berkas elektron,
susunan kimia dari bahan sasaran, dan kondisi permukaannya. Karakteristik-karakteristik
ini dinyatakan dalam yang disebut perbandingan emisi sekunder (seconddarr emission
ratio), yang didefinisikan sebagai perbandingan antara arus emisi sekunder terhadap arus
berkas primer, yaitu:
p s
I I / = o
(9-37)
Rangkaian percobaan sederhana pada Gambar 9-52 dapat digunakan untuk
mendemostrasikan bagaimana perbandingan emisi sekunder berubah sebagai fungsi dari
tegangan sasaran Vt. Senapan elektron pada Gambar 9-52 memancarkan seberkas elektron
terpusat dengan kecepatan tinggi dengan cara yang banyak serupa dengan yang dilaku4 nn
oleh senapan elektron dalam sebuah CRT yang biasa. Berkas elektron ini diarahkan ke
permukaan sasaran logam yang akan memancarkan elektron sekunder pada kondisi yang
menyenangkan. Pengumpul (kolektor), yang secara keseluruhan mengelilingi sasaran
kccuali pada sebuah celah kecil guna melewatkan berkas primer, mengumpulkan semua
elektron emisi sekunder. Ini merupakan arus sekunder I
S
, Tegangan sasaran dapat diatur
pada suatu rangkuman yang lebar (dari 0 sampai + 3000 V), sedang kolektor dipertahankan
pada beberapa volt di atas tegangan sasaran oleh batere V
c
.
Energi penembak dari sebuah elektron primer berhubungan secara langsung dengan
beda potensial antara sumber elektron (katoda) dan sasaran. Bila tegangan sasaran adalah
nol, energi elektron penembak adalah nol dan tidak ada emisi sekunder. Jadi =0. Bila
tegangan sasaran diperbesar dari nol, energi penembak bertambah dan menyebabkan emisi
224

elektron sekunder. Jadi bertambah dari nol , seperti yang ditunjukkan pada kurva emisi
sekunder pada Gambar 9-53. Pada suatu tegangan sasaran yang positif (+50 V dalam
Gambar 9-53), jumlah elektron emisi sekunder sama dengan jumlah elektron elektron
berkas primer, sehingga I
s
=I
p
dan = 1. Titik pada kurva ini disebut titik potong pertama
(first cross over point). Bila tegangan sasaran diperbesar sehingga melampaui titik potong
ini, perbandingan emisi sekunder mula-mula bertambah ke sesuatu nilai maksimal ( =2
dalam Gambar 9-53), dan kemudian berkurang lagi sampai I
s
-I
p
dan =1. Titik pada kurva
ini adalah titik potong kedua (second cross over point)



Gambar 9-53 Kurva khas emisi sekunder

Gambar 9-54(a) merupakan suatu modifikasi dari rangkaian yang sebelumnya dan
menunjukkan tegangan kolektor yang tetap pada + 2000 V. Seperti sebelumnya, tegangan
sasaran dapat diatur pada suatu rangkuman yang lebar. Tegangan kolektor yang tetap secara
drastic mengubah perbandingan emisi sekunder seperti ditunjukkan pada Gambar 9-54(b).
Bila tegangan sasaran lebih besar dari tegangan kolektor, elektron sekunder yang
dipancarkan dari sasaran memasuki medan pemerlambat kolektor dan dipantulkan kembali
ke sasaran. Jadi sasaran mengumpulkan arus berkas primer total I
p
dan arus kolektor Is
adalah nol.


225


Gambar 9-54 Rangkaian emisi sekunder dengan tegangan kolektor yang tetap

Dengan demikian, perbandingan emisi sekunder efektif yang didefinisikan oleh persamaan
(9-37) sebagai = I
s
/I
p
, adalah nol, dan kurva dimodifikasi seperti pada Gambar 9-54(b).
Perubahan lainnya terjadi bila tegangan sasaran mendekati 0 V. Bila sasaran sedikit negatif,
elektron primer tidak dapat mencapai sasaran tetapi disimpangkan ke kolektor. Walaupun
di sang emisi sekunder bisa tidak ada, arus kolektor sama dengan arus berkas primer dan
sasaran mempunyai perbandingan emisi sekunder yang kelihatan atau efektif . Selagi
tegangan sasaran ditambah dari sisi negatif dan mendekati nol, sasaran tidak lebih lama
menolak berkas primer, sehingga terjadi penembakan sasaran yang aktual dan hasil emisi
sekunder yang nyata. Efek ini ditunjukkan pada kurva yang diperbaharui pada Gambar 9-
54(b).
Modifikasi rangkaian dasar selanjutnya ditunjukkan pada Gambar 9-55(a).
Tegangan kolektor juga dibuat tetap pada + 200 V, tetapi hubungan ke sasaran dapat
diputuskan oleh sakelar S menjadi yang disebut sasaran mengambang (floating target).
CRT dengan sasaran mengambang ini mampu untuk efek-efek penyimpanan yang
sederhana. Perhatikan bahwa kurva emisi sekunder untuk tabung ini yang ditunjukkan pada
Gambar 9-55(b) serupa dengan yang ditunjukkan pada rangkaian sebelumnya.

226



Gambar 9-55 Rangkaian emisi sekunder dengan tegangan kolektor yang tetap dan sasaran
menyambung Tegangan sasaran selalu mengambil salah satu kondisi stabil A atau B

Sakelar S mula-mula ditutup dan tegangan sasaran disetel pada suatu nilai yang
rendah, misalnya + 20 V. Pada titik ini, perbandingan emisi sekunder khasnya adalah
dalam orde 0,5, sehingga arus di dalam rangkaian kolektor adalah setengah arus berkas
primer, atau I
s
=1/2 I
p.
Setengah arus primer yang lainnya sekah dikumpulkan oleh sasaran
dan dikembalikan ke batere sasaran. Jadi arus sasaran I
t
=1/2 I
p.
. Bila sekarang sakelar S
dibuka, arus di dalam kawat sasaran terganggu dan arus berkas primer memuati sasaran
dalam arah negatif. Dengan demikian tegangan sasaran berkurang (menjadi kurang positif),
dan perbandingan emisi sekunder berubah, mengikuti kurva Gambar 9-55(b). Laju
pengisian muatan menurun sewaktu tegangan sasaran mendekati titik A pada kurva. Pada
titik ini, arus emisi sekunder sama dengan arus berkas primer, dan laju pengisian netto
adalah nol. Pada titik A, tegangan sasaran sedikit negatif, perbandingan emisi sekunder
adalah satu, dan sasaran telah mencapai suatu kondisi stabil. Titik A disebut titik stabil
rendah (lower stable point), dan sasaran dianggap dalam kondisi terhapus (erased
condition).
Jika tegangan awal atau tegangan permulaan sasaran adalah di sebelah kanan titik
potong C, misalnya pada + 100 V pada Gambar 9-55(b), perbandingan emisi sekunder
lebih besar dari satu. Ini berarti bahwa I
s
lebih besar dari I
p
dan dengan demikian harus ada
aliran elektron netto yang meninggalkan permukaan sasaran. Bila sakelar S sekarang
dibuka, sasaran terus memancarkan elektron sekunder sehingga di mengosongkan muatan
dan menjadi lebih positif. Jadi perbandingan emisi sekunder bergerak naik sepanjang kurva
ke titik B di mana laju pengosongan muatan sekali lagi adalah nol dan sasaran mencapai
suatu kondisi stabil. Pada titik yang disebut titik stabil atas (upper stable point) ini
perbandingan emisi sekunder adalah satu, dan sasaran dianggap dalam kondisi menulis
/merekam (written).
Selama senapan primer dalam keadaan bekerja dan elektron primer menembaki
sasaran, sasaran akan selalu pada suatu titik stabil, stabil atas atau bawah, bergantung pada
tegangan awal dari sasaran. Titik potong C pada kurva secara khusus adalah tidak stabil
dalam pengertian bahwa tegangan sasaran akan selalu bergerak naik ke titik B atau turun ke
227

titik A, bergantung pada dengan cara bagaimana tegangan sasaran mula-mula digeser oleh
derau (noise).
CRT pada Gambar 9-55 adalah alai penyimpan dengan dua kondisi stabil yang ele-
menter. Kondisinya dapat diperiksa dengan mengukur tegangan sasaran. Jika tegangan
sasaran adalah "tinggi" (high), sasaran ditulis (direkam); jika tegangan sasaran adalah
"rendah" (low), sasaran terhapus. Dengan demikian, tabung mempunyai suatu penunjukan
elektris dan kondisi penyimpanannya tidak dapat dilihat. Gambar 9-56(a) menunjukkan
prinsip sebuah tabung penyimpan dengan dua kondisi stabil yang mampu menuliskan,
menyimpan, dan menghapus sebuah bayangan. Tabung penyimpan ini berbeda dari yang
disebutkan pada Gambar 9-55(a) dalam dua aspek : Dia memiliki permukaan sasaran ganda
(banyak), dan memiliki senapan elektron kedua. Senapan elektron kedua ini disebut
senapan banjir (flood gun); dia memancarkan elektron primer kecepatan rendah yang
membanjiri seluruh permukaan sasaran. Ciri yang menonjol dari senapan banjir adalah
bahwa dia membanjiri sasaran sepanjang waktu dan tidak hanya sebentar-sebentar seperti
halnya yang dilakukan oleh senapan penulis. Katoda senapan banjir adalah pada potensial
tanah sehingpa tegangan sasaran akan mengikuti kurva emisi sekunder yang ditunjukkan
pada Gambar 9-56(b). Titik stabil rendah adalah beberapa volt negatif terhadap katoda
katoda senapan banjir, dan titik stabil atas adalah pada + 200 V, yaitu tegangan kolektor.
Akan tetapi, katoda senapan penulis adalah pada - 2000 V, dan kurva emisi sekundernya
ditindihkan di atas kurva senapan banjir. Diperoleh bahwa gabungan efek senapan penulis
dan senapan banjir hanyalah penjumlahan efek masing-masing berkas elektron itu sendiri.



228

Gambar 9-56 CRT penyimpan beserta sasaran-sasaran ganda dan dua senapan elektron.

Senapan banjir bekerja sepanjang waktu. Misalkan bahwa sasaran berada pada titik,
stabil rendahnya yaitu kondisi terhapus. Bila senapan penulis dibuka, elektron primernya
mencari sasaran pada potensial 2000 V, yang menyebabkan emisi sekunder sasaran yang
tinggi. Dengan demikian, tegangan sasaran meninggalkan titik stabil rendah dan mulai
betambah. Akan tetapi senapan elektron banjir berusaha mempertahankan sasaran pada
kondisi stabilnya dan melawan pertambahan tegangan sasaran. Jika senapan penulis
dialihkan ke posisi bekerja cukup lama guna membawa sasaran melewati titik potong,
elektron senapan banjir hanya akan membantu elektron senapan penulis mambawa sasaran
sepenuhnya ke titik stabil atas, sehingga sasaran dituliskan. Meskipun jika hubungan ke
senapan penulis sekarang diputuskan, sasaran akan tertahan oelh elektron senapan banjir
dalam kondisi stabil atasnya, dengan demikian menyimpan informasi yang disampaikan
oleh senapan penulis. Bila senapan penulis tidak cukup lama di buat bekerja guna
membawa sasaran melewati titik potong, elektron senapan banjir hanya akan memindahkan
sasaran kembali ke kondisi stabil bawahnya, dan penyimpanan tidak terjadi.
Menghapus sasaran berarti hanya menyimpan tegangan sasaran kembali ke titik
stabil rendah. Ini dapat dilakukan dengan mendenyutkan (pulsing) kolektor ke negatif,
sehingga dia secara seketika menolak elektron emisi sekunder dan memantulkannya
kembali ke sasaran. Ini memperkecil arus kolektor I
s
dan perbandingan emisi sekunder
turun di bawah satu. Selanjutnya sasaran mengumpulkan elektron primer dari senapan
banjir (ingat bahwa senapan penulis tidak bekerja) dan bermuatan negatif. Tegangan sa-
saran berkurang sampai dia mencapai titik stabil rendah di mana pengisian berhenti, dan
sasaran dalam kondisi terhapus. Setelah penghapusan, kolektor harus dikembalikan ke
tegangan positifnya semula (dalam hal ini + 200 V), dan dengan demikian pulsa penghapus
harus dikembalikan ke nol. Seperti ditunjukkan pada Gambar 9-56(a), ini harus terjadi
secara perlahan-lahan, sehingga sasaran tidak dikemudian secara tidak sengaja melalui titik
potong dan kembali menjadi tertulis (terekam).
Permukaan sasaran tabung penyimpanan (storage) pada Gambar 9-56(a) terdiri dari
sejumlah sasaran logam terpisah yang secara elektris terpisah satu sama lain dan diberi
angka dari 1 sampai 5. Senapan banjir adalah dari konstruksi yang sederhana tanpa pelat-
pelat defleksi, dan dia memancarkan elektron berkecepatan rendah yang menutupi semua
sasaran terpisah tersebut. Bila senapan penulis ditembakkan, sebuah berkas elektron
terpusat berkecepatan tinggi diarahkan ke satu sasaran kecil (dalam hal ini nomor 3).
Kemudian sasaran yang satu ini bermuatan positif dan dituliskan ke titik stabil atas. Bila
senapan penulis dimatikan lagi, elektron banjir mempertahankan sasaran nomor 3 pada titik
stabil atasnya (store). Semua sasaran lain dipertahankan pada titik stabil bawahnya (erase).
Langkah terakhir dalam perkembangan tabung penyimpan dua kondisi dengan
pandangan tembus adalah penggantian masing-masing sasaran logam dengan sebuah pelat
dielektrik tunggal seperti dalam tabung khas pada Gambar 9-57. Pelat penyimpan dari
bahan dielektrik ini terdiri dari lapisan partikel-partikel fosfor terhambur yang mampu
memiliki setiap bagian dari luasan permukaannya yang ditulis atau yang dipegang positif,
atau dihapus dan dipegang negatif tanpa mempengaruhi luasan-luasan di sebelahnya pada
229

permukaan pelat. Pelat dielektrik ini diendapkan pada sebuah permukaan pelat gelas yang
dilapisi bahan konduktif. Lapisan konduktif disebut punggung pelat sasaran penyimpan
(storage target back plate), dan dia adalah pengumpul elektron emisi sekunder. Di samping
senapan penulis dan perlengkapan pelat defleksi, CRT penyimpan ini mempunyai dua
senapan banjir dan sejumlah elektroda pengumpul yang membentuk sebuah lensa elektron
guna membagikan elektron banjir secara merata melalui seluruh luasan permukaan sasaran
penyimpan.
Setelah senapan penulis menuliskan sebuah bayangan bermuatan pada sasran
penyimpan, senapan banjir akan menyimpan bayangan. Bagian sasaran yang dituliskan
telah ditembaki oleh elektron banjir yang mengalihkan energi ke lapisan fosfor dalam
bentuk cahaya yang dapat dilihat. Pola cahaya ini dapat dilihat melalui permukaan pelat
gelas. Karena sasaran permukaan penyimpan adalah positif, ataupun keluaran cahaya yang
dihasilkan oleh elektron banjir adalah penuh atau pun minimal. Tidak ada skala yang
kabur diantaran keduanya.


Gambar 9-57 Pandangan skema dari sebuah tabung penyimpanan dengan dua kondisi
stabil (seijin Tektroix, Inc.)
9-9-4 CRO cuplik (sampling CRO)
Bila frekuensi sinyal defleksi vertikal diperbesar, kecepatan penulisan berkas
elektron bertambah. Hasil lanjutan dari kecepatan penulisan yang lebih tinggi adalah penu-
lisan intensitas bayangan pada layar CRT. Guna mendapatkan kecemerlangan bayangan
yang cukup, berkas elektron harus dipercepat ke kecepatan yang lebih tinggi sehingga
energi kinetik yang lebih besar guna pengalihan ke layar dan cahaya yang terangnya
normal dapat dipertahankan. Suatu pertambahan dalam kecepatan berkas elektron mudah
dicapai dengan menaikkan tegangan pada anoda-anoda pemercepat. Sebuah berkas dengan
kecepatan yang lebih besar juga membutuhkan potensial defleksi yang lebih besar guna
mempertahankan sensitivitas defleksi. Dengan serta merta, ini memerlukan tuntutan yang
lebih tinggi terhadap penguat vertikal.
230

Suatu cara untuk memperbaiki sistem defleksi pada frekuensi yang lebih tinggi telah
dikembangkan dengan berhasil oleh pabrik-pabrik CRO dan terdiri dari CRT tipe ge-
lombang merambat (traveling wave CRT). Gambar 9-58 menunjukkan CRT sedemikian,
dalam mana sederetan pelat-pelat defleksi yang dipasang di bagian dalam tabung dibentuk
dan ditempatkan pada jarak sedemikian sehingga sebuah elektron yang bergerak di antara
mereka akan menerima suatu gaya defleksi tambahan dari masing-masing pelat dalam
urutan waktu yang tepat. Sinyal defleksi vertikal dimasukkan ke masing-masing pelat
melalui sebuah saluran tunda yang dirancang sedemikian sehingga keterlambatan
keterlambatan waktu berhubungan dengan tepat ke waktu pengalihan elektron yang
bergerak ke CRT n\menuju layar. Kecepatan elektron harus dikontrol dengan sangat cermat
guna mencegah distorsi pada jejak.
Disamping CRT khusus berfrekuensi tinggi ini, bahan fluoresesn yang harus telah
dikembangkan guna menambah terangnya bayangan pada frekuensi yang lebih tinggi.
Perbaikan selanjutnya dalam sistem defleksi vertikal harus ditemukan dalam penguat-
penguat vertikal itu sendiri.



Gambar 9-58 CRT jenis gelombang merambat. Sebuah CRT berfrekuensi tinggi khusus
bersama sederetan pelat defleksi vertikal (seijin Tektronix, Inc.).

CRO cuplik menggunakan pendekatan yang berbeda guna memperbaiki prestasi
frekuensi tinggi. Dalam CRO cuplik bentuk gelombang masukan dibangun kembali dari
banyak sampel yang diambil selama siklus-siklus gelombang masukan yang berulang, dan
dengan demikian menghindari pembatasan-pembatasan lebar bidang CRT dan penguat
yang konvensional. Teknik ini dilukiskan oleh bentuk-bentuk gelombang yang ditunjukkan
pada Gambar 9-59.
Dalam membangun bentuk gelombang kembali, pulsa pencuplik menghidupkan
rangkaian pencuplik pada.selang waktu yang sangat singkat. Pada saat itu tegangan bentuk
gelombang diukur. Kemudian bintik CRT ditempatkan secara vertikal terhadap masukan
tegangan yang sesuai. Sampel berikutnya diambil selama siklus gelombang, masukan
berikutnya pada suatu posisi yang sedikit terbelakang. Bintik CRT digerakkan secara
horisontal melalui suatu jarak yang sangat pendek dan ditempatkan kembali ke nilai baru
tegangan masukan secara vertikal. Dalam cara ini CRO menggambarkan bentuk gelombang
dari titik ke titik dengan menggunakan sebanyak 1000 sampel untuk menggambarkan
kembali gelombang asli. Frekuensi sampel bisa serendah seperseratus dari frekuensi sinyal
masukan. Jika sinyal masukan mempunyai frekuensi 1000 MHz lebar bidang yang
diperlukan hanya 10 MHz, merupakan bentuk yang sangat wajar.
231

Diagram rangkaian pencuplik yang disederhanakan diberikan pada Gambar 9-60
Bentuk gelombang masukan yang pasti berulang, dimasukkan ke gerbang penyampling
pulsa-pulsa penyampling secara seketika mencatu dioda-dioda gerbang penyampling yang
setimbang dalam arah maju; dengan demikian jelas menghubungkan kapasitansi masukan
gerbang ke titik uji.


Gambar 9-59 Bentuk-bentuk gelombang sehubungan dengan operasi osiloskop pencuplik


Gambar 9-60 Diagram balok yang disederhanakan untuk rangkaian pencuplik (seijin
Hewlett Packard Company).
Kapasitansi ini dimuati secara ringan menuju level tegangan rangkaian masukan. Tegangan
kapasitor diperkuat oleh penguat vertikal dan dimasukkan ke pelat-pelat defleksi vertikal.
Karena pencuplikan harus diselaraskan terhadap frekuensi sinyal masukan, sinyal
diperlambat di dalam penguat vertikal; memungkinkan sinyal masukan untuk melakukan
pemicuan penyapuan. Bila sebuah pulsa pemicu diterima, osilator pemblokir tipe
"avalanche" (avalanche blocking oscillator; disebut demikian karena dia menggunakan
transistor "avalance") mengawali sebuah tegangan tanjak yang betul-betul linear, yang
dimasukkan ke sebuah pembanding tegangan. Pembanding tegangan membandingkan
tegangan tanjak terhadap tegangan keluaran dari sebuah generator anak tangga (staircase
generator). Bila amplitudo kedua tegangan adalah sama, generator anak tangga
diperbolehkan maju satu langkah dan secara simultan sebuah pulsa pencuplik dimasukkan
ke gerbang pencuplik. Pada saat ini, sebuah sampel tegangan masukan masukan diambil,
diperkuat, dan dihubungkan ke pelat-pelat defleksi vertikal.

Penyapuan horisontal dalam waktu yang nyata ditunjukkan pada Gambar 9-59, me-
nimitikkan laju defleksi horisontal dari berkas. Perhatikan bahwa lintasan horisontal dari
232

berkas disinkronkan terhadap pulsa-pulsa pemicu yang juga menentukan saat pencuplikan.
Resolusi bayangan akhir pada layar CRT ditentukan oleh ukuran tangga-tangga generator
anak tangga. Tangga yang lebih tinggi menghasilkan jarak horisontal yang lebih besar
antara bintik-bintik CRT yang menyusun jejak kembali.
9-9-5 CRO peminjuk angka (digital read-out CRO)
CRO penunitik angka mengemukakan konsep penyediaan pembacaan informasi
sinyal secara digital seperti halnya tegangan atau waktu di samping peragaan CRT yang
biasa. Pada dasarnya CRO penunjuk angka terdiri dari sebuah CRO laboratorium kon-
vensional berkecepatan tinggi ditambah dengan sebuah pencacahelektronik (electronic
counter), yang keduanya berada didalam satu kotak. Rangkaian kedua unit ini
dihubungkkan dengan memakai sebuah pengontrol peragaan secara logika, yang
memungkinkan pengukuran pada kecepatan dan keteliatian yang tinggi. CRO penunjuk
angka memberikan pembacaan kenaikan waktu (rise-time), amplitudo dan beda waktu,
bergantung pada posisi berbagai alai kontrol seperti TIME/DIV, AMPLITUDE/DIV dan
PROGRAM. Gelombang masukan dipotong-potong (sampled) dengan memakai sebuah
unit penyampling. Bersama masing-masing pengulangan sinyal masukan, unit
penyampling, mempercepat waktu penyamplingan satu titik pada satu saat, sedikit lebih
lambat dari sampel sebelumnya (proses mempercepat waktu penyamplingan pada
pertambahan yang tetap disebut strobing): sebuah tiruan yang dibangun kembali jauh lebih
lambat dalam bentuk gelombang masukan yang asli, dihasilkan pada CRT sebagai gambar
amplitudo terhadap waktu dari titik ke titik. Waktu ekivalen antara masing-masing sampel
bergantung pada jumlah sampel yang diambil per sentimeter gelombang yang diperagakan,
dan pada waktu penyapuan setiap sentimeter. sebagai contoh laju penyapuan sebesar I
ns/cm dan laju penyamplingan sebesar 100 sampel/cm memberikan waktu sebesar 10 ps
setiap sampel. Dengan menghitung jumlah sampel yang diambil antara dua titik yang,
dipilih pada gelombang, waktu antara titik-titik ini dapat ditentukan. Rangkaian pencacah,
tabung nixie penggerak, memperagakan selang waktu yang diukur.
Gambar 9-61, menunjukkan diagram balok dari bekerjanya osiloskop penunjuk
digital untuk pengukuran waktu. Bentuk gelombang masukan, yang waktu
penyamplingannya dipercepat oleh unit penyampling, dimasukkan ke CRT dan
diperagakan dari titik ke titik. Dua bagian jejak CRT yang ditingkatkan mengenali daerah
nol persen dan daerah 10 persen. Masing-masing daerah dapat ditempatkan agar menutupi
setiap bagian peragaan CRT. Amplitudo gelombang masukan, sesuai dengan daerah-daerah
peragaan yang ditingkatkan disimpan di dalam rangkaian ingatan tegangan. Pencabangan
pembagi tegangan antara 0 persen dan 100 persen tegangan ingatan disetel untuk
pengaturan waktu memulai dan berhenti pada titik-titik persentase yang dipilih pada
gelombang yang akan diukur.
233


Gambar 9-61 Diagram balok osiloskop penunjuk digital untuk pengukuran waktu
Pertemuan amplitudo gelombang masukan dengan amplitudo referensi yang dipilih
(persentase yang dipilih) diindera oleh pembanding-pembanding tegangan yang membuka
dan menutup gerbang lonceng (clock gate) ke pencacah digital. Jumlah pulsa lonceng
dibaca secara digital dalam nanosekon, mikrosekon, milisekon atau sekon pada tabung-
tabung peraga nixie. Dalam pemakaian untuk pengukuran waktu, pulsa-pulsa lonceng
terdiri dari sampel aktual yang diambil.
Gambar 9-62 menunjukkan bekerjanya CRO penunjuk angka dalam bentuk diagram
balok untuk pengukuran tegangan. Gelombang masukan juga dipercepat waktunya oleh
unit pencuplik dan diperagakan pada CRT. Rangkaian-rangkaian ingatan tegangan me-
nyediakan bagian-bagian yang ditingkatkan pada peragaan CRT dan mengenali tegangan-t-
egangan referensi 0 persen dan 100 persen. Tegangan referensi 0 persen digunakan untuk
memulai pembanding dan tegangan referensi 100 persen untuk menghentikan pembanding.
Sebuah generator tanjak linear dihubungkan ke kedua pembanding. Untuk perioda waktu di
mana tegangan tanjak linear berada di antara 0 persen dan 100 persen amplitude seperti
telah disetel oleh rangkaian ingatan tegangan, pulsa lonceng sebesar I MHz dimasukkan ke
rangkaian pencacah digital. Jumlah pulsa lonceng berbanding langsung dengan tegangan
antara titik-titik ukur yang dipilih dan terbaca pada peraga tabung nixie dalam milivolt atau
volt.

234


Gambar 9-62 Diagram balok osiloskop penunjuk digital untuk pengukuran tegangan
SOAL-SOAL
1. Definisikan pengertian berikut :fluoresensi, posforisensi, ketahanan (persistence
luminisensi.
2. Sebuah CRO tipe laboratorium umumnya menggunakan sebuah cathode follow( untuk
menjalankan berkas CRT ("unblanking cathode follower") didalam rangka an CRT nya.
Terangkan fungsinya dan jelaskan operasinya.
3. Bahas hubungan antara prestasi bidang frekuensi yang lebar (wide band performance)
dan sensitivitas yang tinggi pada sebuah CRO untuk pemakaian umum. Berikan saran
mengenai langkah-langkah yang akan diambil guna memperbaiki prestasi antara
penguatan terhadap lebar bidang frekuensi sebuah CRO.
4. Sebuah generator basis waktu RC sederhana umumnya memberikan suatu tegangan
tanjak yang tidak linear yang bisa tidak sesuai bagi basis waktu sebuah CRO tipe
laboratorium. Berikan beberapa saran mengenai metoda yang dapat digunakan untuk
memperbaiki linearitas basis waktu, dan jelaskan prinsip-prinsip yang terkandung dalam
metoda linearisasi ini.
5. Berikan alasan pemakaian sebuah saluran tunda (delay line) dalam sistem defleksi
vertikal sebuah CRO tipe laboratorium.
6. Pelemah masukan di dalam penguat vertikal sebuah CRO untuk pemakaian umum
umumnya diikuti oleh sebuah rangkaian "emitter follower". Sarankan tiga alasan yang
mungkin dengan menggunakan rangkaian ini.
7. Gambarkan diagram balok sebuah CRO untuk pemakaian umum. Beri nama untuk
semua blok dan tunjukkan bentuk-bentuk gelombang yang masuk dan keluar untuk
masing-masing blok (bila dapat digunakan) dengan menganggap bahwa tegangan yang
dimasukkan ke masukan penguat vertikal adalah tegangan sinus.
8. Penguatan, respons frekuensi, dan pergeseran fasa sebuah penguat audio 10 W
(rangkuman frekuensi 20 Hz-20 kHz) akan diukur dengan menggunakan sebuah CRO
sebagai alat ukur dasar. Sebuah osilator audio dan beberapa jenis alat-alat ukur tegangan
235

dan arus disediakan. Sarankan suatu teknik pengukuran yang menunjukkan peralatan
yang dibutuhkan untuk melakukan tiap pengukuran. Hasil masing-masing pengukuran
akan disajikan dalam bentuk grafik. Sarankan suatu cara yang sesuai guna menyajikan
hasil-hasil pengukuran, dan secara kira-kira buat sketsa bentuk tiap grafik yang
diharapkan.
9. Pelemah masukan pada Gambar 9-18 digunakan di dalam sebuah CRO yang
memerlukan konstanta waktu sebesar = 4 s. Tentukan nilai C
a
,C
i
,R
a
, dan R
i
, jika
jumlah R
a
dan R
i
adalah 2 M
10. Basis wakfij yang terkalibrasi dari sebuah CRO tipe laboratorium disetel pda 0,2 mV/
cm. Sakelar peeragaan horisontal berada pada posisi penguatan 5 kali (5 x magnified
position) Sebuah gelombang sinus yang frekuensinya tidak diketahui dimasukkan ke
terminal-terminal masukan penguat vertikal dan menghasilkan 3 getaran melalui
suatu lebar penyapuan sebesar 10 cm. Tentukan frekuensi tegangan masukan.
11. Sebuah gambar Lissajous tertentu dihasilkan dengan memasukkan tegangan sinus ke
terminal-terminal masukan vertikal dan horisontal sebuah CRO. Gambar ini mem-
bentuk lima garis singgung terhadap vertikal dan tiga terhadap horisontal. Tentukan
frekuensi sinyal yang dihubungkan ke penguat vertikal jika frekuensi tegangan--
tegangan masukan adalah 3 kHz.
12. Tegangan V
1
dimasukkan ke masukan vertikal dan V
2
ke masukan horisontal sebuah
CRO. Gambar Lissajous adalah simetri terhadap sumbu vertikal dan sumbu horisontal,
dengan V
1
dan V
2
mempunyai frekuensi yang sama. Kemiringan sumbu panjang adalah
positif dengan nilai vertikal maksimal sebesar 2,5 bagian skala (divisi). Titik di mana
gambar memotong sumbu vertikal adalah pada ketinggian 1,2 divisi. Tentukan sudut-
sudut fasa V
2
yang mungkin berkenaan dengan V
1
.
13. Waktu untuk mengalihkan sebuah elektron melalui pelat-pelat defleksi adalah salah
satu faktor yang menentukan batas-batas frekuensi sebuah CRO. Dengan menganggap
bahwa waktu perpindahan ini akan dipertahankan di bawah 0,1 getaran, tentukan batas
frekuensi atas dari sistem defleksi elektrostatik yang panjang pelatnya adalah 1 cm jika
elektron-elektron masuk pada kecepatan yang sesuai dengan energi kinetik sebesar
1000 eV.
14. Tentukan sensitivitas defleksi S untuk CRO pada Soal 13 jika L dalam Gambar 9-13
adalah 20 cm dan jarak d antara pelat-pelat adalah 5 mm.
15. Faktor mana yang dapat diubah jika batas frekuensi atas dari CRO pada Soal 13 akan
diduakalikan tanpa mempengaruhi sensitivitas defleksi yang ditentukan dalam Soal 14.
16. Tegangan pemercepat sebuah CRT adalah 1000 V. Sebuah tegangan sinus dimasukkan
ke sepasang pelat defleksi yang panjang aksialnya adalah 1 cm. Tentukan (a) frekuensi
maksimal tegangan sinus jika elektron-elektron tidak tetap tinggal di antara pelat-pelat
lebih dari setengah getaran; (b) waktu dalam S, agar elektron tetap tinggal di dalam
daerah pelat-pelat defleksi jika frekuensi tegangan yang dimasukkan adalah 60 Hz.
17. Basis waktu yang terkalibrasi dari sebuah CRO tipe laboratorium disetel pada 0,1
mS/cm. Lebar penyapuan adalah 10 cm. Dengan menganggap bahwa tegangan pe-
nyapuan adalah tegangan tanjak yang sempurna dengan waktu penjejakan kembali
adalah nol, buat sketsa gambar gelombang yang dihasilkan dari pemasukan sinyal-
sinyal berikut ke terminal-terminal masukan penguat vertikal :
(a) Gelombang sinus dengan frekuensi 5 kHz
(b) Gelombang sinus dengan perioda 0,5 ms
(c) Gelombang kosinus dengan perioda 2 ms
(d) Gelombang persegi dengan frekuensi 10 kHz
236

(e) Pulsa dengan laju pengubahan sebesar 2000 getaran per-sekon dan
lamanya pembebanan (duty cycle) adalah 25 persen.
18. Terangkan fungsi masing-masing alat kontrol CRO berikut dan tunjukkan dalam
rangkaian-rangkaian CRO yang mana alat-alat kontrol tersebut ditentukan :
(a) Fokus (focus)
(b) Posisi horisontal (horizotal position)
(c) Nonius penyapuan (sweep vernier)
(d) Masukan harisontal dari luar (external horizontal input)
(e) Modulasi sumbu Z (Z axis modulation)
19. Bagian penguat horisontal dari sebuah CRO biasanya menyediakan beberapa
sambungan untuk memicu basis waktu. Berikan satu contoh pemakaian pada masing
masing kedudukan masukan pemicu berikut
(a) internal; (b) line; (c) external.
20. Gunakan sketsa-sketsa bentuk gelombang yang sederhana untuk menjelaskan efek
amplitudo penyelarasan yang berlebihan terhadap gambar bentuk gelombang yang
diperagakan.































237

10. INSTRUMEN-INSTRUMEN ELEKTRONIK UNTUK PENGUKURAN
TEGANGAN, ARUS,TAHANAN
DAN PARAMETER RANGKAIAN LAINNYA

10-1 PENDAHULUAN
Voltmeter, ampermeter dan ohmeter elektronik menggunakan penguat, penyearah,
dan rangkaian lain untuk membangkitkan suatu arus yang sebanding dengan besaran yang
diukur. Selanjutnya arus ini menggerakkan sebuah mekanisme alat ukur konvensional dari
jenis yang telah dibicarakan pada Bab 4. Adalah menarik untuk memperhatikan bahwa
banyak voltmeter elektronik menggunakan gerak suspensi ban kencang (taut-band) pada
Bab 4-3-3 sebagai pengganti mekanisme pivot dan jewel yang lebih konvensional.
Instrumen-instrumen yang menggunakan mekanisme alat ukur untuk menunjukkan
kebesaran dari kuantitas yang akan diukur pada sebuah skala yang kontinyu kadang-kadang
disebut instrumen-instrumen analog.
Bila hasil pengukuran diperagakan dalam selang waktu yang diskrit atau dalam
bentuk angka (sebagai pengganti defleksi jarum penunjuk pada sebuah skala kontinu), kita
membaca sebuah penunjukkan digital. Pembacaan berdasarkan angka secara langsung
mengurangi kesalahan manusia dan rasa jemu, menghilangkan paralaksis dan kesalahan
pembacaan lainnya, dan mempertinggi kecepatan pembacaan. Ciri tambahan dalam
instrumen digital modern seperti halnya fasilitas polaritas otomatis dan pengubahan
rangkuman, selanjutnya mengurangi kesalahan pengukuran dan kemungkinan
kerusakan instrumen karena pembebanan lebih yang tidak disengaja.
Instrumen digital tersendiri untuk mengukur tegangan, arus searah (dc) dan
bolakbalik dan tahanan. Variabel fisis lainnya dapat diukur dengan menggunakan
transducer yang sesuai. Banyak instrumen digital mempunyai ketentuan
tambahan bagi keluaran guna mendapatkan hasil-hasil pengukuran yang
menggunakan unit cetak (printer), pelubang karut dan pita (card and tape punches) atau
peralatan pita magnetik. Dengan data yang sudah dalam bentuk digital, mereka kemudian
dapat diolah tanpa kehilangan ketelitiannya.
Bab ini mengemukakan beberapa instrumen analog yang biasa dan juga
menganalisis beberapa peralatan digital utama dalam bentuk diagram balok. Bagian
terakhir dari bab ini membicarakan beberapa instrumen pemakaian khusus yang digunakan
untuk pengukuran rangkaian atau parameter komponen.


10-2 VOLTMETER ELEKTRONIK
10-2-1 Voltmeter arus searah (dc) dengan penguat tergandeng langsung
Voltmeter elektronik dc memperlihatkan suatu pemakaian langsung dari elektro
nika terhadap instrumen-instrumen ukur. Instrumen ini biasanya terdiri dari sebuah alat
ukur dc yang lazim, didahului oleh sebuah penguat dc dari satu tingkatan atau lebih.
Penguat-penguat dc yang digunakan dalam voltmeter elektronik dapat digolongkan
dalam dua kelompok yaitu : (a) penguat dc tergandeng langsung (direct coupledamplifier);
(b) penguat dc jenis pencincang (chopper type dc amplifier).
Penguat dc tergandeng langsung adalah menarik sebab ekonomis; biasanya
ditemukan dalam voltmeter dc yang harganya lebih murah. Gambar 10-1 menunjukkan
diagralm skema sebuah penguat dc tergandeng langsung dengan masukan FET bersama
sebuah alat pencatat. Tegangan masukan dc dihubungkan ke pelemah masukan yakni
238

alat kontrol terkalibrasi pada panel depan yang ditandai oleh RANGE. Pembagi tegangan
masukan memungkinkan pemasukan tegangan maksimal sebesar 0,5 V ke gerbang FET n
saluran tanpa mengakibatkan cacat (distorsi) gelombang. FET dihubungkan sebagai sebual
"source follower" dan digandengkan langsung ke transistor npn Q
2
, yaitu sebuah
"emitter follower". Q
2
merupakan salah satu lengan sebuah rangkaian jembatan yang
lengan-lengan lainnya terdiri dari tahanan emitter Q
2
sebesar 10 10 k dan potensiometer
2,5 k yang seri dengan tahanan 2,2 . Kesetimbangan jembatan atau arus nol pada alat
pencatat diperoleh dengan mengatur potensiometer pengatur nol (ZERO ZET
potensiometer). Kalibrasi pada skala penuh diatur oleh potensiometer 10 k yang ditanda
dengan CALIBRATION, seri dengan mekanisme alat ukur 50 A. Impedansi masukan
voltmeter ini adalah 10 M, yang mans adalah cukup tinggi untuk menghilangkan setiap
efek pembebanan yang mungkin terjadi pada rangkaian yang diukur.

Gambar 10-1 Rangkaian dasar voltmeter dc bersama masukkan FET

10-2-2 Voltmeter arras searah dengan penguat jensi pencincang
(chopper type dc voltmeter)
Instrumen dalam daerah pengukuran mikrovolt memerlukan sebuah penguat arus
searah berpenguat tinggi guna menyalurkan arus yang cukup untuk menggerakkan meka-
nisme alat pencatat. Untuk mencegah masalah pergeseran fasa yang biasanya bersatu
dengan penguat dc tergandeng langsung, voltmeter bersensitivitas tinggi sering
menggunakan penguat dc jenis pencincang. Dalam penguat pencincang, tegangan masukan
searah (dc) diubah menjadi sebuah tegangan bolak-balik (ac), diperkuat oleh sebuah
penguat ac dan kemudian diubah kembali menjadi tegangan dc yang sebanding dengan
sinyal masukan semula.
Diagram balok Gambar 10-2 menggambarkan bekerjanya penguat jenis pencincang.
Dioda-dioda cahaya (photodiodes) digunakan sebagai pencincang yang bukan mekanis
untuk memodulasi (pengubahan dari dc ke ac) dan demodulasi (pengubahan kembali
dari ac ke dc). Sebuah fotokonduktor, bila diterangi oleh lampu neon atau lampu pijar
mempunyai suatu tahanan yang rendah yakni dari beberapa ratus sampai beberapa ribu
ohm. Bila tidak diterangi, tahanan foto konduktor ini bertambah secara tajam, biasa-
nya sampai beberapa mega ohm. Dalam rangkaian Gambar 10-2 sebuah osilator menge-
mudikan dua lampu neon agar bercahaya secara bergantian selang setengah perioda
osilasi. Masing-masing lampu neon menerangi satu foto konduktor dalam rangkaian
masukan penguat dan satu dalam rangkaian keluaran. Kedua foto dioda dalam rangkaian
masukan membentuk sebuah modulator atau chopper setengah gelombang seri paralel.
239

Secara bersama-sama mereka bekerja sebagai sebuah sakelar terhadap masukan penguat,
yang secara bergantian membuka dan menutup pada suatu laju kecepatan yang ditentu-
kan oleh frekuensi osilator neon.
Masukan ke penguat adalah sebuah tegangan dengan amplitude yang sebanding
dengan level tegangan masukan dan dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi osi-
lator. Frekuensi ini dibatasi pada beberapa ratus Hertz sebab waktu transisi antara ke-
adaaan tahanan tinggi dan keadaan tahanan rendah dari dioda foto membatasi laju
pencincang. Penguat ac menyampaikan sebuah gelombang persegi yang diperkuat pada
terminal keluarannya. Kedua foto-dioda dalam rangkaian keluaran penguat yang bekerja
tidak sinkron dengan pencincangan masukan, memperoleh kembali sinyal dc melalaui
tindakan demodulasinya dan kapasitor keluaran akan dimuati pada nilai maksimum
tegangan keluaran ac. Kemudian tegangan keluaran dc ini dilewatkan melal ui sebuah
tapis pelewat rendah (low pass filter) guna mengeluarkan setiap komponen ac yang
tertinggal dan akhirnya dimasukkan ke mekanisme alat ukur.




















Gambar 10-2 Rangkaian pencincang (chooper) foto-konduktif jenis non mekanis

Impedansi masukan dari voltmeter arus searah dengan penguat pencincang
(chopper amplifier dc voltmeter) biasanya adalah dalam orde 10 M atau lebih, kecuali
pada rangkuman-rangkuman masukan yang sangat rendah. Untuk menghilangkan
kesalahan pengkuran yang disebabkan oleh impedansi sumber yang tinggi, kadang-kadang
di dalam rangkaian alat ukur dicantumkan sebuah alat pembuat nol (nulling feature).
Penambahan yang sangat bermanfaat itu menempatkan sebuah tegangan bucking yang
seri dengan masukan. Sebuah alat kontrol di panel depan memungkinkan pemakai untuk
me-nol-kan tegangan masukan melalui tegangan "bucking". Bila nol telah ditunjukkan pada
alat ukur, tegangan "bucking" sama dengan tegangan masukan dan tidak ada arus yang
dialirkan dari sumber. Dengan demikian alat ukur menyatakan suatu impedansi masukan
yang tidak berhingga dan menghilangkan setiap efek pembebanan. Selanjutnya sakelar
240

fungsi memungkinkan masukan diputuskan dari rangkaian alat ukur, dan tegangan
"bucking" (yang sama dengan tegangan masukan) diperagakan pada alat ukur.

10-2-3 Voltmeter ac dengan menggunakan penyearah
Voltmeter elektronik arus bolak-balik (ac) pada dasarnya identik dengan
voltmeter arus searah (dc) kecuali bahwa tegangan masukan harus disearahkan
(diratakan) sebelum dimasukkan ke rangkaian alat pencatat arus searah. Dalam
beberapa hal penyearahan terjadi sebelum penguatan; dalam hal mana sebuah
rangkaian dioda sederhana mengetahui penguat dan alat pencatat, seperti pada
Gambar 10-3(a). Idealnya pendekatan ini membutuhkan suatu karakteristik
pergeseran nol dan penguatan tegangan sebesar satu, dan sebuah alat pencatat dc
dengan sensitivitas yang sesuai.


Gambar 10-3 Rangkaian-rangkaian dasar voltmeter ac. (a) Sinyal masukan ac
mula-mula disearahkan dan dihubungkan ke penguat dc dan alat pencatat . (b) Sinyal
masukan aca mula-mula diperkuat dan kemudian dihubungkan ke sebuah penyearah
gelombang penuh dalam rangkaian alat pencatat.
Dalam pendekatan lain, sinyal ac disearahkan sesudah penguatan seperti pada
Gambar 10-3(b); di mana penyearahan gelombang penuh terjadi di dalam rangkaian
alat ukur yang dihubungkan ke terminal-terminal keluaran dari penguat ac.
Umumnya, pendekatan ini memerlukan sebuah penguat ac dengan penguatan lup
terbuka yang tinggi dan umpan-balik negatif yang besar guna mengatasi ketidaklinearan
dioda-dioda penyearah.

241



Gambar 10-4 Rangkaian-rangkaian
penyearah di dalam voltmeter-voltmeter ac.

Biasanya voltmeter ac adalah dari jenis yang memberi tanggapan terhadap nilai
rata rata (average responding type) dengan skala alat pencatat yang terkalibrasi
dalam nilai rms sebuah gelombang sinus. Karena bentuk gelombang yang begitu
banyak dalam elektronika adalah sinusoida, ini merupakan suatu solusi yang betul -
betul memuaskan dan jelas jauh lebih murah dari sebuah voltmeter yang memberi
tanggapan terhadap nilai rms sebenarnya. Akan tetapi, bentuk-bentuk gelombang
yang bukan sinus akan menyebabkan alat pencatat jenis ini membaca tinggi atau
rendah bergantung pada faktor bentuk gelombang.
Beberapa rangkaian penyearah dasar ditunjukkan pada Gambar 1-4. Dioda yang
,
di
hubungkan secara seri pada Gambar 10-4 (a) memberikan penyearahan setengah
gelombang, dan nilai rata-rata dari tegangan setengah gelombang dibangkitkan pada
tahanan dan dimasukkan ke terminal-terminal masukan penguat dc.
p
enyearahan
gelombang

penuh dapat diperoleh dengan rangkaian jembatan pada Gambar 10-4
(b), dimana nilai rata-rata gelombang sinus dimasukkan ke penguat dan rangkaian
alat pencatat. Dalam beberapa hal, mungkin terdapat persyaratan untuk mengukur nilai
puncak sebuah bentuk gelombang. sebagai pengganti nilai rata-rata, maka rangkaian
gambar 10-4 (c) dapat digunakan. Dalam rangkaian ini dioda penyearah mengisi
kapasitor kecil ke puncak tegangan masukan yang dimasukkan dan dengan demikian
alat pencatat akan menunj ukkan t egangan puncak. Dal am kebanyakan hal ,
skal a al at pencat at di kali brasi dal am ni l ai rms dan puncak gel ombang
masukan sinus.
242

Ni l ai rms dari sebuah gel ombang tegangan yang mempunyai
penyimpanan positif dan negatif yang sama dikatikan ke nilai rata-rata oleh faktor bentuk.
Faktor bentuk, sebagai perbandingan nilai rms t erhadap nil ai rat a-rat a gel ombang
dapat di nyat akan sebagai :
}
}
=
2 /
0
0
2
2
1
T
T
dt e
T
dt e
T
k (10-1)

Jika bentuk gelombang adalah sinosoida, faktor bentuk sama dengan :
m
m
av
rms
usoidal
E
E
E
E
k
636 , 0
707 , 0
sin
= = (10-2)

Berarti bila sebuah voltmeter yang memberi tanggapan terhadap nilai rata-rata
mempunyai tanda skala yang berhubungan dengan nilai rms gelombang masukan sinus
yang dimasukkan, tanda-tanda tersebut secara aktual dikoreksi oleh sebuah faktor 1, 11 dari
nilai tegangan masuk sebenarnya (rata-rata).
Bentuk-bentuk gelombang yang bukan sinusoida bila dimasukkan ke voltmeter ini,
akan menyebabkan alat pencatat membaca tinggi ataupun rendah, bergantung pada faktor
bentuk gelombang. Sebuah ilustrasi mengenai efek bentuk-bentuk gelombang yang bukan
sinus terhadap voltmeter ac diberikan pada Contoh 10-1 dan 10-2.

Contoh 10-1 : Tegangan gelombang persegi yang simetri pada Gambar 10-5(a) di-
masukkan ke sebuah voltmeter ac dari jenis yang memberikan tanggapan terhadap nilai
rata-rata dengan skala yang terkalibrasi dalam nilai rms gelombang sinus. Tentukan : (a)
faktor bentuk tegangan gelombang persegi; (b) kesalahan dalam penunjukan alat pencatat.

Penyelesaian :
(a) Nilai rms dari tegangan gelombang persegi adalah

m
T
rms
E dt e
T
E = =
}
0
2
1

dan nilai rata-rata adalah :
m
T
rata rata
E dt e
T
E = =
}

2 /
0
2



243

Gambar 10-5 Bentuk-bentuk gelombang yang digunakan dalam Contoh 10-1 dan
10-2

sehingga faktor bentuk menurut definisi adalah
1 = =
tara rata
rms
E
E
k
(b) Skala alat pencatat dikalibrasi dalam nilai rms tegangan gelombang sinus,
dimana E
rms
= k x E
rat a-rata
= 1,11 E
rata-rat a
. Untuk tegangan gelombang persegi,
E
rms
= E
rata-rata
,

sebab k = 1. Dengan demikian penunjukan alat pencatat untuk te
gangan gel ombang persegi adal ah t i nggi sebesar fakt or k
ge l o mbang
si nus
k
gelombang persegi
= 1,11. Persentase kesalahan adalah
% 11 % 100
1
1 11 , 1
=

x

Contoh 10-2 : Ulangi Contoh 10-1 jika tegangan yang dimasukkan ke alat
pencatat terdiri dari gelombang gigi gergaji dengan nilai puncak 150 V dan periods 3 s
seperti ditunjukkan pada Gambar 10-5 (b).
Penyelesaian :
(a) Pernyataan analitis bagi gelombang gigi gergaji di antara batas-batas t = 0 dan t=
T= 3 s adalah e = 50 tegangan V. Jadi:

( ) V dt t dt e
T
E
T
rms
3 50 50
3
1 1
3
0
2
0
2
= = =
} }

dan
V dt t dt e
T
E
T T
av
75 50
3
1 1
0 0
= = =
} }

Sehingga faktor bentuk, 155 , 1
75
3 50
= = k
(b) Perbandingan kedua faktor bentuk adalah:
961 , 0
155 , 1
11 , 1
sin
= =
gergaji gigi
us
k
k

Penunjukan alat pencatat adalah rendah sebesar faktor 0,961. Persentase kesalahan
sama dengan
% 9 , 3 % 100
1
1 961 , 0
=

x
Contoh 10-1 dan 10-2 menunjukkan bahwa setiap penyimpangan dari sebuah
bentuk gelombang sinusoida yang sebenarnya dapat menyebabkan suatu kesalahan yang
cukup besar dalam hasil pengukuran.

10-24 Voltmeter yang memberi tanggapan terhadap rms sebenarnya
Bentuk-bentuk gelombang yang kompleks paling tepat diukur dengan sebuah
voltmeter yang memberi tanggapan terhadap nilai rms. Instrumen ini menghasilkan
penunjukkan alat pencatat melalui penginderaan daya pemanasan (heating power)
gelombang yang sebanding dengan kuadrat nilai rms dari tegangan. Daya pemanasan ini
dapat diukur dengan memasukkan suatu jenis bentuk gelombang yang diperkuat ke
244

elemen pemanas dari sebuah termokopel yang kemudian tegangan keluarannya sebanding
dengan E
2
rms.



Gambar 10-6 Diagram balok dari sebuah voltmeter dengan penunjukan rms
sebenarnya. Termokoperl ukur dan termokopel pembuat setimbang ditempatkan dalam
lingkungan termal yang sama.

Salah satu kesulitan dengan cara ini adalah bahwa sifat termokopel sering tidak
linear. Dalam beberapa instrumen kesulitan ini diatasi dengan menempatkan dua
termokopel di dalam lingkungan termal yang sama seperti ditunjukkan dalam
diagram balok dari voltmeter yang memberi tanggapan terhadap rms sebenarnya
pada Gambar 10-6. Efek kelakuan termokopel yang tidak linear dalam rangkaian
masukan (termokopel pengukur) dihilangkan oleh efek termokopel yang tidak linear yang
serupa di dalam rangkaian umpan balik (termokopel pembuatan setimbang). Kedua elemen
termokopel membentuk bagian dari sebuah jembatan di dalam rangkaian masukan sebuah
penguat dc. Tegangan masukan ac yang tidak diketahui diperkuat dan dimasukkan ke
elemen pemanas termokopel pengukur. Pemakaian panas menghasilkan suatu tegangan
keluaran yang mengganggu kesetimbangan jembatan. Tegangan yang tidak setimbang ini
diperkuat oleh penguat dc dan diumpanbalikkan ke elemen pemanas termokopel pembuat
setimbang. Kesetimbangan jembatan akan didapat kembali bila arus umpan balik
menyampaikan panas yang cukup ke termokopel pembuat setimbang, sehingga
keluaran tegangan kedua termokopel tersebut adalah sama. Pada titik ini arus dc di
dalam elemen pemanas termokopel umpan balik sama dengan arus ac di dalam
termokopel masukan. Dengan demikian, arus dc ini berbanding langsung dengan
nilai efektif atau nilai rms tegangan masukan dan ditunjukkan pada alat pencatat di
dalam rangkaian keluaran penguat dc. Nilai rms yang sebenarnya diukur secara
terpisah dari bentuk gelombang sinyal ac, asalkan penyimpangan puncak bentuk
gelombang tidak melebihi rangkuman dinamik dari penguat ac.
Sebuah voltmeter laboratorium khas dari jenis yang memberi tanggapan
terhadap nilai rms yang memberikan pembacaan rms yang tepat dari bentuk-bentuk
gelombang kompleks mempunyai faktor puncak (crest factor, yaitu perbandingan nilai
puncak terhadap nilai rms) sebesar 10/1. Pada 10 persen dari defleksi penuh alat
pencatat di mana terdapat kesempatan saturasi pencatat yang lebih kecil, bentuk-
bentuk gelombang dengan faktor puncak sebesar 100/ 1 dapat tertampung. Semua
tegangan di dalam suatu rangkuman sebesar 100 V sampai 300 V dalam rangkuman
245

frekuensi sebesar 10 Hz sampai 10 MHz dapat diukur oleh kebanyakan instrumen yang
baik.

10-3 MULTIMETER ELEKTRONIK
10-3-1 Rangkaian dasar
Salah satu instrumen bengkel untuk pemakaian umum yang paling terandalkan yang
mampu untuk mengukur tegangan dc dan ac seperti halnya arus dan tahanan adalah
multimeter semikonduktor atau VOM. Walaupun detail rangkaian ini bervariasi dari satu
instrumen ke yang lain, umumnya sebuah multimeter elektronik mengandung elemen-
elemen berikut :
a. Penguat dc jembatan setimbang (balanced bridge dc amplifier) dan alat pencatat.
b. Pelemah masukan atau sakelar rangkuman (RANGE), guna membatasi besarnya
tegangan masukan pada nilai yang diinginkan.
c. Rangkaian penyearah, untuk mengubah tegangan masukan ac ke nilai dc yang se
banding.
d. Batere internal dan rangkaian tambahan, guna melengkapi kemampuan pengukuran
tahanan.
e. Sakelar fungsi (FUNCTION), untuk memilih berbagai fungsi pengukuran dari instrumen
tersebut.

Di samping itu, umumnya instrumen mempunyai sebuah sumber daya yang telah
terpasang untuk operasi jala-jala ac dan dalam kebanyakan hal, satu atau lebih bateri
yang telah terpasang untuk dipakai sebagai instrumen uji yang portabel.
Gambar 10-7 menunjukkan diagram skema sebuah penguat dc yang menggunakan
transistor efek medan (field effect transistor, FET). Rangkaian ini juga terdapat di
dalam sebuah penguat jembatan yang menggunakan transistor bipolar yang biasa (BJT,
bipolar junction transistor). Rangkaian yang ditunjukkan di sini terdiri dari dua FET
yang akan cukup sesuai bagi penguatan arus guna menjamin stabilitas termal dari
rangkaian. Kedua FET membentuk lengan-lengan atas sebuah rangkaian jembatan.
Tahanan tahanan sumber R
1
dan R
2
bersama dengan tahanan pengatur not R
3

membentuk, lengan-lengan jembatan bagian bawah. Mekanisme alat ukur yang
dihubungkan di antara terminal-terminal sumber dari FET menyatakan dua pojok jembatan
yang berhadapan
Tanpa adanya sinyal masukan, terminal-terminal gerbang dari FET berada pada
potensional tanah dan transistor bekerja pada kondisi titik-titik kerja yang identik
Dalam hal ini, jembatan disetimbangkan dan penunjukan alat ukur adalah nol. Akan
tetapi dalam praktek perbedaan-perbedaan kecil dalam karakteristik kerja kedua
transistor dan beda toleransi yang kecil dalam berbagai tahanan, menyebabkan
ketidakseimbangan tertentu di dalam arus drain (drain current), sehingga alat pencatat
menunjukkan suatu penyimpangan kecil dari nol. Untuk mengembalikan penunjukkan
ke nol yang sebenarnya rangkaian disetimbangkan oleh pengatur nol R
3
(zero adjust).
246


Gambar 10-7 Penguat dc jembatan setimbang beserta pelemah masukan dan alat
pencatat.

Bila sebuah tegangan positif dimasukkan ke gerbang transistor masukan Q
1
, arus
"drain" bertambah dan menyebabkan kenaikan tegangan pada terminal sumber. Hasil
ketidaksetimbangan antara tegangan sumber Q
1
dan Q
2
ditunjukkan oleh penyimpangau
jarum alat ukur yang skalanya dikalibrasi agar sesuai dengan besarnya tegangan ma-
sukan yang diketahui.
Tegangan paling besar yang dapat dimasukkan ke gerbang Q
1
ditentukan oleh rang-
kiunan kerja FET dan biasanya adalah dalam orde beberapa volt. Rangkuman tegangan
masukan dapat mudah diperbesar melalui sebuah pelemah masukan atau sakelar rang-
kuman (RANGE Switch) seperti ditunjukkan pada Gambar 10-8. Tegangan masukan dc
yang tidak diketahui dihubungkan melalui sebuah tahanan besar di dalam tubuh jarum
penduga ke suatu pembagi tegangan resistif. Jadi, dengan sakelar RANGE pada posisi 3V
seperti diperlihatkan, tegangan pada gerbang FET masukan dibangkitkan pada 8 M
dari keseluruhan tahanan sebesar 11,3 M dan rangkaian disusun sedemikian sehingga
voltmeter menyimpang penuh dengan memasukkan 3V di ujung jarum penduga. Dengan
sakelar RANGE pada kedudukan 12V, tegangan gerbang dibangkitkan pada 2 M dari
keseluruhan tahanan pembagi tegangan sebesar 11,3 M dan diperlukan sebuah tegangan
masukan sebesar 12 V guna menghasilkan defleksi penuh yang sama pada voltmeter.



10-3-2 Rangkuman tahanan
Bila saklar fungsi dari multimeter ditempatkan pada posisi OHM, tahanan yang
tidak diketahui terhubung seri dengan sebuah batere internal, dan alat pencatat semata--
mata mengukur penurunan tegangan pada tahanan yang tidak diketahui
tersebut. Sebuah rangkaian khas ditunjukkan pada gambar 10-9, di mana sebuah jaringan
pembagi tegangan terpisah, yang hanya digunakan untuk pengukuran tahanan,
menyediakan sebuah rangkuman yang berlainan. Bila R
x
yang tidak diketahui dihubungkan
ke terminal-terminal OHM dari multimeter, batere 1,5 V menyalurkan arus melalui
salah satu tahanan rangkuman dan tahanan yang tidak diketahui menuju tanah.
247

Penurunan tahanan V
x
pada R
x
dimasukkan ke masukan penguat jembatan dan
menyebabkan suatu penyimpangan pada alat pencatat. Karena penurunan tegangan
pada R
x
berbanding langsung dengan tahanannya, skala alat pencatat dapat dikalibrasi
dalam tahanan.


Gambar 10-8 Pelemah khas tegangan masukan untuk sebuah VOM. Sakelar
rangkuman (RANGE) pada panel depan VOM memungkinkan pemilihan rangkuman
tegangan yang diinginkan.




Gambar 10-9 Rangkaian pemilih rangkuman tahanan pada sebuah VOM.

Perhatikan bahwa skala tahanan pada multimeter membaca tahanan yang bertambah
besar dari kiri ke kanan, berlawanan dengan cara pembacaan skala tahanan pada multimeter
yang biasa (Bab 4-11). Ini dapat diharapkan sebab multimeter elektronik membaca tahanan
yang lebih besar jika tegangan lebih tinggi, sedangkan multimeter yang biasa menunjukkan
tahanan yang lebih besar jika arus lebih kecil.

10-3-3 Multimeter komersial
Rangkaian pengukuran yang disederhanakan pada sebuah VOM
semikonduktor komersil diberikan pada Gambar 10-10. Tegangan dc dari pembagi
tegangan masukan (Gambar 10-8) dimasukkan ke basis transistor prapenguat
248

jembatan Q
3
dan basis Q
4
. "Emitter follower" ini memberikan impedansi masukan yang
mendekati tidak terhingga dan dengan demikian memberikan beban paling kecil bagi
pembagi tegangan masukan bertahanan tinggi. Transistor prapenguat Q
3
dan Q
4

mengemudikan basis dari transistor penguat jembatan berturut-turut Q
1
dan Q
2
. Impedansi
masukan dari Q
1
dan Q
2
sangat tinggi sebab tahanan emitternya yang tidak dipintaskan
mencegah pembebanan emitter Q
3
dan emitter Q
4
. Tegangan keluaran penguat jembatan
ditunjukkan pada alat pencatat 200 A yang dihubungkan di antara kolektor Q
1
dan Q
2
.
Panel depan pengatur nol (ZERO control) menyetimbangkan keluaran penguat alat
pencatat dengan sinyal masukan nol. Pengaturan internal memperbolehkan
pengalibrasian alat pencatat menggunakan dua tegangan uji yang teliti yaitu berturut-
turut sebesar 0,5 V dan 1,5 V.


Gambar 10-10 Rangkaian khas pengukuran dari sebuah VOM semikonduktor
(diambil dari rangkaian RCA WV-510 A).

Juga perhatikan bahwa kapasitor terpintas C
1
dan C
2
mencegah sinyal-sinyal
ac mencapai penguat dan mempengaruhi pembacaan alat pencatat.
Tegangan ac yang diukur dimasukkan ke sebuah penyearah gelombang penuh
(puncak ke puncak) yang memuati sebuah kapasitor ke nilai puncak ke puncak dari sinyal
ac, rangkaian ini juga dikenal sebagai pendobel tegangan (voltage doubler) dan ditunjukkan
pada gambar 10-11. selanjutnya tegangan ac yang disearahkan diumpankan ke penguat
melalu pembagi tegangan yang keluarannya diumpankan ke penguat dan memberi
penunjukkan pada alat pencatat dalam bentuk tahanan.

249


Gambar 10-11 Penyearah gelombang penuh puncak-ke-puncak, juga dikenal
sebagai pendobel tegangan



10-4 PERTIMBANGAN DALAM PEMILIHAN
SEBUAH VOLMETER ANALOG.
Instrumen yang paling sesuai untuk pengukuran tegangan tertentu bergantung
pada prestasi yang diinginkan dalam suatu keadaan. Beberapa pertimbangan penting dalam
pemilihan sebuah volmeter diringkaskan sebagai berikut :

10-4-1 Impedansi masukan
Untuk menghindari efek pembebanan, tahanan masukan atau impedansi
voltmeter sebaiknya paling sedikit dalam orde kebesaran yang lebih tinggi dari impedansi
rangkaian yang diukur. Sebagai contoh, bila sebuah voltmeter dengan tahanan masukan 10
M digunakan untuk mengukur tegangan pada tahanan 100 k, rangkaian hampir tidak
terganggu dan efek pembebanan alat ukur terhadap rangkaian dapat diabaikan. Akan tetapi,
dengan menempatkan alat ukur yang sama antara ujung-ujung tahanan 10 M tersebut
secara serius akan membebani rangkain dan menyebabkan kesalahan pengukuraran sebesar
sekitar 50 persen.
Impedansi masukkan voltmeter adalah fungsi dari kapasitansi shunt yang pasti
terjadi pada terminal-terminal masukkan. Efek pembebanan voltmeter tersebut khususnya
lebih nyata pada frekuensi-frekuensi yang lebih tinggi bila kapasitansi shunt masukkan
sangat mengurangi impedansi masukkan.
Dalam beberapa pemakaian, sebuah jarum penduga pembagi tegangan pasif dapat
digunakan untuk menurunkan kapasitansi masukkan pada titik pengukuran dengan kerugian
yang diharapkan sebesar 20 dB dari sensitivitas. Dengan jarum penduga sedemikian
ini pengukuran dapat mudah dilakukan pada sembarang titik tanpa mengganggu
rangkaian yang diuji.



10-4-2 Rangkuman tegangan
Rangkuman tegangan pada skala alat pencatat boleh jadi dalam urutan 1-
3-10 dengan pemisahan sebesar 10 dB, atau urutan 1,5-5-15, atau dalam satu skala
yang terkalibrasi dalam desibel. Dalam segala hal, pembagian skala haruslah sesuai
dengan ketelitian instrumen. Sebagai contoh, sebuah alat pencatat linear dengan
ketelitian sebesar 1% skala penuh akan mempunyai 100 bagian skala pada skala 1,0
250

V sehingga 1% dapat dipisahkan dengan mudah. Sebuah instrumen dengan ketelitian
1% atau kurang juga. seharusnya mempunyai skala yang ditopang dengan cermin
guna mengurangi paralaksis dan memperbaiki ketelitian.

10-4-3 Desibel
Pemakaian skala desibel bisa sangat efektif dalam pengukuran yang
mencakup rangkuman tegangan yang lebar. Sebagai contoh, pengukuran jenis ini
ditemukan dalam kurva respons frekuensi sebuah penguat atau filter, di mana.
tegangan keluaran diukur sebagai fungsi dari frekuensi tegangan masukan yang
dimasukkan. Hampir semua volt meteryang memiliki skala dB dikalibrasi dalam
dB
m
yang diacu terhadap suatu impedansi tertentu. Referensi 0 dB
m
untuk sistem 600
adalah 0,7746 V; untuk sistem 50 adalah 0,2236 V. Dalam banyak pemakaian, yang
diperlukan hanya referensi 0 dB. Dalam hal ini, 0 dB
v
(relatif terahadap 1 V) dapat
digunakan untuk setiap sistem impedansi.

10-4-4 Sensitivitas versus lebar bidang frekuensi
Derau (noise) adalah fungsi lebar bidang frekuensi. Sebuah voltmeter
dengan bidangyang lebar akan mengambil dan membangkitkan lebih banyak derau
daripada volt meter yang beroperasi pada rangkuman frekuensi yang sempit.
Umumnya, sebuah instrumen dengan lebar bidang sebesar 10 Hz sampai 10 MHz
mempunyai sensitivitas sebesar 1 mV. Sebuah voltmeter dengan cakupan lebar
bidang hanya sampai 5 MHz dapat mempunyai sensitivitas sebesar 100 V
.

10-4-5 Operasi dengan batere
Untuk pemakaian di lapangan, sebuah voltmeter yang dijalankan oleh sebuah
batere internal adalah penting. Jika suatu tempat mengalami gangguan simpal hubungan
ketanah (ground loops), maka untuk menghilangkan lintasan tanah (ground path)
tersebut, lebih diinginkan instrumen yang dijalankan oleh batere daripada sebuah
voltmeter yang dijalankan dari jala-jala listrik.

1 0-4-6 Pengukuran arus bolak-balik
Pengukuran arus dapat dilakukan oleh sebuah voltmeter ac yang sensitif bersama
sebuah tahanan seri. Akan tetapi dalam hal yang lazim, digunakan sebuah jarum penduga
ac yang memungkinkan operator mengukur arus bolak-balik tanpa mengganggu
rangkain yang diuji. Jarum penduga arus cukup menjepit mengelilingi kawat pembawa
arus yang tidak diketahuai dan sebenarnya membuat kawat tersebut menjadi kumparan
primer satu gulungan dari sebuah transformator yang dibentuk oleh inti ferrit dan
kumparan sekundernya dengan gulungan yang banyak berada di dalam tubuh jarum
penduga arus. Sinyal yang ada diindusir di dalam gulungan sekunder diperkuat dan
tegangan yang keluar dari penguat dimasukkan ke sebuah voltmeter ac yang sesuai
bagi pengukuran. Biasanya, penguat dirancang sedemikain sehingga arus sebesar 1
mA di dalam kawat yang diukur menghasilkan 1 mV pada keluaran penguat.
Selanjutnya, arus membaca langsung pada voltmeter dengan menggunakan skala yang
sama seperti pada pengukuran tegangan.
Dalam meringkaskan pertimbangan-pertimbangan yang terdahulu, petunjuk-
petunjuk umum yang berikut dapat dinyatakan :
(a) Untuk pengukuran termasuk pengukuran dc, pilih alat ukur yang memiliki
kemampuan banyak memenuhi persyaratan rangkaian.
251

(b) Untuk pengukuran ac termasuk gelombang sinus dengan jumlah distorsi yang
sedang (< 10 persen), voltmeter dari jenis yang memberi tanggapan terhadap nilai
rata-rata memberikan ketelitian yang paling baik dan paling sensitif untuk setiap
investasi biaya.
(c) Untuk pengukuran frekuensi tinggi (< 10 Mhz), voltmeter yang memberikan
tanggapan terhadap nilai puncak bersama sebuah masukan jarum penduga dari
dioda (diode-diode input) merupakan pilihan yang paling ekonomis. Rangkaian-
rangkaian yang memberi tanggapan terhadap nilai puncak dapat diterima jika
ketidaktelitian yang disebabkan oleh distorsi dalam bentuk gelombang masukan
dapat ditolerir.
(d) Untuk pengukuran dimana penting untuk menentukan daya efektif dari gelombang
yang menyimpan dari bentuk sinus yang sebenarnya, voltmeter yang memberi
tanggapan terhadap nilai rms merupakan pilihan yang tepat.

10-5 VOLTMETER SELISIH
10-5-1 Pengukuran dasar tegangan selisih
Salah satu metode paling teliti untuk mengukur suatu tegangan yang tidak
diketahui adalah teknik voltmeter selisih (differential voltmeter), di mana voltmeter
digunakan untuk menunjukkan selisih antara tegangan yang tidak diketahui dan
sebuah tegangan yang diketahui. Prinsip bekerjanya voltmeter selisih mirip dengan
potensiometer yang dibahas dalam Bab 6, karena itu instrumen ini kadang-kadang disebut
voltmeter potensiometrik.
Pengukuran klasik tegangan selisih ditunjukkan dalam bentuk dasar pada
rangkaian Gambar 10-12. Dalam rangkaian ini, alat penunjuk nol dihubungkan di
antara sebuah tegangan yang tidak diketahui dan terminal-terminal keluaran dari
sebuah pembagi tegangan presisi; sehingga menunjukkan selisih antara keduanya.
Pembagi tegangan ini dihubungkan ke sumber tegangan referensi dan dapat
diatur agar memberikan perbandingan yang diketahui secara tepat terhadap tegangan
referensi.


Gambar 10-12 Pengukuran dasar tegangan selisih

Dalam melakukan suatu pengukuran, pembagian tegangan diatur sampai
keluarannya sama dengan tegangan yang tidak diketahui. Alat penunjuk nol, yang
dihubungkan antara sumber yang tidak diketahui dan teminal-terminal keluaran pembagi
tegangan menunjukkan nol volt bila kedua tegangan adalah sama. Dalam kondisi nol ini
tidak ada arus yang disalurkan dari sumber maupun dari referensi ke alat pencatat;
252

dengan demikian voltmeter selisih menyuguhkan suatu impedansi tak berhingga
ke sumber yang diuji. Perhatikan bahwa alat penunjuk nol hanya berkewajiban
menunjukkan selisih sisa antara tegangan yang diketahui dan tegangan yang tidak
diketahui. Guna mendeteksi selisih yang kecil dalam potensial-potensial yang tidak
setimbang, diperlukan sebuah alat pencatat sensitif; pentingnya ketelitian alat pencatat ini
adalah nomor dua sebab alat pencatat tidak digunakan untuk menunjukkan nilai mutlak dari
tegangan yang tidak diketahui.
Biasanya sumber referensi terdiri dari sebuah standar dc tegangan rendah
seperti misalnya standar referensi laboratorium sebesar 1 V dc atau sumber daya
presisi tegangan rendah yang dikontrol oleh zener.
Untuk pengukuran tegangan tinggi, sebuah sumber daya referensi tegangan
tinggi dapat digunakan. Akan tetapi, dalam hal yang lazim, sebuah pembagi
tegangan ditempatkan di antara sumber yang tidak diketahui guna menurunkan
tegangan pada nilai yang cukup rendah untuk membandingkan langsung terhadap
standar dc tegangan rendah yang biasa. Kekurangan utama sistem ini adalah bahwa
sebuah voltmeter selisih yang dilengkapi dengan pembagi tegangan masukan
mempunyai tahanan masukan yang relatif rendah, terutama pada tegangan yang
tidak diketahui yang jauh lebih besar dari standar referensi. Tahanan masukan yang
rendah ini tidak diinginkan sebab efek pernbebanannya. Sebuah voltmeter selisih
memberikan tahanan masukan yang mendekati tak berhingga hanya pada kondisi nol
dan selanjutnya hanya jika pembagi tegangan masukan tidak digunakan.
Voltmeter selisih arus bolak-balik merupakan modifikasi dari instrumen arus
searah dan bersii sebuah rangkaian penyearah yang presisi. Tegangan ac yang tidak
diketahui dimasukkan ke penyearah guna pengubahan ke tegangan dc yang sama dengan
nilai rata-rata ac. Kemudian dc yang dihasilkan dimasukkan ke voltmeter potensiometrik
dalam cara yang biasa. Diagram balok yang disederhanakan bagi sebuah voltmeter
selisih ditunjukkan pada Gambar 10-13 telah cukup memberi penjelasan.



Gambar 10-13 Diagram balok yang disederhanakan dari sebuah voltmeter selisih
ac



10-5-2 Standar dc/voltmeter selisih
Voltmeter selisih membutuhkan suatu sumber referensi untuk melakukan
pengukuran dan sebuah rangkaian alat pencatat untuk mendeteksi
ketidaksetimbangan antara, tegangan yang tidak diketahui dan tegangan yang
diketahui. Sebagian pabrik menggabungkan berbagai elemen di dalam sebuah
instrumen laboratorium perhakaiall ganda disebut standar dc/voltmeter selisih.
Instrumen ini mempunyai tiga modus operandi : sebagai standar tegangan dc,
253

sebagai voltmeter selisih jenis dc, dan sebagai volt meter dc. Penyakelaran menurut
fungsi memungkinkan berbagai rangkaian dasar yang, serupa dapat digunakan pada
tiap-tiap modus operandi.
Diagram balok Gambar 10-14 menggambarkan modus operandi standar, di
many instrumen membangkitkan tegangan keluaran presisi dari 0 V sampai 1000 V
sebagai referensi untuk berbagai pakaian laboratorium. Sebuah sumber referensi
yang temperaturnya terkontrol membangkitkan tegangan yang sangat stabil sebesar +
1 Vdc, yang di hubungkan ke sebuah jaringan pembagi tegangan desimal.
Perbandingan pembagi tegangan dikontrol oleh satu pasang sakelar panel depan
yang memungkinkan pengaturan sumber referensi dari 0 V sampai 1 V dengan
pertambahan setiap 1 V. Tegangan keluaran referensi ini dimasukkan ke sebuah
penguat dc berpenguatan tinggi dengan umpan balik yang bersifat mundur
(degeneratif) guna mendapatkan karakteristik penguatan yang terkontrol secara cermat.
Penguat dc terdiri dari beberapa tingkatan dalam bentuk air terjun,
memberikan penguatan lup terbuka sebesar 10
8
atau lebih. Jaringan umpan balik
memonitor tegangan keluaran aktual dan mengumpankan kembali sebagian keluaran
yang terkontrol ke masukan penguat. Penguatan lup tertutup dari penguat umpan
balik dapat dinyalakan oleh hubungan :
A
A
G
| +
=
1
(10-13)

di mana : G =penguatan lup tertutup (penguatan tegangan dengan umpan
balik)
A =penguatan lup terbuka (penguatan tegangan tanpa umpan
balik) = bagian dari tegangan keluaran yang digunakan sebagai umpan
balik
dengan generatif.
Jika penguatan lup terbuka sangat tinggi (idealnya adalah tak berhingga),
persamaan (10-3) berubah menjadi
|
1
= G (10-14)
yang menunjukkan bahwa penguatan penguat hanya bergantung pada
banyaknya umpan balik degeneratif. Dengan demikian ketelitian penguatan lup
tertutup hanya bergantung pada ketelitian pembagi tegangan yang menentukan .
Pembagi tegangan umpan balik yang ditunjukkan pada diagram balok Gambar 10-14
dibuat dari tahanan kawat gulung, presisi yang stabil, memungkinkan penguat
mempunyai karakteristik penguatan lup, tertutup yang terkontrol secara cermat.
Terminal keluaran dari instrumen dalam modus operandi standar memberikan
rangkuman-rangkuman tegangan presisi sebagai berikut :








254











Gambar 10-14 Diagram balok dari voltmeter standar dc/ selisih dalam modus
operandi standar. Bagian referensi dalam kaitannya dengan bagian penguat dc
menyediakan tegangan keluaran presisi dari 0 V sampai 1000 V.

0- 1 V dengan langkah 1V (rangkuman I V)
0- 10V dengan langkah 10 V (rangkuman 10 V)
0- 100V dengan langkah 100 V (rangkuman 100 V)
0- 1000 V dengan langkah I mV (rangkuman 1000 V)
Dalam modus operandi berikutnya, instrumen dihubungkan sebagai sebuah
volt meter selisih dengan menggunakan diagram balok yang sama seperti
sebelumnya, bersama-sama dengan rangkaian alat pencatat. Ini digambarkan dalam
diagram balok Gambar 10-15. Tegangan dc yang tidak diketahui dimasukkan ke terminal-
terminal masukan dari rangkaian penguat. Separuh jaringan pembagi tegangan
mengumpulkan sebagian tegangan keluaran kembali ke tingkatan masukan dan dengan
cara ini mengontrol penguatan lup tertutup dari penguat. Bagian kedua dari jaringan
pembagi tegangan menghubungkan sebagian tegangan keluaran ke masukan selisih dari
penguat alat pencatat.
Rangkaian alat pencatat mengukur selisih antara tegangan umpan balik dan
tegangan referensi dan menunjukkan nol bila kedua tegangan tersebut adalah sama.
Selektor rangkuman pada panel depan instrumen mengontrol tegangan umpan balik
maupun tegangan yang dihubungkan berlawanan dengan keluaran pembagi tegangan
referensi dalam sedemikian sehingga kemampuan sumber referensi sebesar I V
tidak pernall di lampaui.
Dalam modus operandi ketiga, instrumen dihubungkan sebagai voltmeter
dan penguat dc berfungsi sebagai suatu tingkatan penyangga (buffer stage) guna
menyediakan impedansi masukan yang tinggi ke sumber tegangan yang tidak diketahui.
Tegangan masukan diperkuat, dan tegangan keluaran dc dihubungkan langsung ke
rangkaian alat catat. Rangkaian alat pencatat berisi sebuah penguat dengan umpan balik
terkontrol dan memperbolehkan pemilihan sensitivitasnya dengan pengaturan lup
umpan balik melalui alat kontrol pada panel depan yang diberi tanda sensitivitas. Ciri ini
melengkapi sensitivitas rangkaian alat pencatat yang ekstrim, kerapkali dalam orde
1 V defleksi penuh. Akan tetapi pengukuran yang berarti pada sensitivitas yang
sangat tinggi dsulit dilakukan sebab kesulitan dalam pembangkitan derau (noise) dan
pengambilan derau.
Sebuah pengubah ac ke dc dapat disertakan di dalam instrumen guna melengkapi
kemampuan metoda potensiometer untuk mengukur tegangan bolak-balik (ac)

10-6 VOLTMETER DIGITAL
255

10-6-1 Karakteristik umum
Voltmeter digital (DVM) memperagakan pengukuran tegangan dc atau ac dalam
bentuk angka diskrit sebagai pengganti defleksi jarum penunjuk pada sebuah skala kontinu
seperti dalam alat-alat analog. Dalam banyak pemakaian penunjukan dengan angka adalah
menguntungkan sebab mengurangi kesalahan pembacaan manusia dan kesalahan
interpolasi dan menghilangkan kesalahan paralaksis memperbesar kecepatan pembacaan,
dan kerap kali melengkapi keluaran dalam bentuk digital yang sesuai bagi pengolahan dan
pencatatan selanjutnya.
DVM merupakan suatu instrumen yang terandalkan dan teliti yang dapat digunakan
dalam banyak pemakaian pengukuran di laboratorium. Karena perkembangan dan
penyempurnaan modul-modul rangkaian terpadu (integrated circuit IC), ukuran, kebutuhan
daya dan harga DVM telah berkurang secara dramatis sehingga DVM secara aktif dapat
bersaing terhadap instrumen-instrumen analog konvensional, baik dalam portabilitas
maupun harga.
Kualitas DVM yang menonjol dapat digambarkan dengan mengemukakan
sebagaian karakteristik operasi dan karakteristik prestasi yang khas.




Gambar 10-15 Diagram balok dari voltmeter standar dc/selisih dalam modus
operandi selisih. Bagian pencatat menunjukkan kesetimbangan tegangan antara bagian
referensi dan bagian penguat dc.

Spesifikasi berikut tidaksemua berlaku pada semua instrumen tertentu, tetapi
mereka betul-betul menyatakan informasi yang absah mengenai keadaan sekarang ini :
256

(a) Rangkuman masukan : dari 1,000000 V sampai 1000,000 V, dengan
pemilihall rangkuman secara otomatis dan indikasi beban lebih.
(b) Ketelitian mutlak sebesar 0,005 persen dari pembacaan.
(c) Stabilitas : jangka pendek 0,002 persen dari pembacaan untuk perioda 24 jam;
jangka panjang, 0,008 persen pembacaan untuk perioda. 6 bulan.
(d) Resolusi : 1 bagian dalam 10
6
(1 uV dapat dibaca pada rangkuman masukan
1 V).
(e) Karakteristik masukan : tahanan masukan khas adalah 10 M; kapasitas
masukan khas adalah 40 pF.
(f) Kalibrasi : standar kalibrasi internal yang memungkinkan kalibrasi tidak
bergantung, pada rangkaian ukur diperoleh dari sumber referensi yang distabilkan.
(g) Sinyal-sinyal keluaran : perintah mencetak memungkinkan keluaran menuju
unit pencetak (printer) keluaran BCD (binary coded decimal = bilangan
desimal yang masing-masing angka dinyatakan oleh empat bit) untuk
pengolahan atau pencatatan digital.
Ciri pilihan biasa mencakup rangkaian tambahan untuk mengukur arus, tahanan
dan perbandingan tegangan. Variabel-variabel fisis lainnya dapat diukur dengan
menggunakall transducer yang sesuai.
Voltmeter digital dapat dikelompokkan sesuai dengan kategori berikut
(a) Voltmeter digital jenis tanjak (ramp type DVM).
(b) Voltmeter digital jenis penggabungan/integrasi (integrating DVM).
(c) Voltmeter digital setimbang kontinu (continuous balance DVM).
(d) Voltmeter digital dengan pendekatan berturut-turut (successive approximation
DVM)

10-6-2 DVM tipe tanjak
Prinsip operasi DVM tipe tanjak (ramp type) didasarkan pada pengukuran
waktu yang diperkirakan oleh sebuah tegangan tanjak linear agar naik dari level 10 V
ke level tegangan masukan, atau agar berkurang dari level tegangan masukan ke nol.
Selang waktu ini diukur dengan sebuah pencacah selang waktu elektronik, dan pencacahan
diperagakan dalam sejumlah angka pada tabung penunjuk elektronik.
Pengubahan dari sebuah tegangan ke suatu selang waktu digambarkan oleh
diagram bentuk gelombang pada Gambar 10-16. Pada permulaan siklus pengukuran,
sebuah tegangan tanjak dimulai; tegangan ini bisa menuju positif atau negatif. Tanjakan
yang menuju negatif ditunjukkan pada Gambar 10-16, dibandingkan secara kontinu
terhadap tegangan masukan yang tidak diketahui. Pada saat di mana tegangan tanjak saina
dengan tegangan yang tidak diketahui, sebuah rangkaian pembanding atau komparator
membangkitkan sebuah pulsa yang membuka sebu'ah gerbang. Gerbang ini ditunjukkan
pada diagram balok di Gambar 10-17. Tegangan tanjak terus berkurang terhadap
waktu sampai Akhirnya mencapai 10 V (atau potensial tanah), dan sebuah pembanding
lainnya membangkitkan sebuah pulsa keluaran yang menutup gerbang.
Sebuah osilator membangkitkan pulsa-pulsa lonceng yang diijinkan melalui
gerbang menuju sejumlah unit pencacah kelipatan sepuluh (DC-decide contining unit)
yang menjumlahkan jumlah pulsa yang lewat melalui gerbang bilangan desimal yang
diperagakan oleh tabung indikator yang bergantung dengan DC, merupaka suatu ukuran
dari besarnya tegangan masukan.
Multivibrator atas dasar cuplikan (sample rate multivibrator) menentukan laju ke-
cepatan pada mana siklus pengukuran dimulai. Osilasi multivibrator ini biasanya dapat
257

diatur oleh sebuah alat kontrol di panel depan yang diberi tanda rate, yakni dari beberpa
getaran per-sekon sampa sebesar 1000 atau lebih. Rangkaian atas dasar cuplikan
melengkapi pulsa permulaan bagi generator tanjak berikutnya. Pada waktu yang bersamaan
dibangkitkan sebuah pulsa untuk me-nol-kan (reset pulse) yang mengembalikan semua
DCU ke keadaan nol, menghilangkan peragaan dari tabung-tabung penunjuk secara
seketika.





Gambar 10-16 Pengubahan tegangan menjadi waktu dengan menggunakan
pulsa-pulsa lonceng melalui gerbang.



Gambar 10-17 Diagram balok dari sebuah voltmeter digital tipe tanjak.

10-6-3 DVM tanjak tipe anak tangga (staircase-ramp DVM)
DVM tanjak tipe anak tangga ditunjukkan dalam diagram balok pada
Gambar 10-18. Dia merupakan suatu variasi dari DVM tipe tanjak tetapi sedikit lebih
sederhana dalam rancangan keseluruhan, memperlihatkan suatu instrumen pemakaian
umuni dengan harga yang sedang yang dapat digunakan di laboratorium, pada pangkalan
uji produksi, bengkel perbaikan, dan pada stasiun-stasiun pemeriksaan.
DVM ini melakukan pengukuran tegangan dengan membandingkan tegangan
masukannya terhadap sebuah tegangan tanjak anak tangga yang dibangkitkan secara inter-
nal. Instrumen yang ditunjukkan pada Gambar 10-18 mengandung pelemah masukan 10
258

M, memberikan lima rangkuman masukan dari 100 mV sampai 100 V skala penuh.
Penguat arus searah, dengan penguatan tetap sebesar 100, memberikan 10 V ke pem-
banding pada setiap penyetelan tegangan skala penuh dari pembagi tegangan masukan.
Pembanding mengindera kesamaan antara tegangan masukan yang diperkuat dari tegangan
tanjak anak tangga yang dibangkitkan sebagai pengukuran yang berjalan
meneruskan siklusnya.
Bila pertama-tama siklus pengukuran dimulai, lonceng (osilator relaksasi 4,5 kHz)
menyediakan pulsa ke ketiga DCU dalam bentuk air terjun. Pencacah satuan-satuan
(units counter) menyediakan sebuah pulsa pembawa ke dekade sepuluh pada
setiap sepersepuluh pulsa masukan. Dekade sepuluh tersebut mencacah pulsa
pembawa dari dekade satuan dan menyediakan pulsa pembawanya sendiri setelah
dia mencacah sepuluh pulsa pembawa ke sebuah rangkaian rangkuman lebih.
Rangkaian rangkuman lebih menyebabkan sebuah indikator pada panel depan
menyala, mengingatkan oper tor bahwa kapasitas masukan dari instrumen telah
dilewati. Selanjutnya operator akan memindahkan pelemah masukan ke kedudukan
yang lebih tinggi berikutnya.
Masing-masing unit pencacah dihubungkan dengan sebuah pengubah digital
ke analog (digital to analog converter, D/A). Keluaran dari pengubah D/A ini
terhubung, secara pastel dan memberikan arus keluaran yang sebanding dengan pencacahan
arus dari DCU. Penguat anak tangga mengubah arus D/A menjadi tegangan anak tangga
yang dimasukkan ke pembanding. Bila pembanding mengindera kesamaan tegangan
masukan dan tegangan anak tangga, dia menyediakan sebuah pulsa pemicu guna
menghentikan osilator. Maka kandungan arus dari pencacah sebanding dengan
besarnya tegangan masukan.
Laju pencuplikan dikontrol oleh sebuah osilator rileksasi yang sederhana.
Osilator ini memicu dan me-nol-kan penguat alih dengan laju kecepatan sebesar
dua cuplikan setiap sekon. Penguat alih menyediakan sebuah pulsa yang mengalihkan
informasi yang disimpan di dalam pencacah dekade menuju unit peraga di panel
depan. Sisi belakang (trailing edge) pulsa ini memicu penguat pembuat nol (reset
amplifier) yang, menyetel ketiga pencacah dekade menjadi nol dan memulai suatu
siklus pengukuran yang baru dengan menghidupkan osilator majikan (master oscillator)
atau lonceng (clock).
Rangkaian peraga menyimpan tiap-tiap pembacaan sampai selesai suatu
pembacaan baru, dan menghilangkan setiap kedip (blinking) atau pencacahan selama
perhitungan.
259






Gambar 10-18 Diagram balok dari sebuah voltmeter digital tanjak-anak tangga (staircase-ramp DVM)
260


Gambar 10-19 Diagram balok dari sebuah voltmeter digital jenis integrasi

261

10-6-4 Multimeter digital tipe penggabungan (Integrating DVM)
Multimeter digital tipe penggabungan/ integrasi mengukur tegangan masukan
rata-rata sebenarnya melalui suatu perioda pengukuran yang telah tertentu yang
berbeda dengan DVM tipe tanjak yang mencuplik tegangan pada akhir siklus
pengukuran. Suatu teknik yang digunakan secara luas untuk melakukan integrasi
adalah menggunakan sebuah pengubah tegangan ke frekuensi (voltage to
frequency converter, V/F converter). Penguat volt ke frekuensi ini berfungsi
sebagai sistem kontrol umpan balik yang mengatur laju pembangkitan pulsa agar
seimbang dengan besamya tegangan masukan.
Diagram balok yang disederhanakan untuk sebuah voltmeter digital jenis
integrasi diberikan pada Gambar 10-19. Tegangan dc yang diuji dimasukkan ke
tingkatan ma sukan yang memisahkan rangkaian voltmeter terhadap rangkaian uji
dan menyediakan pelemahan masukan yang dibutuhkan. Sinyal masukan yang
diperlemah ini dihubungkan ke pengubah V/F. Rangkaian ini terdiri dari penguat
integrasi, pendeteksi level tegangan (rangkaian pembanding), dan generator pulsa.
Penguat integrasi menghasilkan suatu tegangan keluaran yang sebanding dengan
tegangan masukan yang dikaitkan ke eIemen masukan dan elemen umpan balik oleh
persamaan,

}
= dt i
C
V
out
1


}
= dt V
RC
in
1
(10-5)

Jika tegangan masukan adalah konstan, keluaran adalah sebuah tegangan tanjak
linear yang memenuhi persamaan

RC
t
V V
out out
= (10-6)
Bila tegangan tanjak mencapai suatu level tegangan negatif tertentu, alat
deteksi level memicu generator pulsa, yang memasukkan suatu langkah tegangan negatif
ketitik penjumlahan dari penguat integrasi. Hasil penjumlahan tegangan masukan dan
tegangan pulsa adalah negatif, menyebabkan tegangan tanjak mengubah
(membalik) arahnya. "Penjejakan (retrace)" ini sangat cepat karena amplitudo pulsa
adalah besar dibadingkan terhadap tegangan masukan. Bila tanjak menuju positif
yang sekarang mencapai 0 V, alat deteksi level membangkitkan sebuah pemicu untuk me-
nol-kan (reset trigger) generator pulsa. Pulsa negatif diambil dari titik penjumlahan penguat
integrasi dan yang tertinggal hanya tegangan masukan mula-mula. Selanjutnya penguat
menghasilkan kembali sebuah tegangan tanjak menuju negatif dan prosedur berulang
Laju pembangkitan pulsa diatur oleh besarnya tegangan masukan dc.
Tegangan masukan yang lebih besar menyebabkan tanjakan yang lebih curam dan berarti
laju pengulangan pulsanya (pulse repetitian rate), PRR) lebih cepat.
Keuntungan utama dari siste, pengubahan analog ke digital adalah kemampuan
mengukur adanya campuran derau yang besar secara cermat yang disebabkan masukan
yang digabungkan.
Pulsa keluaran dari alat deteksi level mengontrol gerbang sinyal
memungkinkan pencacah desimal untuk mengumpulkan suatu pencacahan yang diberika
262

oleh rangkaian osilator-osilator kristal bagian rangkuman yang selebihnya pada dasarnya
identik dengan pencacah konvensional lainnya dan tidak memerlukan pengembangan
selanjutnya.
10-6-5 DVM setimbang kontinu
Voltmeter digital jenis setimbang kontinu (continuous balance DVM)
merupakan instrumen yang harganya murah tapi memberikan prestasi yang sangat
baik. Ketelitian voltmeter ini biasanya adalah dalam orde 0,1 persen rangkuman
masukannya. Dia mempunyai impedansi masukan sebesar sekitar 10 M dengan
resolusi yang dapat diterima secara umum.
Diagram balok dari sebuah DVM setimbang kontirm yang dikemudikan oleh
servo ditunjukkan pada Gambar 10-20.


Gambar 10-20 Diagram balok fungsional dari sebuah voltmeter digital jenis
potensiometer setimbang servo (servo-balancing potentiometer)

Tegangan masukan dc dimasukkan ke sebuah pelemah masukan yang memberikan
penyakelaran rangkuman yang tepat. Pelemah masukan berupa alat kontrol pada
panel depan yang juga menyebabkan sebuah penunjuk titik desimal bergerak pada
permukaan peraga sesuai dengan rangkuman masukan yang di pilih. Setelah lewat
melalui sebuah rangkaian proteksi kelebihan tegangan dan sebuah tapis pengapkiran
arus bolak-balik (ac rejection filter), tegangan masukan dihubungkan ke satu sisi
pembanding pencincang mekanis. Sisi lain dari pernbanding tersebut dihubungkan
ke sebuah lengan geser (wiper) dari potensiometer presisi yang dikemudikan oleh
motor, yang dihubungkan pada sumber tegangan referensi. Keluaran pembanding
pencincang yang dikemudikan oleh tegangan jala-jala dan bergetar pada frekuensi
jala-jala, merupakan sebuah sinyal gelombang persegi. Amplitudo gelombang persegi
ini adalah fungsi dari selisih antara besar dan polaritas tegangan dc yang
dihubungkan ke sisi-sisi pencincang yang saling berhadapan. Sinyal gelombang persegi
diperkuat oleh sebuah prapenguat berimpedansi tinggi berderau rendah dan
diumpankan ke sebuah pengual daya. Penguat ini mempunyai redaman khusus guna
memperkecil lonjakan (overshool) dan ayunan (hunting), pada posisi nol. Motor
servo, sewaktu menerima selisih sinyal gelombang persegi, mengemudikan lengan
potensiometer presisi menurut arah yang dibutuhkan untuk menghilangkan (cancel)
263

tegangan selisih pada pembanding pencincang. Motor servo juga mengemudikan
sebuah indikator mekanis tipe drum yang memiliki angka 0 sampai 9 yang tertera di
sekeliling segrnen-segmen drum. Posisi dari poros motor servo sesuai dengan jumlah
tegangan umpan balik yang dibutuhkan guna me-nol-kan masukan pencincang, dan
posisi ini ditunjukkan oleh indikator tipe drum. Dengan demikian, posisi poros
merupakan indikasi besarnya tegangan masukan.
Adalah jelas bahwa instrumen ini tidak "mencuplik" tegangan dc yang tidak
diketahui secara teratur seperti dalam halnya instrumen-instrumen yang lebih
njelimet (=susah), tetapi secara kontinu mencari kesetimbangan tegangan masukan
terhadap tegangan referensi yang dibangkitkan secara internal. Karena di dalam
mckanisme ini tercakup gerak mekanis yang berbeda seperti halnya pengaturan
posisi lengan potensiometer dan putaran mekanisme indikator, waktu pembacaan
rata-rata adalah kira-kira 2 s. Akan tetapi, kesederhanaan perencanaan dan biaya
murah membuat instrumen ini suatu pilihan yang sangat menarik bila ketelitian yang
ekstrim tidak diperlukan.
10-6-6 Voltmeter digital dengan pendekatan secara berturut-turut
(successive approximation DVM)
Sekarang ini voltmeter digital dengan kemampuan 1000 pembacaan setiap
sekon alau lebih tersedia secara komersial. Umumnya, inst rumen ini menggunakan
konvertor dari jenis pendekatan berturut-turut guna melakukan digitasi (digitization,
pengubahan analog menjadi digital). Diagram yang disederhanakan untuk voltmeter
ini ditunjukkan pada Gambar 10-21.


Gambar 10-21 Diagram balok yang disederhanakan dari sebuah vomtmeter digital
pendekatan berturut-turut
Pada permulaan siklus pengukuran, sebuah pulsa pemulai dimasukkan ke
multivibrator untuk menghidupkan dan mematikan (start -stop multivibrator). Ini
menyetel angka I dalam register angka biner yang paling berarti (MSB, most
significant bit) dan 0 dalam semua angka biner yang kurang berarti. Dengan menganggap
register pengontrol adalah 8 bit, maka pemabacaan akan menjadi 10000000. Penyetelan
permulaan pada register pengontrol ini menyebabkan keluaran konverter D/A menjadi
setengah tegangan suplai referensi ( V). Keluaran konvertor dibandingkan oleh
264

pernbanding terhadap masukan yang tidal( diketahui. Jika tegangan masukan lebih besar
dari tegangan referensi konvertor, pembanding menghasilkan suatu keluaran yang
menyebabkan register pengontrol menahan penunjukan 1 di dalam MSB nya, dan konvertor
terus menyalurkan tegangan keluaran referensi sebesar V.
Selanjutnya pencacah cincin (ring counter)* bertambah satu hitungan,
menggeser angka I dalam MSB kedua dari register pengontrol, dan
pembacaannya menjadi 11000000. Ini menyebabkan konvertor D/A memperbesar
keluaran referensinya sebesar satu pertambahan menjadi V + V, dan
pernbandingan yang lain tejadi terhadap tegangan masukan yang tidak diketahui.
Jika dalam hal ini tegangan referensi terkumpul sehingga melebihi tegangan yang
tidal( diketahui, pembanding menghasilkan suatu keluaran yang menyebabkan register
pengontrol membuat MSB kedua menjadi 0 (reset). Kemudian keluaran konvertor kembali
ke level semula yaitu V dan menunggu masukan lainnya dari register pengontrol
guna pendekatan berikutnya. Bila pencacah cincin menambah satu hitungan
berikutnya, MSB ketiga dari register pengontrol disetel ke I dan keluaran konvertor
diperbesar oleh pertambahan berikutnya menjadi 1/2 V + 1/8 V. Jadi siklus
pengukuran bejalan melalui sederetan pendekatan berturut-turut seperti
ditunjukkan pada Gambar 10-22 dengan menahan atau menolak keluaran
konvertor dalam cara yang telah dijelaskan. Akhirnya bila "pencacah cincin"
mencapai hitungan terakhir, siklus pengukuran berhenti, dan keluaran digital dari
register pengontrol memperlihatkan pendekatan terakhir dari tegangan masukan yang
tidak diketahui.




Gambar 10-22 Pendekatan berturut-turut digunakan untuk melakukan pengubahan analog
ke digital. Tegangan-tegangan referensi konvertor dipindahkan ke pembanding dalam
urutan 8-4-2-1 dan diapkir jika keluaran konvertor yang tertimbun melebihi tegangan
masukan

Untuk tegangan masukan selain dc, level masukan berubah selama digitasi dan
keputusan yang dibuat selama pengubahan tidak konsisten (tetap). Untuk mencegah
kesalahan pengubahan ini, sebuah rangakaian cuplik dan penahan (sample and hold
circuit, SH) ditempatkan di dalam masukan, langsung di belakang pelemah masukan
dan penguat seperti ditunjukkan pada Gambar 10-21. Dalam bentuk yang paling
sederhana, rangkaian SH dapat dinyatakan oleh sebuah sakelar dan sebuah kapasitor
seperti pada Gambar 10-23. Dalam modus cuplik (sample) sakelar tertutup dan
kapasitor mengisi ke nilai sesaat tepngan masukan. Dalam modus tertahan (hold)
265

sakelar terbuka dan kapasitor menahan tegangan yang telah dimilikinya pada saat
sakelar terbuka. Jika pengemudian sakelar selaras dengan pulsa "ring counter", pengukuran
aktual dan konversi berlangsung bila rangkaian SH berada dalam modus tertahan.



Gambar 10-23 Sebuah rangkaian SH menyetop kenaikan tegangan masukan selama
digitasi, sehingga level tegangan tidak berubah selama proses pendekatan berturut-turut.

Dalam sebuah rangkaian yang praktis sakelar sederhana pada Gambar 10-23 diganti
oleh sakelar transistor yang bekerja cepat; dan guna mempeibesar arus pengisian kedalam
kapasitor, ditambahkan sebuah penguat operasional.


10-7 ALAT UKUR Q (Q-METER)
10-7-1 Rangkaian dasar alat ukur Q
Alat ukur Q adalah sebuah instrumen yang dirancang guna mengukur beberapa
sifat listrik dari kumparan dan kapasitor. Bekerjanya instrumen laboratorium yang
sangat brinianfaat ini didasarkan pada karakteristik sebuah rangkaian resonansi seri
yang telah dikenal, yakni bahwa tegangan pada kumparan atau kapasitor sama
dengan tegangan yang, dimasukkan dikalikan dengan Q rangkaian. Jika sebuah
tegangan yang nilainya tetap dimasukkan ke rangkaian, sebuah voltmeter yang
dihubungkan ke kapasitor dapat ke kalibiasi agar langsung menunjukkan Q.
Hubungan tegangan dan arus dari sebuah rangkaian resonansi seri ditunjukkan
pada Gambar 10-24. Pada resonansi, persyaratan-persyaratan berikut adalah sah :
IR E
IX IX E
X X
L C C
L C
=
= =
=

di mana E = tegangan yang dimasukkan
I = arus rangkaian
E
C
= tegangan pada kapasitor
X
L
= reaktansi kapasitif
X
C
= reaktansi induktif
R = tahanan kumparan


266



Gambar 10-24 Rangkaian resonansi seri

Menurut defmisi, penguatan rangkaian adalah Q, di mana

E
E
R
X
R
X
Q
C C L
= = = (10-7)
Berarti jika E dipertahankan konstan dan levelnya diketahui, sebuah voltmeter yang
dihubungkan pada kapasitor dapat dikalibrasi langsung dalam Q rangkaian.
Sebuah rangkaian praktis untuk mengukur Q ditunjukkan pada Gambar
10-25. Osilator rangkuman lebar dengan rangkuman frekuensi dari 10 kHz sampai
50 MHz inenyalurkan arus ke sebuah tahanan shunt R
SH
yang nilainya rendah.
Nilai shunt ini sangat rendah, khasnya dalam orde 0,02 . Dia memberikan tahanan
yang hampir sama dengan nol ke dalam rangkaian osilator dan berarti dia
menyatakan sebuah sumber tegangan yang besarnya E dengan tahanan dalam yang
sangat kecil (dalam kebanyakan hal diabaikan). Tegangan E pada shunt, berhubungan
dengan E pada Gambar 10-24, diukur dengan alat ukur termokopel yang diberi tanda
"kalikan Q dengan" ("Multiply Q by-). Tegangan pada kapasitor variabel berkaitan
dengan. Ec pada gambar 10-24, diukur dengan sebuah voltmeter elektronik yang
skalanya dikalibrasi langsung dalam nilai-nilai Q.



Gambar 10-25 Rangkaian dasar alat ukur Q

267

Guna melakukan suatu pengukuran, kumparan yang nilainya tidak diketahui
dihubungkan ke terminal uji instrumen, dan rangkaian disetalakan (tuned) ke
resonansi dengan menyetel osilator pada suatu frekuensi tertentu dan mengubah-
ubah kapasilor penggetar internal; ataupun dengan menyetel sebelumnya
kapasitor pada suatu nilai yang diinginkan dan mengatur frekuensi osilator.
Pembacaan Q pada alat pencatat harus dikalikan dengan indeks yang disetel dari
"Kalikan Q dengan" guna mendapatkan nilai Q aktual.
Q yang ditunjukkan (yang merupakan pembacaan resonan pada alat ukur "Q
rangkaian) disebut Q rangkaian sebab kerugian kapasitor penggetar, voltmeter, dan
tahanan isipan semuanya termasuk di dalam rangkaian pengukuran. Q efektif dari
kumparan yang diukur akan menjadi sedikit lebih besar dari Q yang ditunjukkan.
Umumnya perbedaan ini dapat diabaikan, kecuali dalam hal -hal tertentu di mana
tahanan kumparan relatif kecil dibandingkan terhadap nilai tahanan. sisipan (masalah
ini dibicarakan dalam Contoh 10-6).
Induktansi kumparan dapat ditentukan dari nilai -nilai frekuensi (f) yang
diketahui dan kapasitansi penggetar (C) karena
henry
C f
L dan X X
C L 2
) 2 (
1
t
= = (10-8)

10-7-2 Metoda pengukuran
Untuk menghubungkan komponen-komponen yang tidak diketahui ke
terminal-terminal uji sebuah alat ukur Q, terdapat tiga metoda yaitu :
(a) Hubungan langsung. Kebanyakan kumparan dapat dihubungkan langsung
kc terminal uji, persis seperti yang ditunjukkan dalam rangkaian dasar alat ukur Q
pada Gambar 10-25. Rangkaian dibuat beresonansi dengan mengatur salah satu
frekuensi osilator atau kapasitor penggetar Q yang ditunjukkan, dibaca langsung
pada alat ukur "Q rangkaian", dimodifikasi dengan menyetel "Kalikan Q
dengan" pada alat ukur. Bila terakhir alat ukur disetel pada tanda kesatuan, alat
ukur "Q rangkaian" membaca langsung nilai Q yang tepat.
(b)Sambungan seri. Komponen-komponen impedansi rendah seperti tahanan
bernilai rendah, kumparan kecil dan kapasitor besar, diukur secara seri dengan
rangkaian pengukuran. Gambar 10-26 menunjukkan sambungan tersebut. Di sini,
komponen yang akan diukur ditunjukkan oleh [Z], dihubungkan seri dengan
sebuah kumparan kerja yang stabil pada terminal uji (kumparan kerja biasanya
disuplai bersama instrumen). Dua pengukuran dilakukan : Dalam pengukuran
pertama, yang tidak diketahui dihubungsingkatkan oleh sebuah sabuk hubung
singkat (shorting strap) kecil dan rangkaian dibuat resonansi guna menetapkan suatu
kondisi referensi. Nilai kapasitor penyetelan C
1
dan Q yang ditunjukkan (Q
1
) dicatat.
Dalam pengukuran kedua sabuk hubung singakt dilepas dan rangkaian disetelakan
kembali, memberikan suatu nilai baru lagi kapasitor penyetelan (C
2
) dan perubahan
nilai Q dari nilai Q
1
menjadi Q
2.
Untuk kondisi referensi,
L
C
atau X X
L C
e
e
= =
1
1
1
(10-9)
268


Gambar 10-26 Pengukuran sebuah komponen impedansi rendah dalam hubungan seri
dengan menggunakan alat ukur Q
Untuk pengukuran kedua, reaktansi Yang tidak diketahui dapat dinyatakan dalam nilai
baru kapasitor penyetala (C
2
) dan dari induktor (L) Yang berada di dalam rangkaian.
Ini memberikan
1 2
1 1
1
C C
X atau X X X
S L C S
e e
= = (10-11)
Sehingga
2 1
2 1
C C
C C
X
S
e

= (10-12)

X
s
adalah induktif jika C
1
> C
2
dan kapasitif jika C
1
< C
2
. Komponen resistif dari
impedans i yang t i dak di ket ahui dapat di per ol eh di nyat akan dal am
r eakt ans i X
s
dan ni l ai Q yang ditunjukkan, karena

2
2
2
1
1
1
Q
X
R dan
Q
X
R = =
juga
1 1 2 2
1 2
1 1
Q C Q C
R R R
S
e e
= =
2 1 2 1
2 2 1 1
Q Q C C
Q C Q C
R
S
e

= (10-13)
Jika yang tidak diketahui adalah tahanan murni; penyetelan kapasitor penyetala
seharusnya tidak akan berubah dalam proses pengukuran, sehingga C
1
= C
2.
Persamaan untuk tahanan berubah menjadi
2 1 1 2 1 1
2 1
Q Q C
Q
Q Q C
Q Q
R
S
e e
A
=

= (10-14)

Jika tidak diketahui adalah sebuah induktor kecil, nilai induktansi diperoleh dari persamaan
(10-12) yang besarnya sama dengan
2 1
2 1
C C
C C
L
S
e

= (10-15)

Q kumparan diperoleh dari persamaan (10-12) da persamaan (10-13) karena menurut
definisi ,
269

s
s
S
R
X
Q =

Maka
2 2 1 1
2 1 2 1
) )( (
Q C Q C
Q Q C C
Q
S

= (10-16)

Jika yang tidak diketahui adalah sebuah kapasitor besar, nilainya ditentukan dari
persamaan (10-12) yaitu :
1 2
2 1
C C
C C
C
S

= (10-18)
Q kapasitor dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan (10-16).

(c) Sambungan paralel. Komponen-komponen berimpedansi tinggi seperti tahanan-
tahanan bernilai tinggi, induktor tertentu, dan kapasitor kecil, diukur dengan
menghubungkan secara paralel terhadap rangkaian pengukuran. Gambar 10-27
menunjukkan sambungan tersebut. Sebelum dihubungakan ke komponen yang tidak
diketahui rangkaian dibuat resonansi dengan menggunakan sebuah kumparan kerja yang
sesuai, guna menetapkan nilai-nilai referensi bagi Q dan C (Q
1
dan C
1
).

Gambar 10-27 pengukuran komponen berimpedansi tinggi dalam hubungan paralel
dengan mengunakan Q-meter
Selanjutnya bila komponen yang diujui dihubungkan ke rangkaian, kapasitor diatur
kembali agar beresonansi sehingga diperoleh suatu nilai baru bagi kapasitor penyetalaan
(C
2
) dan perubahan nilai Q rangkaian (Q) dan Q
1
menjadi Q
2
.
Dalam sebuah rangkaian paralel, perhitungan impedansi yang besarnya tidak
diketahui paling baik didekati dinyatakan dalam komponen-komponen paralelnya X
p
dan R
p

seperti ditunjukkan pada Gambar 10-27. Pada syarat awal resonansi bila yang tidak
diketahui belum dihubungkan ke rangkaian, kumparan kerja (L) disetalakan oleh kapasitor
(C
1
). Dengan demikian,
R C R
L
Q
1
1
1
e
e
= = (10-18)
sehingga
R C R
L
Q
1
1
1
e
e
= = (10-19)
Jika sekarang impedansi yang tidak diketalwi dihubungkan ke rangkaian
dan kapasitor disetalakan agar beresonansi, reaktansi kumparan kerja (X
L
) sama
dengan reaktansi paralel dari kapasitor penyetalaan (X
Cs
) dan yang tidak diketalmi (X
p
).

270

Berarti,
p C
p C
L
X X
X X
X
+
=
2
2
) )( (

yang berubah menjadi
) (
1
2 1
C C
X
p

=
e
(10-20)
Jika yang tidak diketahui adalah induktif,
p p
L X e = , dan persamaan (10-20)
memberi nilai impedansi yang tidak diketahui yaitu :
) (
1
2 1
C C
L
p

=
e
(10-21)
Jika yang tidak diketalmi adalah kapasitif,
p p
C X e / 1 = dan pefsamaan (10-20)
memberi nilai kapasitor yang tidak diketahui yaitu,
2 1
C C C
p
= (10-22)
Di dalam sebuah rangkaian resonansi paralel tahanan total pada resonansi
adalah perkalian Q rangkaian terhadap reaktansi kumparan. Berarti
L T
X Q R
2
=
atau dengan mensubstitusikan persamaan (10-18), diperoleh

1
2
2
1
Q
Q
X Q R
C T
e
= = (10-23)
Tahanan (R
p
) dari impedansi yang tidak diketahui paling mudah diperoleh
dengan menghitung konduktansi di dalam rangkaian Gambar 10-27.
Misalkan G
T
= konduktansi total rangkaian resonan,
G
P
= konduktansi impedansi yang tidak diketahui
G
L
= konduktansi kumparan kerja,
Maka

L p T
G G G + = atau
L T P
G G G =
(10-24)
Dari persamaan (10-23),
2
1
1
Q
C
R
G
T
T
e
= =
Maka,
2 2 2
2
1
1
L R
R
Q
C
R
T
e
e
+
=
2
1 2
1
2 2 2
2
1
1
/ 1
1 1
Q R Q
C
R L R Q
C
=
|
|
.
|

\
|
+
|
.
|

\
|
=
e
e
e

Dengan mensubstitusikan persarnaan (10-19) ke dalam
.
bentuk yang terdahulu diperoleh
271

1
1
2
1
1
Q
C
Q
C
R
P
e e
=
setelah disederhanakan menghasilkan,
Q C
Q Q
Q Q C
Q Q
R
S
A
=

=
1
2 1
2 1 1
2 1
) ( e e
(10-25)
Selanjutnya Q yang tidak diketahui diperoleh dengan menggunakan persamaan (10-
20) dan persamaan (10-25) sehingga
Q C
Q Q C C
Q Q C
Q Q C C
X
R
Q
p
p
p
A

= =
1
2 1 2 1
2 1 1
2 1 2 1
) (
) (
) )( (

(10-26)
10-7-3 Sumber-sumber kesalahan
Mungkin, faktor paling penting yang mempengaruhi ketelitian pengukuran dan
yang paling sering terlupakan adalah kapasitansi terbagi (distributed capacitance) atau
kapasiinsi diri (self capacitance) dari rangkaian pengukuran. Adanya kapasitansi
terbagi di dalam sebuah kumparan mengubah Q aktual atau efektif dan induktansi
kumparan. Pada frekuensi di mana kapasitansi diri dan induktansi kumparan adalah
resonansi (turut bergetar), rangkaian memiliki suatu impedansi yang betul -betul
resistif (tahanan murni). Karakteristik ini dapat digunakan untuk mengukur
kapasitansi terdistribusi.,
Suatu cara sederhana guna mengetalmi kapasitansi terbagi (C
d
) dari sebuah
kumparan menyangkut pembuatan dua pengukuran pada frekuensi yang berbeda.
Kumparan yang akan diuji dihubungkan langsung ke terminal uji dari alat ukur Q
seperti ditunjukan

pada rangkaian di Gambar 10-28. Kapasitor penyetalaan di setel ke
suatu nilai yang tinggi, lebih diinginkan ke posisi maksimalnya; dan rangkaian dibuat
resonansi melalui pengaluran frekuensi osilator. Resonansi ditunjukkan oleh defleksi
maksimal pada alat ukur Q rangkaian . nilai dari kapasitor penyetalaan (C
1
) dan
frekuensi osilator (f
1
) dicatat. Selanjutnya frekuensi diperbesar menjadi dua kali nilai mula-
mula (f
2
=2 f
1
) dan rangkaian disetalakan dengan mengatur kapasitor penggetar (C
2
).

Gambar 10-28 penentuan kapasitansi terbagi pada sebuah induktor
Frekuensi resonan dari sebuah rangkaian LC diberikan oleh persamaan terkenal
272

LC
f
t 2
1
= (10-27)
Pada syarat awal resonansi kapasitansi rangkaian sama dengan C1+Cd, dan frekeunsi
resonan sama dengan
) ( 2
1
1
1
d
C C L
f
+
=
t
(10-28)
Setelah mengatur osilator dan kapasitor penyetalaan, kapasitansi rangkaian adalah
C2+Cd, dan frekuensi resonan sama dengan
) ( 2
1
2
2
d
C C L
f
+
=
t
(10-29)
Karena f
2
= 2 f
1
, persamaan (10-28) dan (10-29) adalah saling berhubungan, sehingga
) ( 2
2
) ( 2
1
1 1 d d
C C L C C L +
=
+ t t

Atau
d d
C C C C +
=
+
1 2
4 1

Dengan menyelesaikan untuk kapasitansi terdistribusi, diperoleh
3
4
2 1
C C
C
d

= (10-30)
Contoh 10-3: Kapasitansi dari sebuah kumparan akan diukur dengan menggunakan
prosedur yang baru diuraikan. Pergukuran pertama adalah pada f
1
=2 MHz dan C
1

=460 pf. Pengukuran kedua pada f
2
= 4 MHz memberikan suatu nilai yang baru bagi
kepasitor penyetalaan, C
2
= 100 pf,. Tentukan kapasitansi terbagi Cd.
Penyelesaian :Dengan menggunakan persamaan (10-30), diperoleh
pf
C C
C
d
20
3
400 460
3
4
2 1
=

=
Contoh 10-4 : Tentukan nilai kapasitansi diri dari sebuah kumparan dengan
melakukan pengukuran berikut : Pada frekuensi f
1
= 2 Mhz, kapasitor penyetelaan
disetel pada 450 pf. Bila frekuensi diperbesar menjadi 5 MHz, kapasitor penyetelaan
disetalakan pada 60 pF.
Penyelesaian :karena f
2
=2,4 f
1
, persamaan (10-28) dan (10-29) dihubungkan sebagai
berikut
) ( 2
5 , 2
) ( 2
1
1 2 d d
C C L C C L +
=
+ t t

273

Yang berubah menjadi
d d
C C C C +
=
+
1 2
25 , 6 1

atau
25 , 5
25 , 6
2 2
C C
C
d

=
Dengan mensubtitusikan nilai C
1
=450 pF dan C
2
=60 pF, kita peroleh bahwa nilai
kapasitansi terbagi adalah C
d
= 14,3 pF.
Q efektif sebuah kumparan dengan kapasitansi terbagi adalah lebih keciI dari Q
sebenarnya dengan suatu faktor yang bergantung pada nilai kapasitansi diri dari
kapasitor penggetar. Dapat ditunjukkan bahwa
|
.
|

\
| +
=
C
C C
Q Q
d
e sebenarnya

dimana Q
e
, = efektif dari kumparan
C = kapasitansi penggetar
C
d =
kapasitansi terbagi
Q efektif biasanya dapat dipandang sebagai Q yang ditunjukkan.
Pada banyak pengukuran, tahanan residu atau tahanan sisipan (R
SH
) dari
rangkaian ukur Q pada Gambar 10-25 adalah cukup keciI dan dianggap diabaikan.
Pada keadaan-keadaan tertentu kita dapat menambah kesalahan pada pengukuran
Q. Efek tahanan sisipan terhadap pengukuran bergantung pada besarnya impedansi
yang tidak diketahui, dan tentunya pada ukuran tahanan sisipan tersebut. MisaInya,
tahanan sisipan diketahui 0,02 dapat diabaikan dibandingkan terhadap tahanan
kumpaaran sebesar 10 , tetapi dia dianggap penting bila dibandingkan terhadap
sebuah tahanan kumparan sebesar 0,1 . Efek tahanan sisipan sebesar 0,02
ditunjukkan pada Coritoh 10-5 dan 10-6
Contoh 10-5 : Sebuah kumparan dengan tahanan 10 dalam "modus pengukuran
langsung" ("direct measurement mode"). Resonansi terjadi bila frekuensi osilator adalah
1,0 MHz dan kapasitor penggetar disetel pada 65 pF. Tentukan persentase
kesalahan yang dihasilkan dalam nilai Q yang dihitung dengan penyisipan
tahanan sebesar 0,02 .
Penyelesaian : Q efektif dari kumparan adalah
245
) 10 )( 10 2 )( 10 )( 2 (
1 1
6 12 6
= = =

x R C
Q
e
t e
=
I
Q kumparan yang ditunjukkan adalah
5 , 244
) 02 , 0 (
1
1
=
+
=
R C
Q
e

Maka persentase kesalahan adalah : % 2 , 0 % 100
245
5 , 244 245
=

x
274

Contoh 10-6 : Ulangi soal 10-5 untuk kondisi berikut : tahanan kumparan adalah 0,1
. Frekuensi pada resonansi adalah 40 MHz. Kapasitor penyetalaan disetel pada 135
pF.
Penyelesaian : Q efektif kumparan adalah
295
1 , 0 10 135 10 40 2
1 1
12 6
= = =

x x x x x R C
Q
e
t e

Q kumparan yang ditunjukkan adalah

245
) 02 , 0 (
1
1
=
+
=
R C
Q
e

Persentase kesalalahan sama dengan
% 17 % 100
295
245 295
=

x
Sumber-sumber kesalahan lain mencakup induktansi residual dari instrumen
yanp, biasanya adalah dalam orde 0,015 H dan hanya mempengaruhi pengukuran
induktor yang sangat kecil (< 0,5 H). Konduktansi voltmeter Q mempunyai efek
pemaralelan (shunting) yang kecil terhadap kapasitor penyetalaan pada frekaensi
yang lebih tinggi. tetapi efek ini biasanya dapat diabaikan.

10-8 ALAT UKUR IMPEDANSI VEKTOR
Pengukuran impedansi adalah mengenai besarnya (Z) dan sudut fasa () sebuah
komponen. Pada frekuensi di bawah 100 MHz, pengukuran tegangan dan arus
biasanya cukup untuk menentukan besarnya sebuah impedansi. Beda fasa antara
bentuk gelombang tegangan dan arus menunjukkan apakah komponen tersebut
induktif atau kapasasitif. Jika sudut fasa dapat ditentukan, misalnya dengan
menggunakan sebuah CRO yang memperagakan gambar Lissajous, reaktansi dapat
ditentukan. Jika sebuah komponen harus dinyatakan secara lengkap, sifat-sifatnya
harus ditentukan pada beberapa frekuensi yang berbeda, dan mungkin memerlukan
banyak pengukuran. Khususnya pada frekuensi yang lebih tinggi pengukuran ini
menjadi agak rumit dan menghabiskan waktu, dan mungkin diperlukan banyak tahapan
guna mendapatkan informasi yang diinginkan
Pengembangan instrumen sedemikian seperti halnya alat ukur impedansi
veklof (vector impedance meter) memungkinkan pengukuran impedansi pada suatu
rangkuman frekuensi yang lebar. Kurva-kurva frekuensi penyapu (sweep-frequency
plots) dari impedansi dan sudut fasa terhadap frekuensi yang memberikan liputan
lengkap dalam batas-batas bidang frekuensi yang diselidiki, juga dapat dilakukan.
Alat ukur impedansi vektor yang ditunjukkan pada Gambar 10-29 melakukan
pengukuran impedansi dan sudut fasa secara bersamaan pada rangkuman frekuensi
dari 5 Hz sampai 500 kHz. Komponen yang tidak diketahui cukup dihubungkan
diantara terminal-terminal masukan instrumen; frekuensi yang diinginkan dipilih
dengan mengatur alat-alat kontrol panel depan, dan kedua alat pencatat pada panel depan
akan menunjukkan besarnya impedansi dan sudut fasa.
275

Bekerjanya alat ukur impedansi vektor paling mudah dipahami dengan
memperhatikan diagram balok pada Gambar 10-30.


Gambar 10-29 Alat ukur impedansi vektor (seijin Hewlett Packard Co.).

Dua pengukuran berlangsung :
(1) Besarnya impedansi ditentukan dengan mengukur arus melalui komponen yang tidak
diketahui bila tegangan yang diketahui dihubungkan kepadanya; atau dengan mengukur
tegangan komponen bila arus yang diketahui dilewatkan melaluinya;
(2) Sudut fasa diperoleh dengan menentukan beda fasa antara tegangan komponen
dan arus melalui komponen tersebut.


276




Gambar 10-30 Diagram balok alat ukur impedansi vektor (seijin Hewlett-Pachard Co.)

277

Diagram balok pada gambar 10-30 menunjukkan bahwa instrumen berisi
sebuah sumber sinyal (osilator jembatan Wien) beserta dua kontrol panel depan
untuk memilih rangkuman frekuensi dan secara kontinu mengatur frekuensi yang
dipilih. Keluaran osilator diumpankan ke sebuah penguat AGC yang
memungkinkan pengaturan penguatan yang cermat melalui tegangan umpan
baliknya. Pengaturan penguatan ini berupa suatu kontrol internal yang digerakkan
melalui penyetelan sakelar rangkuman impedansi, terhadap mana keluaran
penguat AGC dihubungkan. Sakelar rangkuman impedansi merupakan sebuah
jaringan pelemah presisi yang mengontrol tegangan keluaran osilator dan pada
waktu yang sama menentukan cara menghubungkan komponen yang tidak
diketaImi ke rangkaian agar mengikuti sakelar rangkuman.
Sakelar rangkuman impedansi membolehkan instrumen bekerja dalam dua
modus yailu modus arus konstan dan modus tegangan konstan. Ketiga
rangkuman rendah (x 1, x 10, dan x 100) bekerja dalam modus arus konstan
dan keempat rangkuman linggi (x 1 k, x 10 k, x 100 k, dan x 1 M) bekerja dalam
modus tegangan konstan.
Dalam modus arus konstan, komponen yang tidak diketahui
dihubungkan ke masukan penguat selisih ac. Arus yang disalurkan ke komponen
yang tidak diketahui bergantung pada penyetelan sakelar rangkuman impedansi.
Arus ini dipertahankan konstan oleh tindakan tahanan alih atau penguat R
T
(R
T

amplifier) yang mengubah arus melalui komponen yang tidak diketahui menjadi
sebuah keluaran tegangan yang besarnya sama dengan arus dikalikan dengan
tahanan umpan bali knya. Penguat R
T
adal ah sebuah penguat operasional
yang tegangan keluarannya sebanding dengan arus masukannya. Keluaran penguat
R
T

diumpankan ke sebuah rangkaian detektor dan dibandingkan terhadap
sebuah legangan referensi dc. Tegangan kontrol yang dihasilkan mengatur
penguatan penguat AGC dan berarti mengat ur tegangan yang dimasukkan ke
sakelar rangkuman impedansi. Keluaran penguat selisih ac dimasukkan ke sebuah
penguat penguat dan filter yang berisi filter pita tinggi (high band filter) dan filter pita
rendah (low band filter) yang berubah-ubah terhadap rangkuman frekuensi guna
membatasi lebar bidang frekuensi penguat. Bila dipilih, keluaran filter pita pelewat (band
pass filter) dihubungkan ke sebuah detektor yang mengemudikan alat ukur kebesaran Z.
Karena arus melalui komponen yang tidak diketahui dipertahankan konstan oleh penguat
R
T,
alat ukur kebesaran Z yang mengukur tegangan pada komponen yang tidak diketahui
dan terkalibrasi secara tepat.
Dalam modus tegangan konstan, kedua masukan tersambung ke penguat selisih.
Terminal yang dihubungkan ke masukan penguat tahanan alih seperti terdapat pada
modus arus konstan, sekarang ditanahkan. Masukan lain dari penguat selisih yang
dihubungkan ke sebuah titik pada sakelar rangkuman kebesaran Z yang dipertahankan pada
suatu potensial konstan. Terminal masukan dari komponen yang tidak dikatahui
dihubungkan ke titik yang sama dari potensial yang konstan.; atau bergantung pada
penyetelan sakelar rangkuman kebesaran Z, dihubungkan ke suatu pecahan persepuluhan dari
tegangan ini. Dalam setiap hal, tegangan yang pada tidak diketahui ini dimasukkan ke
penguat tahanan alih yang juga menghasilkan suatu tegangan keluaran yang sebanding
dengan arus masukannya.
Peranan penguat selisih ac dan penguat tahanan alih sekarang dipertukarkan.
Kelauran tegangan dari penguat RT di masukkan ke detektor dan kemudian ke alat ukur
kebesaran Z. Tegangan keluaran dari penguat selisih mengontrol penguatan penguat AGC
dengan cara yang sama seperti yang dilakukan oleh penguat R
T
dalam modus arus konstan.
Pengukuran sudut fasa dilakukan secara bersamaan. Keluaran daru saluran
tegangan dan saluran arus diperkuat dan masing-masing keluaran tersebut dihubungkan
ke sebuah rangkaian pemicu Schmitt (Schmitt trigger circuit). Rangkaian pemicu
278

Schmitt menghasilkan suatu "spike" yang menuju positif setiap kah gelombang
masukan berbentuk sinus menuju sebuah titik pot ong nol. "Spikes" positif ini
dihubungkan ke sebuah rangkaian detektor fasa biner (binary phase detector
circuit). Detektor fasa ini terdiri dari multivibrator dengan dua kondisi stabil
(bistable multivibrator), penguat selisih , dan kapasitor pengumpul (integrasi). Pulsa
saluran arus konstan yang menuju posi t i f menyet el mul t i vi brat or, dan pul sa
sal uran t egangan konst an me-nol -kan mul t i -vibrator. Dengan demikian,
lamanya penyetelan (set time) dari MV (multivibrator) ditentukan oleh titik-titik
perpotongan nol dari bentuk-bentuk gelombang tegangan dan arus. Keluaran "set"
dan "reset" dari MV dihubungkan ke penguat selisih, yang menghubungkan tegangan
yang berbeda ke sebuah kapasitor integrasi. Tegangan kapasitor berbanding langsung
dengan selang waktu perpotongan nol (zero-crossing time interval) dan dihubungkan ke
alat ukur sudut fasa yang selanjutnya menunjukkan beda fasa antara bentuk gelombang
tegangan dan arus (dalam derajat).
Kalibrasi alat ukur impedafisi vektor biasanya dilakukan dengan
menghubungkan komponen-komponen standar ke terminal masukan. Komponen
ini bisa tahanan standar atau kapasitor standar. Sebuah pencacah elektronik
(electronic counter) diperlukan guna menentukan dengan tepat periode dan
frekuensi uji yang dihubungkan. Bila nilai komponen yang diuji dan frekuensi sinyal uji
keduanya diketahui secara tepat, impedansi atau reaktansi dapat ditentukan
dan dibandingkan terhadap penunjukan alat ukur kebesaran Z. Dengan
menghubungkan sebuah tahanan standar ke terminal masukan, alat ukur sudut fasa
akan menunjuk 0
0
.

10-9 VOLTMETER VEKTOR
Voltmeter vektor mengukur amplitudo sebuah sinyal pada dua titik di
dalam sebuah rangkaian dan secara bersamaan mengukur beda fasa antara
bentuk-bentuk gelombang tegangan pada kedua titik tersebut. Instrumen ini
dapat digunakan dalam variasi pemakaian yang luas, terutama dalam keadaan di
mana metoda lain sangat sulit atau menghabiskan waktu banyak. Voltmeter
vektor sangat bermanfaat dalam pemakaian VHF (Very High Frequency) dan
dapat digunakan secara sukses dalam pengukuran pengukuran seperti :
(a) Penguatan penguat dan pergeseran fasa;
(b) Kerugian sisipan yang kompleks (complex insertion loss);
(c) Fungsi alih penapis (filter transfer function)
(d) Parameter jaringan dengan dua titik singgah (two port network).
Pada dasarnya voltmeter vektor mengubah dua sinyal ftekuensi radio (RF
radio he quency) dengan ftekuensi dasar yang sama (dari I MHz sampai I GHz)
menjadi dua sinyal IF (Intermediate Frequency) dengan frekuensi dasar sebesar
20 kHz. Sinyal IF memiliki amplitudo, bentuk gelombang dan hubungan fasa
yang sama seperti sinyal RF yang asli. Sebagai akibatnya, komponen dasar dari
sinyal IF mempunyai hubungan amplitudo dan fasa yang sama seperti komponen
dasar dari sinyal RF. Komponen dasar ini disaring dari sinyal IF dan diukur oleh
sebuah voltmeter dan sebuah alat ukur fasa.
Diagram balok pada Gambar 10-31 menunjukkan bahwa instrumen terdiri
dari lima bagian utama yaitu : dua konvertor RF ke IF, satu pengontrol fasa
otomatis, satu rangkaian alat ukur fasa, dan rangkaian voltmeter. Konvertor RF ke IF
dan pengontrol fasa menghasilkan dua gelombang sinus 20 kHz dengan amplitudo
yang sama dan hubungan fasa yang sama seperti komponen dasar dari sinyal RF
yang dimasukkan ke saluran A dan B. Alat ukur fasa secara kontinu memonitor
279

kedua gelombang sinus 20 kHz ini dan menunjukkan sudut fasa antara keduanya.
Voltmeter dapat dibuat pada posisi A atau B untuk memberikan peragaan
amplitudo pada alat ukur.
Masing-masing konvertor RF ke IF terdiri dari sebuab pencuplik (sampler)
dan pennguat yang disetalakan (tuned amplifier). Pencuplik menghasilkan suatu
tiruan 20 kHz dari bentuk gelombang masukan RF, dan penguat yang
disetalakan menyadap komponen dasar 20 kHz tersebut dari tiruan bentuk
gelombang. Pencuplikan (sampling) adalah suatu proses penguluran waktu,
dengan mana sebuah sinyal berulang (repetitif) frekuensi tinggi ditiru pada
frekuensi yang jauh lebih rendah. Proses ini ditunjukkan pada diagram Gambar
10-32. Sebuah sakelar elektronik dihubungkan antara gelombang masukan RF dan
kapasitor penyimpan. Setiap kali sakelar ditutup secara seketika, kapasitor
dimuati ke nilai sesaat tegangan masukan dan mempertahahkan nilai ini
sampai penutupan sakelar berikutnya. Dengan pengaturan waktu yang sesuai,
cuplikan diambil pada titikk-titik yang tiba-tiba secara berturutan ke gelombang
RF.


-




















Gambar 10-31 Diagram balok dari voltmeter vektor (seijin Hewlett-Pachard Co.)

Asal bentuk gelombang semula pada suatu frekuensi yang jauh lebih rendah.
Masing-masing saluran masukan mempunyai sebuah pencuplik yang berisi sebuah
gerbang pencuplik dan kapasitor penyimpan. Gerbang pencuplik dikontrol oleh
pulsa dari generator pulsa yang sama. Cuplikan diperoleh olch masing-masing
saluran pada saat yang persis sama, dan dengan demikian hubungan fasa antara
sinyal masukan dipertahankan di dalam sinyal IF.

280



Gambar 10-32 Diagram yang disederhanakan dari sebuah rangkaian pencuplik.

Unit pengontrol fasa merupakan rangkaian yang agak njelimet (=sulit)
yang membangkitkan pulsa pencuplik bagi kedua konvertor RF ke IF dan
secara otomatis mengontrol laju kecepatan pulsa agar menghasilkan sinyal IF
sebesar 20 kHz. Laju kecepatan pulsa cuplikan dikontrol oleh sebuah osilator
yang tegangannya disetalakan (VTO, Voltapy tuned oscillator) pada mana
tegangan penyetalaan disuplai oleh pengontrol fasa otomati s. Bagian ini
mengunci sinyal IF saluran A ke suatu osilator referensi 20 kHz. Guna
memperoleh penguncian awal, bagian pengontrol fasa memasukkan suatu
tegangan tanjak ke VTO. Tegangan tanjak ini menyapu laju pencuplikan sampai
IF saluran A adalalt 20 kHz dan sefasa dengan osilator referensi. Kemudian
penyapuan berhenti dan IF saluran A dipertahankan sefasa dengan osilator referensi.
Penguat yang disetalakan hanya melewatkan komponen dasar 20 kHz sinyal IF
dari masing-masing saluran. Selanjutnya keluaran masing-masing penguat yang
disetalakan berisi sebuah sinyal yang telah mempertahankan hubungan fasanya
mula-mula dibandingkan terhadap sinyal dalam saluran lainnya dan juga
hubungan amplitudonya yang tepat. Kedua sinyal IF yang ditapis dapat
dihubungkan ke rangkaian voltmeter panel depan yang diberi tanda saluran A
dan saluran B. Rangkaian voltmeter berisi sebuah pelemah masukan guna
melengkapi rangkuman alat ukur yang sesuai. Pelemah ini merupakan alat
kontrol pada panel depan yang diberi tanda rangkuman amplitudo (amplitude
range). Penguat alat ukur terdiri dari sebuah penguat umpan balik stabil dengan
penguatan yang tetap, disusul oleh sebuah penyearah dan sebuah penapis. Sinyal
yang disearahkan dimasukkan ke voltmeter dc.
Untuk menentukan beda fasa antara kedua sinyal IF, pengual yang
disetalakan disusul oleh rangkaian pengukur fasa. Pertama-tama masing-masing
saluran yang diperkuat dan kemudian dibatasi, memperlihatkan sinyal gelombang
persegi pada masukan menuju rangkaian penggeser fasa IF. Rangkaian di dalam
saluran A menggeser fasa sinyal gelombang persegi sebesar + 60
0
; rangkaian di
dalam saluran B mengeser fasa sinyalnya sebesar -120
0
. Kedua pergescran fasa
dilakukan oleh suatu gabungan jaringan kapasitif bersama penguat pembalik
fasa (inverting amplifier) dan bukan pembalik fasa (non inverting amplifier)
yang keluaran pemjumlahan vektornya menyediakan penggeseran fasa yang
diinginkan. Keluaran rangkaian penggeser fasa diperkuat dan dijepit,
menghasilkan bentuk gelombang persegi dan dihubungkan ke penguat pemicu.
Rangkaian ini mengubah sinyal masukan gelombang persegi menjadi "spike-
spike" positif dengan kenaikan waktu yang sangat cepat. Multivibrator dengan
dua kondisi stabil dipicu oleh pulsa-pulsa dari kedua saluran. Saluran A dihubungkan
ke masukan "set" dari multivibrator dan saluran B ke masukan "reset" Jika
pergeseran fasa mula-mula antara sinyal RF pada jarum penduga adalah 0
0
,
pulsa pemicu terhadap multivibrator berbeda fasa 180
0
disebabkan oleh tindakan
rangkaian penggeser fasa. Maka, MV menghasilkan sebuah keluaran gelombang
281

persegi yang simetri terhadap nol. Setiap pergeseran fasa pada jarurn penduga RF
membantu keseluruhan sistem dan mengubah pulsa pemicu dari hubungan 180
0

nya, menghasilkan suatu bentuk gelombang yang tidak simetri.
Gelombang persegi (tidak simetri) mengontrol sakelar arus yang berupa sebuah
transistor yang dipindahkan ke konduksi oleh bagian negatif dari gelombang persegi.
Sakelar menghubungkan suplai arus konstan ke alat ukur jasa. Pada pergeseran
fasa sebesar 0' pada masukan RF, sakelar dimatikan dan dihidupkan pada jumlah
waktu yang sama dan arus suplai diatur agar menyebabkan pembacaan 0
0
pada
alat pencatat atau skala tengah. Setiap pergeseran fasa memperlihatkan suatu
bentuk gelombang yang tidak simetri dan memungkinkan arus yang lebih besar
atau pun lebih kecil ke alat ukur fasa bergantung pada apakah pergeseran fasa
yang menyebabkan setengah siklus negatif pada gelombang persegi menjadi lebih
besar atau lebih kecil. Suatu pergeseran fasa sebesar 180
0
akan menyebabkan
gelombang persegi turun menjadi salah satu dari tegangan dc positif atau negatif
dan kemudian sakelar tidak akan memperbolehkan arus atau arus maksimal ke
alat ukur fasa. Penyirnpangan-penyimnpangan maksimal dari pembacaan 0
0

ditandai pada permukaan alat ukur sebagai + 180
0
dan -180
0
. Rangkuman jasa
dapat dipilih oleh sebuah sakelar panel depan yang menempatkan sebuah shunt
terhadap pengukur fasa dan mengubah sensitivitasnya.
Instrumen berisi sebuah sumber daya yang tidak ditunjukkan pada
diagram balok Ganibar 10-31. Sumber daya ini membangkitkan semua tegangan
suplai yang dibutuhkan oleh berbagai bagian instrumen.
Prosedur kalibrasi dan pengujian spesifikasi prestasi berubah dari satu
instrurmen ke yang lain. Keterangan lengkap dari berbagai pengujian diberikan
pada buku pedoman instrumen dan biasanya mencakup prosedur dan instrumen
yang diperlukan guna pengujan tersebut.

SOAL-SOAL
1. Sebuah voltmeter arus bolak-balik dari jenis yang memberi respons
(tanggapan) terhadap nilai rata-rata dengan skala yang dikalibrasi dalam rms
digunakan untuk mengukur tegangan bukan sinus berikut :
(a) tegangan arus searah (dc) sebesar 10 V;
(b) tegangan gelombang persegi dengan amplitudo 10 V dan lamanya
pembebanan (duty cycle) sebesar 75%;
(c) tegangan segitiga dengan bentuk gelombang yang simetri dan nilai
puncak sebesar 10 V. Tentukan persentase kesalahan yang ditunjukkan oleh
voltmeter ac pada masing-masing tegangan.
2. Sebuah alat ukur arus 25 mA dengan tahanan dalam 100 tersedia guna
membangun sebuah voltmeter ac dengan rangkuman sebesar 200 V rms.
Dengan menggunakan empat dioda dalam bentuk jembatan, di mana tiap-tiap
dioda memiliki tahnanan maju (forward resistance) sebesar 500 dan
tahanan balik (reverse resistance) tak berhingga, tentukan tahanan batas seri
yang dibutuhkan guna menghasilkan rangkuman tegangan sebesar 200 V rms.
3. Dalam pemeriksaan kapasitansi terbagi dari sebuah kumparan tertentu
dengan menggunakan rangkaian pengukur Q pada Gambar 10-28, resonansi
awal diperoleh dengan menyetel kapasitor penggetar ke 450 pF. Resonansi
sebesar dua kali frekuensi awal diperoleh dengan membuat kapasitor
penyetalaan pada 11 pF. Tentukan nilai kapasitansi terbagi dari kumparan
282

tersebut.
4. Sebuah kumparan dengan tahanan sebesar 3 dihubungkan ke terminal alat
ukur Q dari Gambar 10-25. Resonansi terjadi pada frekuensi osilator sebesar 5
MHz dan kapasitor penggetar pada 100 pF. Tentukan persentase kesalahan
yang dihasilkan oleh tahanan sisipan R
sh
= 0,1
5. Peralatan uji laboratorium berikut tersedia untuk mengalibrasi multimeter
(a) sebuah voltmeter selisih yang akurat (teliti);
(b) sebuah sumber daya yang stabil;
(c) sejumlah tahanan presisi dari berbagai jenis.
Dengan bantuan diagram, sarankan suatu prosedur pengukuran untuk mengalibrasi
rangkuman arus dan rangkuman tegangan sebuah multimeter.
6. Rencanakan sebuah sakelar rangkuman untuk bagian volt dc sebuah voltmeter
jembatan setimbang (Iihat Gambar 10-8). Tahanan total pelemah adalah 11
M. Pelemah akan diatur sedemikian sehingga tegangan masukan dari 3 V
sampai 100 V dapat tertampung dalam urutan rangkuman yang lazim yaitu
1-3-10. Rangkaian jembatan (lihat Gambar 10-7) memerlukan 1 V pada
gerbang masukan FFT agar menyebabkan defleksi penuh pada alat pencatat.
7. Pengukuran tegangan selisih pada Gambar 10-12 menggunakan sebuah sumber
referensi dengan tahanan dalam sebesar 200 dan tegangan terminal
sebesar 3,0 V. Galvanometer mempunyai sensitivitas arus sebesar 1 mm/pA
dan tahanan dalam sebesar 100 . Tentukan gaya gerak listrik (ggl) dari
sumber tersebut; abaikan tahanan dalam jika defleksi galvanometer adalah 250
mm.
8. Untuk syarat-syarat pengukuran yang diberikan pada Soal 7, resolusi susunan
pengukuran jika defleksi galvanometer dapat dibaca pada 1 mm
9. Pada pengukuran tegangan selisih pada Soal 7 disediakan galvanometer kedua.
Galvanometer ini mempunyai sensitivitas arus sebesar 5 mm/A dan tahanan dalam
1000 . Tentukan yang mana dari kedua galvanometer tersebut memberikan
sensitivitas yang lebih besar terhadap ketidaksetimbagan. Nyatakan hasil
tersebut dalam milimeter/mikrovolt.










11. INSTRUMEN UNTUK PEMBANGKITAN
DAN ANALISIS BENTUK-BENTUK GELOMBANG


11-1 Rangkaian Dasar Osilator
11-11-1 Pendahuluan
Sebuah osilator uji atau generator sinyal inerupakan sebuah alat yang
sangat diperlukan dalam pekerjaan perbaikan alat -alat elektronik, dalam
laboratorium. penelitian, atau pada jalur produksi. Dia memperlengkapi teknisi
dengan berbagai jenis sinyal uji guna melakukan suatu jangkauan operasi yang
283

luas seperti haInya pengukuran respons frekuensi dari sebuah penguat,
karakteristik pita pelewat (bandpass) dari sebuah filter, penyesuaian radio
penerima atau pesawat televisi, atau penyelusur kerusakan di dalam sebuah
peralatan elektronik.

Bermacam-macam sumber sinyal dijelaskan menurut nama-nama yang
berbeda yaitu osilator uji, osilator audio, generator nada (sinyal), generator
penyapu, generator fungsi dan lain-lain, bergantung pada karakteristik inst rumen
dan pemakaian yang direncanakan. Secara umum dikatakan bahwa sebuah
osilator adalah sebuah alat yang menghasilkan suatu sinyal berbentuk sinus
dengan frekuensi dan amplitudo tertentu; sedang sebuh generator sinyal
memiliki kapasitas tambahan yaitu modulasi amplitudo sinyal keluaran dan
rangkuman penyetalaan yang lebar. Akan tetapi, rangkaian osilator uji sendiri
merupakan elemen dasar yang sama bagi semua sumber sinyal.
Terdapat berbagai jenis rangkaian osilator dengan model rangkaian yang
bergantung peda frekuensi yang mereka inginkan untuk dihasilkan. Osilator -
osilator frekuensi renleh kira-kira bekerja dalam rangkuman I Hz sampai I MHz,
kerapkali didasarkan pada rangkaian jembatan Wien yang telah dikenal. Di
dalam sebuah instrumen terandalkan dan murah jembatan Wien menyediakankan
suatu kombinasi rangkuman frekuensi yang dapat berubah dan keluaran yang
stabil. Osilator-osilator frekuensi finggi yang mencakup rangkuman frekeunsi dari
100 kHz sampai 500 MHz atau lebih, umumnya didasarkan pada variasi dari
rangkaian tangki LC terkenal. Bab-bab berikut menjelaskan sebagian dari rangkaian
dasar dari osilator ini.

11-1-2 Osilator dengan rangkaian tangki LC
Prinsip kerja dari rangkaian tangki LC (LC tank) adalah sederhana dan
hampir identik dengan jenis rangkaian dasar yang banyak dan dapat dijelaskan sebagai
berikut. Sebuah kombinasi paralel LC dieksitasi agar berosilasi dan tegangan ac
pada rangkaian LC ini diperkuat oleh sebuah penguat transistor. Sebagian
tegangan ac yang diperkuat tersebut diumpankan kembali ke rangkaian tangki
melalui gandengan induktif atau kapasitif guna mengimbangi kehilangan daya
di dalam rangkaian tangki. Umpan ballk pembaharu (regeneratif) ini
menghasilkan tegangan keluaran dengan amplitudo yang konstan pada frekuensi
resonansi rangkaian tangki yang dinyatakan oleh persamaan
C L
f
t 2
1
=
(11-1)

Osilator-osilator rangkaian tangki LC dapat bekerja pada frekuensi-frekuensi
yang sangat tinggi, sampai beberapa ratus megahertz. Tabung-tabung yang dirancang
secara khusus seperti klystron dan magnetron memperbesar rangkuman frekuensi dalam
daerah giga-herzt.
Osilator Amstrong ada gambar 11-1 merupakan salah satu rangkaian osilator RF
yang terdahulu. Bila mula-mula tegangan suplai V
cc
dibuat bekerja (on) transistor
menginduksi dan arus kolektor mengalirkan. Karena kumapran L
2
bergandeng secara
induktif terhadap kumparan L
1
, panambahan arus mengindusir suatu tegangan pada L
1

dalam arah sedemikian sehingga basis transistor dikemudikan positif yaitu puncak
kumparan memiliki polaritas positif. Ini menyebabkan bertambahnya arus kolektor
dengan laju yang lebih cepat dan tegangan berinduksi bertambah lebih lanjut. Sebagai
284

akibatnya, sebuah tegangan positif yang lebih tinggi dibangkitkan pada rangkaian
tangki, dan kapasitor C
1
mengisi dengan polaritas positif pada plat atasnya. Karena pada
waktu yang sama basis dikemudikan positif, arus basis memuati kapasitor C
b
menuju
nilai puncak tegangan yang diindusir dengan polaritas seperti yang ditunjukkan. Selagi
transistor mulai saturasi, laju kenaikan arus kolektor berkurang dan dengan demikian
memperkecil tegangan induksi. Berarti C
b
harus mengosongkan muatan (discharge)
melalui R
b
, membuat basis transistor menjadi negatif. Ini menyebabkan suatu
reaksi berantai.



Gambar 11-1 Osilator Amstrong


Arus kolektor mulai berkurang dari nilai maksimalnya (saturasi) dan medan
magnit L
2
turun banyak. Ini mengindusir suatu tegangan negatif pada kumparan
L
1
. Dalam pada waktu itu C
b
masih mengosongkan muatan dan ini
mengemudikan transistor menjadi mati (cut off) sehingga arus kolektor berhenti
secara mendadak. Tegangan induksi pada L
1
menyebabkan C
1
mengosongkan
muatan dan kemudian mengisi kembali menuju nilai puncak tegangan negatif.
Sekarang, transistor menjadi mati (cut-off) dan C
1
dimuati dengan polaritas
negatif pada bagian atas pelatnya. Selama setengah siklus berikutnya rangkaian
tangki membawa transistor keluar dari kondisi cut -off. C
1
mulai mengisi melalui
L
1
dan potensial basis transistor dinaikkan sampai konduksi dimulai lagi. Begitu
transistor bekerja (konduksi), energi dialihkan dari rangkaian kolektor ke
rangkaian tangki, dan C
1
mengisi kembali menuju nilai puncakdari tegangan yang
sekarang telah positif. Seluruh siklus berulang menurut cara yang dijelaskan. Frekuensi
osilad diatur oleh karakteristik pengisian dan pengosongan muatan dari
rangkaian tangki yang diberikan oleh persamaan 11-1.


285



Gambar 11-2 Osilator Hartley


Osilator Hartley pada Gambar 11-2 hanya menggunakan satu kumparan
beserta situ titik pencabangan (tap) yang sesuai dengan titik tanah ac yang biasa dari
rangkaian Armstrong. Kapasitor penyetalaan C
1
di shunt terhadap seluruh
kumparan (L
I
+ L
2
) Karena titik pencabangan kumparan dihubungkan ke tanah, rotor
dari kapasitor variabel tidak dapat lebih lama ditanahkan. Sinyal keluaran tersedia
melalui rangkaian gandengan RC sebagai pengganti gandengan induktif seperti
haInya pada osilator Amstrong. Ini tidak mempunyai sangkut-paut dengan operasi
rangkaian; salah satu jenis gandengan keluaran dapat digunakan.



Gambar 11-3 Osilator Colpitts


Osilator Colpitts pada Gambar 11-3 merupakan variasi lain dari
rangkaian dasar Armstrong. Di sini rangkaian tangld terdiri dari sebuah induktor L
1
dan dua kapasitor seri (C
I
dan C
2
). Perhatikan bahwa kecuali pada cara pencabangan di
dalam rangkaian tangki, rangkaian ini identik dengan rangkaian osilator Hartley.
Besamya umpan balik dalam rangkaian Colpitts bergantung pada nilai relatif dari
kapasitor C
1
, dan C
2
. Semakin kecil C
1
, umpan balik makin besar. Bila
penyetalaan diubah kedua nilai kapasitor bertambah atau berkurang secara,
simultan tetapi perbandingan kedua nilai tersebut tetap sama. Sinyal keluaran
tersedia melalui sebuah gulungan tambahan pada kumparaii rangkaian tangki.
11-1-3 Osilator Jembatan Wien
286

Osilator jembatan Wien adalah salah satu dari rangkaian-rangkaian standar yang
di gunakan untuk membangkitkan sinyal-sinyal gelombang sinus dalam
rangkuman frekuensi audio. Osilator adalah dari konstruksi yang sederhana yang
mempunyai bentuk gelombang yang relatif mumi dan memiliki stabilitas
frekuensi yang sangat baik. Pada dasamya dia adalah penguat umpan balik dengan
sebuah jembatan Wien sebagai jaringan umpan balik antara terminal keluaran dan
terminal masukan penguat seperti ditunjukkan pada Gambar 114. Penguat ini
akan berosilasi bila dua persyaratan dasar yang dikenal sebagai kriteria
Barkhausen untuk osilasi dipenuhi. Kedua persyaratan dasar tersebut dapat
dinyatakan sebagai berikut :
(a) Penguatan tegangan sekitar penguat dan simpul umpan balik (feedback loop)
yang disebut penguatan simpal (loop gain) harus sama dengan satu, atau A
v
= 1.
(b) Pergeseran fasa antara tegangan masukan v( dan tegangan umpan balik v
f

yang di sebut pergeseran fasa simpal (loop phase shift) harus nol.


Gambar 11-4 Diagram Blok dari sebuah osilator umpan balik



Gambar 11-5 Rangkaian Jembatan Wien

Jika persyaratan-persyaratan ini dipenuhi, penguat umpan balik pada Gambar 11-4 akan
membangkitkan suatu gelombang keluaran berbentuk sinus.
Jembatan Wien mula-mula diperkenalkan dalam Bab 8-6 di mana dia ditunjukkan
sebagai suatu jaringan pemilih frekuensi yang terdiri dari elemen-elemen resistif
dan kapasitif. Rangkaian ini ditunjukkan kembah pada, Gambar 11-5. Jembatan
mempunyai suatu gabungan RC seri dalam satu lengan dan gabungan paralel
dalam lengan sebelahnya. Lengan-lengan lainnya adalah tahanan mumi.
Persamaan kesetimbangan jembatan memberikan
287


3 2 4 1
Z Z Z Z = atau
2 4 1 3
Z Z Z Z =
(11-2)
Dimana , /
1 1 1
C j R Z e = , / 1
2 2 2
C j R Y e + = ,
3 3
R Z = dan
4 4
R Z =
Dengan menggantikan harga-harga ini ke dalam persamaan (11-2), diperoleh

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|
=
2
2
1
1
1 3
1
C j
R
R
C
j
R R e
e

(11-3)
dan setelah diuraikan menghasilkan

1
2 4
2 1
4
4 1 2
2
4 1
3
C
C R
R C
R j
R R C j
R
R R
R
e e
e + + =
(11-4)


Pada kesetimbangan jembatan bagian-bagian nyata dan bagian-bagian
khayal harus lama. Dengan memisahkannya dari persamaan (11-4) untuk bagian nyata
memberikan
1
2
2
1
4
3
C
C
R
R
R
R
+ =
(11-5)
dan untuk bagian khayal,
2 1
1 2
1
R C
R C
e
e =
(11-6)
dimana = 2 f. Persamaan (11-6) dapat diselesaikan untuk mendapatkan
pemyataan bagi frekuensi tegangan masukan dan diperoleh
2 1 2 1
2
1
R R C C
f
t
=
(11-7)
dalam hal yang lazim, komponen-komponen jembatan dipilih sedemikian sehingga R
1
=
R
2
= R dan C
1
= C
2
= C, C Maka persamaan (11-5) menjadi
2
4
3
=
R
R

(11-8)
Sedangkan frekuensi setimbang atau frekuensi resonansi jembatan menjadi
C R
f
t 2
1
=
(11-9)
Dengan perkataan lain, jembatan adalah setimbang (tegangan keluaran
sama dengan nol) bila perbandingan tahanan lengan-lengan Yang tidak reaktif
memenuhi persamaan (11-8) dan bila tegangan eksitasi mempunyai frekuensi yang
288

dinyatakan oleh persamaan (11-9). Bila jembatan Wien digunakan sebagai jaringan
umpan balik di dalam sebuah osilator seperti pada Gambar 11-4, rangkaian harus
sedikit dimodifikasi. Ini memenuhi dengan mengingat kriteria Barkhausen.
Penguatan tegangan penguat pada Gambar 11-4 adalah suatu besaran Yang
terbatas (misalnya A
v
= 100). Syarat Barkhausen dengan penguatan 1up sebesar
satu . (A
v
= 1) mengartikan bahwa tegangan umpan balik Yang dipindah dari
jembatan Wien juga harus berupa suatu besaran terbatas dan tidak boleh nol.
Dengan demikian jembatan harus diubah agar betul-betul memberikan suatu
tegangan keluaran pada frekuensi resonansi, sembari tetap mempertahankan pergeseran
fasa sebesar nol.
Perhatikan sekarangjembatan Wien Yang diperbaharui pada Gambar 11-6.
Impedansi lengan-lengan reaktif pada frekuensi resonansi (f = RC) dapat dituliskan
sebagai
R j
C
j
R Z ) 1 (
1
= =
e

(11-10)
dan
2
) 1 (
/ 1
1
2
R j
C j R
Z

=
+
=
e

(11-11)



Gambar 11-6 Tegangan-tegangan dalam jembatan Wien

Maka penurunan tegangan v
a
dan z
2
adalah
3
1
1
2 1
2
v
v
Z Z
Z
v
a
=
+
=
(11-12)
dan penuruanan tegangan pada R
2
, adalah
1
4 3
4
v
R R
R
v
b
+
=
(11-13)
289

Tegangan keluaran dari jembatan adalah
b a o
v v v =
(11-14)
Jika diinginkan suatu harga nol, tegangan keluaran harus nol dan v
a
= v
b
. Untuk
mencapai hasil ini R
3
dan R
4
harus dipilih sedemikian sehingga v
b
= 1/3 v
1
. Berarti
R
4
/(R
3
+R
4
) = 1/3 atau R
3
= 2 R
4
. Akan tetapi dalam hal yang dibicarakan,
tegangan keluaran tidak harus nol dan oleh karena itu perbandingan R
4
/(R
3
+R
4
)
harus lebih kecil dari 1/3. Ambil sebagai contoh,
o
1
3
1
4 3
4
1
=
+
=
R R
R
v
v
b

(11-15)
dmana adalah sebuah bilangan yang lebih besar dari 3, Maka
|
|
.
|

\
|
=

= =
o
|
1
3
1
i
a
i
b a
i
o
v
v
v
v v
v
v

(11-16)


Oleh sebab itu untuk menghasilkan suatu tegangan keluaran pada trekuensi
resonansi jembatan (f
a
) dan dengan demikian memberikan tegangan umpan balik
Yang diperlukan bagi osilasi , v
a
/v
i
= 1/3 dan = 1/. Maka kriteria Barkhausen
untuk osilasi yaitu penguatan lup sebesar satu atau A = 1, dipenuhi dengan membuat
penguatan penguat A = .
Dalam keadaan ini dua pergamatan penting dapat dilakukan :
(1) Frekuensi osilasi persis s